Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 16 Januari 2022 : TANDA MENANGGAPI KEBUTUHAN DAN MENGUNGKAPKAN KASIH ALLAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini menceritakan kisah perkawinan di Kana, di mana, demi sukacita kedua mempelai, Yesus mengubah air menjadi anggur. Beginilah kisah itu berakhir : “Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya” (Yoh 2:11). Kita perhatikan bahwa penginjil Yohanes tidak berbicara tentang mukjizat, yaitu perbuatan yang penuh kuasa dan luar biasa yang menimbulkan keheranan. Ia menulis bahwa sebuah tanda terjadi di Kana, sebuah tanda yang memicu iman murid-murid-Nya. Maka, kita dapat bertanya pada diri kita sendiri : Apa “tanda” menurut Injil?

 

Tanda memberi petunjuk yang mengungkapkan kasih Allah, yang tidak memberi perhatian pada kekuatan tindakan, tetapi pada kasih yang menyebabkannya. Tanda mengajarkan kita sesuatu tentang kasih Allah yang selalu dekat, lembut dan penuh kasih. Tanda pertama Yesus terjadi ketika kedua mempelai menghadapi kesulitan pada hari terpenting dalam hidup mereka. Tepat di tengah pesta, unsur penting untuk pesta, anggur, habis dan kegembiraan mereka berisiko padam karena kritik dan ketidakpuasan para tamu. Bayangkan bagaimana pesta perkawinan bisa berlangsung hanya dengan air. Sangat mengerikan! Kedua mempelai bisa mendapatkan kesan buruk.

 

Bunda Marialah yang menyadari masalah ini dan secara diam-diam membawanya kepada Yesus untuk meminta perhatian-Nya. Dan Ia campur tangan tanpa gembar-gembor, hampir tanpa membuatnya jelas. Semuanya terjadi secara diam-diam, semuanya terjadi "di belakang layar" – Yesus menyuruh para pelayan untuk mengisi tempayan dengan air, lalu air itu berubah menjadi anggur. Beginilah cara Allah bertindak, dekat dengan kita dan secara diam-diam. Murid-murid Yesus memahami hal ini : mereka melihat bahwa, berkat Dia, perjamuan perkawinan menjadi lebih indah. Dan mereka juga melihat cara Yesus bertindak – cara Ia melayani secara tersembunyi (inilah Yesus – Ia membantu kita, Ia melayani kita secara sembunyi-sembunyi) pada saat itu sedemikian rupa sehingga mempelai prialah yang dipuji karena anggur yang baik. Tidak ada yang menyadarinya, hanya para pelayan. Beginilah benih iman mulai berkembang di dalam diri mereka – yaitu, mereka percaya bahwa Allah, kasih Allah, hadir dalam diri Yesus.

 

Betapa indahnya memikirkan tanda pertama yang diperbuat Yesus bukanlah penyembuhan yang luar biasa atau sesuatu yang menakjubkan di Bait Suci Yerusalem, tetapi suatu tindakan yang menanggapi kebutuhan sederhana dan nyata dari orang-orang biasa, suatu tindakan rumah tangga. Marilah kita berbuat demikian – mukjizat yang dilakukan dengan ujung jari, diam-diam, tanpa suara. Yesus siap membantu kita, mengangkat kita. Dan kemudian, jika kita memperhatikan "tanda-tanda" ini, kita akan ditaklukkan oleh kasih-Nya dan kita akan menjadi murid-murid-Nya.

 

Tetapi ada ciri khas lain tentang tanda di Kana. Umumnya, anggur yang disediakan di akhir pesta tidak begitu baik – hal ini masih dilakukan sampai sekarang. Pada saat itu, orang tidak membedakan apakah itu anggur yang baik atau anggur yang sedikit diencerkan. Sebaliknya, Yesus bertindak sedemikian rupa sehingga pesta berakhir dengan anggur yang lebih baik. Secara simbolis, ini memberitahu kita bahwa Allah menginginkan yang lebih baik bagi kita, Dia menginginkan kita bahagia. Ia tidak menetapkan batasan dan tidak meminta kita insentif. Tidak ada tempat untuk motif atau tuntutan tersembunyi yang ditempatkan pada kedua mempelai. Tidak, sukacita yang dibawa Yesus ke dalam hati mereka adalah sukacita yang lengkap dan tanpa pamrih, sukacita yang tidak mengencer, tidak!

