Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Januari 2023 : MEMAKNAI PESTA PEMBAPTISAN TUHAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan, dan Bacaan Injil menyajikan kepada kita pemandangan yang mencengangkan : untuk pertama kalinya Yesus muncul di muka umum setelah kelahiran-Nya yang tersembunyi di Nazaret; ia tiba di tepi Sungai Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes (Mat 3:13-17). Pembaptisan adalah ritus di mana orang-orang yang menyesal berketetapan hati untuk bertobat; sebuah madah liturgi mengatakan bahwa orang-orang pergi untuk dibaptis dengan "bertelanjang jiwa dan kaki" - jiwa yang terbuka, telanjang, tanpa menutupi apapun - yaitu, dengan kerendahan hati dan hati yang transparan. Tetapi, melihat Yesus bergaul dengan orang-orang berdosa, kita heran dan bertanya pada diri kita : mengapa Yesus mengambil pilihan itu? Ia, Orang kudus Allah, Putra Allah yang tak berdosa, mengapa Ia membuat pilihan itu? Kita menemukan jawabannya dalam kata-kata Yesus kepada Yohanes : “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah" (ayat 15). Menggenapkan seluruh kehendak Allah : apa maknanya?

 

Dengan mengajukan diri-Nya untuk dibaptis, Yesus menyatakan keadilan Allah, keadilan yang Ia bawa ke dunia. Sangat sering kita memiliki gagasan terbatas tentang keadilan, dan berpikir bahwa keadilan berarti demikian : orang-orang yang melakukan kesalahan membayar, dan dengan cara ini mengganti rugi kesalahan yang telah mereka lakukan. Tetapi keadilan Allah, sebagaimana diajarkan Kitab Suci, jauh lebih besar : pada akhirnya keadilan itu tidak menghukum orang-orang yang bersalah, tetapi menyelamatkan dan melahirkan kembali mereka, menjadikan mereka benar : dari tidak adil menjadi adil. Itulah keadilan yang berasal dari kasih, dari kedalaman kasih sayang dan belas kasihan yang merupakan inti hati Allah, Bapa yang tergerak ketika kita ditindas oleh kejahatan serta jatuh di bawah beban dosa dan kerapuhan. Maka keadilan Allah tidak dimaksudkan untuk mengedarkan hukuman dan pidana, melainkan, sebagaimana ditegaskan oleh Rasul Paulus, berupa membenarkan kita, anak-anak-Nya (bdk. Rm 3:22-31), membebaskan kita dari jerat kejahatan, menyembuhkan kita, membangkitkan kita kembali. Tuhan selalu ada, tidak siap untuk menghukum kita, tetapi dengan tangan terulur membantu kita bangkit. Jadi, kita memahami bahwa, di tepi sungai Yordan, Yesus mengungkapkan kepada kita makna perutusan-Nya : Ia datang untuk memenuhi keadilan ilahi, yaitu menyelamatkan orang berdosa; Ia datang untuk memikul sendiri dosa dunia dan turun ke danau jurang maut, untuk menyelamatkan kita agar tidak tenggelam. Hari ini Ia menunjukkan kepada kita bahwa keadilan Allah yang sesungguhnya adalah belas kasihan yang menyelamatkan. Kita takut untuk berpikir bahwa Allah adalah belas kasihan, tetapi Allah adalah belas kasihan, karena keadilan-Nya memang belas kasihan yang menyelamatkan, keadilan-Nya adalah kasih yang ambil bagian dalam keadaan manusiawi kita, yang membuat diri-Nya dekat, dalam kesetiakawanan dengan penderitaan kita, masuk ke dalam kegelapan kita untuk memulihkan terang.

 

Benediktus XVI menegaskan bahwa “Allah sendiri ingin menyelamatkan kita dengan pergi ke dasar jurang ini agar setiap orang, bahkan mereka yang telah jatuh begitu dalam sehingga mereka tidak dapat lagi melihat Surga, dapat menemukan tangan Allah untuk berpegangan dan bangkit dari kegelapan guna melihat kembali terang yang Ia ciptakan untuknya” (Homili, 13 Januari 2008).

 

