Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 15 Desember 2021 : KATEKESE TENTANG SANTO YOSEF (BAGIAN 4) - SANTO YOSEF, MANUSIA KEHENINGAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Marilah kita melanjutkan perjalanan kita bercermin pada Santo Yosef (Yusuf). Setelah menjabarkan lingkungan di mana ia tinggal, perannya dalam sejarah keselamatan dan ketulusannya serta Maria, tunangannya, hari ini saya ingin membahas aspek pribadi penting lainnya : keheningan. Sangat sering saat ini kita membutuhkan keheningan. Keheningan itu penting. Saya dikejutkan oleh sebuah ayat dari Kitab Kebijaksanaan yang dibaca dengan mengingat Natal, yang mengatakan : "Sebab sementara sunyi senyap meliputi segala sesuatu, firman-Mu yang mahakuasa melompat dari dalam sorga" (18:14-15). Saat paling hening, Allah mewujudkan diri-Nya. Memikirkan keheningan di zaman ini di mana keheningan tampaknya tidak memiliki banyak nilai adalah penting.

 

Keempat Injil tidak berisi satu kata pun yang diucapkan oleh Yosef (Yusuf) dari Nazareth : tidak sepatah katapun, ia tidak pernah berbicara. Ini tidak berarti bahwa ia pendiam, tidak : ada alasan yang lebih mendalam mengapa keempat Injil tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dengan keheningannya, Yosef (Yusuf) menegaskan apa yang ditulis Santo Agustinus : “Sejauh Sabda itu – yaitu, Sabda yang menjadi manusia – tumbuh di dalam diri kita, kata-kata makin berkurang”.[1] Sejauh Yesus, kehidupan rohani, tumbuh, kata-kata makin berkurang. Apa yang bisa kita gambarkan sebagai "burung beo", berbicara seperti burung beo, terus-menerus, sedikit berkurang. Yohanes Pembaptis sendiri, yaitu “suara orang yang berseru-seru di padang gurun : Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi Tuhan” (Mat 3:3), mengatakan dalam kaitannya dengan Sang Sabda, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30). Ini berarti Ia harus berbicara dan aku harus diam, dan melalui keheningannya, Yosef (Yusuf) mengundang kita untuk meninggalkan ruang bagi kehadiran Sang Sabda yang menjadi manusia, bagi Yesus.

 

Keheningan Yosef (Yusuf) bukan bersifat bisu, ia bukan pendiam; keheningan Yosef (Yusuf) penuh dengan mendengarkan, keheningan yang giat, keheningan yang memunculkan kedalamannya yang luar biasa. “Bapa mengucapkan sepatah kata, dan sepatah kata itu adalah Putra-Nya”, ulas Santo Yohanes dari Salib, Bapa mengucapkan sepatah kata dan sepatah kata itu adalah Putra-Nya - “dan sepatah kata itu selalu berbicara dalam keheningan abadi, dan dalam keheningan sepatah kata itu harus didengar oleh jiwa”.[2]

 

Yesus dibesarkan di “sekolah” ini, di rumah Nazaret, dengan teladan sehari-hari Maria dan Yosef (Yusuf). Dan tidak mengherankan bahwa Ia sendirian mencari ruang keheningan dalam hari-hari-Nya (bdk. Mat 14:23) dan mengundang murid-murid-Nya untuk memiliki pengalaman seperti itu dengan keteladanan : "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" (Mrk 6:31).

 

Alangkah baiknya jika kita masing-masing, mengikuti teladan Santo Yosef (Yusuf), mampu memulihkan ranah kehidupan kontemplatif ini, terbuka lebar dalam keheningan. Tetapi kita semua tahu dari pengalaman bahwa itu tidak mudah : keheningan membuat kita sedikit takut, karena keheningan meminta kita untuk menyelidiki diri kita sendiri dan menghadapi bagian dari diri kita yang sesungguhnya. Dan banyak orang takut akan keheningan, mereka harus berbicara, dan berbicara, dan berbicara, atau mendengarkan radio atau televisi… tetapi mereka tidak dapat menerima keheningan karena mereka takut. Filsuf Pascal mengamati bahwa "segenap ketidakbahagiaan manusia muncul dari satu fakta, bahwa mereka tidak dapat berdiam diri di ruangan mereka sendiri".[3]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, marilah kita belajar dari Santo Yosef (Yusuf) bagaimana mengolah ruang untuk keheningan yang di dalamnya Sabda lain dapat muncul, yaitu Yesus, Sang Sabda : Sabda Roh Kudus yang bersemayam di dalam diri kita, yang dibawa oleh Yesus. Tidak mudah untuk mengenali Suara itu, yang sangat sering dikacaukan dengan ribuan suara kekhawatiran, godaan, keinginan, dan harapan yang bersemayam di dalam diri kita; tetapi tanpa latihan yang justru datang dari pelaksanaan keheningan ini, lidah kita juga bisa merana. Tanpa pelaksanaan keheningan, lidah kita juga bisa merana. Alih-alih membuat kebenaran bersinar, justru bisa menjadi senjata yang berbahaya. Sesungguhnya perkataan kita bisa menjadi sanjungan, sesumbar, dusta, fitnah dan umpatan. Sebuah kenyataan yang tak dapat dipungkiri bahwa, sebagaimana kita diingatkan oleh Kitab Sirakh, “Sudah banyak yang tewas karena mata pedang, tetapi belum sebanyak yang gugur karena lidah” (28:18), lidah membunuh lebih banyak daripada mata pedang. Yesus mengatakan dengan jelas : siapa pun yang berbicara buruk tentang saudara atau saudarinya, siapa pun yang memfitnah sesamanya, adalah seorang pembunuh (bdk. Mat 5:21-22). Membunuh dengan lidah. Kita tidak percaya hal ini, tetapi merupakan kebenaran. Marilah kita sedikit berpikir tentang saat-saat kita telah membunuh dengan lidah : kita akan malu! Tetapi akan ada baiknya untuk kita, amat sangat baik.

