Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 12 April 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 10) - SAKSI-SAKSI : SANTO PAULUS. 2

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Setelah melihat, dua minggu lalu, hasrat pribadi Santo Paulus untuk penginjilan, sekarang kita dapat merenungkan lebih mendalam hasral penginjilan sebagaimana dikatakan dan digambarkannya dalam beberapa surat-suratnya.

Berdasarkan keutamaan pengalamannya, Paulus bukannya tidak menyadari bahaya hasrat yang menyimpang, yang berorientasi pada arah yang salah. Ia sendiri telah jatuh ke dalam bahaya ini sebelum takdir rebahnya ia di jalan menuju Damsyik. Kadang-kadang kita harus berurusan dengan hasrat yang salah arah, gigih dalam mematuhi norma-norma yang murni manusiawi dan usang demi komunitas Kristiani. “Mereka dengan giat berusaha untuk menarik kamu", tulis Rasul Paulus, “tetapi tidak dengan tulus hati” (Gal 4:17). Kita tidak dapat mengabaikan kepedulian beberapa orang yang mengabdikan diri mereka pada pengupayaan yang salah bahkan di dalam komunitas Kristiani; kita dapat menyombongkan hasrat penginjilan palsu sementara sebenarnya mengejar keangkuhan atau keyakinan kita atau sedikit cinta diri.


Karena alasan ini, kita bertanya pada diri kita, apa ciri-ciri hasrat penginjilan sejati menurut Paulus? Teks yang kita dengar di awal tampaknya berguna untuk hal ini, sebuah daftar “senjata” yang ditunjukkan Rasul Paulus untuk peperangan rohani. Salah satu di antaranya adalah kesiapan untuk menyebarkan Injil, yang diterjemahkan oleh beberapa orang sebagai “hasrat” – orang ini berhasrat dalam meneruskan gagasan-gagasan ini, hal-hal ini – dan disebut sebagai “sepatu”. Mengapa? Bagaimana hasrat penginjilan berhubungan dengan apa yang dikenakan di kakimu? Metafora ini diambil dari kitab nabi Yesaya, yang mengatakan ini : “Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kaki-kaki pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: 'Allahmu itu Raja!'” (52:7).


Di sini juga, kita menemukan acuan tentang kaki seorang pewarta yang baik. Mengapa? Karena orang yang pergi mewartakan harus bergerak, harus berjalan! Tetapi kita juga mencatat bahwa Paulus, dalam teks ini, berbicara tentang alas kaki sebagai bagian dari baju zirah, mengikuti analogi perlengkapan prajurit yang pergi ke medan perang : dalam pertempuran memiliki pijakan yang stabil untuk menghindari jebakan medan penting – karena musuh sering mengotori medan perang dengan jebakan – dan memiliki kekuatan untuk berlari dan bergerak ke arah yang benar. Jadi alas kaki adalah untuk berlari dan menghindari seluruh perkara musuh.


Hasrat penginjilan adalah penopang yang menjadi dasar pewartaan, dan para pewarta agaknya seperti kaki dari tubuh Kristus yaitu Gereja. Tidak ada pewartaan tanpa gerakan, tanpa ‘berangkat’, tanpa prakarsa. Ini berarti tidak ada umat Kristiani jika tidak bergerak; bukan umat Kristiani jika mereka tidak keluar dari diri mereka untuk memulai perjalanan dan menyampaikan pewartaan. Tidak ada pewartaan tanpa gerakan, tanpa berjalan. Kita tidak mewartakan Injil dengan berdiri diam, terkunci di kantor, di meja atau di komputer kita, berdebat seperti 'pejuang papan ketik' dan mengganti kreativitas pewartaan dengan gagasan salin dan tempel yang diambil dari sana-sini. Injil diwartakan dengan bergerak, dengan berjalan, dengan berangkat.

Istilah yang digunakan oleh Paulus untuk menunjukkan alas kaki dari orang-orang yang mewartakan Injil adalah kata Yunani yang menunjukkan kesiapan, persiapan, kesigapan. Justru berlawanan dengan kecerobohan, yang tidak sesuai dengan kasih. Nyatanya, di tempat lain Paulus mengatakan: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan” (Rm 12:11). Sikap inilah yang dituntut dalam Kitab Keluaran untuk merayakan kurban pembebasan Paskah : “Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN. Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir” (12:11-12a).


Seorang pewarta siap untuk pergi, dan mengetahui bahwa Tuhan lewat dengan cara yang mengejutkan. Oleh karena itu, ia harus bebas dari skema dan bersiap untuk tindakan yang tidak terduga dan baru : bersiap terhadap berbagai kejutan. Orang yang mewartakan Injil tidak dapat difosilkan dalam kurungan yang masuk akal atau gagasan bahwa “selalu dilakukan seperti ini,” tetapi siap untuk mengikuti hikmat yang bukan dari dunia ini, sebagaimana dikatakan Paulus ketika berbicara tentang dirinya : "Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah" (1 Kor 2:4-5).


Inilah sebabnya, saudara-saudari, pentingnya memiliki kesiapan akan kebaruan Injil, sikap yang melibatkan momentum, mengambil prakarsa, maju lebih dulu. Artinya tidak melewatkan kesempatan untuk mewartakan Injil damai sejahtera, damai sejahtera yang dipahami Kristus bagaimana memberi lebih banyak dan lebih baik daripada yang diberikan dunia.


