Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN PADA PENUTUPAN KONGRES EKARISTI SEDUNIA KE-52 DI BUDAPEST, HUNGARIA, 12 September 2021

Saudara dan saudari terkasih, 


Ekaristi berarti “ucapan syukur” dan di akhir perayaan ini, yang mengakhiri Kongres Ekaristi dan kunjungan saya ke Budapest, dari lubuk hati saya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih kepada keluarga besar umat Kristiani Hungaria, yang ingin saya rangkul dalam ritusnya, dalam sejarahnya, dalam saudara dan saudarinya yang beragama Katolik dan dalam pengakuan-pengakuan iman lainnya, semuanya menuju kesatuan penuh. Dalam hal ini, dengan hormat saya menyapa Patriark Bartholomew, seorang saudara yang menghormati kita dengan kehadirannya. Terima kasih, khususnya, kepada saudara-saudaraku para Uskup yang terkasih, kepada para imam, para pelaku hidup bakti, dan kepada kamu semua, umat beriman yang terkasih! Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka yang bekerja keras untuk melaksanakan Kongres Ekaristi dan hari ini.

 

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada otoritas sipil dan keagamaan yang menyambut saya, saya ingin mengucapkan köszönöm [terima kasih] : terima kasih, rakyat Hungaria. Madah yang mengiringi Kongres Ekaristi menyapamu demikian : "Selama seribu tahun salib adalah pilar keselamatanmu, bahkan sekarang semoga bagimu tanda Kristus menjadi janji masa depan yang lebih baik". Saya mengharapkan hal ini terhadapmu, semoga salib menjembatani masa lalu dan masa depanmu! Rasa keagamaan adalah urat nadi bangsa ini, begitu melekat pada akarnya. Tetapi salib, yang dipancangkan di tanah, selain mengundang kita untuk berakar dengan baik, mengangkat dan mengulurkan tangannya ke arah semua orang : salib menasihati kita untuk menjaga akar kita tetap teguh, tetapi tanpa pengkubuan; menarik dari sumber, membuka diri terhadap dahaga masa kita. Saya mengharapkan kamu seperti ini : membumi dan terbuka, membumi dan penuh hormat. Isten eltessen! [Allah memberkatimu!] "Salib Perutusan" adalah lambang Kongres ini : semoga salib menuntunmu untuk mewartakan dengan hidupmu Injil yang membebaskan dari kelembutan Allah yang tak terbatas untuk setiap orang. Dalam paceklik kasih dewasa ini, salib adalah gizi yang ditunggu manusia.

 

Hari ini, tidak jauh dari sini, di Warsawa, dua orang saksi Injil dinyatakan sebagai beato dan beata : Stefan Kardinal Wyszyński dan Elisabetta Czacka, pendiri tarekat Suster-suster Fransiskan Pelayan Salib. Dua tokoh yang sangat mengenal salib : Sang pembesar Gereja Polandia, ditangkap dan diasingkan, selalu menjadi gembala yang pemberani seturut hati Kristus, pemberita kebebasan dan martabat manusia; Suster Elizabeth, yang kehilangan penglihatannya saat masih sangat muda, mengabdikan seluruh hidupnya untuk membantu orang buta. Teladan dari sang beato dan beata baru merangsang kita untuk mengubah kegelapan menjadi terang dengan kekuatan cinta.

 

Akhirnya kita berdoa Malaikat Tuhan, pada hari kita memuliakan nama Santa Maria. Di zaman dahulu, untuk menaruh hormat, kamu orang Hungaria tidak mengucapkan nama Maria, tetapi memanggilnya dengan gelar kehormatan yang digunakan untuk ratu. Semoga "Ratu Yang Terberkati, pelindungmu sejak dahulu" menyertai dan memberkatimu! Berkat saya, dari kota besar ini, ingin menjangkau semua orang, terutama anak-anak dan kaum muda, kaum tua dan orang-orang sakit, orang-orang miskin dan orang-orang yang terpinggirkan. Bersamamu dan kepadamu saya ucapkan : Isten, áldd meg a magyart! [Allah memberkati rakyat Hungaria!]

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 13 September 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 8 September 2021 : KATEKESE TENTANG SURAT SANTO PAULUS KEPADA JEMAAT GALATIA (BAGIAN 8) - KITA ADALAH ANAK-ANAK ALLAH

Saudara dan saudari, selamat pagi!

