Liturgical Calendar

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK MASA PRAPASKAH 2023


Pertobatan Prapaskah dan Perjalanan Sinodal

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Injil Matius, Markus, dan Lukas ketiganya menceritakan kisah perubahan rupa Yesus. Di sana kita melihat tanggapan Tuhan terhadap kegagalan murid-murid-Nya untuk memahami-Nya. Tak lama sebelumnya, telah terjadi perselisihan nyata antara Sang Guru dan Simon Petrus, yang, setelah menyatakan imannya kepada Yesus sebagai Kristus, Putra Allah, menolak nubuat-Nya tentang sengsara dan salib. Yesus dengan tegas menegurnya : "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia!” (Mat 16:23). Setelah itu, “enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi” (Mat 17:1).

 

Injil Perubahan Rupa Yesus diwartakan setiap tahun pada Hari Minggu Prapaskah II. Selama masa liturgi ini, Tuhan membawa kita bersama-Nya ke tempat yang jauh. Sementara kita biasanya berketetapan hati memaksakan diri untuk tetap berada di tempat kita lazimnya serta rutinitas kita yang sering berulang dan terkadang membosankan, selama Masa Prapaskah kita diundang untuk naik ke “gunung yang tinggi” bersama Yesus dan secara khusus mengalami disiplin rohani – askese – sebagai umat Allah yang kudus.

 

Pertobatan Prapaskah adalah sebuah ketetapan hati, yang ditopang oleh rahmat, untuk mengatasi kurangnya iman kita dan penolakan kita untuk mengikuti Yesus di jalan salib. Inilah tepatnya yang perlu dilakukan oleh Petrus dan murid-murid lainnya. Untuk memperdalam pengetahuan kita tentang Sang Guru, untuk sepenuhnya memahami dan merangkul misteri keselamatan-Nya, yang dicapai dalam penyerahan diri sepenuhnya yang diilhami oleh kasih, kita harus memperkenankan diri kita disingkirkan oleh-Nya dan melepaskan diri kita dari keadaan biasa-biasa saja dan kesia-siaan. Kita perlu memulai perjalanan, jalan menanjak yang, seperti perjalanan mendaki, membutuhkan usaha, pengorbanan, dan konsentrasi. Syarat-syarat ini juga penting untuk perjalanan sinodal yang, sebagai sebuah Gereja, menjadi ketetapan hati kita. Kita bisa mendapatkan banyak manfaat dari merenungkan hubungan antara penebusan dosa dalam Masa Prapaskah dan pengalaman sinodal.

 

Dalam “pengunduran diri”-Nya di Gunung Tabor, Yesus membawa serta tiga murid-Nya, yang dipilih untuk menjadi saksi-saksi dari suatu peristiwa unik. Ia ingin pengalaman rahmat tersebut dibagikan, bukan hanya untuk diri sendiri, sama sebagaimana segenap hidup iman kita adalah pengalaman yang dibagikan. Karena dalam kebersamaan kita mengikuti Yesus. Bersama-sama juga, sebagai Gereja peziarah lambat laun, kita mengalami tahun liturgi dan Masa Prapaskah di dalamnya, berjalan bersama mereka yang telah ditempatkan Tuhan di antara kita sebagai sesama pengembara. Seperti pendakian Yesus dan para murid ke Gunung Tabor, kita dapat mengatakan bahwa perjalanan Prapaskah kita “sinodal”, karena kita melakukannya bersama-sama di jalan yang sama, sebagai murid dari satu Guru. Karena kita tahu bahwa Yesus sendiri adalah Jalan, dan oleh karena itu, baik dalam perjalanan liturgis maupun dalam perjalanan sinodal, Gereja tidak melakukan apa-apa selain masuk semakin dalam dan sepenuhnya ke dalam misteri Kristus Sang Juru Selamat.

 

Jadi kita sampai pada puncaknya. Injil menceritakan bahwa Yesus “berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang” (Mat 17:2). Inilah “titik tertinggi”, tujuan perjalanan. Di akhir pendakian mereka, saat mereka berdiri di puncak gunung bersama Yesus, ketiga murid diberi rahmat untuk melihat Dia dalam kemuliaan-Nya, gemerlap dalam terang adikodrati. Terang itu tidak datang dari luar, tetapi memancar dari Tuhan sendiri. Keindahan ilahi penglihatan ini jauh melebihi segala upaya yang dilakukan para murid dalam pendakian Tabor. Selama perjalanan gunung yang berat, mata kita harus tetap tertuju pada jalan setapak; namun panorama yang terbuka pada akhirnya membuat kita takjub dan mengganjar kita dengan kemegahannya. Demikian pula, proses sinodal mungkin sering tampak sulit, dan terkadang kita menjadi putus asa. Namun apa yang menanti kita pada akhirnya tidak diragukan lagi adalah sesuatu yang mengagumkan dan menakjubkan, yang akan membantu kita untuk semakin memahami kehendak Allah dan perutusan kita dalam melayani kerajaan-Nya.

 

Pengalaman para murid di Gunung Tabor semakin diperkaya ketika, di samping Yesus yang telah berubah rupa, muncul Musa dan Elia, masing-masing menandakan Hukum dan Para Nabi (bdk. Mat 17:3). Kebaruan Kristus pada saat yang sama merupakan penggenapan perjanjian dan janji sejak dahulu kala; kebaruan Kristus tidak dapat dipisahkan dari sejarah Allah dengan umat-Nya dan mengungkapkan maknanya yang lebih dalam. Demikian pula, perjalanan sinodal berakar pada tradisi Gereja dan sekaligus terbuka terhadap kebaruan. Tradisi adalah sumber inspirasi untuk mencari jalan baru dan menghindari godaan kemandekan yang menentang dan coba-coba seadanya.

