Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 20 Januari 2019 : TENTANG MUKJIZAT PADA PERKAWINAN DI KANA

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Hari Minggu lalu, dengan Pesta Pembaptisan Tuhan, secara liturgi kita memulai perjalanan Masa Biasa, Masa untuk mengikuti Yesus dalam kehidupan-Nya di muka umum, dalam perutusan yang untuknya Bapa mengutus-Nya ke dunia. Dalam Injil hari ini (bdk. Yoh 2:1-11) kita menemukan kisah mukjizat pertama Yesus. Tanda-tanda ajaib pertama ini dilakukan di desa Kana di Galilea, selama perayaan perkawinan. Bukan kebetulan upacara perkawinan ditempatkan pada awal kehidupan Yesus di muka umum, karena di dalam diri-Nya Allah telah menikahi umat manusia. Hal ini adalah Kabar Baik, bahkan jika mereka yang mengundang-Nya belum tahu bahwa Putra Allah duduk di meja mereka dan bahwa Ia adalah Sang Mempelai yang sesungguhnya. Faktanya, seluruh misteri tanda di Kana ditemukan pada kehadiran Sang Mempelai Ilahi ini, Yesus, yang mulai menyatakan diri-Nya. Yesus mewujudkan diri-Nya sebagai Sang Mempelai Umat Allah, diwartakan oleh para nabi, dan perwujudan itu mengungkapkan kepada kita kedalaman hubungan yang mempersatukan kita dengan-Nya: perwujudan itu merupakan Perjanjian kasih yang baru.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 16 Januari 2019 : TENTANG DOA BAPA KAMI - ABBA, BAPA (ROMA 8:14-16)

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Melanjutkan katekese tentang "Doa Bapa Kami", hari ini kita akan mulai mengamati bahwa, dalam Perjanjian Baru, doa tersebut tampaknya berusaha untuk sampai pada inti pokoknya, pada titik yang terpusat dalam satu kata : Abba, Bapa.

Kita telah mendengar apa yang ditulis Santo Paulus dalam Surat kepada jemaat di Roma: “Kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: 'ya Abba, ya Bapa!'” (8:15). Dan jemaat di Galatia, Rasul Paulus mengatakan : "Karena kamu adalah putra, maka Allah telah menyuruh Roh Putra-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (Gal 4:6). Dua kali di sana dimohonkan doa yang sama, yang di dalamnya seluruh kebaruan Injil dipadatkan. Setelah mengenal Yesus dan mendengarkan khotbah-Nya, orang Kristiani tidak lagi dapat menganggap Allah sebagai penguasa yang lalim yang menakutkan; ia tidak lagi takut tetapi lebih merasakan kepercayaan kepada-Nya berkembang di dalam hatinya: ia dapat berbicara kepada Sang Pencipta, memanggil-Nya “Bapa”. Ungkapan ini sangat penting bagi umat Kristiani sehingga sering dilestarikan dalam bentuk aslinya: "Abba".

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 13 Januari 2019 : TENTANG PESTA PEMBAPTISAN TUHAN

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Hari ini, yang secara liturgi merupakan akhir Masa Natal, kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Liturgi memanggil kita untuk semakin sepenuhnya mengenal Yesus, yang kelahiran-Nya kita rayakan beberapa saat yang lalu. Dan, oleh karena itu, Injil (bdk. Luk 3:15-16.21-22) menggambarkan dua unsur penting : hubungan Yesus dengan orang-orang, dan hubungan Yesus dengan Bapa.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 9 Januari 2019 : TENTANG DOA BAPA KAMI - KETOKLAH, MAKA PINTU AKAN DIBUKAKAN BAGIMU (LUKAS 11:9-13)

Katekese hari ini mengacu pada Injil Lukas. Pada kenyataannya, terutama Injil inilah, sejak kisah masa kanak-kanak, yang menggambarkan sosok Kristus dalam suasana yang kental dengan doa. Di dalamnya terkandung tiga madah pujian yang menandai doa Gereja setiap hari: Benedictus, Magnificat, dan Nunc dimittis. Dan dalam katekese tentang doa Bapa Kami ini, kita melanjutkan, kita melihat Yesus sebagai seorang pendoa. Yesus berdoa. Dalam kisah Lukas, misalnya, peristiwa Transfigurasi terjadi saat berdoa. Dikatakan demikian : “Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan” (9:29). Namun, setiap langkah kehidupan Yesus seakan-akan didorong oleh tiupan nafas Roh Kudus, yang menuntun-Nya dalam semua tindakan-Nya. Yesus berdoa dalam Pembaptisan di Sungai Yordan, Ia berbicara dengan Bapa sebelum mengambil keputusan yang paling penting; Ia sering mengundurkan diri untuk berdoa, Ia mendoakan Petrus yang sejak itu akan segera menyangkal-Nya. Ia mengatakan demikian : “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu" (Luk 22:31-32). Hal ini menghibur : mengetahui bahwa Yesus mendoakan kita, Ia mendoakan saya, kita masing-masing supaya iman kita jangan gugur. Dan hal ini benar. "Tetapi Bapa, apakah Ia masih melakukannya? Ia masih melakukannya, di hadapan Bapa. Yesus mendoakan saya. Kita masing-masing dapat mengatakan hal ini. Dan kita juga dapat mengatakan kepada Yesus: "Engkau sedang mendoakanku, teruslah berdoa seperti yang aku butuhkan", - jadi, beranikanlah diri.