Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 28 April 2021 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 30) - DOA MEDITASI


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini kita akan berbicara tentang bentuk doa yang disebut meditasi. Bagi orang Kristiani, "bermeditasi" adalah mencari makna : "bermeditasi" menyiratkan menempatkan diri di hadapan halaman yang sangat luas dari pewahyuan untuk mencoba menjadikannya milik kita, menerimanya sepenuhnya. Dan umat Kristiani, setelah menerima Sabda Allah, tidak menyimpannya tertutup di dalam dirinya sendiri, karena Sabda itu harus bertemu dengan "buku lain", yang oleh Katekismus disebut "buku kehidupan" (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 2706). Inilah yang berusaha kita lakukan setiap kali kita merenungkan Sabda.

 

Praktek meditasi telah mendapat banyak perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Tidak hanya umat Kristiani yang membicarakannya : praktik meditasi ada di hampir semua agama di dunia. Tetapi praktik meditasi juga merupakan kegiatan yang meluas di antara orang-orang yang tidak memiliki pandangan hidup religius. Kita semua perlu bermeditasi, bercermin, menemukan diri kita, sebuah dinamika yang manusiawi. Terutama di dunia barat yang tamak, orang-orang mengusahakan meditasi karena meditasi mewakili pembatas yang tinggi melawan stres dan kekosongan sehari-hari yang ada di mana-mana. Inilah gambaran orang muda dan orang dewasa yang duduk dalam meditasi, dalam keheningan, dengan mata setengah tertutup ... Tetapi apa yang dilakukan orang-orang ini, kita mungkin bertanya? Mereka bermeditasi. Bermeditasi adalah fenomena yang harus dipandang baik : sesungguhnya, kita tidak dibuat untuk berlari sepanjang waktu, kita memiliki kehidupan batin yang tidak dapat selalu diabaikan. Oleh karena itu, bermeditasi adalah kebutuhan setiap orang. Bermeditasi, bisa dikatakan, seperti berhenti dan menarik napas dalam kehidupan. Berhenti dan diam.

 

Tetapi kita menyadari bahwa kata ini, sekali diterima dalam konteks Kristiani, memiliki keunikan yang tidak boleh disingkirkan. Meditasi adalah dimensi manusiawi yang diperlukan, tetapi meditasi dalam konteks Kristiani - kita umat Kristiani - melangkah lebih jauh : sebuah dimensi yang tidak boleh disingkirkan. Pintu besar yang dilewati doa orang yang dibaptis - marilah kita ingatkan diri kita sekali lagi - adalah Yesus Kristus. Bagi umat Kristiani, meditasi masuk melalui pintu Yesus Kristus. Praktek meditasi juga mengikuti jalan ini. Dan orang Kristiani, ketika ia berdoa, tidak menginginkan transparansi diri yang penuh, tidak mencari pusat ego yang terdalam. Ini sah, tetapi orang Kristiani mencari sesuatu yang lain. Doa Kristiani pertama-tama adalah sebuah perjumpaan dengan Orang Lain, dengan 'O' huruf besar : perjumpaan yang transenden dengan Allah. Jika pengalaman doa memberi kita kedamaian batin, atau penguasaan diri, atau kejelasan tentang jalan yang harus diambil, hasil ini merupakan, kita bisa mengatakan, konsekuensi rahmat doa Kristiani, yaitu perjumpaan dengan Yesus. Yakni, bermeditasi berarti pergi - dibimbing oleh sebuah frasa Kitab Suci, dari sebuah sabda - menuju perjumpaan dengan Yesus di dalam diri kita.

 

Sepanjang sejarah, istilah “meditasi” memiliki berbagai makna. Bahkan dalam agama Kristen, meditasi mengacu pada bermacam-macam pengalaman spiritual. Namun demikian, beberapa garis umum dapat dilacak, dan dalam hal ini kita dibantu lagi oleh Katekismus, yang mengatakan, Katekismus mengatakan : "Metode-metode meditasi sangat beragam seperti halnya guru-guru rohani [...] Tetapi satu metode hanyalah merupakan satu penuntun; yang terpenting ialah maju bersama Roh Kudus menuju Yesus Kristus, jalan doa satu-satunya” (no. 2707). Dan di sini ditunjukkan rekan seperjalanan, rekan yang membimbing : Roh Kudus. Meditasi Kristiani tidak mungkin tanpa Roh Kudus. Dialah yang membimbing kita untuk berjumpa Yesus. Yesus berkata kepada kita, “Aku akan mengutus Roh Kudus kepadamu. Ia akan mengajarimu dan akan menjelaskan kepadamu. Ia akan mengajarimu dan menjelaskan kepadamu”. Dan dalam meditasi juga, Ia adalah penuntun untuk berkembang dalam perjumpaan kita dengan Yesus Kristus.

