Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 30 Agustus 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 19) - BERDOA DAN MELAYANI DENGAN SUKACITA : KATERI TEKAKWITHA, SANTA PRIBUMI PERTAMA DI AMERIKA UTARA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Kini, melanjutkan katekese kita dengan tema hasrat dan semangat apostolik untuk mewartakan Injil, hari ini kita melihat Santa Kateri Tekakwitha, perempuan pribumi Amerika Utara pertama yang dikanonisasi. Lahir sekitar tahun 1656 di sebuah desa di bagian utara New York, ia adalah putri dari seorang kepala suku Mohawk yang belum dibaptis dan seorang ibu Kristiani suku Algonquin, yang mengajari Kateri berdoa dan menyanyikan lagu pujian kepada Allah. Banyak dari kita juga pertama kali diperkenalkan kepada Allah dalam lingkungan keluarga, khususnya oleh ibu dan nenek kita. Dari sinilah penginjilan dimulai dan, tentu saja, kita tidak boleh lupa bahwa iman selalu disebarkan dalam logat ini oleh para ibu, oleh para nenek. Iman harus diwariskan dalam logat, dan kita menerimanya dalam logat dari para ibu dan nenek. Penginjilan sering dimulai dengan cara ini: dengan gerakan sederhana dan kecil, seperti para orangtua membantu anak-anak mereka belajar berbicara kepada Allah dalam doa dan memberitahu mereka tentang keagungan dan cinta kasih-Nya. Dan landasan iman bagi Kateri, dan seringkali juga bagi kita, diletakkan dengan cara ini. Ia menerimanya dari ibunya dalam logat, logat iman.

 

Ketika Kateri berusia empat tahun, wabah cacar sangat hebat melanda bangsanya. Kedua orangtuanya dan adik laki-lakinya meninggal, dan Kateri sendiri memiliki bekas luka di wajah dan gangguan penglihatan. Sejak saat itu, Kateri harus menghadapi banyak kesulitan: tentu saja kesulitan fisik akibat dampak penyakit cacar, tetapi juga kesalahpahaman, penganiayaan, dan bahkan ancaman pembunuhan yang dideritanya setelah ia dibaptis pada hari Minggu Paskah 1676. Semua ini memberi Kateri cinta yang besar demi Salib, tanda pasti kasih Kristus, yang menyerahkan diri-Nya sampai akhir demi kita. Memang benar, memberi kesaksian tentang Injil bukan hanya berkenaan dengan apa yang menyenangkan; kita juga harus tahu bagaimana memikul salib kita sehari-hari dengan kesabaran, kepercayaan, dan harapan. Kesabaran dalam menghadapi kesulitan, menghadapi salib: kesabaran adalah keutamaan Kristiani yang besar. Orang yang tidak memiliki kesabaran bukanlah orang Kristiani yang baik. Kesabaran untuk bertoleransi: bertoleransi terhadap sesama, yang terkadang mengganggu atau menimbulkan kesulitan. Kehidupan Kateri Tekakwitha menunjukkan kepada kita bahwa setiap tantangan dapat diatasi jika kita membuka hati kepada Yesus, yang memberikan rahmat yang kita perlukan. Kesabaran dan hati yang terbuka kepada Yesus – inilah resep untuk hidup dengan baik.

 

Setelah dibaptis, Kateri terpaksa mengungsi di antara kaum Mohawk di misi Yesuit dekat kota Montreal. Di sana ia menghadiri Misa setiap pagi, mengabdikan waktunya untuk adorasi di hadapan Sakramen Mahakudus, berdoa Rosario, dan menjalani kehidupan penebusan dosa. Praktik rohaninya ini mengesankan semua orang di Misi Yesuit tersebut; mereka mengenali dalam diri Kateri suatu kekudusan yang berdaya tarik karena berasal dari kasihnya yang mendalam kepada Allah. Hal ini wajar dalam kekudusan : berdaya tarik. Allah memanggil kita melalui ketertarikan; Ia berhasrat memanggil kita untuk dekat dengan kita dan kita merasakan ketertarikan ilahi ini. Pada saat yang sama, ia mengajar anak-anak Misi Yesuit untuk berdoa; dan terus-menerus bertanggung jawab penuh, termasuk merawat orang sakit dan lanjut usia, ia memberikan teladan pelayanan yang rendah hati dan penuh kasih kepada Allah dan sesama. Iman selalu dinyatakan sebagai pelayanan. Iman bukanlah tentang merias wajah, merias jiwa; bukan, iman adalah pelayanan.

