Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 7 Februari 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG KEBURUKAN DAN KEBAJIKAN (BAGIAN 7 : PERJUANGAN ROHANI) : KESEDIHAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam rangkaian katekese kita tentang keburukan dan kebajikan, hari ini kita akan melihat keburukan yang agak jelek, kesedihan, yang dipahami sebagai keputusasaan jiwa, penderitaan terus-menerus yang menghalangi manusia untuk merasakan kegembiraan atas keberadaannya.

 

Pertama dan terutama, harus dicatat bahwa, sehubungan dengan kesedihan, para Bapa membuat pembedaan penting: yaitu ini. Sesungguhnys, ada kesedihan yang pantas dalam kehidupan Kristiani, dan yang berkat rahmat Allah dapat diubah menjadi kegembiraan: tentu saja, hal ini tidak boleh ditolak dan merupakan bagian dari jalan pertobatan. Namun ada jenis kesedihan kedua yang menyusup ke dalam jiwa dan meruntuhkannya dalam keadaan putus asa: kesedihan jenis kedua inilah yang harus dilawan dengan tegas dan sekuat tenaga, karena berasal dari si jahat. Pembedaan ini juga ditemukan dalam tulisan Santo Paulus kepada jemaat di Korintus: “Kesedihan menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan tidak akan disesalkan, tetapi kesedihan yang dari dunia ini menghasilkan kematian” (2Kor. 7:10).

 

Oleh karena itu, ada kesedihan yang bersahabat, yang menuntun kita menuju keselamatan. Pikirkanlah anak yang hilang dalam perumpamaan: ketika dirinya mengalami kemerosotan terdalam, ia merasakan kepahitan yang luar biasa, dan hal ini mendorongnya untuk sadar dan memutuskan untuk pulang ke rumah bapanya (bdk. Luk 15:11-20 ). Meratapi dosa-dosa kita, mengingat keterpurukan kita dari keadaan rahmat, menangisi kehilangan kemurnian kita yang diidamkan Allah berkenaan diri kita merupakan rahmat.

 

Namun ada kesedihan kedua, yang justru merupakan penyakit jiwa. Kesedihan tersebut muncul dalam hati manusia ketika sebuah keinginan atau harapan sirna. Di sini kita bisa merujuk pada kisah dua murid Emaus, dalam Injil Lukas. Kedua murid itu meninggalkan Yerusalem dengan hati kecewa, dan mereka bercerita isi hati mereka kepada orang asing yang berjalan bersama mereka: “Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel” (Luk 24:21). Dinamika kesedihan terkait pengalaman kehilangan, pengalaman kehilangan. Dalam hati manusia, muncul harapan-harapan yang terkadang sirna. Bisa berupa keinginan untuk memiliki sesuatu yang tidak dapat kita peroleh; tetapi bisa juga merupakan sesuatu yang penting, seperti kehilangan perasaan. Ketika hal ini terjadi, hati manusia seolah-olah jatuh dari tebing curam, dan perasaan yang ia rasakan adalah keputusasaan, pelemahan semangat, depresi, dan kesedihan. Kita semua mengalami pencobaan yang menimbulkan kesedihan dalam diri kita, karena hidup membuat kita membayangkan mimpi-mimpi yang kemudian hancur. Dalam situasi ini, beberapa orang, setelah masa-masa penuh gejolak, hanya mengandalkan harapan; namun ada juga yang berkubang dalam kesedihan, membiarkannya membusuk dalam hati mereka. Apakah kita menikmati hal ini? Lihatlah: kesedihan bagaikan kesenangan dari ketidaksenangan; kesedihan bagaikan mengambil permen pahit, pahit, pahit, tanpa gula, tidak menyenangkan, dan menghisap permen itu. Kesedihan adalah menikmati hal yang tidak menyenangkan.

 

Rahib Evagrius menceritakan bahwa semua sifat buruk bertujuan untuk mendapatkan kesenangan, betapapun fananya, sementara kesedihan menikmati kebalikannya: meninabobokan diri kita ke dalam kesedihan yang tak ada habisnya. Kesedihan tertentu yang berlarut-larut, di mana seseorang terus memperluas kehampaan orang yang sudah tiada, tidak pantas untuk hidup dalam Roh. Kepahitan tertentu, di mana seseorang selalu memiliki tuntutan di benaknya yang membuatnya menyamar sebagai korban, tidak menghasilkan kehidupan yang sehat dalam diri kita, apalagi kehidupan kristiani. Ada sesuatu di masa lalu setiap orang yang perlu disembuhkan. Kesedihan, yang awalnya merupakan perasaan alami, dapat berubah menjadi kondisi pikiran yang jahat.

