Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 17 September 2023 : MENGAMPUNI TANPA PERHITUNGAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!


Hari ini, Bacaan Injil berbicara kepada kita tentang pengampunan (bdk. Mat 18:21-35). Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (ayat 21).

 

Tujuh, dalam Kitab Suci, adalah angka yang menunjukkan kesempurnaan, sehingga Petrus sangat bermurah hati dalam pengandaian pertanyaannya. Tetapi Yesus melangkah lebih jauh dan menjawabnya, “Aku berkata kepadamu : Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh” (ayat 22). Ia memberitahu Petrus bahwa ketika mengampuni, kita tanpa perhitungan; mengampuni segalanya baik, dan selalu! Sebagaimana diperbuat Allah terhadap kita, dan sebagaimana dituntut oleh mereka yang melaksanakan keadilan Allah: selalu mengampuni. Saya sering mengatakan hal ini kepada para imam, kepada para bapa pengakuan: mengampunilah selalu, sebagaimana Allah mengampuni.

 

Yesus kemudian menggambarkan kenyataan ini melalui sebuah perumpamaan, yang lagi-lagi berkaitan dengan angka. Seorang raja, setelah dimohonkan, mengampuni seorang hambanya yang berutang sepuluh ribu talenta: sepuluh ribu talenta adalah jumlah yang sangat besar nilainya, berkisar antara 200 hingga 500 ton perak: sangat besar nilainya. Suatu utang yang mustahil untuk dilunasi, sekalipun bekerja seumur hidup: tetapi sang raja ini, yang mengingatkan Bapa kita, menghapuskan utang tersebut hanya karena “belas kasihan” (ayat 27). Inilah hati Allah: Ia selalu mengampuni, karena Allah maha pengasih. Janganlah kita lupa alangkah demikian Allah itu: Ia dekat, penuh kasih sayang dan lembut; inilah cara Allah berada. Tetapi hamba yang utangnya telah dhapuskan itu tidak menunjukkan belas kasihan kepada sesama hamba yang berutang 100 dinar kepadanya. Jumlah ini juga merupakan jumlah yang besar, setara dengan upah sekitar tiga bulan – seolah-olah hendak mengatakan bahwa saling mengampuni memerlukan biaya! - tetapi sama sekali tidak sebanding dengan penghapusan yang telah ia terima dari sang raja sebelumnya.

 

Pesan Yesus jelas : Allah mengampuni tanpa batas, melebihi segala ukuran. Beginilah Dia; Ia bertindak karena kasih, dan cuma-cuma. Allah tidak bisa dibeli, Allah bebas, Ia adalah segenap kecuma-cumaan. Kita tidak dapat membalas kebaikan-Nya, tetapi ketika kita mengampuni saudara atau saudari kita, kita meneladani-Nya. Oleh karena itu, mengampuni bukanlah perbuatan baik yang bisa kita pilih untuk dilakukan atau tidak: mengampuni adalah syarat dasariah bagi umat Kristiani. Faktanya, kita masing-masing telah “diampuni”: janganlah kita melupakan hal ini, kita telah diampuni, Tuhan memberikan hidup-Nya bagi kita dan kita tidak dapat membalas belas kasihan-Nya, yang tidak pernah Ia enyahkan dari hati-Nya. Tetapi, berkaitan dengan kecuma-cumaan-Nya, yaitu dengan saling mengampuni, kita dapat memberikan kesaksian tentang Dia, menaburkan kehidupan baru di sekitar kita. Sebab di luar pengampunan tidak ada harapan; di luar pengampunan tidak ada kedamaian. Pengampunan adalah oksigen yang memurnikan udara kebencian, pengampunan adalah penangkal racun rasa dendam, cara meredakan amarah dan menyembuhkan begitu banyak penyakit hati yang mencemari masyarakat.

 

Marilah kita bertanya pada diri kita : apakah aku yakin bahwa aku telah menerima karunia pengampunan Allah yang sangat besar? Apakah aku merasakan sukacita memahami bahwa Ia selalu siap mengampuniku ketika aku terjatuh, bahkan ketika orang lain tidak melakukannya, bahkan ketika aku bahkan tidak mampu mengampuni diriku sendiri? Ia mengampuni : apakah aku percaya bahwa Ia mengampuni? Dan kemudian: sudikah aku mengampuni mereka yang bersalah kepadaku? Dalam hal ini, saya ingin mengusulkan sedikit latihan kepadamu : marilah kita mencoba, sekarang, kita masing-masing, untuk memikirkan seseorang yang telah menyakiti kita, dan memohon kepada Tuhan kekuatan untuk mengampuni mereka. Dan marilah kita mengampuni mereka demi mengasihi Tuhan: saudara-saudari, ini akan membawa kebaikan bagi kita; mengampuni mereka yang menyakiti kita akan memulihkan kedamaian di dalam hati kita.

