Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 5 September 2021 : PENYEMBUHAN HATI DIAWALI DENGAN MENDENGARKAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini menghadirkan Yesus yang menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap. Apa yang mencolok dari cerita ini adalah cara Tuhan melakukan tanda yang luar biasa ini. Ia memisahkan orang tuli itu dari orang banyak, memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian Ia menengadah ke langit, menarik nafas dan berkata kepadanya : "Efata!", yang artinya Terbukalah! (bdk Mrk 7:33-34). Dalam penyembuhan lainnya, untuk kelemahan yang serius seperti kelumpuhan atau kusta, Yesus tidak melakukan banyak hal. Jadi mengapa Ia melakukan semua ini, meskipun orang-orang hanya meminta-Nya untuk meletakkan tangan-Nya atas orang yang sakit itu (bdk. ayat 32)? Mungkin karena kondisi orang itu memiliki nilai simbolis tertentu. Kondisi tuli juga merupakan simbol yang bisa mengatakan sesuatu kepada kita semua. Mengatakan tentang apa? Ketulian. Orang itu tidak dapat berbicara karena ia tidak dapat mendengar. Untuk menyembuhkan penyebab kelemahannya, Yesus, pada kenyataannya, pertama-tama meletakkan jari-Nya di telinga orang itu, sebelum mulutnya, telinganya terlebih dahulu.

 

Kita semua memiliki telinga, tetapi seringkali kita tidak dapat mendengar. Mengapa demikian? Saudara-saudari, ada tuli batin yang dapat kita mohonkan untuk dijamah dan disembuhkan oleh Yesus hari ini. Tuli batin, yang lebih buruk daripada tuli fisik, karena tuli hati. Tergesa-gesa, oleh begitu banyak hal yang harus dikatakan dan dilakukan, kita tidak menemukan waktu untuk berhenti dan mendengarkan orang-orang yang berbicara kepada kita. Kita beresiko menjadi kebal terhadap segala sesuatu dan tidak memberi ruang bagi orang-orang yang perlu didengar. Saya sedang memikirkan anak-anak, kaum muda, kaum tua, banyak yang tidak benar-benar membutuhkan kata-kata dan khotbah, tetapi butuh didengar. Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri : bagaimana kemampuanku untuk mendengarkan? Apakah aku memperkenankan diriku dijamah oleh kehidupan orang-orang? Apakah aku tahu bagaimana menghabiskan waktu dengan orang-orang yang dekat denganku untuk mendengarkan mereka? Hal ini berlaku bagi kita semua, tetapi secara khusus juga bagi para imam. Para gembala harus mendengarkan umat, tidak secara tergesa-gesa, tetapi mendengarkan dan melihat bagaimana ia dapat membantu, tetapi setelah mendengarkan. Dan kita semua: pertama dengarkan, lalu tanggapi. Pikirkan tentang kehidupan keluarga: berapa kali kita berbicara tanpa mendengarkan terlebih dahulu, mengulangi hal yang sama, selalu hal yang sama! Tidak mampu mendengarkan, kita selalu mengatakan hal yang sama, atau kita tidak memperkenankan orang lain menyelesaikan pembicaraan, mengungkapkan diri, dan kita menyela mereka. Memulai dialog sering kali terjadi bukan melalui kata-kata tetapi diam, dengan tidak memaksa, dengan sabar memulai sesuatu yang baru untuk mendengarkan orang lain, mendengar tentang perjuangan mereka dan apa yang mereka bawa di dalam. Penyembuhan hati dimulai dengan mendengarkan. Mendengarkan. Inilah yang memulihkan hati. "Tapi Bapa, ada orang membosankan yang mengatakan hal yang sama berulang-ulang..." Dengarkan mereka. Dan kemudian, ketika mereka selesai berbicara, kamu boleh berbicara, tetapi dengarkan semuanya.

 

Dan hal yang sama berlaku dengan Tuhan. Membanjiri-Nya dengan permohonan memang baik, tetapi lebih baik kita mendengarkan-Nya terlebih dahulu. Yesus meminta hal ini. Dalam Injil, ketika orang-orang menanyakan kepada-Nya tentang Hukum yang terutama, Ia menjawab : "Dengarlah, hai orang Israel". Kemudian ia menambahkan perintah pertama : “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu ... (dan) sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mrk 12:28-31). Tetapi pertama-tama, “Dengarlah, hai orang Israel”. Apakah kita ingat untuk mendengarkan Tuhan? Kita adalah orang Kristiani, tetapi terkadang dengan ribuan kata yang kita dengar setiap hari, kita tidak menemukan waktu untuk memperkenankan beberapa kata Injil bergema di dalam diri kita. Yesus adalah Sang Sabda : jika kita tidak berhenti untuk mendengarkan-Nya, Ia berjalan terus. Santo Agustinus berkata, “Aku takut Yesus akan melewatiku tanpa kuketahui”. Dan ketakutannya adalah membiarkan Ia lewat tanpa mendengarkan-Nya. Tetapi jika kita mendedikasikan waktu untuk Injil, kita akan menemukan rahasia kesehatan rohani kita. Inilah obatnya : setiap hari sedikit berdiam diri dan mendengarkan, lebih sedikit kata-kata yang tidak berguna dan lebih banyak Sabda Allah Tuhan. Selalu dengan Injil di sakumu yang dapat sangat membantu. Hari ini, seperti pada hari Pembaptisan kita, kita mendengar kata-kata Yesus yang ditujukan kepada kita : “Efata, terbukalah!” Bukalah telingamu. Yesus, aku ingin membuka diri untuk Sabda-Mu; Yesus, bukalah diriku untuk mendengarkan-Mu; Yesus, sembuhkan hatiku dari ketertutupan, sembuhkan hatiku dari ketergesa-gesaan, sembuhkan hatiku dari ketidaksabaran.

