Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 13 Juni 2021 : MENEMUKAN KEHADIRAN ALLAH DALAM KEHIDUPAN KITA


Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Dua perumpamaan, yang disajikan oleh Liturgi kepada kita hari ini, – dua perumpamaan itu – dengan tepat diilhami oleh kehidupan biasa dan mengungkapkan pandangan Yesus yang penuh perhatian dan mendalam, yang mengamati kenyataan serta, melalui gambaran kecil sehari-hari tersebut, membuka jendela misteri Allah dan rangkaian peristiwa manusiawi. Yesus berbicara dengan cara yang mudah dimengerti; Ia berbicara dengan gambaran kenyataan, gambaran kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini, Ia mengajari kita bahwa bahkan hal-hal sehari-hari, yang terkadang tampak sama dan yang kita lakukan sebagai selingan gangguan atau dengan berjerih payah, dihuni oleh kehadiran Allah yang tersembunyi; yaitu, semuanya bermakna. Jadi, kita juga membutuhkan mata yang penuh perhatian, untuk dapat “mencari dan menemukan Allah dalam segala hal".

 

Hari ini Yesus mengumpamakan Kerajaan Allah, yaitu kehadiran-Nya yang bersemayam di jantung segala sesuatu dan dunia, dengan biji sesawi, yaitu, dengan biji terkecil yang ada : sangat kecil. Namun, ditaburkan di tanah, biji tersebut tumbuh sampai menjadi pohon tertinggi (bdk. Mrk 4:31-32). Inilah yang dilakukan Allah. Terkadang, hiruk pikuk dunia, serta banyaknya kegiatan yang mengisi hari-hari kita, menghalangi kita untuk berhenti dan melihat bagaimana Allah menjalankan sejarah. Namun – Injil meyakinkan kita – Allah sedang bekerja, seperti benih kecil yang baik yang berkecambah secara diam-diam dan perlahan-lahan. Dan, sedikit demi sedikit, benih itu menjadi pohon yang rimbun, yang memberi kehidupan dan ketenangan bagi semua orang. Benih perbuatan baik kita juga bisa tampak seperti hal kecil, namun semua yang baik adalah milik Allah, dan maka dengan rendah hati, perlahan-lahan berbuah. Baiknya, marilah kita ingat, selalu bertumbuh dengan cara yang rendah hati, dengan cara yang tersembunyi, seringkali tidak kasat mata.

 

Saudara-saudari yang terkasih, dengan perumpamaan ini Yesus ingin menanamkan keyakinan kepada kita. Dalam banyak situasi kehidupan, memang, mungkin terjadi bahwa kita berkecil hati, karena kita melihat kelemahan kebaikan dibandingkan dengan kekuatan kejahatan yang kasat mata. Dan kita mungkin membiarkan diri kita dilumpuhkan oleh keraguan ketika kita menemukan bahwa kita bekerja keras tetapi hasilnya tidak tercapai, dan berbagai hal tampaknya tidak pernah berubah. Injil meminta kita untuk kembali melihat diri kita dan kenyataan; Injil meminta kita untuk memiliki mata yang lebih besar, yang mampu melihat lebih jauh, terutama mengatasi penampilan, untuk menemukan kehadiran Allah yang sebagai kasih yang rendah hati selalu bekerja di tanah kehidupan kita dan tanah sejarah. Inilah keyakinan kita, inilah yang memberi kita kekuatan untuk maju setiap hari, dengan sabar, menabur kebaikan yang akan berbuah.

 

Betapa pentingnya sikap ini juga untuk keluar dari pandemi dengan baik! Untuk memelihara keyakinan berada di tangan Allah dan seraya kita semua berketetapan hati untuk membangun kembali dan memulai kembali, dengan kesabaran dan ketekunan.

 

Dalam Gereja juga, lalang keraguan dapat berakar, terutama ketika kita menyaksikan krisis iman dan kegagalan berbagai rencana dan prakarsa. Tetapi janganlah kita pernah lupa bahwa hasil menabur tidak tergantung pada kemampuan kita : hasil menabur tergantung pada tindakan Allah. Menabur terserah kita, serta menaburlah dengan kasih, dengan dedikasi dan dengan kesabaran. Tetapi kekuatan benih bersifat ilahi. Hari ini Yesus menjelaskannya dalam perumpamaan lainnya : petani menabur benih dan kemudian tidak menyadari bagaimana benih tersebut menghasilkan buah, karena benih itu tumbuh spontan, siang dan malam, ketika ia tidak mengharapkannya (bdk. ayat 26-29). Bersama Allah di tanah yang paling tidak subur sekalipun selalu ada harapan akan tunas-tunas baru.

