Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 November 2023 : KEKUDUSAN ADALAH PEMBERIAN DAN PERJALANAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, dan selamat hari raya!

 

Hari ini kita merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Dalam terang hari raya ini, marilah kita berhenti sejenak dan memikirkan sedikit tentang kekudusan, khususnya tentang dua ciri kekudusan sejati: kekudusan adalah pemberian – kekudusan adalah pemberian, tidak dapat dibeli – dan sekaligus perjalanan. Kekudusan adalah pemberian dan perjalanan.

 

Pertama, pemberian. Kekudusan adalah pemberian Allah yang kita terima melalui Pembaptisan: jika kita membiarkannya bertumbuh, kekudusan dapat mengubah hidup kita sepenuhnya (bdk. Seruan Apostolik Gaudate et Exsultate, 15). Para kudus bukanlah pahlawan yang tidak dapat dijangkau atau jauh, tetapi orang-orang seperti kita, para sahabat kita, yang titik awalnya adalah pemberian yang juga telah kita terima : Pembaptisan. Memang kalau dipikir-pikir, kita pasti pernah bertemu dengan beberapa di antara mereka, beberapa orang kudus sehari-hari: beberapa orang saleh, seseorang yang menjalani kehidupan kristiani dengan sungguh-sungguh, dengan kesederhanaan… mereka adalah orang-orang yang saya sebut sebagai “orang-orang kudus pintu sebelah”, yang hidup lumrah di antara kita. Kekudusan adalah karunia yang ditawarkan kepada semua orang untuk hidup bahagia. Dan terutama, ketika kita menerima pemberian, apa reaksi pertama kita? Justru kita bahagia, karena pemberian mengandung arti ada yang mengasihi kita; dan pemberian kekudusan membuat kita bahagia karena Allah mengasihi kita.

 

Tetapi setiap pemberian harus diterima, dan di dalamnya terdapat tanggung jawab sebagai sebuah tanggapan, sebagai sebuah ucapan “terima kasih”. Tetapi bagaimana kita bisa mengucapkan “terima kasih” ini? Ucapan “terima kasih” mengajak kita untuk berkomitmen agar ucapan tersebut tidak sia-sia. Semua orang yang dibaptis pun wajib mempertahankan dan mengembangkan dalam hidup mereka kekudusan yang telah mereka terima (bdk. Lumen gentium, 40). Inilah cara kita sampai pada poin kedua – kekudusan juga merupakan perjalanan, perjalanan yang harus dilakukan bersama-sama, saling membantu, dipersatukan dengan rekan-rekan yang luar biasa yaitu para kudus.

 

Mereka adalah saudara-saudari tua kita, yang selalu dapat kita andalkan: para kudus mendukung kita dan, ketika kita mengambil jalan yang keliru, dengan kehadiran mereka yang diam-diam mereka tidak pernah gagal untuk mengoreksi diri kita; mereka adalah sahabat-sahabat yang tulus, yang dapat kita percayai, karena mereka menginginkan kesejahteraan kita. Dalam kehidupan mereka kita temukan keteladanan, dalam doa mereka kita menerima pertolongan dan persahabatan, dan dengan mereka kita terikat dalam ikatan kasih persaudaraan.

 

Kekudusan adalah perjalanan, kekudusan adalah pemberian. Jadi, kita dapat bertanya pada diri kita : apakah aku ingat pernah menerima pemberian Roh Kudus, yang memanggilku menuju kekudusan dan membantuku sampai di sana? Apakah aku bersyukur kepada Roh Kudus atas hal ini, atas pemberian kekudusan? Apakah aku merasakan para kudus dekat denganku, apakah aku berbicara dengan mereka, apakah aku berpaling kepada mereka? Tahukah aku kisah beberapa di antaranya? Ada baiknya kita mengetahui kehidupan para kudus dan tergerak oleh keteladanan mereka. Dan akan sangat bermanfaat bagi kita menyapa mereka dalam doa.

 

Semoga Maria, Ratu Para Kudus, menjadikan kita merasakan sukacita menerima pemberian dan meningkatkan keinginan kita untuk mencapai tujuan akhir yang kekal.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya menyapa kamu semua dengan penuh kasih sayang, para peziarah dari berbagai negara, keluarga-keluarga, kelompok-kelompok paroki, lembaga-lembaga dan kelompok-kelompok sekolah.

