Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 10 Februari 2021 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 24)


Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam katekese sebelumnya kita melihat bagaimana doa Kristiani “berlabuh” dalam Liturgi. Hari ini, kita akan menjelaskan bagaimana Liturgi selalu memasuki kehidupan sehari-hari : di jalanan, di kantor, di angkutan umum… Dan di sana dialog dengan Allah berlanjut : orang yang berdoa bagaikan seseorang yang sedang jatuh cinta yang selalu menyandang orang dicintai dalam hatinya ke manapun ia pergi.

 

Intinya, segala sesuatu menjadi bagian dari dialog dengan Allah ini : setiap sukacita menjadi alasan untuk pujian, setiap pencobaan adalah kesempatan untuk meminta pertolongan. Doa selalu hidup dalam kehidupan kita, seperti bara api, meskipun mulut tidak berbicara, tetapi hati berbicara. Setiap pikiran, bahkan yang tampak "profan", dapat diresapi oleh doa.

 

Bahkan ada segi yang berkenaan dengan doa dalam kecerdasan manusia; pada kenyataannya, segi tersebut merupakan sebuah jendela yang mengintip ke dalam misteri : segi tersebut menerangi beberapa langkah di depan kita dan kemudian menyingkap seluruh kenyataan, kenyataan yang mendahuluinya dan melampauinya. Misteri ini tidak memiliki wajah yang gelisah atau cemas. Tidak, pengetahuan tentang Kristus membuat kita yakin bahwa terlepas dari apapun yang tidak bisa dilihat oleh mata kita dan mata pikiran kita, ada seseorang yang sedang menunggu kita, ada rahmat yang tak terbatas. Dan dengan demikian, doa Kristiani menanamkan harapan yang tak terkalahkan dalam hati manusia : apapun pengalaman yang kita sentuh dalam perjalanan kita, kasih Allah dapat mengubahnya menjadi kebaikan.

 

Mengenai hal ini, Katekismus mengatakan : “Kalau kita mendengar Sabda Tuhan dan mengambil bagian dalam misteri Paska, kita belajar berdoa pada waktu-waktu tertentu. Tetapi Roh-Nya dikaruniakan kepada kita setiap saat, dalam peristiwa-peristiwa setiap hari, sebagai sumber doa. [...] Waktu terletak dalam tangan Bapa; kita menjumpai Dia hari ini, bukan kemarin atau esok" (no. 2659). Hari ini saya bertemu Allah, hari ini selalu hari perjumpaan.

 

Tidak ada hari yang indah selain hari yang sedang kita jalani. Mereka yang hidup selalu memikirkan masa depan, di masa depan : "Tetapi akan lebih baik memikirkannya ...", tetapi tidak menggunakan setiap hari apa adanya : inilah orang-orang yang hidup dalam khayalan mereka, mereka tidak tahu bagaimana menghadapi dengan kenyataan yang sesungguhnya. Dan hari ini nyata, hari ini berwujud. Dan doa harus dilakukan hari ini. Yesus datang menemui kita hari ini, hari yang sedang kita jalani. Dan doalah yang mengubah rupa hari ini menjadi rahmat, atau lebih baik, doa mengubah diri kita : doa menenangkan kemarahan, menopang cinta, melipatgandakan sukacita, menanamkan kekuatan untuk mengampuni. Kadang-kadang tampaknya bukan kita yang sedang menjalani, tetapi rahmat yang menjalani dan bekerja di dalam diri kita melalui doa. Rahmat yang menunggu, tetapi selalu hal ini, jangan lupa : gunakanlah hari ini sebagaimana adanya. Dan marilah kita pikirkan ketika sebuah pikiran marah datang kepadamu, tentang ketidakbahagiaan, yang menggerakkanmu menuju kepahitan, hentikan dirimu. Dan katakanlah kepada Tuhan: “Di manakah Engkau? Dan ke mana aku sedang pergi?” Dan Tuhan ada di sana, Tuhan akan memberimu kata yang tepat, nasihat untuk terus maju tanpa rasa pahit dan negatif tersebut. Karena doa selalu, menggunakan kata profan, positif. Selalu. Doa akan membawamu ke depan. Setiap hari akan diawali dengan iringan keberanian jika disambut dalam doa. Dengan demikian, masalah yang kita hadapi sepertinya bukan lagi halangan bagi kebahagiaan kita, tetapi imbauan dari Allah, kesempatan untuk bertemu dengan-Nya. Dan ketika seseorang disertai oleh Tuhan, ia merasakan lebih berani, lebih bebas, dan bahkan lebih bahagia.

