Liturgical Calendar

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA XXIX 11 Februari 2021

"Hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara" (Mat 23:8). Hubungan yang berlandaskan kepercayaan untuk memandu perawatan bagi orang sakit.

 

Saudara dan saudari yang terkasih,

 

Perayaan Hari Orang Sakit Sedunia XXIX pada 11 Februari 2021, peringatan liturgi Santa Perawan Maria dari Lourdes, adalah kesempatan untuk mencurahkan perhatian khusus bagi orang-orang sakit serta orang-orang yang membantu dan merawat mereka baik dalam lembaga perawatan kesehatan maupun dalam keluarga dan komunitas. Kita terutama memikirkan orang-orang yang telah menderita, dan terus menderita, akibat pandemi virus Corona di seluruh dunia. Kepada semuanya, dan terutama kepada orang-orang miskin dan terpinggirkan, saya mengungkapkan kedekatan rohani saya dan meyakinkan mereka akan perhatian Gereja yang penuh kasih.

 

1.       Tema Hari Orang Sakit Sedunia ini diambil dari perikop Injil yang di dalamnya Yesus mengkritik kemunafikan orang-orang yang gagal mengamalkan apa yang mereka khotbahkan (bdk. Mat 23:1-12). Ketika iman kita direduksi menjadi kata-kata kosong, tidak peduli dengan kehidupan dan kebutuhan sesama, keyakinan yang kita akui terbukti tidak sejalan dengan kehidupan yang kita jalani. Bahaya tersebut nyata. Itulah sebabnya Yesus menggunakan bahasa yang keras berkenaan dengan bahaya jatuh ke dalam penyembahan berhala diri. Ia mengatakan kepada kita : "Hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara" (ayat 8).

 

Kritik Yesus terhadap mereka yang "berkhotbah tetapi tidak melakukan" (ayat 3) selalu membantu dan di mana-mana, karena tak seorang pun dari kita yang kebal terhadap gawatnya kejahatan kemunafikan, yang menghalangi kita berkembang sebagai anak-anak dari satu Bapa, dipanggil untuk menghayati persaudaraan universal.

 

Berhadapan dengan kebutuhan saudara-saudari kita, Yesus meminta kita untuk menanggapi sepenuhnya guna menentang kemunafikan semacam itu. Ia meminta kita untuk berhenti dan mendengarkan, membangun hubungan yang bersifat langsung dan pribadi dengan sesama, merasakan empati dan kasih sayang, serta memperkenankan penderitaan mereka menjadi penderitaan kita ketika kita berusaha untuk melayani mereka (bdk. Luk 10:30-35).

 

2.     Pengalaman sakit membuat kita menyadari kerentanan dan kebutuhan bawaan kita akan sesama. Pengalaman tersebut membuat kita semakin jelas merasakan bahwa kita adalah makhluk yang bergantung pada Allah. Ketika kita sakit, ketakutan dan bahkan kebingungan dapat mencengkeram pikiran dan hati kita; kita mendapati diri tidak berdaya, karena kesehatan kita tidak bergantung pada kemampuan kita atau kekhawatiran hidup yang tiada henti (bdk. Mat 6:27).

 

Penyakit menimbulkan pertanyaan tentang makna hidup, yang kita bawa ke hadapan Allah dalam iman. Dalam mencari arah kehidupan kita yang baru dan lebih mendalam, kita mungkin tidak segera menemukan jawaban. Kerabat dan para sahabat kita juga tidak selalu dapat membantu kita dalam pencarian yang menuntut ini.

 

Sosok biblis Ayub merupakan lambang dalam hal ini. Istri dan para sahabat Ayub tidak menemaninya dalam kemalangannya; sebaliknya, mereka menyalahkannya serta hanya memperburuk kesendirian dan kesusahannya. Ayub merasa sedih dan disalahpahami. Namun terhadap seluruh kelemahannya yang ekstrim, ia menolak kemunafikan serta memilih jalan kejujuran terhadap Allah dan sesama. Ia bersikeras berseru kepada Allah sehingga Allah akhirnya menjawabnya dan memperkenankannya untuk melihat cakrawala baru. Ia menegaskan bahwa penderitaan Ayub bukanlah hukuman atau keadaan terpisah dari Allah, apalagi sebagai tanda ketidakpedulian Allah. Hati Ayub, terluka dan sembuh, kemudian membuat pengakuan yang hidup dan menyentuh ini kepada Tuhan : “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (42:5).