 

Secara khusus, saya menyapa umat Allensbach, Jerman, umat Monterrey, Meksiko, dan para siswa Sekolah Suster Santo Yosef dari Nykøbing Falster, Denmark, serta Kelompok Relawan Roma dari Lembaga Nasional Kepolisian Negara Bagian.

 

Dengan senang hati saya menyapa para peserta Corsa dei Santik, perlombaan yang diselenggarakan oleh Yayasan “Misi Don Bosco” untuk menghayati Harti Raya Semua Orang Kudus dalam dimensi kerakyatan. Terima kasih atas prakarsa baik dan kehadiranmu!

 

Besok pagi, saya akan merayakan Misa di pemakaman para korban dari negara-negara Persemakmuran yang gugur selama Perang Dunia II.

 

Dan marilah kita terus mendoakan masyarakat yang menderita akibat perang saat ini. Janganlah melupakan Ukraina yang tersiksa, janganlah melupakan Palestina, janganlah melupakan Israel, dan janganlah melupakan banyak wilayah lain di mana perang masih berkecamuk.

 

Dan saya mengucapkan selamat hari raya kepada kamu semua dalam kebersamaan rohani para kudus. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 1 November 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 29 Oktober 2023 : MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA TIDAK DAPAT DIPISAHKAN SATU SAMA LAIN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil hari ini berbicara kepada kita tentang perintah yang terutama (bdk. Mat 22:34-40). Seorang ahli hukum mempertanyakan Yesus tentang hal ini dan Ia menjawab dengan “perintah kasih yang terutama” : “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu (…) dan (…) kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ayat 37.39). Mengasihi Allah dan sesama tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jadi, marilah kita berhenti sejenak untuk merenungkan hal ini.

 

Pertama : sesungguhnya mengutamakan mengasihi Allah mengingatkan kita bahwa Allah selalu mendahului kita, Ia menantikan kita dengan kelembutan-Nya yang tak terhingga (bdk. Yoh 4:19), dengan kedekatan-Nya, dengan belas kasihan-Nya, karena Ia selalu dekat, lembut dan penyayang. Seorang bayi belajar mengasihi di pangkuan ibu dan ayahnya, dan kita mempelajarinya dalam pelukan Allah. Mazmur berkata, “Seperti anak yang disapih dalam gendongan ibunya” (bdk. 131:2). Inilah yang seharusnya kita rasakan dalam pelukan Allah. Dan di sana, kita menyerap kasih sayang Tuhan; di sana, kita menemukan kasih yang mendorong kita untuk memberikan diri kita dengan murah hati. Santo Paulus mengingatkan hal ini ketika ia mengatakan bahwa kasih Kristus mempunyai kuasa yang mendorong ke arah kasih (bdk. 2Kor 5:14). Dan segala sesuatu berasal dari Dia. Kamu tidak dapat sungguh mengasihi sesama jika kamu tidak memiliki asal-usul ini, yaitu mengasihi Allah, mengasihi Yesus.

 

Dan sekarang aspek kedua yang muncul dari perintah kasih. Aspek ini menghubungkan mengasihi Allah dengan mengasihi sesama : artinya dengan mengasihi saudara-saudari kita, kita memantulkan kasih Bapa bagaikan cermin. Memantulkan kasih Allah, inilah intinya – mengasihi Dia yang tidak kita lihat melalui saudara/saudari yang kita lihat (bdk. 1 Yoh 4:20). Suatu hari, Santa Teresa dari Kalkuta menjawab seorang wartawan yang bertanya kepadanya apakah ia mempunyai khayalan mengenai perubahan dunia yang ia lakukan, “Aku tidak, aku tidak pernah memikirkan diriku bisa mengubah dunia! Aku hanya ingin menjadi setetes air bersih, yang melaluinya kasih Allah dapat terpancar” (Pertemuan dengan para wartawan setelah menerima Hadiah Nobel Perdamaian, Roma, 1979). Inilah bagaimana Ia, yang masih sangat kecil, mampu melakukan banyak kebaikan – dengan memantulkan kasih Allah bagaikan setetes air. Dan jika kadang-kadang, memandangnya dan para kudus lainnya, kita mungkin tergerak untuk berpikir bahwa mereka adalah pahlawan yang tidak dapat diteladani, marilah kita memikirkan kembali setetes kecil itu : kasih adalah setetes yang dapat mengubah banyak hal. Dan bagaimana hal ini dapat dilakukan? Selalu mengambil langkah pertama. Terkadang tidak mudah untuk mengambil langkah pertama, melupakan sesuatu…, mengambil langkah pertama – marilah kita lakukan. Inilah saatnya – untuk mengambil langkah pertama.

