Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM DI LAPANGAN SAN DAMASO, ROMA, 12 Mei 2021 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 32) - PERGUMULAN DOA


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Saya senang memulai kembali pertemuan tatap muka ini, karena saya akan memberitahumu sesuatu : tidak baik berbicara tidak di depan apa pun, di depan sebuah kamera. Tidak baik. Dan sekarang, setelah berbulan-bulan, berkat keberanian Mgr. Sapienza, yang berkata, "Tidak, kita akan melakukannya di sana", kita kembali berkumpul di sini. Mgr. Sapienza bermaksud baik! Dan menemukan orang-orang, menemukan kamu di sini, kamu masing-masing dengan kisahmu masing-masing, orang-orang yang datang dari segala penjuru, dari Italia, dari Amerika Serikat, dari Kolombia… Tim sepak bola kecil yang terdiri dari empat bersaudara dari Swiss itu, saya pikir… siapa yang berada di sana … empat laki-laki. Sang adik perempuan tidak ikut, saya berharap ia datang… Dan melihat kamu masing-masing menyenangkan saya karena kita semua bersaudara dalam Tuhan, dan saling memandang membantu kita untuk saling mendoakan. Juga orang-orang yang berada jauh tetapi selalu mendekatkan diri dengan kita. Suster Geneviève yang selalu hadir yang berasal dari Lunapark, orang-orang yang bekerja ... Begitu banyak. Semuanya ada di sini. Terima kasih atas kehadiran dan kunjunganmu. Sampaikan pesan Paus kepada semua orang. Pesan Paus yaitu saya mendoakan semua orang, dan saya memintamu untuk mendoakan saya, bersatu dalam doa.

 

Dan berbicara tentang doa, doa Kristiani, laksana segenap kehidupan Kristiani, bukanlah “berjalan-jalan di taman”. Tak satu pun orang-orang besar dalam doa yang kita temui di dalam Kitab Suci dan dalam sejarah Gereja menemukan doa yang “nyaman”. Ya, kita dapat berdoa seperti seekor burung beo - bla, bla, bla, bla, bla - tetapi itu bukan doa. Doa memang memberikan kedamaian yang besar, tetapi melalui pergumulan batin, kadang-kadang sulit, yang bahkan bisa menyertai rentang waktu kehidupan yang panjang. Berdoa bukanlah sesuatu yang mudah, dan inilah sebabnya kita lari daripadanya. Setiap kali kita ingin berdoa, kita langsung diingatkan akan banyaknya kegiatan lainnya, yang pada saat itu kelihatannya lebih penting dan mendesak. Ini juga terjadi pada saya! Terjadi pada saya. Saya sedikit berdoa … dan tidak, saya harus melakukan ini dan itu… Kita lari dari doa, saya tidak tahu mengapa, tetapi begitulah adanya. Hampir selalu, setelah menunda doa, kita menyadari bahwa hal-hal itu tidak penting sama sekali, dan kita mungkin telah menyia-nyiakan waktu. Beginilah cara Musuh memperdaya kita.

 

Seluruh pria dan wanita saleh tidak hanya mengutarakan sukacita doa, tetapi juga kejemuan dan kelelahan yang ditimbulkannya : kadang-kadang sulit untuk mengikuti waktu dan cara berdoa. Beberapa orang kudus melanjutkannya selama bertahun-tahun dan menemukan kepuasan di dalamnya, tanpa menyadari kegunaannya. Keheningan, doa, dan konsentrasi adalah latihan yang sulit, dan terkadang kodrat manusiawi memberontak. Kita lebih suka berada di tempat lain di dunia, bahkan bukan di sana, di bangku gereja, berdoa. Orang-orang yang ingin berdoa harus ingat bahwa beriman tidaklah mudah, dan kadang-kadang beriman bergerak maju dalam kegelapan yang nyaris sepenuhnya, tanpa titik acuan. Ada saat-saat gelap dalam hidup beriman, dan oleh karena itu beberapa orang kudus menyebutnya "malam yang gelap", karena kita tidak mendengar apa-apa. Tetapi saya terus berdoa.

 

Katekismus mencantumkan rangkaian panjang musuh doa, yang membuat sulit untuk berdoa, yang membuat kita berada dalam kesulitan (bdk. No. 2726-2728). Beberapa orang meragukan bahwa doa benar-benar dapat mencapai Yang Mahakuasa : mengapa Allah tetap diam? Jika Allah mahakuasa, Ia bisa mengucapkan beberapa patah kata dan mengakhiri masalah. Menghadapi keilahian yang sulit dipahami tersebut, ada orang-orang yang curiga bahwa doa hanyalah operasi psikologis; sesuatu yang mungkin berguna, tetapi tidak benar ataupun perlu : dan kita bahkan bisa menjadi seorang praktisi tanpa menjadi seorang yang beriman. Dan begitulah seterusnya, banyak penjelasan.