 

Kebijaksanaan biblis menegaskan bahwa "hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya" (Ams 18:21). Dan Rasul Yakobus, dalam Suratnya, yang kita baca di awal, mengembangkan tema kuno tentang kekuatan, positif dan negatif, dari kata dengan contoh-contoh yang mencolok, dan ia berkata : “Barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya ... Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar ... Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk” (3:2-10).

 

Inilah sebabnya mengapa kita harus belajar dari Yosef (Yusuf) untuk menumbuhkan keheningan : ruang batin di zaman kita di mana kita memberi Roh kesempatan untuk meregenerasi diri kita, menghibur kita, membetulkan diri kita. Saya tidak mengatakan jatuh ke dalam kebisuan, tidak. Keheningan. Tetapi sangat sering, kita masing-masing melihat ke dalam diri kita, ketika kita sedang mengerjakan sesuatu dan ketika kita selesai, segera kita mencari telepon untuk melakukan panggilan lain … kita selalu seperti ini. Dan ini tidak membantu, ini membuat kita tergelincir ke dalam kedangkalan. Kedalaman hati tumbuh dengan keheningan, keheningan yang tidak bisu seperti yang saya katakan, tetapi yang meninggalkan ruang untuk kebijaksanaan, bercermin dan Roh Kudus. Kita takut saat-saat keheningan. Jangan sampai kita takut! Ini akan membuat kita baik. Dan selain bermanfaatnya bagi hati kita, juga akan menyembuhkan lidah kita, perkataan kita dan terutama pilihan kita. Faktanya, Yosef (Yusuf) menggabungkan keheningan dengan tindakan. Ia tidak berbicara, tetapi ia bertindak, dan dengan demikian menunjukkan apa yang pernah dikatakan Yesus kepada murid-murid-Nya: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 7:21). Keheningan. Kata-kata yang berbuah ketika kita berbicara, dan kita mengingat lagu itu : "Pembebasan bersyarat, pembebasan bersyarat, pembebasan bersyarat ...", kata-kata, kata-kata, kata-kata, dan tanpa hakekat. Keheningan, berbicara dengan cara yang benar, dan sedikit menggigit lidahmu, yang terkadang baik ketimbang mengatakan hal-hal bodoh.

 

Mari kita akhiri dengan doa:

 

Santo Yosef, manusia keheningan,

engkau yang dalam Injil tidak mengucapkan sepatah kata pun,

ajari kami untuk berpuasa dari kata-kata yang sia-sia,

untuk menemukan kembali nilai kata-kata yang meneguhkan, mendorong, menghibur, dan mendukung.

Dekatlah dengan mereka yang menderita akibat kata-kata yang menyakitkan,

seperti fitnah dan umpatan,

dan tolonglah kami untuk senantiasa menyelaraskan perkataan dengan perbuatan. Amin.

 

Terima kasih.

___________________________________


[Imbauan]

 

Dalam beberapa jam terakhir telah terjadi ledakan dahsyat di Cap-Heitien, Haiti utara, di mana banyak orang, termasuk banyak anak-anak, kehilangan nyawa mereka. Haiti yang malang, satu demi satu; mereka adalah orang-orang yang menderita. Marilah kita berdoa, marilah kita berdoa untuk Haiti, mereka adalah orang-orang baik, orang-orang religius, tetapi mereka sangat menderita. Saya dekat dengan penduduk kota itu dan keluarga para korban, serta yang terluka. Saya mengundangmu untuk bergabung dengan saya dalam mendoakan saudara-saudari kita, yang sangat dicobai ini.

_______________________________________


[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris, terutama kelompok dari Nigeria dan Amerika Serikat. Saya berdoa agar kamu masing-masing, dan keluargamu, dapat mengalami hari-hari terakhir Adven sebagai persiapan yang bermanfaat bagi kedatangan Sang Juruselamat dunia yang baru lahir. Semoga Allah memberkatimu!

_______________________________________


[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang Santo Yosef, kita sekarang membahas Yosef sebagai “manusia keheningan”. Keempat Injil tidak melaporkan satu pun kata yang diucapkannya, namun menampilkan Yosef sebagai model mendengarkan Sabda Allah yang penuh perhatian dan bertindak berdasarkan hal itu. Memang, keheningan Yosef adalah tanda hati yang kontemplatif, menegaskan pengamatan Santo Agustinus bahwa, “ketika Sabda Allah makin meningkat, kata-kata manusia kandas” (Khotbah 288:5). Kerendahan hati Yosef yang teduh mengajarkan kita untuk memberi ruang di dalam hati kita bagi Kristus, dan dengan demikian membedakan kehendak Bapa bagi hidup kita. Yesus belajar pentingnya keheningan dari teladan Yosef dan Maria, dan pada gilirannya mengajar murid-murid-Nya untuk memeliharanya. Kita juga dipanggil untuk melatih keheningan batin dan mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian, jangan sampai kekhawatiran, godaan, dan ketakutan kita sehari-hari menyesatkan kata-kata yang kita ucapkan dan melukai sesama. Meskipun tidak mudah, memelihara keheningan kontemplatif adalah jalan pasti menuju pengetahuan diri yang otentik dan pertumbuhan rohani. Semoga kita belajar dari teladan keheningan Santo Yosef untuk memperkenankan Tuhan mengisi hati kita dan membimbing kata-kata kita dalam pelayanan kebenaran-Nya dan dalam kasih amal terhadap semua saudara dan saudari kita.

______



(Peter Suriadi - Bogor, 15 Desember 2021)



[1]Wacana 288, 5: PL 38, 1307.

[2]Dichos de luz y amor, BAC, Madrid, 417, n. 99.

[3]Pensées, 139.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 12 Desember 2021 : APAKAH YANG HARUS KAMI PERBUAT?

