Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 30 Juni 2024 : DUA PEREMPUAN, DUA MUKJIZAT

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini menceritakan kepada kita tentang dua mukjizat yang tampaknya saling berkaitan. Ketika Yesus sedang dalam perjalanan menuju rumah Yairus, salah seorang kepala rumah ibadat yang putrinya sedang sakit parah, seorang perempuan yang menderita pendarahan menyentuh jubah-Nya dari belakang. Ia berhenti untuk menyembuhkannya. Sementara itu, kita diberitahu bahwa putri Yairus telah meninggal, namun Yesus tidak berhenti. Ia tiba di rumah, masuk ke kamar gadis itu, memegang tangannya, dan membesarkan hatinya, menghidupkannya kembali (Mrk 5:21-43). Dua mukjizat, yang satu mukjizat kesembuhan dan yang lainnya mukjizat kebangkitan.

 

Kedua penyembuhan ini diceritakan dalam perikop yang sama. Keduanya terjadi melalui kontak fisik. Benar saja, perempuan itu menyentuh jubah Yesus, dan Yesus memegang tangan gadis itu. Mengapa kontak fisik ini penting? Kedua perempuan ini dianggap najis dan karenanya tidak dapat disentuh secara fisik — yang satu karena kehilangan darah dan yang lainnya karena sudah meninggal. Namun, Yesus membiarkan diri-Nya disentuh dan tidak takut untuk disentuh. Bahkan sebelum melakukan penyembuhan fisik, Ia menantang keyakinan agama palsu bahwa Allah memisahkan yang kudus, menempatkan mereka di satu sisi, dan yang najis di sisi lain. Allah justru tidak melakukan pemisahan seperti ini, karena kita semua adalah anak-anak-Nya. Najis tidak berasal dari makanan, penyakit, atau bahkan kematian; najis berasal dari hati yang najis.

 

Marilah kita mengambil pelajaran ini: ketika menghadapi penderitaan jasmani dan rohani, ketika menghadapi luka-luka yang ditanggung jiwa kita, ketika menghadapi situasi yang menghancurkan kita, dan bahkan ketika kita menghadapi dosa, Allah tidak menjauhkan kita. Allah tidak malu terhadap kita; Allah tidak menghakimi kita. Sebaliknya, Ia mendekat untuk membiarkan diri-Nya disentuh dan menyentuh kita, dan Ia selalu membangkitkan kita dari kematian. Ia selalu menggandeng tangan kita untuk mengatakan: Hai, anak perempuan, hai anak laki-laki, bangunlah! (lbdk. Mrk 5:41). Berjalanlah ke depan; berusahalah maju! “Tuhan, aku orang berdosa”—

 

“Berusaha maju; Aku menjadi dosa karena engkau, untuk menyelamatkan engkau” – “Tetapi Engkau, ya Tuhan, bukan orang berdosa” – “Tidak, tetapi Aku telah menanggung segala akibat dosa untuk menyelamatkan Engkau.” Ini indah!

 

Marilah kita perbaiki gambaran yang ditawarkan Yesus dalam hati kita. Allahlah yang memegang tanganmu dan membangkitkanmu. Dialah yang membiarkan diri-Nya disentuh oleh rasa sakitmu dan menyentuhmu untuk menyembuhkanmu dan memberimu kehidupan kembali. Ia tidak membeda-bedakan siapa pun karena Ia mengasihi semua orang.

 

Jadi, kita bisa bertanya pada diri kita: percayakah kita bahwa Allah seperti itu? Apakah kita membiarkan diri kita disentuh oleh Tuhan, oleh sabda-Nya, oleh kasih-Nya? Apakah kita berhubungan dengan saudara-saudari kita dengan menawarkan bantuan untuk mengangkat mereka, atau apakah kita menjaga jarak dan memberi label pada orang berdasarkan selera dan kesukaan kita? Kita melabeli orang-orang. Perkenankan saya mengajukan pertanyaan kepadamu: Apakah Allah, Tuhan Yesus, melabeli orang-orang? Semoga semua orang menjawab pertanyaan ini. Apakah Allah melabeli manusia? Dan apakah aku hidup dengan terus-menerus melabeli orang lain?

 

Saudara-saudari, marilah kita memandang ke dalam hati Allah, sehingga Gereja dan masyarakat tidak boleh mengecualikan atau memperlakukan siapa pun sebagai “najis”, sehingga setiap orang, dengan masa lalunya masing-masing, disambut dan dicintai tanpa label, prasangka atau kata sifat.

