Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 12 Mei 2024 : DENGAN KENAIKAN-NYA KE SURGA, YESUS MENUNTUN PERJALANAN KITA KE SURGA

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dan kini, saya ingin mengucapkan selamat hari Minggu kepada kaum muda Genoa.

 

Hari ini, di Italia dan negara-negara lain, Hari Raya Kenaikan Tuhan dirayakan. Bacaan Injil Misa menyatakan bahwa Yesus, setelah mempercayakan tugas untuk melanjutkan karya-Nya kepada para Rasul, “terangkat ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah” (Mrk 16:19). Inilah yang dikatakan Bacaan Injil: Ia “terangkat ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah”.

 

Bagi kita kepulangan Yesus kepada Bapa tampak bukan sebagai keterpisahan diri-Nya dari kita, melainkan seperti mendahului kita ke tempat tujuan, yaitu surga. Sama seperti, ketika berada di pegunungan, kita mendaki ke puncak: kita berjalan dengan susah payah, dan akhirnya, pada belokan jalan, cakrawala terbuka dan kita melihat panorama. Kemudian segenap tubuh menemukan kekuatan untuk melakukan pendakian terakhir. Segenap tubuh – lengan, kaki dan setiap otot – menegang dan berkonsentrasi untuk mencapai puncak.

 

Dan kita, Gereja, adalah tubuh yang Yesus, setelah naik ke Surga, tarik bersama-Nya, seperti sebuah kumpulan yang diikat dengan tali. Dialah yang membangunkan kita dan menyampaikan kepada kita, dengan Sabda-Nya dan rahmat sakramen-sakramen, keindahan tanah air yang kita tuju. Oleh karena itu, kita juga, anggota-anggota-Nya – kita adalah anggota-anggota Yesus – dengan bersukacita naik bersama Dia, sang pemimpin kita, mengetahui bahwa langkah kita masing-masing adalah langkah untuk kita semua, dan tak seorang pun boleh hilang atau tertinggal, karena kita justru satu tubuh (bdk. Kol 1:18; 1 Kor 12:12-27).

 

Dengarkanlah baik-baik: langkah demi langkah, satu demi satu, Yesus menunjukkan jalan kepada kita. Apa saja langkah-langkah yang harus diambil? Bacaan Injil hari ini mengatakan, “memberitakan Injil, membaptis, mengusir setan, memegang ular, meletakkan tangan atas orang sakit” (bdk. Mrk 16:15-16.18); Singkatnya, melaksanakan karya kasih: memberi kehidupan, mendatangkan harapan, menjauhi segala bentuk kejahatan dan keburukan, menyikapi kejahatan dengan kebaikan, dekat dengan orang-orang yang menderita. Ini adalah “langkah demi langkah”. Dan semakin kita melakukan hal ini, semakin kita membiarkan diri kita diubah oleh Roh, semakin kita mengikuti teladan-Nya, seperti di pegunungan, kita merasakan udara di sekitar kita menjadi ringan dan bersih, cakrawala luas dan tujuan dekat, kata-kata dan gerak tubuh menjadi baik, pikiran dan hati melapang dan menghirup.



Maka kita bisa bertanya pada diri kita: apakah hasrat akan Allah, hasrat akan kasih-Nya yang tak terhingga, akan kehidupan-Nya yang merupakan kehidupan kekal, hidup dalam diriku? Atau apakah aku agak majal dan terpaku pada hal-hal yang berlalu-lalang, atau uang, atau kesuksesan, atau kesenangan? Dan apakah kerinduanku akan surga mengucilkanku, apakah menutup diriku, atau malah menuntunku untuk mengasihi saudara-saudariku dengan hati yang lapang dan tanpa pamrih, merasakan mereka adalah sahabat-sahabatku dalam perjalanan menuju surga?

 

Semoga Maria yang sudah sampai di tempat tujuan, membantu kita berjalan bersama dengan sukacita menuju kemuliaan surga.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saat kita merayakan Kenaikan Tuhan yang bangkit, yang membebaskan kita dan menginginkan kita bebas, saya kembali menyerukan pertukaran umum segenap tahanan antara Rusia dan Ukraina, memastikan kesediaan Takhta Suci untuk mendukung segala upaya dalam hal ini, terutama bagi mereka yang terluka parah dan sakit. Dan marilah kita terus mendoakan perdamaian di Ukraina, Palestina, Israel dan Myanmar… Marilah kita mendoakan perdamaian.