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil (Luk. 3:10-18) dalam liturgi hari ini, Hari Minggu Adven III, menghadirkan kepada kita berbagai kelompok orang – orang banyak, para pemungut cukai dan para prajurit – yang tersentuh oleh khotbah Yohanes Pembaptis, bertanya kepadanya : “Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?" (Luk 3:10). Apa yang harus kami perbuat? Inilah pertanyaan yang mereka ajukan. Marilah kita sedikit bercermin pada pertanyaan ini.

 

Pertanyaan itu tidak berasal dari perasaan kewajiban. Justru hati tersentuh oleh Tuhan. Antusiasme kedatangan-Nyalah yang membuat mereka bertanya : apa yang harus kami perbuat? Kemudian Yohanes berkata : “Tuhan sudah dekat. Apa yang harus kami perbuat?" Marilah kita memberi contoh : marilah kita memikirkan orang terkasih yang akan mengunjungi kita. Kita dengan penuh sukacita dan bahkan tidak sabar menunggu orang itu. Untuk menyambut orang tersebut, kita akan melakukan apa yang perlu dilakukan : kita akan membersihkan rumah, kita akan menyiapkan makan malam terbaik, mungkin hadiah… Singkatnya, ada hal-hal yang akan kita perbuat. Hal serupa berlaku dengan Tuhan. Sukacita kedatangan-Nya membuat kita bertanya : apa yang harus kita perbuat? Tetapi Allah melambungkan pertanyaan ini ke tingkat yang lebih tinggi : apa yang harus kuperbuat dengan kehidupanku? Untuk apakah aku dipanggil? Akan menjadi apakah aku?

 

Dengan mengajukan pertanyaan ini, Injil mengingatkan kita akan sesuatu yang penting : hidup memiliki tugas bagi kita. Hidup bukan tanpa makna; hidup tidak dibiarkan begitu saja. Tidak! Hidup adalah karunia yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, mengatakan kepada kita : temukanlah siapa dirimu, dan bekerja keraslah untuk membuat impian hidupmu menjadi kenyataan! Kita masing-masing – jangan melupakan hal ini – memiliki sebuah perutusan yang harus diselesaikan.

 

Jadi, jangan takut untuk bertanya kepada Tuhan : apa yang harus diperbuat? Marilah kita mengajukan pertanyaan ini berulang kali kepada-Nya. Hal ini juga kembali muncul dalam Kitab Suci : dalam Kisah Para Rasul, beberapa orang, mendengar Petrus yang menyatakan kebangkitan Yesus, “sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: 'Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?'" (2:37). Marilah kita juga bertanya pada diri kita sendiri : apa yang sebaiknya kuperbuat untuk diriku sendiri dan untuk saudara-saudariku? Bagaimana aku bisa berkontribusi untuk hal ini? Bagaimana aku dapat berkontribusi untuk kebaikan Gereja, untuk kebaikan masyarakat? Musim Adven dimaksudkan untuk hal ini : berhenti dan bertanya kepada diri sendiri bagaimana mempersiapkan Natal. Kita sangat sibuk dengan segala persiapan, dengan hadiah dan hal-hal yang berlalu. Tetapi marilah kita bertanya pada diri sendiri apa yang harus kita perbuat untuk Yesus dan sesama! Apa yang harus kita perbuat?

 

Setelah pertanyaan, “apa yang harus kami perbuat?”, Injil mencantumkan jawaban Yohanes Pembaptis yang berbeda untuk setiap kelompok. Bahkan, Yohanes menyarankan kepada orang yang mempunyai dua helai baju agar membaginya dengan yang tidak punya; kepada para pemungut cukai yang menagih pajak, ia berkata : "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan" (Luk 3:13); kepada para prajurit : “Jangan merampas atau memeras dari siapa pun (bdk. ayat 14). Ia menyampaikan kata tertentu kepada setiap orang yang menanggapi situasi aktual mereka dalam kehidupan. Hal ini memberi kita pengajaran yang berharga : iman menjelma dalam kehidupan nyata. Iman bukan teori abstrak. Iman bukanlah teori abstrak, teori umum – tidak! Iman menyentuh kita secara pribadi dan mengubah hidup kita masing-masing. Marilah kita memikirkan keberwujudan iman kita. Apakah imanku abstrak, sesuatu yang abstrak atau nyata? Apakah iman menuntunku untuk melayani, meringankan sesama?

 

Jadi, sebagai kesimpulan, marilah kita bertanya pada diri kita sendiri : apa yang harus kita perbuat secara nyata dalam hari-hari ini ketika kita mendekati Natal? Bagaimana aku bisa melakukan bagianku? Marilah kita memilih sesuatu yang nyata, meskipun kecil, yang disesuaikan dengan situasi hidup kita, dan marilah terus melakukannya untuk mempersiapkan kita menghadapi Natal ini. Sebagai contoh : saya dapat menelepon orang yang sendirian, mengunjungi orang tua itu atau orang yang sakit itu, melakukan sesuatu untuk melayani orang miskin, seseorang yang membutuhkan. Meski begitu : mungkin saya perlu memohon pengampunan, memberikan pengampunan, menjernihkan situasi, membayar hutang. Mungkin saya telah mengabaikan doa dan setelah sekian lama berlalu, inilah saatnya untuk memohon pengampunan Tuhan. Saudara dan saudari, marilah temukan sesuatu yang nyata dan perbuatlah! Semoga Bunda Maria membantu kita, yang di dalam rahimnya Allah mengambil rupa daging.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari terkasih,

 

Saya ingin meyakinkanmu tentang doa saya untuk Ukraina yang terkasih, untuk semua Gereja dan komunitas keagamaannya, serta untuk seluruh rakyatnya sehingga ketegangan yang dialaminya dapat diselesaikan melalui dialog internasional yang serius dan bukan dengan senjata. Sebuah statistik yang saya baca baru-baru ini sangat membuat saya sedih : lebih banyak senjata diproduksi tahun ini daripada tahun lalu. Senjata bukanlah jalan yang tepat. Semoga Kelahiran Tuhan membawa kedamaian di Ukraina.

