Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 13 Oktober 2024 : HARTA MILIK YANG SESUNGGUHNYA

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini (Mrk 10:17-30) menceritakan kepada kita tentang seorang kaya yang berjumpa Yesus dan bertanya kepada-Nya, "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" (ayat 17). Yesus mengundangnya untuk meninggalkan segalanya dan mengikuti-Nya, tetapi orang itu, pergi, dengan sedih, sebab, sebagaimana dikatakan teks, "banyak harta miliknya" (ayat 23). Meninggalkan segalanya adalah hal yang harus dibayar.

 

Kita dapat melihat dua gerakan orang ini: pada awalnya ia berlari, pergi kepada Yesus; namun pada akhirnya, ia pergi dengan muka muram, ia pergi dengan sedih. Pertama, ia berlari menghampiri, dan kemudian ia pergi. Marilah kita mendalami hal ini.

 

Pertama-tama, orang ini berlari menghampiri Yesus. Seolah-olah ada sesuatu yang mendesak dalam hatinya: meskipun banyak harta miliknya, ia tidak merasa puas, batinnya merasa gelisah, ia sedang mencari kehidupan yang lebih penuh. Seperti yang sering dilakukan orang sakit dan orang kerasukan (lih. Mrk 3:10; 5:6), kita melihat hal ini dalam Bacaan Injil, sambil berlutut di kaki Sang Guru; ia kaya, tetapi membutuhkan penyembuhan. Ia kaya tetapi perlu disembuhkan. Yesus memandangnya dengan kasih (ayat 21); kemudian, Ia mengusulkan sebuah "terapi": menjual semua yang dimilikinya, memberikannya kepada orang miskin dan mengikuti-Nya. Namun, pada titik ini, muncul sebuah kesimpulan yang tak terduga: muka orang ini muram dan ia pergi! Begitu besar dan bersemangatnya keinginannya untuk bertemu Yesus; betapa dingin dan cepatnya perpisahannya.

 

Kita juga membawa dalam hati kita kebutuhan yang tak tertahankan akan kebahagiaan dan kehidupan yang penuh makna; Tetapi, kita dapat jatuh ke dalam khayalan berpikir bahwa jawabannya ditemukan dalam memiliki benda-benda dan jaminan duniawi. Sebaliknya, Yesus ingin membawa kita kembali ke kebenaran keinginan kita dan membuat kita menemukan bahwa, pada kenyataannya, kebaikan yang kita dambakan adalah Tuhan sendiri, kasih-Nya bagi kita dan kehidupan kekal yang dapat diberikan kepada kita oleh Dia dan hanya Dia. Harta milik yang sesungguhnya adalah dipandang dengan kasih oleh Tuhan – ini adalah harta milik yang luar biasa – dan, seperti yang dilakukan Yesus dengan orang itu, saling mengasihi dengan menjadikan hidup kita sebagai anugerah bagi sesama kita. Saudara-saudari, oleh karena itu, Yesus mengundang kita untuk mengambil risiko, "mengambil risiko kasih": menjual segalanya guna diberikan kepada orang miskin, yang berarti melepaskan diri kita dari kepentingan diri dan jaminan palsu, membuat diri kita memperhatikan mereka yang membutuhkan dan berbagi harta milik, bukan hanya benda-benda, tetapi diri kita apa adanya: talenta kita, persahabatan kita, waktu kita, dan sebagainya.

 

Saudara-saudari, orang kaya itu tidak mau mengambil risiko, mengambil risiko apa? Ia tidak mau mengambil risiko kasih, dan ia pergi dengan muka sedih. Bagaimana dengan kita? Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: kepada siapa hati kita melekat? Bagaimana kita memuaskan rasa lapar kita akan kehidupan dan kebahagiaan? Apakah kita tahu bagaimana berbagi dengan mereka yang miskin, dengan mereka yang sedang dalam kesulitan atau yang membutuhkan pendengaran, senyuman, perkataan untuk membantu mereka mendapatkan kembali harapan? Atau yang perlu didengarkan… Marilah kita ingat ini: harta milik yang sesungguhnya bukan benda-benda dunia ini, harta milik yang sesungguhnya adalah dikasihi Allah, dan belajar untuk mengasihi seperti Dia.

