Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 27 Desember 2023 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG KEBURUKAN DAN KEBAJIKAN (BAGIAN 1 : PENDAHULUAN) - MENJAGA HATI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini saya ingin memperkenalkan sebuah rangkaian katekese – sebuah rangkaian baru – dengan tema keburukan dan kebajikan. Dan kita dapat memulainya dari bagian awal Kitab Suci, di mana Kitab Kejadian, melalui kisah nenek moyang, menyajikan dinamika kejahatan dan godaan. Marilah kita memperhatikan surga di bumi. Dalam gambaran indah yang diwakili oleh Taman Eden, muncul sosok yang akan menjadi lambang pencobaan: ular, sosok yang menggoda. Ular adalah binatang yang berbahaya: ia bergerak lambat, merayap di tanah, dan terkadang kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya – ia diam – karena ia berhasil menyamarkan dirinya dengan baik dalam lingkungannya, dan terutama, hal ini berbahaya.

 

Ketika ia mulai berkomunikasi dengan Adam dan Hawa, ia menunjukkan bahwa ia juga seorang ahli dialektika yang halus. Awalnya seperti yang dilakukan seseorang dengan gosip yang jahat, dengan pertanyaan yang jahat. Ia berkata, “Tentulah Allah berfirman: Jangan kamu makan buah dari semua pohon di taman ini, bukan?” (Kej 3:1). Ungkapan tersebut keliru: pada kenyataannya, Allah menawarkan kepada laki-laki dan perempuan semua buah dari pohon-pohon di taman itu, selain buah dari pohon tertentu: pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Larangan ini bukan dimaksudkan untuk melarang manusia menggunakan akal budinya, sebagaimana sering disalahartikan, namun merupakan ukuran kebijaksanaan. Seolah-olah mau dikatakan: kenali batas kemampuanmu, jangan merasa dirimulah penguasa segalanya, karena kesombongan adalah awal dari segala kejahatan. Oleh karena itu, kisah ini menceritakan kepada kita bahwa Allah menetapkan nenek moyang kita sebagai penguasa dan penjaga ciptaan, namun ingin melindungi mereka dari anggapan kemahakuasaan, menjadikan diri mereka penguasa atas kebaikan dan kejahatan, yang merupakan sebuah godaan – sebuah godaan yang buruk, bahkan hingga saat ini. Ini adalah jebakan paling berbahaya bagi hati manusia.

 

Sebagaimana kita ketahui, Adam dan Hawa tidak mampu menahan godaan ular. Gagasan tentang sesosok Allah yang tidak begitu baik, yang ingin membuat mereka tetap menjadi bawahan, yang ingin membuat mereka tetap tunduk kepada-Nya, tertanam dalam pikiran mereka: itulah sebabnya segalanya runtuh.

 

Dengan kisah ini, Kitab Suci menjelaskan kepada kita bahwa kejahatan tidak dimulai dalam diri manusia secara riuh rendah, ketika suatu perbuatan telah terwujud, namun kejahatan dimulai jauh lebih awal, ketika kita mulai mengkhayalkannya, merawatnya dalam khayalan, pikiran, dan akhirnya terjerat oleh bujukannya. Pembunuhan Habel tidak dimulai dengan lemparan batu, tetapi dengan dendam kesumat yang disimpan Kain, mengubahnya menjadi monster di dalam dirinya. Dalam kasus ini pun, saran Allah tidak ada gunanya.

 

Saudara-saudari, janganlah kita sekali-kali berdialog dengan iblis. Jangan pernah! Kamu tidak boleh berdebat. Yesus tidak pernah berdialog dengan iblis; Ia mengusirnya. Dan ketika berada di padang gurun, [dengan] godaan, Ia tidak menanggapinya dengan dialog; Ia hanya menanggapinya dengan sabda Kitab Suci, dengan sabda Allah. Berhati-hatilah: iblis adalah penggoda. Jangan pernah berdialog dengannya, karena ia lebih cerdas dari kita semua dan ia akan membuat kita membayarnya. Ketika godaan datang, jangan pernah berdialog. Tutuplah pintu, tutuplah jendela, tutuplah hatimu. Jadi, kita membela diri terhadap bujukan ini, karena iblis cerdik dan cerdas. Ia mencoba menggoda Yesus dengan kutipan dari Kitab Suci! Di sana ia adalah seorang teolog yang hebat. Kamu jangan berdialog dengan iblis. Apakah kamu memahami hal ini? Berhati-hatilah. Kita tidak boleh berbicara dengan iblis, dan kita tidak boleh menghibur diri dengan godaan. Jangan ada dialog. Godaan datang, kita tutup pintu. Kita menjaga hati kita.

