Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 17 November 2021 : KATEKESE TENTANG SANTO YOSEF (BAGIAN 1) - SANTO YOSEF DAN LINGKUNGAN TEMPAT TINGGALNYA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Pada tanggal 8 Desember 1870, Beato Pius IX mengumumkan Santo Yosef (Yusuf) sebagai pelindung Gereja semesta. Seratus lima puluh tahun sejak peristiwa itu, kita menjalani tahun khusus yang didedikasikan untuk Santo Yosef (Yusuf), dan dalam surat Apostolik Patris Corde, saya mengumpulkan beberapa cerminan tentang dirinya Belum pernah seperti sebelumnya, hari ini, saat ini yang ditandai dengan krisis global yang terdiri dari beberapa komponen, ia dapat memberikan dukungan, penghiburan dan bimbingan kepada kita. Oleh karena itu, saya telah memutuskan untuk mendedikasikan satu rangkaian katekese kepadanya, yang saya harap dapat semakin membantu kita untuk membiarkan diri kita tercerahkan oleh teladan dan kesaksiannya. Selama beberapa pekan kita akan berbicara tentang Yosef (Yusuf).

 

Ada lebih dari sepuluh orang dalam Alkitab yang menyandang nama Yosef (Yusuf). Yang paling penting di antara mereka adalah putra Yakub dan Rahel yang, melalui berbagai kemalangan, berubah dari seorang budak menjadi orang kedua terpenting di Mesir setelah Firaun (bdk. Kej 37-50). Nama Yosef (Yusuf) dalam bahasa Ibrani berarti "semoga Allah meningkatkan, semoga Allah memberi pertumbuhan". Sebuah keinginan, sebuah berkat yang berdasarkan kepercayaan akan pemeliharaan serta terutama mengacu pada kesuburan dan membesarkan anak-anak. Memang, nama ini mengungkapkan kepada kita aspek penting dari kepribadian Yosef (Yusuf) dari Nazaret. Ia adalah seorang yang penuh iman, dalam pemeliharaan : ia percaya pada pemeliharaan Allah, ia memiliki iman akan pemeliharaan Allah. Setiap tindakannya, sebagaimana diceritakan dalam Injil, didikte oleh kepastian bahwa Allah “memberi pertumbuhan”, Allah “meningkatkan”, Allah “menambahkan”: yaitu, Allah menyediakan kelanjutan dari rencana keselamatan-Nya. Dan dalam hal ini, Yosef (Yusuf) dari Nazaret sangat mirip dengan Yusuf dari Mesir.

 

Acuan geografis pertama untuk Yosef (Yusuf), Betlehem dan Nazaret, juga berperan penting dalam pemahaman kita tentang dirinya.

 

Dalam Perjanjian Lama, kota Betlehem disebut Beth Lechem, yaitu, “Rumah Roti”, atau juga Efrata, menurut nama suku yang menetap di sana. Namun dalam bahasa Arab, namanya berarti “Rumah daging”, mungkin karena banyaknya kawanan domba dan kambing di daerah tersebut. Memang, bukan kebetulan bahwa ketika Yesus lahir, para gembala adalah orang yang pertama menyaksikan peristiwa itu (bdk. Luk 2:8-20). Dalam terang kisah Yesus, kiasan untuk roti dan daging ini mengacu pada misteri Ekaristi : Yesus adalah roti hidup yang telah turun dari surga (bdk. Yoh 6:51). Ia akan berkata tentang diri-Nya : “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal” (Yoh 6:54).

 

Betlehem disebutkan beberapa kali dalam Kitab Suci, sejauh Kitab Kejadian. Betlehem juga terkait dengan kisah Rut dan Naomi, yang diceritakan dalam Kitab Rut yang singkat namun indah. Rut melahirkan seorang putra bernama Obed, yang melahirkan Isai, ayah Raja Daud. Dan dari garis keturunan Daudlah Yosef (Yusuf), ayah sah Yesus, berasal. Kemudian nabi Mikha menubuatkan hal-hal besar tentang Betlehem : “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel” (Mi 5:1). Penginjil Matius akan mengambil nubuat ini dan menghubungkannya dengan kisah Yesus sebagai bukti penggenapannya.

 

Sesungguhnya, Sang Putra Allah tidak memilih Yerusalem sebagai tempat penjelmaan-Nya, tetapi Betlehem dan Nazaret, dua desa terpencil, jauh dari hiruk-pikuk berita dan kekuasaan saat itu. Namun Yerusalem adalah kota yang dikasihi Tuhan (bdk. Yes 62:1-12), "kota suci" (Dan 3:28), yang dipilih Allah sebagai kediaman-Nya (bdk. Zak 3:2; Mzm 132:13 ). Di sini, sebenarnya, berdiam para alim ulama, para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi (bdk. Luk 2:46; Mat 15:1; Mrk 3:22; Yoh 1:19; Mat 26:3).

