Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 November 2024 : TAWARKAN KELEMBUTAN, JAUHI KEMUNAFIKAN

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini (lih. Mrk 12:38-44) menceritakan kepada kita tentang Yesus yang, di Bait Allah di Yerusalem, mengecam sikap munafik beberapa ahli Taurat di hadapan orang banyak (lih. ayat 38-40).

 

Orang-orang ini diberi peran penting dalam komunitas Israel: mereka membaca, menyalin, dan menafsirkan Kitab Suci. Karena itu, mereka sangat dihormati dan orang-orang menghormati mereka.

 

Namun, melampaui penampilan mereka, perilaku mereka sering kali tidak sesuai dengan apa yang mereka ajarkan. Mereka tidak konsisten. Bahkan, beberapa orang, karena hak istimewa dan kekuasaan yang mereka nikmati, memandang rendah orang lain "dari atas" – ini sangat buruk, memandang rendah orang lain dari atas – mereka berpura-pura dan, bersembunyi di balik tampak muka kehormatan dan legalisme yang penuh kepura-puraan, sewenang-wenang dengan mempergunakan hak istimewa mereka dan bahkan terang-terangan melakukan pencurian yang merugikan orang-orang yang paling lemah, seperti para janda (lih. ayat 40). Alih-alih menggunakan peran yang diberikan kepada mereka untuk melayani orang lain, mereka menjadikannya sebagai alat kesombongan dan manipulasi. Dan bahkan terjadi, pada mereka, doa berada dalam bahaya karena tidak lagi menjadi saat perjumpaan dengan Tuhan, tetapi sebuah kesempatan untuk memamerkan kewibawaan dan kesalehan yang mengelabui, yang berguna untuk menarik perhatian orang dan memperoleh persetujuan (lih. ayat 40). Ingatlah apa yang dikatakan Yesus tentang doa orang Farisi dan pemungut cukai (lih. Luk 18:9-14).

 

Mereka – tidak semuanya – berperilaku seperti orang-orang yang korup, memelihara sistem sosial dan keagamaan yang mewajarkan mengambil keuntungan dari orang lain tanpa sepengetahuannya, terutama orang yang paling tidak berdaya, melakukan ketidakadilan dan memastikan mereka kebalan hukum.

 

Yesus memperingatkan untuk menjauhi orang-orang ini, “berhati-hati” terhadap mereka (lih. ayat 38), jangan meniru mereka. Memang, dengan sabda dan teladan-Nya, seperti kita ketahui, Ia mengajarkan hal-hal yang sangat berbeda tentang otoritas. Berkenaan dengan otoritas Ia berbicara mengenai pengurbanan diri dan pelayanan yang rendah hati (lih. Mrk 10:42-45), kelembutan keibuan dan kebapaan terhadap semua orang (lih. Luk 11:11-13), terutama orang-orang yang paling membutuhkan (Luk 10:25-37). Ia mengundang mereka yang terlibat di dalamnya untuk melihat orang lain dari posisi kekuasaan mereka, bukan untuk mempermalukan mereka, tetapi mengangkat mereka, memberi mereka harapan dan pertolongan.

 

Jadi, saudara-saudari, kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri: bagaimana aku berperilaku dalam lingkup tanggung jawabku? Apakah aku bertindak dengan rendah hati, atau apakah aku membanggakan posisiku? Apakah aku murah hati dan penuh hormat terhadap orang lain, atau apakah aku memperlakukan mereka secara kasar dan otoriter? Dan dengan saudara-saudariku yang paling rapuh, apakah aku dekat dengan mereka, apakah aku tahu bagaimana menundukkan kepala untuk menolong mengangkat mereka?

 

Semoga Perawan Maria membantu kita melawan godaan kemunafikan dalam diri kita – Yesus mengatakan kepada mereka bahwa mereka adalah orang-orang munafik, kemunafikan adalah godaan besar –, dan membantu kita untuk berbuat baik, dengan sederhana dan tanpa pamer.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Don Giuseppe Torres Padilla, salah seorang pendiri Kongregasi Suster-suster Persekutuan Salib, dinyatakan sebagai Beato di Sevilla kemarin. Ia tinggal di Spanyol pada abad ke-19, dan dikenal sebagai seorang imam pengakuan dosa dan pembimbing rohani, yang memberikan kesaksian tentang amal kasih yang besar kepada mereka yang membutuhkan. Semoga teladannya menguatkan para imam dalam pelayanan mereka. Tepuk tangan meriah untuk beato baru ini!

