Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 11 November 2020 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 14)


Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Kita melanjutkan katekese tentang doa. Seseorang berkata kepada saya : “Anda terlalu banyak berbicara tentang doa. Tidak perlu”. Ya, perlu. Karena jika kita tidak berdoa, kita tidak akan memiliki kekuatan untuk berkembang dalam kehidupan. Doa bagaikan oksigen kehidupan. Doa menurunkan pada diri kita kehadiran Roh Kudus yang selalu menuntun kita maju. Karena alasan ini, saya berbicara banyak tentang doa.

 

Yesus telah memberikan teladan doa yang tanpa henti-hentinya, melaksanakannya dengan tekun. Dialog yang tanpa henti-hentinya dengan Bapa-Nya, dalam keheningan dan kekhusyukan, adalah titik tumpu dari seluruh perutusan-Nya. Injil juga melaporkan Yesus menasihat para murid agar mereka dapat tekun berdoa, tanpa kenal lelah. Katekismus mengingat tiga perumpamaan yang terkandung dalam Injil Lukas yang menggarisbawahi ciri khas doa Yesus ini (lihat KGK, 2613).

 

Pertama-tama, doa harus ulet : seperti orang dalam perumpamaan yang, tiba-tiba harus menyambut seorang tamu di tengah malam, pergi mengetuk pintu seorang sahabat dan meminta roti. Sahabatnya menjawab, “Tidak!”, karena ia sudah berada di tempat tidur - tetapi ia bersikeras dan bersikeras sampai ia memaksa sahabatnya itu bangun dan memberinya roti (lihat Luk 11:5-8). Permintaan yang ulet. Tetapi Allah lebih sabar terhadap kita, dan orang yang mengetuk dengan iman dan ketekunan di pintu hati-Nya tidak akan kecewa. Allah selalu menanggapi. Selalu. Bapa kita tahu benar apa yang kita butuhkan; desakan diperlukan bukan untuk memberi informasi kepada-Nya atau meyakinkan-Nya, tetapi diperlukan untuk memupuk keinginan dan pengharapan dalam diri kita.

 

Perumpamaan kedua adalah tentang seorang janda yang mendatangi hakim untuk membantunya mendapatkan keadilan. Hakim ini tidak takut akan Allah, ia tidak menghormati seorang pun, tetapi pada akhirnya, karena jengkel oleh desakan sang janda, memutuskan untuk menyenangkannya (lihat Luk 18:1-8) … Ia berpikir : “Namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku”. Perumpamaan ini membuat kita memahami bahwa iman bukanlah pilihan sesaat, tetapi sikap yang berani berseru kepada Allah, bahkan “berdebat” dengan-Nya, tanpa menyerahkan diri kita pada kejahatan dan ketidakadilan.

 

Perumpamaan ketiga menampilkan seorang Farisi dan pemungut cukai yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Orang Farisi berpaling kepada Allah dengan membanggakan jasa-Nya; pemungut cukai merasa tidak layak bahkan untuk masuk ke tempat suci. Allah tidak mendengarkan doa orang Farisi, yaitu doa orang yang sombong, melainkan Ia mengabulkan doa orang yang rendah hati (lihat Luk 18:9-14). Tanpa semangat kerendahan hati, tidak ada doa sejati. Teristimewa kerendahan hati yang menuntun kita untuk memohon dalam doa.

 

Ajaran Injil jelas : kita perlu berdoa selalu, bahkan ketika segala sesuatu tampak sia-sia, ketika Allah tampak tuli dan bisu serta sepertinya kita membuang-buang waktu. Bahkan jika surga tertutup bayangan, orang Kristiani tidak berhenti berdoa. Doa seorang Kristiani tetap teguh dengan imannya. Ada banyak hari dalam hidup kita ketika iman tampaknya menjadi khayalan, pengerahan tenaga yang sia-sia. Ada saat-saat kegelapan dalam hidup kita, dan pada saat-saat itu, iman mungkin tampak seperti khayalan. Tetapi pelaksanaan doa berarti menerima bahkan pengerahan tenaga ini. “Bapa, aku berdoa dan tidak merasakan apa-apa… Rasanya hatiku kering, hatiku gersang”. Tetapi kita harus terus mengerahkan diri di saat-saat sulit, saat-saat di mana kita tidak merasakan apa-apa. Banyak orang kudus mengalami malam iman dan keheningan Allah - ketika kita tahu dan Tuhan tidak menanggapi - dan orang-orang kudus ini sedang bertekun.

