Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 17 Maret 2021 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 25)

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini kita akan menyelesaikan katekese tentang doa sebagai hubungan dengan Tritunggal Mahakudus, khususnya dengan Roh Kudus.

 

Karunia pertama keberadaan maing-masing umat Kristiani adalah Roh Kudus. Karunia tersebut bukan salah satu dari banyak karunia, melainkan karunia dasariah. Roh Kudus adalah karunia yang telah dijanjikan Yesus untuk diberikan kepada kita. Tanpa Roh Kudus tidak ada hubungan dengan Kristus dan Bapa, karena Roh Kudus membuka hati kita ke hadirat Allah dan menariknya ke dalam “pusaran” kasih yang merupakan hati Allah yang sesungguhnya. Kita bukan hanya tamu dan peziarah dalam perjalanan di bumi ini; kita juga tamu dan peziarah Tritunggal. Kita seperti Abraham, yang suatu hari menyambut tiga musafir di kemahnya, berjumpa Allah. Jika kita benar-benar dapat memanggil Allah, menyebut-Nya “Abba - Bapa”, itu karena Roh Kudus tinggal di dalam diri kita; Dialah yang mengubah rupa kita jauh di lubuk hati dan membuat kita mengalami sukacita yang mengharukan karena dikasihi Allah sebagai anak-anak-Nya yang sejati. Segenap karya rohani menuju Allah dalam diri kita dilaksanakan oleh Roh Kudus, karunia ini. Ia bekerja di dalam diri kita untuk menjalankan kehidupan Kristiani menuju Bapa, bersama Yesus.

 

Katekismus, dalam hal ini mengatakan : “Setiap kali kita mulai berdoa kepada Yesus, Roh Kudus menarik kita ke jalan doa, dengan perantaraan rahmat-Nya yang mendahului kita. Ia mengajar kita berdoa dengan mengingatkan kita akan Yesus; bagaimana mungkin kita tidak berdoa juga kepada-Nya sendiri? Karena itu Gereja mengundang kita berdoa setiap hari memohon Roh Kudus, terutama pada awal dan pada akhir setiap perbuatan yang penting” (no. 2670). Inilah karya Roh Kudus di dalam diri kita. Ia "mengingatkan" kita tentang Yesus dan menghadirkan-Nya untuk kita - kita mungkin mengatakan bahwa Ia adalah ingatan kita akan Tritunggal, Ia adalah ingatan akan Allah di dalam diri kita - dan Ia menghadirkan ingatan akan Yesus, sehingga Ia tidak direduksi menjadi sosok masa lalu : yaitu, Roh Kudus membawa Yesus ke masa kini dalam kesadaran kita. Jika Kristus hanya jauh dalam waktu, kita akan sendirian dan lenyap di dunia. Ya, kita akan mengingat Yesus, nun jauh di sana, tetapi Roh Kuduslah yang membawa-Nya hari ini, sekarang, pada saat ini, di dalam hati kita. Tetapi dalam Roh Kudus semuanya dibawa kepada kehidupan : kemungkinan berjumpa Kristus terbuka bagi umat Kristiani di setiap waktu dan tempat. Kemungkinan berjumpa Kristus, tidak hanya sebagai tokoh sejarah, terbuka. Tidak : Ia menarik Kristus ke dalam hati kita, Roh Kuduslah yang membuat kita berjumpa Yesus. Ia tidak jauh, Roh Kudus ada bersama kita : Yesus masih mengajar murid-murid-Nya dengan mengubah rupa hati mereka, seperti yang dilakukan-Nya dengan Petrus, dengan Paulus, dengan Maria Magdalena, dengan semua rasul. Tetapi mengapa Yesus hadir? Karena Roh Kuduslah yang membawa-Nya kepada kita.

 

Inilah pengalaman begitu banyak orang yang berdoa : pria dan wanita yang telah dibentuk Roh Kudus seturut "ukuran" Kristus, dalam belas kasihan, dalam pelayanan, dalam doa, dalam katekese ... Dapat bertemu orang-orang seperti ini merupakan rahmat : kamu menyadari bahwa kehidupan yang beraneka ragam berdenyut di dalam diri mereka, cara mereka memandang "melampaui". Kita dapat memikirkan tidak hanya para biarawan dan para pertapa; mereka juga ditemukan di antara orang-orang biasa, orang-orang yang telah menjalin sejarah panjang dialog dengan Allah, terkadang pergumulan batin, yang memurnikan iman mereka. Para saksi yang rendah hati ini telah mencari Allah dalam Injil, dalam Ekaristi yang diterima dan disembah, dalam rupa saudara atau saudari yang berada dalam kesulitan, dan mereka menjaga kehadiran-Nya seperti nyala api yang tersembunyi.

