Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 23 September 2020 : KATEKESE TENTANG AJARAN SOSIAL GEREJA (BAGIAN 8)


Saudara-saudari yang terkasih, sepertinya cuaca tidak terlalu bagus, namun demikian saya tetap mengucapkan selamat pagi kepada Anda!

 

Untuk keluar dengan lebih baik dari krisis seperti saat ini, yaitu krisis kesehatan sekaligus krisis sosial, politik dan ekonomi, kita semua dipanggil untuk memikul bagian tanggung jawab kita, yaitu ambil bagian untuk bertanggung jawab. Kita harus menanggapinya tidak hanya secara pribadi, tetapi juga dari kelompok kita berasal, dari peran yang kita miliki dalam masyarakat, dari prinsip kita dan, jika kita adalah orang percaya, dari iman kita kepada Allah. Akan tetapi, sering kali banyak orang tidak dapat ikut serta dalam rekonstruksi kepentingan bersama karena mereka terpinggirkan, mereka dikucilkan atau diabaikan; kelompok sosial tertentu tidak berhasil memberikan sumbangan karena mereka mati lemas secara ekonomi atau sosial. Dalam beberapa masyarakat, banyak orang tidak bebas untuk mengungkapkan keyakinan mereka dan nilai-nilai mereka, gagasan-gagasan mereka : andai mereka mengungkapkannya dengan bebas, mereka dijebloskan ke dalam penjara. Di tempat lain, terutama di dunia barat, banyak orang mengekang keyakinan etis atau agama mereka sendiri. Ini bukanlah cara untuk keluar dari krisis, atau setidaknya untuk keluar dari krisis dengan lebih baik. Kita akan keluar daripadanya dengan lebih buruk.

 

Agar kita dapat ikut serta dalam penyembuhan dan regenerasi bangsa kita, memang benar bahwa setiap orang harus memiliki sumber daya yang memadai untuk melakukannya (lihat Kompendium Ajaran Sosial Gereja [KASG], 186). Setelah depresi ekonomi besar tahun 1929, Paus Pius XI menjelaskan betapa pentingnya prinsip subsidiaritas (lihat Ensiklik Quadragesimo anno, 79-80). Prinsip ini memiliki pergerakan ganda : dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Mungkin kita tidak mengerti apa artinya hal ini, tetapi prinsip sosiallah yang membuat kita semakin bersatu. Saya akan mencoba menjelaskannya.

 

Di satu sisi, dan terutama pada saat-saat perubahan, ketika pribadi, keluarga, lembaga kecil, dan komunitas lokal tidak mampu mencapai tujuan utama, maka memang benar tingkatan masyarakat tertinggi, seperti negara, seharusnya turun tangan untuk menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk maju. Misalnya, karena kuncian virus Corona, banyak orang, keluarga, dan entitas ekonomi mendapati diri mereka dan masih mendapati diri mereka dalam masalah serius. Oleh karena itu, institusi-institusi publik berusaha membantu melalui campur tangan yang tepat, secara sosial ekonomi, sehubungan dengan kesehatan… inilah fungsi mereka, apa yang perlu mereka lakukan.

 

Tetapi, di sisi lain, para pemimpin masyarakat harus menghormati dan mengembangkan kalangan menengah atau bawah. Sesungguhnya, sumbangan pribadi, keluarga, lembaga, pelaku usaha, atau setiap badan perantara, dan bahkan Gereja, sangat menentukan. Semua ini, dengan sumber daya budaya, agama, ekonomi, atau keikutsertaan sipil mereka, merevitalisasi dan memperkuat masyarakat (lihat KASG, 185). Artinya, ada kerjasama dari atas ke bawah, dari negara ke rakyat, dan dari bawah ke atas, dari institusi rakyat ke atas. Dan inilah tepatnya bagaimana prinsip subsidiaritas dijalankan.

 

Setiap orang perlu memiliki kemungkinan untuk memikul tanggung jawab mereka dalam proses penyembuhan masyarakat di mana mereka menjadi bagiannya. Ketika sebuah proyek diluncurkan yang secara langsung atau tidak langsung menyentuh kelompok sosial tertentu, kelompok ini tidak dapat diabaikan untuk ikut serta – misalnya : "Apa yang kamu lakukan?" "Aku pergi bekerja dengan kaum miskin". “Ah, indah sekali. Dan apa yang kamu lakukan?" "Aku mengajar kaum miskin, aku memberitahu kaum miskin apa yang perlu mereka lakukan". Tidak, ini tidak berhasil. Langkah pertama adalah membiarkan kaum miskin memberitahumu bagaimana mereka hidup, apa yang mereka butuhkan… Biarkan setiap orang berbicara! Dan inilah cara kerja prinsip subsidiaritas. Kita tidak bisa mengabaikan keikutsertaan rakyat; kebijaksanaan mereka; kebijaksanaan dari kelompok-kelompok yang lebih rendah tidak dapat dikesampingkan (lihat Seruan Apostolik Querida Amazonia [QA], 32; Ensiklik Laudato Si', 63). Sayangnya, ketidakadilan ini sering terjadi di tempat-tempat di mana kepentingan ekonomi dan geopolitik yang besar terkonsentrasi, seperti, misalnya, aktivitas ekstraktif tertentu di beberapa wilayah di planet ini (lihat QA, 9.14). Suara masyarakat adat, budaya dan visi dunia mereka tidak dipertimbangkan. Saat ini, kurangnya penghormatan terhadap prinsip subsidiaritas telah menyebar seperti virus. Marilah kita pikirkan langkah-langkah bantuan keuangan besar yang diberlakukan oleh negara. Perusahaan keuangan terbesar lebih didengarkan daripada rakyat atau orang-orang yang benar-benar menggerakkan perekonomian. Perusahaan multinasional didengarkan lebih dari sekadar gerakan sosial. Menempatkannya dalam bahasa sehari-hari, mereka lebih mendengarkan yang berkuasa daripada yang lemah dan ini bukan caranya, ini bukan cara manusiawi, ini bukan cara Yesus mengajar kita, bukan bagaimana prinsip subsidiaritas diterapkan. Oleh karena itu, kita tidak memperkenankan rakyat menjadi "perantara dalam penebusan mereka".[1] Ada semboyan ini dalam ketidaksadaran bersama dari beberapa politisi atau beberapa pekerja sosial : segalanya untuk rakyat, tidak ada yang tanpa rakyat. Dari atas ke bawah tanpa mendengarkan kearifan rakyat, tanpa mengaktifkan kearifan rakyat dalam menyelesaikan masalah, dalam hal ini keluar dari krisis. Atau marilah kita pikirkan penangkal virusnya : perusahaan farmasi besar lebih didengarkan daripada petugas kesehatan yang dipekerjakan di garis depan dalam rumah sakit atau dalam kamp pengungsian. Ini bukan cara yang baik. Setiap orang harus didengarkan, mereka yang berada di atas dan mereka yang berada di bawah, semua orang.

