Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 14 Desember 2022 : KATEKESE TENTANG PEMBEDAAN ROH (BAGIAN 12) – KEWASPADAAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Kita sekarang memasuki tahap terakhir perjalanan katekese tentang pembedaan roh ini. Kita mengawali dari teladan Santo Ignatius dari Loyola; kita kemudian membahas unsur-unsur pembedaan roh, yaitu, doa, pengenalan diri, keinginan dan “buku kehidupan”; kita berfokus pada kehancuran dan penghiburan, yang membentuk "persoalan"-nya; dan kemudian kita mencapai penegasan atas pilihan yang dibuat.

 

Saya menganggap perlu untuk memasukkan pada titik ini pengingat sebuah sikap penting agar seluruh pekerjaan yang dilakukan untuk melakukan pembedaan roh yang terbaik dan mengambil keputusan yang baik tidak hilang, serta hal ini akan menjadi sikap waspada. Kita telah melakukan pembedaan roh, mengalami penghiburan dan kehancuran; kita telah memilih sesuatu … semuanya berjalan dengan baik, tetapi sekarang, kewaspadaan : sikap waspada. Karena dampaknya mengandung risiko, yaitu si “perusak permainan”, yaitu Si Jahat, bisa merusak segalanya, membuat kita kembali ke awal, bahkan dalam kondisi yang lebih buruk. Dan hal ini terjadi, jadi kita harus penuh perhatian dan waspada. Inilah sebabnya mengapa waspada sangat diperlukan. Oleh karena itu, hari ini tampaknya tepat untuk menekankan sikap ini, yang kita semua perlukan agar proses pembedaan roh berhasil dan tetap seperti itu.

 

Memang, dalam khotbah-Nya Yesus sangat menekankan fakta bahwa murid yang baik waspada, tidak tertidur, tidak membiarkan dirinya terlalu percaya diri ketika segala sesuatunya berjalan baik, tetapi tetap waspada dan siap untuk melakukan tugasnya.

 

Misalnya, dalam Injil Lukas, Yesus berkata : “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka” (12:35-37).

 

Berjaga-jaga untuk menjaga hati kita dan untuk memahami apa yang terjadi di dalamnya.

 

Ini adalah pola pikir umat Kristiani yang menantikan kedatangan Tuhan yang terakhir; tetapi juga dapat dipahami sebagai sikap lumrah yang harus dimiliki dalam menjalankan kehidupan, sehingga pilihan-pilihan baik kita, yang diambil kadang-kadang setelah pertimbangan yang menantang, dapat berjalan dengan gigih dan berkesinambungan, serta menghasilkan buah.

 

Jika tidak waspada, sebagaimana sedang kita katakan, ada risiko yang sangat tinggi bahwa semuanya akan hilang. Bukan sekadar bahaya dalam tatanan psikologis, bukan, tetapi dalam tatanan rohani, jerat nyata dari roh jahat. Memang, ia menunggu saat yang tepat di mana kita terlalu percaya diri, dan inilah bahayanya : "Tetapi aku yakin pada diriku, aku telah menang, sekarang aku baik-baik saja ..." - inilah saat yang ia tunggu, ketika semuanya berjalan dengan baik, ketika segala sesuatunya berjalan "dengan sangat berhasil" dan "angin ada di layar kita". Memang, dalam perumpamaan Injil singkat yang kita dengar, dikatakan bahwa roh jahat, ketika kembali ke rumah dari pengembaraannya, “mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapi teratur” (Mat 12:44), ia mendapati rumah itu sudah dipersiapkan dengan baik, bukan? Semuanya ada di tempatnya, semuanya rapi teratur, tetapi di mana sang tuan rumah? Ia tidak ada di sana. Tidak ada yang mengawasi dan menjaganya. Ini masalahnya. Sang tuan rumah tidak ada di rumah, ia pergi, ia kebingungan, entahlah; atau ia ada di rumah tetapi tertidur, dan oleh karena itu seolah-olah ia tidak ada di sana. Ia tidak waspada, ia tidak berjaga-jaga, karena ia terlalu percaya diri dan kehilangan kerendahan hati untuk menjaga hatinya. Kita harus selalu menjaga rumah kita, hati kita serta tidak teralihkan dan pergi … karena masalahnya ada di sini, sebagaimana dikatakan perumpamaan.

