Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Agustus 2024 : HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Dalam Bacaan Injil liturgi, kita merenungkan gadis belia dari Nazaret yang baru saja menerima kabar dari Malaikat, berangkat untuk mengunjungi sepupunya.

 

Ungkapan dalam Bacaan Injil ini indah: “berangkatlah Maria dan bergegas” (Luk 1:39). Artinya, Maria tidak menganggap berita yang diterimanya dari Malaikat sebagai keistimewaan, tetapi sebaliknya, ia meninggalkan rumah dan berangkat dengan tergesa-gesa seperti seorang yang ingin mewartakan sukacita itu kepada orang lain dan berkeinginan untuk melayani sepupunya. Pada kenyataannya, perjalanan pertama ini merupakan metafora untuk seluruh hidupnya, karena sejak saat itu, Maria akan selalu bergerak mengikuti Yesus sebagai murid Kerajaan. Dan, pada akhirnya, peziarahannya di bumi berujung dengan kenaikannya ke surga di mana, bersama dengan Putranya, ia menikmati sukacita hidup kekal selamanya.

 

Saudara-saudari, kita tidak boleh membayangkan Maria “sebagai patung lilin yang tidak bergerak,” tetapi dalam dirinya kita dapat melihat seorang “saudari... dengan sandal yang usang... dan dengan begitu banyak keletihan” (C. Carretto, Beata te che hai creduto, Roma 1983, hlm. 13), karena telah mengikuti Tuhan dan bertemu dengan saudara-saudari, mengakhiri perjalanannya dalam kemuliaan surga. Dengan cara ini, Santa Perawan adalah orang yang mendahului kita dalam perjalanan, mengingatkan kita semua bahwa hidup kita juga merupakan perjalanan yang berkesinambungan menuju cakrawala perjumpaan yang definitif. Marilah kita berdoa kepada Bunda Maria agar ia sudi membantu kita dalam perjalanan ini menuju perjumpaan dengan Tuhan..

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kepada Maria Sang Ratu Damai, yang kita renungkan hari ini dalam kemuliaan surga, saya ingin sekali lagi mempercayakan kecemasan dan kesedihan orang-orang di pelbagai belahan dunia yang menderita ketegangan sosial dan perang. Saya khususnya memikirkan Ukraina yang menjadi martir, Timur Tengah, Palestina, Israel, Sudan, dan Myanmar. Semoga Bunda surgawi kita menganugerahkan penghiburan bagi semua orang serta masa depan yang penuh ketenangan dan kerukunan!

 

Saya terus mengikuti dengan prihatin situasi kemanusiaan yang sangat serius di Gaza, dan sekali lagi saya menyerukan gencatan senjata di semua lini, pembebasan sandera, dan bantuan bagi penduduk yang kelelahan. Saya mendorong semua orang untuk melakukan segala upaya guna memastikan pertikaian tidak meningkat dan menempuh jalur negosiasi sehingga tragedi ini segera berakhir! Jangan kita lupa: perang adalah kekalahan.

 

Pikiran saya sekarang tertuju ke Yunani, yang dalam beberapa hari terakhir telah berjuang melawan kebakaran dahsyat yang terjadi di timur laut Athena. Puluhan ribu orang telah dievakuasi, banyak keluarga telah kehilangan tempat tinggal, ribuan orang menghadapi kesulitan yang mengerikan dan, selain kerusakan material yang sangat besar, bencana lingkungan sedang terjadi. Saya berdoa untuk para korban dan orang-orang terluka, saya memastikan kedekatan saya dengan semua orang yang menderita karena situasi serius ini, percaya bahwa mereka dapat dibantu dengan kesetiakawanan bersama.

 

Dan saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara, khususnya Pramuka AGESCI dari Cornedo Vicentino, dan kaum muda dari Immacolata. Saya berterima kasih atas kehadiran kalian. Saya mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Dan, mohon, saudara-saudariku, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat makan siang dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Agustus 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 Agustus 2024 : IMAN YANG BENAR TIDAK BERLANDASKAN PRASANGKA DAN ANGGAPAN

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil (Yoh 6:41-51) liturgi hari ini menceritakan kepada kita tentang reaksi orang-orang Yahudi terhadap pernyataan Yesus, yang berkata, "Aku telah turun dari surga" (Yoh 6:38). Mereka menjadi sangat terguncang.