 

Semoga Santa Perawan Maria, yang terbuka untuk mendengarkan Sabda yang menjadi daging di dalam dirinya, membantu kita setiap hari untuk mendengarkan Putranya dalam Injil dan saudara-saudari kita dengan hati yang penurut, dengan hati yang sabar, dan dengan hati yang penuh perhatian.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Kemarin, di Catamarca (Argentina), Mamerto Esqui, seorang Saudara Dina dan Uskup Cordoba, dibeatifikasi. Akhirnya, Orang Argentina menjadi beato! Ia adalah seorang pewarta Sabda Allah yang bersemangat dalam membangun Gereja dan masyarakat sipil. Semoga keteladanannya membantu kita untuk selalu menyatukan doa dan kerasulan, serta melayani perdamaian dan persaudaraan. Marilah kita bertepuk tangan bersama untuk Sang Beato baru!

 

Di masa-masa sulit ini ketika rakyat Afghanistan mencari perlindungan, saya mendoakan rakyat yang paling rentan. Saya berdoa agar banyak negara sudi menyambut dan melindungi orang-orang yang mencari kehidupan baru. Saya juga mendoakan para pengungsi internal dan agar mereka dapat menerima bantuan dan perlindungan yang diperlukan. Semoga kaum muda Afghanistan menerima pendidikan, hal yang penting untuk pembangunan manusia. Dan semoga semua warga Afghanistan, baik di rumah, dalam perjalanan, atau di negara tuan rumah, hidup dengan bermartabat, dalam damai dan persaudaraan dengan sesama mereka.

 

Saya memastikan doa saya untuk rakyat Amerika Serikat yang dilanda badai dahsyat dalam beberapa hari terakhir. Semoga Tuhan menerima arwah orang-orang yang meninggal dan menopang mereka yang menderita akibat bencana ini.

 

Dalam beberapa hari mendatang Tahun Baru Yahudi, Rosh Hashanah, akan dirayakan. Dan dua hari raya kemudian, Yom Kippur dan Sukkot. Saya menyampaikan ucapan tulus kepada semua saudara dan saudari saya yang beragama Yahudi : semoga Tahun Baru me;impah dengan buah-buah perdamaian dan kebaikan bagi mereka yang berjalan dengan setia dalam Hukum Tuhan.

 

Hari Minggu depan saya akan pergi ke Budapest untuk penutupan Kongres Ekaristi Internasional. Setelah Misa, peziarahan saya akan berlanjut selama beberapa hari di Slovakia, dan akan ditutup pada hari Rabu berikutnya dengan perayaan rakyat Bunda Maria dari Dukacita, pelindung negara itu. Ini akan menjadi hari-hari yang ditandai dengan adorasi dan doa di jantung Eropa. Sementara saya menyapa dengan penuh kasih mereka yang telah mempersiapkan perjalanan ini - dan saya berterima kasih - dan mereka yang menunggu saya dan yang dengan sepenuh hati ingin saya temui, saya meminta semua orang untuk menemani saya dalam doa, dan saya mempercayakan kunjungan yang akan saya lakukan kepada pengantaraan begitu banyak pengakuan iman yang heroik, yang di tempat-tempat itu menjadi saksi Injil di tengah permusuhan dan penganiayaan. Semoga mereka membantu Eropa untuk memberikan kesaksian hari ini juga, bukan dalam kata-kata tetapi terutama dalam perbuatan, dengan karya belas kasih dan keramahan, kabar baik tentang Tuhan yang mengasihi kita dan menyelamatkan kita. Terima kasih!

 

Dan sekarang saya menyampaikan salam untukmu, umat Roma dan para peziarah yang terkasih! Secara khusus, saya menyampaikan harapan terbaik saya kepada Legio Maria, yang merayakan ulang tahunnya yang keseratus : Semoga Allah memberkatimu dan semoga Perawan Maria melindungimu! Saya menyapa kaum muda “Opera della Chiesa”, anak-anak Faenza dan anak-anak Castenedolo yang telah menerima Sakramen Krisma dan Komuni Pertama, kelompok dari Arta Terme serta umat Polandia dan Lituania yang ditemani oleh teman-teman mereka dari Abruzzo.

 

Hari ini adalah peringatan Santa Teresa dari Kalkuta, yang dikenal semua orang sebagai Bunda Teresa. Tepuk tangan meriah! Saya menyampaikan salam kepada seluruh anggota tarekat Misionaris Cinta Kasih, yang bekerja di seluruh dunia dan sering memberikan pelayanan yang heroik. Secara khusus saya memikirkan Suster-suster “Dono di Maria” (tempat penampungan tunawisma Karunia Maria), di sini di Vatikan.

