Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 14 Januari 2024 : MENCARI, TINGGAL DAN MEWARTAKAN

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!


Bacaan Injil hari ini menyajikan perjumpaan Yesus dengan murid-murid pertama (bdk. Yoh 1:35-42). Adegan ini mengajak kita untuk mengingat perjumpaan pertama kita dengan Yesus. Kita masing-masing pernah mengalami perjumpaan pertama dengan Yesus, saat kanak-kanak, saat remaja, saat orang muda, saat dewasa… Kapan aku pertama kali berjumpa Yesus? Cobalah untuk sedikit mengingat hal ini. Dan setelah pemikiran ini, kenangan ini, memperbaharui sukacita mengikuti Dia dan bertanya pada diri kita – mengikut Yesus berarti menjadi murid Yesus – apa artinya menjadi murid Yesus? Menurut Bacaan Injil hari ini kita dapat mengambil tiga kata: mencari Yesus, tinggal bersama Yesus, dan mewartakan Yesus. Mencari, tinggal, mewartakan.

 

Pertama-tama, mencari. Dua murid, berkat kesaksian Yohanes Pembaptis, mulai mengikut Yesus; Ia “melihat bahwa mereka mengikuti Dia lalu berkata kepada mereka, ‘Apa yang kamu cari?’” (ayat 38). Kata-kata pertama yang disampaikan Yesus kepada mereka: pertama-tama, Ia mengajak mereka untuk melihat ke dalam, bertanya pada diri mereka tentang keinginan yang ada di dalam hati mereka. “Apa yang kamu cari?”. Tuhan tidak ingin merekrut para pengikut agama baru, Ia tidak ingin mendapatkan para pengikut yang dangkal; Tuhan menginginkan orang-orang yang mempertanyakan diri mereka dan membiarkan diri mereka tertantang oleh Sabda-Nya. Oleh karena itu, untuk menjadi murid Yesus, pertama-tama kita perlu mencari Dia, kita perlu mencari Dia, kemudian kita harus memiliki hati yang terbuka dan menyelidiki, bukan hati yang sarat atau berpuas diri.

 

Apa yang dicari murid-murid pertama melalui kata kerja kedua: tinggal? Mereka tidak mencari berita atau informasi tentang Allah, atau tanda-tanda atau mukjizat, namun mereka ingin bertemu Yesus, bertemu Mesias, berbicara dengan-Nya, tinggal bersama-Nya, mendengarkan-Nya. Apa pertanyaan pertama yang mereka ajukan? "Di manakah Engkau tinggal?" (ayat 38). Dan Kristus mengundang mereka untuk tinggal bersama-Nya: “Marilah dan kamu akan melihatnya” (ayat 39). Tinggal bersama-Nya, tetap bersama-Nya: inilah hal yang paling penting bagi murid Tuhan. Singkatnya, iman bukanlah sebuah teori, bukan; iman adalah sebuah perjumpaan – iman adalah sebuah perjumpaan. Iman akan melihat di mana Tuhan tinggal, dan tinggal bersama-Nya. Berjumpa Tuhan dan tinggal bersama-Nya.

 

Mencari, tinggal, dan akhirnya, mewartakan. Para murid mencari Yesus, lalu mereka pergi bersama-Nya dan tinggal sepanjang malam bersama-Nya. Dan sekarang, mewartakan. Kemudian, mereka kembali dan mewartakan. Mencari, tinggal, mewartakan. Apakah aku mencari Yesus? Apakah aku tinggal bersama Yesus? Apakah aku mempunyai keberanian untuk mewartakan Yesus? Perjumpaan pertama kedua murid dengan Yesus merupakan pengalaman yang begitu berkesan sehingga mereka selalu ingat saat itu: “kira-kira pukul empat” (ayat 39). Hal ini memungkinkan kita melihat kekuatan perjumpaan itu. Dan hati mereka sangat penuh sukacita sehingga mereka langsung merasakan kebutuhan untuk menyampaikan karunia yang telah mereka terima. Memang salah seorang dari mereka, Andreas, bergegas membagikannya kepada saudaranya.

