Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Desember 2024 : MANUSIAWI DAN ILAHI BERJUMPA SATU SAMA LAIN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat hari raya!

 

Hari ini, pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, Bacaan Injil menceritakan kepada kita tentang salah satu momen terpenting dan terindah dalam sejarah umat manusia: Kabar Sukacita (lih. Luk 1:26-38), ketika jawaban "ya" Maria kepada Malaikat Agung Gabriel memperkenankan penjelmaan Yesus, Putra Allah. Sebuah adegan yang mengilhami keheranan dan emosi terbesar karena Allah, Yang Mahatinggi, Yang Mahakuasa, melalui Malaikat berbicara dengan seorang gadis belia dari Nazaret, meminta kerjasamanya untuk rencana keselamatan-Nya. Jika hari ini kamu memiliki sedikit waktu, lihatlah Injil Santo Lukas dan bacalah adegan ini. Saya yakin itu akan bermanfaat bagimu, sangat bermanfaat!

 

Seperti dalam adegan penciptaan Adam, yang dilukis oleh Michelangelo di Kapel Sistina, di mana jari Bapa surgawi menyentuh jari manusia; demikian pula di sini manusiawi dan ilahi berjumpa satu sama lain, pada awal Penebusan kita, keduanya bertemu dengan kelembutan yang luar biasa, pada saat yang terberkati ketika Perawan Maria mengucapkan "ya"-nya. Ia adalah seorang perempuan di sebuah desa kecil di pinggiran dan dipanggil selamanya ke pusat sejarah: pada jawabannya bergantung nasib umat manusia, yang dapat tersenyum dan berharap lagi, karena takdirnya telah ditempatkan di tangan yang baik. Dialah yang akan melahirkan Juruselamat, yang dikandung oleh Roh Kudus.

 

Kemudian, Maria, sebagaimana Malaikat Agung Gabriel menyapanya, "penuh rahmat" (Luk 1:28), yang tak bernoda, yang sepenuhnya melayani Sabda Allah, selalu bersama Tuhan, yang kepada-Nya ia mempercayakan diri sepenuhnya. Dalam dirinya, tidak ada yang menentang kehendak-Nya, tidak ada yang menentang kebenaran dan kasih. Inilah keterberkatannya, yang akan dikidungkan oleh semua generasi. Marilah kita juga bersukacita karena Yang Tak Bernoda telah memberi kita Yesus, yang adalah keselamatan kita!

 

Saudara-saudari, dengan merenungkan misteri ini, kita dapat bertanya kepada diri kita: di zaman kita, yang dirusak oleh perang serta bertekad untuk menguasai dan mendominasi, di manakah aku menaruh harapanku? Pada kekuatan, pada uang, pada teman-teman yang berkuasa? Apakah aku menaruh harapanku di sana? Atau pada belas kasihan Allah yang tak terbatas? Dan dalam menghadapi model-model palsu yang mengilap yang beredar di media dan internet, di manakah aku mencari kebahagiaanku? Di manakah harta hatiku? Apakah dalam kenyataan bahwa Allah mengasihiku dengan murah hati, kasih-Nya selalu mendahuluiku, dan siap mengampuniku ketika aku kembali bertobat kepada-Nya? Dalam harapan bakti kepada kasih Allah itu? Atau apakah aku menipu diriku dengan mencoba menegaskan ego dan keinginanku dengan segala cara?