 

Mereka bersungut-sungut di antara mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ayah ibu-Nya kita kenal? Bagaimana sekarang Ia dapat berkata: Aku telah turun dari surga?" (Yoh 6:42). Dan mereka bersungut-sungut seperti itu. Marilah kita perhatikan apa yang mereka katakan. Mereka yakin bahwa Yesus tidak mungkin datang dari surga, karena Ia adalah anak seorang tukang kayu serta ibu-Nya dan kaum kerabat-Nya adalah orang-orang biasa, orang-orang yang dikenal, rakyat jelata, seperti kebanyakan orang. "Bagaimana Allah dapat menyatakan diri-Nya dengan cara yang sangat biasa?", kata mereka. Iman mereka terhalang oleh prasangka mereka tentang asal-usul-Nya yang sederhana dan oleh karena itu mereka terhalang oleh anggapan bahwa mereka tidak perlu belajar apa pun dari-Nya. Prasangka dan anggapan, betapa banyak kerugian yang ditimbulkannya! Prasangka dan anggapan menghalangi dialog yang tulus, pertemuan saudara-saudari: waspadalah terhadap prasangka dan anggapan. Mereka memiliki pola pikir yang kaku, dan tidak ada ruang di hati mereka untuk apa yang tidak sesuai dengan mereka, untuk apa yang tidak dapat mereka katalogkan dan simpan di rak-rak berdebu di tempat penyimpanan mereka. Dan ini benar: sangat sering tempat penyimpanan kita tertutup rapat, berdebu, seperti buku-buku tua.

 

Namun mereka adalah orang-orang yang menaati hukum, yang memberi sedekah, yang menghormati puasa dan waktu-waktu berdoa. Memang, Kristus telah melakukan berbagai mukjizat (bdk. Yoh 2:1-11,4,43-54; 5:1-9; 6:1-25). Bagaimana mungkin semua ini tidak membantu mereka untuk mengenali Mesias di dalam Dia? Mengapa itu tidak membantu mereka? Karena mereka menjalankan praktik keagamaan mereka bukan untuk mendengarkan Tuhan, tetapi menemukan di dalam diri mereka peneguhan atas apa yang mereka pikirkan. Mereka tertutup terhadap Sabda Allah, dan mencari peneguhan atas pikiran mereka. Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa mereka bahkan tidak bersusah payah untuk meminta penjelasan kepada Yesus; mereka membatasi diri bersungut-sungut tentang Dia di antara mereka sendiri (bdk. Yoh 6:41), seolah-olah saling memastikan tentang apa yang mereka yakini, dan mereka menutup diri, mereka tertutup dalam benteng yang tidak dapat ditembus. Jadi, mereka tidak dapat percaya. Ketertutupan hati: alangkah besar bahayanya, alangkah besar bahayanya!

 

Marilah kita memperhatikan semua ini, karena kadang-kadang hal yang sama dapat terjadi pada kita juga, dalam kehidupan kita dan dalam doa kita: hal itu dapat terjadi pada kita, yaitu, alih-alih benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan kepada kita, kita memandang Dia dan sesama kita hanya untuk menegaskan apa yang kita pikirkan, menegaskan keyakinan kita, penilaian kita, yang merupakan prasangka. Tetapi cara menyapa Allah ini tidak membantu kita untuk berjumpa Allah, benar-benar berjumpa Dia, atau membuka diri kita terhadap karunia terang dan rahmat-Nya, bertumbuh dalam kebaikan, melakukan kehendak-Nya serta mengatasi kegagalan dan kesulitan.

 

Saudara-saudari, iman dan doa, ketika keduanya benar, membuka pikiran dan hati; keduanya tidak menutupnya. Ketika kamu mendapati seseorang yang pikirannya tertutup dalam doanya, iman dan doa tersebut tidak benar.

 

Marilah kita bertanya kepada diri kita: dalam kehidupan imanku, apakah aku mampu untuk benar-benar hening dalam diriku, dan mendengarkan Allah? Apakah aku bersedia untuk menyambut suara-Nya, melampaui pola pikirku, dan juga, dengan bantuan-Nya, mengatasi ketakutanku?

 

Semoga Maria membantu kita untuk mendengarkan dengan iman suara Tuhan, dan melakukan kehendak-Nya dengan berani.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Hari ini kita memperingati jatuhnya bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki. Seraya terus menyerahkan kepada Tuhan para korban peristiwa tersebut, dan seluruh perang, marilah kita kembali memanjatkan doa yang sungguh-sungguh untuk perdamaian, khususnya bagi Ukraina, Timur Tengah, Palestina, Israel, Sudan, dan Myanmar yang sedang dilanda masalah.