 

3.      Penyakit selalu memiliki lebih dari satu wajah : ia berwajah seluruh orang sakit, tetapi juga orang-orang yang merasa diabaikan, dikucilkan dan menjadi mangsa ketidakadilan sosial yang menyangkal hak-hak fundamental mereka (bdk. Fratelli Tutti, 22). Pandemi saat ini telah memperburuk kesenjangan dalam sistem perawatan kesehatan kita dan memperlihatkan ketidakefisienan dalam perawatan orang sakit. Orang lanjut usia, orang lemah dan rentan tidak selalu diberikan akses ke perawatan, atau dengan cara yang adil. Ini adalah hasil dari keputusan politik, pengelolaan sumber daya, dan komitmen yang lebih besar atau lebih kecil dari pihak yang memegang posisi tanggung jawab. Menginvestasikan sumber daya dalam perawatan dan bantuan orang sakit adalah prioritas yang terkait dengan prinsip dasariah bahwa kesehatan adalah kebaikan bersama yang utama. Namun, pandemi juga menyoroti dedikasi dan kemurahan hati para petugas kesehatan, para sukarelawan, jajaran pendukung, para imam, para pelaku hidup bakti, yang seluruhnya telah membantu, merawat, menghibur dan melayani begitu banyak orang sakit dan keluarga mereka dengan profesionalisme, pemberian diri, tanggung jawab dan kasih terhadap sesama. Banyak pria dan wanita yang secara diam-diam memilih untuk tidak melihat ke arah lain tetapi ikut serta dalam penderitaan pasien, yang mereka lihat sebagai sesama dan anggota satu keluarga manusia kita.

 

Kedekatan seperti itu adalah balsem yang berharga yang memberikan dukungan dan penghiburan bagi orang sakit dalam penderitaan mereka. Sebagai umat Kristiani, kita mengalami kedekatan itu sebagai tanda kasih Yesus Kristus, Orang Samaria yang baik, yang dengan belas kasih mendekati setiap manusia yang terluka oleh dosa. Dipersatukan dengan Kristus oleh karya Roh Kudus, kita dipanggil untuk menjadi penuh belas kasihan seperti Bapa dan teristimewa mengasihi saudara-saudari kita yang rentan, lemah dan menderita (bdk. Yoh 13:34-35). Kita mengalami kedekatan ini tidak hanya sebagai individu tetapi juga sebagai komunitas. Sungguh, kasih persaudaraan di dalam Kristus menghasilkan komunitas penyembuhan, komunitas yang tidak meninggalkan siapa pun, komunitas yang menyertakan dan menyambut, terutama terhadap orang-orang yang paling membutuhkan.

 

Di sini saya ingin menyebutkan pentingnya kesetiakawanan persaudaraan, yang terungkap secara nyata dalam pelayanan dan dapat mengambil berbagai bentuk, semuanya terarah untuk mendukung sesama. “Melayani berarti peduli… terhadap kerentanan keluarga kita, masyarakat kita, bangsa kita” (Homili di Havana, 20 September 2015). Dalam penjangkauan ini, semua orang “dipanggil untuk menyingkirkan keinginan dan kehendak mereka, mengejar kekuasaan, di hadapan tatapan nyata dari orang-orang yang paling rentan… Pelayanan selalu memandang wajah mereka, menjamah daging mereka, merasakan kedekatan mereka dan bahkan, dalam beberapa kasus, 'mengidap' kedekatan itu dan berusaha membantu mereka. Pelayanan tidak pernah ideologis, karena kita tidak melayani gagasan, kita melayani orang-orang” (idem.).

 

4.     Jika ingin efektif, suatu terapi harus mempunyai aspek relasional, karena hal ini memungkinkan pendekatan menyeluruh kepada pasien. Menekankan aspek ini dapat membantu para dokter, para perawat, para tenaga ahli dan para sukarelawan untuk merasa bertanggung jawab guna mendampingi pasien di jalur penyembuhan yang berlandaskan hubungan antarpribadi yang saling percaya (bdk. Piagam Baru untuk Para Petugas Kesehatan [2016], 4). Hal ini menciptakan perjanjian antara orang-orang yang membutuhkan perawatan dan orang-orang yang menyediakan perawatan tersebut, perjanjian yang berlandaskan rasa saling percaya dan hormat, keterbukaan dan ketersediaan. Hal ini akan membantu mengatasi sikap defensif, menghormati martabat orang sakit, menjaga profesionalisme para petugas kesehatan dan membina hubungan yang baik dengan keluarga pasien.

