Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 1 April 2024 : KEBANGKITAN TUHAN MEMBAWA SUKACITA YANG BESAR DAN MENGUBAH HIDUP KITA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, dan selamat Paskah!

 

Hari ini, hari Senin dalam Oktaf Paskah, Bacaan Injil (bdk. Mat 28:8.15) menunjukkan kepada kita sukacita para perempuan pada Kebangkitan Yesus: perikop tersebut mengatakan bahwa mereka meninggalkan kubur dengan “sukacita yang besar”, dan “berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus” (ayat 8). Sukacita ini, yang tepatnya lahir dari perjumpaan yang hidup dengan Yesus yang bangkit, merupakan perasaan yang kuat, yang mendorong mereka untuk menyebarkan dan memberitahukan apa yang telah mereka lihat.

 

Berbagi sukacita adalah sebuah pengalaman yang menakjubkan, yang kita pelajari sejak usia dini: bayangkan seorang anak yang mendapat nilai bagus di sekolah dan tidak sabar untuk menunjukkannya kepada kedua orang tuanya, atau seorang muda yang mencapai kesuksesan pertamanya dalam dunia olahraga, atau kelahiran seorang anak dalam sebuah keluarga. Marilah kita mencoba mengingat, kita masing-masing, suatu momen yang sangat membahagiakan sehingga sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata, namun ingin segera kita beritahukan kepada semua orang!

 

Jadi, para perempuan, pada pagi Paskah, menghayati pengalaman ini, namun dengan cara yang jauh lebih besar. Mengapa? Sebab kebangkitan Yesus bukan sekadar berita yang menakjubkan atau akhir kisah yang membahagiakan, melainkan sesuatu yang mengubah hidup kita sepenuhnya, dan mengubahnya selamanya! Kebangkitan Yesus merupakan kemenangan kehidupan atas kematian, inilah kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus merupakan kemenangan harapan atas keputusasaan. Yesus menerobos kegelapan kubur dan hidup selamanya: kehadiran-Nya dapat memenuhi segala sesuatu dengan terang. Bersama-Nya, setiap hari menjadi sebuah langkah dalam perjalanan abadi, setiap “hari ini” dapat mengharapkan “hari esok”, setiap akhir menjadi awal yang baru, setiap sekejab waktu dirancangkan melampaui batas waktu, menuju keabadian.

 

Saudara-saudari, sukacita kebangkitan bukanlah sesuatu yang jauh. Sukacita kebangkitan sangat dekat, milik kita, karena diberikan kepada kita pada hari pembaptisan kita. Sejak saat itu, kita juga, seperti para perempuan, dapat bertemu Yesus yang bangkit dan Ia berkata kepada kita, sebagaimana dikatakan-Nya kepada mereka: “Jangan takut!” (ayat 10). Saudara-saudari, janganlah kita meninggalkan sukacita Paskah!

 

Namun bagaimana kita bisa memelihara sukacita ini? Seperti yang dilakukan para perempuan: dengan berjumpa Yesus yang bangkit, karena Dialah sumber sebuah sukacita yang tiada henti. Jadi, marilah kita bergegas mencari Dia dalam Ekaristi, dalam pengampunan-Nya, dalam doa dan dalam amal kasih! Sukacita, ketika dibagikan, akan bertumbuh. Marilah kita berbagi sukacita Yesus yang bangkit.

 

Dan semoga Perawan Maria, yang pada Paskah bergembira ria atas kebangkitan Putranya, membantu kita menjadi saksi-saksi yang penuh sukacita.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya kembali mengucapkan Paskah kepada semuanya, dan dengan tulus saya berterima kasih kepada mereka yang, dengan berbagai cara, telah mengirimi saya pesan-pesan kedekatan dan doa. Semoga karunia damai Tuhan yang bangkit dianugerahkan kepada setiap orang, keluarga-keluarga, dan komunitas-komunitas. Dan semoga karunia damai ini sampai ke tempat yang paling membutuhkannya: kepada orang-orang yang kelelahan karena perang, kelaparan, dan segala bentuk penindasan.

 

Dan saya menyapamu dengan penuh kasih sayang, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara!

 

Saya menyapa kaum muda dan para imam komunitas pastoral Beato Carlo Gnocchi Inverigo, dan para deken Appiano Gentile.