Dan karena alasan ini saya menasihatimu untuk menjadi penginjil yang bergerak, tanpa rasa takut, yang berjalan maju, untuk membawa keindahan Yesus, membawa kebaruan Yesus yang mengubah segalanya. “Ya Bapa, Ia mengubah penanggalan, karena sekarang kita menghitung tahun dimulai dengan Yesus…” Tetapi apakah Ia juga mengubah hati? Dan apakah kamu bersedia memperkenankan Yesus mengubah hatimu? Atau apakah kamu orang Kristiani yang suam-suam kuku, yang tidak sedang bergerak? Coba pikirkan : Apakah kamu orang yang antusias terhadap Yesus, apakah kamu sudi berjalan maju? Sedikit pikirkan tentang hal itu.


[Sapaan Khusus]


Saya menyampaikan sapaan hangat kepada para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ikut serta dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok dari Swedia, Swiss, Kanada, dan Amerika Serikat. Dalam sukacita Kristus yang bangkit, saya memohonan atasmu dan keluargamu kerahiman Allah Bapa kita yang penuh kasih kita. Semoga Tuhan memberkati kamu semua!


[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]


Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese lanjutan kita tentang hasrat kerasulan, kita telah merenungkan teladan Rasul Paulus. Dari pengalaman sebelumnya sebagai penganiaya Gereja, Paulus sangat menyadari bahaya hasrat yang salah arah, atau hasrat yang termotivasi bukan oleh kasih Kristus tetapi oleh kesia-siaan atau penonjolan diri. Hasrat penginjilan yang otentik, sebaliknya, Paulus mengajarkan, sepenuhnya berpusat pada Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Dalam Surat-suratnya, Paulus menggunakan perumpamaan mengenakan "perlengkapan senjata Allah" dan menasihati para pendengarnya agar "mengenakan kasut" kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera (bdk. Ef 6:13). Gambaran yang elok, karena kaki seorang penginjil harus tertanam kokoh namun tetap bergerak, selalu siap menghadapi situasi baru dalam upaya mewartakan Kabar Gembira dengan kreativitas dan berpendirian. Semoga kita masing-masing, dalam situasi kehidupan kita sehari-hari, terbukti berhasrat dalam melakukan pembedaan roh kapan dan bagaimana cara terbaik untuk mewartakan Yesus yang bangkit serta janji-Nya akan kepenuhan hidup dan damai sejahtera.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 12 April 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 10 April 2023 : KAMU SELALU MENEMUKAN YESUS DI JALAN PEWARTAAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini Bacaan Injil (Mat 28:8-15) memungkinkan kita menghidupkan kembali perjumpaan para perempuan dengan Yesus yang bangkit pada pagi Paskah. Dengan demikian Bacaan Injil mengingatkan kita bahwa merekalah, para murid perempuan, yang pertama kali melihat dan berjumpa dengan-Nya.

 

Kita mungkin bertanya pada diri kita : mengapa mereka? Karena alasan yang sangat sederhana : karena mereka yang pertama kali pergi ke kubur. Seperti semua murid, mereka juga sedang menderita oleh karena jalan cerita Yesus tampaknya telah berakhir; tetapi, tidak seperti murid-murid lainnya, mereka tidak tinggal di rumah dilumpuhkan oleh kesedihan dan ketakutan : di pagi hari, saat matahari terbit, mereka pergi untuk menghormati tubuh Yesus, membawa minyak wangi. Kubur itu telah disegel dan mereka bertanya-tanya siapa yang dapat memindahkan batu yang begitu berat itu (bdk. Mrk 16:1-3). Tetapi keinginan mereka untuk melakukan gerakan cinta ini mengalahkan segalanya. Mereka tidak berkecil hati, mereka mengatasi ketakutan dan kesedihan. Inilah cara untuk menemukan Yesus yang bangkit : keluar dari ketakutan kita, keluar dari kesedihan kita.

 

Marilah kita telusuri adegan yang dijelaskan dalam Bacaan Injil : para perempuan tiba, mereka melihat kubur yang kosong dan, “dengan takut dan dengan sukacita yang besar", mereka berlari cepat-cepat, teks mengatakan, "untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus” (Mat 28:8). Sekarang, tepat ketika mereka akan menyampaikan kabar ini, Yesus datang ke arah mereka. Marilah kita perhatikan baik-baik hal ini : Yesus bertemu dengan mereka saat mereka akan mewartakan-Nya. Ini indah : Yesus bertemu mereka saat mereka akan mewartakan-Nya. Ketika kita mewartakan Tuhan, Tuhan datang kepada kita. Terkadang kita berpikir bahwa cara untuk dekat dengan Tuhan adalah dengan membuat-Nya tetap dekat dengan kita; karena kemudian, jika kita mengungkapkan diri kita dan mulai membicarakannya, maka penilaian, kritik datang, mungkin kita tidak tahu bagaimana menanggapi pertanyaan atau provokasi tertentu, jadi lebih baik tidak membicarakannya, dan tutup mulut : tidak Sebaliknya, Tuhan datang saat kita mewartakan-Nya. Kamu selalu menemukan Tuhan di jalan pewartaan. Mewartakan Tuhan dan kamu akan berjumpa dengan-Nya. Carilah Tuhan dan kamu akan berjumpa dengan-Nya. Selalu di jalan tersebut, inilah yang diajarkan para perempuan kepada kita : kita berjumpa Yesus dengan mempersaksikan-Nya. Kita berjumpa Yesus dengan mempersaksikan-Nya.