 

Kepada semuanya, saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang dan sampai jumpa!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 1 September 2021: KATEKESE TENTANG SURAT SANTO PAULUS KEPADA JEMAAT GALATIA (BAGIAN 7) : ORANG-ORANG GALATIA YANG BODOH

Saudara dan saudari, selamat pagi!

 

Kita akan melanjutkan penjelasan tentang Surat Santo Paulus kepada Jemaat Galatia. Ini bukan sesuatu yang baru, penjelasan ini, sesuatu yang merupakan kepunyaan saya : apa yang sedang kita pelajari adalah apa yang dikatakan Santo Paulus sehubungan dengan perselisihannya yang sangat serius dengan orang-orang Galatia. Dan apa yang sedang kita pelajari tersebut juga merupakan sabda Allah, karena termasuk ke dalam Alkitab. Apa yang sedang kita pelajari bukan pula sesuatu yang dibuat-buat oleh seseorang : tidak. Sesuatu yang terjadi pada saat itu dan yang dapat terulang kembali. Ini semata-mata sebuah katekese tentang Sabda Allah yang terungkap dalam Surat Santo Paulus kepada Jemaat Galatia; tidak ada yang lain. Hal ini harus senantiasa diingat. Dan dalam katekese sebelumnya kita telah melihat bagaimana Rasul Paulus menunjukkan kepada orang-orang Kristen perdana di Galatia betapa berbahayanya meninggalkan jalan menyambut Injil yang telah mulai mereka tempuh. Memang, resikonya adalah tunduk pada formalisme, yang merupakan salah satu godaan yang mengarah pada kemunafikan, yang kita bicarakan dalam kesempatan lain. Tunduk pada formalisme, dan menyangkal martabat baru yang telah mereka terima : martabat orang-orang yang ditebus oleh Kristus. Bagian yang baru saja kita dengar adalah awal bagian kedua Surat Santo Paulus kepada Jemaat Galatia. Sejauh ini, Paulus telah berbicara tentang hidup dan panggilannya : tentang bagaimana rahmat Allah telah mengubah keberadaannya, menempatkannya sepenuhnya pada pelayanan penginjilan. Pada titik ini, ia secara langsung menantang orang-orang Galatia : di hadapan mereka ia menempatkan pilihan yang telah mereka buat dan keadaan mereka saat ini, yang dapat meniadakan pengalaman rahmat yang telah mereka jalani.

 

Dan istilah yang digunakan Rasul Paulus untuk berbicara kepada orang-orang Galatia tentu saja tidak santun : kita telah mendengar. Dalam Surat-surat lainnya mudah ditemukan ungkapan-ungkapan seperti “Saudara-saudara” atau “teman-teman terkasih”; di sini tidak, karena ia murka. Ia mengatakan "orang-orang Galatia" secara umum dan tidak kurang dari dua kali menyebut mereka "bodoh", yang bukan istilah yang santun. Bodoh, tidak berakal, dapat berarti banyak hal… Ia melakukannya bukan karena mereka tidak cerdas, tetapi karena, hampir tanpa menyadarinya, mereka beresiko kehilangan iman kepada Kristus yang telah mereka terima dengan begitu antusias. Mereka bodoh karena mereka tidak menyadari bahwa ada bahaya kehilangan harta yang berharga, keindahan, kebaruan Kristus. Keheranan dan kesedihan Rasul Paulus jelas. Bukan tanpa kepahitan, ia menghasut orang-orang Kristiani tersebut untuk mengingat pemberitaan pertamanya, yang menawarkan kepada mereka kemungkinan untuk mencapai kebebasan baru yang hingga kini tidak diharapkan.

 

Rasul Paulus mengajukan pertanyaan kepada orang-orang Galatia, dengan maksud untuk menggoyahkan hati nurani mereka : inilah mengapa begitu kuat. Pertanyaan retoris, karena orang-orang Galatia sangat menyadari bahwa iman mereka kepada Kristus adalah buah rahmat yang diterima melalui pemberitaan Injil. Ia membawa mereka kembali ke titik awal panggilan Kristiani. Kata yang mereka dengar dari Paulus berfokus pada kasih Allah, yang sepenuhnya terwujud dalam wafat dan kebangkitan Yesus. Paulus tidak dapat menemukan ungkapan yang lebih meyakinkan tentang apa yang mungkin telah ia ulangi kepada mereka beberapa kali dalam pengajarannya : “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20). Paulus tidak ingin mengetahui apa-apa selain Kristus yang disalibkan (bdk. 1Kor 2:2). Orang-orang Galatia harus memperhatikan peristiwa ini, tanpa membiarkan diri mereka terganggu oleh pemberitaan-pemberitaan lain. Singkatnya – Paulus bermaksud mendesak orang-orang Kristiani tersebut untuk menyadari apa yang dipertaruhkan, sehingga mereka tidak membiarkan diri mereka terpesona oleh suara sirene yang ingin membawa mereka kepada keagamaan yang semata-mata berlandaskan ketaatan peraturan yang secermat-cermatnya. Karena mereka, para pengkhotbah baru yang telah tiba di sana di Galatia, meyakinkan orang-orang Galatia bahwa mereka harus berbalik dan kembali kepada peraturan yang telah mereka patuhi dan sempurnakan sebelum kedatangan Kristus, yang merupakan kecuma-cumaan keselamatan.

