Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 5 Maret 2023 : PERUBAHAN RUPA YESUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Pada Hari Minggu Prapaskah II ini, Bacaan Injil tentang perubahan rupa Yesus diwartakan. Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes bersama-Nya ke gunung dan dinyatakan kepada mereka dalam segala keindahan-Nya sebagai Putra Allah (bdk. Mat 17:1-9).

 

Marilah kita berhenti sejenak pada pemandangan ini dan bertanya pada diri kita : Berupa apakah keindahan ini? Apa yang dilihat para murid? Dampak khusus? Tidak, bukan itu. Mereka melihat terang kekudusan Allah bersinar pada wajah dan pakaian Yesus, gambaran sempurna Bapa. Keagungan Allah, keindahan Allah dinyatakan. Tetapi Allah adalah kasih. Oleh karena itu, para murid telah melihat dengan mata mereka keindahan dan kemegahan kasih ilahi yang menjelma dalam diri Kristus. Mereka merasakan surga terlebih dahulu. Sungguh suatu kejutan bagi para murid! Mereka memiliki wajah Sang Kasih di depan mata mereka begitu lama tanpa pernah menyadari betapa indahnya itu! Baru sekarang mereka menyadarinya dengan sukacita yang begitu besar, dengan sukacita yang luar biasa.

 

Pada kenyataannya, melalui pengalaman ini, Yesus sedang membentuk mereka, mempersiapkan mereka untuk langkah yang lebih penting. Segera setelah itu, sebenarnya, mereka harus juga mengenali keindahan dalam diri Yesus ketika Ia akan ditinggikan di kayu salib dan wajah-Nya akan babak belur. Petrus berjuang untuk memahami : ia ingin menghentikan waktu, "menghentikan sementara" adegan itu, tinggal di sana dan memperpanjang pengalaman yang luar biasa ini. Tetapi Yesus tidak memperkenankannya. Memang, terang-Nya tidak bisa dimerosotkan menjadi "saat magis"! Dengan demikian sesuatu yang palsu, tiruan, sesuatu yang akan larut ke dalam kabut perasaan yang berlalu akan terjadi. Sebaliknya, Kristus adalah terang yang mengarahkan perjalanan kita seperti tiang awan bagi orang-orang di padang gurun (Kel 13:21). Keindahan Yesus tidak menjauhkan murid-murid-Nya dari kenyataan hidup, tetapi memberi mereka kekuatan untuk mengikuti seluruh jalan-Nya hingga Yerusalem, seluruh jalan-Nya hingga kayu salib. Keindahan Kristus tidak menjauhkan. Keindahan Kristus selalu membawamu maju. Keindahan Kristus tidak membuatmu bersembunyi. Majulah!

 

Saudara-saudari, Bacaan Injil ini membuka jalan bagi kita juga. Bacaan Injil mengajarkan kita betapa pentingnya untuk tinggal bersama Yesus bahkan ketika tidak mudah untuk memahami semua yang Ia katakan dan lakukan untuk kita. Sesungguhnya, dengan tinggal bersama-Nya kita belajar mengenali dalam wajah-Nya keindahan kasih yang bercahaya yang Ia berikan kepada kita, bahkan ketika memikul salib. Dan di sekolahnya kita belajar untuk juga melihat keindahan dalam wajah orang-orang yang berjalan di samping kita setiap hari – keluarga, teman, sejawat yang menjaga kita dengan cara yang paling beragam. Berapa banyak wajah bercahaya, berapa banyak senyuman, berapa banyak kerutan, berapa banyak air mata dan bekas luka mengungkapkan kasih di sekitar kita! Marilah kita belajar mengenali mereka dan mengisi hati kita dengan mereka. Dan kemudian marilah kita berangkat untuk membawa terang yang telah kita terima kepada orang lain juga, melalui tindakan kasih yang nyata (bdk. 1 Yoh 3:18), menyelami pekerjaan kita sehari-hari dengan lebih murah hati, mengasihi, melayani, dan mengampuni dengan kesungguhan dan kemauan yang lebih besar. Kontemplasi keajaiban Allah, kontemplasi wajah Allah, kontemplasi wajah Tuhan, harus menggerakkan kita untuk melayani orang lain.

