Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 12 Juni 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 3 : “SELURUH KITAB SUCI DIILHAMKAN ALLAH”. MENGENAL KASIH ALLAH MELALUI SABDA ALLAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, selamat datang!

 

Marilah kita lanjutkan katekese tentang Roh Kudus yang menuntun Gereja menuju Kristus, sang pengharapan kita. Ia adalah sang penuntun. Terakhir kita merenungkan karya Roh dalam penciptaan; hari ini kita akan melihatnya dalam pewahyuan, yang di dalamnya Kitab Suci merupakan kesaksian yang diilhamkan Allah dan berwibawa.

 

Surat Kedua Santo Paulus kepada Timotius berisi pernyataan ini: “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah” (3:16). Dan bagian lain dalam Perjanjian Baru mengatakan, “Oleh dorongan Roh Kudus, orang-orang berbicara atas nama Allah” (2Ptr ​​1:21). Ini adalah ajaran pengilhaman ilahi Kitab Suci, yang kita nyatakan sebagai klausula iman dalam Syahadat, ketika kita mengatakan bahwa Roh Kudus “bersabda dengan perantaraan para nabi”. Ilham ilahi Kitab Suci.

 

Roh Kudus, yang mengilhami Kitab Suci, juga menjelaskan dan menjadikannya hidup dan aktif selamanya. Dari terilhami, Ia menjadikan mereka mengilhami. Kitab Suci “diilhamkan Allah”, Konsili Vatikan II mengatakan, “dan sekali untuk selamanya telah dituliskan, serta tanpa perubahan mana pun menyampaikan sabda Allah sendiri, lagi pula mendengarkan suara Roh Kudus dalam sabda para nabi dan para Rasul” (21). Dengan cara ini Roh Kudus melanjutkan, di dalam Gereja, tindakan Yesus yang bangkit yang, setelah Paskah, “membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti Kitab Suci” (Luk 24:45).

 

Memang benar dapat terjadi suatu perikop Kitab Suci yang telah kita baca berkali-kali tanpa emosi tertentu, suatu hari ketika kita membacanya dalam suasana iman dan doa, kemudian tiba-tiba tercerahkan, berbicara kepada kita, menyoroti masalah yang sedang kita hadapi, memperjelas kehendak Allah bagi kita dalam situasi tertentu. Perubahan ini disebabkan oleh apa, jika bukan karena pencerahan Roh Kudus? Sabda Kitab Suci, di bawah tindakan Roh Kudus, menjadi bercahaya; dan dalam kasus-kasus tersebut, kita merasakan dengan tangan kita alangkah benarnya pernyataan dalam Surat kepada Orang Ibrani: “Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun” (4:12).

 

Saudara-saudari, Gereja dibina melalui bacaan rohani Kitab Suci, yaitu dengan membacanya di bawah bimbingan Roh Kudus yang mengilhaminya. Bagaikan mercusuar yang menerangi segala sesuatu, pusatnya terletak pada peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus, yang menggenapi rencana keselamatan, mewujudkan segala gambaran dan nubuat, mengungkap segala misteri yang tersembunyi dan menawarkan kunci yang sebenarnya dalam membaca seluruh Kitab Suci. Wafat dan kebangkitan Kristus adalah mercusuar yang menerangi seluruh Kitab Suci, dan juga menerangi kehidupan. Kitab Wahyu menggambarkan semua ini dengan gambaran Anak Domba yang membuka gulungan kitab “yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeteraikan dengan tujuh meterai” (bdk. 5:1-9), yaitu Kitab Suci Perjanjian Lama. Gereja, Sang Mempelai Kristus, adalah penafsir resmi teks Kitab Suci yang diilhamkan; Gereja adalah perantara pewartaannya yang otentik. Karena Gereja dikaruniai Roh Kudus – itulah sebabnya Gereja menjadi penafsirnya – Gereja adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran” (1Tim 3:15). Mengapa? Karena Gereja diilhamkan, diteguhkan oleh Roh Kudus. Dan tugas Gereja adalah membantu umat beriman dan mereka yang mencari kebenaran untuk menafsirkan teks-teks Kitab Suci dengan benar.