 

Untuk keluar lebih baik dari krisis, prinsip subsidiaritas harus diberlakukan, menghormati otonomi dan kemampuan mengambil prakarsa yang dimiliki setiap orang, terutama yang paling kecil. Semua bagian tubuh diperlukan, seperti yang dikatakan Santo Paulus, kita telah mendengar bahwa bagian-bagian yang mungkin tampak paling lemah dan paling tidak penting, pada kenyataannya justru yang paling diperlukan (lihat 1 Kor 12:22). Berdasarkan terang gambaran ini, kita dapat mengatakan bahwa prinsip subsidiaritas memungkinkan setiap orang untuk mengambil perannya masing-masing untuk penyembuhan dan nasib masyarakat. Melaksanakannya, melaksanakan prinsip subsidiaritas memberi harapan, memberi harapan akan masa depan yang lebih sehat dan adil; marilah kita bangun masa depan ini bersama-sama, bercita-cita untuk hal-hal yang lebih besar, memperluas wawasan dan cita-cita kita.[2] Entah kita melakukannya bersama-sama, atau tidak berhasil sama sekali. Atau kita bekerja sama untuk keluar dari krisis, segenap lapisan masyarakat, atau kita tidak akan pernah keluar daripadanya. Tidak seperti itu. Keluar dari krisis tidak berarti mengecam situasi saat ini agar tampak lebih adil. Tidak. Keluar dari krisis berarti berubah, dan perubahan sejati yang disumbangkan oleh setiap orang, semua orang yang membentuk suatu bangsa. Segenap profesi, seluruhnya. Dan seluruhnya bersama-sama, semua orang dalam komunitas. Jika setiap orang tidak memberi sumbangan, hasilnya akan buruk.

 

Dalam katekese sebelumnya, kita melihat bagaimana kesetiakawana - kesetiakawanan sekarang - adalah jalan keluar dari krisis : kesetiakawanan mempersatukan kita dan memungkinkan kita menemukan tawaran yang padat untuk dunia yang lebih sehat. Tetapi jalan kesetiakawanan ini membutuhkan subsidiaritas. Seseorang mungkin berkata kepada saya : "Tetapi, Bapa, hari ini kamu mengatakan hal-hal yang sulit!" Karena itulah saya mencoba menjelaskan apa artinya. Kesetiakawanan, karena kita mengambil jalur subsidiaritas. Faktanya, tidak ada kesetiakawanan sejati tanpa keikutsertaan sosial, tanpa sumbangan badan perantara : keluarga, lembaga, koperasi, usaha kecil, dan ungkapan masyarakat lainnya. Setiap orang perlu memberi sumbangan, semua orang. Jenis keikutsertaan ini membantu mencegah dan memperbaiki aspek buruk tertentu dari globalisasi dan tindakan negara, sama seperti yang terjadi sehubungan dengan penyembuhan orang yang terkena pandemi. Sumbangan “dari bawah” ini seharusnya didorong. Betapa indahnya melihat para sukarelawan selama krisis. Para sukarelawan berasal dari berbagai lapisan masyarakat, para sukarelawan yang berasal dari keluarga mampu maupun keluarga yang kurang mampu. Tetapi semua orang, semuanya keluar bersama-sama. Inilah kesetiakawanan dan inilah prinsip subsidiaritas.

 

Selama kuncian, sikap bertepuk tangan secara spontan, tepuk tangan untuk para dokter dan para perawat dimulai sebagai tanda penyemangat dan harapan. Banyak yang mempertaruhkan hidup mereka dan banyak yang menyerahkan hidup mereka. Marilah menyampaikan tepuk tangan ini kepada setiap anggota badan sosial, kepada masing-masing dan setiap orang, atas sumbangan mereka yang berharga, sekecil apa pun. “Tetapi bisakah orang di sana melakukannya?” “Dengarkan orang itu! Berilah orang itu ruang untuk bekerja, konsultasikan dengannya". Marilah kita beri tepuk tangan untuk "orang-orang yang tercampakkan", orang-orang yang didefinisikan oleh budaya sebagai mereka yang "terbuang", budaya membuang ini - yaitu, marilah memberi tepuk tangan kepada orang-orang lanjut usia, anak-anak, para penyandang cacat, marilah bertepuk tangan bagi para pekerja, semua orang yang mendedikasikan diri untuk melayani. Semua orang memberi sumbangan untuk keluar dari krisis. Tetapi jangan berhenti hanya pada bertepuk tangan. Harapan itu berani, jadi, marilah kita dorong diri kita untuk bermimpi besar. Saudara dan saudari, marilah belajar bermimpi besar! Jangan takut untuk bermimpi besar, mencari cita-cita keadilan dan cinta sosial yang lahir dari harapan. Jangan mencoba merekonstruksi masa lalu, masa lalu adalah masa lalu, nantikan hal-hal baru. Janji Tuhan adalah : "Aku akan memperbaharui segala sesuatu". Marilah mendorong diri kita untuk bermimpi besar, mengusahakan cita-cita itu, tidak mencoba merekonstruksi masa lalu, terutama masa lalu yang tidak adil dan sudah sakit…. Marilah kita membangun masa depan di mana dimensi lokal dan global saling memperkaya - setiap orang dapat memberi sumbangan, setiap orang harus menyumbangkan keikutsertaan mereka, dari budaya mereka, dari filosofi mereka, dari cara berpikir mereka - di mana keindahan dan kekayaan kelompok yang lebih kecil, bahkan kelompok yang tersingkirkan, dimungkinkan berkembang - karena keindahan juga ada di sana - dan tempat orang-orang yang lebih mengabdikan diri untuk melayani dan memberi lebih banyak kepada mereka yang memiliki lebih sedikit. Terima kasih.

