Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 6 November 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 12 : ROH KUDUS MENJADI PENGANTARA KITA. ROH KUDUS DAN DOA KRISTIANI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Tindakan pengudusan Roh Kudus, selain sabda Allah dan sakramen-sakramen, terungkap dalam doa, dan untuk itulah kita ingin mempersembahkan perrnenungan hari ini: doa. Roh Kudus adalah subjek sekaligus objek doa kristiani. Artinya, Dialah yang memberikan doa dan Dialah yang diberikan melalui doa. Kita berdoa untuk menerima Roh Kudus, dan kita menerima Roh Kudus agar dapat berdoa dengan sungguh-sungguh, yaitu, sebagai anak-anak Allah, bukan sebagai hamba. Marilah kita sedikit memikirkan hal ini: berdoalah sebagai anak-anak Allah, bukan sebagai hamba. Kita harus selalu berdoa dengan kebebasan. “Hari ini saya harus berdoa untuk ini, ini, dan ini, karena saya telah berjanji untuk ini, ini dan ini. Kalau tidak, saya akan masuk neraka”. Tidak, itu bukan doa! Doa itu bebas. Kamu berdoa ketika Roh Kudus membantumu untuk berdoa. Kamu berdoa ketika kamu merasakan kebutuhan untuk berdoa di dalam hatimu, dan ketika kamu tidak merasakan apa pun, kamu berhenti dan bertanya, “Mengapa aku tidak merasakan keinginan untuk berdoa? Apa yang sedang terjadi dalam hidupku?”. Namun, spontanitas dalam doa selalu menjadi hal yang paling membantu kita. Inilah yang dimaksud dengan berdoa sebagai anak-anak, bukan sebagai hamba.


Pertama-tama, kita harus berdoa untuk menerima Roh Kudus. Dalam hal ini, Yesus memiliki perkataan yang sangat tepat dalam Injil: "Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya?" (Luk 11:13). Setiap orang, kita masing-masing, tahu bagaimana memberi hal yang baik kepada anak-anak kecil, entah itu anak-anak kita, kakek-nenek kita, atau teman-teman kita. Anak-anak kecil selalu menerima hal yang baik dari kita. Namun, Bapa tidak akan memberikan Roh Kudus kepada kita? Dan ini seharusnya memberi kita keberanian untuk terus maju dengan hal ini. Dalam Perjanjian Baru, kita melihat Roh Kudus selalu turun selama doa. Ia turun ke atas Yesus dalam pembaptisan di Sungai Yordan, ketika Ia "sedang berdoa" (Luk 3:21), dan Ia turun pada hari Pentakosta ke atas para murid, ketika mereka "bertekun dengan sehati dalam doa" bersama (Kis 1:14).



Itulah satu-satunya "kekuatan" yang kita miliki atas Roh Allah. Kekuatan doa: Ia tidak menentang doa. Kita berdoa, dan Ia datang. Di Gunung Karmel, para nabi palsu Baal – ingat perikop Kitab Suci tersebut – berusaha untuk meminta api dari surga untuk persembahan mereka, tetapi tidak terjadi apa-apa, karena mereka adalah penyembah berhala, mereka menyembah Allah yang tidak ada. Elia mulai berdoa, dan api turun dan membakar persembahan (lih. 1 Raj 18:20-38). Gereja mengikuti contoh ini dengan setia: Gereja selalu memohon “Datanglah! Datanglah!” kepada Roh Kudus, “Datanglah”, setiap kali Gereja menyapa Roh Kudus. Dan Gereja melakukan ini terutama dalam Misa, agar Ia sudi turun seperti embun serta menguduskan roti dan anggur untuk kurban Ekaristi.



Namun ada aspek lain, yang paling penting dan memberi semangat bagi kita: Roh Kudus adalah sosok yang memberi kita doa yang benar. Santo Paulus menegaskan hal ini: “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita. Sebab, kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, memohon untuk orang-orang kudus.” (bdk. Rm 8:26-27).


