Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 Januari 2024 : PARA MAJUS MENGAJARKAN KITA UNTUK HERAN AKAN KANAK YESUS YANG SEDERHANA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat hari raya!

 

Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan, yaitu perwujudan diri-Nya kepada semua orang dalam diri para Majus (bdk. Mat 2:1-12). Mereka adalah para pencari yang bijaksana, yang setelah bertanya-tanya tentang penampakan bintang, memulai perjalanan dan tiba di Betlehem. Dan di sana, mereka menemukan Yesus, “bersama Maria ibu-Nya”, mereka sujud dan mempersembahkan “emas, dupa dan mur” (bdk. ayat 11).

 

Orang-orang bijaksana yang mengenali kehadiran Allah dalam diri seorang Anak yang sederhana: bukan pada diri seorang pangeran atau bangsawan, melainkan dalam diri anak orang miskin, dan mereka bersujud di hadapan-Nya seraya menyembah-Nya. Bintang menuntun mereka ke sana, di hadapan seorang Anak; dan mereka, dalam mata mungil-Nya yang polos, melihat cahaya Sang Pencipta alam semesta, yang kepada-Nya mereka mengabdikan keberadaan mereka.

 

Semua ini adalah pengalaman yang menentukan bagi mereka, dan juga penting bagi kita: sesungguhnya, dalam diri Kanak Yesus, kita melihat Allah yang menjadi manusia. Maka marilah kita memandang Dia, marilah kita heran akan kerendahan hati-Nya. Merenungkan Yesus, berdiam di hadapan-Nya, menyembah-Nya dalam Ekaristi: bukan menyia-nyiakan waktu, melainkan memberi makna pada waktu. Menyembah bukan berarti menyia-nyiakan waktu, namun memberi makna pada waktu. Saya ulangi, ini penting: menyembah bukan berarti menyia-nyiakan waktu, tetapi memberi makna pada waktu; menyembah menemukan kembali jalan hidup dalam kesederhanaan keheningan yang membina hati.

 

Dan marilah kita juga meluangkan waktu untuk memperhatikan anak-anak, seperti para Majus yang memperhatikan Yesus: anak-anak kecil yang juga berbicara kepada kita tentang Yesus, dengan kepercayaan mereka, kesegeraan mereka, keheranan mereka, keingintahuan mereka yang sehat, kemampuan mereka untuk menangis dan tertawa secara spontan, untuk bermimpi. Allah dijadikan seperti ini: seorang Anak, penuh kepercayaan, sederhana, pencinta kehidupan (bdk. Keb 11:26), bersama anak-anak kita; dengan sabar, sebagaimana kakek-nenek yang tahu bagaimana melakukannya! Jika kita tetap berada di hadapan kanak Yesus dan ditemani anak-anak, kita akan belajar untuk takjub dan kita akan memulai dengan lebih sederhana dan lebih baik, seperti para Majus. Dan kita akan tahu bagaimana memiliki pandangan baru, pandangan kreatif terhadap permasalahan dunia.

 

Lalu marilah kita bertanya pada diri kita : pada hari-hari ini, sudahkah kita berhenti untuk menyembah, sudahkah kita memberikan sedikit ruang bagi Yesus dalam keheningan, berdoa di depan palungan? Sudahkah kita mengabdikan waktu untuk anak-anak, berbicara dan bermain dengan mereka? Dan yang terakhir, mampukah kita melihat permasalahan dunia melalui kacamata anak-anak?

 

Semoga Maria, Bunda Allah dan Bunda kita, meningkatkan cinta kita kepada Kanak Yesus dan semua anak, khususnya mereka yang terbebani oleh peperangan dan ketidakadilan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Enam puluh tahun yang lalu, pada hari-hari ini, Paus Santo Paulus VI dan Patriark Ekumenis Athenagoras bertemu di Yerusalem, meruntuhkan tembok tidak dapat berkomunikasi yang telah memisahkan umat Katolik dan Ortodoks selama berabad-abad. Marilah kita belajar dari pelukan dua tokoh besar Gereja dalam perjalanan menuju kesatuan Kristiani, berdoa bersama, berjalan bersama, bekerja bersama.