 

Selamat Hari Senin Malaikat! Semoga sukacita Paskah terus berlanjut! Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 2 April 2024)

PESAN URBI ET ORBI PAUS FRANSISKUS PADA HARI RAYA PASKAH 31 Maret 2024

Saudara-saudari terkasih, selamat Paskah!

 

Hari ini di seluruh dunia bergema pesan yang dikumandangkan dua ribu tahun yang lalu dari Yerusalem: “Yesus orang Nazaret, yang telah disalibkan itu, telah dibangkitkan!” (Mrk 16:6).

 

Gereja menghidupkan kembali keheranan para perempuan yang pergi ke kubur saat fajar pada hari pertama pekan itu. Kubur Yesus telah ditutup dengan sebuah batu besar. Hari ini pun, batu-batu besar, batu-batu berat, menghalangi harapan umat manusia: batu perang, batu krisis kemanusiaan, batu pelanggaran hak asasi manusia, batu perdagangan manusia, dan batu-batu lainnya juga. Seperti para wanita murid Yesus, kita bertanya satu sama lain: “Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?” (bdk. Mrk 16:3).

 

Inilah penemuan yang mengherankan pada pagi Paskah tersebut: batu, batu yang sangat besar, telah terguling. Keheranan para perempuan ini adalah keheranan kita juga: kubur Yesus terbuka dan kosong! Dari hal ini, segalanya dimulai kembali! Sebuah jalan baru menuntun melalui kubur yang kosong itu: jalan yang tidak dapat dibuka oleh siapa pun di antara kita, kecuali oleh Allah sendiri: jalan kehidupan di tengah kematian, jalan perdamaian di tengah peperangan, jalan rekonsiliasi di tengah-tengah kebencian, jalan persaudaraan di tengah permusuhan.

 

Saudara-saudari, Yesus Kristus telah bangkit! Ia sendiri yang mempunyai kuasa untuk menggulingkan batu-batu yang menghalangi jalan menuju kehidupan. Ia, Yang hidup, sendiri jalan itu. Ia adalah Jalan: jalan yang menuntun kepada kehidupan, jalan perdamaian, rekonsiliasi dan persaudaraan. Ia membuka jalan itu, yang secara manusiawi mustahil, karena Ia sendiri yang menghapus dosa dunia dan mengampuni segala dosa kita. Karena tanpa pengampunan Allah, batu itu tidak dapat disingkirkan. Tanpa pengampunan dosa, kita tidak bisa mengatasi hambatan prasangka, saling tuding, anggapan bahwa kita selalu benar dan orang lain salah. Hanya Kristus yang telah bangkit, dengan menganugerahkan pengampunan atas dosa-dosa kita, yang membuka jalan bagi dunia yang diperbarui.

 

Hanya Yesus yang membukakan pintu kehidupan bagi kita, pintu-pintu yang terus-menerus kita tutup seiring dengan meluasnya peperangan ke seluruh dunia. Hari ini kita ingin, pertama-tama, mengalihkan pandangan ke Kota Suci Yerusalem, yang menyaksikan misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus, serta seluruh komunitas Kristiani di Tanah Suci.

 

Pikiran saya khususnya tertuju kepada para korban berbagai pertikaian di seluruh dunia, dimulai dengan pertikaian di Israel, Palestina, dan Ukraina. Semoga Kristus yang bangkit membuka jalan perdamaian bagi bangsa-bangsa yang dilanda perang di wilayah tersebut. Dengan menyerukan penghormatan terhadap prinsip-prinsip hukum internasional, saya menyatakan harapan saya untuk pertukaran umum semua tahanan antara Rusia dan Ukraina: semua demi semua!

 

Saya kembali menyerukan kepastian akses bantuan kemanusiaan ke Gaza, serta kembali menyerukan pembebasan segera para sandera yang ditangkap pada tanggal 7 Oktober lalu dan gencatan senjata segera di Jalur Gaza.