 

Mari kita melanjutkan perjalanan kita dalam memperdalam iman – iman kita – dalam terang Surat Santo Paulus kepada Jemaat Galatia. Rasul Paulus bersikeras dengan orang-orang Kristiani tersebut agar mereka tidak melupakan kebaruan pewahyuan Allah yang telah diwartakan kepada mereka. Sepenuhnya sepakat dengan penginjil Yohanes (bdk. 1Yoh 3:1-2), Paulus menekankan bahwa beriman kepada Yesus Kristus telah memungkinkan kita untuk sungguh menjadi anak-anak Allah dan juga ahli waris-Nya. Kita umat Kristiani sering menerima begitu saja kenyataan menjadi anak-anak Allah. Sebaliknya, ada baiknya mengingat dengan rasa syukur saat di mana kita menjadi seperti itu, saat kita dibaptis, sehingga dapat menghayati karunia besar yang kita terima dengan kesadaran yang lebih besar. Jika saya bertanya kepadamu hari ini, “Siapa di antaramu yang tahu pasti tanggal baptisanmu?” Saya pikir tidak akan terlalu banyak yang angkat tangan …. Namun, tanggal baptisan adalah hari di mana kita diselamatkan, tanggal baptisan adalah hari di mana kita menjadi anak-anak Allah. Sekarang, orang-orang yang tidak tahu harus bertanya kepada wali baptis mereka, ayah mereka, ibu mereka, paman, bibi mereka : “Kapan aku dibaptis”? Dan hari itu hendaknya diingat setiap tahun : tanggal baptisan adalah hari di mana kita menjadi anak-anak Allah. Sepakat? Apakah kamu semua sudi melakukan hal ini? [Tanggapan dari khalayak] Eh, itu adalah "ya" yang biasa-biasa saja. [Tawa]. Marilah kita lanjutkan.

 

Faktanya, sekarang "iman telah datang" di dalam Yesus Kristus (Gal 3:25), suatu kondisi baru yang radikal tercipta yang mengarah pada status keputraan ilahi. Keputraan yang dibicarakan Paulus tidak lagi bersifat umum yang melibatkan seluruh pria dan wanita sejauh mereka adalah putra dan putri Sang Pencipta yang sama. Tidak, dalam perikop yang telah kita dengar, ia menegaskan bahwa iman memungkinkan kita untuk menjadi anak-anak Allah "di dalam Kristus" (ayat 26). Inilah yang baru. “Di dalam Kristus” ini yang membedakan. Bukan hanya anak-anak Allah, seperti semua orang : semua pria dan wanita adalah anak-anak Allah, semuanya, terlepas dari agama yang kita anut. Tidak. Tetapi “di dalam Kristus”, inilah yang membedakan orang Kristiani, dan ini terjadi hanya dengan keikutsertaan dalam penebusan Kristus, dan di dalam diri kita dalam sakramen baptis : demikianlah awal mulanya. Yesus menjadi saudara kita, serta melalui wafat dan kebangkitan-Nya Ia telah mendamaikan kita dengan Bapa. Siapapun yang menerima Kristus dalam iman, telah “mengenakan” Kristus dan martabat keputraan-Nya melalui baptisan (bdk. ayat 27). Inilah yang dikatakan dalam ayat 27.

 

Dalam Suratnya kepada Jemaat Galatia, Santo Paulus menyebut baptisan lebih dari satu kali. Baginya, dibaptis sama dengan mengambil bagian secara efektif dan sungguh-sungguh dalam misteri Yesus. Sebagai contoh, dalam Surat kepada Jemaat Galatia, ia bahkan mengatakan bahwa dalam baptisan kita telah mati bersama-sama dengan Kristus dan telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia untuk hidup bersama-sama dengan Dia (bdk. Rm 6:3-4). Mati bersama-sama dengan Kristus, dikuburkan bersama-sama dengan-Nya sehingga dapat hidup bersama-sama dengan Dia. Inilah rahmat baptisan : ikut serta dalam wafat dan kebangkitan Yesus. Oleh karena itu, baptisan bukan hanya ritus lahiriah. Orang-orang yang menerimanya diubah rupa di lubuk batin, di dalam diri mereka yang terdalam, dan memiliki kehidupan baru, yang justru memungkinkan mereka untuk berpaling kepada Allah dan memanggil-Nya dengan nama "Abba", yaitu, "Bapa". "Ayah"? bukan : "Bapa" (bdk. Gal 4:6).