 

Perjalanan pertobatan Prapaskah dan perjalanan sinodal sama-sama memiliki tujuan perubahan rupa, baik pribadi maupun gerejawi. Perubahan rupa tersebut, dalam kedua perjalanan tersebut, mengambil sebagai modelnya perubahan rupa Yesus dan dicapai dengan rahmat misteri Paskah-Nya. Agar perubahan rupa ini dapat menjadi kenyataan dalam diri kita tahun ini, saya ingin menawarkan dua “jalan” yang harus diikuti untuk mendaki gunung bersama Yesus dan, bersama-Nya, guna mencapai tujuan.

 

Jalan pertama berkaitan dengan perintah yang disampaikan Allah Bapa kepada para murid di Gunung Tabor saat mereka merenungkan perubahan rupa Yesus. Suara dari dalam awan berkata : "Dengarkanlah Dia" (Mat 17:5). Tawaran pertama sangat jelas : kita perlu mendengarkan Yesus. Masa Prapaskah adalah masa rahmat sejauh kita mendengarkan-Nya ketika Ia berbicara kepada kita. Dan bagaimana Ia berbicara kepada kita? Pertama, dalam sabda Allah, yang ditawarkan Gereja kepada kita dalam liturgi. Semoga sabda itu tidak diabaikan; jika kita tidak dapat senantiasa menghadiri Misa, marilah kita mempelajari bacaan-bacaan Kitab Suci hariannya, bahkan dengan bantuan internet. Selain Kitab Suci, Tuhan berbicara kepada kita melalui saudara dan saudari kita, terutama melalui wajah dan kisah orang-orang yang membutuhkan. Perkenankan saya mengatakan hal lain, yang cukup penting untuk proses sinodal: mendengarkan Kristus sering terjadi dengan mendengarkan saudara dan saudari kita di dalam Gereja. Saling mendengarkan seperti itu dalam beberapa tahapan merupakan tujuan utama, tetapi tetap tak tergantikan dalam metode dan gaya Gereja sinodal.

 

Mendengarkan suara Bapa, para murid “tersungkur dan sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: 'Berdirilah, jangan takut!' Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri” (Mat 17:6-8). Inilah tawaran kedua Masa Prapaskah ini : jangan berlindung pada keagamaan yang berupa peristiwa luar biasa dan pengalaman dramatis, karena takut menghadapi kenyataan dan perjuangan sehari-harinya, kesulitan dan kontradiksinya. Terang yang ditunjukkan Yesus kepada para murid adalah antisipasi kemuliaan Paskah, dan harus menjadi tujuan perjalanan kita, saat kita mengikuti “Dia seorang diri”. Masa Prapaskah mengarah menuju Paskah : "mundur" bukanlah tujuan itu sendiri, tetapi sarana mempersiapkan kita untuk mengalami sengsara dan salib Tuhan dengan iman, harapan dan kasih, serta dengan demikian sampai pada kebangkitan. Juga dalam perjalanan sinodal, ketika Tuhan memberi kita rahmat pengalaman persekutuan yang kuat, kita tidak boleh membayangkan bahwa kita telah tiba – karena di sana juga, Tuhan mengulangi kepada kita : “Berdirilah, jangan takut!”. Maka marilah kita turun ke dataran, dan semoga rahmat yang telah kita alami memperkuat kita untuk menjadi “pengrajin sinodalitas” dalam kehidupan sehari-hari komunitas kita.

 

Saudara-saudari terkasih, semoga Masa Prapaskah ini Roh Kudus mengilhami dan mendukung kita dalam pendakian kita bersama Yesus, sehingga kita dapat mengalami kemegahan ilahi-Nya dan dengan demikian, diteguhkan dalam iman, bertahan dalam perjalanan kita bersama-Nya, kemuliaan umat-Nya dan terang bangsa-bangsa.

 

Roma, Santo Yohanes Lateran, 25 Januari, Pesta Bertobatnya Santo Paulus

 

FRANSISKUS
_______

(dialihbahasakan oleh Peter Suriadi - Bogor, 19 Februari 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 15 Februari 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 4) - KERASULAN PERDANA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Kita melanjutkan katekese kita ; tema yang kita pilih adalah “Hasrat penginjilan, semangat kerasulan”. Karena menginjili bukanlah mengatakan, 'Lihat, bla, bla, bla' dan tidak lebih. Ada hasrat yang melibatkan segalanya : pikiran, hati, tangan, berangkat … segalanya, seluruh pribadi terlibat dengan pewartaan Injil ini, dan karena alasan ini kita berbicara tentang hasrat penginjilan. Setelah melihat Yesus sebagai model dan sokoguru pewartaan, hari ini kita beralih kepada murid-murid perdana, kepada apa yang dilakukan para murid. Injil mengatakan bahwa Yesus “menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil" (Mrk 3:14), dua hal : menyertai Dia dan mengutus mereka untuk memberitakan Injil. Ada satu aspek yang tampaknya bertentangan : Ia memanggil mereka untuk bersama-Nya serta pergi dan mewartakan. Orang akan berkata : pilih salah satu, tinggal atau pergi. Tetapi tidak : bagi Yesus tidak ada pergi tanpa tinggal dan tidak ada tinggal tanpa pergi. Tidak mudah untuk memahami hal ini, tetapi demikianlah adanya. Marilah kita mencoba sedikit memahami apa maksud Yesus mengatakan hal-hal ini.