Saudara-saudari, kita takut memikirkan keadilan yang penuh belas kasihan. Marilah kita lanjutkan : Allah itu penuh belas kasihan. Keadilan-Nya penuh belas kasihan. Marilah kita membiarkan diri kita digenggam oleh tangan-Nya. Kita juga, para murid Yesus, dituntut untuk menjalankan keadilan dengan cara ini, dalam hubungan dengan orang lain, dalam Gereja, dalam masyarakat: bukan dengan kekerasan orang-orang yang menghakimi dan menghukum, membagi orang menjadi baik dan buruk, tetapi dengan belas kasihan orang-orang yang menyambut dengan ambil bagian dalam luka dan kelemahan saudara-saudari mereka, untuk mengangkat mereka. Saya ingin mengatakannya seperti ini : bukan membagi, tetapi berbagi. Bukan membagi, tetapi berbagi. Marilah kita lakukan seperti yang dilakukan Yesus : marilah kita berbagi, marilah kita saling memikul daripada bergosip dan menghancurkan, marilah kita saling memandang dengan belas kasihan, marilah kita saling membantu. Marilah kita bertanya pada diri kita : apakah aku orang yang memecah belah atau membagi? Pikirkanlah sedikit : apakah aku murid kasih Yesus atau murid gosip, yang memecah belah. Gosip adalah senjata mematikan : gosip membunuh, gosip membunuh kasih, gosip membunuh masyarakat, gosip membunuh persaudaraan. Marilah kita bertanya pada diri kita : apakah aku orang yang memecah belah atau orang yang berbagi? Dan sekarang marilah kita berdoa kepada Bunda Maria, yang memberikan kehidupan kepada Yesus, membenamkan-Nya dalam kelemahan kita agar kita dapat menerima kehidupan kembali.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Pagi ini, menurut kebiasaan, saya membaptis beberapa bayi yang baru lahir, anak-anak para pegawai Takhta Suci dan Negara Kota Vatikan, di Kapel Sistina. Namun sekarang, pada Pesta Pembaptisan Tuhan, dengan senang hati saya menyampaikan salam dan berkat kepada semua anak laki-laki dan perempuan yang hari ini, atau pada kurun waktu ini, telah menerima atau akan menerima Pembaptisan. Dan pada saat yang sama, saya menegaskan kembali kepada kamu semua – dan pertama-tama kepada diri saya sendiri – undangan untuk merayakan tanggal di mana kita dibaptis, yaitu di mana kita menjadi orang Kristiani. Saya bertanya kepadamu : apakah ada di antara kamu yang tahu tanggal Pembaptisanmu? Sebagian dari kamu pasti belum tahu. Tanyakanlah kepada orangtuamu, kerabatmu, wali baptismu : dan kemudian, setiap tahun, rayakanlah tanggal itu, karena tanggal itu adalah hari ulang tahun yang baru, hari lahir iman. Inilah tugas hari ini, untuk kamu masing-masing : mengetahui tanggal Pembaptisanmu, agar dapat merayakannya.

 

Secara khusus, saya menyapa paduan suara “Suara Para Malaikat” dari Bethlehem. Para sahabat terkasih, terima kasih dari hati saya, karena bersama dengan madahmu, kamu membawa "aroma Bethlehem", dan kesaksian umat Kristiani di Tanah Suci. Terima kasih! Kita akan berdoa untukmu, dan kita dekat denganmu!

 

Dan janganlah kita melupakan saudara dan saudari Ukraina kita. Mereka sangat menderita oleh karena perang! Natal dalam perang ini, tanpa terang, tanpa kehangatan, mereka sedang sangat menderita! Tolong, janganlah kita melupakan mereka. Dan hari ini, melihat Bunda Maria yang sedang menggendong bayi di kandang Natal, yang merawatnya, saya memikirkan para ibu dari para korban perang, para prajurit yang gugur dalam perang di Ukraina ini. Para ibu Ukraina dan ibu Rusia, keduanya telah kehilangan anak mereka. Ini adalah harga perang. Marilah kita mendoakan para ibu yang kehilangan putra-putra mereka yang menjadi prajurit, baik Ukraina maupun Rusia.

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu yang menyenangkan. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang, dan sampai jumpa.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Januari 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN PADA HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN 6 Januari 2023 : MEMAKNAI TIGA PEMBERIAN PARA MAJUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat hari raya!

 

Hari ini, Hari Raya Penampakan Tuhan, Bacaan Injil berbicara kepada kita tentang para Majus yang, tiba di Betlehem, membuka tempat harta benda mereka dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur kepada Yesus (bdk. Mat 2:11). Para bijak dari Timur ini terkenal karena pemberian yang mereka berikan. Tetapi, mempertimbangkan kisah mereka, kita dapat mengatakan, terutama, mereka menerima tiga pemberian. Mereka menerima tiga pemberian, tiga pemberian berharga yang kita terima juga. Mereka memberikan emas, kemenyan, dan mur, tetapi apakah tiga pemberian yang mereka terima?

 

Pemberian pertama adalah karunia panggilan. Para Majus siap siaga bukan karena mereka telah membaca Kitab Suci atau karena mereka telah mendapat penglihatan dari para malaikat, tetapi mereka merasakannya saat sedang mempelajari bintang-bintang. Hal ini memberitahu kita sesuatu yang penting – Allah memanggil kita melalui cita-cita dan keinginan terbesar kita. Para Majus membiarkan diri mereka terkagum-kagum dan tidak nyaman dengan kebaruan bintang serta mereka melakukan perjalanan menuju yang tidak diketahui. Bijaksana dan berpendidikan, mereka lebih terpesona oleh apa yang tidak mereka ketahui daripada apa yang sudah mereka ketahui. Mereka terbuka terhadap apa yang mereka tidak ketahui. Mereka merasa terpanggil untuk melampaui. Mereka tidak merasa senang tinggal di sana. Tidak, mereka dipanggil untuk melampaui. Hal ini juga penting bagi kita – kita dipanggil untuk tidak merasa puas, mencari Tuhan dengan keluar dari zona nyaman kita, berjalan menuju Dia bersama orang lain, membenamkan diri kita dalam kenyataan. Karena Allah memanggil setiap hari, di sini dan sekarang. Allah memanggil kita, kita masing-masing, setiap hari. Ia memanggil kita di sini dan Ia memanggil kita sekarang. Ia memanggil kita di dunia kita.

