Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 13 Oktober 2021 : KATEKESE TENTANG SURAT SANTO PAULUS KEPADA JEMAAT GALATIA (BAGIAN 11) - KEBEBASAN KRISTIANI, RAGI PEMBEBASAN UNIVERSAL

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam rangkaian perjalanan katekese kita tentang Surat Rasul Paulus kepada Jemaat Galatia, kita telah dapat memusatkan perhatian pada apa yang menurut Santo Paulus merupakan inti kebebasan : fakta bahwa, dengan wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, kita telah dibebaskan dari perbudakan dosa dan maut. Dengan kata lain, kita bebas karena kita telah dibebaskan, dibebaskan oleh rahmat – bukan dengan ganjaran, dibebaskan oleh kasih, yang menjadi hukum tertinggi dan baru dalam kehidupan Kristiani. Kasih : kita bebas karena kita dibebaskan dengan cuma-cuma. Inilah, sesungguhnya, titik pokoknya.

 

Hari ini saya ingin menekankan bagaimana kebaruan kehidupan ini membuka diri kita untuk menyambut setiap orang dan budaya, dan seraya membuka setiap orang dan budaya untuk kebebasan yang lebih besar. Sesungguhnya, Santo Paulus mengatakan bahwa bagi orang-orang yang mengikuti Kristus, tidak lagi penting apakah mereka orang Yahudi atau orang bukan Yahudi. Satu-satunya hal yang penting adalah “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal 5:6). Percaya bahwa kita telah dibebaskan, dan percaya kepada Yesus Kristus yang membebaskan kita : inilah iman yang bekerja oleh kasih. Para pencela Paulus – para fundamentalis yang telah tiba di sana – menyerangnya atas hal baru ini, mengklaim bahwa ia telah mengambil posisi ini dari oportunisme pastoral, atau lebih tepatnya “berkenan kepada semua orang”, meminimalkan tuntutan yang diterima dari tradisi keagamaannya yang lebih sempit. Inilah argumen yang sama dari kaum fundamentalis dewasa ini : sejarah selalu terulang. Seperti yang dapat kita lihat, kritik terhadap setiap kebaruan injili bukan hanya pada zaman kita, tetapi memiliki sejarah panjang di baliknya. Namun, Paulus tidak tinggal diam. Ia menjawab dengan parrhesia - sebuah kata Yunani yang menunjukkan keberanian, kekuatan - dan ia berkata, "Adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” (Gal 1:10). Dalam surat pertamanya kepada Jemaat Tesalonika ia telah mengungkapkan dirinya dalam istilah yang sama, mengatakan bahwa dalam khotbahnya ia tidak pernah “bermulut manis ... dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi; ... juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia” (1 Tes 2:5-6), yang merupakan cara “berpura-pura”; iman yang bukan iman, iman keduniawian.

 

Pemikiran Paulus sekali lagi menunjukkan kedalaman yang terilhami. Baginya, menyambut iman bukan berarti meninggalkan inti budaya dan tradisi, tetapi apa yang dapat menghalangi kebaruan dan kemurnian Injil semata. Karena kebebasan yang diperoleh melalui wafat dan kebangkitan Tuhan tidak menimbulkan pertikaian dengan budaya atau dengan tradisi yang telah kita terima, melainkan memperkenalkan ke dalamnya kebebasan baru, kebaruan yang membebaskan, yaitu kebaruan Injil. Memang, pembebasan yang diperoleh melalui baptisan memungkinkan kita untuk memperoleh martabat penuh anak-anak Allah, sehingga, seraya kita tetap tertanam kuat dalam akar budaya kita, pada saat yang sama kita membuka diri terhadap universalisme iman yang masuk ke dalam setiap budaya, mengenali inti kebenaran yang ada, dan mengembangkannya, menyempurnakan kebaikan yang terkandung di dalamnya. Menerima bahwa kita telah dibebaskan oleh Kristus - sengsara-Nya, wafat-Nya, kebangkitan-Nya - juga berarti menerima dan membawa kepenuhan kepada berbagai tradisi masing-masing orang. Kepenuhan sejati.

