Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 Maret 2024 : YESUS DATANG BUKAN UNTUK MENGHAKIMI, MELAINKAN MENYELAMATKAN DUNIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Pada Hari Minggu Prapaskah IV ini, Bacaan Injil menghadirkan kepada kita sosok Nikodemus (bdk. Yoh 3:14-21), seorang Farisi, “seorang pemimpin Yahudi” (Yoh 3:1). Ia melihat tanda-tanda yang dilakukan Yesus, ia mengenali Yesus sebagai guru yang diutus Allah, dan pergi menemui-Nya pada waktu malam agar tidak dilihat orang. Tuhan menyambutnya, berbincang dengannya dan menyatakan kepadanya bahwa Ia datang bukan untuk menghakimi, melainkan menyelamatkan (bdk. ayat 17). Marilah kita berhenti sejenak untuk merenungkan hal ini: Yesus datang bukan untuk menghakimi, melainkan menyelamatkan. Hal ini indah!

 

Dalam Injil seringkali kita melihat Kristus mengungkapkan maksud orang-orang yang ditemui-Nya, kadang-kadang membuka kedok sikap-sikap mereka yang salah, seperti sikap orang-orang Farisi (bdk. Mat 23:27-32), atau membuat mereka merenungkan kekacauan hidup mereka, seperti halnya perempuan Samaria (bdk. Yoh 4:5-42). Tidak ada rahasia di hadapan-Nya: Ia membacanya di dalam hati. Kemampuan ini dapat mengganggu karena, jika digunakan dengan buruk, akan merugikan orang lain dan membuat mereka terkena penghakiman tanpa ampun. Memang benar, tidak ada seorang pun yang sempurna: kita semua adalah orang-orang berdosa, kita semua melakukan kesalahan, dan jika Tuhan menggunakan pengetahuan-Nya tentang kelemahan kita untuk menghukum kita, tidak seorang pun dapat diselamatkan.

 

Tetapi tidak seperti ini. Memang benar, Ia tidak membutuhkan semua itu untuk menuding kita, tetapi untuk merangkul kehidupan kita, membebaskan kita dari dosa dan menyelamatkan kita. Yesus tidak tertarik untuk mengadili atau menghakimi kita; Ia ingin tidak ada seorang pun dari kita yang tersesat. Tatapan Tuhan kepada kita masing-masing bukan mercusuar yang membutakan dan menyilaukan kita, melainkan secercah cahaya pelita yang ramah, yang membantu kita melihat kebaikan dalam diri kita dan mewaspadai kejahatan. agar kita dapat bertobat dan disembuhkan dengan dukungan rahmat-Nya.

 

Yesus datang bukan untuk menghakimi, tetapi menyelamatkan dunia. Coba pikirkanlah diri kita, yang seringkali menyalahkan orang lain; sering kali, kita suka berbicara buruk, menggosipkan orang lain. Marilah kita memohon kepada Tuhan untuk memberikan kepada kita, kita semua, tatapan penuh belas kasihan ini, untuk memandang orang lain sebagaimana Dia memandang kita.

 

Semoga Maria membantu kita untuk saling mengharapkan yang baik.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Dua hari lalu, Hari Perempuan Sedunia diperingati. Saya ingin menyampaikan sebuah pemikiran dan mengungkapkan kedekatan saya dengan semua perempuan, terutama mereka yang tidak dihormati martabatnya. Masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan agar kesetaraan martabat perempuan benar-benar diakui. Lembaga-lembaga, baik sosial maupun politik, mempunyai tugas mendasar untuk melindungi dan meningkatkan martabat setiap umat manusia, memberikan kepada perempuan, pembawa kehidupan, kondisi-kondisi yang diperlukan untuk dapat menyambut anugerah kehidupan dan memastikan kehidupan yang layak bagi anak-anak mereka.