 

Dan sekarang marilah kita memohon perantaraan Perawan Maria, agar ia sudi membantu kita menemukan dalam diri Yesus harta milik kehidupan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya terus mengikuti dengan penuh keprihatinan apa yang sedang terjadi di Timur Tengah, dan saya sekali lagi meminta gencatan senjata segera di semua lini. Marilah kita menempuh jalur diplomasi dan dialog untuk mencapai perdamaian.

 

Saya dekat dengan seluruh penduduk yang terlibat, di Palestina, Israel, dan Lebanon, di mana saya meminta pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk dihormati. Saya mendoakan seluruh korban, mereka yang mengungsi, para sandera yang saya harap akan segera dibebaskan, dan saya berharap penderitaan besar yang tidak ada gunanya ini, yang ditimbulkan oleh kebencian dan balas dendam, dapat segera berakhir.

 

Saudara-saudari, perang adalah khayalan, perang adalah kekalahan: perang tidak akan pernah mengarah pada perdamaian, perang tidak akan pernah mengarah pada keamanan, perang adalah kekalahan bagi semua orang, terutama bagi mereka yang percaya diri bahwa mereka tak terkalahkan. Berhentilah, saya mohon!

 

Saya mengimbau agar warga Ukraina tidak dibiarkan mati kedinginan; hentikan serangan udara terhadap penduduk sipil, yang selalu menjadi korban paling parah. Hentikan pembunuhan terhadap orang-orang tak berdosa!

 

Saya sedang mengikuti situasi dramatis di Haiti, di mana kekerasan terus terjadi terhadap penduduk, yang terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari keamanan di tempat lain, di dalam dan luar negeri. Jangan pernah melupakan saudara-saudari Haiti kita. Saya meminta semua orang untuk berdoa agar segala bentuk kekerasan segera berakhir serta, dengan komitmen masyarakat internasional, terus berupaya membangun perdamaian dan rekonsiliasi di negara ini, dengan selalu membela martabat dan hak semua orang.

 

Saya menyapamu, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan banyak negara, khususnya Milisi Tak Bernoda yang didirikan oleh Santo Maximilian Kolbe, Paroki Resuttano, Paroki Caltanisetta, atlet Paralimpik Italia beserta pemandu dan asisten mereka, dan kelompok Pax Christi Internasional.

 

Saya sekali lagi menyapa para mahasiswa baru Kolese Urbanus, yang saya temui pagi ini.

 

Jumat depan, 18 Oktober, Yayasan “Bantuan untuk Gereja yang Sedang Menderita” akan menyelenggarakan prakarsa “Satu Juta Anak Berdoa Rosario untuk Perdamaian Dunia”. Terima kasih kepada semua anak laki-laki dan perempuan yang berpartisipasi! Marilah kita bergabung dengan mereka dan mempercayakan kepada perantaraan Bunda Maria – hari ini adalah peringatan penampakan terakhirnya di Fatima – marilah kita mempercayakan kepada perantaraan Bunda Maria Ukraina, Myanmar, Sudan dan penduduk lain yang tersiksa oleh karena perang serta segala bentuk kekerasan dan kesengsaraan.

 

Saya menyapa orang muda Immacolata, dan saya melihat bendera Polandia, Brasil, Argentina, Ekuador, dan Perancis… Saya menyapa kamu semua!

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semua orang. Jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 13 Oktober 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 9 Oktober 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 8 : MEREKA SEMUA DIPENUHI DENGAN ROH KUDUS» ROH KUDUS DALAM KISAH PARA RASUL

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam rangkaian katekese kita tentang Roh Kudus dan Gereja, hari ini kita akan merujuk pada Kitab Kisah Para Rasul.

 

Kisah turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta dimulai dengan uraian tentang beberapa tanda persiapan – tiupan angin keras dan lidah api – yang disimpulkan dengan penegasan bahwa “mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus” (Kis 2:4). Santo Lukas – yang menulis Kisah Para Rasul – menekankan bahwa Roh Kudus yang memastikan universalitas dan kesatuan Gereja. Dampak langsung “dipenuhi dengan Roh Kudus” yakni para Rasul “mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain”, dan keluar dari Ruang Atas untuk mewartakan Yesus Kristus kepada orang banyak (lih. Kis 2:4 dst.).

 

Dengan demikian, Lukas ingin menonjolkan misi universal Gereja, sebagai tanda persatuan baru di antara semua bangsa. Kita melihat Roh bekerja mempersatukan dengan dua cara. Di satu sisi, Ia menggerakkan Gereja keluar, sehingga Gereja dapat menyambut semakin banyak orang dan bangsa; di sisi lain, Ia mengumpulkan mereka di dalam untuk mempererat persatuan yang telah dicapai. Ia mengajar Gereja untuk berkembang dalam universalitas, dan mempererat persatuan. Universal dan satu: inilah misteri Gereja.