 

Kita dapat bertanya pada diri kita : Apakah kita tahu bagaimana mengenali terang kasih Allah dalam hidup kita? Apakah kita mengenalinya dengan sukacita dan rasa syukur dalam wajah orang-orang yang mengasihi kita? Apakah kita melihat sekeliling kita karena tanda-tanda terang yang memenuhi hati kita dan membuka hati kita terhadap kasih dan pelayanan? Atau apakah kita lebih suka api jerami berhala yang mengasingkan kita dan menutup kita dari diri kita sendiri? Terang besar Tuhan dan terang berhala buatan yang palsu. Mana yang lebih aku sukai?

 

Semoga Maria, yang menyimpan terang Putranya dalam hatinya bahkan dalam kegelapan Kalvari, senantiasa menyertai kita di jalan kasih.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Beberapa hari terakhir ini, pikiran saya sering tertuju kepada para korban kecelakaan kereta api yang terjadi di Yunani. Kebanyakan dari mereka adalah para pelajar muda. Saya mendoakan mereka yang meninggal. Saya dekat dengan orang-orang yang terluka dan para kerabat mereka. Semoga Bunda Maria menghibur mereka.

 

Saya sekarang mengungkapkan kesedihan saya atas tragedi yang terjadi di perairan Cutro, dekat Crotone. Saya mendoakan banyak korban kapal karam, kerabat mereka dan orang-orang yang selamat. Saya menyatakan penghargaan dan terima kasih saya kepada penduduk dan lembaga setempat atas kesetiakawanan dan keramahtamahan mereka terhadap saudara- saudari kita ini. Saya kembali menyerukan kepada semua orang agar tragedi serupa tidak terulang kembali. Biarlah para pedagang manusia dihentikan agar mereka tidak terus mengenyahkan nyawa begitu banyak orang tak bersalah! Semoga perjalanan harapan tidak pernah lagi diubah menjadi perjalanan kematian. Semoga air jernih Mediterania tidak pernah lagi berlumuran darah oleh kecelakaan tragis seperti itu! Semoga Tuhan memberi kita kekuatan untuk memahami dan menangis.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa komunitas Ukraina di Milan yang datang pada peringatan empat abad kemartiran Uskup Santo Yosafat yang memberikan hidupnya demi persatuan umat Kristiani. Saudara-saudari terkasih, saya memuji upayamu untuk menyambut rekanmu yang melarikan diri dari perang. Semoga Tuhan, melalui perantaraan Santo Yosafat, memberikan kedamaian kepada rakyat Ukraina yang babak belur.

 

Saya menyapa para peziarah dari Lituania dan umat Lituania di Roma yang sedang merayakan Santo Casimir, serta umat Katolik Rumania dari Zaragoza (Spanyol), serta kelompok paroki yang datang dari Murcia dan Jerez de la Frontera (Spanyol); dan dari Tbilisi, Georgia.

 

Saya menyapa umat dari Burkina Faso, para calon penerima sakramen krisma dari Scandicci dan Anzio; umat dari Capaci, Ostia dan San Mauro Abate, Roma.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Maret 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 26 Februari 2023 : TIGA "RACUN" YANG MELUMPUHKAN PERUTUSAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil Hari Minggu Prapaskah I ini menghadirkan Yesus di padang gurun, dicobai oleh iblis (bdk. Mat 4:1-11). "Iblis" berarti "pemecah". Iblis selalu ingin menciptakan perpecahan, dan itulah yang dilakukannya dengan mencobai Yesus. Kemudian, marilah kita lihat dari siapakah Iblis ingin memisahkan Yesus, dan bagaimana ia mencobai Yesus.

 

Dari siapakah iblis ingin memisahkan Yesus? Setelah menerima Pembaptisan dari Yohanes di Sungai Yordan, Yesus dipanggil Bapa “Putra-Ku yang Kukasihi” (Mat 3:17), dan Roh Kudus turun ke atas-Nya seperti burung merpati (bdk. ayat 16). Dengan demikian Bacaan Injil menyajikan kepada kita tiga Pribadi ilahi yang bersatu dalam kasih. Kemudian Yesus sendiri akan berkata bahwa Ia datang ke dunia untuk menjadikan kita juga ambil bagian dalam kesatuan antara Dia dan Bapa (bdk. Yoh 17:11). Iblis justru melakukan sebaliknya : ia memasuki panggung untuk memisahkan Yesus dari Bapa dan mengalihkan perhatian Yesus dari perutusan-Nya untuk mempersatukan kita. Ia selalu memecah.

