Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 20 Maret 2022 : MEMAKNAI PERISTIWA BURUK

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Kita berada di jantung perjalanan Prapaskah kita, dan hari ini Bacaan Injil dimulai dengan menghadirkan Yesus yang mengulas beberapa berita hari itu. Seraya masih mengingat delapan belas orang yang meninggal ketika sebuah menara runtuh menimpa mereka, beberapa orang menceritakan kepada-Nya tentang orang-orang Galilea yang telah dibunuh oleh Pilatus (bdk. Luk 13:1). Dan ada pertanyaan yang tampaknya menyertai peristiwa tragis ini : siapa yang harus dipersalahkan atas peristiwa yang mengerikan ini? Mungkinkah orang-orang itu lebih bersalah daripada orang-orang lainnya dan Allah menghukum mereka? Inilah pertanyaan yang juga muncul hari ini. Ketika berita buruk membebani kita dan kita merasa tidak berdaya menghadapi kejahatan, kita sering bertanya pada diri kita sendiri : mungkinkah itu hukuman dari Allah? Apakah Ia menyebabkan perang atau pandemi demi menghukum kita karena dosa-dosa kita? Dan mengapa Tuhan tidak campur tangan?

 

Kita harus berhati-hati : ketika kejahatan menindas kita, kita berisiko kehilangan kejelasan dan, menemukan jawaban yang mudah atas apa yang tidak dapat kita jelaskan, kita pada akhirnya menyalahkan Allah. Dan seringkali kebiasaan buruk menggunakan kata-kata kotor berasal dari sini. Seberapa sering kita menghubungkan kepada-Nya kesengsaraan dan kemalangan kita di dunia, kepada Dia yang malah membiarkan kita selalu bebas dan karenanya tidak pernah campur tangan memaksakan, tetapi hanya menawarkan; Dialah yang tidak pernah menggunakan kekerasan dan bahkan menderita untuk kita dan bersama kita! Memang, Yesus menolak dan menentang keras gagasan menyalahkan Allah atas kejahatan kita : orang-orang yang dibunuh oleh Pilatus dan orang-orang yang mati ditimpa menara tidak lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain, dan mereka bukan korban kejahatan dari Allah yang kejam dan pendendam, yang tidak ada! Kejahatan tidak pernah datang dari Allah karena "tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita" (Mzm 103:10), tetapi menurut belas kasihan-Nya. Inilah gaya Allah. Ia tidak bisa memperlakukan kita sebaliknya. Ia selalu memperlakukan kita dengan belas kasihan.

 

Ketimbang menyalahkan Allah, Yesus mengatakan bahwa kita perlu melihat ke dalam diri kita sendiri : dosalah yang menghasilkan kematian; keegoisan kita dapat merusak hubungan; pilihan kita yang salah dan kejam dapat memperlancar kejahatan. Pada titik ini Tuhan menawarkan solusi yang benar, dan solusi itu adalah pertobatan : Ia berkata, "Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa" (Luk 13:5). Ini adalah panggilan yang mendesak, terutama selama masa Prapaskah ini. Marilah kita sambut dengan hati terbuka. Marilah kita berbalik dari kejahatan, marilah kita tinggalkan dosa yang menggoda kita, marilah kita terbuka terhadap nalar Injil karena di mana kasih dan persaudaraan berkuasa, tidak ada lagi kuasa kejahatan!

 

Tetapi Yesus tahu bahwa pertobatan itu tidak mudah, dan Ia ingin membantu kita di sini, mengingat sering kali kita mengulangi kesalahan dan dosa yang sama. Kita bisa menjadi putus asa, dan terkadang ketetapan hati kita untuk berbuat baik bisa tampak tidak berguna di dunia di mana kejahatan tampaknya berkuasa. Jadi, setelah imbauan-Nya, Ia mendorong kita dengan sebuah perumpamaan yang menceritakan tentang kesabaran yang dimiliki Allah terhadap kita. Kita harus mengingat kesabaran yang dimiliki Allah terhadap kita. Ia memberikan gambaran yang menenangkan tentang pohon ara yang tidak berbuah selama musim yang ditentukan, tetapi tidak ditebang. Ia memberinya lebih banyak waktu, kemungkinan lain. Saya suka berpikir bahwa nama yang bagus untuk Allah bisa menjadi "Allah kemungkinan lain" : Allah selalu memberi kita kesempatan lain, selalu, selalu. Seperti itulah rahmat-Nya. Beginilah cara Tuhan bekerja dengan kita. Ia tidak memisahkan kita dari kasih-Nya. Ia tidak berkecil hati atau lelah menawarkan kembali kepercayaan-Nya kepada kita dengan kelembutan. Saudara-saudari, Allah percaya pada kita! Allah mempercayai kita dan menyertai kita dengan kesabaran, kesabaran Allah dengan kita. Ia tidak berputus asa, tetapi selalu menanamkan harapan dalam diri kita. Allah adalah Bapa dan menjagamu seperti seorang bapa. Sebagai bapa terbaik, Ia tidak melihat pencapaian yang belum kamu raih, tetapi buah yang masih bisa kamu hasilkan. Ia tidak melacak kekuranganmu tetapi mendorong potensimu. Ia tidak memikirkan masa lalumu, tetapi dengan percaya diri bertaruh pada masa depanmu. Ini karena Allah dekat dengan kita. Janganlah kita lupa bahwa gaya Allah adalah kedekatan, Ia dekat dengan belas kasihan dan kelembutan. Dengan cara inilah Allah menyertai kita : dengan kedekatan, belas kasihan, dan kelembutan.