 

Jadi, roh jahat dapat memanfaatkan hal ini dan kembali ke rumah itu. Injil bahkan mengatakan bahwa ia tidak kembali sendirian, tetapi mengajak "tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya" (ayat 45). Sekelompok pelaku kejahatan, sekelompok penjahat. Tetapi bagaimana mungkin, kita bertanya-tanya, mereka masuk tanpa gangguan? Mengapa sang tuan rumah tidak menyadarinya? Apakah ia tidak pandai membedakan roh dan mengenyahkan mereka? Apakah ia tidak menerima pujian dari teman dan tetangganya karena rumah itu begitu indah dan anggun, begitu rapi dan bersih? Rumah hati, bukan? Ya, tetapi mungkin justru karena ini ia terlalu mencintai rumah itu, yaitu, dirinya sendiri, dan berhenti menantikan Tuhan, menantikan kedatangan Sang Mempelai Laki-laki; mungkin karena takut merusak ketertiban ia tidak lagi menyambut siapa pun, ia tidak mengundang orang miskin, tunawisma, mereka yang mengganggu ... Satu hal yang pasti : di sini terlibat buruknya kesombongan, anggapan merasa benar, baik, rapi teratur. Sangat sering kita mendengar seseorang berkata: “Ya, sebelumnya aku buruk, aku pindah agama dan sekarang, sekarang rumahku sudah rapi teratur, puji Tuhan, kamu dapat yakin…”. Ketika kita terlalu percaya diri dan tidak percaya pada rahmat Allah, maka Si Jahat menemukan pintu terbuka. Jadi, ia mengatur ekspedisi dan menguasai rumah itu. Dan Yesus menyimpulkan : “Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula” (ayat 45).

 

Tetapi bukankah sang tuan rumah memperhatikan? Tidak, karena mereka adalah iblis yang sopan: mereka masuk tanpa kamu sadari, mereka mengetuk pintu, mereka sopan. "Tidak apa-apa, pergi, pergi, masuk ..." dan akhirnya mereka mengambil kendali atas jiwamu. Waspadalah terhadap setan-setan kecil ini, iblis-iblis ini... setan-setan itu sopan, ketika mereka berpura-pura menjadi sosok yang hebat, bukan? Karena mereka masuk dengan milik kita untuk keluar dengan miliknya. Lindungi rumah dari penipuan ini, yaitu iblis yang sopan. Dan keduniawian rohani mengambil rute ini, selalu.

 

Saudara-saudari terkasih, tampaknya tidak mungkin tetapi memang begitu. Berkali-kali kita kalah, berkali-kali kita kalah dalam pertempuran, karena tidak waspada. Sangat sering, mungkin, Tuhan telah memberikan begitu banyak rahmat, banyak rahmat, dan pada akhirnya, kita tidak dapat bertahan dalam rahmat ini dan kita kehilangan segalanya, karena kita tidak waspada: kita tidak menjaga pintu. Dan kemudian kita telah ditipu oleh seseorang yang datang, sopan, ia masuk dan, halo… Iblis memiliki hal-hal ini. Siapa pun juga dapat memastikan hal ini dengan mengingat kembali sejarah pribadi mereka. Tidaklah cukup hanya melakukan pembedaan roh yang baik dan membuat pilihan yang baik. Tidak, itu tidak cukup : kita harus tetap waspada, menjaga rahmat yang diberikan Allah kepada kita ini, tetapi berjaga-jagalah, karena kamu dapat berkata kepada saya : “Tetapi ketika aku melihat beberapa kekacauan, aku langsung menyadari bahwa itu adalah iblis, bahwa itu adalah pencobaan…”. Ya, tetapi kali ini ia datang menyamar sebagai malaikat : iblis tahu bagaimana berpakaian seperti malaikat, ia masuk dengan kata-kata yang sopan, dan ia meyakinkanmu, dan pada akhirnya, keadaan lebih buruk daripada keadaan semula… Kita perlu tetap waspada, menjaga hati. Jika saya bertanya kepada kamu masing-masing hari ini, dan juga diri saya sendiri, “Apa yang terjadi di dalam hatimu?”, mungkin kita tidak akan tahu bagaimana mengatakan semuanya; kita akan mengatakan satu atau dua hal, tetapi tidak semuanya. Jagalah hati, karena kewaspadaan adalah tanda kebijaksanaan, terutama tanda kerendahan hati, karena kita takut jatuh, dan kerendahan hati adalah jalan utama hidup Kristiani. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama dari Amerika Serikat dan Universitas Katolik Australia. Saya berdoa agar kamu masing-masing, dan keluargamu, dapat mengalami Adven yang terberkati sebagai persiapan untuk kedatangan, pada hari Natal, Yesus yang baru lahir, Sang Putra Allah dan Juruselamat dunia. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Dalam katekese kita tentang pembedaan roh, kita telah membahas berbagai unsurnya, termasuk doa, pengenalan diri, pengalaman rohani dan tanda-tanda yang meyakinkan kita akan kebenaran keputusan kita. Akan tetapi, sikap mendasar yang harus menuntun seluruh proses pembedaan roh adalah kewaspadaan. Yesus sering memperingatkan murid-murid-Nya tentang perlunya kewaspadaan, jangan sampai musuh memanfaatkan kebingungan kita dan membuat upaya baik kita sia-sia. Tuhan memberikan contoh tentang roh jahat yang, diusir dari sebuah rumah, kembali untuk mendapatinya bersih tetapi dalam keadaan kosong, karena pemiliknya tidak ada, dan kemudian kembali dengan tujuh temannya. Seperti pemilik itu, kita juga bisa gagal menjaga rumah kita dan menjaga kemurnian hati kita sebagai tempat tinggal Tuhan. Ketika kita terlalu percaya diri dan bukan percaya pada rahmat Tuhan, kesombongan kita dapat membuka pintu bagi si jahat dan mendapati diri kita “lebih buruk dari pada keadaan semula” (bdk. Luk 12:45). Dalam melakukan pembedaan roh, semoga kita selalu tetap waspada, karena kewaspadaan adalah tanda kebijaksanaan rohani dan kerendahan hati yang menjadi inti hidup Kristiani.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 14 Desember 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 Desember 2022 : BELAJAR DARI KERAGUAN YOHANES PEMBAPTIS