 

Sekarang marilah kita lihat bagaimana ia berusaha melakukannya. Iblis ingin memanfaatkan kondisi kemanusiaan Yesus yang lemah karena berpuasa empat puluh hari dan lapar (bdk. Mat 4:2). Si jahat kemudian mencoba menanamkan dalam diri Yesus tiga “racun” yang kuat, untuk melumpuhkan perutusan-Nya dalam membina kesatuan. Racun ini adalah kemelekatan, ketidakpercayaan, dan kekuasaan. Pertama dan terutama, racun kemelekatan pada harta benda, pada kebutuhan; dengan alasan yang menghasut Iblis berusaha meyakinkan Yesus : “Engkau lapar, mengapa Engkau harus berpuasa? Dengarkanlah kebutuhanmu dan penuhilah, kamu memiliki hak dan kuasa : mengubah batu menjadi roti”. Kemudian racun kedua, ketidakpercayaan : “Apakah Engkau yakin Bapa menginginkan apa yang baik untuk dirimu? Cobailah Dia, peraslah Dia! Jatuhkanlah diri-Mu dari bubungan Bait Allah dan jadikan Ia melakukan apa yang Engkau inginkan”. Terakhir, kuasa : “Engkau tidak membutuhkan Bapa-Mu! Mengapa menantikan karunia-karunia-Nya? Ikutilah kriteria dunia, ambillah semuanya untuk dirimu, dan Engkau akan berkuasa!”. Tiga pencobaan Yesus. Dan kita juga selalu hidup di antara pencobaan-pencobaan ini. Mengerikan, tetapi begitulah adanya, bagi kita juga : kemelekatan pada perkara materi, ketidakpercayaan dan haus akan kekuasaan adalah tiga godaan yang meluas dan berbahaya, yang digunakan Iblis untuk memisahkan kita dari Bapa dan membuat kita tidak lagi merasa seperti saudara dan saudari di antara kita, membawa kita ke dalam kesunyian dan keputusasaan. Ia ingin melakukan hal ini pada Yesus, ia ingin melakukannya pada kita : membawa kita kepada keputusasaan.

 

Tetapi Yesus mengalahkan pencobaan-pencobaan itu. Dan bagaimana Ia mengalahkan pencobaan-pencobaan tersebut? Dengan menghindari tukar pendapat dengan iblis dan menjawabnya dengan sabda Allah. Ini penting : kamu tidak bisa berdebat dengan iblis, kamu tidak bisa berbicara dengan iblis! Yesus menghadapinya dengan sabda Allah. Ia mengutip tiga ayat Kitab Suci yang berbicara tentang kebebasan dari benda- benda (bdk. Ul 8:3), kepercayaan (bdk. Ul 6:16), dan beribadah kepada Allah (bdk. ÀUl 6:13), tiga ayat yang menentang godaan. Ia tidak pernah berdialog dengan iblis, Ia tidak bernegosiasi dengannya, bahkan Ia menolak sindiran Iblis yang mempergunakan kata-kata dermawan dari Kitab Suci. Kita juga diundang untuk seperti Yesus; kita tidak bisa mengalahkannya dengan bernegosiasi dengannya, ia lebih kuat dari kita. Kita mengalahkan iblis dengan menentangnya dalam iman dengan sabda Allah. Dengan cara ini, Yesus mengajar kita untuk mempertahankan persatuan dengan Allah dan di antara kita dari serangan para pemisah. Sabda Allah itulah jawaban Yesus atas pencobaan-pencobaan Iblis.

 

Dan kita bertanya pada diri kita sendiri : di manakah tempat sabda Allah dalam hidupku? Apakah aku berpaling kepadanya dalam pergumulan rohaniku? Ketika aku kerap memiliki sifat buruk atau pencobaan berulang, mengapa aku tidak mendapatkan bantuan dengan mencari ayat sabda Allah yang menanggapi sifat buruk itu? Kemudian, ketika pencobaan datang, aku membacanya, aku berdoa, percaya kepada rahmat Kristus. Marilah kita mencoba sehingga kita akan terbantu dalam pencobaan, kita akan sangat terbantu, sehingga, di antara suara-suara yang bergejolak di dalam diri kita, Sabda Allah yang murah hati akan bergema. Semoga Maria, yang menyambut Sabda Allah dan dengan kerendahan hatinya mengalahkan kesombongan para pemisah, menyertai kita dalam perjuangan rohani Masa Prapaskah.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Berita menyedihkan terus berdatangan dari Tanah Suci : banyak orang terbunuh, bahkan anak-anak… Bagaimana lingkaran kekerasan ini bisa dihentikan? Saya kembali menyerukan agar dialog mengatasi kebencian dan balas dendam, serta saya berdoa kepada Tuhan untuk Palestina dan Israel, agar mereka dapat menemukan jalan menuju persaudaraan dan perdamaian, dengan bantuan masyarakat internasional.

