Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 Januari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Pesta Pembaptisan Tuhan, yang kita rayakan hari ini, menandai dimulainya Masa Biasa. Masa liturgi ini mengajak kita untuk bersama-sama mengikuti Tuhan, mendengarkan sabda-Nya, dan meneladan tindakan kasih-Nya kepada sesama. Dengan demikian, kita meneguhkan dan memperbarui pembaptisan kita, sakramen yang menjadikan kita umat kristiani, membebaskan kita dari dosa dan mengubah rupa diri kita menjadi anak-anak Allah melalui kuasa Roh kehidupan-Nya.

 

Bacaan Injil hari ini menceritakan bagaimana tanda rahmat yang mujarab ini terjadi. Ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan, ia melihat “Roh Allah turun seperti burung merpati dan hinggap di atas-Nya” (Mat 3:16). Pada saat yang sama, dari surga, suara Bapa bergema, “Inilah Anak-Ku yang terkasih” (ayat 17). Pada saat ini, seluruh keilahian hadir dalam sejarah: sama seperti sang Anak turun ke air Sungai Yordan, Roh Kudus turun ke atas-Nya dan, melalui Dia, diberikan kepada kita sebagai kuasa keselamatan.

 

Saudara-saudara terkasih, Allah tidak memandang dunia dari jauh, tidak acuh dengan hidup, masalah, atau pengharapan kita! Sebaliknya, Ia datang di antara kita dengan hikmat sabda-Nya yang menjadi daging, menarik kita ke dalam rencana kasih yang menakjubkan bagi seluruh umat manusia.

 

Inilah sebabnya Yohanes Pembaptis, yang dipenuhi keheranan, bertanya kepada Yesus, “Engkau datang kepada-Ku?” (ayat 14). Ya, dalam kekudusan-Nya, Tuhan membiarkan diri-Nya dibaptis seperti orang berdosa, untuk mengungkapkan belas kasihan Allah yang tak terbatas. Sang Putra tunggal, yang di dalam Dia kita adalah saudara dan saudari, datang untuk melayani ketimbang menguasai, menyelamatkan ketimbang menghukum. Dialah Kristus Sang Penebus. Dia memikul apa yang seharusnya kita pikul, termasuk dosa kita, dan memberi kita apa seharusnya menjadi milik-Nya: rahmat kehidupan baru dan kekal.

 

Sakramen Baptis menjadikan peristiwa ini hadir di setiap waktu dan tempat, menyambut kita masing-masing ke dalam Gereja, umat Allah, yang terdiri dari orang-orang dari segala bangsa dan budaya yang dilahirkan kembali oleh Roh-Nya. Karena itu, marilah kita dedikasikan hari ini untuk mengingat karunia besar yang telah kita terima, dan berkomitmen untuk memberikan kesaksian tentangnya dengan sukacita dan ketulusan. Baru hari ini, saya membaptis beberapa bayi yang baru lahir yang telah menjadi saudara dan saudari kita dalam iman. Betapa indahnya merayakan kasih Allah – yang memanggil kita dengan nama dan membebaskan kita dari kejahatan – sebagai satu keluarga! Sakramen pertama ini adalah tanda suci yang menyertai kita selamanya. Di saat-saat kegelapan, baptisan adalah terang; dalam konflik kehidupan, baptisan merupakan rekonsiliasi; pada saat kematian, baptisan merupakan gerbang menuju surga.

 

Marilah kita berdoa bersama, memohon kepada Bunda Maria untuk menguatkan iman kita dan misi Gereja setiap hari.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Sebagaimana telah saya sebutkan, mengikuti kebiasaan pada Pesta Pembaptisan Tuhan, pagi ini saya membaptis beberapa bayi yang baru lahir dari para pegawai Takhta Suci. Sekarang saya ingin menyampaikan berkat saya kepada semua anak yang telah menerima atau akan menerima baptisan selama hari-hari ini – di Roma dan di seluruh dunia – dengan mempercayakan mereka kepada perlindungan keibuan Perawan Maria. Secara khusus, saya berdoa untuk anak-anak yang lahir dalam keadaan sulit, baik karena kondisi kesehatan maupun bahaya eksternal. Semoga rahmat baptisan, yang menyatukan mereka dengan misteri Paskah Kristus, berbuah dalam hidup mereka dan dalam kehidupan keluarga mereka.