 

Tugas pertama umat Kristiani adalah menjaga nyala api yang dibawa Yesus ke bumi (lihat Luk 12:49), dan apakah nyala api ini? Nyala api tersebut adalah kasih, Kasih Allah, Roh Kudus. Tanpa api Roh Kudus, nubuat-Nya padam, dukacita menggasak sukacita, rutinitas menggantikan kasih, dan pelayanan berubah menjadi perbudakan. Gambaran lampu yang menyala di sebelah Tabernakel, tempat Ekaristi disimpan, muncul di benak. Bahkan ketika gereja kosong dan malam tiba, bahkan ketika gereja ditutup, lampu itu tetap menyala, dan terus menyala; tak seorang pun yang melihatnya, namun lampu itu menyala di hadirat Allah. Beginilah Roh Kudus ada di dalam hati kita, selalu hadir seperti lampu itu.

 

Sekali lagi kita membaca dalam Katekismus : “Roh Kudus, yang urapan-Nya memenuhi seluruh diri kita, adalah guru doa Kristen di dalam batin kita. Ialah sumber tradisi doa yang hidup. Banyaknya cara berdoa dapat ditemukan sebanyak manusia yang berdoa, namun Roh yang sama bekerja di dalam semua mereka dan dengan semua mereka. Di dalam persekutuan Roh Kudus, doa Kristen adalah doa di dalam Gereja” (no. 2672). Sangat sering terjadi ketika kita tidak berdoa, kita tidak merasakan sedang berdoa, atau seringkali kita berdoa seperti burung beo, dengan mulut, tetapi hati kita tidak ada di dalamnya. Inilah saat untuk berkata kepada Roh Kudus : “Datanglah, datanglah Roh Kudus, hangatkan hatiku. Datanglah dan ajarlah aku berdoa, ajarlah aku memandang Bapa, memandang Putra. Ajarlah aku jalan iman. Ajarlah aku bagaimana mengasihi dan, terutama, ajarlah aku memiliki sikap harapan". Itu berarti terus menerus memanggil Roh Kudus, agar Ia bisa hadir dalam hidup kita.

 

Oleh karena itu Roh Kuduslah yang menulis sejarah Gereja dan dunia. Kita adalah buku yang terbuka, bersedia menerima tulisan tangan-Nya. Dan dalam diri kita masing-masing Roh Kudus menggubah karya asli, karena tidak pernah ada satupun umat Kristiani yang benar-benar identik dengan umat Kristiani lainnya. Dalam ranah kekudusan yang tak terbatas, Allah yang satu, Tritunggal Sang Kasih, memungkinkan berbagai kesaksian berkembang : semuanya memiliki martabat yang sama, tetapi juga unik dalam keindahan yang dikehendaki Roh Kudus untuk dilampiaskan dalam setiap orang yang telah dijadikan anak-anak-Nya oleh belas kasihan Allah. Janganlah kita lupa, Roh Kudus hadir, Ia hadir di dalam diri kita. Marilah kita mendengarkan Roh Kudus, marilah kita memanggil Roh Kudus - Ia adalah karunia, masa kini yang telah diberikan Allah kepada kita - dan katakanlah kepada-Nya : “Roh Kudus, aku tidak mengenal wajah-Mu - kami tidak mengetahuinya - tetapi aku tahu bahwa Engkaulah kekuatan, Engkaulah terang, Engkau mampu membuatku maju, dan ajarlah aku bagaimana berdoa. Datanglah, Roh Kudus”. Inilah doa yang indah : “Datanglah, Roh Kudus”.

 

[Seruan]

 

Pekan ini saya prihatin dengan berita dari Paraguay.

 

Melalui perantaraan Bunda Mukjizat Caacupé, saya memohon kepada Tuhan Yesus, Sang Raja Damai, agar jalan dialog yang tulus dapat ditemukan guna menemukan solusi yang memadai untuk kesulitan saat ini, dan dengan demikian membangun bersama perdamaian yang dirindukan. Marilah kita ingat bahwa kekerasan selalu merusak diri sendiri. Tidak ada yang diperoleh melaluinya, tetapi banyak yang hilang.

 

Sekali lagi, dan dengan dukacita yang luar biasa, saya merasa sangat mendesak untuk menyebutkan situasi dramatis di Myanmar, di mana banyak orang, terutama kaum muda, kehilangan nyawa demi menawarkan harapan bagi negari mereka. Saya juga berlutut di jalanan Myanmar dan berkata : Akhiri kekerasan! Saya juga mengulurkan tangan saya dan berkata : semoga berlaku dialog!

