Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 15 Maret 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 7) - KONSILI VATIKAN II. 2. MENJADI PARA RASUL DALAM GEREJA APOSTOLIK

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Marilah kita melanjutkan katekese tentang hasrat penginjilan : tidak hanya tentang “menginjili”, hasrat untuk menginjili dan, di sekolah Konsili Vatikan II, hari ini marilah kita mencoba untuk lebih memahami apa artinya menjadi “rasul”. Kata “rasul” mengingatkan kita pada kelompok dua belas murid pilihan Yesus. Kadang-kadang kita menyebut beberapa orang kudus, atau lebih umum para uskup, sebagai "rasul" : mereka adalah rasul, karena mereka berangkat dalam nama Yesus. Tetapi apakah kita sadar bahwa menjadi rasul adalah urusan setiap umat Kristiani? Apakah kita sadar menjadi rasul menyangkut diri kita masing-masing? Memang, kita dituntut untuk menjadi rasul – yaitu utusan – dalam Gereja yang, dalam Syahadat, kita akui apostolik.

 

Jadi, apa artinya menjadi rasul? Menjadi rasul berarti diutus untuk sebuah perutusan. Peristiwa di mana Kristus yang bangkit mengutus para rasul-Nya ke dunia, menyampaikan kepada mereka kuasa yang Ia sendiri terima dari Bapa dan memberi mereka Roh-Nya, adalah teladan dan dasar. Kita membaca dalam Injil Yohanes : “Yesus berkata lagi kepada mereka, ‘Damai sejahtera bagi kamu. Sebagaimana Bapa telah mengutus Aku demikian pula Aku mengutus kamu’. Dan setelah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata kepada mereka, 'Terimalah Roh Kudus'” (20:21-22).

 

Aspek dasariah lainnya dari menjadi seorang rasul adalah pekerjaan, yaitu panggilan. Demikianlah sejak awal, ketika Tuhan Yesus “memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya” (Mrk 3:13). Ia membentuk mereka sebagai sebuah kelompok, menyebut mereka "rasul", agar mereka dapat menyertai Dia dan diutus (bdk. Mrk 3:14; Mat 10:1-42). Santo Paulus, dalam surat-suratnya, menampilkan diri sebagai “Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, yaitu utusan (1 Kor 1:1), dan sekali lagi, “Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul” (Rm 1:1). Dan ia menekankan fakta bahwa Paulus adalah “seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati" (Gal 1:1). Allah telah memanggilnya sejak kandungan ibunya dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya untuk memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi" (bdk. Gal 1:15-16).

 

Pengalaman dua belas rasul dan kesaksian Paulus juga menantang kita hari ini. Mereka mengundang kita untuk menelaah sikap kita, menelaah pilihan kita, keputusan kita, berdasarkan poin-poin tetap ini : semuanya tergantung pada panggilan cuma-cuma dari Allah; Allah juga memilih kita untuk pelayanan yang terkadang tampak melebihi kemampuan kita atau tidak sesuai dengan harapan kita; panggilan yang diterima sebagai karunia cuma-cuma harus dijawab dengan cuma-cuma.

 

Konsili mengatakan : “panggilan kristiani menurut hakikatnya merupakan panggilan untuk merasul” (Dekrit Apostolicam Actuositatem [AA], 2). Panggilan Kristiani adalah panggilan yang bersifat umum, sama seperti “martabat para anggota karena kelahiran mereka kembali dalam Kristus; sama rahmat para putera; sama pula panggilan kepada kesempurnaan; satu keselamatan, satu harapan dan tak terbagilah cinta kasih” (Lumen Gentium, 32).

 

Panggilan kristiani adalah panggilan yang menyangkut baik kaum tertahbis, kaum hidup bakti, dan seluruh umat awam, pria atau wanita : panggilan kristiani adalah panggilan untuk semua. Kamu, harta yang telah kamu terima dengan panggilan Kristianimu, berkewajiban untuk memberikannya : panggilan kristiani adalah kodrat panggilan yang dinamis, kodrat hidup yang dinamis. Panggilan kristiani adalah panggilan yang memberdayakan mereka untuk secara aktif dan kreatif melakukan tugas kerasulan mereka, dalam Gereja di mana "terdapat keanekaan pelayanan, tetapi kesatuan perutusan. Para Rasul serta para pengganti mereka oleh Kristus diserahi tugas mengajar, menyucikan dan memimpin atas nama dan kuasa-Nya. Sedangkan kaum awam ikut serta mengemban tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus, menunaikan bagian mereka dalam perutusan segenap Umat Allah dalam Gereja dan di dunia" (AA, 2).