 

Kita jangan membiarkan permusuhan yang terjadi saat ini terus menimbulkan dampak buruk terhadap masyarakat sipil, yang saat ini berada pada batas ketahanannya, dan terutama terhadap anak-anak. Betapa banyak penderitaan yang kita lihat di mata anak-anak: anak-anak di negeri-negeri yang berperang telah lupa bagaimana caranya tersenyum! Dengan mata tersebut, mereka bertanya kepada kita: Mengapa? Mengapa semua kematian ini? Mengapa semua kehancuran ini? Perang selalu merupakan kekonyolan, perang selalu merupakan kekalahan! Kita jangan membiarkan angin perang semakin kuat bertiup di Eropa dan Mediterania. Kita jangan menyerah pada nalar persenjataan dan kembali mempersenjatai. Perdamaian tidak pernah tercipta dengan senjata, tetapi dengan tangan terulur dan hati yang terbuka.

 

Saudara-saudariku, kita jangan melupakan Suriah, yang selama tiga belas tahun telah menderita akibat perang yang lama dan menghancurkan. Begitu banyak kematian dan kehilangan, begitu banyak kemiskinan dan kehancuran, memerlukan tanggapan dari semua pihak, dan komunitas internasional.

 

Hari ini pikiran saya khususnya tertuju pada Lebanon, yang selama beberapa waktu mengalami kebuntuan kelembagaan serta krisis ekonomi dan sosial yang semakin parah, yang kini diperburuk oleh permusuhan di perbatasannya dengan Israel. Semoga Tuhan yang bangkit menghibur rakyat Lebanon yang terkasih dan mendukung seluruh negara dalam panggilannya untuk menjadi tanah perjumpaan, hidup berdampingan dan pluralisme.

 

Saya juga memikirkan khususnya wilayah Balkan Barat, di mana langkah-langkah sangat penting sedang diambil menuju penyatupaduan dalam proyek Eropa. Semoga perbedaan etnis, budaya dan agama tidak menjadi penyebab perpecahan, namun justru menjadi sumber pengayaan bagi seluruh Eropa dan dunia secara keseluruhan.

 

Saya juga mendorong diskusi-diskusi yang terjadi antara Armenia dan Azerbaijan, sehingga dengan dukungan komunitas internasional, mereka dapat melakukan dialog, membantu para pengungsi, menghormati tempat-tempat ibadah berbagai agama, dan sesegera mungkin memastikan kesepakatan damai.

 

Semoga Kristus yang bangkit membuka jalan harapan bagi semua orang yang di belahan dunia lain menderita akibat kekerasan, pertikaian, kerawanan pangan dan dampak perubahan iklim. Semoga Tuhan menganugerahkan penghiburan kepada para korban terorisme dalam segala bentuknya. Marilah kita mendoakan semua orang yang kehilangan nyawa serta memohonkan penyesalan dan pertobatan para pelaku kejahatan tersebut.

 

Semoga Tuhan yang bangkit membantu rakyat Haiti, sehingga tindakan kekerasan, kehancuran dan pertumpahan darah di negara itu dapat segera diakhiri, serta negara tersebut dapat berkembang menuju jalan demokrasi dan persaudaraan.

 

Semoga Kristus menganugerahkan penghiburan dan kekuatan kepada masyarakat Rohingya, yang dilanda krisis kemanusiaan yang parah, dan membuka jalan menuju rekonsiliasi di Myanmar, yang telah bertahun-tahun terkoyak oleh pertikaian internal, sehingga setiap nalar kekerasan dapat ditinggalkan sepenuhnya.

 

Semoga Tuhan membuka jalan perdamaian di benua Afrika, khususnya bagi masyarakat yang menderita di Sudan dan di seluruh wilayah Sahel, di Tanduk Afrika, wilayah Kivu di Republik Demokratik Kongo dan Provinsi Capo Delgado di Mozambik, dan mengakhiri situasi kekeringan berkepanjangan yang mempengaruhi wilayah yang luas dan memicu kelaparan dan kelaparan.

 

Semoga Yesus yang bangkit menyinari para migran dan semua orang yang sedang melewati masa kesulitan ekonomi, serta memberi mereka penghiburan dan harapan pada saat mereka membutuhkan. Semoga Kristus membimbing semua orang yang berkehendak baik untuk bersatu dalam kesetiakawanan, bersama-sama mengatasi banyak tantangan yang dihadapi keluarga-keluarga termiskin untuk mengupayakan kehidupan dan kebahagiaan yang lebih baik.