 

Hari ini adalah Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang mengusung tema “Kecerdasan Buatan dan Kebijaksanaan Hati”. Hanya dengan memulihkan kebijaksanaan hati kita dapat menafsirkan tuntutan zaman kita dan menemukan kembali jalan menuju komunikasi yang sepenuhnya manusiawi. Terima kasih kami sampaikan kepada semua pekerja komunikasi atas karya mereka!

 

Hari ini banyak negara merayakan Hari Ibu: marilah kita bersyukur kepada semua ibu, dan marilah kita juga mendoakan para ibu yang telah pergi ke surga. Dan marilah kita percayakan para ibu pada perlindungan Maria, bunda surgawi kita. Tepuk tangan meriah untuk semua ibu!

 

Saya menyapa para peziarah dari Roma dan berbagai penjuru Italia dan dunia, khususnya mereka yang berasal dari Hungaria dan Malta, mahasiswa Colégio da São Tomás Lisbon, dan kelompok musik dari Austria dan Jerman, yang memberikan penghormatan kepada Paus Benediktus XVI. Mereka bermain bagus! Terima kasih. Saya juga menyapa umat Pesaro, Cagliari, Giulianova Lido, dan umat Ponti sul Mincio yang datang dengan bersepeda, para donor darah AVIS, Lembaga “Gunung Muda” Turin, para calon penerima sakramen krisma dari Genoa, dan orang-orang yang menderita fibromyalgia, pada hari yang didedikasikan untuk patologi ini.

 

Saya berterima kasih kepada penyelenggara pameran fotografi “Perubahan”, yang dipajang di bawah barisan tiang Lapangan Santo Petrus. Foto-foto dari seluruh dunia mendokumentasikan keindahan rumah kita bersama, anugerah Sang Pencipta yang wajib kita jaga. Saya mengundangmu untuk mengunjungi pameran ini!

 

Saya menyapa kamu semua, dan kaum muda Immacolata. Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu, dan selamat melakukan perjalanan ke Genoa! Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Mei 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 8 Mei 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG KEBURUKAN DAN KEBAJIKAN (BAGIAN 18 : PERJUANGAN ROHANI) : HARAPAN

Saudara-saudari terkasih!

 

Dalam katekese terakhir kita mulai merenungkan kebajikan-kebajikan ilahi. Tiga di antaranya: iman, harapan, dan kasih. Terakhir kali, kita merenungkan iman. Sekarang giliran harapan. “Harapan adalah kebajikan ilahi yang olehnya kita rindukan Kerajaan Surga dan kehidupan abadi sebagai kebahagiaan kita, dengan berharap kepada janji-janji Kristus dan tidak mengandalkan kekuatan kita, tetapi bantuan rahmat Roh Kudus” (Katekismus Gereja Katolik Roma, no 1817). Kata-kata ini menegaskan kepada kita bahwa harapan adalah jawaban yang ditawarkan kepada hati kita, ketika pertanyaan mutlak muncul dalam diri kita: “Apa yang akan terjadi pada diriku? Apa tujuan perjalanan? Apa nasib dunia ini?”.

 

Kita semua menyadari bahwa jawaban negatif terhadap pertanyaan-pertanyaan ini menghasilkan kesedihan. Jika perjalanan hidup tidak ada artinya, jika pada awal dan akhir tidak ada apa-apa, maka kita bertanya pada diri kita sendiri mengapa kita harus berjalan: maka lahirlah keputusasaan manusia, perasaan tidak bergunaan segala sesuatu. Dan banyak yang mungkin memberontak: “Aku telah berusaha untuk melakukan kebajikan, bijaksana, adil, tangguh, dan bersahaja. Aku juga telah menjadi laki-manusia yang beriman.... Apa gunanya perjuanganku, jika semuanya berakhir di sini?”. Jika harapan hilang, seluruh kebajikan lainnya berisiko hancur dan akhirnya menjadi abu. Jika tidak ada hari esok yang dapat diandalkan, tidak ada cakrawala cerah, kita hanya perlu menyimpulkan bahwa kebajikan adalah usaha yang sia-sia. “Hanya ketika masa depan pasti dan merupakan sebuah kenyataan positif barulah kita bisa menjalani masa kini juga”, kata Benediktus XVI (Ensiklik Spe Salvi, 2).