 

Salah satu cara melakukan pembacaan rohani berdasarkan sabda Allah adalah dengan cara yang disebut lectio divina, sebuah kata yang maknanya mungkin tidak kita pahami. Lectio divina berupa mendedikasikan waktu dalam sehari untuk membaca sebuah perikop Kitab Suci secara pribadi dan meditatif. Dan ini sangat penting: setiap hari, luangkan waktu untuk mendengarkan, merenungkan, membaca sebuah perikop Kitab Suci. Oleh karena itu, saya anjurkan agar kamu selalu memiliki Injil edisi saku dan menyimpannya di dalam tasmu, di sakumu… Jadi, ketika kamu sedang bepergian, atau mempunyai sedikit waktu luang, ambil dan bacalah. Ini sangat penting bagi kehidupan. Ambillah Injil saku dan sepanjang hari bacalah sekali, dua kali, bila kamu mempunyai kesempatan. Namun pembacaan rohani Kitab Suci yang hakiki adalah pembacaan bersama komunitas selama Liturgi Misa. Di sana, kita melihat bagaimana suatu peristiwa atau ajaran, yang diberikan Perjanjian Lama, terungkap sepenuhnya dalam Injil Kristus. Dan homili, ulasan oleh selebran, harus membantu mentransfer Sabda Allah dari kitab ke dalam kehidupan. Justru karena itulah homili harus singkat: sebuah gambaran, sebuah pemikiran dan sebuah kepekaan perasaan. Homili tidak boleh berlangsung lebih dari delapan menit, karena setelah itu, lama kelamaan perhatian hilang dan umat tertidur, dan mereka tidak salah. Homili harus seperti itu. Dan saya ingin mengatakan hal ini kepada para imam, yang banyak berbicara, sangat sering, dan kita tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Homili singkat: sebuah pemikiran, sebuah kepekaan perasaan dan isyarat untuk bertindak, tentang apa yang harus dilakukan. Tidak lebih dari delapan menit. Sebab homili harus membantu mentransfer Sabda Allah dari kitab ke dalam kehidupan. Dan di antara sekian banyak Sabda Allah yang kita dengar setiap hari dalam Misa atau Liturgi Harian, selalu ada satu yang ditujukan khusus untuk kita. Sesuatu yang menyentuh hati. Disambut dalam hati, dapat menerangi hari kita dan mengihami doa kita. Sebuah pertanyaan yang tidak boleh dibiarkan jatuh ke telinga yang tuli!

 

Marilah kita akhiri dengan sebuah pemikiran yang dapat membantu kita untuk jatuh cinta pada Sabda Allah. Seperti karya musik tertentu, Kitab Suci juga mempunyai nada dasar yang mengiringinya dari awal hingga akhir, dan nada ini adalah kasih Allah. ‘Seluruh Kitab Suci’, menurut pengamatan Santo Agustinus, “tidak lain hanyalah menceritakan kasih Allah”.[1] Dan Santo Gregorius Agung mendefinisikan Kitab Suci sebagai “surat dari Allah yang Mahaesa kepada ciptaan-Nya”, seperti surat dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan, dan menasihati kita untuk “mempelajari dan mengenal hati Allah dalam sabda-Nya.”[2] “Dengan wahyu itu”, Konsili Vatikan II kembali mengatakan, “Allah yang tidak kelihatan dari kelimpahan cinta kasih-Nya menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya, dan bergaul dengan mereka, untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka di dalamnya” (Dei Verbum, 2).