 

Inilah sebabnya mengapa pilihan Betlehem dan Nazaret memberitahu kita bahwa pinggiran dan keterpinggiran lebih disukai oleh Allah. Yesus tidak lahir di Yerusalem, dengan segenap kemegahannya… tidak, ia lahir di pinggiran dan menghabiskan hidup-Nya, sampai usia tiga puluh tahun, di pinggiran itu, bekerja sebagai tukang kayu seperti Yosef (Yusuf). Bagi Yesus, pinggiran dan keterpinggiran lebih disukai. Gagal untuk menganggap sungguh-sungguh kenyataan ini sama dengan tidak menganggap sungguh-sungguh Injil dan karya Allah, yang terus mewujudkan diri-Nya di pinggiran geografis dan keberadaan. Tuhan selalu bertindak secara diam-diam di pinggiran, bahkan di dalam jiwa kita, di pinggiran jiwa, perasaan, mungkin perasaan yang mempermalukan kita; tetapi Tuhan ada di sana untuk membantu kita bergerak maju. Tuhan terus mewujudkan diri-Nya di pinggiran, baik geografis maupun keberadaan. Yesus, terutama, pergi mencari orang berdosa; Ia pergi ke rumah mereka, berbicara dengan mereka, memanggil mereka untuk bertobat. Dan Ia juga ditegur karena hal ini: "Tetapi lihatlah, Guru ini", kata para ahli Taurat, "Lihatlah Guru ini : ia makan dengan orang berdosa, ia menjadi najis". Ia bukan saja mencari orang-orang yang melakukan kejahatan, tetapi orang-orang yang menderita : orang sakit, orang lapar, orang miskin, orang yang paling hina. Yesus selalu pergi ke pinggiran hati kita, pinggiran jiwa kita, inilah, bagian yang sedikit tidak jelas yang tidak kita tunjukkan, mungkin karena malu.

 

Dalam hal ini, masyarakat pada waktu itu tidak jauh berbeda dengan masyarakat kita. Hari ini juga, ada pusat dan pinggiran. Dan Gereja tahu bahwa ia dipanggil untuk mewartakan kabar baik dari pinggiran. Yosef (Yusuf), yang adalah seorang tukang kayu dari Nazaret dan percaya pada rencana Allah terhadap tunangannya yang masih belia dan dirinya sendiri, mengingatkan Gereja untuk memperhatikan apa yang sengaja diabaikan dunia. Hari ini Yosef (Yusuf) mengajarkan hal ini kepada kita : “Jangan terlalu melihat hal-hal yang dipuji dunia, lihatlah ke sudut-sudut, lihatlah ke dalam bayang-bayang, lihatlah ke pinggiran, pada apa yang tidak diinginkan dunia”. Ia mengingatkan kita masing-masing untuk menganggap penting apa yang disingkirkan orang lain. Dalam pengertian ini, ia benar-benar menguasai yang hakiki : ia mengingatkan kita bahwa apa yang benar-benar penting tidak menarik perhatian kita, tetapi membutuhkan pembedaan yang tekun untuk menemukan dan menghargaiya. Menemukan apa yang penting. Marilah kita memohon pengantaraannya agar seluruh Gereja dapat memulihkan wawasan ini, kemampuan untuk membedakan ini, kemampuan untuk menelaah apa yang penting. Marilah kita mulai lagi dari Betlehem, marilah kita mulai lagi dari Nazaret.

 

Hari ini saya ingin mengirim pesan kepada semua pria dan wanita yang tinggal di pinggiran geografis dunia yang paling terlupakan, atau yang mengalami situasi peminggiran keberadaan. Semoga kamu menemukan di dalam diri Santo Yosef (Yusuf) saksi dan pelindung yang harus dipandang. Kita dapat berpaling kepadanya dengan doa ini, sebuah doa “buatan sendiri”, tetapi doa yang datang dari hati :

 

Santo Yosef (Yusuf),

engkau yang senantiasa percaya kepada Allah,

dan menentukan pilihanmu

dengan dituntun oleh pemeliharaan-Nya,

ajarilah kami untuk tidak terlalu mengandalkan rancangan kami

melainkan rancangan kasih-Nya.

 

Engkau yang datang dari pinggiran,

tolonglah kami untuk mengubah pandangan kami

dan lebih memilih apa yang disingkirkan dan dipinggirkan oleh dunia.

 

Hiburlah mereka yang merasa sendirian

dan dukunglah mereka yang bekerja dalam keheningan

untuk membela kehidupan dan martabat manusia.

Amin.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok dari Belanda, Denmark dan Amerika Serikat. Di bulan November ini, marilah kita mendoakan orang-orang terkasih yang telah meninggal, dan semua orang yang telah meninggal, agar Tuhan dalam belas kasihan-Nya sudi menyambut mereka ke dalam Kerajaan surga. Atas kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Kristus. Semoga Allah memberkatimu!

 

[Seruan Bapa Suci]

 

Besok di Italia kita akan merayakan untuk pertama kalinya Hari Doa Nasional untuk Korban dan mantan Korban Pelecehan, yang dipromosikan oleh Konferensi Waligereja Indonesia. Saya berharap prakarsa ini dapat menjadi kesempatan untuk bercermin, kesadaran dan doa untuk mendukung pemulihan manusiawi dan rohani para korban. Semua orang memiliki tugas utama bertanggung jawab terhadap pendidikan dalam keluarga, di paroki, di sekolah-sekolah, di tempat-tempat rekreasi dan olahraga, untuk melindungi dan menghormati para remaja dan kaum muda yang dipercayakan kepada mereka, karena justru dalam hal ini, di tempat-tempat tersebut paling banyak terjadi pelecehan.