 

Dan mengingat sikap bersejarah persaudaraan di Yerusalem, marilah kita berdoa untuk perdamaian, perdamaian di Timur Tengah, di Palestina, di Israel, di Ukraina, dan di seluruh dunia. Begitu banyak korban perang, begitu banyak kematian, begitu banyak kehancuran… Marilah kita berdoa untuk perdamaian. Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan rakyat Iran, khususnya para kerabat dari banyak korban serangan teroris yang terjadi di Kerman, banyak yang terluka dan semua yang terkena dampak penderitaan besar ini.

 

Hari Raya Penampakan Tuhan adalah Hari Anak Misioner. Saya menyapa anak-anak dan kaum muda misioner di seluruh dunia. Saya berterima kasih kepada mereka atas komitmen mereka dalam doa dan dukungan nyata terhadap pewartaan Injil dan, khususnya, pengembangan kaum muda di wilayah misi. Terima kasih, terima kasih banyak!

 

Dengan penuh sukacita saya menyapa para peserta dalam perarakan bersejarah-kerakyatan, yang tahun ini didedikasikan untuk kawasan Lembah Sungai Tiber, serta nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan di dalamnya.

 

Saya menyapa umat dari Jerman, kaum muda Gerakan “Di Antara Kita”, “Sahabat Sejarah dan Tradisi” dari Carovilli, dan kelompok AVIS dari Paderno Franciacorta. Dan saya menyampaikan berkat saya kepada para peserta perarakan besar Tiga Raja yang berlangsung di Warsawa dan di banyak kota di Polandia.

 

Dan saya mengucapkan selamat Hari Raya Penampakan Tuhan kepada semua orang. Mohon terus mendoakan saya dan teruslah maju dengan berani: semoga Tuhan memberkatimu. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Januari 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 3 Januari 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG KEBURUKAN DAN KEBAJIKAN (BAGIAN 2 : PERJUANGAN ROHANI)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Pekan lalu kita berkenalan dengan tema keburukan dan kebajikan. Tema ini mengacu pada pergumulan rohani umat kristiani. Memang benar, kehidupan rohani umat Kristiani tidak damai, linier dan tanpa tantangan; sebaliknya, kehidupan Kristiani menuntut perjuangan terus-menerus: perjuangan umat Kristiani untuk memelihara iman, memperkaya karunia iman dalam diri kita. Bukan suatu kebetulan jika pengurapan pertama yang diterima setiap umat Kristiani dalam Sakramen Pembaptisan – pengurapan katekumenal – tidak beraroma apapun dan secara simbolis menyatakan bahwa hidup adalah sebuah perjuangan. Faktanya, pada zaman dahulu, para pegulat diurapi sekujur tubuhnya sebelum bertanding, untuk mengencangkan otot dan membuat tubuh mereka sulit ditangkap lawan. Pengurapan para katekumen segera memperjelas bahwa umat Kristiani tidak luput dari perjuangan, umat Kristiani harus berjuang: keberadaan mereka, seperti halnya semua orang, harus turun ke gelanggang, karena kehidupan adalah serangkaian cobaan dan godaan.

 

Sebuah pepatah terkenal yang dikaitkan dengan Abas Antonius Agung, bapa besar monastisisme pertama, berbunyi seperti ini: “Hilangkanlah godaan dan tidak ada seorang pun yang dapat diselamatkan”. Orang-orang kudus bukanlah orang-orang yang luput dari godaan, melainkan orang-orang yang sadar akan kenyataan bahwa dalam kehidupan godaan kejahatan muncul berulang kali, dibuka kedoknya dan ditolak. Kita semua pernah mengalami hal ini, kita semua: pikiran buruk datang kepadamu, kamu merasakan keinginan untuk melakukan hal ini, atau berbicara buruk tentang orang lain… Kita semua, kita semua tergoda, dan kita harus berusaha untuk menyerah pada godaan ini. Jika ada di antara kamu yang tidak tergoda, katakanlah demikian, maka itu akan menjadi hal yang luar biasa! Kita semua mempunyai godaan, dan kita semua harus belajar bagaimana berperilaku dalam situasi ini.