 

Marilah kita selalu mendoakan semua orang, bahkan musuh kita. Yesus menasihati kita untuk melakukan hal ini : “Doakanlah musuhmu”. Marilah kita mendoakan orang-orang yang kita kasihi, bahkan mereka yang tidak kita kenal. Marilah kita mendoakan bahkan musuh kita, seperti yang saya katakan, seperti yang sering diminta oleh Kitab Suci untuk kita lakukan. Doa mendorong kita menuju cinta yang melimpah. Marilah kita mendoakan terutama orang-orang yang bersedih, orang-orang yang menangis dalam kesendirian dan keputusasaan agar masih ada seseorang mencintai mereka. Doa menghasilkan mukjizat; dan orang miskin kemudian memahami, berkat rahmat Allah bahwa, bahkan dalam situasi genting mereka, doa seorang Kristiani menghadirkan kasih sayang Kristus. Ia, pada kenyataannya, memandang dengan kelembutan yang besar sejumlah besar orang banyak yang letih dan tersesat yang bagaikan domba tanpa gembala (bdk. Mrk 6:34). Tuhan adalah - jangan lupa - Tuhan yang berbelas kasih, yang dekat, yang lembut : tiga kata yang tidak akan pernah dilupakan berkenaan dengan Tuhan. Karena inilah gaya Tuhan : kasih sayang, kedekatan, kelembutan.

 

Doa membantu kita mencintai orang lain, terlepas dari kesalahan dan dosa mereka. Orang selalu lebih penting daripada tindakan mereka, dan Yesus tidak menghakimi dunia, tetapi Ia menyelamatkannya. Betapa mengerikan kehidupan orang yang selalu menghakimi orang lain, yang selalu mengutuk, menghakimi… Ini adalah kehidupan yang mengerikan, tidak bahagia, ketika Yesus datang untuk menyelamatkan kita. Bukalah hatimu, memaafkan, memercayai, memahami, dekat dengan orang lain, berbelas kasih, lembut, seperti Yesus. Kita perlu mencintai setiap orang, dengan mengingat dalam doa bahwa kita semua adalah orang berdosa dan pada saat yang sama dikasihi secara pribadi oleh Allah. Mencintai dunia dengan cara ini, mencintainya dengan kelembutan, kita akan menemukan bahwa setiap hari dan segala sesuatu mengandung di dalamnya penggalan misteri Allah.

 

Sekali lagi, Katekismus mengatakan : “Satu dari rahasia-rahasia Kerajaan Allah yang dinyatakan kepada 'orang-orang kecil', pelayan-pelayan Kristus, orang-orang miskin menurut sabda bahagia, ialah berdoa dalam peristiwa-peristiwa setiap hari dan setiap saat. Adalah baik dan layak berdoa agar Kerajaan kebenaran dan perdamaian mempengaruhi perjalanan sejarah; juga penting, meresapi situasi-situasi biasa dan sehari-hari dengan bantuan doa. Semua bentuk doa dapat menjadi ragi, yang dengannya Tuhan membanding-bandingkan Kerajaan Allah” (no. 2660).

 

Pribadi manusia - pria dan wanita, kita semua, - pribadi manusia adalah seperti nafas, seperti sehelai rumput (bdk. Mzm 144:4;103:15). Filsuf Pascal pernah menulis : “Tidak perlu seluruh alam semesta mengangkat senjata untuk menghancurkannya : uap, setetes air sudah cukup untuk membunuhnya”.[1] Kita adalah makhluk yang rapuh, tetapi kita tahu bagaimana caranya berdoa : inilah martabat terbesar kita dan juga kekuatan kita. Milikilah keberanian. Berdoalah dalam setiap saat, dalam setiap situasi agar Tuhan sudi mendekati kita. Dan ketika doa diucapkan sesuai dengan hati Yesus, doa mendapatkan mujizat.

 

[Sapaan khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Saya mengundang semua orang, terutama di masa pandemi ini, untuk mendekat kepada Tuhan dalam doa setiap hari, membawa kepada-Nya kebutuhan-kebutuhan kita dan kebutuhan-kebutuhan dunia di sekitar kita. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan memberkati kalian!

 

[Imbauan]

 

Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan para korban bencana yang kembali terjadi selama tiga hari di India Utara di mana sebagian gletser terpisah dengan sendirinya sehingga memicu banjir dahsyat yang menghancurkan lokasi pembangunan dua pembangkit listrik. Saya mendoakan para pekerja yang meninggal serta keluarga mereka dan semua orang yang terluka dan merugi.

 

Di Timur Jauh dan di berbagai belahan dunia lainnya jutaan pria dan wanita akan merayakan Tahun Baru Imlek pada hari Jumat, 12 Februari mendatang. Atas mereka semua dan keluarga mereka, saya ingin menyampaikan salam saya yang tulus, bersama dengan harapan agar tahun baru dapat menghasilkan buah persaudaraan dan kesetiakawanan. Di saat kita sangat prihatin menghadapi tantangan pandemi yang menyentuh orang-orang baik secara fisik maupun secara rohani, bahkan juga memengaruhi hubungan sosial, saya mengungkapkan harapan agar semua orang dapat sepenuhnya menikmati kesehatan dan ketenangan hidup.

