Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Agustus 2023 : KEHIDUPAN MARIA DITANDAI DENGAN PELAYANAN DAN PUJIAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, Hari Raya Perawan Maria Diangkat ke Surga, kita merenungkan kenaikan jiwa dan raganya menuju kemuliaan surgawi. Bacaan Injil hari ini juga menyajikannya kepada kita saat ia naik, kali ini “menuju pegunungan” (Luk 1:39). Dan mengapa ia pergi ke sana? Untuk membantu Elisabet sepupunya, dan di sana dengan penuh sukacita ia mengidungkan Magnificat. Maria naik dan Sabda Allah mengungkapkan kepada kita apa yang menjadi ciri khas kita melalui perbuatannya : pelayanan kepada sesamanya dan pujian kepada Allah. Kedua hal ini : Maria adalah perempuan yang melayani sesama, dan Maria adalah perempuan yang memuji Allah. Penginjil Lukas bahkan menceritakan kehidupan Yesus sendiri sebagai pendakian, menuju Yerusalem, tempat Ia menyerahkan diri di kayu salib; dan ia juga menggambarkan perjalanan Maria dengan cara yang sama. Singkatnya, Yesus dan Maria menempuh jalan yang sama: dua kehidupan yang naik, memuliakan Allah dan melayani sesama. Yesus sebagai Penebus, yang memberikan nyawa-Nya demi kita, demi membenarkan kita; Maria sebagai hamba yang pergi mengabdi : dua kehidupan yang mengalahkan maut dan bangkit lagi; dua kehidupan yang rahasianya adalah pelayanan dan pujian. Marilah kita melihat lebih dekat dua aspek ini : pelayanan dan pujian.

 

Pelayanan. Melayani adalah saat kita membungkuk untuk melayani saudara-saudari kita yang bangkit : kasihlah yang mengangkat kehidupan. Kita pergi untuk melayani saudara-saudari kita dan dengan pelayanan ini, kita "naik". Tetapi melayani tidak mudah: Bunda Maria, yang baru saja mengandung, melakukan perjalanan hampir 150 kilometer dari Nazaret untuk mencapai rumah Elisabet. Membantu itu mahal, bagi kita semua! Kita selalu mengalami hal ini dalam kelelahan, kesabaran, dan kekhawatiran ketika kita peduli terhadap orang lain. Pikirkanlah, misalnya, jarak yang ditempuh banyak orang setiap hari pulang pergi tempat kerja, dan banyak tugas yang mereka lakukan untuk orang lain; pikirkanlah pengorbanan waktu dan tidur dalam merawat bayi yang baru lahir atau orang lanjut usia; upaya dalam melayani mereka yang tidak bisa memberi imbalan sama sekali, dalam Gereja dan dalam pekerjaan sukarela. Saya mengagumi pekerjaan sukarela. Pekerjaan yang melelahkan, tetapi naik, mencapai Surga! Inilah pelayanan sejati.

Tetapi pelayanan berisiko mandul tanpa memuji Allah. Memang, ketika Maria memasuki rumah sepupunya, ia memuji Allah. Ia tidak berbicara tentang keletihan perjalanannya, melainkan kidung kegembiraan muncul dari hatinya. Karena orang yang mengasihi Allah tahu memuji. Dan Bacaan Injil hari ini menunjukkan kepada kita “aliran pujian: anak yang di dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan (bdk. Luk 1:44); Elisabet yang mengucapkan kata-kata berkat dan “sabda bahagia pertama”: “Berbahagialah ia yang percaya” (Luk 1:45); dan semuanya berpuncak pada Maria, yang mewartakan Magnificat (bdk. Luk 1:46-55). Pujian menambah sukacita. Pujian bagaikan tangga: pujian menuntun hati ke atas. Pujian membangkitkan jiwa dan mengalahkan godaan untuk menyerah. Pernahkah kamu melihat betapa membosankannya orang-orang, mereka yang hidup dari pergunjingan, tidak mampu memberikan pujian? Tanyakanlah pada dirimu sendiri: apakah aku mampu memberikan pujian? Alangkah baiknya memuji Allah setiap hari, dan juga orang lain! Alangkah baiknya hidup dalam rasa syukur dan berkat ketimbang penyesalan dan keluh kesah, menengadah ketimbang bermuka masam! Keluh kesah: ada orang yang berkeluh kesah setiap hari. Tetapi lihatlah Allah ada di dekatmu, lihatlah Ia telah menciptakanmu, lihatlah hal-hal yang telah Ia berikan kepadamu. Pujilah, pujilah! Dan ini adalah kesehatan rohani.

