Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 5 Mei 2024 : DIBUTUHKAN PERSAHABATAN

Bacaan Injil hari ini menceritakan kepada kita Yesus yang berkata kepada para Rasul, “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, namun sahabat” (bdk. Yoh 15:15). Apa artinya ini?

 

Dalam Kitab Suci “hamba-hamba” Allah adalah orang-orang istimewa, yang Ia percayakan perutusan penting, misalnya Musa (bdk. Kel 14:31), Raja Daud (bdk. 2Sam 7:8), nabi Elia (bdk. 1Raj 18:36), hingga Perawan Maria (bdk. Luk 1:38). Mereka adalah orang-orang yang tangannya menjadi tempat Allah menaruh harta-Nya (bdk. Mat 25:21). Namun semua ini tidak cukup, menurut Yesus, mengatakan siapa kita yang sesungguhnya bagi Dia, tidak cukup: Ia menginginkan lebih, sesuatu yang lebih besar, yang melampaui kebaikan dan rencana mereka: dibutuhkan persahabatan.

 

Sejak masa kanak-kanak kita belajar betapa indahnya pengalaman ini: kita memberikan mainan dan hadiah terindah kepada sahabat-sahabat kita; kemudian, saat tumbuh dewasa, sebagai remaja, kita menceritakan rahasia pertama kita kepada mereka; sebagai generasi muda kita memberikan kesetiaan; sebagai orang dewasa kita ambil bagian dalam kepuasan dan kekhawatiran; sebagai orang dewasa kita ambil bagian dalam kenangan, pertimbangan dan keheningan hari-hari yang panjang. Sabda Allah dalam Kitab Amsal mengatakan kepada kita bahwa “minyak dan wangi-wangian menyukakan hati" (27:9), dan manisnya seorang sahabat timbul dari nasihatnya yang sungguh-sungguh. Marilah kita memikirkan sejenak sahabat-sahabat kita, dan bersyukurlah kepada Tuhan atas mereka! Sebuah ruang untuk memikirkan mereka…

 

Persahabatan bukan hasil perhitungan atau paksaan: persahabatan lahir secara spontan ketika kita mengenali sesuatu dalam diri orang lain. Dan jika benar, sebuah persahabatan begitu kuat sehingga tidak akan putus meski menghadapi pengkhianatan. “Seorang sahabat mengasihi setiap waktu” (Ams 17:17) – sekali lagi dinyatakan dalam Kitab Amsal – sebagaimana ditunjukkan Yesus kepada kita ketika Ia berkata kepada Yudas, yang mengkhianati-Nya dengan ciuman: “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” (Mat 26:50). Seorang sahabat sejati tidak akan meninggalkanmu, bahkan ketika kamu berbuat salah: ia mengoreksimu, mungkin ia mencelamu, tetapi ia mengampunimu dan tidak meninggalkanmu.

Dan hari ini Yesus, dalam Kitab Suci, mengatakan kepada kita bahwa bagi Dia kita adalah orang-orang terkasih yang melampaui segala kelayakan dan harapan, yang Ia ulurkan tangan-Nya dan tawarkan kasih-Nya, Rahmat-Nya, sabda-Nya; dengan mereka – dengan kita, sang sahabat – Ia berbagi apa yang paling dikasihi-Nya, segala sesuatu yang telah Ia dengar dari Bapa (bdk. Yoh 15:15). Bahkan sampai menjadikan diri-Nya rapuh demi kita, menyerahkan diri-Nya ke dalam tangan kita tanpa pembelaan atau kepura-puraan, karena Ia mengasihi kita. Tuhan mengasihi kita, sebagai sahabat Ia menginginkan kebaikan kita dan Ia ingin kita berbagi kebaikan-Nya.

 

Maka marilah kita bertanya pada diri kita: wajah apa yang Tuhan dapati dalam diriku? Wajah sahabat atau wajah orang asing? Apakah aku merasa dikasihi oleh-Nya sebagai orang yang disayangi? Dan wajah Yesus apa yang kutunjukkan kepada orang lain, terutama kepada mereka yang bersalah dan membutuhkan pengampunan?