 

Pikiran saya tertuju pada situasi yang saat ini terjadi di Timur Tengah, khususnya di Iran dan Suriah, di mana ketegangan yang berkelanjutan terus merenggut banyak nyawa. Saya berharap dan berdoa agar dialog dan perdamaian dapat dipupuk dengan sabar demi kebaikan bersama seluruh masyarakat.

 

Di Ukraina, serangan-serangan baru – terutama serangan-serangan berat yang menargetkan infrastruktur energi seiring dengan semakin dinginnya cuaca – telah menimbulkan korban jiwa yang besar di kalangan penduduk sipil. Saya berdoa untuk mereka yang menderita dan kembali menyerukan untuk mengakhiri kekerasan dan upaya-upaya baru dalam mencapai perdamaian.

 

Dan sekarang saya menyapa kamu semua: umat Roma dan para peziarah yang hadir hari ini di Lapangan Santo Petrus. Grazie, terima kasih, muchas gracias!

 

Saya menyapa secara khusus kelompok dari Sekolah Everest Madrid dan lembaga Bambini Fratelli dari Guadalajara, Meksiko: Dejemos que los niños sueñen.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu yang penuh berkat dan kebahagiaan untuk kamu semua!
______

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Januari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 7 Januari 2026 : KONSILI VATIKAN II MELALUI DOKUMEN-DOKUMENNYA. KATEKESE PENGANTAR

Saudara-saudari, selamat pagi dan selamat datang!

 

Pada Tahun Yubileum kita telah berfokus pada misteri kehidupan Yesus. Kini kita akan memulai rangkaian katekese baru yang akan didedikasikan untuk Konsili Vatikan II dan pembacaan ulang dokumen-dokumennya. Suatu kesempatan berharga untuk menemukan kembali keindahan dan pentingnya peristiwa gerejawi ini. Santo Yohanes Paulus II, pada akhir Yubileum 2000, menyatakan, “Saya merasa lebih dari sebelumnya berkewajiban untuk menunjukkan Konsili sebagai rahmat besar yang diberikan kepada Gereja pada abad kedua puluh” (Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte, 57).

 

Bersamaan dengan peringatan Konsili Nicea, pada tahun 2025 kita memperingati tujuh puluh tahun Konsili Vatikan II. Meskipun waktu yang memisahkan kita dari peristiwa ini tidak begitu lama, juga benar adanya generasi uskup, teolog, dan umat beriman Konsili Vatikan II tidak lagi bersama kita. Oleh karena itu, selain kita mendengar seruan untuk tidak membiarkan nubuatnya memudar, terus mencari cara dan sarana untuk menerapkan wawasannya, mengenalnya kembali secara saksama, dan melakukannya bukan melalui "desas-desus" atau penafsiran yang telah diberikan, tetapi dengan membaca ulang dokumen-dokumennya dan merenungkan isinya juga penting. Sesungguhnya, Magisterium masih menjadi bintang penuntun perjalanan Gereja saat ini. Berkaitan dengan hal ini, Paus Benediktus XVI mengajarkan, "Seiring berjalannya waktu, dokumen-dokumen Konsili Vatikan II tidak kehilangan relevansinya; bahkan, ajaran-ajarannya terbukti sangat relevan dengan situasi baru Gereja dan masyarakat global saat ini" (Wejangan Pertama di Akhir Konselebrasi Ekaristi dengan Anggota Dewan Kardinal, 20 April 2005).

 

Ketika Paus Santo Yohanes XXIII membuka Konsili pada 11 Oktober 1962, beliau menyebutnya sebagai fajar hari terang bagi seluruh Gereja. Karya dari banyak Bapa Gereja yang dikumpulkan dari Gereja-gereja di seluruh benua memang membuka jalan bagi masa gerejawi yang baru. Berkat kekayaan refleksi biblis, teologis, dan liturgis yang mencakup abad kedua puluh, Konsili Vatikan II menemukan kembali wajah Allah sebagai Bapa yang, di dalam Kristus, memanggil kita untuk menjadi anak-anak-Nya; Konsili memandang Gereja dalam terang Kristus, terang bangsa-bangsa, sebagai misteri persekutuan dan sakramen persatuan antara Allah dan umat-Nya; Konsili memulai reformasi liturgis yang penting, menempatkan di pusatnya misteri keselamatan dan partisipasi aktif dan sadar dari seluruh Umat Allah. Pada saat yang sama, Konsili membantu kita untuk membuka diri terhadap dunia dan merangkul perubahan serta tantangan zaman modern dalam dialog dan tanggung jawab bersama, sebagai Gereja yang ingin membuka tangannya kepada umat manusia, menyuarakan pengharapan dan kecemasan bangsa-bangsa, dan bekerjasama membangun masyarakat yang lebih adil dan bersaudara.