 

[Sambutan khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat yang berbahasa Inggris. Semoga perjalanan Prapaskah kita membawa kita kepada sukacita Paskah dengan hati yang dimurnikan dan diperbarui oleh rahmat Roh Kudus. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam katekese kita tentang doa Kristiani, kita telah melihat bahwa melalui doa kita ambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus, bersyukur karunia Kristus yang berasal dari Roh Kudus. Roh Kudus sesungguhnya mengajarkan kita berdoa, menjadikan Kristus hadir dan aktif dalam hidup kita dan di dunia kita. Di dalam Roh Kudus kita dimampukan untuk memanggil Allah Bapa kita, menjalankan panggilan kita menuju kekudusan, dan melaksanakan perutusan baptisan kita sebagai saksi penebusan dan belas kasihan Kristus. Melalui doa dan karya kasih, kita membuka hidup kita terhadap karunia-karunia Roh Kudus, mengikuti jejak orang-orang kudus yang tak terhitung jumlahnya yang telah mendahului kita. Katekismus mengatakan kepada kita bahwa ada banyak cara berdoa dapat ditemukan sebanyak manusia yang berdoa, namun Roh yang sama bekerja di dalam semua mereka dan dengan semua mereka. Di dalam persekutuan Ron Kudus, doa Kristen adalah doa di dalam Gereja (bdk. No. 2672). Dalam doa, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita dalam kehidupan kita sehari-hari, menarik kita semakin sepenuhnya ke dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus, dan menganugerahkan kepada Gereja kekayaan karunia-Nya untuk pertumbuhan keluarga manusiawi kita dalam kesatuan dan perdamaian.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 17 Maret 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 14 Maret 2021

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Pada Hari Minggu Prapaskah IV ini, Liturgi Ekaristi dimulai dengan ajakan ini : “Bersukacitalah hai Yerusalem …” (lihat Yes 66:10). Apa alasan dari sukacita ini? Di tengah-tengah Masa Prapaskah, apa alasan untuk sukacita ini? Bacaan Injil hari ini mengatakan kepada kita : “begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Iman Kristiani : kasih Allah mencapai puncaknya dalam penganugerahan Putra-Nya kepada umat manusia yang lemah dan berdosa. Ia memberikan Putra-Nya kepada kita, kepada kita semua.

 

Inilah yang muncul dalam dialog di malam hari antara Yesus dan Nikodemus, yang sebagian juga dijelaskan dalam Bacaan Injil (lihat Yoh 3:14-21). Nikodemus, seperti setiap anggota umat Israel, menantikan Mesias, mengidentifikasikan-Nya sebagai orang yang berkuasa yang akan menghakimi dunia dengan kuasa-Nya. Sebaliknya, Yesus menantang harapan ini dengan menampilkan diri-Nya dalam tiga bentuk : Putra Manusia yang ditinggikan di kayu salib; Putra Allah diutus ke dunia demi keselamatan; dan terang yang membedakan orang-orang yang mengikuti kebenaran daripada orang-orang yang mengikuti kebohongan. Marilah kita melihat tiga aspek ini : Putra Manusia, Putra Allah, dan Terang.

 

Yesus pertama-tama menampilkan dirinya sebagai Putra Manusia (ayat 14-15). Teks menyinggung kisah tentang ular tembaga (lihat Bil 21:4-9) yang, atas kehendak Allah, dipasang oleh Musa di padang gurun ketika orang-orang diserang oleh ular tedung; setiap orang yang digigit dan melihat ular tembaga itu akan sembuh. Demikian pula dengan Yesus yang ditinggikan di kayu salib dan orang-orang yang percaya kepada-Nya disembuhkan dari dosa dan hidup.

 

Aspek kedua adalah tentang Putra Allah (ayat 16-18). Allah Bapa mengasihi umat manusia sampai pada titik “memberikan” Putra-Nya : Ia memberikan-Nya dalam Penjelmaan dan Ia memberikan-Nya dengan menyerahkan-Nya kepada kematian. Tujuan pemberian Allah adalah kehidupan kekal setiap orang : sesungguhnya, Allah mengutus Putra-Nya ke dunia bukan untuk menghakiminya, tetapi agar dunia bisa diselamatkan melalui Yesus. Perutusan Yesus adalah perutusan keselamatan, keselamatan bagi semua orang.