 

Namun, musuh terburuk dari doa ditemukan di dalam diri kita. Katekismus menggambarkannya sebagai berikut : “Rasa tawar hati, karena kekeringan; rasa sedih, karena tidak bisa memberi segala-galanya kepada Allah, karena kita mempunyai "banyak harta"; rasa kecewa, karena doa kita tidak dikabulkan sesuai dengan kehendak kita sendiri; rasa tersinggung dalam kesombongan yang berkeras hati dalam kemalangan seorang pendosa; dan merasa segan, karena harus menerima doa itu secara cuma-cuma" (2728). Ini jelas merupakan sebuah rangkuman yang bisa diperluas.

 

Apa yang seharusnya dilakukan pada saat pencobaan, ketika segala sesuatunya tampak goyah? Jika kita melihat sejarah spiritualitas, segera terlihat bahwa para para guru jiwa sangat jelas berkenaan dengan situasi yang telah kita gambarkan. Untuk mengatasinya, mereka masing-masing menawarkan beberapa jenis kontribusi : kata bijak, atau saran untuk menghadapi saat-saat yang penuh dengan kesulitan. Bukan sebuah pertanyaan tentang teori yang rumit, teori yang telah terbentuk sebelumnya, bukan, tetapi tentang nasihat yang lahir dari pengalaman, yang menunjukkan pentingnya penyangkalan diri dan bertahan dalam doa.

 

Meninjau setidaknya beberapa dari nasihat ini, karena masing-masing nasihat tersebut layak untuk dijelajahi lebih jauh akan menarik. Misalnya, Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola adalah sebuah buku singkat tentang kebijaksanaan besar yang mengajarkan bagaimana mengatur kehidupan kita. Buku tersebut membuat kita memahami bahwa panggilan Kristiani adalah militansi, keputusan untuk berdiri di bawah standar Yesus Kristus dan bukan di bawah standar iblis, berusaha untuk melakukan yang baik bahkan ketika menyulitkan.

 

Di saat-saat pencobaan, baik untuk diingat bahwa kita tidak sendirian, seseorang mengawasi kita dan melindungi kita. Santo Antonius Abas, pendiri monastisisme Kristiani, juga menghadapi masa-masa sulit di Mesir, ketika doa menjadi pergumulan yang sulit. Penulis biografinya, Santo Atanasius, Uskup Aleksandria, menceritakan salah satu peristiwa terburuk dalam kehidupan santo pertapa tersebut ketika ia berusia kira-kira tiga puluh lima tahun, masa paruh baya yang bagi kebanyakan orang melibatkan krisis. Antonius merasa terganggu dengan cobaan berat tersebut, tetapi melawan. Ketika akhirnya ia kembali tenang, ia berpaling kepada Tuhannya dengan nada yang hampir mencela : “Tetapi Tuhan, di manakah Engkau? Mengapa Engkau tidak segera datang untuk mengakhiri penderitaanku?”. Dan Yesus menjawab : “Antonius, Aku ada di sana. Tetapi Aku menunggu untuk melihatmu bertarung” (Kehidupan Antonius, 10). Bertarung dalam doa.

 

Dan seringkali, doa adalah pertempuran. Saya teringat akan sesuatu yang saya alami dari dekat, ketika saya berada di keuskupan lain. Ada sepasang suami istri dengan seorang anak perempuan berusia sembilan tahun, dengan penyakit yang tidak dapat didiagnosis oleh para dokter. Dan pada akhirnya, di rumah sakit, dokter berkata kepada sang ibu, “Nyonya, panggillah suamimu”. Dan suaminya sedang bekerja; keduanya pekerja, mereka bekerja setiap hari. Lalu, dokter berkata kepada sang ayah, “Anakmu tidak akan bertahan hingga malam. Tidak ada yang dapat kami lakukan untuk menghentikan infeksi ini”.