 

Saudara-saudari, marilah hari ini kita juga mengingat perjumpaan pertama kita dengan Tuhan. Kita masing-masing pernah mengalami perjumpaan pertama, baik di dalam maupun di luar keluarga … Kapan aku berjumpa Tuhan? Kapan Tuhan menjamah hatiku? Dan marilah kita bertanya pada diri kita: apakah kita masih menjadi murid, terpikat pada Tuhan, apakah kita mencari Tuhan, ataukah kita menetap pada iman yang terbentuk dari kebiasaan? Apakah kita tinggal bersama-Nya dalam doa, tahukah kita bagaimana tinggal dalam keheningan bersama-Nya? Tahukah aku bagaimana tinggal dalam doa bersama Tuhan, tinggal dalam keheningan bersama-Nya? Lalu, apakah kita merasakan keinginan untuk berbagi, mewartakan indahnya perjumpaan dengan Tuhan?

 

Semoga Santa Maria, murid pertama Yesus, memberi kita keinginan untuk mencari Dia, keinginan untuk tinggal bersama Dia, dan keinginan untuk mewartakan Dia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan pelbagai belahan dunia. Secara khusus saya menyapa para anggota Hermandad Sacramental de Nuestra Señora de los Remedios dari Villarrasa, Spanyol.

 

Kita tidak boleh lupa untuk mendoakan para korban bencana tanah longsor di Kolombia yang sudah memakan banyak korban.

 

Dan jangan lupakan mereka yang menderita akibat kekejaman perang di pelbagai belahan dunia, terutama di Ukraina, Palestina, dan Israel. Di awal tahun, kita saling bertukar harapan akan perdamaian, namun senjata terus membunuh dan menghancurkan. Marilah kita berdoa agar mereka yang berkuasa atas berbagai pertikaian ini merenungkan fakta bahwa perang bukanlah cara untuk menyelesaikan berbagai pertikaian tersebut, karena perang akan menabur kematian di kalangan warga sipil dan menghancurkan kota-kota serta infrastruktur. Dengan kata lain, perang saat ini merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Janganlah kita melupakan hal ini: perang itu sendiri merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Masyarakat membutuhkan perdamaian! Dunia membutuhkan perdamaian! Saya mendengar, beberapa menit yang lalu, dalam program “A Sua Immagine”, Pastor Faltas, vikaris Pamong Tanah Suci di Yerusalem: ia berbicara tentang pendidikan untuk perdamaian. Kita harus mendidik untuk perdamaian. Kita dapat melihat bahwa kita – umat manusia secara keseluruhan – belum cukup terdidik untuk menghentikan semua perang. Marilah kita selalu berdoa memohon rahmat ini: mendidik untuk perdamaian.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 14 Januari 2024)

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA XXXII 11 Februari 2024

“Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja”.


Menyembuhkan Orang Sakit dengan Menyembuhkan Hubungan

 

“Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja” (bdk. Kej 2:18). Sejak awal, Allah, Sang Kasih, menciptakan kita untuk bersekutu dan menganugerahi kita sejak lahir kemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Kehidupan kita, yang tercermin dalam rupa Allah Tritunggal, dimaksudkan untuk mencapai penggenapan melalui jaringan hubungan, persahabatan dan cinta, baik yang diberikan maupun diterima. Kita diciptakan untuk bersama, bukan sendirian. Justru karena rancangan persekutuan ini berakar kuat di dalam hati manusia, kita melihat pengalaman ditinggalkan dan sendirian sebagai sesuatu yang menakutkan, menyakitkan, dan bahkan tidak manusiawi. Hal ini terutama terjadi pada saat kerentanan, ketidakpastian dan ketidakamanan, yang seringkali disebabkan oleh timbulnya penyakit berat.