 

Semoga Maria membantu kita bertumbuh dalam persahabatan dengan Putranya dan menyebarkannya ke sekeliling kita.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Dengan penuh kasih sayang saya menyampaikan selamat kepada saudara-saudari Gereja-gereja Ortodoks dan beberapa Gereja Katolik Timur yang hari ini, menurut Kalender Julian, merayakan Paskah Suci. Semoga Tuhan yang bangkit memenuhi segenap komunitas dengan sukacita dan kedamaian, serta menghibur mereka yang menghadapi kesulitan. Kepada mereka, selamat Paskah!

 

Saya mendoakan penduduk Negara Bagian Rio Grande do Sul, Brasil, yang dilanda banjir besar. Semoga Tuhan berkenan menerima orang-orang yang meninggal dan menghibur kerabat mereka serta orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

 

Dan tolong, teruslah mendoakan Ukraina yang tersiksa – negara ini sangat menderita! – dan juga Palestina dan Israel, agar keduanya bisa berdamai, agar dialog bisa diperkuat dan membuahkan hasil yang baik. Tidak untuk perang, ya untuk dialog!

 

Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 5 Mei 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 1 Mei 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG KEBURUKAN DAN KEBAJIKAN (BAGIAN 17 : PERJUANGAN ROHANI) : IMAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini saya ingin berbicara tentang kebajikan iman. Bersama dengan kasih dan harapan, kebajikan ini digambarkan sebagai kebajikan ilahi. Ada tiga kebajikan ilahi: iman, harapan, dan kasih. Mengapa ketiganya ilahi? Karena ketiganya dapat dijalani – kebajikan, ketiga ketiga kebajikan ini – hanya berkat karunia Allah. Ketiga kebajikan ilahi ini merupakan karunia besar yang diberikan Allah kepada kapasitas moral kita. Tanpa ketiganya, kita bisa menjadi bijaksana, layak, kuat dan ugahari, tetapi kita tidak dapat memiliki mata yang melihat bahkan dalam kegelapan, kita tidak dapat memiliki hati yang mengasihi bahkan ketika tidak dikasihi, kita tidak dapat memiliki harapan yang berani melawan segenap harapan.

 

Apakah iman? Pertanyaan ini: apakah iman? Katekismus Gereja Katolik mengatakan, menjelaskan bahwa iman adalah tindakan di mana manusia secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah (1814). Dalam iman ini, Abraham adalah bapa yang besar. Ketika ia setuju untuk meninggalkan tanah leluhurnya guna menuju tanah yang akan ditunjukkan Allah kepadanya, ia mungkin akan dianggap gila: mengapa meninggalkan yang diketahui untuk yang tidak diketahui, yang pasti untuk yang tidak pasti? Tetapi mengapa melakukan ini? Ini gila, bukan? Namun Abraham berangkat, seolah-olah ia bisa melihat yang tidak kasat mata: inilah yang dikatakan Kitab Suci tentang Abraham. “Ia pergi, tidak tahu ke mana ia harus pergi”. Ini indah. Dan lagi-lagi yang tidak kasat mata itulah yang membuatnya naik gunung bersama putranya Ishak, putra tunggal perjanjian, yang hanya di saat-saat terakhir akan terhindar dari pengurbanan. Dalam iman ini, Abraham menjadi bapa dari garis keturunan yang panjang. Iman membuatnya berbuah.

 

Musa adalah seorang yang beriman ketika, menyambut suara Allah bahkan melebihi satu keraguan yang dapat menggoncangkannya, ia terus berdiri teguh dan percaya kepada Tuhan, dan bahkan membela orang-orang yang seringkali kurang beriman.

 

Perawan Maria adalah seorang perempuan yang beriman ketika, menerima kabar gembira Malaikat, yang oleh banyak orang dianggap terlalu menuntut dan berisiko, ia menjawab, “Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Dan, dengan hatinya yang penuh iman, dengan hatinya yang penuh rasa percaya kepada Allah, Maria menempuh jalan yang tidak diketahuinya baik rute maupun bahayanya.

 

Iman adalah kebajikan yang menjadikan seorang kristiani. Sebab menjadi umat Kristiani bukan pertama-tama menerima suatu budaya, dengan nilai-nilai yang menyertainya, namun menjadi umat kristiani adalah menyambut dan menjunjung tinggi ikatan, ikatan dengan Allah: Allah dan aku, diriku dan wajah Yesus yang ramah. Ikatan inilah yang menjadikan kita umat kristiani.

