Aku
tidak akan melupakan engkau (Yes. 49:15)
Saudara-saudari
terkasih,
Melalui
Nabi Yesaya, Tuhan berjanji bahwa Ia tidak akan pernah melupakan kita. Ia
meyakinkan kita bahwa Ia telah melukiskan wajah kita di telapak tangan-Nya
(bdk. Yes. 49:16) dan bahwa kasih-Nya lebih besar daripada kasih seorang ibu
kepada anaknya (bdk. Yes. 49:15). Nabi Yesaya memberi kita gambaran sekilas
tentang dialog yang intim dan intens di mana Allah berbicara, dengan istilah
yang akrab, kepada setiap orang secara individu dan kepada umat secara
keseluruhan. Bahkan hari ini, kita dapat membaca kata-kata ini merujuk kepada
kita masing-masing, dan setiap orang dapat mendengar bahwa “Aku tidak akan
melupakan engkau” diucapkan langsung kepada mereka.
Kata-kata
ini memenuhi diri kita dengan penghiburan dan pegharapan. Kata-kata ini adalah
jawaban atas perasaan menyakitkan yang mengganggu hati: “Tuhan telah
meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku” (Yes. 49:14). Betapa
seringnya dalam Kitab Suci, terutama dalam Kitab Mazmur, doa muncul dari orang-orang
yang putus asa karena merasa bahwa hidup mereka tidak menarik bagi siapa pun
dan diabaikan! Perasaan menyakitkan karena dilupakan, sayangnya, dialami oleh
banyak orang, dan di antara mereka terdapat cukup banyak orang lanjut usia.
Kasih Allah, yang tidak melupakan siapa pun, menawarkan diri sebagai tindakan
keadilan dan tanggapan terhadap keadaan tanpa nama di mana kehidupan manusia
terlalu sering berakhir dengan kehilangan makna. Kehidupan banyak orang lanjut
usia, khususnya, tampaknya tertutup oleh tabir yang mengaburkan fitur wajah
mereka dan menyelimuti mereka dalam keterlupaan. Inilah yang terjadi di
rumah-rumah di mana kesepian berkuasa dan juga di fasilitas perawatan di mana
keunikan setiap orang berisiko direduksi menjadi nomor tempat tidur atau
penyakit.
Perayaan
Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia merupakan kesempatan untuk menemukan
kembali panggilan Gereja untuk menjadi ibu bagi semua orang dan di usia berapa
pun selalu mungkin untuk mengenali diri kita sebagai putra dan putri Allah.
Oleh karena itu, semoga hari ini menjadi inspirasi bagi semua orang, terutama
kaum muda, untuk menghidupkan kembali kebiasaan indah mengunjungi kakek nenek
mereka, anggota keluarga yang lanjut usia, dan bahkan orang-orang yang tidak
memiliki siapa pun yang mengunjungi mereka. Bawalah kepada mereka, melalui
pesan ini dan kehadiranmu, kedekatan dan kasih sayang Paus. Pastikanlah
kata-kata dalam Kitab Nabi Yesaya, "Aku tidak akan melupakan engkau,"
mengambil bentuk perjumpaan yang lembut dan penuh kasih sayang. “Di era yang
mengutamakan kecepatan dan fragmentasi, manusia masih merindukan untuk menerima
kepedulian dan pengakuan dari pikiran yang penuh perhatian, kata-kata yang
baik, dan tangan yang mampu menunjukkan kelembutan. Budaya digital
melipatgandakan koneksi dan menawarkan peluang baru untuk berinteraksi; namun,
hati manusia tetap memiliki kebutuhan yang tak terelakkan akan kedekatan yang
tulus” (Ensiklik Magnifica Humanitas, 239).
Gereja
memahami penderitaan para anggotanya yang lanjut usia; Ia sangat menyadari
bahwa mereka terlalu sering dipandang melalui kacamata stereotip dan dianggap
sebagai beban; ia sadar bahwa ekonomi yang berorientasi pada keuntungan
melemahkan ikatan keluarga; ia tahu bahwa banyak orang lanjut usia ditinggalkan
oleh anak-anak yang terpaksa bermigrasi atau, dalam beberapa kasus, berperang.
Karena semua alasan ini, dengan penuh sukacita ia menyatakan janji Tuhan:
“Tetapi Aku tidak akan melupakan engkau!”