 

Marilah kita beri contoh. Kadang-kadang kita akan menerima kabar baik, seperti, misalnya, kelahiran seorang anak. Jadi, salah satu hal pertama yang kita lakukan adalah mengumumkan kabar bahagia ini kepada para sahabat : “Kamu tahu, aku memiliki seorang bayi… Ia cantik”. Dan, dengan menceritakannya, kita juga mengulanginya untuk diri kita dan entah bagaimana membuatnya hidup kembali untuk kita. Jika hal ini terjadi untuk kabar baik, setiap hari atau pada beberapa hari penting, untuk Yesus terjadi jauh lebih banyak, bukan hanya kabar baik, atau bahkan kabar terbaik kehidupan, bukan hanya itu, tetapi Ia adalah hidup itu sendiri, Ia adalah “kebangkitan. dan hidup” (Yoh 11:25). Setiap kali kita mewartakannya, bukan dengan propaganda atau penyebaran agama – tidak : mewartakan adalah satu hal, propaganda dan penyebaran agama adalah hal lain – setiap kali kita mewartakan-Nya, Tuhan datang kepada kita. Ia datang dengan hormat dan cinta, sebagai karunia terindah yang harus dibagikan, Yesus tinggal di dalam diri kita setiap kali kita mewartakan-Nya.

 

Marilah kita pikirkan kembali para perempuan dalam Bacaan Injil : ada batu yang disegel dan meskipun demikian, mereka pergi ke kubur; ada seluruh kota yang telah melihat Yesus di kayu salib dan meskipun demikian mereka pergi ke kota untuk mewartakan bahwa Ia hidup. Saudara-saudari terkasih, ketika kita berjumpa Yesus, tidak ada rintangan yang dapat menghalangi kita untuk mewartakan-Nya. Sebaliknya jika kita menyimpan sukacita-Nya untuk diri kita sendiri, mungkin karena kita belum benar-benar berjumpa dengan-Nya.

Saudara, saudari, berhadapan dengan pengalaman para perempuan tersebut kita bertanya pada diri kita : katakanlah kepadaku, kapan terakhir kali kamu memberikan kesaksian tentang Yesus? Kapan terakhir kali aku bersaksi tentang Yesus? Hari ini, apa yang harus kulakukan agar orang-orang yang kutemui menerima sukacita pewartaan-Nya? Dan kembali : dapatkah seseorang berkata : orang ini tenteram, bahagia, baik, karena ia telah bertemu Yesus? Bisakah hal ini dikatakan tentang kita masing-masing? Marilah kita meminta Bunda Maria untuk membantu kita menjadi para pewarta Injil yang penuh sukacita.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Hari ini adalah peringatan dua puluh lima tahun apa yang disebut Perjanjian Belfast atau Jumat Agung, yang mengakhiri kekerasan yang telah meresahkan Irlandia Utara selama beberapa dekade. Dengan semangat syukur, saya berdoa kepada Allah sang empunya perdamaian agar apa yang dicapai dalam langkah bersejarah itu diperkokoh demi kepentingan semua orang di pulau kecil Irlandia.

 

Saya kembali mengucapkan selamat Paskah kepada kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara : “Kristus telah bangkit; Ia sungguh telah bangkit”. Saya menyapamu dengan hangat, khususnya para remaja paroki-paroki di Vigevano, kaum muda Pisa dan kaum muda Appiano Gentile.

 

Saya berterima kasih kepada kamu semua yang menyampaikan harapan yang baik kepada saya di hari-hari ini. Saya sangat berterima kasih atas doa-doamu : dengan perantaraan Perawan Maria, semoga Allah mengganjar kita masing-masing dengan karunia-karunia-Nya!

 

Dan saya berharap semua orang akan menghabiskan hari-hari Oktaf Paskah ini, di mana kebangkitan Kristus masih dirayakan, dalam sukacita iman. Marilah kita bertekun memohon karunia perdamaian untuk seluruh dunia, terutama untuk Ukraina yang tersayang dan tersiksa.

 

Selamat hari Senin Malaikat! Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang dan sampai jumpa.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 10 April 2023)

PESAN DAN BERKAT “URBI ET ORBI” PAUS FRANSISKUS PADA HARI RAYA PASKAH 9 April 2023

Saudara-saudari terkasih, Kristus telah bangkit!

 

Pada hari ini kita menyatakan bahwa Ia, Tuhan kehidupan kita, adalah “kebangkitan dan hidup” dunia (bdk. Yoh 11:25). Hari ini adalah Paskah, Pesaḥ, sebuah kata yang berarti "pelintasan", karena di dalam Yesus pelintasan umat manusia yang menentukan telah dibuat : pelintasan dari kematian menuju kehidupan, dari dosa menuju rahmat, dari ketakutan menuju keyakinan, dari kehancuran menuju persekutuan di dalam Dia. Di dalam Dia, Sang Penguasa waktu dan sejarah, saya ingin mengucapkan kepada semua orang, dengan sukacita yang tulus, Selamat Paskah untuk semua!