 

Umat kristiani mempunyai harapan bukan karena kemampuan mereka. Jika mereka akan masa depan, itu karena Kristus telah wafat dan bangkit kembali serta memberikan Roh-Nya kepada kita. “Penebusan ditawarkan kepada kita dalam arti bahwa kita telah diberi harapan, harapan yang dapat dipercaya, yang melaluinya kita dapat menghadapi masa kini” (idem, 1). Dalam pengertian ini, sekali lagi, kita mengatakan bahwa harapan adalah suatu kebajikan ilahi: harapan tidak berasal dari diri kita, bukan suatu sifat keras kepala yang ingin kita yakinkan pada diri kita, namun merupakan karunia yang langsung berasal dari Allah.

 

Kepada banyak umat kristiani yang ragu-ragu, yang belum sepenuhnya dilahirkan kembali untuk memiliki harapan, Rasul Paulus memaparkan nalar baru pengalaman kristiani kepada mereka, dan ia berkata, “Jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini menaruh pengharapan pada Kristus, kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (1Kor. 15:17-19). Seolah-olah ia berkata: jika kamu percaya pada kebangkitan Kristus, maka kamu tahu dengan pasti bahwa tidak ada kekalahan dan kematian yang abadi. Namun jika kamu tidak percaya akan kebangkitan Kristus, maka semuanya menjadi keropos, termasuk pemberitaan para rasul.

 

Harapan adalah suatu kebajikan yang sering kali kita lawankan dengan dosa: dalam nostalgia kita yang buruk, dalam kesedihan kita, ketika kita berpikir bahwa kebahagiaan masa lalu terkubur selamanya. Kita berdosa melawan harapan ketika kita menjadi sedih atas dosa-dosa kita, lupa bahwa Allah itu penuh belas kasihan dan lebih besar dari hati kita. Dan jangan sampai kita melupakan hal ini saudara-saudari: Allah mengampuni segalanya, Allah selalu mengampuni. Kitalah yang lelah memohonkan pengampunan. Namun jangan sampai kita melupakan kebenaran ini: Allah mengampuni segalanya, Allah selalu mengampuni. Kita berdosa melawan harapan ketika kita menjadi putus asa atas dosa-dosa kita; kita berdosa melawan harapan ketika musim gugur dalam diri kita membatalkan musim semi; ketika kasih Allah tidak lagi menjadi api abadi dan kita tidak memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang mengikat kita seumur hidup.

 

Dunia dewasa ini sangat membutuhkan kebajikan kristiani ini! Dunia membutuhkan harapan, sama seperti dunia membutuhkan kesabaran, suatu kebajikan yang berhubungan erat dengan harapan. Manusia yang sabar adalah penenun kebaikan. Mereka bersikeras menginginkan perdamaian, dan meskipun ada di antara mereka tergesa-gesa dan menginginkan segalanya, dan langsung, orang yang sabar mampu menunggu. Bahkan ketika di sekitar kita banyak yang menyerah pada kekecewaan, mereka yang terinspirasi oleh harapan dan bersabar mampu melewati malam-malam paling kelam. Harapan dan kesabaran berjalan seiring.

 

Harapan adalah kebajikan mereka yang berjiwa muda; dan di sini usia tidak diperhitungkan. Karena ada juga orang lanjut usia yang bermata cerah, yang hidup terus-menerus berjuang menuju masa depan. Bayangkanlah dua orang lanjut usia yang hebat dalam Injil, Simeon dan Hana: mereka tidak pernah lelah menunggu dan mereka melihat bagian terakhir perjalanan duniawi mereka diberkati oleh perjumpaan dengan Mesias, yang mereka kenali di dalam diri Yesus, yang dibawa ke Bait Allah oleh kedua orang tua-Nya. Alangkah baiknya jika hal seperti itu terjadi pada kita semua! Jika setelah perjalanan peziarahan yang panjang, meletakkan tas pelana dan tongkat kita, hati kita dipenuhi dengan kegembiraan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, dan kita pun dapat berseru: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." (Luk 2:29-32).