 

Dalam kerangka ini, apa yang dimaksud Konsili sehubungan kerjasama kaum awam dengan hierarki? Bagaimana maksudnya? Apakah ini sekadar adaptasi strategis terhadap situasi baru yang akan datang? Tidak sama sekali, tidak sama sekali: ada sesuatu yang lebih, yang melebihi kemungkinan saat ini dan yang mempertahankan nilainya bagi kita juga. Gereja seperti itu, didirikan dan apostolik.

 

Dalam kerangka kesatuan perutusan, keanekaragaman karisma dan pelayanan tidak boleh menimbulkan, dalam tubuh gerejawi, kategori tertentu : di sini tidak ada promosi, dan ketika Anda memahami kehidupan Kristiani sebagai promosi, yang berada di tampuk memerintah semua yang lain karena ia telah berhasil mendaki, ini bukan kekristenan. Inilah paganisme murni. Panggilan Kristiani bukanlah promosi, agar naik, tidak! Panggilan Kristiani adalah sesuatu yang lain. Panggilan Kristiani adalah hal yang luar biasa karena, meskipun atas kehendak Kristus beberapa berada dalam posisi penting, mungkin, para guru, “para pembagi misteri-misteri dan gembala bagi sesama, namun semua toh sungguh-sungguh sederajat martabatnya, sederajat pula kegiatan yang umum bagi semua orang beriman dalam membangun Tubuh Kristus” (LG, 32).

 

Masalah kesetaraan dalam martabat meminta kita untuk memikirkan kembali aspek-aspek hubungan kita, yang menentukan untuk penginjiln. Misalnya, apakah kita menyadari fakta bahwa dengan kata-kata kita dapat merusak martabat orang, sehingga merusak hubungan di dalam Gereja? Sementara kita mencoba berdialog dengan dunia, apakah kita juga tahu bagaimana berdialog di antara kita sebagai orang percaya? Atau di paroki, satu orang menentang yang lain, seseorang berbicara buruk tentang orang lain untuk naik lebih jauh? Apakah kita tahu bagaimana mendengarkan untuk memahami alasan orang lain, atau apakah kita memaksakan diri, bahkan mungkin dengan kata-kata yang menyenangkan? Mendengarkan, menjadi rendah hati, melayani orang lain : ini adalah melayani, ini adalah menjadi Kristiani, ini adalah seorang rasul.

 

Saudara-saudari terkasih, janganlah kita takut untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini. Marilah kita menghindari kesombongan, kesombongan kedudukan. Kata-kata ini dapat membantu kita untuk meneguhkan bagaimana kita menghayati panggilan pembaptisan kita, bagaimana kita menghayati cara kita menjadi rasul dalam Gereja apostolik, yang melayani sesama. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hangat saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ikut serta dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok dari Swedia dan Amerika Serikat. Dengan harapan doa yang baik agar Masa Prapaskah ini menjadi masa rahmat dan pembaruan rohani bagimu dan keluargamu, saya memohonkan bagi kamu semua sukacita dan damai dalam Tuhan kita Yesus Kristus.

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese lanjutan kita tentang hasrat misioner, kita sekarang membahas dimensi kerasulan dari penginjilan. Dalam Syahadat, kita mengakui bahwa Gereja bersifat “apostolik”. Seorang "rasul" secara harfiah adalah orang yang "diutus". Dalam Kitab Suci, kita membaca bahwa Yesus memilih kedua belas Rasul, memanggil mereka dan kemudian mengutus mereka untuk memberitakan Injil. Setelah kebangkitan-Nya, Ia menampakkan diri kepada kelompok Dua Belas dan berkata : "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu", mengembusi mereka dengan Roh Kudus untuk pengampunan dosa (Yoh 20:21-22). Dalam keanekaragaman pelayanan dan karisma dalam Tubuh Kristus, semua orang yang dibaptis dipanggil dan diutus untuk mengembangkan kerasulan Gereja. Kaum tertahbis telah menerima perutusan mengajar, memimpin dan menguduskan atas nama dan kuasa Yesus, tetapi semua anggota umat beriman, sebagai bagian dalam tugas imamat, kenabian dan rajawi Tuhan, dipanggil untuk menjadi murid misioner, “rasul dalam Gereja apostolik”. Semoga pengakuan atas martabat dan kesetaraan kita bersama mengilhami kita untuk semakin bersatu dan bekerjasama dalam mewartakan, melalui perkataan dan teladan, kabar baik tentang keselamatan kita dalam Kristus.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Maret 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 12 Maret 2023 : BERILAH AKU MINUM

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, selamat hari Minggu!