 

Tiga tahun lalu, Ajang Aksi Laudato Si’ diluncurkan. Saya berterima kasih kepada mereka yang bekerja dalam mendukung prakarsa ini. Dalam hal ini, saya berharap Konferensi Perubahan Iklim COP29, yang akan dimulai besok di Baku, dapat memberikan kontribusi yang efektif untuk melindungi rumah kita bersama.

 

Saya dekat dengan penduduk Pulau Flores di Indonesia, yang dilanda letusan gunung berapi; saya berdoa untuk para korban, kerabat mereka, dan para pengungsi. Dan saya tegaskan kembali ingatan saya untuk penduduk Valencia dan wilayah lain di Spanyol, yang menghadapi dampak banjir. Saya akan mengajukan pertanyaan kepadamu: apakah kamu telah berdoa untuk Valencia? Apakah kamu telah berpikir untuk memberikan kontribusi guna membantu penduduk tersebut? Hanya sebuah pertanyaan.

 

Berita dari Mozambik mengkhawatirkan. Saya mengajak semua orang untuk terlibat dalam dialog, toleransi, dan tanpa henti mengupayakan solusi yang adil. Marilah kita berdoa untuk seluruh penduduk Mozambik, agar situasi saat ini tidak menyebabkan mereka kehilangan kepercayaan pada jalan demokrasi, keadilan, dan perdamaian.

 

Dan marilah kita terus berdoa untuk Ukraina yang tersiksa, di mana bahkan rumah sakit dan bangunan sipil lainnya telah diserang; dan marilah kita berdoa untuk Palestina, Israel, Lebanon, Myanmar, dan Sudan. Marilah kita berdoa untuk perdamaian di seluruh dunia.

 

Hari ini Gereja Italia merayakan Hari Mengucap Syukur. Saya mengucapkan terima kasih kepada sektor pertanian, dan saya mendorong pengolahan tanah dengan cara menjaga kesuburannya juga untuk generasi mendatang.

 

Dengan penuh kasih sayang saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah, serta kaum muda Immacolata. Secara khusus, umat dari Kazakhstan, Moskow, New York, Bastia di Corsica, Beja dan Algarve di Portugal, Warsawa, Lublin dan daerah lain di Polandia. Saya menyapa Komite untuk mempromosikan Global Educational Compact, dengan perwakilan dari berbagai universitas Katolik; saya menyapa para calon penerima Sakramen Krisma dari Empoli; para relawan dari Bank Pangan dan Grup Musik Italia dari Korps Transportasi dan Material. Mari kita berharap grup musik itu akan memainkan sesuatu yang indah untuk kita!

 

Dan kepada kamu semua, saya mengucapkan selamat hari Minggu. Jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 10 November 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 6 November 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 12 : ROH KUDUS MENJADI PENGANTARA KITA. ROH KUDUS DAN DOA KRISTIANI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Tindakan pengudusan Roh Kudus, selain sabda Allah dan sakramen-sakramen, terungkap dalam doa, dan untuk itulah kita ingin mempersembahkan perrnenungan hari ini: doa. Roh Kudus adalah subjek sekaligus objek doa kristiani. Artinya, Dialah yang memberikan doa dan Dialah yang diberikan melalui doa. Kita berdoa untuk menerima Roh Kudus, dan kita menerima Roh Kudus agar dapat berdoa dengan sungguh-sungguh, yaitu, sebagai anak-anak Allah, bukan sebagai hamba. Marilah kita sedikit memikirkan hal ini: berdoalah sebagai anak-anak Allah, bukan sebagai hamba. Kita harus selalu berdoa dengan kebebasan. “Hari ini saya harus berdoa untuk ini, ini, dan ini, karena saya telah berjanji untuk ini, ini dan ini. Kalau tidak, saya akan masuk neraka”. Tidak, itu bukan doa! Doa itu bebas. Kamu berdoa ketika Roh Kudus membantumu untuk berdoa. Kamu berdoa ketika kamu merasakan kebutuhan untuk berdoa di dalam hatimu, dan ketika kamu tidak merasakan apa pun, kamu berhenti dan bertanya, “Mengapa aku tidak merasakan keinginan untuk berdoa? Apa yang sedang terjadi dalam hidupku?”. Namun, spontanitas dalam doa selalu menjadi hal yang paling membantu kita. Inilah yang dimaksud dengan berdoa sebagai anak-anak, bukan sebagai hamba.