 

Meskipun ia didorong untuk menikah, Kateri lebih memilih untuk mengabdikan hidupnya bagi Kristus. Karena tidak dapat memasuki hidup bakti, ia mengikrarkan kaul keperawanan kekal pada tanggal 25 Maret 1679. Pilihannya ini mengungkapkan aspek lain dari semangat kerasulan yang ia miliki : penyerahan sepenuhnya kepada Allah. Tentu saja, tidak semua orang terpanggil untuk mengikrarkan kaul yang sama seperti Kateri, namun setiap umat Kristiani dipanggil untuk memberikan dirinya setiap hari dengan hati yang tak terbagi kepada panggilan dan misi yang dipercayakan kepada mereka oleh Allah, melayani Allah dan sesama dalam semangat amal kasih.

 

Saudara-saudari terkasih, kehidupan Kateri adalah bukti lebih lanjut bahwa semangat kerasulan menyiratkan persatuan dengan Yesus, yang dibina melalui doa dan sakramen, serta keinginan untuk menyebarkan keindahan pesan Kristiani melalui kesetiaan pada panggilan khusus kita. Kata-kata terakhir Kateri sangat indah. Sebelum meninggal, ia berkata, “Yesus, aku mengasihi-Mu”.

Semoga kita juga, seperti Santa Kateri Tekakwitha, memperoleh kekuatan dari Tuhan dan belajar melakukan hal-hal biasa dengan cara yang luar biasa, bertumbuh setiap hari dalam iman, amal kasih, dan kesaksian yang bersemangat bagi Kristus.

 

Janganlah kita lupa : Kita masing-masing dipanggil menuju kekudusan, menuju kekudusan sehari-hari, menuju kekudusan kehidupan Kristiani bersama. Kita masing-masing mempunyai panggilan ini : kita terus maju di sepanjang jalan ini. Tuhan tidak akan mengecewakan kita.

 

[Imbauan]

Lusa, tanggal 1 September, kita merayakan Hari Doa Sedunia untuk Peduli Ciptaan, mencanangkan Masa Ciptaan, yang akan berlangsung hingga tanggal 4 Oktober, pesta Santo Fransiskus dari Asisi. Pada tanggal itu saya berencana menerbitkan seruan, Laudato Si' kedua. Marilah kita bergabung dengan saudara-saudari Kristini kita untuk berkomitmen merawat ciptaan sebagai anugerah suci dari Sang Pencipta. Kita perlu berpihak kepada para korban ketidakadilan lingkungan dan iklim, berjuang untuk mengakhiri perang yang tidak masuk akal terhadap rumah kita bersama, yang merupakan perang dunia yang mengerikan. Saya mendorong kamu semua untuk bekerja dan berdoa agar kembali berlimpah bersama kehidupan.

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyampaikan sambutan hangat kepada para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya para pengendara sepeda dari Inggris; saya meyakinkan mereka akan doa saya atas upaya mereka dalam memerangi kanker. Saya juga menyapa para pelayan altar dari Malta dan berbagai kelompok dari Amerika Serikat. Kepadamu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

Dengan penuh kasih sayang saya menyapa para peziarah berbahasa Italia. Khususnya, para penerima Sakramen Penguatan dari Keuskupan Chiavari – mereka sangat membuat riuh, bukan? Kaum muda yang terkasih, baru-baru ini kamu menerima pencurahan Roh Kudus. Berkomitmenlah untuk menemukan kekuatan dan keberanian dalam Allah setiap hari. Saya menyapa Paroki Santo Yohanes Rasul, Barletta, yang sedang merayakan 25 tahun pendiriannya: semoga peringatan ini memperkuat semangat iman dan persekutuan gerejawi dalam diri setiap orang. Saya juga menyapa band Castelvenere serta berterima kasih atas komitmen budaya dan sosial mereka.

 

Sekarang saya mengalihkan pikiran kepada kaum muda, para orang sakit, kaum tua, dan para pengantin baru. Hanya Kristus yang memiliki sabda kehidupan kekal: oleh karena itu, saya berharap kamu selalu mengikuti-Nya dengan hati yang terbuka dan antusias serta memberikan kesaksian tentang Dia setiap hari dalam kehidupanmu.

 

Dan mohon izinkan kami memperbaharui kedekatan kami dan doa kami untuk Ukraina yang terkasih dan tersiksa, yang sangat menderita.