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil Hari Minggu Adven III ini berbicara kepada kita tentang Yohanes Pembaptis yang, ketika ada di dalam penjara, mengutus murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus : "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" (Mat 11:3). Memang, Yohanes, yang mendengar tentang karya Yesus, dihinggapi keraguan apakah Ia sungguh Mesias atau bukan. Bahkan, ia membayangkan seorang Mesias yang keras yang akan datang dan melakukan keadilan dengan kuasa dengan menghukum para pendosa. Sekarang, justru, Yesus memiliki kata-kata dan sikap belas kasih terhadap semua orang; rahmat pengampunan ada di tengah-tengah perbuatan-Nya : orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (ayat 5). Namun, ada baiknya kita melihat lebih dekat krisis Yohanes Pembaptis ini, karena krisis tersebut juga dapat memberitahu kita sesuatu yang penting.

 

Teks tersebut menekankan bahwa Yohanes ada di dalam penjara, dan hal ini, selain sebagai tempat fisik, membuat kita berpikir tentang situasi batin yang dialaminya : di dalam penjara ada kegelapan, tidak ada kemungkinan untuk melihat dengan jelas dan melihat melampauinya. Akibatnya, Yohanes Pembaptis tidak lagi dapat mengenali Yesus sebagai Mesias yang dinanti-nantikan. Ia dilanda keraguan, dan ia mengutus para muridnya untuk menyelidiki : "Pergilah dan lihatlah apakah Ia Mesias atau bukan". Kita heran bahwa hal ini harus terjadi pada Yohanes, orang yang telah membaptis Yesus di sungai Yordan dan telah menunjukkan Yesus kepada murid-muridnya sebagai Anak Domba Allah (bdk. Yoh 1:29). Ini justru berarti bahwa bahkan orang yang paling beriman sekali pun melewati terowongan keraguan. Dan ini bukan hal yang buruk; justru terkadang penting untuk pertumbuhan rohani : kita terbantu memahami bahwa Allah senantiasa lebih besar dari yang kita bayangkan. Karya-Nya mengejutkan dibandingkan dengan perhitungan kita; perbuatan-Nya berbeda, senantiasa, melebihi kebutuhan dan harapan kita; serta oleh karena itu, kita tidak boleh berhenti mencari Dia dan berpaling ke wajah-Nya yang sesungguhnya. Seorang teolog besar pernah berkata bahwa Allah “perlu ditemukan kembali secara bertahap... terkadang meyakini bahwa kita kehilangan Dia” (H. De Lubac, Sur les chemins de Dieu). Inilah yang dilakukan Yohanes Pembaptis : dalam keraguan, ia tetap mencari Dia, mempertanyakan Dia, “berdebat” dengan Dia dan akhirnya menemukan Dia kembali. Yohanes, yang didefinisikan oleh Yesus sebagai seorang yang terbesar di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan (bdk. Mat 11:11), mengajarkan kita, singkatnya, untuk tidak menutup Allah dalam pola pikir kita sendiri. Hal ini senantiasa merupakan bahaya, godaan : menjadikan diri kita sebagai Allah menurut ukuran kita, Allah untuk dipergunakan. Dan Allah adalah sesuatu yang lain.