 

Rasul Paulus berani menegaskan bahwa jatidiri yang diterima berkat baptisan benar-benar baru sehingga mengalahkan perbedaan yang ada pada tingkatan etnis-agama. Artinya, ia menjelaskannya sebagai berikut : "Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani", bahkan di bidang sosial, "tidak ada budak atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan" (Gal 3:28). Kita sering membaca ungkapan-ungkapan ini terlalu cepat, tanpa memahami nilai revolusioner yang dimilikinya. Bagi Paulus, menulis kepada Jemaat Galatia bahwa di dalam Kristus “tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani” sungguh sama dengan meruntuhkan kemapanan dalam lingkup etnis-religius. Dengan kenyataan menjadi bagian bangsa terpilih, orang Yahudi memiliki hak istimewa atas orang kafir (bdk. Rm 2:17-20). – sebagaimana dikatakan Surat Roma, bab 2, ayat 17 sampai 20; Paulus sendiri menegaskan hal ini (bdk. Rm 9:4-5). Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa ajaran baru berkat Rasul Paulus ini bisa terdengar sesat. “Apa, semua orang sama? Kita berbeda!" Kedengarannya agak sesat, bukan? Bahkan perangkat kesetaraan kedua, antara orang "bebas" dan orang "budak", memperkenalkan sudut pandang yang mengejutkan. Perbedaan antara budak dan warga negara yang bebas sangat penting dalam masyarakat kuno. Secara hukum, warga negara yang bebas menikmati semua hak, sementara martabat manusia sebagai budak bahkan tidak diakui. Ini terjadi bahkan hari ini. Ada banyak orang di dunia, banyak, jutaan, yang tidak memiliki hak untuk makan, yang tidak memiliki hak untuk pendidikan, yang tidak memiliki hak untuk bekerja. Mereka adalah budak-budak baru. Mereka adalah orang-orang yang hidup di pinggiran, yang dieksploitasi oleh semua orang. Perbudakan ada bahkan sampai hari ini – mari kita pikirkan sedikit tentang hal ini. Martabat manusia ditolak untuk orang-orang ini. Mereka adalah budak. Jadi, akhirnya, kesetaraan dalam Kristus mengatasi perbedaan sosial antara dua jenis kelamin, membangun kesetaraan revolusioner antara pria dan wanita yang pada saat itu dan bahkan perlu ditegaskan kembali hingga hari ini. Hal ini perlu ditegaskan kembali bahkan hari ini. Berapa kali kita mendengar ungkapan yang merendahkan wanita! Seberapa sering kita mendengar: “Tetapi tidak, jangan lakukan apa-apa, itu urusan perempuan”. Tetapi, lihat, pria dan wanita memiliki martabat yang sama. Dan itu telah terjadi dalam sejarah, bahkan hari ini, sejenis perbudakan perempuan : perempuan tidak memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki. Kita hendaknya membaca apa yang dikatakan Paulus : kita setara di dalam Kristus Yesus.

 

Sebagaimana dapat kita lihat, Paulus menegaskan kesatuan mendalam yang ada di antara semua orang yang dibaptis, dalam kondisi apa pun mereka terikat, baik pria atau wanita - sama karena mereka masing-masing adalah ciptaan baru di dalam Kristus. Setiap perbedaan menjadi sekunder dibandingkan martabat menjadi anak-anak Allah, yang melalui kasih-Nya menciptakan kesetaraan yang nyata dan hakiki. Setiap orang, melalui penebusan Kristus dan baptisan yang telah kita terima, kita semua setara : anak-anak Allah. Setara.

 

Saudara dan saudari, oleh karena itu, kita dipanggil secara lebih positif untuk menjalani kehidupan baru yang mengakarkan ungkapan dasarnya dengan menjadi anak-anak Allah. Setara karena kita adalah anak-anak Allah; dan anak-anak Allah karena Kristus menebus kita dan kita memperoleh martabat ini melalui baptisan.

 

Menemukan kembali keindahan menjadi anak-anak Allah, menjadi saudara dan saudari di antara kita sendiri, karena kita telah dipersatukan di dalam Kristus, yang menebus kita sangat menentukan bahkan bagi kita semua hari ini. Pembedaan dan kontras yang diciptakan oleh pemisahan seharusnya tidak ada di antara orang-orang percaya di dalam Kristus. Dan salah seorang rasul, dalam Surat Yakobus, mengatakan hal ini : “Waspadalah terhadap pembedaan, sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu (yaitu, Misa) dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: 'Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!', sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: 'Berdirilah di sana!'". Kita menciptakan pembedaan-pembedaan ini, berkali-kali secara tidak sadar demikian. Tidak, kita setara! Sebaliknya, panggilan kita adalah membuat panggilan yang jelas nyata untuk kesatuan segenap umat manusia (bdk. Konstitusi Ekumenis Vatikan II, Lumen Gentium, 1). Segala sesuatu yang memperburuk pembedaan di antara orang-orang, sering menyebabkan diskriminasi - semua ini, di hadapan Allah, tidak lagi memiliki dasar, berkat keselamatan yang dilakukan di dalam Kristus. Yang penting adalah iman yang bekerja menurut jalan kesatuan yang ditunjukkan oleh Roh Kudus. Dan tanggung jawab kita adalah melakukan perjalanan yang meyakinkan di sepanjang jalan kesetaraan ini, bahkan kesetaraan yang dipertahankan, yang tercipta berkat penebusan Yesus. Dan jangan lupa ketika kamu pulang : “Kapan aku dibaptis?” Bertanyalah sana sini agar selalu ingat tanggal tersebut. Dan ketika tiba saatnya, tanggal itu bisa dirayakan. Terima kasih.