Pertama-tama, kita harus berdoa untuk menerima Roh Kudus. Dalam hal ini, Yesus memiliki perkataan yang sangat tepat dalam Injil: "Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya?" (Luk 11:13). Setiap orang, kita masing-masing, tahu bagaimana memberi hal yang baik kepada anak-anak kecil, entah itu anak-anak kita, kakek-nenek kita, atau teman-teman kita. Anak-anak kecil selalu menerima hal yang baik dari kita. Namun, Bapa tidak akan memberikan Roh Kudus kepada kita? Dan ini seharusnya memberi kita keberanian untuk terus maju dengan hal ini. Dalam Perjanjian Baru, kita melihat Roh Kudus selalu turun selama doa. Ia turun ke atas Yesus dalam pembaptisan di Sungai Yordan, ketika Ia "sedang berdoa" (Luk 3:21), dan Ia turun pada hari Pentakosta ke atas para murid, ketika mereka "bertekun dengan sehati dalam doa" bersama (Kis 1:14).



Itulah satu-satunya "kekuatan" yang kita miliki atas Roh Allah. Kekuatan doa: Ia tidak menentang doa. Kita berdoa, dan Ia datang. Di Gunung Karmel, para nabi palsu Baal – ingat perikop Kitab Suci tersebut – berusaha untuk meminta api dari surga untuk persembahan mereka, tetapi tidak terjadi apa-apa, karena mereka adalah penyembah berhala, mereka menyembah Allah yang tidak ada. Elia mulai berdoa, dan api turun dan membakar persembahan (lih. 1 Raj 18:20-38). Gereja mengikuti contoh ini dengan setia: Gereja selalu memohon “Datanglah! Datanglah!” kepada Roh Kudus, “Datanglah”, setiap kali Gereja menyapa Roh Kudus. Dan Gereja melakukan ini terutama dalam Misa, agar Ia sudi turun seperti embun serta menguduskan roti dan anggur untuk kurban Ekaristi.



Namun ada aspek lain, yang paling penting dan memberi semangat bagi kita: Roh Kudus adalah sosok yang memberi kita doa yang benar. Santo Paulus menegaskan hal ini: “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita. Sebab, kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, memohon untuk orang-orang kudus.” (bdk. Rm 8:26-27).


Benar, kita tidak tahu bagaimana berdoa, kita tidak tahu. Kita harus belajar setiap hari. Alasan di balik kelemahan doa kita ini diungkapkan di masa lalu hanya dalam satu kata, yang digunakan dalam tiga cara berbeda: sebagai kata sifat, sebagai kata benda, dan sebagai kata keterangan. Mudah diingat, bahkan bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Latin, dan perlu diingat, karena kata itu sendiri mengandung seluruh risalah, ketiga hal ini. Kita manusia, menurut pepatah itu, “mali, mala, male petimus”, yang artinya, karena kita jahat (mali), kita meminta hal-hal yang salah (mala) dan dengan cara yang salah (male). Yesus berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah … dan semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33); sebaliknya, kita mencari hal-hal yang lebih, yaitu kepentingan kita – berkali-kali – dan kita sama sekali lupa untuk meminta Kerajaan Allah. Marilah kita meminta Kerajaan Allah kepada Tuhan, dan segala sesuatu akan datang bersama-Nya.

 

Ya, Roh Kudus datang untuk menolong kita dalam kelemahan kita, tetapi Ia melakukan sesuatu yang lebih penting lagi: Ia bersaksi kepada kita bahwa kita adalah anak-anak Allah dan menempatkan pada bibir kita: “Ya Abba, ya Bapa!” (Rm 8:15; Gal 4:6). Kita tidak dapat mengatakan “Ya Abba, ya Bapa!”. Kita tidak dapat mengatakan “Bapa” tanpa kekuatan Roh Kudus. Doa kristiani bukan manusia di satu ujung telepon, berbicara kepada Allah di ujung yang lain; tidak, justru Allah yang berdoa di dalam diri kita! Kita berdoa kepada Allah melalui Allah. Berdoa berarti menempatkan diri di dalam Allah, agar Allah masuk ke dalam diri kita.