 

Berkat saya untuk kamu semua.

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese lanjutan kita mengenai semangat kerasulan, kita telah merenungkan penyebaran Injil melalui kesaksian pria dan wanita di setiap waktu dan tempat. Hari ini kita membahas Santa Káteri Tekakwitha, santa asli Amerika pertama di Amerika Utara. Putri seorang kepala suku Mohawk dan ibu Algonquin, Kateri terkena penyakit cacar pada usia dini; penderitaannya menariknya pada kecintaan yang besar terhadap salib dan identifikasi yang erat dengan Kristus dalam kasih penebusan-Nya bagi umat manusia. Dianiaya karena keyakinannya, ia mencari perlindungan di misi Yesuit. Kesalehan dan doanya yang mendalam, yang ditandai dengan devosi kepada Sakramen Mahakudus, Rosario dan laku penebusan dosa, disertai dengan kepedulian amal kasih terhadap kaum lanjut usia dan para orang sakit, serta bimbingan anak-anak dalam iman. Setahun sebelum kematiannya, Kateri memetereikan dedikasi penuhnya kepada Tuhan dengan mengucapkan kaul keperawanan kekal. Teladan Santa Kateri Tekakwitha menunjukkan kepada kita kekuatan Injil untuk menghasilkan buah yang melimpah dalam kekudusan yang terungkap dalam teduhnya tindakan sehari-hari namun memiliki kekuatan untuk mengubah rupa dunia kita.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 30 Agustus 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 27 Agustus 2023 : SIAPAKAH YESUS MENURUTKU?

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini dalam Injil (bdk. Mat 16:13-20), Yesus mengajukan pertanyaan yang bagus kepada para murid-Nya : “Kata orang, siapakah Putra Manusia itu?” (ayat 13).

 

Kita juga bisa bertanya : kata orang, siapakah Yesus itu? Secara umum, hal-hal yang baik: banyak yang melihat-Nya sebagai seorang guru yang luar biasa, sebagai sosok yang istimewa: baik, benar, konsisten, berani… Tetapi apakah ini cukup untuk memahami siapa Dia, dan terutama, apakah cukup bagi Yesus? Sepertinya tidak. Jika Ia hanyalah pribadi dari masa lalu – seperti halnya tokoh-tokoh yang dikatakan orang dalam Injil yang sama, Yohanes Pembaptis, Musa, Elia dan para nabi besar – Ia hanya akan menjadi kenangan indah di masa lalu. Dan bagi Yesus, hal ini tidak akan berhasil. Oleh karena itu, segera setelah itu, Tuhan mengajukan pertanyaan yang menentukan kepada para murid-Nya : “Tetapi menurut kamu, siapakah Aku ini?" (ayat 15). Sekarang menurut kamu, siapakah Aku ini? Yesus tidak ingin menjadi tokoh kunci dari sejarah masa lalu; Ia ingin menjadi sosok penting bagimu hari ini, bagiku hari ini; bukan nabi yang jauh: Yesus ingin menjadi Allah yang dekat dengan kita!

 

Kristus, saudara-saudariku, bukanlah kenangan masa lalu, melainkan Allah masa kini. Jika Ia hanyalah seorang tokoh sejarah, maka mustahil untuk menelani-Nya pada masa sekarang: kita akan dihadapkan pada jurang waktu yang sangat luas, dan yang terpenting, dihadapkan pada keteladanan-Nya, yang bagaikan gunung yang sangat tinggi dan tidak dapat diukur; kita ingin mendakinya, tetapi tidak memiliki kemampuan dan sarana yang diperlukan. Sebaliknya, Yesus hidup : marilah kita ingat ini, Yesus hidup, Yesus hidup dalam Gereja, Ia hidup di dunia, Yesus menyertai kita, Yesus ada di pihak kita, Ia menawarkan Sabda-Nya kepada kita, Ia menawarkan rahmat-Nya kepada kita, yang mencerahkan dan menyegarkan kita dalam perjalanan: Ia, seorang pemandu yang ahli dan bijaksana, dengan senang hati menyertai kita di jalan yang paling sulit dan lereng yang paling curam.