 

Berkenaan dengan iman, sebuah perikop Injil terlintas dalam pikiran. Murid-murid Yesus sedang menyeberangi danau dan dikejutkan oleh badai. Mereka berpikir mereka dapat bertahan hidup dengan kekuatan tangan mereka, dengan sumber daya pengalaman mereka, namun perahu mulai penuh dengan air dan mereka dilanda kepanikan (bdk. Mrk 4:35-41). Mereka tidak menyadari bahwa solusinya ada di depan mata mereka: Yesus ada bersama mereka di atas perahu, di tengah topan yang dahsyat sekali, dan Yesus “sedang tidur”, kata Injil. Ketika mereka akhirnya membangunkan-Nya, karena takut dan bahkan marah karena Ia akan membiarkan mereka mati, Yesus menegur mereka, “Mengapa kamu ketakutan? ABelumkah kamu percaya?” (Mrk 4:40).

 

Inilah musuh besar iman: bukan kecerdasan, juga bukan akal budi, seperti yang sayangnya terus diulang-ulang oleh beberapa orang secara menghantui; tetapi musuh besar ketakutan. Oleh karena itu, iman adalah karunia pertama yang harus kita sambut dalam kehidupan kristiani: karunia yang harus kita sambut dan mohon setiap hari, agar dapat diperbarui dalam diri kita. Iman tampaknya merupakan karunia kecil, namun sangat penting. Ketika kita dibawa ke kolam pembaptisan, kedua orang tua kita, setelah mengumumkan nama yang mereka pilih untuk kita, ditanya oleh imam – hal ini terjadi pada saat kita dibaptis, “Apa yang kamu mohon dari Gereja Allah?” Dan kedua orang tua kita menjawab, “Iman, baptisan!”.

 

Bagi para orang tua kristiani, menyadari karunia yang telah diberikan kepada mereka, itulah karunia yang juga harus dimohonkan kepada anak mereka: iman. Dengan iman, kedua orang tua tahu, meski di tengah cobaan hidup, anak mereka tidak akan tenggelam dalam ketakutan. Lihat, musuh adalah ketakutan. Mereka juga mengetahui bahwa ketika seorang anak tidak lagi memiliki orang tua di dunia ini, ia akan tetap memiliki Allah Bapa di surga, yang tidak akan pernah meninggalkannya. Kasih kita begitu rapuh, dan hanya kasih Allah yang bisa mengalahkan kematian.

 

Tentu saja, sebagaimana dikatakan Rasul Paulus, iman bukan untuk semua orang (bdk. 2 Tes 3:2), dan kita juga, sebagai orang percaya, sering kali menyadari bahwa persediaan kita hanya sedikit. Seringkali Yesus menegur kita, seperti yang Ia lakukan terhadap murid-murid-Nya, karena kita adalah “orang yang kurang beriman”. Namun iman adalah karunia yang paling membahagiakan, satu-satunya kebajikan yang boleh membuat kita iri. Karena mereka yang beriman dihuni oleh suatu kekuatan yang bukan hanya manusiawi; memang, iman “memicu” kasih karunia dalam diri kita dan membuka pikiran terhadap misteri Allah. Sebagaimana pernah dikatakan Yesus, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini : Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu” (Luk 17:6). Oleh karena itu, marilah kita juga, seperti para murid, mengulangi kepada-Nya, Tuhan, tambahkanlah iman kami! (Luk 17:5). Sebuah doa yang indah! Bisakah kita semua mengucapkannya bersama-sama? “Tuhan, tambahkanlah iman kami!”. Marilah kita ucapkan bersama-sama [semuanya] “Tuhan, tambahkanlah iman kami!”. Terlalu pelan… sedikit lebih keras: [semuanya] “Tuhan, tambahkanlah iman kami!”! Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Finlandia, Malta, Belanda, Norwegia, Uganda, India, Malaysia, Kanada dan Amerika Serikat. Saya juga ingin mengungkapkan kepada rakyat Kenya kedekatan rohani saya saat ini karena banjir besar telah secara tragis merenggut nyawa banyak saudara dan saudari kita, melukai orang-orang lainnya dan menyebabkan kehancuran yang luas. Saya mengajakmu untuk mendoakan semua yang terkena dampak bencana alam ini. Bahkan di tengah kesulitan, kita mengingat sukacita Kristus yang telah bangkit, dan saya memohonkan atasmu dan keluargamu kerahiman Allah Bapa kita yang penuh kasih. Semoga Tuhan memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese lanjutan kita tentang kebajikan-kebajikan ilahi, yang mempersatukan kita dengan Allah dan memperkuat kebajikan-kebajikan moral, kita sekarang beralih kepada iman. Katekismus menyatakan bahwa oleh iman kita percaya akan Allah dan segala sesuatu yang telah Ia wahyukan kepada kita, dan secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada-Nya (bdk. No. 1814). Dalam seluruh Kitab Suci, kita menemukan contoh-contoh yang mengharukan tentang hal ini yang terwujud dalam kehidupan orang-orang seperti Abraham, Musa dan Santa Perawan Maria, yang memulai jalan yang belum terpetakan dan penuh bahaya dengan mempercayakan diri mereka sepenuhnya kepada Allah. Namun bahkan di antara orang-orang beriman, ada kalanya iman bisa goyah dan ketakutan semakin menguasai. Ingatlah bahwa iman adalah karunia, karunia yang harus dimohonkan dengan keyakinan akan kuasa kasih karunia Allah yang memberikan kestabilan dan kekuatan dalam hidup kita. Seperti murid-murid dalam perahu, yang diterpa topan yang dahsyat sekali di danau, marilah kita berpaling kepada Yesus setiap hari dan memohon kepada-Nya: “Tuhan, tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:5).