 

Saudara-saudari, marilah kita berjalan maju dan memohon rahmat untuk memiliki harapan, harapan dengan kesabaran. Selalu melihat ke arah perjumpaan yang pasti itu; selalu melihat bahwa Tuhan selalu berada di dekat kita, bahwa kematian tidak akan pernah menang. Marilah kita berjalan maju dan memohon kepada Tuhan agar memberi kita kebajikan agung harapan ini, disertai dengan kesabaran. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya yang berasal dari Kamerun, India, Filipina, dan Amerika Serikat. Saat kita bersiap untuk merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan, saya memohonkan atasmu dan keluargamu sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus, yang telah bangkit dan naik ke surga. Semoga Tuhan memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita mengenai kebajikan-kebajikan ilahi, kita sekarang mengkaji harapan, yang melaluinya kita menginginkan kebahagiaan hidup kekal. Tanpa harapan, kehidupan kebajikan akan tampak tidak dapat diperoleh. Harapan kristiani didasarkan pada Tuhan sendiri yang telah wafat dan bangkit untuk kita. Sebagai para pengikut-Nya, kita memercayai janji-janji-Nya, khususnya karunia Roh Kudus, dan berusaha setiap hari untuk hidup sesuai dengan panggilan kita. Kesabaran berjalan seiring dengan harapan, memberikan jalan maju yang mantap. Saat kita ditemani keduanya dalam perjalanan hidup, kita mengingat kemurahan dan kasih setia Allah. Hal ini membantu kita untuk tidak terjebak oleh nostalgia masa lalu, kesedihan atau keputusasaan. Dengan hati yang muda semoga kita, seperti Simeon dan Hana, bertekun dalam harapan. Bapa Suci sekarang akan menyapa kita dalam bahasa Italia.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Mei 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 5 Mei 2024 : DIBUTUHKAN PERSAHABATAN

Bacaan Injil hari ini menceritakan kepada kita Yesus yang berkata kepada para Rasul, “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, namun sahabat” (bdk. Yoh 15:15). Apa artinya ini?

 

Dalam Kitab Suci “hamba-hamba” Allah adalah orang-orang istimewa, yang Ia percayakan perutusan penting, misalnya Musa (bdk. Kel 14:31), Raja Daud (bdk. 2Sam 7:8), nabi Elia (bdk. 1Raj 18:36), hingga Perawan Maria (bdk. Luk 1:38). Mereka adalah orang-orang yang tangannya menjadi tempat Allah menaruh harta-Nya (bdk. Mat 25:21). Namun semua ini tidak cukup, menurut Yesus, mengatakan siapa kita yang sesungguhnya bagi Dia, tidak cukup: Ia menginginkan lebih, sesuatu yang lebih besar, yang melampaui kebaikan dan rencana mereka: dibutuhkan persahabatan.

 

Sejak masa kanak-kanak kita belajar betapa indahnya pengalaman ini: kita memberikan mainan dan hadiah terindah kepada sahabat-sahabat kita; kemudian, saat tumbuh dewasa, sebagai remaja, kita menceritakan rahasia pertama kita kepada mereka; sebagai generasi muda kita memberikan kesetiaan; sebagai orang dewasa kita ambil bagian dalam kepuasan dan kekhawatiran; sebagai orang dewasa kita ambil bagian dalam kenangan, pertimbangan dan keheningan hari-hari yang panjang. Sabda Allah dalam Kitab Amsal mengatakan kepada kita bahwa “minyak dan wangi-wangian menyukakan hati" (27:9), dan manisnya seorang sahabat timbul dari nasihatnya yang sungguh-sungguh. Marilah kita memikirkan sejenak sahabat-sahabat kita, dan bersyukurlah kepada Tuhan atas mereka! Sebuah ruang untuk memikirkan mereka…

