Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 10 Januari 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG KEBURUKAN DAN KEBAJIKAN (BAGIAN 3 : PERJUANGAN ROHANI) : KESERAKAHAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam perjalanan katekese kita, dalam jalan katekese yang kita lakukan, tentang keburukan dan kebajikan, hari ini kita akan melihat keburukan keserakahan. Keserakahan.

 

Apa yang dikatakan Injil kepada kita tentang hal ini? Marilah kita memandang Yesus. Mukjizat-Nya yang pertama, pada pesta perkawinan di Kana, mengungkapkan simpati-Nya terhadap kegembiraan manusia: Ia berkepentingan agar pesta itu berakhir dengan baik dan memberikan kepada kedua mempelai anggur yang sangat baik dalam jumlah besar. Dalam seluruh pelayanan-Nya, Yesus tampil sebagai seorang nabi yang sangat berbeda dengan Yohanes Pembaptis: meskipun Yohanes dikenang karena asketismenya – ia memakan apa yang ia temukan di padang gurun – Yesus justru adalah Mesias yang sering kita lihat di meja makan. Perilaku-Nya menyebabkan skandal di beberapa kalangan, karena Ia tidak hanya berbelas kasihan terhadap orang-orang berdosa, tetapi Ia bahkan makan bersama mereka; dan sikap ini menunjukkan kesiapan-Nya untuk bersekutu dan dekat dengan semua orang.

 

Tetapi masih ada yang lain. Meskipun sikap Yesus terhadap ajaran-ajaran Yahudi menunjukkan Ia taat sepenuhnya terhadap Hukum Taurat, namun Ia menunjukkan diri-Nya bersimpati terhadap murid-murid-Nya: ketika mereka didapati berkekurangan, karena mereka memetik bulir gandum akibat kelaparan, Ia membenarkan mereka, mengingatkan bahwa bahkan Raja Daud dan rekan-rekannya mengambil roti suci (bdk. Mrk 2:23-26). Dan Yesus menegaskan prinsip baru: tamu perkawinan tidak boleh berpuasa saat mempelai bersama mereka. Yesus ingin kita bersukacita bersama-Nya – Ia bagaikan mempelai Gereja; namun Ia juga ingin kita ikut serta dalam penderitaan-Nya, yang juga merupakan penderitaan orang-orang kecil dan miskin. Yesus menjagat.

 

Aspek penting lainnya. Yesus meniadakan perbedaan antara makanan yang najis dan tidak najis, yang merupakan pembedaan yang dibuat oleh hukum Yahudi. Inilah sebabnya mengapa agama Kristen tidak mengenal makanan najis. Dan mengenai hal ini, Yesus mengatakan dengan jelas bahwa apa yang membuat sesuatu menjadi baik atau buruk, katakanlah demikian, buruknya makanan, bukanlah makanan itu sendiri, melainkan hubungan kita dengan makanan itu. Dan kita melihat hal ini, ketika seseorang mempunyai hubungan yang tidak teratur dengan makanan; kita lihat cara mereka makan, mereka makan dengan tergesa-gesa, seolah-olah ingin kenyang tetapi tidak pernah merasa kenyang. Mereka tidak memiliki hubungan yang baik dengan makanan, mereka menjadi hamba makanan. Dan Yesus menghargai makanan dan makan, juga dalam masyarakat, di mana banyak ketidakseimbangan dan banyak patologi muncul dengan sendirinya. Orang makan terlalu banyak, atau terlalu sedikit. Seringkali orang makan dalam kesendirian. Gangguan makan – anoreksia, bulimia, obesitas – sedang menyebar. Dan kedokteran serta psikologi mencoba mengatasi hubungan buruk kita dengan makanan. Hubungan yang buruk dengan makanan menyebabkan semua penyakit ini.

 

Penyakit, yang seringkali sangat membuat menderita, sebagian besar terkait dengan penderitaan jiwa dan raga. Ada hubungan antara ketidakseimbangan psikologis dan cara makan. Cara kita makan adalah perwujudan dari sesuatu yang ada di dalam diri kita: kecenderungan terhadap keseimbangan atau ketidaksopanan; kemampuan untuk bersyukur atau anggapan arogan terhadap kecukupan diri; empati dari mereka yang berbagi makanan dengan yang membutuhkan, atau keegoisan dari mereka yang menimbun segalanya untuk dirinya sendiri. Pertanyaan ini sangat penting. Katakan padaku bagaimana kamu makan, dan aku akan memberitahumu jiwa seperti apa yang kamu miliki. Melalui cara kita makan, kita memperlihatkan jati diri kita, kebiasaan kita, sikap psikologis kita.