 

Semoga Maria, Bunda Belas Kasihan, membantu kita menerima rahmat Allah dan saling mengampuni.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Pada hari Jumat saya akan pergi ke Marseille untuk ikut serta dalam penutupan Recontres Méditerranéennes, sebuah prakarsa bagus yang berlangsung di kota-kota penting di Mediterania, mempertemukan para pemimpin gerejawi dan sipil untuk mempromosikan jalan perdamaian, kerjasama dan keterpaduan di sekitar mare nostrum, dengan perhatian khusus terhadap fenomena migrasi. Hal ini merupakan sebuah tantangan yang tidak mudah, seperti yang juga kita lihat dari pemberitaan beberapa hari terakhir, tetapi harus dihadapi bersama, karena hal ini penting untuk masa depan semua orang, yang hanya akan sejahtera jika dibangun atas dasar persaudaraan, sungguh mengutamakan martabat manusia dan masyarakat, terutama mereka yang paling membutuhkan. Seraya saya memintamu untuk menyertai perjalanan ini dengan doa, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada otoritas sipil dan keagamaan, dan mereka yang bekerja untuk mempersiapkan pertemuan di Marseille, sebuah kota yang kaya akan masyarakat, yang dipanggil untuk menjadi pelabuhan harapan. Saat ini saya menyapa seluruh penduduk, berharap dapat bertemu dengan begitu banyak saudara dan saudari terkasih.

 

Dan saya menyambut kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari Italia dan berbagai negara, khususnya perwakilan beberapa paroki di Miami, Banda de Gaitas del Batallón de San Patricio, umat Pieve del Cairo dan Castelnuovo Scrivia, serta para Suster Misionaris Sang Penebus Mahakudus Gereja Katolik Yunani Ukraina.. Dan saya terus mendoakan rakyat Ukraina yang tersiksa, dan perdamaian di setiap negeri yang berlumuran darah akibat perang.

 

Dan saya menyapa kaum muda Immacolata!

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua, dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 September 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 30 Agustus 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 20) - BEATO JOSÉ GREGORIO HERNÁNDEZ CISNEROS, DOKTER KAUM MISKIN DAN RASUL PERDAMAIAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam katekese kita, kita terus bertemu dengan saksi-saksi yang penuh semangat bagi pewartaan Injil. Marilah kita ingat bahwa ini adalah serangkaian katekese tentang semangat kerasulan, tentang kemauan dan bahkan semangat batin untuk meneruskan Injil. Hari ini kita berangkat ke Amerika Latin, tepatnya ke Venezuela, untuk mengenal sosok seorang awam, Beato José Gregorio Hernández Cisneros. Ia dilahirkan pada tahun 1864 dan belajar keimanan terutama dari ibunya, sebagaimana diceritakannya, “Ibuku mengajariku kebajikan sejak lahir, membuat aku bertumbuh dalam pengetahuan tentang Allah dan memberiku cinta kasih sebagai panduanku”. Marilah kita perhatikan : para ibulah yang mewariskan iman. Iman disampaikan melalui logat, yaitu, bahasa para ibu, yaitu logat yang dipahami para ibu untuk berbicara dengan anak-anaknya. Dan kepada kamu para ibu : rajinlah mewariskan iman dalam logat keibuan tersebut.