 

Saudara-saudari terkasih, teruslah membaca Kitab Suci! Namun jangan lupakan Injil saku: bawalah di tasmu, di sakumu, dan pada suatu saat selama hari itu, bacalah sebuah perikop. Dan ini akan membuatmu sangat dekat dengan Roh Kudus, yang ada di dalam Sabda Allah. Semoga Roh Kudus, yang mengilhamkan Kitab Suci dan sekarang memancar darinya, membantu kita memahami kasih Allah ini dalam situasi kehidupan nyata. Terima kasih.



[1]De catechizandis rudibus, I, 8, 4: PL 40, 319.

[2]Registrum Epistolarum, V, 46 (ed. Ewald-Hartmann, hlm. 345-346).

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Tiongkok, India, Indonesia, Filipina, dan Amerika Serikat. Saya memohonkan atasmu dan keluargamu sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Hari ini, dalam katekese lanjutan kita tentang Roh Kudus dan Sang Mempelai Perempuan, kita merenungkan tindakan Roh Kudus dalam pewahyuan Ilahi, khususnya dalam Kitab Suci. Allah, yang mengilhamkan Kitab Suci, pada gilirannya mengilhamkan Gereja, Mempelai Kristus, melalui sabda-Nya yang kudus, menjadikan Gereja sebagai penafsir yang berwibawa. Roh Kudus juga berkomunikasi dengan kita secara pribadi dalam kenyataan gerejawi ini, baik melalui lectio divina, yang merupakan pembacaan meditatif sebuah perikop Kitab Suci, atau yang terpenting, dalam Liturgi. Dalam situasi apa pun, selalu ada satu kata yang ditujukan khusus untuk kita. Seperti sebuah komposisi musik, Kitab Suci mengusung tema dasar, yang oleh Santo Agustinus dan Santo Gregorius Agung disebut kasih Allah. Semoga kita “belajar mengenal hati Allah melalui sabda Allah” dan memperkenankan sabda Allah memberikan kasih tersebut ke dalam kehidupan kita sehari-hari.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Juni 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 9 Juni 2024 : APAKAH AKU BEBAS SEPERTI KRISTUS ATAU TERPENJARA OLEH KEDUNIAWIAN?

Saudara-saudari terkasih, hari Minggu yang diberkati!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini (bdk. Mrk 3:20-35) memberitahu kita bahwa Yesus, setelah memulai pelayanan-Nya di muka umum, menghadapi dua reaksi: reaksi dari keluarga-Nya, yang khawatir dan takut Ia menjadi sedikit tidak waras, dan reaksi dari para pemuka agama, yang menuduh-Nya bertindak di bawah pengaruh roh jahat. Sesungguhnya, Yesus berkhotbah dan menyembuhkan orang sakit dengan kuasa Roh Kudus. Dan justru Roh Kuduslah yang menjadikan-Nya bebas secara ilahi, yaitu mampu mengasihi dan melayani tanpa batasan atau syarat. Yesus, bebas. Marilah kita berhenti sejenak untuk merenungkan kebebasan Yesus ini.

 

Yesus bebas sehubungan dengan kekayaan: oleh karena itu Ia meninggalkan keamanan desa-Nya, Nazaret, untuk menjalani kehidupan miskin yang penuh ketidakpastian (bdk. Mat 6:25-34), dengan bebas peduli terhadap orang sakit dan siapa pun yang datang memohon pertolongan kepada-Nya, tanpa pernah meminta imbalan apa pun (bdk. Mat 10:8). Inilah pelayanan Yesus yang tanpa pamrih. Dan juga setiap pelayanan yang tanpa pamrih.

 

Ia bebas sehubungan dengan kekuasaan: memang, meskipun mengajak banyak orang untuk mengikuti-Nya, Ia tidak pernah mewajibkan siapa pun untuk mengikuti-Nya, dan Ia juga tidak pernah mencari dukungan dari mereka yang berkuasa, bahkan tidak selalu memihak mereka yang berkuasa, mengajar murid-murid-Nya untuk melakukan hal yang sama, seperti yang telah Ia lakukan (bdk. Luk 22:25-27).