 

Saudara-saudari, saat pembukaan Pintu Suci Yubelium semakin dekat, marilah kita membuka pintu hati dan pikiran bagi Tuhan. Ia dilahirkan dari Maria yang Tak Bernoda: marilah kita mohon perantaraan Maria. Dan saya akan memberimu sedikit nasihat. Hari ini adalah hari yang baik memutuskan untuk melakukan Pengakuan Dosa yang baik. Jika kamu tidak dapat melakukannya hari ini, pekan ini, hingga hari Minggu depan, bukalah hatimu dan Tuhan akan mengampuni segalanya, segalanya, segalanya. Jadi, di tangan Maria, kita akan lebih bahagia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda ini, saya sangat dekat dengan rakyat Nikaragua. Saya mengundangmu untuk bergabung dalam doa bagi Gereja dan rakyat Nikaragua, yang merayakan Yang Maha Murni, sebagai Bunda dan Pelindung, dan menyampaikan seruan iman dan harapan kepadanya. Semoga Bunda surgawi menjadi penghibur bagi orang-orang yang berada dalam kesulitan dan ketidakpastian, serta membuka hati setiap orang, sehingga jalan dialog yang penuh rasa hormat dan membangun dapat diupayakan, untuk memajukan perdamaian, persaudaraan, dan kerukunan di negara ini.

 

Dan marilah kita terus berdoa untuk perdamaian, di Ukraina yang tersiksa, di Timur Tengah – Palestina, Israel, Lebanon, sekarang Suriah – di Myanmar, Sudan dan di mana pun orang-orang menderita karena perang dan kekerasan. Saya memohon kepada para pemerintah dan masyarakat internasional, agar kita dapat mencapai pesta Kelahiran dengan gencatan senjata di semua medan perang.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah. Secara khusus, peziarahan Pembantu Hati Kudus dari Spanyol, kelompok “Oasi Mamma dell’Amore”, umat dari Amerika Serikat, dari Honduras dan Australia, serta umat dari Calderara di Reno, Corpolò dan Grado, dan para calon penerima Sakramen Krisma dari paroki San Pio da Pietrelcina Roma.

 

Hari ini, saya ingin meminta kamu semua untuk berdoa bagi para narapidana yang dijatuhi hukuman mati di Amerika Serikat. Saya yakin jumlahnya ada tiga belas atau lima belas orang. Marilah kita berdoa agar hukuman mereka diringankan, diubah. Marilah kita pikirkan saudara-saudari kita ini dan mohon kepada Tuhan agar mereka diselamatkan dari kematian.

 

Hari ini, di paroki-paroki Italia, keterikatan pada Aksi Katolik diperbarui. Saya berharap semua anggota menjalani perjalanan pertobatan, pelayanan, dan komitmen kerasulan yang baik. Saya dengan sepenuh hati memberkati umat Rocca di Papa dan obor yang akan mereka gunakan untuk menyalakan bintang besar di Benteng kota mereka yang indah untuk menghormati Maria yang Tak Bernoda. Dan saya dekat dengan para pekerja Siena, Fabriano, dan Ascoli Piceno yang membela hak untuk bekerja, yang merupakan hak untuk bermartabat, dalam kesetiakawanan! Semoga pekerjaan mereka tidak dirampas karena alasan ekonomi dan keuangan.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu dan selamat merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Kita akan bertemu sore ini di Piazza di Spagna. Dan jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Desember 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM KONSISTORI PENGANGKATAN 21 KARDINAL BARU 7 Desember 2024 : ARTI BERJALAN DI JALAN YESUS

Marilah kita renungkan sedikit kisah Injil: Yesus menanjak ke Yerusalem. Namun, kenaikan-Nya bukanlah untuk meraih kemuliaan duniawi, melainkan untuk kemuliaan Allah, yang berarti Ia turun ke jurang kematian. Di Kota Suci, Ia akan wafat di kayu salib untuk memulihkan kehidupan kita. Di sisi lain, Yakobus dan Yohanes membayangkan takdir yang berbeda bagi Guru mereka, sehingga mereka meminta kepada-Nya dua tempat kehormatan: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu" (Mrk 10:37).


Injil menyoroti kontras yang dramatis ini: Yesus mengambil jalan menanjak yang sulit yang akan membawa-Nya ke Kalvari, sementara para murid memikirkan jalan menurun yang mulus dari Mesias yang menang. Kita seharusnya tidak terganggu oleh hal ini, tetapi memperhatikan dengan rendah hati bahwa – mengatakan bersama Manzoni – “demikianlah ketidakkonsistenan hati manusia” (The Betrothed, Bab 10). Beginilah cara memperhatikannya.