 

[Imbauan]

 

Hari Tahun Baru akan dirayakan di Ethiopia pada 11 September mendatang. Saya menyampaikan salam yang paling ramah dan tulus kepada rakyat Etiopia, terutama kepada mereka yang menderita karena pertikaian yang sedang berlangsung dan situasi kemanusiaan serius yang ditimbulkannya. Semoga ini menjadi momen persaudaraan dan kesetiakawanan sehingga keinginan bersama untuk perdamaian dapat didengar.

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Pikiran saya terutama tertuju kepada kaum muda yang kembali ke sekolah dalam beberapa pekan mendatang. Kaum muda yang terkasih, semoga tahun ajaran ini bagi kalian semua menjadi masa pertumbuhan pendidikan dan pendalaman ikatan persahabatan. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohonkan kebijaksanaan dan sukacita Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Surat kepada Jemaat Galatia, sekarang kita membahas ajaran Paulus tentang kebaruan radikal hidup kita di dalam Yesus Kristus. Melalui penjelmaan, wafat dan kebangkitan-Nya, Sang Putra Allah telah mendamaikan kita dengan Bapa, melahirkan kita kepada kehidupan baru dan menganugerahkan kita bagian dalam keputraan ilahi-Nya. Melalui iman dan baptisan, batin kita telah diubah rupa; sekarang, setelah "mengenakan Kristus", kita telah menjadi ciptaan baru. Jatidiri baru ini melampaui segenap perbedaan etnis, sosial dan keagamaan lainnya : di dalam Kristus, “tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan” (Gal 3:28). Kita umat Kristiani sering dapat menerima begitu saja kehidupan baru yang dianugerahkan pada saat kita dibaptis. Menyadari martabat kita sebagai putra dan putri Bapa, semoga kita memutuskan untuk mendamaikan setiap perpecahan, merangkul sepenuhnya kesatuan kita di dalam Kristus dan panggilan kita untuk menjadi saksi yang meyakinkan akan kesatuan yang kepadanya seluruh keluarga umat manusia dipanggil dalam rencana penyelamatan Allah (bdk. Gaudium et Spes, 1).

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 8 September 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 5 September 2021 : PENYEMBUHAN HATI DIAWALI DENGAN MENDENGARKAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini menghadirkan Yesus yang menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap. Apa yang mencolok dari cerita ini adalah cara Tuhan melakukan tanda yang luar biasa ini. Ia memisahkan orang tuli itu dari orang banyak, memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian Ia menengadah ke langit, menarik nafas dan berkata kepadanya : "Efata!", yang artinya Terbukalah! (bdk Mrk 7:33-34). Dalam penyembuhan lainnya, untuk kelemahan yang serius seperti kelumpuhan atau kusta, Yesus tidak melakukan banyak hal. Jadi mengapa Ia melakukan semua ini, meskipun orang-orang hanya meminta-Nya untuk meletakkan tangan-Nya atas orang yang sakit itu (bdk. ayat 32)? Mungkin karena kondisi orang itu memiliki nilai simbolis tertentu. Kondisi tuli juga merupakan simbol yang bisa mengatakan sesuatu kepada kita semua. Mengatakan tentang apa? Ketulian. Orang itu tidak dapat berbicara karena ia tidak dapat mendengar. Untuk menyembuhkan penyebab kelemahannya, Yesus, pada kenyataannya, pertama-tama meletakkan jari-Nya di telinga orang itu, sebelum mulutnya, telinganya terlebih dahulu.

 