 

Pelayanan dan pujian. Marilah kita mencoba bertanya pada diri kita sendiri: apakah aku menjalani pekerjaan dan kesibukan sehari-hariku dengan semangat pelayanan, atau dengan keegoisan? Apakah aku mengabdikan diri untuk seseorang tanpa pamrih, tanpa mencari keuntungan segera? Singkatnya, apakah aku menjadikan pelayanan sebagai “batu loncatan” dalam hidupku? Dan berpikir tentang pujian: apakah aku, seperti Maria, bergembira karena Allah (bdk. Luk 1:47)? Apakah aku berdoa, memuji Tuhan? Dan, setelah memuji Dia, apakah aku menyebarkan kegembiraan-Nya di antara orang-orang yang kutemui? Kamu masing-masing, cobalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

 

Semoga Bunda kita, yang diangkat ke Surga, membantu kita mendaki lebih tinggi setiap hari melalui pelayanan dan pujian.


[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]


Saudara-saudari terkasih,

 

Dengan tulus saya menyapa kamu semua yang hadir di sini, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa kaum muda dari Keuskupan Verona, mengharapkan mereka mendapat pengalaman musim panas yang terbaik di Roma.

 

Hari ini, kita mempercayakan kepada Maria untuk mengangkat ke Surga permohonan kita untuk perdamaian di Ukraina dan di seluruh wilayah yang dilanda perang: ada begitu banyak wilayah, sayangnya. Hiruk pikuk senjata menenggelamkan upaya dialog; hukum kekuatan menang atas kekuatan hukum. Namun janganlah kita berkecil hati, marilah kita terus berharap dan berdoa, karena Allahlah yang menuntun sejarah. Semoga Ia mendengarkan kita!

Dan hari ini, hari Bunda Maria, saya menyapa kaum muda Immakulata! Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari raya. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Agustus 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 13 Agustus 2023 : TENANGLAH! INI AKU. JANGAN TAKUT!

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil hari ini mengisahkan perbuatan Yesus yang luar biasa : Ia berjalan di malam hari di atas air danau Galilea menuju murid-murid-Nya yang sedang menyeberangi danau dengan perahu (bdk. Mat 14:22-33). Pertanyaannya adalah : Mengapa Yesus melakukan hal ini? Suka pertunjukan? Tidak! Tetapi mengapa? Mungkinkah karena kebutuhan yang mendesak dan tak terduga untuk membantu murid-murid-Nya yang terhalang angin sakal? Tidak, karena Ia sendiri yang merencanakan segalanya, Ia menyuruh mereka berangkat malam itu. Teks bahkan mengatakan Ia "memerintahkan mereka" (bdk. ayat 22). Mungkinkah Ia melakukannya untuk menunjukkan kehebatan dan kuasa-Nya? Tetapi Ia tidak sesederhana itu. Jadi, mengapa Ia melakukannya? Mengapa Ia ingin berjalan di atas air?

 

Ada pesan yang belum jelas, pesan yang perlu kita pegang. Pada kenyataannya, pada masa itu, hamparan air yang luas dianggap sebagai tempat tinggal kuasa jahat yang tidak dapat dikuasai manusia. Terutama ketika badai membuatnya bergejolak, jurang ini melambangkan kekacauan dan mengingatkan akan kegelapan dunia bawah. Sekarang, para murid mendapati diri mereka berada di tengah danau ketika hari sudah gelap. Mereka takut tenggelam, terhisap oleh kejahatan. Dan Yesus datang ke sini, berjalan di atas air, untuk mengatasi kuasa jahat. Ia berjalan di atas kuasa jahat dan berkata kepada murid-murid-Nya : “Tenanglah! Ini Aku. Jangan takut” (ayat 27). Inilah pesan yang diberikan Yesus kepada kita. Inilah makna tanda tersebut : kuasa jahat yang menakut-nakuti kita, yang tidak dapat kita kuasai, segera mendapatkan proporsi yang semakin kecil berkat Yesus. Dengan berjalan di atas air, Ia ingin berkata, “Jangan takut. Aku meletakkan musuhmu di bawah kaki-Ku” – sebuah pesan yang indah – Aku meletakkan musuhmu di bawah kaki-Ku – bukan manusia! – bukan musuh semacam itu, tetapi maut, dosa, iblis – inilah musuh manusia, musuh kita. Dan Yesus menginjak-injak musuh-musuh ini demi kita.