 

Para Bapa zaman dahulu memberi nama “gastrimargia” pada sifat buruk keserakahan – gastrimargi, sebuah istilah yang dapat diterjemahkan sebagai “kebodohan perut”. Kerakusan adalah “kebodohan perut”. Ada juga pepatah yang mengatakan bahwa kita harus makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan – “kebodohan perut”. Sifat buruk yang melekat pada salah satu kebutuhan vital kita, seperti makan. Marilah kita mewaspadai hal ini.

Jika kita menafsirkannya dari sudut pandang sosial, keserahan mungkin merupakan sifat buruk paling berbahaya yang membunuh planet ini. Karena dosa orang-orang yang menyerah di hadapan sepotong kue, jika dipertimbangkan, tidak menyebabkan kerusakan besar, namun keserakahan kita dalam menjarah harta benda planet ini selama beberapa abad kini membahayakan masa depan semua orang. Kita telah merampas segala sesuatunya, untuk menjadi tuan atas segala sesuatu, padahal segala sesuatu telah diserahkan kepada kita, bukan untuk kita eksploitasi. Maka di sinilah dosa besarnya, kemarahan perut adalah dosa besar: kita telah mengabaikan nama manusia, dengan menganggap orang lain “konsumen”. Hari ini kita berbicara seperti ini dalam kehidupan sosial, para konsumen. Kita bahkan tidak menyadari kapan seseorang mulai memberi kita nama ini. Kita diciptakan untuk menjadi manusia “Ekaristi”, mampu mengucap syukur, bijaksana dalam memanfaatkan tanah, dan malah bahayanya kita menjadi pemangsa; dan sekarang kita menyadari bentuk “keserakahan” ini telah menimbulkan banyak kerugian bagi dunia. Marilah kita memohon kepada Allah untuk membantu kita dalam perjalanan menuju ketenangan hati, sehingga berbagai bentuk keserakahan tidak mengambil alih hidup kita. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya mereka yang datang dari Korea dan Amerika Serikat. Saya juga menyapa para imam Institut Pendidikan Teologi Berkelanjutan Kolose Kepausan Amerika Utara. Atas kamu semua, dan atas keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: dalam katekese lanjutan kita mengenai keburukan dan kebajikan, kita sekarang membahas dosa keserakahan. Sebagai tamu pada pesta perkawinan di Kana, Yesus mengajarkan kebaikan makanan dan minuman, serta nikmatnya kebersamaan di meja makan. Menolak pembedaan ritual antara makanan tidak najis dan najis, Tuhan mengalihkan perhatian kita pada hubungan pribadi kita dengan konsumsi makanan. Dalam masyarakat yang mengalami gangguan pola makan dan sering kali membuang-buang makanan dalam jumlah besar meskipun banyak orang di dunia ini mengalami kelaparan, kebiasaan makan kita harus moderat dan bertanggung jawab secara sosial. Semoga doa-doa yang kita panjatkan sebagai rasa syukur atas karunia Allah berupa makanan sehari-hari, mengilhami kita untuk sadar akan tanggung jawab kita terhadap orang lain dan berbudi luhur dalam menikmati hal-hal baik di bumi ini.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Januari 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 7 Januari 2024 : PEMBAPTISAN MENJADIKAN KITA ANAK-ANAK ALLAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita merayakan Pembaptisan Tuhan (bdk. Mrk 1:7-11). Pembaptisan tersebut terjadi di sungai Yordan, di mana Yohanes – karena alasan ini dikenal sebagai “Pembaptis” – melakukan upacara penyucian, yang menyatakan komitmen untuk meninggalkan dosa dan bertobat. Orang-orang pergi untuk dibaptis dengan rendah hati, tulus, dan sebagaimana dikatakan dalam Liturgi, “tanpa alas kaki dan tanpa jiwa”, dan Yesus pergi ke sana juga, meresmikan pelayanan-Nya: dengan demikian Ia menunjukkan bahwa Ia ingin dekat dengan orang-orang berdosa, datang demi mereka, demi kita, demi semua orang berdosa!

