Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 14 April 2021 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 28) - GEREJA SEKOLAH DOA


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Gereja adalah sekolah doa yang luar biasa. Banyak dari kita belajar bagaimana membisikkan doa pertama kita di pangkuan orangtua atau kakek nenek kita. Kita mungkin, mungkin, menyimpan dalam hati kenangan akan ibu dan ayah kita yang mengajari kita berdoa sebelum tidur. Saat-saat pengenangan kembali ini sering kali merupakan saat-saat di mana para orangtua mendengarkan beberapa rahasia dengan intim dan dapat memberikan nasihat yang diilhami oleh Injil. Kemudian, saat mereka tumbuh dewasa, ada perjumpaan lainnya, dengan saksi-saksi dan guru-guru doa lainnya (lihat Katekismus Gereja Katolik, 2686-2687). Hal ini baik untuk diingat.

 

Kehidupan paroki dan setiap komunitas Kristiani ditandai dengan saat liturgi dan saat doa komunitas. Kita menjadi sadar bahwa karunia yang kita terima dengan kesederhanaan saat masih bayi adalah warisan yang luar biasa, warisan yang kaya dan pengalaman doa semakin layak untuk diperdalam (lihat Katekismus Gereja Katolik 2688). Busana iman tidak dikelantang, tetapi berkembang bersama diri kita; busana iman tidak kaku, ia bertumbuh, bahkan melalui saat krisis dan saat kebangkitan. Sebenarnya, tidak ada pertumbuhan tanpa saat krisis karena krisis membuatmu bertumbuh. Mengalami krisis adalah cara yang diperlukan untuk bertumbuh. Dan nafas iman adalah doa : kita bertumbuh dalam iman sejauh kita belajar berdoa. Setelah bagian-bagian tertentu dalam kehidupan, kita menjadi sadar bahwa tanpa iman kita tidak dapat berdoa dan kekuatan kita adalah doa - tidak hanya doa pribadi, tetapi juga doa saudara-saudari kita, dan doa komunitas yang menyertai dan mendukung kita, doa orang-orang yang mengenal kita, doa orang-orang yang kita minta untuk mendoakan kita.

 

Karena alasan ini, komunitas dan kelompok yang mengabdi pada doa tumbuh subur dalam Gereja. Beberapa umat Kristiani bahkan merasakan panggilan untuk menjadikan doa sebagai tindakan utama hari mereka. Ada biara-biara, pertapaan-pertapaan dalam Gereja tempat tinggal para pelaku hidup bakti. Mereka sering menjadi pusat cahaya spiritual. Mereka adalah pusat doa komunitas yang memancarkan spiritualitas. Mereka adalah oasis kecil di mana doa yang giat diikutsertakan dan persekutuan persaudaraan dibangun dari hari ke hari. Mereka adalah sel yang sangat penting tidak hanya untuk tatanan gerejawi, tetapi juga sel masyarakat itu sendiri. Marilah kita memikirkan, misalnya, peran yang dimainkan kehidupan membiara dalam kelahiran dan pertumbuhan peradaban Eropa, dan juga budaya-budaya lainnya. Berdoa dan bekerja dalam komunitas membuat dunia terus berjalan. Berdoa dan bekerja adalah motornya!

 

Segala sesuatu dalam Gereja berasal dari doa dan segala sesuatu tumbuh berkat doa. Ketika Musuh, Si Jahat, ingin memerangi Gereja, ia melakukannya terlebih dahulu dengan mencoba menguras wadahnya, menghalangi orang-orang untuk berdoa. Misalnya, kita melihat hal ini dalam kelompok-kelompok tertentu yang sepakat untuk mengedepankan reformasi gerejawi, perubahan dalam kehidupan Gereja dan seluruh organisasi, media menginformasikan semua orang… Tetapi doa tidak terwujud, tidak ada doa. Kita perlu mengubah hal ini; kita perlu membuat keputusan yang agak sulit ini … Tetapi tawaran tersebut menarik. Ini menarik! Hanya dengan diskusi, hanya melalui media. Tetapi di mana doa? Dan doa adalah apa yang membuka pintu menuju Roh Kudus, yang mengilhami kemajuan. Perubahan dalam Gereja tanpa doa bukanlah perubahan yang dilakukan oleh Gereja. Perubahan dalam Gereja tanpa doa adalah perubahan yang dibuat oleh kelompok. Dan ketika Musuh - seperti yang saya katakan - ingin memerangi Gereja, ia melakukannya pertama-tama dengan menguras wadahnya, menghalangi doa dan mengajukan tawaran lainnya. Jika doa berhenti, untuk sesaat tampaknya semuanya bisa berjalan seperti biasa - dengan kelambanan, bukan? - tetapi setelah beberapa saat, Gereja menjadi sadar bahwa ia telah menjadi seperti cangkang kosong, telah kehilangan bantalannya, ia tidak lagi memiliki sumber kehangatan dan kasih.