 

Ada banyak orang yang memerdekakan diri mereka, yang menyatakan bahwa mereka “baik-baik saja” – “Tidak, aku baik-baik saja, aku tidak mempunyai masalah-masalah ini”. Namun tidak satupun dari kita yang “baik-baik saja”; jika seseorang merasa baik-baik saja, ia sedang bermimpi; kita masing-masing mempunyai banyak hal yang harus disesuaikan, dan juga harus waspada. Dan ada kalanya kita menerima sakramen Tobat dan kita berkata, dengan tulus, “Bapa, aku tidak ingat, aku tidak tahu apakah aku mempunyai dosa…”. Namun ini adalah kurangnya kesadaran akan apa yang terjadi di dalam hati. Kita semua adalah orang berdosa, kita semua. Dan sedikit pemeriksaan hati nurani, sedikit wawasan, akan bermanfaat bagi kita. Jika tidak, kita berisiko hidup dalam kegelapan, karena kita sudah terbiasa dengan kegelapan dan tidak tahu lagi bagaimana membedakan yang baik dari yang jahat. Ishak dari Niniwe mengatakan bahwa, di dalam Gereja, orang yang mengetahui dosa-dosanya dan meratapinya adalah lebih besar daripada orang yang membangkitkan orang mati. Kita semua harus memohon rahmat Allah untuk mengenali diri kita sebagai orang-orang berdosa yang malang, yang membutuhkan pertobatan, dengan tetap menjaga keyakinan dalam hati kita bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk rahmat Allah Bapa yang tak terbatas. Ini adalah pelajaran perdana yang diberikan Yesus kepada kita.

 

Kita melihatnya di halaman pertama Injil, terutama dalam kisah baptisan Mesias di perairan Sungai Yordan. Kisah ini mengandung sesuatu yang meresahkan: mengapa Yesus tunduk pada upacara penyucian seperti itu? Ia adalah Tuhan, Ia sempurna! Dosa apa yang harus Yesus sesali? Tidak ada! Bahkan Yohanes Pembaptis pun terkejut, sampai-sampai teks mengatakan: “Namun, Yohanes mencoba mencegah Dia, katanya, ‘Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, tetapi Engkau yang datang kepadaku?’” (Mat 3:14). Namun Yesus adalah Mesias yang sangat berbeda dari cara Yohanes menampilkan Dia dan orang-orang membayangkan Dia: Ia tidak mewujudkan Allah yang murka dan tidak mengemukakan penghakiman, namun sebaliknya, mengantri bersama orang-orang berdosa. Bagaimana bisa? Ya, Yesus menyertai kita, kita semua orang berdosa. Ia bukan orang berdosa, namun Ia ada di antara kita. Dan ini adalah hal yang indah. “Bapa, aku punya banyak dosa!” – “Tetapi Yesus menyertaimu: bicarakanlah tentang hal itu, Ia akan membantumu keluar dari masalah”. Yesus tidak pernah meninggalkan kita sendirian, tidak pernah! Pikirkanlah tentang hal ini. “Ya Bapa, aku telah melakukan dosa berat!” – “Tetapi Yesus memahamimu dan Ia menyertaimu: Ia memahami dosamu dan Ia mengampunimu”. Jangan pernah melupakan hal ini! Di saat-saat terburuk, saat kita tergelincir ke dalam dosa, Yesus ada di samping kita untuk membantu mengangkat kita. Hal ini membawa penghiburan. Kita tidak boleh kehilangan kepastian ini: Yesus ada di samping kita untuk menolong kita, melindungi kita, bahkan mengangkat kita kembali setelah berbuat dosa. “Tetapi Bapa, benarkah Yesus mengampuni segalanya?” - "Segalanya. Ia datang untuk mengampuni, menyelamatkan. Sederhananya, Yesus ingin hatimu terbuka. Ia tidak pernah lupa untuk mengampuni: sering kali kitalah yang kehilangan kemampuan untuk memohon pengampunan. Marilah kita mendapatkan kembali kemampuan untuk memohon pengampunan. Kita masing-masing mempunyai banyak hal yang perlu dimohonkan pengampunan: biarlah kita masing-masing memikirkannya, dalam hati, dan membicarakannya dengan Yesus hari ini. Bicaralah dengan Yesus tentang hal ini: “Tuhan, aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tetapi aku yakin Engkau tidak akan berpaling dariku. Aku yakin Engkau mengampuniku. Tuhan, aku ini orang berdosa, namun tolong jangan berpaling dariku”. Ini akan menjadi doa yang indah kepada Yesus hari ini: “Tuhan, jangan berpaling dariku”.