 

Semoga Santa Maria, hamba Tuhan yang rendah hati, mengajar kita untuk melihat kebesaran Allah yang bekerja dalam hal-hal kecil dan mengatasi godaan keputusasaan. Marilah kita percaya kepada-Nya setiap hari!

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih! Saya sangat dekat dengan penduduk wilayah Tigray di Ethiopia, yang dilanda krisis kemanusiaan yang parah yang dapat membuat orang-orang termiskin mengalami kelaparan. Hari ini ada kelaparan; ada kelaparan di sana. Marilah kita berdoa bersama agar kekerasan segera dihentikan, bantuan makanan dan kesehatan dijamin bagi semua orang, dan kerukunan sosial dipulihkan sesegera mungkin. Dalam hal ini, saya berterima kasih kepada semua orang yang bekerja untuk meringankan penderitaan rakyat. Marilah kita berdoa kepada Bunda Maria untuk ujud ini.

 

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.

 

Kemarin, Hari Anti Pekerja Anak Sedunia diperingati. Kita tidak mungkin menutup mata berhadapan dengan eksploitasi anak, yang dirampas haknya untuk bermain, belajar dan bermimpi. Menurut perkiraan Organisasi Buruh Internasional, lebih dari 150 juta anak dieksploitasi sebagai tenaga kerja : ini adalah tragedi! 150 juta : kurang lebih seperti penduduk Spanyol, bersama dengan Prancis dan Italia. Hal ini terjadi hari ini! Begitu banyak anak yang menderita hal ini : dieksploitasi sebagai pekerja anak. Marilah kita bersama-sama memperbarui upaya untuk menghapus perbudakan di zaman kita ini.

 

Sore ini di Augusta, Sisilia akan diadakan upacara kedatangan jasad awak kapal yang karam pada tanggal 18 April 2015. Semoga lambang dari begitu banyak tragedi di Laut Mediterania ini terus menantang hati nurani semua orang dan mendorong pertumbuhan kemanusiaan yang lebih mendukung, yang meruntuhkan tembok ketidakpedulian. Marilah kita berpikir : Mediterania telah menjadi kuburan terbesar di Eropa.

 

Besok adalah Hari Donor Darah Sedunia. Dengan tulus saya berterima kasih kepada para sukarelawan dan saya mendorong mereka untuk melanjutkan karya mereka, menjadi saksi nilai-nilai kedermawanan dan kemurahan hati. Terima kasih banyak, terima kasih!

 

Dan dengan hormat saya menyapa kalian semua, yang datang dari Roma, dari Italia dan dari negara lain; khususnya, para peziarah yang datang dengan sepeda dari Sedigliano dan Bra, umat beriman dari di Forl dan Cagliari.

 

Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang! Sampai jumpa!

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 13 Juni 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM DI LAPANGAN SAN DAMASO, ROMA, 9 Juni 2021 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 36) - BERTEKUN DALAM DOA

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Dalam katekese kedua dari akhir tentang doa ini kita akan berbicara tentang ketekunan dalam berdoa. Ketekunan dalam berdoa adalah undangan, perintah yang memang datang kepada kita dari Kitab Suci. Perjalanan spiritual peziarah Rusia dimulai ketika ia menemukan ungkapan Santo Paulus dalam Surat Pertama kepada jemaat di Tesalonika : "Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu" (5:17-18). Kata-kata Rasul Paulus tersebut mengejutkan orang itu dan ia mempertanyakan bagaimana mungkin berdoa tanpa gangguan, mengingat hidup kita terpenggal-penggal menjadi begitu banyak momen yang berbeda, yang tidak selalu memungkinkan untuk berkonsentrasi. Dari pertanyaan ini ia memulai pencariannya, yang akan menuntunnya untuk menemukan apa yang disebut doa hati. Doa hati berupa pengulangan dengan iman : "Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, kasihanilah aku, orang berdosa!". "Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, kasihanilah aku, orang berdosa!" Doa yang sederhana, tetapi sangat indah. Sebuah doa yang, sedikit demi sedikit, menyesuaikan diri dengan irama nafas dan meluas sepanjang hari. Apa itu? “Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, kasihanilah aku, orang berdosa!”. Saya tidak bisa mendengarmu. Lebih keras! “Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, kasihanilah aku, orang berdosa!”. Dan ulangi, ulangi, eh! Ini penting. Memang, nafas tidak pernah berhenti, bahkan saat kita tidur; dan doa adalah nafas kehidupan.