 

Berkaitan dengan hal ini, saya memikirkan semua orang yang merasa sangat sendirian selama pandemi Covid-19: bukan saja para pasien yang tidak dapat menerima pengunjung, tetapi juga banyak perawat, dokter, dan tenaga pendukung yang kewalahan bekerja dan terkurung di ruang isolasi. Tentu saja, kita tidak bisa tidak mengingat semua orang yang harus menghadapi ajal mereka sendirian, meski dibantu oleh petugas kesehatan, namun jauh dari keluarga.

 

Saya juga ikut merasakan kepedihan, penderitaan dan keterasingan yang dirasakan oleh orang-orang yang, karena perang dan dampak tragisnya, tidak mendapat dukungan dan bantuan. Perang adalah penyakit sosial yang paling mengerikan dan menimbulkan korban paling besar pada kelompok yang paling rentan.

 

Pada saat yang sama, perlu dikatakan bahwa bahkan di negara-negara yang menikmati perdamaian dan sumber daya yang lebih besar, usia tua dan penyakit sering kali dialami dalam kesendirian dan, kadang-kadang, bahkan ditinggalkan. Kenyataan suram ini terutama merupakan dampak dari budaya individualisme yang menjunjung tinggi produktivitas dengan segala cara, memupuk mitos efisiensi, dan terbukti acuh tak acuh, bahkan tidak berperasaan, ketika individu tidak lagi memiliki kekuatan yang dibutuhkan untuk mengimbanginya. Kemudian terjadi budaya mencampakkan, di mana “pribadi manusia tidak lagi dirasa sebagai nilai utama yang perlu dihormati dan dilindungi, terutama jika mereka miskin atau difabel, jika mereka ‘belum berguna’ – seperti mereka yang belum lahir – atau ‘tidak lagi berguna’ –seperti orang lansia” (Fratelli Tutti, 18). Sayangnya, cara berpikir seperti ini juga memandu keputusan politik tertentu yang tidak berfokus pada martabat manusia dan kebutuhannya, serta tidak selalu mendukung strategi dan sumber daya yang diperlukan untuk memastikan bahwa setiap manusia menikmati hak dasar atas kesehatan dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Pengabaian kelompok rentan dan isolasi terhadap mereka juga didukung oleh berkurangnya pelayanan kesehatan hanya menjadi sekadar penyediaan pelayanan, tanpa disertai dengan “perjanjian terapeutik” antara dokter, pasien dan anggota keluarga.

 

Kita sebaiknya kembali mendengarkan kata-kata dalam Kitab Suci, ”Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja!” Allah menyampaikan kata-kata tersebut pada awal penciptaan dan dengan demikian mengungkapkan kepada kita makna terdalam dari rancangan-Nya bagi umat manusia, namun pada saat yang sama, luka dosa yang mematikan, yang menjalar dengan menimbulkan kecurigaan, perpecahan, perpecahan dan mengakibatkan keterasingan. Dosa menyerang manusia dan seluruh hubungan mereka: dengan Allah, dengan diri mereka sendiri, dengan orang lain, dengan ciptaan. Keterasingan seperti ini menyebabkan kita kehilangan makna hidup kita; juga meniadakan sukacita cinta dan membuat kita mengalami rasa ketersendirian yang menyesakkan di segenap ranah penting kehidupan.

Saudara-saudari, bentuk perawatan pertama yang diperlukan dalam penyakit apa pun adalah kedekatan yang penuh kasih sayang. Oleh karena itu, merawat orang sakit berarti merawat hubungan mereka, seluruh hubungan: dengan Allh, dengan orang lain – anggota keluarga, teman, petugas kesehatan –, dengan ciptaan, dan dengan diri mereka sendiri. Bisakah hal ini dilakukan? Ya, bisa dilakukan dan kita semua dipanggil untuk memastikannya terjadi. Marilah kita melihat sosok orang Samaria yang baik hati (bdk. Luk 10:25-37), melihat kemampuannya untuk memperlambat dan mendekati orang lain, melihat ia merawat luka-luka saudaranya yang sedang menderita dengan kasih lembut.