 

Dan tepat setelah kisah pembaptisan, Injil memberitahu kita bahwa Yesus mengundurkan diri ke padang gurun, di mana Ia dicobai oleh Iblis. Dalam hal ini pun, kita bertanya pada diri kitai: godaan apa yang harus diketahui Putra Allah? Di sini juga, Yesus menunjukkan diri-Nya bersetia kawan dengan sifat manusiawi kita yang lemah, dan menjadi teladan kita yang luar biasa: godaan yang Ia hadapi dan atasi di antara batu-batu gersang di padang gurun adalah petunjuk pertama yang Ia berikan kepada kehidupan kita sebagai murid. Ia mengalami apa yang kita juga harus persiapkan untuk menghadapinya: hidup berupa tantangan, ujian, persimpangan jalan, pandangan yang berlawanan, rayuan tersembunyi, suara-suara yang bertentangan. Beberapa suara bahkan bersifat menghasut, sedemikian rupa sehingga Iblis mencobai Yesus dengan menggunakan kata-kata dalam Kitab Suci. Kita harus menjaga kejernihan batin agar dapat memilih jalan yang benar-benar menuju kebahagiaan, dan berusaha untuk tidak berhenti di tengah jalan.

 

Ingatlah bahwa kita selalu terpecah di antara dua ekstrim yang berlawanan: kesombongan menantang kerendahan hati; kebencian menentang amal; kesedihan menghalangi sukacita Roh yang sejati; pengerasan hati menolak belas kasihan. Umat Kristiani terus berjalan di sepanjang garis pemisah ini. Oleh karena itu, penting untuk merenungkan keburukan dan kebajikan: hal ini membantu kita mengalahkan budaya nihilistik di mana batas antara kebaikan dan kejahatan menjadi kabur dan, pada saat yang sama, mengingatkan kita bahwa manusia, tidak seperti makhluk lainnya, selalu dapat melampaui dirinya sendiri, membuka diri kepada Allah dan melakukan perjalanan menuju kekudusan.

 

Perjuangan rohani, kemudian, menuntun kita untuk melihat secara dekat sifat-sifat buruk yang membelenggu kita dan berjalan, dengan rahmat Allah, menuju kebajikan-kebajikan yang dapat berkembang dalam diri kita, membawa musim semi Roh ke dalam hidup kita.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Malta dan Amerika Serikat. Saya kembali memperbarui kedekatan rohani saya dengan semua orang yang terkena dampak gempa bumi baru-baru ini di Jepang, dan juga dengan para korban tabrakan dua pesawat kemarin di bandara Tokyo. Saya juga mendoakan keluarga mereka dan aparat keadaan darurat. Semoga kamu dan keluargamu menghargai sukacita masa Natal ini, dan mendekatkan diri dalam doa kepada Sang Juruselamat yang telah datang untuk tinggal di antara kita. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese kita tentang kebajikan dan keburukan yang berlawanan dengannya, kita telah melihat kehidupan Kristiani melibatkan perjuangan terus-menerus untuk melawan dosa dan bertumbuh dalam kekudusan. Yesus, yang tidak berdosa, menyerahkan diri untuk dibaptis oleh Yohanes dan dicobai di padang gurun, mengajarkan kita perlunya kelahiran kembali secara rohani, pertobatan pikiran dan hati, serta kepercayaan yang tiada henti pada kerahiman dan rahmat Allah yang menopang. Semoga permenungan mingguan kita mengenai kebajikan dan keburukan membantu kita meneladan Tuhan, bertumbuh dalam kebijaksanaan dan pemahaman diri, serta melakukan pembedaan roh di antara yang baik dan yang jahat. Seiring kemajuan kita dalam pengetahuan dan pengamalan kebajikan, semoga kita mengalami sukacita kedekatan dengan Allah, sumber segala kebaikan, kebahagiaan sejati dan kepenuhan hidup kekal.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Januari 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 Januari 2024 : DALAM KEHENINGAN DAN PENYEMBAHAN, MARIA MENEMPATKAN YESUS SEBAGAI PUSAT DAN MEMBERIKAN KESAKSIAN TENTANG DIA SEBAGAI SANG JURUSELAMAT

Saudara-saudari terkasih, selamat Tahun Baru!