 

Lalu, bagaimana mungkin untuk selalu memelihara keadaan doa? Katekismus menawarkan kutipan-kutipan indah dari sejarah spiritualitas, yang menekankan perlunya tetap doa, agar doa dapat menjadi tumpuan keberadaan Kristiani. Saya akan melihat beberapa di antaranya.

 

Rahib Evagrius Ponticus menyatakan demikian : “Kita tidak diwajibkan untuk tetap bekerja, berjaga-jaga, dan berpuasa. Tetapi adalah satu hukum bagi kita, supaya berdoa dengan tidak putus-putusnya" (2742). Hati dalam doa. Oleh karena itu ada sebuah hasrat dalam kehidupan Kristiani, yang tidak boleh gagal. Hasrat tersebut sedikit seperti api suci yang disimpan di kuil-kuil kuno, yang menyala tanpa henti dan yang harus dijaga oleh para imam agar tetap menyala. Jadi harus ada api suci di dalam diri kita juga, yang menyala terus menerus dan tidak ada yang bisa memadamkannya. Dan itu tidak mudah. Tetapi memang harus seperti ini.

 

Santo Yohanes Krisostomus, imam lainnya yang memperhatikan kehidupan nyata, berkhotbah : “Malahan di pasar atau waktu berjalan-jalan dalam kesunyian kamu dapat sering dan dengan rajin berdoa. Juga, apabila kamu duduk di dalam perusahaan, atau waktu menjual atau membeli, malahan juga waktu kamu memasak” (2743). Doa-doa kecil : "Tuhan, kasihanilah kami", "Tuhan, tolonglah aku". Jadi, doa adalah semacam tongkat musik, tempat kita menorehkan melodi kehidupan kita. Doa tidak bertentangan dengan pekerjaan sehari-hari, doa tidak bertentangan dengan banyak kewajiban dan janji kecil; jika ada, doa adalah tempat di mana setiap tindakan menemukan maknanya, alasannya dan kedamaiannya. Dalam doa.

 

Tentu saja, menerapkan prinsip-prinsip ini tidak mudah. Seorang ayah dan ibu, yang terjebak dalam seribu tugas, mungkin merasakan nostalgia mudahnya menemukan waktu dan ruang yang teratur untuk berdoa pada suatu waktu dalam kehidupan mereka. Kemudian datanglah anak-anak, pekerjaan, kehidupan keluarga, orang tua yang sudah lanjut usia… Kita memiliki kesan bahwa tidak akan mungkin untuk melewati itu semua. Maka ada baiknya kita memikirkan bahwa Allah, Bapa kita, yang harus menjaga seluruh alam semesta, selalu mengingat kita masing-masing. Oleh karena itu, kita pun harus selalu mengingat-Nya!

 

Kita juga dapat mengingat bahwa dalam monastisisme Kristiani, pekerjaan selalu dijunjung tinggi, bukan hanya karena kewajiban moral untuk menafkahi diri sendiri dan orang lain, tetapi juga untuk semacam keseimbangan, keseimbangan batin – kerja, bukankah? Menumbuhkan minat yang begitu abstrak sehingga ia kehilangan kontak dengan kenyataan berbahaya bagi manusia. Pekerjaan membantu kita untuk tetap berhubungan dengan kenyataan. Tangan rahib yang bergabung dalam doa menanggung kapalan orang-orang yang menggunakan sekop dan cangkul. Dalam Injil Lukas (bdk. 10:38-42), ketika Yesus memberitahu Santa Marta bahwa satu-satunya hal yang benar-benar diperlukan adalah mendengarkan Allah, Ia sama sekali tidak bermaksud meremehkan banyak pelayanan yang sedang dilakukannya dengan usaha seperti itu.

 

Segala sesuatu dalam diri manusia adalah "biner" : tubuh kita setangkup, kita memiliki dua tangan, dua mata, dua tangan ... Jadi, bekerja dan berdoa juga saling melengkapi. Doa - yang merupakan "nafas" segala sesuatu - tetap menjadi latar pekerjaan yang hidup, bahkan pada saat-saat di mana hal ini tidak tersurat. Begitu asyik dengan pekerjaan sehingga kamu tidak dapat lagi menemukan waktu untuk berdoa tidak manusiawi.