 

Maka marilah kita memohon kepada Santa Perawan Maria untuk memenuhi kita dengan harapan dan keberanian, serta menyalakan dalam diri kita keinginan untuk bertobat.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Sayangnya, agresi kekerasan terhadap Ukraina tidak berhenti, pembantaian yang tidak masuk akal di mana setiap hari ada pengulangan pembantaian dan kekejaman. Tidak ada pembenaran untuk hal ini! Saya memohon kepada semua orang yang terlibat dalam komunitas internasional untuk benar-benar berketetapan hati untuk mengakhiri perang yang menjijikkan ini.

 

Pekan ini rudal dan bom kembali menjatuhi warga sipil, orang tua, anak-anak, dan ibu hamil. Saya pergi menemui anak-anak yang terluka yang berada di sini di Roma. Salah satunya kehilangan lengan; satunya lagi mengalami cedera kepala... anak-anak yang tidak bersalah. Saya memikirkan jutaan pengungsi Ukraina yang harus melarikan diri meninggalkan segalanya, dan saya merasakan kepedihan yang luar biasa dari mereka yang bahkan tidak memiliki kemungkinan untuk melarikan diri. Begitu banyak kakek-nenek, orang sakit dan orang miskin yang terpisah dari keluarga mereka, begitu banyak anak-anak dan orang-orang lemah dibiarkan mati di bawah bom tanpa dapat menerima bantuan dan menemukan keselamatan bahkan di tempat perlindungan serangan udara. Semua ini tidak manusiawi! Memang, juga tidak bermoral karena bertentangan dengan kekudusan hidup manusia, terutama terhadap kehidupan manusia yang tidak berdaya, yang harus dihormati dan dilindungi, bukan dilenyapkan, dan ini datang sebelum strategi apapun! Janganlah kita lupa bahwa itu semua adalah kekejaman yang tidak manusiawi dan tidak bermoral! Marilah kita mendoakan dalam keheningan mereka yang sedang menderita.

 

Saya terhibur mengetahui bahwa orang-orang yang ditinggalkan di bawah bom tidak kekurangan kedekatan dengan para gembala mereka, yang di hari-hari tragis ini menghayati Injil kasih dan persaudaraan. Saya telah berbicara dengan beberapa dari mereka melalui telepon selama ini, mereka dekat dengan umat Allah. Terima kasih, saudara dan saudari terkasih, atas kesaksian ini dan atas dukungan nyata yang kamu berikan dengan berani kepada begitu banyak orang yang putus asa! Saya juga memikirkan duta besar apostolik, yang baru saja diangkat menjadi duta besar, Uskup Agung Visvaldas Kulbokas, yang sejak awal perang telah tinggal di Kyiv bersama para sejawatnya dan yang dengan kehadirannya membuat saya dekat setiap hari dengan rakyat Ukraina yang menjadi martir. Marilah kita dekat dengan umat ini, marilah kita rangkul mereka dengan kasih sayang, dengan ketetapan hati yang nyata dan doa. Dan tolong, janganlah kita terbiasa dengan perang dan kekerasan! Marilah kita tidak bosan menyambut mereka dengan kemurahan hati seperti yang kita lakukan sekarang tidak hanya di masa-masa darurat, tetapi juga di pekan-pekan dan bulan-bulan mendatang. Seperti yang kamu ketahui sejak awal, kita melakukan semua yang kita bisa untuk menyambut semua orang, tetapi kemudian kita bisa terbiasa, dan hati kita sedikit dingin, dan kita melupakannya. Marilah kita pikirkan para wanita dan anak-anak ini yang pada zamannya, tanpa pekerjaan, terpisah dari suami, akan dicari oleh 'burung pemakan bangkai' masyarakat. Tolong, marilah kita lindungi mereka.

 

Saya mengundang setiap komunitas dan semua umat beriman untuk bersatu dengan saya pada hari Jumat 25 Maret, Hari Raya Kabar Sukacita, untuk Tindakan Persembahan khidmat umat manusia, khususnya Rusia dan Ukraina, kepada Hati Maria yang Tak Bernoda, sehingga ia, sang Ratu Damai, sudi membantu kita memperoleh kedamaian.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah yang datang dari Italia dan berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa umat dari Madrid, kelompok internasional “Agorà degli abitanti della terra”, para dokter dan para penyelamat dari Layanan Darurat 118, Rinnovamento Carismatico Cattolico “Charis” – satu-satunya yang diakui secara resmi, “Charis”, bukan lainnya -, dan para anggota Gerakan Focolare. Saya menyapa paduan suara Piccolo Coro dell'Antoniano di Bologna dengan band dari Polizia di Stato, paduan suara “Ensemble Vox Cordis” dari Fornovo San Giovanni, paduan suara “San Vincenzo Grossi” dari Pizzighettone, kaum muda pengakuan iman Angera, Sesto Calende e Ternate, peziaraham Keuskupan Asti, serta umat dari Venesia dan Sassari.