 

Dalam panggilan menuju kebebasan kita menemukan arti sebenarnya inkulturasi Injil. Apa arti sebenarnya ini? Mampu mewartakan Kabar Baik Kristus Sang Juru Selamat dengan menghormati kebaikan dan kebenaran yang ada dalam budaya. Ini tidak mudah! Ada banyak godaan untuk memaksakan model kehidupan kita seolah-olah yang paling berkembang dan paling menarik. Berapa banyak kesalahan yang telah dibuat dalam sejarah penginjilan dengan berusaha memaksakan satu model budaya! Keseragaman sebagai aturan hidup tidak kristiani! Kesatuan ya, keseragaman tidak! Kadang-kadang, bahkan kekerasan tidak terhindarkan untuk membuat berlakunya satu sudut pandang. Pikirkan peperangan. Dengan cara ini, Gereja telah kehilangan kekayaan banyak ungkapan lokal yang dibawa serta oleh tradisi budaya seluruh bangsa. Tetapi inilah kebalikan kemerdekaan kristiani! Sebagai contoh, saya diingatkan tentang pendekatan kerasulan yang didirikan di Tiongkok oleh Pastor Ricci, atau di India oleh Pastor De Nobili… [Beberapa orang mengatakan] “Tidak, ini tidak kristiani!” Ya, kristiani, ada dalam budaya bangsa.

 

Singkatnya, visi kebebasan Paulus sepenuhnya tercerahkan dan berbuah oleh misteri Kristus, yang dalam penjelmaan-Nya - seperti diingatkan oleh Konsili Vatikan II - dengan cara tertentu mempersatukan diri-Nya dengan setiap orang (bdk. Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, 22 ). Dan ini berarti tidak ada keseragaman, malah ada keragaman, tetapi keragaman yang bersatu. Oleh karena itu kewajiban untuk menghormati asal usul budaya setiap orang, menempatkannya dalam ruang kebebasan yang tidak dibatasi oleh pemaksaan apa pun yang didiktekan oleh satu budaya yang dominan. Inilah makna menyebut diri kita Katolik, berbicara tentang Gereja Katolik. Bukanlah suatu denominasi sosiologis untuk membedakan kita dari umat Kristiani lainnya; Katolik adalah kata sifat yang berarti universal : katolik, universalitas. Universal, yaitu Katolik, Gereja, berarti bahwa Gereja mengandung dalam dirinya, dalam kodratnya, keterbukaan untuk semua orang dan budaya sepanjang masa, karena Kristus lahir, wafat dan bangkit untuk semua orang.

 

Selain itu, budaya pada hakikatnya adalah perubahan rupa terus-menerus. Jika kita berpikir tentang bagaimana kita dipanggil untuk mewartakan Injil dalam momen sejarah perubahan budaya yang besar ini, di mana teknologi yang semakin maju tampaknya lebih unggul. Jika kita berbicara tentang iman seperti yang kita lakukan di abad-abad sebelumnya, kita akan menghadapi risiko tidak lagi dipahami oleh generasi baru. Kebebasan iman kristiani – kebebasan kristiani – tidak menunjukkan visi hidup dan budaya yang statis, melainkan visi yang dinamis, dan bahkan visi yang dinamis dalam tradisi. Tradisi tumbuh, tetapi selalu dengan kodrat yang sama. Oleh karena itu, janganlah kita mengklaim memiliki kebebasan. Kita telah menerima karunia diperhatikan. Sebaliknya, kebebasan meminta kita masing-masing untuk terus bergerak, berorientasi pada kepenuhannya. Kondisi para peziarah; keadaan para musafir, dalam keluaran terus-menerus : dibebaskan dari perbudakan untuk berjalan menuju kepenuhan kebebasan. Dan inilah karunia besar yang diberikan Yesus Kristus kepada kita. Tuhan telah membebaskan kita dari perbudakan secara cuma-cuma, dan telah menempatkan kita di jalan untuk berjalan dalam kebebasan penuh.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok-kelompok dari Amerika Serikat. Di bulan Oktober ini, melalui perantaraan Bunda Rosario, semoga kita bertumbuh dalam kemerdekaan Kristiani yang kita terima saat pembaptisan. Atas kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan. Semoga Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari terkasih,

 

Dalam lanjutan katekese kita tentang Surat Santo Paulus kepada Jemaat Galatia, kita telah melihat bahwa hidup kebebasan baru kita di dalam Kristus datang sebagai karunia Allah yang tidak layak melalui baptisan, yang membuat kita ikut ambil bagian dalam sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan yang menyelamatkan. Kita telah dibebaskan oleh kasih, yang menjadi hukum baru dan tertinggi dalam kehidupan kristiani. Pesan Injil pembebasan kita ini bersifat universal, ditujukan kepada semua orang, dan kepada setiap bangsa dan budaya. Memang, Injil dimaksudkan untuk “dibudayakan” di setiap waktu dan tempat. Katolisitas Gereja, universalitasnya, tidak ditemukan dalam keseragaman gaya atau kebiasaan, atau penerapan salah satu model budaya, tetapi dalam penghormatannya terhadap semua yang baik dan benar dalam setiap orang dan budaya. Sementara Gereja berusaha untuk menginkulturasi Injil dalam budaya masa kini, termasuk teknologi dan budaya media yang berkembang pesat saat ini, semoga kita menanggapi secara kreatif dalam mewartakan kepada semua orang Kabar Baik tentang kebebasan yang dimenangkan bagi kita oleh Kristus Sang Juruselamat universal.