 

Saya juga sangat prihatin dengan situasi di Burkina Faso, di mana serangan teroris terus berlanjut. Saya mengajakmu untuk mendoakan rakyat negeri tercinta itu, agar kekerasan yang mereka derita tidak membuat mereka kehilangan kepercayaan terhadap jalan demokrasi, keadilan dan perdamaian.

Pagi ini saya mengetahui dengan sedih tentang karamnya kapal di lepas pantai Calabria, dekat Crotone. Empat puluh orang tewas telah ditemukan, termasuk banyak anak-anak. Saya mendoakan mereka, orang-orang hilang dan para migran lainnya yang masih hidup. Saya berterima kasih kepada orang-orang yang telah membawa bantuan dan orang-orang yang menyediakan tempat berlindung. Semoga Bunda Maria menopang saudara-saudari kita ini. Dan janganlah kita melupakan tragedi perang di Ukraina; perang telah berlanjut selama satu tahun. Dan jangan sampai kita melupakan penderitaan rakyat Suriah dan Turki akibat gempa.

 

Saya menyampaikan salam kepada kamu semua yang datang dari Italia dan dari negara lain. Saya menyapa para peziarah dari Spanyol, Portugal, Meksiko dan Kroasia. Saya menyapa umat Palermo, Montelepre, Termini Imerese dan Riese Pio X; para siswa dari Seminari Antardaerah Campania Napoli; para remaja dari berbagai paroki di Keuskupan Milan; calon muda penerima sakramen krisma dari Cavaion dan Sega, Verona; rombongan dari Limbadi dan anak-anak yang akan menerima Komuni Pertama, dari Santa Aurea Ostia Antica.

 

Saya menyapa Lembaga Donor Organ Italia, yang merayakan ulang tahunnya yang kelima puluh : saya berterima kasih atas komitmenmu terhadap kesetiakwanan sosial, dan saya mendorongmu untuk terus mempromosikan kehidupan melalui donasi organ. Salam khusus untuk mereka yang datang pada kesempatan Hari Penyakit Langka Sedunia, yang akan berlangsung lusa; saya menegaskan kembali dorongan saya kepada lembaga-lembaga orang sakit dan kerabat mereka; semoga kedekatan kita tidak pernah berkurang, terutama kepada anak-anak, agar mereka merasakan kasih dan kelembutan Allah.

 

Dan kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 27 Februari 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 22 Februari 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 5) - ROH KUDUS ADALAH PELAKU UTAMA PEWARTAAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Dalam rangkaian perjalanan katekese kita tentang hasrat penginjilan, hari ini kita awali dari kata-kata Yesus yang telah kita dengar : 'Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus' (Mat 28:19). 'Pergilah,' kata Yesus yang bangkit, 'bukan untuk mengindoktrinasi, bukan untuk menyebarkan agama, bukan, tetapi untuk melakukan pemuridan, yaitu, memberi setiap orang kesempatan untuk berhubungan dengan Yesus, mengenal dan mengasihi-Nya dengan bebas. Pergilah dan baptislah : membaptis artinya membenamkan; dan oleh karena itu, sebelum tindakan liturgi diperlihatkan, tindakan vital diungkapkan : membenamkan hidup kita di dalam Bapa, Putra dan Roh Kudus; setiap hari mengalami sukacita kehadiran Allah yang dekat dengan kita sebagai Bapa, sebagai Saudara, sebagai Roh yang bekerja di dalam diri kita, di dalam roh kita. Dibaptis berarti membenamkan diri dalam Allah Tritunggal.

 

Ketika Yesus berkata kepada murid-murid-Nya – dan juga kepada kita – ‘Pergilah!’, Ia tidak hanya menyampaikan sepatah kata. Tidak. Ia menyampaikan Roh Kudus pada saat yang sama, karena hanya berkat Dia, berkat Roh Kudus, kita dapat menerima perutusan Kristus dan melaksanakannya (bdk. Yoh 20:21-22). Bahkan, karena ketakutan, para Rasul tetap terkurung di Ruang Atas sampai hari Pentakosta tiba dan Roh Kudus turun ke atas mereka (bdk. Kis 2:1-13). Dan pada saat itu rasa takut sirna, dan dengan kuasa-Nya para nelayan itu, kebanyakan tidak terpelajar, akan mengubah dunia. ‘Tetapi jika mereka tidak dapat berbicara…?’ Tetapi sabda Roh Kudus, kekuatan Roh Kudus yang membawa mereka maju untuk mengubah dunia. Oleh karena itu, pewartaan Injil hanya terwujud dalam kuasa Roh Kudus, yang mendahului para misionaris dan mempersiapkan hati : Ia adalah ‘mesin penginjilan’.