 

Saudara-saudari terkasih, kita tidak sendirian di jalan kehidupan, karena Kristus menyertai kita, Kristus membantu kita untuk berjalan, seperti yang Ia lakukan terhadap Petrus dan murid-murid lainnya. Justru Petrus, dalam Bacaan Injil hari ini, yang memahami hal ini dan berkat rahmat mengakui di dalam diri Yesus “Engkau adalah Mesias, Putra Allah yang hidup!" (ayat 16) : “Engkau adalah Mesias, Putra Allah yang hidup!”, kata Petrus; Ia bukan tokoh dari masa lalu, melainkan Kristus, yaitu Mesias, yang dinantikan; bukan pahlawan yang telah meninggal, melainkan Putra Allah yang hidup, yang menjadi manusia dan datang untuk ambil bagian dalam sukacita dan kerja keras selama perjalanan kita. Janganlah kita berkecil hati jika kadang-kadang puncak kehidupan Kristiani terasa terlalu tinggi dan jalannya terlalu terjal. Marilah kita selalu memandang Yesus; marilah kita memandang Yesus yang berjalan di pihak kita, yang menerima kelemahan kita, ambil bagian dalam upaya kita dan meletakkan tangan-Nya yang kuat dan lembut di bahu kita yang lemah. Dengan kehadiran-Nya di dekat kita, marilah kita juga saling mengulurkan tangan dan memperbarui kepercayaan kita : bersama Yesus, apa yang tampaknya mustahil bagi kita sekarang tidak lagi terjadi, bersama Yesus kita bisa maju!

 

Hari ini ada baiknya kita mengulangi pertanyaan menentukan yang keluar dari mulut-Nya : “Siapakah Aku ini – Yesus berkata kepadamu – menurut kamu, siapakah Aku ini?”. Marilah kita mendengarkan suara Yesus, yang menanyakan hal ini kepada kita. Dengan kata lain: siapakah Yesus menurutku? Tokoh penting, titik acuan, teladan yang tidak mungkin tercapai? Ataukah Ia Allah Putra yang berjalan mendampingiku, yang dapat menuntunku menuju puncak kekudusanan yang tidak dapat kucapai sendiri? Apakah Yesus benar-benar hidup dalam kehidupanku, apakah Yesus tinggal bersamaku? Apakah Ia Tuhanku? Apakah aku mempercayakan diriku kepada-Nya pada saat-saat sulit? Apakah aku memupuk kehadiran-Nya melalui Sabda, melalui Sakramen-sakramen? Apakah aku memperkenankan diriku dibimbing oleh-Nya, bersama saudara-saudariku, di dalam komunitas?

 

Semoga Maria, Bunda sang jalan, membantu kita merasakan Sang Putra hidup dan hadir di pihak kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Pada hari Kamis, saya akan memulai perjalanan selama beberapa hari di jantung Asia, di Mongolia. Sebuah kunjungan yang sangat dinantikan, yang akan menjadi kesempatan untuk merangkul Gereja yang jumlahnya kecil, namun bersemangat dalam iman dan besar dalam kasih; dan juga bertemu secara dekat dengan umat yang mulia, bijaksana, dengan tradisi keagamaan yang kuat yang akan mendapat kehormatan untuk saya kenal, terutama dalam konteks peristiwa lintasagama. Saya tidak ingin menyapamu, saudara-saudari Mongolia, untuk memberitahumu bahwa saya senang melakukan perjalanan untuk bersamamu sebagai saudara bagi semua orang. Saya berterima kasih kepada pihak berwenang atas undangan mereka yang ramah, dan mereka yang, dengan komitmen besar, mempersiapkan kedatangan saya. Saya meminta kamu semua untuk mengiringi kunjungan ini dengan doa-doamu.

 

Saya memastikan doa saya bagi para korban kebakaran yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di Yunani timur laut, dan saya menyatakan kesetiakawanan saya kepada rakyat Yunani. Dan marilah kita tetap dekat dengan rakyat Ukraina, yang sedang menderita akibat perang, dan sedang sangat menderita: jangan melupakan Ukraina!

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari Italia dan banyak negara.

 

Secara khusus, saya menyapa kelompok paroki dari Madrid; para imam dari Keuskupan Molfetta-Ruvo-Giovanazzo-Terlizzi, bersama uskup mereka; umat San Gaetano da Thiene, Melìa; keluarga dari kawasan Pizzo Carano, San Cataldo dan para pesepeda dari Ciociaria. Saya menyapa para pelayan altar satuan pastoral Codevigo, Keuskupan Padua, dalam peziarahan ke Roma bersama pastor paroki mereka.