 

Sungguh, cinta kasih adalah bintang utara yang mengarahkan keberadaan Beato José Gregorio : seorang yang baik dan riang dengan watak ceria, ia diberkahi dengan kecerdasan yang luar biasa; ia menjadi seorang dokter, profesor universitas, dan ilmuwan. Namun ia adalah seorang dokter yang paling dekat dengan orang-orang yang paling lemah, sehingga dia dikenal di kampung halamannya sebagai “dokter kaum miskin”. Ia selalu memperhatikan kaum miskin. Dibandingkan dengan kekayaan uang, ia lebih memilih kekayaan Injil, menghabiskan hidupnya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Dalam diri kaum miskin, orang sakit, migran, orang menderita, José Gregorio melihat Yesus. Ia menerima keberhasilan yang tidak pernah ia cari di dunia, dan terus menerimanya, dari orang-orang, yang menjulukinya “santo umat”, “rasul cinta kasih”, “misionaris pengharapan”. Nama-nama yang indah: “santo umat”, “rasul cinta kasih”, “misionaris pengharapan”.

 

José Gregorio adalah orang yang rendah hati, baik hati, dan suka menolong. Dan pada saat yang sama ia didorong oleh api batin, keinginan untuk hidup dalam pelayanan kepada Allah dan sesama. Didorong oleh semangatnya tersebut, ia beberapa kali mencoba untuk menjadi seorang rohaniwan dan imam, namun berbagai masalah kesehatan menghalanginya untuk melakukannya. Namun kelemahan fisiknya tidak membuatnya menutup diri, melainkan menjadi dokter yang semakin peka dengan kebutuhan orang lain; ia berpegang teguh pada Allah dan, tempaan jiwa membuatnya semakin melangkah menuju hal-hal yang penting. Inilah semangat kerasulan: tidak mengikuti keinginan sendiri, melainkan keterbukaan terhadap rencana Allah. Maka ia memahami bahwa, dengan merawat orang sakit, beliau dapat mengamalkan kehendak Allah, menghibur orang-orang yang menderita, memberikan harapan kepada kaum miskin, memberikan kesaksian tentang iman bukan dengan kata-kata melainkan melalui keteladanan. Jadi, melalui jalan batin ini, ia menerima obat sebagai sebuah imamat: “imamat penderitaan manusia” (M. Yaber, José Gregorio Hernández: Médico de los Pobres, Apóstol de la Justicia Social, Misionero de las Esperanzas, 2004, 107). Betapa pentingnya untuk tidak menderita secara pasif, namun, seperti dikatakan Kitab Suci, melakukan segala sesuatu dengan semangat yang baik, untuk melayani Tuhan (bdk. Kol 3:23).

 

Tetapi marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: dari mana José Gregorio mendapatkan seluruh antusiasme dan semangat ini? Seluruh antusiasme dan semangat ini datang dari suatu kepastian dan kekuatan. Kepastiannya adalah rahmat Allah : ia menulis bahwa “jika ada orang baik dan orang jahat di dunia ini, maka orang jahat itu ada karena ia sendiri yang menjadi jahat: tetapi orang baik itu ada karena pertolongan Allah” (27 Mei 1914). Dan ia menganggap dirinya pertama-tama membutuhkan rahmat, mengemis di jalanan dan sangat membutuhkan cinta. Dan inilah kekuatan yang ia peroleh: keintiman dengan Allah. Ia adalah orang yang suka berdoa – ini adalah rahmat Allah dan keintiman dengan Tuhan. Ia adalah seorang pendoa yang ikut serta dalam Misa.

 

Dan dalam kontak dengan Yesus, yang mempersembahkan diri-Nya di altar bagi semua orang, José Gregory merasa terpanggil untuk mempersembahkan hidupnya demi perdamaian. Perang Dunia I sedang berlangsung. Jadi, kita sampai pada tanggal 29 Juni 1919: seorang sahabat datang mengunjunginya dan mendapati ia sangat bahagia. José Gregorio memang mengetahui bahwa perjanjian yang mengakhiri perang telah ditandatangani. Persembahannya telah diterima, dan seolah-olah ia meramalkan bahwa pekerjaannya di bumi telah selesai. Pagi itu, seperti biasa, ia menghadiri Misa, dan sekarang ia turun ke jalan untuk membawakan obat bagi orang yang sakit. Namun saat menyeberang jalan, ia ditabrak oleh sebuah kendaraan; dibawa ke rumah sakit, ia meninggal sambil mengucapkan nama Bunda Maria. Jadi, perjalanannya di dunia berakhir, di jalan sambil melakukan karya belas kasihan, dan di rumah sakit, tempat ia menjadikan karyanya sebuah mahakarya, sebagai seorang dokter.