 

Selain itu, orang-orang Galatia sangat memahami apa yang dimaksudkan Rasul Paulus. Mereka tentu saja memiliki pengalaman akan karya Roh Kudus dalam komunitas mereka : seperti dalam Gereja-Gereja lain, cinta kasih dan berbagai karisma telah mewujudkan diri di antara mereka juga. Ketika diuji, mereka harus menjawab bahwa apa yang mereka alami adalah buah kebaruan Roh. Oleh karena itu, awal kedatangan mereka kepada iman adalah prakarsa Allah, bukan prakarsa manusia. Roh Kudus telah menjadi perantara pengalaman mereka; kini menempatkan-Nya di latar belakang guna memberikan keutamaan pada karya mereka – yaitu, penggenapan aturan-aturan Hukum Taurat – akan merupakan sebuah kebodohan. Kekudusan berasal dari Roh Kudus dan merupakan penebusan cuma-cuma berkat Yesus : hal ini membenarkan kita.

 

Dengan cara ini, Santo Paulus mengajak kita juga untuk bercermin : bagaimana kita menghayati iman kita? Apakah kasih Kristus, yang disalibkan dan bangkit kembali, tetap menjadi pusat kehidupan sehari-hari kita sebagai sumber keselamatan, atau apakah kita puas dengan beberapa formalitas keagamaan untuk menyelamatkan hati nurani kita? Bagaimana kita menghayati iman kita? Apakah kita terikat pada harta yang berharga, pada keindahan kebaruan Kristus, atau apakah kita lebih menyukai sesuatu yang menarik kita sesaat tetapi kemudian meninggalkan batin kita kosong? Hal-hal fana sering mengetuk pintu sepanjang hari-hari kita, tetapi hal-hal fana merupakan khayalan yang menyedihkan, yang membuat kita tunduk pada kedangkalan dan menghalangi kita untuk membedakan apa yang benar-benar layak untuk dihayati. Saudara dan saudari, marilah kita tetap yakin bahwa, bahkan ketika kita tergoda untuk berpaling, Allah masih terus memberikan karunia-karunia-Nya. Sepanjang sejarah, bahkan hari ini, terjadi hal-hal yang mirip dengan apa yang terjadi di Galatia. Bahkan hari ini, orang-orang datang dan mencela kita, mengatakan, “Tidak, kekudusan ada dalam aturan-aturan ini, dalam hal-hal ini, kamu harus melakukan ini dan itu”, dan menawarkan keagamaan yang tidak lentur, ketidaklenturan yang mengambil dari diri kita kebebasan dalam Roh yang diberikan kepada kita berkat penebusan Kristus. Waspadalah terhadap kekakuan yang mereka tawarkan kepadamu : hati-hatilah. Karena di balik setiap ketidaklenturan ada sesuatu yang buruk, yang bukan Roh Allah. Dan karena alasan ini, Surat ini akan membantu kita untuk tidak mendengarkan tawaran-tawaran yang agak fundamentalis ini yang membuat kita mundur dalam kehidupan rohani kita, dan akan membantu kita maju terus dalam panggilan Paskah Yesus. Inilah yang ditegaskan Rasul Paulus kepada Jemaat Galatia ketika ia mengingatkan mereka bahwa Bapa “menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat di antara kamu" (3:5). Ia berbicara dalam bentuk waktu sekarang, ia tidak mengatakan "Bapa telah menganugerahkan Roh kepada kamu", bab 3, ayat 5, tidak : ia mengatakan - "menganugerahkan"; ia tidak mengatakan, "telah melakukan", ia mengatakan "melakukan". Karena, terlepas dari segala kesulitan yang mungkin kita hadapi berkenaan dengan perbuatan-perbuatan-Nya, Allah tidak meninggalkan kita, melainkan tinggal bersama kita dalam belas kasih-Nya. Ia seperti bapa yang naik ke teras setiap hari untuk melihat apakah anak laki-lakinya pulang itu : kasih Bapa tidak pernah membuat kita lelah. Marilah kita memohon kebijaksanaan untuk senantiasa menyadari kenyataan ini, dan menolak kaum fundamentalis yang menawarkan kepada kita kehidupan asketisme jadi-jadian, yang jauh dari kebangkitan Kristus. Asketisme perlu, tetapi asketisme yang bijaksana, bukan jadi-jadian.