 

[Salam khusus]

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Saat musim panas hampir berakhir, saya berharap hari-hari istirahat ini akan membawa kedamaian dan ketenangan bagi semuanya. Bagi kalian dan keluarga kalian, saya memohonkan sukacita Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang dampak pandemi saat ini dalam terang ajaran sosial Gereja, kita telah bercermin tentang perlunya kesetiakawanan dengan semua saudara dan saudari kita, terutama yang miskin, yang rentan dan yang tersisih. Sebagai pribadi, sebagai komunitas dan sebagai umat beriman, kita dipanggil untuk bekerja bersama dalam membawa kesembuhan dan harapan bagi dunia kita. Kesetiakawanan, pada bagiannya, menyiratkan penghormatan terhadap prinsip subsidiaritas, di mana setiap lapisan masyarakat, dari negara hingga setiap kelompok perantara dan lebih kecil, termasuk keluarga dan Gereja, memiliki peran yang tepat untuk dimainkan dalam merevitalisasi tatanan sosial. Seperti diajarkan Santo Paulus, semua anggota tubuh, bahkan anggota yang tampaknya paling tidak penting, sangat penting untuk berfungsinya seluruh tubuh. Kuncian telah membuat kita menghargai upaya diam-diam dari begitu banyak pribadi dan kelompok untuk melayani komunitas yang lebih luas. Ketika kita memandang masa depan, semoga prinsip kesetiakawanan dan subsidiaritas menuntun upaya kita untuk keluar dari krisis dengan bekerja demi tatanan sosial yang semakin adil serta menghormati martabat dan karunia masing-masing anggotanya.



[1]Pesan Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke-106 2020 (13 Mei 2020).

[2]Lihat Ceramah kepada para mahasiswa di Pusat Kebudayaan Pastor Félix Varela, Havana - Kuba, 20 September 2015.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 20 September 2020 : PANGGILAN DAN IMBALAN ALLAH


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat siang!

 

Perikop Injil hari ini (lihat Mat 20:1-16) menceritakan perumpamaan tentang para pekerja yang dipanggil untuk melakukan pekerjaan harian oleh pemilik kebun anggur. Melalui narasi ini, Yesus menunjukkan kepada kita cara bertindak Allah yang mengejutkan, yang diwakili oleh dua sikap dari sang pemilik kebun anggur : panggilan dan imbalan.

 

Pertama-tama, panggilan. Lima kali pemilik kebun anggur itu keluar dan memanggil [orang-orang] untuk bekerja baginya : pukul enam, sembilan, dua belas, tiga, dan lima sore. Gambaran pemilik ini, yang pergi keluar berkali-kali untuk mencari para pekerja harian bagi kebun anggurnya, sangat menyentuh. Sang pemilik mewakili Allah yang memanggil semua orang dan selalu memanggil, setiap saat. Bahkan hari ini, Allah bertindak seperti ini : Ia terus memanggil siapa pun, pada jam berapa pun, untuk mengundang mereka bekerja dalam Kerajaan-Nya. Inilah gaya Allah, yang pada gilirannya kita dipanggil untuk menerima dan meneladaninya. Ia tidak tinggal di dalam dunia-Nya, tetapi “keluar” : Allah selalu keluar, mencari kita; Ia tidak tertutup - Allah keluar. Ia terus mencari orang-orang, karena Ia tidak ingin siapa pun dikecualikan dari rencana kasih-Nya.

 

Komunitas kita juga dipanggil untuk pergi ke berbagai jenis “perbatasan” yang mungkin ada, untuk menawarkan kepada setiap orang sabda keselamatan yang dibawa oleh Yesus. Ini berarti terbuka terhadap cakrawala dalam hidup yang menawarkan harapan bagi mereka yang ditempatkan di pinggiran keberadaan, yang belum mengalami, atau telah kehilangan, kekuatan dan terang yang berasal dari perjumpaan dengan Kristus. Gereja perlu menjadi seperti Allah : selalu keluar; dan ketika Gereja tidak keluar, ia menjadi sakit dengan banyak kejahatan yang kita miliki di dalam Gereja. Dan mengapa penyakit ini ada di dalam Gereja? Karena Gereja tidak keluar. Memang benar bahwa ketika seseorang keluar, ada bahaya kecelakaan. Tetapi lebih baik sebuah Gereja yang mengalami kecelakaan karena pergi untuk mewartakan Injil, daripada Gereja yang sakit karena tetap tidak beranjak. Allah selalu keluar karena Ia adalah Bapa, karena Ia mengasihi. Gereja harus melakukan hal yang sama : selalu keluar.

 

Sikap kedua dari sang pemilik, yang mewakili sikap Allah, adalah caranya memberi imbalan kepada para pekerja. Bagaimana cara Allah membayar? Sang pemilik sepakat untuk "satu dinar" (ayat 2) dengan pekerja pertama yang ia pekerjakan di pagi hari. Sebaliknya, kepada mereka yang ia pekerjakan kemudian, ia berkata : “Apa yang pantas akan kuberikan kepadamu” (ayat 4). Pada akhirnya, sang pemilik kebun anggur itu memerintahkan agar setiap orang diberi upah yang sama, yaitu satu dinar. Mereka yang telah bekerja sejak pagi menjadi marah dan mengeluh kepada sang pemilik, tetapi ia bersikeras : ia ingin memberikan upah maksimum kepada semua orang, bahkan kepada mereka yang datang terakhir (ayat 8-15). Allah selalu membayar upah maksimum : Ia tidak membayar setengahnya. Ia membayar seluruhnya. Dengan cara ini, dapat dipahami bahwa Yesus tidak berbicara tentang pekerjaan dan upah semata - itu masalah lain - tetapi tentang Kerajaan Allah dan kebaikan Bapa surgawi yang terus-menerus keluar untuk mengundang, dan Ia membayar semua orang dengan upah maksimum.