 

Hari ini, Kristus mengulangi kepada kita masing-masing, “Tenanglah! Ini Aku. Jangan takut”. Tenanglah karena Aku di sini, karena kamu tidak lagi sendirian di perairan kehidupan yang bergejolak. Jadi, apa yang harus kita lakukan ketika kita menemukan diri kita berada di lautan terbuka di tengah angin sakal? Apa yang harus kita lakukan ketika kita menghadapi ketakutan akan lautan lepas, ketika kita hanya melihat kegelapan dan kita merasa akan tenggelam? Kita perlu melakukan dua hal yang dilakukan para murid dalam Bacaan Injil. Apa yang dilakukan para murid? Mereka memanggil dan menyambut Yesus. Pada saat-saat terburuk, dalam badai yang paling gelap, panggillah Yesus dan sambutlah Yesus.

 

Murid-murid memanggil Yesus : Petrus berjalan sebentar di atas air menuju Yesus, tetapi kemudian ketakutan. Ia tenggelam dan kemudian berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" (ayat 30). Panggillah Yesus, panggillah Yesus. Doa ini indah. Doa mengungkapkan kepastian bahwa Tuhan dapat menyelamatkan kita, Ia mengalahkan kejahatan dan ketakutan kita. Saya mengajakmu untuk mengulanginya sekarang bersama-sama. Tiga kali bersama-sama : Tuhan, tolonglah aku! Tuhan, tolonglah aku! Tuhan, tolonglah aku!

 

Dan kemudian para murid menyambut, pertama mereka memanggil, kemudian mereka menyambut Yesus ke dalam perahu. Teks mengatakan bahwa begitu Ia naik ke perahu, "angin pun reda" (ayat 32). Tuhan mengetahui bahwa perahu kehidupan kita, serta perahu Gereja, terancam oleh angin sakal, dan laut tempat kita berlayar sering bergolak. Ia tidak menghindarkan kita dari kerja keras berlayar, sebaliknya – Bacaan Injil menekankan – Ia mendorong murid-murid-Nya untuk berangkati. Ia mengundang kita untuk menghadapi kesulitan agar kesulitan tersebut juga menjadi tempat penyelamatan, agar Yesus dapat menaklukkannya, sehingga menjadi kesempatan untuk bertemu dengan-Nya. Bahkan, di saat-saat kegelapan kita, Ia datang menemui kita, meminta untuk disambut seperti malam di danau tersebut.

 

Jadi, marilah kita bertanya pada diri kita : Bagaimana reaksiku ketika aku takut, berada dalam kesulitan? Apakah aku maju sendirian, dengan kekuatanku sendiri, atau apakah aku berseru kepada Tuhan dengan kepercayaan? Dan seperti apa imanku? Apakah aku percaya bahwa Kristus lebih kuat daripada gelombang dan angin yang menerjang? Tetapi yang terpenting: apakah aku berlayar bersama-Nya? Apakah aku menyambut-Nya? Apakah aku memberikan ruang untuk-Nya di dalam perahu kehidupanku – tidak pernah sendirian, selalu bersama Yesus? Apakah aku menyerahkan kemudi kepada Yesus?