 

Hubungan dengan orang sakit yang seperti itu dapat menemukan sumber motivasi dan kekuatan yang tak pernah gagal dalam kasih Kristus, seperti yang ditunjukkan oleh kesaksian dari manusia yang selama ribuan tahun telah bertumbuh dalam kekudusan melalui pelayanan bagi orang-orang yang lemah. Karena misteri wafat dan kebangkitan Kristus adalah sumber kasih yang mampu memberikan makna penuh pada pengalaman baik pasien maupun perawat. Injil sering memperjelas hal ini dengan menunjukkan bahwa Yesus menyembuhkan bukan secara magis tetapi sebagai hasil dari suatu perjumpaan, hubungan antarpribadi, yang di dalamnya karunia Allah mendapat tanggapan dalam iman orang-orang yang menerimanya. Seperti yang kerap diulangi Yesus : "Imanmu telah menyelamatkanmu".

 

5.     Saudara-saudari yang terkasih, perintah kasih yang ditinggalkan Yesus bagi murid-murid-Nya juga dipelihara dalam hubungan kita dengan orang sakit. Suatu masyarakat jauh lebih manusiawi sejauh ia secara efektif memperhatikan anggota-anggotanya yang paling lemah dan menderita, dalam semangat kasih persaudaraan. Marilah kita berusaha untuk mencapai tujuan ini, agar tak seorang pun yang merasa sendirian, dikucilkan atau ditinggalkan.

Kepada Maria, Bunda Kerahiman dan Kesehatan Orang Lemah, saya mempercayakan orang-orang sakit, para petugas kesehatan dan semua orang yang dengan murah hati membantu saudara-saudari kita yang sedang menderita. Dari Gua Lourdes dan banyak tempat kudus Maria lainnya di seluruh dunia, semoga ia menopang iman dan harapan kita, serta membantu kita saling memperhatikan dengan kasih persaudaraan. Kepada masing-masing dan semua orang, dengan hormat saya memberikan berkat saya.

 

Roma, Santo Yohanes Lateran, 20 Desember 2020,

Hari Minggu Adven IV

 

Fransiskus

_____


(dialihbahasakan oleh Peter Suriadi - Bogor, 13 Januari 2021)

 

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 Januari 2021 : TENTANG PESTA PEMBAPTISAN TUHAN


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini kita sedang merayakan Pembaptisan Tuhan. Beberapa hari yang lalu, kita memperkenankan Bayi Yesus dikunjungi oleh para Majus; hari ini kita mendapati-Nya sebagai orang dewasa di tepi Sungai Yordan. Liturgi telah membuat kita melompat sekitar 30 tahun, 30 tahun yang tentangnya kita ketahui satu hal : 30 tahun tersebut adalah tahun-tahun kehidupan yang tersembunyi, yang dihabiskan Yesus bersama keluarga-Nya - beberapa tahun, pertama, di Mesir, sebagai pendatang untuk melarikan diri dari penganiayaan Herodes, tahun-tahun lainnya di Nazaret, mempelajari keahlian Yusuf - bersama keluarga, mematuhi orang tua-Nya, belajar dan bekerja. Sungguh mengejutkan bahwa sebagian besar waktu-Nya di Bumi dihabiskan Tuhan dengan cara ini : menjalani kehidupan biasa, tanpa menonjolkan diri. Kita memikirkan bahwa, menurut keempat Injil, ada tiga tahun pemberitaan, mukjizat dan banyak hal. Tiga tahun. Dan tahun lainnya, seluruh tahun lainnya, hidup tersembunyi bersama keluarga-Nya. Sebuah pesan yang bagus untuk kita : mengungkapkan kebesaran kehidupan sehari-hari, pentingnya di mata Allah setiap isyarat dan momen kehidupan, bahkan yang paling sederhana, bahkan yang paling tersembunyi.