 

Terakhir, seraya saya mengajak kita mendoakan karunia perdamaian dan setiap kebaikan lainnya, saya ingin mengingatkan semuanya bahwa ini diperoleh melalui kebaikan, rasa hormat, pandangan jauh dan keberanian. Jangan pernah lupa memberikan kecenderungan untuk merawat orang-orang yang paling miskin dan paling lemah.

_____

 

(Peter Suriadi – Bogor, 10 Februari 2021)

 



[1]Pemikiran, 186.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 7 Februari 2021 : MERAWAT ORANG SAKIT BUKAN MANASUKA

Saudara dan saudari yang terkasi, selamat pagi! 

Sekali lagi di Lapangan! Perikop Injil hari ini (bdk. Mrk 1:29-39) menceritakan penyembuhan ibu mertua Petrus oleh Yesus serta kemudian banyak orang sakit dan menderita lainnya yang berkumpul di sekeliling-Nya. Penyembuhan ibu mertua Petrus adalah penyembuhan fisik pertama yang diceritakan oleh Markus : perempuan itu terbaring di tempat tidur karena demam; sikap dan tindak tanduk Yesus terhadapnya merupakan lambang : "Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya" (ayat 31), catat Penginjil. Ada begitu banyak kelembutan dalam tindakan sederhana ini, yang tampaknya hampir alami : “Lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka” (ayat 31). Kuasa penyembuhan Yesus tidak menemui perlawanan; dan orang yang disembuhkan melanjutkan kehidupan normalnya, segera memikirkan orang lain dan bukan dirinya sendiri - dan hal ini penting; merupakan tanda “kesehatan” yang sesungguhnya!

 

Hari itu adalah hari Sabat. Penduduk desa menunggu matahari terbenam dan kemudian, setelah kewajiban istirahat berakhir, mereka pergi keluar dan membawa kepada Yesus semua orang yang sakit dan kerasukan setan. Dan Ia menyembuhkan mereka, tetapi tidak memperbolehkan setan-setan itu mengungkapkan bahwa Ia adalah Kristus (bdk. ayat 32-34). Jadi, sejak awal, Yesus menunjukkan kecenderungannya kepada orang-orang yang menderita secara jasmani dan rohani : kecenderungan Yesus tersebut mendekatkan-Nya kepada orang-orang yang menderita baik jasmani maupun rohani. Kecenderungan Bapa tersebut menjelma dan mewujud dengan perbuatan dan perkataan-Nya. Murid-murid-Nya adalah para saksi mata hal ini; mereka melihat hal ini dan kemudian memberi kesaksian terhadapnya. Tetapi Yesus tidak menginginkan mereka hanya menjadi para penonton perutusan-Nya : Ia melibatkan mereka; Ia mengutus mereka; Ia juga memberi mereka kuasa untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan (bdk. Mat 10:1; Mrk 6:7). Dan hal ini terus berlanjut tanpa gangguan dalam kehidupan Gereja, hingga hari ini. Dan hal ini penting. Merawat orang sakit dari berbagai kalangan bukanlah “kegiatan mana suka” bagi Gereja, tidak! Merawat orang sakit bukan sesuatu yang berupa tambahan, tidak. Merawat orang sakit dari berbagai kalangan adalah bagian menyeluruh perutusan Gereja, seperti halnya perutusan Yesus. Dan perutusan ini adalah membawa kelembutan Allah kepada umat manusia yang sedang menderita. Kita akan diingatkan tentang hal ini dalam beberapa hari, pada 11 Februari 2021, dengan Hari Orang Sakit Sedunia.

 

Kenyataan yang sedang kita alami di seluruh dunia karena pandemi membuat pesan ini, perutusan penting Gereja ini, sangat relevan. Suara Ayub, yang menggema dalam liturgi hari ini, sekali lagi adalah penafsir kondisi manusiawi kita, bermartabat paling luhur - kondisi manusiawi kita, bermartabat paling mulia - dan pada saat yang sama begitu rapuh. Menghadapi kenyataan ini, pertanyaan "mengapa?" selalu muncul di hati.

