Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 28 Mei 2023 : TENTANG HARI RAYA PENTAKOSTA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, Hari Raya Pentakosta, Injil membawa kita ke ruang atas, tempat para rasul berlindung setelah kematian Yesus (Yoh 20:19-23). Yesus yang bangkit, pada Paskah petang, menampakkan diri-Nya persis dalam situasi ketakutan dan kesedihan tersebut serta, mengembusi mereka, berkata: "Terimalah Roh Kudus" (ayat 22). Dengan cara ini, dengan karunia Roh, Yesus ingin membebaskan para murid dari rasa takut, dari rasa takut yang mengurung mereka di rumah, dan Ia membebaskan mereka sehingga mereka dapat berangkat serta menjadi saksi dan pewarta Injil. Marilah kita sedikit memikirkan apa yang dilakukan Roh : Ia membebaskan dari rasa takut.

 

Murid-murid telah menutup pintu-pintu, kata Injil, “karena takut” (ayat 19). Kematian Yesus mengejutkan mereka, impian mereka hancur, harapan mereka sirna. Dan mereka menutup diri. Bukan hanya di dalam ruangan itu, tetapi di dalam diri mereka, di dalam hati mereka. Saya ingin menggarisbawahi hal ini : tertutup di dalam diri mereka. Seberapa sering kita terlalu mengurung diri? Seberapa sering, karena suatu situasi yang sulit, karena suatu masalah pribadi atau keluarga, karena suatu penderitaan yang melanda kita atau kejahatan yang dihembuskan di sekitar kita, kita berisiko perlahan-lahan kehilangan harapan dan kurang berani untuk melanjutkan? Ini terjadi berkali-kali. Dan kemudian, seperti para rasul, kita mengurung diri, membarikade diri kita dalam labirin kekhawatiran.

 

Saudara-,saudari, “menutup diri” ini terjadi ketika, dalam situasi yang paling sulit, kita membiarkan rasa takut mengambil alih dan membiarkan suaranya yang keras menguasai diri kita. Oleh karena itu, penyebabnya adalah rasa takut: rasa takut tidak mampu mengatasi, menghadapi pertempuran sehari-hari sendirian, mengambil risiko dan kemudian kecewa, membuat keputusan yang salah. Saudara, saudari, rasa takut menghadang, rasa takut melumpuhkan. Dan rasa takut juga mengasingkan : pikirkan rasa takut orang lain, orang-orang asing, orang-orang yang berbeda, orang-orang yang berpikir dengan cara lain. Dan bahkan bisa ada rasa takut akan Allah: rasa takut Ia akan menghukumku, rasa takut Ia akan marah kepadaku … Jika kita memberi ruang bagi rasa takut palsu ini, pintu akan tertutup : pintu hati, pintu masyarakat, dan bahkan pintu Gereja! Di mana ada rasa takut, di situ ada ketertutupan. Dan hal ini tidak akan berhasil.

 

Tetapi, bacaan Injil menawarkan kepada kita obat Yesus yang bangkit : Roh Kudus. Ia membebaskan kita dari penjara ketakutan. Ketika mereka menerima Roh, para rasul – kita merayakannya hari ini – keluar dari ruang atas dan pergi ke dunia untuk mengampuni dosa dan mewartakan kabar baik. Berkat Dia, ketakutan diatasi dan pintu terbuka. Karena inilah yang dilakukan Roh : Ia membuat kita merasakan Allah yang dekat, dan dengan demikian kasih-Nya mengenyahkan rasa takut, menerangi jalan, menghibur, menopang dalam kesulitan. Berhadapan dengan ketakutan dan ketertutupan, marilah kita memohonkan Roh Kudus untuk kita, Gereja dan seluruh dunia : biarlah Pentakosta baru mengentahkan rasa takut yang menyerang kita dan menghidupkan kembali nyala kasih Allah.

 

Semoga Santa Maria, orang pertama yang dipenuhi Roh Kudus, menjadi pengantara kita.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Tanggal 22 Mei lalu diperingati 150 tahun wafatnya salah satu tokoh sastra terkemuka, Alessandro Manzoni. Melalui karya-karyanya, ia berbicara untuk para korban dan orang-orang kecil : mereka selalu berada di bawah perlindungan Penyelenggaraan ilahi, yang “menciptakan dan membunuh, yang menghukum kemudian menyembuhkan dalam kasih”; dan didukung juga oleh kedekatan para gembala Gereja yang setia, yang hadir di halaman-halaman mahakarya Manzoni.