 

[Sambutan Khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohon sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari terkasih,

 

Dalam lanjutan katekese kita tentang Surat Santo Paulus kepada Jemaat Galatia, kita telah melihat bagaimana Rasul Paulus menekankan kehidupan baru di dalam Kristus, yang membebaskan orang Kristiani dari keagamaan yang semata-mata berlandaskan ketaatan terhadap peraturan secermat-cermatnya. Paulus mengingatkan Jemaat Galatia tentang rahmat keselamatan yang mereka terima melalui iman dalam pesan Injil tentang wafat dan kebangkitan Kristus, serta pengalaman mereka berkenaan dengan pencurahan Roh Kudus di tengah-tengah mereka. Paulus juga menunjukkan pengalaman pribadinya berkenaan dengan rahmat dan kebebasan yang dibawa berkat iman kepada Yesus yang disalibkan : “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20). Seraya berbicara kepada Jemaat Galatia, Rasul Paulus juga berbicara kepada kita; ia mengundang kita masing-masing untuk bersukacita dalam kebenaran yang telah kita terima melalui iman kepada Kristus dan memberikan kesaksian yang meyakinkan tentang belas kasih Allah dengan cara kita menjalani kehidupan sehari-hari.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 29 Agustus 2021 : MEMANDANG KEHIDUPAN DIAWALI DARI HATI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil untuk liturgi hari ini menunjukkan beberapa ahli Taurat dan orang Farisi tercengang dengan sikap Yesus. Mereka dihebohkan karena murid-murid-Nya mengambil makanan tanpa terlebih dahulu melakukan ritual pembersihan diri. Mereka memikirkan di antara mereka sendiri "Cara melakukan hal-hal ini bertentangan dengan praktek keagamaan" (bdk. Mrk 7:2-5).

 

Kita juga dapat bertanya pada diri kita sendiri : mengapa Yesus dan murid-murid-Nya mengabaikan tradisi ini? Lagi pula, tradisi tersebut bukan hal yang buruk, justru kebiasaan ritual yang baik, pembersihan sederhana sebelum makan. Mengapa Yesus tidak memperhatikannya? Karena bagi-Nya, yang penting adalah membawa iman kembali ke pusatnya. Dalam Bacaan Injil kita melihatnya berulang kali : membawa iman kembali ke pusat ini. Dan untuk menghindari resiko, yang berlaku bagi para ahli Taurat dan juga bagi kita : meninjau formalitas lahiriah, meletakkan hati dan iman sebagai latar belakang. Sering kali kita juga "merias" jiwa kita. Formalitas lahiriah dan bukan inti iman : inilah resikonya. Inilah resiko religiusitas penampilan : terlihat baik di luar, sementara gagal memurnikan hati. Selalu ada godaan untuk "mengatur Allah" dengan beberapa devosi lahiriah, tetapi Yesus tidak puas dengan penyembahan ini. Yesus tidak menginginkan penampilan lahiriah, Ia menginginkan iman yang menjamah hati.

 

Bahkan, segera setelah itu, Ia memanggil orang-orang kembali untuk mengatakan kebenaran besar : “Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (ayat 15). Sebaliknya, "dari dalam, dari hati orang" (ayat 21), timbul segala pikiran jahat. Kata-kata ini revolusioner, karena dalam pola pikir pada waktu itu ada anggapan bahwa makanan tertentu atau kontak lahiriah akan membuat seseorang najis. Yesus membalikkan sudut pandang tersebut : apa pun dari luar tidak menajiskan, melainkan, apa yang dari dalam.

 

Saudara dan saudari yang terkasih, hal ini juga berkaitan dengan kita. Kita sering berpikir bahwa kejahatan berasal terutama dari luar : dari perilaku orang lain, dari orang-orang yang berpikir buruk tentang kita, dari masyarakat. Seberapa sering kita menyalahkan orang lain, masyarakat, dunia, atas segala yang terjadi pada kita! Selalu kesalahan "orang lain": kesalahan orang-orang, orang yang memerintah, orang yang malang, dan sebagainya. Tampaknya masalah selalu berasal dari luar. Dan kita menghabiskan waktu untuk menyalahkan; tetapi menghabiskan waktu menyalahkan orang lain adalah membuang-buang waktu. Kita menjadi marah, getir dan menjauhkan Allah dari hati kita. Seperti orang-orang dalam Injil, yang mengeluh, yang terguncang, yang menimbulkan perdebatan dan tidak menerima Yesus. Kita tidak dapat benar-benar religius dalam mengeluh : mengeluh meracuni, mengeluh membawamu kepada kemarahan, kebencian dan kesedihan, hati yang menutup pintu terhadap Allah.

 

Hari ini marilah kita meminta Tuhan untuk membebaskan kita dari menyalahkan orang lain – seperti anak-anak : “Tidak, itu bukan saya! Itu orang lain, orang lain…”. Marilah kita berdoa memohon rahmat untuk tidak membuang waktu mencemari dunia dengan keluhan, karena ini bukan orang Kristiani. Yesus malah mengajak kita untuk melihat kehidupan dan dunia mulai dari hati kita. Jika kita melihat ke dalam, kita akan menemukan hampir semua yang kita benci berada di luar. Dan jika dengan tulus kita memohon kepada Allah untuk menyucikan hati kita, saat itulah kita akan mulai membuat dunia lebih bersih. Karena ada cara sempurna untuk mengalahkan kejahatan : dengan mulai menaklukkannya di dalam dirimu sendiri. Para Bapa Gereja perdana, para biarawan, ketika kepada mereka ditanyakan “Apakah jalan kesucian?”, langkah pertama, yang biasa mereka katakan, adalah menyalahkan diri sendiri: menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan diri kita sendiri. Berapa banyak dari kita, sepanjang hari, di saat tertentu dalam sehari atau dalam seminggu, yang bisa menyalahkan diri sendiri secara batiniah? "Ya, ini dilakukan pada diriku, yang lainnya ... itu adalah kebiadaban ...". Tetapi aku? Aku melakukan hal yang sama, atau aku melakukannya dengan cara ini…. Kebijaksanaan : belajar menyalahkan diri sendiri. Cobalah untuk melakukannya, itu akan membuatmu baik. Itu baik bagiku, ketika aku berhasil melakukannya, tetapi baik juga bagi kita, baik bagi semua orang.