 

Hari Minggu ini, Bacaan Injil menyajikan kepada kita salah satu perjumpaan Yesus yang paling indah dan mempesona – perjumpaan dengan perempuan Samaria (bdk. Yoh 4:5-42). Yesus dan murid-murid-Nya beristirahat di dekat sebuah sumur di Samaria. Seorang perempuan datang dan Yesus berkata kepadanya, “Berilah Aku minum” (ayat 8 ). Saya ingin berhenti sejenak pada ungkapan ini : Berilah Aku minum.

 

Adegan ini menggambarkan Yesus, haus dan lelah. Seorang perempuan Samaria mendapati-Nya pada siang bolong, di tengah hari, meminta penyegaran bagaikan seorang pengemis. Sebuah gambaran perendahan diri Allah. Allah merendahkan diri-Nya di dalam Yesus Kristus untuk menebus kita. Ia datang kepada kita. Di dalam Yesus, Allah menjadikan dirinya salah seorang dari kita, Ia merendahkan diri-Nya. Haus seperti kita, Ia mengalami kehausan sama seperti kita. Memikirkan adegan ini, kita masing-masing dapat berkata : Tuhan, Guru, “meminta minum dariku. Jadi, Ia haus sepertiku. Ia ambil bagian dalam rasa hausku. Engkau benar-benar dekat denganku, Tuhan! Engkau berhubungan dengan kemiskinanku". Tetapi aku tidak percaya! “Engkau telah mencengkeramku dari bawah, dari bagian terbawah diriku, di mana tak seorang pun menjangkauku” (P. Mazzolari, La Samaritana, Bologna 2022, 55-56). Dan Engkau datang kepadaku dari bawah dan Engkau telah menangkapku dari bawah karena Engkau sedang haus dan haus akan aku. Sesungguhnya, Yesus tidak hanya mengalami kehausan fisik. Kehausan fisik Yesus mengungkapkan kehausan terdalam dalam hidup kita, dan terutama, kehausan akan cinta kita. Ia lebih dari seorang pengemis. Ia “haus” akan cinta kita. Dan hal ini akan muncul pada saat puncak sengsara-Nya, di kayu salib, di mana, sebelum wafat, Yesus akan berkata: "Aku haus" (Yoh 19:28). Rasa haus akan cinta itu membawa-Nya turun, merendahkan diri-Nya, menghinakan diri-Nya, menjadi salah seorang dari kita.

 

Tuhan yang meminta minum justru memberi minum. Bertemu perempuan Samaria, Ia berbicara kepadanya tentang air hidup Roh Kudus. Dan dari kayu salib, darah dan air mengalir dari lambung-Nya yang tertikam (bdk. Yoh 19:34). Haus akan cinta, Yesus memuaskan rasa haus kita dengan cinta. Dan Ia melakukan terhadap kita apa yang Ia lakukan terhadap perempuan Samaria – Ia datang menemui kita dalam kehidupan kita sehari-hari, Ia ambil bagian dalam kehausan kita, Ia menjanjikan kita air hidup yang membuat kehidupan kekal memancar di dalam diri kita.

 

Berilah Aku minum. Ada aspek kedua. Kata-kata ini bukan hanya permintaan Yesus kepada perempuan Samaria, tetapi jeritan – kadang-kadang hening – yang menemui kita setiap hari dan meminta kita untuk memuaskan rasa haus sesama, peduli terhadap rasa haus sesama. Berapa banyak yang mengatakan 'berilah aku minum' kepada kita - dalam keluarga kita, di tempat kerja, di tempat lain kita menemukan diri kita sendiri. Mereka haus akan kedekatan, perhatian, telinga yang mendengarkan. Orang-orang mengatakannya yang haus akan Sabda Allah dan perlu menemukan oasis dalam Gereja tempat mereka mendapatkan minum. Berilah aku minum adalah jeritan yang terdengar dalam masyarakat kita, di mana hiruk pikuk kecepatan, terburu-buru untuk mengkonsumsi, dan terutama ketidakpedulian, budaya ketidakpedulian tersebut, menghasilkan kegersangan dan kekosongan batin. Dan – janganlah kita melupakan hal ini – ‘berilah aku minum’ adalah jeritan banyak saudara dan saudari yang kekurangan air untuk hidup, sementara rumah kita bersama terus tercemar dan rusak. Lelah dan kering, rumah kita bersama juga "haus".

