Saudara
dan saudari yang terkasih, selamat pagi!
Hari
ini kita merayakan para santo pelindung Roma, Rasul Petrus dan Paulus. Dan
menemukan diri kita berdoa di sini, di dekat tempat wafatnya Petrus sebagai
martir dan dimakamkan merupakan suatu karunia. Namun, liturgi hari ini
mengingatkan kembali pada kisah yang sama sekali berbeda: liturgi menceritakan
kepada kita bahwa beberapa tahun sebelumnya Petrus dibebaskan dari kematian. Ia
ditangkap, ia berada di dalam penjara, dan Gereja, karena takut akan nyawanya,
mendoakannya tanpa henti. Kemudian seorang malaikat turun untuk membebaskannya
dari penjara (bdk. Kis 12:1-11). Tetapi bertahun-tahun kemudian, ketika Petrus
menjadi seorang tahanan di Roma, Gereja pasti akan berdoa. Namun, pada
kesempatan itu, nyawanya tidak terhindarkan. Mengapa ia pertama kali lolos dari
pencobaan, dan kemudian tidak?