 

Kesedihan adalah iblis yang licik. Para bapa padang gurun menggambarkannya ibarat cacing hati, yang mengikis dan melubangi inangnya. Ini adalah gambaran yang bagus: membuat kita mengerti. Seekor cacing di dalam hati yang memakan dan melubangi inangnya. Kita harus waspada terhadap kesedihan ini, dan berpikir bahwa Yesus memberi kita sukacita kebangkitan. Tetapi apa yang harus kuperbuat saat aku sedih? Berhenti dan lihatlah: apakah ini kesedihan yang baik? Apakah ini kesedihan yang tidak begitu baik? Dan tanggapilah sesuai dengan sifat kesedihannya. Janganlah lupa bahwa kesedihan bisa menjadi hal yang sangat buruk yang membawa kita kepada pesimisme, yang membawa kita kepada keegoisan yang sulit disembuhkan.

 

Saudara-saudari, kita harus waspada terhadap kesedihan ini dan berpikir bahwa Yesus memberi kita sukacita kebangkitan. Betapapun kehidupan mungkin penuh dengan kontradiksi, kehidupan yang dikalahkan berbagai keinginan, kehidupan yang mungkin dipenuhi mimpi yang tidak terwujud, kehidupan yang mungkin dipenuhi persahabatan yang hilang, berkat kebangkitan Yesus kita dapat percaya bahwa semua orang akan diselamatkan. Yesus bangkit kembali bukan hanya untuk diri-Nya, tetapi juga untuk kita, untuk menebus semua kebahagiaan yang belum terpenuhi dalam hidup kita. Iman menyingkirkan rasa takut, dan kebangkitan Kristus menyingkirkan kesedihan seperti batu dari kubur. Setiap hari umat Kristiani adalah latihan dalam kebangkitan. Georges Bernanos, dalam novelnya yang terkenal Buku Harian Seorang Imam Pedesaan, meminta Pastor Paroki Torcy mengatakan hal ini: “Gereja memiliki sukacita, seluruh sukacita yang disediakan untuk dunia yang menyedihkan ini. Apa yang telah kamu lakukan terhadapnya, kamu telah berlaku menentangnya”. Dan penulis Prancis lainnya, León Bloy, meninggalkan ungkapan indah kepada kita: “Hanya ada satu kesedihan, [...] yaitu tidak menjadi kudus”. Semoga Roh Yesus yang bangkit membantu kita mengatasi kesedihan dengan kekudusan.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Denmark, Malta dan Amerika Serikat. Atas kamu semua, dan atas keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese kita tentang kebajikan dan keburukan, sekarang kita memusatkan perhatian kita pada kesedihan rohani. Santo Paulus berbicara tentang “kesedihan menurut kehendak Allah” dan “kesedihan duniawi” (2Kor. 7:10). Keswedihan pertama mendorong pertobatan, memampukan kita untuk berpegang teguh pada harapan dan, oleh karena itu, menuntun kepada sukacita. Kesedihan kedua berasal dari sirnanya harapan dan kekecewaan, mengikis jiwa dengan keputusasaan dan kesedihan. Tidak seperti kebanyakan sifat buruk yang mencari kesenangan sesaat, kesedihan memanjakan diri dengan berkubang dalam kesedihan, sehingga menghambat pertumbuhan rohani. Sebagai penawar keputusasaan semacam ini, para bapa padang gurun menganjurkan untuk menerima kebangkitan Kristus; karena Yesus yang bangkit menebus seluruh kebahagiaan yang belum terpenuhi dalam hidup kita. Semoga iman menyingkirkan rasa takut dan kebangkitan Kristus menyingkirkan kesedihan seperti batu di depan kubur-Nya.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Februari 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 4 Februari 2024 : TIGA SIKAP ALLAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Bacaan Injil liturgi hari ini menunjukkan kepada kita Yesus sedang bepergian: sungguh, Ia baru saja selesai berkhotbah dan, sekeluarnya dari rumah ibadat, Ia pergi ke rumah Simon Petrus, di sana Ia menyembuhkan ibu mertua Simon; kemudian, menjelang malam, Ia pergi keluar lagi menuju gerbang kota, di sana Ia bertemu banyak orang sakit dan kerasukan setan serta menyembuhkan mereka; keesokan paginya, Ia bangun pagi-pagi benar dan pergi keluar untuk berdoa; dan akhirnya, Ia berangkat lagi melintasi Galilea (bdk. Mrk 1:29-39). Yesus sedang bepergian.