 

Semoga Paskah ini bagi kamu masing-masing, saudara-saudari terkasih, dan khususnya bagi orang-orang sakit dan orang-orang miskin, orang-orang lanjut usia dan orang-orang yang mengalami saat-saat pencobaan dan kelelahan, sebuah peralihan dari penderitaan menuju penghiburan. Kita tidak sendirian : Yesus, Dia yang hidup, bersama kita, selamanya. Biarlah Gereja dan dunia bersukacita, karena hari ini harapan kita tidak lagi muncul di tembok kematian, karena Tuhan telah membangun sebuah jembatan menuju kehidupan. Ya, saudara-saudari, pada Paskah takdir dunia telah diubah, dan pada hari ini, yang juga bertepatan dengan tanggal kebangkitan Kristus yang paling mungkin, kita dapat bersukacita untuk merayakan, dengan rahmat murni, hari sejarah yang paling penting dan indah.

 

“Kristus telah bangkit; Ia sungguh telah bangkit!”. Dalam pemberitaan tradisional Gereja-Gereja Timur ini : Christòs anesti! Kata “sungguh” tersebut mengingatkan kita bahwa harapan kita bukanlah khayalan, melainkan kebenaran! Dan bahwa, setelah Paskah, perjalanan umat manusia, yang sekarang ditandai dengan harapan, semakin maju dengan lebih mudah. Para saksi perdana kebangkitan menunjukkan hal ini melalui teladan mereka. Keempat Injil berbicara tentang kesegeraan, pada pagi Paskah, para perempuan "berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus" (Mat 28:8). Maria Magdalena kemudian “berlari-lari mendapatkan Simon Petrus” (Yoh 20:2), sedangkan Yohanes dan Petrus sendiri kemudian “berlari bersama-sama” (bdk. ayat 4) menuju tempat Yesus dikuburkan. Kemudian, pada malam Paskah, setelah bertemu dengan Tuhan yang bangkit di jalan menuju Emaus, dua murid "berangkat tanpa menunda" (bdk. Luk 24:33) dan melakukan perjalanan beberapa mil, menanjak dan dalam kegelapan, didorong oleh sukacita Paskah yang tak tertahankan yang berkobar-kobar di hati mereka (bdk. ayat 32). Sukacita yang sama yang membuat Petrus, di tepi Danau Galilea, setelah melihat Yesus yang bangkit, meninggalkan perahu bersama-sama murid-murid lainnya, segera menceburkan diri ke dalam air dan segera berenang ke arah-Nya (bdk. Yoh 21:7). Maka pada Paskah, perjalanan dipercepat dan menjadi perlombaan, karena umat manusia sekarang melihat tujuan perjalanannya, melihat makna takdirnya, Yesus Kristus, dan dipanggil untuk segera menemui-Nya, yang merupakan harapan dunia.

 

Semoga kita juga segera maju dalam perjalanan kepercayaan timbal balik : kepercayaan di antara individu, bangsa dan negara. Semoga kita membiarkan diri kita mengalami kekaguman atas pemberitaan Paskah yang penuh sukacita, atas cahaya yang menerangi kegelapan dan kesuraman yang, terlalu sering, kita dapati menyelimuti dunia.

 

Marilah kita segera mengatasi pertikaian dan perpecahan, serta membuka hati kita bagi mereka yang paling membutuhkan. Marilah kita segera menempuh jalan perdamaian dan persaudaraan. Marilah kita bersukacita atas nyatanya tanda-tanda harapan begitu banyak negara, dimulai dengan mereka yang menawarkan bantuan serta menyambut semua orang yang melarikan diri dari peperangan dan kemiskinan, yang sampai kepada kita.

 

Pada saat yang sama, di sepanjang perjalanan ini kita juga menemukan banyak batu sandungan, yang membuat semakin sulit dan menuntut untuk segera menuju Tuhan yang bangkit. Kepada-Nya, marilah kita memanjatkan doa : Tuhan, tolonglah kami untuk berlari menjumpai-Mu! Tolonglah kami untuk membuka hati kami!

 

Tolonglah rakyat Ukraina tercinta dalam perjalanan mereka menuju perdamaian, dan pancarkanlah terang Paskah kepada rakyat Rusia. Hiburlah orang-orang yang terluka dan semua orang yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai oleh karena peperangan, dan anugerahkanlah agar para tahanan dapat kembali dengan selamat dan sehat kepada keluarga mereka. Bukalah hati seluruh masyarakat internasional untuk berjuang mengakhiri peperangan ini serta seluruh pertikaian dan pertumpahan darah di dunia kita, dimulai dari Suriah yang masih menunggu perdamaian. Berilah kekuatan kepda semua orang yang terkena dampak gempa dahsyat di Turki dan juga Suriah. Marilah kita mendoakan semua orang yang kehilangan keluarga dan sahabat, serta mereka yang kehilangan tempat tinggal. Semoga mereka mendapat penghiburan dari Allah dan pertolongan dari keluarga bangsa-bangsa.

Pada hari ini, Tuhan, kami mempercayakan kepada-Mu kota Yerusalem, saksi perdana kebangkitan-Mu. Semoga di sana dimulai kembali dialog, dalam suasana saling percaya dan saling menghormati, antara Israel dan Palestina, sehingga perdamaian dapat memerintah di Kota Suci dan di seluruh wilayah.