 

Selama malam-malam iman itu, orang yang berdoa tidak pernah sendirian. Yesus, pada kenyataannya, bukan hanya seorang saksi dan guru doa; Ia lebih. Ia menyambut kita dalam doa-Nya agar kita bisa berdoa di dalam Dia dan melalui Dia. Inilah karya Roh Kudus. Karena alasan ini, Injil mengundang kita untuk berdoa kepada Bapa dalam nama Yesus. Santo Yohanes mengemukakan sabda Tuhan ini : “Apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Putra” (14:13). Dan Katekismus menjelaskan "ada kepastian bahwa doa-doa kita akan dikabulkan berdasarkan doa Kristus" (no. 2614). Doa Kristus memberikan sayap yang selalu dikehendaki untuk dimiliki oleh doa pribadi manusia.

 

Di sini bagaimana kita bisa gagal untuk mengingat kata-kata Mazmur 91, sarat dengan kepercayaan, muncul dari hati yang mengharapkan segala sesuatu dari Allah : “Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang” (ay 4-6). Di dalam Kristuslah doa yang luar biasa ini tergenapi, dan di dalam Dia menemukan kebenarannya yang paripurna. Tanpa Yesus, doa kita berisiko direduksi menjadi upaya manusiawi, ditakdirkan sebagian besar waktu akan gagal. Tetapi Ia telah mengambil atas diri-Nya setiap tangisan, setiap rintihan, setiap sorak kegembiraan, setiap permohonan … setiap doa manusia. Dan janganlah kita lupa bahwa Roh Kudus berdoa di dalam diri kita; Dialah yang menuntun kita untuk berdoa, yang menuntun kita kepada Yesus. Ia adalah karunia yang diberikan Bapa dan Putra kepada kita untuk mendorong perjumpaan dengan Allah. Dan ketika kita berdoa, Roh Kuduslah yang berdoa di dalam hati kita.

 

Kristus adalah segalanya bagi kita, bahkan dalam kehidupan doa kita. Santo Agustinus mengatakan hal ini dengan ungkapan yang mencerahkan yang juga kita temukan dalam Katekismus : Yesus “berdoa bagi kita sebagai Imam kita; Ia berdoa di dalam kita sebagai Kepala kita; kita berdoa kepada-Nya sebagai Allah kita. Jadi, hendaknya kita mendengarkan suara kita di dalam-Nya dan suara-Nya di dalam kita" (no. 2616). Inilah sebabnya mengapa orang Kristiani yang berdoa tidak takut apapun, ia percaya pada Roh Kudus yang diberikan kepada kita sebagai karunia dan yang berdoa di dalam diri kita, memunculkan doa. Semoga Roh Kudus, Sang Guru doa, mengajari kita jalan doa.

 

[Seruan]

 

Kemarin, Laporan kasus menyedihkan mantan Kardinal Theodore McCarrick diterbitkan. Saya memperbarui kedekatan saya dengan para korban pelecehan seksual dan ketetapan Gereja untuk memberantas kejahatan ini.

 

[Sapaan khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat yang berbahasa Inggris. Di bulan November ini, marilah kita mendoakan terutama orang-orang terkasih kita yang telah meninggal, dan semua yang telah meninggal, agar Tuhan dalam belas kasih-Nya sudi menyambut mereka dalam perjamuan kehidupan kekal. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohonkan sukacita Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam katekese kita tentang doa, kita telah melihat bahwa Yesus berdoa kepada Bapa-Nya dengan ketekunan. Tiga perumpamaan dalam Injil Lukas menekankan bagaimana kita juga harus selalu berdoa. Perumpamaan pertama, yang di dalamnya seseorang meminta bantuan dari seorang sahabatnya di tengah malam dan tidak menyerah sampai sahabatnya menanggapi, mengajarkan kita perlunya berdoa dengan desakan. Dalam perumpamaan kedua kita melihat di dalam diri sang janda yang bersikeras meminta keadilan kepada hakim yang tidak takut akan Allah, pentingnya kesabaran. Perumpamaan ketiga, tentang pemungut cukai dan orang Farisi saat berdoa di Bait Suci, mengungkapkan bahwa Allah menanggapi orang-orang yang berdoa dengan kerendahan hati. Kita melihat tiga sikap ini - desakan, kesabaran dan kerendahan hati - tercermin dalam diri para kudus yang tekun dalam doa melalui saat-saat kegelapan ketika Allah tampak diam atau tidak ada. Semoga kita terus bertekun dalam doa dengan kesadaran bahwa kita tidak pernah berdoa sendirian, tetapi bersama Kristus sendiri, dalam kuasa Roh Kudus. Santo Agustinus secara ringkas mengatakan : Yesus "berdoa bagi kita sebagai Imam kita; Ia berdoa di dalam kita sebagai Kepala kita; kita berdoa kepada-Nya sebagai Allah kita" (lihat KGK, 2616).