 

Dan itulah sebabnya kita tidak berkomunikasi dengan iblis. Inilah saran – jagalah hati – yang kita temukan dalam diri para bapa, para kudus: jagalah hati. Jagalah hati. Dan kita harus memohon rahmat pembelajaran menjaga hati ini. Bagaimana menjaga hati adalah salah satu bentuk kebijaksanaan. Semoga Tuhan membantu kita [dalam] pekerjaan ini. Orang yang menjaga hati justru menjaga hartanya. Saudara-saudari, marilah kita belajar menjaga hati. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hangat saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Malta, Hong Kong dan Korea. Semoga kamu masing-masing, dan keluargamu, menyimpan dalam hati sukacita Masa Natal ini, dan mendekatkan diri dalam doa kepada Sang Juruselamat yang telah datang untuk tinggal di antara kita. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Hari ini kita memulai rangkaian katekese tentang kebajikan dan keburukan yang menentangnya. Perikop-perikop awal Kitab Suci menyajikan kepada kita drama tentang kebaikan asali, godaan dan dosa. Sang Penggoda, dalam bentuk seekor ular, bersifat halus, menimbulkan keraguan terhadap kebijaksanaan dan kehendak Allah, serta mempermainkan ambisi dan kesombongan kita. Sebagaimana kasih memiliki ganjaran, demikian pula kejahatan memiliki hukuman; hanya setelah berbuat dosa barulah kita benar-benar menghargai kesalahan yang telah kita lakukan. Kitab Suci dan para guru kehidupan rohani mendesak kita untuk mengenali dan menolak kejahatan sampai ke akar-akarnya, waspada terhadap tipu muslihat iblis, dan terutama, terus menjaga hati kita, jangan sampai dorongan dosa mengancam kedekatan kita pada Tuhan dan ketaatan kita pada rencana kasih-Nya bagi kehidupan kita.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 27 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 26 Desember 2023 : MERENUNGKAN SAULUS DAN STEFANUS, ORANG YANG MENGANIAYA DAN ORANG YANG DIANIAYA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, tepat setelah Natal, kita merayakan Pesta Santo Stefanus, martir pertama. Kisah kemartirannya kita temukan dalam Kisah Para Rasul (bdk. Bab 6-7), yang menggambarkan ia sebagai orang yang memiliki reputasi yang baik, yang menyajikan makanan kepada orang miskin dan memberikan amal (bdk. 6:3). Dan justru karena keunggulannya ini, ia tidak bisa tidak memberikan kesaksian tentang apa yang paling berharga baginya: ia memberikan kesaksian tentang imannya kepada Yesus, dan ini memicu kemarahan musuh-musuhnya, yang tanpa ampun melemparinya dengan batu sampai mati. Dan ini semua terjadi di hadapan seorang muda bernama Saulus, seorang penganiaya jemaat kristiani yang bersemangat, yang bertindak sebagai “penjamin” eksekusi tersebut (bdk. 7:58).