 

Pertama-tama, tidak ada pergi tanpa tinggal : sebelum mengutus murid-murid-Nya, Kristus — Injil mengatakan — “memanggil mereka” (bdk. Mat 10:1). Pewartaan lahir dari perjumpaan dengan Tuhan; setiap kegiatan Kristiani, terutama perutusan, dimulai dari sana. Bukan dari apa yang dipelajari di akademi. Tidak tidak! Dimulai dari perjumpaan dengan Tuhan. Memberi kesaksian tentang Dia sebenarnya berarti memancarkan Dia; tetapi, jika kita tidak menerima terang-Nya, kita akan padam; jika kita tidak menghabiskan waktu bersama-Nya, kita akan memberi kesaksian tentang diri kita sendiri alih-alih Dia — aku sedang membawa diriku sendiri dan bukan Dia — dan semuanya akan sia-sia. Jadi hanya orang yang tinggal bersama-Nya yang dapat membawa Injil Yesus. Seseorang yang tidak tinggal bersama-Nya tidak dapat memberi kesaksian tentang Injil. Ia akan membawa berbagai gagasan, tetapi bukan Injil. Namun demikian, tidak ada tinggal tanpa pergi. Sesungguhnya, mengikuti Kristus bukanlah fakta yang melihat ke dalam : tanpa pewartaan, tanpa pelayanan, tanpa perutusan, hubungan dengan Yesus tidak bertumbuh. Kita mencatat bahwa dalam Injil Tuhan mengutus para murid sebelum menyelesaikan persiapan mereka : segera setelah memanggil mereka, Ia sudah mengutus mereka! Ini berarti pengalaman perutusan adalah bagian dari pembinaan Kristiani. Marilah kita mengingat kembali dua saat pokok untuk setiap murid ini : tinggal bersama Yesus dan berangkat, diutus oleh Yesus.

 

Setelah memanggil murid-murid-Nya dan sebelum mengutus mereka, Kristus menyampaikan sebuah pengajaran kepada mereka, yang dikenal sebagai 'pengajaran misioner' — inilah yang disebutkan dalam Injil. Pengajaran tersebut ditemukan dalam Injil Matius bab 10 dan bagaikan 'undang-undang dasar' pewartaan. Dari pengajaran tersebut, yang saya sarankan kamu baca hari ini —hanya satu perikop dalam Injil — saya menarik tiga aspek : mengapa mewartakan, apa yang diwartakan, dan bagaimana mewartakan.

 

Mengapa mewartakan : Motivasinya terletak pada beberapa kata Yesus, yang ada baiknya kita ingat : “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (ayat 8). Seluruhnya hanya beberapa kata. Tetapi mengapa mewartakan? Karena aku telah memperolehnya dengan cuma-cuma, dan aku harus memberikannya dengan cuma-cuma. Pewartaan tidak dimulai dari diri kita, tetapi dari keindahan apa yang telah kita terima secara cuma-cuma, tanpa pamrih : bertemu Yesus, mengenal Dia, menemukan bahwa kita dikasihi dan diselamatkan. Sebuah karunia yang luar biasa sehingga kita tidak dapat menyimpannya untuk diri sendiri, kita merasa perlu untuk menyebarkannya; tetapi bukankah dengan gaya yang sama? Yakni, secara cuma-cuma. Dengan kata lain : kita memiliki karunia, jadi kita dipanggil untuk memberikan diri kita; kita telah menerima karunia dan panggilan kami adalah memberikan diri kita bagi sesama; di dalam diri kita ada sukacita menjadi anak-anak Allah, sukacita itu harus dibagikan kepada saudara-saudara kita yang belum mengenalnya! Inilah alasan mewartakan. Berangkat dan membawa sukacita apa yang telah kita terima.

 

Kedua : Lalu, apa yang diwartakan? Yesus berkata, “Pergilah dan beritakanlah : Kerajaan Surga sudah dekat” (ayat 7). Inilah yang harus dikatakan, pertama dan terutama : Allah itu dekat. Jadi, jangan pernah melupakan ini : Allah senantiasa dekat dengan bangsa-bangsa. Ia mengatakannya kepada bangsa-Nya sendiri : Ia berkata, "Lihatlah, Allah manakah yang demikian dekat denganmu?". Kedekatan ini adalah salah satu hal terpenting tentang Allah. Ada tiga hal penting : kedekatan, belas kasihan, dan kelembutan. Jangan melupakan hal itu. Siapakah Allah? Allah yang dekat, Allah yang Lembut, Allah yang berbelas kasihan. Inilah kenyataan Allah. Kita, dalam mewartakan, sering mendesak orang untuk melakukan sesuatu, dan itu boleh saja; tetapi jangan lupa bahwa pesan utamanya adalah Allah yang dekat : kedekatan, belas kasihan, dan kelembutan. Menerima kasih Allah lebih sulit karena kita senantiasa ingin berada di pusat, kita ingin menjadi tokoh utama, kita lebih cenderung melakukan daripada membiarkan diri dibentuk, berbicara daripada mendengarkan. Tetapi, jika apa yang kita lakukan didahulukan, kita akan tetap menjadi tokoh utama. Sebaliknya, pewartaan harus memberikan keutamaan kepada Allah : memberikan keutamaan kepada Allah, tempat pertama kepada Allah, dan memberikan kepada sesama kesempatan untuk menyambut-Nya, menyadari bahwa Ia dekat. Dan aku berada di latar belakang.