 

Orang-orang kudus tidak memiliki kehidupan yang lebih mudah dibandingkan orang lain. Bahkan mereka sebenarnya memiliki permasalahan terkait mereka masing-masing, dan terlebih lagi, mereka sering menjadi sasaran pihak yang berseberangan. Tetapi kekuatan mereka adalah doa. Mereka selalu mengambil dari "sumber" Gereja Induk yang tak ada habisnya. Melalui doa mereka memelihara nyala api iman mereka, seperti yang biasa dilakukan minyak untuk pelita. Dan dengan demikian, mereka terus berjalan dengan iman dan harapan. Para kudus, yang sering kali dianggap remeh di mata dunia, pada kenyataannya adalah orang-orang yang menopangnya, bukan dengan bersenjatakan uang dan kekuasaan, media komunikasi - dan seterusnya - tetapi dengan bersenjatakan doa.

 

Dalam Injil Lukas, Yesus mengajukan pertanyaan dramatis yang selalu membuat kita merenung : "Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Luk 18:8), atau akankah Ia hanya mendapati organisasi, seperti kelompok pengusaha yang beriman, semuanya terkelola dengan baik, yang melakukan karya amal, banyak hal, atau akankah Ia mendapati iman? “Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Pertanyaan ini muncul di akhir perumpamaan yang menunjukkan perlunya berdoa dengan ketekunan tanpa merasa jemu (lihat ayat 1-8). Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa pelita iman akan selalu menyala di bumi selama masih ada minyak doa. Inilah yang menuntun iman maju dan menuntun hidup kita - orang lemah, orang berdosa - maju, tetapi doa menuntunnya maju dengan aman. Pertanyaan yang perlu ditanyakan kita, orang-orang Kristiani, kepada diri kita sendiri adalah : Apakah aku berdoa? Apakah kita berdoa? Bagaimana caraku berdoa? Seperti seekor burung beo atau apakah aku berdoa dengan hati? Bagaimana caraku berdoa? Apakah aku berdoa, yakin bahwa aku berada di dalam Gereja dan aku berdoa bersama Gereja? Atau apakah aku berdoa sedikit menurut gagasanku dan kemudian membuat gagasanku menjadi doa? Ini adalah doa orang yang tidak beriman, tidak Kristiani. Saya ulangi : Kita dapat menyimpulkan bahwa pelita iman akan selalu menyala di bumi selama masih ada minyak doa.

 

Dan inilah tugas penting Gereja : berdoa dan mengajarkan cara berdoa. Meneruskan pelita iman dan minyak doa dari generasi ke generasi. Pelita iman yang menerangi memulihkan segala sesuatu sebagaimana adanya, tetapi hanya bisa maju dengan minyak iman. Jika tidak, pelita tersebut akan padam. Tanpa cahaya pelita ini, kita tidak akan bisa melihat jalan penginjilan, atau lebih tepatnya, kita tidak akan bisa melihat jalan untuk percaya dengan baik; kita tidak akan bisa melihat wajah saudara-saudari yang harus kita dekati dan layani; kita tidak akan bisa menerangi ruangan tempat kita bertemu dalam komunitas. Tanpa iman semuanya ambruk; dan tanpa doa iman terpadamkan. Iman dan doa bersama-sama. Tidak ada alternatif lain. Karena alasan ini, Gereja, sebagai rumah dan sekolah persekutuan, adalah rumah dan sekolah iman dan doa.

 

[Salam Khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat yang berbahasa Inggris. Dalam sukacita Kristus yang bangkit, saya memohonkan atas kalian dan keluarga kalian belas kasihan Allah Bapa kita. Semoga Tuhan memberkati kalian semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang doa Kristiani, kita sekarang membahas Gereja sendiri sebagai sekolah doa yang luar biasa. Orangtua kita, yang pertama kali mengajari kita berdoa, menanamkan di dalam diri kita benih yang matang melalui pengalaman hidup Kristiani kita. Melalui teladan orang beriman lainnya, melalui keikutsertaan kita dalam kehidupan paroki dan terutama melalui liturgi kudus, kita tidak hanya mengembangkan kehidupan doa kita sebagai individu, tetapi secara bertahap menghargai kekayaan yang diwariskan Gereja. doa dan spiritualitas. Khususnya pada saat-saat sulit dalam hidup, kita mulai menyadari pentingnya doa dalam memperkuat iman dan harapan kita. Sejarah menunjukkan pentingnya komunitas doa - biara dan tarekat religius - untuk pembaruan spiritual Gereja dan masyarakat secara keseluruhan. Doa tetap menjadi sumber kehidupan Gereja dan sumber kekuatannya yang sejati dalam memberikan kesaksian tentang Tuhan yang bangkit. Karena alasan ini, Yesus menekankan murid-murid-Nya perlu berdoa tanpa jemu dan tanpa henti. Lalu, berdoa dan mengajarkan orang lain berdoa adalah penting untuk perutusan Gereja dalam mewartakan Injil, melayani Kristus dalam diri saudara dan saudari kita, dan menarik semua orang ke dalam kesatuan kerajaan-Nya.