 

Jadi, saudara-saudari terkasih, memikirkan tentang kasih Allah yang selalu mendahului kita, kita dapat bertanya pada diri kita : Apakah aku bersyukur kepada Allah karena Ia terlebih dahulu mengasihiku? Apakah aku merasakan kasih Allah dan apakah aku bersyukur kepada-Nya? Dan apakah aku mencoba memantulkan kasih-Nya? Apakah aku berusaha untuk mengasihi saudara-saudariku, dan mengambil langkah kedua ini?

 

Semoga Perawan Maria membantu kita menjalankan keagungan perintah kasih dalam kehidupan kita sehari-hari: mengasihi dan memperkenankan Allah untuk mengasihi kita, dan mengasihi saudara-saudari kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya berterima kasih kepada semua pihak yang – di banyak tempat dan dalam berbagai cara – bersatu pada hari puasa, doa dan penebusan dosa yang kita jalani pada Jumat lalu, memohon perdamaian dunia. Janganlah kita berhenti. Marilah kita terus mendoakan Ukraina, juga situasi serius di Palestina dan Israel, serta wilayah lain yang sedang dilanda perang. Khususnya di Gaza, semoga ruang dibuka untuk menjamin bantuan kemanusiaan, dan semoga para sandera segera dibebaskan. Jangan ada seorangpun yang mengabaikan kemungkinan bahwa senjata akan dibungkam – biarlah ada gencatan senjata. Pastor Ibrahim Faltas, yang baru-baru ini saya dengar di acara A Sua Immagine, Pastor Ibrahim berkata: “Biarkan senjata berhenti! Biarkan senjata berhenti!” Ia adalah vikaris Tanah Suci. Bersama Pastor Ibrahim, marilah kita juga mengatakan: biarlah senjata berhenti. Berhentilah, saudara-saudari! perang selalu merupakan kekalahan — selalu!


Saya dekat dengan penduduk di daerah Acapulco, Meksiko, yang dilanda badai yang sangat dahsyat. Saya mendoakan para korban, keluarga mereka, dan orang-orang yang menderita luka serius. Semoga Perawan Guadalupe menopang anak-anaknya dalam kesulitan ini.


Saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan berbagai belahan dunia. Secara khusus, saya menyapa para orangtua “anak-anak di Surga” dari Torano Nuovo, umat beriman dari Campana, kelompok panggilan “Talità Kum” dari Paroki Santo Yohanes dari Florentines, Roma, para putra dan putri kelas krisma yang datang dari Slovenia dan Gandosso, serta peziarahan Anak-anak Santo Kamilus dan Para Pelayan Orang Sakit.


Saya harap kamu semua menikmati hari Minggumu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Oktober 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 25 Oktober 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 24) - SANTO SIRILUS DAN SANTO METODIUS, RASUL BANGSA SLAVIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!


Hari ini saya akan berbicara kepadamu tentang dua bersaudara, yang sangat terkenal di timur, sampai-sampai disebut “rasul bangsa Slavia” : Santo Sirilus dan Santo Metodius. Lahir di Yunani pada abad kesembilan dari keluarga bangsawan, mereka meninggalkan karier politik untuk mengabdikan diri pada kehidupan membiara. Tetapi impian mereka untuk hidup terpencil hanya berumur pendek. Mereka diutus sebagai misionaris ke Moravia Raya, yang pada saat itu mencakup berbagai bangsa, yang sebagian sudah diinjili, tetapi di antara mereka banyak adat istiadat dan tradisi kafir yang masih bertahan. Pangeran di sana meminta seorang guru untuk menjelaskan iman kristiani dalam bahasa mereka.