 

Hal yang sama dapat terjadi pada kita: hati kita dapat tersesat, membiarkan kita terpesona oleh daya tarik gengsi, godaan kekuasaan, oleh semangat manusiawi yang berlebihan bagi Tuhan. Itulah sebabnya kita perlu melihat dalam batin, berdiri di hadapan Allah dengan rendah hati dan di hadapan diri kita dengan tulus, serta bertanya: Ke mana hatiku sedang pergi? Ke mana hatiku sedang pergi hari ini? Ke arah mana? Apakah aku mungkin telah mengambil jalan yang keliru? Sebagaimana peringatan Santo Agustinus kepada kita: “Mengapa mengikuti jalan kosong yang hanya menuntunmu tersesat? Kembalilah kepada Tuhan. Ia sedang menunggu. Namun pertama-tama, kembalilah ke hatimu, karena di sana ditemukan rupa Allah. Kristus tinggal di dalam manusia batiniah, dan di dalam manusia batiniah kamu diperbarui menurut rupa Allah” (Ulasan Injil Yohanes, XVIII, 10).

 

Maka, kembali ke jalan yang sama seperti Yesus, kita perlu kembali ke hati. Hari ini, secara khusus, saya ingin mengatakan kepadamu, saudara-saudara terkasih yang diangkat menjadi kardinal: Berusahalah semaksimal mungkin untuk berjalan di jalan Yesus. Apa artinya hal ini?

 

Berjalan di jalan Yesus berarti pertama-tama kembali kepada-Nya dan menempatkan-Nya kembali di pusat segala sesuatu. Kadang-kadang, dalam kehidupan rohani dan kegiatan pastoral kita, kita berisiko berfokus pada apa yang tidak penting dan melupakan apa yang penting. Terlalu sering, hal-hal sekunder menggantikan apa yang penting, penampilan lahiriah mengaburkan apa yang benar-benar penting. Kita menyelami kegiatan yang kita anggap mendesak, tanpa sampai ke inti persoalan. Sebaliknya, kita harus terus-menerus kembali ke pusat, pada apa yang mendasar, dan melepaskan diri dari semua yang berlebihan, untuk mengenakan Kristus. (lih. Rm 13:14). Kata “kardinal” sendiri mengingatkan kita akan hal ini, karena mengacu pada engsel yang dimasukkan untuk mengamankan, menopang, dan memperkuat pintu. Saudara-saudara terkasih: Yesus adalah pendukung sejati kita, “pusat gravitasi” pelayanan kita, “titik kardinal” yang memberikan arah bagi seluruh hidup kita.

 

Berjalan di jalan Yesus juga berarti menumbuhkan hasrat untuk berjumpa. Yesus tidak pernah berjalan sendirian; hubungan-Nya dengan Bapa tidak mengasingkan-Nya dari situasi dan penderitaan yang Ia hadapi di dunia ini. Sebaliknya, Ia datang justru untuk menyembuhkan kemanusiaan kita yang terluka, meringankan beban hati kita, membersihkan noda dosa dan menghancurkan ikatan perbudakan. Di jalan-Nya, Tuhan menjumpai wajah orang-orang yang sedang menderita dan telah kehilangan harapan; Ia membangkitkan orang yang jatuh dan menyembuhkan orang yang sakit. Jalan yang dilalui Yesus penuh dengan wajah dan cerita yang berbeda. Saat Ia lewat, Ia menyeka air mata mereka yang berduka, “menyembuhkan orang yang hancur hatinya dan membalut luka-luka mereka” (lih. Mzm 147:3).