 

Mungkin pria itu tidak menghadiri Misa setiap hari Minggu, tetapi ia memiliki iman yang besar. Ia pergi, menangis; ia meninggalkan istrinya di sana bersama sang anak di rumah sakit, ia naik kereta api dan melakukan perjalanan tujuh puluh kilometer menuju Basilika Bunda Maria dari Luján, Pelindung Argentina. Dan di sana - Basilika sudah ditutup, hampir jam sepuluh malam, di malam hari - ia berpegangan pada gerbang Basilika dan menghabiskan sepanjang malam berdoa kepada Bunda Maria, berjuang untuk kesehatan putrinya.

 

Ini bukan isapan jempol khayalan : saya melihatnya! Saya melihatnya sendiri. Orang itu di sana, bertarung. Pada akhirnya, pada pukul enam pagi, Gereja dibuka, ia masuk untuk memberi hormat kepada Bunda Maria, dan pulang ke rumah. Dan ia berpikir : “Sang putri telah meninggalkan kami. Tidak, Bunda Maria tidak bisa melakukan hal ini padaku”. Kemudian ia pergi menemui istrinya, dan ia tersenyum, berkata : “Aku tidak tahu apa yang terjadi. Para dokter mengatakan ada sesuatu yang berubah, dan sekarang ia sembuh”.

 

Pria itu, berjuang dengan doa, menerima rahmat Bunda Maria. Bunda Maria mendengarkannya. Dan saya melihat hal ini : doa menghasilkan mukjizat, karena doa masuk langsung ke hati kelembutan Allah, yang memelihara kita seperti seorang ayah. Dan ketika Ia tidak menganugerahkan rahmat kepada kita, Ia akan memberi kita rahmat lainnya yang pada waktunya akan kita lihat. Tetapi selalu, bertempurlah dalam doa untuk memohon rahmat. Ya, kadang-kadang kita memohon rahmat yang tidak kita butuhkan, tetapi kita memohonkannya tanpa benar-benar menginginkannya, tanpa berjuang … Kita tidak memohon hal-hal yang sungguh-sungguh dengan cara ini. Doa adalah pertempuran, dan Tuhan selalu menyertai kita.

 

Jika pada saat kebutaan kita tidak dapat melihat kehadiran-Nya, kita akan melihatnya di masa depan. Kita juga pada akhirnya akan mengulangi kalimat yang diucapkan bapa Yakub pada suatu hari : “Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya" (Kej 28:16). Di akhir hidup kita, menoleh ke belakang, kita juga akan dapat mengatakan : “Aku pikir aku sendirian, tetapi nyatanya tidak, aku tidak sendirian : Yesus besertaku”. Kita semua akan dapat mengatakan hal ini. Terima kasih.

 

[Salam khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris. Sewaktu kita bersiap untuk merayakan Kenaikan Tuhan, saya memohonkan atas kalian dan keluarga kalian damai dan sukacita yang berasal dari Kristus yang bangkit. Semoga Allah memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang doa Kristiani, sekarang kita membahas tema tradisional “pertempuran rohani”. Para guru rohani besar menyadari bahwa doa tidak selalu mudah, karena sifat manusiawi kita sering kali terganggu atau tergoda oleh prioritas yang tampaknya lebih penting. Katekismus mengajarkan bahwa doa, meskipun dirasa segan, karena harus diterima secara cuma-cuma, dapat dipengaruhi oleh pengalaman rasa tawar hati, rasa sedih atau rasa kecewa manusiawi kita (bdk. No. 2728).

 

Kebanyakan para kudus sebenarnya mengalami kekeringan rohani dan bahkan kegelapan dalam tenggang waktu yang lama. Mereka mengajari kita bahwa satu-satunya tanggapan terhadap godaan ini adalah ketekunan yang lebih besar. Santo Ignatius dari Loyola menggunakan gambaran militer untuk menekankan pentingnya disiplin dalam upaya kita untuk melayani di bawah panji Kristus. Santo Antonius belajar dari pertempuran rohaninya yang keras di padang gurun bahwa meskipun Allah terkadang tampaknya tidak ada di tengah pergumulan ini, Ia tetap selalu berada di pihak kita. Dalam upaya kita sehari-hari untuk bertahan dalam doa semoga kita percaya bahwa pertempuran rohani kita, seperti pertempuran Yakub dan malaikat (bdk. Kej 28:16), akan menghasilkan buah dalam hubungan yang lebih dalam dan lebih dewasa dengan Tuhan.

___


(Peter Suriadi - Bogor, 12 Mei 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 9 Mei 2021 : MENGASIHI BERARTI MELAYANI, BUKAN MENGENDALIKAN

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat siang!