 

Nama ketiga yang diberikan Yesus kepada diri-Nya adalah "terang" (ayat 19-21). Injil mengatakan : "Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang" (ayat 19). Kedatangan Yesus ke dunia menuntun kepada sebuah pilihan : siapa pun yang memilih kegelapan akan menghadapi penghakiman, siapa pun yang memilih terang akan mendapatkan penghakiman keselamatan. Penghakiman selalu merupakan konsekuensi dari pilihan bebas setiap orang: siapa yang melakukan kejahatan mencari kegelapan, kejahatan selalu bersembunyi, menutupi dirinya. Siapa pun yang mencari kebenaran, yaitu, yang melaksanakan apa yang baik, datang kepada terang, menerangi jalan kehidupan. Siapa pun yang berjalan dalam terang, siapa pun yang mendekati terang, tidak bisa tidak melakukan perbuatan baik. Inilah panggilan kita yakni melakukan dengan dedikasi yang lebih besar selama Prapaskah : menyambut terang ke dalam hati nurani kita, membuka hati kita terhadap kasih Allah yang tak terbatas, terhadap belas kasihan-Nya yang penuh kelembutan dan kebaikan, terhadap pengampunan-Nya. Jangan lupa bahwa Allah selalu mengampuni, jika kita dengan rendah hati memohon pengampunan. Cukup hanya dengan memohonkan pengampunan, dan Ia mengampuni. Dengan cara ini kita akan menemukan sukacita sejati dan dapat bersukacita dalam pengampunan Allah, yang melahirkan kembali dan memberi kehidupan.

 

Semoga Santa Maria membantu kita untuk tidak takut membiarkan diri kita “dilemparkan ke dalam krisis” oleh Yesus. Krisis yang menyehatkan, demi kesembuhan kita : agar sukacita kita dapat menjadi penuh.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih,

 

Sepuluh tahun yang lalu, pertikaian berdarah di Suriah dimulai, yang menyebabkan salah satu bencana kemanusiaan paling serius di zaman kita : jumlah korban tewas dan terluka yang tak terhitung banyaknya, jutaan pengungsi, ribuan orang hilang, kehancuran, segala jenis kekerasan dan penderitaan luar biasa bagi rakyat. seluruh penduduk, terutama yang paling rentan, seperti anak-anak, kaum perempuan, dan kaum tua. Dengan sepenuh hati saya kembali mengimbau pihak-pihak yang bertikai untuk menunjukkan tanda-tanda niat baik, sehingga secercah harapan dapat terbuka bagi penduduk yang kelelahan. Saya juga mengharapkan komitmen yang tegas dan diperbarui, yang membangun dan dalam kesetiakawanan, dari pihak masyarakat internasional, sehingga, setelah senjata diletakkan, tatanan sosial dapat diperbaiki dan rekonstruksi serta pemulihan ekonomi dapat dimulai.

 

Marilah kita semua berdoa kepada Tuhan agar penderitaan yang luar biasa di Suriah yang kita cintai dan tersiksa tidak boleh terlupakan, dan agar kesetiakawanan kita dapat menghidupkan kembali harapan. Marilah kita bersama-sama mendoakan Suriah kita yang tercinta dan tersiksa.

 

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah Engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.

 

Jumat depan, 19 Maret, pada Hari Raya Santo Yosef, Tahun Keluarga Amoris Laetitia akan dibuka : tahun khusus untuk bertumbuh dalam kasih keluarga. Saya kembali menyerukan dorongan pastoral yang kreatif untuk menempatkan keluarga dalam pusat perhatian baik Gereja maupun masyarakat. Saya berdoa agar setiap keluarga dapat merasakan di rumah sendiri kehadiran yang hidup dari Keluarga Kudus Nazaret, agar dapat memenuhi komunitas kecil rumahtangga kita dengan kasih yang tulus dan murah hati, sumber sukacita bahkan dalam berbagai pencobaan dan kesulitan.

 

Saya menyapa remaja laki-laki dan perempuan tim bola basket, yang ditemani oleh keluarga mereka dan pelatih mereka, yang hadir hari ini di Lapangan Santo Petrus. Bagus, lanjutkan seperti ini, teruskan!

 

Dengan hangat saya menyambut kalian semua, umat Roma yang terkasih dan para peziarah yang terkasih. Dan secara khusus, saya menyapa banyak orang Filipina, yang sedang merayakan lima ratus tahun pewartaan Injil di Filipina. Harapan terbaik untuk kalian! Dan maju, dengan sukacita Injil!

 

Kepada kalian semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang kalian, dan sampai jumpa!