 

Pada hari ini, ketika kita merayakan Maria, Bunda Allah, kita menempatkan waktu baru yang diberikan kepada kita di bawah tatapan Maria yang penuh perhatian. Semoga ia menjaga kita tahun ini.

 

Bacaan Injil hari ini mengungkapkan kepada kita keagungan Maria tidak terletak pada perbuatannya yang luar biasa; sebaliknya, ketika para gembala, setelah menerima pemberitaan dari para malaikat, bergegas menuju Betlehem (bdk. Luk 2:15-16), ia tetap diam. Keheningan ibu adalah ciri khas yang indah. Bukan sekadar ketiadaan kata-kata, namun keheningan yang dipenuhi rasa heran dan penyembahan terhadap mukjizat yang sedang dilakukan Allah. “Maria menyimpan semua hal itu di dalam hatinya dan merenungkannya”, kata Santo Lukas. (2:19). Dengan cara ini ia memberi ruang di dalam dirinya bagi Dia yang telah dilahirkan; dalam keheningan dan penyembahan, ia menempatkan Yesus sebagai pusat dan memberikan kesaksian tentang Dia sebagai Sang Juruselamat.

 

Jadi, ia adalah ibu bukan hanya karena ia mengandung Yesus di dalam rahimnya dan melahirkan-Nya, tetapi karena ia membawa Yesus ke dalam terang, tanpa menempati tempatnya. Ia akan tetap diam bahkan di bawah kayu salib, di saat-saat paling gelap, dan akan terus memberikan ruang bagi-Nya dan melahirkan Dia bagi kita. Seorang rohaniwan dan penyair abad ke-20 menulis: “Perawan, katedral keheningan / [...] engkau membawa daging kami ke dalam surga / dan Allah ke dalam daging” (D.M. Turoldo, Laudario alla Vergine. “Via pulchritudinis”, Bologna 1980, 35). Katedral Keheningan: sebuah gambaran yang indah. Dengan sikap diam dan rendah hati, Maria adalah “katedral” Allah yang pertama, tempat di mana Ia dan manusia dapat bertemu.

 

Namun para ibu kita juga, dengan kepeduliannya yang tersembunyi, dengan perhatiannya, sering kali menjadi katedral keheningan yang megah. Mereka melahirkan kita ke dalam dunia dan terus memperhatikan kita, sering kali tanpa kita sadari, sehingga kita bisa bertumbuh. Marilah kita mengingat hal ini: cinta tidak pernah mengekang; cinta memberi ruang bagi orang lain. Cinta membuat kita tumbuh.

 

Saudara-saudariku, di permulaan tahun baru ini, marilah kita memandang Maria dan, dengan hati yang penuh syukur, marilah kita juga memikirkan dan memandang para ibu, untuk belajar bahwa cinta yang terutama dipupuk dalam keheningan, yang tahu caranya memberi ruang bagi orang lain, menghormati martabatnya, memberikan kebebasan untuk mengungkapkan, menolak segala bentuk kepemilikan, penindasan dan kekerasan. Ada begitu banyak kebutuhan akan hal ini saat ini, sangat banyak! Ada begitu banyak kebutuhan akan keheningan untuk saling mendengarkan. Sebagaimana diingatkan dalam Pesan Hari Perdamaian Sedunia hari ini, “Kebebasan dan hidup berdampingan secara damai terancam ketika manusia menyerah pada godaan keegoisan, kepentingan pribadi, keinginan akan keuntungan dan kehausan akan kekuasaan”. Cinta, sebaliknya, berupa rasa hormat, berupa kebaikan: dengan cara ini, cinta meruntuhkan hambatan dan membantu kita menjalani hubungan persaudaraan, membangun masyarakat yang semakin adil, manusiawi, dan penuh kedamaian.

 

Hari ini marilah kita berdoa kepada Maria Bunda Allah, dan Bunda kita, agar di tahun baru ini kita dapat bertumbuh dalam cinta yang lemah lembut, hening dan bijaksana yang menghasilkan kehidupan, serta membuka jalan perdamaian dan rekonsiliasi di dunia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya berterima kasih kepada Presiden Republik Italia atas ungkapan harapan baik yang disampaikannya kepada saya dalam pesan akhir tahunnya; saya menyampaikannya kembali dengan sepenuh hati, memohonkan berkat Tuhan atas pengabdiannya kepada negara.