 

Dalam Bacaan Injil hari Minggu ini (Yoh 15:9-17), setelah membandingkan diri-Nya dengan pokok anggur dan kita dengan ranting-rantingnya, Yesus menjelaskan buah apa yang dihasilkan oleh orang-orang yang tetap bersatu dengan-Nya : buah ini adalah kasih. Ia mengulangi lagi kata kerja kunci : tinggal. Ia mengundang kita untuk tinggal di dalam kasih-Nya sehingga sukacita-Nya ada di dalam diri kita dan sukacita kita menjadi penuh (ayat 9-11). Tinggal di dalam kasih Yesus.

 

Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri : kasih apakah yang dikatakan Yesus yang di dalamnya kita tinggal agar memiliki sukacita? Apakah kasih ini? Kasih tersebut adalah kasih yang berasal dari Bapa, karena “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8). Kasih Allah, kasih Bapa ini mengalir ibarat sungai di dalam diri Yesus Putra-Nya dan melalui Dia datang kepada kita, makhluk ciptaan-Nya. Sungguh, Ia berkata : “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:9). Kasih yang diberikan Yesus kepada kita sama dengan kasih yang diberikan Bapa kepada-Nya : kasih yang murni, tanpa syarat, kasih yang diberikan secara cuma-cuma. Kasih tidak bisa dibeli, kasih bersifat cuma-cuma. Dengan memberikannya kepada kita, Yesus memperlakukan kita sebagai sahabat - dengan kasih ini -, membuat kita mengenal Bapa, dan Ia melibatkan kita dalam perutusan yang sama deni kehidupan dunia.

 

Dan kemudian, kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, bagaimana kita bisa tinggal di dalam kasih ini? Yesus berkata : “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku” (ayat 10). Yesus merangkum perintah-Nya menjadi satu, hal ini : "Supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu" (ayat 12). Mengasihi seperti Yesus berarti menawarkan dirimu dalam pelayanan, melayani saudara-saudarimu, seperti yang dilakukan-Nya dalam pembasuhan kaki para murid. Mengasihi seperti Yesus juga berarti keluar dari diri kita, melepaskan diri kita dari kepastian manusiawi, dari kenyamanan duniawi, membuka diri kita terhadap orang lain, terutama mereka yang lebih membutuhkan. Mengasihi seperti Yesus berarti membuat diri kita tersedia, apa adanya dan dengan apa yang kita miliki. Ini berarti mengasihi bukan dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan.

 

Mengasihi seperti Kristus berarti mengatakan 'tidak' terhadap 'cinta' lain yang ditawarkan dunia kepada kita : cinta uang - mereka yang mencintai uang tidak mencintai seperti yang dilakukan Yesus -, cinta kesuksesan, kesombongan, [cinta] kekuasaan…. Jalan “cinta” yang memperdaya ini menjauhkan kita dari kasih Allah dan menuntun kita menjadi semakin egois, narsis, sombong. Dan bersikap sombong menyebabkan kemerosotan cinta, pelecehan orang lain, membuat orang yang kita cintai menderita. Saya sedang memikirkan cinta yang tidak sehat yang berubah menjadi kekerasan - dan berapa banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan saat ini. Ini bukan cinta. Mengasihi seperti Tuhan sebagaimana Tuhan mengasihi kita berarti menghargai orang-orang di samping kita, menghormati kebebasan mereka, mencintai mereka apa adanya, bukan seperti yang kita inginkan, dengan cuma-cuma. Akhirnya, Yesus meminta kita untuk tinggal di dalam kasih-Nya, tinggal di dalam kasih-Nya, bukan di dalam gagasan-gagasan kita, bukan di dalam penyembahan diri kita. Mereka yang tinggal dalam penyembahan diri sendiri hidup dalam cermin : selalu melihat diri mereka sendiri. Mereka yang mengatasi ambisi untuk mengendalikan dan mengatur orang lain. Tidak mengendalikan, melayani mereka. Membuka hati kita terhadap orang lain, inilah kasih, memberikan diri kita kepada orang lain.

 

Saudara-saudari yang terkasih, ke manakah tujuan tinggal dalam kasih Tuhan ini? Ke manakah kita dibawa? Yesus berkata kepada kita : “Supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh” (ayat 11). Dan Tuhan menginginkan sukacita yang Ia miliki, karena Ia berada dalam persekutuan penuh dengan Bapa, berada di dalam diri kita sejauh kita bersatu dengan-Nya. Sukacita mengetahui bahwa meskipun tidak setia kita dikasihi oleh Allah yang memungkinkan kita untuk menghadapi cobaan hidup dengan percaya diri, membuat kita hidup melewati krisis agar dapat keluar daripadanya dengan lebih baik. Kesaksian sejati kita mencakup menjalani sukacita ini, karena sukacita adalah tanda khas orang Kristiani sejati. Orang Kristiani sejati tidak bersedih; mereka selalu memiliki sukacita itu di dalam dirinya, bahkan di masa-masa sulit.