 

Justru dalam doa, Roh Kudus dinyatakan sebagai “Parakletos”, yaitu pengacara dan pembela. Ia tidak menuduh kita di hadapan Bapa, tetapi membela kita. Ya, Ia membela kita, Ia menginsafkan kita akan kenyataan bahwa kita adalah orang berdosa (lih. Yoh 16:8), tetapi Ia melakukannya untuk membuat kita mampu menikmati sukacita belas kasihan Bapa, bukan untuk menghancurkan kita dengan perasaan bersalah yang sia-sia. Bahkan ketika hati kita mencela kita karena sesuatu, Ia mengingatkan kita bahwa "Allah lebih besar daripada hati kita" (1 Yoh 3:20). Allah lebih besar dari dosa kita. Kita semua adalah orang berdosa, tetapi pikirkan: mungkin beberapa dari kamu - saya tidak tahu - sangat takut karena hal-hal yang telah mereka lakukan, takut dicela oleh Allah, takut akan banyak hal dan tidak dapat menemukan kedamaian. Berdoalah, berserulah kepada Roh Kudus, dan Ia akan mengajarmu bagaimana memohon pengampunan. Dan apakah kamu tahu sesuatu? Allah tidak tahu banyak tata bahasa, dan ketika kita memohon pengampunan, Ia tidak membiarkan kita menyelesaikannya! "Karena..." dan di sana, Ia tidak membiarkan kita menyelesaikan kata pengampunan. Ia mengampuni kita terlebih dahulu, Ia selalu mengampuni, dan Ia selalu berada di samping kita untuk mengampuni kita, sebelum kita melengkapi kata pengampunan. Kita berkata “Karena…” dan Bapa selalu mengampuni kita.

 

Roh Kudus menjadi pengantara dan pada gilirannya Ia juga mengajarkan kita bagaimana menjadi pengantara saudara-saudari kita – Ia menjadi pengantara kita dan mengajarkan kita bagaimana menjadi pengantara sesama kita. Ia mengajarkan kita doa pengantaraan: mendoakan orang ini, mendoakan orang sakit itu, orang yang berada di dalam penjara, berdoa… bahkan mendoakan ibu mertua kita! Dan berdoalah, selalu. Selalu. Doa ini khususnya berkenan kepada Allah, karena doa ini adalah doa yang paling cuma-cuma dan altruistis. Ketika seseorang mendoakan setiap orang, terjadilah – sebagaimana biasa dikatakan Santo Ambrosius – setiap orang mendoakan seseorang; doa berlipat ganda.[1] Begitulah doa. Ini adalah tugas yang sangat berharga dan perlu di dalam Gereja, khususnya selama masa persiapan untuk Yubelium ini: mempersatukan diri kita dengan Sang Penghibur yang “menjadi pengantara kita semua sesuai dengan rencana Allah”. Tetapi janganlah berdoa seperti burung beo, saya mohon! Jangan berkata, “Blah, blah, blah…”. Tidak. Katakanlah “Tuhan”, tetapi katakan dengan hatimu. “Tolonglah aku, Tuhan”, “Tuhan, aku mengasihi-Mu." Dan ketika kamu mendoakan Doa Bapa Kami, ucapkanlah “Bapa, Engkau adalah Bapaku”. Berdoalah dengan hati, bukan dengan bibir; jangan seperti burung beo.

 

Semoga Roh Kudus membantu kita dalam doa, yang sangat kita butuhkan. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah berbahasa Inggris, khususnya kelompok dari Inggris, Ghana, Malaysia, Filipina, dan Amerika Serikat. Saya juga menyapa para imam yang datang dari Inggris dan Wales, yang sedang merayakan ulang tahun penting tahbisan imamat. Atas kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih:

 