 

Hari ini adalah Pesta Santa Klara: saya menyampaikan pikiran penuh kasih sayang kepada seluruh Klaris, dan khususnya umat Vallegloria, yang telah menjalin persahabatan yang indah dengan saya.

 

Marilah kita juga berdoa bagi para korban kecelakaan pesawat yang tragis di Brasil.

 

Dan saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari Italia dan banyak negara, khususnya kelompok mahasiswa dari seminari kecil Bergamo, yang datang dengan berjalan kaki dari Asisi, dalam peziarahan selama beberapa hari. Apakah kamu lelah? Tidak? Bagus. Kamu baik-baik saja!

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua. Dan kepadamu, juga kaum muda Immacolata: selamat hari Minggu! Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya; kamu juga rakyat Brasil, yang dapat saya lihat dengan jelas. Kepada kamu semua, terima kasih! Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Agustus 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 7 Agustus 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 5 : MENJELMA BERKAT KARYA ROH KUDUS, DARI PERAWAN MARIA. BAGAIMANA YESUS DIKANDUNG DAN DILAHIRKAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dengan katekese hari ini, kita memasuki tahap kedua sejarah keselamatan. Setelah merenungkan Roh Kudus dalam karya Penciptaan, kita akan merenungkannya selama beberapa pekan dalam karya penebusan, yaitu karya Yesus Kristus. Maka, marilah kita beralih ke Perjanjian Baru, dan melihat Roh Kudus dalam Perjanjian Baru.

 

Tema hari ini adalah Roh Kudus dalam penjelmaan Sang Sabda. Dalam Injil Lukas, kita membaca: “Roh Kudus akan turun atasmu” – kepada Maria – “dan kuasa Allah Yang Maha Tinggi akan menaungi engkau” (1:35). Penginjil Matius menegaskan fakta dasariah ini yang menyangkut Maria dan Roh Kudus, dengan mengatakan bahwa Maria “didapati mengandung dari Roh Kudus” (1:18).

 

Gereja mengambil fakta yang diwahyukan ini dan segera menempatkannya di pusat lambang imannya. Dalam Konsili Ekumenis Konstantinopel, pada tahun 381 – yang mendefinisikan keilahian Roh Kudus – pasal ini dimasukkan ke dalam rumusan “Syahadat”. Oleh karena itu, ini merupakan fakta iman ekumenis, karena segenap umat kristiani bersama-sama mengakui lambang iman yang sama. Kesalehan Katolik, sejak dahulu kala, telah mengambil darinya salah satu doa hariannya, yaitu doa Malaikat Tuhan.

Pasal iman ini adalah landasan yang memampukan kita untuk berbicara tentang Maria sebagai mempelai yang paling mewakili, yang merupakan figur Gereja. Sungguh, Yesus, sebagaimana ditulis oleh Santo Leo Agung, “sama seperti Ia dilahirkan oleh Roh Kudus dari seorang ibu yang perawan, demikian pula Ia menjadikan Gereja, mempelai-Nya yang tak bercacat, berbuah dengan napas pemberi hidup dari Roh yang sama”.[1] Kesejajaran ini diambil dalam Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, yang mengatakan: “Sebab dalam iman dan ketaatan Maria melahirkan Putra Bapa sendiri di dunia, bukan karena mempercayai ular yang kuno itu, melainkan karena percaya akan utusan Allah ... Adapun Gereja sendiri, dengan merenungkan kesucian Santa Perawan yang penuh rahasia serta meneladan cinta kasihnya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dengan patuh, dengan menerima sabda Allah dengan setia pula, menjadi ibu juga. Sebab melalui pewartaan dan babtis, Gereja melahirkan bagi hidup baru yang kekal-abadi putra-putri yang dikandungnya dari Roh Kudus dan lahir dari Allah” (no. 63-64).


Marilah kita tutup dengan refleksi praktis bagi hidup kita, yang disarankan oleh penekanan Kitab Suci pada kata kerja “mengandung” dan “melahirkan”. Dalam nubuat Yesaya kita mendengar: “Sesungguhnya, perempuan muda itu mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki” (7:14), dan Malaikat berkata kepada Maria, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki” (Luk 1:31). Maria pertama-tama mengandung, lalu melahirkan Yesus: pertama-tama ia menyambut-Nya ke dalam dirinya, di dalam hatinya dan dagingnya, lalu ia melahirkan-Nya.

