Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 30 September 2018 : TENTANG PERLUNYA KETERBUKAAN DAN KEBEBASAN DALAM MEWARTAKAN INJIL

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 9:38-43.45.47-48) menyajikan kepada kita salah satu hal yang sungguh mengandung pelajaran tentang kehidupan Yesus bersama para murid-Nya. Mereka telah melihat seseorang, yang bukan bagian dari kelompok pengikut Yesus, mengusir setan demi nama Yesus, dan karena itu mereka ingin mecegahnya. Dengan antusiasme khas semangat kaum muda, Yohanes merujuk kejadian itu kepada Sang Guru untuk mencari dukungan. Namun, Yesus menjawab sebaliknya : “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (ayat 39-40).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 26 September 2018 : TENTANG PERJALANAN BAPA SUCI KE LITHUANIA, LATVIA DAN ESTONIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Pada hari-hari terakhir, saya baru saja menyelesaikan perjalanan apostolik ke Lithuania, Latvia dan Estonia, pada kesempatan seratus tahun kemerdekaan negara-negara Baltik ini. Seratus tahun, setengah abad mereka tinggal di bawah kuk pendudukan, pertama Nazi dan kemudian Soviet. Mereka adalah bangsa yang telah banyak menderita dan, oleh karena ini, Tuhan telah memandang mereka dengan kesukaan. Saya yakin akan hal ini. Saya berterima kasih kepada presiden dari ketiga republik tersebut dan penguasa sipil atas penerimaan istimewa yang saya terima. Saya berterima kasih kepada para uskup dan semua orang yang bekerja sama untuk mempersiapkan dan melaksanakan peristiwa gerejawi ini.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI TAMAN SANTAKOS, KAUNAS (LITHUANIA) 23 September 2018

Saudara dan saudari terkasih,

Bacaan Pertama hari ini, dari Kitab Kebijaksanaan (Keb 2:12,17-20) berbicara tentang penganiayaan terhadap orang-orang saleh, orang-orang yang “kehadiran semata” mengganggu orang-orang durhaka. Orang-orang durhaka digambarkan sebagai orang-orang yang menindas orang-orang miskin, yang tidak memiliki belas kasihan kepada para janda dan tidak menunjukkan rasa hormat kepada orang-orang lanjut usia (bdk. 2:17-20). Orang-orang durhaka meminta untuk percaya bahwa "kekuasaan adalah norma keadilan". Mereka menguasai orang-orang yang lemah, menggunakan kekuasaan mereka untuk memaksakan suatu cara berpikir, suatu ideologi, suatu pola pikir yang sedang berlaku. Mereka menggunakan kekerasan atau penindasan untuk menundukkan orang-orang yang hanya dengan kehidupan sehari-hari mereka yang jujur, terus terang, kerja keras, dan suka bergaul, menunjukkan bahwa semacam dunia yang berbeda, semacam masyarakat yang berbeda, adalah mungkin. Orang-orang durhaka tidak puas dengan melakukan apa pun yang mereka sukai, menyerah pada setiap perubahan keinginan mereka yang mendadak; mereka tidak menginginkan orang lain, dengan berbuat baik, menunjukkan siapa mereka. Dalam diri orang-orang durhaka, kejahatan selalu berusaha menghancurkan kebaikan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 19 September 2018 : TENTANG PERINTAH KEEMPAT (PERINTAH UNTUK MENGHORMATI ORANGTUA)

Dalam perjalanan di dalam Dasa Firman, hari ini kita tiba pada perintah yang berkenaan dengan ayah dan ibu. Perintah tersebut berbicara tentang menghormati orang tua. Apa "penghormatan" ini? Istilah Ibrani menunjukkan kemuliaan, nilai, secara harfiah "bobot", ketetapan dari suatu kenyataan. Perintah tersebut bukanlah sebuah pertanyaan sehubungan dengan cara-cara lahiriah tetapi pertanyaan sehubungan dengan kebenaran. Dalam Kitab Suci, menghormati Allah berarti mengakui kenyataan-Nya, memperhitungkan kehadiran-Nya. Hal ini juga terungkap dengan ritual, tetapi terutama itu berarti memberi Allah tempat yang tepat dalam keberadaan kita. Oleh karena itu, menghormati ayah dan ibu berarti mengakui pentingnya mereka juga dengan perbuatan-perbuatan nyata, yang mengungkapkan pengabdian, kasih sayang, dan perhatian. Namun, menghormati ayah dan ibu bukan hanya tentang hal ini.