 

Poin ketiga : bagaimana mewartakan. Ini adalah aspek yang paling diperhatikan oleh Yesus : bagaimana mewartakan, apa metodenya, apa bahasa yang seharusnya dipergunakan untuk mewartakan; ini penting : Ia memberitahu kita bahwa cara, gaya sangat penting dalam memberi kesaksian. Memberi kesaksian tidak hanya melibatkan pikiran dan mengatakan sesuatu, berbagai konsep. Tidak. Memberi kesaksian melibatkan segalanya, pikiran, hati, tangan, segalanya, tiga bahasa pribadi : bahasa pikiran, bahasa kasih sayang, dan bahasa karya. Tiga bahasa. Kita tidak dapat menginjili hanya dengan pikiran atau hanya dengan hati atau hanya dengan tangan. Semuanya terlibat. Dan, dalam gaya, yang penting adalah kesaksian, sebagaimana diinginkan Yesus untuk kita perbuat. Ia mengatakan ini : “Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” (ayat 16). Ia tidak meminta kita untuk dapat menghadapi serigala, yaitu dapat berdebat, memberikan argumen tandingan, dan membela diri. Tidak, tidak. Kita mungkin berpikir seperti ini : marilah kita bersangkut-paut, berjumlah banyak, berwibawa, dan dunia akan mendengarkan dan menghormati kita serta kita akan mengalahkan serigala. Tidak, tidak seperti itu. Tidak, aku mengutusmu keluar sebagai domba, sebagai anak domba. Ini penting. Jika kamu tidak ingin menjadi domba, Tuhan tidak akan menjagamu dari serigala. Hadapilah dengan sebaik mungkin. Tetapi jika kamu domba, yakinlah bahwa Tuhan akan menjagamu dari serigala. Jadilah rendah hati. Ia meminta kita untuk menjadi seperti ini, menjadi lemah lembut dan dengan keinginan untuk tidak berdosa, bersedia berkorban; inilah apa yang diwakili oleh anak domba: kelembutan, kepolosan, dedikasi, kelembutan. Dan Dia, Sang Gembala, akan mengenali domba-domba-Nya dan melindungi mereka dari serigala. Di sisi lain, domba yang menyamar sebagai serigala dibuka kedoknya dan dicabik-cabik. Seorang Bapa Gereja menulis : ‘Selama kita masih anak domba, kita akan menaklukkan, dan bahkan jika kita dikelilingi oleh banyak serigala, kita akan mengalahkan mereka. Tetapi jika kita menjadi serigala—'Ah, alangkah pintarnya, lihat, aku merasa nyaman dengan diriku' — kita akan dikalahkan, karena kita akan kehilangan bantuan penggembala. Ia tidak menggembalakan serigala, tetapi domba (Santo Yohanes Krisostomus, Homili 33 tentang Injil Matius). Jika aku ingin menjadi milik Tuhan, saya harus memperkenankan Dia menjadi gembalaku; dan Ia bukan gembala serigala, Ia gembala anak domba, lemah lembut, rendah hati, baik hati seperti Tuhan.

 

Masih mengenai bagaimana cara mewartakan, sungguh mengejutkan bahwa Yesus, bukannya menentukan apa yang harus dibawa dalam suatu perutusan, justru mengatakan apa yang tidak boleh dibawa. Kadang-kadang, kita melihat beberapa rasul, beberapa orang yang berpindah, beberapa orang Kristiani yang mengatakan bahwa ia adalah seorang rasul dan telah menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, dan ia membawa banyak barang bawaan. Tetapi ini bukan dari Tuhan. Tuhan membuatmu meringankan bebanmu. “Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat” (ayat 9-10). Jangan membawa apapun. Ia mengatakan untuk tidak bersandar pada kepastian materi, tetapi pergi ke dunia tanpa keduniawian. Artinya, aku sedang pergi ke dunia, bukan dengan gaya dunia, bukan dengan nilai-nilai dunia, bukan dengan kata-kata — bagi Gereja, jatuh ke dalam keduniawian adalah hal terburuk yang dapat terjadi. Aku berangkat dengan kesederhanaan. Beginilah seharusnya kita mewartakan : dengan menunjukkan Yesus daripada berbicara tentang Yesus. Dan bagaimana kita menunjukkan Yesus? Dengan kesaksian kita. Dan akhirnya, dengan pergi bersama, dalam komunitas : Tuhan mengutus semua murid, tetapi tidak seorang pun pergi sendirian. Gereja apostolik sepenuhnya bersifat misioner dan dalam perutusan menemukan kesatuannya. Jadi: pergi keluar, lemah lembut dan baik seperti anak domba, tanpa keduniawian, dan pergi bersama. Inilah kunci pewartaan, inilah kunci keberhasilan dalam penginjilan. Marilah kita menerima undangan Yesus ini : semoga kata-kata-Nya menjadi titik acuan kita.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyampaikan salam hangat kepada para peziarah berbahasa Inggris yang ikut serta dalam Audiensi hari ini, terutama yang berasal dari Inggris, Vietnam dan Amerika Serikat. Atas kamu semua, dan atas keluargamu, saya memohon sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese lanjutan kita tentang hasrat kerasulan, keinginan untuk berbagi sukacita Injil dengan orang lain, kita sekarang membahas panggilan kedua belas rasul, yang dipilih Yesus “untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil” (Mrk 3:14). Kedua aspek panggilan itu sangat penting, karena berkat kedekatan dengan Yesus semata kita belajar untuk mewartakan Dia dan bukan diri kita, perkataan-Nya dan bukan perkataan kita. Saat Yesus mengutus para rasul untuk menjalankan perutusan, Ia memberitahu mereka untuk berbagi karunia yang mereka terima, karunia kasih penebusan Allah yang tidak pantas. Pesan mereka haruslah pesan-Nya : kerajaan Allah sudah dekat dan hanya menuntut agar kita menerimanya dengan hati terbuka. Yesus juga memberitahu para rasul bahwa mereka diutus seperti domba di tengah-tengah serigala, menyampaikan Injil terutama dengan kesaksian mereka tentang kelemahlembutan, kepolosan dan keyakinan pribadi, mewartakan Kristus lebih melalui tindakan daripada kata-kata mereka. Gereja, sebagai yang “apostolik”, sepenuhnya bersifat misioner; kita masing-masing, dalam Pembaptisan, dipanggil oleh Yesus untuk hidup dekat dengan-Nya dan diutus, dalam persatuan dengan semua saudara dan saudari kita, untuk menjadi saksi-saksi Injil-Nya di hadapan dunia.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Februari 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 12 Februari 2023 : PENGGENAPAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam Bacaan Injil liturgi hari ini, Yesus berkata, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya" (Mat 5:17). Menggenapi : ini adalah kata kunci untuk memahami Yesus dan pesan-Nya. Tetapi apa arti penggenapan ini? Untuk menjelaskannya, Tuhan mengawali dengan mengatakan apa yang bukan penggenapan. Kitab Suci mengatakan "Jangan membunuh", tetapi bagi Yesus ini tidak cukup jika saudara-saudara kemudian kita sakiti dengan kata-kata; Kitab Suci mengatakan "Jangan berzinah", tetapi ini tidak cukup jika kita kemudian hidup dalam kasih yang ternoda oleh kebohongan dan kepalsuan; Kitab Suci mengatakan “Jangan bersumpah palsu”, tetapi tidaklah cukup mengucapkan sumpah yang sungguh-sungguh jika kemudian berlaku munafik (bdk. Mat 5:21-37). Ini bukan penggenapan.