 

Setelah 30 tahun kehidupan yang tersembunyi ini, kehidupan Yesus di muka umum dimulai. Dan memang kehidupan tersebut dimulai dengan pembaptisan di Sungai Yordan. Tetapi Yesus adalah Allah; mengapa Yesus dibaptis? Baptisan Yohanes berupa ritus pertobatan; baptisan Yohanes adalah tanda kehendak seseorang untuk bertobat, menjadi lebih baik, memohon pengampunan atas dosa-dosanya. Yesus pasti tidak membutuhkannya. Sebenarnya, Yohanes Pembaptis mencoba mencegahnya, tetapi Yesus bersikeras. Mengapa? Karena Ia ingin bersama orang-orang berdosa : karena alasan ini Ia sejalan dengan mereka dan melakukan hal yang sama dengan mereka. Ia melakukannya dengan sikap rakyat, dengan sikap mereka [rakyat] yang, seperti yang dikatakan madah liturgi, mendekati “dengan jiwa telanjang dan kaki telanjang”. Jiwa telanjang, yaitu, tanpa penutup apa pun, seperti ini, orang berdosa. Ini adalah isyarat yang diperbuat Yesus, dan Ia turun ke sungai untuk menenggelamkan dirinya dalam kondisi yang sama seperti kita sekarang. Sesungguhnya, baptisan berarti “penenggelaman”. Dengan demikian, pada hari pertama pelayanan-Nya, Yesus menawarkan kepada kita "perwujudan terprogram"-Nya. Ia mengatakan kepada kita bahwa Ia tidak menyelamatkan kita dari tempat tinggi, dengan sebuah keputusan berdaulat atau tindakan paksa, sebuah dekrit, tidak : Ia menyelamatkan kita dengan datang menemui kita dan menanggung dosa kita atas diri-Nya. Beginilah cara Allah mengalahkan kejahatan duniawi : dengan merendahkan diri, mengambil alih kejahatan tersebut. Cara Allah tersebut juga merupakan cara kita untuk bisa mengangkat orang lain : bukan dengan menghakimi, bukan dengan menyarankan apa yang harus diperbuat, tetapi dengan menjadi sesama, berempati, berbagi kasih Allah. Kedekatan adalah sarana Allah bersama kita; Ia sendiri berkata demikian kepada Musa : 'Pikirkan : bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat sebagaimana Tuhan yang kamu miliki'. Kedekatan adalah sarana Allah bersama kita.

 

Setelah tindakan belas kasihan Yesus ini, hal luar biasa lainnya terjadi : langit terkoyak dan Tritunggal akhirnya terungkap. Roh Kudus turun dari surga seperti burung merpati (Mrk 1:10) dan Bapa berkata kepada Yesus : “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (ayat 11). Allah mewujudkan diri-Nya saat belas kasihan muncul. Jangan melupakan hal ini : Allah mewujudkan diri-Nya ketika belas kasihan muncul, karena itulah wajah-Nya. Yesus menjadi hamba orang-orang berdosa dan diberitakan sebagai Anak; Ia merendahkan diri-Nya atas diri kita dan Roh turun atas diri-Nya. Kasih memanggil kasih. Hal tersebut juga berlaku bagi diri kita : dalam setiap tindakan pelayanan, dalam setiap karya belas kasihan yang kita perbuat, Allah mewujudkan diri-Nya; Allah mengarahkan pandangan-Nya ke dunia. Hal tersebut berlaku untuk diri kita.

 

Tetapi, bahkan sebelum kita melakukan sesuatu, hidup kita ditandai oleh belas kasihan dan belas kasihan itu diletakkan atas diri kita. Kita telah diselamatkan dengan cuma-cuma. Keselamatan itu cuma-cuma. Keselamatan adalah isyarat belas kasihan Allah yang diberikan secara cuma-cuma kepada kita. Secara sakramental hal ini dilakukan pada hari pembaptisan kita; tetapi bahkan mereka yang tidak dibaptis selalu menerima belas kasihan Allah, karena Allah berada di sana, menantikan mereka membuka pintu hati. Ia mendekat, perkenankan saya mengatakannya, Ia membelai kita dengan belas kasihan-Nya.

 

Semoga Bunda Maria, yang kepadanya sekarang kita berdoa, membantu kita untuk menghargai jatidiri pembaptisan kita, yaitu jatidiri menjadi 'berbelas kasihan', yang terletak di dasar iman dan kehidupan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, saya mengucapkan salam penuh kasih kepada rakyat Amerika Serikat, yang terguncang oleh pengepungan pada Kongres baru-baru ini. Saya mendoakan mereka yang kehilangan nyawa - lima orang - mereka kehilangan nyawa di saat-saat dramatis itu. Saya menegaskan bahwa kekerasan selalu merusak diri sendiri. Tidak ada yang diperoleh dengan kekerasan dan begitu banyak yang raib. Saya mendesak otoritas pemerintah dan seluruh penduduk untuk memelihara rasa tanggung jawab yang mendalam, menenangkan jiwa-jiwa, mengembangkan rekonsiliasi nasional dan melindungi nilai-nilai demokrasi yang berakar dalam masyarakat Amerika. Semoga Sang Perawan Tak Bernoda, Pelindung Amerika Serikat, membantu menghidupkan budaya perjumpaan, budaya kepedulian, sebagai jalan rajawi untuk membangun kebaikan bersama; dan saya melakukannya dengan semua orang yang tinggal di negeri itu.