 

Dalam penyeberangan yang gelap, semoga Maria, bunda Yesus, Bintang Lautan, membantu kita mencari terang Yesus.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kapal karam tragis lainnya terjadi beberapa hari yang lalu di Mediterania - empat puluh satu orang kehilangan nyawa. Saya telah mendoakan mereka. Dan dengan sedih dan memalukan kita harus mengatakan bahwa sejak awal tahun ini, hampir dua ribu pria, wanita dan anak-anak telah meninggal saat berusaha mencapai Eropa. Ini adalah luka menganga pada kemanusiaan kita. Saya mendorong kekuatan politik dan diplomatik agar berusaha menyembuhkan hal ini dalam semangat kesetiakawanan dan persaudaraan, serta dedikasi semua orang yang bekerja untuk mencegah karamnya kapal dan membantu para migran.

 

Besok, di Bafoussam, Kamerun, yang masih dilanda kekerasan dan perang, pada malam Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga, peziarahan untuk perdamaian di negara itu akan berlangsung. Marilah kita bersatu dalam doa untuk saudara-saudari kita di Kamerun sehingga, melalui perantaraan Perawan Maria, Allah dapat menopang harapan rakyat yang telah menderita selama bertahun-tahun, dan membuka jalan dialog agar perdamaian dan kerukunan dapat tercapai.

 

Dan marilah kita mendoakan rakyat Ukraina yang sangat menderita karena perang ini.

 

Saya juga ingin memastikan doa saya untuk para korban kebakaran yang telah menghancurkan Pulau Maui, Hawaii.

 

Sekarang saya menyampaikan salam kepada kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa beberapa kelompok yang ikut serta dalam Hari Orang Muda Sedunia di Lisbon – dan ada banyak!...Saya melihat bendera – Polandia, Meksiko, Argentina, Italia, banyak, El Salvador, banyak… para imam dan orang muda dari El Salvador yang sangat riuh; para mahasiswa dari Universidad Iberoamericana, Puebla, Meksiko; dan orang muda dari Taiwan. Nikmatilah perjalananmu!

 

Dan kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 14 Agustus 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 9 Agustus 2023 : TENTANG PERJALANAN APOSTOLIK KE PORTUGAL DALAM RANGKA HARI ORANG MUDA SEDUNIA KE-37

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!


Dalam beberapa hari terakhir, saya pergi ke Portugal dalam rangka Hari Orang Muda Sedunia ke-37.


Hari Orang Muda Sedunia di Lisbon ini, setelah pandemi, dianggap oleh semua orang sebagai karunia Allah, yang sekali lagi menggerakkan hati dan langkah orang muda sedunia di jalan Injil: banyak orang muda dari seluruh dunia, banyak dari mereka! Untuk saling bertemu dan bertemu Yesus.


Pandemi, sebagaimana kita ketahui, berdampak parah pada perilaku sosial: pengasingan sering berubah menjadi ketertutupan, dan terutama kaum muda yang terpengaruh. Dengan Hari Orang Muda Sedunia ini, Allah memberikan “dorongan” ke arah lain. Hari Orang Muda Sedunia menandai awal baru peziarahan besar kaum muda melintasi benua, dalam nama Yesus Kristus.

Dan bukan kebetulan hal ini terjadi di Lisbon, sebuah kota yang menghadap ke lautan, kota yang menjadi lambang penjelajahan besar melalui laut.


Maka, pada Hari Orang Muda Sedunia, Bacaan Injil mengusulkan kepada kaum muda teladan Perawan Maria. Pada saat yang paling kritis, ia pergi mengunjungi saudaranya Elisabet, dan Injil mengatakan Maria “berangkat dan bergegas” (Luk 1:39). Saya suka menyebut Bunda Maria dengan cara ini, Bunda Maria "bergegas". Ia selalu melakukan sesuatu dengan bergegas, ia tidak pernah membuat kita menunggu; Ia adalah bunda semua orang. Dengan cara ini, Maria menuntun peziarahan kaum muda dalam mengikuti Yesus hari ini, di milenium ketiga. Sama seperti yang ia lakukan seabad yang lalu di Portugal, di Fatima, ketika ia berbicara kepada tiga anak, mempercayakan kepada mereka pesan iman dan harapan bagi Gereja dan dunia. Itulah sebabnya, pada Hari Orang Muda Sedunia, saya kembali ke Fatima, tempat penampakan itu terjadi, dan, bersama dengan beberapa orang muda yang sakit, saya berdoa kepada Allah agar Ia menyembuhkan dunia dari penyakit jiwa: kesombongan, kebohongan, permusuhan, kekerasan adalah penyakit jiwa, dan dunia sedang sakit karena penyakit ini. Dan kita memperbarui penyerahan kita, penyerahan Eropa, dunia, kepada Maria, kepada Hati Maria yang Tak Bernoda. Saya berdoa untuk perdamaian karena ada begitu banyak perang di seluruh dunia, begitu banyak.