 

Oleh karena itu, tugas pertama Sirilus dan Metodius adalah mempelajari budaya bangsa tersebut secara mendalam. Kalimat yang selalu sama: iman harus diinkulturasi dan kebudayaan harus diinjili. Inkulturasi iman, penginjilan budaya, selalu. Sirilus bertanya apakah mereka punya alfabet; mereka mengatakan kepadanya bahwa mereka tidak punya. Ia menjawab: “Siapakah yang dapat menulis pidato di atas air?”. Memang benar, untuk mewartakan Injil dan berdoa, kita memerlukan alat yang tepat, cocok, dan khas. Maka, ia menciptakan alfabet Glagolitik. Ia menerjemahkan Alkitab dan teks liturgi. Bangsa tersebut merasa iman kristiani tidak ‘asing’ lagi, justru sudah menjadi iman mereka, yang diucapkan dalam bahasa ibu mereka. Bayangkan saja: dua biarawan Yunani memberikan alfabet kepada bangsa Slavia. Keterbukaan hati inilah yang mengakarkan Injil di antara mereka. Keduanya tidak takut, mereka berani.

 

Tetapi tak lama kemudian, sejumlah pertentangan muncul dari sebagian orang-orang berbahasa Latin, yang merasa kehilangan hak monopoli mereka dalam mewartakan kepada bangsa Slavia; pertarungan di dalam Gereja, selalu seperti itu. Keberatan mereka bersifat keagamaan, tetapi hanya secara lahiriah : Allah dapat dipuji, kata mereka, hanya dalam tiga bahasa yang tertulis di kayu salib : Ibrani, Yunani dan Latin. Mereka mempunyai pola pikir yang tertutup, untuk mempertahankan otonomi mereka. Tetapi Sirilus menjawab dengan tegas : Allah ingin setiap umat memuji Dia dalam bahasa mereka sendiri. Bersama Metodius, saudaranya, ia mengajukan banding kepada Paus dan Paus menyetujui teks liturgi mereka dalam bahasa Slavia. Ia menempatkannya di altar Gereja Santa Maria Maggiore, dan menyanyikan bersama mereka pujian kepada Tuhan menurut buku-buku tersebut. Sirilus meninggal beberapa hari kemudian, dan relikuinya masih dihormati di sini di Roma, di Basilika Santo Klemens. Metodius, sebaliknya, ditahbiskan menjadi uskup dan diutus kembali ke wilayah Slavia. Di sini ia akan sangat menderita: ia bahkan akan dipenjarakan, tetapi, saudara dan saudari, kita tahu Sabda Allah tidak terbelenggu dan disebarluaskan ke seluruh bangsa tersebut.

Melihat kesaksian kedua penginjil ini, yang dipilih oleh Santo Yohanes Paulus II sebagai pelindung Eropa dan diperuntukkan kepada keduanya ia menulis Ensiklik Slavorum Apostoli, marilah kita melihat tiga aspek penting.

 

Aspek pertama, persatuan. Bangsa Yunani, Paus, bangsa Slavia : pada saat itu, terdapat kekristenan yang tidak terbagi di Eropa, yang bekerja sama untuk melakukan penginjilan.

 

Aspek penting yang kedua adalah inkulturasi, yang telah saya katakan sebelumnya: penginjilan kebudayaan dan inkulturasi menunjukkan penginjilan dan kebudayaan mempunyai hubungan yang erat. Kita tidak dapat mewartakan Injil secara abstrak dan tersuling, tidak: Injil harus diinkulturasi dan juga merupakan ungkapan budaya.

 

Aspek terakhir adalah kebebasan. Mewartakan membutuhkan kebebasan, tetapi kebebasan selalu membutuhkan keberanian; seseorang itu bebas sepanjang ia berani dan tidak membiarkan dirinya terbelenggu oleh banyak hal yang merampas kebebasannya.

 

Saudara-saudari, marilah kita memohon kepada Santo Sirilus dan Metodius, rasul bangsa Slavia, agar kita dapat menjadi sarana “kebebasan dalam amal kasih” bagi sesama kita. Kreatif, terus-menerus dan rendah hati, dengan doa dan pelayanan.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Irlandia, Albania, Denmark, Norwegia, Zimbabwe, Indonesia, Filipina, Vietnam, Kanada dan Amerika Serikat, khususnya para Pembina Seni Louisiana Vatikan, lara anggota Lembaga Direktur Konferensi Katolik Negara dan sekelompok kapelan militer. Kepada kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkatimu!

 

[Imbauan]

 

Saya selalu memikirkan situasi genting di Palestina dan Israel: Saya mendorong pembebasan para sandera dan masuknya bantuan kemanusiaan di Gaza. Saya terus berdoa bagi mereka yang menderita, dan mengharapkan jalan perdamaian di Timur Tengah, di Ukraina yang terkepung, dan di wilayah lain yang terkena dampak perang. Saya ingatkan kamu semua bahwa lusa, Jumat tanggal 27 Oktober, akan menjadi hari puasa, doa dan penebusan dosa: pukul 18.00, di Lapangan Santo Petrus, kita akan berkumpul untuk memohonkan perdamaian dunia.