 

Jadi, ada banyak metode meditasi Kristiani : beberapa sangat sederhana, lainnya lebih terperinci; beberapa menonjolkan dimensi intelektual pribadi, lainnya menonjolkan dimensi afektif dan emosional. Semuanya adalah metode. Semuanya penting dan semuanya layak untuk dipraktekkan, sejauh dapat membantu. Apa yang mereka bantu? Pengalaman iman menjadi tindakan pribadi seutuhnya : orang tidak hanya berdoa dengan pikiran; seluruh orang tersebut berdoa, orang secara keseluruhan, sama seperti kita tidak hanya berdoa dengan perasaan kita. Tidak, seluruhnya. Orang zaman dulu mengatakan bahwa bagian tubuh yang berdoa adalah hati, dan dengan demikian mereka menjelaskan bahwa seluruh pribadi, mulai dari pusat - hati - masuk ke dalam hubungan dengan Allah, bukan hanya beberapa indera. Beginilah cara orang zaman dulu menjelaskannya. Inilah sebabnya harus selalu diingat bahwa metode adalah jalan, bukan tujuan : metode doa apa pun, jika ingin menjadi Kristiani, adalah bagian dari sequela Christi (mengikuti Kristus) yang merupakan inti iman kita. Metode meditasi adalah jalan untuk melakukan perjalanan agar sampai pada perjumpaan dengan Yesus, tetapi jika kamu berhenti di jalan, dan hanya melihat jalan, kamu tidak akan pernah menemukan Yesus. Kamu akan membuat "allah" keluar dari jalan. “allah” tidak sedang menunggumu di sana, Yesuslah yang menunggumu. Dan jalan itu ada untuk membawamu kepada Yesus. Katekismus menjelaskan : "Meditasi memakai pikiran, daya khayal, gerak perasaan dan kerinduan. Usaha ini penting untuk memperdalam kebenaran iman, untuk menggerakkan pertobatan hati dan memperkuat kehendak guna mengikuti Kristus. Doa Kristiani terutama berusaha untuk bermeditasi tentang 'misteri Kristus'”(no. 2708).

 

Di sinilah, kemudian, rahmat doa Kristiani : Kristus tidak jauh, tetapi selalu dalam hubungan dengan kita. Tidak ada aspek pribadi ilahi-Nya yang tidak bisa menjadi tempat keselamatan dan kebahagiaan bagi kita. Setiap saat dalam kehidupan duniawi Yesus, melalui rahmat doa, dapat langsung menjadi milik kita, berkat Roh Kudus, sang pembimbing. Tetapi, tahukah kamu, seseorang tidak bisa berdoa tanpa bimbingan Roh Kudus. Dialah yang membimbing kita! Dan syukur kepada Roh Kudus, kita juga hadir di sungai Yordan ketika Yesus membenamkan diri-Nya untuk menerima baptisan. Kita juga menjadi tamu di pesta pernikahan di Kana, ketika Yesus memberikan anggur yang terbaik untuk kebahagiaan kedua mempelai, yaitu Roh Kudus yang menghubungkan kita dengan misteri kehidupan Kristus ini karena dengan merenungkan Yesus kita mengalami doa, menggabungkan kita semakin dekat dengan-Nya. Kita juga heran menyaksikan ribuan penyembuhan yang dilakukan oleh Sang Guru. Kita mengambil Injil, dan merenungkan misteri-misteri dalam Injil itu, dan Roh Kudus membimbing kita untuk hadir di sana. Dan dalam doa - ketika kita berdoa - kita semua seperti penderita kusta yang telah ditahirkan, Bartimeus yang buta yang mendapatkan kembali penglihatannya, Lazarus yang keluar dari kubur ... Kita juga disembuhkan oleh doa seperti Bartimeus yang buta, orang buta lainnya, penderita kusta … Kita juga bangkit kembali, sebagaimana Lazarus bangkit kembali, karena doa meditasi yang dibimbing oleh Roh Kudus menuntun kita untuk menghidupkan kembali misteri kehidupan Kristus ini dan berjumpa Kristus, serta mengatakan, bersama orang buta itu, “Tuhan, kasihanilah aku! Kasihanilah aku!" - “Dan apa yang engkau inginkan?” - "Melihat, masuk ke dalam dialog itu". Dan meditasi Kristiani, dibimbing oleh Roh Kudus, membawa kita kepada dialog dengan Yesus ini. Tidak ada halaman Injil yang di dalamnya tidak ada tempat bagi kita. Bagi kita umat Kristiani, meditasi adalah cara untuk berhubungan dengan Yesus. Dan dengan cara ini, hanya dengan cara ini, kita menemukan diri kita. Dan ini bukanlah penarikan diri ke dalam diri kita, tidak, tidak : melainkan pergi kepada Yesus, dan dari Yesus, menemukan diri kita, disembuhkan, bangkit, kuat berkat rahmat Yesus. Dan berjumpa Yesus, Sang Juruselamat semua orang, termasuk saya. Dan ini, berkat bimbingan Roh Kudus. Terima kasih.