 

Saudara-saudari, dengan adanya kesaksian ini marilah kita bertanya pada diri kita : apakah aku, ketika berhadapan dengan Allah yang hadir dalam diri kaum miskin di dekatku, ketika berhadapan dengan orang-orang di dunia yang paling menderita, bagaimana aku harus bereaksi? Dan teladan José Gregorio: bagaimana pengaruhnya terhadapku? Ia mendorong kita untuk terlibat dalam menghadapi permasalahan sosial, ekonomi, dan politik yang besar saat ini. Begitu banyak orang yang membicarakannya, begitu banyak yang mengeluh, begitu banyak yang mengkritik dan mengatakan bahwa semuanya tidak berjalan baik. Namun orang Kristiani tidak dipanggil untuk melakukan hal itu; sebaliknya, ia dipanggil untuk menghadapinya, untuk mengotori tangannya : pertama-tama, sebagaimana dikatakan Santo Paulus kepada kita, berdoalah (bdk. 1 Tim 2:1-4), dan kemudian jangan terlibat obrolan kosong – ngobrol yang tidak berguna adalah sebuah wabah – justru harus mengembangkan kebaikan, dan membangun perdamaian dan keadilan dalam kebenaran. Ini juga merupakan semangat kerasulan; pewartaan Injil; dan inilah Sabda Bahagia Kristiani : “Berbahagialah orang yang membawa damai” (Mat 5:9).

 

Marilah kita berkembang mengikuti jalan Beato [José] Gregorio: seorang awam, seorang dokter, seorang pekerja sehari-hari yang didorong oleh semangat kerasulan menjalani cinta kasih sepanjang hidupnya.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyampaikan sapaan hangat kepada para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Skotlandia, Belanda, Senegal, Korea Selatan, Malaysia, Filipina dan Amerika Serikat. Kepadamu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

[Imbauan]

 

Pikiran saya tertuju kepada rakyat Libya, yang dilanda hujan lebat yang menyebabkan banjir dan genangan, menyebabkan banyak kematian dan cidera, serta kerusakan parah. Saya mengundangmu untuk bergabung dalam doa saya bagi orang-orang yang kehilangan nyawa, keluarga mereka, dan para pengungsi. Mohon jangan mengurungkan kesetiakawanan kita terhadap saudara-saudari yang telah berjuang keras menghadapi bencana ini. Dan pikiran saya juga tertuju kepada rakyat Maroko yang mulia yang telah menderita akibat pergerakan bumi ini, gempa bumi ini. Marilah kita berdoa untuk Maroko, marilah kita berdoa untuk penduduknya. Semoga Tuhan memberi mereka kekuatan untuk pulih, untuk pulih setelah bencana yang mengerikan ini yang telah menimpa mereka.


* * *

 

Akhirnya, pikiran saya tertuju kepada kaum muda, orang-orang sakit, kaum tua, dan para pengantin baru. Besok Gereja merayakan Pesta Salib Suci. Janganlah kita bosan setia pada Salib Kristus, sebuah tanda kasih dan keselamatan.

 

Dan tolong, saudara-saudarai, marilah kita terus berdoa untuk perdamaian dunia, khususnya di Ukraina yang tersiksa, yang penderitaannya selalu hadir dalam pikiran dan hati kita.

 

Dan untuk kamu semua, berkatku.

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese lanjutan kita mengenai semangat kerasulan, kita telah merenungkan penyebaran Injil melalui kesaksian pria dan wanita di setiap waktu dan tempat. Hari ini kita beralih ke Amerika Latin dan teladan Beato José Gregorio Hernández. Lahir di Venezuela pada tahun 1864, José Gregorio tidak dapat melanjutkan studi menjadi imam karena alasan kesehatan. Menerima hal ini sebagai kehendak Allah, ia belajar kedokteran dan mengabdikan hidupnya untuk merawat orang-orang yang membutuhkan. Karena pengabdiannya yang mendalam kepada Kristus, yang terungkap dalam pelayanan cinta kasih kepada saudara-saudari kita yang paling hina, ia dikenal sebagai “dokter kaum miskin”. Semangat kerasulannya lahir dari pengalaman pribadi akan belas kasihan Allah serta persatuan sehari-hari dengan Tuhan dalam Misa Kudus dan doa pribadi. Saat pecahnya Perang Dunia I, ia mempersembahkan dirinya sebagai korban pengurbanan dalam persatuan dengan Kristus, menjadi perantara bagi fajar perdamaian, dan meninggal tak lama setelah mengetahui berakhirnya perang. Kehidupan Beato José Gregorio Hernández dapat mengilhami kita, dalam keadaan nyata kehidupan kita, untuk mendekat kepada Tuhan dalam doa, untuk melayani Dia dalam diri kaum miskin, serta bekerja untuk menyebarkan Injil-Nya dan pertumbuhan kerajaan kekudusan, keadilan dan perdamaian-Nya.
_______