 

Kita menemukan hal ini dalam Kisah Para Rasul, di mana pada setiap halaman kita melihat bahwa pelaku utama pewartaan bukan Petrus, Paulus, Stefanus, atau Filipus, melainkan Roh Kudus. Tetap berkat kitab Kisah Para Rasul, momen penting Gereja perdana diceritakan, yang juga dapat mengatakan banyak hal kepada kita. Kemudian, seperti sekarang, kesengsaraan tidak berkurang, saat-saat indah dan saat-saat yang tidak terlalu indah, sukacita disertai dengan kekhawatiran, keduanya. Satu kekhawatiran khususnya: bagaimana menghadapi orang-orang kafir yang sudah beriman, orang-orang yang bukan orang Yahudi, misalnya. Apakah mereka terikat untuk menaati ketentuan Hukum Musa atau tidak? Ini bukan persoalan kecil bagi orang-orang itu. Dengan demikian terbentuk dua kelompok, antara mereka yang menganggap ketaatan terhadap Hukum sangat diperlukan dan mereka yang tidak. Untuk melakukan pembedaan roh, para Rasul berkumpul dalam apa yang disebut 'Konsili Yerusalem', konsili pertama dalam sejarah. Bagaimana cara mengatasi dilema tersebut? Mereka mungkin mencari kompromi yang baik antara tradisi dan inovasi: beberapa aturan dipatuhi, dan yang lainnya dikesampingkan. Tetapi para Rasul tidak mengikuti hikmat manusiawi ini untuk mencari keseimbangan diplomatik antara yang satu dan yang lain, mereka tidak mengikuti ini, tetapi menyesuaikan diri dengan karya Roh Kudus, yang telah mengantisipasi orang-orang kafir dengan turun ke atas mereka.

 

Maka, meniadakan hampir setiap kewajiban yang berkaitan dengan Hukum, mereka menyampaikan keputusan akhir – dan inilah yang mereka tuliskan – 'keputusan Roh Kudus dan keputusan kami' (bdk. Kis 15:28), serta inilah yang dimunculkan, 'Roh Kudus beserta kita', dan para Rasul selalu bertindak dengan cara ini. Bersama-sama, tanpa terpecah-pecah, meski memiliki kepekaan dan pendapat yang berbeda, mereka mendengarkan Roh Kudus. Dan Ia mengajarkan satu hal, yang juga berlaku dewasa ini : setiap tradisi keagamaan berguna jika memfasilitasi perjumpaan dengan Yesus. Kita dapat mengatakan bahwa keputusan bersejarah konsili pertama, keputusan yang juga bermanfaat bagi kita, dimotivasi oleh suatu prinsip, prinsip pewartaan : segala sesuatu dalam Gereja harus sesuai dengan persyaratan pewartaan Injil; bukan berdasarkan pendapat kaum konservatif atau progresif, tetapi pada fakta bahwa Yesus menjangkau kehidupan manusia. Oleh karena itu, setiap pilihan, setiap penggunaan, setiap tatanan, dan setiap tradisi dievaluasi berdasarkan apakah mendukung pewartaan Kristus atau tidak. Dan ketika keputusan ditemukan dalam Gereja – misalnya perpecahan ideologis : ‘Aku konservatif karena…’ ‘Aku progresif karena…’ Tetapi di manakah Roh Kudus? Berhati-hatilah bahwa Injil bukan sebuah gagasan, Injil bukan sebuah ideologi : Injil adalah sebuah pewartaan yang menyentuh hatimu dan membuat hatimu berubah, tetapi jika kamu berlindung dalam sebuah gagasan, dalam sebuah ideologi, baik kanan maupun kiri atau pusat, kamu menjadikan Injil sebagai partai politik, sebuah ideologi, sebuah perkumpulan orang. Injil selalu memberimu kebebasan Roh yang bertindak di dalam dirimu dan membawa kamu maju. Dan seberapa banyak yang dituntut dari kita hari ini untuk memegang kebebasan Injil dan membiarkan diri kita dibawa maju oleh Roh Kudus.