 

Pada saat yang sama, doa yang terasing dari kehidupan tidak sehat. Doa yang mengasingkan diri dari kenyataan hidup menjadi spiritualisme, atau lebih buruk lagi, ritualisme. Marilah kita ingat bahwa Yesus, setelah menunjukkan kemuliaan-Nya kepada para murid di Gunung Tabor, tidak ingin memperpanjang momen luapan sukacita tersebut, tetapi malah turun dari gunung bersama mereka dan melanjutkan perjalanan sehari-hari. Karena pengalaman itu harus tetap berada di hati mereka sebagai terang dan kekuatan iman mereka; juga terang dan kekuatan untuk hari-hari yang akan datang : terang dan kekuatan hari-hari Sengsara. Dengan cara ini, waktu yang didedikasikan untuk tinggal bersama Allah menghidupkan kembali iman, yang membantu kita dalam pengamalan kehidupan, dan iman, pada gilirannya, memelihara doa, tanpa gangguan. Dalam lingkaran iman, kehidupan dan doa ini, kita terus menyalakan api kehidupan Kristiani yang diharapkan Allah dari diri kita.

 

Dan marilah kita ulangi doa sederhana yang sangat bagus untuk diulangi sepanjang hari. Marilah kita lihat apakah kamu masih dapat mengingatnya. Semua bersama-sama : "Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, kasihanilah aku, orang berdosa!". Mengucapkan doa ini terus-menerus akan membantumu dalam persatuan dengan Yesus. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Saya mengundang semua orang untuk bertumbuh dalam semangat doa yang terus-menerus, mampu menyatukan kehidupan kita sehari-hari dan menjadikannya sebagai pengorbanan yang berkenan kepada Tuhan. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam katekese lanjutan tentang doa, kita sekarang membahas pentingnya ketekunan dalam doa. Berkaca pada dorongan Santo Paulus untuk berdoa tanpa henti (bdk. 1 Tes 5:17), para penulis spiritual Gereja mempertanyakan bagaimana mungkin untuk tetap berada dalam keadaan terus menerus berdoa. Tradisi rahib Rusia mengembangkan doa hati, berlandaskan pengulangan kata-kata, "Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, kasihanilah aku orang berdosa", sampai menjadi seperti udara yang kita hirup. Rahib Yunani Evagrius membandingkan doa dengan nyala api yang terus menyala di hati kita bahkan saat kita melakukan tugas sehari-hari. Dengan demikian doa menjadi latar di mana setiap tindakan hidup kita menemukan maknanya yang terdalam. Jika Allah dapat menemukan waktu untuk kita masing-masing, pasti kita dapat menemukan waktu untuk-Nya! Tradisi monastik mengajarkan kesuburan spiritual dari menyeimbangkan doa dan kerja. Dengan menjaga keseimbangan itu dalam hidup kita, kita juga dapat bertumbuh dalam persatuan kita dengan Allah dan menjaga api kasih ilahi tetap menyala di hati kita setiap hari.

____


(Peter Suriadi - Bogor, 9 Juni 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 Juni 2021 : TENTANG HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, di Italia dan di negara-negara lain, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dirayakan. Bacaan Injil menyajikan kepada kita kisah Perjamuan Terakhir (Mrk 14:12-16.22-26). Perkataan dan tingkah laku Tuhan menyentuh hati kita : Ia mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada para murid-Nya, seraya berkata : "Ambillah, inilah tubuh-Ku" (ayat 22).

 

Demikianlah, dengan kesederhanaan, Yesus memberi kita sakramen teragung. Tingkah laku-Nya adalah tingkah laku memberi, tingkah laku berbagi yang rendah hati. Pada puncak hidup-Nya, Ia tidak membagikan roti dalam jumlah yang berlimpah untuk memberi makan orang banyak, tetapi memecah-mecahkan diri-Nya sendiri pada perjamuan Paskah bersama para murid-Nya. Dengan cara ini Yesus menunjukkan kepada kita bahwa tujuan hidup terletak pada pemberian diri, bahwa hal terbesar adalah melayani. Dan hari ini kita menemukan kebesaran Allah dalam sepotong Roti, dalam kerapuhan yang meluap dengan kasih, melimpah dengan berbagi. Kerapuhan adalah kata yang ingin saya tekankan. Yesus menjadi rapuh seperti roti yang dipecah-pecahkan dan menjadi remah-remah. Tetapi justru di situlah letak kekuatannya, dalam kerapuhannya. Dalam Ekaristi, kerapuhan merupakan kekuatan : kekuatan kasih yang menjadi kecil agar dapat diterima dan tidak ditakuti; kekuatan kasih yang memecah dan membelah untuk memelihara dan memberi kehidupan; kekuatan kasih yang terbelah-belah menyatukan kita semua dalam satu kesatuan.