 

Pada hari ini ketika kita merayakan kehidupan yang diberikan kepada kita dalam kebangkitan Sang Putra, marilah kita mengingat kasih Allah yang tak terbatas bagi kita masing-masing: kasih yang mengatasi setiap keterbatasan dan kelemahan. Namun betapa besarnya karunia kehidupan yang berharga ini diremehkan! Berapa banyak anak yang bahkan tidak bisa dilahirkan? Berapa banyak orang yang meninggal karena kelaparan dan kehilangan layanan penting atau menjadi korban pelecehan dan kekerasan? Berapa banyak nyawa dijadikan obyek perdagangan karena meningkatnya perdagangan manusia?

 

Saudara-saudari, pada hari ketika Kristus telah membebaskan kita dari perbudakan maut, saya menyerukan kepada semua pihak yang mempunyai tanggung jawab politik untuk melakukan segala upaya dalam memerangi momok perdagangan manusia, dengan bekerja tanpa kenal lelah untuk membongkar jaringan eksploitasi dan membebaskan orang-orang yang menjadi korbannya. Semoga Tuhan menghibur keluarga mereka, terutama mereka yang dengan cemas menunggu kabar dari orang yang mereka cintai, serta memberi mereka kenyamanan dan harapan.

 

Semoga terang kebangkitan menerangi pikiran kita dan membuat hati kita bertobat, serta menyadarkan kita akan nilai setiap kehidupan manusia, yang harus disambut, dilindungi dan dicintai.

 

Selamat Paskah untuk semuanya!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 31 Maret 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 27 Maret 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG KEBURUKAN DAN KEBAJIKAN (BAGIAN 12 : PERJUANGAN ROHANI) : KESABARAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari Minggu lalu kita mendengarkan kisah sengsara Tuhan. Yesus menanggapi penderitaan yang Ia tanggung dengan kebajikan yang, meskipun tidak dianggap sebagai kebajikan tradisional, namun sangat penting: kesabaran. Kebajikan tersebut berkaitan dengan kesabaran terhadap penderitaan yang kita alami: bukan suatu kebetulan, kesabaran mempunyai akar yang sama dengan sengsara. Dan justru dalam sengsara itulah kesabaran Kristus muncul, karena dengan lemah lembut Ia menerima penangkapan, cambukan, dan hukuman yang tidak adil; Ia tidak membela diri di hadapan Pilatus; Ia menanggung hinaan, diludahi, dan dicambuk oleh para serdadu; Ia memikul beban salib; Ia mengampuni mereka yang memaku-Nya di kayu salib; dan di kayu salib Ia tidak menanggapi hasutan, justru menawarkan belas kasihan. Semua ini menunjukkan kepada kita bahwa kesabaran Yesus tidak berupa perlawanan yang penuh ketabahan terhadap penderitaan, tetapi merupakan buah kasih yang lebih besar.

 

Rasul Paulus, dalam apa yang disebut “madah kasih” (bdk. 1 Kor 13:4-7) menghubungkan erat kasih dan kesabaran. Memang benar, dalam menggambarkan kualitas kasih yang pertama, ia menggunakan sebuah kata yang diterjemahkan sebagai “murah hati” atau “sabar”. Hal ini mengungkapkan konsep yang mengejutkan, yang sering muncul dalam Kitab Suci: Allah, ketika menghadapi ketidaksetiaan kita, menunjukkan diri-Nya “panjang sabar” (bdk. Kel 34:6; bdk. Bil 14:18): alih-alih melampiaskan rasa jijik-Nya pada kejahatan dan dosa manusia, Ia menyatakan diri-Nya lebih besar, selalu siap memulai dari awal dengan kesabaran yang tak terbatas. Bagi Paulus, inilah ciri pertama kasih Allah, yang ketika menghadapi dosa menghasilkan pengampunan. Tetapi tidak hanya itu: kesabaran adalah sifat pertama setiap kasih yang besar, yang tahu bagaimana menanggapi kejahatan dengan kebaikan, yang tidak menarik diri dalam kemarahan dan keputusasaan, tetapi menanggungnya dan mencoba lagi. Jadi, akar dari kesabaran adalah kasih, sebagaimana dikatakan Santo Agustinus: “Setiap orang yang benar lebih berani dalam menghadapi penderitaan apa pun, dan dalam dirinya kasih Allah lebih kuat” (Depatientia, XVII).