* * *


Pikiran saya tertuju kepada para pekerja Borgo Valbelluna dan daerah sekitarnya, yang peduli akan masa depan pekerjaan mereka. Dalam menghadapi masalah-masalah mendesak mereka, saya bergabung dengan para uskup dan para pastor paroki di wilayah itu untuk mengungkapkan kedekatan saya. Saya mengimbau dengan sepenuh hati agar dalam situasi ini, seperti dalam situasi serupa lainnya yang menempatkan begitu banyak keluarga dalam kesulitan, nalar keuntungan seharusnya tidak berlaku, tetapi nalar berbagi yang adil dan berlandaskan kesetiakawanan. Orang dan martabatnya harus selalu ditempatkan di pusat setiap masalah ketenagakerjaan; ketika kamu tidak mendapatkan roti, kamu kehilangan martabatmu! Kita harus banyak mendoakan orang-orang ini.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari terkasih : Di tahun Santo Yosef (Yusuf) ini, hari ini kita memulai rangkaian katekese baru tentang sang tukang kayu dari Nazaret yang rendah hati, bapa duniawi kanak Yesus dan pelindung Gereja semesta. Dalam bahasa Ibrani, nama Yosef (Yusuf) membangkitkan kuasa Allah yang membawa pertumbuhan dan kehidupan baru. Yosef (Yusuf) mengajarkan kita untuk percaya pada pemeliharaan Allah yang secara diam-diam bekerja di dunia kita. Hidupnya yang terutama terkait dengan dua kota kecil, Betlehem dan Nazaret, mengingatkan kita bahwa kasih Allah teristimewa untuk kaum miskin dan orang-orang yang berada di pinggiran kehidupan. Allah memilih Betlehem, kota Daud, sebagai tempat Putra-Nya dilahirkan di bawah pengawasan Yosef (Yusuf), yang berasal dari keluarga Daud. Melalui kehidupan dan teladannya, Santo Yosef (Yusuf) mengingatkan kita bahwa, di zaman kita sekarang, Gereja dipanggil untuk mewartakan kabar baik kedatangan Kristus, dimulai dengan pinggiran keberadaan dunia kita. Kaum miskin dan terlupakan di tengah-tengah kita dapat memandangnya sebagai penuntun dan pelindung yang pasti dalam kehidupan mereka. Marilah kita memohon kepada Santo Yosef (Yusuf) untuk menjadi perantara Gereja, agar kita dapat senantiasa berangkat kembali dari Betlehem, untuk melihat dan menghargai apa yang penting di mata Allah.

___


(Peter Suriadi - Bogor, 17 November 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 14 November 2021

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Perikop Injil liturgi hari ini dibuka dengan ungkapan Yesus yang membuat kita tercengang : “Matahari akan menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit” (Mrk 13:24-25). Tetapi bagaimana sekarang, bahkan Tuhan adalah hari kiamat? Tidak, ini tentu bukan niat-Nya. Ia ingin kita memahami bahwa cepat atau lambat segala sesuatu di dunia ini akan berlalu. Bahkan matahari, bulan dan bintang-bintang yang membentuk "cakrawala" - sebuah kata yang menunjukkan "keteguhan", "kestabilan" - ditakdirkan untuk berlalu.

 

Namun, pada akhirnya, Yesus mengatakan apa yang tidak jatuh : “Langit dan bumi akan berlalu”, Ia berkata, “tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (ayat 31). Perkataan Tuhan tidak akan berlalu. Ia membuat perbedaan antara hal-hal kedua dari belakang, yang berlalu, dan hal-hal terakhir, yang tetap ada. Pesan bagi kita, yang membimbing kita dalam mengambil keputusan penting dalam hidup kita, membimbing kita berkaitan dengan apa yang layak untuk kita investasikan dalam hidup kita. Dalam sesuatu yang fana, atau dalam perkataan Tuhan yang tetap untuk selamanya? Hal ini jelas, tetapi tidak mudah. Memang, hal-hal yang datang di hadapan indra kita dan memberi kita kepuasan langsung menarik kita, sementara perkataan Tuhan, betapapun indahnya, melampaui yang segera dan membutuhkan kesabaran. Kita tergoda untuk melekat pada apa yang kita lihat dan sentuh serta apa yang tampaknya lebih aman bagi kita. Manusiawi, itulah godaan. Tetapi ini adalah penipuan, karena "langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu". Jadi, inilah undangannya : jangan membangun hidupmu di atas pasir. Ketika seseorang membangun rumah, mereka menggali lebih dalam dan meletakkan fondasi yang kokoh. Hanya orang bodoh yang akan mengatakan bahwa uang akan terbuang sia-sia untuk sesuatu yang tidak dapat dilihat. Menurut Yesus, murid yang setia adalah orang yang menemukan hidupnya di atas batu karang, yaitu perkataan-Nya (bdk. Mat 7:24-27), yang tidak akan berlalu, di atas keteguhan Sabda Yesus : inilah dasar kehidupan yang dikehendaki Yesus dari kita, dan yang tidak akan berlalu.