 

Semoga Perawan Maria, yang mengubah sejarah melalui kemurnian hatinya, membantu kita untuk memurnikan diri kita, dengan mengatasi terlebih dahulu dan terutama sifat buruk menyalahkan orang lain dan mengeluh tentang segala sesuatu.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dengan sangat prihatin saya mengikuti situasi di Afghanistan, dan saya ikut serta dalam penderitaan mereka yang sedang berduka atas orang-orang yang kehilangan nyawa dalam serangan bunuh diri yang terjadi Kamis lalu, serta mereka yang mencari bantuan dan perlindungan. Saya mempercayakan orang-orang yang meninggal kepada belas kasihan Allah yang Mahakuasa dan saya berterima kasih kepada mereka yang berjuang untuk membantu penduduk yang begitu kesulitan, khususnya perempuan dan anak-anak. Saya meminta semua orang untuk terus membantu yang membutuhkan dan berdoa agar dialog dan kesetiakawanan dapat mengarah pada terciptanya hidup berdampingan yang damai dan bersaudara serta menawarkan harapan untuk masa depan negara. Di saat-saat bersejarah seperti ini kita tidak bisa tetap acuh tak acuh; sejarah Gereja mengajarkan hal ini kepada kita. Sebagai orang Kristiani, situasi ini mewajibkan kita. Karena alasan ini saya mengimbau kepada semua orang, untuk meningkatkan doamu dan berpuasa. Doa dan puasa, doa dan penyesalan. Inilah saatnya untuk melakukannya. Saya berbicara dengan sungguh-sungguh : tingkatkanlah doamu dan berpuasalah, mohonkanlah belas kasihan dan pengampunan Tuhan.

 

Saya dekat dengan penduduk negara bagian Venezuela, Mérida, yang akhir-akhir ini dilanda banjir dan tanah longsor. Saya mendoakan mereka yang meninggal dan anggota keluarga mereka serta mereka yang menderita karena bencana ini.

 

Saya menyampaikan salam ramah kepada anggota Gerakan Laudato Si’. Terima kasih atas komitmenmu terhadap rumah kita bersama, khususnya pada Hari Doa Sedunia untuk Ciptaan dan Waktu Penciptaan berikutnya. Jeritan bumi dan jeritan orang miskin menjadi semakin serius dan mengkhawatirkan, dan mereka menyerukan tindakan tegas dan mendesak untuk mengubah krisis ini menjadi peluang.

 

Saya menyambut kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa kelompok novisiat Salesian dan komunitas Seminari Episkopal di Caltanissetta. Saya menyambut umat Zagabria dan Veneto; kelompok siswa, orangtua dan guru dari Lithuania; kaum muda calon penerima sakramen krisma Osio Sotto; kaum muda dari Malta yang sedang melakukan perjalanan panggilan, mereka yang telah melakukan pendakian Fransiskan dari Gubbio ke Roma dan mereka yang memulai Via lucis dengan kaum miskin di stasiun-stasiun kereta api.

 

Saya menyampaikan salam khusus kepada umat yang berkumpul di Tempat Suci Oropa untuk perayaan penobatan dan pembuatan patung Black Madonna. Semoga Santa Perawan menyertai perjalanan Umat Allah di jalan kekudusan.

 

Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang! Sampai jumpa!

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 29 Agustus 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 25 Agustus 2021 : KATEKESE TENTANG SURAT SANTO PAULUS KEPADA JEMAAT GALATIA (BAGIAN 6) - BAHAYA HUKUM TAURAT

Saudara dan saudari, selamat pagi!

 

Surat kepada Jemaat Galatia melaporkan fakta yang agak mengejutkan. Seperti yang telah kita dengar, Paulus mengatakan bahwa ia mencela Kefas, atau Petrus, di depan jemaat di Antiokhia, karena perilakunya tidak begitu baik. Apa yang terjadi yang begitu serius sehingga Paulus merasa berkewajiban untuk berbicara kepada Petrus dengan kata-kata kasar seperti itu? Mungkin Paulus melebih-lebihkan, membiarkan karakternya menghalangi tanpa tahu bagaimana mengendalikan dirinya? Kita akan melihat bahwa bukan itu masalahnya, tetapi sekali lagi, yang dipertaruhkan adalah hubungan antara Hukum Taurat dan kebebasan. Dan kita harus sering kali kembali ke hal ini.