____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 11 November 2020)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 November 2020 : TENTANG PERUMPAMAAN GADIS YANG BIJAKSANA DAN GADIS YANG BODOH


Saudara-saudari yang terkasih, selamat siang!

 

Perikop Injil hari Minggu ini (Mat 25:1-13) mengundang kita untuk terus berkaca pada tema kehidupan kekal yang berawal dari Hari Raya Semua Orang Kudus dan Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman. Yesus menceritakan perumpamaan tentang sepuluh gadis yang diundang ke pesta perkawinan, lambang Kerajaan Surga.

 

Pada zaman Yesus, perkawinan biasanya dirayakan pada malam hari; maka prosesi para tamu berlangsung dengan pelita yang menyala. Beberapa gadis pengiring pengantin berlaku bodoh : mereka membawa pelita tetapi tidak membawa minyak; sebaliknya, gadis pengiring pengantin yang bijaksana membawa minyak bersama dengan pelita mereka. Mempelai laki-laki terlambat, datang terlambat, dan mereka semua tertidur. Ketika sebuah suara memperingatkan mereka bahwa mempelai laki-laki akan datang, gadis-gadis yang bodoh, pada saat itu, menyadari bahwa mereka tidak memiliki minyak untuk pelita mereka; mereka meminta sedikit minyak dari gadis-gadis yang bijaksana, tetapi dijawab bahwa minyak tidak dapat diberikan, karena tidak akan cukup untuk  semua pelita. Sementara gadis-gadis yang bodoh pergi membeli minyak, pengantin laki-laki datang. Gadis-gadis yang bijaksana memasuki ruang perjamuan bersamanya, dan pintu ditutup. Gadis-gadis yang bodoh datang terlambat dan tidak diperkenankan masuk.

 

Jelas bahwa dengan perumpamaan ini, Yesus ingin memberitahu kita bahwa kita harus bersiap untuk kedatangan-Nya. Bukan hanya kedatangan pamungkas, tetapi juga terhadap perjumpaan sehari-hari, besar dan kecil, dengan memandang perjumpaan itu, yang tidak cukup dengan pelita iman; kita juga membutuhkan minyak amal kasih dan perbuatan baik. Sebagaimana dikatakan rasul Paulus, iman yang benar-benar mempersatukan kita dengan Yesus adalah, "iman yang bekerja oleh kasih" (Gal 5:6). Perilaku gadis-gadis yang bijaksana mewakilinya. Menjadi arif dan bijaksana berarti tidak menunggu sampai saat terakhir untuk menyesuaikan dengan rahmat Allah, tetapi melakukannya secara aktif dan segera, mulai sekarang juga. “Saya… ya, saya akan segera bertobat" … “Bertobatlah hari ini! Ubahlah hidupmu hari ini!” “Ya, ya, besok”. Dan besok dikatakan hal yang sama, jadi tidak pernah sampai. Hari ini! Jika kita ingin siap untuk perjumpaan terakhir dengan Tuhan, kita harus bekerja sama dengan-Nya sekarang dan melakukan perbuatan baik yang diilhami oleh kasih-Nya.

 

Kita tahu bahwa terjadi demikian, tetapi, sayangnya, kita melupakan tujuan hidup kita, yaitu kepastian janji berjumpa Allah, sehingga kehilangan rasa pengharapan dan memutlakkan masa kini. Ketika seseorang memutlakkan masa kini, ia hanya memandang masa kini, kehilangan rasa pengharapan yang sangat baik dan sangat diperlukan, dan juga menarik kita menjauh dari pertentangan saat ini. Sikap ini - ketika seseorang kehilangan rasa pengharapan - menghalangi pandangan apa pun tentang hidup sesudah kematian : orang-orang melakukan segalanya seolah-olah kita, mereka tidak akan pernah pergi ke kehidupan lainnya. Jadi, orang-orang hanya peduli sehubungan dengan memiliki, berbisnis, membangun diri mereka sendiri … Dan lebih banyak lagi. Jika kita membiarkan diri kita dibimbing oleh apa yang tampaknya paling menarik bagi kita, apa yang kita sukai, oleh pengusahaan kepentingan kita, hidup kita menjadi mandul; kita tidak mengumpulkan cadangan minyak untuk pelita kita, dan pelita kita akan padam sebelum kedatangan Tuhan. Kita harus menghidupi hari ini, tetapi sebuah hari ini yang berjalan menuju hari esok, menuju kedatangan itu, sebuah kepenuhan pengharapan masa kini. Sebaliknya, jika kita berjaga-jaga dan berbuat baik sesuai dengan rahmat Allah, kita bisa dengan tenang menanti kedatangan sang mempelai. Tuhan dapat datang bahkan ketika kita sedang tidur : hal ini tidak akan membuat kita khawatir, karena kita memiliki cadangan minyak yang terkumpul melalui perbuatan baik kita sehari-hari, terakumulasi dengan pengharapan akan Tuhan, agar Ia sudi datang secepat mungkin dan agar Ia datang untuk membawa kita bersama-Nya.