______

*(Peter Suriadi - Bogor, 14 Maret 2021)*

 

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 10 Maret 2021 : TENTANG PERJALANAN APOSTOLIK KE IRAK (5-8 Maret 2021)

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Dalam beberapa hari terakhir, Tuhan memperkenankan saya mengunjungi Irak, melaksanakan rencana Santo Yohanes Paulus II. Belum pernah sebelumnya seorang Paus berada di tanah Abraham. Penyelenggaraan ilahi berkehendak bahwa hal ini harus terjadi sekarang, sebagai tanda harapan, setelah bertahun-tahun peperangan dan terorisme, dan selama parahnya pandemi.

 

Setelah lawatan ini, jiwa saya dipenuhi dengan rasa syukur - syukur kepada Allah dan kepada semua orang yang memungkinkannya : kepada Presiden Republik dan Pemerintah Irak; kepada para patriark dan para uskup Irak, bersama-sama dengan semua menteri dan anggota umat beriman dari masing-masing Gereja; kepada para pemimpin agama, dimulai dengan Ayatollah Agung Al-Sistani, yang dengannya saya mengadakan pertemuan yang tak terlupakan di kediamannya di Najaf.

 

Saya sangat merasakan penyesalan sehubungan dengan peziarahan ini : saya tidak dapat mendekati rakyat yang tersiksa tersebut, Gereja-martir tersebut, tanpa memikul ke atas diri saya, atas nama Gereja Katolik, salib yang telah mereka pikul selama bertahun-tahun; salib besar, seperti yang ditempatkan di pintu masuk Qaraqosh. Saya merasakannya secara khusus melihat luka-luka kehancuran yang masih menganga, dan terlebih lagi ketika bertemu dan mendengarkan kesaksian orang-orang yang selamat dari kekerasan, penganiayaan, pengasingan … Dan pada saat yang sama, saya melihat di sekitar saya sukacita menyambut utusan Kristus; saya melihat harapan untuk terbuka terhadap sebuah cakrawala perdamaian dan persaudaraan, yang terangkum dalam kata-kata Yesus yang menjadi moto lawatan : “Kamu semua adalah saudara” (Mat 23:8). Saya menemukan harapan ini dalam wacana Presiden Republik Irak. Saya menemukannya lagi dalam banyak sambutan dan kesaksian, dalam madah pujian dan gerak tubuh rakyat Irak. Saya membacanya di wajah kaum muda yang bercahaya dan di mata kaum tua yang bergairah. Orang-orang berdiri menunggu Paus selama 5 jam, bahkan wanita dengan anak-anak di pelukan mereka. Mereka menunggu dan ada harapan di mata mereka.

 

Rakyat Irak memiliki hak untuk hidup damai; mereka memiliki hak untuk menemukan kembali martabat mereka. Asal usul agama dan budaya mereka sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu : Mesopotamia adalah tempat lahir peradaban. Secara historis, Baghdad adalah kota kepentingan utama. Selama berabad-abad, Baghdad menyediakan perpustakaan terkaya di dunia. Dan apa yang menghancurkannya? Peperangan. Peperangan selalu merupakan monster yang mengubah rupa dirinya seturut perubahan zaman dan terus mengganyang umat manusia. Tetapi tanggapan terhadap peperangan bukanlah peperangan lain; tanggapan terhadap senjata bukanlah senjata lain. Dan saya bertanya pada diri sendiri : siapa yang sedang menjual senjata kepada para teroris? Siapa yang hari ini menjual senjata kepada para teroris - yang sedang menyebabkan pembantaian di daerah lain, marilah kita memikirkan Afrika, misalnya? Pertanyaan yang saya inginkan seseorang menjawabnya. Tanggapannya bukanlah peperangan, melainkan persaudaraan. Tantangan ini bukan hanya bagi Irak. Tantangan ini bagi banyak wilayah pertikaian dan, pada akhirnya, tantangan bagi seluruh dunia adalah persaudaraan. Akankah kita mampu menciptakan persaudaraan di antara kita? Mampu membangun budaya saudara-saudari? Atau akankah kita melanjutkan nalar yang dimulai oleh Kain : peperangan. Saudara-saudari. Persaudaraan.