 

Dan sekarang kita bertanya-tanya – selalu, ketika kita membaca Sabda Allah, timbul pertanyaan – apa yang menjadi pusatnya, apakah detak jantung Sabda Allah itu? Singkatnya, apa yang memberi keteguhan pada kehidupan, dan tidak akan pernah berakhir? Santo Paulus memberitahu kita. Pusatnya, jantung yang berdetak, yang memberi keteguhan, adalah kasih : “Kasih tidak berkesudahan” (1 Kor 13:8), kata Santo Paulus : kasih. Mereka yang berbuat baik, sedang berinvestasi dalam kekekalan. Ketika kita melihat orang yang murah hati dan suka menolong, lemah lembut, sabar, tidak cemburu, tidak bergunjing, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan (bdk. 1 Kor 13:4-7 ), ini adalah orang yang membangun Surga di bumi. Mereka mungkin tidak diperhatikan atau memiliki karir, mereka tidak akan membuat berita, namun, apa yang mereka lakukan tidak akan lenyap karena kebaikan tidak pernah lenyap, kebaikan bertahan selamanya.

 

Dan kita, saudara dan saudari, marilah kita bertanya pada diri kita sendiri : untuk apa kita menginvestasikan hidup kita? Pada hal-hal yang berlalu, seperti uang, kesuksesan, penampilan, kesejahteraan fisik? Kita tidak akan mengambil satu pun dari hal-hal ini. Apakah kita terikat pada hal-hal duniawi, seolah-olah kita akan tinggal di sini selamanya? Ketika kita masih muda dan sehat, semuanya baik-baik saja, tetapi ketika saatnya tiba untuk berangkat, kita harus meninggalkan semuanya.

 

Sabda Allah memperingatkan kita hari ini : dunia ini akan berlalu. Dan hanya kasih yang akan tetap ada. Oleh karena itu, mendasarkan hidup kita pada Sabda Allah bukanlah pelarian dari sejarah, tetapi pembenaman ke dalam kenyataan duniawi untuk menjadikannya kokoh, mengubah rupanya dengan kasih, menanamkan tanda kekekalan, tanda Tuhan, pada kenyataan duniawi tersebut. Berikut adalah beberapa saran untuk membuat pilihan penting. Ketika saya tidak tahu harus berbuat apa, bagaimana membuat pilihan yang pasti, keputusan penting, keputusan yang melibatkan kasih Yesus, apa yang harus kuperbuat? Sebelum memutuskan, marilah kita bayangkan bahwa kita sedang berdiri di depan Yesus, sebagaimana di akhir hidup, di hadapan Dia yang adalah kasih. Dan membayangkan diri kita di sana, di hadirat-Nya, di ambang kekekalan, kita membuat keputusan untuk hari ini. Kita harus memutuskan dengan cara ini : selalu melihat kepada kekekalan, memandang Yesus. Mungkin bukan termasuk yang termudah maupun bukan yang tercepat, tetapi salah satu pasti benar (bdk. Santo Ignatius dari Loyola, Latihan Rohani, 187), itu pasti.

 

Semoga Bunda Maria membantu kita membuat pilihan penting dalam hidup seperti yang telah ia perbuat : menurut kasih, menurut Allah.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari terkasih,

 

Hari ini kita merayakan Hari Orang Miskin Sedunia V, yang dimulai sebagai buah Yubileum Kerahiman. Tema tahun ini adalah sabda Yesus : “Orang-orang miskin akan selalu ada padamu” (Mrk 14:7). Dan memang benar : umat manusia maju, berkembang, tetapi orang miskin selalu bersama kita, selalu ada orang miskin, dan di dalam dirinya Kristus hadir, Kristus hadir dalam diri orang miskin. Kemarin lusa, di Asisi, kita mengalami momen kesaksian dan doa yang kuat. Saya mengajakmu untuk mengulanginya karena itu akan bermanfaat bagimu. Dan saya bersyukur atas banyak prakarsa kesetiakawanan yang telah dikelola di tingkat keuskupan dan paroki di seluruh dunia.

 

Jeritan orang miskin, bersatu dengan jeritan bumi, bergema dalam beberapa hari terakhir di Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-bangsa COP26 di Glasgow. Saya mendorong semua orang yang memiliki tanggung jawab politik dan ekonomi untuk bertindak sekarang dengan keberanian dan visi; pada saat yang sama, saya mengundang semua orang yang berkehendak baik untuk menjalankan kewarganegaraan aktif demi menjaga rumah bersama. Untuk tujuan ini, hari ini, Hari Orang Miskin Sedunia, pendaftaran dibuka untuk pentas Laudato Si', yang mempromosikan ekologi yang bersifat menyeluruh.

 

Hari ini juga merupakan Hari Diabetes Sedunia, penyakit kronis yang menimpa banyak orang, termasuk kaum muda dan anak-anak. Saya mendoakan mereka semua dan mereka yang berbagi kelelahan setiap hari, juga untuk para petugas kesehatan dan sukarelawan yang membantu mereka.