 

[Sambutan Khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat yang berbahasa Inggris. Dalam sukacita Kristus yang bangkit, saya memohonkan atas kalian dan keluarga kalian belas kasihan Allah Bapa kita. Semoga Tuhan memberkati kalian semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang doa Kristiani, sekarang kita membahas pentingnya doa meditasi. Setiap orang membutuhkan saat rekoleksi di tengah kesibukan keseharian kita. Bagi umat Kristiani, meditasi bukan hanya masalah introspeksi tetapi sebuah metode doa, sebuah sarana untuk berjumpa Kristus, terutama dalam misteri kehidupan duniawi-Nya. Meskipun ada banyak metode meditasi dalam kekayaan tradisi spiritual Gereja, seluruhnya memiliki satu tujuan : memungkinkan kita untuk bertumbuh dalam hubungan kita dengan Yesus, Sang Juruselamat kita. Berkat rahmat Roh Kudus, persatuan kita dengan Kristus dalam iman dipupuk melalui penggunaan pikiran, daya khayal, gerak perasaan dan kerinduan kita. Katekismus mengajarkan bahwa meditasi misteri Kristus memperdalam iman kita, menggerakkan pertobatan hati kita, dan memperkuat kehendak kita guna mengikuti jejak-Nya. Dengan demikian, setiap perkataan dan perbuatan Tuhan kita dapat menjamah kita dan menjadi bagian kehidupan kita. Di setiap halaman Injil kita diundang untuk berjumpa Kristus dan menemukan di dalam Dia sumber keselamatan kita dan kebahagiaan kita yang sesungguhnya.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 28 April 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 25 April 2021 : YESUS, SANG GEMBALA YANG BAIK

 


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Pada Hari Minggu Paskah IV ini, yang disebut Hari Minggu Gembala yang Baik, Bacaan Injil (Yoh. 10:11-18) menampilkan Yesus sebagai gembala yang sungguh membela, mengenal dan mengasihi domba-domba-Nya.

 

"Orang upahan" adalah kebalikan dari Gembala yang baik, orang yang tidak peduli dengan domba-domba karena domba-domba tersebut bukan miliknya. Ia melakukan pekerjaan tersebut hanya untuk mendapatkan bayaran dan tidak peduli untuk membela mereka : ketika seekor serigala datang, ia melarikan diri dan meninggalkan domba-domba tersebut (bdk. ayat 12-13). Sebaliknya, Yesus, Sang Gembala sejati, selalu membela kita dan menyelamatkan kita dari begitu banyak situasi sulit, situasi berbahaya melalui terang sabda-Nya dan kekuatan kehadiran-Nya yang selalu kita alami jika kita sudi mendengarkan, setiap hari.

 

Aspek kedua yaitu Yesus, Sang Gembala yang baik, mengenal - aspek yang pertama : membela; aspek yang kedua : Ia mengenal domba-domba-Nya dan domba-domba-Nya mengenal-Nya (ayat 14). Betapa indah dan menghiburnya mengetahui bahwa Yesus mengenal kita satu per satu, kita tidak dikenal oleh-Nya, nama kita dikenal oleh-Nya! Kita bukan "massa", "orang banyak" bagi-Nya, bukan. Kita adalah pribadi yang unik, kisah kita masing-masing, Ia mengenal kisah kita, nilai kisah kita masing-masing, karena kita telah diciptakan maupun telah ditebus oleh Kristus. Kita masing-masing dapat berkata : Yesus, kenali aku! Kita masing-masing : Yesus mengenalku! Memang benar, seperti ini : Ia mengenal kita tidak seperti orang lain. Hanya Ia yang mengenal apa yang ada di dalam hati kita, niat kita, perasaan kita yang paling tersembunyi. Yesus mengenal kekuatan dan kekurangan kita, serta selalu siap untuk merawat kita, menyembuhkan luka-luka kesalahan kita dengan kelimpahan belas kasihan-Nya. Di dalam Dia, gambaran yang diberikan nabi-nabi tentang gembala umat Allah benar-benar terpenuhi : Yesus memperhatikan domba-domba-Nya, Ia mengumpulkan mereka, Ia membalut luka-luka mereka, menyembuhkan penyakit mereka. Kita dapat membaca hal ini dalam Kitab Nabi Yehezkiel (bdk. Yeh. 34:11-16).

