Saudara-saudari
terkasih, selamat hari Minggu!
Bacaan
Injil hari Minggu ini (Mat 16:13-20) menghadapkan kita pada sebuah pertanyaan
yang menyapa kita masing-masing dalam perjalanan iman kita: Siapakah Yesus yang
sesungguhnya bagiku?
Perikop
Injil membuat kita memahami betapa menentukan pertanyaan ini berkaitan dengan
pengalaman menjadi murid. Sesungguhnya, meskipun kedua belas rasul telah banyak
ambil bagian dalam kehidupan dan pelayanan Guru mereka, Yesus tidak begitu saja
menganggap mereka sungguh mengenal-Nya atau telah memahami misteri Kerajaan
Allah. Maka, setelah bertanya kepada mereka tentang apa yang dikatakan orang
banyak mengenai diri-Nya, Ia bertanya langsung kepada mereka: "Menurut
kamu, siapakah Aku ini?" (Mat 16:15).
Saudara-saudari,
ini adalah pertanyaan mendasar bagi para murid dari segala zaman, dan bagi kita
masing-masing. Iman bukan sesuatu yang diberikan kepada kita sekali untuk
selamanya. Sebaliknya, kita senantiasa perlu menemukan kembali wajah Kristus
dan Injil-Nya, mendalami pesan-Nya, serta memperbarui pilihan-pilihan hidup
kita agar selaras dengan apa yang kita imani. Dengan cara demikian, kita dapat
mengatasi godaan untuk merasa sudah mengetahui segalanya dan mereduksi iman
menjadi sekadar kebiasaan belaka.
Pertanyaan
yang ditujukan kepada kita setiap hari — siapakah Yesus bagiku, dan apakah arti
kehadiran-Nya dalam hidupku? — muncul terutama saat kita berdoa dan merenungkan
Injil. Namun, pertanyaan itu juga muncul ketika kita menjumpai luka dan
kebutuhan sesama kita, serta dalam berbagai hubungan dan situasi yang paling
mendalam menguji hati nurani kita. Singkatnya, dalam kehidupan sehari-hari,
kita dapat menemukan apakah Tuhan Yesus bagi kita hanyalah sekadar tokoh
sejarah besar yang mengatakan dan melakukan hal-hal penting, ataukah Dia adalah
Kristus Allah, Pribadi yang diutus untuk membawa kita ke dalam kasih Bapa serta
mengubah hidup kita dan dunia tempat tinggal kita.
Saudara-saudari
terkasih, marilah kita tidak menarik diri ke dalam keyakinan dan kepastian
religius kita, melainkan tetap terbuka terhadap hubungan sejati dengan Kristus.
Terkadang, terkait iman kristiani, kita mungkin merasa cukup dengan apa yang
hanya kita "dengar", dengan anggapan umum, atau dengan apa yang telah
diwariskan kepada kita — mungkin bahkan dengan niat yang sangat baik. Namun,
Yesus memanggil kita untuk memberikan tanggapan pribadi, mengenal-Nya lebih
dekat, dan membiarkan diri kita dibentuk oleh persahabatan dengan-Nya melalui
perjumpaan yang senantiasa baru. Hal ini mungkin juga menuntut kita untuk
menempuh jalan-jalan yang asing dan membuat pilihan-pilihan yang berbeda dari
apa yang sebelumnya kita bayangkan.
Hal ini
berlaku baik bagi perjalanan pribadi kita maupun perjalanan Gereja, serta bagi
pilihan-pilihan pastoral kita — terutama saat kita mungkin merasa cukup dengan
sekadar meneruskan cara-cara yang selama ini kita lakukan. Sebaliknya, penting
bagi kita untuk sering bertanya pada diri sendiri: Siapakah Tuhan bagiku?
Apakah aku sungguh mengenal-Nya? Apa yang dituntut oleh Injil-Nya dariku hari
ini? Langkah dan pilihan apa yang harus aku ambil?
Marilah
kita memohon bantuan Santa Perawan Maria — yang senantiasa mencari kehendak
Allah di dalam hatinya melalui Putranya — agar ia senantiasa membimbing kita di
jalan iman.
[Setelah
pendarasan doa Malaikat Tuhan]
Saudara-saudari
yang terkasih,
Dalam
doa-doa saya, saya sering mengingat Republik Demokratik Kongo, khususnya
terkait dengan penyebaran wabah Ebola yang sayangnya telah merenggut banyak
nyawa. Saya mendorong masyarakat internasional untuk memberikan tanggapan yang
juga melibatkan masyarakat setempat dalam upaya pencegahan, agar banyak nyawa
dapat diselamatkan.
Saya juga
merasa dekat dengan masyarakat Republik Afrika Tengah yang sedang berduka atas
para korban runtuhnya tambang di Zamboyé. Semoga Tuhan menerima jiwa mereka
yang telah meninggal dunia dan mendukung upaya untuk menjamin keselamatan serta
kepatuhan terhadap hukum di lokasi-lokasi pertambangan.
Besok
merupakan eringatan sepuluh tahun gempa bumi yang melanda Italia bagian tengah,
yang berdampak pada wilayah Lazio, Umbria, dan Marche. Saya mendoakan mereka
yang telah meninggal dunia dan keluarga mereka, serta bagi seluruh komunitas
yang terdampak. Semoga iman dan solidaritas terus menopang upaya pembangunan
kembali.
Saya
menyapa kamu semua dengan penuh kasih sayang, umat Roma dan para peziarah dari
berbagai negara.
Secara
khusus, saya menyapa dengan hangat Paduan Suara Primatial Katedral Gniezno
Polandia; para seminaris dan fakultas Kolese Kepausan Amerika Utara; serta kaum
muda dari Bormio dan Valfurva.
Saya
mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya!
______
(Peter Suriadi - Bogor, 23 Agustus 2026)



Print this page