 

Saya mengundangmu untuk mendoakan penduduk yang tinggal di perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh, yang dilanda badai topan : lebih dari delapan ratus ribu orang, selain banyak rakyat Rohingya yang sudah hidup dalam kondisi genting. Saat saya menegaskan kembali kedekatan saya dengan penduduk ini, saya berbicara kepada para pemimpin, agar mereka dapat memfasilitasi akses bantuan kemanusiaan, serta saya mengimbau rasa kesetiakawanan manusiawi dan gerejawi untuk datang membantu saudara-saudari kita ini.

 

Dengan hangat saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari Italia dan banyak negara, terutama umat dari Panama dan peziarahan Keuskupan Agung Tulancingo, Meksiko, yang sedang merayakan Nuestra Señora de los Angeles; serta rombongan dari Novellana, Spanyol. Saya juga menyapa umat Celeseo, Padua, dan Bari, serta saya menyampaikan berkat saya kepada mereka yang telah berkumpul di Rumah Sakit Gemelli untuk mempromosikan prakarsa persaudaraan dengan orang-orang sakit.

 

Rabu depan, pada akhir bulan Mei, momen doa direncanakan di tempat-tempat suci Maria di seluruh dunia untuk mendukung persiapan Sidang Biasa Sinode Para Uskup berikutnya. Kita memohon Perawan Maria untuk menyertai tahapan penting Sinode ini dengan perlindungan keibuannya. Dan kepadanya kita juga mempercayakan keinginan untuk perdamaian begitu banyak penduduk di seluruh dunia, terutama Ukraina yang terkepung.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang dan selamat tinggal!
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 28 Mei 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 24 Mei 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 14) - SAKSI-SAKSI : SANTO ANDREAS KIM TAE-GON

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam rangkaian katekese yang kita lakukan ini, kita menempatkan diri kita di sekolah beberapa orang kudus yang, sebagai saksi-saksi keteladanan, mengajari kita semangat kerasulan. Marilah kita ingat bahwa kita berbicara tentang semangat kerasulan, yang harus kita miliki untuk mewartakan Injil.

 

Hari ini kita akan menemukan teladan yang luar biasa dari seorang santo yang memiliki hasrat penginjilan di negeri nun jauh, yaitu Gereja Korea. Marilah kita melihat sang martir Korea dan imam pertama Santo Andreas Kim Tae-gon.

 

Tetapi, imam Korea pertama : kamu tahu sesuatu? Penginjilan Korea dilakukan oleh kaum awam! Awam yang dibaptis yang meneruskan iman, tidak ada imam, karena mereka tidak memilikinya. Kemudian, kelak ... tetapi penginjilan pertama dilakukan oleh kaum awam. Akankah kita mampu melakukan hal seperti itu? Marilah kita memikirkannya : ini menarik. Dan inilah salah seorang imam pertama, Santo Andreas. Hidupnya telah dan tetap menjadi kesaksian yang mengesankan tentang pewartaan Injil, semangat untuk hal ini.

 

Sekitar 200 tahun yang lalu, tanah Korea menjadi tempat penganiayaan yang sangat kejam : umat kristiani dianiaya dan dibinasakan. Di Korea, pada saat itu, percaya kepada Yesus Kristus berarti siap menjadi saksi bahkan sampai mati. Khususnya dari keteladanan Santo Andreas Kim, kita dapat menarik dua aspek nyata kehidupannya.

 

Aspek pertama adalah cara ia biasa bertemu dengan umat beriman. Mengingat konteks yang sangat mengintimidasi, orang kudus itu terpaksa mendekati umat Kristiani secara diam-diam, dan selalu di hadapan orang lain, seolah-olah mereka telah saling berbicara untuk sementara waktu. Kemudian, untuk menegaskan jatidiri kristiani dari lawan bicaranya, Santo Andreas akan menerapkan perangkat ini : pertama, ada tanda pengakuan yang disepakati sebelumnya : “Kamu akan bertemu dengan umat Kristiani ini dan ia akan memiliki tanda ini di pakaiannya atau di tangannya”. Dan setelah itu, ia secara diam-diam akan mengajukan pertanyaan — tetapi semua ini secara diam-diam, eh? — “Apakah kamu murid Yesus?” Karena orang lain menyaksikan percakapan itu, orang kudius itu harus berbicara dengan suara pelan, hanya mengucapkan beberapa kata, kata-kata yang paling penting. Jadi, bagi Andreas Kim, ungkapan yang merangkum seluruh jatidiri umat kristiani adalah “murid Kristus”. “Apakah kamu murid Kristus?” — tetapi dengan suara lembut karena berbahaya. Menjadi orang Kristiani tidak diperbolehkan di sana.