 

Berhadapan dengan tantangan-tantangan ini, Bacaan Injil hari ini menawarkan air hidup kepada kita masing-masing yang dapat menjadi mata air yang menyegarkan bagi sesama. Maka, seperti perempuan Samaria yang meninggalkan tempayannya di sumur dan pergi memanggil orang-orang di desanya (bdk. ayat 28), kita juga tidak akan lagi hanya berpikir untuk memuaskan rasa haus kita, rasa haus materi kita, akal budi kita. atau rasa haus budaya, tetapi dengan bersukacita bertemu Tuhan, kita akan memuaskan rasa haus sesama, memberi makna pada kehidupan sesama, bukan sebagai tuan, tetapi sebagai hamba sabda Allah yang telah haus akan kita, yang terus menerus haus akan kita. Kita akan memahami rasa haus mereka dan ambil bagian dalam cinta yang telah Ia berikan kepada kita. Sebuah pertanyaan untuk saya dan kamu semua akan tiba : Apakah kita dapat memahami rasa haus sesama, rasa haus orang-orang, rasa haus yang dimiliki begitu banyak keluarga saya, di lingkungan saya? Hari ini, kita dapat bertanya pada diri kita : Apakah aku haus akan Tuhan? Apakah aku sadar bahwa aku membutuhkan cinta-Nya seperti air untuk kehidupan? Dan kemudian : aku yang haus, apakah aku peduli dengan rasa haus sesama, rasa haus rohani mereka, rasa haus material mereka?

 

Semoga Bunda Maria menjadi perantara bagi kita dan menopang kita di jalan.

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya menyapa kamu semua, anggota umat beriman dari Roma dan para peziarah dari berbagai negara, terutama mereka yang datang dari Madrid dan Spalato.

 

Saya menyapa kelompok paroki dari Padua, Caerano San Marco, Bagolino, Formia dan Sant'Ireneo Roma.

 

Jumat, 17 Maret, dan Sabtu, 18, prakarsa “24 Jam untuk Tuhan” akan diulangi di seluruh Gereja. Ini adalah waktu yang didedikasikan untuk doa, adorasi, dan Sakramen Rekonsiliasi. Pada hari Jumat sore, saya akan pergi ke sebuah paroki di Roma untuk Perayaan Tobat. Setahun yang lalu, dalam konteks ini, kami melakukan Tindakan Konsekrasi yang khidmat kepada Hati Maria yang Tak Bernoda, memohon karunia perdamaian. Tindakan mempercayakan kita tidak goyah, harapan kita goyah! Tuhan selalu mendengarkan doa-doa yang ditujukan umat-Nya kepada-Nya melalui perantaraan Bunda Perawan. Marilah kita tetap bersatu dalam iman dan kesetiakawanan dengan saudara-saudari kita yang menderita karena perang. Marilah kita terutama tidak melupakan rakyat Ukraina yang babak belur!

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Maret 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 8 Maret 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 6) - KONSILI VATIKAN II. 1. PENGINJILAN SEBAGAI PELAYANAN GEREJAWI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam katekese terakhir kita melihat bagaimana “konsili” pertama dalam sejarah Gereja – konsili, sebagaimana Konsili Vatikan II – konsili pertama, diadakan di Yerusalem untuk membahas persoalan yang terkait dengan penginjilan, yaitu pewartaan Kabar Baik. kepada orang-orang bukan Yahudi – dianggap bahwa Injil harus diberitakan hanya kepada orang-orang Yahudi. Pada abad ke-20, Konsili Ekumenis Vatikan II menampilkan Gereja sebagai peziarah Umat Allah dari waktu ke waktu, dan karena sifat misionernya (bdk. Dekrit Ad Gentes, 2). Apa artinya ini? Ada jembatan antara konsili pertama dan konsili terakhir, di bawah bendera penginjilan, jembatan yang arsiteknya adalah Roh Kudus. Hari ini kita mendengarkan Konsili Vatikan II untuk menemukan penginjilan selalu merupakan pelayanan gerejawi, tidak pernah tersendiri, tidak pernah terasing, tidak pernah individualistis. Penginjilan selalu dilakukan di dalam gereja, yaitu di dalam komunitas, dan tanpa penyebaran agama, karena penyebaran agama bukanlah penginjilan.