 

Dengan cara ini Roh Kudus menerangi jalan Gereja, selalu. Nyatanya, Ia bukan hanya terang hati; Ia adalah terang yang mengarahkan Gereja : Ia membawa kejelasan, membantu membedakan, membantu melakukan pembedaan. Inilah sebabnya perlu sering memohon kepada-Nya; marilah kita lakukan juga hari ini, di awal Masa Prapaskah. Karena, sebagai Gereja, kita dapat memiliki ruang dan waktu yang terdefinisi dengan baik, komunitas, lembaga, dan gerakan yang terorganisasi dengan baik, tetapi tanpa Roh Kudus, semuanya tetap tanpa jiwa. Organisasi… ia tidak akan berhasil, tidak memadai : Roh Kuduslah yang memberikan kehidupan kepada Gereja. Jika tidak berdoa dan memohon kepada-Nya, Gereja tertutup pada dirinya, dalam perdebatan yang mandul dan melelahkan, dalam pengutuban yang melelahkan, seraya api perutusan padam. Sangat menyedihkan melihat Gereja seolah-olah tidak lebih dari sebuah dewan perwakilan rakyat. Gereja adalah sesuatu yang lain. Gereja adalah komunitas pria dan wanita yang percaya serta mewartakan Yesus Kristus, bahkan digerakkan oleh Roh Kudus, bukan oleh akal mereka. Ya, kamu menggunakan akalmu, tetapi Roh Kudus datang untuk mencerahkan dan menggerakkannya. Roh Kudus membuat kita maju, mendorong kita untuk mewartakan iman, meneguhkan diri dalam iman, berangkat melakukan perutusan untuk menemukan siapa diri kita. Itulah sebabnya Rasul Paulus menganjurkan: 'Janganlah padamkan Roh' (1 Tes 5:19). Janganlah padamkan Roh. Marilah kita sering berdoa kepada Roh Kudus, marilah kita memohon kepada-Nya, marilah kita memohon kepada-Nya setiap hari untuk menyalakan terang-Nya dalam diri kita. Marilah kita melakukan ini sebelum setiap perjumpaan, menjadi rasul Yesus dengan orang-orang yang kita jumpai. Janganlah padamkan Roh, baik dalam komunitas maupun dalam diri kita masing-masing.

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita mulai, dan mulai lagi, sebagai Gereja, dari Roh Kudus. ‘Tidak diragukan lagi pentingnya kita melakukan perencanaan pastoral untuk menyentuh kenyataan, mulai dari survei sosiologis, analisis, daftar kesulitan, daftar harapan dan bahkan keluhan. Tetapi, jauh lebih penting memulainya dari pengalaman Roh Kudus : itulah keberangkatan yang sebenarnya. Dan karena itu perlu untuk mengusahakannya, membuat daftarnya, mempelajarinya, menafsirkannya. Ini adalah prinsip dasar yang, dalam kehidupan rohani, disebut keutamaan penghiburan di atas kehancuran. Pertama ada Roh yang menghibur, menghidupkan, mencerahkan, menggerakkan; maka akan ada juga kesunyian, penderitaan, kegelapan, tetapi prinsip untuk menyesuaikan diri dalam kegelapan adalah terang Roh Kudus’ (C.M. Martini, Penginjilan dalam Penghiburan Roh, 25 September 1997). Inilah prinsip untuk membimbing diri kita dalam hal-hal yang tidak kita pahami, dalam kebingungan, bahkan dalam kegelapan yang begitu besar, prinsip tersebut penting. Marilah kita bertanya pada diri kita, kita masing-masing, marilah kita bertanya pada diri kita apakah kita membuka diri terhadap terang ini, jika kita memberinya ruang : apakah aku memohonkan Roh Kudus? Kitamasing-masing dapat menjawabnya dalam diri kita. Berapa banyak yang berdoa kepada Roh Kudus? 'Tidak, Bapa, aku berdoa kepada Bunda Maria, aku berdoa kepada para para kudus, aku berdoa kepada Yesus, terkadang aku berdoa Bapa Kami, aku berdoa kepada Bapa ...' 'Dan Roh Kudus? Tidakkah kamu berdoa kepada Roh Kudus, yang menggerakkan hatimu, yang memberimu penghiburan, yang memberimu keinginan untuk menginjili, melakukan perutusan? Apakah aku memperkenankan diriku dibimbing oleh-Nya, yang mengundangku untuk tidak menutup diri tetapi untuk menanggung Yesus, menjadi saksi keutamaan penghiburan Allah atas kehancuran dunia? Semoga Bunda Maria, yang telah memahami hal ini dengan baik, membantu kita untuk memahaminya.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyampaikan sapaan hangat kepada para peziarah berbahasa Inggris yang ikut serta dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok dari Belanda, Filipina, dan Amerika Serikat. Semoga perjalanan Prapaskah yang kita mulai hari ini membawa kita menuju Paskah dengan hati yang dimurnikan dan diperbarui oleh rahmat Roh Kudus. Atas kamu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan kedamaian di dalam Kristus Sang Penebus kita.