 

Maka, mungkin ada yang mengatakan bahwa tidak ada kesaksian yang lebih baik tentang kasih Kristus selain berjumpa orang kristiani yang sabar. Tetapi pikirkan berapa banyak ibu dan ayah, pekerja, dokter dan perawat, orang sakit, yang setiap hari, dalam ketidakjelasan, memberkati dunia dengan kesabaran yang kudus! Sebagaimana ditegaskan dalam Kitab Suci, “Orang yang sabar melebihi seorang pejuang” (Ams 16:32). Tetapi, kita harus jujur: kita sering kali kurang sabar. Kita membutuhkannya sebagai “vitamin penting” untuk bertahan hidup, tetapi secara naluriah kita menjadi tidak sabar dan menanggapi kejahatan dengan kejahatan; sulit untuk tetap tenang, mengendalikan naluri kita, menahan diri dari tanggapan buruk, meredakan pertengkaran dan perselisihan dalam keluarga, di tempat kerja, dalam komunitas kristiani.

 

Tetapi marilah kita ingat bahwa kesabaran bukan sekadar suatu kebutuhan, melainkan sebuah panggilan: jika Kristus sabar, maka umat kristiani dipanggil untuk sabar. Dan hal ini menuntut kita untuk melawan arus sehubungan dengan mentalitas yang tersebar luas saat ini, yang dikuasaioleh ketergesaan dan keinginan untuk “segala sesuatunya segera”; di mana, alih-alih menunggu situasi menjadi matang, orang-orang malah didesak, dengan harapan bahwa mereka akan segera berubah. Janganlah kita lupa bahwa tergesa-gesa dan ketidaksabaran adalah musuh kehidupan rohani: Allah adalah kasih, dan mereka yang mengasihi tidak lelah, tidak mudah marah, tidak memberikan ultimatum, tetapi tahu bagaimana menunggu. Bayangkanlah kisah Bapa yang penuh belas kasihan, yang menantikan putranya yang telah meninggalkan rumah: ia menderita dengan sabar, tidak sabar hanya untuk memeluknya segera setelah ia melihatnya kembali (lih. Luk 15:21); atau perumpamaan tentang gandum dan lalang, dengan Tuhan yang tidak terburu-buru mencabut kejahatan sebelum waktunya, sehingga tidak ada yang hilang (bdk. Mat 13:29-30).

 

Tetapi bagaimana kita bisa bertumbuh dalam kesabaran? Karena, sebagaimana diajarkan Santo Paulus kepada kita, kesabaran adalah buah Roh Kudus (bdk. Gal 5:22), yang harus kita mohonkan dari Roh Kristus. Ia memberi kita kekuatan kesabaran yang lemah lembut, karena “kebajikan kristiani bukan hanya soal berbuat baik, tetapi juga menoleransi kejahatan” (Agustinus, Khotbah, 46,13). Khususnya pada hari-hari ini, alangkah baiknya kita merenungkan Yesus yang tersalib untuk mencerna kesabaran-Nya. Latihan lain yang baik adalah dengan membawa kepada-Nya orang-orang yang paling menyusahkan, memohon rahmat untuk melaksanakan kepada mereka karya belas kasihan yang sangat terkenal, tetapi sangat diabaikan: dengan sabar menanggung orang-orang yang menyusahkan. Dimulai dengan meminta untuk memandang mereka dengan penuh kasih sayang, dengan tatapan Allah, memahami bagaimana membedakan wajah mereka dari kesalahan mereka.

 