 

Memang, penginjil selalu menyampaikan apa yang telah ia terima. Santo Paulus adalah orang pertama yang menulis hal ini : Injil yang ia wartakan dan diterima komunitas, dan yang di dalamnya mereka teguh berdiri, adalah sama dengan yang ia terima (bdk. 1 Kor 15:1-3). Iman diterima dan disampaikan. Dinamisme penyampaian pesan gerejawi ini mengikat dan menjamin otentisitas pewartaan Kristiani. Paulus juga menulis kepada jemaat Galatia: “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia” (1:8). Ini indah, dan ini bagus untuk banyak tampilan yang menjadi kebiasaan yang baik …

 

Akan tetapi, dimensi penginjilan gerejawi merupakan kriteria untuk meneguhkan semangat kerasulan. Sebuah penegasan diperlukan, karena godaan untuk melanjutkan “kesendirian” selalu mengintai, terutama saat jalan menjadi tidak dapat dilalui dan kita merasakan beban berkomitmen. Yang sama berbahayanya adalah godaan untuk mengikuti jalan semu-gerejawi yang lebih mudah, mengadopsi logika angka dan jajak pendapat duniawi, mengandalkan kekuatan gagasan, program, tatanan, "hubungan yang diperhitungkan". Hal ini tidak akan berhasil; hal ini seharusnya sedikit membantu tetapi hal dasariahnya adalah kekuatan yang diberikan Roh Kudus kepadau untuk mewartakan kebenaran Yesus Kristus, untuk mewartakan Injil. Hal-hal lain bersifat sekunder.

 

Sekarang, saudara-saudari, kita menempatkan diri semakin langsung di sekolah Konsili Vatikan II, membaca ulang beberapa bagian Dekrit Ad Gentes (AG), dokumen tentang kegiatan misioner Gereja. Teks Konsili Vatikan II ini sepenuhnya mempertahankan nilainya bahkan dalam konteks kita yang rumit dan plural.

 

Pertama-tama, dokumen ini, Ad Gentes, mengundang kita untuk memikirkan kasih Allah Bapa sebagai mata air, yang “karena kemurahan-Nya yang melimpah dan belas kasihan Bapa yang bebas menciptakan kita serta penuh kasih memanggil kita, untuk bersama dengan-Nya ikut menikmati kehidupan dan kemuliaan-Nya. Dengan murah hati Ia melimpahkan dan tiada hentinya mencurahkan kebaikan ilahi-Nya, sehingga Dia yang menciptakan segalanya, akhirnya menjadi 'semuanya dalam segalanya' (1Kor 15:28), dengan sekaligus mewujudkan kemuliaan-Nya dan kebahagiaan kita” (no. 2). Perikop ini mendasar, karena dikatakan bahwa kasih Bapa diperuntukkan bagi setiap manusia. Kasih Allah bukan hanya untuk sekelompok kecil orang, tidak… untuk semua orang. Ingatlah kata itu dengan teguh di dalam hati : setiap orang, setiap orang, tidak seorang pun dikecualikan: inilah yang dikatakan Tuhan. Dan kasih untuk setiap manusia inilah kasih yang menjangkau setiap pria dan wanita melalui perutusan Yesus, perantara keselamatan dan penebus kita (bdk. AG, 3), dan melalui perutusan Roh Kudus (bdk. AG, 4 ), yang – Roh Kudus – bekerja dalam diri setiap orang, baik yang dibaptis maupun yang tidak. Roh Kudus bekerja!