 

Faktanya, Allah berperilaku seperti ini : Ia tidak melihat waktu dan hasil, tetapi pada kebersediaan, Ia melihat kemurahan hati yang kita gunakan untuk melayani-Nya. Cara-Nya bertindak melebihi keadilan, dalam arti melampaui keadilan dan diwujudnyatakan dalam rahmat. Seluruhnya rahmat. Keselamatan kita adalah rahmat. Kekudusan kita adalah rahmat. Pemberian kita adalah rahmat, Ia memberi kita melebihi apa sepantasnya kita. Jadi, mereka yang beralasan dengan menggunakan nalar manusia, yaitu nalar imbalan yang diperoleh melalui kebesarannya, dari menjadi yang pertama, menemukan dirinya menjadi yang terakhir. “Tetapi, aku telah banyak bekerja, aku telah melakukan banyak hal di dalam Gereja, aku telah banyak membantu dan mereka membayarku sama dengan orang yang datang terakhir ini…”. Marilah kita ingat siapa orang kudus pertama yang dikanonisasi ddalam Gereja : Penjahat yang baik. Ia "mencuri" Firdaus pada menit terakhir hidupnya : inilah rahmat. Seperti inilah Allah, bahkan dengan kita. Sebaliknya, mereka yang berusaha memikirkan imbalan mereka, gagal; mereka yang dengan rendah hati mempercayakan diri pada belas kasihan Bapa, dari menjadi yang terakhir - seperti Penjahat yang baik - menemukan diri mereka menjadi yang terdahulu (lihat ayat 16).

 

Semoga setiap hari Santa Maria membantu kita merasakan sukacita dan keajaiban dipanggil oleh Allah untuk bekerja bagi-Nya, di ladang-Nya yaitu dunia, di kebun anggur-Nya yaitu Gereja. Dan persahabatan dengan Yesus adalah satu-satunya imbalan kasih-Nya.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih,

 

Menurut rencana yang dibuat sebelum pandemi, Kongres Ekaristi Internasional seharusnya diadakan di Budapest dalam beberapa hari terakhir. Dan karena itu, saya ingin menyampaikan salam saya kepada para gembala dan umat Hongaria dan kepada semua orang yang mengharapkan dengan iman dan sukacita acara gerejawi ini. Kongres telah ditunda hingga tahun depan dari tanggal 5 sampai 12 September, masih di Budapest. Dipersatukan secara rohani, kita mengikuti perjalanan persiapan ini, menemukan dalam Ekaristi sumber dari kehidupan dan perutusan Gereja.

 

Hari ini adalah Hari Universitas Katolik Hati Kudus di Italia. Saya mendorong kalian untuk mendukung lembaga budaya yang penting ini yang dipanggil untuk memberikan kesinambungan dan semangat baru demi sebuah proyek yang telah dikenal tentang bagaimana membuka pintu masa depan bagi banyak generasi muda. Yang lebih penting lagi adalah generasi baru dilatih untuk menjaga martabat manusia dan rumah kita bersama.

 

Saya menyambut kalian semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara, keluarga, kelompok paroki, lembaga dan anggota perorangan umat beriman.

 

Kepada kalian semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat makan siang dan sampai jumpa.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 16 September 2020 : KATEKESE TENTANG AJARAN SOSIAL GEREJA (BAGIAN 7)


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Untuk keluar dari pandemi, kita perlu saling menjaga dan merawat. Saling menjaga dan merawat. Dan kita harus mendukung orang-orang yang merawat mereka yang paling lemah, yang sakit dan yang lanjut usia. Ah, ada kecenderungan untuk menyingkirkan orang-orang yang lanjut usia, meninggalkan mereka. Dan hal ini buruk. Orang-orang ini - didefinisikan dengan baik oleh istilah Spanyol "cuidadores" (para pengemban), mereka yang merawat orang-orang sakit - memainkan peran penting dalam masyarakat dewasa ini, bahkan andai mereka sering tidak menerima pengakuan dan balasan yang sepantasnya mereka terima. Perawatan adalah kaidah emas dari kodrat kita sebagai manusia, dan membawa serta kesehatan dan harapan (bdk. Ensiklik Laudato Si’ [LS], 70). Merawat mereka yang sakit, mereka yang membutuhkan, mereka yang tersingkir : hal ini adalah sebuah kekayaan manusiawi, dan juga kristiani.

 

Kita juga harus memperluas perawatan ini pada rumah kita bersama : pada bumi dan pada setiap makhluk. Semua bentuk kehidupan saling terkait (lihat LS, 137-138), dan kesehatan kita bergantung pada ekosistem yang diciptakan dan dipercayakan Allah kepada kita untuk dirawat (lihat Kej 2:15). Melecehkan mereka, di sisi lain, adalah dosa besar yang merusak diri kita, dan merugikan diri kita, dan membuat diri kita sakit (bdk. LS, 8; 66). Penangkal terbaik melawan penyalahgunaan rumah kita bersama ini adalah kontemplasi (lihat LS, 85, 214). Tetapi mengapa bisa demikian? Apakah tidak ada vaksin untuk hal ini, untuk perawatan di rumah bersama, agar tidak tersingkir? Apa penangkal penyakit tidak merawat rumah kita bersama? Penangkalnya adalah kontemplasi. “Ketika seseorang tidak belajar mengambil waktu untuk mengamati dan menghargai apa yang indah, jangan heran kalau segala benda baginya menjadi obyek untuk digunakan dan disalahgunakan tanpa merasa bersalah" (LS, 215). Juga dalam hal menggunakan barang-barang dan mencampakkannya. Namun, rumah kita bersama, ciptaan, bukan sekadar "sumber daya". Seluruh makhluk memiliki nilai di dalam dan dari dirinya sendiri serta tiap-tiapnya "dengan caranya sendiri, mencerminkan satu sinar kebijaksanaan dan kebaikan Allah yang tidak terbatas" (Katekismus Gereja Katolik, 339). Nilai ini dan pancaran sinar Ilahi ini harus ditemukan dan, untuk menemukannya, kita perlu berkomtemplasi, kita perlu mendengarkan, dan kita perlu berkontemplasi. Kontemplasi juga menyembuhkan jiwa.