 

Persahabatan bukan hasil perhitungan atau paksaan: persahabatan lahir secara spontan ketika kita mengenali sesuatu dalam diri orang lain. Dan jika benar, sebuah persahabatan begitu kuat sehingga tidak akan putus meski menghadapi pengkhianatan. “Seorang sahabat mengasihi setiap waktu” (Ams 17:17) – sekali lagi dinyatakan dalam Kitab Amsal – sebagaimana ditunjukkan Yesus kepada kita ketika Ia berkata kepada Yudas, yang mengkhianati-Nya dengan ciuman: “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” (Mat 26:50). Seorang sahabat sejati tidak akan meninggalkanmu, bahkan ketika kamu berbuat salah: ia mengoreksimu, mungkin ia mencelamu, tetapi ia mengampunimu dan tidak meninggalkanmu.

Dan hari ini Yesus, dalam Kitab Suci, mengatakan kepada kita bahwa bagi Dia kita adalah orang-orang terkasih yang melampaui segala kelayakan dan harapan, yang Ia ulurkan tangan-Nya dan tawarkan kasih-Nya, Rahmat-Nya, sabda-Nya; dengan mereka – dengan kita, sang sahabat – Ia berbagi apa yang paling dikasihi-Nya, segala sesuatu yang telah Ia dengar dari Bapa (bdk. Yoh 15:15). Bahkan sampai menjadikan diri-Nya rapuh demi kita, menyerahkan diri-Nya ke dalam tangan kita tanpa pembelaan atau kepura-puraan, karena Ia mengasihi kita. Tuhan mengasihi kita, sebagai sahabat Ia menginginkan kebaikan kita dan Ia ingin kita berbagi kebaikan-Nya.

 

Maka marilah kita bertanya pada diri kita: wajah apa yang Tuhan dapati dalam diriku? Wajah sahabat atau wajah orang asing? Apakah aku merasa dikasihi oleh-Nya sebagai orang yang disayangi? Dan wajah Yesus apa yang kutunjukkan kepada orang lain, terutama kepada mereka yang bersalah dan membutuhkan pengampunan?

 

Semoga Maria membantu kita bertumbuh dalam persahabatan dengan Putranya dan menyebarkannya ke sekeliling kita.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Dengan penuh kasih sayang saya menyampaikan selamat kepada saudara-saudari Gereja-gereja Ortodoks dan beberapa Gereja Katolik Timur yang hari ini, menurut Kalender Julian, merayakan Paskah Suci. Semoga Tuhan yang bangkit memenuhi segenap komunitas dengan sukacita dan kedamaian, serta menghibur mereka yang menghadapi kesulitan. Kepada mereka, selamat Paskah!

 

Saya mendoakan penduduk Negara Bagian Rio Grande do Sul, Brasil, yang dilanda banjir besar. Semoga Tuhan berkenan menerima orang-orang yang meninggal dan menghibur kerabat mereka serta orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

 

Dan tolong, teruslah mendoakan Ukraina yang tersiksa – negara ini sangat menderita! – dan juga Palestina dan Israel, agar keduanya bisa berdamai, agar dialog bisa diperkuat dan membuahkan hasil yang baik. Tidak untuk perang, ya untuk dialog!

 

Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 5 Mei 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 1 Mei 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG KEBURUKAN DAN KEBAJIKAN (BAGIAN 17 : PERJUANGAN ROHANI) : IMAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini saya ingin berbicara tentang kebajikan iman. Bersama dengan kasih dan harapan, kebajikan ini digambarkan sebagai kebajikan ilahi. Ada tiga kebajikan ilahi: iman, harapan, dan kasih. Mengapa ketiganya ilahi? Karena ketiganya dapat dijalani – kebajikan, ketiga ketiga kebajikan ini – hanya berkat karunia Allah. Ketiga kebajikan ilahi ini merupakan karunia besar yang diberikan Allah kepada kapasitas moral kita. Tanpa ketiganya, kita bisa menjadi bijaksana, layak, kuat dan ugahari, tetapi kita tidak dapat memiliki mata yang melihat bahkan dalam kegelapan, kita tidak dapat memiliki hati yang mengasihi bahkan ketika tidak dikasihi, kita tidak dapat memiliki harapan yang berani melawan segenap harapan.