 

Dan ada kekuatan lain yang menonjol dalam kerapuhan Ekaristi : kekuatan untuk mengasihi orang-orang yang melakukan kesalahan. Pada malam ketika Ia dikhianati, Yesus memberi kita Roti hidup. Ia memberi kita karunia terbesar saat Ia merasakan jurang terdalam di dalam hati-Nya : murid yang makan bersama-Nya, yang mencelupkan sepotong roti di cawan yang sama, mengkhianati-Nya. Dan pengkhianatan adalah rasa sakit terbesar bagi orang-orang yang mengasihi. Dan apa yang diperbuat Yesus? Ia bereaksi terhadap kejahatan dengan kebaikan yang lebih besar. Terhadap "tidak" Yudas, Ia menjawab dengan "ya" belas kasihan. Ia tidak menghukum orang berdosa, tetapi memberikan hidup-Nya untuknya, menebusnya. Ketika kita menerima Ekaristi, Yesus melakukan hal yang sama dengan kita : Ia mengenal kita, Ia tahu bahwa kita adalah orang berdosa, Ia tahu kita sangat salah, tetapi Ia tidak menyerah untuk menggabungkan hidup-Nya dengan hidup kita. Ia tahu bahwa kita membutuhkannya, karena Ekaristi bukanlah ganjaran para kudus, bukan, melainkan Roti orang berdosa . Inilah sebabnya Ia menasihati kita : “Jangan takut! Ambillah dan makanlah”.

 

Setiap kali kita menerima Roti hidup, Yesus datang untuk memberi makna baru bagi kerapuhan kita. Ia mengingatkan kita bahwa di mata-Nya kita lebih berharga daripada yang kita pikirkan. Ia memberitahu kita bahwa Ia senang jika kita berbagi kelemahan kita dengan-Nya. Kepada kita Ia mengulangi bahwa belas kasihan-Nya tidak takut akan kesengsaraan kita. Belas kasihan Yesus tidak takut akan kesengsaraan kita. Dan terutama, dengan kasih, belas kasihan Yesus menyembuhkan kita dari kelemahan-kelemahan yang tidak dapat kita sembuhkan sendiri. Kelemahan apa? Kita pikirkan. Perasaan dendam terhadap orang-orang yang telah menyakiti kita - dari ini saja kita tidak bisa sembuh - ; menjauhkan diri kita dari orang lain dan mengasing diri kita sendiri - dari itu saja kita tidak dapat menyembuhkan -; menangisi diri kita sendiri dan mengeluh tanpa menemukan kedamaian; bahkan dari ini, kita sendiri tidak dapat menyembuhkan. Dialah yang menyembuhkan kita dengan kehadiran-Nya, dengan roti-Nya, dengan Ekaristi. Ekaristi adalah obat yang efektif terhadap ketertutupan ini. Memang, Roti Hidup menyembuhkan kekakuan dan mengubah rupanya menjadi ketaatan.

 

Ekaristi menyembuhkan karena mempersatukan dengan Yesus : Ekaristi membuat kita membaurkan cara hidup-Nya, kemampuan-Nya untuk memecah-mecahkan dan memberikan diri-Nya kepada saudara-saudara kita, menanggapi kejahatan dengan kebaikan. Ekaristi memberi kita keberanian untuk keluar dari diri kita sendiri dan dengan kasih membungkuk terhadap kelemahan orang lain. Seperti yang diperbuat Allah dengan kita. Inilah nalar Ekaristi : kita menerima Yesus yang mengasihi kita dan menyembuhkan kelemahan kita agar dapat mengasihi orang lain dan membantu mereka dalam kelemahan mereka. Dan ini, sepanjang hidup. Hari ini dalam Ibadat Harian kita telah mendoakan sebuah madah : empat ayat yang merupakan rangkuman seluruh kehidupan Yesus. Dan dengan demikian keempat ayat tersebut memberitahu kita bahwa ketika lahir, Ia menjadi sesama manusia dalam kehidupan. Kemudian, pada saat makan malam, Ia diberikan sebagai santapan. Kemudian, di kayu salib, dalam wafat-Nya, Ia menjadi Sang Penebus : Ia menebus kita. Dan sekarang, Ia memerintah di surga sebagai ganjaran kita (Madah Pujian Verbum Supernum Prodiens Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus).