 

Hal ini terjadi pada Gereja: pertama-tama ia menyambut Sabda Allah, membiarkannya “berbicara dengan lembut kepadanya” (bdk. Hos 2:14), dan “mengisi perutnya” (bdk. Yeh 3:3), berdasarkan dua ungkapan biblis, dan kemudian ia melahirkannya dengan kehidupan dan pewartaannya. Operasi kedua tidak akan berhasil tanpa yang pertama.

 

Gereja juga, ketika dihadapkan dengan tugas-tugas yang berada di luar kekuatannya, secara spontan mengajukan pertanyaan yang sama: "Bagaimana ini mungkin?". Bagaimana mungkin untuk mewartakan Yesus Kristus dan keselamatan-Nya kepada dunia yang tampaknya hanya mencari kesejahteraan? Jawabannya juga sama seperti saat itu: "Kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atasmu" (Kis 1:8). Tanpa Roh Kudus, Gereja tidak dapat bergerak maju, Gereja tidak bertumbuh, Gereja tidak dapat mewartakan.

 

Apa yang dikatakan tentang Gereja secara umum juga berlaku bagi kita, bagi setiap orang yang telah dibaptis. Kita semua terkadang menemukan diri kita, dalam kehidupan, dalam situasi yang berada di luar kekuatan kita dan bertanya pada diri sendiri: "Bagaimana aku dapat mengatasi situasi ini?". Dalam kasus seperti itu, ada baiknya untuk mengulangi bagi diri kita apa yang dikatakan malaikat kepada Perawan Maria: "Bagi Allah tidak ada yang mustahil" (Luk 1:37).

 

Saudara-saudari, marilah kita juga, setiap saat, melanjutkan perjalanan kita dengan keyakinan yang menenangkan ini di dalam hati kita: "Bagi Allah tidak ada yang mustahil". Dan jika kita percaya ini, kita akan menunjukkan mukjizat-mukjizat. Bagi Allah tidak ada yang mustahil. Terima kasih.

 

[Imbauan]

Saya terus mengikuti situasi di Timur Tengah dengan penuh keprihatinan, dan saya tegaskan kembali permohonan saya kepada semua pihak yang terlibat agar pertikaian tidak meluas, dan agar segera ada gencatan senjata di semua lini, dimulai dengan Gaza, di mana situasi kemanusiaan sangat serius dan tidak berkelanjutan. Saya berdoa agar pengupayaan perdamaian yang tulus dapat memadamkan pertikaian, cinta dapat mengalahkan kebencian, dan dendam dapat dilucuti oleh pengampunan.


Saya memintamu untuk bergabung dalam doa saya juga untuk Ukraina, Myanmar, Sudan yang tersiksa: semoga penduduk yang dilanda perang ini segera menemukan kedamaian yang mereka dambakan.

 

Marilah kita satukan upaya dan doa kita agar tidak ada diskriminasi etnis di wilayah Pakistan dan Afghanistan, dan terutama diskriminasi terhadap perempuan.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang berasal dari Irlandia. Saya memohonkan atasmu dan keluargamu sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Dengan katekese hari ini, kita mulai merenungkan peran Roh Kudus dalam penebusan kita. Konsili Ekumenis awal yang memberi kita Syahadat Nicea menegaskan keilahian Roh Kudus dan karya-Nya dalam penjelmaan. Sementara semua umat kristiani mengakui syahadat ini, devosi Katolik lebih jauh mengungkapkan imannya dalam doa favorit, doa Malaikat Tuhan. Maria dipahami sebagai Mempelai Roh dan karenanya, menggambarkan Gereja, sebuah ajaran yang telah dipertahankan dari masa lalu hingga saat ini. Dengan menerima dan ambil bagian dalam Sabda Allah, setiap umat kristiani, terlepas dari tantangan hidup, dapat mengalami, seperti Gereja, apa yang dilakukan Roh Kudus bagi seluruh Gereja, karena seperti yang dikatakan malaikat kepada Maria, "Bagi Allah
tidak ada yang mustahil."