 

Tuhan, tolonglah Lebanon, yang masih mencari stabilitas dan persatuan, agar perpecahan dapat diatasi dan seluruh warga negara bekerjasama demi kebaikan bersama negara tersebut.

 

Perhatikan rakyat Tunisia tercinta, serta khususnya kaum muda dan mereka yang menderita kesulitan sosial dan ekonomi, sehingga mereka tidak kehilangan harapan dan dapat bekerjasama untuk membangun masa depan perdamaian dan persaudaraan.

 

Palingkanlah pandangan-Mu ke Haiti, yang telah lama mengalami krisis sosial, ekonomi, dan kemanusiaan yang parah, serta dukunglah upaya para aktor politik dan komunitas internasional untuk mencari solusi yang pasti atas banyak masalah yang menimpa rakyat yang sangat tersiksa tersebut.

 

Perkuatlah proses perdamaian dan rekonsiliasi yang dilakukan di Etiopia dan Sudan Selatan, serta akhirilah kekerasan di Republik Demokratik Kongo.

 

Tuhan, dukunglah komunitas Kristiani yang hari ini merayakan Paskah dalam keadaan tertentu, seperti di Nikaragua dan Eritrea, serta ingatlah semua orang yang dilarang untuk mengakui iman mereka secara bebas dan terbuka. Berikanlah penghiburan bagi para korban terorisme internasional, khususnya di Burkina Faso, Mali, Mozambik, dan Nigeria.

 

Tolonglah Myanmar untuk mengupayakan jalan perdamaian, dan cerahkanlah hati para pemimpin, sehingga Rohingya yang sangat menderita dapat menemukan keadilan.

 

Hiburlah para pengungsi, orang-orang yang dideportasi, para tahanan politik, dan para migran, terutama mereka yang paling rentan, serta para korban kelaparan, kemiskinan, dan dampak mengerikan dari perdagangan narkoba, perdagangan manusia, dan semua bentuk perbudakan lainnya. Tuhan, ilhamilah para pemimpin bangsa untuk memastikan bahwa tidak ada pria atau wanita yang mengalami diskriminasi dan dilanggar martabatnya; agar dengan penghormatan penuh terhadap hak asasi manusia dan demokrasi luka-luka sosial ini dapat disembuhkan; agar kebaikan bersama warga negara dapat diupayakan senantiasa dan semata-mata; serta agar keamanan dan kondisi yang dibutuhkan untuk dialog dan hidup berdampingan secara damai dapat dijamin.

 

Saudara, saudari, semoga kita menemukan kembali kenikmatan perjalanan, mempercepat detak jantung harapan dan merasakan pendahuluan keindahan surga! Hari ini, marilah kita kumpulkan energi untuk maju dalam kebaikan menuju Sang Kebaikan itu sendiri, yang tidak pernah mengecewakan. Jika, seperti pernah ditulis oleh salah seorang Bapa zaman dahulu, “dosa terbesar adalah ketidakpercayaan pada kuasa kebangkitan” (Santo Isaac Nineveh, Sermones Ascetici, I, 5), hari ini marilah kita percaya dan mengaku : “Kristus sungguh bangkit dari kematian!” (Sekuensia). Kami percaya kepada-Mu, Tuhan Yesus. Kami percaya bahwa, bersama-Mu, harapan terlahir kembali dan perjalanan berlanjut. Semoga Engkau, Tuhan kehidupan, mendorong kami dalam perjalanan kami dan mengulanginya kepada kami, seperti yang Engkau lakukan kepada para murid pada malam Paskah : “Damai sejahtera bagimu! Damai sejahtera bagimu! Damai sejahtera bagimu!" (Yoh 19:21).

______

(Peter Suriadi - Bogor, 9 April 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 5 APRIL 2023 : SALIB, SUMBER PENGHARAPAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari Minggu lalu, Liturgi membuat kita mendengarkan Kisah Sengsara Tuhan. Kisah Sengsara Tuhan diakhiri dengan kata-kata ini : "Mereka memeterai batu kubur itu" (bdk. Mat 27:66). Semuanya tampak berakhir. Bagi para murid, batu besar penutup kubur itu menandakan akhir pengharapan mereka. Sang Guru disalibkan, dibunuh dengan cara yang paling kejam dan paling memalukan, digantung di tiang gantungan yang terkenal di luar kota – kegagalan di muka umum, akhir yang mungkin paling buruk, akhir yang terburuk pada masa itu. Sekarang bagi kita hari ini, tidak ada yang aneh mengenai keputusasaan yang menindas para murid. Pikiran suram dan perasaan frustrasi juga menumpuk di dalam diri kita. Mengapa ada begitu banyak ketidakpedulian terhadap Allah? Ini menarik : Mengapa ada begitu banyak kejahatan di dunia ini? Nah, lihatlah, ada kejahatan di dunia! Mengapa kesenjangan terus meningkat dan mengapa perdamaian yang telah lama ditunggu-tunggu tidak kunjung tiba? Mengapa kita begitu terikat pada peperangan, memperlakukan satu sama lain dengan buruk? Dalam hati setiap orang, berapa banyak pengharapan yang memudar; berapa banyak angan-angan yang ada! Dan kembali, ada perasaan masa lalu lebih baik dan dalam dunia, bahkan mungkin dalam Gereja, hal-hal tidak berjalan seperti dulu…. Singkatnya, bahkan hari ini, pengharapan kadang-kadang tampak termeterei di balik batu ketidakpercayaan. Dan saya mengajak kamu masing-masing untuk berpikir : Di manakah pengharapanmu? Apakah pengharapanmu hidup, atau apakah kamu telah memetereikannya di sana, atau apakah kamu telah menaruhnya di dalam laci, bagaikan sebuah kenangan? Apakah pengharapanmu mendorongmu untuk berjalan atau merupakan sebuah kenangan romantis, seolah-olah sesuatu yang tidak ada. Di manakah pengharapanmu hari ini?