 

Dan terhadap pertanyaan ini Yesus, Sang Sabda yang menjelma, tidak menanggapi dengan penjelasan - terhadap hal ini karena kita bermartabat sangat luhur dan berkondisi yang sangat rapuh, Yesus tidak menanggapi 'mengapa' ini dengan penjelasan -, tetapi dengan kehadiran penuh kasih yang membungkuk, yang memegang tangan dan membangunkan, seperti yang dilakukan-Nya terhadap ibu mertua Petrus (bdk. Mrk 1:31). Membungkuk untuk membangunkan orang lain. Jangan lupa bahwa satu-satunya cara yang sah untuk memandang seseorang dari atas ke bawah adalah dengan mengulurkan tangan untuk membantunya bangun. Satu satunya cara. Dan inilah perutusan yang dipercayakan Yesus kepada Gereja. Putra Allah mewujudkan ke-Tuhan-an-Nya bukan “dari atas ke bawah”, bukan dari kejauhan, tetapi dengan membungkuk, mengulurkan tangan; Ia mewujudkan ke-Tuhan-an-Nya dalam kedekatan, kelembutan, belas kasihan. Kedekatan, kelembutan, belas kasihan adalah gaya Allah. Allah mendekat, dan Ia mendekat dengan kelembutan dan belas kasihan. Berapa kali dalam Injil kita membaca, berhadapan dengan masalah kesehatan atau masalah apa pun : "Ia berbelas kasihan". Belas kasihan Yesus, kedekatan Allah dalam Yesus adalah gaya Allah. Perikop Injil hari ini juga mengingatkan kita bahwa belas kasihan ini berakar kuat dalam hubungan intim dengan Bapa. Mengapa? Sebelum fajar dan setelah matahari terbenam, Yesus menarik diri dan tinggal sendirian untuk berdoa (ayat 35). Dari sana Ia mendapatkan kekuatan untuk menggenapi perutusan-Nya, berkhotbah dan menyembuhkan.

 

Semoga Santa Perawan Maria membantu kita untuk memperkenankan Yesus menyembuhkan kita - kita selalu membutuhkan hal ini, semua orang - agar kita pada gilirannya menjadi para saksi kelembutan penyembuhan Allah.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih!

 

Hari-hari ini saya mengikuti dengan keprihatinan yang mendalam perkembangan situasi yang telah terjadi di Myanmar, sebuah negara yang, sejak kunjungan apostolik saya pada tahun 2017, telah saya bawa ke dalam hati saya dengan begitu banyak kasih sayang. Di saat yang paling peka ini saya ingin sekali lagi memastikan kedekatan rohani saya, doa saya dan kesetiakawanan saya kepada rakyat Myanmar. Dan saya berdoa agar mereka yang memegang tanggung jawab di negara ini sudi menempatkan diri mereka dengan kesediaan yang tulus untuk melayani kebaikan bersama, mempromosikan keadilan sosial dan stabilitas nasional, demi hidup berdampingan yang rukun. Marilah kita mendoakan Myanmar.

 

[mengheningkan cipta]

 

Saya ingin menyampaikan seruan yang mendukung para migran di bawah umur yang tanpa pendamping. Ada banyak sekali! Sayangnya, di antara mereka yang karena berbagai alasan terpaksa meninggalkan tanah air, selalu ada puluhan anak dan remaja yang sendirian, tanpa keluarga dan terancam bahaya. Di hari-hari ini, saya telah mempelajari situasi dramatis dari mereka yang berada di jalur yang disebut "rute Balkan". Tetapi ada beberapa di semua “rute”. Marilah kita memastikan agar makhluk yang rapuh dan tidak berdaya ini tidak kekurangan perawatan yang tepat dan saluran kemanusiaan yang mengutamakan.

 

Hari ini di Italia kita merayakan Hari Kehidupan dengan tema "Kebebasan dan kehidupan". Saya bergabung dengan para uskup Italia untuk mengingat bahwa kebebasan adalah karunia agung yang telah diberikan Allah kepada kita untuk mengusahakan dan mencapai kebaikan kita dan orang lain, dimulai dengan kebaikan utama dalam hidup. Masyarakat kita dibantu untuk menyembuhkan kehidupan dari semua serangan, sehingga dapat dilindungi di semua tahapannya. Dan perkenankan saya menambahkan salah satu kekhawatiran saya : musim dingin demografis Italia. Di Italia, kelahiran mengalami penurunan dan masa depan dalam bahaya. Marilah kita menanggapi keprihatinan ini dan berusaha memastikan bahwa musim dingin demografis ini berakhir dan musim semi baru anak laki-laki dan perempuan tumbuh subur.

 

Besok, dalam peringatan liturgi Santa Josephine Bakhita, seorang biarawati asal Sudan yang akrab dengan penghinaan dan penderitaan perbudakan, kita merayakan Hari Doa dan Kesadaran terhadap Perdagangan Manusia. Tahun ini tujuannya adalah bekerja untuk ekonomi yang tidak menguntungkan, bahkan secara tidak langsung, perdagangan yang tercela ini, yaitu ekonomi yang tidak pernah menjadikan laki-laki dan perempuan sebagai barang, obyek, tetapi selalu menjadi tujuan. Melayani laki-laki, perempuan, tetapi tidak menggunakan mereka sebagai barang dagangan. Marilah kita memohon kepada Santa Josephine Bakhita agar membantu kita dengan hal ini.