(Peter Suriadi - Bogor, 14 September 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 September 2023 : NASIHAT PERSAUDARAAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil hari ini berbicara kepada kita tentang nasihat persaudaraan (bdk. Mat 18:15-20), yang merupakan salah satu ungkapan kasih tertinggi, dan juga salah satu ungkapan yang paling menuntut, karena tidak mudah untuk menasihati orang lain. Ketika saudara seiman berbuat salah kepadamu, maka kamu, tanpa benci, tolonglah dia, nasihatilah dia: tolonglah dengan menasihati.


Tetapi sayangnya, seringkali hal pertama yang tercipta di sekitar orang yang melakukan kesalahan adalah gosip, di mana setiap orang mengetahui kesalahannya, secara terperinci dan lengkap, selain orang yang tersangkut paut! Ini tidak benar, saudara-saudari, ini tidak berkenan kepada Allah. Saya tidak bosan-bosannya mengulangi bahwa gosip merupakan wabah dalam kehidupan masyarakat dan jemaat, karena gosip menyebabkan perpecahan, penderitaan, dan skandal; gosip tidak pernah membantu meningkatkan atau menumbuhkan. Santo Bernardus, seorang guru rohani besar, mengatakan bahwa keingintahuan yang sia-sia dan perkataan yang dangkal adalah langkah pertama dalam tangga kesombongan, yang tidak mengarah ke atas, tetapi ke bawah, menjerumuskan manusia ke dalam kebinasaan dan kehancuran (bdk. Dua belas Langkah Kerendahan Hati dan Kesombongan).


Yesus justru mengajarkan kita untuk berperilaku berbeda. Inilah yang dikatakan-Nya hari ini : “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata” (ayat 15). Bicarakanlah kepadanya tentang hal itu secara “tatap muka”, berbicaralah baik-baik, untuk menolongnya memahami di mana letak kesalahannya. Dan lakukanlah hal ini demi kebaikannya, mengatasi rasa malu dan menemukan keberanian sejati, yaitu tidak memfitnah, tetapi memberitahunya secara langsung dengan lemah lembut.


Tetapi kita mungkin bertanya, bagaimana jika hal ini tidak memadai? Bagaimana jika ia tidak paham? Maka kita harus mengusahakan pertolongan. Tetapi berhati-hatilah : jangan dari kelompok yang suka bergosip! Yesus berkata, “Bawalah seorang atau dua orang lagi” (ayat 16), artinya orang-orang yang dengan tulus ingin menolong saudara yang tersesat ini.


Bagaimana jika ia masih tidak paham? Kemudian, kata Yesus, libatkanlah jemaat. Tetapi di sini pun, hal ini tidak berarti mempermalukan seseorang, mempermalukannya di muka umum, melainkan menyatukan upaya semua orang untuk menolongnya berubah. Menuding dengan0 jari tidak baik; bahkan, sering kali membuat orang yang berbuat salah semakin sulit untuk menyadari kesalahannya. Jemaat justru harus membuatnya merasa bahwa, meskipun mengutuk kesalahannya, jemaat tetap dekat dengan orang tersebut melalui doa dan kasih sayang, selalu siap untuk memberikan pengampunan, pemahaman, dan memulai kembali.


Oleh karena itu, marilah kita bertanya pada diri kita : bagaimana seharusnya aku bersikap terhadap orang yang berbuat salah terhadapku? Apakah aku menyimpannya di dalam hati dan menumpuk kebencian? “Kamu akan membayarnya”, kata-kata yang sering muncul : “Kamju akan membayarnya…”. Apakah aku membicarakannya di belakang mereka? “Tahukah kamu apa yang ia lakukan?”; dan seterusnya… Atau apakah aku teguh hati, berani, dan apakah aku berusaha membicarakannya dengannya? Apakah aku mendoakannya, memohonkan pertolongan untuk berbuat baik? Dan apakah jemaat kita peduli terhadap orang-orang yang terjatuh, sehingga mereka dapat bangkit kembali dan memulai hidup baru? Apakah mereka mengacungkan jari atau membuka tangan? Apa yang kamu lakukan : apakah kamu mengacungkan jari atau membuka tangan?