 

Karena alasan ini, kami bertemu dan kami berdoa dengan umat Kristiani dan umat Muslim, dengan para perwakilan agama lainnya, di Ur, tempat Abraham menerima panggilan Allah sekitar empat ribu tahun yang lalu. Abraham adalah bapa kita dalam iman karena ia mendengarkan suara Allah yang menjanjikannya keturunan. Ia meninggalkan segalanya dan pergi. Allah setia pada janji-Nya dan menuntun langkah kita menuju perdamaian hingga hari ini. Ia menuntun langkah orang-orang yang melakukan perjalanan di Bumi dengan pandangan mereka menengadah ke Surga. Dan di Ur - berdiri bersama di bawah langit yang bercahaya itu, langit yang sama yang dilihat bapa kita Abraham, kita, keturunannya - ungkapan kamu semua adalah saudara-saudari tampak kembali bergema.

 

Pesan persaudaraan datang dari pertemuan gerejawi di Katedral Siro-Katolik, Baghdad, di mana empat puluh delapan orang, di antaranya dua imam, dibunuh dalam Misa tahun 2010. Gereja di Irak adalah Gereja martir. Dan di dalam gereja yang berprasasti batu kenangan akan para martir tersebut, sukacita bergema dalam pertemuan itu. Keheranan saya berada di tengah-tengah mereka bercampur dengan sukacita mereka karena Paus ada di antara mereka.

 

Kami meluncurkan pesan persaudaraan dari Mosul dan Qaraqosh, di sepanjang Sungai Tigris, dekat reruntuhan kota Niniwe kuno. Pendudukan ISIS menyebabkan ribuan penduduk mengungsi, di antaranya banyak umat Kristiani dari berbagai pengakuan dan minoritas teraniaya lainnya, terutama kaum Yazidi. Jatidiri kuno kota-kota ini telah dihancurkan. Sekarang mereka berusaha keras untuk membangun kembali. Kaum Muslim sedang mengundang umat Kristiani untuk pulang dan bersama-sama mereka sedang memulihkan gereja dan mesjid. Persaudaraan ada di sana. Dan, tolong, marilah kita terus mendoakan mereka, saudara-saudari kita yang berusaha keras, agar mereka memiliki kekuatan untuk memulai kembali. Dan memikirkan banyak rakyat Irak yang telah bermigrasi, saya ingin berkata kepada mereka : kalian telah meninggalkan segalanya, seperti Abraham; seperti dia, pertahankanlah iman dan harapan. Jadilah para penjalin persahabatan dan persaudaraan di mana pun kalian berada. Dan jika memungkinkan, pulanglah.

 

Pesan persaudaraan datang dari dua Perayaan Ekaristi : Perayaan Ekaristi di Baghdad, dalam Ritus Khaldean, dan Perayaan Ekaristi di Erbil, kota di mana saya diterima oleh presiden wilayah dan perdana menterinya, para penguasa - yang kepadanya saya ucapkan banyak terima kasih karena telah datang untuk menyambut saya - dan saya juga disambut umat. Harapan Abraham, dan harapan keturunannya, terpenuhi dalam misteri yang kami rayakan, di dalam Yesus, Putra yang tidak disayangkan oleh Allah Bapa, tetapi diberikan demi keselamatan semua orang : melalui wafat dan kebangkitan-Nya, Ia membuka jalan menuju tanah perjanjian, menuju kehidupan baru di mana air mata dikeringkan, luka disembuhkan, saudara-saudari diperdamaikan.

 

Saudara-saudari yang terkasih, marilah kita memuji Allah atas lawatan bersejarah ini dan marilah kita terus mendoakan negeri itu dan Timur Tengah. Di Irak, meski ada raungan kehancuran dan senjata, pohon palma, lambang negara dan lambang harapannya, terus tumbuh dan berbuah. Begitu pula dengan persaudaraan : seperti buah pohon palma, pohon palma tidak membuat gaduh, tetapi berbuah dan tumbuh. Semoga Allah, yang adalah Sang Perdamaian, memberikan masa depan persaudaraan kepada Irak, Timur Tengah, dan seluruh dunia!

 

[Sambutan Khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat yang berbahasa Inggris. Semoga perjalanan Prapaskah kita membawa kita menuju sukacita Paskah dengan hati yang dimurnikan dan diperbarui oleh rahmat Roh Kudus. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, oleh pemeliharaan Allah, pada hari-hari ini saya dapat melakukan lawatan pertama seorang Paus ke tanah Abraham. Saya berterima kasih kepada mereka yang memungkinkan perjalanan apostolik saya ke Irak : Presiden dan Pemerintah Republik Irak, para patriark, para uskup dan umat berbagai Gereja, dan para pemimpin agama Irak. Saya sangat berterima kasih kepada Ayatollah Agung Al-Sistani atas pertemuan kami yang ramah di Najaf.