 

Semoga Sang Perawan Suci, yang di dalam dirinya Allah menjadi manusia, membantu kita untuk menyambut karunia Ekaristi dengan hati yang penuh syukur dan juga menjadikan hidup kita sebagai karunia. Semoga Ekaristi menjadikan kita karunia bagi semua orang.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih,

 

Dengan sedih saya mengikuti berita yang datang dari Kanada tentang penemuan mengejutkan jasad 215 anak, murid sekolah asrama India Kamloops, di Provinsi British Columbia. Saya bergabung dengan para uskup Kanada dan seluruh Gereja Katolik di Kanada dalam mengungkapkan kedekatan saya dengan rakyat Kanada, yang mengalami trauma dengan berita mengejutkan itu. Penemuan yang menyedihkan itu semakin meningkatkan kesadaran akan rasa sakit dan penderitaan di masa lalu. Semoga otoritas politik dan keagamaan Kanada terus bertekad untuk bekerja sama mengungkap kisah sedih itu serta dengan rendah hati berketetapan terhadap jalan rekonsiliasi dan penyembuhan.

 

Saat-saat sulit ini merupakan seruan yang kuat bagi kita semua, untuk menjauh dari model penjajahan, dan juga dari penjajahan ideologis dewasa ini, dan berjalan berdampingan dalam dialog, saling menghormati dan mengakui hak-hak dan nilai-nilai budaya seluruh putri dan anak-anak Kanada.

 

Kita mempercayakan kepada Tuhan jiwa seluruh anak yang meninggal di sekolah asrama di Kanada dan mendoakan keluarga dan komunitas adat Kanada yang mengalami rasa sakit. Marilah kita berdoa dalam keheningan.

 

Saya ingin memastikan doa saya untuk para korban pembantaian yang dilakukan pada malam antara Jumat dan Sabtu di sebuah kota kecil di Burkina Faso. Saya dekat dengan keluarga saya dan dengan seluruh rakyat Burkina Faso yang sangat menderita akibat serangan berulang ini. Afrika membutuhkan perdamaian dan bukan kekerasan!

 

Hari ini di Chiavenna, Keuskupan Como, Suster Maria Laura Mainetti dari Tarekat Putri Salib, yang dibunuh 21 tahun lalu oleh tiga gadis yang dipengaruhi oleh sekte iblis, dibeatifikasi. Kekejaman. Ia yang mengasihi kaum muda melebihi segalanya, serta juga mengasihi dan mengampuni gadis-gadis yang menjadi tawanan kejahatan tersebut, mewariskan kepada kita program hidupnya : melakukan setiap hal kecil dengan iman, kasih dan kegairahan. Semoga Tuhan memberikan kita semua iman, kasih dan kegairahan. Tepuk tangan untuk sang beata baru!

 

Lusa, Selasa 8 Juni 2021, pukul 13.00, Aksi Katolik Internasional mengundang kalian guna mendedikasikan satu menit untuk perdamaian, masing-masing menurut tradisi keagamaan mereka. Marilah secara khusus kita mendoakan Tanah Suci dan Myanmar.

 

Dengan hormat saya menyapa kalian semua yang berasal dari Roma, Italia, dan negara-negara lain. Secara khusus, saya menyapa remaja laki-laki Progetto Contatto Turin dan Kelompok Devosan Madonna dei Miracoli dari Corbetta, keluarga-keluarga Cerignola dan Lembaga Ambulanti Nasional, dengan sejumlah pekerja dari pekan raya dan seniman jalanan. Terima kasih banyak atas hadiah yang kalian bawa. Dan saya juga menyapa umat Salento dari Puglia selatan yang menari pizzica di sana! Sudah selesai dilakukan dengan baik! Saya mengucapkan selamat hari Minggu untuk semuanya.

 

Jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat makan siang dan sampai jumpa!