___

 

(Peter Suriadi - Bogor, 14 April 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 7 April 2021 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 27)

Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, saya ingin bercermin pada hubungan antara doa dan persekutuan para kudus. Pada kenyataannya, ketika kita berdoa, kita tidak pernah melakukannya sendirian : bahkan jika kita tidak memikirkannya, kita terbenam dalam sungai doa permohonan yang megah yang mendahului kita dan terus berlanjut setelah kita. Sungai yang megah.

 

Dalam doa-doa yang kita temukan di dalam Kitab Suci, yang sering bergema dalam liturgi, terkandung jejak cerita kuno, pembebasan yang menakjubkan, pembuangan dan pengasingan yang menyedihkan, kepulangan yang sarat emosi, pujian yang berceloteh riuh di hadapan keajaiban penciptaan ... Dan dengan demikian, suara-suara ini diwariskan dari generasi ke generasi, dalam jalinan yang terus menerus antara pengalaman pribadi dan pengalaman orang-orang serta umat manusia di tempat kita berada. Tak seorang pun bisa memisahkan diri dari sejarahnya, sejarah bangsanya. Kita selalu menyandang dalam sikap kita warisan ini, bahkan dalam cara kita berdoa. Dalam doa pujian, terutama yang terungkap dari hati orang-orang kecil dan rendah hati, bergemlah kidung Magnificat yang dilantunkan Maria ke hadapan Allah di depan sepupunya Elisabet; atau seruan Simeon yang sudah lanjut usia yang, sambil menatang Bayi Yesus, mengatakan demikian : “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu” (Luk 2:29).

 

Doa yang baik "meluas", seperti segala sesuatu yang baik; doa yang baik terus menerus menyebarkan diri, dengan atau tanpa diunggah di jejaring sosial : dari bangsal rumah sakit, dari saat-saat pertemuan yang meriah hingga saat-saat di mana batin kita menderita … Kesengsaraan seseorang adalah kesengsaraan semua orang, dan kebahagiaan seseorang diteruskan kepada jiwa orang lainnya. Kesengsaraan dan kebahagiaan, semua sebuah cerita, cerita-cerita yang menciptakan cerita hidup kita masing-masing, cerita ini dihidupkan kembali melalui kata-kata kita, tetapi pengalamannya sama.

 

Doa selalu dilahirkan kembali : setiap kali kita bergandengan tangan dan membuka hati kepada Allah, kita menemukan diri ditemani oleh para kudus, baik yang tak dikenal maupun yang dikenal, yang berdoa bersama kita dan menjadi perantara kita sebagai saudara-saudari tua yang telah mendahului kita dalam petualangan manusiawi yang sama ini. Dalam Gereja, tidak ada kesedihan yang ditanggung sendirian, tidak ada air mata yang dilupakan, karena setiap orang bernapas dan ikut serta dalam rahmat yang sama. Bukan kebetulan bahwa dalam gereja kuno orang-orang dimakamkan di taman-taman yang mengelilingi bangunan suci, seolah-olah mengatakan bahwa, dalam beberapa hal, sejumlah besar orang yang telah mendahului kita ikut serta dalam setiap Ekaristi. Para orangtua dan para kakek-nenek kita ada di sana, para wali baptis kita ada di sana, para katekis kita dan para guru lainnya ada di sana… Iman yang diteruskan, diwariskan, yang telah kita terima. Seiring dengan iman, cara berdoa dan doa telah diwariskan.

 

Para kudus masih di sini tidak jauh dari kita; dan keterwakilan mereka dalam Gereja-gereja membangkitkan "awan para saksi" yang selalu mengelilingi kita (lihat Ibr 12:1). Pada permulaan, kita mendengar bacaan Surat kepada orang Ibrani. Mereka adalah para saksi yang tidak kita sembah - artinya kita tidak menyembah para kudus ini - tetapi kita hormati dan dalam ribuan cara membawa kita kepada Yesus Kristus, satu-satunya Tuhan dan Pengantara antara Allah dan umat manusia. "Orang kudus" yang tidak membawamu kepada Yesus bukanlah orang kudus, bahkan bukan orang Kristiani. Orang kudus membuatmu mengingat Yesus Kristus karena ia menempuh jalan hidup sebagai seorang Kristiani. Para kudus mengingatkan kita bahwa bahkan betapapun lemahnya hidup kita dan ditandai oleh dosa, kekudusan dapat diungkapkan. Bahkan saat menjelang ajal. Pada kenyataannya, kita membaca dalam Injil bahwa orang kudus pertama yang dikanonisasi oleh Yesus adalah seorang penjahat, bukan Paus. Kekudusan adalah perjalanan hidup, perjumpaan panjang maupun pendek atau seketika dengan Yesus. Tetapi ia selalu menjadi seorang saksi, orang kudus adalah seorang saksi, seorang manusia yang berjumpa Yesus dan mengikuti Yesus. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat kepada Tuhan yang pengasih dan berlimpah kasih setia (lihat Mzm 103:8).