 

Saudara-saudari, kita juga kadang-kadang menemukan diri kita dalam situasinya, di dalam penjara batin, tidak dapat mengenali kebaruan Tuhan, yang mungkin kita tawan dengan anggapan bahwa kita sudah mengetahui segalanya tentang Dia. Saudara-saudari terkasih, kita tidak pernah tahu segalanya tentang Allah, tidak pernah! Mungkin yang kita pikirkan adalah Allah yang kuat yang melakukan apa yang Ia inginkan, bukannya Allah yang lemah lembut, Allah yang penuh belas kasihan dan cinta, yang senantiasa ikut campur dengan menghormati kebebasan dan pilihan kita. Mungkin kita bahkan menemukan diri kita berkata kepada-Nya : "Apakah Engkau sungguh, begitu rendah hati, Allah yang sedang datang untuk menyelamatkan kita?". Dan hal serupa dapat terjadi pada diri kita dengan saudara-saudari kita juga : kita memiliki gagasan, prasangka dan kita menempelkan label yang kaku kepada orang lain, terutama yang kita rasa berbeda dengan kita. Masa Adven, adalah waktu untuk menjungkirbalikkan cara pandang kita, membiarkan diri kita dikejutkan oleh kerahiman Allah.

 

Keheranan : Allah senantiasa membuat heran. Kita lihat, belum lama ini, di acara televisi “A Sua Immagine”, mereka berbicara tentang ketakjuban. Allah senantiasa merupakan sosok yang membangkitkan ketakjuban dalam dirimu. Sebuah waktu – Adven – yang di dalamnya, mempersiapkan palungan kelahiran untuk Bayi Yesus, kita kembali mempelajari siapa Tuhan; waktu untuk meninggalkan anggapan dan prasangka tertentu tentang Allah dan saudara-saudari kita. Masa Adven adalah waktu di mana, alih-alih memikirkan karunia untuk diri kita sendiri, kita dapat memberikan kata-kata dan bersikap menghibur mereka yang terluka, seperti yang diperbuat Yesus terhadap orang buta, tuli, dan lumpuh.

 

Semoga Bunda Maria memegang tangan kita, seperti seorang ibu, semoga ia memegang tangan kita pada hari-hari persiapan Natal ini, dan membantu kita mengenali dalam kekecilan sang Bayi kebesaran Allah yang sedang datang.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Kemarin, di Barbacena, Brasil, Isabel Cristina Mrad Campos dibeatifikasi. Perempuan belia ini dibunuh pada tahun 1982 dalam usia dua puluh tahun, karena kebencian terhadap iman, karena telah mempertahankan martabatnya sebagai seorang perempuan dan nilai kekudusannya. Semoga teladan kepahlawanannya mengilhami khususnya kaum muda untuk memberikan kesaksian iman dan kelekatan pada Injil secara melimpah. Tepuk tangan meriah untuk sang beata baru!

 

Saya mengikuti dengan sedih dan prihatin berita dari Sudan Selatan tentang bentrokan kekerasan beberapa hari terakhir. Marilah kita berdoa kepada Tuhan untuk perdamaian dan rekonsiliasi nasional, agar serangan dapat dihentikan dan warga sipil selalu dihormati.

 

Hari ini adalah Hari Gunung Sedunia, yang mengundang kita untuk menyadari pentingnya sumber daya yang luar biasa ini bagi kehidupan planet dan umat manusia. Tema tahun ini – “Perempuan memindahkan gunung” – memang benar, perempuan memindahkan gunung! – mengingatkan kita akan peran perempuan dalam merawat lingkungan dan menjaga tradisi penduduk gunung. Dari orang gunung kita belajar rasa kebersamaan dan berjalan bersama.

 

Saya menyapa kamu semua, di sini di Roma, dari Italia dan berbagai belahan dunia. Secara khusus, saya menyapa umat dari Barcelona, Valencia, Alicante, Beirut, Kairo, serta dari Meksiko dan Polandia. Saya menyapa komunitas Katolik Tanzania di Italia; kelompok paroki dari Terni, Panzano di Chianti, Perugia, Nozza di Vestone; Paduan Suara Alpini Roma; dan perwakilan warga yang tinggal di daerah paling tercemar di Italia, dengan harapan mendapatkan penyelesaian yang adil untuk masalah serius mereka dan penyakit yang berasal dari lingkungan yang tercemar ini.