 

Berkat Konsili Vatikan II, Gereja “memiliki sesuatu untuk dikatakan, sebuah pesan untuk disampaikan, sebuah komunikasi untuk dilakukan” (Santo Paulus VI, Ensiklik Ecclesiam Suam, 65), berupaya mengupayakan kebenaran melalui dialog ekumenis dan lintas agama, serta dialog dengan orang-orang yang berkehendak baik.

 

Semangat ini, disposisi batin ini, harus menjadi ciri khas kehidupan spiritual kita dan aksi pastoral Gereja, karena kita masih harus mencapai reformasi gerejawi secara lebih penuh dalam arti pelayanan dan, dalam menghadapi tantangan saat ini, kita dipanggil untuk terus menjadi penafsir yang waspada terhadap tanda-tanda zaman, pewarta Injil yang penuh sukacita, saksi keadilan dan perdamaian yang berani. Pada awal Konsili, Mgr. Albino Luciani, yang kemudian menjadi Paus Yohanes Paulus I, sebagai Uskup Vittorio Veneto, menulis secara kenabian, “Seperti biasa, ada kebutuhan untuk mencapai bukan sekadar organisasi atau metode atau struktur, tetapi kekudusan yang lebih dalam dan lebih luas. ... Mungkin buah-buah Konsili yang sangat baik dan melimpah akan terlihat setelah berabad-abad dan akan matang dengan bersusah payah mengatasi konflik dan situasi yang merugikan”.[1] Menemukan kembali Konsili, sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus, membantu kita untuk “mengembalikan keutamaan kepada Allah, kepada apa yang hakiki: kepada Gereja yang sangat mengasihi Tuhannya dan semua orang yang dikasihi-Nya” (Homili pada peringatan enam puluh tahun dimulainya Konsili Vatikan II, 11 Oktober 2022).

 

Saudara-saudari, kata-kata Santo Paulus VI kepada para Bapa Konsili di akhir masa jabatannya tetap menjadi prinsip penuntun kita saat ini. Beliau menegaskan bahwa telah tiba waktunya untuk meninggalkan sidang Konsili dan pergi menuju umat manusia untuk menyampaikan kabar baik Injil, dengan kesadaran bahwa mereka telah mengalami masa rahmat di mana masa lalu, masa kini, dan masa depan terangkum: “Masa lalu: karena di sini, berkumpul di tempat ini, kita memiliki Gereja Kristus dengan tradisi, sejarah, konsili-konsili, para pujangga, para kudusnya; masa kini, karena kita saling berpamitan untuk pergi menuju dunia saat ini dengan kesengsaraan, penderitaan, dan dosa-dosanya, tetapi juga dengan pencapaiannya yang luar biasa, nilai-nilai dan kebajikannya; dan terakhir, masa depan ada di sini dalam seruan yang sangat mendesak akan keadilan dari bangsa-bangsa di dunia, keinginan mereka akan perdamaian, dahaga mereka, entah disadari atau tidak, akan kehidupan yang lebih baik, kehidupan yang justru dapat dan ingin diberikan oleh Gereja Kristus kepada mereka” (Santo Paulus VI, Pesan kepada Para Bapa Konsili, 8 Desember 1965).

 

Hal ini juga berlaku bagi kita. Saat kita mendekati dokumen-dokumen Konsili Vatikan II dan menemukan kembali relevansi kenabian dan kemasakiniannya, kita menyambut kekayaan tradisi kehidupan Gereja dan, pada saat yang sama, kita mempertanyakan diri kita sendiri tentang masa kini dan memperbarui sukacita kita dalam berlari menuju dunia untuk membawa Injil kerajaan Allah, kerajaan kasih, keadilan, dan damai.