 

Saya sangat prihatin dengan apa yang terjadi di Nikaragua, di mana para uskup dan para imam telah dirampas kebebasannya. Saya mengungkapkan kepada mereka, kepada keluarga mereka dan kepada seluruh Gereja di negara ini, kedekatan saya dalam doa. Saya juga mengajak kamu semua yang hadir di sini, dan seluruh umat Allah, untuk berdoa dengan tekun; sementara itu saya berharap kita selalu mencari jalan dialog untuk mengatasi kesulitan. Marilah hari ini kita mendoakan Nikaragua.

 

Secara khusus saya menyapamu, umat Roma dan para peziarah terkasih yang hari ini berada di Lapangan Santo Petrus. Saya menyapa para peserta demonstrasi “Perdamaian di seluruh negeri”, yang diselenggarakan oleh Komunitas Sant’Egidio, juga di kota-kota lain di seluruh dunia, serta Gerakan Aksi Antikekerasan Eropa. Dan dengan penuh syukur saya mengingat prakarsa-prakarsa doa dan komitmen terhadap perdamaian yang tak terhitung jumlahnya yang terjadi pada hari ini di semua benua, yang dikelola oleh komunitas-komunitas gerejawi; saya menyebutkan khususnya yang terjadi di tingkat nasional kemarin malam di Gorizia.

 

Dan tolong, semoga kita tidak melupakan Ukraina, Palestina, dan Israel, yang sedang berperang. Marilah kita berdoa untuk perdamaian, bersama-sama.


Saya menyapa paduan suara kaum muda Polandia dan Ukraina, yang telah membawa pesan perdamaian ke tempat suci Fransiskan di Tuscany, Umbria dan Lazio; serta para mahasiswa “Manhattan College”, New York, kelompok Fraterna Domus serta umat La Valletta Brianza dan umat Casatenovo.


Semoga Perawan Maria, Bunda Allah yang kudus, dengan perantaraan keibuannya, mendukung niat dan komitmen untuk menjadi pembawa damai setiap hari, setiap hari di Tahun Baru juga, setiap hari, pembawa damai. Membawa damai. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Januari 2024)

KHOTBAH PAUS FRANSISKUS DALAM IBADAT VESPER PERTAMA HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH DAN TE DEUM UCAPAN SYUKUR DALAM TAHUN YANG AKAN SEGERA BERLALU 31 Desember 2023 : SYUKUR DAN HARAPAN

Iman memungkinkan kita untuk menjalani saat ini berbeda dari mentalitas duniawi. Iman kepada Yesus Kristus, Tuhan yang menjelma, lahir dari Perawan Maria, memberikan cara baru dalam menjalani waktu dan kehidupan. Saya akan merangkumnya dalam dua kata : syukur dan harapan.

 

Seseorang mungkin mengatakan, “Tetapi bukankah bersukur dan berharap dilakukan semua orang pada malam terakhir tahun ini? Semua orang bersyukur, semua orang berharap, orang beriman maupun yang tidak beriman”. Mungkin tampaknya demikian, dan mungkin memang demikian! Namun pada kenyataannya, rasa syukur duniawi, harapan duniawi terlihat jelas; keduanya tidak memiliki dimensi yang hakiki yaitu hubungan dengan Yang Ilahi dan dengan orang lain, dengan Allah dan dengan saudara-saudari mereka. Mereka berfokus pada diri mereka sendiri, pada kepentingan mereka, sehingga mereka kehabisan napas, tidak bisa melampaui kepuasan dan optimisme.

 

Sebaliknya, dalam Liturgi ini kamu dapat menghirup suasana yang benar-benar berbeda: suasana pujian, keheranan, rasa syukur. Dan ini terjadi bukan karena keagungan Basilika Santo Petrus, bukan karena lampu dan nyanyiannya - semuanya lebih merupakan dampaknya -, tetapi karena Misteri yang diungkapkan antifon pada Mazmur pembuka berikut: «Pertukaran yang luar biasa! Sang Pencipta mengambil rupa jiwa dan tubuh, lahir dari seorang perawan; […] memberi kita keilahian-Nya". Pertukaran yang luar biasa!

 

Liturgi memungkinkan kita masuk ke dalam perasaan Gereja; dan Gereja, bisa dikatakan, mempelajarinya dari Bunda Perawan.