____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 13 Oktober 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 Oktober 2021 : KESELAMATAN ADALAH KARUNIA, BUKAN TAWAR-MENAWAR

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Liturgi hari ini menawarkan kita perjumpaan antara Yesus dan seseorang yang "memiliki banyak harta" (Mrk 10:22), dan yang tercatat dalam sejarah sebagai "orang muda yang kaya" (bdk. Mat 19:20-22). Kita tidak tahu namanya. Injil Markus sebenarnya berbicara tentang dia sebagai “seseorang”, tanpa menyebutkan usia atau namanya, menunjukkan bahwa kita semua dapat melihat diri kita di dalam orang ini, seolah-olah dalam sebuah cermin. Perjumpaannya dengan Yesus, sesungguhnya, memungkinkan kita untuk menguji iman kita. Membaca ini, saya menguji diri saya berkenaan iman saya.

 

Orang itu mengawali dengan sebuah pertanyaan : “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" (ayat 17). Perhatikan kata kerja yang digunakannya : “harus berbuat” – “memperoleh”. Inilah paham keagamaannya : suatu kewajiban, suatu perbuatan untuk memperoleh; saya melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa yang saya butuhkan. Justru inilah hubungan komersial dengan Allah, sebuah quid pro quo (kompensasi). Iman, di sisi lain, bukanlah ritual mekanis yang dingin, "harus-berbuat-memperoleh". Ini adalah pertanyaan tentang kebebasan dan kasih. Iman adalah pertanyaan tentang kebebasan, iman adalah sebuah pertanyaan tentang kasih. Inilah ujian pertama : apakah iman bagiku? Jika iman terutama merupakan tugas atau tawar-menawar, kita keluar jalur, karena keselamatan adalah karunia dan bukan kewajiban, iman cuma-cuma dan tidak dapat dibeli. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membebaskan diri kita dari iman komersial dan mekanis, yang menyindir halus gambaran palsu tentang Allah yang menghitung dan mengendalikan, bukan seorang bapa. Dan sangat sering dalam hidup kita mengalami hubungan iman "komersial" ini : Saya melakukan ini, agar Allah sudi memberikan itu kepadaku.

 

Yesus, pada langkah kedua, membantu orang ini dengan menawarkan kepadanya wajah Allah yang sebenarnya. Memang, teks mengatakan, "Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya" (ayat 21) : inilah Allah! Di sinilah iman lahir dan dilahirkan kembali : bukan dari kewajiban, bukan dari sesuatu yang harus dilakukan atau dibayar, tetapi dari pandangan kasih untuk disambut. Dengan cara ini kehidupan Kristiani menjadi indah, jika tidak berlandaskan kemampuan dan rencana kita; kehidupan Kristiani berlandaskan pandangan Allah. Apakah imanmu, apakah imanku lelah? Apakah kamu ingin menghidupkannya kembali? Carilah tatapan Allah : duduk dalam adorasi, perkenankan dirimu diampuni dalam Pengakuan Dosa, berdiri di hadapan Yang Tersalib. Singkatnya, perkenankan dirimu dikasihi oleh-Nya. Inilah titik awal iman : memperkenankan diri kita dikasihi oleh-Nya, oleh Bapa.

 

Setelah pertanyaan dan pandangan, ada – langkah ketiga dan terakhir – sebuah undangan dari Yesus, yang mengatakan : “Hanya satu lagi kekuranganmu". Apa yang kurang dari orang kaya itu? Memberi, kemurahan hati. "Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin” (ayat 21). Mungkin itu juga yang kita lewatkan. Seringkali, kita melakukan yang paling minimal, sedangkan Yesus mengajak kita untuk melakukan yang semaksimal mungkin. Berapa kali kita puas dengan melakukan tugas kita – aturan-aturan, beberapa doa, dan banyak hal seperti itu – sedangkan Allah, yang memberi kita hidup, meminta kita untuk dorongan hidup! Dalam Bacaan Injil hari ini kita melihat dengan jelas bagian ini dari kewajiban menjadi memberi; Yesus memulai dengan mengingatkan berbagai perintah : “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri ….”, dan seterusnya (ayat 19) dan sampai pada tawaran bernada positif : “Pergilah, juallah, berikanlah, ikutlah Aku!" (bdk. ayat 21). Iman tidak dapat dibatasi pada "jangan", karena hidup Kristiani adalah sebuah "ya" dan sebuah "ya" kasih.