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari yang terkasih: Dalam katekese kita tentang semangat kerasulan, kita telah merenungkan penyebaran Injil melalui kesaksian umat Kristiani di setiap waktu dan tempat. Hari ini kita mengenang Santo Sirilus dan Santo Metodius, dua bersaudara yang dihormati sebagai “Rasul bangsa Slavia” karena karya misioner mereka yang luar biasa di antara masyarakat Moravia. Sebagai bagian dari upaya mereka untuk mewartakan dan menginkulturasi sabda Allah di antara bangsa Slavia, mereka mengembangkan alfabet Sirilik, yang memungkinkan pemberitaan sabda Allah dan merayakan Liturgi Ilahi dalam bahasa masyarakat. Menghadapi tentangan, mereka datang ke Roma, tempat mereka menerima dukungan Paus. Sirilus meninggal di Roma, sementara Metodius, yang sekarang ditahbiskan menjadi uskup, kembali untuk melanjutkan karya penginjilan di tanah Slavia, tempat ia meninggal sebagai martir. Santo Yohanes Paulus II menetapkan Sirilus dan Metodius sebagai pelindung Eropa sebagai pengakuan atas melimpahnya panen iman dan budaya kristiani yang benihnya mereka tabur. Semoga doa kedua santo besar ini mengilhami masyarakat Eropa saat ini untuk memperbarui komitmen terhadap rekonsiliasi, persatuan dan perdamaian yang merupakan karunia Roh Kudus untuk pertobatan hati serta membangun budaya keadilan dan persaudaraan sejati.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 26 Oktober 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 22 Oktober 2023 : YESUS INGIN MEMBANTU KITA MENEMPATKAN “KAISAR” DAN “ALLAH” PADA TEMPATNYA MASING-MASING

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini bercerita tentang beberapa orang Farisi yang bergabung dengan kaum Herodian untuk menjebak Yesus. Mereka selalu berusaha memasang jebakan bagi-Nya. Mereka mendatangi Dia dan bertanya, “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" (Mat 22:17). Sebuah tipu muslihat : jika Yesus mengesahkan pajak, Ia menempatkan diri-Nya di pihak kekuatan politik yang kurang mendapat dukungan dari masyarakat, sedangkan jika Ia mengatakan tidak boleh membayar pajak, Ia dapat dituduh melakukan pemberontakan melawan kekaisaran. Benar-benar sebuah jebakan. Tetapi, Ia lolos dari jerat ini. Ia meminta mereka untuk menunjukkan kepada-Nya sebuah mata uang, yang bergambar Kaisar, dan berkata kepada mereka, “Berikanlah milik kaisar kepada kaisar dan milik Allah kepada Allah" (ayat 21). Apa artinya ini?

 

Perkataan Yesus ini sudah menjadi hal yang lumrah, tetapi terkadang digunakan secara tidak tepat – atau setidaknya diperosotkan – untuk membicarakan hubungan Gereja dan negara, umat kristiani dan politik; sering kali hubungan tersebut ditafsirkan seolah-olah Yesus ingin memisahkan “Kaisar” dari “Allah”, yaitu kenyataan duniawi dan kenyataan rohani. Kadang-kadang kita juga berpikir seperti ini: iman dengan pengamalannya adalah satu hal, dan kehidupan sehari-hari adalah hal lain. Dan ini tidak akan berhasil. Ini adalah salah satu bentuk “skizofrenia”, seolah-olah iman tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata, dengan tantangan-tantangan masyarakat, dengan keadilan sosial, dengan politik dan sebagainya.