____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 6 Juni 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM DI LAPANGAN SAN DAMASO, ROMA, 2 Juni 2021 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 35) - YESUS, MODEL DAN JIWA SELURUH DOA

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Keempat Injil menunjukkan kepada kita bagaimana doa merupakan hal mendasar dalam hubungan antara Yesus dan murid-murid-Nya. Hal ini sudah muncul dalam pemilihan siapa yang kemudian akan menjadi para Rasul. Lukas menempatkan pemilihan mereka dalam konteks doa yang tepat, dan ia berkata : “Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul” (6:12-13). Yesus memilih para rasul setelah berdoa semalam-malaman. Tampaknya tidak ada kriteria dalam pemilihan ini selain doa, dialog Yesus dengan Bapa. Menilik bagaimana orang-orang itu seharusnya berperilaku, tampaknya pemilihan tersebut bukanlah yang terbaik, karena mereka semua melarikan diri, mereka meninggalkan-Nya sendirian ketika Ia menghadapi kesengsaraan; tetapi justru hal ini, terutama kehadiran Yudas, yang kelak akan menjadi pengkhianat, menunjukkan bahwa nama-nama itu tertulis dalam rencana Allah.

 

Doa atas nama sahabat-sahabat-Nya terus-menerus muncul kembali dalam kehidupan Yesus. Para Rasul terkadang menjadi penyebab keprihatinan-Nya, tetapi Yesus, ketika Ia menerima mereka dari Bapa, setelah berdoa, hingga membawa mereka di dalam hati-Nya, bahkan dalam kesalahan mereka, bahkan ketika mereka jatuh. Dalam semua ini kita menemukan bagaimana Yesus adalah guru dan sahabat, senantiasa bersedia dengan sabar menanti pertobatan murid-Nya. Titik tertinggi penantian yang sabar ini adalah “jaring” cinta yang dijalin Yesus di sekitar Petrus. Pada Perjamuan Terakhir Ia berkata kepadanya : "Simon, Simon, lihat" - kata yang kita dengar di awal Audiensi - "Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu" (Luk 22:31-32). Sangat mengesankan mengetahui bahwa pada saat itu, selama masa kelemahan, kasih Yesus tiada henti. "Tetapi bapa, jika aku dalam dosa berat, apakah Yesus mengasihiku?" - "Ya" - "Dan apakah Yesus terus mendoakanku?" - "Ya" - "Tetapi jika aku telah melakukan hal-hal yang terburuk, dan lebih banyak lagi, melakukan begitu banyak dosa ... apakah Yesus terus mendoakan?" - "Ya". Kasih Yesus, doa Yesus untuk kita masing-masing tiada henti, tiada henti, malahan menjadi semakin intens, dan kita berada di pusat doa-Nya! Kita harus senantiasa mengingat hal ini : Yesus mendoakanku, sekarang Ia berdoa di hadapan Bapa dan membuat Bapa melihat luka-luka yang Ia bawa bersama-Nya, menunjukkan kepada Bapa harga keselamatan kita, kasih yang Ia pertahankan demi kita. Tetapi pada saat ini, kita masing-masing, marilah kita berpikir : pada saat ini, apakah Yesus mendoakanku? Ya. Inilah kepastian yang luar biasa yang harus kita miliki.

 

Doa Yesus kembali tepat waktu pada saat yang genting dalam perjalanan-Nya, yaitu pembuktian iman para murid-Nya. Marilah kita kembali mendengarkan penginjil Lukas : “Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: 'Kata orang banyak, siapakah Aku ini?' Jawab mereka: 'Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit'. Yesus bertanya kepada mereka: 'Menurut kamu, siapakah Aku ini?' Jawab Petrus: 'Mesias dari Allah'. Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun” (9:18-21). Artinya, titik balik besar perutusan Yesus senantiasa didahului dengan doa, tetapi tidak hanya sepintas, dengan doa yang intens dan berkesinambungan. Selalu ada doa di saat-saat tersebut. Ujian iman ini tampaknya menjadi tujuan, tetapi justru merupakan pembaharuan titik awal bagi para murid, karena sejak saat itu, seolah-olah Yesus mengambil nada baru dalam perutusan-Nya, berbicara secara terbuka kepada mereka tentang sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

 

Dengan sudut pandang ini, yang secara naluriah menimbulkan penolakan, baik dalam diri para murid maupun dalam diri kita yang membaca Injil, doa adalah satu-satunya sumber terang dan kekuatan. Perlu lebih khusyuk berdoa, setiap kali jalan menanjak.