 

Saudara dan saudari terkasih, iman tanpa memberi, iman tanpa kecuma-cumaan adalah iman yang tidak lengkap. Kita bisa membandingkannya dengan makanan yang kaya gizi yang tetap tidak memiliki rasa, atau permainan yang kurang lebih dimainkan dengan baik, tetapi tanpa tujuan : tidak, itu tidak enak, kurang "garam". Iman tanpa memberi, tanpa kecuma-cumaan, tanpa amal, membuat kita sedih pada akhirnya : seperti orang yang "mukanya muram" dan pulang ke rumah dengan "kesedihan", meskipun ia secara pribadi telah dipandang dengan kasih oleh Yesus. Hari ini kita dapat bertanya pada diri kita sendiri : “Di titik manakah imanku? Apakah aku mengalaminya sebagai sesuatu yang mekanis, seperti hubungan kewajiban atau kepentingan dengan Allah? Apakah aku ingat untuk memeliharanya dengan memperkenankan diriku dipandang dan dikasihi oleh Yesus?” Memperkenankan diri dipandang dan dikasihi oleh Yesus; memperkenankan Yesus memandang kita, mengasihi kita. “Dan, tertarik oleh-Nya, apakah aku menanggapi dengan bebas, dengan kemurahan hati, dengan sepenuh hati?”.

 

Semoga Perawan Maria, yang mengatakan "ya" penuh kepada Allah, "ya" tanpa "tetapi" - tidaklah mudah mengatakan "ya" tanpa "tetapi" : Bunda Maria melakukan hal itu, "ya" tanpa "tetapi" - marilah kita menikmati keindahan menjadikan hidup sebagai karunia.


[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]


Saudara dan saudari terkasih,

 

Hari ini, sekali lagi, saya bersukacita mengumumkan pemberitaan para beato/beata baru. Kemarin, María Lorenza Longo, istri dan ibu abad keenam belas, dibeatifikasi di Napoli. Sebagai seorang janda, di Napoli, ia mendirikan rumah sakit untuk orang yang penyakitnya tidak dapat sisembuhkan dan Klaris Miskin Kapusin. Seorang perempuan dengan iman yang besar dan hidup doa yang kuat, ia melakukan semua yang ia bisa untuk kebutuhan orang miskin dan orang menderita. Juga hari ini, di Tropea, Calabria, Pastor Francesco Mottola, pendiri Oblat Hati Kudus, yang meninggal pada tahun 1969, dibeatifikasi. Seorang gembala yang bersemangat dan pewarta Injil yang tak kenal lelah, ia adalah saksi keteladanan imamat yang hidup dalam kasih dan kontemplasi. Marilah kita bertepuk tangan untuk para beato/beata baru ini!

 

Hari ini, dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, saya ingin mengingat saudara-saudari kita yang terkena gangguan mental dan juga para korban, seringkali kaum muda, bunuh diri. Marilah kita mendoakan mereka dan keluarga mereka, agar mereka tidak dibiarkan sendirian atau didiskriminasi, tetapi disambut dan didukung.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara : keluarga, kelompok, lembaga dan umat perorangan. Secara khusus, saya menyapa umat Bussolengo dan Novoli; para penerima sakramen krisma dari Paroki Kebangkitan, Roma, dan Cooperativa del Sole of Corbetta. Saya juga melihat ada orang Montella, dan saya menyapa mereka... Dengan gambar Suster Bernadet. Marilah kita mendoakannya agar segera dikanonisasi.

 

Kepada kamu semua, saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan jangan lupa untuk doakan saya. Selamat menikmati makan siang dan sampai jumpa!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 6 Oktober 2021 : KATEKESE TENTANG SURAT SANTO PAULUS KEPADA JEMAAT GALATIA (BAGIAN 10) - KRISTUS TELAH MEMERDEKAKAN KITA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini kita kembali bercermin pada Surat Rasul Paulus kepada Jemaat Galatia yang di dalamnya Santo Paulus menulis kata-kata abadi tentang kemerdekaan Kristiani. Apa itu kemerdekaan Kristiani? Hari ini, kita akan bercermin pada tema ini : kemerdekaan Kristiani.

 

Kemerdekaan adalah harta yang benar-benar dihargai hanya ketika ia lenyap. Bagi kebanyakan dari kita yang terbiasa dengan kemerdekaan, seringkali kemerdekaan tampak sebagai hak yang diperoleh ketimbang karunia dan warisan yang harus dipertahankan. Berapa banyak kesalahpahaman yang ada di sekitar tema kemerdekaan, dan berapa banyak pandangan berbeda yang berbenturan selama berabad-abad!