______

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Agustus 2024)



[1]Khotbah ke-12 tentang Sengsara, 3, 6: PL 54, 356.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 4 Agustus 2024 : SARANA KASIH

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini menceritakan kepada kita tentang Yesus yang, setelah mengadakan mukjizat roti dan ikan, mengundang orang banyak yang sedang mencari-Nya untuk merenungkan apa yang terjadi guna memahami maknanya (bdk. Yoh 6:24-35).

 

Mereka telah menyantap makanan yang dibagikan dan melihat bagaimana, bahkan dengan sedikit sumber daya, semua orang telah diberi makan dan merasa cukup berkat kemurahan hati dan keberanian seorang anak yang menyediakan apa yang dimilikinya bagi orang lain (bdk. Yoh 6:1-13). Tandanya jelas: jika setiap orang memberi kepada orang lain apa yang mereka miliki, dengan pertolongan Allah, bahkan sekalipun sedikit, setiap orang dapat memiliki sesuatu. Janganlah kita lupakan hal ini: jika kita memberi kepada orang lain apa yang kita miliki, dengan pertolongan Tuhan, bahkan sekalipun sedikit, setiap orang dapat memiliki sesuatu.

 

Orang banyak tidak mengerti: mereka mengira Yesus adalah seorang tukang sulap dan kembali mencari-Nya, berharap Ia akan mengulangi mukjizat itu seolah-olah magis (bdk. ayat 26).

 

Mereka adalah pelaku utama dari sebuah pengalaman dalam perjalanan mereka, tetapi mereka tidak memahami maknanya: perhatian mereka hanya terfokus pada roti dan ikan, makanan yang langsung habis. Mereka tidak menyadari bahwa ini hanyalah sebuah sarana yang melaluinya Bapa, sambil memuaskan rasa lapar mereka, mengungkapkan sesuatu yang jauh lebih penting bagi mereka. Dan apa yang diungkapkan Bapa kepada mereka? Jalan hidup yang kekal dan rasa roti yang memuaskan tanpa batas. Singkatnya, roti yang sejati adalah Yesus, Putra-Nya terkasih yang menjadi manusia (bdk. ayat 35), yang datang untuk ambil bagian dalam kemiskinan kita yang melalui kita dituntun menuju sukacita persekutuan penuh dengan Allah dan dengan saudara-saudari kita (bdk. Yoh 3:16).

 

Hal-hal materi tidak memberikan kepenuhan hidup. Hal-hal tersebut membantu kita untuk berkembang dan penting, tetapi tidak memenuhi hidup kita. Hanya kasih yang dapat melakukan hal itu (bdk. Yoh 6:35). Dan agar hal ini terjadi, jalan yang harus ditempuh adalah kasih yang tidak menyimpan apa pun untuk dirinya sendiri, tetapi berbagi segalanya. Kasih berbagi segalanya.

 

Dan bukankah hal ini juga terjadi dalam keluarga kita? Kita dapat melihatnya. Marilah kita pikirkan para orang tua yang berjuang sepanjang hidup mereka untuk membesarkan anak-anak mereka dengan baik dan meninggalkan sesuatu bagi mereka untuk masa depan. Betapa indahnya ketika pesan ini dipahami, dan anak-anak bersyukur dan pada gilirannya menjadi saling mendukung layaknya saudara-saudari! Betapa menyedihkan, di sisi lain, ketika mereka memperebutkan warisan – saya telah melihat begitu banyak kasus dan itu menyedihkan – dan mereka saling bertengkar dan mungkin mereka tidak saling berbicara selama bertahun-tahun! Pesan seorang ayah dan seorang ibu, warisan mereka yang paling berharga, bukanlah uang. Pesan mereka adalah kasih yang dengannya mereka memberikan kepada anak-anak mereka segala yang mereka miliki, sebagaimana yang dilakukan Allah kepada kita, dan dengan cara ini, mereka mengajar kita untuk mengasihi.