 

Dan beberapa hal luar biasa terjadi pada hari itu juga. Yohanes Pembaptis mengatakan sesuatu yang tidak lazim, yaitu mengakui Yesus di muka umum, yang tampaknya setara dengan semua orang, sebagai Pribadi yang “lebih berkuasa” (ayat.7) daripada dirinya, yang “akan membaptis kamu dengan Roh Kudus” (ayat 8). Kemudian langit terkoyak, Roh Kudus turun ke atas Yesus seperti burung merpati (ayat 10) dan suara Bapa menyatakan dari surga, “Engkaulah Putraku yang terkasih; kepada-Mulah Aku berkenan” (ayat 11).

 

Semua ini, meskipun di satu sisi menyatakan kepada kita bahwa Yesus adalah Putra Allah, di sisi lain berbicara kepada kita tentang Pembaptisan kita, yang kemudian menjadikan kita anak-anak Allah, karena Pembaptisan menjadikan kita anak-anak Allah.

 

Pembaptisan: Allah datang ke dalam diri kita, menyucikan, menyembuhkan hati kita, menjadikan kita selamanya anak-anak-Nya, umat-Nya, keluarga-Nya, pewaris surga (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1279). Dan Allah menjadi akrab dengan kita dan Ia kembali tidak meninggalkan kita. Inilah sebabnya mengapa penting untuk mengingat hari Pembaptisan kita, dan juga mengetahui tanggalnya. Saya bertanya kepada kamu semua: kamu masing-masing, berpikir: “Apakah aku ingat tanggal Pembaptisanku?”. Kalau tidak ingat, pulanglah ke rumah tanyakanlah, agar tidak terlupakan lagi, karena pembaptisan adalah ulang tahun baru, karena dengan Pembaptisan kamu dilahirkan ke dalam kehidupan rahmat. Mari kita bersyukur kepada Tuhan atas Pembaptisan tersebut. Marilah kita juga bersyukur kepada-Nya atas kedua orang tua yang membawa kita ke tempat pembaptisan, atas para pelayan Sakramen, atas bapa baptis, atas ibu baptis, atas komunitas di mana kita menerima Dia. Rayakanlah Pembaptisanmu. Pembaptisan adalah ulang tahun baru.

 

Dan kita dapat bertanya pada diri kita: sadarkah aku akan karunia luar biasa yang kubawa dalam diriku melalui Pembaptisan? Apakah aku mengakui, dalam hidupku, cahaya kehadiran Allah, yang melihat diriku sebagai putra-Nya yang terkasih, putri-Nya yang terkasih? Dan sekarang, untuk mengenang Pembaptisan kita, marilah kita menyambut kehadiran Allah di dalam diri kita. Kita dapat melakukannya dengan tanda salib, yang menelusuri dalam diri kita kenangan akan rahmat Allah, yang mengasihi kita dan ingin tinggal bersama kita. Tanda salib itu mengingatkan kita akan hal ini. Marilah kita melakukannya bersama-sama: Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.

 

Dan jangan melupakan tanggal Pembaptisanmu, yaitu ulang tahun.

 

Semoga Maria, bait Roh Kudus, membantu kita merayakan dan menyambut keajaiban yang diperbuat Tuhan di dalam diri kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Pada Pesta Pembaptisan Tuhan hari ini, saya membaptis beberapa bayi yang baru lahir. Marilah kita mendoakan mereka dan keluarga mereka, serta memanjatkan doa ini kepada semua anak yang akan menerima pembaptisan suci pada hari-hari ini.

 

Saat ini komunitas gerejawi di Timur yang mengikuti kalender Yulian sedang merayakan Kelahiran Kudus. Dalam semangat persaudaraan yang penuh sukacita, saya berharap kelahiran Tuhan Yesus memenuhi diri mereka dengan terang, amal kasih dan kedamaian.

 

Saya mengundangmu untuk ikut mendoakan pembebasan tanpa syarat bagi semua orang yang saat ini diculik di Kolombia. Tindakan ini, yang merupakan kewajiban di hadapan Allah, juga akan mendorong iklim rekonsiliasi dan perdamaian di negara tersebut.

 

Saya sangat dekat dengan masyarakat Republik Demokratik Kongo, yang dilanda banjir dalam beberapa hari terakhir. Dan mohon, marilah kita terus mendoakan perdamaian : perdamaian di Ukraina, Palestina, Israel dan seluruh dunia.