 

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat makan siang dan sampai jumpa.

______


(Peter Suriadi - Bogor, 20 Maret 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 16 Maret 2022 : KATEKESE TENTANG USIA TUA (BAGIAN 3) - PERAN PENTING ORANG TUA DALAM MENERUSKAN NILAI-NILAI KEHIDUPAN YANG SESUNGGUHNYA DAN BERKELANJUTAN KEPADA GENERASI BARU

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Narasi Kitab Suci – dengan bahasa simbolis dari waktu penulisannya – memberitahu kita sesuatu yang mengejutkan. Allah begitu sakit hati dengan meluasnya kejahatan manusia, yang telah menjadi gaya hidup yang wajar, sehingga Ia mengira telah berbuat salah dalam menciptakan mereka dan memutuskan untuk mengenyapkan mereka. Sebuah solusi radikal. Bahkan mungkin memiliki sentuhan belas kasihan yang paradoks. Tidak ada lagi manusia, tidak ada lagi sejarah, tidak ada lagi penghakiman, tidak ada lagi penghukuman. Dan banyak korban korupsi, kekerasan, ketidakadilan yang ditakdirkan akan terhindar selamanya.

 

Bukankah hal itu juga sering terjadi pada diri kita – diliputi oleh rasa ketidakberdayaan melawan kejahatan atau terdemoralisasi oleh “nabi-nabi malapetaka” – di mana kita berpikir akan lebih baik jika kita tidak dilahirkan? Haruskah kita memberi penghargaan terhadap beberapa teori baru-baru ini, yang mencela bangsa manusia sebagai kerugian evolusioner bagi kehidupan di planet kita? Seluruhnya negatif? Tidak.

 

Memang, kita berada di bawah tekanan, dihadapkan pada tekanan yang berlawanan yang membingungkan kita. Di satu sisi, kita memiliki optimisme akan masa muda yang abadi, yang dipicu oleh kemajuan teknologi yang luar biasa, yang menggambarkan masa depan yang penuh dengan mesin yang lebih efisien dan lebih cerdas dari kita, yang akan menyembuhkan penyakit kita dan merancang solusi terbaik untuk kita agar tidak mati : dunia robot. Di sisi lain, daya khayal kita yang muncul semakin terkonsentrasi pada gambaran bencana pamungkas yang akan memadamkan kita. Apa yang terjadi dengan perang nuklir pada akhirnya. "Hari-hari sesudah” ini – jika masih ada hari dan manusia – harus kembali memulai dari awal. Menghancurkan segalanya untuk kembali memulai dari awal. Saya tidak ingin meremehkan gagasan kemajuan, tentu saja. Tetapi sepertinya simbol air bah mulai masuk ke alam bawah sadar kita. Selain itu, pandemi dewasa ini memberikan beban berat pada gambaran kita yang tidak peduli terhadap hal-hal penting, terhadap kehidupan dan takdirnya.

 

Dalam kisah Kitab Suci, ketika datang untuk menyelamatkan kehidupan di bumi dari korupsi dan air bah, Allah mempercayakan tugas itu kepada kesetiaan orang tertua, Nuh yang "benar". Akankah usia tua menyelamatkan dunia, saya bertanya-tanya? Dalam arti apa? Dan bagaimana usia tua dapat menyelamatkan dunia? Dan bagaimana kemungkinannya? Hidup setelah mati atau hanya bertahan hidup sampai air bah?

 

Perkataan Yesus yang membangkitkan “zaman Nuh” akan membantu kita untuk menggali lebih dalam makna perikop Kitab Suci yang telah kita dengar. Yesus, berbicara tentang akhir zaman, berkata, “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua” (Luk 17:26-27). Memang, makan dan minum, kawin dan dikawinkan, adalah hal yang sangat wajar dan sepertinya bukan contoh korupsi. Di mana korupsinya? Di mana korupsinya? Kenyataannya, Yesus menekankan fakta bahwa manusia, ketika mereka membatasi diri untuk menikmati hidup, bahkan kehilangan daya paham akan korupsi, yang mematikan martabat mereka dan meracuni makna. Ketika daya paham akan korupsi hilang, dan korupsi menjadi sesuatu yang wajar : semuanya ada harganya, semuanya! Pendapat, tindakan keadilan, diperjualbelikan. Hal ini biasa terjadi dalam dunia bisnis, dalam dunia banyak profesi. Dan korupsi bahkan dialami secara santai, seolah-olah merupakan bagian kewajaran kesejahteraan manusia. Ketika kamu pergi untuk melakukan sesuatu, dan lambat, proses melakukan sesuatu itu agak lambat, seberapa sering kamu mendengar : "Ya, tetapi jika kamu memberi saya tips, saya akan mempercepatnya". Sangat sering. "Beri aku sesuatu dan aku akan membawanya lebih jauh". Kita sangat menyadari hal ini, kita semua. Dunia korupsi seolah menjadi bagian kewajaran manusia, dan ini buruk. Pagi ini saya berbicara dengan seorang wanita yang memberitahu saya tentang masalah ini di tanah airnya. Barang-barang kehidupan dikonsumsi dan dinikmati tanpa memperhatikan kualitas rohani kehidupan, tanpa memperhatikan habitat rumah bersama. Segala sesuatu dieksploitasi, tanpa memperdulikan diri mereka dengan rasa malu dan putus asa yang diderita banyak orang, atau dengan kejahatan yang meracuni masyarakat. Selama kehidupan wajar bisa diisi dengan “kesejahteraan”, kita tidak ingin memikirkan apa yang membuatnya tiada keadilan dan cinta. “Tetapi aku baik-baik saja! Mengapa aku harus memikirkan masalah, perang, penderitaan manusia, semua kemiskinan itu, semua kejahatan itu? Tidak, aku baik-baik saja. Aku tidak peduli dengan orang lain”. Ini adalah pikiran bawah sadar yang menuntun kita untuk hidup dalam keadaan korupsi.