 

Marilah kita melihat gerakan Yesus yang terus-menerus ini, yang memberitahu kita sesuatu yang penting tentang Allah dan, pada saat yang sama, menantang kita dengan beberapa pertanyaan mengenai iman kita.

 

Yesus menghampiri umat manusia yang terluka dan menunjukkan kepada kita wajah Bapa. Bisa jadi di dalam diri kita masih ada gagasan tentang Allah yang jauh dan dingin, yang acuh tak acuh terhadap nasib kita. Sebaliknya, Injil memperlihatkan kepada kita bahwa Yesus, setelah mengajar di rumah ibadat, pergi keluar, agar Sabda yang Ia khotbahkan dapat menjangkau, menyentuh, dan menyembuhkan orang-orang. Dengan melakukan hal ini, Ia menyatakan kepada kita bahwa Allah bukan majikan yang terasing dan berbicara kepada kita dari tempat tinggi; sebaliknya, Ia adalah Bapa yang penuh kasih yang menjadikan diri-Nya dekat dengan kita, yang mengunjungi rumah kita, yang ingin menyelamatkan dan membebaskan, menyembuhkan dari setiap penyakit tubuh dan jiwa. Allah selalu dekat dengan kita. Sikap Allah dapat diungkapkan dalam tiga kata: kedekatan, kasih sayang, dan kelembutan. Allah mendekatkan diri-Nya untuk mendampingi kita, dengan lemah lembut, dan mengampuni kita. Jangan lupakan hal ini: kedekatan, kasih sayang dan kelembutan. Inilah sikap Allah.

 

Perjalanan Yesus yang tak henti-hentinya menantang kita. Kita mungkin bertanya pada diri kita: sudahkah kita menemukan wajah Allah sebagai Bapa yang penuh belas kasihan, atau apakah kita percaya dan mewartakan Allah yang dingin, Allah yang jauh? Apakah iman menggelisahkan perjalanan kita atau malah menjadi penghibur paling intim yang membuat kita tenang? Apakah kita berdoa hanya untuk merasa damai, atau apakah Sabda yang kita dengarkan dan wartakan membuat kita, seperti Yesus, pergi keluar kepada orang lain, untuk menyebarkan penghiburan Allah? Ada baiknya kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini pada diri kita.

 

Marilah kita melihat perjalanan Yesus dan mengingatkan diri kita bahwa tugas rohani kita yang pertama adalah meninggalkan Allah yang kita pikir kita kenali, dan setiap hari berbalik kepada Allah yang dihadirkan Yesus kepada kita dalam Bacaan Injil, yang adalah Bapa cinta dan Bapa kasih sayang. Bapa yang dekat, penuh kasih sayang dan lembut. Dan ketika kita menemukan wajah Bapa yang sebenarnya, iman kita menjadi matang: kita tidak lagi menjadi “umat kristiani sakristi”, atau “umat kristiani di ruang tamu”, namun kita merasa terpanggil untuk menjadi pembawa pengharapan dan penyembuhan Allah.

 

Semoga Santa Maria, perempuan yang sedang bepergian, membantu kita untuk menyatakan diri kita sebagai saksi Tuhan yang dekat, penuh kasih sayang dan lembut.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Tanggal 10 Februari mendatang, di Asia Timur dan berbagai belahan dunia, jutaan keluarga akan merayakan Tahun Baru Imlek. Dengan hangat saya menyapa mereka, dengan harapan agar pesta ini dapat menjadi kesempatan untuk merasakan hubungan kasih sayang dan kepedulian, yang berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang bersetia kawan dan bersaudara, di mana setiap orang diakui dan diterima dalam martabatnya yang tidak dapat diganggu gugat. Seraya saya memohonkan berkat Tuhan bagi semua orang, saya mengajakmu untuk berdoa demi perdamaian, yang sangat dirindukan dunia dan, saat ini, lebih dari sebelumnya, terancam di banyak tempat. Ini bukan tanggung jawab segelintir orang, tetapi tanggung jawab seluruh umat manusia: marilah kita semua bekerja sama untuk membangunnya dengan sikap belas kasih dan keberanian!

 

Dan marilah kita terus mendoakan rakyat yang menderita akibat perang, khususnya di Ukraina, Palestina, dan Israel.

 

Hari ini, di Italia, kita merayakan Hari Kehidupan, dengan tema “Kekuatan kehidupan mengejutkan kita”. Saya bergabung dengan para uskup Italia dalam harapan agar visi ideologis dapat diatasi sehingga dapat menemukan kembali bahwa setiap kehidupan manusia, bahkan kehidupan yang paling ditandai oleh keterbatasan, memiliki nilai yang sangat besar dan mampu memberikan sesuatu kepada orang lain.