Orang muda dunia datang ke Lisbon dalam jumlah besar dan dengan antusiasme yang tinggi. Saya bertemu mereka dalam kelompok kecil dan beberapa dari mereka mengalami banyak masalah; sekelompok orang muda Ukraina yang membawa cerita-cerita yang menyakitkan. Hari Orang Muda Sedunia bukanlah hari libur, perjalanan wisata, atau bahkan acara spiritual untuk kepentingan mereka sendiri. Hari Orang Muda Sedunia adalah perjumpaan dengan Kristus yang hidup melalui Gereja, orang muda pergi untuk menjumpai Kristus; memang benar bahwa di mana ada orang muda di situ ada sukacita, ada sedikit dari semua ini!


Kunjungan saya ke Portugal, dalam rangka Hari Orang Muda Sedunia, mendapat manfaat dari suasananya yang meriah, gelombang orang muda ini. Saya bersyukur kepada Allah atas hal ini, terutama memikirkan Gereja Lisbon yang, sebagai imbalan atas upaya besar yang dilakukan dalam menyelenggarakan dan menjadi tuan rumah, akan menerima energi baru untuk melanjutkan perjalanan barunya, untuk menebarkan jalanya sekali lagi dengan semangat apostolik. Orang muda Portugal saat ini sudah menjadi kehadiran yang vital, dan sekarang, setelah “transfusi” ini diterima dari Gereja-gereja di seluruh dunia, mereka akan menjadi semakin penting.


Dan banyak orang muda telah kembali melalui Roma: Saya juga melihat mereka di sini, ada beberapa yang ikut serta dalam Hari Orang Muda Sedunia ini. Mereka di sana! Di mana ada orang muda di situ ada keriuhan, mereka pandai membuatnya!


Sementara di Ukraina dan tempat-tempat lain di dunia sedang terjadi pertempuran, dan sementara di ruang-ruang tersembunyi tertentu perang direncanakan – hal ini buruk, perang direncanakan! – Hari Orang Muda Sedunia menunjukkan kepada semua orang bahwa jalan lain adalah mungkin, dunia saudara dan saudari, tempat bendera semua orang berkibar bersama, bersebelahan, tanpa kebencian, tanpa rasa takut, tanpa ketertutupan, tanpa senjata! Pesan orang muda tersebut jelas: apakah “orang yang perkasa di bumi” akan mendengarkannya, saya bertanya-tanya? Semangat muda ini menginginkan perdamaian? Ini adalah perumpamaan untuk zaman kita, dan bahkan hari ini Yesus berkata: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! Siapa yang memiliki mata, hendaklah ia melihat!” Marilah kita mengharapkan seluruh dunia mendengarkan Hari Orang Muda Sedunia ini dan menyaksikan keindahan orang muda ini, teruslah maju.


Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih kepada Portugal, kepada Lisbon, kepada Presiden Republik Portugal, yang hadir di seluruh perayaan, dan otoritas sipil lainnya; kepada Patriark Lisbon, yang baik; Ketua Konferensi Waligereja, dan uskup yang menyelenggarakan Hari Orang Muda Sedunia, dan kepada semua sejawat dan sukarelawan. Pikirkanlah para sukarelawan - saya pergi menemui mereka pada hari terakhir, sebelum pulang - yang berjumlah 25 ribu: Hari Orang Muda Sedunia ini memiliki 25 ribu sukarelawan! Terima kasih semua! Melalui perantaraan Perawan Maria, semoga Tuhan memberkati orang muda di dunia dan semoga Ia memberkati rakyat Portugal. Marilah kita berdoa bersama-sama kepada Bunda Maria, semuanya bersama-sama, agar ia sudi memberkati rakyat Portugal.


[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]


Saya menyampaikan sambutan hangat kepada para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok dari Malta, Nigeria, Tonga, dan Amerika Serikat. Kepadamu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!