 

Dapatkah korupsi menjadi wajar, saya bertanya-tanya? Saudara-saudara, sayangnya, ya. Kita bisa menghirup udara korupsi seperti kita menghirup oksigen. “Tetapi itu wajar; jika kamu ingin aku melakukan ini lebih cepat, apa yang akan kamu berikan kepadaku?” Itu wajar! Itu wajar, tetapi merupakan hal yang buruk, tidak baik! Apa yang membuka jalan untuk hal ini? Satu hal : ketidakpedulian yang hanya berubah menjadi kepedulian diri : inilah pintu gerbang korupsi yang menenggelamkan kehidupan kita semua. Korupsi sangat diuntungkan akibat ketidakpedulian yang sangat ini. Ketika semuanya berjalan baik bagi seseorang, dan orang lain tidak penting baginya : ketidakpedulian ini melemahkan pertahanan kita, menumpulkan hati nurani kita dan mengubah diri kita – bahkan tanpa sadar – menjadi kaki tangan. Karena korupsi tidak sendirian : seseorang selalu memiliki kaki tangan. Dan korupsi selalu menyebar, menyebar.

 

Usia tua berada dalam posisi yang baik untuk memahami tipu daya kewajaran kehidupan yang terobsesi dengan kenikmatan dan kekosongan batin : hidup tanpa pemikiran, tanpa pengorbanan, tanpa keindahan, tanpa kebenaran, tanpa keadilan, tanpa cinta : ini semua adalah korupsi. Kepekaan khusus kita orang tua, usia tua akan perhatian, pikiran dan kasih sayang yang menjadikan kita manusia, harus sekali lagi menjadi panggilan banyak orang. Dan itu akan menjadi pilihan cinta orang tua terhadap generasi baru. Kita akan menjadi orang-orang yang membunyikan alarm, peringatan : "Berhati-hatilah, ini adalah korupsi, korupsi tidak akan membawa apa-apa bagimu". Dewasa ini ada kebutuhan besar untuk kebijaksanaan orang tua guna melawan korupsi. Generasi baru mengharapkan dari kita, orang tua, sebuah kata yang merupakan nubuat, yang membuka pintu menuju sudut pandang baru di luar dunia korupsi, kebiasaan hal-hal yang korup yang tidak peduli. Berkat Allah memilih usia tua, untuk kharisma yang begitu manusiawi dan memanusiakan ini. Apa arti usia tuaku? Kita masing-masing orang-orang tua dapat menanyakan hal ini pada diri kita. Artinya adalah ini : menjadi nabi korupsi dan berkata kepada orang lain : “Berhentilah, aku telah mengambil jalan ini dan jalan tersebut tidak membawamu ke mana-mana! Sekarang aku akan menceritakan pengalamanku”. Kita, orang tua, harus menjadi nabi penentang korupsi, sama seperti Nuh adalah nabi penentang korupsi pada zamannya, karena dialah satu-satunya yang dipercaya Allah. Saya bertanya kepada kamu semua – dan saya juga bertanya pada diri saya sendiri : apakah hati saya terbuka untuk menjadi nabi penentang korupsi hari ini? Sungguh buruk, ketika orang yang lebih tua tidak dewasa, dan menjadi orang tua dengan kebiasaan korup yang sama dengan orang muda. Pikirkanlah kisah Kitab Suci tentang para hakim Susana : mereka adalah contoh orang usia tua yang korup. Dan kita, dengan usia tua semacam ini, tidak akan mampu menjadi nabi bagi generasi muda.

 

Dan Nuh adalah teladan orang usia tua yang generatif ini : tidak korup, generatif. Nuh tidak berkhotbah, tidak mengeluh, tidak mencela, tetapi lebih menjaga masa depan generasi yang terancam bahaya. Kita orang yang lebih tua harus menjaga orang muda, anak-anak yang dalam bahaya. Ia membangun bahtera penerimaan serta membiarkan manusia dan hewan memasukinya. Dalam kepeduliannya terhadap kehidupan, dalam segala bentuknya, Nuh mematuhi perintah Allah, mengulangi gerak isyarat penciptaan yang lemah lembut dan murah hati, yang pada kenyataannya adalah pemikiran yang mengilhami perintah Allah : berkat baru, ciptaan baru (bdk. Kej. 8:15-9:17). Panggilan Nuh tetap relevan. Leluhur suci tersebut harus sekali lagi menjadi pengantara kita. Dan kita, manusia usia tertentu – agar tidak dikatakan tua, karena beberapa akan tersinggung – janganlah kita lupa bahwa kita memiliki kemungkinan kebijaksanaan, kemungkinan mengatakan kepada orang lain : “Lihatlah, jalan korupsi ini tidak mengarah ke mana-mana”. Kita harus seperti anggur yang baik, yang sekali pun tua, dapat memberikan pesan yang baik, bukan pesan yang buruk.