Dalam katekese lanjutan kita tentang Roh Kudus dalam kehidupan Gereja, kita sekarang membahas peranan Roh dalam doa. Dalam Injil, Yesus mengajarkan kita untuk berdoa memohon karunia Roh Kudus, yang tinggal di dalam hati kita dan bersaksi bahwa, dalam persatuan dengan Tuhan yang bangkit, kita benar-benar putra dan putri Bapa surgawi kita. Dibimbing oleh Roh Kudus, kita benar-benar berdoa sebagaimana mestinya, baik secara pribadi maupun dalam perayaan Liturgi Gereja. Sebagai "Parakletos", Pembela dan Penghibur kita, Roh Kudus tidak hanya menjadi pengantara kita, tetapi juga memampukan kita, dalam kesatuan tubuh mistik Kristus, untuk melakukan hal yang sama bagi kebutuhan saudara-saudari kita. Saat kita menantikan Tahun Suci yang akan datang, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk menganugerahkan kepada kita, dan kepada seluruh keluarga manusia, karunia kekudusan, kesatuan, keadilan, dan kedamaian-Nya.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 6 November 2024)



[1] De Cain et Abel, I, 39.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 3 November 2024 : KASIH ADALAH SUMBER SEGALANYA

Saudara dan saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini (Mrk 12:28-34) menceritakan kepada kita tentang salah satu dari sekian banyak diskusi yang dilakukan Yesus di Bait Suci Yerusalem. Salah seorang ahli Taurat datang kepada-Nya dan bertanya, "Perintah manakah yang paling utama?" (ayat 28). Yesus menanggapinya dengan menyatukan dua kalimat dasariah yang terdapat dalam hukum Musa: "Kasihilah Tuhan, Allahmu" dan "Kasihilah sesamamu manusia" (ayat 30-31).

 

Dengan pertanyaannya, ahli Taurat mencari perintah yang "utama", yaitu prinsip yang mendasari semua perintah; orang Yahudi mempunyai banyak ajaran dan mencari dasar dari semua ajaran itu, suatu ajaran yang dasariah; mereka berusaha menyepakati hal yang dasariah, dan terjadilah diskusi di antara mereka, diskusi yang bagus karena mencari kebenaran. Dan pertanyaan ini penting bagi kita juga, bagi kehidupan kita dan perjalanan iman kita. Memang benar, kita juga terkadang merasa tersesat di antara banyak hal, dan bertanya pada diri sendiri: namun, pada akhirnya, apa hal yang paling penting? Di manakah aku dapat menemukan pusat kehidupanku, pusat imanku? Yesus memberi kita jawabannya, dengan menyatukan dua perintah yang utama: mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Dan inilah inti iman kita.

 

Kita semua – sebagaimana kita ketahui – perlu kembali ke hati kehidupan dan iman, karena hati adalah “sumber radikal kekuatan, keyakinan setiap orang” (Ensiklik Dilexit Nos, 9). Dan Yesus mengatakan kepada kita bahwa sumber segala sesuatu adalah kasih, bahwa kita tidak boleh memisahkan Allah dari manusia. Tuhan mengatakan kepada murid-murid-Nya di setiap masa: dalam perjalananmu, yang penting bukanlah perbuatan lahiriah, seperti kurban bakaran dan kurban sembelihan (ayat 33), melainkan kesiapan hati yang membuat kamu membuka diri kepada Allah dan kepada sesama dalam kasih. Saudara-saudari, kita dapat melakukan banyak hal, namun melakukannya hanya untuk diri kita sendiri dan tanpa kasih, dan ini tidak akan berhasil; kita melakukannya dengan hati yang teralih atau bahkan dengan hati yang tertutup, dan ini tidak akan berhasil. Segala sesuatu harus dilakukan dengan kasih.

 

Tuhan akan datang, dan Ia akan bertanya kepada kita pertama dan terutama tentang kasih: "Bagaimana kamu mengasihi?". Maka, sangatlah penting untuk menanamkan dalam hati kita perintah yang paling penting. Apa itu? Mengasihi Tuhan, Allahmu, dan mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Dan melakukan pemeriksaan hati nurani setiap hari dan bertanya pada diri sendiri: apakah mengasihi Allah dan sesama adalah pusat hidupku? Apakah doaku kepada Allah mendorongku untuk pergi menemui saudara-saudariku dan mengasihi mereka tanpa pamrih? Apakah aku mengenali kehadiran Tuhan dalam wajah sesamaku?

 

Semoga Perawan Maria, yang mengandung hukum Allah yang bersemayam dalam hatinya yang tak bernoda, membantu kita untuk mengasihi Tuhan dan saudara-saudari kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan banyak negara lainnya!