 

Semoga Perawan Maria membantu kita untuk tinggal di dalam kasih Yesus dan bertumbuh dalam kasih untuk semua orang, memberi kesaksian sukacita Tuhan yang bangkit.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara dan saudari yang terkasih!

 

Dengan perhatian khusus saya mengikuti peristiwa yang sedang terjadi di Yerusalem. Saya berdoa semoga peristiwa tersebut menjadi tempat perjumpaan dan bukan bentrokan dengan kekerasan, tempat doa dan perdamaian. Saya mengajak semua orang untuk mencari solusi bersama agar jatidiri multireligius dan multikultural Kota Suci dihormati dan persaudaraan tetap ada. Kekerasan melahirkan kekerasan. Cukuplah dengan bentrokan.

 

Dan marilah kita juga mendoakan para korban serangan teroris yang terjadi kemarin di Kabul : sebuah tindakan tidak manusiawi yang menimpa begitu banyak gadis saat mereka sedang pulang sekolah. Marilah kita mendoakan mereka masing-masing dan keluarga mereka. Dan semoga Allah memberikan perdamaian bagi Afghanistan.

 

Selain itu, saya ingin menyampaikan keprihatinan saya atas ketegangan dan bentrokan dengan kekerasan di Kolombia, yang telah menyebabkan kematian dan cedera. Ada banyak orang Kolombia di sini; marilah kita mendoakan tanah air kalian.

 

Hari ini, di Agrigento, Rosario Angelo Livatino, seorang martir keadilan dan iman, dibeatifikasi. Dalam pengabdiannya kepada masyarakat sebagai hakim yang terhormat, yang tidak pernah membiarkan dirinya melakukan korupsi, ia berusaha untuk menghakimi, bukan mengutuk, malahan memulihkan nama baik. Ia selalu menempatkan karyanya “di bawah perlindungan Allah”; karena alasan ini ia menjadi saksi Injil sampai kematiannya yang heroik. Semoga teladannya bagi semua orang, terutama bagi para hakim, sebuah dorongan untuk menjadi pembela hukum dan kebebasan yang setia. Tepuk tangan untuk sang beato baru!

 

Saya memberikan salam yang tulus untuk kalian semua, umat Roma dan para peziarah. Terima kasih telah hadir di sini! Secara khusus, saya menyapa orang-orang yang menderita fibromialgia : saya mengungkapkan kedekatan saya dengan mereka dan saya berharap berkembangnya perhatian terhadap penyakit yang terkadang terabaikan ini.

 

Dan kita tidak bisa melupakan para ibu! Hari Minggu ini, di banyak negara, Hari Ibu dirayakan. Mari kita menyapa semua ibu di dunia, bahkan mereka yang tidak lagi bersama kita. Tepuk tangan untuk para ibu!

 

Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang. Sampai jumpa!

______


(Peter Suriadi - Bogor, 10 Mei 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 5 Mei 2021 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 31) - DOA KONTEMPLASI


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Kita melanjutkan katekese tentang doa dan dalam katekese ini, saya ingin berkaca pada doa kontemplasi.

 

Dimensi kontemplatif manusia - yang belum menjadi doa kontemplasi - mirip seperti “garam” kehidupan : memberi rasa, membumbui hari kita. Kita bisa berkontemplasi dengan menatap matahari yang terbit di pagi hari, atau pepohonan yang menghiasi diri di tengah hijaunya musim semi; kita bisa berkontemplasi dengan mendengarkan musik atau suara burung, membaca buku, menatap karya seni atau mahakarya yang berwajah manusiawi ... Carlo Maria Martini, ketika ia diutus menjadi Uskup Milan, memberi judul surat pastoral pertamanya Dimensi Kontemplatif Kehidupan : pada kenyataannya, orang-orang yang tinggal di kota besar, di mana segalanya - bisa kita katakan - bersifat tiruan dan di mana segalanya berlandaskan manfaat, beresiko kehilangan kemampuan untuk berkontemplasi. Berkontemplasi bukan terutama cara melakukan, tetapi cara menjadi. Menjadi kontemplatif.