 

Sebagai contoh nyata, Yesus berkonsentrasi pada “ritus persembahan”. Mempersembahkan persembahan kepada Allah membalas kecuma-cumaan karunia-Nya. Mempersembahkan persembahan kepada Allah adalah ritus yang sangat penting - mempersembahkan persembahan untuk membalas secara simbolis, marilah kita hari ini, kecuma-cumaan karunia-Nya - sangat penting sehingga menghentikannya dilarang kecuali karena alasan yang serius. Tetapi Yesus menyatakan bahwa ketika kita teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudara kita terhadap diri kita, mempersembahkan persembahan kepada Allah harus dihentikan dengan pergi berdamai terlebih dahulu (bdk. ayat 23-24) : hanya dengan cara inilah ritus itu tergenapi. Pesannya jelas : Allah mengasihi kita terlebih dahulu, dengan bebas, mengambil langkah pertama ke arah kita, tanpa kita pantas mendapatkannya; dan oleh karena itu kita tidak dapat merayakan kasih-Nya tanpa pada gilirannya kita mengambil langkah pertama menuju pendamaian dengan orang-orang yang telah menyakiti kita. Dengan cara ini ada penggenapan di mata Allah, jika tidak lahiriah, ketaatan yang semata ritualistik tidak ada gunanya, menjadi sebuah kepura-puraan. Dengan kata lain, Yesus membuat kita memahami bahwa aturan agama diperlukan, baik adanya, tetapi itu hanyalah permulaan : untuk menggenapinya, perlu melampaui kata-kata dan menghayati maknanya. Perintah-perintah yang telah diberikan Allah kepada kita tidak boleh terkurung dalam pengapnya kubah ketaatan formal; malahan, kita dibatasi pada keagamaan lahiriah, terasing, hamba-hamba “Allah Tuan” ketimbang anak-anak “Allah Bapa”. Yesus menginginkan hal ini : jangan memiliki gagasan melayani Allah Tuan, tetapi Allah Bapa; dan inilah sebabnya perlu melampaui apa yang tertulis.

 

Saudara-saudara, masalah ini tidak hanya terjadi pada zaman Yesus; hari ini juga ada. Kadang-kadang, misalnya, kita mendengar dikatakan, “Bapa, aku tidak membunuh, aku tidak mencuri, aku tidak menyakiti siapa pun…”, seolah berkata, “Aku baik-baik saja”. Ini adalah ketaatan formal, yang dipuaskan dengan minimum, sedangkan Yesus mengundang kita untuk bercita-cita semaksimal mungkin. Yaitu : Allah tidak bernalar dengan perhitungan dan tabel; Ia mengasihi kita sebagai orang yang terpikat: tidak seminimal mungkin, tetapi semaksimal mungkin! Ia tidak mengatakan, "Aku mengasihimu sampai titik tertentu". Tidak, kasih sejati tidak pernah mencapai titik tertentu, dan tidak pernah terpuaskan; kasih selalu melampaui, kita tidak dapat hidup tanpanya. Tuhan menunjukkan hal ini kepada kita dengan menyerahkan hidup-Nya di kayu salib dan mengampuni para pembunuh-Nya (bdk. Luk 23:34). Dan Ia mempercayakan kepada kita perintah yang paling Ia sayangi : supaya kita saling mengasihi, seperti Ia mengasihi kita (bdk. Yoh 15:12). Inilah kasih yang menggenapi Hukum, iman, kehidupan sejati!