 

Marilah kita ingat kebenaran utama dalam hidup ini: kita lahir ke dunia ini karena seseorang menyambut kita; kita diciptakan menuju cinta; dan kita dipanggil menuju persekutuan dan persaudaraan. Aspek kehidupan kita inilah yang menopang kita, terutama pada saat sakit dan rentan. Ini juga merupakan terapi pertama yang harus kita terapkan untuk menyembuhkan penyakit masyarakat di tempat tinggal kita.

 

Kepada kamu yang sedang mengalami penyakit, baik sementara maupun kronis, saya ingin mengatakan hal ini: Jangan malu dengan kerinduanmu akan kedekatan dan kelembutan! Jangan menyembunyikannya, dan jangan pernah menganggap dirimu menjadi beban orang lain. Kondisi orang sakit mendesak kita semua untuk melangkah mundur dari kesibukan hidup kita demi menemukan kembali diri kita.

 

Pada masa perubahan besar ini, kita umat Kristiani khususnya dipanggil untuk mengadopsi pandangan Yesus yang penuh belas kasih. Marilah kita peduli terhadap mereka yang menderita dan sendirian, mungkin terpinggirkan dan disingkirkan. Dengan saling mengasihi yang dilimpahkan Kristus Tuhan kepada kita dalam doa, khususnya dalam Ekaristi, marilah kita merawat luka kesendirian dan keterasingan. Dengan cara ini, kita dapat bekerja sama dalam memerangi budaya individualisme, ketidakpedulian dan pencampakkan, serta memungkinkan tumbuhnya budaya kelembutan dan kasih sayang.

 

Orang sakit, rentan dan miskin adalah jantung Gereja; mereka juga harus menjadi pusat perhatian kemanusiaan dan pastoral kita. Semoga kita tidak pernah melupakan hal ini! Dan marilah kita menyerahkan diri kita kepada Santa Maria, Kesehatan Orang Sakit, agar ia sudi menjadi perantara kita dan membantu kita menjadi penjalin kedekatan dan hubungan persaudaraan.

 

Roma, Santo Yohanes Lateran, 10 Januari 2024

 

FRANSISKUS
_____

(dialihbahasakan oleh Peter Suriadi - Bogor, 13 Januari 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 10 Januari 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG KEBURUKAN DAN KEBAJIKAN (BAGIAN 3 : PERJUANGAN ROHANI) : KESERAKAHAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam perjalanan katekese kita, dalam jalan katekese yang kita lakukan, tentang keburukan dan kebajikan, hari ini kita akan melihat keburukan keserakahan. Keserakahan.

 

Apa yang dikatakan Injil kepada kita tentang hal ini? Marilah kita memandang Yesus. Mukjizat-Nya yang pertama, pada pesta perkawinan di Kana, mengungkapkan simpati-Nya terhadap kegembiraan manusia: Ia berkepentingan agar pesta itu berakhir dengan baik dan memberikan kepada kedua mempelai anggur yang sangat baik dalam jumlah besar. Dalam seluruh pelayanan-Nya, Yesus tampil sebagai seorang nabi yang sangat berbeda dengan Yohanes Pembaptis: meskipun Yohanes dikenang karena asketismenya – ia memakan apa yang ia temukan di padang gurun – Yesus justru adalah Mesias yang sering kita lihat di meja makan. Perilaku-Nya menyebabkan skandal di beberapa kalangan, karena Ia tidak hanya berbelas kasihan terhadap orang-orang berdosa, tetapi Ia bahkan makan bersama mereka; dan sikap ini menunjukkan kesiapan-Nya untuk bersekutu dan dekat dengan semua orang.