 

Saya mengikuti dengan penuh keprihatinan dan kesedihan krisis serius yang sedang melanda Haiti, dan peristiwa kekerasan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Saya dekat dengan Gereja dan rakyat Haiti, yang telah dilanda banyak penderitaan selama bertahun-tahun. Saya mengundangmu untuk berdoa, melalui perantaraan Bunda Maria Penolong Abadi, agar segala jenis kekerasan dapat berhenti, dan agar setiap orang dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan perdamaian dan rekonsiliasi di negara ini, dengan dukungan baru dari komunitas internasional. .

 

Malam ini, saudara-saudari Muslim kita akan memulai Ramadhan: Saya mengungkapkan kedekatan saya kepada mereka semua.

 

Saya menyapa kamu semua yang datang dari Roma, dari Italia dan dari berbagai belahan dunia. Secara khusus, saya menyapa para mahasiswa Kolose Irabia-Izaga Pamplona, dan para peziarah dari Madrid, Murcia, Malaga dan Saint Mary’s Plainfield, New Jersey.

 

Saya menyapa kaum muda Paroki Bunda Maria dari Guadalupe dan Paroki Santo Filipus Martir Romayang yang sedang mempersiapkan Komuni Pertama dan Penguatan, serta umat Reggio Calabria, Quartu Sant’Elena, dan Castellamonte.

Dengan penuh kasih sayang saya menyapa komunitas Katolik Republik Demokratik Kongo di Roma. Marilah kita berdoa untuk perdamaian di negara ini, juga di Ukraina yang tersiksa dan di Tanah Suci. Semoga permusuhan yang menyebabkan penderitaan besar di kalangan penduduk sipil segera dihentikan.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 10 Maret 2024)

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ANAK-ANAK SEDUNIA I 25-26 Mei 2024

Anak-anak terkasih!

 

Hari sedunia pertamamu, yang akan diselenggarakan di Roma pada tanggal 25-26 Mei tahun ini, sudah semakin dekat. Itulah sebabnya saya berpikir untuk menyampaikan pesan kepadamu. Saya senang kamu dapat membacanya dan saya berterima kasih kepada semua pihak yang bertanggung jawab untuk meneruskannya kepadamu.

 

Saya ingin berbicara kepada kamu masing-masing, anak-anak terkasih, karena, sebagaimana diajarkan Kitab Suci kepada kita, dan sebagaimana sering ditunjukkan Yesus, “kamu berharga” di mata Allah (Yes. 43:4).

 

Pada saat yang sama, saya menyampaikan Pesan ini kepada kamu semua, karena semua anak, di mana pun, adalah tanda keinginan setiap orang untuk bertumbuh dan berkembang. Kamu mengingatkan kita bahwa kita semua adalah anak-anak, saudara dan saudari. Kita tidak akan hidup tanpa orang lain membawa kita ke dunia ini, serta kita juga tidak bisa bertumbuh mencintai dan dicintai tanpa orang lain (bdk. Fratelli Tutti, 95).

 

Kamu semua, anak laki-laki dan perempuan, selain sumber kebahagiaan orang tua dan keluarga, juga sumber kebahagiaan keluarga umat manusia dan Gereja, di mana kita masing-masing bagaikan mata rantai besar yang membentang dari masa lalu hingga masa depan dan menutupi seluruh bumi. Itulah sebabnya saya mendorongmu untuk memperhatikan kisah kaum dewasa: ayah dan ibumu, kakek nenek dan kakek buyutmu. Dan jangan lupakan seluruh anak-anak lainnya dan kaum muda yang sedang berjuang melawan penyakit dan kesulitan, baik di rumah sakit maupun di rumah, dan mereka yang bahkan sekarang masa kecilnya dirampok dengan kejam. Saya memikirkan anak-anak yang menjadi korban perang dan kekerasan, mereka yang mengalami kelaparan dan kehausan, mereka yang hidup di jalanan, mereka yang terpaksa menjadi tentara atau pengungsi, terpisah dari orang tua mereka, mereka yang dilarang bersekolah, dan mereka yang menjadi korban gembong kriminal, narkoba atau bentuk perbudakan dan pelecehan lainnya. Marilah kita dengarkan suara mereka. Kita perlu mendengar suara-suara itu, karena di tengah penderitaan mereka, mereka mengingatkan kita akan kenyataan, dengan mata mereka yang berkaca-kaca dan dengan kerinduan yang kuat akan kebaikan yang bertahan di hati mereka yang telah benar-benar melihat kengerian kejahatan.