 

Marilah kita berdoa melalui Perawan Suci. Semoga Ia, Bunda kelembutan, menjadi perantara kita dan seluruh dunia.


[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]


Saudara-saudari terkasih,

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan berbagai negara!

Secara khusus saya menyapa anak-anak Lingkaran Misioner “Misyjna Jutrzenka” dari Skoczów, Polandia; dan umat dari California dan Kosta Rika.

 

Saya menyapa para suster Putri Gereja, yang pada hari-hari ini sedang berziarah mengikuti jejak pendiri mereka, Venerabilis Maria Oliva Bonaldo, bersama dengan sekelompok umat awam. Saya juga menyapa kaum muda dari Gonzaga, dekat Mantua.

 

Hari ini kita mengingat para Protomartir Roma. Kita juga hidup di masa kemartiran, yang bahkan lebih parah dibandingkan abad-abad awal. Banyak saudara-saudari kita di berbagai belahan dunia menderita diskriminasi dan penganiayaan karena keyakinan mereka; dengan demikian mereka menyuburkan Gereja. Yang lainnya menghadapi kemartiran “sarung tangan putih”. Marilah kita mendukung mereka dan terinspirasi oleh kesaksian mereka akan kasih Kristus.

 

Pada hari terakhir bulan Juni ini, marilah kita memohon kepada Hati Kudus Yesus untuk menyentuh hati orang-orang yang menginginkan perang, agar mereka dapat beralih pada rencana dialog dan perdamaian.

 

Saudara-saudari, janganlah kita melupakan Ukraina yang bermartir, Palestina, Israel, Myanmar, dan banyak tempat lain di mana terdapat begitu banyak penderitaan akibat perang!

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat makan siang dan sampai jumpa! Terima kasih.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 30 Juni 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 29 Juni 2024 : DUA KUNCI PETRUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, dalam Bacaan Injil Yesus berkata kepada Simon, yang Ia beri nama Petrus, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga” (Mat 16:19). Inilah sebabnya mengapa kita sering melihat Santo Petrus digambarkan memegang dua kunci besar, seperti pada patung di Lapangan ini. Kedua kunci itu melambangkan pelayanan otoritas yang dipercayakan Yesus kepadanya dalam pelayanan seluruh Gereja. Karena otoritas adalah suatu pelayanan, dan otoritas yang bukan merupakan pelayanan adalah kediktatoran.

 

Namun, marilah kita berhati-hati agar dapat memahami dengan baik makna semua ini. Kunci Petrus sebenarnya adalah kunci Kerajaan, yang tidak digambarkan Yesus sebagai brankas atau lemari besi, tetapi dengan gambaran lain: benih yang kecil, mutiara yang berharga, harta terpendam, segenggam ragi (bdk. Mat 13:1-33), yaitu, seperti sesuatu yang berharga dan bernilai, tetapi sekaligus kecil dan tidak mencolok. Oleh karena itu, untuk mencapainya, kita tidak perlu mengoperasikan mekanisme dan kunci pengaman, tetapi memupuk kebajikan seperti kesabaran, perhatian, keteguhan, kerendahan hati, pelayanan.

 

Oleh karena itu, perutusan yang dipercayakan Yesus kepada Petrus bukan untuk menutup pintu rumah, hanya mengizinkan beberapa tamu terpilih untuk masuk, tetapi membantu setiap orang menemukan cara untuk masuk, dengan setia pada Injil Yesus. Untuk semua orang: semua orang, semua orang, semua orang bisa masuk.

 

Dan Petrus akan melakukan hal ini sepanjang hidupnya, dengan setia, hingga kematiannya sebagai martir, setelah menjadi orang pertama yang mengalaminya sendiri, bukannya tanpa kelelahan dan dengan banyak kemunduran, kegembiraan dan kebebasan yang berasal dari pertemuan dengan Tuhan. Ia adalah orang pertama yang harus bertobat, dan memahami bahwa otoritas adalah sebuah pelayanan, untuk membuka pintu bagi Yesus, dan itu tidak mudah baginya. Marilah kita berpikir: setelah berkata kepada Yesus, “Engkau adalah Mesias”, Sang Guru harus menegur Petrus, karena Petrus menolak menerima nubuat tentang sengsara dan kematian-Nya di kayu salib (bdk. Mat 16:21-23).