 

Tetapi masih ada yang lain. Meskipun sikap Yesus terhadap ajaran-ajaran Yahudi menunjukkan Ia taat sepenuhnya terhadap Hukum Taurat, namun Ia menunjukkan diri-Nya bersimpati terhadap murid-murid-Nya: ketika mereka didapati berkekurangan, karena mereka memetik bulir gandum akibat kelaparan, Ia membenarkan mereka, mengingatkan bahwa bahkan Raja Daud dan rekan-rekannya mengambil roti suci (bdk. Mrk 2:23-26). Dan Yesus menegaskan prinsip baru: tamu perkawinan tidak boleh berpuasa saat mempelai bersama mereka. Yesus ingin kita bersukacita bersama-Nya – Ia bagaikan mempelai Gereja; namun Ia juga ingin kita ikut serta dalam penderitaan-Nya, yang juga merupakan penderitaan orang-orang kecil dan miskin. Yesus menjagat.

 

Aspek penting lainnya. Yesus meniadakan perbedaan antara makanan yang najis dan tidak najis, yang merupakan pembedaan yang dibuat oleh hukum Yahudi. Inilah sebabnya mengapa agama Kristen tidak mengenal makanan najis. Dan mengenai hal ini, Yesus mengatakan dengan jelas bahwa apa yang membuat sesuatu menjadi baik atau buruk, katakanlah demikian, buruknya makanan, bukanlah makanan itu sendiri, melainkan hubungan kita dengan makanan itu. Dan kita melihat hal ini, ketika seseorang mempunyai hubungan yang tidak teratur dengan makanan; kita lihat cara mereka makan, mereka makan dengan tergesa-gesa, seolah-olah ingin kenyang tetapi tidak pernah merasa kenyang. Mereka tidak memiliki hubungan yang baik dengan makanan, mereka menjadi hamba makanan. Dan Yesus menghargai makanan dan makan, juga dalam masyarakat, di mana banyak ketidakseimbangan dan banyak patologi muncul dengan sendirinya. Orang makan terlalu banyak, atau terlalu sedikit. Seringkali orang makan dalam kesendirian. Gangguan makan – anoreksia, bulimia, obesitas – sedang menyebar. Dan kedokteran serta psikologi mencoba mengatasi hubungan buruk kita dengan makanan. Hubungan yang buruk dengan makanan menyebabkan semua penyakit ini.

 

Penyakit, yang seringkali sangat membuat menderita, sebagian besar terkait dengan penderitaan jiwa dan raga. Ada hubungan antara ketidakseimbangan psikologis dan cara makan. Cara kita makan adalah perwujudan dari sesuatu yang ada di dalam diri kita: kecenderungan terhadap keseimbangan atau ketidaksopanan; kemampuan untuk bersyukur atau anggapan arogan terhadap kecukupan diri; empati dari mereka yang berbagi makanan dengan yang membutuhkan, atau keegoisan dari mereka yang menimbun segalanya untuk dirinya sendiri. Pertanyaan ini sangat penting. Katakan padaku bagaimana kamu makan, dan aku akan memberitahumu jiwa seperti apa yang kamu miliki. Melalui cara kita makan, kita memperlihatkan jati diri kita, kebiasaan kita, sikap psikologis kita.

 

Para Bapa zaman dahulu memberi nama “gastrimargia” pada sifat buruk keserakahan – gastrimargi, sebuah istilah yang dapat diterjemahkan sebagai “kebodohan perut”. Kerakusan adalah “kebodohan perut”. Ada juga pepatah yang mengatakan bahwa kita harus makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan – “kebodohan perut”. Sifat buruk yang melekat pada salah satu kebutuhan vital kita, seperti makan. Marilah kita mewaspadai hal ini.