 

Satu gambaran tetap melekat di benak para murid : salib. Di situlah segalanya berakhir. Di situlah akhir segalanya berpusat. Tetapi sebentar lagi, mereka akan menemukan awal yang baru tepat di sana, di salib. Saudara-saudari terkasih, beginilah pengharapan Allah bertunas. Pengharapan tersebut lahir dan terlahir kembali di lubang hitam pengharapan kita yang mengecewakan – dan pengharapan, pengharapan sejati, sebaliknya, tidak pernah mengecewakan. Marilah kita pikirkan dengan tepat tentang salib : dari sarana siksaan yang paling mengerikan, Allah membuat tanda kasih-Nya yang terbesar. Setelah menjadi pohon kehidupan, kayu kematian itu mengingatkan kita bahwa permulaan Allah sering dimulai dengan akhir kita. Oleh karena itu, Ia suka berbuat kejaiban. Jadi hari ini, marilah kita melihat pohon salib agar pengharapan dapat bertunas di dalam diri kita – selain keutamaan sehari-hari tersebut, keutamaan yang hening dan rendah hati tersebut, keutamaan tersebut membuat kita tetap berdiri, yang membantu kita bergerak maju. Tidak mungkin hidup tanpa pengharapan. Marilah kita berpikir : Di manakah pengharapanku? Hari ini, marilah kita melihat pohon salib agar pengharapan dapat bertunas di dalam diri kita… agar kita dapat disembuhkan dari kesedihan kita. Dan berapa banyak ada orang-orang yang sedih. Ketika saya dulu bisa turun ke jalan, sekarang saya tidak bisa melakukannya karena mereka tidak mengizinkan saya, tetapi ketika saya bisa keluar ke jalan di keuskupan lain, saya dulu suka melihat wajah orang. Berapa banyak wajah sedih! Orang sedih, orang berbicara sendiri, orang berjalan sendiri dengan gawainya, tetapi tanpa kedamaian, tanpa pengharapan. Dan di manakan pengharapanku hari ini? Butuh sedikit pengharapan, bukan? untuk disembuhkan dari kesedihan yang membuat kita sakit – ada begitu banyak kesedihan – untuk disembuhkan dari kepahitan yang membuat kita mencemari Gereja dan dunia. Saudara-saudari, marilah kita lihat di sana, di salib. Dan apa yang kita lihat? Kita melihat Yesus telanjang, Yesus ditelanjangi, Yesus dilukai, Yesus disiksa. Apakah ini akhir dari segalanya? Di situlah pengharapan kita.

 

Dalam dua aspek ini, marilah kita pahami bagaimana pengharapan, yang tampaknya telah mati, terlahir kembali. Pertama, marilah kita lihat Yesus menanggalkan pakaian-Nya. Bahkan, “Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi” (ayat 35). Allah dilucuti – Ia yang memiliki segalanya membiarkan diri-Nya dilucuti dari segalanya. Tetapi penghinaan itu adalah jalan penebusan kita. Beginilah cara Allah mengatasi penampilan kita. Memang, kita merasa sulit untuk menelanjangi diri kita, berlaku jujur. Kita selalu berusaha menutupi kebenaran karena kita tidak menyukainya. Kita mendandani diri kita dengan penampilan luar yang kita usahakan dan rawat dengan baik, topeng untuk menyamarkan diri kita dan tampil lebih baik dari diri kita. Ini agak mirip dengan sikap "riasan" : riasan lahiriah, agar terlihat lebih baik dari orang lain…. Kita berpikir penting untuk pamer, tampil seperti ini sehingga orang lain akan berbicara baik tentang kita. Dan kita menghiasi diri kita dengan penampilan, kita menghiasi diri kita dengan penampilan, dengan hal-hal yang tidak perlu. Tetapi kita tidak menemukan kedamaian dengan cara ini. Kemudian riasan hilang dan kamu melihat dirimu di cermin dengan wajah jelek, tetapi memang benar wajahmu – wajah yang dikasihi Allah – bukan wajah dengan riasan. Dan dilucuti dari segalanya, Yesus mengingatkan kita bahwa pengharapan dilahirkan kembali dengan menjadi jujur tentang diri kita – mengatakan kebenaran kepada diri kita – dengan melepaskan sikap bermuka dua, dengan membebaskan diri kita dari kepalsuan dengan hidup berdampingan secara damai. Kadang-kadang, kita begitu terbiasa mengatakan kebohongan tentang diri kita sehingga kita hidup dengan kebohongan seolah-olah merupakan kebenaran, dan akhirnya kita diracuni oleh kepalsuan kita. Inilah yang dibutuhkan : kembali ke hati, ke hal yang hakiki, ke kehidupan sederhana, dilucuti dari begitu banyak hal tidak berguna yang merupakan pengganti pengharapan. Saat ini, ketika segala sesuatu menjadi rumit dan kita berisiko kehilangan makna, kita membutuhkan kesederhanaan, kita perlu menemukan kembali nilai ketenangan, nilai pelepasan, untuk membersihkan apa yang mengotori hati kita dan membuatnya sedih. Kita masing-masing dapat memikirkan sesuatu yang tidak berguna yang dapat kita bebaskan untuk menemukan diri kita kembali. Pikirkan tentang berapa banyak hal yang tidak berguna. Di sini, lima belas hari yang lalu di Santa Marta, tempat saya tinggal – ini adalah hotel untuk banyak orang – beredar gagasan bahwa untuk Pekan Suci ini akan ada baiknya untuk melihat ke dalam lemari kita dan menyingkirkan barang-barang, memberikan hal-hal yang kita miliki yang tidak kita gunakan. Kamu tidak dapat membayangkan jumlahnya! Ada baiknya menyingkirkan hal-hal yang tidak berguna. Dan berikanlah kepada orang miskin, kepada orang yang membutuhkan. Kita juga, berapa banyak hal tidak berguna yang kita miliki di dalam hati kita – dan juga di luar. Lihatlah lemarimu : lihatlah. Ini berguna, ini tidak berguna… dan lakukan pembersihan di sana. Lihatlah lemari jiwamu – kamu tertawa, bukan? Memang benar, memang benar. Lihatlah lemari jiwamu – berapa banyak hal tidak berguna yang kamu miliki, berapa banyak khayalan bodoh. Marilah kita kembali ke kesederhanaan, ke hal-hal yang benar, yang tidak perlu dibuat-buat. Latihan yang bagus!