 

Dan, setelah mengumumkan kepada para murid-Nya apa yang menanti-Nya di Yerusalem, peristiwa Transfigurasi sungguh terjadi. Yesus “membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem” (Luk 9:35). Dari doa muncul undangan untuk mendengarkan Yesus, senantiasa dari doa.

 

Dari perjalanan singkat melalui Injil ini, kita belajar bahwa Yesus tidak hanya menginginkan kita berdoa sebagaimana Ia berdoa, tetapi meyakinkan kita bahwa, bahkan jika usaha kita dalam berdoa sama sekali sia-sia dan tidak efektif, kita senantiasa dapat mengandalkan doa-Nya. Kita harus menyadari hal ini : Yesus mendoakanku. Suatu kali, seorang uskup yang baik memberitahu saya bahwa di saat yang sangat buruk dalam hidupnya, pencobaan yang sangat, sangat, sangat besar, di mana semuanya dalam kegelapan, ia memandang Basilika dan melihat tertulis kalimat ini : “Aku, Petrus, akan mendoakanmu”. Dan hal ini memberinya kekuatan dan penghiburan. Dan hal ini terjadi setiap kali kita masing-masing tahu bahwa Yesus sedang mendoakan seseorang. Yesus mendoakan kita. Pada saat ini, sungguh pada saat ini. Lakukan latihan ingatan ini, ulangilah hal ini. Ketika ada kesulitan, ketika kamu merasakan tarikan orbital gangguan : Yesus sedang mendoakanku. Tetapi bapa, apakah hal ini benar? Benar! Ia sendiri yang mengatakannya. Janganlah kita lupa bahwa apa yang menopang kita masing-masing dalam kehidupan adalah doa Yesus bagi kita masing-masing, dengan nama dan nama keluarga kita, di hadapan Bapa, menunjukkan kepada-Nya luka-luka yang merupakan harga keselamatan kita.

 

Bahkan jika doa-doa kita hanya tersendat-sendat, jika doa-doa kita dikompromikan oleh iman yang goyah, kita tidak boleh berhenti untuk percaya kepada-Nya : aku tidak tahu bagaimana berdoa tetapi Ia mendoakanku. Didukung oleh doa Yesus, doa kita yang takut-takut bertumpu pada sayap elang dan membubung ke Surga. Jangan lupa : Yesus sedang mendoakanku. Sekarang? Sekarang. Di saat pencobaan, di saat dosa, bahkan di dalam dosa itu, Yesus sedang mendoakanku dengan begitu banyak kasih. Terima kasih.

 

[Sapaan khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Semoga perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mendatang memperdalam kesadaran kita akan kehadiran nyata Yesus di antara kita dalam Ekaristi. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan. Semoga Tuhan memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam katekese lanjutan tentang doa, kita sekarang membahas Yesus sebagai model doa bagi murid-murid-Nya. Keempat Injil menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan memilih rasul-rasul-Nya hanya setelah berdoa semalam-malaman. Menghadapi setiap saat penting dalam pelayanan-Nya, Yesus menarik diri untuk berdoa. Hanya setelah lama berdoa, Yesus menanyai para murid tentang iman mereka kepada-Nya dan kemudian mengungkapkan kepada mereka sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya yang akan tiba. Di gunung Transfigurasi, Petrus, Yakobus dan Yohanes kemudian melihat Tuhan dalam doa, dinyatakan dalam kemuliaan-Nya sebagai Putra Bapa yang terkasih. Pada Perjamuan Terakhir Ia meyakinkan Petrus bahwa Ia telah mendoakannya, pertobatannya dan perutusannya di kemudian hari. Seperti para rasul, kita juga dapat mengandalkan doa Tuhan untuk menopang kita dalam perjalanan iman dan pemuridan kita. Katekismus mengingatkan kita bahwa Yesus yang bangkit, duduk di sebelah kanan Bapa, terus-menerus menjadi pengantara kita di hadapan-Nya (bdk. No. 2741). Ketika kita berusaha untuk bertekun dalam doa, semoga kita yakin bahwa permohonan kita akan naik ke surga dengan sayap rajawali dan, dengan dan di dalam Yesus, senantiasa mendapatkan pendengaran di hadapan takhta Bapa.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 2 Juni 2021)