 

Sahabat-sahabat muda terkasih, agar kita dan dunia kita dapat bertumbuh dan berkembang, saling bersatu saja tidak memadai; kita perlu, terutama, bersatu dengan Yesus. Dari Dia kita menerima banyak keberanian. Ia selalu dekat dengan kita, Roh-Nya berjalan di depan kita dan menyertai kita di segenap jalan dunia. Yesus mengatakan kepada kita: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (Why 21:5); inilah tema yang saya pilih untuk Hari Seduniamu yang pertama. Kata-kata ini mengundang kita untuk menjadi secerdas anak-anak dalam memahami kenyataan-kenyataan baru yang digerakkan oleh Roh, baik di dalam diri kita maupun di sekitar kita. Bersama Yesus, kita dapat memimpikan pembaruan keluarga manusia dan bekerja demi masyarakat yang semakin bersaudara yang peduli terhadap rumah kita bersama. Hal ini dimulai dari hal-hal kecil, seperti menyapa orang lain, meminta izin, meminta maaf, dan mengucapkan terima kasih. Dunia kita akan berubah jika kita memulai dengan hal-hal kecil ini, tanpa merasa malu untuk mengambil langkah kecil, satu per satu. Fakta kita kecil mengingatkan kita bahwa kita juga lemah dan saling membutuhkan sebagai anggota satu tubuh (bdk. Rm 12:5; 1Kor 12:26).

 

Bukan itu saja. Faktanya kita tidak bisa bahagia sendirian, karena sukacita kita bertambah jika kita membagikannya. Sukacita lahir dari rasa syukur atas karunia yang telah kita terima dan bagikan spada gilirannya serta bertumbuh ketika kita berhubungan dengan orang lain. Ketika kita menyimpan berkat yang telah kita terima untuk diri kita sendiri, atau berulah untuk mendapatkan karunia ini atau itu, kita lupa bahwa karunia terbesar yang kita miliki adalah diri kita sendiri, satu sama lain: kita semua, bersama-sama, adalah “karunia Allah”. Karunia-karunia lain memang bagus, tetapi hanya jika membantu kita untuk bersama-sama. Jika kita tidak menggunakannya untuk tujuan tersebut, kita akan selalu merasa tidak bahagia; karunia-karunia tersebutu tidak akan pernah memadai.

 

Sebaliknya, saat kita semua bersama-sama, segalanya berbeda! Pikirkanlah sahabat-sahabatmu, dan alangkah menyenangkan menghabiskan waktu bersama mereka: di rumah, di sekolah, di paroki dan taman bermain, di mana saja. Bermain, bernyanyi, menemukan hal-hal baru, bersenang-senang, semua orang berkumpul tanpa kecuali. Persahabatan itu indah dan bertumbuh hanya dengan cara ini: melalui berbagi dan mengampuni, dengan kesabaran, keberanian, kreativitas dan imajinasi, tanpa rasa takut dan tanpa prasangka.

 

Sekarang, saya akan berbagi rahasia khusus denganmu. Kalau kita memang ingin bahagia, kita perlu berdoa, banyak berdoa, berdoa setiap hari, karena doa menghubungkan kita langsung dengan Allah. Doa memenuhi hati kita dengan cahaya dan kehangatan; doa membantu kita melakukan segala sesuatu dengan percaya diri dan ketenangan pikiran. Yesus terus-menerus berdoa kepada Bapa. Tahukah kamu bagaimana Yesus memanggil Bapa-Nya? Dalam bahasa-Nya, Ia hanya memanggil Bapa-Nya “Abba”, yang berarti “Bapa” (bdk. Mrk 14:36). Ayo lakukan hal yang sama! Kita akan selalu merasa bahwa Yesus dekat dengan kita. Ia sendiri menjanjikan hal tersebut kepada kita ketika Ia berkata, “Sebab, di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

 