 

Pada akhirnya, Yesus bebas dari pencarian ketenaran dan pengakuan, dan karena alasan ini Ia tidak pernah berhenti menyampaikan kebenaran, bahkan sampai dipahami (bdk. Mrk 3:21), menjadi tidak populer, bahkan sampai wafat di kayu salib, tidak membiarkan diri-Nya diintimidasi, dibeli, atau dibinasakan oleh apa pun atau siapa pun (bdk. Mat 10:28).

 

Yesus adalah orang yang bebas. Ia bebas dalam menghadapi kekayaan, bebas dalam menghadapi kekuasaan, bebas dalam menghadapi pencarian ketenaran. Dan ini juga penting bagi kita. Memang benar, jika kita membiarkan diri kita dikondisikan oleh pencarian kesenangan, kekuasaan, uang atau kesepakatan, kita menjadi budak dari hal-hal tersebut. Sebaliknya jika kita membiarkan kasih Allah yang diberikan secara cuma-cuma memenuhi diri kita dan melapangkan hati kita, dan jika kita membiarkannya meluap secara spontan, dengan memberikannya kembali kepada orang lain, dengan segenap diri kita, tanpa rasa takut, perhitungan atau pengondisian, maka kita bertumbuh dalam kebebasan, dan juga menyebarkan keharumannya ke sekeliling kita.

 

Jadi kita bisa bertanya kepada diri kita: apakah aku orang yang bebas? Atau apakah aku membiarkan diriku terpenjara oleh mitos uang, kekuasaan dan kesuksesan, mengorbankan ketenangan dan kedamaianku, dan orang lain, demi hal-hal ini? Di tempat aku tinggal dan bekerja, apakah aku menyebarkan udara segar kebebasan, ketulusan dan spontanitas?

 

Semoga Perawan Maria membantu kita hidup dan mengasihiseperti yang diajarkan Yesus kepada kita, dalam kebebasan anak-anak Allah (bdk. Rm 8:15,20-23).

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Lusa, di Yordania, akan diadakan konferensi internasional mengenai situasi kemanusiaan di Gaza, yang diselenggarakan oleh Raja Yordania, Presiden Mesir dan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saya berterima kasih kepada mereka atas prakarsa penting ini, dan saya juga mendorong masyarakat internasional untuk segera bertindak, dengan segala cara, untuk memberikan bantuan kepada masyarakat Gaza, yang kelelahan akibat perang. Bantuan kemanusiaan harus bisa menjangkau mereka yang membutuhkan, dan tidak ada yang bisa mencegahnya.

 

Kemarin adalah peringatan sepuluh tahun seruan perdamaian di Vatikan, yang dihadiri oleh Presiden Israel, almarhum Shimon Peres, dan Presiden Palestina Abu Mazen. Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa bergandengan tangan mungkin dilakukan, dan dibutuhkan keberanian untuk mewujudkan perdamaian, lebih banyak keberanian daripada berperang. Oleh karena itu saya mendorong agar perundingan antarpihak tetap berjalan meskipun tidak mudah, dan saya berharap usulan perdamaian, gencatan senjata di semua lini dan pembebasan para sandera segera diterima demi kebaikan rakyat Palestina dan Israel.

 

Dan jangan lupakan rakyat Ukraina yang tersiksa, yang semakin mereka menderita, semakin mereka merindukan perdamaian. Saya menyapa kelompok Ukraina ini dengan bendera yang ada di sana. Kami dekat denganmu! Sebuah keinginan, inilah keinginan akan perdamaian, jadi saya mendorong segala upaya yang dilakukan agar perdamaian dapat dibangun sesegera mungkin, dengan bantuan internasional. Dan jangan lupakan Myanmar.