 

Marilah kita arahkan pandangan kedua kita ke arah Salib dan kita melihat Yesus yang terluka. Salib menampilkan paku yang menembus tangan dan kaki-Nya, lambung-Nya yang menganga. Tetapi pada luka-luka di tubuh-Nya ditambahkan luka-luka jiwa-Nya. Betapa pedihnya, Yesus sendirian, dikhianati, diserahkan dan ditolak oleh para pengikut-Nya – oleh sahabat-sahabat-Nya bahkan murid-murid-Nya – dikutuk oleh kekuatan agama dan sipil, dikucilkan, bahkan Yesus merasa ditinggalkan oleh Allah (bdk. ayat 46). Selain itu, alasan penghukuman-Nya muncul di kayu salib : “Inilah Yesus, Raja orang Yahudi” (ayat 37). Ini adalah sebuah ejekan : Ia, yang melarikan diri ketika mereka ingin menjadikan-Nya raja (bdk. Yoh 6:15), sekarang dikutuk karena menjadikan diri-Nya raja. Meskipun Ia tidak melakukan kejahatan, Ia ditempatkan di tengah-tengah dua penjahat, dan mereka lebih memilih Barabas yang kejam daripada Dia (bdk. Mat 27:15-21). Pada akhirnya, Yesus terluka secara tubuh dan jiwa. Saya bertanya pada diri saya sendiri : Dengan cara apa hal ini membantu pengharapan kita? Dengan cara ini, apa yang dikatakan Yesus, yang telanjang, dilucuti dari segalanya, dari segalanya, terhadap pengharapan saya, bagaimana hal ini bisa membantu saya?

 

Kita juga terluka – siapa yang tidak berada dalam kehidupan? Dan semua itu sering kali merupakan luka-luka tersembunyi yang kita sembunyikan karena malu. Siapa yang tidak menanggung luka pilihan masa lalu, kesalahpahaman, kesedihan yang tertinggal di dalam hati dan sulit untuk diatasi? Tetapi juga tentang kesalahan yang diderita, kata-kata yang tajam, penghakiman yang tidak berbelas kasih? Allah tidak menyembunyikan luka-luka yang menusuk tubuh dan jiwa-Nya, dari mata kita. Ia menunjukkannya agar kita dapat melihat bahwa jalan baru dapat dibuka dengan Paskah : membuat lubang cahaya dari luka kita. “Tetapi, Bapa Suci, kamu melebih-lebihkan”, seseorang mungkin berkata kepada saya. Tidak, itu benar. Cobalah, cobalah. Cobalah melakukannya. Pikirkan tentang luka-lukamu, yang hanya kamu ketahui, yang disembunyikan semua orang dalam hati mereka. Dan lihatlah Tuhan dan kamu akan melihat, kamu akan melihat bagaimana lubang-lubang cahaya keluar dari luka-luka itu. Yesus tidak mempersalahkan salib, tetapi mengasihi. Ia mengasihi dan mengampuni mereka yang menyakiti-Nya (bdk. Luk 23:34). Jadi, Ia mengubah kejahatan menjadi kebaikan; dengan demikian, Ia mengubah dan mengubah rupa kesedihan menjadi cinta.