Anak-anak terkasih, kamu mungkin tahu bahwa di bulan Mei, banyak dari kita akan berkumpul di Roma, berkumpul dengan anak-anak dari seluruh dunia. Untuk mempersiapkan diri dengan baik menghadapi hal ini, saya meminta kamu semua untuk berdoa sebagaimana doa yang diajarkan Yesus kepada kita – doa Bapa Kami. Ucapkanlah setiap pagi dan sore hari, dalam keluargamu juga, bersama orang tua, saudara, saudari, dan kakek-nenekmu. Tetapi tidak hanya dengan mengucapkan kata-kata! Pikirkanlah kata-kata yang diajarkan Yesus kepada kita. Ia memanggil kita dan Ia ingin agar kita secara aktif bergabung bersama-Nya, pada Hari Anak-anak Sedunia ini, untuk menjadi pembangun dunia yang baru, semakin manusiawi, adil dan damai. Yesus, yang mempersembahkan diri-Nya di kayu Salib untuk mengumpulkan kita semua dalam kasih, yang mengalahkan maut dan mendamaikan kita dengan Bapa, ingin melanjutkan karya-Nya dalam Gereja melalui kita. Pikirkanlah hal ini, terutama bagi kamu yang sedang bersiap menerima Komuni Pertama.

 

Allah telah mengasihi kita sejak segenap kekekalan (bdk. Yer 1:5). Ia memandang kita dengan mata seorang ayah yang penuh kasih dan seorang ibu yang lembut. Ia tidak pernah melupakan kita (bdk. Yes 49:15) serta setiap hari Ia menyertai dan memperbaharui kita dengan Roh-Nya.

 

Bersama Santa Perawan Maria dan Santo Yusuf, marilah kita berdoa dengan kata-kata berikut:

 

Datanglah, Roh Kudus,

tunjukkan pada kami keelokkan-Mu,

tercermin dalam wajah

anak-anak di seluruh dunia.

Datanglah, Yesus,

Engkau yang menjadikan segala sesuatu baru,

yang merupakan jalan yang membawa kita kepada Bapa,

datanglah dan tinggallah bersama kami selalu.

Amin.

 

Roma, Santo Yohanes Lateran, 2 Maret 2024

 

FRANSISKUS
_____

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 6 Maret 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG KEBURUKAN DAN KEBAJIKAN (BAGIAN 10 : PERJUANGAN ROHANI) : KECONGKAKAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam perjalanan katekese kita mengenai keburukan dan kebajikan, hari ini kita sampai pada keburukan yang terakhir: kecongkakan. Orang Yunani kuno mendefinisikannya dengan kata yang dapat diterjemahkan sebagai “kemegahan yang berlebihan”. Memang, kecongkakan adalah peninggian diri, keangkuhan, kesombongan. Istilah ini juga muncul dalam rangkaian kejahatan yang disebutkan Yesus untuk menjelaskan bahwa kejahatan selalu datang dari hati manusia (bdk. Mrk 7:22). Orang yang congkak adalah orang yang menganggap dirinya melebihi yang sebenarnya; orang yang congkak menoreh dalam diri jika dianggap lebih hebat dari orang lain, selalu ingin melihat kebaikan dirinya diakui, dan meremehkan orang lain, menganggap mereka lebih rendah dari dirinya.

 

Dari uraian pertama ini, kita melihat bagaimana sifat buruk kecongkakan sangat mirip dengan sifat sombong yang telah kita bahas sebelumnya. Akan tetapi, apabila kecongkakan adalah penyakit diri manusia, maka kecongkakan masih merupakan penyakit kekanak-kanakan jika dibandingkan dengan kesombongan yang dapat menimbulkan malapetaka. Dalam menganalisis kebodohan manusia, para rahib zaman dahulu mengenali urutan tertentu dalam rangkaian kejahatan: urutan dimulai dengan dosa yang paling besar, seperti keserakahan, dan sampai pada monster yang lebih mengganggu. Dari semua sifat buruk, kecongkakan adalah ratunya yang agung. Bukan kebetulan bahwa, dalam Divine Comedy, Dante menempatkannya di api penyucian tingkat pertama: orang yang menyerah pada kejahatan ini jauh dari Allah, dan koreksi kejahatan ini, yang merupakan panggilan umat kristiani, membutuhkan waktu dan usaha, melebihi pertempuran lainnya.