 

Saya juga mendoakan para korban angin puting beliung yang melanda Kentucky dan daerah-daerah lain di Amerika Serikat.

 

Dan sekarang, perkenankan saya untuk beralih ke bahasa Spanyol sehingga saya dapat dengan hangat menyapa komunitas di seluruh benua Amerika Latin dan Filipina – berapa banyak bendera dari negara-negara Amerika Latin – yang telah berkumpul di sini di Lapangan Santo Petrus untuk mendaraskan Rosario dalam rangka menghormati Perawan dari Guadalupe dan menguduskan diri kepadanya, selamat! Saya mengucapkan selamat kepadamu yang, dengan melakukan hal ini, telah mempersatukan diri dengan umat dari Alaska hingga Patagonia yang merayakan Bunda Maria dari Guadalupe, Bunda Allah yang benar yang kita hidupi, setiap tanggal 12 Desember. Semoga Perawan dari Guadalupe dan Santo Juan Diego mengajari kita bagaimana untuk selalu berjalan bersama dari pinggiran menuju pusat dalam persekutuan dengan Penerus para Rasul, yaitu para Uskup, untuk menyampaikan kabar baik kepada semua orang. Pengalaman ini harus diulang lagi dan lagi. Dengan cara ini, Allah, yang adalah persekutuan, akan menggerakkan kita menuju pertobatan dan pembaruan Gereja dan masyarakat, yang sangat kita butuhkan di Amerika – situasi di banyak negara Amerika Latin sangat menyedihkan – serta di seluruh dunia. dunia. Saya senang bahwa melalui tindakan iman, dan kesaksian publik seperti apa yang kamu lakukan hari ini, kita memulai persiapan untuk Yubileum Guadalupe pada tahun 2031, dan Yubileum Penebusan pada tahun 2033, kita harus selalu melihat ke depan, bukan? Semuanya bersama-sama – Viva la Virgen de Guadalupe!

 

Saya juga menyampaikan harapan terbaik untuk Caritas International yang merayakan hari jadinya yang ke-70. Caritas adalah seorang gadis kecil, eh! Caritas perlu tumbuh dan menjadi lebih kuat! Di seluruh dunia, Caritas adalah tangan kasih Gereja yang terulur kepada orang miskin dan paling rentan, yang di dalam diri mereka Kristus hadir. Saya mengundangmu untuk mengembangkan pelayananmu dengan kerendahan hati dan kreativitas untuk menjangkau orang yang paling terpinggirkan dan mendorong perkembangan terpadu sebagai penangkal budaya "membuang" dan ketidakpedulian. Secara khusus, saya mendorong “Bersama-sama Kita Berkampanye” internasionalmu, yang berlandaskan kekuatan komunitas dalam mempromosikan kepedulian terhadap ciptaan dan kaum miskin. Luka yang ditimbulkan pada rumah kita bersama memiliki dampak menghancurkan. Tetapi masyarakat dapat berkontribusi menuju pertobatan ekologis yang diperlukan. Karena alasan ini, saya mengundangmu untuk mematuhi kampanye Caritas International. Dan kepadamu, sahabat Caritas International, lanjutkan karyamu dalam merampingkan organisasi sehingga uang tidak masuk ke organisasi tetapi ke orang miskin. Rampingkan organisasi dengan baik.

 

Dan saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah; terutama kamu, anak laki-laki dan perempuan yang datang dengan patung Bayi Yesus kepunyaanmu untuk menerima berkat. Pada akhirnya, saya akan memberkati semua figur Bayi Yesus. Saya berterima kasih kepada Pusat Oratori Roma, dan saya memintamu untuk menyampaikan salam Natal saya kepada kakek-nenekmu dan semua orang yang kamu kasihi.

 

Saya menyapa umat Leiria (Portugal) dan umat Paroki Santo Aloysius Gonzaga Roma. Saya menyapa anak-anak dari Civitavecchia yang sedang mempersiapkan diri untuk Komuni Pertama, dan anak-anak dari Bunda Maria Bintang Penginjilan Roma yang sedang mempersiapkan Sakramen Krisma. Saya menyapa Pramuka Dewasa dari Rimini dan San Marino-Montefeltro serta kelompok pekerja dari sekolah di Sondrio, serta penduduk desa Ardea yang saya dorong untuk berdedikasi berdialog untuk menjaga wilayah mereka. Saya juga menyapa rombongan dari Senigallia (Marche).

 

Dan saya mengucapkan selamat hari Minggu untuk kamu semua. Sekali lagi, kita memberi penghormatan kepada Bunda Maria dari Guadalupe. Viva la Virgen de Guadalupe!. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu dan sampai jumpa.

____


(Peter Suriadi - Bogor, 12 Desember 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Desember 2021 : HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIKANDUNG TANPA NODA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil untuk Liturgi hari ini, Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, membawa kita ke rumah Nazaret, tempat ia menerima kabar baik malaikat (bdk. Luk 1:26-38). Di dalam dinding rumah tangga, seseorang mengungkapkan dirinya lebih baik daripada di tempat lain. Dan justru di dalam keintiman rumah tangga itulah Injil memberi kita rincian yang mengungkapkan keindahan hati Maria.

 

Malaikat memanggilnya "penuh rahmat". Jika ia penuh rahmat, itu berarti Bunda Maria bebas dari kejahatan : ia tanpa dosa, Tak Bernoda. Sekarang, atas salam malaikat itu, Maria – teks mengatakan – “bertanya di dalam hatinya” (Luk 1:29). Ia tidak hanya terkejut, tetapi juga bertanya di dalam hatinya. Menerima salam, penghormatan, dan pujian yang agung terkadang membawa risiko menimbulkan kebanggaan dan keangkuhan. Marilah kita ingat bahwa Yesus tidak lemah lembut dengan orang-orang yang berjalan-jalan mengusahakan sambutan di lapangan, sanjungan, dilihat orang (bdk. Luk 20:46). Maria, sebaliknya, tidak meninggikan dirinya, tetapi bertanya di dalam hatinya; alih-alih merasa senang, ia merasa takjub. Sapaan malaikat tampaknya terlalu agung untuknya. Mengapa? Karena hatinya merasa kecil, dan kekecilan itu, kerendahan hati itu menarik perhatian Allah.