 

Kita melihat gerakan pertama dari dua gerakan – universalitas – dalam proses di Bab 10 Kitab Kisah Para Rasul, dalam kisah pertobatan Kornelius. Pada hari Pentakosta, para Rasul telah mewartakan Kristus kepada semua orang Yahudi dan para penganut hukum Musa, apa pun bangsa mereka. Diperlukan suatu “Pentakosta” lagi, yang sangat mirip dengan yang pertama, di rumah perwira Kornelius, untuk mendorong para Rasul memperluas cakrawala mereka dan merobohkan penghalang terakhir, yaitu penghalang antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi (lih. Kis 10-11).

 

Perluasan etnis ini disertai dengan perluasan geografis. Paulus – kita baca lagi dalam Kisah Para Rasul (lih. 16:6-10) – ingin mewartakan Injil di wilayah baru di Asia Kecil; tetapi tertulis bahwa “Roh Kudus mencegah mereka”; ia mencoba memasuki Bitinia, “tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka”. Kita segera menemukan alasan pencegahan Roh yang mengejutkan ini: pada malam berikutnya Rasul Paulus menerima penglihatan yang memerintahkannya masuk ke Makedonia. Dengan demikian Injil meninggalkan Asia dan memasuki Eropa.

 

Gerakan kedua Roh Kudus – yang menciptakan kesatuan – terlihat dalam tindakan dalam Bab 15 Kisah Para Rasul, dalam proses yang disebut Konsili Yerusalem. Masalahnya, bagaimana memastikan bahwa universalitas yang dicapai tidak membahayakan kesatuan Gereja. Roh Kudus tidak selalu menciptakan kesatuan secara tiba-tiba, dengan tindakan yang ajaib dan tegas, seperti pada hari Pentakosta. Ia juga melakukannya – dan dalam sebagian besar kasus – dengan karya yang cermat, menghargai waktu dan perbedaan manusia, melalui orang-orang dan lembaga-lembaga, doa dan konfrontasi. Dengan cara yang, kita katakan hari ini, sinodal. Memang, inilah yang terjadi di Konsili Yerusalem, mengenai masalah kewajiban Hukum Musa yang harus dikenakan kepada mereka yang bertobat dari paganisme. Solusinya diumumkan kepada seluruh Gereja, dengan kata-kata yang terkenal: “Sebab, adalah keputusan Roh Kudus dan kami…” (Kis 15:28).

 

Santo Agustinus menjelaskan kesatuan yang dicapai oleh Roh Kudus dengan sebuah gambaran, yang telah menjadi klasik: “Jiwa menyatu dengan tubuh manusia sebagaimana Roh Kudus menyatu dengan tubuh Kristus, yaitu Gereja”[1]. Gambaran tersebut membantu kita memahami sesuatu yang penting. Roh Kudus tidak menciptakan kesatuan Gereja dari luar; Ia tidak membatasi diri-Nya untuk memerintahkan kita bersatu. Ia sendiri adalah “ikatan persatuan”. Dialah yang menciptakan kesatuan Gereja.

 

Sebagaimana biasanya, kita akan menutup dengan sebuah pemikiran yang membantu kita untuk beralih dari Gereja secara keseluruhan kepada kita masing-masing. Kesatuan Gereja adalah kesatuan di antara umat dan tidak dicapai di atas papan gambar, tetapi dalam kehidupan. Kesatuan Gereja dilaksanakan dalam kehidupan. Kita semua menginginkan kesatuan, kita semua menginginkannya dari lubuk hati kita; namun hal itu sangat sulit untuk dicapai sehingga, bahkan dalam perkawinan dan keluarga, persatuan dan kerukunan merupakan salah satu hal yang paling sulit untuk dicapai dan bahkan lebih sulit untuk dipertahankan.

 

Alasan mengapa persatuan di antara kita sulit dicapai adalah karena, ya, setiap orang menginginkan persatuan, tetapi berdasarkan sudut pandang masing-masing, tanpa mempertimbangkan bahwa orang lain di hadapannya berpikir persis sama tentang sudut pandangnya sendiri. Dengan cara ini, persatuan menjadi semakin sulit dipahami. Kehidupan persatuan, persatuan Pentakosta, menurut Roh, tercapai ketika kita berupaya menempatkan Allah, bukan dirinya sendiri, di pusat. Persatuan kristiani juga dibangun dengan cara ini: tidak menunggu orang lain menjangkau kita di tempat kita berada, tetapi bergerak bersama menuju Kristus.