 

Petualangan di jalan, sukacita bertemu orang lain, kepedulian terhadap mereka yang paling membutuhkan: hal-hal ini seharusnya mengilhami pelayananmu sebagai kardinal. Petualangan di jalan, sukacita bertemu orang lain, kepedulian terhadap mereka yang paling membutuhkan. Don Primo Mazzolari, seorang tokoh besar di antara para klerus Italia, pernah berkata, “Gereja dimulai dengan berjalan, Gereja berlanjut dengan berjalan. Tidak perlu mengetuk pintunya atau menunggu untuk diterima. Berjalanlah dan kamu akan menemukannya; berjalanlah dan ia akan berada di sampingmu; teruslah berjalan dan kamu akan berada di dalam Gereja” (Tempo di credere, Bologna 2010, 80-81). Janganlah kita lupa bahwa berdiam diri merusak hati sebagaimana air yang tergenang adalah yang pertama kali tercemar.

 

Berjalan di jalan Yesus berarti, pada akhirnya, menjadi pembangun persekutuan dan kesatuan. Di antara para murid, cacing persaingan menghancurkan kesatuan, sementara jalan yang dilalui Yesus membawa-Nya ke Kalvari. Di kayu salib, Ia menggenapi perutusan yang dipercayakan kepada-Nya, agar tidak ada satupun yang hilang (lih. Yoh 6:39), agar tembok pemisah permusuhan (lih. Ef 2:14) akhirnya dirobohkan, dan agar semua orang dapat melihat diri mereka sebagai anak-anak dari Bapa yang sama dan sebagai saudara-saudari satu sama lain. Karena alasan ini, Tuhan sedang memandangmu, yang datang dari berbagai latar belakang dan budaya, serta mewakili kekatolikan Gereja. Ia memanggilmu untuk menjadi saksi persaudaraan, pengrajin persekutuan dan pembangun persatuan. Inilah perutusanmu!

 

Santo Paulus VI yang agung, saat berbicara kepada sekelompok kardinal baru, mencatat bahwa, seperti para pengikut, kita terkadang dapat menyerah pada godaan untuk menciptakan perpecahan, sedangkan “semangat untuk mengupayakan persatuan adalah tanda dari para pengikut Kristus yang sejati”. Paus yang suci itu kemudian menambahkan, “Setiap orang merasa betah dalam keluarga gerejawi, tidak ada pengucilan atau pengasingan, yang terbukti sangat merugikan persatuan kita dalam kasih, atau upaya untuk membuat beberapa orang menang dengan merugikan yang lain adalah keinginan kita … Kita harus bekerja, berdoa, menderita, dan berjuang untuk menjadi saksi Kristus yang bangkit” (Wejangan pada Konsistori, 27 Juni 1977).

 

Dalam semangat yang sama, saudara-saudara terkasih, kamu akan membuat perbedaan, sesuai dengan peringatan Yesus kepada para murid tentang persaingan yang merusak di dunia ini: "Tidaklah demikian di antara kamu" (Mrk 10:43). Seolah-olah Ia berkata, Mari, ikutlah Aku di jalan-Ku, dan kamu akan berbeda. Mari, ikutlah Aku dan kamu akan menjadi tanda yang cemerlang di tengah-tengah masyarakat yang terobsesi dengan penampilan dan kekuasaan. Sekali lagi, Ia memberitahu kita: "Tidaklah demikian di antara kamu". Kasihilah satu sama lain dengan kasih persaudaraan dan jadilah pelayan bagi satu sama lain, pelayan Injil.

 

Saudara-saudara terkasih, marilah kita berjalan di jalan Yesus, bersama-sama; marilah kita berjalan dengan rendah hati; marilah kita berjalan dengan takjub dan marilah kita berjalan dengan sukacita.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Desember 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 4 Desember 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 16 : MEMBERITAKAN INJIL DALAM ROH KUDUS. ROH KUDUS DAN PENGINJILAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Setelah merenungkan tindakan Roh Kudus yang menguduskan dan berkarisma, kita akan mendedikasikan katekese ini pada aspek lain: karya penginjilan Roh Kudus, yaitu, tentang peran pewartaan dalam Gereja.