 

Di dalam tembok rumah Nazaret, kita melihat karakteristik hati Maria yang luar biasa. Bagaimana hati Maria? Setelah menerima pujian tertinggi, ia bertanya di dalam hatinya karena ia mendengar apa yang ditujukan kepadanya tidak ada kaitannya dengan dirinya. Faktanya, Maria tidak membanggakan keistimewaan dirinya, ia tidak mengklaim apa pun, ia tidak memperhitungkan apa pun berdasarkan jasanya. Ia tidak memuaskan diri, ia tidak meninggikan diri. Karena dalam kerendahan hatinya, ia tahu bahwa ia menerima segalanya dari Allah. Oleh karena itu, terbebas dari dirinya, ia sepenuhnya terarah kepada Allah dan sesama. Maria Tak Bernoda tidak melihat dirinya sendiri. Inilah kerendahan hati yang sesungguhnya : tidak memandang diri sendiri, tetapi memandang Allah dan sesama.

 

Marilah kita ingat bahwa kesempurnaan Maria, sang penuh rahmat, dinyatakan oleh malaikat di dalam dinding rumahnya – bukan di alun-alun utama kota Nazaret, tetapi di sana, dalam ketersembunyian, dalam kerendahan hati yang terbesar. Di rumah kecil Nazaret itu berdenyut jantung terbesar yang pernah dimiliki makhluk mana pun. Saudara dan saudari terkasih, inilah berita luar biasa bagi kita! Karena Tuhan sedang memberitahu kita bahwa untuk melakukan perbuatan yang mahabesar, Ia tidak membutuhkan sarana yang besar dan kemampuan kita yang sangat tinggi, melainkan kerendahan hati kita, mata kita terbuka kepada-Nya, dan juga terbuka kepada sesama. Dengan isyarat ini, di dalam tembok rumah kecil yang miskin, Allah mengubah sejarah. Bahkan hari ini, Ia ingin melakukan hal-hal besar bersama kita dalam kehidupan sehari-hari kita : dalam keluarga kita, di tempat kerja, dalam lingkungan sehari-hari. Rahmat Allah suka bekerja di sana melebihi peristiwa-peristiwa besar sejarah. Tetapi, saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah kita mempercayai hal ini? Atau lebih tepatnya apakah kita berpikir bahwa kekudusan adalah utopia, sesuatu untuk orang dalam, khayalan saleh yang tidak sesuai dengan kehidupan biasa?

 

Marilah kita memohon rahmat kepada Bunda Maria : agar ia membebaskan kita dari gagasan yang menyesatkan bahwa Injil adalah satu hal dan kehidupan adalah hal lain; agar ia menyalakan antusiasme dalam diri kita untuk mencita-citakan kekudusan yang tidak ada hubungannya dengan kartu dan gambar kudus, tetapi dengan rendah hati dan penuh sukacita menghayati, seperti Bunda Maria, apa yang terjadi setiap hari, terbebas dari diri kita, dengan mata tertuju pada Allah dan sesama yang kita temui. Jangan berkecil hati : Tuhan telah memberikan semua orang hal-hal yang diperlukan untuk menenun kekudusan di dalam kehidupan kita sehari-hari! Dan ketika kita dilanda keraguan bahwa kita tidak dapat berhasil, kesedihan karena tidak memadai, marilah kita memperkenankan Bunda Maria melihat kita dengan “mata belas kasihan”-nya, karena tidak pernah seorang pun yang memohon pertolongannya tidak dihiraukan!

 

[Setelah pendarasan doa Malikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dua hari yang lalu saya kembali dari perjalanan saya di Siprus dan Yunani. Saya berterima kasih kepada Tuhan atas peziarahan ini; saya berterima kasih kepada kamu semua atas doa yang menyertai saya, dan penduduk di kedua negara tercinta itu, bersama dengan para pemimpin sipil dan agama mereka, atas kasih sayang dan kebaikan yang mereka berikan kepada saya. Kepada kamu semua, sekali lagi saya katakan : terima kasih!

 

Siprus adalah mutiara di Mediterania, mutiara dengan keindahan yang langka, yang bagaimanapun juga menanggung luka kawat berduri, penderitaan dinding yang memisahkannya. Di Siprus saya merasa seperti di rumah sendiri; saya menemukan saudara dan saudari dalam diri setiap orang. Saya menyimpan di dalam hati saya setiap pertemuan, khususnya Misa di stadion di Nicosia. Saya tergerak oleh Saudara Gereja Ortodoks, Chrysostomos, yang terkasih, ketika ia berbicara kepada saya tentang Gereja Bunda : sebagai umat Kristiani kita mengikuti jalan yang berbeda, tetapi kita adalah anak-anak Gereja Yesus, yang adalah seorang Bunda, dan menyertai dan memelihara kita, yang membuat kita terus berjalan, seluruhnya sebagai saudara-saudari. Harapan saya untuk Siprus adalah agar Siprus selalu menjadi laboratorium persaudaraan, di mana perjumpaan menang atas konfrontasi, di mana kita menyambut saudara dan saudari kita, terutama ketika ia miskin, tercampakkan, seorang migran. Saya ulangi, berhadapan dengan sejarah, di hadapan wajah-wajah orang-orang yang hijrah, kita tidak bisa tinggal diam, kita tidak bisa berpaling.

 

Di Siprus, seperti di Lesvos, saya dapat menatap mata penderitaan ini : tolong, marilah kita lihat mata orang-orang tercampakkan yang kita temui, marilah kita terhasut oleh wajah anak-anak, anak-anak migran yang putus asa. Marilah kita memperkenankan diri tergerak oleh penderitaan mereka untuk bereaksi terhadap ketidakpedulian kita; marilah kita melihat wajah mereka, membangunkan diri kita dari tidur kebiasaan!