Yang terakhir, menumbuhkan kesabaran, sebuah kebajikan yang memberi nafas kepada kehidupan, baik untuk memperluas wawasan kita. Misalnya, dengan tidak membatasi dunia pada masalah-masalah kita, seperti dianjurkan Meneladan Kristus: “Baiklah, semoga kamu mengingat kesengsaraan orang lain yang sangat menyakitkan, agar kamu dapat lebih mudah menanggung orang-orang kecil yang padamu”, mengingat bahwa “karena di hadapan Allah, tidak ada penderitaan demi Dia, sekecil apa pun, yang dapat berlalu tanpa ganjaran” (III, 19). Dan sekali lagi, ketika kita merasa berada dalam cengkeraman kesulitan, sebagaimana diajarkan Ayub kepada kita, ada baiknya kita membuka diri dengan pengharapan akan kebaruan Allah, dengan keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa Ia tidak membiarkan harapan kita dikecewakan.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Filipina, Pakistan, Kanada, dan Amerika Serikat. Saat kita bersiap menyambut Trihari Suci, saya memohonkan bagi kamu semua rahmat dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Dalam katekese lanjutan kita mengenai kebajikan, kini kita beralih ke kesabaran, yang teladan utamanya terdapat dalam teladan Yesus pada masa sengsara-Nya. Kesabaran Yesus tidak berupa ketabahan menanggung penderitaan, tetapi merupakan buah kasih-Nya. Santo Paulus juga mencerna kesabaran dengan kasih Allah, yang “panjang sabar” dan cepat membalas kejahatan dengan kebaikan. Memang benar, kesabaran dan panjang sabar umat kristiani adalah kesaksian yang paling meyakinkan akan kasih Kristus. Pekan Suci ini, marilah kita memohonkan rahmat Roh Kudus untuk meneladani Kristus dalam kesabaran dan kasih sayang-Nya, yang mengampuni segala kesalahan dan menunjukkan belas kasihan bahkan kepada musuh-musuh-Nya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 28 Maret 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 20 Maret 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG KEBURUKAN DAN KEBAJIKAN (BAGIAN 12 : PERJUANGAN ROHANI) : KEBIJAKSANAAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Kita mencurahkan katekese hari ini pada kebajikan kebijaksanaan. Selain keadilan, ketabahan, dan pengendalian diri, kebijaksanaan merupakan salah satu dari apa yang disebut kebajikan utama, yang bukan merupakan hak prerogatif eksklusif umat Kristiani, melainkan merupakan warisan kebijaksanaan kuno, khususnya warisan kebijaksanaan para filsuf Yunani. Oleh karena itu, salah satu tema paling menarik dalam karya perjumpaan dan inkulturasi justru adalah tema kebajikan.

 

Dalam tulisan-tulisan abad pertengahan, penyajian kebajikan bukan sekadar daftar kualitas positif jiwa. Kembali ke para penulis klasik dalam terang wahyu kristiani, para teolog membayangkan kumpulan kebajikan – tiga kebajikan teologis dan empat kebajikan pokok – sebagai semacam organisme hidup, di mana masing-masing kebajikan memiliki ruang yang selaras untuk ditempati. Ada kebajikan pokok dan kebajikan pelengkap, seperti pilar, kumpulan tiang, dan ibu kota. Memang benar, mungkin tidak ada yang lebih baik dalam menggambarkan gagasan tentang keselarasan antara manusia dan aspirasinya yang terus-menerus terhadap kebaikan selain katedral abad pertengahan.

 

Jadi, marilah kita mulai dengan kebijaksanaan. Kebijaksanaan bukan sifat orang yang penakut, selalu ragu-ragu mengenai tindakan apa yang harus diambil. Tidak, hal ini adalah penafsiran yang salah. Kebijaksanaan bahkan bukan sekadar peringatan. Mengutamakan kebijaksanaan berarti tindakan anusia berada di tangan kecerdasan dan kebebasannya. Orang yang bijaksana adalah orang yang kreatif: ia bernalar, mengevaluasi, mencoba memahami rumitnya kenyataan dan tidak membiarkan dirinya diliputi oleh emosi, kemalasan, tekanan, dan khayalan.

 

Di dunia yang dikuasai penampilan, pemikiran dangkal, kesepelean baik dan buruk, pelajaran kuno tentang kebijaksanaan layak untuk dihidupkan kembali.

 