Kita semua memiliki telinga, tetapi seringkali kita tidak dapat mendengar. Mengapa demikian? Saudara-saudari, ada tuli batin yang dapat kita mohonkan untuk dijamah dan disembuhkan oleh Yesus hari ini. Tuli batin, yang lebih buruk daripada tuli fisik, karena tuli hati. Tergesa-gesa, oleh begitu banyak hal yang harus dikatakan dan dilakukan, kita tidak menemukan waktu untuk berhenti dan mendengarkan orang-orang yang berbicara kepada kita. Kita beresiko menjadi kebal terhadap segala sesuatu dan tidak memberi ruang bagi orang-orang yang perlu didengar. Saya sedang memikirkan anak-anak, kaum muda, kaum tua, banyak yang tidak benar-benar membutuhkan kata-kata dan khotbah, tetapi butuh didengar. Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri : bagaimana kemampuanku untuk mendengarkan? Apakah aku memperkenankan diriku dijamah oleh kehidupan orang-orang? Apakah aku tahu bagaimana menghabiskan waktu dengan orang-orang yang dekat denganku untuk mendengarkan mereka? Hal ini berlaku bagi kita semua, tetapi secara khusus juga bagi para imam. Para gembala harus mendengarkan umat, tidak secara tergesa-gesa, tetapi mendengarkan dan melihat bagaimana ia dapat membantu, tetapi setelah mendengarkan. Dan kita semua: pertama dengarkan, lalu tanggapi. Pikirkan tentang kehidupan keluarga: berapa kali kita berbicara tanpa mendengarkan terlebih dahulu, mengulangi hal yang sama, selalu hal yang sama! Tidak mampu mendengarkan, kita selalu mengatakan hal yang sama, atau kita tidak memperkenankan orang lain menyelesaikan pembicaraan, mengungkapkan diri, dan kita menyela mereka. Memulai dialog sering kali terjadi bukan melalui kata-kata tetapi diam, dengan tidak memaksa, dengan sabar memulai sesuatu yang baru untuk mendengarkan orang lain, mendengar tentang perjuangan mereka dan apa yang mereka bawa di dalam. Penyembuhan hati dimulai dengan mendengarkan. Mendengarkan. Inilah yang memulihkan hati. "Tapi Bapa, ada orang membosankan yang mengatakan hal yang sama berulang-ulang..." Dengarkan mereka. Dan kemudian, ketika mereka selesai berbicara, kamu boleh berbicara, tetapi dengarkan semuanya.

 

Dan hal yang sama berlaku dengan Tuhan. Membanjiri-Nya dengan permohonan memang baik, tetapi lebih baik kita mendengarkan-Nya terlebih dahulu. Yesus meminta hal ini. Dalam Injil, ketika orang-orang menanyakan kepada-Nya tentang Hukum yang terutama, Ia menjawab : "Dengarlah, hai orang Israel". Kemudian ia menambahkan perintah pertama : “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu ... (dan) sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mrk 12:28-31). Tetapi pertama-tama, “Dengarlah, hai orang Israel”. Apakah kita ingat untuk mendengarkan Tuhan? Kita adalah orang Kristiani, tetapi terkadang dengan ribuan kata yang kita dengar setiap hari, kita tidak menemukan waktu untuk memperkenankan beberapa kata Injil bergema di dalam diri kita. Yesus adalah Sang Sabda : jika kita tidak berhenti untuk mendengarkan-Nya, Ia berjalan terus. Santo Agustinus berkata, “Aku takut Yesus akan melewatiku tanpa kuketahui”. Dan ketakutannya adalah membiarkan Ia lewat tanpa mendengarkan-Nya. Tetapi jika kita mendedikasikan waktu untuk Injil, kita akan menemukan rahasia kesehatan rohani kita. Inilah obatnya : setiap hari sedikit berdiam diri dan mendengarkan, lebih sedikit kata-kata yang tidak berguna dan lebih banyak Sabda Allah Tuhan. Selalu dengan Injil di sakumu yang dapat sangat membantu. Hari ini, seperti pada hari Pembaptisan kita, kita mendengar kata-kata Yesus yang ditujukan kepada kita : “Efata, terbukalah!” Bukalah telingamu. Yesus, aku ingin membuka diri untuk Sabda-Mu; Yesus, bukalah diriku untuk mendengarkan-Mu; Yesus, sembuhkan hatiku dari ketertutupan, sembuhkan hatiku dari ketergesa-gesaan, sembuhkan hatiku dari ketidaksabaran.

 

Semoga Santa Perawan Maria, yang terbuka untuk mendengarkan Sabda yang menjadi daging di dalam dirinya, membantu kita setiap hari untuk mendengarkan Putranya dalam Injil dan saudara-saudari kita dengan hati yang penurut, dengan hati yang sabar, dan dengan hati yang penuh perhatian.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Kemarin, di Catamarca (Argentina), Mamerto Esqui, seorang Saudara Dina dan Uskup Cordoba, dibeatifikasi. Akhirnya, Orang Argentina menjadi beato! Ia adalah seorang pewarta Sabda Allah yang bersemangat dalam membangun Gereja dan masyarakat sipil. Semoga keteladanannya membantu kita untuk selalu menyatukan doa dan kerasulan, serta melayani perdamaian dan persaudaraan. Marilah kita bertepuk tangan bersama untuk Sang Beato baru!

 

Di masa-masa sulit ini ketika rakyat Afghanistan mencari perlindungan, saya mendoakan rakyat yang paling rentan. Saya berdoa agar banyak negara sudi menyambut dan melindungi orang-orang yang mencari kehidupan baru. Saya juga mendoakan para pengungsi internal dan agar mereka dapat menerima bantuan dan perlindungan yang diperlukan. Semoga kaum muda Afghanistan menerima pendidikan, hal yang penting untuk pembangunan manusia. Dan semoga semua warga Afghanistan, baik di rumah, dalam perjalanan, atau di negara tuan rumah, hidup dengan bermartabat, dalam damai dan persaudaraan dengan sesama mereka.