 

 

Dan sekarang saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara. Saya melihat begitu banyak bendera di sana... Terutama yang berasal dari Spanyol dan Polandia. Saya menyambut kelompok pramuka dari Palestrina dan umat dari Paroki San Timoteo di Roma dan Paroki Bozzolo.

 

Kepada kamu semua, saya mengucapkan selamat hari Minggu yang diberkati. Dan jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu, dan sampai jumpa!

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 15 November 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 10 November 2021 : KATEKESE TENTANG SURAT SANTO PAULUS KEPADA JEMAAT GALATIA (BAGIAN 15 - BAGIAN TERAKHIR) - JANGANLAH KITA JEMU

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Kita telah mencapai akhir katekese tentang Surat kepada Jemaat Galatia. Kita bisa bercermin pada begitu banyak muatan lain yang terkandung dalam tulisan Santo Paulus ini! Sabda Allah adalah bejana yang tidak ada habisnya. Dan dalam surat ini, Rasul Paulus telah berbicara kepada kita sebagai seorang penginjil, teolog dan gembala.

 

Uskup Santo Ignatius dari Antiokhia menggunakan ungkapan yang indah ketika ia menulis, ”Bahwa ada satu Guru, yang berbicara dan selesai; bahkan seraya hal-hal yang diperbuat-Nya dalam keheningan adalah layak bagi Bapa. Barangsiapa memiliki sabda Yesus benar-benar dapat mendengar-Nya bahkan keheningan” (Kepada Jemaat Efesus, 15,1-2). Kita dapat mengatakan Rasul Paulus mampu menyuarakan keheningan Allah ini. Kepekaan perasaannya yang paling asli membantu kita menemukan kebaruan mengejutkan yang terkandung dalam pewahyuan Yesus Kristus. Ia adalah seorang teolog sejati yang merenungkan misteri Kristus dan menyampaikannya dengan kecerdasannya yang kreatif. Dan ia juga mampu menjalankan perutusan pastoralnya terhadap jemaat yang tersesat dan bingung. Ia melakukan hal ini dengan berbagai metode : dari waktu ke waktu ia menggunakan ironi, ketegasan, kelembutan… Ia mengungkapkan kewenangannya sebagai seorang rasul, tetapi pada saat yang sama ia tidak menyembunyikan kelemahan karakternya. Kekuatan Roh telah benar-benar memasuki hatinya: pertemuannya dengan Kristus yang bangkit menaklukkan dan mengubah rupa seluruh hidupnya, dan ia menghabiskannya sepenuhnya untuk melayani Injil. Inilah Paulus.

 

Paulus tidak pernah memahami kekristenan dalam istilah penuh kedamaian, kurang menggigit dan memaksa — tetapi sebaliknya. Dengan semangat seperti itu ia membela kebebasan yang dibawa Kristus yang masih menggerakkan kita hari ini, terutama jika kita memikirkan penderitaan dan kesepian yang harus ia tanggung. Ia yakin bahwa ia telah menerima panggilan yang hanya bisa ia jawab; dan ia ingin menjelaskan kepada jemaat Galatia bahwa mereka juga dipanggil menuju kebebasan yang memerdekakan mereka dari setiap bentuk perbudakan sehingga mereka menjadi pewaris janji yang sudah ada sejak dahulu kala dan, di dalam Kristus, anak-anak Allah. Dan menyadari risiko yang dibawa oleh konsep kebebasan ini, ia tidak pernah mengecilkan akibatnya. Ia sadar akan risiko yang dibawa oleh kebebasan Kristiani. Tetapi ia tidak meminimalkan akibatnya. Dengan menyatakan kebenaran, yaitu, dengan berani, ia mengulangi kepada orang-orang percaya bahwa kebebasan sama sekali tidak sama dengan pesta pora, juga tidak mengarah pada bentuk kecukupan diri yang angkuh. Sebaliknya, Paulus menempatkan kebebasan dalam bayang-bayang kasih dan mendasarkan pelaksanaannya yang langgeng pada pelayanan amal kasih. Seluruh visi ini ditentukan dalam panorama kehidupan menurut Roh Kudus yang menggenapi Hukum Taurat yang diberikan Allah kepada orang Israel dan mencegah kejatuhan kembali ke dalam perbudakan dosa. Tetapi godaannya adalah selalu berjalan mundur, bukan? Salah satu definisi orang Kristiani yang ditemukan dalam Kitab Suci mengatakan bahwa kita orang Kristiani bukanlah macam orang yang berjalan mundur, yang berputar balik. Ini adalah definisi yang indah. Dan godaannya adalah berputar balik demi lebih aman. Dan dalam hal ini, demi kembali kepada Hukum Taurat, mengabaikan kehidupan baru Roh. Inilah yang diajarkan Paulus kepada kita : penggenapan Hukum Taurat yang sesungguhnya ditemukan dalam kehidupan Roh yang diberikan kepada kita oleh Yesus ini. Dan kehidupan Roh ini hanya dapat dihayati dalam kebebasan. Kebebasan Kristiani. Inilah salah satu hal yang paling indah, paling indah.