 

Marilah kita memohon Roh Kudus untuk membantu kita menjadi sarana persatuan dan perdamaian.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris, khususnya mereka yang datang dari Inggris, Skotlandia, Denmark, Yunani, India, dan Amerika Serikat. Saya menyapa para seminaris baru di Kolese Kepausan Beda dan saya pasti mendoakan mereka saat mereka memulai studi untuk menjadi imam. Atas kamu semua, dan atas keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam lanjutan katekese kita tentang Roh Kudus, kita sekarang beralih ke kisah Pentakosta dalam Kitab Kisah Para Rasul, yang menggambarkan para Rasul sebagai orang-orang yang “dipenuhi dengan Roh Kudus” dan diutus untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia. Di setiap zaman, Roh Kudus membimbing Gereja dalam misinya untuk merangkul semua orang dalam kesatuan tubuh Kristus. Marilah kita memohon Roh Kudus untuk meneguhkan Gereja dalam kesetiaan pada kesatuan dan universalitasnya dengan mendekatkan semua orang kepada Kristus dan satu sama lain melalui pewartaan Kabar Baik tentang keselamatan kita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Oktober 2024)



[1] Khotbah, 267, 4.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 Oktober 2024: KASIH SUAMI ISTRI

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari ini, dalam Bacaan Injil liturgi (lih. Mrk 10:2-16), Yesus berbicara kepada kita tentang kasih suami istri. Sebagaimana telah mereka lakukan pada beberapa kesempatan lain, beberapa orang Farisi mengajukan pertanyaan yang provokatif kepada-Nya tentang masalah yang kontroversial: perceraian seorang suami dari istrinya. Mereka ingin memaksa-Nya bertengkar, tetapi Ia menolak. Sebaliknya, Ia menyambut baik kesempatan untuk menarik perhatian mereka kepada diskusi yang lebih penting: nilai kasih antara seorang pria dan seorang wanita.

 

Pada zaman Yesus, kondisi wanita dalam pernikahan sangat dirugikan dibandingkan dengan pria: suami dapat menyingkirkan istrinya, menceraikannya, bahkan untuk alasan-alasan yang sepele, dan ini dibenarkan oleh penafsiran Kitab Suci yang legalistik. Karena alasan ini, Tuhan membawa lawan bicara-Nya kembali kepada tuntutan kasih. Ia mengingatkan mereka bahwa wanita dan pria dikehendaki oleh Sang Pencipta sebagai pasangan yang bermartabat sepadan dan saling melengkapi dalam keberagaman. Dengan cara ini mereka akan saling membantu dan menjadi teman, namun mereka juga akan saling mendorong dan menjadi tantangan untuk bertumbuh (lih. Kej 2:20-23).

 

Dan agar ini terjadi, Ia menekankan perlu sepenuhnya memberi agar saling menguntungkan, terlibat, bukan "setengah-setengah" - inilah kasih - awal kehidupan baru (lih. Mrk 10:7; Kej 2:24), yang ditakdirkan untuk bertahan bukan "selama semuanya berjalan baik" tetapi selamanya, saling menerima dan hidup bersatu sebagai "satu daging" (lih. Mrk 10:8; Kej 2:24). Tentu saja, ini tidak mudah, ini membutuhkan kesetiaan, bahkan dalam kesulitan, ini membutuhkan rasa hormat, kejujuran, kesederhanaan (lih. Mrk 10:15). Ini membutuhkan keterbukaan terhadap perselisihan, kadang-kadang bahkan berdiskusi, jika perlu, tetapi juga selalu siap saling mengampuni dan berdamai. Dan saya katakan kepadamu: suami dan istri, bertengkarlah sebanyak yang kamu suka, asalkan kamu selalu berdamai, sebelum hari berakhir! Tahukah kamu mengapa? Karena perang dingin yang datang keesokan harinya berbahaya. "Dan katakan kepadaku, Bapa, bagaimana kami harus berdamai?" – “Belaian lembut, seperti ini, sudah cukup”, bahkan jangan pernah mengakhiri hari tanpa berdamai.