 

Marilah kita memohonkan perantaraan Santa Maria, agar ia sudi membantu kita untuk menghidupi iman yang aktif, seperti yang ia lakukan : pelita yang bercahaya yang dengannya kita dapat melewati malam setelah kematian dan mencapai pesta besar kehidupan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari yang terkasih!

 

Kemarin di Barcelona, ​​Joan Roig y Diggle, seorang awam dan martir, dinyatakan sebagai beato. Ia terbunuh pada usia sembilan belas tahun selama Perang Saudara Spanyol. Ia memberi kesaksian tentang Yesus di tempat kerjanya dan tetap setia kepada-Nya hingga karunia utama kehidupan. Semoga teladannya mengilhami di dalam diri kita semua, terutama di kalangan kaum muda, keinginan untuk menghayati sepenuhnya panggilan Kristiani. Tepuk tangan untuk Sang Beato muda ini, sangat berani!

 

Saya melihat sebuah bendera di sana, yang membuat saya teringat akan penduduk Amerika Tengah, yang beberapa hari ini dilanda badai dahsyat, yang memakan banyak korban dan menyebabkan kerusakan besar, diperburuk oleh situasi pandemi yang sudah sulit. Semoga Tuhan menyambut mereka yang meninggal, menghibur keluarga mereka dan mendukung orang-orang yang paling membutuhkan, serta semua orang yang sedang membantu mereka semampunya.

 

Dengan prihatin saya sedang mengikuti berita yang datang dari Etiopia. Seraya saya mendesak agar godaan pertikaian bersenjata ditolak, saya mengundang semua orang untuk berdoa dan menghormati persaudaraan, berdialog, dan mengakhiri perselisihan secara damai.

 

Hari ini, di Tunisia, pertemuan “Forum Dialog Politik Libya” akan dimulai, dengan melibatkan semua pihak. Mengingat pentingnya acara tersebut, saya sangat berharap agar pada saat yang sulit ini penyelesaian untuk penderitaan panjang rakyat Libya akan ditemukan, serta kesepakatan baru-baru ini untuk gencatan senjata permanen dihormati dan dilaksanakan. Marilah kita mendoakan para delegasi Forum tersebut, demi perdamaian dan stabilitas di Libya.

 

Hari ini di Italia kita merayakan hari Thanksgiving dengan tema “Air, Berkat Bumi”. Air sangat penting untuk pertanian, dan juga penting untuk kehidupan! Saya dekat dalam doa dan kasih sayang dengan dunia pedesaan, terutama para petani berskala kecil. Pekerjaan mereka lebih penting dari sebelumnya di masa krisis ini. Saya bergabung dengan para uskup Italia yang mendesak perlindungan air demi kebaikan bersama, yang penggunaannya harus menghormati tujuan semestanya.

 

Dan sekarang saya menyampaikan salam kepada kalian, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara : keluarga, kelompok paroki, lembaga dan umat perorangan. Kepada kalian semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang, dan sampai jumpa!

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 8 November 2020)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 4 November 2020 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 13)


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Sayangnya kita harus kembali melakukan Audiensi ini di perpustakaan, untuk menjaga diri dari penularan Covid. Hal ini juga mengajarkan kita bahwa kita harus sangat memperhatikan keputusan dari pihak berwenang, baik otoritas politik maupun otoritas kesehatan, untuk menjaga diri dari pandemi ini. Marilah kita mempersembahkan kepada Tuhan jarak di antara kita ini, demi kebaikan semua orang, dan marilah kita memikirkan, marilah kita sangat memikirkan orang-orang sakit, orang-orang yang sudah terpinggirkan ketika mereka masuk rumah sakit, marilah kita memikirkan para dokter, para perawat, para sukarelawan, banyak orang yang bekerja dengan orang-orang sakit saat ini : mereka mempertaruhkan nyawa mereka tetapi mereka melakukannya karena mengasihi sesama, sebagai sebuah panggilan. Marilah kita mendoakan mereka.

