Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 22 Februari 2017 : KITA DISELAMATKAN DALAM PENGHARAPAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Kita sering tergoda untuk berpikir bahwa ciptaan adalah milik kita, kepunyaan yang dapat kita eksploitasi untuk kesenangan kita dan yang baginya kita tidak memperhitungkan siapapun. Dalam perikop Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma (8:19-27), yang baru saja kita dengar, Rasul Paulus mengingatkan kita, sebaliknya, bahwa ciptaan adalah karunia yang indah yang telah ditempatkan Allah di tangan kita, sehingga kita bisa masuk ke dalam hubungan dengan-Nya dan mengenali tanda rancangan kasih-Nya, yang kepada perwujudannya kita semua dipanggil untuk bekerjasama, hari demi hari.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 19 Februari 2017 : TENTANG MENGASIHI MUSUH-MUSUH KITA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam Injil hari Minggu ini (Mat 5:38-48) - salah satu perikop yang mengungkapkan terbaik "revolusi" kristiani - Yesus menunjukkan jalan keadilan sejati melalui hukum kasih, yang mengatasi hukum pembalasan, yaitu, "mata ganti mata dan gigi ganti gigi". Aturan kuno yang dikenakan ini mengakibatkan pada para pelanggarnya hukuman yang setara dengan kerugian yang disebabkan : kematian terhadap orang yang membunuh, amputasi terhadap orang yang melukai seseorang, dan sebagainya. Yesus tidak meminta para murid-Nya membiarkan kejahatan, melainkan, Ia meminta mereka untuk bereaksi, tetapi tidak dengan kejahatan lain, tetapi dengan kebaikan. Hanya dengan demikianlah rantai kejahatan dipatahkan : sebuah kejahatan mengarah ke kejahatan lain, kejahatan lain mengarah ke kejahatan lain ... Rantai kejahatan ini dipatahkan, dan hal-hal benar-benar berubah. Kejahatan sebenarnya adalah sebuah "kekosongan", sebuah kekosongan akan kebaikan, dan ia tidak dapat diisi dengan kekosongan lain, tetapi hanya dengan "kepenuhan," yaitu, dengan kebaikan. Pembalasan tidak pernah mengarah pada penyelesaian perseteruan. "Kamu melakukannya terhadapku, aku akan melakukannya terhadapmu" : hal ini tidak pernah menyelesaikan sebuah perseteruan, dan juga tidak kristiani.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 15 Februari 2017 : TENTANG PENGHARAPAN YANG TIDAK MENGECEWAKAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Sebagai anak-anak kita diajarkan bahwa bukanlah hal yang baik untuk bermegah. Di negeri saya, kami menyebut orang-orang yang bermegah "burung merak". Dan itu benar, karena bermegah atas diri sendiri atau atas apa yang dimiliki, selain menjadi kebanggaan tertentu, juga menyingkapkan kurangnya rasa hormat dalam hubungan dengan orang lain, terutama terhadap orang-orang yang lebih tidak beruntung dibanding kita. Dalam perikop dari surat kepada jemaat di Roma ini, Rasul Paulus mengejutkan kita, demi kebaikan sebanyak dua kali ia mendorong kita untuk bermegah. Oleh karena itu, apakah benar bermegah? - karena jika ia mendesak kita untuk bermegah, benarlah bermegah atas sesuatu. Dan bagaimana mungkin melakukan hal ini tanpa menyinggung, orang lain, tanpa mengecualikan orang?

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 12 Februari 2017 : TENTANG PENGGENAPAN HUKUM MUSA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Liturgi hari ini menyajikan kepada kita perikop lain Khotbah di Bukit, yang kita temukan dalam Injil Matius (bdk. 5:17-37). Dalam perikop ini, Yesus ingin membantu para pendengar-Nya membaca ulang Hukum Musa. Apa yang dikatakan dalam Perjanjian Lama adalah benar, tetapi tidak semuanya : Yesus datang untuk menggenapinya dan mempromosikan Hukum Allah dengan cara yang menentukan, hingga iota terakhir (bdk. ayat 18). Ia mengejawantahkan tujuan aslinya dan menggenapi segi otentik, dan Ia melakukan semua ini melalui khotbah-Nya dan bahkan lebih dengan mempersembahkan diri-Nya di kayu salib. Dengan demikian Yesus mengajarkan bagaimana melaksanakan sepenuhnya kehendak Allah dan Ia menggunakan kata ini : dengan "keadilan yang lebih tinggi" berkaitan dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (bdk. ayat 20). Sebuah keadilan yang dijiwai oleh kasih, amal dan kerahiman dan, karenanya, mampu melaksanakan intisari Perintah-perintah Allah, menghindari resiko formalitas. Formalitas : Saya bisa melakukan ini, saya tidak bisa melakukan itu; sampai di sini saya bisa, sampai di sini saya tidak bisa ... Tidak lebih, tidak lebih.