 

Hari ini kita memperingati Santa Monika, ibunda Santo Agustinus: dengan doa dan air matanya, ia memohon kepada Tuhan agar putranya bertobat; perempuan yang kuat, perempuan yang baik! Marilah kita mendoakan banyak ibu yang menderita ketika anak-anak mereka sedikit tersesat atau mengalami kesulitan hidup.

 

Dan kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 27 Agustus 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 23 Agustus 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 18) - PEWARTAAN [INJIL] DALAM BAHASA IBU : SANTO JUAN DIEGO, UTUSAN SANTA PERAWAN MARIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam perjalanan kita menemukan kembali semangat untuk mewartakan Injil, semangat kerasulan; melihat bagaimana hasrat untuk mewartakan Injil telah berkembang dalam sejarah Gereja, dengan jalan ini, hari ini kita memandang Amerika, di mana penginjilan memiliki sumber yang sangat penting : Guadalupe – rakyat Meksiko berbahagia. Tentu saja, Injil sudah sampai di sana sebelum penampakan-penampakan tersebut, tetapi sayangnya hal itu juga disertai dengan kepentingan-kepentingan duniawi. Ketimbang menempuh jalan inkulturasi, yang sering dilakukan adalah pendekatan tergesa-gesa berupa transplantasi dan penerapan model yang sudah ada sebelumnya – misalnya Eropa – yang tidak memberikan rasa hormat terhadap masyarakat adat.

 

Perawan dari Guadalupe, justru, tampil dengan mengenakan busana adat, ia berbicara dalam bahasa mereka, ia menyambut dan mencintai budaya setempat : Maria adalah bunda, dan di bawah jubahnya setiap anak mendapat tempat. Di dalam diri Maria, Allah menjadi manusia dan, melalui Maria, Ia terus menjelma dalam kehidupan bangsa-bangsa.


Faktanya, Bunda Maria mewartakan Allah dalam bahasa yang paling sesuai; yaitu, bahasa ibu. Dan Bunda Maria juga berbicara kepada kita dalam bahasa ibu, bahasa yang kita pahami dengan baik. Injil diteruskan melalui bahasa ibu. Dan saya ingin mengucapkan terima kasih kepada banyak ibu dan nenek yang mewariskan Injil kepada anak dan cucu mereka: iman diteruskan melalui kehidupan; inilah sebabnya ibu dan nenek adalah penginjil pertama. [Marilah kita beri] tepuk tangan untuk para ibu dan para nenek! Dan iman disampaikan, seperti ditunjukkan Maria, dalam kesederhanaan: Bunda Maria selalu memilih orang-orang yang sederhana, di bukit Tepeyac, Meksiko, seperti di Lourdes dan Fatima: ketika berbicara kepada mereka, ia berbicara kepada semua orang, dalam bahasa yang sesuai untuk semua orang, dalam bahasa yang dapat dipahami, seperti bahasa Yesus.

 

Marilah kita memikirkan kesaksian Santo Juan Diego, yang merupakan utusan; ia seorang pemuda, ia lelaki pribumi yang menerima pewahyuan Maria: utusan Bunda Maria dari Guadalupe. Ia adalah orang yang sederhana, penduduk asli : Allah, yang suka melakukan mukjizat melalui orang-orang kecil, telah mengarahkan pandangan kepadanya.

 

Juan Diego sudah dewasa dan menikah ketika ia beriman. Pada bulan Desember 1531, ia berusia sekitar 55 tahun. Sambil berjalan, ia melihat Bunda Allah di atas bukit, yang dengan lembut memanggilnya. Dan bagaimana Bunda Maria memanggilnya? “Juanito, anak kecil yang paling kucintai” (Nican Mopohua, 23), diambil dari nama Juan. Kemudian Maria mengirimnya ke Uskup untuk memintanya membangun sebuah gereja di tempat ia menampakkan diri.