 

Selama kehidupan publik-Nya, Yesus terus-menerus memanfaatkan kekuatan doa. Keempat Injil menunjukkan hal ini kepada kita ketika Ia pergi ke tempat terpencil untuk berdoa. Ini adalah pengamatan yang seksama dan apa adanya, yang memungkinkan kita hanya membayangkan dialog-dialog yang penuh doa itu. Pengamatan tersebut dengan jelas menunjukkan, bagaimanapun juga, bahwa bahkan pada saat pengabdian yang semakin besar kepada orang miskin dan orang sakit, Yesus tidak pernah mengabaikan dialog-Nya yang intim dengan Bapa. Semakin Ia tenggelam dalam kebutuhan orang-orang, semakin Ia merasa perlu untuk rehat dalam Persekutuan Tritunggal, kembali kepada Bapa dan Roh Kudus.

 

Oleh karena itu, ada sebuah rahasia dalam kehidupan Yesus, yang tersembunyi dari mata manusia, yang merupakan titik tumpu segala sesuatu. Doa Yesus adalah sebuah kenyataan misterius, di mana kita memiliki sedikit gerak batin, tetapi yang memungkinkan kita untuk menafsirkan seluruh perutusan-Nya dari sudut pandang yang benar. Dalam jam-jam sunyi itu - sebelum fajar atau malam hari - Yesus menenggelamkan diri-Nya dalam keintiman dengan Bapa, yaitu, dalam Sang Kasih yang didahagakan setiap jiwa. Inilah apa yang muncul sejak hari-hari pertama pelayanan-Nya di muka umum.

 

Pada suatu hari Sabat, misalnya, kota Kapernaum diubah rupa menjadi "rumah sakit lapangan" : setelah matahari terbenam mereka membawa semua orang sakit kepada Yesus, dan Ia menyembuhkan semua orang sakit itu. Namun, sebelum fajar, Yesus mengundurkan diri : Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa. Simon dan kawan-kawannya mencari Dia dan waktu menemukan Dia mereka berkata : "Semua orang mencari Engkau". Bagaimana jawaban Yesus? "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang" (lihat Mrk 1:35-38). Yesus selalu melangkah sedikit lebih jauh, lebih jauh dalam doa bersama Bapa, dan melampaui, ke desa-desa lain, cakrawala lain, pergi dan memberitakan kepada orang lain.

 

Doa adalah kemudi yang menuntun perjalanan Yesus. Doa bukan keberhasilan, doa bukan permufakatan, bukan kalimat "semua orang mencari Engkau" yang menggoda, yang mendikte tahapan perutusan-Nya. Jalan yang dipetakan Yesus adalah jalan yang paling tidak nyaman, tetapi jalan itulah yang dengannya Ia menaati inspirasi Bapa, yang didengar dan disambut Yesus dalam kesendirian doa-Nya.

 

Katekismus menyatakan bahwa "Kalau Yesus berdoa, Ia sudah mengajar kita berdoa" (no. 2607). Oleh karena itu, dari teladan Yesus kita dapat memperoleh beberapa ciri khas doa Kristiani.

 

Pertama dan terpenting, doa memiliki keutamaan : doa adalah keinginan pertama hari itu, sesuatu yang dilaksanakan saat fajar, sebelum dunia terbangun. Doa memulihkan jiwa kepada apa yang seharusnya tanpa nafas. Kehidupan sehari-hari tanpa doa berisiko diubah rupa menjadi pengalaman yang menjemukan atau membosankan : semua yang terjadi pada kita bisa berubah menjadi takdir yang sangat menanggung derita dan buta. Sebaliknya, Yesus mengajarkan ketaatan terhadap kenyataan dan, oleh karena itu, terhadap mendengarkan. Doa terutama adalah mendengarkan dan berjumpa Allah. Masalah-masalah kehidupan sehari-hari tidak menjadi halangan, tetapi himbauan dari Allah sendiri untuk mendengarkan dan menjumpai orang-orang yang ada di hadapan kita. Pencobaan hidup dengan demikian berubah menjadi kesempatan untuk bertumbuh dalam iman dan kasih. Perjalanan sehari-hari, termasuk kesulitan, memperoleh sudut pandang suatu “panggilan”. Doa memiliki kekuatan untuk mengubah rupa apa yang dalam hidup ini bisa menjadi kutukan; doa memiliki kekuatan untuk membuka pikiran dan memperluas hati menuju cakrawala yang besar.