Benar, kita tidak tahu bagaimana berdoa, kita tidak tahu. Kita harus belajar setiap hari. Alasan di balik kelemahan doa kita ini diungkapkan di masa lalu hanya dalam satu kata, yang digunakan dalam tiga cara berbeda: sebagai kata sifat, sebagai kata benda, dan sebagai kata keterangan. Mudah diingat, bahkan bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Latin, dan perlu diingat, karena kata itu sendiri mengandung seluruh risalah, ketiga hal ini. Kita manusia, menurut pepatah itu, “mali, mala, male petimus”, yang artinya, karena kita jahat (mali), kita meminta hal-hal yang salah (mala) dan dengan cara yang salah (male). Yesus berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah … dan semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33); sebaliknya, kita mencari hal-hal yang lebih, yaitu kepentingan kita – berkali-kali – dan kita sama sekali lupa untuk meminta Kerajaan Allah. Marilah kita meminta Kerajaan Allah kepada Tuhan, dan segala sesuatu akan datang bersama-Nya.

 

Ya, Roh Kudus datang untuk menolong kita dalam kelemahan kita, tetapi Ia melakukan sesuatu yang lebih penting lagi: Ia bersaksi kepada kita bahwa kita adalah anak-anak Allah dan menempatkan pada bibir kita: “Ya Abba, ya Bapa!” (Rm 8:15; Gal 4:6). Kita tidak dapat mengatakan “Ya Abba, ya Bapa!”. Kita tidak dapat mengatakan “Bapa” tanpa kekuatan Roh Kudus. Doa kristiani bukan manusia di satu ujung telepon, berbicara kepada Allah di ujung yang lain; tidak, justru Allah yang berdoa di dalam diri kita! Kita berdoa kepada Allah melalui Allah. Berdoa berarti menempatkan diri di dalam Allah, agar Allah masuk ke dalam diri kita.

 

Justru dalam doa, Roh Kudus dinyatakan sebagai “Parakletos”, yaitu pengacara dan pembela. Ia tidak menuduh kita di hadapan Bapa, tetapi membela kita. Ya, Ia membela kita, Ia menginsafkan kita akan kenyataan bahwa kita adalah orang berdosa (lih. Yoh 16:8), tetapi Ia melakukannya untuk membuat kita mampu menikmati sukacita belas kasihan Bapa, bukan untuk menghancurkan kita dengan perasaan bersalah yang sia-sia. Bahkan ketika hati kita mencela kita karena sesuatu, Ia mengingatkan kita bahwa "Allah lebih besar daripada hati kita" (1 Yoh 3:20). Allah lebih besar dari dosa kita. Kita semua adalah orang berdosa, tetapi pikirkan: mungkin beberapa dari kamu - saya tidak tahu - sangat takut karena hal-hal yang telah mereka lakukan, takut dicela oleh Allah, takut akan banyak hal dan tidak dapat menemukan kedamaian. Berdoalah, berserulah kepada Roh Kudus, dan Ia akan mengajarmu bagaimana memohon pengampunan. Dan apakah kamu tahu sesuatu? Allah tidak tahu banyak tata bahasa, dan ketika kita memohon pengampunan, Ia tidak membiarkan kita menyelesaikannya! "Karena..." dan di sana, Ia tidak membiarkan kita menyelesaikan kata pengampunan. Ia mengampuni kita terlebih dahulu, Ia selalu mengampuni, dan Ia selalu berada di samping kita untuk mengampuni kita, sebelum kita melengkapi kata pengampunan. Kita berkata “Karena…” dan Bapa selalu mengampuni kita.

 

Roh Kudus menjadi pengantara dan pada gilirannya Ia juga mengajarkan kita bagaimana menjadi pengantara saudara-saudari kita – Ia menjadi pengantara kita dan mengajarkan kita bagaimana menjadi pengantara sesama kita. Ia mengajarkan kita doa pengantaraan: mendoakan orang ini, mendoakan orang sakit itu, orang yang berada di dalam penjara, berdoa… bahkan mendoakan ibu mertua kita! Dan berdoalah, selalu. Selalu. Doa ini khususnya berkenan kepada Allah, karena doa ini adalah doa yang paling cuma-cuma dan altruistis. Ketika seseorang mendoakan setiap orang, terjadilah – sebagaimana biasa dikatakan Santo Ambrosius – setiap orang mendoakan seseorang; doa berlipat ganda.[1] Begitulah doa. Ini adalah tugas yang sangat berharga dan perlu di dalam Gereja, khususnya selama masa persiapan untuk Yubelium ini: mempersatukan diri kita dengan Sang Penghibur yang “menjadi pengantara kita semua sesuai dengan rencana Allah”. Tetapi janganlah berdoa seperti burung beo, saya mohon! Jangan berkata, “Blah, blah, blah…”. Tidak. Katakanlah “Tuhan”, tetapi katakan dengan hatimu. “Tolonglah aku, Tuhan”, “Tuhan, aku mengasihi-Mu." Dan ketika kamu mendoakan Doa Bapa Kami, ucapkanlah “Bapa, Engkau adalah Bapaku”. Berdoalah dengan hati, bukan dengan bibir; jangan seperti burung beo.