 

Di akhir perjalanan katekese ini, bagi saya tampak bahwa sikap ganda dapat muncul dalam diri kita. Di satu sisi, ajaran Rasul Paulus membangkitkan semangat dalam diri kita; kita merasa tertarik untuk segera mengikuti jalan kebebasan, “hidup menurut Roh”. Hidup menurut Roh selalu membuat kita bebas. Di sisi lain, kita menyadari keterbatasan kita karena kita setiap hari berhubungan dengan betapa sulitnya untuk patuh kepada Roh, tunduk pada tindakan-Nya yang bermanfaat. Kemudian rasa jemu dapat membenamkannya sehingga meredam semangat. Kita merasa putus asa, lemah, terkadang terpinggirkan sehubungan dengan gaya hidup duniawi. Santo Agustinus, mengacu pada kisah Injil tentang angin taufan di danau, menyarankan bagaimana harus bereaksi dalam situasi ini. Inilah yang ia katakan : “Iman kepada Kristus di dalam hatimu adalah seperti Kristus di dalam perahu. Kamu mendengar hinaan, kamu jemu, kamu kesal, dan Kristus tertidur. Bangunkan Kristus, bangunkan imanmu! Bahkan dalam kesengsaraan kamu dapat melakukan sesuatu. Bangunkan imanmu. Kristus bangun dan berbicara kepadamu … Karena itu, bangunkan Kristus… Percayalah apa yang telah dikatakan kepadamu, dan akan ada ketenangan yang luar biasa di dalam hatimu” (Khotbah 63). Santo Agustinus mengatakan di sini bahwa di saat-saat sulit tersebut laksana kita berada di dalam perahu pada saat angin taufan. Dan apa yang dilakukan para rasul? Mereka membangunkan Kristus. Bangunkan Kristus yang tidur dan meski kamu berada dalam angin taufan, Ia hadir. Inilah satu-satunya hal yang dapat kita lakukan di saat-saat yang mengerikan : bangunkan Kristus yang ada di dalam diri kita, tetapi tidur seperti [Dia] di dalam perahu. Persis seperti ini. Kita harus membangunkan Kristus di dalam hati kita dan hanya dengan demikian kita dapat merenungkan berbagai hal dengan mata-Nya karena Ia melihat melampaui angin taufan. Melalui tatapan yang teduh itu, kita bisa melihat panorama yang bahkan tidak terbayangkan oleh diri kita.

 

Dalam perjalanan yang menantang namun menawan ini, Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh membiarkan diri kita jemu dalam hal berbuat baik. “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baiK” (Gal 6:9). Kita harus percaya bahwa Roh selalu datang untuk membantu kita dalam kelemahan kita dan memberi kita dukungan yang kita butuhkan. Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk lebih sering memanggil Roh Kudus! “Jadi, Bapa, bagaimana Roh Kudus dipanggil? Aku tahu bagaimana berdoa kepada Bapa dengan doa Bapa Kami. Aku tahu bagaimana berdoa kepada Maria dengan doa Salam Maria. Aku tahu bagaimana berdoa kepada Yesus dengan Doa Bilur-bilur-Nya yang Kudus. Tetapi kepada Roh… Apakah doa kepada Roh Kudus itu?” Doa kepada Roh Kudus bersifat spontan : doa kepada Roh Kudus harus berasal dari hatimu. Di saat-saat sulit, kamu perlu memohon : “Ya Roh Kudus, datanglah”. Kata kuncinya adalah ini : datanglah. Datanglah. Tetapi kamu harus mengatakannya sendiri dengan kata-katamu sendiri. Datanglah, karena aku mendapati diriku dalam kesulitan. Datanglah, karena aku berada dalam kegelapan. Datanglah, karena aku tidak tahu harus berbuat apa. Datanglah, karena aku akan jatuh. Datanglah. Datanglah. Inilah sabda Roh Kudus – bagaimana memanggil Roh. Marilah kita belajar untuk sering memanggil Roh Kudus. Kita dapat melakukan ini dengan kata-kata sederhana di berbagai momen sepanjang hari. Dan kita dapat melambungkan di dalam diri kita, mungkin di dalam Injil di saku kita, doa yang indah yang didaraskan Gereja pada hari Pentakosta : “Ya Roh Kudus, datanglah dari surga sinarkan pancaran cahaya-Mu. Suluh hati, datanglah, Bapa kaum yang lemah, pemberi anugerah. Kau penghibur ulungku, 'Kau sahabat jiwaku, penyejukku yang lembut... Ya Roh Kudus, datanglah". Dan begitulah seterusnya, ini adalah doa yang sangat indah. Tetapi hanya jika kamu berdoa – atau jika kamu tidak dapat menemukannya, inti dari doa tersebut adalah “Datanglah”, seperti yang didoakan oleh Bunda dan para Rasul pada hari-hari ketika Kristus naik ke Surga. Mereka sendirian di Ruang Atas memohon : Ya Roh Kudus, datanglah. Alangkah baiknya jika kita sering-sering berdoa. Ya Roh Kudus, datanglah. Dan dengan kehadiran Roh, kita akan melindungi kebebasan kita. Kita adalah umat Kristiani yang bebas, bebas, tidak terikat pada masa lalu dalam arti kata yang buruk, tidak terikat adat istiadat. Kebebasan Kristiani adalah apa yang membuat kita bertumbuh. Doa ini akan membantu kita hidup dalam Roh, dalam kebebasan dan sukacita karena ketika Roh Kudus datang, sukacita, sukacita sejati datang. Semoga Tuhan memberkatimu. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok dari Inggris dan Amerika Serikat. Di bulan November ini, marilah kita mendoakan orang-orang terkasih yang telah meninggal, dan semua orang yang telah meninggal, agar Tuhan dalam belas kasihan-Nya sudi menyambut mereka ke dalam Kerajaan surga. Atas kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Kristus. Semoga Tuhan memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari terkasih : Hari ini kita mengakhiri rangkaian katekese tentang Surat Santo Paulus kepada Jemaat Galatia. Kita telah melihat Paulus berbicara dalam berbagai cara sebagai rasul, teolog dan gembala, membuka khazanah Yesus Kristus yang tak habis-habisnya. Perjumpaan pribadi Paulus dengan Tuhan yang bangkit menuntunnya untuk mewartakan dengan berani kebebasan dari dosa dan kematian yang dimenangkan Kristus di kayu Salib, dan kehidupan baru yang dianugerahkan kepada kita oleh Roh Kudus pada saat kita dibaptis. Desakan Paulus bahwa amal kasih adalah penggenapan hukum harus menuntun kita dengan kegairahan untuk mengusahakan jalan kasih Kristiani dan memupuk buah-buah Roh Kudus. Kita juga tidak boleh menjadi jemu atau putus asa karena kegagalan kita atau tiadanya kemajuan. Santo Agustinus mengemukakan gambaran Kristus tidur di perahu di tengah angin taufan untuk mengingatkan kita bahwa setiap kali kita merasa jemu dan angin taufan kehidupan mengancam untuk membanjiri kita, kita hanya perlu membangunkan Kristus di dalam hati kita, percaya akan kehadiran-Nya yang setia dan kuasa Roh Kudus yang memberi kehidupan. Bersama Santo Paulus, semoga kita senantiasa bersukacita dalam kebaruan, sukacita dan kebebasan hidup baru yang diwartakan Injil.