 

Saya menyapamu, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara, khususnya para guru dari Gimnasium “Santo Yohanes Paulus II” di Kyiv, Ukraina – Slava Isusu Khrystu! (Terpujilah Yesus Kristus) – yang saya dorong dalam misi mereka di masa sulit dan menyakitkan ini. Saya menyapa para guru dan siswa sekolah keuskupan “Cardenal Cisneros” di Keuskupan Sigüenza-Guadalajara Spanyol, serta umat Assemini, Cagliari, anak-anak Sekolah “Giovanni Prati” Padua, dan kaum muda dari Paroki Santo Ireneus Roma.

Saya menyampaikan kembali salam saya kepada paduan suara yang datang ke Roma dari seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam Pertemuan Paduan Suara Internasional IV. Para sahabat terkasih, dengan nyanyianmu kamu akan selalu mampu memuliakan Allah dan menularkan sukacita Injil!

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan tolong, jangan lupa mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Juni 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 5 Juni 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 2 : “ANGIN BERTIUP KE MANA IA MAU”. DI MANA ADA ROH TUHAN, DI SITU ADA KEMERDEKAAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam katekese hari ini, saya ingin merenungkan bersamamu sebutan Roh Kudus dalam Kitab Suci.

 

Hal pertama yang kita ketahui tentang seseorang adalah namanya. Dengan namanya kita memanggilnya, kita membedakannya, dan mengingatnya. Pribadi ketiga Tritunggal juga mempunyai nama: Ia disebut Roh Kudus. Tetapi “Roh” adalah versi Latinnya. Nama Roh, nama yang dikenal oleh para penerima wahyu perdana, yang dikenal oleh para nabi, pemazmur, Maria, Yesus, dan para Rasul memanggilnya, adalah Ruah, yang berarti nafas, angin, embusan udara.

 

Di dalam Kitab Suci, nama sangat penting sehingga hampir diidentikkan dengan orang itu sendiri. Menguduskan nama Allah berarti menguduskan dan menghormati Allah. Nama Allah tidak pernah sekadar sebutan konvensional: nama Allah selalu menyatakan sesuatu tentang orang tersebut, asal usulnya, atau perutusannya. Begitu pula dengan nama Ruh. Nama Ruah berupa pewahyuan dasariah perdana tentang sang Pribadi dan fungsi Roh Kudus.

 

Melalui mengamati angin dan wujudnya, para penulis Kitab Suci dituntun oleh Allah untuk menemukan “angin” yang ciri khasnya berbeda. Bukan suatu kebetulan bahwa pada hari Pentakosta Roh Kudus turun ke atas para Rasul disertai ‘tiupan angin keras’ (bdk. Kis 2:2). Seolah-olah Roh Kudus ingin membubuhkan tanda tangan-Nya atas apa yang sedang terjadi.

 

Kalau begitu, apa yang dikatakan nama-Nya, Ruah, kepada kita tentang Roh Kudus? Gambaran angin pertama-tama berfungsi untuk mengungkapkan kuasa Roh Kudus. “Roh dan kuasa” atau “kuasa Roh” adalah kombinasi yang berulang di seluruh Kitab Suci. Karena angin adalah kekuatan yang melanda, kekuatan yang tak tergoyahkan, bahkan mampu menggerakkan lautan.

 

Namun, sekali lagi, untuk menemukan makna sesungguhnya kenyataan Kitab Suci, kita tidak boleh berhenti pada Perjanjian Lama, namun datang kepada Yesus. Selain kuasa, Yesus juga akan menyoroti ciri khas angin lainnya: kebebasannya. Kepada Nikodemus, yang mengunjungi-Nya pada malam hari, Yesus berkata dengan sungguh-sungguh, “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh” (Yoh. 3:8).