 

Apakah iman? Pertanyaan ini: apakah iman? Katekismus Gereja Katolik mengatakan, menjelaskan bahwa iman adalah tindakan di mana manusia secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah (1814). Dalam iman ini, Abraham adalah bapa yang besar. Ketika ia setuju untuk meninggalkan tanah leluhurnya guna menuju tanah yang akan ditunjukkan Allah kepadanya, ia mungkin akan dianggap gila: mengapa meninggalkan yang diketahui untuk yang tidak diketahui, yang pasti untuk yang tidak pasti? Tetapi mengapa melakukan ini? Ini gila, bukan? Namun Abraham berangkat, seolah-olah ia bisa melihat yang tidak kasat mata: inilah yang dikatakan Kitab Suci tentang Abraham. “Ia pergi, tidak tahu ke mana ia harus pergi”. Ini indah. Dan lagi-lagi yang tidak kasat mata itulah yang membuatnya naik gunung bersama putranya Ishak, putra tunggal perjanjian, yang hanya di saat-saat terakhir akan terhindar dari pengurbanan. Dalam iman ini, Abraham menjadi bapa dari garis keturunan yang panjang. Iman membuatnya berbuah.

 

Musa adalah seorang yang beriman ketika, menyambut suara Allah bahkan melebihi satu keraguan yang dapat menggoncangkannya, ia terus berdiri teguh dan percaya kepada Tuhan, dan bahkan membela orang-orang yang seringkali kurang beriman.

 

Perawan Maria adalah seorang perempuan yang beriman ketika, menerima kabar gembira Malaikat, yang oleh banyak orang dianggap terlalu menuntut dan berisiko, ia menjawab, “Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Dan, dengan hatinya yang penuh iman, dengan hatinya yang penuh rasa percaya kepada Allah, Maria menempuh jalan yang tidak diketahuinya baik rute maupun bahayanya.

 

Iman adalah kebajikan yang menjadikan seorang kristiani. Sebab menjadi umat Kristiani bukan pertama-tama menerima suatu budaya, dengan nilai-nilai yang menyertainya, namun menjadi umat kristiani adalah menyambut dan menjunjung tinggi ikatan, ikatan dengan Allah: Allah dan aku, diriku dan wajah Yesus yang ramah. Ikatan inilah yang menjadikan kita umat kristiani.

 

Berkenaan dengan iman, sebuah perikop Injil terlintas dalam pikiran. Murid-murid Yesus sedang menyeberangi danau dan dikejutkan oleh badai. Mereka berpikir mereka dapat bertahan hidup dengan kekuatan tangan mereka, dengan sumber daya pengalaman mereka, namun perahu mulai penuh dengan air dan mereka dilanda kepanikan (bdk. Mrk 4:35-41). Mereka tidak menyadari bahwa solusinya ada di depan mata mereka: Yesus ada bersama mereka di atas perahu, di tengah topan yang dahsyat sekali, dan Yesus “sedang tidur”, kata Injil. Ketika mereka akhirnya membangunkan-Nya, karena takut dan bahkan marah karena Ia akan membiarkan mereka mati, Yesus menegur mereka, “Mengapa kamu ketakutan? ABelumkah kamu percaya?” (Mrk 4:40).

 

Inilah musuh besar iman: bukan kecerdasan, juga bukan akal budi, seperti yang sayangnya terus diulang-ulang oleh beberapa orang secara menghantui; tetapi musuh besar ketakutan. Oleh karena itu, iman adalah karunia pertama yang harus kita sambut dalam kehidupan kristiani: karunia yang harus kita sambut dan mohon setiap hari, agar dapat diperbarui dalam diri kita. Iman tampaknya merupakan karunia kecil, namun sangat penting. Ketika kita dibawa ke kolam pembaptisan, kedua orang tua kita, setelah mengumumkan nama yang mereka pilih untuk kita, ditanya oleh imam – hal ini terjadi pada saat kita dibaptis, “Apa yang kamu mohon dari Gereja Allah?” Dan kedua orang tua kita menjawab, “Iman, baptisan!”.