______

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Mei 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 24 April 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG KEBURUKAN DAN KEBAJIKAN (BAGIAN 16 : PERJUANGAN ROHANI) : KEHIDUPAN RAHMAT MENURUT ROH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam beberapa pekan terakhir kita telah merenungkan kebajikan utama: kesabaran, keadilan, keberanian, dan penguasaan diri. Keempatnya merupakan kebajikan utama. Sebagaimana telah kami tekankan beberapa kali, keempat kebajikan ini termasuk dalam kebijaksanaan yang sangat kuno bahkan sebelum kekristenan. Bahkan sebelum Kristus, kejujuran diajarkan sebagai kewajiban warga negara, kebijaksanaan sebagai aturan dalam bertindak, keberanian sebagai bahan dasar kehidupan yang cenderung menuju kebaikan, dan sikap moderat sebagai ukuran penting agar tidak terbebani oleh hal-hal yang berlebihan. Warisan yang begitu kuno, warisan kemanusiaan ini belum tergantikan oleh kekristenan, tetapi terfokus, ditingkatkan, dimurnikan, dan dipadukan dalam iman.

 

Oleh karena itu, dalam hati manusia terdapat kemampuan untuk mengupayakan kebaikan. Roh Kudus diberikan agar mereka yang menerimanya dapat dengan jelas membedakan yang baik dari yang jahat, mempunyai kekuatan untuk berpegang teguh pada kebaikan dengan menjauhi kejahatan, dan, dengan demikian, mencapai realisasi diri sepenuhnya.

 

Namun dalam perjalanan yang kita semua lakukan menuju kepenuhan hidup, yang merupakan takdir setiap orang – takdir setiap orang adalah kepenuhan, kepenuhan hidup – umat Kristiani menikmati pertolongan istimewa Roh Kudus, Roh Yesus. Pertolongan ini diwujudkan melalui karunia tiga kebajikan lain yang khas Kristiani, yang sering disebutkan bersama-sama dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru. Sifat-sifat dasariah yang menjadi ciri kehidupan umat Kristiani ini adalah tiga kebajikan yang sering kita bicarakan bersama-sama: iman, harapan, dan kasih.

 

Katakanlah bersama-sama: [bersama-sama] iman, harapan… Saya tidak mendengar apa pun! Lebih keras! [bersama-sama] Iman, harapan, dan kasih! Bagus!