 

Surat Pertama Petrus mendefinisikan para rasul sebagai “orang-orang yang menyampaikan Injil kepada kamu oleh Roh Kudus” (lih. 1:12). Dalam ungkapan ini kita menemukan dua unsur penyusun pewartaan kristiani: isinya, yaitu Injil, dan sarananya, yaitu Roh Kudus. Mari kita bahas satu per satu.

 

Dalam Perjanjian Baru, kata “Injil” memiliki dua makna utama. Kata ini dapat merujuk pada salah satu dari keempat Injil kanonik: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, dan menurut definisi ini, Injil berarti kabar baik yang diwartakan oleh Yesus selama hidup-Nya di bumi. Setelah Paskah, kata “Injil” mendapat makna baru sebagai kabar baik tentang Yesus, yaitu misteri Paskah tentang wafat dan kebangkitan Tuhan. Inilah apa yang disebut Rasul Paulus sebagai “Injil” ketika ia menulis: “Sebab, aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm 1:16).

 

Pewartaan Yesus dan selanjutnya pewartaan para Rasul juga memuat semua tugas moral yang bersumber dari Injil, mulai dari sepuluh perintah Allah sampai perintah “baru” tentang kasih. Namun, jika kita tidak ingin kembali kepada kesalahan yang dikecam oleh Rasul Paulus, yaitu mendahulukan hukum Taurat ketimbang kasih karunia dan perbuatan ketimbang iman, maka kita harus selalu memulai dari pewartaan tentang apa yang telah dilakukan Kristus kepada kita. Oleh karena itu, Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium sangat menekankan kerygma atau “pewartaan”, sebagai yang pertama dari kedua hal ini, yang menjadi dasar penerapan moral.

 

Memang, “dalam katekese juga, kita telah menemukan ada peran pokok pewartaan pertama atau kerygma, yang hendaknya menjadi pusat dari semua kegiatan penginjilan dan seluruh upaya untuk pembaruan Gereja. … Pewartaan pertama ini disebut “pertama” bukan karena ada pada awal dan kemudian dapat dilupakan atau digantikan oleh hal-hal lain yang lebih penting. Pewartaan ini pertama dalam arti kualitatif karena merupakan pewartaan utama, yang harus kita dengar lagi dan lagi dengan berbagai cara, yang harus kita wartakan dengan satu atau lain cara melalui proses katekese, di setiap tingkat dan setiap saat. … Kita tidak seharusnya berpikir bahwa dalam katekese kerygma ditinggalkan demi pembinaan yang dianggap lebih “solid.” Tak ada yang lebih solid, mendalam, aman, dan bermakna dan penuh kebijaksanaan daripada pewartaan awal.” (no. 164-165), yaitu, kerygma.

 

Sejauh ini, kita telah melihat isi pewartaan kristiani. Akan tetapi, kita juga harus mengingat sarana pewartaannya. Injil harus diwartakan “oleh Roh Kudus” (1 Ptr 1:12). Gereja harus melakukan persis sebagaimana dikatakan Yesus di awal pelayanan-Nya di muka umum: “Roh Tuhan ada pada-Ku, karena Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin” (Luk 4:18). Melakukan pewartaan dengan urapan Roh Kudus berarti menyampaikan, bersama dengan gagasan dan ajaran, kehidupan dan keyakinan iman kita. Melakukan pewartaan berarti “baik perkataan maupun pemberitaan tidak disampaikan dengan hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti kekuatan Roh” (1 Kor 2:4), sebagaimana ditulis Santo Paulus.