 

Semoga Roh Kudus membantu kita dalam doa, yang sangat kita butuhkan. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah berbahasa Inggris, khususnya kelompok dari Inggris, Ghana, Malaysia, Filipina, dan Amerika Serikat. Saya juga menyapa para imam yang datang dari Inggris dan Wales, yang sedang merayakan ulang tahun penting tahbisan imamat. Atas kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih:

 

Dalam katekese lanjutan kita tentang Roh Kudus dalam kehidupan Gereja, kita sekarang membahas peranan Roh dalam doa. Dalam Injil, Yesus mengajarkan kita untuk berdoa memohon karunia Roh Kudus, yang tinggal di dalam hati kita dan bersaksi bahwa, dalam persatuan dengan Tuhan yang bangkit, kita benar-benar putra dan putri Bapa surgawi kita. Dibimbing oleh Roh Kudus, kita benar-benar berdoa sebagaimana mestinya, baik secara pribadi maupun dalam perayaan Liturgi Gereja. Sebagai "Parakletos", Pembela dan Penghibur kita, Roh Kudus tidak hanya menjadi pengantara kita, tetapi juga memampukan kita, dalam kesatuan tubuh mistik Kristus, untuk melakukan hal yang sama bagi kebutuhan saudara-saudari kita. Saat kita menantikan Tahun Suci yang akan datang, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk menganugerahkan kepada kita, dan kepada seluruh keluarga manusia, karunia kekudusan, kesatuan, keadilan, dan kedamaian-Nya.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 6 November 2024)



[1] De Cain et Abel, I, 39.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 3 November 2024 : KASIH ADALAH SUMBER SEGALANYA

Saudara dan saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini (Mrk 12:28-34) menceritakan kepada kita tentang salah satu dari sekian banyak diskusi yang dilakukan Yesus di Bait Suci Yerusalem. Salah seorang ahli Taurat datang kepada-Nya dan bertanya, "Perintah manakah yang paling utama?" (ayat 28). Yesus menanggapinya dengan menyatukan dua kalimat dasariah yang terdapat dalam hukum Musa: "Kasihilah Tuhan, Allahmu" dan "Kasihilah sesamamu manusia" (ayat 30-31).

 

Dengan pertanyaannya, ahli Taurat mencari perintah yang "utama", yaitu prinsip yang mendasari semua perintah; orang Yahudi mempunyai banyak ajaran dan mencari dasar dari semua ajaran itu, suatu ajaran yang dasariah; mereka berusaha menyepakati hal yang dasariah, dan terjadilah diskusi di antara mereka, diskusi yang bagus karena mencari kebenaran. Dan pertanyaan ini penting bagi kita juga, bagi kehidupan kita dan perjalanan iman kita. Memang benar, kita juga terkadang merasa tersesat di antara banyak hal, dan bertanya pada diri sendiri: namun, pada akhirnya, apa hal yang paling penting? Di manakah aku dapat menemukan pusat kehidupanku, pusat imanku? Yesus memberi kita jawabannya, dengan menyatukan dua perintah yang utama: mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Dan inilah inti iman kita.