 

Dan sekarang saya sampaikan salam yang tulus untuk kalian semua, yang terhubung melalui media. Seperti kalian ketahui, karena pandemi, hari ini saya tidak bisa merayakan pembaptisan di Kapel Sistina, seturut kebiasaan. Bagaimanapun juga, dalam kasus apapun, saya ingin memastikan doa saya untuk anak-anak yang telah mendaftar dan para orangtua, para wali baptis mereka; dan saya menyampaikannya pula kepada semua anak yang dalam rentang waktu ini menerima pembaptisan, menerima jatidiri kristiani, menerima rahmat pengampunan, rahmat penebusan. Semoga Tuhan memberkati semuanya!

 

Dan besok, saudara-saudari yang terkasih, dengan berakhirnya Masa Natal, bersama liturgi kita akan melanjutkan perjalanan Masa Biasa. Janganlah kita lelah memohon terang dan kekuatan Roh Kudus, agar Ia sudi membantu kita mengalami hal-hal biasa dengan kasih dan oleh karenanya menjadikannya luar biasa. Kasih itulah yang mengubah : hal-hal biasa tampak terus menjadi biasa, tetapi ketika dilakukan dengan kasih, hal itu menjadi luar biasa. Jika kita tetap terbuka, patuh, kepada Roh, Ia mengilhami pikiran dan tindakan kita sehari-hari.

 

Kepada kalian semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang. Sampai jumpa!

____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 10 Januari 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 Januari 2021 : HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan, yaitu pengejawantahan Tuhan kepada semua orang : pada kenyataannya, keselamatan yang dilakukan oleh Kristus tidak mengenal batas. Keselamatan adalah untuk semua orang. Penampakan Tuhan bukanlah misteri tambahan, penampakan Tuhan selalu merupakan misteri yang sama dengan Kelahiran Yesus, namun dilihat dari lingkup terang, terang yang menerangi setiap manusia, terang yang harus diterima dalam iman dan terang yang harus dibawa kepada orang lain dalam amal kasih, melalui kesaksian, dalam pewartaan Injil.

 

Penglihatan nabi Yesaya, yang dilaporkan dalam Liturgi hari ini (lihat 60:1-6), bergema di zaman kita dan lebih tepat waktu dari sebelumnya : "kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa" (ayat 2), teks dari kitab nabi Yesaya mengatakan. Dengan latar belakang itu, nabi Yesaya memberitakan terang itu : terang yang diberikan Allah kepada Yerusalem dan ditakdirkan untuk menerangi jalan seluruh bangsa. Terang ini memiliki kekuatan untuk menarik semua orang, dekat dan jauh, setiap orang berangkat di jalan untuk mencapainya (ayat 3). Terang itu adalah sebuah penglihatan yang membuka hati, yang membuat napas menjadi lebih mudah, yang mengundang harapan. Pastinya, kegelapan hadir dan mengancam dalam kehidupan setiap orang dan dalam kisah umat manusia; tetapi terang Allah lebih kuat. Terang Allah perlu disambut agar bisa bersinar pada semua orang. Tetapi, kita bisa menjauhkan terang ini dari diri kita. Tetapi kita bisa bertanya pada diri sendiri : "Di manakah terang ini?" Nabi Yesaya melihatnya sekilas dari jauh, tetapi itu sudah cukup untuk memenuhi hati Yerusalem dengan sukacita yang tak tertahankan. Di manakah terang itu?

 

Penginjil Matius, pada gilirannya, menceritakan kisah para Majus (lihat 2:1-12), menunjukkan bahwa terang ini adalah Sang Bayi Betlehem, terang ini adalah Yesus, bahkan jika kerajawian-Nya tidak diterima oleh semua orang. Bahkan ada yang menolak-Nya, seperti Raja Herodes. Ia adalah bintang yang muncul di cakrawala, Sang Mesias yang dinantikan, yang melalui Dia Allah akan meresmikan kerajaan kasih-Nya, kerajaan keadilan dan perdamaian-Nya. Ia lahir tidak hanya untuk beberapa orang, tetapi untuk semua pria dan wanita, untuk semua orang. Terang untuk semua orang, keselamatan untuk semua orang.