 

Saya menyapa para Suster Misionaris Karmel Roh Kudus, yang sedang merayakan ulang tahun kedua puluh lima persaudaraan sekuler mereka; saya menyapa umat Venesia, Pontassieve, Barberino del Mugello, Empoli dan Palermo, dan umat Santa Maria alle Fornaci Roma; serta para remaja Catanzaro bersama para pendidik paroki mereka.

 

Saya menyapa para donor darah dari Coccaglio, Brescia, dan kelompok Emergency Rome South, yang berkomitmen untuk mengingatkan Pasal 11 Konstitusi Italia, yang mengatakan: “Italia menolak perang sebagai perangkat agresi terhadap kebebasan bangsa lain dan sebagai sarana untuk penyelesaian perselisihan internasional”. Ingatlah artikel ini! Lanjutkan!

 

Dan semoga prinsip ini diterapkan di seluruh dunia: semoga perang disingkirhkan serta permasalahan diselesaikan melalui hukum dan negosiasi. Biarkan senjata dibungkam dan berikan ruang untuk berdialog. Marilah kita berdoa untuk Ukraina, Palestina, Israel, Myanmar, dan Sudan Selatan yang tersiksa.

 

Dan marilah kita terus berdoa untuk Valencia, dan komunitas lain di Spanyol, yang sangat menderita saat ini. Apa yang harus kulakukan untuk masyarakat Valencia? Apakah aku berdoa? Apakah aku menawarkan sesuatu? Pikirkanlah pertanyaan ini.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya. Dan jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 November 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 November 2024 : KARUNIA DAN TANGGAPAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, dan selamat hari raya!

 

Hari ini, pada Hari Raya Semua Orang Kudus, dalam Bacaan Injil (lih. Mat 5:1-12), Yesus menyatakan kartu jatidiri orang kristiani. Dan apakah kartu jatidiri orang kristiani itu? Sabda Bahagia. Sabda Bahagia adalah kartu jatidiri kita, dan juga jalan kekudusan (lih. Anjuran Apostolik Gaudete et Exsultate, 63). Yesus menunjukkan kepada kita sebuah jalan, jalan kasih, yang pertama-tama Ia tempuh dengan menjadikan diri-Nya manusia, dan yang bagi kita merupakan karunia Allah sekaligus tanggapan kita. Karunia dan tanggapan.

 

Merupakan karunia Allah karena, sebagaimana dikatakan Santo Paulus, Dialah yang menguduskan (lih. 1 Kor 6:11). Dan inilah sebabnya Tuhan adalah yang pertama kita minta untuk menjadikan diri kita kudus, menjadikan hati kita serupa dengan Dia (lih. Ensiklik Dilexit Nos, 168). Dengan rahmat-Nya, Ia menyembuhkan kita dan membebaskan kita dari semua yang menghalangi kita untuk mengasihi sebagaimana Dia mengasihi kita (lih. Yoh 13:34), sehingga di dalam diri kita, sebagaimana biasa dikatakan Beato Carlo Acutis, selalu ada "sedikit ruang bagi Allah dalam diriku".

 

Dan ini membawa kita ke poin kedua: tanggapan kita. Bapa surgawi memang menawarkan kepada kita kekudusan-Nya, tetapi Ia tidak memaksakannya. Ia menaburkannya di dalam diri kita, Ia membuat kita merasakan cita rasanya dan melihat keindahannya, tetapi kemudian Ia menunggu tanggapan kita. Ia mewariskan kita kebebasan untuk mengikuti inspirasi-Nya yang baik, membiarkan diri kita terlibat dalam rencana-Nya, menjadikan kepekaan perasaan-Nya sebagai kepekaan perasaan kita (lih. Dilexit Nos, 179), menempatkan diri kita, seperti yang Ia ajarkan kepada kita, dalam pelayanan kepada sesama, dengan kasih yang semakin universal, terbuka dan ditujukan kepada semua orang, kepada seluruh dunia.