 

Jangan melupakan juga bagi suami istri, pentingnya terbuka terhadap anugerah kehidupan, terhadap anugerah anak-anak, yang merupakan buah kasih yang paling indah, berkat terbesar dari Allah, sumber sukacita dan harapan bagi setiap rumah dan seluruh masyarakat. Milikilah anak-anak! Kemarin, saya menerima penghiburan yang luar biasa. Pada hari Kepolisian Vatikan, seorang polisi datang bersama delapan anaknya! Sungguh indah melihatnya. Tolong, terbukalah terhadap kehidupan, terhadap apa pun yang dikirimkan Allah kepadamu.

 

Saudara-saudari terkasih, kasih memang menuntut, tetapi indah. Semakin kita membiarkan diri kita terlibat di dalamnya, semakin kita menemukan kebahagiaan sejati di dalamnya. Dan sekarang, marilah kita masing-masing bertanya pada diri kita: Bagaimana kasihku? Apakah kasihku setia? Apakah kasihku murah hati? Apakah kasihku kreatif? Bagaimana keluargaku? Apakah keluargaku terbuka terhadap kehidupan, terhadap anugerah anak-anak?

 

Semoga Perawan Maria membantusuami istri kristiani. Marilah kita berpaling kepadanya dalam kesatuan rohani dengan umat yang berkumpul di Tempat Suci Pompeii untuk secara tradisional memohon kepada Bunda Maria dari Rosario Suci.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Besok genap satu tahun serangan teror terhadap penduduk di Israel, kepada mereka saya sekali lagi menyatakan kedekatan saya. Janganlah kita lupa bahwa masih banyak sandera di Gaza. Saya meminta agar mereka segera dibebaskan. Sejak hari itu, Timur Tengah telah terjerumus ke dalam kondisi yang ditandai dengan meningkatnya penderitaan, dengan tindakan militer yang merusak terus menyerang rakyat Palestina. Rakyat ini sangat menderita di Gaza dan di wilayah lainnya. Sebagian besar dari mereka adalah warga sipil yang tidak bersalah, mereka semua adalah orang-orang yang harus menerima segala bantuan kemanusiaan yang diperlukan. Saya menyerukan gencatan senjata segera di semua lini, termasuk Lebanon. Marilah kita berdoa untuk rakyat Lebanon, terutama bagi mereka yang tinggal di selatan, yang terpaksa meninggalkan desa mereka.

 

Saya mengimbau masyarakat internasional agar berupaya mengakhiri lingkaran balas dendam dan mencegah serangan lebih lanjut, seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh Iran, yang dapat membuat kawasan itu terjerumus ke dalam perang yang lebih besar. Semua bangsa berhak hidup dalam damai dan aman, serta wilayah mereka tidak boleh diserang atau diserbu, kedaulatan mereka harus dihormati dan dijamin melalui dialog dan perdamaian, bukan melalui kebencian dan perang.

 

Dalam situasi ini, doa lebih dibutuhkan dari sebelumnya. Sore ini, kita semua akan pergi ke Basilika Santa Maria Maggiore untuk memohon perantaraan Bunda Maria. Besok akan menjadi hari doa dan puasa untuk perdamaian dunia. Marilah kita bersatu dengan kekuatan kebaikan melawan rencana jahat perang.

 

Saya juga dekat dengan rakyat Bosnia dan Herzegovina, yang terkena banjir. Semoga Tuhan menyambut para korban, menghibur keluarga mereka, dan mendukung masyarakat ini.

 

Saya menyapamu, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan banyak negara. Secara khusus saya menyapa kelompok musik dari Cabañas (El Salvador) – kita akan mendengarkan mereka bermain nanti - umat Polandia dari Gua Maria Kerahiman Keuskupan Radom, dan mereka yang datang dari Martinik. Saya menyapa kelompok peziarah dari Gua Maria Pewahyuan di Tre Fontane, yang akan membawa patung Maria dari Santo Petrus ke Tempat Suci Maria di Roma hari ini, seraya berdoa memohon perdamaian. Saya menyapa para mantan siswa Seminari Menengah "Poggio Galeso" Taranto, Lembaga "Teatro Patologico" Roma, kelompok musik Sekolah "Sacra Famiglia" Cremona dan para demonstran "Fiabaday" untuk menyingkirkan rintangan arsitektur.