 

Dan saya menyampaikan salam ramah kepada kalian semua, umat Roma dan para peziarah: Saya senang melihat kalian berkumpul lagi di Lapangan, bahkan para pecandu itu, para biarawati Spanyol di sini, yang selalu baik; turun hujan atau cerah mereka berada di sana! Dan juga kaum muda dari Yang Dikandung Tanpa Noda ... kalian semua. Saya merasa senang. Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang! Sampai jumpa!

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Februari 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 3 Februari 2021 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 23)

Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi! 

Dalam sejarah Gereja, sering kali ada godaan untuk mempraktekkan kekristenan yang paling intim, yang tidak mengakui kepentingan spiritual ritus liturgi publik. Seringkali, kecenderungan ini mengklaim harapan akan semakin besarnya kemurnian agama yang tidak bergantung pada upacara lahiriah, yang dianggap sebagai beban yang tidak berguna atau berbahaya. Inti kritik bukanlah bentuk ritual tertentu, atau cara perayaan tertentu, melainkan liturgi itu sendiri, bentuk liturgi doa.

 

Memang, dalam Gereja kita dapat menemukan bentuk-bentuk spiritualitas tertentu yang telah gagal memadukan momen liturgi secara memadai. Banyak umat beriman, meskipun mereka dengan tekun berpartisipasi dalam liturgi, terutama Misa hari Minggu, malah mendapatkan santapan untuk iman dan kehidupan spiritual mereka dari sumber lain, dari sejenis devosional.

 

Banyak yang telah dicapai dalam beberapa dekade terakhir. Konstitusi Konsili Vatikan II Sacrosanctum Concilium mewakili poin penting dalam perjalanan panjang ini. Konstitusi ini secara menyeluruh dan organik menegaskan kembali pentingnya liturgi ilahi bagi kehidupan umat Kristiani, yang menemukan di dalamnya perantaraan yang obyektif yang dituntut oleh fakta bahwa Yesus Kristus bukanlah gagasan atau kepekaan perasaan, tetapi Pribadi yang hidup, dan Misteri-Nya adalah peristiwa sejarah. Doa umat Kristiani melintas melalui perantaraan yang berwujud : Kitab Suci, Sakramen-sakramen, ritus liturgi, komunitas. Dalam kehidupan Kristiani, ranah jasmani dan materi tidak boleh disingkirkan, karena di dalam Yesus Kristus, menjadi jalan keselamatan. Kita dapat mengatakan bahwa kita harus berdoa dengan tubuh juga : tubuh memasuki doa.

 

Karenanya, tidak ada spiritualitas Kristiani yang tidak mengakar dalam perayaan misteri-misteri suci. Katekismus menulis : “Perutusan Kristus dan Roh Kudus, yang mewartakan, menghadirkan dan menyampaikan misteri keselamatan di dalam liturgi sakramental Gereja, dilanjutkan dalam hati yang berdoa" (2655). Liturgi, di dalam dirinya sendiri, bukan hanya doa spontan, tetapi sesuatu yang semakin orisinal : liturgi adalah tindakan yang menemukan seluruh pengalaman Kristiani dan, karenanya, juga doa. Liturgi adalah peristiwa, liturgi adalah kejadian, liturgi adalah kehadiran, liturgi adalah perjumpaan. Liturgi adalah sebuah perjumpaan dengan Kristus. Kristus menghadirkan diri-Nya dalam Roh Kudus melalui tanda-tanda sakramental : oleh karena itu kita umat Kristiani perlu berpartisipasi dalam misteri ilahi. Kekristenan tanpa liturgi, saya berani mengatakan, mungkin adalah kekristenan tanpa Kristus. Tanpa Kristus sepenuhnya. Bahkan dalam ritus yang paling sederhana, seperti yang dirayakan dan terus dirayakan oleh sebagian umat Kristiani di tempat-tempat penahanan, atau di pengasingan dari sebuah rumah selama masa penganiayaan, Kristus benar-benar hadir dan menyerahkan diri bagi umat-Nya.

 

Liturgi, justru karena segi obyektifnya, menuntut dirayakan dengan semangat, agar rahmat yang dicurahkan dalam ritus tidak terpencar melainkan menjangkau pengalaman semua orang. Katekismus menjelaskannya dengan sangat baik; dikatakan : “Doa menampung liturgi selama dan sesudah perayaan dalam dirinya” (2655). Banyak doa Kristiani tidak berasal dari liturgi, tetapi seluruhnya, jika doa tersebut Kristiani, bermakna liturgi, yaitu perantaraan sakramental Yesus Kristus. Setiap kali kita merayakan Baptisan, atau melakukan konsekrasi roti dan anggur dalam Ekaristi, atau mengurapi tubuh orang yang sakit dengan Minyak Suci, Kristus ada di sini! Dialah yang bertindak dan hadir seperti saat Ia menyembuhkan anggota tubuh yang lemah dari orang yang sakit, atau ketika pada Perjamuan Terakhir Ia menyampaikan wasiat-Nya untuk keselamatan dunia.

