Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 14 November 2018 : TENTANG PERINTAH KEDELAPAN (JANGAN BERSAKSI DUSTA)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi

Dalam katekese hari ini, kita akan membahas perintah kedelapan dari Dasa Firman : "Jangan bersaksi dusta terhadap sesamamu".

Perintah ini - Katekismus Gereja Katolik mengatakan - "melarang memutarbaIikkan kebenaran dalam hubungan dengan orang lain" (no. 2464). Beratnya menjalani komunikasi yang tidak otentik karena menghambat hubungan dan, oleh karena itu, menghambat cinta. Di mana ada kebohongan di situ tidak ada cinta, cinta tidak bisa dilakukan. Dan ketika kita berbicara tentang komunikasi di antara orang-orang yang kita maksudkan bukan hanya perkataan tetapi juga isyarat, sikap, bahkan keheningan, dan ketidakhadiran. Seseorang berbicara dengan seluruh dirinya dan yang dilakukannya. Kita semua selalu berkomunikasi. Kita semua hidup berkomunikasi dan kita terus-menerus berada di antara kebenaran dan kebohongan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 November 2018 : TENTANG AHLI TAURAT YANG PONGAH DAN JANDA YANG MISKIN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Kisah Injil hari ini (bdk. Mrk 12:38-44) menutup rangkaian ajaran yang disampaikan Yesus di Bait Suci Yerusalem dan menyoroti dua tokoh yang bertolak belakang : ahli Taurat dan janda. Tetapi mengapa mereka bertolak belakang? Ahli Taurat mewakili orang-orang penting, kaya dan berpengaruh. Yang lainnya, janda, mewakili orang-orang kecil, miskin dan lemah. Pada kenyataannya penilaian Yesus yang tegas berkaitan dengan ahli-ahli Taurat, tidak menyangkut seluruh golongan, tetapi mengacu pada orang-orang yang mempertontonkan kedudukan sosial mereka, yang pongah dengan gelar "Rabi" mereka, yaitu, guru, yang suka dinanti-nantikan dan menduduki tempat terdepan (bdk. ayat 38-39). Yang lebih buruk adalah kepongahan mereka terutama bersifat keagamaan karena mereka - Yesus mengatakan - “mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang” (ayat 40) dan memanfaatkan Allah untuk membanggakan diri mereka sebagai para penjaga hukum-Nya. Dan sikap merasa lebih unggul dan pongah ini membuat mereka menghina orang-orang yang terhitung kecil dan berada dalam kedudukan ekonomi yang kurang beruntung, seperti janda.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 7 November 2018 : TENTANG PERINTAH KETUJUH (JANGAN MENCURI)

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Melanjutkan penjelasan tentang Dasa Firman, hari ini kita sampai pada perintah ketujuh : “Jangan mencuri”.

Mendengar perintah ini, kita memikirkan masalah pencurian dan penghormatan terhadap harta milik orang lain. Tidak ada budaya yang melegalkan pencurian dan penyalahgunaan harta benda. Bahkan, kepekaan manusia sangat rentan ketika menyangkut mempertahankan kepemilikan. Namun, ada gunanya kita membuka diri untuk membaca perintah ini secara lebih luas, berfokus pada tema tentang harta benda dalam terang kebijaksanaan Kristiani.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 4 November 2018 : TENTANG MENGASIHI ALLAH DAN MENGASIHI SESAMA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Pusat Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 12:28b-34), adalah hukum kasih : mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus : “Hukum manakah yang paling utama?” (ayat 28). Ia menjawab dengan mengutip pengakuan iman yang digunakan setiap orang Israel untuk membuka dan menutup harinya yang dimulai dengan kata-kata "Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa" (Ul 6:4). Jadi, Israel menjaga imannya dalam kenyataan dasariah dari seluruh keyakinannya : hanya ada satu Tuhan dan Tuhan adalah “milik kita”, dalam arti Ia mengikatkan diri-Nya kepada kita dengan perjanjian yang tak terhapuskan; Ia telah mengasihi kita, Ia mengasihi kita dan Ia akan mengasihi kita selamanya. Dari sumber inilah, mengasihi Allah inilah hukum ganda tersebut bermula : “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu [...] Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (ayat 30-31).