 

Juan Diego, sederhana dan berkemauan keras, berangkat dengan hatinya yang sungguh tulus, tetapi harus menunggu lama. Ia akhirnya berbicara kepada Uskup, yang tidak mempercayainya. Dan sering kali, kita para uskup [bersikap seperti ini], sangat sering… Ia kembali bertemu Bunda Maria, yang menghiburnya dan memintanya untuk mencoba lagi. Orang pribumi itu kembali ke Uskup dan dengan bersusah payah bertemu dengannya, tetapi Uskup, setelah mendengarkannya, menolaknya dan mengirim orang untuk mengikutinya. Di sinilah kesulitannya, ujian pewartaan : meskipun ada semangat, hal-hal yang tidak terduga muncul, terkadang dari Gereja sendiri. Sesungguhnya, mewartakan, memberi kesaksian tentang kebaikan saja tidak memadai, yang perlu diketahui adalah bagaimana memberi kesaksian dengan kejahatan. Janganlah kita melupakan hal ini: sangatlah penting untuk mewartakan Injil, tidak hanya dengan memberikan kesaksian tentang hal-hal yang baik, tetapi juga dengan memberikan kesaksian dengan hal-hal jahat. Seorang Kristiani berbuat baik, tetapi juga menanggung kejahatan. Keduanya berjalan seiring; hidup memang seperti itu.

 

Bahkan saat ini, di banyak tempat, menginkulturasi Injil dan menginjili budaya memerlukan keteguhan dan kesabaran, tidak takut akan perselisihan, tidak putus asa. Saya sedang memikirkan sebuah negara di mana umat Kristiani dianiaya, karena mereka adalah umat Kristiani, dan mereka tidak dapat mengamalkan iman mereka dengan mudah dan damai. Juan Diego, putus asa karena uskup menyuruhnya pergi, meminta Bunda Maria untuk tidak memakainya dan menunjuk seseorang yang lebih dihormati dan lebih mampu daripada dia, namun ia diajak untuk bertahan. Selalu ada risiko semacam penyerahan diri dalam pewartaan : ada sesuatu yang tidak beres dan seseorang mundur, menjadi putus asa dan mungkin berlindung pada kepastiannya sendiri, dalam kelompok kecil, dan dalam ibadah pribadi. Sebaliknya, Bunda Maria, ketika ia menghibur kita, membuat kita maju dan dengan demikian memungkinkan kita untuk bertumbuh, seperti seorang ibu yang baik yang, seraya mengikuti jejak putranya, meluncurkannya ke dalam tantangan-tantangan dunia.

 

Juan Diego terdorong untuk kembali menemui Uskup, yang meminta tanda darinya. Bunda Maria menjanjikan Juan satu hal, dan menghiburnya dengan kata-kata ini : “Jangan biarkan apa pun membuatmu takut, jangan biarkan apa pun mengganggu hatimu: [...] Bukankah aku di sini, aku adalah bundamu?” Ini indah. Seringkali ketika kita berada dalam kesedihan, remuk redam, dalam kesulitan, Bunda Maria juga mengatakan hal ini kepada kita, di dalam hati kita: Apakah aku, bundamu, tidak ada di sini? [Ia] selalu berada di dekat kita untuk menghibur kita dan memberi kita kekuatan untuk terus maju.

 

Kemudian ia memintanya pergi ke puncak bukit yang gersang untuk memetik bunga. Saat itu musim dingin, tetapi Juan Diego menemukan beberapa bunga yang indah, menaruhnya di jubahnya dan mempersembahkannya kepada Bunda Allah, yang mengajaknya untuk membawanya kepada Uskup sebagai bukti. Ia pergi, menunggu gilirannya dengan sabar dan akhirnya, di hadapan Uskup, membuka tilmanya – yang biasa digunakan oleh masyarakat adat untuk menutupi diri — ia membuka tilmanya untuk menunjukkan bunganya — dan lihatlah! Gambar Bunda Maria muncul dari kain jubah, gambar yang luar biasa dan hidup yang kita kenal, yang di matanya para tokoh terkemuka pada masa itu masih terpatri. Inilah kejutan Allah: ketika ada kemauan dan ketaatan, Ia dapat melaksanakan sesuatu yang tidak terduga, dalam waktu dan cara yang tidak dapat kita duga sebelumnya. Maka, tempat kudus yang diminta oleh Perawan itu untuk didirikan, dan bahkan saat ini kita dapat mengunjunginya.