 

Katekismus menjelaskan bahwa para kudus memandang Allah, memuja Dia dan tanpa henti-hentinya memperhatikan mereka yang ditinggalkannya di dunia ini [...] Doa syafaatnya adalah pelayanan yang tertinggi bagi rencana Allah. Kita dapat dan harus memohon mereka, supaya membela kita dan seluruh dunia” (KGK, 2683). Ada kesetiakawanan penuh misteri di dalam Kristus di antara mereka yang telah meninggal dunia dan kita para peziarah dalam kehidupan ini : dari Surga, orang-orang tercinta kita yang sudah meninggal terus menjaga kita. Mereka mendoakan kita, dan kita mendoakan mereka serta kita berdoa bersama mereka.

 

Hubungan dalam doa antara diri kita dan mereka yang telah tiba - kita telah mengalami hubungan ini dalam doa di sini dalam kehidupan duniawi ini. Kita saling mendoakan, kita memanjatkan permohonan dan berdoa…. Cara pertama mendoakan seseorang adalah dengan berbicara kepada Allah tentang dia. Jika kita sering melakukan hal ini, setiap hari, hati kita tidak tertutup tetapi terbuka terhadap saudara-saudari kita. Mendoakan orang lain adalah cara pertama mengasihi mereka dan menggerakkan kita untuk sungguh mendekat. Bahkan di saat-saat perselisihan, cara menyelesaikan perselisihan, melembutkannya, adalah dengan mendoakan orang yang berselisih denganku. Dan sesuatu berubah dengan doa. Hal pertama yang berubah adalah hati dan sikapku. Tuhan mengubahnya sehingga perselisihan bisa berubah menjadi perjumpaan, perjumpaan baru agar perselisihan tidak menjadi perang yang tidak kunjung berakhir.

 

Cara pertama untuk menghadapi saat kesukaran adalah dengan meminta saudara-saudari kita, terutama para kudus, untuk mendoakan kita. Nama yang diberikan kepada kita saat Pembaptisan bukanlah label atau hiasan! Biasanya nama perawan, atau orang kudus, yang tidak mengharapkan apa pun selain "memberi kita bantuan" dalam hidup, memberi kita bantuan untuk mendapatkan rahmat Allah yang kita butuhkan. Jika pencobaan hidup belum mencapai titik puncaknya, jika kita masih mampu bertahan, jika terlepas dari segalanya kita melanjutkan dengan penuh kepercayaan, terlepas dari jasa kita, mungkin kita berhutang semua ini kepada perantaraan seluruh orang kudus, beberapa telah berada di Surga, lainnya adalah para peziarah seperti kita di bumi, yang telah melindungi dan menemani kita, karena kita semua tahu ada orang-orang kudus di bumi ini, orang-orang kudus yang hidup dalam kekudusan. Mereka tidak mengetahuinya; kita juga tidak menyadarinya. Tetapi ada orang-orang kudus, orang-orang kudus sehari-hari, orang-orang kudus yang tersembunyi, atau seperti yang saya suka katakan, "orang-orang kudus yang tinggal di pintu sebelah", mereka yang berbagi kehidupan dengan kita, yang bekerja dengan kita dan hidup dalam kekudusan.

 

Oleh karena itu, terpujilah Yesus Kristus, satu-satunya Juruselamat dunia, bersama dengan perkembangan luar biasa para kudus ini yang memenuhi muka bumi dan telah memuji Allah melalui kehidupan mereka. Karena - seperti ditegaskan oleh Santo Basilius - "Roh adalah benar-benar tempat para kudus, dan seorang kudus adalah tempat yang cocok untuk Roh, karena ia membiarkan Allah tinggal dalam dirinya dan ia disebut kenisah Roh Kudus" (Tentang Roh Kudus, 26, 62: PG 32, 184A; lihat KGK, 2684).

 

[Salam khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Dalam sukacita Kristus yang bangkit, saya memohonkan atas kalian dan keluarga kalian belas kasihan Allah Bapa kita. Semoga Tuhan memberkati kalian semua!

 

[Seruan]

 

Dalam doa saya ingin mengenang kembali para korban banjir yang melanda Indonesia dan Timor Timur beberapa hari ini. Semoga Tuhan menyambut mereka yang meninggal, menghibur keluarga mereka dan menyokong mereka yang kehilangan tempat tinggal.

 

Kemarin dirayakan Hari Olahraga untuk Pembangunan dan Perdamaian Sedunia, yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saya berharap ini dapat menggerakkan sekali lagi pengalaman olahraga sebagai peristiwa beregu, untuk mempromosikan dialog melalui berbagai budaya dan bangsa.