 

 

Oleh karena itu, Yesus Sang Gembala yang baik membela, mengenal, dan terutama mengasihi domba-domba-Nya. Dan inilah sebabnya Ia memberikan nyawa-Nya untuk mereka (bdk. Yoh. 10:15). Mengasihi domba-domba-Nya, yaitu, kita masing-masing, akan menuntun-Nya kepada kematian di kayu salib. Karena inilah kehendak Bapa - bahwa tak seorang pun yang hilang. Kasih Kristus tidak pilih-pilih; kasih Kristus merangkul semua orang. Ia sendiri mengingatkan kita tentang hal ini dalam Injil hari ini ketika Ia berkata : “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala” (Yoh 10:16). Kata-kata ini memberi kesaksian tentang kepedulian universal : Ia adalah Gembala semua orang. Yesus ingin setiap orang dapat menerima kasih Bapa dan berjumpa Allah.

 

Dan Gereja dipanggil untuk menjalankan perutusan Kristus ini. Di luar mereka yang ikut serta dalam komunitas kita, ada mayoritas, banyak orang, yang melakukannya hanya pada saat-saat tertentu atau tidak pernah. Tetapi hal ini tidak berarti mereka bukan anak-anak Allah : Bapa mempercayakan setiap orang kepada Yesus Sang Gembala yang baik, dan Ia memberikan nyawa-Nya untuk semua orang.

 

Saudara dan saudari, Yesus membela, mengenal dan mengasihi kita, setiap orang. Semoga Santa Maria membantu kita menjadi orang pertama yang menyambut dan mengikuti Sang Gembala yang baik, bekerjasama dalam sukacita perutusan-Nya.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara dan saudari yang terkasih,

 

Hari Jumat lalu, di Santa Cruz de Quiché, Guatemala, José Maria Gran Cirera dan sembilan rekan martir dibeatifikasi : tiga imam dan tujuh awam dari Kongregasi Misionaris Hati Kudus Yesus, yang berketetapan hati untuk membela kaum miskin, yang dibunuh antara 1980 dan 1991, saat Gereja Katolik dianiaya. Dengan iman yang hidup kepada Kristus, mereka adalah saksi-saksi keadilan dan kasih yang heroik. Semoga teladan mereka membuat kita semakin murah hati dan berani dalam menghayati Injil. Marilah beri tepuk tangan untuk para beato baru. (Tepuk Tangan)

 

Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan orang-orang yang tinggal di Kepulauan St Vincent dan Grenadines di mana letusan gunung berapi menyebabkan kerusakan dan kesulitan. Saya memastikan doa saya. Saya memberkati semua orang yang ikut serta dalam upaya pertolongan dan bantuan.

 

Saya juga dekat dengan para korban kebakaran di rumah sakit untuk pasien Covid di Baghdad. Hingga saat ini, sudah ada 82 orang yang meninggal dunia. Marilah kita mendoakan mereka semua.

 

Saya akui saya sangat sedih atas tragedi yang sekali lagi terjadi di Mediterania. Seratus tiga puluh orang migran tewas di laut. Mereka adalah manusia. Mereka adalah manusia yang sia-sia memohon pertolongan selama dua hari penuh - pertolongan yang tak kunjung tiba. Saudara dan saudari, marilah kita semua bertanya pada diri sendiri tentang tragedi kesekian ini. Momen yang memalukan. Marilah kita mendoakan saudara dan saudari ini, serta semua yang terus meninggal dalam penyeberangan yang tragis ini. Mari kita juga mendoakan mereka yang dapat membantu tetapi lebih memilih untuk melihat ke arah lain. Marilah kita mendoakan mereka dalam keheningan …

 

Hari ini, seluruh Gereja merayakan Hari Doa Panggilan Sedunia yang bertema Santo Yusuf : Impian Panggilan. Marilah kita bersyukur kepada Allah agar Ia dapat terus memperbanyak orang-orang di dalam Gereja yang, karena mengasihi-Nya, mengabdikan diri untuk pewartaan Injil dan pelayanan kepada saudara-saudari mereka. Dan hari ini secara khusus, marilah kita mengucap syukur atas sembilan imam yang telah saya tahbiskan di Basilika Santo Petrus - saya tidak tahu apakah mereka berada di sini - dan marilah kita memohon kepada Allah untuk mengutus pekerja-pekerja yang baik untuk bekerja di kebun anggur-Nya dan agar Ia sudi memperbanyak panggilan hidup bakti.