 

Memang, menjadi murid Tuhan berarti mengikuti Dia, mengikuti jalan-Nya. Dan orang kristiani pada dasarnya adalah orang yang mewartakan dan bersaksi tentang Yesus. Setiap komunitas Kristiani menerima jatidiri ini dari Roh Kudus, demikian pula seluruh Gereja, sejak hari Pentakosta (bdk. Dekrit Konsili Vatikan II, Ad gentes, 2). Dari Roh Kudus inilah kita menerima hasrat, hasrat penginjilan, semangat kerasulan yang luar biasa ini; karunia yang diberikan Roh Kudus. Dan bahkan jika konteks sekitarnya tidak menguntungkan —seperti konteks Korea Andreas Kim — hasrat tersebut tidak berubah; justru menjadi semakin berharga. Santo Andreas Kim dan umat beriman Korea lainnya telah menunjukkan bahwa bersaksi tentang Injil pada saat penganiayaan dapat berbuah banyak bagi iman.

 

Sekarang marilah kita lihat teladan nyata yang kedua. Ketika ia masih seorang seminaris, Santo Andreas harus menemukan cara untuk secara diam-diam menyambut para imam misionaris dari luar negeri. Ini bukanlah tugas yang mudah, karena rezim saat itu melarang keras semua orang asing memasuki wilayah tersebut. Itulah mengapa, sebelum ini, sangat sulit menemukan seorang imam yang dapat datang untuk melakukan karya misioner : kaum awamlah yang menjalankan misi.

 

Suatu kali — pikirkanlah tentang apa yang dilakukan Santo Andrew — suatu kali, ia berjalan di atas salju, tanpa makan, begitu lama hingga ia jatuh ke tanah kelelahan, mempertaruhkan ketidaksadaran dan kedinginan. Pada saat itu, ia tiba-tiba mendengar suara, “Bangunlah, berjalanlah!” Mendengar suara itu, Andreas sadar, melihat sekilas sesuatu seperti bayangan seseorang yang membimbingnya.

 

Pengalaman kesaksian Korea yang luar biasa ini membuat kita memahami aspek yang sangat penting semangat kerasulan; yaitu, keberanian untuk bangkit kembali ketika kita jatuh.

 

Tetapi apakah orang-orang kudus jatuh? Ya! Memang, sejak dulu. Pikirkanlah Santo Petrus : ia melakukan dosa besar, eh? Tetapi ia menemukan kekuatan dalam kerahiman Allah dan bangun kembali. Dan dalam diri Santo Andreas kita melihat kekuatan ini : ia telah jatuh secara fisik tetapi ia memiliki kekuatan untuk maju, maju, maju menyampaikan pesan.

 

Tidak peduli betapa sulitnya situasi — dan memang, kadang-kadang tampaknya tidak ada ruang untuk pesan Injil — kita tidak boleh menyerah dan kita tidak boleh urung mengejar apa yang penting dalam kehidupan kristiani kita : yaitu penginjilan.

 

Inilah jalannya. Dan kita masing-masing dapat berpikir : “Tetapi bagaimana denganku, bagaimana aku dapat menginjili?” Tetapi kamu melihat orang-orang yang luar biasa ini dan kamu memikirkan kekecilanmu, kita memikirkan kekecilan kita : menginjili keluarga, menginjili sahabat, berbicara tentang Yesus— tetapi berbicara tentang Yesus dan menginjili dengan hati yang penuh sukacita, penuh kekuatan. Dan ini diberikan oleh Roh Kudus. Marilah kita mempersiapkan diri untuk menerima Roh Kudus pada Pentakosta yang akan datang ini, dan memohonkan kepada-Nya rahmat tersebut, rahmat keberanian kerasulan, rahmat untuk menginjili, untuk selalu meneruskan pesan Yesus. Terima kasih.