Semoga Maria, yang terus mengasihi bahkan ketika ia mendengar orang-orang mengutuk Putranya, membantu kita untuk selalu mengusahakan jalan kebaikan.

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]


Saudara-saudari terkasih,

 

Saya ingin mengungkapkan kedekatan saya dengan rakyat Maroko yang terkasih, yang dilanda gempa bumi dahsyat. Saya mendoakan mereka yang terluka, mereka yang kehilangan nyawa – begitu banyak! – dan kerabat mereka. Saya berterima kasih kepada para pekerja penyelamat dan mereka yang sedang bekerja untuk meringankan penderitaan rakyat; semoga pertolongan nyata dari semua pihak mendukung rakyat pada saat yang tragis ini: marilah kita dekat dengan rakyat Maroko!

 

Hari ini di Markowa, Polandia, Józef dan Wiktoria Ulma, bersama ketujuh anak mereka, para martir, dibeatifikasi: seluruh keluarga mereka dibinasakan oleh Nazi pada tanggal 24 Maret 1944 karena memberikan perlindungan kepada beberapa orang Yahudi yang teraniaya. Mereka menentang kebencian dan kekerasan yang menjadi ciri masa itu dengan kasih injili. Semoga keluarga Polandia ini, yang mewakili secercah cahaya di tengah kegelapan Perang Dunia II, menjadi teladan bagi kita semua dalam semangat kebaikan dan pelayanan bagi orang-orang yang membutuhkan. Tepuk tangan meriah untuk keluarga yang dibeatifikasi ini!

 

Dan dengan mengikuti teladan mereka, marilah kita mendengarkan seruan untuk menentang kekuatan senjata dengan kekuatan amal kasih, retorika kekerasan dengan kegigihan doa. Marilah kita lakukan hal ini terutama untuk banyak negara yang sedang menderita akibat perang; secara khusus, marilah kita meningkatkan doa kita untuk Ukraina yang sedang terkepung. Ada bendera Ukraina, yang sedang sangat menderita!

 

Lusa, 12 September, rakyat Etiopia terkasih akan merayakan Tahun Baru tradisional mereka. Saya ingin mengucapkan salam terhangat saya kepada seluruh rakyat, dengan harapan mereka akan diberkati dengan karunia rekonsiliasi persaudaraan dan perdamaian.

 

Marilah kita mengalihkan pemikiran kita hari ini ke Biara Mont-Saint-Michel, di Normany, yang sedang merayakan milenium konsekrasi tempat doanya.

 

Dan saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan berbagai negara, khususnya Paroki Hati Kudus Yesus, Madrid; komunitas pastoral Kristus yang bangkit dari Saronno; calon penerima sakramen krisma dari Soliera, dan siswa SMA dari Lucca.

 

Menjelang awal tahun katekese, kepada umat yang hadir di lapangan hari ini, Elemicin, penerbit Salesian, menyumbangkan sebuah buku pegangan katekese berjudul “Langkah demi Langkah” : ini adalah karunia yang indah! Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada para katekis atas karya mereka yang berharga serta kepada para katekumen remaja saya mengucapkan selamat berjumpa Yesus.


Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu serta jangan lupa untuk mendoakan saya dan menikmati makananmu, dan sampai jumpa!
______

(Peter Suriadi - Bogor, 10 September 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 6 September 2023 : TENTANG PERJALANAN KE MONGOLIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Pada hari Senin saya kembali dari Mongolia. Saya ingin menyampaikan penghargaan saya kepada mereka yang menyertai saya dalam kunjungan saya dengan doa, dan kembali berterima kasih saya kepada pihak berwenang, yang dengan sungguh-sungguh menyambut saya : khususnya Bapak Presiden Khürelsükh, dan juga mantan Presiden Enkhbayer, yang memberi saya undangan resmi untuk mengunjungi negara tersebut. Saya mengingat kembali dengan gembira Gereja setempat dan rakyat Mongolia: rakyat yang luhur dan bijaksana, yang menunjukkan kehangatan dan kasih sayang yang luar biasa kepada saya. Hari ini saya ingin membawamu ke inti perjalanan ini.