 

Dan menjadi kontemplatif tidak bergantung pada mata, tetapi pada hati. Dan di sini doa berperan sebagai tindakan iman dan kasih, sebagai "napas" hubungan kita dengan Allah. Doa memurnikan hati dan, dengannya, juga mempertajam pandangan kita, memungkinkannya untuk memahami kenyataan dari sudut pandang yang berbeda. Katekismus menggambarkan perubahan rupa hati yang dipengaruhi oleh doa, mengutip kesaksian terkenal dari Sang Penyembuh kudus dari Ars yang mengatakan hal ini : “Kontemplasi ialah memandang Yesus dengan penuh iman. 'Aku memandang Dia dan Dia memandang aku', demikian kata-kata seorang petani dari Ars, yang berdoa di depan tabernakel kepada pastornya yang saleh. [...] Cahaya wajah Yesus menyinari mata hati kita dan membiarkan kita melihat segala-galanya dalam sinar kebenaran dan belas kasihan-Nya terhadap semua orang” (Katekismus Gereja Katolik, 2715). Semuanya berasal dari hal ini : dari hati yang merasa dipandang dengan kasih. Kemudian kenyataan direnungkan dengan mata yang berbeda.

 

"Aku memandang-Nya dan Ia memandangku!" Serupa dengan ini : kontemplasi yang penuh kasih, ciri khas doa yang paling intim, tidak membutuhkan banyak kata. Tatapan sudah memadai. Diyakinkan bahwa hidup kita dikelilingi oleh kasih yang sangat besar dan setia yang tidak dapat memisahkan kita darinya sudah memadai.

 

Yesus adalah ahli tatapan ini. Hidup-Nya tidak pernah kekurangan waktu, ruang, keheningan, persekutuan yang penuh kasih yang memungkinkan keberadaan-Nya tidak dihancurkan oleh cobaan yang tak terhindarkan, tetapi seutuhnya menjaga keindahan. Rahasia-Nya adalah hubungan-Nya dengan Bapa surgawi-Nya.

 

Marilah kita memikirkan, misalnya, peristiwa perubahan rupa. Injil menempatkan peristiwa ini pada titik kritis perutusan Yesus ketika pertentangan dan penolakan meningkat di sekitar-Nya. Bahkan di antara murid-murid-Nya, banyak yang tidak memahami-Nya dan meninggalkan-Nya; salah seorang dari dua belas rasul-Nya berpikir untuk mengkhianati-Nya. Yesus mulai berbicara secara terbuka tentang penderitaan dan wafat-Nya yang menanti-Nya di Yerusalem. Dalam konteks inilah Yesus mendaki gunung yang tinggi bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes. Injil Markus mengatakan : “Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu” (9:2-3). Tepat pada saat Yesus tidak dipahami - mereka meninggalkan-Nya, mereka meninggalkan-Nya sendirian karena mereka tidak paham - pada saat ini Ia disalahpahami, tepat ketika semuanya tampak kabur dalam pusaran kesalahpahaman, di tempat itulah cahaya ilahi bersinar. Terang kasih Bapa itulah yang memenuhi hati Sang Putra dan mengubah rupa seluruh pribadi-Nya.

 

Beberapa guru spiritual di masa lalu memahami kontemplasi sebagai lawan dari tindakan, dan mengagungkan panggilan yang melarikan diri dari dunia dan permasalahannya guna mengabdikan diri sepenuhnya pada doa. Pada kenyataannya, di dalam diri Yesus Kristus, dalam pribadi-Nya dan Injil, tidak ada pertentangan antara kontemplasi dan tindakan. Tidak. Dalam Injil dan di dalam diri Yesus tidak ada perbantahan. Ini mungkin berasal dari pengaruh beberapa filosofi Neoplatonik yang menciptakan pertentangan ini, tetapi pastinya mengandung dualisme yang bukan bagian dari pesan Kristiani.