 

Juan Diego meninggalkan segalanya dan, atas perkenan Uskup, mengabdikan hidupnya untuk tempat kudus tersebut. Ia menyambut para peziarah dan menginjili mereka. Hal inilah yang terjadi di tempat-tempat kudus Maria, tempat-tempat ziarah, dan tempat-tempat pewartaan, di mana setiap orang merasa kerasan – karena ini adalah rumah mama mereka, rumah ibu mereka – dan bernostalgia akan rumah, yaitu kerinduan akan rumah. tempat di mana kamu menemukan Ibu, Surga. Iman disambut di tempat-tempat ini dengan cara yang sederhana, iman disambut dengan cara yang tulus, dengan cara yang populer. Dan seperti yang dikatakannya kepada Juan Diego, Bunda Maria mendengarkan tangisan kita dan menyembuhkan kesedihan kita (bdk. idem., 32). Kita harus belajar hal ini: ketika ada kesulitan dalam hidup, kita datang kepada ibu kita; dan ketika hidup bahagia, kita juga pergi ke ibu kita untuk berbagi hal-hal ini. Kita perlu pergi ke oasis penghiburan dan belas kasihan ini, di mana iman diungkapkan dalam bahasa ibu; di mana kita meletakkan jerih payah kehidupan dalam pelukan Bunda Maria dan kembali hidup dengan kedamaian di hati kita, mungkin dengan kedamaian anak-anak kecil.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyampaikan sapaan hangat kepada para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya para pelayan altar dari Malta dan paduan suara dari Uganda. Kepadamu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang semangat kerasulan, kita telah merenungkan penyebaran Injil melalui kesaksian pria dan wanita di setiap masa dan tempat. Hari ini kita merenungkan penampakan Bunda Maria dari Guadalupe kepada Beato Juan Diego, sebuah peristiwa yang berkontribusi besar terhadap penginjilan di benua Amerika. Dengan menampakkan diri kepada Juan Diego dalam busana adat dan berbicara dalam bahasanya, Santa Perawan Maria menunjukkan diri sebagai seorang Ibu, Bunda Allah, dan mengajak masyarakat adat untuk berlindung di bawah jubahnya. Mukjizat bunga mawar yang bermekaran di pertengahan musim dingin, dan munculnya gambar Bunda Maria pada kain jubah Juan Diego, berbicara dengan jelas tentang kasih Allah yang istimewa terhadap orang miskin dan kerjasama keibuan Maria dalam perluasan Kerajaan-Nya. Hal ini juga mengingatkan kita akan pentingnya peran ibu dan nenek dalam menyebarkan pesan Injil, dan, seperti dalam kasus Juan Diego, perlunya kita sebagai umat Kristiani bertekun dalam iman baptisan kita. Semoga Bunda Allah, yang hadir penuh kasih dirasakan di Guadalupe dan di tempat-tempat kudus Maria yang tak terhitung jumlahnya di seluruh dunia, terus menarik hati kepada Yesus Putranya dan kebenaran Injil yang menyelamatkan.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Agustus 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 20 Agustus 2023 : PERUBAHAN DALAM DIRI YESUS DAN IMAN PEREMPUAN KANAAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!


Bacaan Injil hari ini menceritakan perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan Kanaan di luar wilayah Israel (bdk. Mat 15:21-28). Perempuan itu memohon kepada Yesus untuk membebaskan putrinya, yang kerasukan setan. Tetapi Tuhan tidak memperhatikannya. Ia bersikeras, dan para murid menasihati Yesus untuk menanggapi perempuan itu agar ia sudi berhenti berteriak-teriak. Tetapi, Yesus menjelaskan bahwa Ia diutus kepada anak-anak Israel, dengan mempergunakan gambaran ini : "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing". Dan perempuan pemberani itu menjawab, “Benar Tuhan. Namun, anjing itu juga makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”. Kemudian, Yesus berkata kepadanya, “Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki'. Seketika itu juga anaknya sembuh (ayat 26-28). Ini adalah kisah yang indah. Dan ini terjadi pada Yesus.


Kita melihat Yesus mengubah sikap-Nya. Kekuatan iman perempuan itu membuat-Nya berubah. Jadi, marilah kita berhenti sejenak pada dua aspek ini : perubahan dalam diri Yesus dan iman perempuan itu.