 

 [Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang berasal dari Inggris, Irlandia, Australia, Kanada, dan Amerika Serikat. Kepada kamu semua dan keluargamu, saya menyampaikan doa dan harapan baik untuk masa Natal yang penuh berkah serta tahun baru yang penuh sukacita dan kedamaian. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memulai rangkaian katekese baru yang didedikasikan untuk Konsili Vatikan II dan untuk merefleksikan dokumen-dokumennya. Karya para Bapa Konsili membuka jalan bagi masa gerejawi baru, dengan berpusat pada misteri keselamatan dan kesatuan antara Allah dan umat-Nya. Pada saat yang sama, Konsili membuka Gereja untuk mengupayakan dialog dengan orang-orang yang berkehendak baik demi dunia yang lebih adil dan bersaudara. Kita melihat bahwa dokumen-dokumen tersebut tidak kehilangan relevansinya dan tetap relevan dengan tuntutan dan tantangan masa kini. Mempelajari dokumen-dokumen Konsili secara saksama akan membantu kita menjadi penafsir yang cermat terhadap tanda-tanda zaman, dan mewartakan Injil kepada semua orang. Saat kita melakukan perjalanan untuk menemukan kembali ajaran-ajaran Konsili Vatikan II, marilah kita menyambut masa lalu dengan kekayaan tradisinya; marilah kita memikirkan masa kini dengan suka dan dukanya; dan marilah kita menatap masa depan dengan seruan mendesak untuk keadilan, kasih, dan perdamaian yang lebih besar.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Januari 2026)



[1]A. Luciani – Yohanes Paulus I, Catatan tentang Konsili, dalam Opera omnia, vol. II, Vittorio Veneto 1959-1962. Discorsi, scritti, articoli, Padua 1988, 451-453.

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 Januari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat siang!

 

Selama masa suci ini kita telah merayakan beberapa hari raya. Hari Raya Penampakan Tuhan hari ini, seperti namanya, menunjukkan kepada kita apa yang memungkinkan sukacita bahkan di masa-masa sulit. Sebagaimana kamu ketahui, kata "epifani" berarti "perwujudan," dan sukacita kita memang berasal dari Misteri yang tidak lagi tersembunyi. Kehidupan Allah telah dinyatakan berkali-kali dan dengan cara yang berbeda, namun dengan kejelasan yang pasti dalam Yesus, sehingga kita sekarang tahu bagaimana berharap, bahkan di tengah banyak kesengsaraan. "Allah menyelamatkan" tidak memiliki arti lain, tidak ada nama lain [selain Yesus]. Hanya apa yang membebaskan dan menyelamatkan kita yang dapat berasal dari Allah dan merupakan epifani Allah.

 

Berlutut seperti orang-orang Majus di hadapan Bayi Betlehem berarti, juga bagi kita, menyatakan telah menemukan kemanusiaan sejati di mana kemuliaan Allah bersinar. Dalam Yesus, kehidupan sejati tampak, manusia yang hidup, Dia yang tidak hidup untuk diri-Nya sendiri tetapi terbuka dan dalam persekutuan, yang mengajari kita untuk berkata, “di bumi seperti di surga” (Mat 6:10). Sesungguhnya, kehidupan ilahi berada dalam jangkauan kita; kehidupan ilahi dinyatakan agar kita dapat dimasukkan dalam kebebasan dinamisnya, yang melonggarkan ikatan ketakutan dan memungkinkan kita untuk menemukan kedamaian. Ini adalah kemungkinan dan undangan, karena persekutuan tidak dapat dibatasi. Apa lagi yang lebih kita inginkan selain ini?

 

Dalam kisah Injil, dan dalam panggung kelahiran Yesus yang kita buat, orang-orang Majus mempersembahkan kepada Bayi Yesus beberapa persembahan berharga: emas, dupa, dan mur (bdk. Mat 2:11). Mungkin hal itu tampaknya tidak berguna bagi seorang bayi, tetapi mengungkapkan keinginan yang memberi kita banyak hal untuk direfleksikan saat kita mencapai akhir tahun Yubileum. Persembahan terbesar adalah memberikan segalanya. Marilah kita ingat janda miskin yang diperhatikan oleh Yesus, yang memasukkan dua uang tembaga terakhirnya ke dalam peti persembahan di Bait Allah, semua yang dimilikinya (bdk. Luk 21:1-4). Kita tidak tahu apa pun tentang harta benda orang-orang Majus, yang datang dari Timur, tetapi kepergian mereka, pengambilan risiko mereka, dan pemberian mereka menunjukkan bahwa segala sesuatu, sungguh segala sesuatu yang kita miliki dan kita punya perlu dipersembahkan kepada Yesus, yang adalah harta kita yang tak ternilai. Sementara itu, Yubileum telah mengingatkan kita akan keadilan yang didasarkan pada kemurahan hati, akan ketentuan asli Yubileum, yang mencakup seruan untuk memadukan kehidupan yang penuh kedamaian, mendistribusikan kembali tanah dan sumber dayanya, dan pemulihan "apa yang dimiliki" dan "harta milik" tersebut kepada rancangan Allah, yang jauh melebihi rancangan kita.