 

Hari ini saya mengimbau semua orang yang berusia tertentu, agar tidak dikatakan tua. Berhati-hatilah : kamu memiliki tanggung jawab untuk mencela korupsi manusia di mana kita hidup dan di mana cara hidup relativisme ini berlangsung, benar-benar relatif, seolah-olah semuanya sah. Marilah kita bergerak maju. Dunia membutuhkan orang-orang muda yang kuat, yang bergerak maju, dan orang-orang tua yang bijaksana. Marilah kita memohon kepada Allah rahmat kebijaksanaan.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok-kelompok dari Denmark, Yerusalem, Norwegia dan Amerika Serikat. Semoga perjalanan Prapaskah kita membawa kita untuk merayakan Paskah dengan hati yang dimurnikan dan diperbarui oleh rahmat Roh Kudus. Atas kamu masing-masing, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan kedamaian dalam Kristus Sang Penebus kita.

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang makna dan nilai usia tua, dilihat dalam terang sabda Allah, kita sekarang membahas peran penting orang tua dalam meneruskan nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya dan berkelanjutan kepada generasi baru. Di halaman-halaman pertama Kitab Suci, Allah mempercayakan kepada Nuh yang sudah lanjut usia tugas untuk memulihkan kebaikan ciptaan-Nya, yang telah rusak akibat tersebarnya kekerasan dan kejahatan. Yesus sendiri berbicara tentang “zaman Nuh” dalam memperingatkan kita tentang perlunya pertobatan sehubungan kedatangan Kerajaan Allah yang sudah dekat, yang membawa keselamatan definitif dan pembaruan rohani bagi umat manusia. Di setiap zaman, seperti pada zaman Nuh, kita dapat tergoda untuk menerima dosa dan korupsi sebagai hal yang wajar, menghindari mata kita dari orang miskin yang mengalami penderitaan yang tidak adil dan kerusakan lingkungan alam kita. Di zaman kita, ini semua adalah buah budaya membuang yang materialistis, egois, dan hampa secara rohani. Orang tua, seperti Nuh, dapat memperingatkan kita tentang bahaya ini dan mengingatkan kita akan panggilan yang diberikan Allah untuk menjadi penjaga dan pemelihara ciptaan-Nya. Semoga teladan dan doa Nuh mengilhami orang tua kita untuk menghargai hal ini, karisma khusus mereka, dan membantu membangun "bahtera" baru penyambutan, perhatian dan harapan, demi masa depan dunia kita dan fajar ciptaan baru.

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 16 Maret 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 13 Maret 2022 : PERUBAHAN RUPA YESUS


Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil liturgi Hari Minggu Prapaskah II ini menceritakan peristiwa perubahan rupa Yesus (bdk. Luk 9: 28-36). Ketika berdoa di gunung yang tinggi, Ia berubah rupa, pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan, dan dalam cahaya kemuliaan-Nya tampaklah Musa dan Elia yang berbicara dengan-Nya tentang Paskah yang menanti-Nya di Yerusalem, yaitu, sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

 

Saksi peristiwa luar biasa ini adalah rasul Petrus, Yohanes dan Yakobus, yang naik ke atas gunung bersama Yesus. Kita membayangkan mata mereka terbuka lebar di depan tontonan unik itu. Dan, tentu saja, seharusnya demikian. Tetapi penginjil Lukas mencatat bahwa "Petrus dan teman-temannya telah tertidur", dan bahwa mereka "terbangun" serta mengatakan kemuliaan Yesus (bdk. ayat 32). Rasa kantuk ketiga murid tampaknya bernada sumbang. Para rasul tersebut kemudian juga tertidur di Taman Getsemani, selama doa Yesus yang menyedihkan, yang telah meminta mereka untuk berjaga-jaga (bdk. Mrk 14:37-41). Mengantuk di saat-saat penting seperti ini mengejutkan.

 

Namun, jika kita membaca dengan seksama, kita melihat bahwa Petrus, Yohanes dan Yakobus tertidur sebelum peristiwa perubahan rupa terjadi, yaitu ketika Yesus sedang berdoa. Hal yang sama akan terjadi di Taman Getsemani. Ini jelas merupakan doa yang berlangsung selama beberapa waktu, dalam keheningan dan konsentrasi. Kita mungkin berpikir bahwa pada awalnya mereka juga berdoa, sampai kelelahan melanda.