 

Kita semua – sebagaimana kita ketahui – perlu kembali ke hati kehidupan dan iman, karena hati adalah “sumber radikal kekuatan, keyakinan setiap orang” (Ensiklik Dilexit Nos, 9). Dan Yesus mengatakan kepada kita bahwa sumber segala sesuatu adalah kasih, bahwa kita tidak boleh memisahkan Allah dari manusia. Tuhan mengatakan kepada murid-murid-Nya di setiap masa: dalam perjalananmu, yang penting bukanlah perbuatan lahiriah, seperti kurban bakaran dan kurban sembelihan (ayat 33), melainkan kesiapan hati yang membuat kamu membuka diri kepada Allah dan kepada sesama dalam kasih. Saudara-saudari, kita dapat melakukan banyak hal, namun melakukannya hanya untuk diri kita sendiri dan tanpa kasih, dan ini tidak akan berhasil; kita melakukannya dengan hati yang teralih atau bahkan dengan hati yang tertutup, dan ini tidak akan berhasil. Segala sesuatu harus dilakukan dengan kasih.

 

Tuhan akan datang, dan Ia akan bertanya kepada kita pertama dan terutama tentang kasih: "Bagaimana kamu mengasihi?". Maka, sangatlah penting untuk menanamkan dalam hati kita perintah yang paling penting. Apa itu? Mengasihi Tuhan, Allahmu, dan mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Dan melakukan pemeriksaan hati nurani setiap hari dan bertanya pada diri sendiri: apakah mengasihi Allah dan sesama adalah pusat hidupku? Apakah doaku kepada Allah mendorongku untuk pergi menemui saudara-saudariku dan mengasihi mereka tanpa pamrih? Apakah aku mengenali kehadiran Tuhan dalam wajah sesamaku?

 

Semoga Perawan Maria, yang mengandung hukum Allah yang bersemayam dalam hatinya yang tak bernoda, membantu kita untuk mengasihi Tuhan dan saudara-saudari kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan banyak negara lainnya!

 

Saya menyapa para Suster Misionaris Karmel Roh Kudus, yang sedang merayakan ulang tahun kedua puluh lima persaudaraan sekuler mereka; saya menyapa umat Venesia, Pontassieve, Barberino del Mugello, Empoli dan Palermo, dan umat Santa Maria alle Fornaci Roma; serta para remaja Catanzaro bersama para pendidik paroki mereka.

 

Saya menyapa para donor darah dari Coccaglio, Brescia, dan kelompok Emergency Rome South, yang berkomitmen untuk mengingatkan Pasal 11 Konstitusi Italia, yang mengatakan: “Italia menolak perang sebagai perangkat agresi terhadap kebebasan bangsa lain dan sebagai sarana untuk penyelesaian perselisihan internasional”. Ingatlah artikel ini! Lanjutkan!

 

Dan semoga prinsip ini diterapkan di seluruh dunia: semoga perang disingkirhkan serta permasalahan diselesaikan melalui hukum dan negosiasi. Biarkan senjata dibungkam dan berikan ruang untuk berdialog. Marilah kita berdoa untuk Ukraina, Palestina, Israel, Myanmar, dan Sudan Selatan yang tersiksa.

 

Dan marilah kita terus berdoa untuk Valencia, dan komunitas lain di Spanyol, yang sangat menderita saat ini. Apa yang harus kulakukan untuk masyarakat Valencia? Apakah aku berdoa? Apakah aku menawarkan sesuatu? Pikirkanlah pertanyaan ini.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya. Dan jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 November 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 November 2024 : KARUNIA DAN TANGGAPAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, dan selamat hari raya!

 

Hari ini, pada Hari Raya Semua Orang Kudus, dalam Bacaan Injil (lih. Mat 5:1-12), Yesus menyatakan kartu jatidiri orang kristiani. Dan apakah kartu jatidiri orang kristiani itu? Sabda Bahagia. Sabda Bahagia adalah kartu jatidiri kita, dan juga jalan kekudusan (lih. Anjuran Apostolik Gaudete et Exsultate, 63). Yesus menunjukkan kepada kita sebuah jalan, jalan kasih, yang pertama-tama Ia tempuh dengan menjadikan diri-Nya manusia, dan yang bagi kita merupakan karunia Allah sekaligus tanggapan kita. Karunia dan tanggapan.