 

Dan saya menyapa kamu semua, para peziarah dari Italia dan berbagai belahan dunia, khususnya kaum muda Paroki Santissimo Crocifisso, Roma – kaum kuning ada di sana! – kelompok Pramuka Milano 35 dan lembaga “Totus tuus” dari Potenza.

 

Saya mengucapkan selamat berpesta kepada kamu semua. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Januari 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 Januari 2024 : PARA MAJUS MENGAJARKAN KITA UNTUK HERAN AKAN KANAK YESUS YANG SEDERHANA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat hari raya!

 

Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan, yaitu perwujudan diri-Nya kepada semua orang dalam diri para Majus (bdk. Mat 2:1-12). Mereka adalah para pencari yang bijaksana, yang setelah bertanya-tanya tentang penampakan bintang, memulai perjalanan dan tiba di Betlehem. Dan di sana, mereka menemukan Yesus, “bersama Maria ibu-Nya”, mereka sujud dan mempersembahkan “emas, dupa dan mur” (bdk. ayat 11).

 

Orang-orang bijaksana yang mengenali kehadiran Allah dalam diri seorang Anak yang sederhana: bukan pada diri seorang pangeran atau bangsawan, melainkan dalam diri anak orang miskin, dan mereka bersujud di hadapan-Nya seraya menyembah-Nya. Bintang menuntun mereka ke sana, di hadapan seorang Anak; dan mereka, dalam mata mungil-Nya yang polos, melihat cahaya Sang Pencipta alam semesta, yang kepada-Nya mereka mengabdikan keberadaan mereka.

 

Semua ini adalah pengalaman yang menentukan bagi mereka, dan juga penting bagi kita: sesungguhnya, dalam diri Kanak Yesus, kita melihat Allah yang menjadi manusia. Maka marilah kita memandang Dia, marilah kita heran akan kerendahan hati-Nya. Merenungkan Yesus, berdiam di hadapan-Nya, menyembah-Nya dalam Ekaristi: bukan menyia-nyiakan waktu, melainkan memberi makna pada waktu. Menyembah bukan berarti menyia-nyiakan waktu, namun memberi makna pada waktu. Saya ulangi, ini penting: menyembah bukan berarti menyia-nyiakan waktu, tetapi memberi makna pada waktu; menyembah menemukan kembali jalan hidup dalam kesederhanaan keheningan yang membina hati.

 

Dan marilah kita juga meluangkan waktu untuk memperhatikan anak-anak, seperti para Majus yang memperhatikan Yesus: anak-anak kecil yang juga berbicara kepada kita tentang Yesus, dengan kepercayaan mereka, kesegeraan mereka, keheranan mereka, keingintahuan mereka yang sehat, kemampuan mereka untuk menangis dan tertawa secara spontan, untuk bermimpi. Allah dijadikan seperti ini: seorang Anak, penuh kepercayaan, sederhana, pencinta kehidupan (bdk. Keb 11:26), bersama anak-anak kita; dengan sabar, sebagaimana kakek-nenek yang tahu bagaimana melakukannya! Jika kita tetap berada di hadapan kanak Yesus dan ditemani anak-anak, kita akan belajar untuk takjub dan kita akan memulai dengan lebih sederhana dan lebih baik, seperti para Majus. Dan kita akan tahu bagaimana memiliki pandangan baru, pandangan kreatif terhadap permasalahan dunia.

 

Lalu marilah kita bertanya pada diri kita : pada hari-hari ini, sudahkah kita berhenti untuk menyembah, sudahkah kita memberikan sedikit ruang bagi Yesus dalam keheningan, berdoa di depan palungan? Sudahkah kita mengabdikan waktu untuk anak-anak, berbicara dan bermain dengan mereka? Dan yang terakhir, mampukah kita melihat permasalahan dunia melalui kacamata anak-anak?

 

Semoga Maria, Bunda Allah dan Bunda kita, meningkatkan cinta kita kepada Kanak Yesus dan semua anak, khususnya mereka yang terbebani oleh peperangan dan ketidakadilan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Enam puluh tahun yang lalu, pada hari-hari ini, Paus Santo Paulus VI dan Patriark Ekumenis Athenagoras bertemu di Yerusalem, meruntuhkan tembok tidak dapat berkomunikasi yang telah memisahkan umat Katolik dan Ortodoks selama berabad-abad. Marilah kita belajar dari pelukan dua tokoh besar Gereja dalam perjalanan menuju kesatuan Kristiani, berdoa bersama, berjalan bersama, bekerja bersama.