 

Marilah kita renungkan sejenak kejadian ini: Saulus dan Stefanus, orang yang menganiaya dan orang yang dianiaya. Tampaknya ada tembok yang tidak bisa ditembus di antara mereka, sekuat fundamentalisme pemuda Farisi dan batu yang dilemparkan ke arah orang yang dijatuhi hukuman mati. Namun, di luar apa yang terlihat, ada sesuatu yang lebih kuat yang mempersatukan mereka: sesungguhnya, melalui kesaksian Stefanus, Tuhan telah mempersiapkan dalam hati Saulus, tanpa disadarinya, pertobatan yang akan menuntunnya menjadi seorang Rasul besar. Stefanus, pelayanannya, doanya, iman yang ia wartakan, keberaniannya, dan terutama pengampunannya di saat kematian, tidaklah sia-sia. Dikatakan, pada saat penganiayaan – dan saat ini juga tepat untuk mengatakannya – “darah para martir adalah benih umat Kristiani”. Tampaknya penganiayaan tidak berakhir tanpa apa-apa, justru pada kenyataannya, pengorbanannya menanam benih yang, berlawanan arah dengan batu, menanamkan dirinya secara tersembunyi di dada saingan terjahatnya.

 

Saat ini, dua ribu tahun kemudian, sayangnya kita melihat penganiayaan terus berlanjut: masih ada penganiayaan terhadap umat kristiani. Masih ada orang – dan banyak di antara mereka – yang menderita dan mati untuk memberikan kesaksian tentang Yesus, sama seperti ada orang yang dihukum di berbagai tingkatan karena bertindak sesuai dengan Injil, dan mereka yang berusaha keras untuk memberikan kesaksian tentang Yesus. setiap hari untuk setia, tanpa basa-basi, pada tugas-tugas baik mereka, sementara dunia mencemooh dan memberitakan sebaliknya. Saudara-saudari ini mungkin juga tampak gagal, namun kini kita melihat bahwa kenyataannya tidak demikian. Faktanya, sekarang dan dulu, benih pengorbanan mereka, yang tampaknya mati, bertunas dan menghasilkan buah, karena Allah, melalui mereka, terus melakukan mukjizat (bdk. Kis 18:9-10), mengubah hati dan menyelamatkan manusia.

 

Marilah kita bertanya pada diri kita: apakah aku peduli dan mendoakan mereka yang, di berbagai belahan dunia, masih menderita dan mati demi iman saat ini? Begitu banyak orang yang dibunuh karena iman mereka. Dan sebaliknya, apakah aku mencoba memberikan kesaksian tentang Injil secara berkesinambungan, dengan lemah lembut dan percaya diri? Apakah aku percaya benih kebaikan akan berbuah meski aku tidak langsung melihat hasilnya?

 

Semoga Maria, Ratu Para Martir, membantu kita memberikan kesaksian tentang Yesus.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya memperbarui kepada kamu segenap harapan akan perdamaian dan kebaikan yang mengalir dari kelahiran Tuhan. Dan saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada kamu semua yang telah mengirimi saya ucapan selamat dari Roma dan pelbagai belahan dunia. Terima kasih, terutama atas doamu! Dan teruslah mendoakan Paus! Dibutuhkan.

 

Dalam semangat kesaksian Santo Stefanus, saya dekat dengan umat kristiani yang mengalami diskriminasi, dan saya mendorong mereka untuk terus melakukan amal kasih kepada semua orang, berjuang secara damai demi keadilan dan kebebasan beragama.

 

Saya juga mempercayakan doa perdamaian bagi masyarakat yang dilanda perang kepada perantaraan Martir pertama. Media menunjukkan kepada kita apa yang dihasilkan oleh perang: kita telah melihat Suriah, kita melihat Gaza. Bayangkan Ukraina yang tersiksa. Gurun kematian. Apakah ini yang kita inginkan? Masyarakat menginginkan perdamaian. Mari kita berdoa untuk perdamaian. Mari kita berjuang untuk perdamaian.

 

Saya juga mempercayakan doa perdamaian bagi bangsa-bangsa yang dilanda perang kepada perantaraan sang martir pertama. Media menunjukkan kepada kita apa yang dihasilkan oleh perang: kita telah melihat Suriah, kita melihat Gaza. Bayangkanlah Ukraina yang tersiksa. Sebuah gurun kematian. Apakah ini yang kita inginkan? Bangsa-bangsa menginginkan perdamaian. Marilah kita berdoa untuk perdamaian. Marilah kita berjuang untuk perdamaian.