 

Konsili, selanjutnya mengingatkan kita bahwa tugas Gereja adalah melanjutkan perutusan Kristus, yang “diutus untuk mewartakan Injil kepada kaum miskin”; oleh karena itu, dokumen Ad Gentes melanjutkan, “Atas dorongan Roh Kristus Gereja harus menempuh jalan yang sama seperti yang dilalui oleh Kristus sendiri, yakni jalan kemiskinan, ketaatan, pengabdian dan pengorbanan diri sampai mati, dan dari kematian itu muncullah Ia melalui kebangkitan-Nya sebagai Pemenang” (AG, 5). Jika tetap setia pada “jalan” ini, perutusan Gereja “tidak lain dan tidak kurang dari pada penampakan rencana Allah atau epifania, serta pelaksanaannya di dunia dan dalam sejarahnya” (AG, 9).

 

Saudara-saudari, ulasan singkat ini juga membantu kita memahami makna gerejawi semangat kerasulan setiap murid-misionaris. Semangat kerasulan bukanlah antusiasme; semangat kerasulan adalah hal lain, semangat kerasulan adalah rahmat Allah, yang harus kita pelihara. Maknanya harus kita pahami, karena dalam peziarahan dan penginjilan Umat Allah tidak ada individu yang aktif maupun pasif. Tidak ada orang-orang yang berkhotbah, orang-orang yang mewartakan Injil dengan satu atau lain cara, dan mereka yang tetap diam. “Semua orang yang dibaptis”, kata Evangelii Gaudium, “apa pun kedudukan mereka di Gereja atau tingkat pendidikan mereka dalam iman, adalah pelaku-pelaku penginjilan” (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 120). Apakah kamu orang Kristiani? “Ya, aku telah menerima Baptisan”. Dan apakah kamu menginjili?” "Tetapi apa artinya ini?" Jika kamu tidak menginjili, jika kamu tidak memberikan kesaksian, jika kamu tidak memberikan kesaksian tentang baptisan yang telah kamu terima, tentang iman yang diberikan Allah kepadamu, kamu bukan orang Kristiani yang baik. Berdasarkan baptisan yang diterima dan penggabungan dalam Gereja, setiap orang yang dibaptis mengambil bagian dalam perutusan Gereja dan, dalam hal ini, dalam perutusan Kristus Raja, Imam dan Nabi. Saudara-saudari, tugas ini “satu dan tetap sama, di mana pun juga dalam segala situasi, meskipun menurut kenyataan tidak dilaksanakan dengan cara yang sama” (AG, 6). Hal ini mengajak kita untuk tidak menjadi kaku atau membatu; hal ini menebus kita dari kegelisahan yang bukan berasal dari Allah. Semangat misioner umat beriman juga mengungkapkan dirinya sebagai pencarian kreatif akan cara-cara baru untuk mewartakan dan bersaksi, cara-cara baru untuk menjumpai umat manusia yang terluka yang ditanggung oleh Kristus. Singkatnya, tentang cara-cara baru dalam melayani Injil dan melayani umat manusia. Penginjilan adalah pelayanan. Jika seseorang mengatakan bahwa ia adalah seorang penginjil, dan tidak memiliki sikap itu, hati hamba itu, serta memercayai dirinya sebagai seorang tuan, ia bukanlah seorang penginjil, tidak… ia celaka.

 

Kembali ke sumber kasih Bapa serta perutusan Putra dan Roh Kudus tidak menutup kita dalam ruang ketenangan pribadi yang statis. Sebaliknya, kita dituntun untuk mengenali kemurahan hati karunia kepenuhan hidup yang merupakan panggilan kita, sebuah karunia Allah yang kita puji dan syukuri. Karunia ini bukan hanya untuk kita, tetapi untuk diberikan kepada sesama. Dan kita juga dituntun untuk menghayati semakin penuh apa yang telah kita terima, dengan membagikannya kepada sesama, dengan rasa tanggung jawab dan bepergian bersama di sepanjang jalan, yang seringkali merupakan sejarah yang berliku-liku dan sulit, dalam pengharapan yang waspada dan giat akan penggenapannya. Marilah kita memohon kepada Tuhan rahmat ini, untuk menerima panggilan Kristiani ini dan bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah Ia berikan kepada kita, harta ini. Dan mencoba menyampaikannya kepada sesama.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyampaikan sambutan hangat kepada para peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya para anggota Wilton Park Conference serta berbagai kelompok dari Inggris, Denmark, Swiss dan Amerika Serikat. Dengan doa saya mengharapkan agar Masa Prapaskah ini akan menjadi masa rahmat dan pembaruan rohani bagimu dan keluargamu, saya memohonkan bagi kamu semua sukacita dan damai dalam Tuhan kita Yesus Kristus.