 

Merupakan karunia Allah karena, sebagaimana dikatakan Santo Paulus, Dialah yang menguduskan (lih. 1 Kor 6:11). Dan inilah sebabnya Tuhan adalah yang pertama kita minta untuk menjadikan diri kita kudus, menjadikan hati kita serupa dengan Dia (lih. Ensiklik Dilexit Nos, 168). Dengan rahmat-Nya, Ia menyembuhkan kita dan membebaskan kita dari semua yang menghalangi kita untuk mengasihi sebagaimana Dia mengasihi kita (lih. Yoh 13:34), sehingga di dalam diri kita, sebagaimana biasa dikatakan Beato Carlo Acutis, selalu ada "sedikit ruang bagi Allah dalam diriku".

 

Dan ini membawa kita ke poin kedua: tanggapan kita. Bapa surgawi memang menawarkan kepada kita kekudusan-Nya, tetapi Ia tidak memaksakannya. Ia menaburkannya di dalam diri kita, Ia membuat kita merasakan cita rasanya dan melihat keindahannya, tetapi kemudian Ia menunggu tanggapan kita. Ia mewariskan kita kebebasan untuk mengikuti inspirasi-Nya yang baik, membiarkan diri kita terlibat dalam rencana-Nya, menjadikan kepekaan perasaan-Nya sebagai kepekaan perasaan kita (lih. Dilexit Nos, 179), menempatkan diri kita, seperti yang Ia ajarkan kepada kita, dalam pelayanan kepada sesama, dengan kasih yang semakin universal, terbuka dan ditujukan kepada semua orang, kepada seluruh dunia.

 

Kita melihat semua ini dalam kehidupan para kudus, bahkan di zaman kita. Pikirkan, misalnya, Santo Maximilian Kolbe, yang di Auschwitz meminta untuk menggantikan seorang kepala keluarga, yang dihukum mati; atau Santa Teresa dari Kalkuta, yang menghabiskan hidupnya dalam pelayanan kepada orang-orang paling miskin; atau Uskup Santo Oscar Romero, yang dibunuh di altar karena membela hak-hak orang kecil terhadap penyalahgunaan para penindas mereka. Dan dengan cara ini kita dapat membuat daftar banyak orang kudus, banyak dari mereka: mereka yang kita hormati di altar dan yang lainnya, yang saya suka sebut orang kudus "pintu sebelah", orang-orang sehari-hari, tersembunyi, yang berkembang dalam kehidupan kristiani mereka sehari-hari. Saudara-saudari, betapa banyak kekudusan tersembunyi di dalam Gereja! Kita mengenali begitu banyak saudara-saudari kita yang dibentuk oleh Sabda Bahagia: miskin, lemah lembut, berbelas kasihan, lapar dan haus akan keadilan, pekerja perdamaian. Mereka adalah orang-orang yang "dipenuhi dengan Allah", tidak mampu untuk tetap acuh tak acuh terhadap kebutuhan sesama mereka; mereka adalah saksi-saksi jalan yang bersinar, yang mungkin juga bagi kita.

 

Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, sekarang: apakah aku memohon kepada Allah, dalam doa, karunia kehidupan yang kudus? Apakah aku membiarkan diriku dibimbing oleh dorongan-dorongan baik yang diilhami oleh Roh-Nya dalam diriku? Dan apakah aku secara pribadi berkomitmen untuk mengamalkan Sabda Bahagia Injil, di lingkungan tempat tinggalku? Semoga Maria, Ratu Semua Orang Kudus, membantu kita menjadikan hidup kita sebagai jalan kekudusan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya menyampaikan rasa kedekatan saya dengan rakyat Chad, khususnya keluarga korban serangan teroris beberapa hari lalu, serta mereka yang terkena dampak banjir. Dan, berbicara tentang bencana lingkungan ini, marilah kita mendoakan penduduk semenanjung Iberia, khususnya masyarakat Valencia, yang dilanda badai “DANA”: mereka yang meninggal dan orang-orang yang mereka kasihi, serta semua keluarga yang menjadi korban. Semoga Tuhan menopang mereka yang sedang menderita, dan mereka yang sedang memberikan bantuan. Kita dekat dengan penduduk Valencia.

 

Dengan penuh kasih saya menyapa kamu semua, para peziarah dari berbagai negara, keluarga, kelompok paroki, lembaga, dan sekolah, dan khususnya, umat Rignac, Prancis.