 

Hanya ada satu panggilan besar, satu panggilan besar dalam Injil, yakni panggilan mengikuti Yesus di jalan kasih. Panggilan tersebut merupakan puncak dan pusat segalanya. Dalam pemahaman ini, amal kasih dan kontemplasi berpadanan kata, keduanya mengatakan hal yang sama. Santo Yohanes dari Salib meyakini bahwa tindakan kecil dari kasih yang murni lebih berguna bagi Gereja daripada gabungan seluruh karya lainnya. Apa yang lahir dari doa dan bukan dari praduga ego kita, apa yang dimurnikan oleh kerendahan hati, bahkan jika merupakan tindakan kasih yang tersembunyi dan hening, adalah mukjizat terbesar yang dapat dilakukan oleh seorang Kristiani. Dan inilah jalan doa kontemplasi : Aku memandang-Nya dan Ia memandangku. Tindakan kasih dalam dialog yang hening dengan Yesus itulah yang sangat bermanfaat bagi Gereja. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat yang berbahasa Inggris. Di bulan Mei ini, dipersatukan dengan Bunda Maria, semoga kita bertumbuh dalam kontemplasi akan kemuliaan Sang Juruselamat yang telah bangkit. Saya memohonkan atas kalian dan keluarga kalian belas kasihan dan damai sejahtera Allah Bapa kita. Semoga Tuhan memberkati kalian!

 

Di bulan Mei ini, dipimpin oleh tempat suci yang tersebar di seluruh dunia, kita mendaraskan doa Rosario agar pandemi berakhir dan dimulainya kembali kegiatan dan karya sosial. Hari ini, Tempat suci Santa Perawan Rosario di Namyang, Korea Selatan akan memimpin doa Maria ini. Kita mempersatukan diri dengan semua orang yang berkumpul di tempat suci ini, terutama mendoakan anak-anak dan remaja.

______


(Peter Suriadi - Bogor, 5 Mei 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 2 Mei 2021 : TINGGAL DI DALAM YESUS DAN MENGHASILKAN BUAH


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Dalam Bacaan Injil Hari Minggu Paskah V (Yoh 15:1-8) ini, Tuhan menampilkan diri-Nya sebagai pokok anggur sejati, dan berbicara tentang kita sebagai ranting-ranting yang tidak dapat hidup tanpa dipersatukan dengan-Nya. Maka Ia berkata : “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (ayat 5). Tidak ada pokok anggur tanpa ranting, begitu pula sebaliknya. Ranting-ranting tidak berdiri sendiri, tetapi bergantung sepenuhnya pada pokok anggur, yang merupakan sumber keberadaannya.

 

Yesus menekankan kata kerja "tinggal". Ia mengulanginya tujuh kali dalam Bacaan Injil hari ini. Sebelum meninggalkan dunia ini dan pergi kepada Bapa, Yesus ingin meyakinkan murid-murid-Nya bahwa mereka dapat terus bersatu dengan-Nya. Ia berkata, "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu" (ayat 4). Tinggal ini bukanlah soal tinggal secara pasif, “tertidur” di dalam Tuhan, membiarkan diri terbuai oleh kehidupan : tidak, tidak! Bukan ini. Tinggal di dalam Dia, tinggal di dalam Yesus yang Dia usulkan kepada kita adalah tinggal secara aktif, dan juga secara timbal balik. Mengapa? Karena ranting tanpa pokok anggur tidak dapat berbuat apa-apa, ranting membutuhkan getah untuk tumbuh dan menghasilkan buah; tetapi pokok anggur juga membutuhkan ranting, karena buah tidak tumbuh di batang pohon. Suatu kebutuhan timbal balik, suatu persoalan tinggal timbal balik untuk menghasilkan buah. Kita tinggal di dalam Yesus dan Yesus tinggal di dalam kita.

 

Pertama-tama, kita membutuhkan Dia. Tuhan ingin mengatakan kepada kita bahwa sebelum ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya, sebelum Sabda bahagia, sebelum karya belas kasihan, dipersatukan dengan-Nya, tinggal di dalam Dia, diperlukan. Kita tidak bisa menjadi umat Kristiani yang baik jika kita tidak tinggal di dalam Yesus. Sebaliknya, bersama-Nya kita bisa melakukan segalanya (bdk. Flp 4:13). Bersama-Nya kita bisa melakukan segalanya.

 

Tetapi justru Yesus membutuhkan kita, seperti pokok anggur dengan ranting-rantingnya. Mungkin mengatakan hal ini tampak berani bagi kita, jadi kita bertanya pada diri kita sendiri : dalam arti apa Yesus membutuhkan kita? Ia membutuhkan kesaksian kita. Seperti ranting, buah yang harus kita berikan adalah kesaksian hidup kita sebagai umat Kristiani. Setelah Yesus naik kepada Bapa, tugas para murid - tugas kita - adalah terus mewartakan Injil dengan perkataan dan perbuatan. Dan para murid - kita, para murid Yesus - melakukannya dengan memberikan kesaksian tentang kasih-Nya : buah yang akan dihasilkan adalah kasih. Terikat kepada Kristus, kita menerima karunia Roh Kudus, dan dengan cara ini kita dapat berbuat baik kepada sesama kita, kita dapat berbuat baik kepada masyarakat, kepada Gereja. Pohon dikenal dari buahnya. Kehidupan Kristiani yang sesungguhnya memberikan kesaksian tentang Kristus.