[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]


Saudara-saudari terkasih: Selama Perjalanan Apostolik saya baru-baru ini ke Portugal untuk merayakan Hari Orang Muda Sedunia, saya menyaksikan demonstrasi mengharukan akan kehadiran Roh Kudus, Roh Kristus yang bangkit, bekerja di dalam hati dan kehidupan orang muda Kristiani di seluruh dunia. Mengikuti teladan Maria, yang “berangkat dengan bergegas” setelah Kabar Sukacita, para peziarah muda mengungkapkan keinginan mereka untuk berangkat menuju masa depan harapan yang dijanjikan oleh Injil. Perjumpaan begitu banyak orang muda dari berbagai negara, semuanya dipersatukan oleh kasih Kristus dan sukacita Roh Kudus, mencerminkan wajah Gereja sebagai Umat Allah, di mana setiap orang, di setiap tempat dan waktu, dipanggil untuk menjadi Umat Allah. Di dunia yang tercabik-cabik oleh kemiskinan, ketidakadilan dan perang, kita bersatu dalam doa untuk penyebaran Injil, pertobatan hati, dan penyerahan kepada Hati Maria Tak Bernoda. Semoga pencurahan yang luar biasa dari sukacita rohani dan kasih bagi Kristus yang menandai hari-hari ini menumbuhkan banyak panggilan dan menjadi ragi pengharapan bagi masa depan Portugal, Gereja dan dunia kita.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Agustus 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN PADA HARI ORANG MUDA SEDUNIA DI PARQUE TEJO, LISBON (PORTUGAL) 6 Agustus 2023 : OBRIGADO (TERIMA KASIH)

Saudara-saudari terkasih,


Ada ungkapan yang sering kita dengar selama ini : “terima kasih”, atau lebih tepatnya, “obrigado”. PatriarK Lisbon baru saja memberitahu kita sesuatu yang sangat penting : obrigado tidak hanya menyampaikan rasa terima kasih atas apa yang telah kita terima tetapi juga keinginan untuk memberi sebagai balasannya. Dalam peristiwa yang penuh rahmat ini, kita semua telah menerima banyak hal. Sekarang, saat kita pulang ke rumah, Tuhan membuat kita, pada gilirannya, merasakan kebutuhan untuk berbagi dengan orang lain, memberikan kesaksian dengan penuh sukacita dan penuh semangat tentang Allah, dan tentang apa yang telah Ia curahkan ke dalam hati kita.


Tetapi sebelum kita berpisah, saya juga ingin mengucapkan obrigado. Pertama-tama, kepada Kardinal Clemente, dan bersamanya kepada Gereja dan seluruh rakyat Portugis, obrigado. Obrigado kepada Presiden Republik Portugal, yang telah menemani kita selama peristiwa hari ini. Obrigado kepada lembaga-lembaga nasional dan lokal atas dukungan dan bantuan mereka. Obrigado kepada para uskup, para imam, para pelaku hidup bakti dan umat awam. Obrigado kepada Lisbon juga, yang akan selalu diingat oleh orang-orang muda ini sebagai “rumah persaudaraan” dan “kota impian”! Saya juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kardinal Farrell, yang telah menjadi muda pada hari-hari ini, dan kepada mereka yang mempersiapkan Hari Orang Muda Sedunia ini, serta kepada mereka yang menemani kita dengan doa. Obrigado kepada para sukarelawan, yang kepada mereka kita berikan tepuk tangan yang tulus atas pelayanan mereka yang luar biasa! Terima kasih kita harus ditujukan terutama kepada mereka yang menyaksikan Hari Orang Muda Sedunia dari surga, yaitu para santo pelindung peristiwa tersebut: terutama Yohanes Paulus II, yang menghidupkan Hari Orang Muda Sedunia ini.


