Saudara-saudari
terkasih, selamat hari Minggu!
Bacaan
Injil hari ini melukiskan gambaran yang cemerlang bagi kita semua saat
menceritakan perubahan rupa Tuhan (bdk. Mat 17:1-9). Dalam penggambaran ini,
Penginjil mengambil inspirasi dari ingatan para Rasul, menggambarkan Kristus di
antara Musa dan Elia. Sabda yang menjadi daging berdiri di antara Hukum dan
para Nabi: Dia adalah Hikmat yang hidup, yang menggenapi setiap sabda ilahi.
Segala sesuatu yang telah diperintahkan dan diinspirasikan Allah kepada manusia
menemukan ungkapan penuh dan definitifnya dalam diri Yesus.
Sama
seperti pada hari pembaptisan-Nya di Sungai Yordan, demikian pula hari ini di
gunung kita mendengar suara Bapa yang menyatakan, “Inilah Anak-Ku yang
terkasih,” sementara Roh Kudus menaungi Yesus dalam “awan yang terang” (Mat
17:5). Bacaan Injil menggunakan ungkapan unik ini untuk menggambarkan bagaimana
Allah menyatakan diri-Nya. Ketika Ia menyatakan diri-Nya, Tuhan membuat
kelimpahan-Nya terlihat oleh pandangan kita: berdiri di hadapan Yesus, yang
wajah-Nya bercahaya “seperti matahari” dan pakaian-Nya menjadi “putih
berkilauan” (bdk. ayat 2), para murid menyaksikan kemuliaan manusiawi Allah.
Petrus, Yakobus, dan Yohanes merenungkan kemuliaan yang rendah hati, yang tidak
ditampilkan sebagai tontonan bagi orang banyak, tetapi dalam keintiman yang
khidmat.
Perubahan
rupa merupakan pertanda terang Paskah: suatu peristiwa kematian dan
kebangkitan, kegelapan dan terang baru yang dipancarkan Kristus kepada semua
tubuh yang dicambuk oleh kekerasan, disalibkan oleh penderitaan, atau
ditinggalkan dalam kesengsaraan. Sesungguhnya, sementara kejahatan mereduksi
daging kita menjadi komoditas atau massa anonim, daging yang sama ini bersinar
dengan kemuliaan Allah. Sang Penebus dengan demikian mengubah luka-luka
sejarah, menerangi pikiran dan hati kita: wahyu-Nya adalah karunia keselamatan!
Apakah ini memikat kita? Apakah kita melihat wajah Allah yang sejati dengan
tatapan kagum dan penuh kasih?
Jawaban
Bapa terhadap keputusasaan ateisme adalah karunia Putra-Nya, Sang Juruselamat;
Roh Kudus menebus kita dari kesepian agnostisisme dengan menawarkan kepada kita
persekutuan hidup dan rahmat yang kekal; dan sebagai tanggapan terhadap iman
kita yang lemah, janji kebangkitan di masa depan dikumandangkan. Inilah yang
dilihat para murid dalam kemuliaan Kristus, tetapi butuh waktu bagi mereka
untuk memahaminya (bdk. Mat 17:9), waktu dalam keheningan untuk mendengarkan
sabda, waktu untuk pertobatan agar dapat menikmati persekutuan Tuhan.
Saat kita
mengalami hal ini selama Masa Prapaskah, marilah kita memohon kepada Maria,
guru doa dan bintang fajar, untuk menuntun kita dalam iman.
[Setelah
pendarasan doa Malaikat Tuhan]
Saudara-saudari
terkasih!
Saya
sedang mengikuti dengan keprihatinan mendalam apa yang terjadi di Timur Tengah
dan Iran selama masa yang penuh gejolak ini. Stabilitas dan perdamaian tidak
dicapai melalui saling mengancam, atau melalui penggunaan senjata, yang menabur
kehancuran, penderitaan, dan kematian, tetapi hanya melalui dialog yang masuk
akal, tulus, dan bertanggung jawab.
Menghadapi
kemungkinan tragedi yang sangat besar, saya menyampaikan permohonan tulus
kepada semua pihak yang terlibat untuk memikul tanggung jawab moral dalam
menghentikan pilinan kekerasan sebelum menjadi jurang yang tak terjembatani.
Semoga diplomasi kembali memainkan peran yang semestinya, dan semoga
kesejahteraan rakyat yang mendambakan kehidupan damai yang berlandaskan
keadilan, dijunjung tinggi. Dan marilah kita terus berdoa untuk perdamaian.
Pada
hari-hari ini, berita yang mengkhawatirkan tentang bentrokan antara Pakistan
dan Afghanistan juga telah tiba. Saya mendesak agar dialog kembali dilakukan.
Marilah kita berdoa bersama agar kerukunan dapat terwujud dalam semua konflik
di seluruh dunia. Hanya perdamaian, karunia Allah, yang dapat menyembuhkan luka
di antara bangsa-bangsa.
Saya
ingin menyampaikan rasa simpati saya kepada mereka yang sangat terdampak banjir
di negara bagian Minas Gerais, Brasil. Saya berdoa untuk para korban, keluarga
yang kehilangan rumah mereka, dan semua yang terlibat dalam upaya penyelamatan.
Saya
menyapa dengan hangat kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai
negara, khususnya kelompok warga Kamerun yang tinggal di Roma, didampingi oleh
Presiden Konferensi Wali Gereja mereka, yang, semoga Allah berkenan, akan saya
kunjungi pada bulan April.
Saya
menyapa umat dari Keuskupan Iași, Rumania, Keuskupan Budimir, Košice, Slovakia,
Keuskupan Massachusetts, Amerika Serikat, dan Persaudaraan Santísimo Cristo de
la Buena Muerte, Jaén, Spanyol.
Saya
menyapa umat dari Napoli, Torre del Greco, dan Afragola; dari Caraglio dan
Valle Grana; dari Comitini, Crotone, Silvi Marina, dan Paroki Santo Luigi
Gonzaga, Roma; serta para pemimpin pramuka dari kelompok “Val d’Illasi”, dekat
Verona, dan kaum muda dari Faenza yang telah menerima Sakramen Krisma.
Saya
mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 1 Maret 2026)
.jpeg)



Print this page