 

Saya menyapa kaum muda di banyak negara yang datang untuk memperingati Hari Doa dan Refleksi Menentang Perdagangan Manusia Sedunia, yang akan dirayakan pada tanggal 8 Februari, untuk memperingati Santa Josephine Bakhita, biarawati asal Sudan yang diperbudak saat masih kecil. Saat ini juga, banyak saudara-saudari yang tertipu dengan janji-janji palsu dan kemudian dieksploitasi dan dianiaya. Marilah kita semua bergabung untuk melawan fenomena global perdagangan manusia yang dramatis.

 

Marilah kita juga mendoakan mereka yang tewas dan terluka dalam kebakaran dahsyat yang terjadi di pusat kota Cili.

 

Dan saya menyapa kamu semua yang datang ke Roma, dari Italia dan pelbagai belahan dunia lainnya. Secara khusus saya menyapa para pelaku hidup bakti yang berasal dari lebih enam puluh negara yang ambil bagian dalam pertemuan “Peziarah Harapan di Jalan Menuju Perdamaian”, yang diselenggarakan oleh Dikasteri Institut Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan. Saya menyapa para siswa dari Badajoz, Spanyol, dan siswa dari Sekolah Salesian “Sévigné” di Marseille, serta umat Polandia dari Warsawa dan kota-kota lain; dan kelompok dari San Benedetto del Tronto, Ostra dan Cingoli. Dan saya bisa melihat bendera Jepang di sana! Saya menyapa rakyat Jepang. Dan saya dapat melihat bendera Polandia: Saya menyapa warga Polandia dan kamu semua, serta kaum muda Immacolata juga.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua. Tolong, jangan lupa mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Februari 2024)

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK MASA PRAPASKAH 2024


 PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK MASA PRAPASKAH 2024

 

Melalui Padang Gurun Allah Menuntun Kita Menuju Kebebasan

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Ketika Allah kita menyatakan diri-Nya, pesan-Nya senantiasa berupa kebebasan: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (Kel. 20:2). Inilah kata-kata pertama Sepuluh Perintah Allah yang diberikan kepada Musa di Gunung Sinai. Orang-orang yang mendengarkan kata-kata tersebut cukup akrab dengan keluaran yang dibicarakan Allah: pengalaman perbudakan masih sangat membebani mereka. Di padang gurun, mereka menerima “Dasa Firman” sebagai jalan menuju kebebasan. Kita menyebutnya “perintah”, untuk menekankan kekuatan kasih yang digunakan Allah dalam membentuk umat-Nya. Panggilan menuju kebebasan merupakan sebuah tuntutan. Panggilan tersebut tidak memerlukan jawaban langsung; panggilan tersebut harus dimatangkan sebagai bagian sebuah perjalanan. Sama seperti Israel di padang gurun yang masih bergantung pada Mesir – sering kali merindukan masa lalu dan bersungut-sungut terhadap Tuhan dan Musa – dewasa ini juga, umat Allah dapat bergantung pada perbudakan yang menindas yang seharusnya mereka tinggalkan. Kita menyadari alangkah benarnya hal ini saat kita merasa putus asa, mengembara dalam kehidupan seperti padang gurun dan tidak memiliki tanah perjanjian sebagai tujuan kita. Masa Prapaskah adalah masa rahmat di mana padang gurun sekali lagi dapat menjadi – dalam kata-kata Nabi Hosea – tempat cinta perdana kita (bdk. Hos 2:16-17). Allah membentuk umat-Nya, Ia memampukan kita meninggalkan perbudakan dan mengalami Paskah dengan beralih dari kematian menuju kehidupan. Seumpama mempelai laki-laki, Tuhan sekali lagi menarik kita kepada-Nya, membisikkan kata-kata cinta ke dalam hati kita.

 

Keluaran dari perbudakan menuju kebebasan bukan sebuah perjalanan abstrak. Jika perayaan Prapaskah kita ingin menjadi nyata, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah membuka mata kita terhadap kenyataan. Ketika Tuhan memanggil Musa dari dalam nyala api yang keluar dari semak duri, Ia segera menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan yang melihat dan, terutama, mendengar: “Sungguh Aku telah memperhatikan kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir. Aku telah mendengar teriakan mereka yang disebabkan oleh pengawas kerja paksa mereka. Sesungguhnya Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu, Aku turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” (Kel 3:7-8). Dewasa ini pun, teriakan banyak saudara-saudari kita yang tertindas terdengar sampai ke surga. Marilah kita bertanya pada diri kita: Apakah kita mendengar teriakan itu? Apakah teriakan itu menyusahkan kita? Apakah teriakan itu menggerakkan kita? Terlalu banyak hal yang memisahkan kita satu sama lain, mengingkari persaudaraan yang, sejak awal, mengikat kita satu sama lain.