 

Tetapi para Majus berbicara kepada kita tentang pemberian kedua : pembedaan roh. Kita melihat mereka sedang mencari seorang raja, mereka pergi ke Yerusalem untuk berbicara dengan Raja Herodes, yang, bagaimanapun, adalah orang yang haus kekuasaan dan ingin menggunakan mereka untuk melenyapkan bayi Mesias. Tetapi para Majus tidak bodoh, mereka tidak membiarkan diri mereka ditipu oleh Herodes. Mereka tahu bagaimana membedakan antara tujuan perjalanan mereka dan godaan yang mereka temukan di jalan. Mereka bisa saja tetap berada di istana Herodes, dengan tenang. Tidak, mereka bergerak maju. Mereka meninggalkan istana Herodes dan, memperhatikan tanda Allah, tidak melewati jalan itu lagi, tetapi kembali melalui jalan lain (bdk. ayat 12).

 

Saudara-saudari, betapa pentingnya mengetahui bagaimana membedakan tujuan hidup dari godaan di sepanjang jalan! Tujuan hidup kita adalah satu hal, godaan di jalan adalah hal lain. Mengetahui bagaimana meninggalkan apa yang menggoda, bahkan mengarah ke jalan yang salah, untuk memahami dan memilih jalan Allah! Pembedaan roh adalah karunia yang besar dan kita tidak boleh lelah memohionkannya dalam doa. Marilah kita memohonkan rahmat ini! Tuhan, anugerahkanlah kami kemampuan untuk melakukan pembedaan roh tentang apa yang baik dari apa yang jahat, apa yang lebih baik dari apa yang tidak lebih baik.

 

Akhirnya, para Majus berbicara kepada kita tentang pemberian ketiga: kejutan. Setelah perjalanan panjang, apa yang ditemukan oleh kalangan atas dalam masyarakat ini? Seorang bayi dengan ibunya (bdk. ayat 11) – tentu saja, pemandangan yang lembut, tetapi tidak mencengangkan! Mereka tidak melihat malaikat seperti para gembala, tetapi mereka bertemu Allah dalam kemiskinan. Mungkin mereka mengharapkan Mesias yang kuat dan luar biasa – dan mereka menemukan seorang bayi. Dan tetap saja, mereka tidak mengira mereka melakukan kesalahan, mereka tahu bagaimana mengenali-Nya. Mereka menyambut kejutan Allah dan mengalami perjumpaan mereka dengan-Nya secara heran, menyembah-Nya – dalam kekecilan-Nya, mereka mengenali wajah Allah. Secara manusiawi, kita semua cenderung untuk mencari kebesaran, tetapi merupakan suatu karunia untuk mengetahui bagaimana menemukannya dengan sesungguhnya – mengetahui bagaimana menemukan kebesaran dalam kekecilan yang disukai Allah. Karena Tuhan dijumpai seperti ini : dalam kerendahan hati, dalam keheningan, dalam penyembahan, dalam diri orang yang paling kecil dan miskin.

 

Saudara-saudari, kita semua dipanggil – karunia pertama, panggilan – kita semua dipanggil oleh Yesus, kita semua dapat melakukan pembedaan roh – karunia kedua, pembedaan roh – melakukan pembedaan roh kehadiran-Nya, kita semua dapat mengalami kejutan-kejutan-Nya – karunia ketiga, kejutan. Hari ini, akan sangat indah untuk mengingat karunia-karunia ini : panggilan, pembedaan roh dan kejutan, karunia-karunia yang telah kita terima ini – mengingat kembali ketika kita merasakan panggilan Allah dalam hidup kita; atau bahkan ketika, mungkin setelah berjuang keras, kita berhasil melakukan pembedaan roh suara-Nya; atau bahkan, kejutan yang tak terlupakan yang Ia berikan kepada kita, mengejutkan kita. Semoga Bunda Maria membantu kita mengingat dan menghargai karunia yang diterima.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dengan tulus saya mengucapkan merayakan kelahiran Tuhan besok kepada komunitas Gereja Timur, baik Katolik maupun Ortodoks Secara khusus, saya ingin menjangkau saudara-saudari rakyat Ukraina yang sedang menderita. Semoga kelahiran Tuhan menanamkan kenyamanan dan harapan; serta semoga kelahiran Tuhan mengilhami langkah-langkah nyata yang akhirnya dapat mengarah pada berakhirnya pertempuran dan menuju perdamaian. Marilah kita banyak mendoakan Ukraina dan perdamaian.