Jika kita menafsirkannya dari sudut pandang sosial, keserahan mungkin merupakan sifat buruk paling berbahaya yang membunuh planet ini. Karena dosa orang-orang yang menyerah di hadapan sepotong kue, jika dipertimbangkan, tidak menyebabkan kerusakan besar, namun keserakahan kita dalam menjarah harta benda planet ini selama beberapa abad kini membahayakan masa depan semua orang. Kita telah merampas segala sesuatunya, untuk menjadi tuan atas segala sesuatu, padahal segala sesuatu telah diserahkan kepada kita, bukan untuk kita eksploitasi. Maka di sinilah dosa besarnya, kemarahan perut adalah dosa besar: kita telah mengabaikan nama manusia, dengan menganggap orang lain “konsumen”. Hari ini kita berbicara seperti ini dalam kehidupan sosial, para konsumen. Kita bahkan tidak menyadari kapan seseorang mulai memberi kita nama ini. Kita diciptakan untuk menjadi manusia “Ekaristi”, mampu mengucap syukur, bijaksana dalam memanfaatkan tanah, dan malah bahayanya kita menjadi pemangsa; dan sekarang kita menyadari bentuk “keserakahan” ini telah menimbulkan banyak kerugian bagi dunia. Marilah kita memohon kepada Allah untuk membantu kita dalam perjalanan menuju ketenangan hati, sehingga berbagai bentuk keserakahan tidak mengambil alih hidup kita. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya mereka yang datang dari Korea dan Amerika Serikat. Saya juga menyapa para imam Institut Pendidikan Teologi Berkelanjutan Kolose Kepausan Amerika Utara. Atas kamu semua, dan atas keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: dalam katekese lanjutan kita mengenai keburukan dan kebajikan, kita sekarang membahas dosa keserakahan. Sebagai tamu pada pesta perkawinan di Kana, Yesus mengajarkan kebaikan makanan dan minuman, serta nikmatnya kebersamaan di meja makan. Menolak pembedaan ritual antara makanan tidak najis dan najis, Tuhan mengalihkan perhatian kita pada hubungan pribadi kita dengan konsumsi makanan. Dalam masyarakat yang mengalami gangguan pola makan dan sering kali membuang-buang makanan dalam jumlah besar meskipun banyak orang di dunia ini mengalami kelaparan, kebiasaan makan kita harus moderat dan bertanggung jawab secara sosial. Semoga doa-doa yang kita panjatkan sebagai rasa syukur atas karunia Allah berupa makanan sehari-hari, mengilhami kita untuk sadar akan tanggung jawab kita terhadap orang lain dan berbudi luhur dalam menikmati hal-hal baik di bumi ini.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Januari 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 7 Januari 2024 : PEMBAPTISAN MENJADIKAN KITA ANAK-ANAK ALLAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita merayakan Pembaptisan Tuhan (bdk. Mrk 1:7-11). Pembaptisan tersebut terjadi di sungai Yordan, di mana Yohanes – karena alasan ini dikenal sebagai “Pembaptis” – melakukan upacara penyucian, yang menyatakan komitmen untuk meninggalkan dosa dan bertobat. Orang-orang pergi untuk dibaptis dengan rendah hati, tulus, dan sebagaimana dikatakan dalam Liturgi, “tanpa alas kaki dan tanpa jiwa”, dan Yesus pergi ke sana juga, meresmikan pelayanan-Nya: dengan demikian Ia menunjukkan bahwa Ia ingin dekat dengan orang-orang berdosa, datang demi mereka, demi kita, demi semua orang berdosa!

 

Dan beberapa hal luar biasa terjadi pada hari itu juga. Yohanes Pembaptis mengatakan sesuatu yang tidak lazim, yaitu mengakui Yesus di muka umum, yang tampaknya setara dengan semua orang, sebagai Pribadi yang “lebih berkuasa” (ayat.7) daripada dirinya, yang “akan membaptis kamu dengan Roh Kudus” (ayat 8). Kemudian langit terkoyak, Roh Kudus turun ke atas Yesus seperti burung merpati (ayat 10) dan suara Bapa menyatakan dari surga, “Engkaulah Putraku yang terkasih; kepada-Mulah Aku berkenan” (ayat 11).

 

Semua ini, meskipun di satu sisi menyatakan kepada kita bahwa Yesus adalah Putra Allah, di sisi lain berbicara kepada kita tentang Pembaptisan kita, yang kemudian menjadikan kita anak-anak Allah, karena Pembaptisan menjadikan kita anak-anak Allah.