 

Para penulis Kristiani segera menyebutnya sebagai kebajikan-kebajikan “ilahi”, sepanjang kebajikan-kebajikan tersebut diterima dan dihayati dalam hubungan dengan Allah, untuk membedakannya dari empat kebajikan lainnya, yang disebut “utama” sepanjang keempatnya merupakan “engsel” kehidupan yang baik. Kebajikan-kebajikan ini diterima dalam Pembaptisan dan berasal dari Roh Kudus. Kebajikan yang satu dan kebajikan yang lainnya, baik yang ilahi maupun yang utama, disatukan dalam begitu banyak permenungan sistematis, sehingga menghasilkan sebuah tulisan yang sangat indah, yang sering dikontraskan dengan daftar tujuh dosa yang mematikan. Beginilah cara Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan tindakan kebajikan-kebajikan teologis: “Kebajikan ilahi adalah tanda pengenal tindakan moral orang Kristen. Mereka membentuk dan menjiwai semua kebajikan moral. Mereka dicurahkan oleh Allah ke dalam jiwa umat beriman, untuk memungkinkan mereka bertindak sebagai anak-anak Allah dan memperoleh hidup abadi. Mereka adalah jaminan mengenai kehadiran dan kegiatan Roh Kudus dalam kemampuan manusia” (no. 1813).

 

Meskipun kebajikan-kebajikan utama memiliki risiko menghasilkan manusia yang heroik dalam berbuat baik, namun sendirian, terasing, karunia agung kebajikan-kebajikan ilahi adalah keberadaan yang dihidupi dalam Roh Kudus. Orang Kristen tidak pernah sendirian. Ia berbuat baik bukan karena upaya komitmen pribadi yang besar, tetapi karena, sebagai murid yang rendah hati, ia mengikuti jejak Yesus, Sang Guru. Ia berjalan maju. Umat Kristiani mempunyai kebajikan ilahi, yang merupakan penawar yang ampuh terhadap kecukupan diri. Betapa seringnya manusia tertentu yang tidak tercela secara moral mengambil risiko menjadi sombong dan angkuh di mata orang-orang yang mengenal mereka! Injil dengan tepat memperingatkan kita akan bahaya ini, ketika Yesus menasihati murid-muridnya: “Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna. Kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan” (Luk 17:10). Kesombongan adalah racun, racun yang kuat: setetes saja sudah cukup untuk menghancurkan seluruh kehidupan yang ditandai dengan kebaikan. Seseorang mungkin telah melakukan segunung perbuatan baik, mungkin telah menuai hormat dan pujian, namun jika ia melakukan semua ini hanya untuk dirinya sendiri, untuk meninggikan dirinya, apakah ia masih bisa menyebut dirinya orang yang melakukan kebajikan? Tidak!

 

Kebaikan bukan hanya sekadar tujuan, tetapi juga sarana. Kebaikan membutuhkan banyak kebijaksanaan, banyak kebaikan. Kebaikan terutama perlu dilucuti dari kehadiran ego kita yang terkadang terlalu rumit. Ketika “aku” kita menjadi pusat segalanya, segalanya menjadi hancur. Jika kita melakukan setiap tindakan dalam hidup hanya untuk diri kita sendiri, apakah motivasi ini begitu penting? “Aku” yang malang menguasai segalanya dan dengan demikian lahirlah kesombongan.

 

Untuk memperbaiki semua situasi ini, yang terkadang menyakitkan, kebajikan ilahi sangat membantu. Kebajikan ilahi terutama terjadi pada saat kita terjatuh, karena bahkan mereka yang memiliki niat moral yang baik pun terkadang terjatuh. Kita semua terjatuh dalam hidup, karena kita semua adalah orang berdosa. Sama seperti mereka yang mempraktikkan kebajikan setiap hari terkadang melakukan kesalahan; kita semua melakukan kesalahan dalam hidup: kecerdasan tidak selalu jernih, kemauan tidak selalu teguh, nafsu tidak selalu terkendali, keberanian tidak selalu mengalahkan rasa takut. Namun jika kita membuka hati kita terhadap Roh Kudus – Sang Penguasa kehidupan batin – Ia menghidupkan kembali kebajikan ilahi dalam diri kita: kemudian, jika kita kehilangan kepercayaan, Allah membuka kembali kita kepada iman; dengan kekuatan Roh, jika kita kehilangan kepercayaan, Allah membuka kembali kita kepada iman; jika kita putus asa, Allah membangkitkan harapan dalam diri kita; dan jika hati kita mengeras, Allah melunakkannya dengan kasih-Nya. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama yang berasal dari Inggris, Finlandia, India, Indonesia, Tanzania dan Amerika Serikat. Dalam sukacita Kristus yang bangkit, saya memohonkan atasmu dan keluargamu kerahiman Allah Bapa kita yang penuh kasih. Semoga Tuhan memberkati kamu semua!