 

Pada Hari Raya Penampakan Tuhan, Hari Anak Misioner Sedunia dirayakan. Saya menyapa semua anak, laki-laki dan perempuan, yang di setiap bagian dunia menyebarkan sukacita menjadi sahabat Yesus, dan yang berdedikasi melalui doa, kurban dan persembahan, untuk mendukung para misionaris Injil.

 

Saya menyapa kamu semua, anggota umat beriman dari Roma dan para peziarah dari berbagai negara.

 

Secara khusus, saya menyapa mereka yang ikut serta dalam perarakan Viva la Befana yang bersejarah dan kerakyatan, yang diselenggarakan tahun ini oleh Kotamadya Foligno dengan tema perdamaian, kesetiakawanan, dan persaudaraan di antara bangsa-bangsa. Saya berterima kasih kepada walikota dan Uskup Foligno, serta pihak berwenang lainnya, lembaga, sekolah, kelompok musik dan semua orang yang telah membuat Giostra della Quintana yang bersejarah menjadi hidup. Dan sebuah pemikiran juga tertuju pada Perarakan Tiga Raja yang berlangsung hari ini di banyak kota dan desa di Polandia.

 

Saya menyapa para calon penerima sakramen krisma dari Romano, Lombardy, Lembaga Kesetiakawanan AntarKeluarga Podenzano (Keuskupan Piacenza), serta para sahabat dan relawan Persaudaraan Domus. Dan saya menyapa mereka yang ada di kelompok Immakulata.

 

Saya mengucapkan Selamat Hari Raya kepada semuanya. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 6 Januari 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 Januari 2023 : BUNDA MARIA, AJARLAH KAMI APA YANG PERLU KAMI LAKUKAN TAHUN INI!

Saudara-saudari terkasih, selamat siang dan selamat Tahun Baru!

 

Awal tahun baru dipercayakan kepada Maria tersuci yang kita rayakan hari ini sebagai Bunda Allah. Pada saat ini, marilah kita memohonkan pengantaraannya khususnya untuk Paus Emeritus Benediktus XVI yang meninggalkan dunia ini kemarin pagi. Marilah kita semua bergabung bersama, sehati sejiwa, bersyukur kepada Allah atas karunia pelayan Injil dan Gereja yang setia ini. Kita baru-baru ini melihat di TV, program “Sua Immagine”, semua yang ia lakukan dan kehidupannya.

 

Saat kita merenungkan Maria di kandang tempat Yesus dilahirkan, kita dapat bertanya pada diri kita : Bahasa apa yang dipergunakan Sang Perawan Suci untuk berbicara kepada kita? Bagaimana Maria berbicara? Apa yang bisa kita pelajari dari dia untuk tahun yang baru terbit ini? Kita dapat berkata, "Bunda Maria, ajarlah kami apa yang perlu kami lakukan tahun ini".

 

Pada kenyataannya, jika kita mengamati adegan yang disajikan Liturgi hari ini kepada kita, kita melihat bahwa Maria tidak berbicara. Ia menyambut misteri yang ia alami dengan rasa kagum, ia menghargai segala sesuatu di dalam hatinya dan, terutama, ia perhatian dengan Sang Anak yang, seperti dikatakan Injil, "dibaringkan di dalam palungan" (bdk. Luk 2:16). Kata kerja “dibaringkan” ini berarti diletakkan dengan hati-hati, dan ini memberitahu kita bahwa bahasa yang tepat untuk Maria adalah keibuan : ia dengan lembut merawat sang Anak. Inilah keagungan Maria. Saat para malaikat merayakan, para gembala datang berlarian dan semua orang memuji Allah dengan suara nyaring atas apa yang telah terjadi, Maria tidak berbicara, ia tidak menjamu para tamunya menjelaskan semua yang telah terjadi padanya, ia tidak mencuri perhatian – terhadap kita yang suka mencuri perhatian! - ia tidak mencuri perhatian. Sebaliknya, ia menempatkan Sang Anak sebagai pusat, ia dengan penuh kasih merawat-Nya. Seorang penyair pernah menulis bahwa Maria “bahkan tahu bagaimana menjadi sangat bisu, […] karena ia tidak ingin melupakan Allahnya” (A. Merini, Corpo d'amore. Un incontro con Gesù, Milan 2001, 114).


Ini ciri khas bahasa ibu : kelembutan merawat. Nyatanya, setelah menanggung karunia keajaiban misterius di dalam rahim mereka selama sembilan bulan, para ibu terus-menerus menempatkan bayi mereka sebagai pusat perhatian mereka : mereka memberi mereka makan, mereka menggendongnya, mereka dengan lembut membaringkannya di tempat tidur. Merawat – ini adalah bahasa Bunda Allah, bahasa para ibu : merawat.