 

Dalam sudut pandang tersebut, dengan senang hati saya mendorong Atletik Vatikan untuk melanjutkan komitmen mereka dalam menyebarkan budaya persaudaraan melalui dunia olahraga, dengan memperhatikan mereka yang paling lemah, sehingga menjadi saksi-saksi perdamaian.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari yang terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang doa Kristiani, sekarang kita membahas persekutuan para kudus. Kapanpun kita berdoa, kita mendapati diri kita terbenam dalam aliran besar perantaraan masa lalu, masa kini dan masa depan demi kebutuhan individu dan seluruh dunia, karena kita berdoa bersama dengan semua orang kudus dalam persekutuan tubuh Kristus yaitu Gereja. Para kudus - “awan para saksi” yang luar biasa ini (Ibr 12:1) baik yang dikenal maupun yang tak dikenal - berdoa tanpa henti bersama kita dan untuk kita dengan memuliakan Allah. Penghormatan kita terhadap para kudus membawa kita semakin dekat kepada Yesus, satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia. Di dalam Kristus juga, kita merasakan kesetiakawanan yang penuh misteri dengan orang-orang tercinta kita yang telah meninggal, yang terus kita doakan. Kita juga mengalami kesetiakawanan penuh doa ini di sini di bumi ini, saat kita mendoakan satu sama lain serta saudara dan saudari kita yang miskin, menderita dan paling membutuhkan. Di masa-masa yang penuh tantangan ini, marilah kita bersyukur kepada Allah atas karunia agung para kudus dan dengan penuh keyakinan mempercayakan diri kita kepada perantaraan mereka, demi penyebaran Injil dan keselamatan keluarga manusia kita.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 7 April 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 5 April 2021 : HARI SENIN MALAIKAT


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Hari Senin setelah Paskah disebut juga Hari Senin Malaikat karena kita mengingat pertemuan malaikat dengan para perempuan yang tiba di kubur Yesus (lihat Mat 28:1-15). Malaikat itu berkata kepada mereka : “Aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit" (ayat 5-6). Ungkapan “Ia telah bangkit” ini melampaui kemampuan manusia. Bahkan para perempuan yang pergi ke kubur dan menemukan kubur itu terbuka dan kosong tidak dapat memastikan “Ia telah bangkit”, tetapi mereka hanya dapat mengatakan bahwa kubur itu kosong. “Ia telah bangkit” adalah sebuah pesan … Hanya seorang malaikat yang dapat mengatakan bahwa Yesus telah bangkit, hanya seorang Malaikat dengan kewenangan menjadi pembawa pesan surgawi, dengan kuasa yang diberikan Allah untuk mengatakannya, hanya seorang Malaikat - seorang Malaikat semata - yang mampu berkata kepada Maria : “Sesungguhnya engkau akan mengandung seorang anak laki-laki [...] dan Ia akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi” (Luk 1:31-32). Oleh karena itu kita menyebutnya Senin Malaikat karena hanya malaikat dengan kuasa Allah yang dapat mengatakan bahwa Yesus telah bangkit.

 

Penginjil Matius menceritakan bahwa pada Paskah pagi “terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya” (lihat ayat 2). Batu besar itu, yang seharusnya menjadi meterai kemenangan kejahatan dan kematian, diletakkan di bawah kaki, menjadi tumpuan kaki malaikat Tuhan. Seluruh rencana dan pertahanan para musuh dan penganiaya Yesus sia-sia. Seluruh meterai telah hancur. Gambar malaikat yang duduk di atas batu di depan kubur adalah perwujudan nyata, perwujudan kemenangan Allah atas kejahatan yang kasat mata, perwujudan kemenangan Kristus atas penguasa dunia ini, perwujudan kemenangan terang atas kegelapan. Kubur Yesus tidak dibuka oleh fenomena fisik, tetapi berkat campur tangan Allah. Malaikat itu tampil, lanjut Matius, “bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju" (ayat 3). Rincian ini adalah lambang yang menegaskan campur tangan Allah sendiri, pengusung zaman baru, masa-masa terakhir sejarah karena kebangkitan Yesus mengawali masa-masa terakhir sejarah yang dapat bertahan ribuan tahun, tetapi merupakan masa-masa terakhir.

