Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 26 Maret 2017 : TENTANG BERJALAN DALAM TERANG SEJATI

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Inti pokok Injil, Hari Minggu Prapaskah IV ini, adalah Yesus dan seorang yang buta sejak lahir (Yoh 9:1-41). Kristus memulihkan penglihatannya dan melakukan mukjizat ini dengan semacam ritual simbolik : pertama, Ia mengaduk tanah dengan air liur dan mengoleskannya pada matanya; kemudian, memerintahkannya pergi dan membasuh dirinya di kolam Siloam. Orang itu pergi, membasuh, dan mendapatkan kembali penglihatannya. Dengan mukjizat ini, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai terang dunia; dan orang yang buta sejak lahir adalah kita masing-masing, karena kita diciptakan untuk mengenal Allah, tetapi oleh karena dosa, [kita] seperti orang buta, kita membutuhkan sebuah terang yang baru, terang iman, terang yang telah diberikan Yesus kepada kita. Bahkan, orang buta dalam Injil yang mendapatkan kembali daya penglihatannya membeberkan misteri Kristus. "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?". Ia menjawab dan berkata, "Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya". Kata Yesus kepadanya, "Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!". Ia berkata, "Aku percaya, Tuhan!", dan ia sujud menyembah-Nya.

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG MUDA SEDUNIA XXXII (Minggu, 9 April 2017)

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG MUDA SEDUNIA XXXII (Minggu, 9 April 2017) : “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku” (Luk 1:49)

Sahabat-sahabat muda yang terkasih,

Di sinilah kita berada, kembali di jalan, setelah pertemuan besar kita di Krak√≥w, di mana kita merayakan Hari Orang Muda Sedunia XXXI dan Yubileum untuk Kaum Muda sebagai bagian dari Tahun Suci Kerahiman. Kita mengambil sebagai pemandu kita Santo Yohanes Paulus II dan Santa Faustina Kowalska, para rasul kerahiman ilahi, dalam rangka  menawarkan sebuah tanggapan nyata terhadap tantangan-tantangan zaman kita. Kita memiliki pengalaman persaudaraan dan sukacita yang kuat, dan kita memberi dunia sebuah tanda pengharapan. Bendera dan bahasa kita yang berbeda tidak menjadi alasan untuk persaingan dan perpecahan, namun sebuah kesempatan untuk membuka pintu hati kita dan membangun jembatan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 22 Maret 2017 : TENTANG PENGHARAPAN YANG BERLANDASKAN SABDA ALLAH


Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Untuk beberapa minggu hingga sekarang, Rasul Paulus telah membantu kita untuk lebih memahami terdiri dari apakan pengharapan kristiani. Dan kita mengatakan bahwa itu bukanlah optimisme, itu adalah sesuatu yang lain. Dan Rasul Paulus membantu kita untuk memahami hal ini. Hari ini ia melakukannya dengan mendekatinya dari dua sikap yang semuanya penting bagi kehidupan kita dan pengalaman iman kita : "ketekunan" dan "penghiburan" (Rm 15:4,5). Mereka disebutkan dua kali dalam perikop surat kepada jemaat di Roma yang baru saja kita dengar : pertama mengacu pada Kitab Suci dan kemudian kepada Allah sendiri. Apa arti mereka yang paling mendalam, yang paling sejati? Dan dengan cara apa mereka melontarkan terang pada kenyataan pengharapan? Kedua sikap ini : ketekunan dan penghiburan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 19 Maret 2017 : TENTANG AIR HIDUP

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini, Hari Minggu Prapaskah III, menyajikan kepada kita dialog Yesus dengan perempuan Samaria (Yoh 4:5-42). Perjumpaan tersebut terjadi ketika Yesus sedang melalui Samaria, wilayah antara Yudea dan Galilea, yang dihuni oleh orang-orang yang dicibir orang-orang Yahudi, mengingat mereka adalah sempalan dan sesat. Namun, penduduk ini akan menjadi, pada kenyataannya, penduduk pertama yang setia terhadap pewartaan kristiani para Rasul. Sementara murid-murid pergi ke desa untuk mendapatkan sesuatu untuk dimakan, Yesus tinggal dengan baik dan meminta minum kepada seorang perempuan, yang telah datang ke sana untuk menimba air. Dan dari permintaan ini, sebuah dialog dimulai. "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?". Yesus menjawab : "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" (ayat 10-14).