 

Saudara, saudari, apakah datangnya tidur yang tidak tepat waktu ini mungkin mirip dengan kebanyakan dari kita pada saat-saat yang kita tahu penting? Mungkin di malam hari, ketika kita ingin berdoa, meluangkan waktu bersama Yesus setelah seharian dikejar-kejar waktu dan sibuk. Atau ketika saatnya untuk bertukar kata dengan keluarga dan kita tidak kuat lagi. Kita ingin lebih terjaga, penuh perhatian, ikut serta, tidak melewatkan kesempatan berharga, tetapi kita tidak bisa, atau entah mengapa kita mengelolanya dengan buruk.

 

Masa Prapaskah yang kuat adalah kesempatan dalam hal ini. Masa Prapaskah adalah kurun waktu di mana Allah ingin membangunkan kita dari kelesuan batin kita, dari kantuk yang tidak membiarkan Roh mengungkapkan diri-Nya. Karena – marilah kita ingat hal ini – memelihara hati tetap terjaga tidak bergantung pada kita sendiri : memelihara hati tetap terjaga adalah rahmat dan harus diminta. Ketiga murid dalam Bacaan Injil menunjukkan hal ini : mereka baik, mereka telah mengikuti Yesus ke atas gunung, tetapi dengan kekuatan sendiri mereka tidak dapat tetap terjaga. Ini juga terjadi pada diri kita. Namun, mereka tepat terbangun selama peristiwa perubahan rupa. Kita mungkin berpikir bahwa cahaya Yesuslah yang membangunkan mereka kembali. Seperti mereka, kita juga membutuhkan cahaya Allah, yang membuat kita melihat segala sesuatu secara berbeda : menarik kita, membangunkan kita, menyalakan kembali keinginan dan kekuatan kita untuk berdoa, melihat ke dalam diri kita sendiri, dan mendedikasikan waktu untuk sesama. Kelelahan tubuh bisa kita atasi dengan kekuatan Roh Allah. Dan ketika kita tidak mampu mengatasi hal ini, kita harus berkata kepada Roh Kudus : “Tolonglah kami, datanglah, datanglah, Roh Kudus. Tolonglah aku : aku ingin berjumpa Yesus, aku ingin penuh perhatian, bangun”. Mohonlah kepada Roh Kudus untuk membangunkan kita dari tidur yang menghalangi kita untuk berdoa.

 

Dalam Masa Prapaskah ini, setelah bekerja setiap hari, ada baiknya kita tidak mematikan lampu di ruangan tanpa menempatkan diri kita dalam terang Allah. Sedikit berdoa sebelum tidur. Marilah kita memberi Tuhan kesempatan untuk mengejutkan kita dan membangunkan kembali hati kita. Kita dapat melakukan hal ini, misalnya, dengan membuka Injil dan membiarkan diri kita heran akan Sabda Allah, karena Kitab Suci menerangi langkah kita dan mengobarkan hati. Atau kita dapat melihat Yesus yang disalibkan dan heran akan kasih Allah yang tak terbatas, yang tidak pernah melelahkan kita dan memiliki kekuatan untuk mengubah hari-hari kita, memberi hari-hari kita makna baru, cahaya baru yang tak terduga.

 

Semoga Perawan Maria membantu kita untuk memelihara hati kita tetap terjaga untuk menyambut masa rahmat yang ditawarkan Allah kepada kita ini.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari, kita baru saja berdoa kepada Perawan Maria. Akhir pekan ini, kota yang menyandang namanya, Mariupol, telah menjadi kota bermartir akibat perang yang menghancurkan Ukraina. Dihadapkan dengan barbarisme pembunuhan anak-anak, dan warga yang tidak bersalah dan tidak berdaya, tidak ada alasan strategis yang bertahan : satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah menghentikan serangan bersenjata yang tidak dapat diterima sebelum kota itu menjadi kuburan. Dengan hati yang pedih saya menambahkan suara saya kepada suara rakyat jelata, yang memohon berakhirnya perang. Atas nama Allah, dengarkan tangisan mereka yang menderita, dan akhiri pengeboman dan serangan! Biarkan ada fokus yang nyata dan tegas pada negosiasi, dan biarkan koridor kemanusiaan menjadi efektif dan aman. Atas nama Allah, saya memohon kepadamu : hentikan pembantaian ini!

 

Sekali lagi saya ingin mengimbau untuk menyambut banyak pengungsi, yang di dalamnya Kristus hadir, dan mengucap syukur atas terbentuknya jaringan kesetiakawanan yang besar. Saya meminta semua keuskupan dan komunitas keagamaan untuk meningkatkan momen doa mereka untuk perdamaian. Allah hanyalah Allah perdamaian, Ia bukan Allah peperangan, dan mereka yang mendukung kekerasan mencemarkan nama-Nya. Sekarang, dalam keheningan, marilah kita mendoakan mereka yang menderita, dan agar Allah dapat mengubah hati menjadi kemauan yang teguh untuk perdamaian.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah yang datang dari Italia dan dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa umat Keuskupan Napoli, Fuorigrotta, Pianura, Florence dan Carmignano; serta delegasi Gerakan Antikekerasan.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu yang diberkati, dan tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu, dan sampai jumpa.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 13 Maret 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 Maret 2022 : MENANGGAPI PENCOBAAN DENGAN SABDA ALLAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini, Hari Minggu Prapaskah I, membawa kita ke padang gurun, tempat Yesus dibawa oleh Roh Kudus, selama empat puluh hari, untuk dicobai Iblis (bdk. Luk 4:1-13). Yesus juga dicobai Iblis, dan Ia menyertai kita, kita masing-masing, dalam pencobaan kita. Padang gurun melambangkan perjuangan melawan godaan kejahatan, belajar memilih kebebasan sejati. Memang, Yesus menghayati pengalaman padang gurun sebelum memulai perutusan-Nya di muka umum. Justru melalui pertempuran rohani inilah secara meyakinkan Ia menegaskan Mesias macam apakah yang Ia maksudkan. Bukan Mesias macam ini, tetapi Mesias macam itu : saya hendak mengatakan bahwa ini memang pernyataan jatidiri mesianik Yesus, jalan mesianik Yesus. "Aku adalah Mesias, tetapi di jalan ini". Marilah kita melihat lebih dekat pencobaan yang sedang Ia perangi.