 

Menulis kepada jemaat Galatia, Paulus dengan sengaja menyebutkan kejadian ini yang telah terjadi tahun sebelumnya di Antiokhia. Ia ingin mengingatkan orang-orang Kristiani dari komunitas itu bahwa mereka sama sekali tidak boleh mendengarkan orang-orang yang mengajarkan perlunya sunat, dan oleh karena itu berada "di bawah Hukum Taurat" dengan segala ketentuannya. Kita ingat bahwa para pengajar fundamentalis ini telah pergi ke sana dan menciptakan kebingungan, dan bahkan telah merampas kedamaian komunitas itu. Sasaran kritik terhadap Petrus adalah perilakunya saat duduk di meja. Hukum Taurat melarang seorang Yahudi makan dengan orang bukan Yahudi. Tetapi Petrus sendiri, dalam keadaan lain, telah pergi ke rumah Kornelius, perwira di Kaisarea, mengetahui bahwa ia melanggar Hukum Taurat. Maka ia menegaskan : “Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir” (Kis 10:28). Begitu ia kembali ke Yerusalem, orang-orang Kristiani yang bersunat, yang setia pada Hukum Musa, mencela perilaku Petrus. Tetapi, ia membenarkan dirinya dengan mengatakan : "Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan : Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?” (Kis 11:16-17). Kita ingat bahwa pada waktu itu Roh Kudus telah datang ke rumah Kornelius ketika Petrus pergi ke sana.

 

Hal serupa juga terjadi di Antiokhia di hadapan Paulus. Pertama, tanpa kesulitan Petrus makan bersama orang-orang Kristiani bukan Yahudi; namun, ketika beberapa orang Kristiani yang bersunat dari Yerusalem tiba di kota tersebut – mereka yang murni orang-orang Yahudi – ia tidak lagi melakukannya, karena ia tidak ingin mendapat kritik dari mereka. Dan inilah – hati-hati – kesalahannya, yakni lebih memperhatikan kritik, membuat kesan yang baik. Ini serius di mata Paulus, karena murid-murid lain meniru Petrus, terutama Barnabas, yang bahkan telah menginjili jemaat Galatia (bdk. Gal 2:13). Dengan melakukan hal itu, tanpa berkehendak, Petrus, yang sedikit di sini dan sedikit di sana, tidak jelas, tidak berterus terang, sebenarnya menciptakan perpecahan yang tidak adil di dalam komunitas : “Aku murni… Aku sedang mengikuti garis ini… Aku harus melakukan hal ini ... hal ini tidak bisa dilakukan ... ".

 

Dalam celaannya – dan inilah inti masalahnya – Paulus menggunakan istilah yang memungkinkan kita untuk masuk ke dalam kebaikan reaksinya : kemunafikan (bdk. Gal 2:13). Inilah kata yang diulang beberapa kali : kemunafikan. Saya pikir kita semua mengerti apa artinya…. Ketaatan pada Hukum Taurat di pihak orang Kristiani menyebabkan perilaku munafik inilah yang ingin ditentang oleh Rasul Paulus dengan keras dan meyakinkan. Paulus adalah orang yang jujur, ia memiliki kekurangan – banyak di antaranya… karakternya tak menyenangkan – tetapi ia jujur. Apa itu kemunafikan? Ketika kita berkata, “Hati-hati, orang itu munafik”, apa yang sedang coba kita katakan? Apa itu kemunafikan? Itu bisa disebut ketakutan akan kebenaran. Seorang munafik takut akan kebenaran. Lebih baik berpura-pura daripada menjadi dirimu sendiri. Ini seperti merias jiwa, seperti merias wajahmu, merias tentang bagaimana melanjutkan : ini bukan kebenaran. "Tidak, aku takut melanjutkan bagaimana adanya ...", aku akan membuat diriku terlihat baik melalui perilaku ini. Berpura-pura mencekik keberanian untuk secara terbuka mengatakan apa yang benar; dan dengan demikian, kewajiban untuk mengatakan kebenaran setiap saat, di mana pun dan terlepas dari apa pun dapat dengan mudah dihindarkan. Berpura-pura mengarah pada hal ini : setengah kebenaran. Dan setengah kebenaran adalah penipuan karena kebenaran adalah kebenaran atau sebaliknya. Setengah benar adalah cara bertindak yang tidak benar. Kita lebih suka, seperti yang saya katakan, untuk berpura-pura daripada menjadi diri sendiri, dan kepura-puraan ini mencekik keberanian untuk secara terbuka mengatakan kebenaran. Dan dengan demikian, kita lepas dari kewajiban – bahwa ini adalah perintah : selalu mengatakan kebenaran; penuh kejujuran : berbicara kebenaran di mana pun dan terlepas dari apa pun. Dan dalam lingkungan di mana hubungan antarpribadi hidup di bawah bendera formalisme, virus kemunafikan dengan mudah menyebar. Senyuman yang terlihat seperti ini tidak berasal dari hati. Tampaknya berhubungan baik dengan semua orang, tetapi pada kenyataannya tidak.