 

Dan sekarang dengan sepenuh hati saya menyapa kalian semua, umat Roma dan para peziarah. Secara khusus, saya menyapa keluarga dan sahabat para imam yang baru ditahbiskan, serta komunitas Kolose Kepausan Jerman-Hungaria yang melakukan peziarahan tradisional Gereja-gereja ketujuh hari ini.

 

Kepada kalian semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang. Sampai jumpa!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 21 April 2021 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 29) - DOA LISAN

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Doa adalah dialog dengan Allah; dan setiap makhluk, dalam arti tertentu, "berdialog" dengan Allah. Di dalam diri manusia, doa menjadi kata, permohonan, madah, syair … Sabda ilahi menjadi daging, dan dalam daging setiap orang sabda kembali kepada Allah dalam doa.

 

Kita menciptakan kata-kata, tetapi kata-kata itu ibu kita juga, dan sampai batas tertentu kata-kata itu membentuk diri kita. Kata-kata doa membawa kita dengan selamat melalui lembah kekelaman, menuntun kita menuju padang rumput yang hijau yang kaya akan air, dan memungkinkan kita untuk berpesta pora di depan mata musuh, sebagaimana diajarkan Pemazmur kepada kita (bdk. Mzm 23). Kata-kata lahir dari perasaan, tetapi ada juga jalan sebaliknya, di mana kata-kata membentuk perasaan. Kitab Suci mendidik orang untuk memastikan bahwa segala sesuatu menjadi terang benderang melalui sabda, tidak ada seorang pun yang dikecualikan, dipindai. Kepedihan berbahaya, terutama, jika tetap tersembunyi, tertutup di dalam diri kita ... Kepedihan yang tertutup di dalam diri kita, yang tidak dapat mengungkapkan atau melampiaskan diri, dapat meracuni jiwa. Kepedihan tersebut mematikan.

 

Inilah sebabnya Kitab Suci mengajarkan kita berdoa, terkadang bahkan dengan kata-kata yang berani. Para penulis Kitab Suci tidak ingin menipu kita berkenaan dengan pribadi manusia : mereka tahu bahwa hati kita juga menyembunyikan perasaan yang tidak mendidik, bahkan kebencian. Tidak seorang pun dari kita yang dilahirkan kudus, dan ketika perasaan buruk ini datang mengetuk pintu hati kita, kita harus mampu meredakannya dengan doa dan sabda Allah. Kita juga menemukan ungkapan yang sangat kasar terhadap musuh dalam Mazmur - ungkapan yang diajarkan oleh guru rohani kepada kita tersebut ditujukan kepada iblis dan dosa-dosa kita - namun kata-kata tersebut merupakan kenyataan manusia dan berakhir di dalam palung Kitab Suci. Kata-kata tersebut berada di sana untuk membuktikan kepada kita bahwa jika, dalam menghadapi kekerasan, tiada kata-kata yang dapat membuat perasaan buruk tidak berbahaya, menyalurkannya sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan, maka dunia akan kewalahan.

 

Doa manusiawi pertama selalu berupa pelafalan lisan. Bibir selalu bergerak terlebih dulu. Meskipun kita semua sadar bahwa berdoa tidak berarti mengulangi kata-kata, namun doa lisan adalah yang paling pasti, dan selalu bisa dipraktekkan. Perasaan, di sisi lain, betapapun luhurnya, selalu tidak pasti : perasaan datang dan pergi, meninggalkan kita dan kembali. Tidak hanya itu, rahmat doa juga tidak dapat diduga : kadang-kadang penghiburan berlimpah, tetapi pada hari-hari yang paling kelam rahmat doa tampaknya menguap sepenuhnya. Doa hati penuh misteri, dan pada waktu-waktu tertentu tidak ada. Sebaliknya, doa bibir yang dibisikkan atau dilafalkan dengan paduan suara selalu dapat diakses, dan sama pentingnya dengan pekerjaan manual. Katekismus mengajarkan kita tentang hal ini, dan menyatakan bahwa : “Doa lisan merupakan unsur hakiki dalam kehidupan Kristen. Kristus mengajar murid-murid-Nya yang merasa tertarik pada doa batin dari Gurunya, satu doa lisan : Bapa Kami” (no. 2701). "Ajarlah kami berdoa", para murid meminta kepada Yesus, dan Yesus mengajari mereka doa lisan : Doa Bapa Kami. Dan semuanya ada di sana, dalam doa itu.