 

Saya menyapamu, umat Roma dan para peziarah, keluarga, kelompok paroki, komunitas dan lembaga keagamaan. Saya mengajakmu untuk berhenti sejenak di depan kandang Natal besar di Lapangan Santo Petrus, yang terinspirasi oleh kandang Natal yang dibuat Santo Fransiskus di Greccio delapan ratus tahun yang lalu. Saat kamu mengamati patung-patung dalam kandang Natal tersebut, kamu akan melihat ciri umum pada wajah dan sikap badan mereka: ketakjuban. Kamu akan melihat keajaiban yang menjadi kekaguman. Semoga kita membiarkan diri kita dilanda kekaguman berhadapan dengan kelahiran Tuhan. Saya harap kamu menyimpan hal ini dalam dirimu: keajaiban yang menjadi penyembahan.

 

Dan terima kasih kepada kamu semua, kepada kaum muda Immakulata, dan banyak orang yang ada di sini di hadapan saya!

 

Saya mengucapkan selamat berpesta kepada kamu semua! Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 26 Desember 2023)

PESAN "URBI ET ORBI" PAUS FRANSISKUS UNTUK NATAL 25 Desember 2023

Saudara-saudari terkasih, selamat Natal!

 

Mata dan hati umat kristiani di seluruh dunia tertuju ke Betlehem; pada hari-hari ini, tempat ini adalah tempat duka dan keheningan, tetapi di sanalah pesan yang telah lama ditunggu-tunggu pertama kali dikumandangkan: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Mesias, Tuhan, di kota Daud” (Luk. 2:11). Kata-kata yang diucapkan oleh malaikat di surga kepada Betlehem juga diucapkan kepada kita. Kita penuh harapan dan kepercayaan saat kita menyadari Tuhan telah dilahirkan untuk kita; Sabda kekal Bapa, Allah yang tak terbatas, telah tinggal di antara kita. Ia menjadi manusia; Ia datang “untuk tinggal di antara kita” (Yoh 1:14). Inilah kabar baik yang mengubah jalannya sejarah!

 

Pesan Betlehem sungguh merupakan “kabar baik sukacita besar” (Luk 2:10). Sukacita macam apa? Bukan sukacita dunia ini yang berlalu-lalang, bukan pula kemeriahan hiburan, melainkan sukacita yang “besar” karena menjadikan kita besar. Untuk saat ini, kita semua, dengan segala kekurangan kita, menerima janji pasti akan sebuah karunia yang belum pernah terjadi sebelumnya: harapan dilahirkan untuk surga. Ya, Yesus, saudara kita, telah datang untuk menjadikan Bapa-Nya sebagai Bapa kita; seorang anak kecil, Ia mengungkapkan kepada kita kasih Allah yang lembut, dan banyak lagi. Ia, Putra Tunggal Bapa, memberi kita “hak supaya menjadi anak-anak Allah” (Yoh. 1:12). Inilah sukacita yang menghibur hati, memperbaharui harapan dan menganugerahkan damai. Sukacita yang berasal dari Roh Kudus: sukacita yang lahir berkat menjadi putra dan putri yang dikasihi Allah.

 

Saudara-saudari, hari ini di Betlehem, di tengah bayang-bayang gelap yang menutupi daratan, nyala api yang tak pernah padam telah menyala. Saat ini kegelapan dunia telah diatasi oleh terang Allah, yang “menerangi setiap orang” (Yoh. 1:9). Saudara-saudari, marilah kita bersorak-sorai atas karunia anugerah ini! Bergembiralah, hai kamu yang telah kehilangan keyakinan akan kepastianmu, karena kamu tidak sendirian: Kristus telah lahir untukmu! Bergembiralah, hai kamu yang telah meninggalkan segala harapan, karena Allah mengulurkan tangan-Nya kepadamu; Ia tidak menudingmu, tetapi mengulurkan tangan bayi-Nya yang mungil kepadamu, untuk membebaskanmu dari ketakutan, meringankan bebanmu dan menunjukkan kepadamu bahwa, di mata-Nya, kamu lebih berharga dari apa pun juga. Bergembiralah, hai kamu yang tidak menemukan kedamaian hati, karena nubuat Yesaya dahulu kala telah tergenapi demi kamu : “seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita, dan namanya disebut orang … Raja Damai” (9:5). Kitab Suci menyatakan bahwa damai sejahtera-Nya, kerajaan-Nya, “tidak akan berkesudahan” (9:6).