 

Jadi, saudara-saudari, kita dapat bertanya pada diri kita : bagaimana aku mengamalkan iman? Apakah soal perhitungan, formalitas, atau kisah kasih dengan Allah? Apakah aku puas hanya dengan tidak melakukan kejahatan, menjaga “tampak luar” dalam keadaan baik, atau apakah aku mencoba untuk bertumbuh dalam mengasihi Allah dan sesama? Dan dari waktu ke waktu, apakah aku memeriksa diri berdasarkan perintah agung Yesus, apakah aku bertanya pada diriku apakah aku mengasihi sesamaku seperti Ia mengasihiku? Karena mungkin kita tidak supel dalam menilai orang lain dan lupa untuk berbelas kasih, sebagaimana Allah beserta kita.

 

Semoga Maria, yang mengamalkan Sabda Allah dengan sempurna, membantu kita menggenapi iman dan amal kasih kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Marilah kita terus dekat, dengan doa dan dukungan nyata, kepada para korban gempa di Suriah dan Turki. Saya melihat dalam program televisi “A Sua Immagine” gambaran bencana ini, penderitaan orang-orang yang menderita akibat gempa bumi. Marilah kita mendoakan mereka, janganlah kita melupakan mereka, marilah kita berdoa dan memikirkan apa yang dapat kita lakukan untuk mereka. Dan janganlah kita melupakan Ukraina yang tersiksa: semoga Tuhan membuka jalan perdamaian dan memberikan keberanian kepada mereka yang bertanggung jawab untuk mengikuti mereka.

Berita dari Nikaragua sangat menyedihkan saya, dan saya tidak bisa tidak mengingat dengan keprihatinan Rolando Álvarez, Uskup Matagalpa, yang sangat saya sayangi, yang dijatuhi hukuman 26 tahun penjara, dan juga mereka yang telah dideportasi ke Amerika Serikat. Saya mendoakan mereka dan semua orang yang sedang menderita di negara tercinta itu, serta saya meminta doamu. Marilah kita juga memohon kepada Tuhan, dengan perantaraan Perawan Maria Tak Bernoda, untuk membuka hati para pemimpin politik dan semua warga negara untuk dengan tulus mengusahakan perdamaian, yang lahir dari kebenaran, keadilan, kebebasan dan kasih, serta dicapai melalui kesabaran mengupayakan dialog. Marilah kita berdoa bersama kepada Bunda Maria.

 

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan negara-negara lain. Saya menyapa kelompok dari Polandia, Republik Ceska, dan Peru. Saya menyapa warga Kongo yang hadir di sini. Negaramu indah, indahnya! Berdoalah untuk negara tersebut! Saya menyapa para siswa dari Badajoz, Spanyol, dan para siswa yang berasal dari Institut Gregorian Lisbon.

Saya menyapa kaum muda Amendolara-Cozenza dan kelompok AVIS dari Villa Estense-Padua.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Februari 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 8 Februari 2023 : TENTANG PERJALANAN APOSTOLIK KE REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO DAN SUDAN SELATAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Pekan lalu saya mengunjungi dua negara Afrika : Republik Demokratik Kongo dan Sudan Selatan. Saya bersyukur kepada Allah karena telah memperkenan saya melakukan perjalanan yang sangat saya dambakan ini. Dua "impian" : mengunjungi rakyat Kongo, para penjaga sebuah negara yang sangat luas, kalbu Afrika nan hijau : bersama dengan Amazonia, kedua adalah dua paru-paru dunia. Negeri yang kaya akan sumber daya dan berlumuran darah oleh perang yang tidak pernah berakhir, karena selalu ada seseorang yang mengobarkan api. Dan mengunjungi rakyat Sudan Selatan, dalam peziarahan perdamaian bersama Uskup Agung Canterbury, Justin Welby, dan Petinggi Utama Gereja Skotlandia, Iain Greenshields : kami pergi bersama untuk memberikan kesaksian dan sebuah tugas, bekerjasama dalam keragaman, terutama jika kita berbagi iman kepada Yesus Kristus, memungkinkan.

 

Tiga hari pertama saya berada di Kinshasa, ibu kota Republik Demokratik Kongo. Saya kembali berterima kasih saya kepada Presiden Republik Demokratik Kongo dan kepada para pemimpin negara lainnya atas sambutan yang mereka berikan kepada saya. Segera setelah kedatangan saya, di Istana Kepresidenan, saya dapat menyampaikan pesan kepada bangsa tersebut : Kongo laksana berlian, karena alamnya, sumber dayanya, dan terutama karena rakyatnya; tetapi berlian ini telah menjadi sumber perselisihan, kekerasan, dan secara paradoks pemiskinan bangsa. Dinamika tersebut juga ditemukan di wilayah Afrika lainnya, dan berlaku umum di benua Afrika : benua yang telah dijajah, dieksploitasi, dijarah. Di hadapan semua ini saya mengucapkan dua kata. Kata pertama bernada negatif : "Cukuplah!" Berhentilah mengeksploitasi Afrika! Saya telah mengatakan beberapa kali terhadap adanya ketidaksadaran bersama, “Afrika harus dieksploitasi” : cukuplah ini! Saya telah mengatakan hal tersebut. Kata kedua bernada positif : bersama-sama, bersama-sama dengan martabat, bersama-sama, dan dengan saling menghormati, bersama-sama dalam nama Kristus, harapan kita, majulah. Jangan mengeksploitasi, dan majulah bersama-sama.