 

Kemudian dengan rasa syukur saya memikirkan Yunani. Di sana juga saya menerima sambutan persaudaraan. Di Athena saya merasa tenggelam dalam kebesaran sejarah, dalam ingatan akan Eropa : humanisme, demokrasi, kebijaksanaan, iman. Di sana juga saya mengalami mistik keutuhan : dalam pertemuan dengan saudara saya para Uskup dan komunitas Katolik, dalam Misa meriah yang dirayakan pada Hari Tuhan, dan kemudian dengan kaum muda yang datang dari begitu banyak tempat, beberapa dari tempat yang sangat jauh, untuk menghayati dan berbagi sukacita Injil. Dan kembali, saya mengalami karunia memeluk Uskup Agung Gereja Ortodoks, Hieronymos : pertama beliau menyambut saya di rumahnya dan hari berikutnya ia datang mengunjungi saya. Saya menyimpan persaudaraan ini dalam hati saya. Saya mempercayakan kepada Bunda Allah banyak benih perjumpaan dan harapan yang telah ditebarkan dalam peziarahan ini. Saya memohon kepadamu untuk terus mendoakan agar benih-benih tersebut dapat bertunas dalam kesabaran dan berkembang dalam iman.

 

Hari ini adalah akhir tahun yang didedikasikan untuk Santo Yosef, Pelindung Gereja Semesta. Dan lusa, 10 Desember, Yubileum Loreto akan berakhir. Semoga rahmat kedua peristiwa ini terus bekerja dalam kehidupan kita dan dalam kehidupan komunitas kita. Semoga Perawan Maria dan Santo Yosef membimbing kita di jalan menuju kekudusan!

 

Dan saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah! Harapan khusus untuk Aksi Katolik Italia : semoga menjadi gimnasium sinodalitas di berbagai keuskupan dan paroki. Saya menyapa anak-anak Paduan Suara "Milleunavoce", umat Zaragoza dan kaum muda Valdemoro, Keuskupan Getafe, Spanyol - orang-orang Spanyol membuat diri mereka didengar, oke! - Serta delegasi Kotamadya Rocca di Papa, dengan obor yang akan menyalakan Bintang Natal di Benteng kota. Saya menyapa sekelompok orang Meksiko dari Negara Bagian Puebla.

 

Dan saya mengucapkan selamat hari raya kepada kamu semua, terutama kamu anak-anak Immacolata, ini adalah pestamu! Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya, dan saya akan menrdoakanmu. Nikmati makananmu dan sampai jumpa.

______


(Peter Suriadi - Bogor, 8 Desember 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 1 Desember 2021 : KATEKESE TENTANG SANTO YOSEF (BAGIAN 3) - SANTO YOSEF : ORANG YANG TULUS HATI DAN SUAMI MARIA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Marilah kita melanjutkan perjalanan kita bercermin pada pribadi Santo Yosef (Yusuf). Hari ini, saya ingin memperdalam perihal "ketulushatian"-nya dan sebagai "tunangan Maria", serta dengan demikian memberikan pesan kepada semua pasangan yang sudah bertunangan, dan juga para pengantin baru. Banyak peristiwa yang terkait Yosef (Yusuf) mengisi kisah-kisah apokrif, yaitu Injil nonkanonik, yang bahkan telah mempengaruhi seni dan berbagai tempat ibadah. Tulisan-tulisan yang tidak ada di dalam Kitab Suci ini adalah kisah-kisah yang diberikan oleh kesalehan Kristiani pada masa itu dan merupakan tanggapan atas keinginan untuk mengisi ruang kosong dalam teks-teks Injil kanonik, yang ada di dalam Kitab Suci, yang menyediakan bagimu segala sesuatu yang penting bagi iman dan kehidupan Kristiani.

 

Penginjil Matius – hal ini penting. Apa yang dikatakan Injil tentang Yosef (Yusuf)? Apa yang dikatakan Injil-injil apokrif ini bukan sesuatu yang jelek atau buruk, tidak! Injil-injil apokrif, meskipun indah, bukan Sabda Allah. Sebaliknya, keempat Injil yang ada di dalam Kitab Suci adalah Sabda Allah. Salah satunya adalah penginjil Matius yang mendefinisikan Yosef (Yusuf) sebagai orang yang “tulus hati”. Marilah kita dengarkan paparannya : “Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut : Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam” (1:18-19). Karena orang-orang yang bertunangan, ketika sang tunangan tidak setia, atau hamil, mereka dapat mendakwanya! Mereka harus mendakwanya. Dan para wanita tersebut kemudian dilempari batu saat itu. Tetapi Yosef (Yusuf) tulus hati. Ia berkata : “Tidak, aku tidak akan melakukan hal ini. Aku akan pergi dengan tenang”.

 

Memahami perilaku Yosef (Yusuf) terhadap Maria, akan sangat membantu untuk mengingat kebiasaan pernikahan Israel kuno. Pernikahan mencakup dua tahap yang dirumuskan dengan baik. Tahap pertama semacam pertunangan resmi yang sudah menyiratkan situasi baru. Secara khusus, seraya terus tinggal di rumah pihak ayah selama satu tahun, sang wanita sebenarnya sudah dianggap sebagai “istri” dari sang tunangannya. Mereka masih belum hidup bersama, tetapi sepertinya ia sudah menjadi istri seseorang. Tahap kedua adalah perpindahan sang mempelai wanita dari rumah ayahnya ke rumah mempelai pria. Ini berlangsung dengan perarakan meriah yang mengakhiri tahap pernikahan. Dan sahabat-sahabat mempelai wanita menemaninya ke sana. Berdasarkan kebiasaan-kebiasaan ini, fakta bahwa “sebelum mereka hidup bersama, Maria kedapatan sedang mengandung” membuat Sang Perawan didakwa melakukan perzinahan. Dan, menurut Hukum kuno, kesalahannya dihukum dengan rajam (bdk. Ul 22:20-21). Namun demikian, penafsiran yang lebih moderat telah terjadi setelah ini dalam praktik Yahudi kemudian yang hanya memberlakukan tindakan perceraian bersamaan dengan konsekuensi perdata dan pidana bagi sang wanita, tetapi tidak dirajam.