 

Ada reaksi ganda dalam melihat campur tangan dari pihak Allah ini. Reaksi para penjaga yang tidak dapat menghadapi kuasa Allah yang luar biasa dan terguncang oleh gempa bumi batin : mereka menjadi seperti orang-orang mati (lihat ayat 4). Kuasa kebangkitan menggulingkan orang-orang yang telah dipergunakan untuk menjamin kemenangan semu kematian. Dan apa yang harus dilakukan para penjaga itu? Pergi kepada orang-orang yang telah memerintahkan mereka untuk menjaga dan mengatakan yang sebenarnya. Mereka harus membuat pilihan : mengatakan yang sebenarnya atau membiarkan diri mereka diyakinkan oleh orang-orang yang telah memberi mereka perintah untuk menjaga. Dan satu-satunya cara untuk meyakinkan para penjaga itu adalah uang. Dan orang-orang malang itu, orang-orang malang, menjual kebenaran, dan dengan uang di kantong mereka melanjutkan dengan berkata : "Tidak, para murid datang dan mencuri-Nya". Uang "Tuhan", bahkan di sini, dalam kebangkitan Kristus, mampu memiliki kekuatan untuk menyangkalnya. Reaksi para perempuan berbeda karena mereka secara tegas diundang oleh malaikat Tuhan untuk tidak takut, dan pada akhirnya, mereka tidak takut - “Janganlah kamu takut!” (ayat 5) - dan tidak mencari Yesus di dalam kubur.

 

Kita dapat menuai ajaran yang berharga dari kata-kata malaikat : kita seharusnya tanpa lelah mencari Kristus yang bangkit yang memberikan hidup dalam kelimpahan kepada orang-orang yang bertemu dengan-Nya. Menemukan Kristus berarti menemukan kedamaian di dalam hati kita. Para perempuan dalam Injil juga, setelah awalnya terguncang - hal tersebut dapat dimengerti - mengalami sukacita yang besar dalam menemukan Sang Guru tetap hidup (lihat ayat 8-9). Dalam Masa Paskah ini, saya menginginkan agar setiap orang dapat memiliki pengalaman rohani yang sama, menyambut di dalam hati kita, di dalam rumah kita dan di dalam keluarga kita pewartaan Paskah yang penuh sukacita : “Kristus yang bangkit dari alam maut, takkan mati lagi. Maut takkan menguasai-Nya lagi. Aleluya” (Antifon Komuni). Pewartaan Paskah, Kristus hidup, Kristus menyertai hidupku, Kristus berada di sampingku. Kristus mengetuk pintu hatiku sehingga Engkau berkenan masuk, Kristus hidup. Dalam hari-hari Paskah ini, alangkah baiknya kita mengulanginya : Tuhan hidup.

 

Kepastian ini menggerakkan kita untuk mendoakan hari ini dan sepanjang Masa Paskah : “Regina Caeli, Laetare - yaitu, Ratu Surga, bersukacitalah”. Malaikat Gabriel menyambutnya untuk pertama kalinya : “Bersukacitalah, penuh rahmat!” (lihat Luk 1:28). Sekarang sukacita Maria telah lengkap : Yesus hidup, Sang Kasih telah menaklukkan. Semoga hal ini menjadi sukacita kita juga!

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara dan saudari yang terkasih!

 

Dalam suasana Paskah yang menjadi ciri khas hari ini, saya menyapa dengan penuh kasih sayang semua orang yang ikut serta dalam momen doa ini melalui sarana komunikasi sosial. Saya memikirkan khususnya kaum lanjut usia, mereka yang sakit, yang terhubung dari rumah atau rumah peristirahatan mereka masing-masing. Kepada mereka, saya menyampaikan kata penghiburan dan pengakuan kesaksian mereka : Saya dekat dengan mereka. Dan kepada semua orang, saya berharap kalian dapat menghayati dengan iman hari-hari Oktaf Paskah yang di dalamnya kenangan kebangkitan Kristus terus berlangsung. Manfaatkan setiap kesempatan yang layak untuk memberikan kesaksian sukacita dan damai sejahtera Tuhan yang bangkit.

 

Paskah yang membahagiakan, tenteram dan kudus untuk semua orang! Dan tolong jangan lupa mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang, dan sampai jumpa lagi!

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 5 April 2021)

PESAN PASKAH DAN BERKAT "URBI ET ORBI" PAUS FRANSISKUS 4 April 2021


Saudara-saudari yang terkasih, Paskah yang baik, membahagiakan dan penuh kedamaian!

 

Hari ini, di seluruh dunia, pewartaan Gereja bergema : “Yesus, yang disalibkan, telah bangkit seperti yang Ia katakan. Alleluia!”

 

Pesan Paskah tidak memberi kita sebuah fatamorgana atau mengungkapkan sebuah rumusan ajaib. Pesan Paskah tidak menunjuk pada pelarian dari situasi sulit yang sedang kita alami. Pandemi masih terus menyebar, sementara krisis sosial dan ekonomi tetap parah, terutama bagi kaum miskin. Meskipun demikian - dan hal ini memalukan - pertikaian bersenjata belum berakhir dan persenjataan militer diperkuat. Itulah skandal hari ini.

 

Menghadapi, atau lebih baik lagi, di tengah kenyataan yang rumit ini, pesan Paskah secara ringkas berbicara tentang peristiwa yang memberi kita harapan yang tidak mengecewakan : “Yesus yang disalibkan telah bangkit”. Pesan Paskah berbicara kepada kita bukan tentang malaikat atau hantu, tetapi tentang seorang manusia, seorang manusia berdaging dan bertulang, dengan wajah dan nama : Yesus. Injil memberi kesaksian bahwa Yesus ini, yang disalibkan di bawah pimpinan Pontius Pilatus karena mengaku diri-Nya adalah Kristus, Putra Allah, bangkit pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci, seperti yang telah Ia nubuatkan kepada murid-murid-Nya.