 

Pembaptisan: Allah datang ke dalam diri kita, menyucikan, menyembuhkan hati kita, menjadikan kita selamanya anak-anak-Nya, umat-Nya, keluarga-Nya, pewaris surga (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1279). Dan Allah menjadi akrab dengan kita dan Ia kembali tidak meninggalkan kita. Inilah sebabnya mengapa penting untuk mengingat hari Pembaptisan kita, dan juga mengetahui tanggalnya. Saya bertanya kepada kamu semua: kamu masing-masing, berpikir: “Apakah aku ingat tanggal Pembaptisanku?”. Kalau tidak ingat, pulanglah ke rumah tanyakanlah, agar tidak terlupakan lagi, karena pembaptisan adalah ulang tahun baru, karena dengan Pembaptisan kamu dilahirkan ke dalam kehidupan rahmat. Mari kita bersyukur kepada Tuhan atas Pembaptisan tersebut. Marilah kita juga bersyukur kepada-Nya atas kedua orang tua yang membawa kita ke tempat pembaptisan, atas para pelayan Sakramen, atas bapa baptis, atas ibu baptis, atas komunitas di mana kita menerima Dia. Rayakanlah Pembaptisanmu. Pembaptisan adalah ulang tahun baru.

 

Dan kita dapat bertanya pada diri kita: sadarkah aku akan karunia luar biasa yang kubawa dalam diriku melalui Pembaptisan? Apakah aku mengakui, dalam hidupku, cahaya kehadiran Allah, yang melihat diriku sebagai putra-Nya yang terkasih, putri-Nya yang terkasih? Dan sekarang, untuk mengenang Pembaptisan kita, marilah kita menyambut kehadiran Allah di dalam diri kita. Kita dapat melakukannya dengan tanda salib, yang menelusuri dalam diri kita kenangan akan rahmat Allah, yang mengasihi kita dan ingin tinggal bersama kita. Tanda salib itu mengingatkan kita akan hal ini. Marilah kita melakukannya bersama-sama: Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.

 

Dan jangan melupakan tanggal Pembaptisanmu, yaitu ulang tahun.

 

Semoga Maria, bait Roh Kudus, membantu kita merayakan dan menyambut keajaiban yang diperbuat Tuhan di dalam diri kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Pada Pesta Pembaptisan Tuhan hari ini, saya membaptis beberapa bayi yang baru lahir. Marilah kita mendoakan mereka dan keluarga mereka, serta memanjatkan doa ini kepada semua anak yang akan menerima pembaptisan suci pada hari-hari ini.

 

Saat ini komunitas gerejawi di Timur yang mengikuti kalender Yulian sedang merayakan Kelahiran Kudus. Dalam semangat persaudaraan yang penuh sukacita, saya berharap kelahiran Tuhan Yesus memenuhi diri mereka dengan terang, amal kasih dan kedamaian.

 

Saya mengundangmu untuk ikut mendoakan pembebasan tanpa syarat bagi semua orang yang saat ini diculik di Kolombia. Tindakan ini, yang merupakan kewajiban di hadapan Allah, juga akan mendorong iklim rekonsiliasi dan perdamaian di negara tersebut.

 

Saya sangat dekat dengan masyarakat Republik Demokratik Kongo, yang dilanda banjir dalam beberapa hari terakhir. Dan mohon, marilah kita terus mendoakan perdamaian : perdamaian di Ukraina, Palestina, Israel dan seluruh dunia.

 

Dan saya menyapa kamu semua, para peziarah dari Italia dan berbagai belahan dunia, khususnya kaum muda Paroki Santissimo Crocifisso, Roma – kaum kuning ada di sana! – kelompok Pramuka Milano 35 dan lembaga “Totus tuus” dari Potenza.

 

Saya mengucapkan selamat berpesta kepada kamu semua. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Januari 2024)