 

Injil mengatakan bahwa Yosef (Yusuf) "tulus hati" justru karena ia tunduk pada hukum sebagaimana orang Israel yang saleh lainnya. Tetapi di dalam dirinya, cintanya kepada Maria dan kepercayaannya pada Maria menunjukkan suatu cara agar ia dapat tetap menaati hukum dan menyelamatkan kehormatan sang mempelai wanita. Ia memutuskan untuk menceraikannya dengan diam-diam, tanpa membuat keributan, tanpa membuatnya dipermalukan di depan umum. Ia memilih jalan kerahasiaan, tanpa pengadilan atau balas dendam. Alangkah kudusnya Yosef (Yusuf)! Kita, segera setelah kita memiliki sedikit gosip, sesuatu yang memalukan tentang orang lain, kita langsung membicarakannya! Diam, Yosef (Yusuf). Diam.

 

Tetapi penginjil Matius segera menambahkan : “Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: 'Yosef (Yusuf), anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus'. 'Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka'" (1:20.21). Suara Allah campur tangan dalam pemahaman Yosef (Yusuf). Dalam mimpi, Ia mengungkapkan makna yang lebih besar dari keadilan-Nya. Alangkah pentingnya kita masing-masing membina kehidupan yang adil dan, pada saat yang sama, selalu merasakan perlunya pertolongan Allah untuk memperluas wawasan kita dan mempertimbangkan keadaan hidup dari sudut pandang yang selalu berbeda dan lebih luas. Sering kali, kita merasa terpenjara oleh apa yang telah terjadi pada diri kita : “Tetapi lihatlah apa yang terjadi pada diriku!” – dan kita tetap terpenjara dalam hal buruk yang terjadi pada diri kita. Tetapi terutama di depan beberapa keadaan dalam kehidupan yang awalnya tampak dramatis, sebuah takdir tersembunyi yang terbentuk dari waktu ke waktu dan bahkan menerangi makna penderitaan yang telah menyentuh kita. Godaannya adalah menutupi penderitaan, dalam pemikiran bahwa hal-hal baik tidak pernah terjadi pada diri kita. Dan ini tidak baik untuk kita. Ini menuntunmu kepada kesedihan dan kepahitan. Hati yang pahit sangat jelek.

 

Saya ingin kita berhenti sejenak untuk bercermin pada rincian kisah yang diceritakan dalam Injil yang sering terabaikan ini. Maria dan Yosef (Yusuf) saling bertunangan. Mereka mungkin telah membina impian dan harapan mengenai kehidupan dan masa depan mereka. Tanpa dinyana, Allah tampaknya telah memasukkan diri-Nya ke dalam kehidupan mereka dan, meskipun pada awalnya sulit bagi mereka, keduanya membuka hati mereka lebar-lebar terhadap kenyataan yang ada di hadapan mereka.

 

Saudara dan saudari terkasih, hidup kita seringkali tidak seperti yang kita bayangkan. Apalagi dalam hubungan cinta dan kasih sayang, sulit untuk beralih dari nalar jatuh cinta ke nalar cinta yang dewasa. Kita perlu beralih dari nafsu birahi ke cinta yang dewasa. Kamu, para pengantin baru, pikirkan hal ini. Tahap pertama selalu ditandai dengan pesona tertentu yang membuat kita hidup tenggelam dalam khayalan yang seringkali tidak berdasarkan kenyataan dan fakta – tahap jatuh cinta. Namun justru ketika jatuh cinta dengan segala pengharapannya tampak akan berakhir, di situlah cinta sejati dimulai atau cinta sejati masuk di sana. Faktanya, mencintai bukanlah menuntut orang lain, atau kehidupan, hendaknya sesuai dengan khayalan kita. Sebaliknya, mencintai berarti memilih dengan kebebasan penuh untuk bertanggung jawab atas kehidupan seseorang ketika saatnya tiba. Inilah sebabnya Yosef (Yusuf) memberi kita pelajaran penting. Ia memilih Maria dengan "mata terbuka". Kita dapat mengatakan “dengan segala risikonya”. Pikirkan tentang hal ini : dalam Injil Yohanes, teguran yang dilakukan oleh para ahli Taurat kepada Yesus adalah : “Kami tidak dilahirkan dari zinah”, mengacu pada pelacuran. Mereka tahu bagaimana Maria tetap hamil dan mereka ingin membuang kotoran ke ibu Yesus. Bagi saya, ini adalah bagian yang terburuk, yang paling jahat, dalam Injil. Dan risiko Yosef (Yusuf) memberi kita pelajaran ini : menerima kehidupan apa adanya. Apakah Allah campur tangan di sana? Saya menerimanya. Dan Yosef (Yusuf) berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan : Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia" – tanpa tinggal bersama Maria sedang menantikan seorang anaklaki-laki – "sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus” (Mat 1:24-25). Pasangan Kristiani yang telah bertunangan dipanggil untuk memberikan cinta seperti ini yang memiliki keberanian untuk beralih dari nalar jatuh cinta ke nalar cinta yang dewasa. Ini adalah pilihan yang menuntut ketimbang memenjarakan hidup, dapat membentengi cinta agar bertahan ketika menghadapi cobaan waktu. Cinta pasangan berkembang dalam kehidupan dan menjadi dewasa setiap hari. Cinta selama pertunangan sedikit – perkenankan saya menggunakan kata tersebut – sedikit romantis. Kamu semua pernah mengalami hal ini, tetapi kemudian cinta yang dewasa dimulai, cinta yang hidup setiap hari, dari pekerjaan, dari anak-anak yang datang… Dan terkadang romantisme itu sedikit menghilang, bukan? Tetapi bukankah itu cinta? Ya, tetapi cinta yang dewasa. “Tetapi tahukah Bapa, terkadang kami bertengkar…” Ini sudah terjadi sejak zaman Adam dan Hawa hingga saat ini, eh! Pertengkaran pasangan itu adalah makanan kita sehari-hari, eh! "Tetapi kita seharusnya tidak bertengkar?" Ya, ya, kamu harus. Itu terjadi. Saya tidak mengatakan kamu harus melakukannya, tetapi itu terjadi. “Dan, Bapa, terkadang kami meninggikan suara kami…” Itu terjadi. "Dan bahkan ada kalanya piring berterbangan". Itu terjadi. Tetapi apa yang bisa dilakukan agar ini tidak merusak kehidupan pernikahan?