 

Angin adalah satu-satunya hal yang sama sekali tidak dapat dikendalikan, tidak dapat “ditampung” atau dimasukkan ke dalam kotak. Kita berupaya untuk “menampung” angin atau memasukkannya ke dalam kotak: tidaklah mungkin. Gratis. Berpura-pura menyertakan Roh Kudus dalam konsep, definisi, tesis atau risalah, seperti yang kadang-kadang dicoba dilakukan oleh rasionalisme modern, berarti menghilangkannya, meniadakannya, atau mereduksinya menjadi roh yang murni manusiawi, menjadi roh yang sederhana. Namun, ada godaan serupa dalam lingkup gerejawi, yaitu keinginan memasukkan Roh Kudus ke dalam kanon, lembaga, definisi. Roh Kudus menciptakan dan menjiwai lembaga-lembaga, namun Ia sendiri tidak dapat “dilembagakan”, “diobyektifikasi”. Angin bertiup “ke mana ia mau,” demikianlah halnya dengan Roh membagikan karunia-karunia-Nya “seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Kor. 12:11).

 

Santo Paulus akan menjadikan hal ini sebagai hukum dasar tindakan Kristiani. “Di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kemerdekaan (2 Kor 3:17), katanya. Orang yang bebas, orang kristiani yang bebas, adalah orang yang memiliki Roh Tuhan. Ini adalah kebebasan yang sangat istimewa, sangat berbeda dari apa yang dipahami secara umum. Bukan kebebasan untuk melakukan apa yang kita kehendaki, namun kebebasan untuk secara bebas melakukan apa yang dikehendaki Allah! Bukan kebebasan berbuat baik atau jahat, melainkan kebebasan berbuat baik dan melakukannya dengan bebas, yaitu karena ketertarikan, bukan karena paksaan. Dengan kata lain, kebebasan anak-anak, bukan hamba.

 

Santo Paulus sangat menyadari penyalahgunaan atau kesalahpahaman yang dapat dilakukan terhadap kebebasan ini. Kepada jemaat di Galatia ia menulis, “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Namun, janganlah mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain dengan kasih” (Gal. 5:13). Ini adalah kebebasan yang mengungkapkan dirinya dalam apa yang tampak berkebalikan, kebebasan ini diungkapkan dalam pelayanan, dan dalam pelayanan adalah kebebasan sejati.

 

Kita tahu betul kapan kebebasan ini menjadi “kesempatan untuk hidup dalam dosa.” Paulus memberikan daftar yang selalu bersangkut-paut: “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, percekcokan, perpecahan, kedengkian, bermabuk-mabukan, pesta pora, dan sebagainya” (Gal 5:19-21). Demikian pula kebebasan yang memungkinkan yang kaya mengeksploitasi yang miskin, kebebasan buruk yang memungkinkan yang kuat mengeksploitasi yang lemah, dan setiap orang mengeksploitasi lingkungan tanpa mendapat hukuman. Dan ini adalah kebebasan yang buruk, bukan kebebasan Roh.

Saudara-saudari, dari manakah kita mendapatkan kebebasan Roh ini, yang sangat bertentangan dengan kebebasan orang yang mementingkan diri sendiri? Jawabannya ada dalam kata-kata yang diucapkan Yesus pada suatu hari kepada para pendengar-Nya: “Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (Yoh 8:36). Kebebasan yang diberikan Yesus kepada kita. Marilah kita memohon kepada Yesus untuk menjadikan kita, melalui Roh Kudus-Nya, pria dan wanita yang benar-benar merdeka. Bebas untuk melayani, dalam kasih dan sukacita. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Skotlandia, Belanda, Kamerun, Australia, Malaysia, Kanada dan Amerika Serikat. Atas kamu semua, dan atas keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Imbauan]

 

Kita sedang memasuki bulan yang didedikasikan untuk Hati Kudus.

 

Tanggal 27 Desember tahun lalu merupakan peringatan 350 tahun penampakan pertama Hati Kudus Yesus kepada Santa Margareta Maria Alacoque. Peristiwa itu menandai dimulainya periode perayaan yang akan berakhir pada 27 Juni tahun depan.