 

[Seruan]

 

Hari ini adalah Hari Doa Sedunia untuk Gereja Katolik di Tiongkok. Hari ini bertepatan dengan Pesta Santa Perawan Maria Pertolongan Umat Kristiani, yang dihormati dan dimohonkan di Gua Maria dari Sheshan di Shanghai. Pada kesempatan ini, saya ingin menawarkan jaminan ingatan saya dan mengungkapkan kedekatan saya dengan saudara dan saudari kita di Tiongkok, ambil bagian dalam sukacita dan harapan mereka. Saya mengarahkan pikiran saya terutama kepada semua orang yang menderita, para imam dan umat beriman, agar dalam persekutuan dan kesetiakawanan Gereja semesta mereka dapat mengalami penghiburan dan dorongan. Dan saya mengundang semua orang untuk memanjatkan doa kepada Allah agar Kabar Baik Kristus yang disalibkan dan bangkit dapat diwartakan secara penuh, indah, dan bebas, menghasilkan buah untuk kebaikan Gereja Katolik dan seluruh masyarakat Tiongkok.

 

Saya menyampaikan sapaan hangat kepada para peziarah berbahasa Italia. Secara khusus, saya menyapa Misionaris Cinta Kasih, Komite Penyelenggara Acara Khusus Roma, Kelompok Onkologi Anak Poliklinik Bari, dan Sekolah Penyelenggaraan Ilahi Roma.

 

Terakhir, seperti biasa, saya menyapa kaum muda, orang-orang sakit, kaum lanjut usia, dan para pengantin baru. Hari ini adalah Pesta Bunda Maria yang dihormati dengan gelar "Maria Pertolongan Umat Kristiani". Semoga Maria menolongmu, kaum muda yang terkasih, untuk memperkuat kesetiaanmu kepada Kristus setiap hari. Semoga ia mendapatkan kenyamanan dan ketenangan untukmu, kaum tua dan orang-orang sakit yang terkasih. Semoga ia mendorongmu, para pengantin baru yang terkasih, untuk menerjemahkan perintah kasih ke dalam kehidupan sehari-harimu. Pesta Maria Pertolongan Umat Kristiani adalah panggilan Maria yang sangat disukai Don Bosco : sebuah salam dan pengingat bagi Keluarga Salesian, mengucap syukur atas semua yang mereka lakukan untuk Gereja.

 

Dan sekali lagi kesedihan datang kepada kita semua karena Ukraina yang tersiksa : ada begitu banyak penderitaan di sana. Janganlah kita melupakan mereka. Hari ini marilah kita berdoa kepada Maria Pertolongan Umat Kristiani agar ia dekat dengan rakyat Ukraina.

 

Saya memberkati kamu semua.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya mengucapkan selamat datang kepada para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama kelompok dari Inggris, India, Indonesia, Malaysia, Kanada dan Amerika Serikat. Saat kita bersiap untuk merayakan Hari Raya Pentakosta, saya memohonkan atasmu dan keluargamu pencurahan karunia Roh Kudus yang melimpah. Semoga Tuhan memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang semangat kerasulan, kita sekarang beralih ke Santo Andreas Kim Tae-gon, imam pribumi pertama Korea dan martir iman. Pada saat penganiayaan sengit, Santo Andreas dengan berani mencari kawanan dombanya yang tercerai-berai, karena takut ditangkap, terpaksa merahasiakan jatidiri mereka. Sebagai seorang seminaris muda, Andreas membantu para imam misionaris dari luar negeri, yang secara diam-diam memasuki negara itu untuk melayani penduduknya. Ia menanggung kesulitan luar biasa demi Injil. Suatu kali, di tengah perjalanan panjang melewati salju, ia terjatuh ke tanah karena kelelahan dan berisiko meninggal karena terpapar. Tiba-tiba ia mendengar suara berkata : "Bangunlah dan teruslah berjalan!" Ia menyadari bahwa, dalam kesaksiannya terhadap Injil, ia tidak sendirian, dan Tuhan tidak akan pernah meninggalkannya. Pada akhirnya, ketekunannya dalam mengikuti Kristus dan melayani umat-Nya menyebabkan ia wafat sebagai martir. Terinspirasi oleh teladan Santo Andreas Kim Tae-gon, semoga kita bertekun dalam panggilan baptis kita untuk menjadi murid misioner, berbagi sukacita Injil dengan orang lain, percaya pada kekuatan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita tanpa henti.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 24 Mei 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 21 Mei 2023 : MENGAPA MERAYAKAN KENAIKAN YESUS KE SURGA?

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, di Italia dan banyak negara lain, Hari Raya Kenaikan Tuhan dirayakan. Hari Raya Kenaikan Tuhan kita kenal dengan baik, tetapi dapat menimbulkan beberapa pertanyaan - setidaknya ada dua pertanyaan. Pertanyaan pertama : Mengapa merayakan kepergian Yesus dari bumi? Tampaknya kepergian Yesus akan menjadi saat yang menyedihkan, bukan sesuatu yang patut disyukuri! Mengapa merayakan kepergian? Pertanyaan pertama. Pertanyaan kedua : Apa yang dilakukan Yesus sekarang di surga? Pertanyaan pertama : Mengapa merayakan? Pertanyaan kedua : Apa yang dilakukan Yesus di surga?