 

Mudah untuk mengatakannya, tetapi, mungkin ada yang keberatan, bagaimana pewartaan dapat dilakukan jika pewartaan tidak bergantung pada kita, tetapi pada kedatangan Roh Kudus? Pada kenyataannya, ada satu hal yang bergantung pada kita, atau lebih tepatnya dua, dan saya akan menyebutkannya secara singkat. Yang pertama adalah doa. Roh Kudus datang kepada mereka yang berdoa, karena Bapa surgawi – sebagaimana tertulis – “memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Luk 11:13), terutama jika kita meminta kepada-Nya untuk mewartakan Injil Putra-Nya! Celakalah mereka yang memberitakan Injil tanpa berdoa! Mereka menjadi orang-orang yang didefinisikan oleh Rasul Paulus sebagai “gong yang berkumandang dan simbal yang gemerincing” (lih. 1 Kor 13:1).

 

Jadi, hal pertama yang bergantung pada kita adalah berdoa, agar Roh Kudus datang. Yang kedua adalah tidak ingin memberitakan diri kita sendiri, tetapi Yesus Tuhan (lih. 2 Kor 4:5). Ini berhubungan dengan pewartaan. Kadang-kadang ada pewartaan yang panjang, dua puluh menit, tiga puluh menit… Tetapi, tolong, para pewarta hendaknya mewartakan sebuah gagasan, sebuah perasaan dan panggilan untuk bertindak. Setelah delapan menit pewartaan mulai memudar, tidak dipahami. Dan saya katakan ini kepada para pewarta [tepuk tangan] – saya dapat melihat bahwa kamu suka mendengar ini! Kadang-kadang kita melihat orang-orang yang, ketika pewartaan dimulai, pergi keluar untuk merokok dan kemudian kembali lagi. Tolong, pewartaan hendaknya menjadi sebuah gagasan, sebuah perasaan dan panggilan untuk bertindak. Dan pewartaan tidak boleh lebih dari sepuluh menit. Ini sangat penting.

 

Hal kedua yang ingin saya katakan adalah, bukan keinginan untuk mewartakan diri sendiri, melainkan Tuhan. Tidak perlu berkutat pada hal ini, karena siapa pun yang terlibat dalam melakukan penginjilan tahu apa artinya tidak mewartakan diri sendiri. Saya akan membatasi diri pada penerapan khusus dari persyaratan ini. Tidak ingin mewartakan diri sendiri juga menyiratkan tidak selalu mengutamakan prakarsa pastoral yang digagas oleh kita dan dikaitkan dengan nama kita, tetapi dengan sukarela bekerja sama, jika diminta, dalam prakarsa komunitas, atau yang dipercayakan kepada kita karena ketaatan.

 

Semoga Roh Kudus membantu kita, menyertai kita, dan mengajar Gereja bagaimana mewartakan Injil dengan cara ini kepada orang-orang di zaman ini! Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang datang dari Belanda, Australia, Indonesia, Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura. Saya berdoa agar kamu masing-masing, dan keluargamu, dapat mengalami Masa Adven yang penuh berkat sebagai persiapan untuk kedatangan Sang Juruselamat yang baru lahir pada hari Natal. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese lanjutan kita tentang Roh Kudus, kita sekarang membahas peran Roh Kudus dalam perutusan Gereja untuk mewartakan Injil. Surat Pertama Petrus menggambarkan para Rasul sebagai mereka yang “memberitakan Injil oleh Roh Kudus” (bdk. 1 Ptr 1:12). Injil, tentu saja, adalah pesan penuh sukacita tentang kedatangan Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus dan diteguhkan oleh pewartaan para Rasul tentang wafat dan kebangkitan-Nya menuju kehidupan baru. “Kabar baik” ini adalah dasar bagi semua katekese dan pengajaran selanjutnya, termasuk tuntutan moral murid-murid Kristus. Pewartaan Injil terjadi “oleh Roh Kudus”, yang memampukan kita untuk berbicara dengan penuh keyakinan dan mencerminkan pesan yang kita beritakan melalui cara hidup kita. Marilah kita berdoa agar di zaman kita Roh Kudus sudi membangkitkan saksi-saksi yang semakin penuh sukacita, kudus dan meyakinkan bagi Tuhan yang bangkit dan kebenaran Injil-Nya yang menyelamatkan.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Desember 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 Desember 2024: ANGKATLAH KEPALAMU DAN JAGALAH HATIMU JANGAN DIBEBANI