 

Selama kunjungan saya ke Lampedusa, sebagai cara untuk melawan globalisasi ketidakpedulian, saya mengajukan dua pertanyaan, yang kini semakin mendesak: “Di manakah engkau?” (Kej 3:9) dan “Di manakah saudaramu?” (Kej 4:9). Perjalanan Masa Prapaskah kita akan menjadi nyata jika, dengan mendengarkan sekali lagi kedua pertanyaan tersebut, kita menyadari bahwa bahkan hingga saat ini kita masih berada di bawah kekuasaan Firaun. Sebuah peraturan yang membuat kita letih dan acuh tak acuh. Sebuah model pertumbuhan yang memecah belah dan merampas masa depan kita. Bumi, udara dan air tercemar, begitu pula jiwa kita. Benar adanya, Pembaptisan telah memulai proses pembebasan kita, namun dalam diri kita masih ada kerinduan akan perbudakan yang tak dapat dijelaskan. Semacam ketertarikan terhadap jaminan hal-hal yang akrab dengan kita, hingga merugikan kebebasan kita.

 

Dalam kisah Keluaran, ada rincian penting: Allah memperhatikan, tergerak, dan memberikan kebebasan; Israel tidak meminta hal ini. Firaun meredam mimpi, menghalangi pandangan ke surga, membuat dunia ini tampak, yang di dalamnya martabat manusia diinjak-injak dan ikatan otentik diingkari, tidak akan pernah berubah. Ia mengikat segalanya kepada diri-Nya. Marilah kita bertanya: Apakah aku menginginkan dunia baru? Apakah aku siap meninggalkan kompromiku dengan yang lama? Kesaksian banyak uskup saudara saya serta sejumlah besar orang-orang yang bekerja untuk perdamaian dan keadilan semakin meyakinkan saya bahwa kita perlu memerangi ketiadaan harapan yang menghambat mimpi dan teriakan bisu yang mencapai surga dan menggerakkan hati Allah. “Defisit harapan” ini mirip dengan nostalgia akan perbudakan yang melumpuhkan Israel di padang gurun dan menghambat kemajuan mereka. Keluaran dapat disela: bagaimana lagi kita dapat menjelaskan fakta bahwa umat manusia telah sampai pada ambang persaudaraan universal serta tingkat perkembangan ilmu pengetahuan, teknis, budaya, dan yuridis yang mampu menjamin martabat semua orang, namun tetap meraba-raba dalam kegelapan kesenjangan dan pertikaian.

 

Allah tidak lelah dengan kita. Marilah kita sambut Masa Prapaskah sebagai masa agung yang di dalamnya Ia mengingatkan kita: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (Kel. 20:2). Masa Prapaskah adalah masa pertobatan, masa kebebasan. Yesus sendiri, sebagaimana kita ingat setiap tahun pada Hari Minggu Prapaskah I, dibawa ke padang gurun oleh Roh untuk dicobai dalam kebebasan. Selama empat puluh hari, Ia akan berdiri di hadapan kita dan bersama kita: Sang Putra yang menjelma. Berbeda dengan Firaun, Allah tidak menginginkan budak, melainkan putra dan putri. Padang gurun adalah tempat di mana kebebasan kita bisa matang dalam keputusan pribadi untuk tidak kembali menjadi budak. Dalam Masa Prapaskah, kita menemukan kriteria baru mengenai keadilan dan komunitas yang dengannya kita dapat terus maju dalam jalan yang belum ditempuh.

 

Namun hal ini memerlukan perjuangan, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Keluaran dan pencobaan Yesus di padang gurun. Suara Allah yang berkata, “Engkaulah Putra-Ku yang terkasih” (Mrk 1:11), dan “Jangan ada padamu ilah lain di hadapan-Ku” (Kel 20:3) ditentang oleh musuh dan kebohongannya. Berhala-berhala yang kita dirikan lebih menakutkan dibanding Firaun; kita dapat menganggapnya sebagai suara Allah yang berbicara di dalam diri kita. Menjadi mahakuasa, dihormati oleh semua orang, menguasai orang lain: setiap manusia menyadari alangkah kebohongan itu sangat menggoda. Jalan tersebut sering kita lalui. Kita bisa terikat pada uang, pada rancangan, gagasan atau tujuan tertentu, pada kedudukan kita, pada tradisi, bahkan pada individu tertentu. Bukannya membuat kita bergerak maju, semua itu justru melumpuhkan kita. Alih-alih perjumpaan, semua itu justru menciptakan pertikaian. Namun ada juga kemanusiaan baru, umat yang terdiri dari orang-orang kecil dan rendah hati yang tidak menyerah pada daya tarik kebohongan. Sementara orang-orang yang menyembah berhala menjadi seperti orang bisu, buta, tuli dan tidak bisa bergerak (bdk. Mzm 114:4), orang-orang yang miskin di hadapan Allah terbuka dan siap sedia: kekuatan bisu kebaikan menyembuhkan dan menopang dunia.