 

Dalam perkara Jemaat Galatia, Rasul Paulus tidak tahan karena umat Kristiani tersebut, setelah mengetahui dan menerima kebenaran Kristus, membiarkan diri mereka tertarik pada tawaran-tawaran yang memperdaya, bergerak dari kemerdekaan menuju perbudakan: dari kehadiran Yesus yang memerdekakan menuju perbudakan dosa, menuju legalisme, dan lain sebagainya. Bahkan dewasa ini, legalisme adalah salah satu persoalan kita karena begitu banyak umat Kristiani berlindung dalam legalisme, dalam cara berpikir yang menyesatkan. Oleh karena itu Paulus mengundang umat Kristiani untuk berdiri teguh dalam kemerdekaan yang telah mereka terima dalam baptisan, tanpa membiarkan diri mereka sekali lagi ditempatkan di bawah "kuk perhambaan" (Gal 5:1). Ia benar-benar iri dengan kemerdekaan ini. Ia sadar bahwa beberapa “saudara palsu” – ia menyebut mereka – telah menyelinap ke dalam jemaat untuk “memata-matai” – inilah apa yang ia katakan – “kemerdekaan yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, agar mereka dapat membawa kita ke perhambaan” (Gal 24) – berbalik ke belakang. Dan Paulus tidak bisa mentolerir hal ini. Sebuah pemberitaan yang akan menghalangi kemerdekaan dalam Kristus tidak akan pernah injili. Saya mungkin penganut Pelagian atau Jansenis atau semacamnya, tetapi tidak injili. Kamu tidak akan pernah bisa memaksa dalam nama Yesus; kamu tidak dapat menjadikan siapa pun hamba di dalam nama Yesus yang memerdekakan kita. Kemerdekaan adalah karunia yang diberikan kepada kita dalam baptisan.

 

Tetapi terutama, ajaran Santo Paulus tentang kemerdekaan adalah positif. Rasul Paulus mengusulkan ajaran Yesus yang kita temukan juga dalam Injil Yohanes : "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (8:31-32). Oleh karena itu, panggilan terutama adalah tetap tinggal di dalam Yesus, sumber kebenaran yang memerdekakan kita. Oleh karena itu, kemerdekaan Kristiani berlandaskan dua pilar dasariah : pertama, kasih karunia Tuhan Yesus; kedua, kebenaran yang dinyatakan Kristus kepada kita dan yaitu diri-Nya sendiri.

 

Pertama-tama, kemerdekaan adalah karunia dari Tuhan. Kemerdekaan yang telah diterima Jemaat Galatia – dan kita seperti mereka dalam baptisan kita – adalah buah wafat dan kebangkitan Yesus. Rasul Paulus memusatkan seluruh pewartaannya pada Kristus, yang telah memerdekakannya dari ikatan kehidupan masa lalunya : hanya dari Dialah buah-buah kehidupan baru menurut aliran Roh. Sesungguhnya, kemerdekaan paling sejati, yaitu dari perhambaan dosa, mengalir dari Salib Kristus. Kita merdeka dari perbudakan dosa berkat Salib Kristus. Di sanalah, di mana Yesus membiarkan diri-Nya dipaku, menjadikan diri-Nya seorang hamba, Allah menempatkan sumber pembebasan pribadi manusia. Hal ini tidak pernah berhenti membuat kita heran : tempat di mana kebebasan kita masing-masing dilucuti, yaitu kematian, bisa menjadi sumber kemerdekaan. Tetapi inilah misteri kasih Allh! Tidak mudah dipahami, tetapi dihayati. Yesus sendiri telah menyatakannya ketika Ia mengatakan, "Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali" (Yoh 10:17-18). Yesus mencapai kemerdekaan penuh dengan menyerahkan diri-Nya hingga wafat; Ia tahu bahwa hanya dengan cara inilah Ia dapat memperolehkan kehidupan bagi semua orang.

 

Paulus, kita tahu, telah mengalami secara langsung misteri kasih ini. Karena alasan ini, ia mengatakan kepada Jemaat Galatia, dengan menggunakan ungkapan yang sangat berani: "Aku telah disalibkan dengan Kristus" (Gal 2:19). Dalam tindakan kesatuan tertinggi dengan Tuhan, ia tahu bahwa ia telah menerima karunia terbesar dalam hidupnya : kemerdekaan. Di kayu Salib, sesungguhnya, ia telah menyalibkan “dagingnya dengan segala hawa nafsu dan keinginannya” (5:24). Kita memahami betapa iman memenuhi Rasul Paulus, betapa besar keintimannya dengan Yesus. Dan sementara, di satu sisi, kita tahu hal ini adalah apa yang kita lewatkan, di sisi lain, kesaksian Rasul Paulus mendorong kita untuk berkembang dalam kehidupan kemerdekaan ini. Umat Kristiani merdeka, seharusnya merdeka, dan dipanggil untuk tidak kembali menjadi hamba peraturan dan hal-hal yang aneh.