Santo Thomas, setelah Aristoteles, menyebutnya “recta rasio agibilium”. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk mengelola tindakan yang menuntunnya ke arah yang baik; karena alasan ini, kebijaksanaan dijuluki “kusir kebajikan”. Orang yang bijaksana adalah orang yang mampu memilih: selama masih dalam buku, hidup selalu mudah, namun di tengah angin dan ombak kehidupan sehari-hari lain soal; sering kali kita bimbang dan tidak tahu ke mana harus melangkah. Orang yang bijaksana tidak memilih secara kebetulan: pertama-tama, mereka tahu apa yang mereka inginkan, kemudian mereka mempertimbangkan situasi, mencari nasihat, dan dengan pandangan yang luas dan kebebasan batin, mereka memilih jalan mana yang akan diambil. Hal ini tidak berarti mereka tidak melakukan kesalahan: bagaimanapun juga, kita semua manusia; tetapi setidaknya mereka menghindari kemunduran besar. Sayangnya, di setiap lingkungan ada orang yang cenderung mengabaikan masalah dengan lelucon dangkal, atau memicu kontroversi. Sebaliknya, kebijaksanaan adalah kualitas dari mereka yang terpanggil untuk memerintah: mengetahui bahwa menjalankan pemerintahan itu sulit, ada banyak sudut pandang dan kita harus berusaha untuk menyelaraskannya, kita tidak boleh berbuat baik hanya kepada sebagian orang tetapi kepada semua orang.

 

Kebijaksanaan juga mengajarkan bahwa, sebagaimana dikatakan orang, “kesempurnaan adalah musuh kebaikan”. Memang benar, semangat yang berlebihan dalam beberapa situasi dapat menyebabkan bencana: dapat merusak konstruksi yang memerlukan tahapan; semangat yang berlebihan dapat menimbulkan perselisihan dan kesalahpahaman; bahkan dapat memicu kekerasan.

 

Orang yang bijaksana tahu bagaimana menjaga kenangan masa lalu, bukan karena takut akan masa depan, tetapi karena ia tahu bahwa tradisi adalah warisan kebijaksanaan. Kehidupan terdiri dari hal-hal lama dan baru yang saling tumpang tindih, dan tidak baik untuk selalu berpikir bahwa dunia dimulai dari diri kita, kita harus menghadapi masalah mulai dari awal. Dan orang yang bijaksana juga mempunyai pengetahuan. Ketika telah memutuskan tujuan yang ingin diperjuangkan, kita perlu memperoleh segala cara untuk mencapainya.

 

Banyak bagian Injil yang membantu mendidik kita agar bijaksana. Misalnya: orang yang bijaksana mendirikan rumahnya di atas batu, dan orang yang tidak bijaksana mendirikan rumahnya di atas pasir (bdk. Mat 7:24.27). Orang yang bijaksana adalah gadis yang membawa minyak untuk pelitanya, dan orang yang bodoh adalah gadis yang tidak membawa minyak (bdk. Mat 25:1-13). Kehidupan kristiani adalah kombinasi antara kesederhanaan dan kecerdikan. Mempersiapkan murid-murid-Nya untuk perutusan tersebut, Yesus menganjurkan: “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat 10:16). Seolah-olah mau dikatakan bahwa Allah tidak hanya menginginkan kita menjadi orang kudus, Ia menginginkan kita menjadi orang kudus yang cerdas, karena tanpa kebijaksanaan, mengambil jalan yang salah adalah kesalahan sesaat!

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah berbahasa Inggris, terutama yang datang dari Inggris, Belanda, Denmark, Kepulauan Faroe, Jepang, Korea, dan Amerika Serikat. Semoga perjalanan Prapaskah membawa kita menuju Paskah dengan hati yang disucikan dan diperbarui oleh rahmat Roh Kudus. Atas dirimu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai di dalam Kristus!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: dalam katekese lanjutan kita tentang kebajikan, kita sekarang membahas kebijaksanaan, salah satu dari empat kebajikan “utama” yang, bersama dengan kebajikan “teologis” yaitu iman, harapan dan kasih, merupakan pilar kehidupan kristiani yang terpadu. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk menggabungkan kecerdasan dan kreativitas, kesederhanaan dan kecerdikan, memahami rumitnya situasi dan mengevaluasi solusi yang mungkin, menerapkan kebijaksanaan yang diperoleh dari pengalaman masa lalu sambil mengantisipasi kebutuhan di masa depan. Dalam pengertian ini, Santo Thomas Aquinas menyebut kebijaksanaan sebagai “alasan yang tepat dalam bertindak”. Yesus, dalam perumpamaan-Nya, sering kali menganjurkan murid-murid-Nya untuk melaksanakan kebajikan ini. Semoga kita juga mengamalkan kebijaksanaan setiap hari dalam perjalanan menuju kepenuhan hidup dalam Kerajaan Surga.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 20 Maret 2024)