 

Petrus menerima kunci Kerajaan bukan karena ia sempurna, bukan: ia adalah orang berdosa; tetapi karena ia rendah hati, jujur, dan Bapa telah memberinya iman yang tulus (bdk. Mat 16:17). Oleh karena itu, dengan mempercayakan dirinya pada kerahiman Allah, ia mampu mendukung dan membentengi saudara-saudaranya juga, sebagaimana diminta darinya (lih. Luk 22:32).

 

Hari ini kita dapat bertanya pada diri kita: apakah aku memupuk keinginan untuk masuk, dengan anugerah Allah, ke dalam Kerajaan-Nya, dan dengan bantuan-Nya, menjadi penjaga yang ramah bagi orang lain juga? Dan untuk melakukannya, apakah aku membiarkan diriku “dipoles”, dilunakkan, diteladani oleh Yesus dan Roh-Nya, Roh yang bersemayam di dalam kita, di dalam diri kita masing-masing?

 

Semoga Maria, Ratu Para Rasul, serta Santo Petrus dan Santo Paulus, menganugerahkan kepada kita, melalui doa mereka, untuk menjadi penuntun dan dukungan satu sama lain dalam perjumpaan dengan Tuhan Yesus.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya menyapa kamu semua, yang datang pada Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, serta terutama saya menyapa umat Roma! Hari ini saya ingin salam saya menjangkau seluruh penduduk Roma, semuanya, bersamaan dengan doa saya; keluarga, terutama mereka yang paling mengalami kesulitan; para lansia, mereka yang paling kesepian; orang sakit, orang yang dipenjarakan, dan orang yang karena berbagai sebab berada dalam kesulitan. Saya berharap setiap orang dapat memiliki pengalaman seperti Petrus dan Paulus; yaitu agar kasih Yesus Kristus menyelamatkan hidup mereka dan mendorong mereka untuk memberi, mendorong mereka untuk memberi dengan sukacita, dengan cuma-cuma. Hidup tidak dijualbelikan.

 

Saya menyapa para Reguler Kanon Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, yang berkumpul di Roma untuk menghadiri Kapitel Umum; dan saya mengucapkan selamat kepada mereka atas pameran bunga yang luar biasa yang diselenggarakan oleh kelompok “Pro Loco” di Piazza Pio XII, yang diciptakan oleh para pakar bunga dari berbagai penjuru Italia. Terima kasih, terima kasih banyak! Saya bisa melihatnya dari sini, indah sekali!

 

Saya memikirkan saudara-saudari yang sedang menderita karena perang: marilah kita mendoakan semua penduduk yang terluka dan terancam oleh pertempuran, agar Allah dapat membebaskan dan mendukung mereka dalam perjuangan demi perdamaian. Dan saya bersyukur kepada Allah atas pembebasan kedua imam Katolik Yunani. Semoga semua tawanan perang ini segera pulang! Marilah kita berdoa bersama: semoga semua narapidana kembali ke rumah.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari raya. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Juni 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 26 Juni 2024 : KATEKESE DALAM RANGKA HARI MENENTANG PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN GELAP NARKOBA SEDUNIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi! Saya tidak bisa mendengarmu!

 

Hari ini diperingati sebagai Hari Menentang Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba Sedunia, yang ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1987. Tema tahun ini adalah Buktinya Jelas: Berinvestasi dalam Pencegahan.

 

Santo Yohanes Paulus II menegaskan, “Penyalahgunaan narkoba memiskinkan setiap komunitas di mana pun ia berada. Penyalahgunaan narkoba mengurangi jalinan kekuatan dan moral manusia. Penyalahgunaan narkoba melemahkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Penyalahgunaan narkoba menghancurkan keinginan untuk hidup dan berkontribusi terhadap masyarakat yang lebih baik.”[1] Di balik dorongan penyalahgunaan narkoba dan penggunaan narkoba, pada saat yang sama, marilah kita ingat bahwa setiap pecandu “memiliki kisah pribadi yang unik dan harus didengarkan, dipahami, dicintai, serta, sejauh mungkin, disembuhkan dan dimurnikan… Mereka terus memiliki, lebih dari sebelumnya, martabat sebagai anak-anak Allah.”[2] Setiap orang mempunyai martabat.