 

Saudara-saudari, seperti semua ibu, Maria melahirkan kehidupan di dalam rahimnya dan dengan demikian, ia berbicara kepada kita tentang masa depan kita. Tetapi pada saat yang sama, ia mengingatkan kita bahwa, jika kita benar-benar ingin Tahun Baru menjadi baik, jika kita ingin merekonstruksi harapan, kita perlu meninggalkan bahasa, tindakan dan pilihan yang diilhami oleh egoisme serta mempelajari bahasa kasih, yaitu merawat. Merawat adalah bahasa baru yang melawan bahasa egoisme ini. Inilah komitmennya: merawat hidup kita – kita masing-masing perlu menjaga hidup kita – menjaga waktu kita, jiwa kita; menjaga ciptaan dan lingkungan tempat kita hidup; dan terlebih lagi, menjaga sesama kita, mereka yang telah ditempatkan Allah di samping kita, serta saudara dan saudari kita yang membutuhkan dan yang meminta perhatian dan rasa iba kita. Melihat Bunda Maria dengan Sang Anak, di sana ia merawat Anaknya, marilah kita belajar untuk menjaga orang lain, bahkan diri kita sendiri, merawat kesehatan batin kita, kehidupan rohani, amal kasih kita.

 

Memperingati Hari Perdamaian Sedunia hari ini, marilah kita sadar kembali akan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada kita untuk membangun masa depan – dalam menghadapi krisis pribadi dan sosial yang kita jalani, dalam menghadapi tragedi perang“, kita dipanggil untuk menghadapi tantangan dunia kita dalam semangat tanggung jawab dan kasih sayang” (Pesan Hari Perdamaian Sedunia ke-56, 5). Dan kita dapat melakukan ini jika kita saling menjaga dan jika, kita semua bersama-sama, menjaga rumah kita bersama.

 

Marilah kita memohon kepada Maria Tersuci, Bunda Allah, agar di zaman ini, yang tercemar oleh ketidakberanian dan ketidakpedulian, ia dapat membuat kita mampu berbelas kasih dan memberikan perhatian – mampu berbelas kasih dan memberikan perhatian – mampu “melihat lebih dekat dan penuh simpati kepada orang-orang lain bilamana diperlukan” (Evangelii Gaudium, 169).

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Kepada kamu semua yang hadir di sini, dan kepada semua yang sedang mengikuti melalui media, saya menyampaikan selamat Tahun Baru. Saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Presiden Republik Italia, Yang Terhormat Sergio Mattarella, memohonkan kemakmuran bagi rakyat Italia; dan keinginan yang sama tertuju kepada Presiden Pemerintahan.

 

Pada hari ini yang ingin didedikasikan oleh Santo Paulus VI untuk doa dan permenunganbagi perdamaian dunia, marilah kita merasakan kontras perang yang semakin tak tertahankan, yang di Ukraina dan di wilayah lain, menabur kematian dan kehancuran. Namun demikian, janganlah kita kehilangan harapan karena kita beriman kepada Allah yang di dalam diri Yesus Kristus telah membuka jalan damai bagi kita. Pengalaman pandemi telah mengajarkan kita bahwa tidak ada seorang pun yang bisa diselamatkan sendirian, tetapi bersama-sama kita dapat mengusahakan jalan perdamaian dan pembangunan. Di seluruh dunia, dari setiap orang, sedang muncul seruan : Tidak untuk perang! Tidak untuk mempersenjatai kembali! Semoga sumber daya digunakan untuk pembangunan, kesehatan, pangan, pendidikan, pekerjaan.

 

Di antara prakarsa yang tak terhitung banyaknya yang dipromosikan dalam komunitas Kristiani, saya mengingat pawai nasional yang berlangsung kemarin di Altamura, setelah empat karavan membawa kesetiakawanan mereka ke Ukraina. Saya menyapa dan berterima kasih kepada banyak teman komunitas Sant'Egidio yang telah datang tahun ini juga untuk memberikan kesaksian komitmen mereka bagi perdamaian di setiap negeri, di sini, dan di banyak kota di dunia. Terima kasih, saudara dan saudari terkasih Sant'Egidio.

 

Dan saya menyapa dua kelompok musik yang berasal dari Virginia dan Alabama, Amerika Serikat – kita ingin mendengarkan mereka nanti! Saya menyapa kaum muda dari gerakan Regnum Christi – terima kasih! Mereka sedang membuat diri mereka didengar! – dari berbagai negara di Amerika dan Eropa, serta anak-anak dan keluarga-keluarga dari Komunitas Senakel, dengan berkat kepada Bunda Elvira dan seluruh komunitas.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu yang menyenangkan dan selamat Tahun Baru. Jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu dan sampai jumpa!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Januari 2023)

KILAS BALIK TANGGAL DAN PERISTIWA PENTING DALAM KEHIDUPAN PAUS BENEDIKTUS XVI

1927 - Joseph Ratzinger lahir pada Sabtu Suci, 16 April, di kota Marktl am Inn, Bavaria, Jerman dan dibaptis pada hari yang sama.

 

1936 - Ratzinger menerima Komuni Pertama di Gereja Paroki Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga pada 15 Maret.