 

Saya memastikan doa saya untuk rakyat Amerika Serikat yang dilanda badai dahsyat dalam beberapa hari terakhir. Semoga Tuhan menerima arwah orang-orang yang meninggal dan menopang mereka yang menderita akibat bencana ini.

 

Dalam beberapa hari mendatang Tahun Baru Yahudi, Rosh Hashanah, akan dirayakan. Dan dua hari raya kemudian, Yom Kippur dan Sukkot. Saya menyampaikan ucapan tulus kepada semua saudara dan saudari saya yang beragama Yahudi : semoga Tahun Baru me;impah dengan buah-buah perdamaian dan kebaikan bagi mereka yang berjalan dengan setia dalam Hukum Tuhan.

 

Hari Minggu depan saya akan pergi ke Budapest untuk penutupan Kongres Ekaristi Internasional. Setelah Misa, peziarahan saya akan berlanjut selama beberapa hari di Slovakia, dan akan ditutup pada hari Rabu berikutnya dengan perayaan rakyat Bunda Maria dari Dukacita, pelindung negara itu. Ini akan menjadi hari-hari yang ditandai dengan adorasi dan doa di jantung Eropa. Sementara saya menyapa dengan penuh kasih mereka yang telah mempersiapkan perjalanan ini - dan saya berterima kasih - dan mereka yang menunggu saya dan yang dengan sepenuh hati ingin saya temui, saya meminta semua orang untuk menemani saya dalam doa, dan saya mempercayakan kunjungan yang akan saya lakukan kepada pengantaraan begitu banyak pengakuan iman yang heroik, yang di tempat-tempat itu menjadi saksi Injil di tengah permusuhan dan penganiayaan. Semoga mereka membantu Eropa untuk memberikan kesaksian hari ini juga, bukan dalam kata-kata tetapi terutama dalam perbuatan, dengan karya belas kasih dan keramahan, kabar baik tentang Tuhan yang mengasihi kita dan menyelamatkan kita. Terima kasih!

 

Dan sekarang saya menyampaikan salam untukmu, umat Roma dan para peziarah yang terkasih! Secara khusus, saya menyampaikan harapan terbaik saya kepada Legio Maria, yang merayakan ulang tahunnya yang keseratus : Semoga Allah memberkatimu dan semoga Perawan Maria melindungimu! Saya menyapa kaum muda “Opera della Chiesa”, anak-anak Faenza dan anak-anak Castenedolo yang telah menerima Sakramen Krisma dan Komuni Pertama, kelompok dari Arta Terme serta umat Polandia dan Lituania yang ditemani oleh teman-teman mereka dari Abruzzo.

 

Hari ini adalah peringatan Santa Teresa dari Kalkuta, yang dikenal semua orang sebagai Bunda Teresa. Tepuk tangan meriah! Saya menyampaikan salam kepada seluruh anggota tarekat Misionaris Cinta Kasih, yang bekerja di seluruh dunia dan sering memberikan pelayanan yang heroik. Secara khusus saya memikirkan Suster-suster “Dono di Maria” (tempat penampungan tunawisma Karunia Maria), di sini di Vatikan.

 

Kepada semuanya, saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang dan sampai jumpa!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 1 September 2021: KATEKESE TENTANG SURAT SANTO PAULUS KEPADA JEMAAT GALATIA (BAGIAN 7) : ORANG-ORANG GALATIA YANG BODOH

Saudara dan saudari, selamat pagi!

 

Kita akan melanjutkan penjelasan tentang Surat Santo Paulus kepada Jemaat Galatia. Ini bukan sesuatu yang baru, penjelasan ini, sesuatu yang merupakan kepunyaan saya : apa yang sedang kita pelajari adalah apa yang dikatakan Santo Paulus sehubungan dengan perselisihannya yang sangat serius dengan orang-orang Galatia. Dan apa yang sedang kita pelajari tersebut juga merupakan sabda Allah, karena termasuk ke dalam Alkitab. Apa yang sedang kita pelajari bukan pula sesuatu yang dibuat-buat oleh seseorang : tidak. Sesuatu yang terjadi pada saat itu dan yang dapat terulang kembali. Ini semata-mata sebuah katekese tentang Sabda Allah yang terungkap dalam Surat Santo Paulus kepada Jemaat Galatia; tidak ada yang lain. Hal ini harus senantiasa diingat. Dan dalam katekese sebelumnya kita telah melihat bagaimana Rasul Paulus menunjukkan kepada orang-orang Kristen perdana di Galatia betapa berbahayanya meninggalkan jalan menyambut Injil yang telah mulai mereka tempuh. Memang, resikonya adalah tunduk pada formalisme, yang merupakan salah satu godaan yang mengarah pada kemunafikan, yang kita bicarakan dalam kesempatan lain. Tunduk pada formalisme, dan menyangkal martabat baru yang telah mereka terima : martabat orang-orang yang ditebus oleh Kristus. Bagian yang baru saja kita dengar adalah awal bagian kedua Surat Santo Paulus kepada Jemaat Galatia. Sejauh ini, Paulus telah berbicara tentang hidup dan panggilannya : tentang bagaimana rahmat Allah telah mengubah keberadaannya, menempatkannya sepenuhnya pada pelayanan penginjilan. Pada titik ini, ia secara langsung menantang orang-orang Galatia : di hadapan mereka ia menempatkan pilihan yang telah mereka buat dan keadaan mereka saat ini, yang dapat meniadakan pengalaman rahmat yang telah mereka jalani.