 

Saudara-saudari terkasih, pengharapan yang kita nyatakan harus berlandaskan pada kenyataan, karena Yesus turun dari surga untuk menciptakan kisah baru di dunia ini. Dalam persembahan orang-orang Majus, kita melihat apa yang dapat kita bagikan, apa yang tidak dapat lagi kita simpan untuk diri kita sendiri tetapi harus kita berikan kepada orang lain, sehingga kehadiran Yesus dapat tumbuh di tengah-tengah kita. Semoga Kerajaan-Nya bertumbuh, semoga sabda-Nya digenapi dalam diri kita, semoga orang asing dan musuh menjadi saudara dan saudari. Di tempat kesenjangan, semoga ada keadilan, dan semoga industri peperangan digantikan oleh kerajinan perdamaian. Sebagai penenun pengharapan, marilah kita bersama-sama menempuh perjalanan menuju masa depan melalui jalan lain (bdk. Mat 2:12).

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Pada Hari Raya Penampakan Tuhan, yang juga merupakan Hari Anak Misioner, saya menyampaikan salam dan terima kasih kepada semua anak-anak dan kaum muda yang, di banyak belahan dunia, berdoa untuk para misionaris dan berkomitmen untuk membantu sesama mereka yang kurang beruntung. Terima kasih, sahabat-sahabat terkasih!

 

Pikiran saya juga tertuju kepada komunitas gerejawi di Timur, yang besok akan merayakan Natal menurut kalender Julian. Saudara-saudari terkasih, semoga Tuhan Yesus menganugerahkan ketenangan dan kedamaian kepadamu dan keluargamu!

 

Dengan kasih saya saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara, terutama anggota Dewan Pimpinan Lembaga Katolik Pedesaan Sedunia, dengan harapan terbaik untuk karyamu.

 

Saya menyapa umat Lampedusa beserta pastor paroki mereka, kaum muda Gerakan “Tra Noi”, dan para peserta prosesi bersejarah-kerakyatan tradisional tentang nilai-nilai Hari Raya Kenaikan Tuhan, yang tahun ini menampilkan Sisilia.

 

Saya menyapa para peziarah Polandia dan banyak peserta “Prosesi Tiga Raja” yang berlangsung hari ini di Warsawa dan banyak kota di Polandia, serta di Roma!

 

Kepada kamu semua, saya menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru dalam terang Kristus yang bangkit.

 

Salam hangat untuk semua. Selamat Hari Raya!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 Januari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 4 Januari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Pada Hari Minggu II setelah Natal Tuhan ini, pertama-tama saya ingin menyampaikan salam hangat saya kepada kamu semua. Lusa, bersamaan penutupan Pintu Suci Basilika Santo Petrus, kita akan mengakhiri Yubileum Pengharapan. Misteri Natal itu sendiri, yang masih kita hayati, mengingatkan kita bahwa dasar pengharapan kita adalah Inkarnasi Allah. Prolog Injil Yohanes, yang diletakkan Liturgi di hadapan kita hari ini, mengingatkan kita dengan jelas: “Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14). Sesungguhnya, pengharapan kristiani tidak didasarkan pada ramalan optimis atau perhitungan manusiawi, tetapi pada keputusan Allah untuk ambil bagian dalam perjalanan kita, sehingga kita tidak pernah sendirian dalam menjalani hidup. Inilah karya Allah: dalam Yesus, Ia menjadi salah seorang dari kita, memilih untuk tinggal bersama kita, dan berkehendak untuk selamanya menjadi Allah yang menyertai kita.

 

Kedatangan Yesus dalam kelemahan daging manusiawi membangkitkan kembali pengharapan kita. Pada saat yang sama, kita diberi kepercayaan dengan komitmen ganda: komitmen kepada Allah dan komitmen kepada sesama manusia.