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 10 November 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 7 November 2021 : MEMBERI DENGAN MURAH HATI

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Adegan yang digambarkan oleh Bacaan Injil dalam liturgi hari ini terjadi di dalam Bait Suci Yerusalem. Yesus melihat, memperhatikan apa yang terjadi di tempat ini, tempat yang paling suci, dan melihat bagaimana para ahli Taurat suka berjalan-jalan untuk diperhatikan, disambut, dihormati, dan mendapat tempat terhormat. Dan Yesus menambahkan bahwa mereka "menelan rumah janda-janda dan mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang" (Mrk 12:40).

 

Pada saat yang sama, mata-Nya melihat pemandangan lain : seorang janda miskin, salah seorang dari orang-orang yang dieksploitasi oleh pihak yang berkuasa, memasukkan ke dalam peti persembahan di Bait Suci "semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya" (ayat 44). Beginilah dikatakan Injil, ia memasukkan seluruh nafkahnya ke dalam peti persembahan. Injil menyajikan kepada kita kontras yang mencolok ini : orang kaya, yang memberikan apa yang berlebihan supaya dilihat orang, dan seorang perempuan miskin yang, tanpa menampilkan diri, mempersembahkan semua yang ia miliki. Dua lambang sikap manusia.

 

Yesus melihat kedua pemandangan itu. Dan justru kata kerja ini - "melihat" - yang merangkum ajaran-Nya : dari mereka yang menghayati iman dengan bermuka dua, seperti para ahli Taurat itu, "kita harus menjaga diri" agar tidak menjadi seperti mereka; sedangkan janda tersebut harus kita "lihat" untuk diambil sebagai model. Marilah kita memikirkan hal ini : waspadalah terhadap orang-orang munafik dan lihatlah janda miskin itu.

 

Pertama-tama, waspadalah terhadap orang-orang munafik, yaitu, berhati-hatilah untuk tidak mendasarkan hidup pada pemujaan penampilan, kelahiriahan, pemeliharaan citra diri yang berlebihan. Dan, terutama, berhati-hatilah untuk tidak membengkokkan keyakinan demi kepentingan kita. Para ahli Taurat itu menutupi kesombongan mereka dengan nama Allah dan, lebih buruk lagi, menggunakan agama untuk menjalankan bisnis mereka, menyalahgunakan kewenangan mereka dan mengeksploitasi orang miskin. Di sini kita melihat sikap itu begitu buruk sehingga bahkan hari ini kita melihat di banyak tempat, di banyak tempat, klerikalisme berada di atas orang-orang yang kecil, mengeksploitasi mereka, "menaklukkan" mereka, dirasa sempurna. Ini adalah kejahatan klerikalisme. Sebuah peringatan sepanjang masa dan untuk semuanya, Gereja dan masyarakat : jangan pernah mengambil keuntungan dari peranmu untuk menghancurkan orang lain, jangan pernah mendapatkan keuntungan dari orang-orang yang paling lemah! Dan waspadalah, agar tidak jatuh ke dalam kesombongan, agar kita tidak terpaku pada penampilan, kehilangan hakekat dan hidup dalam kedangkalan. Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri, mudah-mudahan membantu kita : dalam apa yang kita katakan dan lakukan, apakah kita ingin dihargai dan dipuaskan atau apakah kita ingin memberikan pelayanan kepada Allah dan sesama kita, terutama orang yang paling lemah? Marilah kita waspada terhadap kepalsuan hati, kemunafikan, yang merupakan penyakit jiwa yang berbahaya! Sebuah pemikiran ganda, sebuah penilaian ganda, sebagaimana dikatakan kata itu sendiri : "menilai di bawah", muncul dalam satu cara dan "hipo" di bawah, memiliki pemikiran lain. Ganda, orang dengan jiwa ganda, jiwa bermuka dua. berkenaan kemunafikan, yang merupakan penyakit jiwa yang berbahaya!