 

Lawatan saya dimaksudkan sebagai peziarahan penyesalan, untuk menunjukkan kedekatan dan kesetiakawanan saya dengan Gereja para martir di negeri yang telah sangat menderita akibat kekerasan, terorisme dan peperangan, serta menyaksikan penurunan yang signifikan jumlah umat Kristiani. Pada pertemuan saya dengan para pemuka agama di Ur, kami mendoakan tumbuhnya persaudaraan dan kerjasama antarumat beriman. Di sana, di tempat Abraham menerima panggilan Allah, dua pemuda Irak - satu Kristiani, satu Muslim - memberikan kesaksian yang menyentuh tentang persahabatan yang mampu menghargai perbedaan seraya tetap berlandaskan kasih kepada Allah dan sesama. Di Katedral Siro-Katolik, Baghdad, di mana empat puluh delapan orang dibunuh pada tahun 2010, dalam pertemuan di Mosul dan Qaraqosh di tengah reruntuhan gereja dan mesjid, dan dalam perayaan Ekaristi di Baghdad dan Erbil, kami merefleksikan panggilan kami sebagai umat Kristiani untuk menjadi saksi-saksi pengampunan, pendamaian dan perdamaian yang diajarkan Kristus. Marilah kita berdoa agar hari-hari ini berkontribusi pada perjalanan yang berkelanjutan menuju persaudaraan dan perdamaian di Irak, Timur Tengah, dan seluruh dunia.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI GEREJA IMAKULATA, QARAQOSH, IRAK - 7 MARET 2021


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Saya bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan berada di antaramu pagi ini. Saya telah menantikan saat bersama ini. Saya berterima kasih kepada Yang Terberkati Patriark Ignace Youssif Younan atas kata-kata sambutannya, serta Nyonya Doha Sabah Abdallah dan Pastor Ammar Yako atas kesaksian mereka. Saat saya melihatmu, saya dapat melihat keragaman budaya dan agama penduduk Qaraqosh, dan ini menunjukkan sesuatu dari keindahan yang dilestarikan oleh seluruh wilayah ini hingga masa mendatang. Kehadiranmu di sini adalah pengingat bahwa keindahan bukanlah monokromatik, tetapi bersinar dalam keragaman dan perbedaan.

 

Pada saat yang sama, dengan sangat sedih, kita melihat sekeliling dan melihat tanda-tanda lain, tanda-tanda kekuatan yang menghancurkan dari kekerasan, kebencian dan peperangan. Berapa banyak yang telah dirobohkan! Berapa banyak yang perlu dibangun kembali! Pertemuan kita di sini hari ini menunjukkan bahwa terorisme dan kematian tidak pernah berakhir. Kata terakhir adalah milik Allah dan Putra-Nya, penakluk dosa dan maut. Bahkan di tengah kerusakan akibat terorisme dan peperangan, kita dapat melihat, dengan mata iman, kemenangan kehidupan atas maut. Kamu memiliki di hadapanmu teladan ayah dan ibumu dalam iman, yang menyembah dan memuji Allah di tempat ini. Mereka bertahan dengan harapan yang tak tergoyahkan di sepanjang perjalanan duniawi mereka, percaya kepada Allah yang tidak pernah mengecewakan dan yang terus-menerus menopang kita dengan rahmat-Nya. Warisan spiritual besar yang mereka tinggalkan terus hidup di dalam dirimu. Rangkullah warisan ini! Itu adalah kekuatanmu! Sekarang adalah waktunya untuk membangun kembali dan memulai kembali, dengan mengandalkan rahmat Allah, yang membimbing takdir semua individu dan bangsa. Kamu tidak sendirian! Seluruh Gereja dekat denganmu, dengan doa dan amal nyata. Dan di wilayah ini, begitu banyak orang membukakan pintu untukmu pada saat dibutuhkan.

 

Para sahabat, ini saatnya memugar bukan hanya bangunan tetapi juga ikatan komunitas yang mempersatukan berbagai komunitas dan keluarga, tua dan muda bersama-sama. Nabi Yoel berkata, "Maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan" (bdk. Yl 2:28). Ketika yang tua dan yang muda bersatu, apa yang terjadi? Mimpi tua bermimpi, mereka memimpikan masa depan untuk kaum muda. Dan kaum muda dapat mengambil mimpi dan nubuat itu, menjadikannya kenyataan. Ketika yang tua dan yang muda berkumpul, kita melestarikan dan meneruskan karunia yang diberikan Allah. Kita memandang anak-anak kita, mengetahui bahwa mereka akan mewarisi tidak hanya tanah, budaya dan tradisi, tetapi juga buah-buah iman yang hidup yang merupakan berkat Allah atas tanah ini. Jadi saya mendorongmu : jangan melupakan siapa dirimu dan dari mana asalmu! Jangan lupakan ikatan yang mempertahankanmu bersama-sama! Jangan lupa untuk melestarikan akarnya!