 

Dan istilah yang digunakan Rasul Paulus untuk berbicara kepada orang-orang Galatia tentu saja tidak santun : kita telah mendengar. Dalam Surat-surat lainnya mudah ditemukan ungkapan-ungkapan seperti “Saudara-saudara” atau “teman-teman terkasih”; di sini tidak, karena ia murka. Ia mengatakan "orang-orang Galatia" secara umum dan tidak kurang dari dua kali menyebut mereka "bodoh", yang bukan istilah yang santun. Bodoh, tidak berakal, dapat berarti banyak hal… Ia melakukannya bukan karena mereka tidak cerdas, tetapi karena, hampir tanpa menyadarinya, mereka beresiko kehilangan iman kepada Kristus yang telah mereka terima dengan begitu antusias. Mereka bodoh karena mereka tidak menyadari bahwa ada bahaya kehilangan harta yang berharga, keindahan, kebaruan Kristus. Keheranan dan kesedihan Rasul Paulus jelas. Bukan tanpa kepahitan, ia menghasut orang-orang Kristiani tersebut untuk mengingat pemberitaan pertamanya, yang menawarkan kepada mereka kemungkinan untuk mencapai kebebasan baru yang hingga kini tidak diharapkan.

 

Rasul Paulus mengajukan pertanyaan kepada orang-orang Galatia, dengan maksud untuk menggoyahkan hati nurani mereka : inilah mengapa begitu kuat. Pertanyaan retoris, karena orang-orang Galatia sangat menyadari bahwa iman mereka kepada Kristus adalah buah rahmat yang diterima melalui pemberitaan Injil. Ia membawa mereka kembali ke titik awal panggilan Kristiani. Kata yang mereka dengar dari Paulus berfokus pada kasih Allah, yang sepenuhnya terwujud dalam wafat dan kebangkitan Yesus. Paulus tidak dapat menemukan ungkapan yang lebih meyakinkan tentang apa yang mungkin telah ia ulangi kepada mereka beberapa kali dalam pengajarannya : “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20). Paulus tidak ingin mengetahui apa-apa selain Kristus yang disalibkan (bdk. 1Kor 2:2). Orang-orang Galatia harus memperhatikan peristiwa ini, tanpa membiarkan diri mereka terganggu oleh pemberitaan-pemberitaan lain. Singkatnya – Paulus bermaksud mendesak orang-orang Kristiani tersebut untuk menyadari apa yang dipertaruhkan, sehingga mereka tidak membiarkan diri mereka terpesona oleh suara sirene yang ingin membawa mereka kepada keagamaan yang semata-mata berlandaskan ketaatan peraturan yang secermat-cermatnya. Karena mereka, para pengkhotbah baru yang telah tiba di sana di Galatia, meyakinkan orang-orang Galatia bahwa mereka harus berbalik dan kembali kepada peraturan yang telah mereka patuhi dan sempurnakan sebelum kedatangan Kristus, yang merupakan kecuma-cumaan keselamatan.

 

Selain itu, orang-orang Galatia sangat memahami apa yang dimaksudkan Rasul Paulus. Mereka tentu saja memiliki pengalaman akan karya Roh Kudus dalam komunitas mereka : seperti dalam Gereja-Gereja lain, cinta kasih dan berbagai karisma telah mewujudkan diri di antara mereka juga. Ketika diuji, mereka harus menjawab bahwa apa yang mereka alami adalah buah kebaruan Roh. Oleh karena itu, awal kedatangan mereka kepada iman adalah prakarsa Allah, bukan prakarsa manusia. Roh Kudus telah menjadi perantara pengalaman mereka; kini menempatkan-Nya di latar belakang guna memberikan keutamaan pada karya mereka – yaitu, penggenapan aturan-aturan Hukum Taurat – akan merupakan sebuah kebodohan. Kekudusan berasal dari Roh Kudus dan merupakan penebusan cuma-cuma berkat Yesus : hal ini membenarkan kita.