 

Saatnya untuk berbuat, dan dalam Masa Prapaskah, berbuat juga berarti berhenti sejenak. Berhenti sejenak dalam doa, untuk menerima sabda Allah, berhenti sejenak seperti orang Samaria di hadapan saudara-saudari yang terluka. Cinta kepada Allah dan cinta terhadap sesama adalah satu cinta. Tidak memiliki allah lain berarti berhenti sejenak di hadirat Allah di samping tubuh sesama kita. Oleh karena alasan tersebut, doa, derma, dan puasa bukan tiga perbuatan yang tidak saling berhubungan, melainkan satu gerakan keterbukaan dan pengosongan diri, yang di dalamnya kita menyingkirkan berhala-berhala yang memberatkan kita, keterikatan yang memenjarakan kita. Kemudian hati yang berhenti berkembang dan terasing akan hidup kembali. Demikianlah, perlahan-lahan, dan berhenti sejenak! Dimensi kehidupan kontemplatif yang membantu kita menemukan kembali Masa Prapaskah akan melepaskan energi baru. Di hadirat Allah, kita menjadi saudara-saudari, semakin peka satu sama lain: alih-alih ancaman dan musuh, kita menemukan sahabat dan sesama pengembara. Inilah impian Allah, tanah perjanjian yang akan kita tuju setelah kita meninggalkan perbudakan.

 

Bentuk sinodal Gereja, yang pada tahun-tahun ini kita temukan kembali dan kembangkan, menunjukkan Masa Prapaskah juga merupakan masa pengambilan keputusan komunitas, keputusan, baik kecil maupun besar, yang menentang arus. Keputusan yang mampu mengubah kehidupan sehari-hari individu dan sesama, seperti cara kita memperoleh barang, merawat ciptaan, dan berusaha untuk menyertakan mereka yang tidak terlihat atau dipandang rendah. Saya mengajak setiap komunitas Kristiani untuk melakukan hal ini: memberikan waktu bagi para anggotanya untuk memikirkan kembali gaya hidup mereka, waktu untuk mengkaji keberadaan mereka dalam masyarakat dan kontribusi yang mereka berikan terhadap kemajuan masyarakat. Celakalah kita jika penebusan dosa Kristiani kita menyerupai jenis penebusan dosa yang membuat Yesus kecewa. Kepada kita juga, Ia bersabda: “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa” (Mat 6:16). Sebaliknya, biarkan orang lain melihat wajah penuh sukacita, mencium aroma kebebasan dan merasakan cinta yang membuat segala sesuatu menjadi baru, dimulai dari yang terkecil dan terdekat dengan kita. Hal ini dapat terjadi di setiap komunitas Kristiani kita.

 

Perkenankan saya mengulangi apa yang saya katakan kepada kaum muda yang saya temui di Lisbon musim panas lalu: “Teruslah mencari dan bersiap mengambil risiko. Saat ini, kita menghadapi risiko yang sangat besar; kita mendengar permohonan penuh penderitaan dari begitu banyak orang. Memang benar, kita sedang mengalami perang dunia ketiga yang terjadi sedikit demi sedikit. Namun marilah kita menemukan keberanian untuk melihat dunia kita, bukan sebagai dunia yang sedang berada di ambang kematiannya, melainkan sedang dalam proses melahirkan, bukan pada akhir tetapi pada awal babak baru yang besar dalam sejarah. Kita perlu keberanian untuk berpikir seperti ini” (Wejangan kepada Mahasiswa, 3 Agustus 2023). Keberanian untuk bertobat semacam itu lahir dari perbudakan. Demi iman dan cinta, raihlah harapan, sang kanak mungil ini. Mereka mengajari-Nya berjalan, dan pada saat yang sama, Ia menuntun mereka maju.[1]


