Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 6 Desember 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 29)

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam katekese-katekese terakhir kita melihat pewartaan Injil adalah sebuah sukacita, bagi semua orang, dan ditujukan untuk hari kini. Sekarang marilah kita temukan ciri terakhir yang hakiki : pewartaan perlu dilakukan dalam Roh Kudus. Memang benar, untuk “menyampaikan Allah”, sukacita kesaksian yang dapat dipercaya, universalitas pewartaan dan ketepatan waktu pesan tidak memadai. Tanpa Roh Kudus, seluruh semangat sia-sia dan bersifat kerasulan palsu: semangat itu hanya akan menjadi milik kita sendiri dan tidak akan menghasilkan buah.

 

Dalam Evangelii Gaudium saya mengingatkan bahwa “Yesus adalah pewarta yang pertama dan terbesar. Dalam setiap kegiatan pewartaan, keutamaan adalah milik Tuhan, yang telah memanggil kita untuk bekerja sama bersama-Nya dan yang menuntun kita dengan kuasa Roh-Nya” (no. 12). Inilah keutamaan Roh Kudus! Oleh karena itu, Tuhan mengumpamakan dinamisme Kerajaan Allah dengan “seseorang yang menaburkan] benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu” (Mrk 4:26-27). Roh adalah pelaku utamanya; ia selalu mendahului para misionaris dan membuat buah tumbuh. Pemahaman ini sangat menghibur kita! Dan pemahaman ini membantu kita untuk menjelaskan hal lain yang juga sama menentukannya : yaitu, dalam semangat apostoliknya, Gereja tidak mewartakan dirinya sendiri, melainkan rahmat, karunia, dan Roh Kudus justru merupakan karunia Allah, sebagaimana dikatakan Yesus kepada perempuan Samaria (bdk. Yoh 4:10).

 

Namun, keutamaan Roh Kudus tidak boleh membuat kita bermalas-malasan. Keyakinan tidak membenarkan pemisahan. Daya hidup benih yang tumbuh dengan sendirinya tidak membuat petani terbengkalai di ladang. Yesus, dalam memberikan rekomendasi terakhirnya sebelum naik ke surga, berkata, “Kamu akan menerima kuasa bila Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku … sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8).


Tuhan tidak meninggalkan kita catatan kuliah teologis atau pedoman pastoral untuk diterapkan, namun Roh Kudus yang mengilhami perutusan. Dan prakarsa berani yang ditanamkan Roh dalam diri kita menuntun kita untuk meneladan gaya-Nya, yang selalu memiliki dua ciri : kreativitas dan kesederhanaan.


Kreativitas, mewartakan Yesus dengan sukacita, kepada semua orang dan hari ini. Di zaman kita ini, yang tidak membantu kita memiliki pandangan hidup religius, dan di mana pewartaan di berbagai tempat menjadi semakin sulit, sukar, tampaknya tidak membuahkan hasil, godaan untuk berhenti dari pelayanan pastoral mungkin timbul. Mungkin kita berlindung pada zona aman, seperti kebiasaan mengulangi hal-hal yang selalu kita lakukan, atau pada seruan spiritualitas intimis yang memikat, atau bahkan pada pemahaman yang salah tentang sentralitas liturgi. Godaan-godaan tersebut merupakan godaan yang menyamar sebagai kesetiaan terhadap tradisi, namun sering kali, alih-alih tanggapan terhadap Roh, godaan-godaan tersebut merupakan reaksi terhadap ketidakpuasan pribadi. Sebaliknya, kreativitas pastoral, berani dalam Roh, bersemangat dalam semangat misioner-Nya, adalah bukti kesetiaan kepada-Nya. Oleh karena itu, saya menulis bahwa “Yesus juga dapat menerobos kategori-kategori membosankan yang kita sertakan pada-Nya dan Dia senantiasa membuat kita takjub dengan daya cipta ilahi-Nya. Kapan pun kita berusaha kembali kepada sumber dan memulihkan kesegaran asli Injil, jalan-jalan baru muncul, lorong-lorong kreativitas baru terbuka, dengan berbagai bentuk ungkapan, tanda-tanda dan kata-kata yang lebih fasih dengan makna baru bagi dunia dewasa ini” (Evangelii Gaudium, 11).