 

Dengan cara ini, Santo Paulus mengajak kita juga untuk bercermin : bagaimana kita menghayati iman kita? Apakah kasih Kristus, yang disalibkan dan bangkit kembali, tetap menjadi pusat kehidupan sehari-hari kita sebagai sumber keselamatan, atau apakah kita puas dengan beberapa formalitas keagamaan untuk menyelamatkan hati nurani kita? Bagaimana kita menghayati iman kita? Apakah kita terikat pada harta yang berharga, pada keindahan kebaruan Kristus, atau apakah kita lebih menyukai sesuatu yang menarik kita sesaat tetapi kemudian meninggalkan batin kita kosong? Hal-hal fana sering mengetuk pintu sepanjang hari-hari kita, tetapi hal-hal fana merupakan khayalan yang menyedihkan, yang membuat kita tunduk pada kedangkalan dan menghalangi kita untuk membedakan apa yang benar-benar layak untuk dihayati. Saudara dan saudari, marilah kita tetap yakin bahwa, bahkan ketika kita tergoda untuk berpaling, Allah masih terus memberikan karunia-karunia-Nya. Sepanjang sejarah, bahkan hari ini, terjadi hal-hal yang mirip dengan apa yang terjadi di Galatia. Bahkan hari ini, orang-orang datang dan mencela kita, mengatakan, “Tidak, kekudusan ada dalam aturan-aturan ini, dalam hal-hal ini, kamu harus melakukan ini dan itu”, dan menawarkan keagamaan yang tidak lentur, ketidaklenturan yang mengambil dari diri kita kebebasan dalam Roh yang diberikan kepada kita berkat penebusan Kristus. Waspadalah terhadap kekakuan yang mereka tawarkan kepadamu : hati-hatilah. Karena di balik setiap ketidaklenturan ada sesuatu yang buruk, yang bukan Roh Allah. Dan karena alasan ini, Surat ini akan membantu kita untuk tidak mendengarkan tawaran-tawaran yang agak fundamentalis ini yang membuat kita mundur dalam kehidupan rohani kita, dan akan membantu kita maju terus dalam panggilan Paskah Yesus. Inilah yang ditegaskan Rasul Paulus kepada Jemaat Galatia ketika ia mengingatkan mereka bahwa Bapa “menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat di antara kamu" (3:5). Ia berbicara dalam bentuk waktu sekarang, ia tidak mengatakan "Bapa telah menganugerahkan Roh kepada kamu", bab 3, ayat 5, tidak : ia mengatakan - "menganugerahkan"; ia tidak mengatakan, "telah melakukan", ia mengatakan "melakukan". Karena, terlepas dari segala kesulitan yang mungkin kita hadapi berkenaan dengan perbuatan-perbuatan-Nya, Allah tidak meninggalkan kita, melainkan tinggal bersama kita dalam belas kasih-Nya. Ia seperti bapa yang naik ke teras setiap hari untuk melihat apakah anak laki-lakinya pulang itu : kasih Bapa tidak pernah membuat kita lelah. Marilah kita memohon kebijaksanaan untuk senantiasa menyadari kenyataan ini, dan menolak kaum fundamentalis yang menawarkan kepada kita kehidupan asketisme jadi-jadian, yang jauh dari kebangkitan Kristus. Asketisme perlu, tetapi asketisme yang bijaksana, bukan jadi-jadian.

 

[Sambutan Khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohon sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari terkasih,

 

Dalam lanjutan katekese kita tentang Surat Santo Paulus kepada Jemaat Galatia, kita telah melihat bagaimana Rasul Paulus menekankan kehidupan baru di dalam Kristus, yang membebaskan orang Kristiani dari keagamaan yang semata-mata berlandaskan ketaatan terhadap peraturan secermat-cermatnya. Paulus mengingatkan Jemaat Galatia tentang rahmat keselamatan yang mereka terima melalui iman dalam pesan Injil tentang wafat dan kebangkitan Kristus, serta pengalaman mereka berkenaan dengan pencurahan Roh Kudus di tengah-tengah mereka. Paulus juga menunjukkan pengalaman pribadinya berkenaan dengan rahmat dan kebebasan yang dibawa berkat iman kepada Yesus yang disalibkan : “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20). Seraya berbicara kepada Jemaat Galatia, Rasul Paulus juga berbicara kepada kita; ia mengundang kita masing-masing untuk bersukacita dalam kebenaran yang telah kita terima melalui iman kepada Kristus dan memberikan kesaksian yang meyakinkan tentang belas kasih Allah dengan cara kita menjalani kehidupan sehari-hari.