 

Dalam Kitab Suci, ada beberapa contoh di mana kemunafikan dipertentangkan. Kesaksian yang indah untuk menentang kemunafikan adalah kesaksian Eleazar yang sudah lanjut umurnya yang diminta untuk berpura-pura makan daging yang dikorbankan kepada dewa-dewa kafir untuk meluputkannya dari kematian : ia berpura-pura memakannya padahal ia tidak memakannya. Atau berpura-pura sedang makan daging babi tetapi teman-temannya akan menyiapkan sesuatu yang lain. Tetapi laki-laki yang takut akan Allah itu – yang saat itu belum genap berusia dua puluh tahun – menjawab : “Berpura-pura tidaklah pantas bagi umur kami, supaya janganlah banyak pemuda kusesatkan juga, oleh karena mereka menyangka bahwa Eleazar yang sudah berumur sembilan puluh tahun beralih kepada tata cara asing. Boleh jadi mereka kusesatkan dengan berpura-pura [berlaku munafik] demi hidup yang pendek dan fana ini dan dalam pada itu kuturunkan noda dan aib kepada usiaku" (2Mak 6:24-25). Orang jujur : ia tidak memilih jalan kemunafikan! Sungguh kejadian yang indah untuk direnungkan agar menjauhkan diri kita dari kemunafikan! Injil juga melaporkan beberapa situasi di mana Yesus dengan keras mencela orang-orang yang tampak lahiriah semata, tetapi batin mereka dipenuhi dengan kepalsuan dan kejahatan (bdk. Mat 23:13-29). Jika kamu punya waktu hari ini, dapatkan Injil Matius bab 23 dan lihat berapa kali Yesus berkata : "orang-orang munafik, orang-orang munafik, orang-orang munafik", inilah bagaimana kemunafikan mengejawantahkan dirinya.

 

Orang-orang munafik adalah orang-orang yang berpura-pura, menyanjung dan menipu karena mereka hidup dengan topeng di wajah mereka dan tidak memiliki keberanian untuk menghadapi kebenaran. Karena alasan ini, mereka tidak mampu benar-benar mencintai : orang munafik tidak tahu bagaimana mencintai. Mereka membatasi diri untuk hidup dari egoisme dan tidak memiliki kekuatan untuk menunjukkan hati mereka secara terus terang. Ada banyak situasi di mana kemunafikan bekerja. Hal ini sering disembunyikan di tempat kerja di mana seseorang tampak berteman dengan rekan kerja mereka sementara, pada saat yang sama, menikam mereka dari belakang karena persaingan. Dalam politik, tidak jarang ditemukan orang-orang munafik yang hidup dengan satu cara di depan umum dan dengan cara lain secara pribadi. Kemunafikan dalam Gereja sangat menjijikkan; dan sayangnya, kemunafikan ada di dalam Gereja dan ada banyak orang Kristiani dan pejabat Gereja yang munafik. Kita hendaknya tidak pernah melupakan sabda Allah : “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:37). Saudara-saudari, hari ini, marilah kita memikirkan tentang kemunafikan yang dikutuk Paulus, dan juga dikutuk Yesus : kemunafikan. Dan janganlah kita takut untuk jujur, mengatakan kebenaran, mendengarkan kebenaran, menyesuaikan diri dengan kebenaran, sehingga kita bisa mencintai. Orang munafik tidak tahu bagaimana mencintai. Bertindak selain dari kebenaran berarti membahayakan kesatuan Gereja, kesatuan yang didoakan oleh Tuhan sendiri. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Saya berdoa agar masa liburan musim panas ini dapat menjadi saat penyegaran dan pembaruan rohani bagimu dan keluargamu. Atas kamu semua saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan Yesus. Semoga Allah memberkatimu!

 

[Imbauan]

 

Kemarin, di Tokyo, Paralimpiade mulai berlangsung. Saya menyampaikan salam saya kepada para atlet dan saya berterima kasih kepada mereka karena mereka memberikan kesaksian harapan dan keberanian kepada semua orang. Mereka, pada kenyataannya, menunjukkan bagaimana ketetapan hati terhadap olahraga membantu mengatasi kesulitan yang tampaknya tidak dapat teratasi.

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Surat kepada Jemaat Galatia, kita telah melihat bagaimana Paulus mengajarkan bahwa orang-orang yang hidup dalam kasih karunia Kristus dibebaskan dari tuntutan Hukum Musa. Hari ini kita membahas klaim Paulus bahwa ia telah menegur Santo Petrus dalam hal ini. Petrus telah makan bersama orang-orang Kristiani bukan Yahudi, tetapi berhenti melakukannya ketika sekelompok orang-orang Kristiani yang bersunat tiba dari Yerusalem. Bagi Paulus, ini adalah bentuk “kemunafikan” (Gal 2:13) yang menyebabkan perpecahan di dalam jemaat. Segenap kemunafikan berasal dari rasa takut yang menahan kita untuk tidak sepenuhnya mengatakan kebenaran; kemunafikan mengarah pada kehidupan kepura-puraan, di mana kita mengatakan satu hal tetapi melakukan hal lain. Kemunafikan menyebar laksana virus. Kita sering menemukannya di tempat kerja kita, dalam kehidupan politik dan, yang paling menjijikkan, juga di dalam Gereja. Yesus mengatakan kepada kita jika ya, hendaklah kamu katakan ya dan jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak (bdk. Mat 5:37). Bertindak sebaliknya membahayakan kesatuan dalam Gereja yang didoakan oleh Tuhan sendiri.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 25 Agustus 2021)