 

Dan mengingat sikap bersejarah persaudaraan di Yerusalem, marilah kita berdoa untuk perdamaian, perdamaian di Timur Tengah, di Palestina, di Israel, di Ukraina, dan di seluruh dunia. Begitu banyak korban perang, begitu banyak kematian, begitu banyak kehancuran… Marilah kita berdoa untuk perdamaian. Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan rakyat Iran, khususnya para kerabat dari banyak korban serangan teroris yang terjadi di Kerman, banyak yang terluka dan semua yang terkena dampak penderitaan besar ini.

 

Hari Raya Penampakan Tuhan adalah Hari Anak Misioner. Saya menyapa anak-anak dan kaum muda misioner di seluruh dunia. Saya berterima kasih kepada mereka atas komitmen mereka dalam doa dan dukungan nyata terhadap pewartaan Injil dan, khususnya, pengembangan kaum muda di wilayah misi. Terima kasih, terima kasih banyak!

 

Dengan penuh sukacita saya menyapa para peserta dalam perarakan bersejarah-kerakyatan, yang tahun ini didedikasikan untuk kawasan Lembah Sungai Tiber, serta nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan di dalamnya.

 

Saya menyapa umat dari Jerman, kaum muda Gerakan “Di Antara Kita”, “Sahabat Sejarah dan Tradisi” dari Carovilli, dan kelompok AVIS dari Paderno Franciacorta. Dan saya menyampaikan berkat saya kepada para peserta perarakan besar Tiga Raja yang berlangsung di Warsawa dan di banyak kota di Polandia.

 

Dan saya mengucapkan selamat Hari Raya Penampakan Tuhan kepada semua orang. Mohon terus mendoakan saya dan teruslah maju dengan berani: semoga Tuhan memberkatimu. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Januari 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 3 Januari 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG KEBURUKAN DAN KEBAJIKAN (BAGIAN 2 : PERJUANGAN ROHANI)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Pekan lalu kita berkenalan dengan tema keburukan dan kebajikan. Tema ini mengacu pada pergumulan rohani umat kristiani. Memang benar, kehidupan rohani umat Kristiani tidak damai, linier dan tanpa tantangan; sebaliknya, kehidupan Kristiani menuntut perjuangan terus-menerus: perjuangan umat Kristiani untuk memelihara iman, memperkaya karunia iman dalam diri kita. Bukan suatu kebetulan jika pengurapan pertama yang diterima setiap umat Kristiani dalam Sakramen Pembaptisan – pengurapan katekumenal – tidak beraroma apapun dan secara simbolis menyatakan bahwa hidup adalah sebuah perjuangan. Faktanya, pada zaman dahulu, para pegulat diurapi sekujur tubuhnya sebelum bertanding, untuk mengencangkan otot dan membuat tubuh mereka sulit ditangkap lawan. Pengurapan para katekumen segera memperjelas bahwa umat Kristiani tidak luput dari perjuangan, umat Kristiani harus berjuang: keberadaan mereka, seperti halnya semua orang, harus turun ke gelanggang, karena kehidupan adalah serangkaian cobaan dan godaan.

 

Sebuah pepatah terkenal yang dikaitkan dengan Abas Antonius Agung, bapa besar monastisisme pertama, berbunyi seperti ini: “Hilangkanlah godaan dan tidak ada seorang pun yang dapat diselamatkan”. Orang-orang kudus bukanlah orang-orang yang luput dari godaan, melainkan orang-orang yang sadar akan kenyataan bahwa dalam kehidupan godaan kejahatan muncul berulang kali, dibuka kedoknya dan ditolak. Kita semua pernah mengalami hal ini, kita semua: pikiran buruk datang kepadamu, kamu merasakan keinginan untuk melakukan hal ini, atau berbicara buruk tentang orang lain… Kita semua, kita semua tergoda, dan kita harus berusaha untuk menyerah pada godaan ini. Jika ada di antara kamu yang tidak tergoda, katakanlah demikian, maka itu akan menjadi hal yang luar biasa! Kita semua mempunyai godaan, dan kita semua harus belajar bagaimana berperilaku dalam situasi ini.