 

Mengapa kita merayakan. Karena dengan Kenaikan Yesus ke surga, sesuatu yang baru dan indah terjadi : Yesus membawa kemanusiaan kita, daging kita, ke surga – ini adalah pertama kalinya – yaitu, Ia membawanya di dalam Allah. Kemanusiaan yang Ia tanggung di bumi itu tidak tetap di sini. Yesus yang bangkit bukanlah roh, bukan. Ia memiliki tubuh manusiawi, daging dan tulang, semuanya. Ia akan ada di dalam Allah. Kita dapat mengatakan bahwa sejak hari Kenaikan, Allah sendiri "berubah" - sejak saat itu, Ia bukan hanya roh, tetapi kasih-Nya kepada kita sedemikian rupa sehingga Ia membawa daging kita di dalam diri-Nya, kemanusiaan kita! Tempat yang menanti kita telah ditunjukkan; itulah takdir kita. Demikian dituliskan seorang Bapa zaman dahulu dalam iman : “Sungguh berita yang luar biasa! Ia yang menjadi manusia demi kita […] untuk menjadikan kita saudara-saudara-Nya, menghadirkan diri-Nya sebagai manusia di hadapan Bapa untuk menanggung bersama diri-Nya semua orang yang bergabung dengan-Nya” (Santo Gregorius dari Nyssa, Pengajaran tentang Kebangkitan Kristus, 1) . Hari ini, kita merayakan “penaklukan surga” – Yesus, yang kembali kepada Bapa, tetapi dengan kemanusiaan kita. Jadi, surga sedikit sudah menjadi milik kita. Yesus telah membuka pintu dan tubuh-Nya ada di sana.

 

Pertanyaan kedua : Jadi, apa yang dilakukan Yesus di surga? Ia ada untuk kita di hadapan Bapa, terus-menerus menunjukkan kemanusiaan kita kepada-Nya – menunjukkan luka-luka-Nya. Saya suka berpikir bahwa Yesus, berdoa seperti ini di hadapan Bapa – membuat Bapa melihat luka-luka-Nya. “Inilah yang Kuderita demi umat manusia : Perbuatlah sesuatu!” Iia menunjukkan kepada Bapa harga penebusan kita. Bapa tergerak. Ini adalah sesuatu yang saya suka pikirkan. Tetapi pikirkanlah sendiri. Beginilah cara Yesus berdoa. Ia tidak meninggalkan kita sendirian. Sesungguhnya, sebelum naik ke surga, Ia memberitahu kita, sebagaimana dikatakan Bacaan Injil hari ini, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman" (Mat 28:20). Ia senantiasa bersama kita, memandang kita, dan “Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara” (Ibr 7:25) demi kita. Membuat Bapa melihat luka-luka-Nya, demi kita. Singkatnya, Yesus menjadi Pengantara. Ia berada di “tempat” yang lebih baik, di hadapan Bapa-Nya dan Bapa kita, untuk menjadi pengantara kita.

 

Pengantaraan hakiki. Keyakinan ini juga membantu kita – tidak kehilangan harapan, tidak putus asa. Di hadapan Bapa, ada seseorang yang membuat Bapa melihat luka-lukanya dan menjadi pengantara. Semoga Ratu Surga membantu kita menjadi pengantara dengan kekuatan doa.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Menyedihkan, tetapi sebulan setelah pecahnya kekerasan di Sudan, situasi terus menjadi gawat. Sambil mendorong kesepakatan parsial yang telah dicapai sejauh ini, dengan tulus saya kembali menyerukan untuk melakukan gencetan senjata, dan saya meminta masyarakat internasional untuk tidak menyia-nyiakan upaya mewujudkan dialog dan meringankan penderitaan rakyat. Dan marilah kita terus berada di dekat rakyat Ukraina yang terkepung.

 

Hari Komunikasi Sedunia diperingati dengan tema Berbicara dengan Hati. Hatilah yang menggerakkan kita menuju komunikasi yang terbuka dan mudah memahami. Saya menyapa para jurnalis, pakar komunikasi, berterima kasih atas karya mereka. Dan saya berharap mereka selalu bekerja untuk melayani kebenaran dan kebaikan bersama. Tepuk tangan meriah untuk semua jurnalis!