Menemukan,
sebagaimana dikatakan Yohanes Paulus I, bahwa kita adalah penerima “kasih kekal
Allah, sungguh merupakan suatu sukacita, di usia berapa pun, tetapi terutama
ketika kita tidak lagi muda. Kita tahu: Ia selalu membuka mata-Nya bagi kita,
bahkan ketika keadaan tampak gelap. Ia adalah Bapa kita; terlebih lagi Ia
adalah Ibu kita” (Doa Malaikat Tuhan, 10 September 1978). Sekalipun
tidak mudah untuk berpikir seperti ini, kenyataannya bahwa bahkan di usia tua
pun kita tidak berhenti menjadi anak laki-laki dan perempuan; oleh karena itu,
undangan untuk kembali ke pelukan Allah — yang kasih-Nya bersifat kebapaan dan
keibuan — tetap berharga di usia berapa pun.
Bagi
banyak orang, menemukan kelembutan Allah terjadi sepanjang hidup mereka,
terkadang bahkan di tahap akhir kehidupan. Memang, tidak seperti di masa lalu,
mencapai usia tua tanpa pernah mengalami iman sejati menjadi semakin umum.
Dalam kasus seperti itu, usia tua — dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang
muncul dengan semakin mendesak selama masa kehidupan ini — dapat menjadi waktu
yang tepat untuk memulai atau melanjutkan kehidupan spiritual. Dalam perjalanan
baru ini, kita dapat menyadari bahwa Allah, sebagaimana dikatakan Santo
Agustinus, “adalah seorang ibu karena Ia menyayangi, memelihara, merawat, dan
melindungi” (Ulasan Mazmur 27, II, 18). Kesadaran ini membantu kita
untuk tidak merasa malu akan kerapuhan yang muncul dan juga untuk memahami
bahwa kita selalu saling membutuhkan serta membutuhkan perhatian serta
kepedulian. Kepada Allah yang mendekati kita dan yang kepada-Nya kita
mempelajari mengenali kelembutan-Nya, kini kita dapat berpaling dengan
kepercayaan bakti dalam doa. Tidak pernah terlambat untuk mulai berpaling
kepada-Nya. Anugerah yang luar biasa dimungkinkan bagi setiap orang.
Saudara-saudari
lanjut usia yang terkasih, Paus Fransiskus menyebutmu “umat baru” (Katekese,
23 Februari 2022), karena jumlah orang lanjut usia belum pernah sebesar ini
dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, merefleksikan bersamamu, “umat baru”
ini, tentang apa panggilan kita ketika kerapuhan — pendamping manusia sejak
lahir — tampaknya mengambil alih jauh lebih penting dari sebelumnya. Saya ingin
mengatakan kepadamu: jangan takut akan kerapuhan! Justru kelemahan inilah yang
menyimpan potensi baru yang juga menerangi tahap kehidupan lainnya.
Sesungguhnya, ketika “kita mengakui kerapuhan kita, hati kita menjadi terbuka
untuk saling mendukung dan memohon kepada Dia yang dapat memberikan apa yang
tidak dapat dijamin oleh kekuatan manusia: rekonsiliasi hati yang mendalam dan,
bersamanya, kedamaian sejati” (Pertemuan dengan komunitas Aljazair, Basilika
Bunda Maria dari Afrika, Aljir, 13 April 2026).
Inilah
cara kita dapat menjalani usia tua sebagai umat kristiani: “rapuh” namun
sekaligus “dipanggil.” Seorang laki-laki dan seorang perempuan, sesungguhnya,
dapat dilahirkan kembali di usia tua (bdk. Yoh 3:4-6) dan berseru, bersama Nabi
Yesaya: “Dengan berbalik kepada Tuhan dan tinggal diam kamu akan diselamatkan,
dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (Yes. 30:15). Kekuatan
ini dapat menjadi ajakan untuk tidak menggunakan cara-cara kesombongan dan
kekuasaan untuk memastikan hidup berdampingan antarmanusia, tetapi cara-cara
rekonsiliasi dan perdamaian sejati. Di masa ini, yang dengan sangat kejam
ditandai oleh kekerasan perang dan keresahan sosial, banyak lansia yang
bertanya-tanya seperti apa dunia tempat cucu-cucu mereka akan tumbuh dewasa.
Saya mendesakmu, sahabat-sahabat terkasih, untuk bergabung dengan saya untuk
mendoakan dengan sungguh-sungguh perdamaian segera datang ke seluruh dunia.
Saudara-saudari
lanjut usia terkasih, saya berterima kasih atas dukunganmu setiap hari dengan
doa-doamu, terutama ketika kamu berdoa Rosario Suci. Saya menyampaikan rasa
syukur ini dari lubuk hati saya dan menyampaikan doa ini kepadamu: semoga Tuhan
senantiasa memperbarui iman, harapan, dan kasih kita — Ia yang tidak akan
melupakan kita!
Vatikan,
15 Juni 2026
Leo XIV
______
(Peter Suriadi - Bogor, 15 Juni 2026)