 

Mungkin ada yang bertanya: mengapa Paus pergi sejauh ini untuk mengunjungi sekelompok kecil umat beriman? Sebab justru di situlah, jauh dari sorotan, kita sering menjumpai tanda-tanda kehadiran Allah, yang tidak melihat penampilan, melainkan hati, sebagaimana kita dengar dalam bacaan dari kitab nabi Samuel (bdk. 1Sam 16:7). Tuhan tidak mencari orang yang menjadi pusat perhatian, tetapi orang yang berhati sederhana yang menginginkan dan mengasihi-Nya tanpa pura-pura, tanpa ingin menjadi lebih tinggi dari orang lain. Dan saya mendapat pengalaman pertemuan, di Mongolia, Gereja yang rendah hati, dan Gereja yang penuh sukacita, yang ada di hati Allah, dan saya dapat bersaksi tentang sukacita mereka karena mendapati mereka juga berada di pusat Gereja selama beberapa hari.

 

Komunitas itu memiliki sejarah yang menyentuh. Hal ini terjadi, berkat karunia Allah, dari semangat kerasulan – yang sedang kita renungkan saat ini – dari beberapa misionaris yang, dengan semangat akan Injil, berangkat sekitar tiga puluh tahun yang lalu ke negara yang tidak mereka kenal. Mereka mempelajari bahasanya – yang tidak mudah – dan, meskipun berasal dari berbagai bangsa, mereka menghidupkan komunitas Katolik yang bersatu dan sungguh. Memang demikianlah arti kata “katolik” yang artinya “umum”. Namun bukan umum yang menyeragamkan, melainkan umum yang menginkulturasi, umum yang terinkulturasi. Inilah kekatolikan : umum yang terwujud, “inkulturasi”, yang mencakup kebaikan di mana kebaikan itu ditemukan dan melayani orang-orang yang tinggal bersamanya. Beginilah cara Gereja hidup : memberikan kesaksian tentang kasih Yesus dengan lemah lembut, dengan mengutamakan kehidupan ketimbang kata-kata, bahagia dengan kekayaan sejatinya: melayani Tuhan dan saudara-saudara seiman.

Inilah cara Gereja muda tersebut dilahirkan : dalam semangat amal kasih, yang merupakan kesaksian iman yang terbaik. Di akhir kunjungan saya, saya bersukacita karena memberkati dan membuka “Rumah Belas Kasih”, karya amal kasih pertama yang didirikan di Mongolia sebagai ungkapan seluruh komponen Gereja setempat. Sebuah rumah yang menjadi ciri khas umat Kristiani, namun meminta setiap komunitas kita untuk menjadi rumah belas kasih : yaitu, sebuah tempat terbuka, tempat yang ramah, di mana penderitaan setiap orang dapat masuk tanpa rasa malu jika bersentuhan dengan belas kasih Allah yang meninggikan dan menyembuhkan. Inilah kesaksian Gereja Mongolia, bersama para misionaris dari berbagai negara yang merasa menyatu dengan umat, senang melayani mereka dan menemukan keindahan yang sudah ada di sana. Karena para misionaris ini tidak pergi untuk menyebarkan agama; hal ini tidak injili. Mereka pergi untuk tinggal di sana seperti rakyat Mongolia, berbicara dalam bahasa mereka, bahasa rakyat tersebut, mengambil nilai-nilai dari orang-orang tersebut dan mewartakan Injil dalam gaya Mongolia, dengan kata-kata Mongolia. Mereka pergi dan mereka “terinkulturasi” : mereka mengadopsi budaya Mongolia untuk mewartakan Injil dalam budaya tersebut.