 

Kedua, doa adalah seni yang harus dilaksanakan dengan bersikeras. Yesus sendiri berkata kepada kita : ketuklah, ketuklah, ketuklah. Yesus sendiri berkata kepada kita : ketuklah, ketuklah, ketuklah. Kita semua mampu berdoa secara sporadis, yang muncul dari emosi sesaat; tetapi Yesus mendidik kita dalam jenis lain dari doa : doa yang mengenal sebuah disiplin, latihan, yang dilakukan dalam aturan kehidupan. Doa yang selaras menghasilkan perubahan rupa tahap demi tahap, membuat kita kuat di saat kesusahan, memberi kita rahmat didukung oleh Dia yang mengasihi kita dan selalu melindungi kita.

 

Ciri khas lain dari doa Yesus adalah kesendirian. Orang-orang yang berdoa tidak luput dari dunia, tetapi lebih memilih tempat-tempat terpencil. Di sana, dalam keheningan, banyak suara yang kita sembunyikan di dalam diri kita yang terdalam dapat muncul : keinginan yang paling mengekang, kebenaran kebersikerasan kita yang mencekik, dan sebagainya. Dan terutama, dalam keheningan Allah berbicara. Setiap orang membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri, untuk dapat menumbuhkan kehidupan batin, di mana tindakan menemukan makna. Tanpa kehidupan batin kita menjadi dangkal, gelisah, dan cemas - betapa kecemasan merugikan kita! Inilah sebabnya kita harus pergi berdoa; tanpa kehidupan batin kita lari dari kenyataan, dan kita juga lari dari diri kita sendiri, kita manusia selalu dalam pelarian.

 

Akhirnya, doa Yesus adalah tempat di mana kita merasakan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya. Terkadang kita sebagai manusia percaya bahwa kita adalah empunya segalanya, atau sebaliknya, kita kehilangan segenap harga diri, kita pergi dari satu sisi ke sisi lain. Doa membantu kita menemukan dimensi yang tepat dalam hubungan kita dengan Allah, Bapa kita, dan dengan segenap ciptaan. Dan doa Yesus, pada akhirnya, berarti menyerahkan diri kita ke tangan Bapa, seperti Yesus di Taman Zaitun, dalam beratnya derita : “Bapa, janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki". Menyerahkan diri kita ke tangan Bapa. Baiknya, ketika kita gelisah, sedikit khawatir, serta Roh Kudus mengubah rupa batin kita dan menuntun kita menuju penyerahan diri kita ini ke tangan Bapa : “Bapa, biarlah kehendak-Mu terjadi”.

 

Saudara dan saudari yang terkasih, marilah kita menemukan kembali Yesus Kristus sebagai guru doa dalam Injil dan menempatkan diri kita di sekolah-Nya. Saya meyakinkanmu bahwa kita akan menemukan sukacita dan kedamaian.

 

[Himbauan]

 

Dalam hari-hari doa untuk arwah orang yang telah meninggal ini, kita telah mengenang dan terus mengenang para korban terorisme yang tak berdaya, yang kekejamannya semakin meningkat di seluruh Eropa. Saya sedang memikirkan, khususnya, serangan serius di Nice dalam beberapa hari terakhir, di tempat ibadah, dan serangan lainnya kemarin di jalanan kota Wina, yang menyebabkan kecemasan dan celaan di antara penduduk serta mereka yang sangat mengharapkan perdamaian dan dialog. Saya mempercayakan kepada kerahiman Allah orang-orang yang telah meninggal secara tragis dan saya mengungkapkan kedekatan rohani saya kepada keluarga mereka dan kepada semua orang yang menderita sebagai akibat dari peristiwa-peristiwa yang menyedihkan ini, yang berusaha untuk menyepakati kerjasama persaudaraan lintasagama melalui kekerasan dan kebencian.

 

[Sapaan khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat yang berbahasa Inggris. Di bulan November ini, marilah kita mendoakan terutama orang-orang terkasih kita yang meninggal, dan semua orang yang telah meninggal, agar Tuhan dalam kerahiman-Nya sudi menyambut mereka dalam perjamuan kehidupan kekal. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohonkan sukacita Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan memberkati kalian!