 

Ada banyak orang yang memerdekakan diri mereka, yang menyatakan bahwa mereka “baik-baik saja” – “Tidak, aku baik-baik saja, aku tidak mempunyai masalah-masalah ini”. Namun tidak satupun dari kita yang “baik-baik saja”; jika seseorang merasa baik-baik saja, ia sedang bermimpi; kita masing-masing mempunyai banyak hal yang harus disesuaikan, dan juga harus waspada. Dan ada kalanya kita menerima sakramen Tobat dan kita berkata, dengan tulus, “Bapa, aku tidak ingat, aku tidak tahu apakah aku mempunyai dosa…”. Namun ini adalah kurangnya kesadaran akan apa yang terjadi di dalam hati. Kita semua adalah orang berdosa, kita semua. Dan sedikit pemeriksaan hati nurani, sedikit wawasan, akan bermanfaat bagi kita. Jika tidak, kita berisiko hidup dalam kegelapan, karena kita sudah terbiasa dengan kegelapan dan tidak tahu lagi bagaimana membedakan yang baik dari yang jahat. Ishak dari Niniwe mengatakan bahwa, di dalam Gereja, orang yang mengetahui dosa-dosanya dan meratapinya adalah lebih besar daripada orang yang membangkitkan orang mati. Kita semua harus memohon rahmat Allah untuk mengenali diri kita sebagai orang-orang berdosa yang malang, yang membutuhkan pertobatan, dengan tetap menjaga keyakinan dalam hati kita bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk rahmat Allah Bapa yang tak terbatas. Ini adalah pelajaran perdana yang diberikan Yesus kepada kita.

 

Kita melihatnya di halaman pertama Injil, terutama dalam kisah baptisan Mesias di perairan Sungai Yordan. Kisah ini mengandung sesuatu yang meresahkan: mengapa Yesus tunduk pada upacara penyucian seperti itu? Ia adalah Tuhan, Ia sempurna! Dosa apa yang harus Yesus sesali? Tidak ada! Bahkan Yohanes Pembaptis pun terkejut, sampai-sampai teks mengatakan: “Namun, Yohanes mencoba mencegah Dia, katanya, ‘Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, tetapi Engkau yang datang kepadaku?’” (Mat 3:14). Namun Yesus adalah Mesias yang sangat berbeda dari cara Yohanes menampilkan Dia dan orang-orang membayangkan Dia: Ia tidak mewujudkan Allah yang murka dan tidak mengemukakan penghakiman, namun sebaliknya, mengantri bersama orang-orang berdosa. Bagaimana bisa? Ya, Yesus menyertai kita, kita semua orang berdosa. Ia bukan orang berdosa, namun Ia ada di antara kita. Dan ini adalah hal yang indah. “Bapa, aku punya banyak dosa!” – “Tetapi Yesus menyertaimu: bicarakanlah tentang hal itu, Ia akan membantumu keluar dari masalah”. Yesus tidak pernah meninggalkan kita sendirian, tidak pernah! Pikirkanlah tentang hal ini. “Ya Bapa, aku telah melakukan dosa berat!” – “Tetapi Yesus memahamimu dan Ia menyertaimu: Ia memahami dosamu dan Ia mengampunimu”. Jangan pernah melupakan hal ini! Di saat-saat terburuk, saat kita tergelincir ke dalam dosa, Yesus ada di samping kita untuk membantu mengangkat kita. Hal ini membawa penghiburan. Kita tidak boleh kehilangan kepastian ini: Yesus ada di samping kita untuk menolong kita, melindungi kita, bahkan mengangkat kita kembali setelah berbuat dosa. “Tetapi Bapa, benarkah Yesus mengampuni segalanya?” - "Segalanya. Ia datang untuk mengampuni, menyelamatkan. Sederhananya, Yesus ingin hatimu terbuka. Ia tidak pernah lupa untuk mengampuni: sering kali kitalah yang kehilangan kemampuan untuk memohon pengampunan. Marilah kita mendapatkan kembali kemampuan untuk memohon pengampunan. Kita masing-masing mempunyai banyak hal yang perlu dimohonkan pengampunan: biarlah kita masing-masing memikirkannya, dalam hati, dan membicarakannya dengan Yesus hari ini. Bicaralah dengan Yesus tentang hal ini: “Tuhan, aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tetapi aku yakin Engkau tidak akan berpaling dariku. Aku yakin Engkau mengampuniku. Tuhan, aku ini orang berdosa, namun tolong jangan berpaling dariku”. Ini akan menjadi doa yang indah kepada Yesus hari ini: “Tuhan, jangan berpaling dariku”.