 

Yesus yang disalibkan, tidak ada orang lain, telah bangkit dari antara orang mati. Allah Bapa membangkitkan Yesus, Putra-Nya, karena Ia sepenuhnya melaksanakan kehendak-Nya yang menyelamatkan. Yesus memikul kelemahan kita, kerentanan kita, bahkan kematian kita. Ia menanggung penderitaan kita dan menanggung beban dosa kita. Oleh karena itu, Allah Bapa meninggikan Dia dan sekarang Yesus Kristus hidup selamanya; Ia adalah Tuhan.

 

Para saksi melaporkan rincian penting : Yesus yang bangkit menanggung bekas bilur-bilur di tangan, kaki dan lambung-Nya. Bilur-bilur ini adalah meterai kasih-Nya yang kekal bagi kita. Semua orang yang mengalami pencobaan yang menyakitkan dalam tubuh atau roh dapat menemukan perlindungan dalam bilur-bilur ini dan, melalui bilur-bilur tersebut, menerima rahmat harapan yang tidak mengecewakan.

 

Kristus yang bangkit adalah harapan bagi semua orang yang terus menderita akibat pandemi, baik mereka yang sakit maupun mereka yang telah kehilangan orang yang dicintai. Semoga Tuhan memberi mereka penghiburan dan mendukung upaya-upaya yang gagah berani dari para dokter dan para perawat. Setiap orang, terutama yang paling rentan di antara kita, membutuhkan bantuan dan memiliki akses ke perawatan yang diperlukan. Hal ini bahkan lebih nyata di saat-saat ini ketika kita semua dipanggil untuk memerangi pandemi. Vaksin adalah alat penting dalam pertarungan ini. Saya mendesak segenap masyarakat internasional, dengan semangat tanggung jawab global, untuk berkomitmen mengatasi keterlambatan penyaluran vaksin dan memfasilitasi penyalurannya, terutama di negara-negara yang paling miskin.

 

Tuhan yang disalibkan dan bangkit adalah penghiburan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan atau mengalami kesulitan ekonomi yang serius dan tidak memiliki perlindungan sosial yang memadai. Semoga Ia mengilhami otoritas publik untuk bertindak sehingga setiap orang, terutama keluarga yang paling membutuhkan, dapat ditawarkan bantuan yang dibutuhkan demi standar hidup yang layak. Sayangnya, pandemi telah secara dramatis meningkatkan jumlah orang miskin dan keputusasaan ribuan orang.

 

“Segala macam kaum miskin harus mulai kembali berharap”. Santo Yohanes Paulus II mengucapkan kata-kata ini selama kunjungannya ke Haiti. Justru kepada rakyat Haiti yang tercinta inilah pikiran saya tertuju hari ini. Saya mendorong mereka untuk tidak diliputi oleh kesulitan, tetapi memandang masa depan dengan keyakinan dan harapan. Dan pikiran saya tertuju pada saudara-saudari Haiti yang terkasih. Saya dekat denganmu dan saya menginginkan penyelesaian yang pasti atas permasalahanmu. Saya sedang mendoakan hal ini, saudara dan saudari Haiti yang terkasih.

 

Yesus yang bangkit juga merupakan harapan bagi seluruh kaum muda yang terpaksa pergi dalam waktu lama tanpa bersekolah atau kuliah, atau menghabiskan waktu bersama teman-teman mereka. Mengalami hubungan manusia yang nyata, bukan hanya hubungan virtual, adalah sesuatu yang dibutuhkan semua orang, terutama di zaman ketika karakter dan kepribadian seseorang sedang dibentuk. Kita menyadari hal ini dengan jelas Jumat lalu, dalam Jalan Salib yang digubah oleh anak-anak. Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan kaum muda di seluruh dunia dan, saat ini, terutama dengan kaum muda Myanmar yang berkomitmen untuk mendukung demokrasi dan membuat suara mereka didengar dengan penuh kedamaian, karena memahami bahwa kebencian hanya dapat disingkirkan dengan kasih.

 

Semoga terang Yesus yang bangkit menjadi sumber kelahiran kembali bagi para migran yang melarikan diri dari perang dan kemiskinan ekstrim. Marilah dalam wajah mereka kita mengenali wajah Tuhan yang rusak dan sedang menderita saat Ia berjalan di jalan menuju Kalvari. Semoga mereka tidak pernah kekurangan tanda kesetiakawanan dan persaudaraan manusia yang nyata, sebuah janji kemenangan kehidupan atas kematian yang kita rayakan pada hari ini. Saya berterima kasih kepada negara-negara yang dengan murah hati menerima orang-orang yang sedang menderita dan mencari perlindungan. Lebanon dan Yordania khususnya menerima banyak pengungsi yang melarikan diri dari pertikaian di Suriah.