 

Dan saya ingin menyampaikan salam hangat kepada para tahanan di penjara “Due Palazzi” Padua : Saya menyapamu dengan penuh kasih sayang!

 

Dan sekarang saya akan memberkati "Bambinelli", patung kecil Bayi Yesus yang kamu, anak laki-laki dan perempuan, bawa ke sini dan kemudian, pulang ke rumah, akan ditempatkan di Kandang Natal. Saya mengajakmu untuk berdoa, di depan palungan, agar kelahiran Tuhan membawa cahaya kedamaian bagi anak-anak di seluruh dunia, terutama mereka yang terpaksa menjalani hari-hari peperangan yang mengerikan dan kelam, perang di Ukraina ini yang menghancurkan banyak kehidupan, begitu banyak kehidupan, dan banyak anak-anak. Pemberkatan Bambinelli… [Paus memberkati patung kecil Bayi Yesus].

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu dan melakukan perjalanan yang baik menuju kelahiran Tuhan. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Desember 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Desember 2022 : MARIA MEMBANTU KITA MENJAGA KECANTIKAN KITA DARI KEJAHATAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat hari raya!

 

Bacaan Injil Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda hari ini memperkenalkan kita ke dalam rumah Maria untuk menceritakan Kabar Sukacita (bdk. Luk 1:26-38). Malaikat Gabriel menyapa Perawan Maria seperti ini : “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (ayat 28). Ia tidak memanggilnya dengan namanya, Maria, tetapi dengan nama baru, yang ia tidak ketahui : engkau yang dikaruniai. Engkau yang dikaruniai, dan oleh karenanya bebas dari dosa, adalah nama yang diberikan Allah kepadanya dan kita rayakan hari ini.

 

Tetapi marilah kita pikirkan keheranan Maria : baru pada saat itulah ia menemukan jatidirinya yang sebenarnya. Memang, dengan memanggilnya dengan nama itu, Allah mengungkapkan kepadanya rahasia terbesarnya, yang sebelumnya tidak diketahui olehnya. Hal serupa juga bisa terjadi pada diri kita. Dalam arti apa? Dalam artian bahwa kita para pendosa juga telah menerima karunia awal yang telah memenuhi hidup kita, suatu kebaikan yang lebih besar dari apa pun juga : kita telah menerima karunia asli. Kita berbicara banyak tentang dosa asal, tetapi kita juga telah menerima karunia asal, yang seringkali tidak kita sadari.

 

Apa itu, karunia asli ini? Itulah yang kita terima pada saat kita dibaptis, oleh karena itu ada baiknya kita mengingatnya, dan bahkan merayakannya! Saya akan mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu : rahmat yang diterima pada saat kita dibaptis ini penting. Tetapi berapa banyak dari kamu yang ingat tanggal baptisanmu, tanggal berapa kamu dibaptis? Pikirkan tentang hal itu. Dan jika kamu tidak ingat, ketika kamu pulang, tanyakan kepada bapa baptismu, ibu baptismu, ayah atau ibumu : "Kapan aku dibaptis?", karena hari itu adalah hari rahmat yang besar, awal kehidupan baru, hari rahmat asli yang kita miliki. Allah turun ke dalam hidup kita hari itu, dan kita menjadi anak-anak kesayangan-Nya selamanya. Ini adalah kecantikan asli kita, yang karenanya kita penuh dengan sukacita! Hari ini, Maria, terkejut dengan rahmat yang membuatnya cantik sejak saat pertama hidupnya, membuat kita terkagum-kagum akan kecantikan kita. Kita dapat menangkap ini melalui rupa busana putih Pembaptisan; busana itu mengingatkan kita bahwa, di luar kejahatan yang telah menodai kita selama bertahun-tahun, ada kebaikan dalam diri kita yang lebih besar dari seluruh kejahatan yang telah menimpa. Marilah kita dengarkan gemanya, marilah kita dengar Allah berkata kepada kita : “Putra-Ku, putri-Ku, Aku mengasihimu dan Aku senantiasa bersamamu, engkau penting bagi-Ku, hidupmu berharga”. Itulah pesan Allah kepada kita. Ketika berbagai hal tidak berjalan dengan baik dan kita berputus asa, ketika kita berputus asa dan berisiko merasa tidak berguna atau salah, marilah kita berpikir tentang hal ini, tentang rahmat asli ini. Dan Allah beserta kita, Allah besertaku sejak hari itu. Marilah kita pikirkan lagi.