Oleh karena itu, kreativitas; dan kemudian kesederhanaan, tepatnya karena Roh membawa kita ke sumbernya, ke “pewartaan pertama”. Memang benar, “api Roh … [yang] membimbing kita untuk percaya akan Yesus Kristus yang, dengan wafat dan kebangkitan-Nya, mewahyukan dan menyampaikan kepada kita belas kasih Bapa
yang tanpa batas” (Evangelii Gaudium, no. 164). Ini adalah pewartaan pertama, yang hendaknya “menjadi pusat dari semua kegiatan evangelisasi dan seluruh upaya untuk pembaruan Gereja"; disuarakan berulang-ulang : 'Yesus Kristus mencintaimu; Ia menyerahkan hidup-Nya untuk menyelamatkanmu; dan sekarang Ia tinggal di sampingmu setiap hari untuk menerangi, menguatkan dan membebaskanmu'” (Evangelii Gaudium, no. 164).


Saudara-saudari, marilah kita membiarkan diri kita ditarik oleh Roh dan memohon kepada-Nya setiap hari; semoga Ia menjadi sumber keberadaan dan pekerjaan kita; semoga Ia menjadi asal muasal setiap kegiatan, perjumpaan, pertemuan dan pewartaan. Ia menghidupkan dan meremajakan Gereja: bersama-Nya kita tidak boleh takut, karena Ia, yang merupakan keselarasan, selalu menyatukan kreativitas dan kesederhanaan, mengilhami persekutuan dan perutusan, terbuka terhadap keberagaman dan menuntun kembali pada persatuan. Dialah kekuatan kita, nafas pewartaan kita, sumber semangat kerasulan. Datanglah, Roh Kudus!

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah berbahasa Inggris, khususnya kelompok dari Malta, Australia, Jepang, Indonesia dan Amerika Serikat. Kepada kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam katekese lanjutan kita mengenai semangat kerasulan, kini kita merenungkan bagaimana pewartaan Injil selalu terjadi dalam kuasa Roh Kudus. Sebagai karunia Allah (bdk. Yoh 4:10), Roh mempersiapkan, menopang dan mendorong pertumbuhan dan kehidupan baru dalam Gereja. Namun dalam setiap kegiatan evangelisasi, keutamaan selalu ada pada Allah Bapa, yang telah mengutus Putra-Nya ke tengah-tengah kita dan menganugerahkan karunia Roh Kudus kepada Gereja. Dalam kesaksian kita terhadap Kristus yang bangkit, kita dipanggil untuk meneladan kreativitas dan kesederhanaan yang merupakan ciri khas karya Roh Kudus. Semoga api Roh Kudus terus berkobar di dalam diri kita, menguatkan kita dalam kesatuan dan semangat misioner, ketika kita berusaha menjadi saksi sukacita keselamatan kita di dalam Kristus, bahkan sampai ke ujung bumi.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 6 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 Desember 2023 : PADANG GURUN DAN SUARA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Pada Hari Minggu Adven II ini, Bacaan Injil berbicara kepada kita tentang Yohanes Pembaptis, pendahulu Yesus (bdk. Mrk 1:1-8), dan menggambarkannya sebagai “suara orang yang berseru-seru di padang gurun” (ayat 3). Padang gurun, tempat kosong, tempat kamu tidak dapat berkomunikasi; dan suara, sarana untuk berbicara – kedua gambaran tersebut tampak seperti saling bertentangan. Namun keduanya tergabung dalam diri Yohanes Pembaptis.

 

Padang gurun. Yohanes berkhotbah di sana, dekat Sungai Yordan, dekat tempat umatnya memasuki tanah terjanji berabad-abad sebelumnya (bdk. Yosua 3:1-17). Dengan melakukan hal ini, ia seperti mengatakan: untuk mendengarkan Tuhan, kita harus kembali ke tempat di mana, selama empat puluh tahun, Ia menyertai, melindungi dan mendidik umat-Nya, di padang gurun. Ini adalah tempat yang sunyi dan penting, di mana seseorang tidak mampu memikirkan hal-hal yang tidak berguna, namun perlu berkonsentrasi pada apa yang sangat diperlukan agar dapat hidup.