 

Bagi para orang tua kristiani, menyadari karunia yang telah diberikan kepada mereka, itulah karunia yang juga harus dimohonkan kepada anak mereka: iman. Dengan iman, kedua orang tua tahu, meski di tengah cobaan hidup, anak mereka tidak akan tenggelam dalam ketakutan. Lihat, musuh adalah ketakutan. Mereka juga mengetahui bahwa ketika seorang anak tidak lagi memiliki orang tua di dunia ini, ia akan tetap memiliki Allah Bapa di surga, yang tidak akan pernah meninggalkannya. Kasih kita begitu rapuh, dan hanya kasih Allah yang bisa mengalahkan kematian.

 

Tentu saja, sebagaimana dikatakan Rasul Paulus, iman bukan untuk semua orang (bdk. 2 Tes 3:2), dan kita juga, sebagai orang percaya, sering kali menyadari bahwa persediaan kita hanya sedikit. Seringkali Yesus menegur kita, seperti yang Ia lakukan terhadap murid-murid-Nya, karena kita adalah “orang yang kurang beriman”. Namun iman adalah karunia yang paling membahagiakan, satu-satunya kebajikan yang boleh membuat kita iri. Karena mereka yang beriman dihuni oleh suatu kekuatan yang bukan hanya manusiawi; memang, iman “memicu” kasih karunia dalam diri kita dan membuka pikiran terhadap misteri Allah. Sebagaimana pernah dikatakan Yesus, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini : Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu” (Luk 17:6). Oleh karena itu, marilah kita juga, seperti para murid, mengulangi kepada-Nya, Tuhan, tambahkanlah iman kami! (Luk 17:5). Sebuah doa yang indah! Bisakah kita semua mengucapkannya bersama-sama? “Tuhan, tambahkanlah iman kami!”. Marilah kita ucapkan bersama-sama [semuanya] “Tuhan, tambahkanlah iman kami!”. Terlalu pelan… sedikit lebih keras: [semuanya] “Tuhan, tambahkanlah iman kami!”! Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Finlandia, Malta, Belanda, Norwegia, Uganda, India, Malaysia, Kanada dan Amerika Serikat. Saya juga ingin mengungkapkan kepada rakyat Kenya kedekatan rohani saya saat ini karena banjir besar telah secara tragis merenggut nyawa banyak saudara dan saudari kita, melukai orang-orang lainnya dan menyebabkan kehancuran yang luas. Saya mengajakmu untuk mendoakan semua yang terkena dampak bencana alam ini. Bahkan di tengah kesulitan, kita mengingat sukacita Kristus yang telah bangkit, dan saya memohonkan atasmu dan keluargamu kerahiman Allah Bapa kita yang penuh kasih. Semoga Tuhan memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese lanjutan kita tentang kebajikan-kebajikan ilahi, yang mempersatukan kita dengan Allah dan memperkuat kebajikan-kebajikan moral, kita sekarang beralih kepada iman. Katekismus menyatakan bahwa oleh iman kita percaya akan Allah dan segala sesuatu yang telah Ia wahyukan kepada kita, dan secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada-Nya (bdk. No. 1814). Dalam seluruh Kitab Suci, kita menemukan contoh-contoh yang mengharukan tentang hal ini yang terwujud dalam kehidupan orang-orang seperti Abraham, Musa dan Santa Perawan Maria, yang memulai jalan yang belum terpetakan dan penuh bahaya dengan mempercayakan diri mereka sepenuhnya kepada Allah. Namun bahkan di antara orang-orang beriman, ada kalanya iman bisa goyah dan ketakutan semakin menguasai. Ingatlah bahwa iman adalah karunia, karunia yang harus dimohonkan dengan keyakinan akan kuasa kasih karunia Allah yang memberikan kestabilan dan kekuatan dalam hidup kita. Seperti murid-murid dalam perahu, yang diterpa topan yang dahsyat sekali di danau, marilah kita berpaling kepada Yesus setiap hari dan memohon kepada-Nya: “Tuhan, tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:5).

______

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Mei 2024)