 

Saya dapat menemukan keindahan ini, juga berkat bertemu dengan beberapa orang, mendengarkan cerita mereka, menghargai pencarian keagamaan mereka. Dalam hal ini, saya bersyukur atas pertemuan antaragama dan ekumenis pada hari Minggu lalu. Mongolia mempunyai tradisi Buddhis yang hebat, dengan kebanyakan orang menghayati keagamaan mereka dengan secara tulus dan radikal, dalam keheningan, melalui altruisme dan penguasaan nafsu mereka. Coba bayangkan betapa banyaknya benih-benih kebaikan yang tersembunyi membuat taman dunia tumbuh subur, padahal biasanya kita hanya mendengar suara pohon tumbang! Dan ini adalah suatu … umat, kita juga, yang menyukai skandal : “Tetapi lihat betapa biadabnya, sebatang pohon telah tumbang, betapa berisiknya!” “Tetapi tidakkah kamu melihat hutan yang tumbuh setiap hari?”, karena pertumbuhan itu diam. Mampu membedakan dan mengenali yang baik sangat menentukan. Namun, sering kali kita menghargai orang lain hanya sejauh mereka sesuai dengan gagasan kita; dan kita harus melihat hal ini dengan baik. Dan inilah sebabnya mengarahkan pandangan kita ke atas, menuju cahaya kebaikan penting. Hanya dengan cara ini, dimulai dari pengakuan akan kebaikan, kita dapat membangun masa depan bersama; hanya dengan menghargai orang lain kita dapat membantu mereka menjadi lebih baik.

 

Saya berada di jantung Asia, dan ini bermanfaat bagi saya. Berdialog dengan benua yang luas itu, mengumpulkan pesan-pesannya, mengetahui kebijaksanaannya, caranya memandang sesuatu, merangkul ruang dan waktu baik adanya. Saya senang sekali bisa bertemu dengan rakyat Mongolia, yang menghargai akar dan tradisi mereka, menghormati kaum tua dan hidup selaras dengan lingkungan: mereka adalah rakyat yang merenungkan langit dan merasakan nafas penciptaan. Memikirkan hamparan Mongolia yang tak terbatas dan sunyi, marilah kita tergugah oleh perlunya memperluas batas pandangan kita, tolong : perluaslah wawasan, pandanglah ke atas dan ke bawah, pandanglah dan jangan terjerumus pada hal-hal sepele. Marilah kita memperluas batas pandangan kita, sehingga kita dapat melihat kebaikan orang lain dan mampu memperluas wawasan kita, dan marilah kita juga membuka hati; kita perlu membuat hati kita bertumbuh dan berkembang, agar dapat memahami, agar dekat dengan setiap orang dan setiap peradaban. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hangat saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Malta, Senegal, Australia, Indonesia dan Amerika Serikat. Atasmu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

Saya ingin menambahkan bahwa, dengan sangat sedih saya mengetahui tentang kebakaran yang terjadi di sebuah gedung berlantai lima di pusat kota Johannesburg, Afrika Selatan, yang menewaskan lebih dari tujuh puluh orang, termasuk sejumlah anak-anak. Saya memintamu untuk bergabung dengan saya untuk mendoakan para korban yang malang. Kepada keluarga mereka saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam, dan saya menyampaikan berkat khusus kepada mereka serta kepada semua orang yang bekerja untuk memberikan bantuan dan dukungan.

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Dalam Perjalanan Apostolik saya ke Mongolia baru-baru ini, saya menjumpai sebuah Gereja muda yang penuh dengan semangat kerasulan di tengah-tengah masyarakat Asia yang besar dan luhur. Karena Allah seringkali membuat kehadiran-Nya diketahui secara sederhana dan diam-diam, saya senang karena, selama beberapa hari, komunitas Katolik Mongolia, yang didirikan oleh para misionaris tiga puluh tahun yang lalu, menjadi pusat perhatian Gereja. Kekatolikan Gereja, panggilannya untuk menjelmakan Injil di semua bangsa dan budaya, mengilhaminya untuk bersaksi tentang imannya melalui kata-kata kasih. Di Ulanbaatar, saya memberkati “Rumah Belas Kasih”, karya amal kasih besar pertama yang dilakukan oleh Gereja setempat. Di sebuah negara dengan tradisi Budha yang luar biasa, saya mengakui penanaman kebaikan secara diam-diam oleh begitu banyak pengikutnya, dan dalam pertemuan saya dengan para pemimpin agama, saya mendorong bertumbuhnya dialog, saling pengertian dan persaudaraan. Saat saya mengucap syukur atas hari-hari yang dihabiskan di jantung Asia tersebut, di bawah keluasan langit Allah, saya berdoa agar semua orang bertumbuh dalam kebijaksanaan, menghormati keberagaman dan komitmen untuk bekerjasama dalam membangun masa depan bersama bagi dunia kita.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 7 September 2023)