 

Dan sekarang,dengan senang hati saya mengumumkan bahwa pada tanggal 8 Desember, saya akan mengadakan konsistori untuk pengangkatan kardinal baru. Asal usul mereka mencerminkan universalitas Gereja, yang terus mewartakan kasih Allah yang penuh belas kasihan kepada semua orang. Berikut ini nama-nama kardinal baru:

 

Berikut adalah nama-nama kardinal baru tersebut:

1.        Mgr. Angelo ACERBI, Nuncio Apostolik untuk Belanda.

2.      Mgr. Carlos Gustavo CASTILLO MATTASOGLIO, Uskup Keuskupan Agung Lima (Peru).

3.       Mgr. Vicente BOKALIC IGLIC CM, Uskup Keuskupan Agung Santiago del Estero (Primado de la Argentina).

4.      Mgr. Luis Gerardo CABRERA HERRERA, OFM, Uskup Keuskupan Agung Guayaquil (Ekuador).

5.      Mgr. Fernando Natalio CHOMALÍ GARIB, Uskup Keuskupan Agung Santiago de Chile (Chili).

6.      Mgr. Tarcisio Isao KIKUCHI, SVD, Uskup Keuskupan Agung Tokyo (Jepang).

7.      Mgr. Pablo Virgilio SIONGCO DAVID, Uskup Keuskupan Kalookan (Filipina).

8.      Mgr. Ladislav NEMET, SVD, Uskup Keuskupan Agung Beograd -Smederevo, (Serbia).

9.      Mgr. Jaime SPENGLER, OFM, Uskup Keuskupan Agung Porto Alegre (Brasil).

10.   Mgr Ignace BESSI DOGBO, Uskup Keuskupan Agung Abidjan (Pantai Gading).

11.     Mgr Jean-Paul VESCO, OP, Uskup Keuskupan Agung Aljazair (Aljazair).

12.    Mgr. Paskalis Bruno SYUKUR, OFM, Uskup Keuskupan Bogor (Indonesia).

13.    Mgr. Dominique Joseph MATHIEU, OFMConv, Uskup Keuskupan Agung Teheran Ispahan (Iran).

14.   Mgr. Roberto REPOLE, Uskup Keuskupan Agung Turin (Italia).

15.    Mgr. Baldassare REINA, Uskup Auksiler Keuskupan Roma dan Vikaris Jenderal Keuskupan Roma.

16.   Mgr. Francis LEO, Uskup Keuskupan Agung Toronto (Kanada).

17.    Mgr. Rolandas MAKRICKAS, Imam Besar Koajutor Basilika Kepausan Santa Maria Maggiore.

18.   Mgr. Mykola BYCHOK, CSR, Uskup Eparki Santo Petrus dan Paulus Melbourne Ukraina.

19.   RP Timothy Peter Joseph RADCLIFFE, OP, teolog

20.  RP Fabio BAGGIO, CS, Wakil Sekretaris Departemen untuk Pelayanan Pengembangan Manusia Terpadu.

21.    Mgr. George Jacob KOOVAKAD, pejabat Sekretaris Negara yang bertanggung jawab atas perjalanan.

Marilah kita mendoakan para Kardinal baru, semoga dengan meneguhkan komitmen mereka kepada Kristus, Sang Imam Agung yang penuh belas kasih dan setia, mereka dapat membantu saya dalam pelayanan saya sebagai Uskup Roma demi kebaikan umat Allah yang kudus.


Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua. Jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat makan siang, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 Oktober 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 25 September 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 7 : YESUS DIBAWA OLEH ROH KE PADANG GURUN. ROH KUDUS, SEKUTU KITA DALAM BERPERANG MELAWAN ROH JAHAT

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Segera setelah dibaptis di Sungai Yordan, Yesus “dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis” (Mat 4:1) – inilah yang dikatakan Injil Matius. Prakarsa bukan dari Iblis, tetapi dari Allah. Ketika pergi ke padang gurun, Yesus menaati inspirasi Roh Kudus; Ia tidak jatuh ke dalam jerat musuh, tidak, tidak! Setelah Ia bertahan dalam cobaan, sebagaimana tertulis, Ia kembali ke Galilea “dalam kuasa Roh” (Luk 4:14).

 

Di padang gurun, Yesus membebaskan diri-Nya dari Iblis, dan sekarang Ia dapat membebaskan dari Iblis. Ia membebaskan diri-Nya, Ia membebaskan dari Iblis. Itulah yang disoroti para Penginjil dengan berbagai kajian tentang pembebasan dari kerasukan. Yesus berkata kepada para penentang-Nya, "Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka Kerajaan Allah sudah datang kepadamu" (Mat 12:28). Dan Yesus mengusir setan, dengan mengacu Kerajaan Allah.