 

Kita berkomitmen kepada Allah, karena sejak Ia menjadi manusia, memilih kelemahan manusiawi kita sebagai tempat kediaman-Nya, kita dipanggil untuk mempertimbangkan kembali bagaimana kita memikirkan Dia, dimulai dari tubuh Yesus, dan bukan dari ajaran yang abstrak. Oleh karena itu, kita harus terus-menerus memeriksa spiritualitas kita dan cara-cara kita mengungkapkan iman kita, untuk memastikan bahwa semuanya benar-benar terwujud dalam diri kita. Dengan kata lain, kita harus mampu merenungkan, mewartakan, dan berdoa kepada Allah yang menjumpai kita dalam diri Yesus. Ia bukanlah ilah yang jauh di surga yang sempurna di atas kita, tetapi Allah yang dekat dan mendiami bumi kita yang rapuh ini, yang hadir dalam wajah saudara-saudari kita, dan menyatakan diri-Nya dalam keadaan kehidupan sehari-hari.

 

Komitmen kita kepada semua orang juga harus konsisten. Karena Allah telah menjadi salah seorang dari kita, setiap manusia ciptaan-Nya adalah cerminan-Nya, menyandang citra-Nya dan mengandung percikan cahaya-Nya. Ini semua mengajak kita untuk mengakui martabat yang tak ternodai dari setiap orang dan mempersembahkan diri kita dalam kasih timbal balik satu sama lain. Lebih jauh lagi, Inkarnasi menuntut komitmen nyata untuk mempromosikan persaudaraan dan persekutuan. Melalui komitmen ini, solidaritas menjadi kriteria semua hubungan manusia, mengajak kita untuk berjuang demi keadilan dan perdamaian, peduli terhadap yang paling rapuh, dan membela yang lemah. Allah telah menjadi manusia; oleh karena itu, tidak ada penyembahan Allah yang sejati tanpa kepedulian terhadap umat manusia.

 

Saudara-saudari, semoga sukacita Natal mendorong kita untuk melanjutkan perjalanan kita. Marilah kita memohon kepada Bunda Maria agar membuat kita semakin siap untuk melayani Allah dan sesama kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya ingin sekali lagi menyampaikan rasa simpati saya kepada mereka yang menderita akibat tragedi di Crans-Montana, Swiss, dan memastikan doa saya untuk kaum muda yang meninggal, para korban yang terluka, dan keluarga mereka.

 

Dengan keprihatinan yang mendalam saya mengikuti perkembangan di Venezuela. Kebaikan rakyat Venezuela yang terkasih harus diutamakan di atas pertimbangan lainnya. Hal ini harus mengarah pada penanggulangan kekerasan, dan pada pengupayaan jalan keadilan dan perdamaian, menjamin kedaulatan negara, memastikan supremasi hukum yang diabadikan dalam undang-undangnya, menghormati hak asasi manusia dan hak sipil setiap orang, dan bekerjasama untuk membangun masa depan kerjasama, stabilitas, dan kerukunan yang penuh kedamaian, dengan perhatian khusus kepada kaum miskin yang sedang menderita karena situasi ekonomi yang sulit. Saya berdoa untuk semua ini, dan saya mengajakmu untuk berdoa juga, mempercayakan doa kita kepada perantaraan Bunda Maria dari Coromoto, dan kepada Santo José Gregorio Hernández dan Santa Carmen Rendiles.

 

Saya menyapa kamu semua dengan penuh kasih sayang, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara, terutama dari Slovakia dan Zagreb, para pelayan altar dari Katedral Gozo, Malta, dan komunitas Seminari Keuskupan Fréjus-Toulon, Prancis.

 

Saya menyapa rombongan dari Oratorium Pugliano Ercolano, keluarga dan pekerja pastoral dari Postojna dan Porcellengo, umat Sant’Antonio Abate, Torano Nuovo, dan Collepasso; serta para pengajar dari Institut Rocco-Cinquegrana Sant’Arpino, pramuka dari Provinsi Modena dan Roccella Jonica, dan para calon penerima sakramen krisma dari Ula Tirso, Neoneli dan Trescore Balneario.

 

Sahabat-sahabatku yang terkasih, marilah kita terus beriman kepada Allah yang Maha Damai: marilah kita berdoa, dan menunjukkan solidaritas kepada bangsa-bangsa yang menderita akibat perang. Selamat hari Minggu untuk kamu semua!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Januari 2026)