 

Kita semua seharusnya memiliki kerendahan hati khas kaum tua yang, dalam gereja, mungkin karena pendengaran mereka tidak lagi tajam, melafalkan dengan tenang doa-doa yang mereka pelajari ketika masih anak-anak, memenuhi bagian tengah dengan bisikan. Doa tersebut tidak mengganggu keheningan, tetapi membuktikan kesetiaan mereka terhadap kewajiban doa, yang dipraktikkan sepanjang hidup mereka tanpa henti. Para praktisi doa yang rendah hati ini sering menjadi pendoa syafaat yang luar biasa di paroki : mereka adalah pohon tarbantin yang dari tahun ke tahun menyebarkan cabangnya untuk memberi keteduhan kepada banyak orang. Hanya Allah yang tahu kapan dan seberapa besar hati mereka telah dipersatukan dengan doa-doa yang mereka ucapkan : tentu saja orang-orang ini juga harus menghadapi malam dan saat-saat kosong. Tetapi kita selalu bisa tetap setia pada doa lisan. Bagaikan sebuah jangkar : kita dapat berpegangan pada tali dan tetap setia, apa pun yang terjadi.

 

Kita semua dapat mempelajari sesuatu dari ketekunan peziarah Rusia, yang disebutkan dalam sebuah karya terkenal tentang spiritualitas, yang mempelajari seni berdoa dengan mengulangi doa yang sama berulang kali : “Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah, kasihanilah aku orang berdosa!” (bdk. KGK, 2616; 2667). Ia hanya mengulangi ini : "Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah, kasihanilah aku orang berdosa!". Jika rahmat datang dalam hidup kita, jika suatu hari doa menjadi begitu hangat sehingga kehadiran Kerajaan dirasakan di sini di antara kita, jika penglihatan itu dapat diubah rupa hingga menjadi seperti seorang anak kecil, itu karena kita telah bersikeras untuk melafalkan seruan Kristiani yang sederhana. Pada akhirnya, itu menjadi bagian dari pernapasan kita. Indahnya kisah peziarah Rusia tersebut : sebuah buku yang dapat diakses oleh semua orang. Saya sarankan kalian membacanya; membacanya akan membantu kalian memahami apa itu doa lisan.

 

Oleh karena itu, kita tidak boleh mengabaikan doa lisan. Kita mungkin berkata, “Ah, ini untuk anak-anak, untuk orang-orang yang bodoh; aku sedang mengusahakan doa batin, meditasi, kehampaan batin agar Allah sudi datang kepadaku …”. Tolong! Jangan menyerah pada kebanggaan mencemooh doa lisan. Doa lisan adalah doa yang sederhana, doa yang diajarkan Yesus : Bapa kami, yang di surga… Kata-kata yang kita ucapkan memegang kita; kadang-kadang doa lisan memulihkan rasa, doa lisan membangunkan bahkan hati yang paling mengantuk; doa lisan membangkitkan kembali perasaan yang telah kita lupakan. Dan doa lisan menuntun kita menuju pengalaman akan Allah, kata-kata ini… Dan terutama, doa lisan adalah satu-satunya yang, dengan secara pasti, mengarahkan kepada Allah pertanyaan-pertanyaan yang ingin didengar-Nya. Yesus tidak meninggalkan kita dalam kabut. Ia mengatakan kepada kita : "Karena itu berdoalah demikian". Dan Ia mengajarkan Doa Bapa Kami (bdk. Mat 6:9).

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Dalam sukacita Kristus yang bangkit, saya memohonkan atas kalian dan keluarga kalian belas kasihan Allah Bapa kita. Semoga Allah memberkati kalian semua!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang doa Kristiani, sekarang kita mengulas pentingnya doa lisan. Dalam dialog kita dengan Allah, Ia pertama kali berbicara kepada kita melalui Sabda-Nya yang menjadi daging. Ia mengundang kita secara bergiliran untuk berbicara dengan-Nya dengan kata-kata yang mewujudkan pikiran, perasaan, dan pengalaman terdalam kita. Kata-kata tidak hanya mengungkapkan gagasan kita, tetapi juga membentuk diri kita dan sering kali mengungkapkan diri kita kepada diri kita sendiri.