 

Tanpa kontemplasi, mudahnya menjadi mangsa antroposentrisme yang tidak seimbang dan angkuh, "aku" berada di pusat segalanya, yang memberikan kepentingan berlebihan pada peran kita sebagai manusia, memposisikan diri kita sebagai penguasa mutlak dari semua makhluk lainnya. Penafsiran yang menyimpang dari teks-teks Kitab Suci tentang penciptaan telah berkontribusi pada salah tafsir ini, yang mengarah pada eksploitasi bumi hingga mencekiknya. Mengeksploitasi ciptaan : hal ini adalah dosa. Kita meyakini bahwa kita berada di pusat, mengklaim menduduki tempat Allah dan karenanya kita merusak keselarasan ciptaan, keselarasan rencana Allah. Kita menjadi para pemangsa, melupakan panggilan kita sebagai penjaga kehidupan. Tentu saja, kita dapat dan harus mengusahakan bumi untuk hidup dan berkembang. Tetapi pekerjaan ini tidak serupa dengan eksploitasi, dan selalu disertai dengan perawatan : membajak dan melindungi, mengusahakan dan merawat ... Inilah perutusan kita (bdk. Kej 2:15). Kita tidak dapat berharap untuk terus bertumbuh pada tingkatan materi, tanpa merawat rumah bersama yang menyambut kita. Saudara dan saudari kita yang paling miskin dan ibu pertiwi kita meratapi kerusakan dan ketidakadilan yang telah kita sebabkan, dan menuntut agar kita mengambil jalan lain. Kita dituntut untuk bertobat, mengubah jalan; juga merawat bumi, merawat ciptaan.

 

Oleh karena itu, pentingnya memulihkan dimensi kontemplatif, yaitu memandang bumi, ciptaan sebagai anugerah, bukan sebagai sesuatu yang dieksploitasi demi keuntungan : bukan. Ketika kita berkontemplasi, kita menemukan dalam diri sesama dan alam sesuatu yang jauh lebih besar daripada kegunaannya. Di sinilah pokok permasalahannya : kontemplasi berjalan melampaui kegunaan sesuatu. Berkontemplasi tentang keindahan tidak berarti mengeksploitasinya, tidak : berkontemplasi. Berkontemplasi cuma-cuma. Kita menemukan nilai intrinsik dari berbagai hal yang diberikan Allah. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh banyak guru rohani kepada kita, langit, bumi, laut, dan setiap makhluk memiliki kapasitas ikonik ini, atau kapasitas mistik ini untuk membawa kita kembali kepada Sang Pencipta dan bersatu dengan ciptaan. Misalnya, Santo Ignatius dari Loyola, di akhir Latihan Rohaninya, mengajak kita untuk melakukan "Kontemplasi untuk datang kepada kasih", yaitu memikirkan bagaimana Allah memandang makhluk-makhluk-Nya dan bergembira bersama mereka; menemukan kehadiran Allah dalam makhluk-makhluk-Nya serta, dengan kebebasan dan kasih karunia, mengasihi dan merawat mereka.

 

Kontemplasi, yang menuntun kita kepada sikap merawat, bukanlah soal memandang alam dari luar, seolah-olah kita tidak tenggelam di dalamnya. Tetapi kita berada dalam alam, kita adalah bagian dari alam. Sebaliknya, dilakukan dari dalam, mengakui kita sebagai bagian dari ciptaan, menjadikan kita pelaku utama dan bukan sekadar penonton dari kenyataan yang tak berbentuk yang hanya untuk dieksploitasi. Mereka yang berkontemplasi dengan cara ini mengalami keheranan tidak hanya pada apa yang mereka lihat, tetapi juga karena mereka merasa bahwa mereka adalah bagian menyeluruh dari keindahan ini; dan mereka juga merasa terpanggil untuk menjaganya dan melindunginya. Dan ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan : mereka yang tidak dapat melakukan kontemplasi terhadap alam dan ciptaan, tidak dapat melakukan kontemplasi terhadap orang-orang dalam kekayaan mereka yang sesungguhnya. Dan mereka yang hidup untuk mengeksploitasi alam akhirnya mengeksploitasi orang-orang dan memperlakukan mereka seperti budak. Hal ini adalah hukum universal. Andai kamu tidak dapat melakukan kontemplasi terhadap alam, akan sangat sulit bagimu untuk melakukan kontemplasi terhadap orang-orang, keindahan orang-orang, saudaramu, saudarimu. Kita semua.

 

Mereka yang tahu bagaimana berkontemplasi akan lebih mudah untuk mulai bekerja mengubah apa yang menghasilkan kemerosotan dan kerusakan terhadap kesehatan. Mereka akan berusaha untuk mendidik dan mempromosikan produksi dan kebiasaan konsumsi baru, untuk berkontribusi pada model pertumbuhan ekonomi baru yang menjamin rasa hormat terhadap rumah kita bersama dan rasa hormat kepada orang-orang. Kontemplatif sedang beraksi : ini bagus! Kita masing-masing seharusnya menjadi penjaga lingkungan, penjaga kemurnian lingkungan, berupaya menggabungkan pengetahuan budaya leluhur yang telah berlangsung ribuan tahun dengan pengetahuan teknis baru, sehingga gaya hidup kita selalu berkelanjutan.

 

Akhirnya, kontemplasi dan perawatan : inilah dua sikap yang menunjukkan cara untuk memperbaiki dan menyeimbangkan kembali hubungan kita sebagai manusia dengan ciptaan.

 