 

Saat ini kita sedang menyaksikan fenomena aneh mengenai Iblis. Pada tingkat budaya tertentu, diyakini bahwa ia tidak ada. Ia dapat menjadi lambang alam bawah sadar kolektif, atau keterasingan; singkatnya, sebuah metafora. Namun, "tipu muslihat Iblis yang paling cerdik adalah meyakinkanmu bahwa ia tidak ada!", tulis seseorang (Charles Baudelaire). Ia cerdik: ia membuat kita percaya bahwa ia tidak ada, dan dengan cara ini ia menguasai segalanya. Ia licik. Namun dunia kita yang berteknologi dan sekuler ini penuh dengan tukang sihir, okultisme, spiritualisme, astrolog, penjual mantra dan jimat, dan sayangnya dengan sekte setan yang nyata. Setelah diusir dari pintu, Iblis masuk kembali, bisa dikatakan, melalui jendela. Setelah diusir dari iman, ia masuk kembali dengan takhayul. Dan jika kamu percaya takhayul, kamu secara tidak sadar sedang berbicara dengan Iblis. Kita tidak berbicara dengan Iblis.

 

Bukti terkuat tentang keberadaan Iblis tidak ditemukan pada orang berdosa atau orang yang kerasukan, tetapi pada orang kudus! "Bagaimana ini bisa terjadi, Bapa?". Ya, memang benar bahwa Iblis hadir dan bekerja dalam bentuk kejahatan dan kefasikan tertentu yang ekstrem dan "tidak manusiawi" yang kita lihat di sekitar kita. Namun, melalui rute ini, secara praktis mustahil untuk mencapai, dalam kasus-kasus individual, kepastian bahwa itu benar-benar dia, mengingat kita tidak dapat mengetahui dengan tepat di mana tindakannya berakhir dan kejahatan kita dimulai. Inilah sebabnya mengapa Gereja sangat bijaksana dan sangat ketat dalam melakukan pengusiran setan, tidak seperti apa yang terjadi, sayangnya, dalam film-film tertentu!

 

Dalam kehidupan para kudus, tepatnya di sana, Iblis dipaksa keluar ke tempat terbuka, untuk menempatkan dirinya "melawan terang". Semua orang kudus, semua orang percaya yang hebat, kurang lebih beberapa, bersaksi tentang perjuangan mereka dengan kenyataan yang samar-samar ini, dan kita tidak dapat dengan jujur ​​berasumsi bahwa mereka semua tertipu atau sekadar korban prasangka pada zaman mereka.

 

Pertempuran melawan roh jahat dimenangkan seperti yang dimenangkan Yesus di padang gurun: dengan menyerang menggunakan sabda Allah. Kamu melihat Yesus tidak berbicara dengan Iblis, Ia tidak pernah berbicara dengan Iblis. Entah Ia mengusirnya, atau mengutuknya, tetapi Ia tidak pernah berbicara. Dan di padang gurun, Ia tidak menjawab dengan sabda-Nya, tetapi dengan sabda Allah. Saudara-saudari, jangan pernah berbicara dengan Iblis; ketika godaan muncul: "Tetapi, ini akan baik, itu akan baik" - berhentilah. Angkat hatimu kepada Tuhan, berdoalah kepada Bunda Maria dan usirlah dia, sebagaimana diajarkan Yesus kepada kita bagaimana mengusirnya. Santo Petrus juga menyarankan cara lain, yang tidak dibutuhkan Yesus, tetapi kita butuhkan - kewaspadaan. "Waspadalah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya" (1 Ptr 5:8). Dan Santo Paulus berkata kepada kita, "Janganlah beri kesempatan kepada Iblis" (Ef 4:27).