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Dalam katekese kita tentang semangat kerasulan, kita sekarang memikirkan aspek gerejani penginjilan. Pewartaan Injil bukan tugas individu-individu yang terasing, tetapi pelayanan komunal untuk iman kerasulan Gereja, yang harus diwariskan dalam keutuhannya kepada setiap generasi. Semangat untuk menyebarkan Injil tidak dapat dipisahkan dari dimensi gerejawi ini, yang melindungi pesan Kristiani dari bias dan akomodasi kepentingan duniawi serta cara berpikir. Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kegiatan Misioner Gereja menyatakan bahwa segenap penginjilan bersumber dari kasih Allah Bapa kita yang tak terhingga besarnya, yang dicurahkan ke dunia melalui perutusan Putra dan Roh Kudus, serta diteruskan dalam perutusan Gereja untuk mewartakan kasih yang menyelamatkan ini ke seluruh ujung bumi. Sebagai “murid misionaris”, semua orang yang dibaptis dipanggil untuk meneladani kasih Kristus yang rela berkorban dengan memberikan kesaksian yang kreatif serta meyakinkan akan kebenaran sabda dan kuasa pendamaian-Nya, tidak hanya untuk individu, tetapi untuk kehidupan segenap keluarga umat manusia kita.

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Maret 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 5 Maret 2023 : PERUBAHAN RUPA YESUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Pada Hari Minggu Prapaskah II ini, Bacaan Injil tentang perubahan rupa Yesus diwartakan. Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes bersama-Nya ke gunung dan dinyatakan kepada mereka dalam segala keindahan-Nya sebagai Putra Allah (bdk. Mat 17:1-9).

 

Marilah kita berhenti sejenak pada pemandangan ini dan bertanya pada diri kita : Berupa apakah keindahan ini? Apa yang dilihat para murid? Dampak khusus? Tidak, bukan itu. Mereka melihat terang kekudusan Allah bersinar pada wajah dan pakaian Yesus, gambaran sempurna Bapa. Keagungan Allah, keindahan Allah dinyatakan. Tetapi Allah adalah kasih. Oleh karena itu, para murid telah melihat dengan mata mereka keindahan dan kemegahan kasih ilahi yang menjelma dalam diri Kristus. Mereka merasakan surga terlebih dahulu. Sungguh suatu kejutan bagi para murid! Mereka memiliki wajah Sang Kasih di depan mata mereka begitu lama tanpa pernah menyadari betapa indahnya itu! Baru sekarang mereka menyadarinya dengan sukacita yang begitu besar, dengan sukacita yang luar biasa.

 

Pada kenyataannya, melalui pengalaman ini, Yesus sedang membentuk mereka, mempersiapkan mereka untuk langkah yang lebih penting. Segera setelah itu, sebenarnya, mereka harus juga mengenali keindahan dalam diri Yesus ketika Ia akan ditinggikan di kayu salib dan wajah-Nya akan babak belur. Petrus berjuang untuk memahami : ia ingin menghentikan waktu, "menghentikan sementara" adegan itu, tinggal di sana dan memperpanjang pengalaman yang luar biasa ini. Tetapi Yesus tidak memperkenankannya. Memang, terang-Nya tidak bisa dimerosotkan menjadi "saat magis"! Dengan demikian sesuatu yang palsu, tiruan, sesuatu yang akan larut ke dalam kabut perasaan yang berlalu akan terjadi. Sebaliknya, Kristus adalah terang yang mengarahkan perjalanan kita seperti tiang awan bagi orang-orang di padang gurun (Kel 13:21). Keindahan Yesus tidak menjauhkan murid-murid-Nya dari kenyataan hidup, tetapi memberi mereka kekuatan untuk mengikuti seluruh jalan-Nya hingga Yerusalem, seluruh jalan-Nya hingga kayu salib. Keindahan Kristus tidak menjauhkan. Keindahan Kristus selalu membawamu maju. Keindahan Kristus tidak membuatmu bersembunyi. Majulah!