 

Dalam Kitab Suci, Raja Damai ditentang oleh “penguasa dunia ini” (Yoh 12:31), yang, dengan menabur benih kematian, bersekongkol melawan Tuhan, “pencinta kehidupan” (bdk. Keb 11:26). Kita melihat hal ini terjadi di Betlehem, di mana kelahiran Sang Juruselamat diikuti dengan pembantaian orang-orang tak berdosa. Berapa banyak orang tak berdosa yang dibantai di dunia kita! Dalam rahim ibu mereka, dalam pengembaraan yang dilakukan dalam keputusasaan dan pencarian harapan, dalam kehidupan semua anak kecil yang masa kecilnya dihancurkan oleh perang. Mereka adalah Yesus-Yesus kecil masa kini, anak-anak kecil yang masa kecilnya telah dihancurkan oleh perang.

 

Maka, mengatakan “ya” kepada Sang Raja Damai berarti mengatakan “tidak” pada perang, pada setiap perang, dan melakukannya dengan keberanian, pada pola pikir perang, sebuah perjalanan tanpa tujuan, sebuah kekalahan tanpa pemenang, sebuah kebodohan yang tidak dapat dibenarkan. Inilah arti perang: sebuah perjalanan tanpa tujuan, sebuah kekalahan tanpa pemenang, sebuah kebodohan yang tidak dapat dibenarkan. Mengatakan “tidak” pada perang berarti mengatakan “tidak” pada persenjataan. Hati manusia lemah dan berkeinginan mendadak; jika kita menemukan sarana kematian di tangan kita, cepat atau lambat kita akan menggunakannya. Dan bagaimana kita bisa berbicara tentang perdamaian, ketika produksi, penjualan dan perdagangan senjata sedang meningkat? Saat ini, seperti pada zaman Herodes, kejahatan yang menentang terang Allah merencanakan persekongkolannya dalam bayang-bayang kemunafikan dan perahasiaan. Berapa banyak kekerasan dan pembunuhan yang terjadi di tengah keheningan yang memekakkan telinga, tanpa sepengetahuan banyak orang! Orang-orang, yang tidak menginginkan senjata melainkan roti, yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan hanya menginginkan perdamaian, tidak tahu berapa banyak dana publik yang dibelanjakan untuk senjata. Tetapi itulah sesuatu yang harus mereka ketahui! Sesuatu yang seharusnya dibicarakan dan ditulis, sehingga dapat mengungkap kepentingan dan keuntungan yang menggerakkan boneka-boneka perang.

 

Yesaya, yang menubuatkan Sang Raja Damai, menantikan suatu hari ketika “bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang melawan bangsa lain”, suatu hari ketika manusia “tidak akan lagi belajar perang”, tetapi malah “menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas” (2:4). Dengan pertolongan Allah, marilah kita berupaya semaksimal mungkin untuk bekerja demi datangnya hari itu!

 

Semoga hal ini terjadi di Israel dan Palestina, di mana perang menghancurkan kehidupan orang-orang. Saya merangkul mereka semua, terutama komunitas kristiani di Gaza, paroki di Gaza, dan seluruh Tanah Suci. Hati saya berduka atas para korban serangan keji tanggal 7 Oktober lalu, dan saya mengulangi seruan mendesak saya demi pembebasan orang-orang yang masih disandera. Saya memohon diakhirinya operasi militer yang mengakibatkan korban sipil yang tidak bersalah, dan menyerukan solusi terhadap situasi kemanusiaan yang menyedihkan dengan membuka penyediaan bantuan kemanusiaan. Semoga kekerasan dan kebencian yang terus meningkat dapat diakhiri. Dan semoga permasalahan Palestina dapat diselesaikan melalui dialog yang tulus dan berkesinambungan antara semua pihak, yang ditopang oleh kemauan politik yang kuat dan dukungan dari masyarakat internasional. Saudara-saudari, marilah kita mendoakan perdamaian di Palestina dan Israel.