 

Setelah Kristus, di kayu salib, mengalahkan selamanya kekuasaan “penguasa dunia ini” (Yoh 12:31), seorang Bapa Gereja berkata, “Iblis terikat, seperti anjing yang diikat dengan rantai; ia tidak dapat menggigit siapa pun kecuali mereka yang, menentang bahaya, mendekatinya... Ia dapat menggonggong, ia dapat mendesak, tetapi ia hanya dapat menggigit mereka yang menginginkannya”[1]. Jika kamu seorang bodoh dan kamu pergi kepada Iblis dan berkata, “Ah, apa kabar?”, dan segala macamnya, itu menghancurkan dirimu. Iblis – jarak. Kita tidak berbicara dengan Iblis. Kita mengusirnya. Jarak. Dan kita semua, setiap orang, kita memiliki pengalaman tentang bagaimana Iblis mendekati dengan beberapa godaan. Godaan sepuluh perintah Allah: ketika kita merasakan hal ini, berhentilah, jaga jarak: jangan mendekati anjing yang dirantai.

 

Teknologi modern, misalnya, selain banyak sumber daya positif yang patut dihargai, juga menawarkan banyak cara untuk "memberi kesempatan kepada Iblis", dan banyak yang jatuh ke dalam perangkap. Pikirkanlah pornografi daring, yang di baliknya terdapat pasar yang berkembang pesat: kita semua tahu ini. Iblis sedang bekerja, di sana. Dan ini adalah fenomena yang sangat meluas, yang harus diwaspadai dan ditolak dengan tegas oleh umat kristiani. Karena telepon pintar apa pun memiliki akses ke kebrutalan ini, ke bahasa Iblis ini: pornografi daring.

 

Kesadaran akan tindakan iblis dalam sejarah seharusnya tidak membuat kita putus asa. Pikiran terakhir harus, juga dalam kasus ini, tentang kepercayaan dan keamanan: "Aku bersama Tuhan, pergilah". Kristus mengalahkan Iblis dan memberi kita Roh Kudus untuk menjadikan kemenangan-Nya milik kita. Tindakan musuh dapat berbalik menguntungkan kita, jika dengan pertolongan Allah kita menjadikannya sebagai pemurnian kita. Karena itu marilah kita memohon kepada Roh Kudus, dengan kata-kata madah Datanglah Ya Roh Pencipta:

 

Halaulah musuh umat-Mu

Berilah kami damai-Mu

Agar dengan tuntunan-Mu

Kami hindarkan yang jahat

 

Hati-hatilah, Iblis itu cerdik – tetapi kita umat kristiani, dengan kasih karunia Allah, lebih cerdik daripada dia. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Australia, India, Malaysia, Filipina, Taiwan, Kanada, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para mahasiswa baru Sekolah Tinggi Bahasa Inggris Venerable, beserta doa-doa saya untuk persiapan mereka menjadi imam. Atas kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu.

 

[Imbauan Bapa Suci]

 

Saya bersedih mendengar berita dari Lebanon, di mana dalam beberapa hari terakhir pengeboman hebat telah menelan banyak korban dan menyebabkan kerusakan. Saya berharap masyarakat internasional dapat melakukan berbagai upaya untuk menghentikan eskalasi yang mengerikan ini. Hal ini tidak dapat diterima.

 

Saya menyampaikan kedekatan saya kepada rakyat Lebanon, yang telah terlalu banyak menderita di masa lalu. Dan marilah kita mendoakan semua orang, semua orang yang menderita akibat perang: janganlah kita lupakan Ukraina yang tersiksa, Myanmar, Palestina, Israel, Sudan, semua orang yang sedang menderita. Marilah kita berdoa untuk perdamaian.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese kita tentang Roh Kudus, kini kita beralih ke kisah Injil tentang godaan Yesus di padang gurun, yang bukan saja berbicara kepada kita tentang kenyataan Iblis, si penggoda, tetapi juga tentang kemahakuasaan Tuhan untuk membebaskan kita dari jeratnya. Bukti terbesar tentang keberadaan Iblis tidak dapat ditemukan dalam bukti kejahatan di dunia kita, tetapi dalam kehidupan dan kesaksian para kudus. Melalui upaya mereka untuk bertumbuh dalam kebajikan dan kekudusan, para kudus bersaksi tentang kenyataan kedosaan roh jahat dan perlunya berjuang melawan godaan untuk berbuat dosa. Kemenangan Tuhan yang bangkit atas kuasa kejahatan dan dosa memberi kita harapan yang pasti bahwa, dengan percaya pada sabda-Nya dan dikuatkan oleh kasih karunia Roh Kudus, kita dapat mengatasi setiap godaan, mengalami pemurnian dalam hati kita dan bertumbuh dalam persatuan dengan Kristus.

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 25 September 2024)

 



[1] Santo Caesarius dari Arles, Khotbah 121, 6: CC 103, hlm. 507.