 

Dan untuk sembuh dari penyakit ini, Yesus mengajak kita untuk melihat janda miskin itu. Tuhan mencela eksploitasi perempuan ini yang, untuk melakukan persembahan, harus pulang ke rumah bahkan kehilangan sedikit nafkahnya. Betapa pentingnya membebaskan yang suci dari keterikatan uang! Yesus telah mengatakannya di tempat lain : kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu mengabdi Allah - dan kita memikirkannya mengatakan "juga mengabdi iblis", tidak - Allah atau uang. Iblis adalah tuan, dan Yesus berkata kita tidak boleh melayaninya. Tetapi, pada saat yang sama, Yesus memuji kenyataan bahwa janda ini memasukkan semua miliknya ke dalam peti persembahan. Ia tidak mempunyai apa-apa lagi, tetapi ia menemukan segalanya di dalam Allah. Ia tidak takut kehilangan sedikit pun yang ia miliki, karena ia sangat percaya kepada Allah, dan sangat percaya kepada Allah ini melipatgandakan sukacita mereka yang memberi. Hal ini juga membuat kita memikirkan janda lain, janda pada zaman nabi Elia, yang akan membuat kue dengan tepung dan minyak terakhir yang ia miliki; Elia mengatakan kepadanya : "Berilah aku makan" dan ia memberi; dan tepung tersebut tidak pernah berkurang, sebuah mukjizat (bdk. 1 Raj 17:9-16). Tuhan selalu, dalam menghadapi kemurahan hati orang, melangkah lebih jauh, Ia lebih murah hati. Justru itulah Dia, bukan keserakahan kita. Di sini Yesus mengusulkannya, perempuan ini, sebagai guru iman : ia tidak pergi ke Bait Suci untuk membersihkan hati nuraninya, ia tidak berdoa untuk dilihat, ia tidak memamerkan imannya, tetapi memberi dengan hatinya, dengan kedermawanan dan kemurahan hati. Mata uangnya memiliki suara yang lebih indah daripada persembahan besar si orang kaya, karena mata uangnya mengungkapkan kehidupan yang didedikasikan untuk Allah dengan ketulusan, iman yang tidak dihayati dengan penampilan tetapi kepercayaan tanpa syarat. Kita belajar daripadanya : iman tanpa jebakan lahiriah, tetapi tulus hati; iman yang dibuat dari kasih yang rendah hati kepada Allah dan saudara-saudara kita.

 

Dan sekarang kita berpaling kepada Perawan Maria, yang dengan rendah hati dan jernih membuat seluruh hidupnya menjadi karunia bagi Allah dan umat-Nya.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari terkasih,

 

Saya sedang mengikuti dengan prihatin berita yang datang dari wilayah Tanduk Afrika, khususnya dari Etiopia, yang diguncang oleh pertikaian yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun serta telah menyebabkan banyak korban dan krisis kemanusiaan yang serius. Saya mengundang semua orang untuk mendoakan orang-orang yang mengalami pencobaan yang begitu berat, dan saya kembali menyerukan berkuasanya kerukunan persaudaraan dan jalan dialog yang damai.

 

Dan saya juga memastikan doa saya untuk para korban kebakaran menyusul ledakan bahan bakar di pinggiran Freetown, ibu kota Sierra Leone.

 

Kemarin di Manresa, Spanyol, tiga orang martir iman dibeatifikasi, mereka tergabung dalam Ordo Saudara Dina Kapusin : Benet de Santa Coloma de Gramenet, Josep Oriol de Barcelona dan Domènech de Sant Pere de Riudebitlles. Mereka terbunuh dalam periode penganiayaan agama abad terakhir di Spanyol, terbukti menjadi saksi Kristus yang lemah lembut dan berani. Semoga teladan mereka membantu umat Kristiani dewasa ini untuk tetap setia pada panggilan mereka, bahkan di saat-saat pencobaan. Tepuk tangan untuk beato/beata baru ini!

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara, terutama yang datang dari Amerika Serikat dan Portugal, yang terkasih. Saya menyapa kelompok umat dari Prato dan Foligno; dan anak laki-laki dari Pengakuan Iman Bresso.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu untuk kamu semua. Dan jangan lupa untuk mendoakankan saya. Selamat makan siang dan sampai jumpa!

____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 7 November 2021)