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini (Luk 21:25-28, 34-36), Hari Minggu Adven I, berbicara kepada kita tentang pergolakan kosmik serta kecemasan dan ketakutan dalam diri manusia. Dalam konteks ini, Yesus menyampaikan sebuah kata harapan kepada para pengikut-Nya: "Bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat" (ayat 28). Yang menjadi perhatian Sang Guru adalah supaya hati mereka jangan dibebani (lih. ayat 34) dan supaya mereka berjaga-jaga menantikan kedatangan Anak Manusia.

 

Undangan Yesus adalah ini: Angkatlah kepalamu dan jagalah hatimu jangan dibebani.

 

Sesungguhnya, banyak orang sezaman Yesus, yang dihadapkan dengan berbagai peristiwa dahsyat yang mereka lihat sedang terjadi di sekitar mereka – penganiayaan, pertikaian, bencana alam – dicengkeram oleh kecemasan dan berpikir bahwa akhir dunia akan segera tiba. Hati mereka dibebani oleh ketakutan. Namun, Yesus ingin membebaskan mereka dari berbagai kecemasan dan keyakinan palsu yang ada saat ini, menunjukkan kepada mereka cara untuk tetap berjaga-jaga di dalam hati mereka, cara membaca berbagai peristiwa berdasarkan rencana Allah, yang mengerjakan keselamatan bahkan dalam berbagai peristiwa paling dramatis dalam sejarah. Itulah sebabnya Ia menyarankan agar mereka mengalihkan pandangan mereka ke surga untuk memahami hal-hal di bumi: “Bangkitlah dan angkatlah kepalamu” (ayat 28). Indahnya … “Bangkitlah dan angkatlah kepalamu”.

 

Saudara-saudari, bagi kita juga anjuran Yesus ini penting: “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani” (ayat 34). Kita semua, dalam banyak momen kehidupan, bertanya pada diri kita: apa yang dapat kulakukan untuk memiliki hati yang riang, hati yang berjaga, hati yang bebas? Hati yang tidak membiarkan dirinya diremukkan oleh kesedihan? Dan kesedihan itu mengerikan, mengerikan. Sungguh, bisa saja terjadi kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran tentang kehidupan pribadi kita atau tentang apa yang sedang terjadi di dunia saat ini membebani kita seperti batu-batu besar dan melemparkan kita ke dalam keputusasaan. Jika kekhawatiran membebani hati kita dan mendorong kita untuk menutup diri, Yesus, sebaliknya, mengundang kita untuk mengangkat kepala kita, percaya pada kasih-Nya yang ingin menyelamatkan kita dan mendekati kita dalam setiap situasi keberadaan kita, Ia meminta kita untuk memberi ruang bagi-Nya untuk kembali menemukan harapan.

 

Maka, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: apakah hatiku dibebani oleh ketakutan, kekhawatiran, dan kecemasan tentang masa depan? Apakah aku tahu bagaimana memandang peristiwa sehari-hari dan perubahan sejarah dengan mata Allah, dalam doa, dengan cakrawala yang lebih luas? Atau apakah aku membiarkan diriku diliputi keputusasaan? Semoga Masa Adven ini menjadi kesempatan yang berharga untuk mengangkat pandangan kita kepada-Nya, yang mencerahkan hati kita dan menopang kita dalam perjalanan kita.

 

Sekarang marilah kita memohon kepada Perawan Maria, yang bahkan di saat-saat pencobaan pun siap menerima rencana Allah.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Beberapa hari ini, empat puluh tahun Perjanjian Perdamaian dan Persahabatan antara Argentina dan Chili diperingati. Dengan mediasi Takhta Suci, pertikaian mengerikan yang telah membawa Argentina dan Chili ke ambang perang pun berakhir. Ini menunjukkan bahwa, ketika kita meninggalkan penggunaan senjata dan terlibat dalam dialog, jalan yang baik telah ditempuh.