 

Tentunya akan ada saat-saat di mana iman bisa goyah, ketika seolah-olah Allah tidak melihat atau bertindak. Ini benar bagimu di hari-hari tergelap peperangan, dan juga berlaku di hari-hari krisis kesehatan global dan ketidakamanan yang luar biasa ini. Pada saat-saat seperti ini, ingatlah bahwa Yesus ada di sampingmu. Jangan berhenti bermimpi! Jangan menyerah! Jangan kehilangan harapan! Dari surga orang-orang kudus menjaga kita. Marilah kita berdoa kepada mereka dan jangan pernah bosan memohonkan pengantaraan mereka. Ada juga orang kudus pintu sebelah "yang hidup dekat dengan kita, mencerminkan ke hadiran Allah" (Gaudete et Exsultate, 7). Tanah ini memiliki banyak orang kudus pintu sebelah, karena merupakan tanah dari banyak orang kudus. Biarkan mereka menyertaimu menuju masa depan yang lebih baik, masa depan harapan.

 

Satu hal yang dikatakan Doha sangat menyentuh saya. Ia mengatakan bahwa pengampunan dibutuhkan dari pihak mereka yang selamat dari serangan teroris. Pengampunan; itulah kata kuncinya. Pengampunan diperlukan untuk tetap berada dalam kasih, untuk tetap kristiani. Jalan menuju pemulihan penuh mungkin masih panjang, tetapi saya mohon, jangan berkecil hati. Selain kemampuan untuk mengampuni, juga dibutuhkan keberanian untuk tidak menyerah. Saya tahu ini sangat sulit. Tetapi kitq percaya bahwa Allah bisa membawa perdamaian ke negeri ini. Kita percaya kepada-Nya dan, bersama dengan semua orang yang berkehendak baik, kita mengatakan "tidak" terhadap terorisme dan manipulasi agama.

 

Pastor Ammar, mengingat semua yang terjadi selama serangan teroris dan peperangan, kamu bersyukur kepada Tuhan yang selalu memenuhi dirimu dengan sukacita, di saat-saat baik maupun buruk, dalam sakit maupun sehat. Rasa syukur lahir dan tumbuh saat kita mengingat karunia dan janji Allah. Kenangan masa lalu membentuk masa kini dan menuntun kita maju ke masa depan.

 

Setiap saat, marilah kita bersyukur kepada Allah atas kasih karunia-Nya dan memohon kepada-Nya untuk memberikan perdamaian, pengampunan dan persaudaraan di negeri ini dan rakyatnya. Marilah tanpa lelah kita mendoakan pertobatan hati dan kemenangan budaya hidup, rekonsiliasi dan kasih persaudaraan di antara semua manusia, dengan menghormati perbedaan dan beragam tradisi keagamaan, dalam upaya membangun masa depan persatuan dan kerjasama antara semua orang yang berkehendak baik. Kasih persaudaraan yang mengakui “nilai-nilai dasar kemanusiaan kita bersama, nilai-nilai yang di dalam namanya kita dapat dan harus bekerjasama, membangun dan berdialog, mengampuni dan bertumbuh” (Fratelli Tutti, 283).

 

Ketika saya tiba di helikopter, saya melihat patung Maria di Gereja Imakulata ini. Kepadanya saya mempercayakan kelahiran kembali kota ini. Bunda Maria tidak hanya melindungi kita dari tempat tinggi, tetapi turun kepada kita dengan kasih seorang Ibu. Di sini gambarnya telah bertemu dengan penganiayaan dan penghinaan, namun wajah Bunda Allah terus memandang kita dengan kasih. Karena itulah yang dilakukan para ibu : mereka menghibur, mereka melipur lara dan mereka memberikan kehidupan. Saya ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua ibu dan wanita di negeri ini, para wanita pemberani yang terus memberikan kehidupan, terlepas dari kesalahan dan penderitaan. Semoga para wanita dihormati dan dilindungi! Semoga mereka dihormati dan diberi kesempatan!

 

Dan sekarang, marilah kita berdoa bersama kepada Bunda kita, memohon pengantaraannya untuk kebutuhan dan rencana masa depanmu. Saya menempatkan kamu semua di bawah pengantaraannya. Dan saya mohon, jangan lupa untuk mendoakan saya.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 7 Maret 2021)