Dan kemudian, pikiran tertuju pada Ukraina, Palestina, Israel, Myanmar, yang sedang berperang, dan banyak negara lainnya yang tersiksa. Perang selalu merupakan kekalahan, dan pihak yang paling diuntungkan adalah produsen senjata. Tolong, marilah kita berdoa untuk perdamaian; marilah kita berdoa untuk Ukraina yang tersiksa: negara ini sangat menderita. Paraq prajurit muda akan wafat... Marilah kita berdoa. Dan marilah kita juga berdoa untuk Timur Tengah, untuk Gaza: mereka sangat menderita di sana, akibat perang. Demi perdamaian antara Palestina dan Israel, agar mereka menjadi dua negara, bebas dan mempunyai hubungan baik. Marilah kita berdoa untuk perdamaian.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih, Dalam katekese lanjutan kita tentang kebajikan, kini kita beralih dari kebajikan utama menuju kebajikan ilahis. Seperti yang telah kita lihat, kebajikan utama adalah unsur penting dalam kehidupan yang baik. Namun kepenuhan hidup di dalam Kristus yang menjadi tujuan panggilan kita – tujuan akhir kita – hanya mungkin terjadi dengan menanamkan kebajikan iman, harapan dan kasih yang dianugerahkan kepada kita oleh Allah. Disebut ilahi karena menempatkan kita ke dalam hubungan yang dinamis dengan Allah Tritunggal, kebajikan ilahi membentuk dan menjiwai semua kebajikan moral. Mereka dicurahkan oleh Allah ke dalam jiwa umat beriman, untuk memungkinkan mereka memperoleh hidup kekal (Katekismus Gereja Katolik no. 1813). Semoga kita membuka diri kita kembali setiap hari terhadap kuasa Roh Kudus, dan memohon agar Ia menghidupkan kembali iman kita, membangkitkan kembali harapan kita dan melembutkan hati kita dengan kasih-Nya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 24 April 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 21 April 2024 : ARTI SANG GEMBALA MEMBERIKAN NYAWANYA BAGI DOMBA-DOMBANYA

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari Minggu ini didedikasikan untuk Yesus Sang Gembala yang baik. Dalam Bacaan Injil hari ini (bdk. Yoh 10:11-18), Yesus mengatakan kepada kita bahwa "Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya" (ayat 11). Ia sangat menekankan aspek ini sehingga Ia mengulanginya tiga kali (bdk. ayat 11, 15, 17). Namun dalam arti apa, saya bertanya kepada diri saya sendiri, sang gembala memberikan nyawanya bagi domba-dombanya?

 

Menjadi seorang gembala, khususnya pada zaman Kristus, bukan sekadar pekerjaan, namun merupakan cara hidup: gembala bukan pekerjaan yang menyita waktu tertentu, namun berarti berbagi sepanjang hari, dan bahkan malam pun juga, dengan domba-dombanya, hidup- menurut saya- bersimbiosis dengan mereka. Memang benar, Yesus menjelaskan bahwa Ia bukan seorang upahan yang tidak peduli terhadap domba-dombanya (bdk. ayat 13), melainkan seorang yang mengenal mereka (bdk. ayat 14): Ia mengenal domba-dombanya. Demikianlah, Ia, Tuhan, gembala kita semua, memanggil nama kita dan, ketika kita tersesat, Ia mencari kita sampai Ia menemukan kita (bdk. Luk 15:4-5). Terlebih lagi, Yesus bukan hanya seorang gembala yang baik yang ambil bagian dalam kehidupan domba-domba-Nya; Yesus adalah Gembala yang baik yang telah mengurbankan nyawa-Nya bagi kita dan memberikan Roh-Nya kepada kita melalui kebangkitan-Nya.