 

Faktanya, di balik kejahatan ini terdapat dosa radikal, klaim konyol bahwa kita seperti Allah. Dosa orang tua pertama kita, yang diceritakan dalam Kitab Kejadian, adalah dosa kecongkakan. Penggoda mengatakan kepada mereka, “Pada saat kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah” (Kej. 3:5). Para penulis spiritualitas secara khusus memberikan perhatian khusus dalam menggambarkan akibat kecongkakan dalam kehidupan sehari-hari, mengilustrasikan bagaimana hal itu merusak hubungan antarmanusia, menunjukkan bagaimana kejahatan ini meracuni perasaan persaudaraan yang seharusnya mempersatukan manusia.

 

Inilah daftar panjang gejala-gejala yang menunjukkan bahwa seseorang telah menyerah pada sifat congkak. Kecongkakan adalah kejahatan dengan penampilan fisik yang jelas: orang congkak itu sombong, ia memiliki “leher kaku”, yaitu, ia memiliki leher kaku yang tidak bengkok. Ia adalah orang yang mudah digiring pada penilaian yang mencemooh: tanpa alasan, ia memberikan penilaian yang tidak dapat dibatalkan terhadap orang lain, yang menurutnya sangat tidak kompeten dan tidak mampu. Dalam kecongkakannya, ia lupa bahwa Yesus di dalam Injil hanya memberikan sedikit sekali ajaran moral kepada kita, namun dalam salah satu ajaran tersebut Ia tidak mengenal kompromi: jangan pernah menghakimi. Kamu menyadari bahwa kamu sedang berhadapan dengan orang yang congkak, ketika memberinya sedikit kritik yang membangun, atau melontarkan komentar yang sama sekali tidak berbahaya, ia bereaksi dengan cara yang berlebihan, seolah-olah seseorang telah menyinggung kemuliaannya: ia menjadi marah, berteriak, mengganggu hubungan dengan orang lain dengan cara yang penuh kebencian.

 

Tidak ada yang dapat dilakukan seseorang terhadap orang yang menderita kecongkakan. Mustahil untuk berbicara kepada mereka, apalagi mengoreksi mereka, karena pada akhirnya mereka tidak lagi hadir pada diri mereka sendiri. Kita hanya perlu bersabar menghadapi mereka, karena suatu saat bangunan mereka akan runtuh. Sebuah pepatah Italia mengatakan, “Kebanggaan berjalan di atas kuda dan kembali dengan berjalan kaki.” Dalam Injil, Yesus berurusan dengan banyak orang yang congkak, dan Ia sering menyingkapkan sifat buruk ini bahkan pada orang-orang yang menyembunyikannya dengan sangat baik. Petrus memamerkan kesetiaannya yang sepenuh hati: “Biarpun mereka semua terguncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak!” (lih. Mat 26:33). Sebaliknya, ia akan segera menjadi seperti yang lain, takut menghadapi kematian yang tidak ia bayangkan bisa begitu dekat. Maka Petrus yang kedua, yang tidak lagi mengangkat dagunya tetapi menangis tersedu-sedu, akan disembuhkan oleh Yesus dan pada akhirnya akan sehat untuk memikul beban Gereja. Sebelumnya ia memamerkan anggapan yang lebih baik tidak dipamerkan; sekarang ia adalah seorang murid yang setia yang, seperti dikatakan dalam sebuah perumpamaan, akan “diberi wewenang atas segala miliknya” (Luk 12:44) oleh sang guru.

 

Keselamatan berasal melalui kerendahan hati, penangkal sejati terhadap setiap tindakan kecongkakan. Dalam Magnificat, Maria bermadah tentang Allah yang dengan kuasa-Nya mencerai-beraikan orang yang congkak hatinya. Tidak ada gunanya mencuri apa pun dari Allah, seperti yang diharapkan oleh orang yang congkak, karena bagaimanapun juga Ia ingin memberikan segalanya kepada kita. Inilah sebabnya mengapa rasul Yakobus, kepada jemaatnya yang terluka oleh pertikaian yang bersumber dari kecongkakan, menulis, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati” (Yak. 4:6).