 

1937 - Kardinal Michael von Faulhaber memberikan sakramen penguatan kepada Joseph Ratzinger yang berusia 10 tahun pada tanggal 9 Juni di Gereja Paroki Santo Oswald, Traunstein, Jerman.

 

1939 - Pada usia 12 tahun, Ratzinger memasuki seminari menengah di Traunstein di mana pada tahun tersebut diktator Jerman Adolf Hitler memerintahkan invasi ke Polandia dan Perang Dunia II dimulai.

 

1941 - Secara hukum, Ratzinger diharuskan untuk memasuki "Kaum Muda Hitler" pada usia 14 tahun. Ia menemukan kelompok itu buruk dan tidak pernah memakai seragamnya, menurut penulis biografi Benediktus XVI, Peter Seewald.

 

1943 - Pada usia 16 tahun, ia direkrut menjadi tentara Jerman dan wajib militer pelayanan antipesawat tambahan. Ia dikirim ke Hungaria di mana ia memasang jebakan tank di bulan-bulan terakhir Perang Dunia II.

 

1945 - Ratzinger meninggalkan ketentaraan bersama saudaranya, Georg, untuk kembali ke seminari. Ia ditahan sebentar di kamp tawanan perang. Ratzinger kemudian mengatakan bahwa Nazi memimpin "rezim jahat" yang "mengusir Allah dan dengan demikian menjadi kebal terhadap segala sesuatu yang benar dan baik".

 

1946–1951 — Ia belajar filsafat dan teologi di Universitas Munchen dan sekolah tinggi di Freising.

 

29 Juni — Ratzinger ditahbiskan menjadi imam pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus di Katedral Freising, Keuskupan Munchen bersama kakaknya, Georg.

 

8 Juli — Calon paus tersebut mempersembahkan Misa pertamanya di Gereja Santo Oswald, Traunstein. Sebuah misa agung dengan musik karya Joseph Haas 88, Misa Kristus Raja.

 

1953 - Ratzinger menyelesaikan gelar doktor bidang teologi di Universitas Munchen. Tesisnya berjudul “Umat dan Rumah Allah dalam Ajaran Gereja Santo Agustinus”.

 

1957 - Sang imam memenuhi syarat sebagai guru besar universitas tempat ia mengajar dogma dan teologi fundamental di sekolah tinggi filsafat dan teologi Freising. Ia kelak mengajar di Bonn dari tahun 1959 hingga 1969, di Münster dari tahun 1963 hingga 1966, dan di Tübingen dari tahun 1966 hingga 1969.

 

1962–1965 — Ratzinger bertindak sebagai penasihat teologis Joseph Kardinal Frings, Uskup Agung Cologne, selama Konsili Vatikan II. Ia menghadiri keempat sesi konsili.

 

1969 - Ratzinger diangkat sebagai guru besar teologi dogmatis dan sejarah dogma di Universitas Regensburg. Dalam sebuah siaran radio Jerman, ia meramalkan bahwa Gereja Katolik akan menjadi semakin kecil dan “sebuah Gereja yang semakin rohani” di masa depan.

 

1972 - Ratzinger ikut mendirikan jurnal teologi Communio bersama Hans Urs von Balthasar dan Henri De Lubac.

 

1977

 

24 Maret — Paus Paulus VI menunjuk Ratzinger sebagai Uskup Agung Munchen dan Freising.

 

28 Mei — Ratzinger ditahbiskan sebagai uskup, memilih moto uskup “Rekan Sekerja dalam Kebenaran”.

 

27 Juni — Paus Paulus VI menunjuk Ratzinger sebagai kardinal dalam sebuah konsistori di Basilika Santo Petrus.

 

1981 - Paus Yohanes Paulus II menunjuk Ratzinger sebagai prefek Kongregasi Ajaran Iman.

 

1982 - Ratzinger pindah ke Italia untuk bergabung dengan Kuria Romawi. Ia mengundurkan diri sebagai Uskup Agung Munchen dan Freising pada 15 Februari 1982. Ia juga menjabat sebagai ketua Komisi Kitab Suci dan Komisi Teologi Internasional Kepausan.

 

1986–1992 — Ratzinger menjabat sebagai ketua Komisi Penyusunan Katekismus Gereja Katolik.

 

1997 - Ratzinger meminta Paus Yohanes Paulus II untuk memperkenankannya mengundurkan diri dari posisi Kuria Roma sehingga ia dapat bekerja di Perpustakaan Vatikan, tetapi ditolak.

 

2002 — Ratzinger menjadi Ketua Dewan Kardinal pada usia 75 tahun.

 

2005

 

8 April — Ratzinger memimpin Misa Kudus untuk pemakaman Paus Yohanes Paulus II.

 

19 April — Ratzinger terpilih sebagai paus ke-265 Gereja Katolik Roma dan mengambil nama Benediktus XVI.

 

Juni — Dua bulan setelah masa kepausannya, Benediktus mendisiplinkan Pastor Marcel Maciel Degollado, pendiri Legiun Kristus, yang dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap para seminaris dan menjadi ayah dari anak-anak.