Seringkali, hubungan kita dengan ciptaan tampak seperti hubungan di antara musuh : menghancurkan ciptaan demi kepentingan kita. Mengeksploitasi ciptaan demi keuntungan kita. Janganlah kita lupa bahwa hal ini akan dibayar mahal; janganlah kita melupakan pepatah Spanyol yang mengatakan : “Allah selalu mengampuni; kita terkadang mengampuni; alam tidak pernah mengampuni”. Hari ini di surat kabar saya membaca tentang dua gletser besar di Antartika, dekat Laut Amundsen : kedua gletser tersebut akan segera turun. Akan menjadi mengerikan, karena permukaan laut akan naik dan hal ini akan membawa banyak, banyak kesulitan dan menyebabkan banyak kerugian. Dan mengapa? Oleh karena pemanasan global, tidak merawat lingkungan, tidak merawat rumah bersama. Di sisi lain, ketika kita memiliki hubungan ini - perkenankan saya mengucapkan kata - "persaudaraan" : sebuah majas; hubungan "persaudaraan" dengan ciptaan, kita akan menjadi para penjaga rumah bersama, para penjaga kehidupan dan para penjaga harapan. Kita akan menjaga pusaka yang telah dipercayakan Allah kepada kita sehingga generasi-generasi yang akan datang dapat menikmatinya. Dan beberapa orang mungkin mengatakan : "Tetapi, aku bisa bertahan seperti ini". Tetapi masalahnya bukan bagaimana kamu akan mengelola hari ini - inilah yang dikatakan oleh seorang teolog Jerman, seorang Protestan, seorang yang baik : Bonhoeffer - masalahnya bukan bagaimana kamu akan mengelola hari ini; masalahnya adalah : apa yang akan menjadi warisan, kehidupan untuk generasi-generasi yang akan datang? Marilah kita memikirkan anak-anak kita, cucu kita : apa yang akan kita tinggalkan jika kita mengeksploitasi ciptaan? Marilah kita melindungi jalan "para penjaga" rumah kita bersama, para penjaga kehidupan dan juga para penjaga harapan ini. Mereka menjaga warisan yang telah dipercayakan Allah kepada kita (orang-orang, semua orang) sehingga generasi-generasi yang akan datang dapat menikmatinya. Saya memikirkan khususnya masyarakat adat, yang kepadanya kita semua berhutang terima kasih - juga penebusan dosa, untuk memperbaiki kejahatan yang telah kita lakukan terhadap mereka. Tetapi saya juga memikirkan gerakan, perkumpulan, kelompok populer, yang berkomitmen untuk melindungi wilayah mereka dengan nilai-nilai alami dan budayanya. Kenyataan sosial ini tidak selalu dihargai, dan kadang-kadang bahkan dihalangi; karena mereka tidak mendapatkan uang; tetapi pada kenyataannya mereka berkontribusi pada sebuah revolusi damai, yang dapat kita sebut “revolusi perawatan”. Berkontemplasi untuk merawat, berkontemplasi untuk melindungi, melindungi diri kita, ciptaan, anak-anak kita, dan cucu kita, serta untuk melindungi masa depan. Berkontemplasi untuk merawat dan melindungi, serta meninggalkan warisan untuk generasi-generasi yang akan datang.

 

Dan hal ini tidak boleh didelegasikan kepada orang lain : tugas setiap manusia. Kita masing-masing dapat dan harus menjadi "penjaga rumah bersama", yang mampu memuji Allah karena makhluk-makhluk-Nya, dan mampu berkontemplasi terhadap makhluk-makhluk, dan melindungi mereka. Terima kasih.

 

[Sambutan Bapa Suci]

 

Dengan hormat saya menyapa umat yang berbahasa Inggris. Pada hari-hari ini, pikiran saya tertuju pada orangtua dan orang lemah, dan orang-orang yang dengan murah hati merawat mereka. Atas kalian semua dan keluarga-keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam permenungan lanjutan kita tentang pandemi saat ini dalam terang ajaran sosial Gereja, kita telah melihat peran penting yang dimainkan oleh banyak orang yang dengan murah hati merawat orang lain, terutama yang sakit, lanjut usia dan paling rentan. Kita juga menyadari tanggung jawab kita untuk merawat alam, yang keindahannya sering diabaikan dan sumber dayanya disia-siakan. Untuk mendapatkan kembali pemahaman yang tepat tentang tempat kita dalam ciptaan Allah, dan panggilan kita untuk menghormati dan merawat bumi dan satu sama lain, kita perlu mempelajari lagi seni kontemplasi. Karena ketika kita masuk ke dalam keheningan dan melakukan kontemplasi terhadap dunia kita yang saling terkait, kita menjadi menghargai makna dan nilai yang sesungguhnya dari semua makhluk, karena masing-masing dengan caranya sendiri mencerminkan sesuatu dari kebijaksanaan, kebaikan, dan keindahan Allah yang tak terbatas. Kontemplasi mengajarkan kita betapa menyeluruhnya kita semua dengan seluruh ciptaan, panggilan kita untuk setia menjaga kekayaannya, dan kebutuhan kita untuk melestarikannya untuk generasi-generasi yang akan datang.

PESAN PAUS FRANSISKUS PADA HARI DOA SEDUNIA UNTUK PERAWATAN CIPTAAN (1 September 2020)


Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu (Im 25:10)

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Setiap tahun, khususnya sejak terbitnya Ensiklik Laudato Si' (LS, 24 Mei 2015), hari pertama bulan September dirayakan oleh keluarga Kristiani sebagai Hari Doa Sedunia untuk Perawatan Ciptaan dan awal Masa Ciptaan, yang berakhir pada pesta Santo Fransiskus dari Asisi pada tanggal 4 Oktober. Selama rentang waktu ini, umat Kristiani di seluruh dunia memperbarui iman mereka kepada Allah Sang Pencipta dan bergabung dalam doa serta bekerja untuk perawatan rumah kita bersama.

 

Saya sangat senang bahwa tema yang dipilih oleh keluarga ekumenis untuk perayaan Masa Ciptaan 2020 adalah Yubileum Bumi, tepatnya dalam tahun ini yang merupakan peringatan 50 tahun Hari Bumi. Dalam Kitab Suci, Yubileum adalah masa suci untuk mengingat, kembali, beristirahat, memulihkan, dan bersukacita.

 

1.        Masa untuk Mengingat

 

Kita diundang terutama untuk mengingat bahwa tujuan akhir ciptaan adalah masuk ke dalam Sabat Allah yang kekal. Namun, perjalanan ini berlangsung dalam masa, mencakup irama tujuh hari dalam sepekan, siklus tujuh tahun, dan Tahun Yubileum agung yang datang pada akhir tujuh tahun Sabat.

 

Yubileum memang merupakan masa rahmat untuk mengingat panggilan asli ciptaan untuk hidup dan berkembang sebagai sebuah komunitas cinta. Kita hanya ada dalam hubungan : dengan Allah Sang Pencipta, dengan saudara dan saudari kita sebagai sesama anggota keluarga, dan dengan seluruh ciptaan Allah dalam rumah kita bersama. “Semuanya terhubung; sebagai manusia, kita semua bersatu sebagai saudara dan saudari dalam suatu ziarah yang mengagumkan, terjalin oleh kasih yang Allah tunjukkan bagi setiap makhluk-Nya dan yang dengan kasih sayang yang lembut menyatukan kita juga dengan saudara matahari, saudari bulan, saudari air dan ibu pertiwi” (LS, 92)

 

Yubileum, kemudian, adalah masa mengingat, yang di dalamnya kita menghargai ingatan akan keberadaan lintas hubungan kita. Kita perlu terus-menerus mengingat bahwa "semuanya terhubung, dan perlindungan otentik untuk hidup kita sendiri dan hubungan kita dengan alam tidak dapat dilepaskan dari persaudaraan, keadilan, dan kesetiaan kepada pihak lain" (LS, 70).