 

[Imbauan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Lusa, tanggal 24 Februari, akan tepat satu tahun invasi ke Ukraina, awal perang yang tidak masuk akal dan kejam ini. Ulang tahun yang menyedihkan! Korban tewas, terluka, pengungsi dan orang terlantar, kehancuran, kerusakan ekonomi dan sosial berbicara untuk dirinya sendiri. Semoga Tuhan mengampuni begitu banyak kejahatan dan kekerasan. Ia adalah Allah perdamaian. Marilah kita tetap dekat dengan rakyat Ukraina yang tersiksa, yang terus menderita, dan marilah kita bertanya pada diri kita : apakah semua yang mungkin dilakukan untuk menghentikan perang? Saya memohon kepada mereka yang memiliki otoritas atas negara-negara untuk berkomitmen nyata guna mengakhiri pertikaian, mencapai gencatan senjata, dan memulai negosiasi perdamaian. Apa yang dibangun di atas puing-puing tidak akan pernah menjadi kemenangan sejati!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Dalam lanjutan katekese kita tentang semangat kerasulan, hasrat yang membara untuk membagikan sukacita Injil, kita sekarang beralih ke peran Roh Kudus, yang diutus oleh Yesus pada hari Pentakosta untuk meresmikan perutusan para Rasul guna menjadikan murid segala bangsa. Dalam penjangkauan misioner besar Gereja perdana, Roh Kudus muncul sebagai kekuatan pendorong, mempersiapkan hati untuk menerima Injil dan meneguhkan para Rasul dalam kesaksian mereka tentang Tuhan yang telah bangkit. Keputusan penting Konsili Yerusalem yang tidak meminta para petobat untuk mematuhi hukum Musa adalah buah dari pembedaan roh yang penuh doa dan disampaikan dengan rumusan, “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami” (Kis 15:28). Di setiap zaman, Roh Kudus menerangi dan membimbing pewartaan Injil Gereja. Hari ini, Hari Rabu Abu, mengundang kita untuk memohon terang Roh Kudus atas kehidupan kita masing-masing sebagai pengikut Kristus dan perutusan Gereja untuk membawa penghiburan Yesus ke dalam kehancuran dunia yang haus akan keadilan, perdamaian dan persatuan yang diperdamaikan yang adalah buah Paskah Tuhan dari kematian menuju kehidupan pada Hari Raya Paskah.

___

 

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Februari 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 19 Februari 2023 : BERUSAHA UNTUK MENJADI LUAR BIASA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Kata-kata yang ditujukan Yesus kepada kita dalam Bacaan Injil hari Minggu ini menuntut, dan tampak bertolak belakang : Ia mengundang kita untuk memberikan juga pipi kiri dan bahkan mengasihi musuh kita (bdk. Mat 5:38-48). Wajar bagi kita untuk mengasihi orang-orang yang mengasihi kita, dan bersahabat dengan orang-orang yang menjadi teman kita; tetapi Yesus mendorong kita dengan mengatakan : apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain?" (ayat 47). Apakah lebihnya perbuatanmu? Di sinilah poinnya. Hari ini saya ingin memintamu memberi perhatian bahwa apa yang kamu perbuat luar biasa.

 

"Lebih", "luar biasa", adalah apa yang melampaui batas yang biasa, apa yang melebihi praktik kebiasaan dan perhitungan normal yang ditentukan dengan kehati-hatian. Sebaliknya, secara umum kita berusaha agar segala sesuatunya kurang lebih teratur dan terkendali, agar sesuai dengan harapan kita, dengan ukuran kita : takut tidak dibalas atau terlalu terbuka dan kemudian kecewa, kita lebih memilih untuk mengasihi hanya orang-orang yang mengasihi kita untuk menghindari kekecewaan, berbuat baik hanya kepada orang-orang yang baik kepada kita, bermurah hati hanya kepada orang-orang yang dapat membalas budi; dan kepada orang-orang yang memperlakukan kita dengan buruk, kita benar-benar membalasnya hingga setimpal. Tetapi Tuhan memperingatkan kita: ini tidak cukup! Kita akan mengatakan : ini tidak kristiani! Jika kita tetap dalam kewajaran, dalam keseimbangan antara memberi dan menerima, hal-hal tidak akan berubah. Jika Allah mengikuti nalar ini, kita tidak akan memiliki harapan keselamatan! Tetapi, untungnya bagi kita, kasih Allah senantiasa “luar biasa”, melampaui kriteria yang biasa kita gunakan sebagai manusia untuk menjalani hubungan kita.