 

17 Agustus - Benediktus mengunjungi negara asalnya Jerman dalam rangka Hari Orang Muda Sedunia di Cologne yang merupakan perjalanan internasional pertamanya sebagai paus.

 

2006

 

25 Januari — Benediktus XVI mengeluarkan ensiklik Deus Caritas Est (Allah adalah Kasih).

 

26 Mei — Benediktus XVI mengunjungi kamp konsentrasi Auschwitz selama kunjungan pastoral ke Polandia.

 

12 September - Benediktus XVI menyampaikan "Pidato Regensburg".

 

30 November - Benediktus XVI mengunjungi Turki, di mana ia berdoa dalam hati bersama pemimpin Muslim Mustafa Cagrici di Masjid Biru Istanbul.

 

2007

 

15 Mei — Buku karyanya, “Yesus dari Nazaret,” diterbitkan di Amerika Serikat.

 

27 Mei — Paus Benediktus XVI menulis surat kepada umat Katolik di Tiongkok.

 

7 Juli — Paus Benediktus XVI mengumumkan Summorum Pontificum, yang secara signifikan memperluas izin bagi para imam untuk merayakan Misa dalam bahasa Latin menurut misale tahun 1962.

 

13 Juli — Paus Benediktus XVI mengumumkan Vatikan akan menjadi negara “bebas karbon” pertama di dunia.

 

30 November — Vatikan menerbitkan ensikliknya tentang keutamaan pengharapan, Spe Salvi.

 

2008

 

15–20 April — Benediktus XVI mengunjungi Amerika Serikat, tempat ia bertemu dengan korban pelecehan seksual di Boston, berpidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyapa Presiden George W. Bush di Gedung Putih, mengunjungi Ground Zero, dan mempersembahkan Misa di Stadion Yankee.

 

28 Juni — Benediktus XVI membuka Tahun Gereja Santo Paulus di Basilika Santo Paulus di Luar Tembok di Roma.

 

13–21 Juli — Benediktus XVI mengunjungi Australia dalam rangka Hari Orang Muda Sedunia dan menyampaikan permintaan maaf bersejarah atas pelecehan seksual oleh para klerus selama perjalanannya.

 

26 Oktober — Benediktus XVI membuka Sinode Para Uskup tentang Sabda Allah dalam Kehidupan dan Misi Gereja di Vatikan.

 

2009

 

23 Januari — Benediktus XVI meluncurkan kanal YouTube Vatikan.

 

8–15 Mei — Selama perjalanan apostolik ke Tanah Suci, Benediktus XVI mengunjungi Yordania, Israel, dan wilayah Palestina, di mana ia menyerukan kerjasama antara Palestina dan Israel.

 

19 Juni — Benediktus XVI membuka Tahun Gereja bagi Imam, yang berlangsung hingga 19 Juni 2010.

 

7 Juli — Benediktus XVI mengumumkan ensiklik Caritas in Veritate (Amal dalam Kebenaran).

 

10 Juli — Benediktus XVI menerima Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam audiensi pribadi di Vatikan.

 

17 Juli — Benediktus XVI harus digip selama enam pekan karena jatuh dan pergelangan tangannya patah saat liburan musim panas.

 

4 Oktober - Benediktus XVI memimpin Misa pembukaan Sinode Khusus Para Uskup Afrika di Basilika Santo Petrus.

 

4 November — Benediktus XVI menandatangani konstitusi apostolik Anglicanorum Coetibus tentang ordinariat personal bagi umat Anglikan yang memasuki persekutuan penuh dengan Gereja Katolik.

 

3 Desember - Benediktus XVI membuka hubungan diplomatik Takhta Suci dengan Rusia setelah pertemuan pribadi dengan Presiden Dmitry A. Medvedev.

 

2010

 

20 Maret — Benediktus XVI menerbitkan surat pastoral kepada umat Katolik di Irlandia sehubungan dengan krisis pelecehan seksual.

 

2 April — Benediktus XVI memuliakan Kain Kafan Suci di Turin, Italia.

 

16–19 September — Benediktus XVI melakukan perjalanan ke Inggris Raya, di mana ia memimpin beatifikasi Kardinal John Henry Newman.

 

10 Oktober — Benediktus XVI mempersembahkan Misa pembukaan Sinode Khusus Para Uskup Timur Tengah.

 

6–7 November — Benediktus XVI mengunjungi situs ziarah bersejarah Santiago de Compostela, Spanyol, untuk Tahun Suci dan menguduskan Gereja Sagrada Familia di Barcelona.

 

2011

 

1 Mei — Benediktus XVI memimpin beatifikasi Paus Yohanes Paulus II di Lapangan Santo Petrus.

 

18 Agustus — Benediktus XVI ikut serta dalam Hari Orang Muda Sedunia di Madrid, Spanyol.

 

22–25 September — Benediktus XVI melakukan kunjungan ketiga dan terakhirnya sebagai paus ke negara asalnya Jerman.