 

Dan bagaimana "radiasi" ini datang? Bagaimana terang Kristus bersinar di setiap tempat dan di setiap saat? Terang Kristus memiliki metode pengembangannya sendiri. Terang Kristus tidak dilakukan melalui sarana-sarana kekuasaan dari kerajaan dunia ini yang selalu berusaha untuk merebut kekuasaan. Tidak, terang Kristus menyebar melalui pemberitaan Injil. Melalui pemberitaan … dengan perkataan dan kesaksian. Dan dengan "metode" yang sama ini, Allah memilih untuk datang di antara kita : Penjelmaan, yaitu dengan saling mendekat, berjumpa orang lain, menerima kenyataan orang lain dan membawa kesaksian tentang iman kita, setiap orang. Inilah satu-satunya cara agar terang Kristus, yang adalah Kasih, dapat bersinar dalam diri orang-orang yang menerimanya dan menarik orang lain. Terang Kristus tidak hanya berkembang melalui kata-kata, melalui metode pura-pura, metode komersial…. Tidak, tidak, melalui iman, perkataan dan kesaksian. Dengan demikian terang Kristus berkembang. Bintang adalah Kristus, tetapi kita juga bisa dan juga harus menjadi bintang bagi saudara-saudari kita, sebagai saksi-saksi khazanah kebaikan dan belas kasihan yang tak terbatas yang ditawarkan Sang Penebus dengan cuma-cuma kepada semua orang. Terang Kristus tidak berkembang melalui penyebaran agama. Terang Kristus berkembang melalui kesaksian, melalui pengakuan iman. Bahkan melalui kemartiran.

 

Oleh karena itu, syaratnya adalah menyambut terang ini di dalam diri, selalu semakin menyambutnya. Celakalah kita jika kita mengira kita memilikinya, tidak; celakalah kita jika kita berpikir bahwa kita hanya perlu “mengelolanya”! Tidak. Seperti para Majus, kita juga dipanggil untuk membiarkan diri kita terpesona, tertarik, dibimbing, diterangi dan dipertobatkan oleh Kristus : Ia adalah perjalanan iman, melalui doa dan kontemplasi atas karya Allah, yang terus menerus memenuhi kita dengan sukacita dan keajaiban, keajaiban yang sungguh baru. Keajaiban itu selalu menjadi langkah pertama untuk maju dalam terang ini.

 

Marilah kita memohon perlindungan Maria atas Gereja semesta, sehingga bisa menyebarkan Injil Kristus, terang semua bangsa, terang setiap orang, ke seluruh dunia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih,

 

Saya sedang mengikuti dengan seksama dan menyita pikiran peristiwa-peristiwa di Republik Afrika Tengah yang baru-baru ini melangsungkan pemilihan di mana orang-orang telah mewujudkan keinginan untuk mengusahakan jalan perdamaian. Saya mengundang semua pihak menuju dialog persaudaraan, penuh hormat, untuk menolak segala bentuk kebencian dan menghindari segala bentuk kekerasan.

 

Saya menyampaikan kasih sayang saya kepada saudara dan saudari dari Gereja Oriental, Katolik dan Ortodoks, yang menurut tradisi akan merayakan kelahiran Tuhan besok. Kepada mereka, saya menyampaikan harapan saya yang paling tulus untuk Natal kudus dalam terang Kristus, damai sejahtera dan harapan kita.

 

Pada Hari Raya Penampakan Tuhan hari ini, Hari Anak Misioner Sedunia dirayakan yang melibatkan banyak anak laki-laki dan perempuan di seluruh dunia. Saya berterima kasih kepada mereka masing-masing dan saya mendorong mereka untuk menjadi para saksi Yesus yang penuh sukacita, berusaha untuk selalu membawa persaudaraan di antara teman-teman sebaya kalian.

 

Dengan hormat saya menyapa kalian semua yang terhubung melalui berbagai sarana komunikasi. Salam khusus ditujukan kepada Yayasan Prosesi Tiga Raja yang menyelenggarakan acara evangelisasi dan kesetiakawanan di berbagai kota dan desa di Polandia dan di negara lain.

 

Kepada kalian semua saya mengucapkan Selamat Hari Raya Kenaikan Tuhan! Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makanan kalian dan sampai jumpa.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 6 Januari 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 3 Januari 2021 : ALLAH MENGASIHI KITA DALAM SEGALA KERAPUHAN KITA


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat siang!