 

Hari ini, Pekan Laudato Si’ dimulai. Saya berterima kasih kepada Dikasteri karena Mempromosikan Pembangunan Manusia Seutuhnya dan banyak organisasi yang berpartisipasi. Dan saya mengajak semuanya untuk bekerjasama dalam merawat rumah kita bersama. Ada kebutuhan untuk menyatukan kemampuan dan kreativitas kita! Bencana baru-baru ini mengingatkan kita akan hal ini, seperti banjir yang melanda penduduk Emiglia Romagna akhir-akhir ini, yang kepada mereka, dengan sepenuh hati, saya memperbaharui kedekatan saya. Hari ini, buklet tentang Laudato Si', yang telah disiapkan Dikasteri bekerjasama dengan Institut Lingkungan Stockholm, akan dibagikan di Lapangan [Santo Petrus].

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari Italia dan banyak negara – saya melihat banyak bendera di sana, selamat datang! Saya secara khusus menyapa para Suster Fransiskan Santa Elisabet dari Indonesia – dari jauh; umat dari Malta, Mali, Argentina, Pulau Karibia Curaçao, dan kelompok musik dari Puerto Rico. Kita ingin mendengarmu bermain setelahnya!

 

Selain itu, saya menyapa peziarahan Keuskupan Alessandria; para calon penerima krisma dari Keuskupan Genoa yang saya temui kemarin. Kemarin, saya bertemu dengan mereka, dengan topi merah di sana, di Santa Marta – mereka luar biasa!; kelompok paroki dari Molise, Scandicci, Grotte dan Grumo Nevano; lembaga yang berkomitmen untuk melindungi kehidupan manusia; paduan suara kaum muda “Emil Komel” dari Gorizia; sekolah “Katarina Santa Rose” dan “Santa Ursula” dari Roma; dan umat bersama Immacolata.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Tolong jangan lupa. Selamat menikmati makan siangmu dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 21 Mei 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 17 Mei 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 13) - SAKSI-SAKSI : SANTO FRANSISKUS XAVERIUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Melanjutkan perjalanan katekese kita dengan beberapa model semangat kerasulan yang patut diteladani, hari ini kita mengingat, kita sedang berbicara tentang penginjilan, tentang semangat kerasulan, tentang menyandang nama Yesus. Dan ada banyak orang dalam sejarah yang telah melakukan hal ini dengan cara yang patut diteladani. Hari ini, misalnya, kita memilih sebagai teladan, Santo Fransiskus Xaverius, yang menurut beberapa orang dianggap sebagai misionaris terbesar di zaman modern. Tetapi tidak mungkin mengatakan siapa yang terbesar, siapa yang terkecil. Ada begitu banyak misionaris tersembunyi yang, bahkan hari ini, melakukan lebih dari Santo Fransiskus Xaverius. Dan Santo Fransiskus Xaverius adalah pelindung misi, seperti Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus. Dan seorang misionaris hebat ketika ia berangkat. Dan ada banyak, banyak imam, kaum awam, biarawati yang berangkat bermisi … bahkan dari Italia. Banyak dari kamu, saya melihat contohnya, ketika sebuah cerita datang tentang seorang imam yang menjadi calon uskup, yang menghabiskan sepuluh tahun sebagai misionaris di tempat itu. Ini luar biasa – meninggalkan negaramu untuk memberitakan Injil. Inilah semangat kerasulan. Inilah yang benar-benar perlu kita tanamkan. Dan melihat orang-orang ini, kita belajar.


Dan Santo Fransiskus Xaverius dilahirkan dalam keluarga bangsawan yang miskin di Navarre, Spanyol utara, pada tahun 1506. Ia belajar di Paris – ia adalah seorang pemuda duniawi, cerdas, luar biasa, duniawi. Di sana, ia bertemu Ignatius dari Loyola. Ia melakukan latihan rohani dan mengubah hidupnya. Dan ia meninggalkan segalanya, karir duniawinya, untuk menjadi seorang misionaris. Ia menjadi seorang Yesuit, mengucapkan kaul. Kemudian ia menjadi seorang imam, dan pergi menginjili, diutus ke Timur. Pada saat itu, perjalanan para misionaris ke Timur berarti mereka diutus ke dunia yang tidak dikenal. Dan ia berangkat, karena ia dipenuhi dengan semangat kerasulan.