 

Dan ini adalah pengingat yang senantiasa relevan : untuk melanjutkan perjalanan hidup, kita perlu melepaskan diri dari hal-hal yang “lebih”, karena hidup dengan baik bukan berarti dipenuhi dengan hal-hal yang tak berguna, tetapi terbebas dari hal-hal yang berlebihan, menggali lebih dalam di dalam diri kita untuk berpegang pada apa yang benar-benar penting di hadapan Allah. Hanya jika, melalui keheningan dan doa, kita memberikan ruang bagi Yesus, yang adalah Sabda Bapa, kita akan tahu bagaimana caranya terbebas dari pencemaran kata-kata dan obrolan yang sia-sia. Keheningan dan ketenangan – dari kata-kata, dari penggunaan benda-benda, dari media dan media sosial – ini bukan sekadar praktik umum dalam kehidupan devosional di mana seseorang mempersembahkan pengurbanan kecil, ketetapan, atau usulan untuk melakukan perbuatan baik kepada Tuhan kita atau Bunda Maria maupun kebajikan, keduanya merupakan unsur hakiki dalam kehidupan Kristiani.

 

Dan kita sampai pada gambaran kedua, suara. Ini adalah cara kita mewujudkan apa yang kita pikirkan dan apa yang kita simpan dalam hati kita. Oleh karena itu, kita memahami bahwa suara sangat berkaitan dengan keheningan, karena suara mengungkapkan apa kedewasaan di dalam diri, dari mendengarkan apa yang disarankan oleh Roh Kudus. Saudara-saudari, jika seseorang tidak tahu bagaimana caranya diam, kecil kemungkinannya ia akan mempunyai sesuatu yang baik untuk diucapkan; sementara, semakin penuh perhatian terhadap keheningan, semakin kuat kata-katanya. Dalam diri Yohanes Pembaptis, suara itu dikaitkan dengan keaslian pengalamannya dan kemurnian hatinya.

 

Kita bisa bertanya pada diri kita : Apa arti keheningan dalam hari-hariku? Apakah keheningan yang hampa, dan mungkin menindas? Ataukah ruang untuk mendengarkan, berdoa, menjaga hati? Apakah hidupku seadanya atau dipenuhi dengan hal-hal yang tidak berguna? Sekalipun berarti melawan arus, marilah kita menghargai keheningan, ketenangan, dan mendengarkan. Semoga Maria, Perawan Keheningan, membantu kita untuk mencintai gurun, menjadi suara-suara yang dapat dipercaya yang bersaksi tentang kedatangan Putranya.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Tujuh puluh lima tahun yang lalu, pada tanggal 10 Desember 1948, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia ditandatangani. Deklarasi tersebut bagaikan rencana induk. Banyak langkah yang telah diambil, masih banyak pula yang perlu dilakukan, dan sayangnya, terkadang ada langkah mundur yang diambil. Komitmen terhadap hak asasi manusia tidak pernah selesai! Dalam hal ini, saya dekat dengan semua orang yang, tanpa gembar-gembor, dalam kehidupan nyata sehari-hari, berjuang dan secara pribadi membayar harga untuk membela hak-hak mereka yang tidak diperhitungkan.

 

Saya menyambut baik pembebasan sejumlah besar tahanan Armenia dan Azerbaijan. Saya menaruh harapan besar pada tanda-tanda positif antara Armenia dan Azerbaijan, untuk perdamaian di Kaukasus Selatan, serta saya mendorong kedua pihak dan para pemimpin mereka untuk segera menyelesaikan perjanjian perdamaian.

 

Dalam beberapa hari lagi, pekerjaan COP28 mengenai iklim, yang sedang berlangsung di Dubai, akan selesai. Saya meminta kamu semua mendoakan hasil yang baik demi perawatan rumah kita bersama dan perlindungan masyarakat.

Dan kita terus mendoakan penduduk yang sedang menderita akibat perang. Kita sedang menuju Natal: Apakah kita mampu, dengan bantuan Allah, mengambil langkah-langkah perdamaian nyata? Ini tidak mudah; kita tahu itu. Pertikaian-pertikaian tertentu mempunyai akar sejarah yang kuat. Namun kita juga memiliki kesaksian dari para orang-orang yang telah bekerja dengan bijaksana dan sabar demi hidup berdampingan secara damai. Biarkan teladan mereka diikuti! Biarkan segala upaya dilakukan untuk mengatasi dan menyingkirkan penyebab pertikaian, dan pada saat yang sama – berbicara tentang hak asasi manusia – melindungi warga sipil, rumah sakit, tempat ibadah, membebaskan sandera dan menjamin hak asasi manusia. Janganlah kita melupakan Ukraina, Palestina, Israel yang babak belur.


Saya memanjatkan doa untuk para korban kebakaran yang terjadi dua hari lalu di rumah sakit di Tivoli.