 

Pada hari Minggu kedua setelah Natal ini, Sabda Allah tidak menawarkan kepada kita bagian kisah kehidupan Yesus, tetapi malahan menceritakan kepada kita tentang-Nya sebelum Ia dilahirkan. Sabda Allah tersebut membawa kita kembali mengungkapkan sesuatu tentang Yesus sebelum Ia datang di antara kita. Hal tersebut terungkap khususnya dalam pembukaan Injil Yohanes, yang dimulai dengan : “Pada mulanya adalah Firman” (Yoh 1:1). Pada mulanya : adalah kata-kata pertama dalam Alkitab, kata-kata yang sama dengan awal kisah penciptaan : “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej 1:1). Hari ini, Injil mengatakan bahwa Yesus, yang kita renungkan pada saat Kelahiran-Nya, sebagai seorang bayi, telah ada sebelumnya : sebelum dimulainya sesuatu, sebelum alam semesta, sebelum segala sesuatu. Ia ada sebelum ruang dan waktu. “Dalam Dia ada hidup” (Yoh 1:4), sebelum munculnya kehidupan.

 

Santo Yohanes menyebut-Nya Logos, yaitu Firman. Apa yang ia maksud dengan ini? Kata digunakan untuk berkomunikasi : orang-orang tidak berbicara sendirian, orang-orang berbicara dengan seseorang. Kita selalu berbicara dengan seseorang. Ketika kita berada di jalan dan kita melihat orang-orang yang berbicara dengan diri mereka sendiri, kita berkata, “Orang ini, sesuatu telah terjadi pada mereka…”. Tidak, kita selalu berbicara dengan seseorang. Sekarang, pada kenyataannya Yesus adalah Firman sejak awal mula berarti sejak awal Allah ingin berkomunikasi dengan kita, Ia ingin berbicara kepada kita. Putra Tunggal Bapa (lihat ayat 14) ingin memberitahu kita tentang indahnya menjadi anak-anak Allah; Ia adalah "terang yang sesungguhnya" (ayat 9) dan ingin menyingkirkan kegelapan kejahatan dari diri kita; Ia adalah "hidup" (ayat 4), yang mengenal kehidupan kita dan ingin memberitahu kita bahwa Ia selalu mengasihi kehidupan kita. Ia mengasihi kita semua. Ini adalah pesan yangmenakjubkan hari ini : Yesus adalah Firman Allah, Firman Allah yang kekal, yang selalu memikirkan kita dan ingin berkomunikasi dengan kita.

 

Dan dengan melakukannya, Ia melampaui kata-kata. Sesungguhnya, pokok Injil hari ini memberitahu kita bahwa “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” (ayat 14). Firman menjadi daging : mengapa Santo Yohanes menggunakan ungkapan “daging” ini? Tidak bisakah ia mengatakan, dengan cara yang lebih elegan, bahwa Firman itu menjadi manusia? Tidak, ia menggunakan kata daging karena daging menunjukkan keadaan manusiawi kita dalam segala kelemahannya, dengan segala kerapuhannya. Ia memberitahu kita bahwa Allah menjadi rapuh agar Ia bisa menjamah kerapuhan kita dari dekat. Jadi, sejak Allah menjadi manusia, tidak ada hal lain dalam hidup kita yang asing bagi-Nya. Tidak ada yang Ia remehkan, kita dapat berbagi segalanya dengan Dia, segala sesuatunya. Saudara yang terkasih, saudari yang terkasih, Allah menjadi daging untuk memberitahu kita, memberitahu kamu bahwa Ia mengasihi kita seperti itu, dalam kerapuhan kita, dalam kerapuhanmu; persis di sana, di mana kita paling malu, di mana kamu paling malu. Hal tersebut berani, keputusan Allah tersebut berani : Ia menjadi daging persis di tempat yang sangat sering membuat kita merasa malu; Ia masuk ke dalam rasa malu kita, menjadi saudara kita, berbagi jalan kehidupan.