 

Kita melihat semua ini dalam kehidupan para kudus, bahkan di zaman kita. Pikirkan, misalnya, Santo Maximilian Kolbe, yang di Auschwitz meminta untuk menggantikan seorang kepala keluarga, yang dihukum mati; atau Santa Teresa dari Kalkuta, yang menghabiskan hidupnya dalam pelayanan kepada orang-orang paling miskin; atau Uskup Santo Oscar Romero, yang dibunuh di altar karena membela hak-hak orang kecil terhadap penyalahgunaan para penindas mereka. Dan dengan cara ini kita dapat membuat daftar banyak orang kudus, banyak dari mereka: mereka yang kita hormati di altar dan yang lainnya, yang saya suka sebut orang kudus "pintu sebelah", orang-orang sehari-hari, tersembunyi, yang berkembang dalam kehidupan kristiani mereka sehari-hari. Saudara-saudari, betapa banyak kekudusan tersembunyi di dalam Gereja! Kita mengenali begitu banyak saudara-saudari kita yang dibentuk oleh Sabda Bahagia: miskin, lemah lembut, berbelas kasihan, lapar dan haus akan keadilan, pekerja perdamaian. Mereka adalah orang-orang yang "dipenuhi dengan Allah", tidak mampu untuk tetap acuh tak acuh terhadap kebutuhan sesama mereka; mereka adalah saksi-saksi jalan yang bersinar, yang mungkin juga bagi kita.

 

Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, sekarang: apakah aku memohon kepada Allah, dalam doa, karunia kehidupan yang kudus? Apakah aku membiarkan diriku dibimbing oleh dorongan-dorongan baik yang diilhami oleh Roh-Nya dalam diriku? Dan apakah aku secara pribadi berkomitmen untuk mengamalkan Sabda Bahagia Injil, di lingkungan tempat tinggalku? Semoga Maria, Ratu Semua Orang Kudus, membantu kita menjadikan hidup kita sebagai jalan kekudusan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya menyampaikan rasa kedekatan saya dengan rakyat Chad, khususnya keluarga korban serangan teroris beberapa hari lalu, serta mereka yang terkena dampak banjir. Dan, berbicara tentang bencana lingkungan ini, marilah kita mendoakan penduduk semenanjung Iberia, khususnya masyarakat Valencia, yang dilanda badai “DANA”: mereka yang meninggal dan orang-orang yang mereka kasihi, serta semua keluarga yang menjadi korban. Semoga Tuhan menopang mereka yang sedang menderita, dan mereka yang sedang memberikan bantuan. Kita dekat dengan penduduk Valencia.

 

Dengan penuh kasih saya menyapa kamu semua, para peziarah dari berbagai negara, keluarga, kelompok paroki, lembaga, dan sekolah, dan khususnya, umat Rignac, Prancis.

 

Dan saya menyapa para peserta “Corsa dei Santi”, yang diselenggarakan oleh Yayasan Misi Don Bosco. Para sahabat terkasih, tahun ini kamu kembali mengingatkan kita bahwa kehidupan kristiani adalah sebuah perlombaan, tetapi bukan seperti dunia yang berlari, bukan! Kehidupan kristiani adalah perlombaan hati yang penuh kasih! Dan terima kasih atas dukunganmu untuk pembangunan pusat olahraga di Ukraina.

 

Marilah kita mendoakan Ukraina yang tersiksa, marilah kita mendoakan Palestina, Israel, Lebanon, Myanmar, Sudan, dan semua orang yang sedang menderita karena perang. Saudara-saudari, perang selalu merupakan kekalahan, selalu! Dan perang tidak mulia, karena perang merupakan kemenangan kebohongan, kemenangan kepalsuan: perang mengupayakan kepentingan terbesar bagi dirinya sendiri dan kerusakan terbesar bagi musuh, menginjak-injak kehidupan manusia, lingkungan, infrastruktur, segalanya; dan semuanya disamarkan dengan kebohongan. Dan orang-orang yang tidak bersalah menderita! Saya memikirkan 153 wanita dan anak-anak yang dibantai di Gaza dalam beberapa hari terakhir.

 

Besok merupakan pengenangan arwah semua orang beriman. Mereka yang bisa, pergilah pada hari-hari ini untuk berdoa di makam orang-orang yang kamu cintai. Saya juga, besok pagi, akan pergi untuk merayakan Misa di Pemakaman Laurentino, Roma. Janganlah kita lupa: Ekaristi adalah doa yang terbesar dan terefektif bagi jiwa orang yang telah meninggal.

 

Saya mengucapkan selamat hari raya kepada kamu semua, dalam persekutuan para kudus. Saya menyapa kamu semua, saya menyapa orang muda Immacolata, yang baik! Dan mohon, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat hari raya! Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 2 November 2024)