 

Ia adalah orang pertama dari banyak misionaris yang bersemangat untuk berangkat, misionaris yang bersemangat di zaman modern, siap menanggung kesulitan dan bahaya yang luar biasa, untuk mencapai negeri-negeri serta bertemu orang-orang dari pelbagai budaya dan bahasa yang sama sekali tidak dikenal, semata terdorong oleh keinginan kuat untuk membuat Yesus Kristus dan Injil-Nya dikenal.

 

Hanya dalam waktu kurang dari sebelas tahun, ia menyelesaikan tugas yang luar biasa. Ia adalah seorang misionaris selama kurang lebih sebelas tahun. Perjalanan pada waktu itu keras dan berbahaya. Banyak orang meninggal dalam perjalanan, karena karam atau penyakit. Sayangnya hari ini, mereka meninggal dunia karena mereka membiarkan diri meninggal di Mediterania. Fransiskus Xaverius menghabiskan lebih dari tiga setengah tahun di kapal, sepertiga dari seluruh kurun waktu misinya. Untuk sampai ke India, ia menghabiskan tiga setengah tahun di kapal; kemudian dari India menuju Jepang. Sangat menyentuh.

 

Ia tiba di Goa, India, ibu kota Portugis Timur, ibu kota budaya dan komersial. Dan Fransiskus Xaverius mendirikan markasnya, tetapi tidak berhenti di situ. Selanjutnya ia menginjili para nelayan miskin di pantai selatan India, mengajarkan katekismus dan doa kepada anak-anak, membaptis dan merawat yang sakit. Kemudian, saat berdoa suatu malam di makam rasul Santo Bartolomus, ia merasa perlu berangkat ke luar India. Ia meninggalkan karya yang telah ia mulai dengan baik – ini bagus, organisasi – dan dengan berani berlayar ke Maluku, pulau terjauh di kepulauan Indonesia. Tidak ada cakrawala bagi orang-orang itu, mereka melampaui… Betapa beraninya para misionaris suci ini! Dan juga para misionaris dewasa ini. Tentu saja, mereka tidak menghabiskan tiga bulan di kapal, tetapi naik pesawat selama dua puluh empat jam. Tetapi ada kesamaan. Mereka perlu menetap di sana, dan melakukan perjalanan beberapa kilometer dan membenamkan diri di hutan. Seperti inilah rasanya…. Jadi, di Maluku, ia menerjemahkan katekismus ke dalam bahasa setempat dan mengajari mereka cara melantunkan katekismus, ia masuk melalui nyanyian. Kita memahami apa yang ia rasakan dari surat-suratnya. Ia menulis: “Bahaya dan penderitaan, yang diterima dengan sukarela dan semata-mata demi mengasihi dan melayani Allah Tuhan kita, adalah harta yang kaya akan penghiburan rohani yang luar biasa. Di sini, dalam beberapa tahun, seseorang bisa kehilangan matanya karena begitu banyak air mata kebahagiaan” (20 Januari 1548). Ia menangis penuh sukacita saat memperhatikan karya Allah.

 

Suatu hari, di India, ia bertemu seseorang dari Jepang yang berbicara kepadanya tentang negaranya yang jauh, di mana tidak ada misionaris Eropa yang pernah berkelana. Fransiskus Xaverius merasakan kegelisahan untuk merasul, untuk pergi ke tempat lain, lebih jauh, dan ia memutuskan untuk berangkat secepat mungkin, dan tiba di sana setelah perjalanan yang penuh petualangan dengan sebuah kapal milik seorang Tiongkok. Tiga tahun di Jepang cukup sulit, karena iklim, pertentangan, dan ketidaktahuannya tentang bahasa. Namun di sini juga, benih yang ditanam akan menghasilkan buah yang besar.

 

Seorang pemimpi besar, di Jepang, ia mengerti bahwa negara yang menentukan untuk misinya di Asia adalah negara lain : Tiongkok. Dengan budaya, sejarah, ukurannya, secara de facto Tiongkok menguasai dunia. Bahkan saat ini, Tiongkok adalah pusat budaya dengan sejarah yang panjang, sejarah yang indah…. Jadi, ia kembali ke Goa, dan tak lama kemudian berangkat lagi, berharap bisa masuk ke Tiongkok. Tetapi rencananya gagal – ia meninggal di gerbang Tiongkok, di sebuah pulau, pulau kecil Sancian, di depan garis pantai Tiongkok, menunggu dengan sia-sia untuk mendarat di daratan dekat Kanton. Pada tanggal 3 Desember 1552, ia meninggal dalam keadaan benar-benar terlantar, dengan hanya seorang Tiongkok yang berdiri di sampingnya untuk menjaganya. Maka berakhirlah perjalanan duniawi Fransiskus Xaverius. Ia telah menghabiskan hidupnya dengan bersemangat dalam misi. Ia meninggalkan Spanyol, negara yang sangat maju, dan tiba di negara paling maju saat itu – Tiongkok – dan meninggal di gerbang Tiongkok yang luar biasa, ditemani oleh seorang Tiongkok. Sangat simbolis, sangat simbolis.