 

Dengan sepenuh hati menyapa kamu semua, para peziarah dari Roma, dan Italia, dan belahan dunia lainnya, khususnya umat San Nicola Manfredi, para pramuka dewasa dari Scafati serta kelompok orang muda dari Nevoli, Gerenzano dan Rovigo.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 10 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN : 8 Desember 2023 : BELAJAR DARI DUA SIKAP MARIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat hari raya!


Hari ini, pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, Bacaan Injil menyajikan kepada kita kisah Kabar Sukacita (bdk. Luk 1:26-38). Bacaan Injil memperlihatkan dua sikap Maria yang membantu kita memahami bagaimana ia menjaga karunia istimewa yang diterimanya – hati yang benar-benar bebas dari dosa. Kedua sikap ini berupa keheranan terhadap karya Allah dan kesetiaan dalam hal-hal sederhana.

 

Marilah kita melihat sikap pertama: keheranan. Malaikat berkata kepada Maria, “"Salam, hai engkau yang dikaruniai! Tuhan menyertai engkau” (bdk. ayat 28). Dan Penginjil Lukas mencatat Perawan Maria “terkejut ... lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu" (ayat 29). Ia terkejut, terpukul, gelisah: ia terheran-heran ketika mendengar dirinya disebut “penuh rahmat” – Bunda Maria rendah hati – yakni dipenuhi dengan kasih Allah. Ini merupakan sikap yang sangat mulia: terheran-heran akan karunia Allah, tidak pernah meremehkannya, menghargai nilainya, bersukacita atas kepercayaan dan kelembutan yang diberikannya. Dan penting juga untuk menunjukkan keheranan ini di hadapan orang lain, berbicara dengan rendah hati tentang karunia Allah, tentang kebaikan yang diterima, dan bukan hanya tentang permasalahan sehari-hari. Menjadi lebih positif. Kita dapat bertanya pada diri kita sendiri : Tahukah aku bagaimana caranya merasa heran akan karya Allah? Apakah suatu saat aku dipenuhi rasa ingin tahu dan membagikannya kepada seseorang? Atau apakah aku selalu berfokus pada hal-hal buruk, hal-hal yang menyedihkan?

 

Dan sekarang sikap kedua : kesetiaan dalam hal-hal sederhana. Sebelum Kabar Sukacita, Injil tidak mengatakan apa pun tentang Maria. Ia ditampilkan sebagai seorang gadis sederhana, yang tampaknya setara dengan banyak orang lain yang tinggal di desanya. Seorang gadis muda yang, justru karena kesederhanaannya, menjaga kemurnian hati tak bernoda yang dengannya, berkat karunia Allah, ia dikandung. Dan ini juga penting, karena untuk menyambut karunia Allah yang luar biasa, kita perlu mengetahui cara menghargai karunia yang lebih sering kita jumpai dan yang kurang terlihat.

Justru dengan kesetiaan dalam kebaikan setiap hari, Bunda Maria memperkenankan karunia Allah bertumbuh dalam dirinya. Inilah cara ia melatih dirinya untuk menanggapi Tuhan, mengatakan “ya” kepada-Nya sepanjang hidupnya.


Maka, marilh kita bertanya pada diri kita : Apakah aku percaya bahwa kesetiaan kepada Allah itu penting baik dalam situasi sehari-hari maupun dalam perjalanan rohaniku? Dan jika aku memercayai hal ini, apakah aku mempunyai waktu untuk membaca Injil, berdoa, ikut serta dalam Ekaristi dan menerima pengampunan sakramental, melakukan tindakan nyata dalam pelayanan tanpa pamrih? Ini adalah pilihan-pilihan kecil sehari-hari, pilihan-pilihan yang diperlukan untuk menyambut kehadiran Tuhan.

 

Semoga Maria yang dikandung tanpa noda membantu kita keheranan akan karunia Allah dan menanggapinya dengan kemurahan hati yang penuh kesetiaan setiap hari.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Dengan hangat saya menyapa umat Roma serta para peziarah dari Italia dan berbagai negara, khususnya umat Novoli dan para calon penerima sakramen krisma dari Cingoli.

 

Pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda ini, keanggotaan Aksi Katolik diperbarui di paroki-paroki Italia. Saya mendorong semua anggota, dari yang termuda sampai yang tertua, untuk menjadi batu hidup dalam Gereja dan ragi yang baik dalam masyarakat. Semoga berjalan lancar!


Dengan segenap hati saya memberkati umat Rocca di Papa dan obor yang akan mereka gunakan untuk menyalakan bintang besar benteng kota mereka yang indah untuk menghormati Maria yang dikandung tanpa noda.