 

Dan atas nama Kristus, kita berkumpul untuk merayakan keagungan Ekaristi. Masih di Kinshasa, berbagai pertemuan kemudian terjadi : dengan para korban kekerasan di bagian timur negara itu, wilayah yang bertahun-tahun tercabik-cabik oleh perang antarkelompok bersenjata yang dipicu oleh kepentingan ekonomi dan politik. Saya tidak bisa pergi ke Goma. Rakyat hidup dalam ketakutan dan ketidakamanan, dikorbankan di altar transaksi terlarang. Saya mendengar kesaksian mengejutkan dari beberapa korban, terutama wanita, yang meletakkan senjata dan alat kematian lainnya di kaki salib. Bersama mereka, saya mengatakan "tidak" terhadap kekerasan, "tidak" terhadap sikap menerima nasib, "ya" terhadap rekonsiliasi dan harapan. Mereka telah banyak menderita, dan terus menderita.

 

Saya kemudian bertemu dengan perwakilan dari berbagai organisasi amal yang hadir di negara ini, berterima kasih dan menyemangati mereka. Karya mereka bersama dan untuk kaum miskin tidak membuat kegaduhan, tetapi hari demi hari menumbuhkan kebaikan bersama. Prakarsa amal harus selalu menjadi yang pertama dan terutama untuk pembangunan, tidak hanya untuk bantuan tetapi juga untuk pembangunan. Bantuan ya, tetapi pembangunan.

 

Ada saat yang menyenangkan dengan kaum muda dan para katekis Kongo di stadion. Saat itu laksana pembenaman di masa sekarang, diproyeksikan ke masa depan. Pikirkan tentang kekuatan pembaharuan yang dapat menuntun generasi baru umat Kristiani tersebut, yang dibentuk dan diilhami oleh sukacita Injil! Saya menunjukkan lima jalan kepada mereka, kepada kaum muda : doa, komunitas, kejujuran, pengampunan dan pelayanan. Kepada kaum muda Kongo, saya mengatakan : inilah jalanmu : doa, kehidupan komunitas, kejujuran, pengampunan, dan pelayanan. Semoga Tuhan mendengarkan jeritan mereka, yang memohonkan keadilan.

 

Kemudian, di Katedral Kinshasa, saya bertemu dengan para imam, para diakon, para pelaku hidup bakti dan para seminaris. Mereka banyak dan masih muda, karena banyak panggilan : rahmat Allah. Saya mendesak mereka untuk menjadi pelayan umat sebagai saksi kasih Kristus, mengatasi tiga pencobaan : keadaan rohani yang biasa-biasa saja, kenyamanan duniawi dan kedangkalan. Ketiganya merupakan godaan, menurut saya, yang bersifat universal bagi para seminaris dan imam. Tentu saja, keadaan biasa-biasa saja secara rohani, ketika seorang imam mengalah pada keadaan biasa-biasa saja, menyedihkan : kenyamanan duniawi, yaitu, keduniawian, yang merupakan salah satu kejahatan terburuk yang dapat menimpa Gereja; dan kedangkalan. Akhirnya, bersama para uskup Kongo saya berbagi suka dan duka dalam pelayanan pastoral. Saya mengundang mereka untuk memperkenankan diri mereka dihibur oleh kedekatan Allah, dan menjadi nabi umat, berkat kekuatan Sabda Allah, menjadi tanda bagaimana sesungguhnya Tuhan, sikap Tuhan terhadap kita : kasih sayang, kedekatan, kelembutan. Tiga cara … cara Tuhan bersama kita : Ia mendekati kita – kedekatan – dengan kasih sayang dan kelembutan. Saya memintakan hal ini kepada para imam dan para uskup.

Kemudian, perjalanan bagian kedua berlangsung di Juba, ibu kota Sudan Selatan, sebuah negara yang lahir pada tahun 2011. Kunjungan ini memiliki karakter yang sangat istimewa, terungkap dengan moto yang menggemakan kata-kata Yesus : “Aku berdoa supaya mereka semua menjadi satu” (bdk. Yoh 17:21). Memang, kunjungan tersebut merupakan peziarahan perdamaian ekumenis, dilakukan bersama dengan para pemimpin dua Gereja yang secara historis hadir di negeri itu : Komunitas Anglikan dan Gereja Skotlandia. Kunjungan tersebut merupakan puncak perjalanan yang dilakukan beberapa tahun lalu, ketika kami berkumpul di Roma pada tahun 2019, bersama para pemimpin Sudan Selatan, untuk berkomitmen mengatasi pertikaian dan membangun perdamaian. Pada tahun 2019 ada retret rohani di sini, di Kuria, bersama semua politisi ini, bersama semua orang yang menginginkan posisi ini, beberapa dari mereka adalah musuh, tetapi mereka semua berada dalam retret. Dan hal ini memberi kekuatan untuk maju. Sayangnya, proses rekonsiliasi belum banyak berkembang, dan Sudan Selatan yang baru lahir adalah korban nalar lama kekuasaan dan persaingan, yang menghasilkan perang, kekerasan, pengungsi, dan orang-orang yang tersingkirkan secara internal. Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Presiden atas sambutan yang beliau berikan kepada saya dan atas bagaimana beliau berusaha mengatur jalan ini, yang sama sekali tidak mudah, katakan "tidak" terhadap korupsi dan perdagangan senjata, dan "ya" terhadap perjumpaan dan dialog. Dan ini memalukan : banyak yang disebut negara "beradab" menawarkan bantuan ke Sudan Selatan, dan bantuan ini berupa senjata, senjata, senjata, untuk mengobarkan perang. Ini memalukan. Dan ya, mendorong maju untuk mengatakan "tidak" terhadap korupsi dan perdagangan senjata, serta "ya" terhadap perjumpaan dan dialog. Hanya dengan cara ini akan ada pembangunan, masyarakat dapat bekerja dengan tenang, orang-orang sakit sembuh, dan anak-anak dapat bersekolah.