 

Dan tepat setelah kisah pembaptisan, Injil memberitahu kita bahwa Yesus mengundurkan diri ke padang gurun, di mana Ia dicobai oleh Iblis. Dalam hal ini pun, kita bertanya pada diri kitai: godaan apa yang harus diketahui Putra Allah? Di sini juga, Yesus menunjukkan diri-Nya bersetia kawan dengan sifat manusiawi kita yang lemah, dan menjadi teladan kita yang luar biasa: godaan yang Ia hadapi dan atasi di antara batu-batu gersang di padang gurun adalah petunjuk pertama yang Ia berikan kepada kehidupan kita sebagai murid. Ia mengalami apa yang kita juga harus persiapkan untuk menghadapinya: hidup berupa tantangan, ujian, persimpangan jalan, pandangan yang berlawanan, rayuan tersembunyi, suara-suara yang bertentangan. Beberapa suara bahkan bersifat menghasut, sedemikian rupa sehingga Iblis mencobai Yesus dengan menggunakan kata-kata dalam Kitab Suci. Kita harus menjaga kejernihan batin agar dapat memilih jalan yang benar-benar menuju kebahagiaan, dan berusaha untuk tidak berhenti di tengah jalan.

 

Ingatlah bahwa kita selalu terpecah di antara dua ekstrim yang berlawanan: kesombongan menantang kerendahan hati; kebencian menentang amal; kesedihan menghalangi sukacita Roh yang sejati; pengerasan hati menolak belas kasihan. Umat Kristiani terus berjalan di sepanjang garis pemisah ini. Oleh karena itu, penting untuk merenungkan keburukan dan kebajikan: hal ini membantu kita mengalahkan budaya nihilistik di mana batas antara kebaikan dan kejahatan menjadi kabur dan, pada saat yang sama, mengingatkan kita bahwa manusia, tidak seperti makhluk lainnya, selalu dapat melampaui dirinya sendiri, membuka diri kepada Allah dan melakukan perjalanan menuju kekudusan.

 

Perjuangan rohani, kemudian, menuntun kita untuk melihat secara dekat sifat-sifat buruk yang membelenggu kita dan berjalan, dengan rahmat Allah, menuju kebajikan-kebajikan yang dapat berkembang dalam diri kita, membawa musim semi Roh ke dalam hidup kita.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Malta dan Amerika Serikat. Saya kembali memperbarui kedekatan rohani saya dengan semua orang yang terkena dampak gempa bumi baru-baru ini di Jepang, dan juga dengan para korban tabrakan dua pesawat kemarin di bandara Tokyo. Saya juga mendoakan keluarga mereka dan aparat keadaan darurat. Semoga kamu dan keluargamu menghargai sukacita masa Natal ini, dan mendekatkan diri dalam doa kepada Sang Juruselamat yang telah datang untuk tinggal di antara kita. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese kita tentang kebajikan dan keburukan yang berlawanan dengannya, kita telah melihat kehidupan Kristiani melibatkan perjuangan terus-menerus untuk melawan dosa dan bertumbuh dalam kekudusan. Yesus, yang tidak berdosa, menyerahkan diri untuk dibaptis oleh Yohanes dan dicobai di padang gurun, mengajarkan kita perlunya kelahiran kembali secara rohani, pertobatan pikiran dan hati, serta kepercayaan yang tiada henti pada kerahiman dan rahmat Allah yang menopang. Semoga permenungan mingguan kita mengenai kebajikan dan keburukan membantu kita meneladan Tuhan, bertumbuh dalam kebijaksanaan dan pemahaman diri, serta melakukan pembedaan roh di antara yang baik dan yang jahat. Seiring kemajuan kita dalam pengetahuan dan pengamalan kebajikan, semoga kita mengalami sukacita kedekatan dengan Allah, sumber segala kebaikan, kebahagiaan sejati dan kepenuhan hidup kekal.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Januari 2024)