Saya menyampaikan salam saya bagi umat Keuskupan Québec, Kanada, yang hari ini merayakan pesta pelindung mereka, Maria yang dikandung tanpa noda, dan mencanangkan Yubileum peringatan 350 tahun Keuskupan tersebut. Québec adalah keuskupan pertama yang didirikan di Kanada. Semoga kamu menjalani tahun Yubileum dengan baik dan semoga Perawan Maria menyertai kamu semua!

 

Dan sekarang saya dengan sukacita mengumumkan bahwa pada tanggal 25 dan 26 Mei tahun depan, kita akan merayakan Hari Anak Sedunia yang pertama di Roma. Prakarsa ini, yang diselenggarakan oleh Dikasteri Kebudayaan dan Pendidikan, menjawab pertanyaan : Dunia macam apa yang ingin kita wariskan kepada anak-anak yang sedang bertumbuh? Seperti Yesus, kita ingin menempatkan anak-anak sebagai pusat dan peduli terhadap mereka.

 

Sore ini, saya akan pergi dulu ke Santa Maria Maggiore dan kemudian ke Piazza di Spagna untuk berdoa kepada Bunda Maria. Saya memohon kepada semuanya, terutama umat Roma, untuk bersatu secara rohani dengan saya dalam tindakan mempercayakan kepada Bunda kita ini, berdoa khususnya untuk perdamaian, perdamaian di Ukraina, perdamaian di Palestina dan Israel, dan di setiap negeri yang terluka oleh perang. Marilah kita memohon perdamaian, agar hati menjadi damai, agar ada perdamaian!

 

Dan saya mengucapkan Selamat Hari Raya kepada kamu semua dan menjalani Masa Adven yang penuh berkat di bawah tuntunan Perawan Maria. Secara khusus, saya menyapa kaum muda Imakulata, hari ini adalah harimu! Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI CASA SANTA MARTA (VATIKAN) 3 Desember 2023 : PERHATIKANLAH SESAMAMU PADA MASA ADVEN INI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini juga saya tidak akan bisa membacakan semuanya : saya sudah lebih baik, tetapi suara saya masih belum bagus. Monsinyur Braida akan membacakan katekese.

 

Hari ini, Hari Minggu Adven I, dalam Bacaan Injil singkat yang ditawarkan liturgi kepada kita (bdk. Mrk 13:33-37), Yesus menyampaikan nasihat yang sederhana dan langsung kepada kita, sebanyak tiga kali : “Berjaga-jagalah” (ayat 33, 35, 37).

 

Jadi, temanya adalah kewaspadaan. Bagaimana kita harus memahaminya? Kadang-kadang kita menganggap keutamaan ini sebagai sikap yang dimotivasi oleh ketakutan akan malapetaka yang akan datang, seolah-olah sebuah meteor akan jatuh dari langit dan mengancam, jika kita tidak menghindarinya pada waktunya, akan membuat kita kewalahan. Namun kewaspadaan Kristiani bukan semua itu!

 

Yesus menjelaskannya dengan sebuah perumpamaan, berbicara tentang seorang majikan yang akan pulang, dan tentang hamba-hambanya yang menantikannya (bdk. ayat 34). Hamba dalam Kitab Suci adalah “orang yang dipercaya” oleh sang majikan, yang sering kali menjalin hubungan kerjasama dan kasih sayang. Bayangkan saja, misalnya, Musa didefinisikan sebagai hamba Allah (bdk. Bil 12:7), dan bahkan Maria berkata tentang dirinya sendiri, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan” (Luk 1:38). Jadi, kewaspadaan para hamba bukanlah rasa takut, melainkan kerinduan, penantian untuk berangkat menemui majikan mereka yang akan datang. Mereka tetap bersiap untuk kepulangannya karena mereka peduli terhadapnya, karena mereka berpikir bahwa ketika ia pulang, mereka akan membuat dia menemukan rumah yang ramah dan tertata rapi; mereka senang melihatnya, sampai-sampai mereka menantikan kepulangannya sebagai pesta bagi seluruh keluarga besar di mana mereka menjadi bagiannya.

 

Dengan pengharapan yang penuh kasih sayang inilah kita juga ingin mempersiapkan diri menyambut Yesus : pada hari Natal yang akan kita rayakan beberapa pekan lagi; di akhir zaman, ketika Ia akan datang dalam kemuliaan-Nya; setiap hari, ketika Ia datang menemui kita dalam Ekaristi, dalam Sabda-Nya, dalam diri saudara-saudari kita, khususnya orang-orang yang paling membutuhkan.