 

Maka kata-kata Yesus menantang kita. Sementara kita berusaha untuk tetap berada dalam penalaran faedah yang biasa, Ia meminta kita untuk membuka diri terhadap hal yang luar biasa, terhadap luar biasanya kasih yang diberikan secara bebas; sementara kita senantiasa berusaha untuk menyeimbangkan pembukuan, Kristus mendorong kita untuk hidup dalam ketidakseimbangan kasih. Yesus bukanlah pemegang pembukuan yang baik, tidak! Ia senantiasa membawa kita pada ketidakseimbangan kasih. Kita tidak perlu heran akan hal ini. Jika Allah tidak "menyeimbangkan" diri, kita tidak akan pernah diselamatkan : ketidakseimbangan salib menyelamatkan kita! Yesus tidak akan datang untuk mencari kita ketika kita tersesat dan jauh; Ia tidak akan mengasihi kita sampai kesudahan, Ia tidak akan memikul salib untuk kita, yang tidak pantas menerima semua ini dan tidak dapat memberikan imbalan apa pun kepada-Nya. Sebagaimana ditulis Rasul Paulus, “Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar -- tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati --. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm 5:7-8). Jadi, Allah mengasihi kita ketika kita berdosa, bukan karena kita baik atau mampu memberikan sesuatu kembali kepada-Nya. Saudara saudari, kasih Allah adalah kasih yang senantiasa melebihi, senantiasa di luar perhitungan, senantiasa tidak spadan. Dan hari ini Ia juga meminta kita untuk hidup dengan cara ini, karena hanya dengan cara ini kita akan benar-benar bersaksi tentang Dia.

 

Saudara-saudari, Tuhan mengundang kita untuk keluar dari nalar kepentingan pribadi serta tidak mengukur kasih pada skala perhitungan dan kenyamanan. Ia mengundang kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, berani berbuat baik, mengambil risiko dalam memberi, bahkan jika kita sedikit atau tidak sama sekali menerima ganjaran. Karena kasih inilah yang perlahan mengubah pertikaian, memperpendek jarak, mengatasi permusuhan dan menyembuhkan luka kebencian. Jadi, kita dapat bertanya pada diri kita, kita masing-masing : apakah aku, dalam hidupku, mengikuti nalar pembalasan, atau nalar kecuma-cumaan, seperti yang diperbuat Allah? Kasih Kristus yang luar biasa tidaklah mudah, tetapi mungkin; kasih itu mungkin karena Ia sendiri membantu kita dengan memberi kita Roh-Nya, kasih-Nya tanpa batas.

 

Marilah kita berdoa kepada Bunda Maria, yang dengan menjawab "ya" kepada Allah tanpa perhitungan, memperkenankan-Nya menjadikan dirinya mahakarya rahmat-Nya.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kasih Yesus meminta kita untuk memperkenankan diri kita terjamah oleh situasi orang-orang yang berada dalam kesulitan. Saya terutama memikirkan Suriah dan Turki, banyak sekali korban gempa bumi, tetapi juga tragedi harian rakyat Ukraina yang terkasih dan banyak penduduk yang menderita akibat perang atau karena kemiskinan, kurangnya kebebasan atau kehancuran lingkungan : banyak orang… Dalam hal ini, saya dekat dengan rakyat Selandia Baru, yang baru-baru ini dilanda topan yang menghancurkan. Saudara-saudari, janganlah kita melupakan orang-orang yang menderita, dan semoga amal kita penuh perhatian , semoga amal yang nyata!

Saya menyapa kamu semua, dari Italia dan negara-negara lain. Saya menyapa para peziarah dari Oviedo, Spanyol, dan mahasiswa Vila Pouca de Aguair Portugal.

Kemudian, saya menyapa kelompok Aksi Katolik dari Rimini dan Saccolongo; umat Lentiai, Turin dan Bolzano; calon krisma dari Valvasone dan Almenno San Salvatore; para remaja dan anak muda dari Tricesimo, Leno, Chiuppano dan Fino Mornasco; putra altar dari Arcene dan para siswa Sekolah Santo Ambrosius Milan.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 19 Februari 2023)