 

Dua kali Iblis memanggil-Nya, mengatakan : "Jika Engkau Anak Allah ..." (ayat 3, 9). Dengan demikian ia sedang menawarkan kepada-Nya untuk mengeksploitasi kedudukan-Nya : pertama untuk memenuhi kebutuhan material yang Ia rasakan, rasa lapar (bdk. ayat 3), kemudian untuk memperbesar kekuasaan-Nya (bdk. ayat 6-7); dan, akhirnya, memiliki tanda Allah yang menakjubkan (bdk. ayat 9-11). Tiga pencobaan. Seolah-olah Iblis mengatakan, "Jika Engkau Anak Allah, manfaatkanlah itu!". Seberapa sering hal ini terjadi pada diri kita : “Tetapi jika Engkau berada dalam kedudukan tersebut, manfaatkanlah itu! Jangan kehilangan peluang, kesempatan", yaitu, "pikirkanlah keuntungan-Mu". Ini adalah tawaran yang menggoda, tetapi membawamu ke dalam perbudakan hati : membuat kita terobsesi dengan keinginan untuk memiliki, mengurangi segalanya menjadi kepemilikan benda-benda, kekuasaan, ketenaran. Inilah inti pokok pencobaan. "Racun nafsu" yang di dalamnya kejahatan berakar. Lihatlah ke dalam diri kita, dan kita akan menemukan bahwa pencobaan kita selalu memiliki pola pikir ini, cara bertindak ini.

 

Tetapi Yesus menentang daya tarik kejahatan dengan jalan kemenangan. Bagaimana Ia melakukan hal ini? Ia menanggapi pencobaan dengan Sabda Allah, yang mengatakan jangan mengambil keuntungan, jangan menggunakan Allah, orang lain dan berbagai hal untuk diri sendiri, jangan mengambil keuntungan dari kedudukan kita untuk mendapatkan hak istimewa. Karena kebahagiaan sejati dan kebebasan sejati tidak ditemukan dalam memiliki, tetapi dalam berbagi; bukan dalam mengambil keuntungan dari orang lain, tetapi dalam mengasihi mereka; bukan dalam obsesi kekuasaan, tetapi dalam sukacita pelayanan.

 

Saudara-saudari, pencobaan ini juga menyertai kita dalam perjalanan hidup. Kita harus waspada – janganlah takut, itu terjadi pada semua orang – dan waspadalah, karena pencobaan sering menampilkan diri dengan mewujud dalam bentuk kebaikan. Faktanya, Iblis yang licik selalu menggunakan tipu daya. Ia ingin Yesus percaya bahwa tawarannya berguna untuk membuktikan bahwa Ia benar-benar Anak Allah. Dan ia melakukannya terhadap kita juga : ia sering datang “dengan mata yang manis”, “dengan wajah malaikat”; ia bahkan tahu bagaimana menyamarkan dirinya dengan motif suci yang tampaknya bersifat rohani!

 

Dan saya ingin menekankan sesuatu. Yesus tidak berbicara dengan Iblis: Ia tidak pernah berbicara dengan Iblis. Entah Ia mengusirnya, ketika Ia menyembuhkan orang yang kerasukan, atau dalam hal ini, ketika Ia harus menanggapi, Ia melakukannya dengan Sabda Allah, tidak pernah dengan perkataan-Nya sendiri. Saudara-saudari, jangan pernah berdialog dengan Iblis : ia lebih licik daripada kita. Jangan pernah! Berpeganglah teguh pada Sabda Allah seperti Yesus, dan sebanyak mungkin menjawab selalu dengan Sabda Allah. Dan di jalan ini, kita tidak akan pernah keliru.