 

Inilah sebabnya mengapa saya dengan senang hati mempersiapkan sebuah dokumen yang menyatukan permenungan berharga dari teks-teks Magisterial terdahulu dan sejarah panjang yang berasal dari Kitab Suci, untuk mengusulkan kembali pada hari ini, kepada seluruh Gereja, devosi yang dijiwai keindahan spiritual. Saya percaya akan sangat bermanfaat bagi kita jika kita merenungkan berbagai aspek kasih Tuhan, yang dapat menerangi jalan pembaruan gerejawi; tetapi juga mengatakan sesuatu yang berarti bagi dunia yang sepertinya sudah kehilangan semangatnya.

 

Saya memintamu untuk menemani saya dalam doa, selama masa persiapan ini, dengan maksud agar dokumen ini dapat dipublikasikan pada bulan September mendatang.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari yang terkasih: Dalam katekese kita yang sedang berlangsung tentang Roh dan Sang Mempelai Perempuan, sekarang kita memusatkan perhatian kita pada nama Roh Kudus dalam Kitab Suci, Ruah dalam bahasa Ibrani adalah Ruah, yang berarti nafas, angin, atau roh. Nama ini menyoroti secara mendalam daya dan kebebasan Roh. Yesus menyerupakan Roh dengan angin yang bertiup ke mana ia mau, sehingga menekankan kebebasan Roh Kudus, yang tidak hanya mencipta dan mengilhami tetapi selalu tetap bebas, memberikan karunia-karunia-Nya “seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Kor. 12:11). Santo Paulus menegaskan hal ini, dengan menyatakan: “Tuhan adalah Roh, dan di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kemerdekaan” (2 Kor 3:17). Kebebasan ini diberikan kepada kita sebagai karunia agar kita bisa melakukan kehendak Allah, bukan sekadar menuruti kehendak pribadi. Di manakah kita bisa memperoleh kebebasan Roh ini, yang sangat bertentangan dengan roh egoisme? Jawabannya ada dalam perkataan Yesus kepada para pengikut-Nya: “Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (Yoh. 8:36). Marilah kita memohon kepada Yesus, melalui Roh Kudus-Nya, untuk membuat kita benar-benar bebas. Bebas untuk melayani dengan kasih dan sukacita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 5 Juni 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 2 Juni 2024 : EKARISTI MENJADIKAN KITA NABI DAN PEMBANGUN SEBUAH DUNIA BARU

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari ini, di Italia dan di negara-negara lain, kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Bacaan Injil liturgi hari ini menceritakan kepada kita tentang Perjamuan Terakhir (Mrk 14:12-26), di mana selama perjamuan tersebut Tuhan mengisyaratkan penyerahan: sebenarnya, dalam roti yang dipecah-pecahkan dan piala yang diberikan kepada para murid, Dialah yang menyerahkan diri-Nya bagi seluruh umat manusia, dan mempersembahkan diri-Nya bagi kehidupan dunia.

 

Dalam isyarat Yesus yang memecah-mecahkan roti itu, ada aspek penting yang ditekankan Bacaan Injil dengan kata-kata “Yesus memberikannya kepada mereka” (ayat 22). Marilah kita tanamkan kata-kata ini dalam hati kita: Yesus memberikannya kepada mereka. Memang benar, Ekaristi pertama-tama mengingatkan dimensi pemberian itu. Yesus mengambil roti bukan untuk dimakan sendiri, tetapi untuk dipecah-pecahkan dan diberikan kepada para murid, sehingga mengungkapkan jatidiri dan perutusan-Nya. Ia tidak mempertahankan hidup untuk diri-Nya sendiri, namun memberikannya kepada kita; Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan dengan kecemburuan, namun melepaskan diri-Nya dari kemuliaan-Nya untuk ambil bagian dalam kemanusiaan kita dan membiarkan kita memasuki kehidupan kekal (bdk. Flp 2:1-11). Yesus memberikan seluruh hidup-Nya sebagai anugerah. Marilah kita mengingat hal ini: Yesus memberikan seluruh hidup-Nya sebagai anugerah.