 

Saya menyambut baik gencatan senjata yang telah dicapai dalam beberapa hari terakhir di Lebanon, dan saya berharap agar hal itu dapat dihormati oleh semua pihak, sehingga memungkinkan penduduk di wilayah yang terlibat dalam pertikaian – baik Lebanon maupun Israel – untuk segera kembali ke rumah dengan selamat, juga dengan bantuan yang sangat berharga dari tentara Lebanon dan pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam situasi ini, saya menyampaikan seruan mendesak kepada semua politisi Lebanon, agar Presiden Republik Lebanon dapat segera dipilih dan lembaga-lembaga kembali berfungsi normal, sehingga dapat melanjutkan reformasi yang diperlukan dan memastikan negara berperan sebagai teladan hidup berdampingan secara damai antara berbagai agama. Saya berharap secercah perdamaian yang telah muncul dapat mengarah pada gencatan senjata di semua lini, terutama di Gaza. Saya sangat menginginkan pembebasan orang-orang Israel yang masih disandera, dan akses terhadap bantuan kemanusiaan bagi penduduk Palestina yang tertimpa musibah. Dan marilah kita berdoa untuk Suriah, di mana sayangnya perang kembali telah berkobar, menelan banyak korban. Saya sangat dekat dengan Gereja di Suriah. Marilah kita berdoa!

 

Saya menyampaikan keprihatinan dan kesedihan saya atas pertikaian yang terus menyebabkan pertumpahan darah di Ukraina yang tersiksa. Selama hampir tiga tahun kita telah menyaksikan serangkaian kematian, cidera, kekerasan, dan kehancuran yang mengerikan... Anak-anak, perempuan, orang tua, dan kaum lemah adalah korban pertama. Perang adalah kengerian, perang adalah penghinaan terhadap Allah dan kemanusiaan, perang tidak menyisakan siapa pun, perang selalu merupakan kekalahan, kekalahan bagi seluruh umat manusia. Pikirkan bahwa musim dingin sudah dekat, dan berisiko memperburuk kondisi jutaan orang yang mengungsi. Itu akan menjadi bulan-bulan yang sangat sulit bagi mereka. Kebetulan perang dan cuaca dingin itu tragis. Saya sekali lagi memperbarui seruan saya kepada masyarakat internasional, dan kepada setiap orang yang beritikad baik, untuk melakukan segala upaya untuk menghentikan perang ini, serta mewujudkan dialog, persaudaraan, dan rekonsiliasi. Biarlah ada komitmen baru di setiap tingkatan. Dan saat kita mempersiapkan Natal, saat kita menantikan kelahiran Sang Raja Damai, biarlah orang-orang ini diberi harapan nyata. Pengupayaan perdamaian bukan hanya tanggung jawab beberapa orang, tetapi semua orang. Jika pembiasaan dan ketidakpedulian terhadap kengerian perang berlaku, seluruh umat manusia akan kalah. Seluruh umat manusia akan kalah. Saudara-saudari terkasih, janganlah kita lelah berdoa bagi penduduk yang sangat dicobai itu, dan marilah kita memohon kepada Allah karunia perdamaian.

 

Dengan penuh kasih sayang saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah yang datang dari Italia dan berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa kelompok dari Barcelona, ​​Murcia, dan Valencia – dan memikirkan Valencia, betapa menderitanya mereka – serta dari Gerovo, Kroasia. Saya menyapa umat Arco di Trento dan Sciacca, serta kelompok Roma Gioventù Ardente Mariana. Dan saya menyapa orang muda Immacolata.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu dan mengawali Masa Adven kepada kamu semua. Jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Desember 2024)