Perubahan dalam diri Yesus. Ia mengarahkan pewartaan-Nya kepada bangsa terpilih. Kelak Roh Kudus akan mendorong Gereja sampai ke ujung dunia. Tetapi apa yang terjadi di sini, bisa kita katakan, adalah sebuah antisipasi universalitas karya Allah yang sudah terwujud dalam kisah perempuan Kanaan. Keterbukaan Yesus menarik. Mendengar doa perempuan itu, "Ia mengantisipasi rencana tersebut"; berhadapan dengan masalah nyata perempuan itu, Ia menjadi semakin penuh belas kasihan dan sangat iba. Seperti inilah Allah : Ia adalah Sang Kasih, dan orang yang mengasihi tidak bersikeras. Ya, ia bisa berpendirian teguh, tetapi tidak kaku, ia tidak boleh kaku pada pendiriannya, tetapi membiarkan dirinya digerakkan dan disentuh. Ia tahu bagaimana mengubah rencananya. Kasih itu kreatif. Dan kita umat Kristiani yang mau meneladani Kristus, kita diajak untuk terbuka terhadap perubahan. Alangkah baiknya hubungan kita, serta kehidupan iman kita, jika kita taat, sungguh memperhatikan, melunak atas nama belas kasihan dan kebaikan terhadap orang lain, seperti yang diperbuat Yesus terhadap perempuan Kanaan itu. Ketaatan untuk berubah. Hati taat untuk berubah.

Sekarang marilah kita melihat iman perempuan itu, yang dipuji Tuhan, dengan mengatakan “besar imanmu” (ayat 28). Menurut para murid, satu-satunya hal yang tampak “luar biasa” adalah kebersikerasannya; tetapi Yesus melihat imannya. Jika kita memikirkannya, perempuan asing itu mungkin sedikit atau tidak sadar sama sekali akan hukum dan ajaran agama Israel. Lalu berupa apakah imannya? Ia tidak kaya konsep tetapi kaya perbuatan – perempuan Kanaan tersebut mendekat, menyembah, bersikeras, ambil bagian dalam dialog yang jujur dengan Yesus, mengatasi segala rintangan hanya untuk berbicara dengan-Nya. Inilah kenyataan iman, yang bukan label agama tetapi hubungan pribadi dengan Tuhan. Berapa kali kita jatuh ke dalam pencobaan yang merancukan iman dengan label! Iman perempuan ini tidak sarat dengan kegagahan teologis, tetapi dengan kebersikerasan – ia mengetuk pintu, mengetuk, mengetuk. Imannya tidak berupa kata-kata-kata, tetapi doa. Dan Allah tidak menolak ketika orang memohon pengabulan doa. Inilah sebabnya Ia berkata, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Mat 7:7).


Saudara-saudari, mengingat semua ini, kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri kita sendiri yang dimulai dengan perubahan di dalam diri Yesus. Misalnya: Apakah aku mampu mengubah pendapat? Apakah aku tahu bagaimana memahami dan apakah aku tahu bagaimana merasa iba, atau apakah aku tetap kaku dengan pendirianku? Apakah ada kekakuan dalam hatiku? Mana yang bukan ketegasan: kekakuan itu buruk, ketegasan itu baik. Dan dimulai dengan iman perempuan itu: Seperti apakah imanku? Apakah imanku berhenti pada konsep dan kata-kata, atau apakah imanku sungguh dihayati dengan doa dan perbuatan? Apakah aku tahu bagaimana berdialog dengan Tuhan? Apakah aku tahu bagaimana bersikeras dengan-Nya? Atau apakah aku puas melafalkan rumusan yang indah? Semoga Bunda Maria membuat kita terbuka terhadap apa yang baik dan nyata dalam beriman.

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari terkasih.


Saya sedang mengikuti dengan prihatin apa yang terjadi di Niger. Saya bergabung dengan seruan para Uskup demi perdamaian di negara ini dan stabilitas di wilayah Sahel. Saya menyertai dengan doa-doa saya upaya komunitas internasional untuk menemukan solusi damai sesegera mungkin untuk keuntungan semua orang. Marilah kita mendoakan rakyat Niger yang terkasih. Dan marilah kita juga berdoa untuk perdamaian bagi semua penduduk yang terluka oleh perang dan kekerasan. Marilah kita secara khusus berdoa bagi Ukraina, yang telah lama menderita.


Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa para seminaris baru dari Kolose Amerika Utara dan saya berharap mereka mendapatkan perjalanan formatif yang baik; Saya juga menyapa komunitas “de la Borriquita” dari Cadice, Spanyol; saya menyapa orang-orang Polandia, memikirkan para perempuan dan para anak perempuan, para peziarah ke Gus Bunda Maria dari Piekary Śląskie.

Saya menyapa kaum muda dari Proyek “Tucum” yang hari ini memulai Via Lucis melalui stasiun kereta api Italia untuk bertemu dengan orang-orang yang hidup di pinggiran untuk menyampaikan harapan Injil kepada mereka.


Saya menyapa kamu semua dan kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan malammu dan sampai jumpa.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 21 Agustus 2023)