 

Iblis melakukan hal ini terhadap kita : ia sering datang "dengan mata lembut", "dengan wajah malaikat"; ia bahkan tahu bagaimana menyamarkan dirinya dengan motif suci yang tampaknya bersifat rohani! Jika kita menyerah pada sanjungannya, kita akhirnya membenarkan kepalsuan kita dengan menyamarkannya dalam niat baik. Misalnya, seberapa sering kita mendengar "Aku telah melakukan hal-hal yang tidak biasa, tetapi aku telah membantu orang miskin"; “Aku telah memanfaatkan peranku – sebagai politisi, gubernur, imam, uskup – tetapi juga demi kebaikan”; "Aku telah mengikuti naluriku, tetapi pada akhirnya, aku tidak menyakiti siapapun", pembenaran-pembenaran ini, dan seterusnya, satu demi satu. Tolong : tidak ada kompromi dengan kejahatan! Tidak ada dialog dengan Iblis! Kita tidak boleh masuk ke dalam dialog dengan pencobaan, kita tidak boleh jatuh ke dalam ketiduran hati nurani yang membuat kita mengatakan : “Tetapi bagaimanapun juga, ini tidak serius, semua orang melakukannya”! Marilah kita memandang Yesus, yang tidak mengusahakan penyesuaian, tidak membuat kesepakatan dengan kejahatan. Ia menentang Iblis dengan Sabda Allah, yang lebih kuat daripada Iblis, dan dengan demikian mengatasi pencobaan.

 

Semoga masa Prapaskah ini juga menjadi masa padang gurun bagi kita. Marilah kita meluangkan waktu untuk hening dan berdoa – sedikit saja, akan ada baiknya bagi kita – di ruang-ruang ini marilah kita berhenti dan melihat apa yang sedang menggelora di dalam hati kita, kebenaran batin kita, yang kita tahu tidak dapat dibenarkan. Marilah kita menemukan kejernihan batin, menempatkan diri kita di hadapan Sabda Allah dalam doa, sehingga perjuangan positif melawan kejahatan yang memperbudak kita, perjuangan untuk kebebasan, dapat terjadi di dalam diri kita.

 

Marilah kita memohon kepada Santa Perawan Maria agar ia menyertai kita di padang gurun Prapaskah dan membantu kita dalam perjalanan pertobatan kita.

 

[Setelah doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Sungai darah dan air mata sedang mengalir di Ukraina. Bukan hanya operasi militer, tetapi perang, yang menabur kematian, kehancuran dan kesengsaraan. Jumlah korban semakin bertambah, begitu pula orang-orang yang mengungsi, terutama ibu-ibu dan anak-anak. Kebutuhan akan bantuan kemanusiaan di negara yang sedang bermasalah itu tumbuh secara dramatis dari jam ke jam.

 

Saya memohon dengan sepenuh hati agar koridor kemanusiaan benar-benar diamankan, serta bantuan terjamin dan akses difasilitasi ke daerah-daerah yang terkepung, guna menawarkan bantuan penting kepada saudara-saudari kita yang tertindas oleh bom dan ketakutan.

 

Saya berterima kasih kepada semua orang yang sedang menerima para pengungsi. Terutama, saya mohon agar serangan bersenjata dihentikan dan negosiasi - serta akal sehat - berkuasa. Dan hukum internasional sekali lagi dihormati!

 

Dan saya juga ingin berterima kasih kepada para wartawan yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk memberikan informasi. Terima kasih, saudara-saudari, untuk pelayanan ini! Sebuah layanan yang memungkinkan kita untuk dekat dengan tragedi penduduk tersebut dan memungkinkan kita untuk menilai kekejaman perang. Terima kasih, saudara-saudari.

 

Marilah kita berdoa bersama untuk Ukraina : benderanya ada di depan kita. Marilah kita berdoa bersama, sebagai saudara-saudari, kepada Bunda Maria, Ratu Ukraina.

 

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin.

 

Takhta Suci siap untuk melakukan segalanya, menempatkan dirinya pada pelayanan perdamaian ini. Pada hari-hari ini, dua kardinal pergi ke Ukraina, untuk melayani rakyat, untuk membantu. Kardinal Krajewski, penanggung jawab badan amal Vatikan, membawa bantuan kepada yang membutuhkan, dan Kardinal Czerny, ketua sementara Dikasteri untuk Mengembangkan Pembangunan Manusia Seutuhnya. Kehadiran dua kardinal di sana tidak hanya merupakan kehadiran Paus, tetapi juga kehadiran segenap umat Kristiani yang ingin lebih dekat dan mengatakan : “Perang adalah kegilaan! Tolong, berhentilah! Lihatlah kekejaman ini!”.

 

 

Saya menyambut kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan negara-negara lain. Secara khusus, saya menyambut umat Concord, California, umat yang berasal dari berbagai kota di Polandia, serta umat Cordoba dan Sobradiel, Spanyol. Saya menyapa komunitas Seminari Prancis di Roma, bersama para kerabat mereka, umat Vedano al Lambro, kaum muda Saronno, Cesano Maderno, Baggio dan Valceresio, Keuskupan Milan, dan kaum muda Papiano dan Cerqueto, Keuskupan Perugia. Saya menyapa para donor sukarelawan Kepolisian Negara Italia, serta para peserta dalam peziarahan untuk mengenang kunjungan saya ke Irak, tepat satu tahun lalu.

 

Sore ini, bersama rekan-rekan Kuria Roma, Latihan Rohani akan dimulai. Kami menyimpan seluruh kebutuhan Gereja dan keluarga manusia dalam doa kami. Dan kamu juga, tolong, doakanlah kami.

 

Kepada kamu semua, saya mengucapkan selamat hari Minggu dan menjalani masa Prapaskah yang berbuah! Selamat menikmati makananmu, dan sampai jumpa.

_______


(Peter Suriadi - Bogor, 6 Maret 2022)