 

Pilar kemerdekaan yang kedua adalah kebenaran. Dalam hal ini juga perlu diingat bahwa kebenaran iman bukanlah teori abstrak, melainkan kenyataan Kristus yang hidup, yang menyentuh makna kehidupan pribadi sehari-hari dan menyeluruh. Berapa banyak orang yang tidak pernah belajar, yang bahkan tidak tahu membaca dan menulis, tetapi telah memahami pesan Kristus dengan baik, yang memiliki kemerdekaan yang membuat mereka merdeka. Hikmat Kristus telah memasuki mereka melalui Roh Kudus dalam baptisan. Berapa banyak orang yang kita temukan yang menjalani kehidupan Kristus lebih baik daripada para teolog besar, misalnya, memberikan kesaksian yang luar biasa tentang kemerdekaan Injil. Kemerdekaan membuat merdeka sejauh mengubah hidup seseorang dan mengarahkannya ke arah yang baik. Agar benar-benar merdeka, kita tidak hanya perlu mengenal diri kita sendiri pada tingkat psikologis, tetapi terutama mengamalkan kebenaran tersebut dalam diri kita pada tingkat yang lebih mendalam — dan di sana, di dalam hati kita, membuka diri kita kepada rahmat Kristus. Kebenaran harus mengganggu kita – marilah kembali ke kata yang sangat kristiani ini : kegelisahan. Kita tahu bahwa ada umat Kristiani yang tidak pernah gelisah : hidup mereka selalu sama, tidak ada gerakan di dalam hati mereka, mereka tidak memiliki kegelisahan. Mengapa? Karena kegelisahan adalah tanda bahwa Roh Kudus bekerja di dalam diri kita dan kemerdekaan adalah kemerdekaan aktif, yang berasal dari rahmat Roh Kudus. Inilah sebabnya mengapa saya mengatakan bahwa kemerdekaan harus mengganggu kita, kemerdekaan harus terus-menerus mempertanyakan kita, sehingga kita dapat selalu semakin terjun ke dalam diri kita yang sesungguhnya. Dengan cara ini kita akan menemukan bahwa perjalanan kebenaran dan kemerdekaan adalah perjalanan yang sulit yang berlangsung seumur hidup. Tetap merdeka itu sulit, tetap merdeka adalah perjuangan; tetapi tetap merdeka bukan tidak mungkin. Keberanian, marilah kita membuat kemajuan tentang hal ini, itu akan baik untuk diri kita. SEbuah perjalanan di mana Kasih yang berasal dari Salib membimbing dan menopang kita : Kasih yang mengungkapkan kebenaran kepada kita dan memberi kita kemerdekaan. Inilah jalan menuju kebahagiaan. Kemerdekaan membuat kita merdeka, membuat kita penuh sukacita, membuat kita bahagia.

 

[Imbauan]

 

Kemarin, Konferensi Waligereja dan Konferensi Hidup Bakti di Prancis menerima laporan Komisi Independen mengenai pelecehan seksual dalam Gereja yang ditugaskan untuk mengevaluasi sejauh mana fenomena penyerangan dan kekerasan seksual yang dilakukan terhadap anak di bawah umur sejak tahun 1950 hingga sekarang. Sayangnya, sejumlah besar tidak terungkap. Kepada para korban, saya ingin mengungkapkan kesedihan dan rasa sakit saya atas trauma yang mereka alami dan rasa malu saya, rasa malu kami, rasa malu saya karena begitu lama Gereja tidak mampu menempatkan hal ini di pusat perhatiannya, meyakinkan mereka akan doa saya. Saya berdoa, dan marilah kita semua berdoa bersama : "Kemuliaan bagi Allah, rasa malu bagi kita" : ​​inilah saat yang memalukan. Saya mendorong para uskup dan kamu, saudara-saudara terkasih yang telah datang ke sini untuk berbagi momen ini, saya mendorong para uskup dan para pemimpin agama untuk terus melakukan segala kemungkinan agar tragedi serupa tidak terulang. Saya mengungkapkan kedekatan dan dukungan kebapaan saya kepada para imam di Prancis dalam menghadapi cobaan yang sulit tetapi bermanfaat ini, dan saya mengundang umat Katolik Prancis untuk memikul tanggung jawab guna menjamin kemungkinan Gereja menjadi rumah yang aman bagi semua orang. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok-kelompok dari Amerika Serikat. Atas kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan. Semoga Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang Surat Santo Paulus kepada Jemaat Galatia, sekarang kita membahas ajaran Rasul Paulus tentang kemerdekaan Kristiani. Bagi Paulus, kemerdekaan adalah karunia, buah kehidupan baru kita di dalam Kristus. Melalui baptisan, kita telah dimerdekakan dari belenggu dosa dan dimerdekakan untuk hidup berlimpah kasih dalam ketaatan kepada Injil. Yesus memberitahu kita, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku ... kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yoh 8:31-32). Kemerdekaan Kristiani dengan demikian berlandaskan rahmat Allah yang tidak sepantasnya dan kebenaran Kristus. Melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya, Kristus mengungkapkan kedalaman kasih Allah, dan mengajar kita bahwa pemberian diri kita sepenuhnya untuk melayani sesama, bahkan hingga wafat, adalah ciri kemerdekaan yang paling utama. Kebenaran yang dibawa Kristus sesungguhnya adalah kebenaran tentang diri kita. Perjalanan kita di sepanjang jalan kemerdekaan Kristiani tidak mudah, tetapi dibimbing dan ditopang oleh kasih Tuhan yang tersalib, dan oleh kebenaran-Nya yang memerdekakan, kita akan menemukan pemenuhan kita yang paling utama seturut rencana penyelamatan Allah.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 6 Oktober 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 3 Oktober 2021 : MENJADI KECIL AGAR DAPAT MENEMUKAN YESUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam Bacaan Injil liturgi hari ini kita melihat Yesus bereaksi agak tidak biasa : Ia marah. Dan yang paling mengejutkan, kemarahan-Nya bukan disebabkan oleh orang-orang Farisi yang mencobai-Nya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang sahnya perceraian, tetapi oleh murid-murid-Nya yang, untuk melindunginya dari orang banyak, memarahi beberapa anak yang dibawa kepada-Nya. Dengan kata lain, Tuhan tidak marah kepada mereka yang bertanya jawab dengan-Nya, tetapi dengan mereka yang, untuk membebaskan-Nya dari tanggung jawab, menjauhkan anak-anak daripada-Nya. Mengapa? Sebuah pertanyaan yang bagus : mengapa Tuhan melakukan hal ini?