 

Dan saya menyapa para peserta “Corsa dei Santi”, yang diselenggarakan oleh Yayasan Misi Don Bosco. Para sahabat terkasih, tahun ini kamu kembali mengingatkan kita bahwa kehidupan kristiani adalah sebuah perlombaan, tetapi bukan seperti dunia yang berlari, bukan! Kehidupan kristiani adalah perlombaan hati yang penuh kasih! Dan terima kasih atas dukunganmu untuk pembangunan pusat olahraga di Ukraina.

 

Marilah kita mendoakan Ukraina yang tersiksa, marilah kita mendoakan Palestina, Israel, Lebanon, Myanmar, Sudan, dan semua orang yang sedang menderita karena perang. Saudara-saudari, perang selalu merupakan kekalahan, selalu! Dan perang tidak mulia, karena perang merupakan kemenangan kebohongan, kemenangan kepalsuan: perang mengupayakan kepentingan terbesar bagi dirinya sendiri dan kerusakan terbesar bagi musuh, menginjak-injak kehidupan manusia, lingkungan, infrastruktur, segalanya; dan semuanya disamarkan dengan kebohongan. Dan orang-orang yang tidak bersalah menderita! Saya memikirkan 153 wanita dan anak-anak yang dibantai di Gaza dalam beberapa hari terakhir.

 

Besok merupakan pengenangan arwah semua orang beriman. Mereka yang bisa, pergilah pada hari-hari ini untuk berdoa di makam orang-orang yang kamu cintai. Saya juga, besok pagi, akan pergi untuk merayakan Misa di Pemakaman Laurentino, Roma. Janganlah kita lupa: Ekaristi adalah doa yang terbesar dan terefektif bagi jiwa orang yang telah meninggal.

 

Saya mengucapkan selamat hari raya kepada kamu semua, dalam persekutuan para kudus. Saya menyapa kamu semua, saya menyapa orang muda Immacolata, yang baik! Dan mohon, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat hari raya! Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 2 November 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 30 Oktober 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 11 : IA TELAH MENGURAPI DAN MEMETERAIKAN KITA. KRISMA, SAKRAMEN ROH KUDUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini kita akan melanjutkan permenungan kita tentang kehadiran dan tindakan Roh Kudus dalam kehidupan Gereja melalui sakramen-sakramen.

 

Tindakan pengudusan Roh Kudus menjangkau kita terutama melalui dua saluran: Sabda Allah dan sakramen-sakramen. Dan di antara semua Sakramen, ada satu yang pada hakikatnya adalah Sakramen Roh Kudus, dan pada hal inilah saya ingin berfokus hari ini. Sakramen tersebut adalah Sakramen Krisma.

 

Dalam Perjanjian Baru, selain baptisan dengan air, disebutkan pula ritus lain, yaitu penumpangan tangan, yang bertujuan untuk mengomunikasikan Roh Kudus secara kasat mata dan dengan cara yang penuh karisma, dengan dampak yang serupa dengan dampak yang ditimbulkan oleh para Rasul pada hari Pentakosta. Kisah Para Rasul merujuk pada sebuah kisah penting berkaitan dengan hal ini. Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar bahwa beberapa orang di Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. “Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab, Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus” (8:14-17).

 

Ditambah dengan apa yang ditulis Santo Paulus dalam Surat Kedua kepada jemaat di Korintus: “Sebab Allahlah yang telah meneguhkan kami bersama kamu di dalam Kristus, yang telah mengurapi kita, menaruh meterai tanda milik atas kita, dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.” (1:21-22). Jaminan Roh Kudus. Tema Roh Kudus sebagai “meterai rajawi” yang dengannya Kristus menandai domba-domba-Nya merupakan dasar ajaran tentang “karakter yang tak terhapuskan” yang diberikan oleh ritus ini.

 

Seiring berjalannya waktu, ritus pengurapan terbentuk sebagai sakramen dalam dirinya, yang mengambil bentuk dan isi yang beragam di berbagai zaman dan aneka ritus Gereja. Ini bukan tempat untuk menelusuri kembali sejarah yang sangat rumit ini. Sakramen krisma dalam pemahaman Gereja, menurut saya, dijelaskan dengan cara yang sangat sederhana dan gamblang oleh Katekismus Orang Dewasa Konferensi Wali Gereja Italia. Dikatakan: “Sakramen krisma bagi semua umat beriman sama seperti Pentakosta bagi seluruh Gereja. … Ia memperteguh penyatuan melalui baptisan ke dalam Kristus dan Gereja serta penahbisan kepada misi kenabian, rajawi dan imami. Ia mengomunikasikan kelimpahan karunia Roh. … Oleh karena itu, jika sakramen baptis adalah sakramen kelahiran, maka sakramen krisma adalah sakramen pertumbuhan. Karena alasan inilah sakramen krisma juga merupakan sakramen kesaksian, karena hal ini terkait erat dengan kedewasaan hidup Kristiani”.[1] Katekismus sampai titik ini.