 

Dalam kata-kata yang terinspirasi dari Kitab Mazmur, kita menemukan model doa lisan. Pemazmur memberi kita kata-kata untuk membawa kegembiraan, ketakutan, harapan dan kebutuhan kita kepada Allah serta mengikutsertakan-Nya dalam setiap aspek kehidupan kita. Doa hati dan doa bibir kita tidak pernah bisa dipisahkan. Sebagaimana dikatakan Katekismus, "doa lisan merupakan unsur hakiki dalam kehidupan Kristen" (No. 2701). Melalui doa kita yang diucapkan atau dinyanyikan, sendirian atau bersama-sama, kita menemukan kata-kata yang memungkinkan kita untuk bertumbuh setiap hari dalam hubungan kita dengan Allah. Jadi, berdoa dengan tenang menjadi unsur hakiki hidup kita, seperti udara yang kita hirup. Ketika murid-murid meminta Yesus untuk menunjukkan kepada mereka bagaimana berdoa, Ia menanggapinya dengan mengajarkan mereka, dan kita, kata-kata Bapa Kami.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 21 April 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 18 April 2021 : TIGA KATA KERJA KASIH : MELIHAT, MERABA, MAKAN

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Pada Hari Minggu Paskah III ini, kita kembali ke Yerusalem, di Ruang Atas, seperti dibimbing oleh dua murid Emaus, yang dengan perasaan yang luar biasa telah mendengarkan kata-kata Yesus di sepanjang perjalanan dan kemudian telah mengenali-Nya “dalam pemecahan roti” (Luk 24:35). Sekarang, di Ruang Atas, Kristus yang bangkit menampakkan diri di tengah-tengah kelompok murid dan menyapa : "Damai sejahtera bagi kamu!" (ayat 36). Tetapi mereka takut dan menyangka "bahwa mereka melihat hantu" (ayat 37), seperti dikatakan Injil. Kemudian Yesus menunjukkan kepada mereka luka-luka di tubuh-Nya dan berkata : “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku" - luka-luka tersebut - "Aku sendirilah ini; rabalah Aku” (ayat 39). Dan untuk meyakinkan mereka, Ia meminta makanan dan memakannya di depan mata mereka yang masih heran (bdk. ayat 41-42).

 

Ada rincian di sini, dalam uraian ini. Injil mengatakan bahwa para Rasul “belum percaya karena girangnya”. Kegirangan yang mereka miliki sedemikian rupa sehingga mereka tidak percaya bahwa hal ini benar. Dan rincian kedua : mereka bingung, heran; heran karena perjumpaan dengan Allah selalu membawamu kepada keheranan : perjumpaan dengan Allah melampaui antusiasme, melampaui sukacita; perjumpaan dengan Allah adalah pengalaman lain. Dan mereka penuh sukacita, tetapi sukacita membuat mereka berpikir : tidak, ini tidak mungkin benar! ... Inilah keheranan akan kehadiran Allah. Jangan lupakan kerangka pikiran yang begitu indah ini.

 

Tiga kata kerja yang sangat nyata menjadi ciri khas perikop Injil ini. Dalam arti tertentu, ketiga kata kerja tersebut mencerminkan kehidupan individu dan komunitas kita : melihat, meraba, dan makan. Tiga tindakan yang dapat memberikan sukacita berkat perjumpaan sejati dengan Yesus yang hidup.

 

Melihat. “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku”, kata Yesus. Melihat tidak sekadar melihat, lebih dari itu; melihat juga melibatkan niat, kehendak. Karena alasan ini, melihat adalah salah satu kata kerja kasih. Seorang ibu dan ayah melihat anak mereka; sepasang kekasih saling melihat; seorang dokter yang baik melihat pasien dengan seksama …. Melihat adalah langkah pertama menentang ketidakpedulian, menentang godaan untuk melihat ke arah lain di hadapan kesulitan dan penderitaan orang lain. Melihat. Apakah aku melihat atau memandang Yesus?

 

Kata kerja yang kedua adalah meraba. Dengan mengundang murid-murid untuk meraba-Nya, memastikan Ia bukan hantu - rabalah Aku! - Yesus menunjukkan kepada mereka dan kepada kita bahwa hubungan dengan-Nya dan dengan saudara-saudari kita tidak bisa tetap “dalam jarak”. Kekristenan tidak berada dalam kejauhan; kekristenan tidak hanya berada pada tingkatan melihat. Kasih membutuhkan penampilan dan juga membutuhkan kedekatan; kasih membutuhkan kontak, berbagi kehidupan. Orang Samaria yang baik tidak mengekang dirinya untuk melihat orang yang ia temukan hampir mati di jalan : ia berhenti, ia membungkuk, ia merawat luka-lukanya, ia merabanya, ia mengangkatnya ke atas kuda tunggangannya dan membawanya ke penginapan. Dan serupa dengan Yesus : mengasihi-Nya berarti masuk ke dalam persekutuan hidup, persekutuan dengan-Nya.