 

Maka marilah kita memahami bahwa merayakan Ekaristi dan menyantap Roti ini, seperti yang kita lakukan khususnya pada hari Minggu, bukanlah suatu tindakan ibadah yang terlepas dari kehidupan atau sekadar momen penghiburan pribadi; kita harus selalu ingat bahwa Yesus mengambil roti, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka dan, oleh karena itu, bersekutu dengan-Nya membuat kita juga mampu menjadi roti yang dipecah-pecahkan bagi orang lain, mampu membagikan diri kita apa adanya dan apa yang kita miliki. Santo Leo Agung mengatakan: ‘Keikutsertaan kita dalam tubuh dan darah Kristus cenderung membuat kita menjadi apa yang kita santap’ (Khotbah XII tentang Sengsara, 7).

 

Saudara-saudari, kita dipanggil untuk melakukan hal ini: menjadi apa yang kita santap, menjadi “Ekaristis”, yaitu menjadi orang-orang yang tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri (bdk. Rm 14:7), tidak, dalam nalar kepemilikan, nalar konsumsi, tidak, orang yang tahu bagaimana menjadikan hidupnya sebagai anugerah untuk orang lain, ya. Dengan cara ini, berkat Ekaristi, kita menjadi nabi dan pembangun sebuah dunia baru: ketika kita mengatasi keegoisan dan membuka diri terhadap kasih, ketika kita membina ikatan persaudaraan, ketika kita ikut serta dalam penderitaan saudara-saudari kita dan berbagi. roti dan sumber daya dengan mereka yang membutuhkan, ketika kita sedang menyediakan seluruh talenta kita, maka kita sedang memecah-mecahkan roti hidup kita seperti Yesus.

 

Saudara-saudari, marilah kita bertanya pada diri kita: apakah aku mempertahankan hidupku hanya untuk diriku sendiri, ataukah aku memberikannya seperti Yesus? Apakah aku menghabiskan diriku demi orang lain ataukah aku tertutup dalam diriku yang kecil? Dan, dalam situasi sehari-hari, apakah aku tahu cara berbagi, atau apakah aku selalu mengusahakan kepentinganku sendiri?

 

Semoga Perawan Maria, yang menyambut Yesus, roti yang turun dari surga, dan menyerahkan dirinya sepenuhnya bersama Dia, membantu kita juga untuk menjadi anugerah kasih, bersatu dengan Yesus dalam Ekaristi.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya mengajakmu untuk mendoakan Sudan, di mana perang yang telah berlangsung selama lebih dari setahun masih belum menemukan solusi damai. Semoga senjata-senjata dapat dibungkam dan, dengan komitmen dari pemerintah lokal dan komunitas internasional, bantuan dapat disalurkan kepada masyarakat dan banyak pengungsi; semoga para pengungsi Sudan mendapat sambutan dan perlindungan di negara-negara tetangga.

 

Dan kita jangan melupakan Ukraina yang tersiksa, Palestina, Israel, Myanmar. Saya mengimbau para pemimpin pemerintahan untuk menghentikan perluasan dan melakukan segala upaya dalam dialog dan negosiasi.

 

Saya menyapa para peziarah dari Roma dan berbagai penjuru Italia dan dunia, khususnya yang berasal dari Kroasia dan Madrid. Saya menyapa umat Bellizzi dan Iglesias, Pusat Kebudayaan “Luigi Padovese” Cucciago, para postulan Putri Oratorium, dan kelompok “Pedal bagi mereka yang tidak bisa mengayuh”, yang datang dengan bersepeda dari Faenza ke Roma.

 

Saya menyapa kaum muda Immacolata.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 2 Juni 2024)