Sejauh Masa Prapaskah ini menjadi masa pertobatan, umat manusia yang cemas akan melihat ledakan kreativitas, secercah harapan baru. Perkenankan saya mengulangi apa yang saya katakan kepada kaum muda yang saya temui di Lisbon musim panas lalu: “Teruslah mencari dan bersiap mengambil risiko. Dewasa ini kita menghadapi risiko yang sangat besar; kita mendengar permohonan penuh penderitaan dari begitu banyak orang. Memang benar, kita sedang mengalami perang dunia ketiga yang terjadi sedikit demi sedikit. Namun marilah kita menemukan keberanian untuk melihat dunia kita, bukan sebagai dunia yang sedang berada di ambang kematiannya, melainkan sedang dalam proses melahirkan, bukan pada akhir tetapi pada awal babak baru yang besar dalam sejarah. Kita perlu keberanian untuk berpikir seperti ini” (Wejangan kepada Mahasiswa, 3 Agustus 2023). Demikianlah keberanian untuk bertobat, yang lahir dari perbudakan. Demi iman dan amal kasih, genggamlah harapan, sang kanak mungil ini. Mereka mengajarinya berjalan, dan pada saat yang sama, ia menuntun mereka maju.[1]

 

Saya memberkati kamu semua dan perjalanan Prapaskahmu.

 

Roma, Santo Yohanes Lateran, 3 Desember 2023, Hari Minggu Adven I.

 

FRANSISKUS



[1]Bdk. CH. PÉGUY, Serambi Misteri Kebajikan II.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 31 Januari 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG KEBURUKAN DAN KEBAJIKAN (BAGIAN 6 : PERJUANGAN ROHANI) : KEMARAHAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita akan berhenti sejenak untuk merenungkan sifat buruk kemarahan. Sekarang kita berbicara tentang keburukan dan kebajikan: hari ini adalah saatnya untuk merenungkan keburukan kemarahan. Kemarahan adalah sifat buruk yang sangat gelap, dan mungkin yang paling mudah dideteksi dari sudut pandang fisik. Orang yang dikuasai kemarahan merasa sulit menyembunyikan dorongan ini: kamu dapat mengenalinya dari gerakan tubuhnya, agresivitasnya, napasnya yang tersegal-segal, ungkapannya yang muram dan cemberut.

 

Dalam perwujudannya yang paling akut, kemarahan adalah suatu sifat buruk yang tiada henti. Jika berasal dari ketidakadilan yang diderita (atau diyakini akan diderita), kemarahan sering kali dilancarkan bukan terhadap pelakunya, namun terhadap korban pertama yang malang. Ada orang yang menahan kemarahannya di tempat kerja, menunjukkan dirinya tenang dan tenteram, namun di rumah ia tidak dapat menahan kemarahannya terhadap istri dan anak-anaknya. Kemarahan adalah suatu sifat buruk yang menyebar luas: kemarahan mampu membuat kita tidak bisa tidur, menghalangi jalan menuju akal dan pikiran.

 

Kemarahan adalah sifat buruk yang menghancurkan hubungan antarmanusia. Kemarahan mengungkapkan ketidakmampuan untuk menerima keberagaman orang lain, terutama ketika pilihan hidup mereka berbeda dengan pilihan kita. Kemarahan tidak berhenti pada kelakuan buruk salah seorang saja, namun melemparkan segalanya ke dalam kuali: orang lain, orang lain apa adanya, orang lain sebagaimana adanya, memicu kemarahan dan kebencian. Kita mulai membenci nada suaranya, gerak-gerik sehari-harinya yang remeh-temeh, cara berpikir dan perasaannya.

 

Ketika hubungan mencapai tingkat kemerosotan ini, kejernihan hilang. Kemarahan membuat kita kehilangan kejernihan, bukan? Karena salah satu ciri kemarahan, kadang-kadang, tidak dapat diredakan seiring berjalannya waktu. Dalam kasus ini, bahkan jarak dan keheningan, bukannya meringankan beban kesalahan, malah memperbesar kesalahan tersebut. Karena alasan ini, Rasul Paulus – sebagaimana telah kita dengar – menganjurkan umat Kristiani untuk segera menghadapi masalah ini, dan mengupayakan rekonsiliasi: “Janganlah matahari terbenam, sebelum padam kemarahanmu” (Ef. 4:26). Semuanya segera sirna, sebelum matahari terbenam, penting. Jika terjadi kesalahpahaman di siang hari, dan dua orang tidak dapat lagi saling memahami, menganggap diri mereka berjauhan, maka malam hari tidak dapat diserahkan kepada iblis. Sifat buruk akan membuat kita tetap terjaga di malam hari, memikirkan alasan-alasan kita dan kesalahan-kesalahan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan yang tidak pernah menjadi milik kita dan selalu menjadi milik orang lain. Begini caranya: ketika sedang marah, kita selalu mengatakan orang lain adalah masalahnya. Kita tidak pernah mampu mengenali aib kita, kekurangan kita.