 

Namun, kita tidak bisa mengabaikan niat dan tindakan jahat para penyalur dan pengedar narkoba. Mereka adalah para pembunuh. Paus Benediktus XVI mengatakan dengan tegas saat berkunjung ke komunitas terapeutik. Inilah yang dikatakan Paus Benediktus: “Karena itu, saya mendesak para pengedar narkoba untuk merenungkan dampak buruk yang mereka timbulkan terhadap banyak generasi muda dan orang dewasa dari setiap lapisan masyarakat: Allah akan meminta pertanggungjawaban atas perbuatanmu. Martabat manusia tidak bisa diinjak-injak dengan cara seperti ini.” [3]Dan narkoba menginjak-injak martabat manusia.

 

Pengurangan kecanduan narkoba tidak dapat dicapai dengan meliberalisasi penggunaan narkoba – ini hanya khayalan! – sebagaimana telah diusulkan oleh beberapa negara, atau telah diterapkan di beberapa negara. Dengan kata lain: kamu melakukan liberalisasi dan narkoba semakin banyak dikonsumsi. Setelah mengetahui begitu banyak kisah tragis para pecandu narkoba dan keluarganya, saya yakin bahwa mengakhiri produksi dan perdagangan zat-zat berbahaya ini merupakan kewajiban moral. Berapa banyak pengedar kematian – karena pengedar narkoba adalah pengedar kematian! – betapa banyaknya penyelundup kematian, yang didorong oleh nalar kekuasaan dan uang dengan cara apa pun! Dan bencana ini, yang menghasilkan kekerasan dan menabur penderitaan dan kematian, menuntut tindakan berani dari masyarakat kita secara keseluruhan.

 

Produksi dan perdagangan narkoba juga berdampak merusak rumah tangga kita bersama. Hal ini semakin nyata, misalnya di lembah Amazon.

 

Cara penting lainnya untuk menentang penyalahgunaan dan peredaran narkoba adalah melalui pencegahan, yang dilakukan dengan mendorong keadilan yang lebih besar, mendidik generasi muda mengenai nilai-nilai yang membangun kehidupan pribadi dan bermasyarakat, mendampingi mereka yang membutuhkan, dan memberikan harapan untuk masa depan.

 

Dalam perjalanan saya di berbagai keuskupan dan negara, saya mengunjungi beberapa komunitas pemulihan yang diilhami oleh Injil. Perjalanan tersebut adalah kesaksian yang kuat dan penuh harapan atas komitmen para imam, para pelaku hidup bakti, dan kaum awam untuk mengamalkan perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati. Saya juga merasa terhibur dengan upaya yang dilakukan oleh berbagai konferensi wali Gereja untuk mendorong legislasi dan kebijakan yang adil mengenai perlakuan terhadap orang-orang yang kecanduan narkoba, dan pencegahan untuk menghentikan momok ini.

 

Sebagai contoh, saya merujuk pada jaringan La Pastoral Latinoamericana de Acompañamiento y Prevençión de Adicciones (PLAPA). Piagam jaringan ini mengakui bahwa “kecanduan alkohol, zat psikoaktif, dan bentuk kecanduan lainnya (pornografi, teknologi baru, dll.) ... adalah masalah yang mempengaruhi kita tanpa pandang bulu, melampaui batas geografis, sosial, budaya, agama, dan perbedaan usia. Terlepas dari perbedaan... kita ingin berorganisasi sebagai sebuah komunitas: berbagi pengalaman, antusiasme, kesulitan.”[4]

 

Saya juga menyebut para uskup di Afrika bagian selatan, yang pada bulan November 2023 mengadakan pertemuan dengan tema “Memberdayakan kaum muda sebagai agen perdamaian dan harapan.” Perwakilan kaum muda yang hadir mengakui pertemuan tersebut sebagai “tonggak penting yang diarahkan menuju kaum muda yang sehat dan aktif di seluruh wilayah.” Mereka juga telah berjanji. Janji mereka berbunyi seperti ini: “Kami menerima peran sebagai duta dan pengacara yang akan berjuang menentang penggunaan narkoba. Kami mengimbau seluruh generasi muda untuk selalu saling berempati setiap saat.”[5]

 

Saudara-saudari terkasih, dihadapkan pada hal yang tragis – sungguh tragis bukan? – situasi tragis kecanduan narkoba yang dialami jutaan orang di seluruh dunia, dihadapkan pada skandal produksi dan peredaran gelap narkoba, “kita tidak bisa bersikap acuh tak acuh. Tuhan Yesus berhenti, mendekat, menyembuhkan luka. Dalam gaya kedekatan-Nya, kita juga dipanggil untuk bertindak, berhenti sejenak di hadapan situasi kerapuhan dan kesakitan, mengetahui bagaimana mendengarkan jeritan kesepian dan kesedihan, membungkuk untuk mengangkat dan menghidupkan kembali mereka yang terjatuh ke dalam keterpurukan. perbudakan narkoba.”[6] Dan kita juga mendoakan para penjahat yang membelanjakan dan memberikan narkoba kepada generasi muda: mereka adalah penjahat, mereka adalah pembunuh. Marilah kita mendoakan pertobatan mereka.