 

Hari ini sabda Allah mengajarkan kita hal penting lainnya : bahwa menjaga kecantikan kita membutuhkan biaya, menuntut perjuangan. Memang, Bacaan Injil menunjukkan kepada kita keberanian Maria yang mengatakan “Ya” kepada Allah, yang memilih risiko Allah; dan perikop dari Kitab Kejadian, tentang dosa asal, berbicara kepada kita tentang pertempuran melawan si penggoda dan godaannya (bdk. Kej 3:15). Tetapi kita mengetahui hal ini dari pengalaman juga, kita semua : butuh usaha untuk memilih yang baik, dibutuhkan biaya; dibutuhkan upaya untuk menjaga kebaikan yang ada pada diri kita. Pikirkanlah berapa kali kita telah menyia-nyiakannya dengan menyerah pada iming-iming kejahatan, licik demi kepentingan kita atau melakukan sesuatu yang akan mengotori hati kita; atau bahkan membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna atau berbahaya, menunda-nunda doa, misalnya, dan mengatakan "Hari ini aku tidak bisa", atau mengatakan "Aku tidak bisa" kepada mereka yang membutuhkan kita, padahal sebenarnya kita bisa.

 

Tetapi hari ini, dihadapkan pada semua ini, kita memiliki kabar baik : Maria, satu-satunya manusia tanpa dosa dalam sejarah, bersama kita dalam pertempuran, ia adalah saudari kita dan, terutama, Bunda kita. Dan kita, yang berjuang untuk memilih yang baik, bisa mempercayakan diri kita kepadanya. Dengan mempercayakan diri kita, menguduskan diri kita kepada Maria, kita mengatakan kepadanya : “Pegang tanganku, Bunda, tuntunlah aku : bersama engkau aku akan memiliki lebih banyak kekuatan dalam pertempuran melawan kejahatan; bersama engkau aku akan menemukan kembali kecantikan asliku”. Hari ini marilah kita mempercayakan diri kita kepada Maria, marilah kita mempercayakan diri kita kepada Maria setiap hari, mengulangi kepadanya : “Maria, aku mempercayakan hidupku kepada engkau, aku mempercayakan keluargaku, pekerjaanku, aku mempercayakan hatiku dan perjuanganku. Aku mempersembahkan diriku kepada engkau”. Semoga Maria yang dikandung tanpa noda membantu kita menjaga kecantikan kita dari kejahatan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah. Secara khusus, saya menyapa para pengikut Gerakan Pekerja Kristiani dan perwakilan dari Rocca di Papa dengan obor yang akan menyalakan Bintang Natal di mercu suar kota.

 

Pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, Aksi Katolik Italia menjalani pembaharuan keanggotaannya. Saya menyampaikan pemikiran saya kepada lembaga keuskupan dan parokinya, mendorong setiap orang untuk berkembang dengan sukacita dalam melayani Injil dan Gereja.

 

Sore ini saya akan pergi ke Basilika Santa Maria Maggiore untuk berdoa kepada Salus Populi Romani, dan langsung setelah itu ke Spanish Steps untuk melakukan tindakan penghormatan dan doa tradisional di kaki monumen Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Saya memohon keadamu untuk bergabung dengan saya secara rohani dalam gerakan ini, yang mengungkapkan devosi bakti kepada Bunda kita, yang kepada pengantaraannya kita mempercayakan keinginan semesta untuk perdamaian, khususnya bagi Ukraina yang bermartir, yang sangat menderita. Saya memikirkan kata-kata Malaikat Gabriel kepada Maria : “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil”. Dengan pertolongan Allah, perdamaian menjadi mungkin; perlucutan senjata menjadi mungkin. Allah bahkan menginginkan niat baik kita. Semoga Bunda Maria menolong kita untuk berbalik kepada rencana Allah.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari raya dan perjalanan Adven yang baik, untuk semua orang yang ada di sini: untuk kaum muda Immakulata, hari ini adalah hari raya mereka! Semoga Bunda Maria membantu kita. Allah menginginkan niat baik kita : semoga Bunda Maria membantu kita untuk berbalik kepada rencana Allah. Selamat hari raya, dan selamat menempuh perjalanan Adven, serta tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Desember 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 7 Desember 2022 : KATEKESE TENTANG PEMBEDAAN ROH (BAGIAN 11) - MENEGASKAN PILIHAN YANG BAIK

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam proses pembedaan roh, memperhatikan tahapan yang segera mengikuti keputusan yang diambil, agar menangkap tanda-tanda yang menegaskannya atau yang menyangkalnya juga tetap penting. Saya harus membuat keputusan, [maka] saya membuat pembedaan roh, pro atau kontra, perasaan saya, saya berdoa... kemudian proses ini berakhir dan saya membuat keputusan dan kemudian tibalah bagian di mana kita harus berhati-hati, paham. Karena dalam hidup beberapa keputusan tidak baik dan ada tanda-tanda yang menyangkalnya, sementara di sisi lain, beberapa keputusan yang baik ditegaskan.