 

Jadi, saudara-saudari terkasih, marilah kita memanfaatkan masa Prapaskah ini untuk melawan kecongkakan kita.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Wales, Denmark, Swiss, Indonesia dan Amerika Serikat. Kepada kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese kita tentang kebajikan dan keburukan, kita sekarang beralih ke kecongkakan, dosa besar pertama dan, bagi para penulis kuno, “ratu segala kejahatan”. Memang benar, dosa kecongkakan menyembunyikan dosa yang lebih besar lagi: kepura-puraan yang tidak masuk akal untuk menjadi seperti Allah. Dalam Divine Comedy Dante, dosa kesombongan dihukum di tingkat pertama gunung api penyucian; pertanda betapa sulitnya untuk diatasi, serta jarak yang tercipta antara kita dan Allah. Cepat atau lambat, “kecongkakan datang sebelum kejatuhan,” dan ini, atas karunia Allah, dapat menuntun pada kerendahan hati yang bermanfaat. Dalam Magnificat, Maria bermadah tentang Allah yang merendahkan orang yang congkak dan meninggikan orang yang rendah. Ketika menulis kepada jemaatnya yang terluka karena pertikaian yang disebabkan oleh kecongkakan, rasul Yakobus menggemakan pernyataan ini, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati” (Yak. 4:6). Semoga masa Prapaskah ini menjadi kesempatan bagi kita untuk menaklukkan kecongkakan dan merangkul kerendahan hati, sehingga kita semakin mendekatkan diri pada Allah dan menerima rahmat-Nya yang berlimpah.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Maret 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 3 Maret 2024 : PERBEDAAN RUMAH DAN PASAR

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil hari ini menunjukkan kepada kita pemandangan yang keras: Yesus mengusir para pedagang keluar dari Bait Allah (bdk. Yoh 2:13-25), Yesus yang mengusir para pedagang, membalikkan meja penukaran uang, dan menegur semua orang, dengan mengatakan, "Jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan” (ayat 16). Marilah kita sedikit berfokus pada perbedaan antara rumah dan pasar: memang, keduanya mendekati Tuhan secara berbeda.

 

Di dalam Bait Allah yang dipahami sebagai sebuah pasar, agar bisa berdamai dengan Allah, yang harus dilakukan hanyalah membeli seekor domba, membayarnya, dan memakannya di atas bara api mezbah. Orang membeli, membayar, mengkonsumsi, dan kemudian setiap orang pulang. Sebaliknya, di dalam Bait Allah yang dipahami sebagai sebuah rumah, yang terjadi justru sebaliknya: kita pergi ke sana untuk berjumpa Tuhan, agar berada dekat dengan-Nya, dekat dengan saudara-saudari kita, berbagi suka dan duka. Terlebih lagi: di pasar, semua harga dinegosiasikan, sedangkan di rumah, tidak ada perhitungan; di pasar, orang mengusahakan kepentingannya sendiri, di rumah, orang memberi dengan cuma-cuma. Dan Yesus bersikap keras saat ini karena Ia tidak menerima bahwa rumah pasar menggantikan rumah tinggal, Ia tidak menerima hubungan kita dengan Allah jauh dan komersial, bukannya intim dan saling percaya, Ia tidak menerima kios penjualan menggantikan meja keluarga, harga tempat pelukan, dan mata uang menggantikan belaian. Dan mengapa Yesus tidak menerima hal ini? Sebab dengan cara ini tercipta pembatas antara Allah dan manusia serta di antara saudara dengan saudara, sedangkan Kristus datang untuk membawa persekutuan, membawa belas kasihan, yaitu pengampunan, dan membawa kedekatan.