 

Saudara-saudari, intinya bukan apakah kita sedikit atau banyak terluka dalam kehidupan, intinya adalah apa yang harus dilakukan dengan luka-lukaku – luka kecil, luka besar, luka yang meninggalkan bekas selamanya dalam tubuhkku, dalam jiwaku. Apa yang bisa kulakukan dengan lukaku? Apa yang bisa kamu, kamu, kamu, lakukan dengan lukamu? “Tidak, Bapa, saya tidak memiliki luka” – “Hati-hati, pikirkan dua kali sebelum mengatakan hal ini”. Dan saya bertanya kepadamu : apa yang kamu lakukan dengan lukamu, dengan luka yang kamu ketahui semata? Kamu dapat membiarkan luka-luka tersebut menularimu dengan kebencian dan kesedihan, atau sebaliknya saya dapat menyatukan luka-lukaku dengan luka-luka Yesus, sehingga luka-lukaku juga menjadi bercahaya. Pikirkan berapa banyak orang muda, berapa banyak orang muda, yang tidak mentolerir luka mereka dan mencari jalan keselamatan dengan bunuh diri. Saat ini, di kota-kota kita, begitu banyak anak muda yang tidak melihat jalan keluar lain, mereka tidak memiliki pengharapan, dan lebih memilih mabuk menggunakan narkoba, melupakan … orang miskin. Pikirkan tentang hal ini. Dan kamu, apa obat yang kamu gunakan untuk menyembunyikan lukamu? Luka kita bisa menjadi mata air pengharapan ketika, alih-alih mengasihani diri sendiri atau menyembunyikannya, kita mengeringkan air mata yang ditumpahkan orang lain; ketika, alih-alih memupuk kebencian atas apa yang telah dirampok dari kita, kita menjaga apa yang kurang dari orang lain; ketika, alih-alih memikirkan diri sendiri, kita membungkuk pada mereka yang menderita; ketika, alih-alih haus akan cinta, kita memuaskan dahaga mereka yang membutuhkan kita. Karena hanya jika kita berhenti memikirkan diri kita sendiri, kita akan menemukan diri kita kembali. Tetapi jika kita terus memikirkan diri kita, kita tidak akan menemukan diri kita lagi. Dan dengan melakukan hal ini, Kitab Suci mengatakan, luka kita akan pulih dengan segera (bdk. Yes 58:8), dan pengharapan tumbuh kembali. Pikirkan tentang hal ini : Apa yang dapat kulakukan untuk sesama? Aku terluka. Aku terluka oleh dosa, aku terluka oleh masa laluku, setiap orang memiliki lukanya masing-masing. Apa yang bisa kulakukan? Menjilat lukaku selama sisa hidupku? Atau dapatkah aku melihat luka yang dimiliki orang lain dan pergi dengan pengalaman hidup saya yang terluka untuk menyembuhkan, untuk membantu orang lain? Ini adalah tantangan hari ini untuk kamu semua, untuk kamu masing-masing, untuk kita masing-masing. Semoga Tuhan membantu kita bergerak maju.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyampaikan sambutan hangat kepada para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ikut serta dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok dari Belanda, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Kanada, dan Amerika Serikat. Semoga Pekan Suci ini menuntun kita untuk merayakan kebangkitan Tuhan Yesus dengan hati yang dimurnikan dan diperbarui oleh rahmat Roh Kudus. Allah memberkatimu!

 

[Seruan]

 

Besok, Hari Olahraga Internasional untuk Pembangunan dan Perdamaian, ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saya berharap ini dapat berkontribusi untuk meningkatkan tawaran kesetiakawanan serta watak persahabatan dan berbagi dalam persaudaraan.

 

Kisah Sengsara Kristus selama Pekan Suci ini, memperingati kematian-Nya yang tidak adil, secara khusus mengingatkan saya akan semua korban kejahatan perang dan, ketika saya mengundangmu untuk mendoakan mereka, marilah kita memanjatkan doa kepada Allah agar hati semua orang memungkinkan untuk bertobat. Dan, memandang Maria, Bunda Maria, di depan Salib, pikiran saya tertuju kepada para ibu : kepada para ibu tentara Ukraina dan Rusia yang gugur selama perang. Mereka adalah ibu-ibu yang anaknya telah meninggal. Marilah kita mendoakan ibu-ibu ini.

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih:

 

Dalam hari-hari Pekan Suci ini, kita bersiap untuk merayakan misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Salib, yang mula-mula tampak sebagai tanda kekalahan dan keputusasaan, ternyata justru menjadi pohon kehidupan dan sumber pengharapan kekal. Permenungan kita tentang Yesus yang tersalib, dalam ketelanjangan dan kehinaan-Nya, mengundang kita untuk melepaskan diri dari khayalan palsu, mengakui kebenaran tentang diri kita, serta menemukan pemulihan dan kemungkinan awal yang baru. Penderitaan yang dipikul Yesus demi kita bukan hanya penderitaan fisik, tetapi juga termasuk pengalaman manusiawi pengkhianatan, penyangkalan dan bahkan, di kayu salib, ditinggalkan oleh Bapa.

 

Dalam luka-luka Yesus, kita bisa melihat luka-luka kita; dalam ketaatan-Nya terhadap kehendak Bapa dan pengampunan-Nya terhadap mereka yang menyalibkan-Nya, Ia menunjukkan kemenangan kasih Allah dan menawarkan kepada kita pengharapan pembaruan dan penebusan batin. Di hari-hari mendatang, marilah kita mendekat kepada Tuhan dan menaruh pengharapan kita pada kuasa salib-Nya untuk mengubah kejahatan menjadi kebaikan, dan penderitaan menjadi kasih yang berlimpah bagi saudara-saudari kita, terutama orang-orang yang paling membutuhkan.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 5 April 2023)