 

Maka secara khusus pada pekan-pekan ini marilah kita persiapkan rumah hati dengan penuh kepedulian, agar tertata rapi dan ramah tamah. Justru, berjaga-jaga berarti menjaga hati tetap siap. Begitulah sikap penjaga, yang di malam hari tidak tergiur rasa letih, tidak tertidur, namun tetap terjaga menanti datangnya terang. Tuhan adalah terang kita dan alangkah baiknya jika kita mencondongkan hati untuk menyambut-Nya dengan doa dan menjamu-Nya dengan kasih, dua persiapan yang bisa dikatakan membuat-Nya nyaman. Berkaitan dengan hal ini, ada cerita bahwa Santo Martinus dari Tours, seorang pendoa, setelah memberikan separuh jubahnya kepada seorang miskin, bermimpi tentang Yesus yang mengenakan separuh jubah yang telah ia berikan itu. Inilah program yang baik untuk Masa Adven : berjumpa Yesus yang datang dalam diri setiap saudara-saudari yang membutuhkan kita dan berbagi dengan mereka apa yang kita bisa bagikan : mendengarkan, waktu, bantuan nyata.

 

Para sahabat terkasih, ada baiknya hari ini kita bertanya pada diri kita bagaimana kita dapat mempersiapkan hati yang menyambut Tuhan. Kita dapat melakukannya dengan mendekati pengampunan-Nya, Sabda-Nya, Meja-Nya, mencari ruang untuk berdoa, menyambut orang-orang yang membutuhkan. Marilah kita memupuk pengharapan-Nya tanpa memperkenankan diri kita teralihkan oleh banyak hal yang sia-sia, dan tanpa mengeluh terus-menerus, namun menjaga hati tetap waspada, yaitu rindu kepada-Nya, berjaga dan siap, tidak sabar untuk bertemu dengan-Nya.

 

Semoga Perawan Maria, perempuan penantian, membantu kita menerima kedatangan Putranya.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Situasi Israel dan Palestina genting. Sungguh menyedihkan bagi kita karena gencatan senjata telah dilanggar : ini berarti kematian, kehancuran, kesengsaraan. Banyak sandera telah dibebaskan, namun banyak yang masih berada di Gaza. Marilah kita memikirkan mereka, keluarga mereka yang telah melihat terang, harapan untuk kembali merangkul orang yang mereka cintai. Di Gaza terdapat banyak penderitaan; ada kekurangan kebutuhan pokokr. Saya berharap semua pihak yang terlibat dapat mencapai kesepakatan gencatan senjata baru sesegera mungkin dan menemukan penyelesaian selain senjata, serta mencoba mengambil jalan berani menuju perdamaian.

Saya ingin mendoakan para korban penyerangan yang terjadi pagi ini di Filipina, di mana sebuah bom meledak saat Misa. Saya dekat dengan keluarga dan masyarakat Mindanao, yang telah sangat menderita.


Meski dari kejauhan, saya mengikuti jalannya COP 28 (Conference of States Parties to the United Nations Framework Convention on Climate Change) di Dubai dengan penuh perhatian. Saya dekat. Saya mengulangi seruan saya untuk menanggapi perubahan iklim dengan perubahan politik yang nyata; marilah kita keluar dari seluk-beluk partikularisme dan nasionalisme, pola pikir masa lalu, dan merangkul visi bersama, semua melakukan segala upaya sekarang, tanpa penundaan, demi perubahan global yang diperlukan.

 

Hari ini adalah Hari Penyandang Disabilitas Sedunia. Menyambut dan mengikutsertakan mereka yang mengalami kondisi ini membantu masyarakat secara keseluruhan menjadi semakin manusiawi. Dalam keluarga, dalam paroki, di sekolah, di tempat kerja, dalam olah raga : marilah kita belajar menghargai setiap orang dengan mutu dan kemampuan mereka, tidak mengecualikan siapa pun.

 

Saya menyapa kamu semua dengan penuh kasih sayang, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan belahan dunia lainnya, khususnya masyarakat Polandia yang ambil bagian dalam acara yang diselenggarakan di Roma untuk menghormati keluarga martir Ulma, yang baru-baru ini dibeatifikasi.

 

Saya menyapa seluruh peziarah dan kelompok paroki dari Florence, Siena, Brindisi, Cosenza dan Adrano.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu dan menjalani Masa Adven. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Desember 2023)