 

Memang, kita telah melihat bagaimana waktu merupakan kriteria dasar untuk mengenali suara Allah di antara begitu banyak suara lainnya. Ia sendiri adalah Sang Empunya waktu : ciri keaslian-Nya, yang membedakan Dia dari sosok palsu yang berbicara atas nama-Nya tanpa benar-benar melakukannya. Salah satu ciri khas dari roh yang baik sesungguhnya menyampaikan kedamaian yang bertahan lama. Jika kamu mempertimbangkan lebih dalam, maka buatlah keputusan dan ini memberimu kedamaian yang bertahan sepanjang waktu, ini adalah tanda yang baik dan menunjukkan bahwa jalan tersebut baik. Kedamaian yang membawa kerukunan, persatuan, semangat, kegairahan. Kamu keluar dari proses "pendalaman" lebih baik daripada saat kamu memasukinya.

 

Misalnya, jika saya membuat keputusan untuk mencurahkan setengah jam tambahan untuk berdoa, dan kemudian saya menemukan bahwa saya menjalani saat-saat lain hari itu dengan lebih baik, saya lebih tenang, tidak terlalu cemas, saya melakukan pekerjaan dengan lebih seksama dan bersemangat, bahkan hubungan dengan beberapa orang yang sulit pun menjadi lebih lancar... Ini semua adalah tanda-tanda penting yang mendukung kebaikan keputusan yang diambil. Kehidupan rohani bersifat melingkar : kebaikan sebuah pilihan bermanfaat bagi segenap ranah kehidupan kita karena merupakan keikutsertaan dalam kreativitas Allah.

Kita dapat mengenali beberapa aspek penting yang membantu kita membaca waktu setelah keputusan sebagai penegasan kemungkinan kebaikannya, karena rentang waktu berikutnya menegaskan kebaikan keputusan tersebut. Dalam beberapa hal kita telah menjumpai aspek-aspek penting ini dalam perjalanan katekese-katekese ini, tetapi sekarang aspek-aspek itu menemukan penerapannya lebih lanjut.

 

Aspek pertama adalah apakah keputusan itu dilihat sebagai kemungkinan tanda tanggapan terhadap kasih dan kemurahan hati Tuhan terhadap saya. Keputusan tidak lahir dari rasa takut, tidak lahir dari pemerasan atau paksaan emosional, tetapi lahir dari rasa syukur atas kebaikan yang diterima, yang menggerakkan hati untuk hidup bebas dalam hubungan dengan Tuhan.

Unsur penting lainnya adalah memiliki perasaan berkenaan dengan tempat kita dalam kehidupan – ketenangan, “Aku ada di tempatku” – dan merasa bahwa kamu adalah bagian dari rencana yang lebih besar, yang terhadapnya kita ingin berkontribusi. Di Lapangan Santo Petrus ada dua titik yang tepat – titik fokus elips – dari sana kita dapat melihat kolom-kolom Bernini sejajar sempurna. Demikian pula, seorang dapat menyadari bahwa ia telah menemukan apa yang sedang ia cari ketika harinya menjadi lebih teratur, ketika ia merasakan keterpaduan yang berkembang di antara banyak minatnya, ketika ia membangun hierarki kepentingan yang tepat, dan ketika ia dapat mengalami hal ini dengan nyaman, menghadapi kesulitan yang muncul dengan energi dan keuletan yang baru. Ini adalah tanda-tanda bahwa kamu telah membuat keputusan yang baik.

 

Tanda penegasan yang baik lainnya, misalnya, adalah fakta untuk tetap bebas sehubungan dengan apa yang telah diputuskan, bersedia untuk mempertanyakannya, bahkan meniadakan kemungkinan penyangkalan, mencoba menemukan di dalamnya ajaran yang kemungkinan berasal dari Tuhan. Ini bukan karena Ia ingin merampas apa yang kita sayangi, tetapi untuk menjalaninya dengan kebebasan, tanpa keterikatan. Hanya Allah yang tahu apa yang benar-benar baik untuk kita. Kepemilikan adalah musuh kebaikan dan membunuh kasih sayang. Perhatikanlah hal ini : kepemilikan adalah musuh kebaikan, kepemilikan membunuh kasih sayang. Banyaknya kasus kekerasan di ranah rumah tangga, yang sayangnya sering kita beritakan, hampir selalu muncul berasal dari klaim kepemilikan kasih sayang pihak lain, dari pencarian keamanan mutlak yang membunuh kebebasan dan mencekik kehidupan, menjadikannya neraka.