 

Dan dengan demikian, kita sampai pada kata kerja yang ketiga, makan, yang dengan jelas mengungkapkan kemanusiaan kita dalam kemiskinannya yang paling alami, yaitu kebutuhan kita untuk memberi makan diri kita sendiri agar dapat hidup. Tetapi makan, ketika kita melakukannya bersama, di antara keluarga atau teman, juga menjadi ungkapan kasih, ungkapan persekutuan, ungkapan perayaan…. Betapa sering Injil menampilkan kepada kita Yesus yang mengalami dimensi keramahtamahan ini! Bahkan ketika Ia sudah bangkit, bersama murid-murid-Nya. Sampai-sampai Perjamuan Ekaristi telah menjadi lambang komunitas Kristiani. Makan bersama-sama tubuh Kristus : inilah inti kehidupan Kristiani.

 

Saudara dan saudari, perikop Injil ini memberitahu kita bahwa Yesus bukan "hantu", tetapi Pribadi yang hidup; ketika Yesus mendekati kita, Ia memenuhi kita dengan sukacita, sampai pada titik ketidakpercayaan, dan Ia membuat kita bingung, dengan keheranan yang hanya diberikan oleh kehadiran Allah, karena Yesus adalah Pribadi yang hidup.

 

Menjadi Kristiani pertama-tama bukanlah ajaran atau cita-cita moral; menjadi Kristiani adalah hubungan yang hidup dengan-Nya, dengan Tuhan yang bangkit : kita melihat-Nya, kita meraba-Nya, kita dipelihara oleh-Nya dan, diubah rupa oleh kasih-Nya, kita melihat, meraba dan memelihara orang lain sebagai saudara dan saudari kita. Semoga Perawan Maria membantu kita menghayati pengalaman rahmat ini.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari yang terkasih!

 

Kemarin di Biara Casamari, Cardon dan lima rekan martirnya, biarawan Cistercian biara itu, dinyatakan sebagai Beato. Pada tahun 1799, ketika tentara Prancis yang menarik diri dari Napoli menjarah berbagai gereja dan biara, murid-murid Kristus yang lembut ini melawan dengan keberanian heroik, hingga menemui ajal, demi mempertahankan Ekaristi dari penistaan. Semoga teladan mereka memacu kita untuk semakin berketetapan hati untuk setia kepada Allah, bahkan mampu mengubah rupa masyarakat dan menjadikannya semakin adil dan bersaudara. Tepuk tangan yang meriah untuk para beato baru!

 

Dan ini adalah sesuatu yang menyedihkan. Saya sedang mengikuti dengan keprihatinan yang mendalam peristiwa-peristiwa di beberapa daerah di Ukraina timur, di mana dalam beberapa bulan terakhir pelanggaran gencatan senjata telah berlipat ganda, dan saya mengamati dengan sangat ketakutan peningkatan kegiatan militer. Tolong, saya sangat berharap agar peningkatan ketegangan dapat dihindari dan, sebaliknya, tindakan yang mampu meningkatkan rasa saling percaya serta mendorong rekonsiliasi dan perdamaian yang perlu dan diinginkan dapat dilakukan. Semoga kita juga tetap memperhatikan situasi kemanusiaan yang berat yang dialami oleh penduduk tersebut, yang kepada mereka saya mengungkapkan kedekatan saya dan bagi mereka saya mengundang kalian untuk berdoa.

 

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuh-Mu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.

 

Hari ini di Italia kita sedang merayakan Hari Universitas Katolik Hati Kudus, yang selama seratus tahun telah memberikan pelayanan yang berharga untuk pembentukan generasi baru. Semoga universitas tersebut terus menjalankan misi pendidikannya untuk membantu kaum muda menjadi pelaku utama masa depan yang kaya akan harapan. Dengan tulus, saya memberkati para staf, guru besar, dan mahasiswa Universitas Katolik tersebut.

 

Dan sekarang saya menyampaikan salam hangat kepada kalian semua, umat Roma dan para peziarah…, umat Brasil, Polandia, Spanyol…, dan saya melihat bendera lain di sana…. Syukur kepada Tuhan kita kembali dapat menemukan diri di Lapangan [Santo Petrus] ini demi janji hari Minggu dan hari libur. Saya akan memberitahu sesuatu kepada kalian : saya merindukan Lapangan Santo Petrus ketika saya harus mendaraskan doa Malaikat Tuhan di perpustakaan. Saya senang, syukur kepada Allah! Dan terima kasih atas kehadiran kalian …. Kepada kaum muda Imakulata, yang baik…. Dan kepada semuanya, saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang. Sampai jumpa!

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 18 April 2021)