 

Inilah yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita melalui gambaran Gembala yang baik: Ia bukan hanya penuntun, pemimpin kawanan domba, tetapi yang terpenting Ia memikirkan setiap orang dari kita, dan Ia memikirkan kita masing-masing sebagai cinta kehidupan-Nya. Renungkanlah hal ini: bagi Kristus, aku penting, Ia memikirkanku, aku tak tergantikan, layak dengan harga nyawa-Nya yang tak terhingga. Dan ini bukan sekadar cara berbicara: Ia sungguh memberikan nyawa-Nya bagiku, Ia wafat dan bangkit kembali bagiku. Mengapa? Karena Ia mengasihiku dan Ia menemukan dalam diriku suatu keindahan yang sering kali tidak dilihat oleh diriku sendiri.

 

Saudara-saudari, betapa banyak orang dewasa ini yang menganggap diri mereka tidak memadai atau bahkan salah! Berapa kali kita berpikir bahwa nilai kita bergantung pada tujuan yang ingin kita capai, apakah kita berhasil di mata dunia, berdasarkan penilaian orang lain! Dan berapa kali kita akhirnya menyia-nyiakan diri untuk hal-hal sepele! Hari ini Yesus memberitahu kita bahwa kita selalu sangat berharga di mata-Nya. Jadi, untuk menemukan diri kita, hal pertama yang harus dilakukan adalah menempatkan diri kita di hadirat-Nya, membiarkan diri kita disambut dan diangkat oleh tangan Sang Gembala kita yang baik dan penuh kasih.

 

Saudara-saudari, marilah kita bertanya kepada diri kita: apakah aku dapat meluangkan waktu, setiap hari, untuk menerima kepastian yang memberi nilai pada hidupku? Dapatkah aku menemukan waktu untuk berdoa, menyembah, memuji, berada di hadirat Kristus dan membiarkan diriku dibelai oleh-Nya? Saudara-saudari, Sang Gembala yang baik memberitahu kita bahwa jika kamu melakukan hal ini, kamu akan menemukan kembali rahasia kehidupan: kamu akan mengingat bahwa Ia memberikan nyawa-Nya bagimu, bagiku, bagi kita semua. Dan bagi Dia, kita semua penting, setiap orang dari kita.

 

Semoga Bunda Maria membantu kita menemukan di dalam Yesus apa yang penting bagi kehidupan.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini kita merayakan Hari Panggilan Sedunia, yang bertema “Dipanggil untuk Menabur Benih Harapan dan Membangun Perdamaian”. Hari Panggilan Sedunia adalah kesempatan yang baik untuk menemukan kembali Gereja sebagai komunitas yang bercirikan orkestra karisma dan panggilan dalam pelayanan Injil. Dalam konteks ini, saya menyapa dengan tulus para imam baru Keuskupan Roma, yang ditahbiskan kemarin sore di Basilika Santo Petrus. Marilah kita mendoakan mereka!

 

Dengan penuh keprihatinan dan kesedihan saya terus memantau situasi di Timur Tengah. Saya kembali mengimbau agar tidak menyerah pada nalar balas dendam dan perang. Semoga jalan dialog dan diplomasi, yang dapat memberikan banyak manfaat, bisa terwujud. Setiap hari saya mendoakan perdamaian di Palestina dan Israel, serta saya berharap kedua bangsa ini dapat segera berhenti menderita. Dan jangan kita lupakan kemartiran Ukraina, kemartiran Ukraina yang sangat menderita karena perang.

 

Dengan penuh duka saya menerima berita meninggalnya Pastor Matteo Pettinari, seorang misionaris muda Consolata di Pantai Gading, dalam sebuah kecelakaan. Ia dikenal sebagai "misionaris yang tak kenal lelah," yang meninggalkan kesaksian luar biasa tentang pelayanannya yang murah hati. Marilah kita mendoakan jiwanya.

 

Saya menyapa dengan hangat kamui semua umat Roma dan para peziarah dari Italia dan pelbagai negara. Saya menyapa para Suster Apostoline dengan penuh kasih sayang: terima kasih atas pelayanan penuh sukacitamu dalam pelayanan panggilan! Saya menyapa umat dari Viterbo, Brescia, Alba Adriatica, dan Arezzo; serta Rotary Club Galatina Maglie e Terre d'Otranto, kaum muda dari Capocroce, kaum muda calon penerima sakramen krisma dari Azzano Mella, dan paroki Sant’Agnese Roma.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan saya menyapa para siswa Immacolata, bagus sekali! Tolong, jangan lupa mendoakanku. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 21 April 2024)