 

Undangan hari ini, juga untuk perjalanan masa Prapaskah kita, adalah untuk semakin membangun rasa memiliki serta mengurangi rasa pasar dalam diri kita dan di sekitar kita. Pertama-tama, terhadap Allah dengan banyak berdoa, seperti anak-anak yang dengan yakin mengetuk pintu Bapa tanpa kenal lelah, serta tidak seperti para pedagang yang tamak dan penuh kecurigaan. Jadi pertama-tama dengan berdoa. Dan kemudian dengan menyebarkan persaudaraan: ada kebutuhan yang besar akan persaudaraan!

 

Jadi, marilah kita bertanya pada diri kita: pertama-tama, seperti apa doaku? Apakah doaku merupakan sebuah harga yang harus dibayar, ataukah sebuah momen kebebasan penuh kepercayaan, tanpa melihat jam? Dan bagaimana hubunganku dengan sesama? Apakah aku mampu memberi tanpa mengharapkan imbalan apa pun? Bisakah aku mengambil langkah pertama untuk meruntuhkan dinding keheningan dan kekosongan jarak? Kita harus mengajukan pada diri kita pertanyaan-pertanyaan ini.

 

Semoga Maria membantu kita untuk “membangun sebuah rumah” bersama Allah, di antara kita, dan di sekitar kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Setiap hari saya membawa dalam hati saya, dengan kesedihan, penderitaan rakyat Palestina dan Israel, akibat permusuhan yang terus berlanjut. Ribuan orang yang tewas, terluka, terlantar, dan kehancuran yang sangat besar menimbulkan penderitaan, dan hal ini berdampak sangat besar bagi rakyat jelata yang tidak berdaya, yang melihat masa depan mereka terancam. Saya bertanya pada diri saya: apakah kita yakin bisa membangun dunia yang semakin baik dengan cara ini? Apakah kita benar-benar berpikir kita bisa mencapai perdamaian? Tolong, cukuplah! Marilah kita semua mengatakannya: tolong, cukuplah! Berhentilah! Saya mendorong kelanjutan perundingan untuk segera melakukan gencatan senjata di Gaza dan di seluruh kawasan, agar para sandera dapat segera dibebaskan dan kembali ke orang-orang tercinta yang mereka tunggu-tunggu, dan penduduk sipil dapat memiliki akses yang aman terhadap bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan. Dan tolong kita jangan sampai melupakan Ukraina yang tersiksa, di mana begitu banyak orang meninggal setiap hari. Ada begitu banyak penderitaan di sana.

 

Tanggal 5 Maret diperingati sebagai Hari Internasional untuk Pelucutan Senjata dan Kesadaran Antipenyebaran yang kedua. Berapa banyak sumber daya yang terbuang untuk belanja militer, yang sayangnya terus meningkat sebagai akibat dari situasi saat ini! Saya dengan tulus berharap komunitas internasional memahami bahwa pelucutan senjata adalah sebuah kewajiban yang pertama dan terutama: perlucutan senjata adalah kewajiban moral. Marilah kita mengingat hal ini dengan jelas. Dan hal ini memerlukan keberanian seluruh anggota keluarga besar bangsa-bangsa untuk beralih dari kesetimbangan ketakutan menuju kesetimbangan kepercayaan.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa para mahasiswa Universidade Sénior Vila Pouca de Aguiar Portugal, para mahasiswa Institut “Rodríguez Moñino” Badajoz, dan kelompok-kelompok paroki dari Polandia.

 

Saya menyapa para penerima Sakramen Penguatan dari Rosolina, Keuskupan Chioggia, bersama para anggota keluarga mereka; umat dari Padua, Azzano Mella, Capriano dan Fenili, Taranto, dan Paroki Sant'Alberto Magno Roma.

 

Saya dengan penuh kasih sayang menyapa kaum muda Ukraina yang dikumpulkan oleh Komunitas Sant’Egidio dengan tema “Taklukkan Kejahatan dengan Kebaikan. Doa, orang miskin, damai”. Kaum muda yang terkasih, terima kasih atas komitmenmu terhadap orang-orang yang paling menderita akibat perang. Terima kasih!

 

Dan kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Maret 2024)