 

Doa Kristiani menjadikan kehadiran sakramental Yesus di dalamnya. Apa yang di luar kita menjadi bagian dari kita : liturgi mengungkapkan hal ini bahkan dalam perilaku makan yang sangat alami. Misa tidak bisa begitu saja "didengarkan" : Misa juga merupakan ungkapan kekeliruan, "Aku hendak mendengarkan Misa". Misa tidak bisa hanya didengarkan, seolah-olah kita hanyalah penonton dari sesuatu yang lambat laun lenyap tanpa keterlibatan kita. Misa selalu dirayakan, dan tidak hanya oleh imam yang memimpinnya, tetapi oleh seluruh umat Kristiani yang mengalaminya. Dan pusatnya adalah Kristus! Kita semua, dalam keanekaragaman karunia dan pelayanan, bergabung dalam tindakan-Nya, karena Ia, Kristus, adalah pelaku utama liturgi.

 

Ketika umat Kristiani perdana mulai beribadah, mereka melakukannya dengan mengaktualisasikan perbuatan dan perkataan Yesus, dengan terang dan kuasa Roh Kudus, sehingga hidup mereka, yang diraih oleh rahmat itu, bisa menjadi pengorbanan spiritual yang dipersembahkan kepada Allah. Pendekatan ini adalah “revolusi” yang sesungguhnya. Santo Paulus menulis dalam Surat kepada jemaat di Roma : "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (12:1). Hidup dipanggil untuk menyembah Allah, tetapi hal ini tidak bisa terjadi tanpa doa, terutama doa liturgi. Semoga pemikiran ini membantu kita semua ketika kita pergi ke Misa : Aku pergi berdoa di dalam komunitas, aku pergi berdoa bersama Kristus yang hadir. Ketika kita pergi ke perayaan Baptisan, misalnya, Kristuslah yang hadir di sana, yang membaptis. “Tetapi Bapa, ini adalah sebuah gagasan, sebuah kiasan” : bukan, bukan sebuah kiasan. Kristus hadir, dan dalam liturgi kamu berdoa bersama Kristus yang berada di sampingmu.

 

[Sambutan khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat yang berbahasa Inggris dan saya mengundang semuanya, terutama di masa pandemi ini, untuk menemukan kembali keindahan liturgi serta kemampuannya untuk memperkaya doa pribadi kita dan pertumbuhan komunitas kita dalam persatuan dengan Tuhan. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan memberkati kalian!

 

[Himbauan]

 

Besok merupakan peringatan pertama Hari Persaudaraan Manusia Internasional, yang ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa baru-baru ini. Prakarsa ini juga memperhatikan pertemuan pada 4 Februari 2019 di Abu Dhabi, ketika Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyib dan saya menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama. Saya sangat senang karena bangsa-bangsa di seluruh dunia ikut serta dalam perayaan ini, yang bertujuan untuk mempromosikan dialog lintasagama dan lintasbudaya. Besok sore, saya akan ambil bagian dalam pertemuan virtual dengan Imam Besar Al-Azhar, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bapak António Guterres, dan para pemimpin lainnya. Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengakui “kontribusi yang dapat diberikan oleh dialog di antara semua kelompok agama untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang nilai-nilai bersama yang dimiliki oleh semua umat manusia”. Semoga hal ini menjadi doa kita hari ini dan ketetapan hati kita setiap hari sepanjang tahun.

 

[Ringkasan yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam rangkaian katekese kita tentang doa, sekarang kita beralih ke liturgi suci, doa publik Gereja. Konsili Vatikan II menekankan pentingnya liturgi, bersama-sama dengan doa pribadi, bagi kehidupan spiritual umat Kristiani. Memang, seluruh spiritualitas Kristiani berlandaskan perayaan misteri suci, yang di dalamnya Yesus Kristus, dalam kuasa Roh Kudus, hadir di tengah-tengah umat-Nya melalui perantaraan tanda sakramental roti dan anggur, air dan minyak. Sama seperti, dalam Penjelmaan, Putra Allah menjadi daging dan tinggal di antara kita, demikian juga Ia sekarang hadir dalam segenap kuasa penyelamatan-Nya, melalui perayaan liturgi sabda dan sakramen. Doa pribadi kita dimaksudkan untuk mendalami dan memperoleh pengayaan dari khazanah spiritual doa liturgi Gereja. Karena liturgi adalah sumber dan puncak doa Kristiani, kita semua dipanggil untuk ambil bagian secara aktif dalam ibadah agung ini, dengan mempersembahkan hidup kita dalam persatuan dengan Kristus sebagai persembahan yang kudus dan berkenan kepada Bapa.