 

Dalam Doa Bapa Kami, Yesus mengajak kita mendoakan hubungan antarmanusia, yang merupakan lahan ranjau: ranah yang tidak pernah berada dalam keseimbangan sempurna. Dalam kehidupan, kita harus menghadapi orang yang bersalah kepada kita, sama seperti kita tidak pernah mencintai semua orang sebagaimana mestinya. Kepada beberapa orang, kita belum membalas cinta yang menjadi hak mereka. Kita semua adalah orang berdosa, kita semua, dan kita semua mempunyai masalah yang harus diselesaikan: jangan melupakan hal ini. Kita berhutang budi, kita semua mempunyai tanggung jawab yang harus diselesaikan, dan oleh karena itu kita semua perlu belajar bagaimana mengampuni agar bisa diampuni. Orang-orang tidak bisa tinggal bersama jika mereka tidak mempraktikkan seni mengampuni, sejauh hal ini memungkinkan secara manusiawi. Kemarahan dihadapi dengan kebajikan, keterbukaan hati, kelembutan dan kesabaran.

Namun, mengenai kemarahan, ada satu hal lagi yang perlu dikatakan. Kemarahan dapat dikatakan merupakan suatu keburukan yang menjadi asal mula perang dan kekerasan. Proem dari Iliad menggambarkan kemarahan Achilles, yang akan menjadi penyebab “kesengsaraan yang tak terbatas”. Namun tidak semua hal yang bersumber dari kemarahan itu salah. Orang-orang zaman dahulu memahami dengan baik bahwa ada bagian diri kita yang mudah marah serta tidak dapat dan tidak boleh disangkal. Perasaan tersebut sampai batas tertentu tidak disadari: Perasaan tersebut terjadi, merupakan pengalaman hidup. Kita tidak bertanggung jawab atas timbulnya kemarahan, namun selalu atas perkembangan kemarahan tersebut. Dan ada kalanya kemarahan sebaiknya dilampiaskan secara benar. Jika seseorang tidak pernah marah, jika seseorang tidak marah terhadap suatu ketidakadilan, jika ia tidak merasakan sesuatu yang menggetarkan dalam hatinya karena penindasan terhadap orang yang lemah, maka artinya orang tersebut bukan manusia, apalagi orang kristiani.

Kemarahan suci itu ada, yang bukan merupakan kemarahan melainkan suatu gerakan batin, kemarahan suci. Yesus memahaminya beberapa kali dalam hidup-Nya (bdk. Mrk 3.5): Ia tidak pernah menanggapi kejahatan dengan kejahatan, tetapi di dalam jiwa-Nya, Ia merasakan kepekaan perasaan ini, dan dalam kasus para pedagang di Bait Allah, Ia melakukan tindakan keras dan mengandung nubuat. tindakan yang didikte bukan oleh kemarahan, melainkan oleh semangat untuk rumah Tuhan (bdk. Mat 21:12-13). Kita harus membedakannya dengan baik: semangat, kemarahan suci, adalah satu hal; kemarahan, yang buruk, adalah hal lain.

 

Dengan pertolongan Roh Kudus, menemukan ukuran yang tepat untuk kepekaan perasaan tersebut terserah kita. Mendidik mereka dengan baik agar mereka beralih kepada kebaikan dan bukan kepada kejahatan. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya mereka yang datang dari Amerika Serikat. Atas kamu semua, dan atas keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: dalam katekese kita tentang kebajikan dan keburukan, kita sekarang membahas “kemarahan”, yaitu kemarahan yang tidak terkendali yang mungkin dimulai dengan merenungkan pelanggaran yang diterima, namun berakhir dengan merusak diri sendiri dan merusak hubungan kita dengan orang lain, yang pada akhirnya mengarah pada kekerasan dan bahkan perang. Yesus mengajarkan kita untuk mengampuni mereka yang berdosa terhadap kita, sementara Santo Paulus mendesak kita untuk tidak membiarkan kemarahan kita hingga matahari terbenam. Namun ada jenis kemarahan yang pantas, yaitu kemarahan yang benar di hadapan kejahatan dan ketidakadilan. Sama halnya dengan segenap perasaan, demikian juga dengan kemarahan: dengan rahmat Roh Kudus yang menopang, mengelola dan mengarahkan perasaan kita untuk melayani kerajaan rekonsiliasi, keadilan dan perdamaian Allah, terserah kita.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Februari 2024)