 

Mari kita ingat – dalam Bacaan Injil dua hari Minggu yang lalu – Yesus, melakukan gerakan memeluk seorang anak kecil, mengidentifikasi diri-Nya dengan anak-anak kecil : Ia mengajarkan bahwa memang anak-anak kecil, yaitu, orang-orang yang bergantung pada orang lain, yang membutuhkan dan tidak dapat membalas, yang harus dilayani terlebih dahulu (bdk Mrk 9:35-37). Orang-orang yang mencari Allah menemukan-Nya di sana, dalam diri orang-orang kecil, dalam diri orang-orang yang membutuhkan : tidak hanya membutuhkan barang-barang materi, tetapi juga perawatan dan kenyamanan, seperti orang sakit, orang yang direndahkan, narapidana, imigran, orang yang meringkuk dalam penjara. Ia ada di sana : dalam diri orang-orang kecil. Inilah sebabnya Yesus marah : setiap penghinaan terhadap orang kecil, orang miskin, anak kecil, orang yang tidak berdaya, dilakukan terhadap-Nya.

 

Hari ini Tuhan mengangkat kembali ajaran ini dan menyempurnakannya. Bahkan, Ia menambahkan: “Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya” (Mrk 10:15). Inilah yang baru : murid tidak hanya harus melayani orang-orang kecil, tetapi juga mengakui dirinya sebagai orang kecil. Dan kita masing-masing, apakah kita mengakui diri kita kecil di hadapan Allah? Marilah kita memikirkannya, itu akan membantu kita. Kesadaran menjadi kecil, kesadaran perlunya keselamatan merupakan keharusan untuk menerima Tuhan. Kesadaran tersebut adalah langkah pertama dalam membuka diri kita kepada-Nya. Namun, seringkali kita melupakan hal ini. Dalam kemakmuran, dalam kesejahteraan, kita memiliki khayalan cukup diri, kita merasa cukup, kita tidak membutuhkan Allah. Saudara dan saudari, ini adalah tipu daya, karena kita masing-masing adalah orang yang membutuhkan, orang kecil. Kita harus mencari kekecilan kita dan mengenalinya. Dan di sana, kita akan menemukan Yesus.

 

Dalam hidup, mengakui kekecilan kita adalah titik awal untuk menjadi besar. Jika kita memikirkannya, kita tumbuh bukan berdasarkan kesuksesan dan hal-hal yang kita miliki, tetapi terutama di saat-saat sulit dan rapuh. Di sana, dalam kebutuhan kita, kita menjadi dewasa; di sana kita membuka hati kita kepada Allah, kepada sesama, kepada makna hidup. Marilah kita membuka mata kita untuk sesama. Marilah kita membuka mata kita, ketika kita kecil, kepada makna hidup yang sesungguhnya. Ketika kita merasa kecil dalam menghadapi suatu masalah, kecil di depan salib, suatu penyakit, ketika kita mengalami kelelahan dan kesepian, janganlah kita berkecil hati. Topeng kedangkalan sedang jatuh dan kelemahan radikal kita muncul kembali : itulah landasan bersama kita, harta kita, karena bersama Allah kelemahan bukanlah rintangan melainkan kesempatan. Inilah sebuah doa yang indah : “Tuhan, pandanglah kelemahan-kelemahanku …” dan perincilah kelemahan-kelemahan tersebut di hadapan-Nya. Inilah sikap yang baik di hadapan Allah.