_______


(Peter Suriadi - Bogor, 3 Februari 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 31 Januari 2021 : PERKENANKAN DIRIMU SUNGGUH MENGALAMI KUASA SABDA ALLAH!


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Perikop Injil hari ini (bdk. Mrk 1:21-28) menceritakan tentang hari khusus dalam pelayanan Yesus; khususnya, hari Sabat, hari yang didedikasikan untuk beristirahat dan berdoa : orang-orang pergi ke rumah ibadat. Dalam rumah ibadat di Kapernaum, Yesus membaca dan mengulas Kitab Suci. Orang-orang yang hadir tertarik dengan cara bicara-Nya; mereka sangat takjub karena Ia menunjukkan kuasa tidak seperti para ahli Taurat (ayat 22). Lebih jauh, Yesus menunjukkan diri-Nya penuh kuasa juga dalam perbuatan-Nya. Memang, seseorang di rumah ibadat tersebut berpaling kepada-Nya, memanggil-Nya sebagai Yang Kudus dari Allah : Ia mengenalinya sebagai roh jahat, memerintahkannya agar meninggalkan orang itu, dan menghardiknya (ayat 23-26).

 

Dua unsur yang menjadi ciri khas karya Yesus dapat dilihat di sini : berkhotbah, dan tindakan terapi penyembuhan : Ia berkhotbah dan menyembuhkan. Kedua segi ini menonjol dalam perikop penginjil Markus, tetapi khotbah paling ditekankan; pemgusiran roh jahat disajikan sebagai penegasan "kuasa" dan ajaran-Nya semata. Yesus berkhotbah dengan kuasa-Nya sendiri, sebagai seseorang yang memiliki ajaran yang berasal dari diri-Nya, dan tidak seperti para ahli Taurat yang mengulangi tradisi dan hukum yang sudah ada. Mereka mengulangi kata-kata, kata-kata, kata-kata, hanya kata-kata : seperti yang dilantunkan oleh Mina, seorang penyanyi besar, [“Parole, parole, parole”]; begitulah mereka. Hanya kata-kata. Sebaliknya Yesus, sabda-Nya memiliki kuasa, Yesus penuh kuasa. Dan hal ini menyentuh hati. Ajaran Yesus memiliki kuasa yang serupa dengan bicara Allah; karena dengan satu perintah Ia dengan mudahnya membebaskan orang yang kerasukan roh jahat, dan menyembuhkannya. Mengapa? Karena sabda-Nya melakukan apa yang Ia katakan. Karena Ia adalah nabi yang meyakinkan. Tetapi mengapa saya mengatakan hal ini, bahwa Ia adalah nabi yang meyakinkan? Ingatlah janji Musa : Musa berkata, “Setelah aku, lama kemudian, seorang nabi seperti aku akan datang - seperti aku! - siapa yang akan mengajarimu”. Musa memaklumkan Yesus sebagai nabi yang meyakinkan. Ajaran Yesus memiliki kuasa yang serupa dengan bicara Allah : memang, dengan satu perintah ia dengan mudah membebaskan orang yang kerasukan roh jahat, dan menyembuhkannya. Karena Ia berbicara bukan dengan kuasa manusiawi, tetapi dengan kuasa ilahi, karena Ia memiliki kekuatan untuk menjadi nabi yang meyakinkan, yaitu, Putra Allah yang menyelamatkan kita, yang menyembuhkan kita semua.

 

Segi yang kedua, penyembuhan, menunjukkan bahwa khotbah Kristus dimaksudkan untuk mengalahkan kejahatan yang hadir dalam diri manusia dan dunia. Perkataan-Nya dengan tegas ditujukan kepada kerajaan setan : perkataan-Nya menempatkan roh jahat dalam krisis dan membuatnya kecut, mengharuskannya meninggalkan dunia. Tersentuh oleh perintah Tuhan, orang yang kerasukan roh jahat dan terobsesi ini dibebaskan dan diubah menjadi pribadi baru. Selain itu, khotbah Yesus selaras dengan nalar yang bertentangan dengan nalar dunia dan nalar si jahat : perkataan-Nya menyingkapkan pergolakan tatanan hal-hal yang keliru. Pada kenyataannya, roh jahat yang ada di dalam diri orang yang kerasukan itu berseru saat Yesus mendekat : “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami?” (ayat 24). Ungkapan ini menunjukkan ketidaksesuaian sepenuhnya antara Yesus dan Setan : mereka berada di alam yang sangat berbeda; tidak ada kesamaan di antara mereka; mereka saling bertentangan. Yesus, penuh kuasa, yang menarik orang dengan kuasa-Nya, dan juga nabi yang membebaskan, nabi yang dijanjikan yakni Putra Allah yang menyembuhkan. Marilah kita mendengarkan kata-kata Yesus, yang penuh kuasa : selalu, jangan lupa!