 

Semoga rakyat Lebanon, yang sedang mengalami masa-masa sulit dan ketidakpastian, mengalami penghiburan Tuhan yang bangkit dan mendapatkan dukungan dari masyarakat internasional dalam panggilan mereka untuk menjadi tanah perjumpaan, hidup berdampingan dan pluralisme.

 

Semoga Kristus Sang Damai Sejahtera kita mengakhiri bentrokan bersenjata di Suriah yang tercinta dan dilanda perang, di mana jutaan orang saat ini hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi; di Yaman, yang situasinya telah bertemu dengan keheningan yang memekakkan telinga dan memalukan, dan di Libya, di mana pada akhirnya ada harapan bahwa satu dekade pertikaian berdarah dan bentrokan akan segera berakhir. Semoga semua pihak yang terlibat berkomitmen secara efektif untuk mengakhiri pertikaian dan membiarkan orang-orang yang lelah perang hidup dalam damai dan memulai pembangunan kembali negara mereka masing-masing.

 

Kebangkitan secara alami membawa kita ke Yerusalem. Di Yerusalem kita meminta Tuhan untuk menganugerahkan perdamaian dan keamanan (bdk. Mzm 122), sehingga dapat menerima panggilannya untuk menjadi tempat perjumpaan di mana semua orang dapat saling memandang sebagai saudara dan saudari, dan di mana rakyat Israel dan Palestina dapat menemukan kembali kekuatan dialog untuk mencapai penyelesaian yang langgeng yang akan memungkinkan kedua negara untuk hidup berdampingan dalam perdamaian dan kemakmuran.

 

Pada hari raya ini, pikiran saya juga kembali ke Irak, yang membuat saya bersukacita berkunjung bulan lalu. Saya berdoa semoga Irak terus berlanjut di jalan perdamaian dan dengan demikian memenuhi impian Allah demi keluarga manusia yang ramah dan menyambut seluruh anak-Nya.[1]

 

Semoga kuasa Tuhan yang bangkit menopang rakyat Afrika yang melihat masa depan mereka dinodai oleh kekerasan internal dan terorisme internasional, terutama di Sahel dan Nigeria, serta di wilayah Tigray dan Cabo Delgado. Semoga upaya penyelesaian pertikaian secara damai terus berlanjut, dengan menghormati hak asasi manusia dan kekudusan hidup, melalui dialog persaudaraan dan membangun dalam semangat pendamaian dan kesetiakawanan sejati.

 

Masih ada terlalu banyak perang dan terlalu banyak kekerasan di dunia! Semoga Tuhan, Sang Damai Sejahtera kita, membantu kita mengatasi pola pikir perang. Semoga Ia mengabulkan agar para tawanan pertikaian, terutama di timur Ukraina dan Nagorno-Karabakh, dapat kembali ke keluarga mereka dengan selamat, dan semoga Ia mengilhami para pemimpin dunia untuk mengekang perlombaan persenjataan baru. Hari ini, 4 April, diperingati Hari Pemberantasan Ranjau Darat Sedunia, perangkat berbahaya dan mengerikan yang membunuh atau melukai banyak orang yang tidak bersalah setiap tahun dan menghalangi umat manusia untuk “berjalan bersama di jalan kehidupan tanpa takut akan ancaman kehancuran dan kematian!”.[2] Alangkah jauh lebih baik jadinya dunia kita tanpa perkakas kematian ini!

 

Saudara-saudari yang terkasih, kembali tahun ini, di berbagai tempat banyak umat Kristiani merayakan Paskah di bawah pembatasan yang ketat dan, kadang-kadang, tanpa dapat menghadiri perayaan liturgi. Kita berdoa agar pembatasan tersebut, serta seluruh pembatasan kebebasan beribadah dan beragama di seluruh dunia, dapat dicabut serta setiap orang diperkenankan berdoa dan memuji Allah dengan bebas.

 

Di tengah banyak kesulitan yang sedang kita tanggung, janganlah kita lupa bahwa kita telah disembuhkan oleh bilur-bilur Kristus (bdk. 1 Ptr 2:24). Dalam terang Tuhan yang bangkit, penderitaan kita sekarang diubah rupa. Di mana ada kematian, sekarang ada kehidupan. Di mana ada duka, sekarang ada penghiburan. Dengan merangkul salib, Yesus melimpahkan makna atas penderitaan kita dan sekarang kita berdoa agar manfaat kesembuhan itu menyebar ke seluruh dunia. Paskah yang baik, membahagiakan dan tenteram untuk kalian semua!



[1]Wejangan pada Pertemuan Lintasagama di Ur, 6 Maret 2021.

[2]Yohanes Paulus II, Doa Malaikat Tuhan, 28 Februari 1999.