 

Pada Hari Narkoba Sedunia ini, sebagai umat kristiani dan komunitas gereja, marilah kita mendoakan ujud ini serta memperbarui komitmen kita dalam berdoa dan bekerja menentang narkoba. Terima kasih!

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris, terutama kelompok dari Inggris, Jerman, Kongo, Australia, India, Filipina, Vietnam dan Amerika Serikat. Secara khusus, saya menyapa banyak kelompok siswa, bersama dengan guru-guru mereka. Bagimu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kamu semua!

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Hari ini kita merayakan Hari Menentang Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba Sedunia, yang tahun ini berkonsentrasi pada perlunya “Berinvestasi dalam Pencegahan”. Kecanduan narkoba adalah sebuah momok sosial, yang tidak hanya menghancurkan martabat kemanusiaan orang-orang yang terlibat, namun juga kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Selain memerangi peredaran gelap narkoba dan kejahatan yang ditimbulkannya, diperlukan upaya yang lebih besar untuk mencegah penyalahgunaan narkoba dan memberikan dukungan serta bantuan kepada para korbannya. Hari ini kita memberikan penghormatan atas segala upaya semua individu dan kelompok yang, sering kali terinspirasi oleh Injil, memberikan kesembuhan bagi mereka yang diperbudak oleh penyalahgunaan narkoba, membangun jaringan dan program pemulihan, dan mendorong prakarsa legislatif untuk mengendalikan penyebaran penggunaan narkoba, khususnya di kalangan kaum muda. Sebagai individu dan Gereja, marilah kita memberikan dukungan doa dan mendorong mereka dalam berkarya.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 27 Juni 2024)



[1]Pesan kepada perwakilan Konferensi Internasional tentang “Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba” (4 Juni 1987).

[2]Wejangan bagi para peserta pertemuan yang disponsori oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan tentang “Narkotika: Masalah dan Solusi untuk Masalah Global ini (24 November 2016).

[3]Wejangan bagi komunitas yang tinggal di “Fazenda da Esperança”, Brasil, 12 Mei 2007.

[4]https://adn.celam.org/wp-content/uploads/2023/09/Carta-a-la-Iglesia-de-ALC-PLAPA-14sept2023-CL.pdf

[5]https://imbisa.africa/2023/11/21/statement-following-the-imbisa-youth-meeting/

[6]Pesan kepada peserta Kongres Internasional Ahli Toksikologi Forensik ke-60 (26 Agustus 2023).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 23 Juni 2024 : SAAT BADAI DATANG, APAKAH AKU MEMBIARKAN DIRIKU DILIPUTI OLEH GEJOLAK ATAU AKU BERPEGANG TEGUH PADA YESUS?

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini menghadirkan Yesus di atas perahu bersama para murid-Nya, di Danau Tiberias. Topan yang dahsyat sekali tiba-tiba datang dan perahu terancam tenggelam. Yesus yang tertidur, bangun, menghardik angin dan segalanya menjadi teduh kembali (bdk. Mrk 4:35-41).

 

Namun sungguh, Ia tidak membangunkan, mereka membangunkan Dia! Dengan sangat ketakutan, para muridlah yang membangunkan Yesus. Malam sebelumnya, Yesus sendiri yang menyuruh murid-murid-Nya naik ke perahu dan menyeberangi danau. Mereka adalah para ahli, para nelayan, dan itu adalah lingkungan hidup mereka, namun topan dapat menyulitkan mereka. Tampaknya Yesus ingin menguji mereka. Namun, Ia tidak membiarkan mereka sendirian; Ia tinggal bersama mereka di dalam perahu, tenang; bahkan Ia tertidur. Dan ketika topan melanda, Ia menenangkan mereka dengan kehadiran-Nya, Ia menyemangati mereka, Ia mendorong mereka untuk semakin beriman dan mendampingi mereka mengatasi bahaya. Namun kita dapat mengajukan pertanyaan ini: mengapa Yesus bertindak seperti ini?