 

Sifat ekumenis kunjungan ke Sudan Selatan diwujudkan secara khusus dalam pertemuan doa yang diadakan bersama dengan saudara kita Anglikan dan Gereja Skotlandia. Bersama-sama kami mendengarkan Sabda Allah, bersama-sama kami memanjatkan doa pujian, permohonan dan pengantaraan. Dalam kenyataan yang sangat penuh pertikaian seperti di Sudan Selatan, tanda ini sangat mendasar, dan tidak boleh dianggap remeh, karena sayangnya ada pihak yang menyalahgunakan nama Allah untuk membenarkan kekerasan dan penindasan.

 

Saudara-saudari, Sudan Selatan adalah negara berpenduduk sekitar sebelas juta jiwa – sedikit sekali! – di antaranya, sebagai akibat dari pertikaian bersenjata, dua juta orang mengungsi di dalam negeri dan banyak yang melarikan diri ke negara-negara tetangga. Oleh karena itu, saya ingin bertemu dengan sekelompok besar pengungsi internal, mendengarkan mereka dan membuat mereka merasakan kedekatan Kristus. Memang, Gereja-Gereja dan organisasi-organisasi inspirasi Kristiani berada di barisan terdepan di samping kaum miskin ini, yang telah tinggal bertahun-tahun di kamp-kamp pengungsi. Secara khusus saya berbicara kepada para wanita – ada para wanita yang baik di sana! – yang merupakan kekuatan yang dapat mengubah negara, dan saya mendorong semua orang untuk menjadi benih Sudan Selatan yang baru, yang tanpa kekerasan, damai dan tentram.

 

Kemudian, dalam pertemuan dengan para imam dan para pelaku hidup bakti Gereja setempat, kami memandang Musa sebagai model ketaatan kepada Allah dan ketekunan dalam doa pengantaraan.

 

Dan dalam perayaan Ekaristi, kegiatan terakhir kunjungan ke Sudan Selatan dan seluruh perjalanan, saya menggemakan Injil, mendorong umat Kristiani untuk menjadi “garam dan terang” di negeri yang sangat bermasalah itu. Allah meletakkan harapan-Nya bukan pada orang besar dan berkuasa, tetapi pada orang kecil dan rendah hati. Dan ini adalah jalan Allah.

 

Saya berterima kasih kepada otoritas Sudan Selatan, Bapak Presiden, para penyelenggara perjalanan dan semua orang yang menginvestasikan tenaga, pekerjaan mereka, sehingga perjalanan dapat berjalan dengan baik. Saya berterima kasih kepada saudara-saudara saya, Justin Welby dan Iain Greenshields, karena telah menemani saya dalam perjalanan ekumenis ini.

 

Marilah kita berdoa agar, di Republik Demokratik Kongo dan Sudan Selatan, serta seluruh Afrika, benih-benih Kerajaan kasih, keadilan, dan damai-Nya dapat bertunas. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya mengucapkan selamat datang kepada para peziarah berbahasa Inggris yang ikut serta dalam Audiensi hari ini, terutama yang berasal dari Inggris dan Amerika Serikat. Saya menyampaikan salam khusus kepada banyak kelompok mahasiswa yang hadir. Atas kamu semua, dan atas keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Imbauan]

 

Pikiran saya tertuju, saat ini, kepada rakyat Turki dan Suriah yang sangat terpukul oleh gempa bumi, yang telah menyebabkan ribuan kematian dan luka-luka. Dengan penuh perasaan saya mendoakan mereka dan mengungkapkan kedekatan saya dengan orang-orang ini, kepada keluarga para korban dan kepada semua orang yang menderita akibat bencana yang menghancurkan ini. Saya berterima kasih kepada para pekerja bantuan dan saya mendorong semua orang untuk menunjukkan kesetiakawanan dengan wilayah tersebut, beberapa di antaranya telah dirusak oleh perang yang panjang. Marilah kita berdoa bersama agar saudara dan saudari kita ini dapat terus maju, mengatasi tragedi ini, dan marilah kita memohon kepada Bunda Maria untuk melindungi mereka : "Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan serta-Mu, terpujilah Engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuh-Mu, Yesus. Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin".

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Perjalanan apostolik saya baru-baru ini ke Republik Demokratik Kongo dan Sudan Selatan membawa saya ke dua negara Afrika yang kaya akan sumber daya alam dan manusia, namun dilanda perang dan kekerasan. Di Kongo, saya menyerukan diakhirinya eksploitasi Afrika, menyerukan perdamaian dan rekonsiliasi, dan mendorong komunitas Kristiani, dan khususnya banyak kaum mudanya, untuk menjadi sumber harapan dan pembaharuan bagi masa depan bangsa. Di Sudan Selatan, saya ditemani oleh Uskup Agung Canterbury dan Petinggi Utama Gereja Skotlandia dalam peziarahan ekumenis untuk perdamaian di negara belia itu. Bersama-sama kami menyerukan kemajuan dalam melaksanakan perjanjian damai dan berdoa untuk diakhirinya kekerasan yang dilakukan atas nama Allah. Saya mendesak umat Kristiani di negara itu dan, secara khusus, para wanitanya, untuk memelihara kesaksian damai mereka serta karya amal persaudaraan mereka terhadap semua korban pertikaian dan ketidakadilan, khususnya sejumlah besar orang yang kehilangan tempat tinggal. Semoga benih yang mereka tabur dalam iman dan harapan menghasilkan buah yang melimpah untuk masa depan perdamaian dan pertumbuhan kerajaan kasih, keadilan, dan damai Allah.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Februari 2023)