 

Persoalannya adalah bagaimana memastikan bahwa sakramen krisma tidak dimerosotkan, dalam praktiknya, menjadi “ritus terakhir”, yaitu sakramen “keberangkatan” dari Gereja. Dikatakan bahwa sakramen krisma adalah sakramen perpisahan, karena sekali orang muda melakukannya, mereka pergi dan kemudian kembali untuk menikah. Itulah yang dikatakan orang… tetapi kita harus memastikan bahwa sakramen krisma justru merupakan sakramen partisipasi, partisipasi aktif dalam kehidupan Gereja. Sakramen krisma adalah tonggak sejarah yang mungkin tampak mustahil, mengingat situasi saat ini di seluruh Gereja, tetapi ini tidak berarti bahwa kita harus berhenti mengupayakannya. Meski tidak akan terjadi pada seluruh calon penerima sakramen krisma, anak-anak atau orang dewasa, tetapi setidaknya penting bagi beberapa orang yang kemudian akan menjadi animator komunitas.

 

Untuk tujuan ini, dalam mempersiapkan sakramen ini, bantuan kaum awam yang telah mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus dan telah mengalami pengalaman sejati akan Roh Kudus sangat berguna. Beberapa orang mengatakan bahwa mereka telah mengalaminya sebagai perkembangan dari sakramen krisma yang mereka terima saat masih anak-anak.

 

Hal ini tidak hanya berlaku bagi para calon penerima sakramen krisma di masa mendatang, tetapi berlaku juga bagi kita semua dan kapan pun. Bersama sakramen krisma dan pengurapan, kita telah menerima, Rasul Paulus meyakinkan kita, juga ikatan Roh, yang di tempat lain ia sebut sebagai “karunia sulung Roh” (Rm 8:23). Kita harus “menghabiskan” ikatan ini, menikmati karunia sulung ini, bukan mengubur karisma dan talenta yang kita terima di dalam tanah.

 

Santo Paulus menasihati Timotius, muridnya, untuk “mengobarkan karunia Allah, yang telah ada padamu melalui penumpangan tanganku atasmu” (2 Tim 1:6), dan kata kerja yang digunakan menunjukkan gambaran seseorang yang mengembuskan api untuk menghidupkan kembali api itu. Inilah tujuan yang baik untuk tahun Yubelium! Membuang abu kebiasaan dan keterasingan, menjadi, seperti para pembawa obor di Olimpiade, pembawa api Roh. Semoga Roh membantu kita untuk mengambil beberapa langkah ke arah ini!

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang ikut serta dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Australia, Korea Selatan, Sri Lanka, Amerika Serikat, dan Kanada. Atas kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Roh Kudus dalam kehidupan Gereja, kita sekarang membahas karunia Roh yang kita terima dalam sakramen krisma. Dalam sakramen ini, melalui penumpangan tangan, kita menerima meterai Roh Kudus yang tak terhapuskan, yang memberanikan kita untuk menyebarkan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati di dunia. Sakramen krisma meningkatkan dan memperdalam kehidupan Roh yang dicurahkan kepada kita saat pembaptisan serta mendorong kita untuk terlibat secara aktif dalam kehidupan dan perutusan Gereja. Marilah kita berdoa agar Roh Kudus sudi membimbing kaum muda yang menerima sakramen ini menuju perjumpaan pribadi yang semakin dalam dengan Tuhan serta semakin murah hati untuk berkomitmen menyebarkan Injil di tahun-tahun mendatang.
_______

(Peter Suriadi - Bogor, 30 Oktober 2024)



[1] La verità vi farà liberi. Katekismus Orang Dewasa. Balai Penerbitan Vatikan 1995, hlm. 324.