 

Untuk menguatkan iman para murid dan menjadikan mereka lebih berani. Memang benar, mereka – para murid – yang keluar dari pengalaman ini menjadi lebih sadar akan kuasa Yesus dan kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka, dan karena itu lebih kuat dan lebih siap menghadapi rintangan, kesulitan, termasuk perasaan takut untuk keluar mewartakan Injil. Setelah mengatasi pencobaan ini bersama Dia, mereka akan tahu bagaimana menghadapi banyak pencobaan lainnya, bahkan sampai disalibkan dan menjadi martir, untuk membawa Injil kepada segala bangsa.

 

Dan Yesus juga melakukan hal yang sama kepada kita, khususnya dalam Ekaristi: Ia mengumpulkan kita di sekeliling-Nya, Ia memberi kita Sabda-Nya, Ia memberi makan dengan tubuh dan darah-Nya, dan kemudian Ia mengundang kita untuk berlayar, menyampaikan segala sesuatu yang telah kita dengar. dan membagikan apa yang telah kita terima kepada semua orang, dalam kehidupan sehari-hari, bahkan ketika sulit sekalipun. Yesus tidak membiarkan kita menghadapi pertentangan, namun tanpa pernah meninggalkan kita, Ia membantu kita menghadapinya. Ia membuat kita berani. Jadi kita pun, dengan mengatasinya dengan bantuan-Nya, belajar lebih banyak lagi untuk berpegang pada-Nya, percaya kepada kuasa-Nya, yang jauh melampaui kemampuan kita, mengatasi ketidakpastian dan keragu-raguan, ketertutupan dan prasangka, dan Ia melakukan hal ini dengan keberanian dan keagungan. dari hati, untuk memberitahu semua orang bahwa Kerajaan Surga telah hadir, ada di sini, dan dengan Yesus berada di samping kita, kita dapat membuatnya bertumbuh bersama, melampaui segala rintangan.

 

Maka marilah kita bertanya pada diri kita: pada saat-saat pencobaan, dapatkah aku mengingat saat-saat ketika aku pernah mengalami, dalam hidupku, kehadiran dan pertolongan Tuhan? Marilah kita renungkan… Saat badai datang, apakah aku membiarkan diriku diliputi oleh gejolak atau aku berpegang teguh pada-Nya – badai batin ini, bukan? – apakah aku berpegang teguh pada-Nya untuk menemukan ketenangan dan kedamaian, dalam doa, keheningan, mendengarkan Sabda, penyembahan dan berbagi iman dalam persaudaraan?

 

Semoga Perawan Maria, yang menyambut kehendak Allah dengan kerendahan hati dan keberanian, memberi kita, di saat-saat sulit, ketenangan pembebasan di dalam Dia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan berbagai negara.

 

Secara khusus, saya menyapa umat Sant Boi de Llobregat, Barcelona, ​​dan umat Bari. Saya menyapa para peserta demonstrasi Memilih Kehidupan, Paduan Suara Edelweiss Bagian Alpen Bassano del Grappa, dan para pesepeda dari Bollate.

 

Marilah kita terus mendoakan perdamaian, khususnya di Ukraina, Palestina, dan Israel. Saya dapat melihat bendera Israel… Hari ini saya melihatnya di balkon rumahmu ketika saya datang dari Gereja Santi Quaranta Martiri – sebuah seruan untuk perdamaian! Marilah kita mendoakan perdamaian! Palestina, Gaza, Kongo Utara… marilah kita mendoakan perdamaian! Dan perdamaian di Ukraina yang tersiksa, yang sangat menderita, perkenankanlah ada perdamaian! Semoga Roh Kudus mencerahkan pikiran para pemimpin pemerintahan, mengilhami kebijaksanaan dan rasa tanggung jawab dalam diri mereka, menghindari tindakan atau perkataan apa pun yang dapat memicu konfrontasi, dan sebaliknya berupaya dengan tegas untuk menyelesaikan pertikaian secara damai. Dibutuhkan negosiasi.

 

Kemarin lusa, Pastor Manuel Blanco, seorang Fransiskan yang telah tinggal di Gereja Santi Quaranta Martiri e San Pasquale Baylon di Roma selama empat puluh empat tahun, meninggal dunia. Ia adalah seorang superior, seorang bapa pengakuan, seorang penasihat. Dengan mengenangnya, saya ingin mengenang begitu banyak saudara Fransiskan, bapa pengakuan, pengkhotbah, yang dihormati dan menghormati Gereja Roma. Terima kasih untuk mereka semua!

 

Dan kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Juni 2024)