 

Dengarkan aku baik-baik : jangan pernah mengakhiri hari tanpa berdamai. "Kami berkelahi. Ya Tuhan, aku mengatakan kata-kata yang buruk. Aku mengatakan hal-hal yang mengerikan. Tetapi sekarang, mengakhiri hari, aku harus berdamai”. Kamu tahu mengapa? Karena perang dingin keesokan harinya sangat berbahaya. Jangan biarkan perang dimulai keesokan harinya. Untuk itu, berdamailah sebelum tidur. "Tetapi, Bapa, Bapa tahu, aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan diri untuk berdamai setelah situasi mengerikan yang kami alami". Sangat mudah. Lakukan hal ini (Paus membelai pipinya) dan perdamaian sudah tercipta. Ingatlah hal ini selalu. Ingatlah selalu : jangan pernah mengakhiri hari tanpa berdamai. Dan hal ini akan membantumu dalam kehidupan pernikahanmu. Bagi mereka dan semua suami istri yang ada di sini. Gerakan dari jatuh cinta ke cinta yang dewasa ini adalah pilihan yang menuntut, tetapi kita harus memilih jalan itu.

 

Kali ini juga, marilah kita tutup dengan doa kepada Santo Yosef (Yusuf).

 

Santo Yosef (Yusuf),

Engkau yang mengasihi Maria dengan bebas,

dan memilih untuk meninggalkan angan-anganmu demi memberi jalan kepada kenyataan,

tolonglah kami masing-masing untuk memperkenankan diri kami dikejutkan oleh Allah

dan menerima kehidupan bukan sebagai sesuatu yang tidak terduga untuk membela diri,

tetapi sebagai misteri yang menyembunyikan rahasia kebahagiaan sejati.

Anugerahkanlah sukacita dan radikalitas bagi segenap orang Kristiani yang telah bertunangan,

seraya senantiasa menyadari

hanya belas kasihan dan pengampunan yang memungkinkan cinta. Amin.

 

Terima kasih.

 

[Imbauan]

 

Hari ini adalah Hari AIDS Sedunia. Sebuah kesempatan penting untuk mengingat banyak orang yang terkena virus ini. Bagi kebanyakan orang, di beberapa wilayah di dunia, akses ke perawatan yang diperlukan tidak tersedia. Saya mengharapkan dimungkinkanya ada komitmen baru dalam kesetiakawanan untuk menjamin perawatan kesehatan yang adil dan efektif.

 

Besok saya akan pergi ke Siprus dan kemudian ke Yunani untuk mengunjungi penduduk negara-negara tercinta ini yang kaya akan sejarah, spiritualitas, dan peradaban. Ini akan menjadi perjalanan ke sumber iman apostolik dan persaudaraan di antara umat Kristiani dari berbagai pengakuan. Saya juga akan memiliki kesempatan untuk mendekati umat manusia yang terluka dalam diri begitu banyak migran yang mencari harapan : saya akan mengunjungi Lesbos. Saya meminta kamu semua, tolong, untuk menyertai saya dengan doamu. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyambut para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok-kelompok dari Amerika Serikat. Saya mendoakan agar kamu masing-masing, dan keluargamu, dapat mengalami bahagia Adven, sebagai persiapan untuk kedatangan Sang Juruselamat dunia yang baru lahir. Semoga Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang Santo Yosef (Yusuf), sekarang kita bercermin pada gambaran Santo Matius tentang Yosef (Yusuf) sebagai “seorang yang tulus hati” dan “suami Maria”. Sebagai putra Israel yang saleh, Yosef (Yusuf) dengan rela tunduk pada persyaratan Hukum Taurat dan ajarannya tentang pernikahan. Setelah mengetahui bahwa Maria sudah mengandung, karena cinta dan perhatiannya, Yosef (Yusuf) berusaha untuk tidak mempermalukannya dengan menceraikannya di muka umum. Kemudian, dalam mimpi, Yusuf mengetahui dari seorang malaikat bahwa tidaklah keliru ia hendaknya menikahi Maria, karena Maria mengandung putranya berkat kuasa Roh Kudus. Berkat pemeliharaan Allah, Yosef (Yusuf) sampai pada pemahaman yang lebih dalam tentang keadilan ilahi dan tuntutan otentiknya. Keterbukaan Yosef (Yusuf) dan Maria terhadap rencana penyelamatan Allah membawa cinta mereka menuju kedewasaan yang diungkapkan dalam keutamaan kekudusan, kesetiaan, rasa hormat, dan kerendahan hati. Jauh dari membatasi kebebasan kita, keutamaan-keutamaan ini justru memberikan arah dan ketahanan cinta kita. Dalam pemahaman ini, Yosef (Yusuf) dan Maria dapat menjadi teladan tidak hanya bagi kaum muda yang telah bertunangan, tetapi juga bagi kita semua, yang juga di tengah tantangan hidup yang tak terelakkan, terpanggil untuk menemukan sukacita dan kebebasan sejati yang berasal dari perhatian dan pemeliharaan Allah yang tulus atas kehidupan kita.

______



(Peter Suriadi - Bogor, 1 Desember 2021)