 

Pikiran saya juga tertuju pada rakyat Suriah yang dilanda perang, dan kepada rakyat Yaman yang telah lama menderita. Saya juga memikirkan rakyat Lebanon tercinta, dan saya berdoa agar stabilitas politik dan sosial segera tercapai.

 

Merenungkan Bayi Yesus, saya memohonkan perdamaian untuk Ukraina. Marilah kita memperbaharui kedekatan rohani dan kemanusiaan kita dengan orang-orang yang memperjuangkannya, sehingga melalui dukungan kita masing-masing, mereka dapat merasakan kenyataan kasih Allah terwujud.


Semoga kepastian hari perdamaian antara Armenia dan Azerbaijan semakin dekat. Semoga prakarsa-prakarsa kemanusiaan dapat dikedepankan, dengan memulangkan para pengungsi ke rumah mereka secara legal dan aman, dan dengan saling menghormati tradisi keagamaan dan tempat ibadah masing-masing komunitas.


Janganlah kita melupakan ketegangan dan pertikaian yang meresahkan kawasan Sahel, Tanduk Afrika dan Sudan, serta Kamerun, Republik Demokratik Kongo, dan Sudan Selatan.

 

Semoga harinya semakin dekat ketika ikatan persaudaraan dapat dipererat di Semenanjung Korea dengan melakukan proses dialog dan rekonsiliasi yang mampu menciptakan kondisi perdamaian abadi.

 

Semoga Putra Allah, yang menjadi Anak yang rendah hati, mengilhami otoritas politik dan semua orang yang berkehendak baik di Amerika untuk memikirkan cara-cara yang tepat untuk menyelesaikan pertikaian sosial dan politik, memerangi bentuk-bentuk kemiskinan yang menghina martabat manusia, mengurangi kesenjangan. dan mengatasi fenomena pergerakan migrasi yang meresahkan.

 

Dari palungan, Kanak Yesus meminta kita menjadi suara bagi orang-orang yang tidak mempunyai suara. Suara anak-anak tak berdosa yang meninggal karena kekurangan roti dan air; suara mereka yang tidak dapat memperoleh pekerjaan atau kehilangan pekerjaan; suara mereka yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka demi mencari masa depan yang lebih baik, mempertaruhkan hidup mereka dalam perjalanan yang melelahkan dan menjadi mangsa para penyelundup manusia yang tidak bermoral.

 

Saudara-saudari, kita sedang mendekati masa rahmat dan harapan, yaitu tahun Yubileum, yang akan dimulai satu tahun dari sekarang. Semoga masa persiapan Tahun Suci ini menjadi kesempatan untuk pertobatan hati, penolakan perang dan penerimaan perdamaian, dan dengan penuh sukacita menanggapi panggilan Tuhan, sesuai dengan nubuat Nabi Yesaya, “untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, merawat orang-orang yang remuk hati, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kelepasan dari penjara kepada orang-orang yang terkurung” (61:1).

 

Kata-kata itu digenapi dalam diri Yesus (bdk. Luk 4:18), yang hari ini lahir di Betlehem. Marilah kita menyambut-Nya! Marilah kita membuka hati kita kepada-Nya, yang adalah Sang Juruselamat, Sang Raja Damai!
______

(Peter Suriadi - Bogor, 25 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 24 Desember 2023 : NAUNGAN

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari ini, pada Hari Minggu Adven IV, Bacaan Injil menyajikan peristiwa Kabar Sukacita (bdk. Luk 1:26-39). Ketika menjelaskan kepada Maria bagaimana ia akan mengandung Yesus, malaikat berkata kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasu dan kuasa Allah Yang Maha Tinggi akan menaungi engkau” (ayat 35). Marilah kita berhenti sejenak pada gambaran ini, naungan.