 

Saudara-saudari, Bacaan Injil ini membuka jalan bagi kita juga. Bacaan Injil mengajarkan kita betapa pentingnya untuk tinggal bersama Yesus bahkan ketika tidak mudah untuk memahami semua yang Ia katakan dan lakukan untuk kita. Sesungguhnya, dengan tinggal bersama-Nya kita belajar mengenali dalam wajah-Nya keindahan kasih yang bercahaya yang Ia berikan kepada kita, bahkan ketika memikul salib. Dan di sekolahnya kita belajar untuk juga melihat keindahan dalam wajah orang-orang yang berjalan di samping kita setiap hari – keluarga, teman, sejawat yang menjaga kita dengan cara yang paling beragam. Berapa banyak wajah bercahaya, berapa banyak senyuman, berapa banyak kerutan, berapa banyak air mata dan bekas luka mengungkapkan kasih di sekitar kita! Marilah kita belajar mengenali mereka dan mengisi hati kita dengan mereka. Dan kemudian marilah kita berangkat untuk membawa terang yang telah kita terima kepada orang lain juga, melalui tindakan kasih yang nyata (bdk. 1 Yoh 3:18), menyelami pekerjaan kita sehari-hari dengan lebih murah hati, mengasihi, melayani, dan mengampuni dengan kesungguhan dan kemauan yang lebih besar. Kontemplasi keajaiban Allah, kontemplasi wajah Allah, kontemplasi wajah Tuhan, harus menggerakkan kita untuk melayani orang lain.

 

Kita dapat bertanya pada diri kita : Apakah kita tahu bagaimana mengenali terang kasih Allah dalam hidup kita? Apakah kita mengenalinya dengan sukacita dan rasa syukur dalam wajah orang-orang yang mengasihi kita? Apakah kita melihat sekeliling kita karena tanda-tanda terang yang memenuhi hati kita dan membuka hati kita terhadap kasih dan pelayanan? Atau apakah kita lebih suka api jerami berhala yang mengasingkan kita dan menutup kita dari diri kita sendiri? Terang besar Tuhan dan terang berhala buatan yang palsu. Mana yang lebih aku sukai?

 

Semoga Maria, yang menyimpan terang Putranya dalam hatinya bahkan dalam kegelapan Kalvari, senantiasa menyertai kita di jalan kasih.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Beberapa hari terakhir ini, pikiran saya sering tertuju kepada para korban kecelakaan kereta api yang terjadi di Yunani. Kebanyakan dari mereka adalah para pelajar muda. Saya mendoakan mereka yang meninggal. Saya dekat dengan orang-orang yang terluka dan para kerabat mereka. Semoga Bunda Maria menghibur mereka.

 

Saya sekarang mengungkapkan kesedihan saya atas tragedi yang terjadi di perairan Cutro, dekat Crotone. Saya mendoakan banyak korban kapal karam, kerabat mereka dan orang-orang yang selamat. Saya menyatakan penghargaan dan terima kasih saya kepada penduduk dan lembaga setempat atas kesetiakawanan dan keramahtamahan mereka terhadap saudara- saudari kita ini. Saya kembali menyerukan kepada semua orang agar tragedi serupa tidak terulang kembali. Biarlah para pedagang manusia dihentikan agar mereka tidak terus mengenyahkan nyawa begitu banyak orang tak bersalah! Semoga perjalanan harapan tidak pernah lagi diubah menjadi perjalanan kematian. Semoga air jernih Mediterania tidak pernah lagi berlumuran darah oleh kecelakaan tragis seperti itu! Semoga Tuhan memberi kita kekuatan untuk memahami dan menangis.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa komunitas Ukraina di Milan yang datang pada peringatan empat abad kemartiran Uskup Santo Yosafat yang memberikan hidupnya demi persatuan umat Kristiani. Saudara-saudari terkasih, saya memuji upayamu untuk menyambut rekanmu yang melarikan diri dari perang. Semoga Tuhan, melalui perantaraan Santo Yosafat, memberikan kedamaian kepada rakyat Ukraina yang babak belur.

 

Saya menyapa para peziarah dari Lituania dan umat Lituania di Roma yang sedang merayakan Santo Casimir, serta umat Katolik Rumania dari Zaragoza (Spanyol), serta kelompok paroki yang datang dari Murcia dan Jerez de la Frontera (Spanyol); dan dari Tbilisi, Georgia.

 

Saya menyapa umat dari Burkina Faso, para calon penerima sakramen krisma dari Scandicci dan Anzio; umat dari Capaci, Ostia dan San Mauro Abate, Roma.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Maret 2023)