 

Marilah kita bertanya kepada diri kita, lalu: hubungan seperti apa yang kumiliki dengan hal-hal materi? Apakah aku menjadi hamba mereka, atau apakah aku menggunakannya secara bebas sebagai sarana untuk memberi dan menerima kasih? Apakah aku mampu mengucapkan "terima kasih" kepada Allah dan saudara-saudariku atas karunia yang telah kuterima. Dan apakah aku tahu bagaimana membagikannya kepada orang lain? Semoga Maria, yang memberikan seluruh hidupnya bagi Yesus, mengajarkan kita untuk menjadikan segala sesuatu sebagai sarana kasih.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Jumat lalu di Bkerke, Lebanon, Patriark Estephan El Douaihy dibeatifikasi. Ia memimpin Gereja Maronit dengan bijaksana dari tahun 1670 hingga 1704 selama masa sulit yang juga ditandai oleh penganiayaan. Sebagai guru iman dan gembala yang penuh perhatian, ia adalah saksi harapan yang selalu dekat dengan umatnya. Bahkan saat ini, rakyat Lebanon sangat menderita! Secara khusus, saya memikirkan keluarga korban ledakan di Pelabuhan Beirut. Saya berharap keadilan dan kebenaran akan segera ditegakkan. Semoga beato yang baru menopang iman dan harapan Gereja di Lebanon, serta menjadi perantara bagi negara tercinta ini. Marilah kita bertepuk tangan untuk beato yang baru!

 

Saya mengikuti dengan penuh perhatian apa yang sedang terjadi di Timur Tengah, dan saya berharap pertikaian yang sudah sangat berdarah dan penuh kekerasan itu tidak akan menyebar lebih jauh. Saya berdoa untuk semua korban, terutama anak-anak yang tidak bersalah, dan menyampaikan simpati saya kepada komunitas Druze di Tanah Suci serta penduduk Palestina, Israel, dan Lebanon. Jangan lupakan Myanmar. Marilah kita memiliki keberanian untuk melanjutkan dialog sehingga segera terjadi gencatan senjata di Gaza dan di semua lini, para sandera dibebaskan, dan rakyat ditolong dengan bantuan kemanusiaan. Serangan, bahkan yang ditargetkan, dan pembunuhan tidak akan pernah bisa menjadi solusi. Semua itu tidak membantu untuk berjalan di jalan keadilan, jalan perdamaian, tetapi malah menimbulkan lebih banyak kebencian dan balas dendam. Cukup, saudara-saudari! Cukup! Jangan mencekik sabda Allah Perdamaian, tetapi biarlah menjadi masa depan Tanah Suci, Timur Tengah, dan seluruh dunia! Perang adalah kekalahan!

 

Saya juga prihatin dengan Venezuela, yang sedang mengalami situasi kritis. Dengan sepenuh hati saya mengimbau semua pihak untuk mencari kebenaran, menahan diri, menghindari segala bentuk kekerasan, menyelesaikan pertikaian melalui dialog, mengutamakan kebaikan sejati rakyat dan bukan kepentingan pihak-pihak tertentu. Mari kita percayakan negara ini kepada perantaraan Bunda Maria Coromoto, yang sangat dicintai dan dihormati oleh rakyat Venezuela, dan kepada doa Beato José Gregorio Hernandez, yang kesaksiannya mempersatukan kita semua.

 

Saya menyampaikan rasa simpati saya kepada rakyat India, khususnya rakyat Kerala, yang dilanda hujan lebat, yang menyebabkan banyak tanah longsor, yang mengakibatkan hilangnya nyawa, banyaknya orang yang mengungsi, dan kerusakan yang parah. Saya mengajakmu untuk ikut berdoa bagi mereka yang telah kehilangan nyawa dan bagi semua yang terkena dampak bencana yang dahsyat ini.

 

Hari ini, pada peringatan Santo Gembala dari Ars, beberapa negara merayakan "pesta pastor paroki." Saya mengungkapkan kedekatan saya dan juga rasa terima kasih saya kepada semua pastor paroki yang dengan semangat dan kemurahan hati, terkadang di tengah banyak penderitaan, mempersembahkan diri mereka bagi Allah dan umat. Mari kita bertepuk tangan untuk para pastor paroki kita!

 

Saya menyapamu, umat Roma dan para peziarah dari Italia dan banyak negara, terutama kelompok dari Republik Ceska, para Sahabat Santa Ursula, umat beriman Chiusa Sclafani dan Siderno, kaum muda San Vito dei Normanni, kaum muda Paroki Sacro Cuore di Padua dan para pesepeda dari Sambuceto. Dengan sukacita saya menyampaikan salam kepada para peserta Festival I Kaum Muda Portugal yang diselenggarakan di Fatima. Kaum muda terkasih, saya melihat bahwa pengalaman antusias tahun lalu di Lisbon terus membuahkan hasil. Syukur kepada Allah! Saya berdoa untukmu dan mohon untuk mendoakan saya di Kapel Penampakan.

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu. Sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Agustus 2024)