 

2.      Masa untuk Kembali

 

Yubileum adalah masa untuk berbalik dalam pertobatan. Kita telah memutuskan ikatan hubungan kita dengan Sang Pencipta, dengan sesama manusia, dan dengan ciptaan lainnya. Kita perlu menyembuhkan hubungan yang rusak yang penting untuk mendukung kita dan seluruh tatanan kehidupan.

 

Yubileum adalah masa untuk kembali kepada Allah Sang Pencipta kita yang penuh kasih. Kita tidak dapat hidup selaras dengan ciptaan jika kita tidak berdamai dengan Sang Pencipta yang merupakan sumber dan asal mula segala sesuatu. Sebagaimana diamati oleh Paus Benediktus, “konsumsi ciptaan yang brutal dimulai ketika Allah berangsur lenyap, di mana benda telah menjadi lahiriah semata bagi kita, di mana kita sendiri adalah ukuran terakhir, di mana segala sesuatu hanyalah milik kita” (Pertemuan dengan Para Imam, Diakon, dan Seminaris Keuskupan Bolzano-Bressanone, 6 Agustus 2008).

 

Masa Yubileum memanggil kita untuk memikirkan kembali sesama manusia, terutama yang miskin dan yang paling rentan. Kita diminta untuk menyesuaikan kembali rencana penciptaan Allah yang asli dan penuh kasih sebagai warisan bersama, sebuah perjamuan yang mengikutsertakan semua saudara dan saudari kita dalam semangat keramahtamahan, bukan dalam perebutan penuh persaingan tetapi dalam persahabatan yang penuh sukacita, saling mendukung dan melindungi. Yubileum adalah masa untuk membebaskan yang tertindas dan semua yang terkungkung dalam belenggu berbagai bentuk perbudakan modern, termasuk perdagangan manusia dan pekerja anak.

 

Kita juga perlu sekali lagi mendengarkan tanah itu sendiri, yang oleh Kitab Suci disebut adamah, tanah yang daripadanya manusia, Adam, diciptakan. Hari ini kita mendengar suara ciptaan memperingatkan kita untuk kembali ke tempat yang selayaknya dalam tatanan alam yang diciptakan - untuk mengingat bahwa kita adalah bagian dari jaringan kehidupan yang saling berhubungan ini, bukan sang pemiliknya. Kehancuran keanekaragaman hayati, bencana iklim yang meningkat, dan dampak yang tidak adil dari pandemi dewasa ini terhadap kaum miskin dan rentan : semua ini adalah seruan untuk menyadarkan kita dalam menghadapi keserakahan dan konsumsi yang merajalela.

 

Khususnya selama Masa Ciptaan ini, semoga kita memperhatikan irama dunia ciptaan ini. Karena dunia diciptakan untuk menyampaikan kemuliaan Allah, membantu kita menemukan dalam keindahannya Tuhan segala ciptaan, dan kembali kepada-Nya (bdk. SANTO BONAVENTURA, In II Sent., I, 2, 2, bab 1, kesimpulan; Breviloquium, II, 5.11). Dengan demikian, bumi tempat kita diciptakan adalah tempat doa dan meditasi. “Marilah kita membangkitkan rasa estetika dan kontemplatif yang diberikan Allah” (Querida Amazonia, 56). Kemampuan untuk bertanya-tanya dan merenung adalah sesuatu yang dapat kita pelajari terutama dari saudara-saudara kita penduduk asli, yang hidup rukun dengan tanah dan berbagai bentuk kehidupannya.

 

3.       Masa untuk Beristirahat

 

Dalam hikmat-Nya, Allah mengesampingkan hari Sabat agar tanah dan penduduknya dapat beristirahat dan diperbarui. Namun belakangan ini, cara hidup kita mendorong planet ini melampaui batasnya. Permintaan kita yang terus menerus untuk pertumbuhan dan siklus produksi dan konsumsi yang tiada henti menguras dunia alam. Hutan berangsur lenyap, tanah lapisan atas terkikis, ladang rusak, gurun bertambah banyak, laut menjadi asam dan badai meningkat. Ciptaan sedang mengerang!

 

Selama tahun Yubelium, umat Allah diundang untuk beristirahat dari pekerjaan biasa mereka dan membiarkan tanah pulih dan bumi memperbaiki dirinya, karena konsumsi individu lebih sedikit dari biasanya. Hari ini kita perlu menemukan cara hidup yang adil dan berkelanjutan yang dapat memberi Bumi istirahat yang dibutuhkannya, cara yang memuaskan semua orang dengan sebuah kecukupan, tanpa merusak ekosistem yang menopang kita.

 

Dalam beberapa hal, pandemi saat ini telah membuat kita menemukan kembali gaya hidup yang lebih sederhana dan berkelanjutan. Krisis, dalam arti tertentu, telah memberi kita kesempatan untuk mengembangkan cara hidup baru. Kita sudah bisa melihat bagaimana bumi bisa pulih jika kita membiarkannya beristirahat : udara menjadi lebih bersih, air lebih jernih, dan hewan telah kembali ke banyak tempat dari tempat mereka yang sebelumnya menghilang. Pandemi telah membawa kita ke persimpangan jalan. Kita harus menggunakan momen yang menentukan ini untuk mengakhiri tujuan dan kegiatan yang berlebihan dan merusak, serta menumbuhkan nilai, hubungan, dan kegiatan yang memberi kehidupan. Kita harus menelaah kebiasaan penggunaan energi, konsumsi, transportasi, dan diet kita. Kita harus menghilangkan aspek ekonomi kita yang berlebihan dan merusak, serta memelihara cara yang memberi kehidupan dalam berniaga, berproduksi, dan mengangkut barang.

 

4.      Masa untuk Memulihkan

 

Yubileum adalah masa untuk memulihkan keselarasan asali ciptaan dan menyembuhkan hubungan antarmanusia yang tegang.