 

[Ringkasan yang disampaikan dalam bahasa Inggris oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang doa, sekarang kita meninjau bagaimana Yesus sendiri berdoa, karena hal ini mengungkapkan segi pokok bagaimana kita juga harus berdoa. Bahkan ketika tenggelam dalam memperhatikan orang-orang, Kristus tidak pernah abai berdialog dengan Bapa, yang menuntun semua yang Ia perbuat dan ajarkan. Dalam kesendirian doa, Ia memelihara keintiman yang penuh kasih dengan Bapa-Nya, keintiman yang juga kita dambakan. Dari teladan Tuhan kita, kita melihat bahwa doa pertama-tama berarti mendengarkan, dan berjumpa Allah : keinginan utama setiap hari. Kedua, kita perlu tekun berdoa, agar doa bisa menjadi aturan hidup, secara bertahap mengubah rupa diri kita dan, dengan rahmat Allah, menguatkan dan menopang kita di saat kesusahan. Ketiga, kesunyian dan keheningan penting untuk berdoa, bukan melarikan diri dari dunia tetapi, sebaliknya, membantu kita membuka diri secara lebih efektif terhadap kebutuhan orang lain. Akhirnya, doa mengingatkan kita bahwa segala sesuatu bergantung pada Allah. Hal ini menuntun kita untuk memulihkan pemahaman yang tepat tentang hubungan kita dengan-Nya dan dengan segenap ciptaan. Marilah kita, kemudian, belajar dari Yesus, pakar doa − yang semata-mata dapat memberikan kita sukacita dan kedamaian sejati.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 November 2020 : TENTANG SABDA BAHAGIA YANG KEDUA DAN KETIGA

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Pada Hari Raya Semua Orang Kudus yang khidmat ini, Gereja mengundang kita untuk berkaca pada pengharapan besar, pengharapan besar yang berlandaskan kebangkitan Kristus : Kristus telah bangkit dan kita juga akan berada bersama-Nya, kita akan berada bersama-Nya. Para Santo/a dan Beato/a adalah saksi-saksi pengharapan Kristiani yang paling berwibawa, karena dengan sepenuhnya mereka menghayatinya dalam hidup mereka, di tengah suka dan duka, mengamalkan Sabda Bahagia yang diberitakan Yesus dan yang bergema dalam Liturgi (lihat Mat 5:1-12a). Sabda Bahagia injili, pada kenyataannya, adalah jalan menuju kekudusan. Sekarang saya akan berkaca pada dua Sabda Bahagia, yang kedua dan yang ketiga.

 

Inilah Sabda Bahagia yang kedua : “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (ayat 4). Kata-kata ini terkesan bertolak belakang karena berdukacita bukanlah tanda sukacita dan kebahagiaan. Alasan berdukacita berasal dari penderitaan dan kematian, penyakit, kemalangan moral, dosa dan kesalahan : hanya dari kehidupan sehari-hari yang ditandai dengan kerapuhan, kelemahan dan kesulitan, kehidupan yang terkadang terluka dan tersakiti oleh rasa tidak tahu berterima kasih dan kesalahpahaman. Yesus memberitakan berbahagialah orang yang berdukacita atas kenyataan ini, yang percaya kepada Tuhan terlepas dari segalanya dan menempatkan diri mereka di bawah bayangan-Nya. Mereka tidak acuh tak acuh, juga tidak mengeraskan hati saat kesakitan, tetapi mereka dengan sabar mengharapkan penghiburan Allah. Dan mereka mengalami penghiburan ini bahkan dalam kehidupan ini.

 

Dalam Sabda Bahagia yang ketiga, Yesus menyatakan : “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi” (ayat 5). Saudara dan saudari, kelemahlembutan! Kelemahlembutan adalah ciri khas Yesus, yang berkata tentang diri-Nya : "Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati" (Mat 11:29). Orang yang lemah lembut adalah orang yang tahu bagaimana mengendalikan diri, yang memberikan ruang untuk orang lain, mereka mendengarkan orang lain, menghormati cara hidup orang lain, kebutuhan dan permintaannya. Mereka tidak bermaksud untuk memberatkan atau mengecilkan yang lain, mereka tidak ingin berada di atas atau menguasai segalanya, mereka juga tidak memaksakan gagasan atau kepentingan untuk merugikan orang lain. Orang-orang ini, yang tidak dihargai oleh dunia dan mentalitasnya, justru berharga di mata Allah. Allah memberi mereka tanah terjanji sebagai warisan, yaitu kehidupan yang kekal. Sabda bahagia ini juga dimulai di bawah sini dan digenapi di dalam Kristus. Tetapi kelemahlembutan … Pada saat ini dalam kehidupan, bahkan di dunia, ada begitu banyak penyerangan, dalam kehidupan sehari-hari juga, hal pertama yang keluar dari kita adalah serangan, sikap bertahan. Kita membutuhkan kelemahlembutan untuk maju di jalan kekudusan. Mendengarkan, menghormati, tidak menyerang : kelemahlembutan.