 

Ia menjadi daging dan tidak pernah berpaling. Ia tidak mengenakan kemanusiaan kita seperti busana yang bisa dipakai dan dilepas. Tidak, Ia tidak pernah melepaskan diri dari daging kita. Dan Ia tidak akan pernah lepas daripadanya : sekarang dan selamanya Ia ada di surga dengan tubuh-Nya yang terbuat dari daging manusiawi. Ia telah mempersatukan diri selamanya dengan kemanusiaan kita; kita dapat mengatakan Ia "menikahkan" diri dengannya. Saya suka memikirkan bahwa ketika Tuhan berdoa kepada Bapa demi kita, Ia tidak hanya berbicara : kepada Bapa, Ia memperlihatkan luka-luka daging-Nya, Ia memperlihatkan luka-luka yang diderita-Nya demi kita. Inilah Yesus : dengan daging-Nya Ia adalah pengantara, Ia ingin menanggung bahkan tanda-tanda penderitaan. Yesus, dengan daging-Nya, ada di hadirat Bapa. Memang, Injil mengatakan bahwa Ia datang untuk tinggal di antara kita. Ia tidak datang mengunjungi kita, lalu pergi; Ia datang untuk tinggal bersama kita, berdiam bersama kita. Lalu, apa yang diinginkan-Nya dari kita? Ia menginginkan keintiman yang luar biasa. Ia menginginkan kita ambil bagian bersama diri-Nya dalam suka dan duka, keinginan dan ketakutan, harapan dan kesedihan, orang-orang dan situasi kita. Marilah kita melakukan hal ini, dengan keyakinan : marilah kita membuka hati kita kepada-Nya, marilah kita menceritakan segalanya kepada-Nya. Marilah kita berhenti dalam keheningan di depan palungan untuk menikmati kelembutan Tuhan yang menjadi dekat, yang menjadi daging. Dan tanpa rasa takut, marilah kita mengundang-Nya di antara kita, ke dalam rumah kita, ke dalam keluarga kita. Dan juga - semua orang mengetahui hal ini dengan baik - marilah kita mengundang-Nya ke dalam kerapuhan kita. Marilah kita mengundang-Nya, agar Ia sudi melihat luka-luka kita. Ia akan datang dan hidup akan berubah.

 

Semoga Santa Bunda Allah, yang di dalamnya Sabda menjadi daging, membantu kita untuk menyambut Yesus, yang mengetuk pintu hati kita untuk tinggal bersama kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih,

 

Kepada kalian saya memperbaharui segenap keinginan saya untuk tahun baru yang baru saja dimulai. Sebagai umat Kristiani, kita cenderung menghindari mentalitas fatalisme atau magis; kita tahu bahwa dengan membesut hal-hal tersebut sejauh itu, dengan berpegang pada Allah, kita bekerjasama demi kebaikan bersama, menempatkan orang-orang yang paling lemah dan paling kurang beruntung di pusat. Kita tidak tahu apa pegangan kita pada tahun 2021, tetapi apa yang kita masing-masing, dan kita semua, dapat lakukan adalah saling peduli dan peduli terhadap ciptaan, rumah kita bersama.

 

Memang ada godaan untuk mengurusi kepentingan kita sendiri, terus berperang, misalnya berkonsentrasi hanya pada lingkup ekonomi, hidup hedonis, yaitu mencari kesenangan semata… ada godaan itu. Saya membaca sesuatu di surat kabar yang sangat membuat saya sedih : di satu negara, saya lupa negara mana, lebih dari 40 pesawat tersisa, yang memungkinkan orang melarikan diri dari penguncian dan menikmati liburan. Tetapi orang-orang tersebut, orang-orang yang baik, tidakkah mereka memikirkan orang-orang yang tinggal di rumah, masalah-masalah ekonomi yang dihadapi oleh banyak orang yang terhalang oleh penguncian, tentang orang-orang yang sakit? Mereka hanya berpikir tentang berlibur untuk kesenangan mereka sendiri. Ini sangat menyakitkan saya.

 

Saya menyampaikan salam khusus kepada mereka yang memulai tahun baru dengan kesulitan yang semakin besar, orang-orang sakit, para pengangguran, mereka yang hidup dalam situasi penindasan atau eksploitasi. Dan dengan kasih sayang saya ingin menyapa semua keluarga, terutama yang memiliki anak kecil atau yang sedang menunggu kelahiran. Kelahiran selalu merupakan janji harapan. Saya dekat dengan keluarga-keluarga ini : semoga Allah memberkati kalian!

 

Kepada kalian semua saya mengucapkan selamat hari Minggu, selalu memikirkan Yesus yang menjadi manusia untuk tinggal bersama kita, dalam hal-hal yang baik dan yang buruk, selalu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat makan, dan sampai jumpa!

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Januari 2021)