 

Pada kenyataannya, Yesus ingin membantu kita menempatkan “Kaisar” dan “Allah” pada tempatnya masing-masing. Kepedulian terhadap tatanan dunia adalah tanggung jawab Kaisar – yaitu, politik, lembaga sipil, proses sosial dan ekonomi, dan kita yang tenggelam dalam kenyataan ini harus memberikan kembali kepada masyarakat apa yang ditawarkan kepada kita, melalui kontribusi kita sebagai warga negara yang bertanggung jawab, peduli terhadap apa yang dipercayakan kepada kita, mengedepankan hukum dan keadilan di dunia kerja, membayar pajak dengan jujur, berkomitmen pada kebaikan bersama, dan sebagainya. Tetapi, pada saat yang sama, Yesus menegaskan kenyataan dasariah : manusia adalah milik Allah : seluruh manusia dan setiap umat manusia. Dan ini berarti kita tidak termasuk dalam kenyataan duniawi mana pun, dalam “Kaisar” mana pun. Kita milik Tuhan, dan kita tidak boleh menjadi budak kuasa duniawi mana pun. Kemudian, pada mata uang itu ada gambar kaisar, tetapi Yesus mengingatkan kita bahwa hidup kita tercetak dengan gambar Allah, yang tidak dapat dikaburkan oleh apa pun atau siapa pun. Segala sesuatu di dunia ini milik Kaisar, tetapi manusia dan dunia itu sendiri milik Allah: jangan lupakan ini!

 

Maka kita memahami bahwa Yesus sedang memulihkan jatidiri kita masing-masing : pada mata uang dunia ini ada gambar Kaisar, tetapi kamu – kita masing-masing – gambar manakah yang kamu bawa dalam dirimu? Marilah kita mengajukan pada diri kita pertanyaan ini: gambar apa yang kubawa dalam diriku? Kamu - gambar siapakah gambar hidupmu? Apakah kita ingat bahwa kita milik Tuhan, atau apakah kita membiarkan diri kita dibentuk oleh nalar dunia dan menjadikan pekerjaan, politik, dan uang sebagai berhala untuk disembah?

 

Semoga Santa Perawan membantu kita mengenali dan menghormati martabat kita dan martabat setiap umat manusia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Sekali lagi pikiran saya tertuju pada apa yang sedang terjadi di Israel dan Palestina. Saya sangat prihatin, sedih. Saya berdoa dan saya dekat dengan semua orang yang sedang menderita: para sandera, orang-orang yang terluka, para korban dan keluarga mereka. Saya memikirkan situasi kemanusiaan yang serius di Gaza dan saya sedih karena rumah sakit Anglikan dan paroki Ortodoks Yunani juga terkena dampaknya dalam beberapa hari terakhir. Saya kembali mengimbau agar ruang dibuka, bantuan kemanusiaan terus berdatangan, dan para sandera dibebaskan.

 

Perang, perang apa pun yang terjadi di dunia – saya juga memikirkan penderitaan Ukraina – adalah sebuah kekalahan. Perang selalu merupakan kekalahan; perang adalah kehancuran persaudaraan manusia. Saudaraku, berhentilah! Berhentilah!

 

Saya mengingatkanmu bahwa Jumat depan, tanggal 27 Oktober, saya telah mengumumkan hari puasa, doa dan penebusan dosa, dan petang itu pukul 18.00 di Lapangan Santo Petrus kita akan menghabiskan satu jam dalam doa untuk memohon perdamaian di dunia.

 

Hari ini kita merayakan Hari Minggu Misi Sedunia yang bertemakan: “Hati yang membara, kaki yang bergerak”. Dua gambar yang mengatakan segalanya! Saya mendorong semua orang, di keuskupan dan paroki, untuk ikut serta secara aktif.

 

Saya menyambut kamu semua, umat Roma dan para peziarah, khususnya para suster Siervas de los Pobres hijas del Sagrado Corazón de Jesús, dari Granada; para anggota Centro Académico Romano Fundación, Persaudaraan Señor de los Milagros Peru di Roma; dan terima kasih, terima kasih atas kesaksianmu! Teruslah berkarya, dengan kesalehan yang begitu indah.

 

Saya menyambut para anggota gerakan misioner awam “Seluruh Penjaga Kemanusiaan”; paduan suara polifonik “Sant’Antonio Abate” dari Cordenons, serta lembaga umat dari Napoli dan Casagiove.

 

Saya juga menyapa kaum muda “Casa Giardino”, “Rumah Taman” Casalmaggiore; kelompok sahabat muda Komunitas Emmanuel; para direktur dan guru Sekolah Katolik “Yohanes XXIII” di Toulon, dan para siswa Sekolah Menengah “Santo Croix” di Neuilly.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Kamu juga, kaum muda Immaculata. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_________

 

(Peter Suriadi - Bogor, 22 Oktober 2023)