Dan obrigado untuk kamu semua, orang muda yang terkasih! Allah melihat kebaikanmu. Ia sendiri yang tahu apa yang telah Ia tabur di hatimu. Kamu pergi dari sini dengan apa yang telah ditaburkan Allah di dalam hatimu; peliharalah dengan baik. Saya ingin menyarankan agar kamu berpegang teguh pada ingatan hari-hari ini, mengingat saat-saat terbaik, sehingga ketika saat-saat kelelahan dan keputusasaan datang, yang tidak dapat dihindari, dan bahkan mungkin godaan untuk menyerah atau menutup diri, kamu akan dapat mengingat dan menghidupkan kembali pengalaman dan rahmat hari-hari ini. Sungguh, jangan pernah melupakan siapa dirimu yang sebenarnya: Umat Allah yang kudus dan setia yang berjalan dalam sukacita Injil! Saya juga ingin menyampaikan salam khusus kepada orang muda yang tidak dapat hadir di sini, dan yang ikut serta dalam prakarsa lokal yang diselenggarakan oleh keuskupan dan konferensi Wali Gereja di negara mereka; saya memikirkan, misalnya, saudara-saudari kita di sub-Sahara yang berkumpul di Tangier. Terima kasih banyak untuk kamu semua.


Secara khusus, marilah kita menemani dengan kasih sayang dan doa kita mereka yang tidak dapat bersama kita karena pertikaian bersenjata dan perang. Memang, ada banyak perang dan pertikaian di dunia kita. Memikirkan benua ini, saya merasakan kesedihan yang luar biasa karena Ukraina yang tercinta, yang terus menderita. Para sahabat terkasih, perkenankanlah saya, sebagai orang yang lebih tua, berbagi denganmu orang muda mimpi yang saya bawa dalam diri saya : mimpi perdamaian, mimpi orang muda berdoa untuk perdamaian, hidup dalam damai dan membangun masa depan yang damai. Saat kita berdoa Malaikat Tuhan, marilah kita serahkan masa depan umat manusia ke tangan Maria, Sang Ratu Damai.


Ada satu obrigado terakhir yang ingin saya tekankan: obrigado ke "akar" kita : kakek nenek kita, yang mewariskan iman kepada kita, yang melewati cakrawala seumur hidup. Mereka adalah akar kita. Sekarang, saat kamu pulang ke rumah, teruslah berdoa untuk perdamaian. Terlebih lagi, kamu adalah tanda perdamaian bagi dunia, menunjukkan bagaimana berbagai bangsa, bahasa, dan sejarah dapat bersatu alih-alih terpecah belah. Kamu adalah harapan untuk sebuah dunia yang berbeda. Terima kasih untuk ini. Lanjutkan!

Sekarang, kita sampai pada momen yang ditunggu-tunggu: pengumuman tahap perjalanan selanjutnya. Sebelum memberitahumu tempat Hari Orang Muda Sedunia yang ke-41, saya menyampaikan undangan kepadamu masing-masing. Saya mengundang orang muda seluruh dunia ke Roma pada tahun 2025, untuk bersama-sama merayakan Yubileum Orang Muda. Saya berharap dapat melihatmu tahun 2025 untuk perayaan Yubileum Orang Muda. Hari Orang Muda Sedunia berikutnya akan berlangsung di Asia: di Korea Selatan, di Seoul pada tahun 2027! Jadi, dari perbatasan barat Eropa akan berpindah ke Timur Jauh. Ini adalah tanda luar biasa dari universalitas Gereja dan impian persatuan yang kamu persaksikan!


Akhirnya, obrigado yang terakhir, yang kita tujukan kepada dua orang yang istimewa, kepada kehadiran yang paling penting di hari-hari ini. Mereka telah ada di sini bersama kita, dan mereka selalu bersama kita, tidak pernah melupakan hidup kita, mereka mengasihi kita tidak seperti orang lain : obrigado kepada-Mu, Tuhan Yesus; dan obrigado kepadamu, Santa Maria Bunda kita. Sekarang, marilah kita berdoa bersama.


[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]


Saya ingin menyampaikan jaminan doa saya, dan marilah kita melakukannya bersama-sama, bagi para korban longsoran salju yang terjadi dua hari lalu di wilayah Racha, Georgia. Saya menemani para anggota keluarga mereka dengan kedekatan saya, berdoa agar Perawan Maria menghibur mereka dan juga mendukung pekerjaan para penyelamat. Saya menemani dan dekat dengan Saudara saya dalam Kristus, Patriark Ilia II.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Agustus 2023)