 

Saudara dan saudari yang terkasih, memilih kesucian hati, kelemahlembutan dan kemurahan hati; memilih untuk mempercayakan diri dalam kemiskinan di hadapan Allah dan kesusahan; mendedikasikan diri pada keadilan dan perdamaian - semua ini berarti melawan arus sehubungan dengan mentalitas dunia ini, sehubungan dengan budaya memiliki, kesenangan tanpa makna, kesombongan terhadap orang yang paling lemah. Jalan injili ini dilalui oleh para Santo/a dan Beato/a. Hari raya hari ini yang menghormati semua orang kudus mengingatkan kita akan panggilan pribadi dan universal menuju kekudusan, dan mengusulkan model yang pasti untuk perjalanan ini yang dijalani setiap orang dengan cara yang unik, cara yang tidak dapat terulang. Cukup dengan memikirkan keanekaragaman karunia dan kisah kehidupan nyata yang tidak ada habisnya di antara para kudus : mereka tidak sama, masing-masing memiliki kepribadian dan mengembangkan kehidupan kekudusan sesuai dengan kepribadian mereka, dan kita masing-masing dapat melakukannya, mengambil jalan ini : kelemahlembutan, kelemahlembutan, tolong, dan kita akan menuju kekudusan.

 

Keluarga besar murid-murid Kristus yang setia ini memiliki seorang Bunda, Perawan Maria. Kita menghormatinya dengan gelar Ratu Para Kudus; tetapi ia pertama-tama adalah Bunda yang mengajari semua orang bagaimana menyambut dan mengikuti anak-anaknya. Semoga ia membantu kita memupuk keinginan untuk kekudusan, berjalan di jalan Sabda Bahagia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 


Kemarin, di Hartford, di Amerika Serikat, Michael McGivney yang dikukuhkan sebagai beato : imam diosesan, pendiri Knights of Columbus. Mendedikasikan diri untuk evangelisasi, ia melakukan segala kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan, mempromosikan bantuan timbal balik. Semoga teladannya menjadi pendorong bagi kita untuk selalu menjadi saksi-saksi Injil cinta kasih. Marilah kita beri tepuk tangan untuk sang beato baru ini.

 

Pada hari raya ini janganlah kita melupakan apa yang sedang terjadi di Nagorno-Karabakh di mana sedang terjadi bentrokan bersenjata di tengah gencatan senjata yang rapuh, dengan peningkatan jumlah korban yang tragis, penghancuran rumah, gedung dan tempat ibadah, dengan keterlibatan yang semakin masif dari penduduk sipil. Tragis.

 

Dengan sepenuh hati saya kembali ingin menyerukan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam pertikaian tersebut agar mereka segera turun tangan untuk menghentikan pertumpahan darah orang-orang yang tidak bersalah. Semoga mereka tidak berpikir untuk menggunakan kekerasan guna menyelesaikan perselisihan, tetapi mendedikasikan diri pada negosiasi yang tulus dengan bantuan masyarakat internasional. Di pihak saya, saya dekat dengan semua orang yang sedang menderita dan saya mengundang [semua orang] untuk memohon pengantaraan para kudus untuk perdamaian yang stabil di wilayah itu.

 

Marilah kita juga mendoakan penduduk di kawasan Laut Aegean yang dua hari lalu dilanda gempa bumi yang kuat.

 

Saya menyapa kalian semua dari Roma dan para peziarah dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa para peserta Lomba Para Kudus yang digagaskan oleh Yayasan Don Bosco di seluruh dunia. Tahun ini mereka berlomba dari jarak jauh maupun secara perorangan. Meski berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil untuk menghormati jarak yang dipaksakan karena pandemi, acara olahraga ini menawarkan dimensi iman yang dikenal luas pada perayaan keagamaan Hari Raya Semua Orang Kudus. Terima kasih atas prakarsa dan kehadiran kalian.

 

Besok sore, saya akan merayakan Misa arwah di Pemakaman Teutonik, sebuah tempat pemakaman di Kota Vatikan. Saya mempersatukan diri secara rohani dengan orang-orang yang, seraya mematuhi peraturan kesehatan yang penting, pergi berdoa di dekat makam orang-orang yang mereka kasihi di pelbagai belahan dunia.

 

Kepada kalian semua saya mengucapkan selamat hari raya dalam persekutuan rohani para kudus. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makanan kalian dan sampai jumpa.