 

Memang, justru dalam kelemahan itulah kita menemukan betapa Allah menjaga kita. Bacaan Injil hari ini mengatakan bahwa Yesus sangat lembut terhadap anak-anak kecil : “Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka” (ayat 16). Kesulitan dan situasi yang mengungkapkan kelemahan kita adalah kesempatan istimewa untuk mengalami kasih-Nya. Orang-orang yang berdoa dengan tekun mengetahui hal ini dengan baik : di saat-saat gelap atau sepi, kelembutan Allah terhadap kita menjadikan diri-Nya, bisa dikatakan, bahkan semakin hadir. Saat kita kecil, kita semakin merasakan kelembutan Allah. Kelembutan ini memberi kita kedamaian; kelembutan ini membuat kita bertumbuh, karena Allah mendekati kita di jalan-Nya, yaitu kedekatan, kasih sayang dan kelembutan. Dan, ketika kita merasa diri kita kecil, kecil, entah karena alasan apa, Allah mendekat, kita merasakan Ia semakin mendekat. Ia memberi kita kedamaian; Ia membuat kita tumbuh. Dalam doa Tuhan mendekatkan kita kepada-Nya, seperti seorang ayah dengan anaknya. Beginilah cara kita menjadi besar : bukan dalam kepura-puraan khayalan kecukupan diri kita – ini tidak membuat siapa pun menjadi besar – melainkan dalam kekuatan menempatkan segenap harapan kita kepada Bapa, seperti yang dilakukan anak-anak kecil, mereka melakukan hal ini.

 

Hari ini marilah kita memohonkan kepada Perawan Maria rahmat yang besar, rahmat kekecilan : menjadi anak-anak yang percaya kepada Bapa, yakin bahwa Ia tidak akan gagal menjaga kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya sangat sedih dengan apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di penjara Guayaquil, Ekuador. Pecahnya kekerasan yang mengerikan antara narapidana yang tergabung dalam geng yang saling bersaingan telah menyebabkan lebih dari seratus orang tewas dan banyak yang terluka. Saya mendoakan mereka dan keluarga mereka. Semoga Allah membantu kita menyembuhkan luka kejahatan, yang memperbudak kaum yang paling miskin. Dan semoga Ia membantu mereka yang bekerja setiap hari untuk menjadikan kehidupan penjara semakin manusiawi.

 

Saya ingin sekali lagi memohonkan dari Allah karunia perdamaian untuk negeri Myanmar tercinta : semoga tangan mereka yang tinggal di sana tidak lagi menghapus air mata rasa sakit dan kematian, tetapi bergabung bersama untuk mengatasi kesulitan dan bekerjasama untuk membawa perdamaian.

 

Hari ini, di Catanzaro, Maria Antonio Samà dan Gaetana Tolomeo, dua wanita yang didera imobilitas fisik sepanjang hidup mereka, akan dibeatifikasi. Ditopang oleh rahmat ilahi, mereka memeluk salib kelemahan mereka, mengubah rasa sakit mereka menjadi pujian bagi Tuhan. Tempat tidur mereka menjadi titik acuan rohani serta tempat doa dan pertumbuhan Kristiani bagi banyak orang yang menemukan kenyamanan dan harapan di sana. Marilah kita bertepuk tangan untuk kedua beata baru!

 

Pada hari Minggu pertama bulan Oktober ini, pikiran kita tertuju pada umat yang berkumpul di Tempat Suci Pompeii untuk pendarasan doa kepada Perawan Maria. Selama bulan ini, marilah kita bersama-sama memperbarui komitmen kita untuk berdoa Rosario Suci.

 

Saya menyapamu, umat Roma dan para peziarah terkasih! Secara khusus, umat Wépion, Keuskupan Namur, Belgia; kaum muda Uzzano, Keuskupan Pescia; dan kaum muda penyandang disabilitas yang berasal dari Modena, yang didampingi oleh Suster-suster Kecil Yesus Sang Pekerja dan para relawan. Dalam hal ini, hari ini di Italia adalah hari untuk mengenyahkan hambatan arsitektur : setiap orang dapat membantu masyarakat agar tidak seorang pun merasa dikecualikan. Terima kasih atas karyamu.

 

Kepada kamu semua, saya mengucapkan selamat hari Minggu. Juga kepada anak-anak Immacolata! Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu, dan sampai jumpa!

______


*(Peter Suriadi - Bogor, 3 Oktober)*