 

2012

 

6 Januari — Benediktus XVI menunjuk 22 kardinal baru, termasuk Kardinal Timothy Dolan dari New York.

 

23–29 Maret — Benediktus XVI mengunjungi Meksiko dan Kuba.

 

14–16 September — Benediktus XVI mengunjungi Lebanon dalam perjalanan internasional terakhir kepausannya.

 

6 Oktober - Mantan kepala pelayannya, Paolo Gabriele, dijatuhi hukuman lebih dari satu tahun penjara karena mencuri dokumen dari Vatikan.

 

7 Oktober — Benediktus XVI menyatakan Santo Yohanes dari Ávila dan Santa Hildegard dari Bingen sebagai pujangga Gereja.

 

11 Oktober — Benediktus XVI membuka Tahun Iman.

 

21 Oktober — Benediktus XVI menganonisasi tujuh orang kudus, termasuk Santa Kateri Tekakwitha.

 

28 Oktober — Benediktus XVI mempersembahkan Misa penutup Sinode Para Uskup tentang evangelisasi baru.

 

12 Desember — Benediktus XVI menjadi paus pertama yang memposting di Twitter, menggunakan akun @Pontifiex.

 

2013

 

11 Februari - Benediktus XVI mengejutkan dunia dengan pengumuman pengunduran dirinya dalam bahasa Latin pada usia 85 tahun.

 

14 Februari - Dalam kata-kata publik terakhirnya sebagai paus, Benediktus XVI berkata, "Saya hanyalah seorang peziarah yang memulai tahap terakhir peziarahannya di bumi".

 

28 Februari — Setelah bergelar “paus emeritus”, Benediktus XVI melakukan perjalanan dari Kota Vatikan ke Castel Gandolfo dengan helikopter.

 

2 Mei — Benediktus XVI pindah ke Biara Bunda Gereja, sebuah bangunan kecil berlantai empat di dalam tembok Negara Kota Vatikan. Ia kelak tetap di sana dalam masa purnabaktinya yang tenang sampai akhir hayatnya.

 

2014

 

22 Februari - Paus Emeritus Benediktus XVI muncul dari pengasingan untuk menghadiri konsistori pertama penggantinya untuk pengangkatan kardinal baru.

 

27 April — Paus Emeritus Benediktus XVI menghadiri kanonisasi Beato Yohanes Paulus II dan Beato Yohanes XXIII di Lapangan Santo Petrus.

 

28 September - Paus Fransiskus menggambarkan Paus Emeritus Benediktus XVI sebagai seorang "kakek yang bijaksana".

 

2015 — Paus Emeritus Benediktus XVI menghadiri peluncuran Tahun Kerahiman oleh Paus Fransiskus.

 

2016 — Uskup Agung Georg Gänswein, sekretaris pribadi lamanya, mengatakan bahwa Benediktus XVI menggunakan alat bantu jalan untuk membantunya berkeliling.

 

2019 — Paus Emeritus Benediktus XVI menerbitkan sebuah esai pada 10 April tentang skandal pelecehan seksual dalam Gereja, melihat krisis pelecehan dalam konteks revolusi seksual tahun 1960-an, keruntuhan bersamaan dalam teologi moral, dan pengaruhnya terhadap kehidupan dan pembentukan para imam.

 

2020

 

Januari — Paus Emeritus Benediktus XVI menyumbangkan sebuah esai untuk sebuah buku yang membela selibat imam.

 

18–22 Juni — Paus Emeritus Benediktus XVI melakukan perjalanan ke Jerman untuk menjenguk kakaknya yang sakit, Georg. Selama perjalanan empat hari, ia dapat mengucapkan selamat tinggal terakhir kepada sang kakak, yang meninggal pada pekan berikutnya yaitu pada tanggal 1 Juli.

 

4 September - Benediktus XVI menjadi orang yang paling lama hidup sebagai paus ketika ia melampaui Paus Leo XIII, yang meninggal pada usia 93 tahun dan 140 hari pada tahun 1903.

 

2022

 

20 Januari - Sebuah laporan tentang penanganan kasus pelecehan di Keuskupan Agung Munchen Jerman dan Freising menyalahkan Paus Emeritus Benediktus XVI atas penanganan empat kasus selama masa jabatannya sebagai Uskup Agung Munchen dari 1977 hingga 1982.

 

8 Februari - Paus Emeritus Benediktus XVI secara pribadi memohon pengampunan dari korban pelecehan dalam surat hampir 1.000 kata menanggapi laporan pelecehan Munchen.

 

11 Juli — Sebuah laporan palsu bahwa Paus Emeritus Benediktus XVI telah meninggal beredar di media sosial.

 

31 Desember — Paus Emeritus Benediktus XVI meninggal dunia salam usia 95 tahun.

 

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Januari 2023)

______

Keterangan Foto : Keluarga Ratzinger (dari kiri ke kanan) : Maria, Georg, Maria (ibu), Joseph, dan Joseph Ratzinger, Sr., sekitar tahun 1951. Foto milik Ignatius Press.