 

Bawalah Injil kecil di sakumu atau di tasmu, agar kamu membacanya sepanjang hari, mendengarkan sabda Yesus yang penuh kuasa itu. Dan kemudian, kita semua memiliki permasalahan, kita semua memiliki dosa, kita semua memiliki ketidaknyamanan rohani; memohon kepada Yesus : “Yesus, Engkau adalah nabi, Putra Allah, yang telah dijanjikan kepada kami untuk menyembuhkan kami. Sembuhkanlah daku!" Mohonkanlah kepada Yesus kesembuhan, dari dosa-dosa kita, dari penyakit kita.

 

Perawan Maria selalu menyimpan kata-kata dan perbuatan Yesus di dalam hatinya, serta mengikuti-Nya dengan kebersediaan dan kesetiaan sepenuhnya. Semoga ia membantu kita juga untuk mendengarkan-Nya dan mengikuti-Nya, mengalami tanda-tanda keselamatan-Nya dalam hidup kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari terkasih,

 

Lusa, 2 Februari, kita akan merayakan Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah, ketika Simeon dan Hana, keduanya sudah berusia lanjut, diterangi oleh Roh Kudus, mengakui Yesus sebagai Mesias. Roh Kudus masih menggugah pikiran dan kata-kata bijak dalam diri kaum berusia lanjut hari ini : suara mereka berharga karena melantunkan pujian kepada Allah dan mempertahankan asal-usul bangsa. Pikiran dan kata-kata mereka mengingatkan kita bahwa usia lanjut adalah karunia dan kakek-nenek adalah penghubung antargenerasi, meneruskan pengalaman hidup dan iman kepada kaum muda. Kakek-nenek sering kali dilupakan serta kita melupakan khazanah pewarisan asal-usul dan penerusannya. Karena alasan ini, saya telah memutuskan untuk menetapkan Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia, yang akan diadakan di seluruh Gereja setiap tahun pada hari Minggu keempat bulan Juli, berdekatan dengan Pesta Santo Yoakim dan Ana, "kakek-nenek" Yesus. Pentingnya kakek-nenek bertemu dengan cucu mereka dan para cucu bertemu dengan kakek-nenek mereka, karena - seperti yang dikatakan nabi Yoel - kakek-nenek, di hadapan cucu-cucu mereka, akan bermimpi, dan memiliki hasrat yang besar, serta kaum muda, yang memperoleh kekuatan dari kakek-nenek mereka, akan maju dan bernubuat. Dan 2 Februari memang pesta perjumpaan antara kakek nenek dan cucu mereka.

 

Hari ini kita merayakan Hari Kusta Sedunia, yang diprakarsai lebih dari enam puluh tahun yang lalu oleh Raoul Follereau dan dilanjutkan oleh lembaga-lembaga yang terinspirasi oleh karya kemanusiaannya. Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan orang-orang yang menderita penyakit ini, dan saya mendorong para misionaris, para pekerja perawatan kesehatan dan para sukarelawan yang terlibat dalam melayani mereka. Pandemi telah menegaskan betapa pentingnya melindungi hak atas kesehatan bagi orang-orang yang paling rentan: Saya berharap para pemimpin bangsa dapat bersatu dalam upaya mereka untuk mengobati orang-orang yang menderita penyakit Hansen dan memastikan penyertaan sosial mereka.

 

Saya menyapa dengan penuh kasih sayang remaja laki-laki dan perempuan Aksi Katolik di Keuskupan Roma ini - beberapa dari mereka ada di sini -, berkumpul dengan aman di paroki-paroki mereka atau terhubung secara daring, pada kesempatan Karavan Perdamaian. Terlepas dari keadaan darurat kesehatan, tahun ini juga, dengan bantuan para orangtua dan tenaga pendidik serta pastor pembantu, mereka telah mengorganisir prakarsa yang luar biasa ini. Mereka akan melanjutkan dengan prakarsa-prakarsa, baik untuk kalian! Pertahankan karya yang baik! Selamat untuk kalian semua, terima kasih. Dan sekarang marilah kita mendengarkan bersama-sama pesan yang akan dibaca oleh beberapa orang dari mereka yang berada di samping kita, atas nama kita semua.

 

[Pembacaan Pesan]

 

Biasanya, kaum muda ini akan membawa balon untuk dilemparkan ke udara dari jendela, tetapi hari ini kita terkunci di sini, jadi tidak mungkin. Tetapi tahun depan kalian pasti akan melakukannya!

 

Salam hangat saya sampaikan kepada kalian semua yang terhubung melalui berbagai media. Kepada kalian semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong jangan lupa untuk men doakan saya. Selamat menikmati makanan kalian dan sampai jumpa!

____


(Peter Suriadi - Bogor, 31 Januari 2021)