 

Kita hanya bisa mengasihi dalam kebebasan, itulah sebabnya Tuhan menciptakan kita bebas, bahkan bebas untuk mengatakan tidak kepada-Nya. Menawarkan kepada-Nya apa yang paling kita sayangi adalah demi kepentingan terbaik kita, memampukan kita untuk menjalaninya dengan cara terbaik dan dalam kebenaran, sebagai karunia yang telah diberikan-Nya kepada kita, sebagai tanda kebaikan-Nya yang cuma-cuma, mengetahui bahwa hidup kita juga sebagai keseluruhan sejarah, berada di tangan-Nya yang sarat kebajikan. Inilah yang disebutkan Kitab Suci sebagai takut akan Allah, yaitu rasa hormat kepada Allah - bukan karena Allah menakut-nakuti saya, tetapi rasa hormat, syarat yang sangat diperlukan untuk menerima karunia Kebijaksanaan (bdk. Sir 1:1-18). Takut tersebut yang mengusir seluruh ketakutan lainnya, karena mengarah kepada Dia yang Empunya segala sesuatu. Di hadirat-Nya, tidak ada yang dapat mengganggu kita. Santo Paulus mengungkapkan pengalaman yang luar biasa tersebut demikian : "Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:12-13). Inilah manusia bebas, yang memohonkan berkat Tuhan baik ketika hal-hal yang baik maupun hal-hal yang tidak begitu baik datang : Semoga Ia mengabulkan berkat, dan marilah kita terus maju!

 

Menyadari hal ini sangat penting untuk pengambilan keputusan yang baik, dan meyakinkan kita tentang apa yang tidak dapat kita kendalikan atau prediksi : kesehatan, masa depan, orang yang kita cintai, rencana kita. Yang penting adalah bahwa kepercayaan kita ditempatkan dalam Tuhan semesta alam, yang sangat mengasihi kita dan mengetahui bahwa kita dapat membangun bersama-Nya sesuatu yang indah, sesuatu yang abadi. Kehidupan para kudus menunjukkan hal ini kepada kita dengan cara yang paling indah. Marilah kita maju, selalu berusaha membuat keputusan dengan cara ini, dalam doa dan merasakan apa yang terjadi dalam hati kita, dan maju perlahan. Kuatkan hati!!

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya yang berasal dari Australia, India, Singapura dan Amerika Serikat. Saya berdoa agar kamu masing-masing, dan keluargamu, dapat mengalami Adven yang diberkati sebagai persiapan untuk kedatangan, pada hari Natal, Yesus yang baru lahir, Sang Putra Allah dan Sang Juruselamat dunia. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang pembedaan roh, kita sekarang beralih ke tanda-tanda yang menegaskan kebenaran keputusan kita. Yang paling penting dari hal ini adalah ujian waktu. Melakukan pembedaan roh secara bijak terhadap keputusan-keputusan menghasilkan kedamaian abadi. Kehidupan rohani bersifat "melingkar" : keputusan kita, sebagai buah kebebasan batin dan keterbukaan kita terhadap kehendak Allah, membawa kebaikan, kerukunan, dan keterpaduan ke dalam kehidupan kita sehari-hari, hubungan kita, dan pekerjaan kita. Tanda selanjutnya dari keputusan yang sehat secara rohani adalah keyakinan bahwa pilihan bebas tersebut berlandaskan kasih kepada Allah dan sebagai tanggapan syukur atas rahmat-Nya. Kebijaksanaan dan kebenaran keputusan kita juga ditegaskan oleh meningkatnya perasaan tenang, keteraturan dan arah hidup kita. Karena kebijaksanaan sejati, sebagaimana diajarkan Kitab Suci dan diteladankan kesaksian para kudus, lahir dari rasa takut akan Allah, keyakinan yang pasti bahwa hidup kita berada di tangan-Nya dan kebebasan manusiawi kita menemukan penggenapan tertinggi dalam ketaatan penuh keyakinan terhadap kehendak-Nya.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Desember 2022)