 

Yubileum mengundang kita untuk membangun kembali hubungan sosial yang adil, memulihkan kebebasan hubungan tersebut dan barang-barang untuk semua orang serta saling menghapuskan hutang. Kita tidak boleh melupakan mengglobalnya eksploitasi historis Selatan yang telah menciptakan hutang ekologi yang sangat besar, terutama karena penjarahan sumber daya dan penggunaan berlebihan ruang lingkungan bersama untuk pembuangan limbah. Yubileum adalah masa untuk keadilan yang bersifat memulihkan. Dalam konteks ini, saya kembali menyerukan penghapusan hutang negara-negara yang paling rentan, sebagai pengakuan atas dampak parah dari krisis medis, sosial dan ekonomi yang mereka hadapi akibat Covid-19. Kita juga perlu memastikan bahwa paket pemulihan yang sedang dikembangkan dan disebarkan di tingkat global, regional dan nasional harus menjadi paket regenerasi. Kebijakan, undang-undang dan investasi harus difokuskan demi kebaikan bersama serta menjamin bahwa tujuan sosial dan lingkungan global terpenuhi.

 

Kita juga perlu memulihkan tanah. Pemulihan iklim adalah yang paling penting, karena kita berada di tengah keadaan darurat iklim. Kita sedang kehabisan waktu, sebagaimana diingatkan oleh anak-anak dan remaja kita. Kita perlu melakukan segalanya berdasarkan kapasitas kita untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata global di bawah ambang batas 1,5 °C yang diabadikan dalam Kesepakatan Iklim Paris, karena suhu yang terlampaui ini terbukti membawa bencana, terutama bagi komunitas miskin di seluruh dunia. Kita perlu membela kesetiakawanan di dalam generasi dan antargenerasi pada saat kritis ini. Saya mengundang semua negara untuk mengadopsi target nasional yang lebih ambisius untuk mengurangi emisi, dalam persiapan untuk Konferensi Tingkat Tinggi Iklim (COP 6) yang penting di Glasgow, Inggris Raya.

 

Pemulihan keanekaragaman hayati juga sangat penting dalam konteks hilangnya spesies dan kemerosotan ekosistem yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kita perlu mendukung seruan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk melindungi 30% bumi sebagai habitat yang dilindungi pada tahun 2030 guna membendung tingkat kepunahan keanekaragaman hayati yang mengkhawatirkan. Saya menghimbau komunitas internasional untuk bekerja sama guna menjamin agar Konferensi Tingkat Tinggi tentang  keanekaragaman hayati (COP 15) di Kunming, Tiongkok, menjadi titik balik dalam memulihkan bumi menjadi rumah kehidupan yang berkelimpahan, seperti yang dikehendaki oleh Sang Pencipta.

 

Kita harus memulihkan dengan mempertimbangkan keadilan, memastikan bahwa mereka yang telah tinggal di tanah tersebut selama beberapa generasi dapat memperoleh kembali kendali atas penggunaannya. Masyarakat adat harus dilindungi dari perusahaan, terutama perusahaan multinasional, yang “beroperasi di negara berkembang dengan cara-cara yang tidak pernah dapat mereka lakukan di negara-negara tempat mereka memperoleh modal” (LS, 51), melalui ekstraksi yang merusak bahan bakar fosil, mineral, kayu dan produk agroindustri. Pelanggaran korporasi ini adalah "versi baru kolonialisme" (SANTO YOHANES PAULUS II, Wejangan kepada Akademi Ilmu-ilmu Sosial Kepausan, 27 April 2001, dikutip dalam Querida Amazonia, 14), tindakan yang secara memalukan mengeksploitasi negara dan komunitas yang lebih miskin yang putus asa dalam mengusahakan pembangunan ekonomi. Kita perlu memperkuat undang-undang nasional dan internasional untuk mengatur kegiatan perusahaan ekstraktif dan memastikan akses keadilan bagi mereka yang terdampak.

 

5.      Masa untuk Bersukacita

 

Dalam tradisi Kitab Suci, Yubileum adalah kesempatan yang menyukacitakan, dikumandangkan dengan tiupan sangkakala yang bergema di seluruh negeri. Kita sadar bahwa jeritan bumi dan kaum miskin menjadi semakin keras dan menyakitkan dalam beberapa tahun terakhir. Pada saat yang sama, kita juga menyaksikan bagaimana Roh Kudus menginspirasi individu dan komunitas di seluruh dunia untuk bersama-sama membangun kembali rumah kita bersama dan membela yang paling rentan di tengah-tengah kita. Kita melihat secara bertahap kemunculan mobilisasi besar-besaran orang-orang dari bawah dan dari pinggiran yang dengan murah hati bekerja untuk melindungi tanah dan kaum miskin. Kita bersuka cita melihat bagaimana kaum muda dan komunitas, khususnya komunitas adat, berada di garis depan dalam menanggapi krisis ekologi. Mereka menyerukan Yubileum bagi bumi dan awal yang baru, menyadari bahwa “hal-hal dapat berubah” (LS, 13).

 

Kita juga bersukacita melihat bagaimana Tahun Khusus Peringatan Laudato Si’ sedang menginspirasi banyak prakarsa di tingkat lokal dan global untuk merawat rumah kita bersama dan kaum miskin. Tahun ini harus mengarah pada rencana aksi jangka panjang untuk melaksanakan ekologi menyeluruh dalam keluarga kita, paroki dan keuskupan, tarekat religius, sekolah dan universitas kita, perawatan kesehatan, lembaga bisnis dan pertanian kita, dan juga banyak lainnya.

 

Kita juga bersukacita karena komunitas iman sedang bersatu untuk menciptakan dunia yang lebih adil, damai, dan berkelanjutan. Kita sangat senang bahwa Masa Ciptaan benar-benar menjadi prakarsa ekumenis. Marilah kita terus bertumbuh dalam kesadaran bahwa kita semua tinggal serumah sebagai anggota satu keluarga.

 

Marilah kita semua bersukacita karena Sang Pencipta kita yang penuh kasih menopang upaya kerendahan hati kita untuk merawat bumi, yang juga merupakan rumah Allah tempat Sabda-Nya “telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14) dan yang terus-menerus diperbarui dengan pencurahan Roh Kudus.

 

"Utuslah Roh-Mu, ya Tuhan, dan perbaharui muka bumi” (bdk. Mzm 104:30).

 

 

Roma, Santo Yohanes Lateran, 1 September 2020

 

FRANSISKUS