 

Di wilayah yang selalu cerah seperti wilayah Maria, awan yang melintas, pohon yang tahan terhadap kekeringan dan memberikan perlindungan, atau tenda yang nyaman dapat memberikan pertolongan dan perlindungan. Naungan adalah anugerah yang menyegarkan, dan malaikat menggambarkan bagaimana Roh Kudus turun atas Maria, dan inilah cara Allah bertindak: Allah selalu bertindak sebagai cinta lembut yang merangkul, yang menyuburkan, yang melindungi, tanpa melakukan kekerasan, tanpa melanggar kebebasan. Inilah cara Allah bertindak.

 

Gagasan tentang naungan pelindung adalah gambaran yang sering muncul dalam Kitab Suci. Kita memikirkan naungan yang menyertai umat Allah di padang gurun (bdk. Kel 13:21-22). Singkatnya, “naungan” menggambarkan kebaikan Allah. Seolah-olah Ia berkata, kepada Maria tetapi juga kepada kita semua saat ini, “Aku di sini untukmu dan Aku menawarkan diriku sebagai tempat kamu berlindung dan bernaung: datanglah di bawah naungan-Ku, tinggallah bersama-Ku”. Saudara-saudari, beginilah cara kerja kasih Allah yang melimpah. Dan juga sesuatu yang, dengan cara tertentu, dapat kita alami di antara kita; misalnya ketika di antara teman, pasangan, suami-istri, pasangan, orang tua, dan anak-anak, kita bersikap lemah lembut, kita penuh hormat, kita peduli terhadap orang lain dengan baik. Marilah kita renungkan kebaikan Allah.

 

Beginilah cara Allah mengasihi, dan Ia memanggil kita untuk melakukan hal yang sama: menyambut, melindungi, dan menghormati orang lain. Pikirkanlah semua orang, pikirkanlah mereka yang terpinggirkan, mereka yang jauh dari kegembiraan Natal saat ini. Marilah kita memikirkan semua orang dengan kebaikan Allah. Ingatlah kata ini: kebaikan Allah.

 

Maka, pada Malam Natal, marilah kita bertanya pada diri kita: “Apakah aku ingin membiarkan diriku diselimuti oleh naungan Roh Kudus, oleh kelemahlembutan Allah, oleh kebaikan Allah, memberikan ruang bagi-Nya di dalam hatiku, mendekati pengampunan-Nya, mendekati Ekaristi?” Dan kemudian: “Untuk orang-orang yang kesepian dan membutuhkan, bisakah aku menjadi naungan yang menyegarkan, persahabatan yang menghibur?”

 

Semoga Maria membantu kita untuk terbuka dan menyambut kehadiran Allah, yang dengan lemah lembut datang menyelamatkan kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan berbagai belahan dunia. Secara khusus, saya menyapa delegasi warga negara Italia yang tinggal di wilayah yang secara resmi diakui sebagai wilayah yang sangat tercemar dan telah lama menunggu pembersihannya. Saya menyatakan kesetiakawanan terhadap kelompok ini dan berharap suara mereka didengar.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu dan Malam Natal kepada kamu semua dalam doa, dalam kehangatan kasih sayang, dan dalam ketenangan. Perkenankan saya memberikan satu anjuran: jangan merancukan perayaan dengan konsumerisme! Kita bisa – dan sebagai umat Kristiani kita harus – merayakannya dengan sederhana, tanpa menyia-nyiakan, dan dengan berbagi dengan mereka yang yang berkekurangan atau tidak memiliki teman. Kita dekat dengan saudara-saudari kita yang menderita akibat perang. Kita memikirkan Palestina, Israel, Ukraina. Kita juga memikirkan mereka yang menderita karena kesengsaraan, kelaparan, dan perbudakan. Semoga Allah yang mengambil hati manusia untuk diri-Nya menanamkan kemanusiaan ke dalam hati manusia!

 

Dan jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu! Dan Selamat Natal untuk kamu semua! Sampai jumpa!

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 24 Desember 2023)