 

Dan bagaimana kita bisa berhasil melakukan hal ini? Yesus berkata kepada kita : "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya" (ayat 7). Ini juga berani : kepastian bahwa apa yang kita minta akan diberikan kepada kita. Keberhasilan hidup kita bergantung pada doa. Kita dapat memohon untuk berpikir seperti Dia, bertindak seperti Dia, melihat dunia dan benda-benda dengan mata Yesus. Dan dengan cara ini, mengasihi saudara dan saudari kita, dimulai dari orang-orang paling miskin dan paling menderita, seperti yang Ia lakukan, serta mengasihi mereka dengan hati-Nya dan membawa ke dunia buah-buah kebaikan, buah-buah amal kasih, buah-buah kedamaian.

 

Marilah kita mempercayakan diri kita kepada perantaraan Perawan Maria. Ia selalu tetap bersatu sepenuhnya dengan Yesus dan menghasilkan buah berlimpah. Semoga ia membantu kita tinggal di dalam Kristus, di dalam kasih-Nya, di dalam sabda-Nya, untuk memberikan kesaksian tentang Tuhan yang bangkit kepada dunia.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara dan saudari yang terkasih,

 

Hari Jumat lalu di Caracas, Venezuela, José Gregorio Hernández Cisneros, seorang umat awam, dibeatifikasi. Ia adalah seorang dokter yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan dan iman : ia mampu mengenali wajah Kristus dalam diri orang-orang sakit dan, seperti orang Samaria yang baik, ia membantu mereka dengan amal kasih injili. Semoga teladannya membantu kita merawat orang-orang yang menderita secara jasmani dan rohani. Tepuk tangan untuk sang beato baru ...

 

Saya menyampaikan selamat kepada saudara-saudari kita dari Gereja Ortodoks serta Gereja Katolik Timur dan Latin yang hari ini, menurut kalender Julian, merayakan Hari Raya Paskah. Semoga Tuhan yang bangkit memenuhi mereka dengan terang dan kedamaian serta menghibur komunitas yang hidup dalam situasi yang sangat sulit. Selamat Paskah untuk mereka!

 

Kita telah memasuki bulan Mei, yang di dalamnya kesalehan populer mengungkapkan devosi kepada Perawan Maria dengan berbagai cara. Tahun ini devosi akan ditandai dengan maraton doa yang melibatkan tempat-tempat suci Maria yang terkemuka, untuk memohon berakhirnya pandemi. Kemarin malam adalah perhentian pertama, di Basilika Santo Petrus. Dalam konteks ini, ada prakarsa yang sangat dekat dengan hati saya : konteks Gereja Myanmar, yang mengundang kita untuk mendoakan perdamaian dengan satu kali Salam Maria bagi Myanmar dalam Rosario harian kita. Kita masing-masing berpaling kepada Bunda kita ketika kita membutuhkan atau berada dalam kesulitan; Bulan ini, kita memohon Sang Bunda Surgawi untuk berbicara di dalam hati semua pemimpin Myanmar agar mereka dapat menemukan keberanian untuk berjalan di jalan perjumpaan, rekonsiliasi dan perdamaian.

 

Dengan kesedihan saya menyampaikan simpati saya kepada rakyat Israel atas kecelakaan yang terjadi Jumat lalu di Gunung Meron, yang menewaskan 45 orang dan melukai banyak orang. Saya meyakinkan kamu akan ingatan saya dalam doa untuk para korban tragedi ini dan untuk keluarga mereka.

 

Hari ini pikiran saya juga tertuju pada Lembaga Meter, yang saya dorong untuk terus berupaya membantu anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan eksploitasi.

 

Dan akhirnya, saya menyampaikan salam yang tulus kepada kalian semua yang hadir di sini, umat Roma dan para peziarah terkasih dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa para anggota gerakan politik untuk persatuan yang didirikan oleh Chiara Lubich 25 tahun lalu : semoga sukses dan selamat bekerja dalam pelayanan politik yang baik.

 

Dan kepada kalian semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang dan sampai jumpa!

____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 2 Mei 2021)