 

Marilah kita memikirkan rasa syukur apa yang ada di dalam hati Maria ketika ia memandang Yesus yang baru lahir. Sebuah pengalaman yang hanya dapat dimiliki oleh seorang ibu, namun di dalam dirinya, di dalam Bunda Allah, pengalaman tersebut mempunyai kedalaman yang unik dan tak tertandingi. Maria mengetahui, hanya dia dan Yusuf, dari mana Sang Anak berasal. Namun Anak itu ada di sana, bernapas, menangis, perlu makan, dilindungi, dirawat. Misteri memberi ruang pada rasa syukur, yang muncul dalam permenungan karunia, dalam kesia-siaan, sekaligus tercekik dalam kegelisahan memiliki dan menampakkan diri.

 

Gereja belajar bersyukur dari Bunda Perawan. Dan Gereja juga belajar berharap. Kita mungkin berpikir bahwa Allah memilihnya, Maria dari Nazaret, karena Ia melihat harapan-Nya tercermin dalam hati Maria. Ia sendiri telah masuk ke dalam diri Maria melalui Roh-Nya. Maria selalu dipenuhi dengan cinta, penuh rahmat, dan karena alasan ini ia juga dipenuhi dengan iman dan harapan.

 

Sikap Maria dan Gereja bukan optimisme, melainkan sesuatu yang lain: iman kepada Allah yang setia pada janji-janji-Nya (bdk. Luk 1:55); dan keyakinan ini berbentuk harapan dalam dimensi waktu, bisa dikatakan “dalam perjalanan”. Umat kristiani, seperti Maria, adalah peziarah harapan. Dan inilah yang menjadi tema perayaan Yubileum tahun 2025: “Peziarah Harapan”.

 

Saudara dan saudari terkasih, kita dapat bertanya pada diri kita: apakah Roma bersiap menjadi “kota harapan” di Tahun Suci? Kita semua mengetahui bahwa penyelenggaraan Yubileum telah berlangsung selama beberapa waktu. Namun kita memahami dengan baik bahwa, dalam sudut pandang yang kita ambil di sini, yang terpenting bukan tentang hal ini; melainkan kesaksian komunitas gerejawi dan sipil; kesaksian yang, lebih dari sekadar peristiwa, berupa gaya hidup, kualitas etika dan spiritual dari hidup berdampingan. Maka pertanyaannya bisa dirumuskan seperti ini: apakah kita masing-masing bekerja di wilayah kita masing-masing, sehingga kota ini menjadi tanda harapan bagi mereka yang tinggal di sana dan bagi mereka yang mengunjunginya?

 

Sebuah contoh. Memasuki Lapangan Santo Petrus dan melihat, dalam pelukan barisan tiang, orang-orang dari setiap bangsa, setiap budaya dan agama bergerak dengan bebas dan tenteram, merupakan sebuah pengalaman yang menanamkan harapan; Namun hal ini penting untuk dibuktikan dengan sambutan yang baik selama kunjungan ke Basilika Santo Petrus, serta dalam pelayanan informasi. Contoh lain: pesona pusat bersejarah Roma bersifat abadi dan universal; tetapi orang lanjut usia atau penyandang disabilitas motorik juga harus bisa menikmatinya; dan "keindahan luar biasa" tersebut harus sesuai dengan kesopanan sederhana dan fungsi normal di tempat dan situasi kehidupan biasa sehari-hari. Karena kota yang semakin layak huni bagi warganya juga semakin ramah bagi semua orang.

 

Saudara-saudari terkasih, peziarahan, apalagi yang menuntut, memerlukan persiapan yang matang. Inilah sebabnya tahun depan, yang mendahului tahun Yubileum, didedikasikan untuk doa. Setahun penuh didedikasikan untuk doa. Dan guru terbaik apa lagi yang bisa kita miliki selain Bunda Suci kita? Marilah kita menempatkan diri kita di sekolahnya: marilah kita belajar darinya untuk menjalani setiap hari, setiap saat, setiap pekerjaan dengan pandangan batin tertuju kepada Yesus, suka dan duka, kepuasan dan masalah. Semua di hadirat dan dengan rahmat Yesus, Tuhan. Semua dengan rasa syukur dan harapan.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Januari 2024)