 

Kegiatannya yang intens selalu dibarengi dengan doa, persatuan dengan Allah, mistik dan kontemplatif. Ia tidak pernah meninggalkan doa karena ia tahu di sanalah ia mendapatkan kekuatan. Ke mana pun ia pergi, ia sangat memperhatikan orang sakit, orang miskin dan anak-anak. Ia bukan seorang misionaris “bangsawan”. Ia selalu pergi dengan yang paling membutuhkan, anak-anak yang paling membutuhkan pengajaran, katekese. Orang miskin, orang sakit… Secara khusus ia pergi ke “perbatasan” ketika tiba saat untuk merawat. Dan di sana, ia bertumbuh dalam kebesaran. Dan kasih Kristus adalah kekuatan yang mendorongnya ke perbatasan terjauh, dengan kerja keras dan bahaya yang terus-menerus, mengatasi rintangan, kekecewaan dan keputusasaan; memang, ia diberi penghiburan dan sukacita ketika mengikuti dan melayani Kristus sampai akhir.

 

Santo Fransiskus Xaverius yang melakukan semua hal besar ini, dalam kemiskinan yang sungguh-sungguh, dengan keberanian yang sungguh-sungguh, yang dapat memberi kita sedikit semangat ini, semangat untuk hidup demi Injil, untuk mewartakan Injil. Begitu banyak kaum muda, begitu banyak kaum muda saat ini memiliki sesuatu… kegelisahan… dan mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan kegelisahan itu. Lihatlah Fransiskus Xaverius, lihatlah cakrawala dunia, lihatlah orang-orang yang sangat membutuhkan, lihatlah berapa banyak orang yang sedang menderita, begitu banyak orang yang membutuhkan Yesus. Dan milikilah keberanian untuk berangkat. Hari ini juga, ada kaum muda yang berani. Saya memikirkan banyak misionaris, misalnya, di Papua Nugini, para sahabat nuda saya yang berada di Keuskupan Vanimo, dan banyak lainnya yang telah berangkat – kaum muda – untuk menginjili dalam langkah-langkah Fransiskus Xaverius. Semoga Tuhan menganugerahkan kita sukacita untuk menginjili, sukacita untuk menyampaikan pesan ini, yang begitu indah, yang membuat kita, dan semua orang, bahagia. Terima kasih!

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hangat saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ikut serta dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok dari Inggris, Skotlandia, India, india, Korea, Taiwan, Kanada, dan Amerika Serikat. Dalam sukacita Kristus yang bangkit, saya memohonkan atasmu dan keluargamu kerahiman Allah Bapa kita yang penuh kasih. Semoga Tuhan memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese lanjutan kita tentang semangat kerasulan, kita sekarang beralih ke Santo Fransiskus Xaverius, pelindung misi Katolik. Lahir di Spanyol, Fransiskus belajar di Paris, di mana ia bertemu dengan Santo Ignatius dari Loyola dan, bersama dengan beberapa rekannya, membentuk Serikat Yesus, menempatkan diri mereka untuk melayani Paus demi kebutuhan Gereja yang paling mendesak pada masanya. Abad keenam belas, zaman penemuan, menyerukan penjangkauan misioner yang besar. Fransiskus berangkat ke Hindia Timur, di mana, mulai dari Goa, ia melakukan kegiatan yang intens untuk berkhotbah, membaptis, melakukan katekese, dan merawat orang sakit. Dari India ia melanjutkan ke Kepulauan Maluku dan dari sana ke Jepang. Tidak sempat menggapai mimpinya untuk memasuki Tiongkok, Fransiskus meninggal, pada usia empat puluh enam tahun, di pulau terdekat Shangchuan. Semangat heroiknya untuk penginjilan adalah buah dari kehidupan doa yang dalam dan persatuan penuh kasih dengan pribadi Yesus Kristus. Semoga teladan Santo Fransiskus Xaverius mengilhami upaya kita untuk mengembangkan misi Gereja, sebagai saksi-saksi penuh sukacita bagi Tuhan yang bangkit dan sabda-Nya yang menyelamatkan.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 Mei 2023)