 

Jadi, saya ingin menyarankan sebuah latihan kepadamu yang akan sangat baik bagi kita. Hari ini, marilah kita mencoba mengobrak-abrik ingatan kita, mencari tanda-tanda yang telah diperbuat Tuhan dalam hidupku. Marilah kita masing-masing berkata : dalam hidupku, apakah tanda-tanda yang telah diperbuat Tuhan? Apa tanda-tanda kehadiran-Nya, tanda-tanda yang diperbuat-Nya untuk menunjukkan bahwa Ia mengasihi kita? Marilah kita berpikir tentang saat-saat sulit di mana Allah memperkenankanku untuk mengalami kasih-Nya… Dan marilah kita bertanya pada diri kita sendiri : aneka tanda penuh kasih apakah yang melaluinya Ia memperkenankanku merasakan kelembutan-Nya? Kapan aku merasakan Tuhan lebih dekat denganku? Kapan aku semakin merasakan kelembutan dan belas kasih-Nya? Kita masing-masing memiliki momen ini dalam sejarah pribadi kita. Marilah kita mencari tanda-tanda ini, marilah kita mengingatnya. Bagaimana aku menemukan kedekatan-Nya dan bagaimana hal itu memenuhi hatiku dengan sukacita yang besar? Marilah kita menghidupkan kembali saat-saat di mana kita telah mengalami kehadiran-Nya dan pengantaraan Maria. Semoga ia, Bunda yang selalu penuh perhatian seperti di Kana, membantu kita menghargai tanda-tanda kehadiran Allah dalam hidup kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan orang-orang yang terkena hujan deras dan banjir di berbagai wilayah Brasil selama beberapa pekan terakhir ini. Saya terutama sedang mendoakan para korban dan keluarga mereka, dan mereka yang kehilangan tempat tinggal. Semoga Allah menopang upaya mereka yang sedang memberikan bantuan.

 

Dari tanggal 18 hingga 25 Januari, Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristiani akan berlangsung. Proposal tahun ini bercermin pada pengalaman para Majus yang datang dari Timur ke Betlehem untuk menghormati Raja Mesianik. Kita umat Kristiani, dalam beragam pengakuan dan tradisi kita, juga merupakan para peziarah dalam perjalanan menuju kesatuan penuh, dan kita akan mendekati tujuan kita sejauh mata kita tetap tertuju pada Yesus, satu-satunya Tuhan kita. Selama Pekan Doa tersebut, marilah kita mempersembahkan kesulitan dan penderitaan kita untuk kesatuan umat Kristiani.

 

Saya menyapa kamu semua yang berasal dari Roma dan para peziarah dari berbagai negara. Sapaan khusus ditujukan kepada kelompok Girasoli della Locride dari Locri, beserta keluarga dan pemimpin mereka.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu dan sampai jumpa.

____


(Peter Suriadi - Bogor, 16 Januari 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 12 Januari 2022 : KATEKESE TENTANG SANTO YOSEF (BAGIAN 7) - SANTO YOSEF SI TUKANG KAYU

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Penginjil Matius dan Markus menyebut Yosef sebagai “tukang kayu”. Kita mendengar sebelumnya bahwa orang-orang Nazaret, mendengar Yesus berbicara, bertanya pada diri mereka sendiri : " Bukankah Ia ini anak tukang kayu?" (13:55; bdk. Mrk 6:3). Yesus mempraktekkan pekerjaan ayah-Nya.

 

Istilah Yunani tekton, yang digunakan untuk menyebut pekerjaan Yosef, telah diterjemahkan dalam berbagai cara. Para Bapa Gereja Latin menerjemahkannya sebagai “tukang kayu”. Tetapi perlu diingat bahwa di Palestina pada zaman Yesus, kayu tidak hanya digunakan untuk membuat bajak dan berbagai perabotan, tetapi juga untuk membangun rumah, yang berbingkai kayu dan tingkatan atap yang terbuat dari balok yang terhubung dengan cabang dan tanah.

 

Oleh karena itu, "tukang kayu" adalah keahlian umum, yang menunjukkan baik pekerja kayu maupun pengrajin yang terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan konstruksi. Pekerjaan yang cukup berat, harus bekerja dengan material berat seperti kayu, batu, dan besi. Dari sudut pandang ekonomi, pekerja itu tidak menjamin penghasilan yang besar, seperti yang dapat disimpulkan dari fakta bahwa Maria dan Yosef, ketika mereka menyerahkan Yesus di Bait Allah, hanya mempersembahkan sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati (bdk. Luk 2:24), sebagaimana ketentuan Hukum bagi orang miskin (bdk. Im 12:8).

 

Jadi, Yesus muda mempelajari keahlian ini dari ayah-Nya. Oleh karena itu, ketika Ia beranjak orang dewasa dan mulai berkhotbah, orang-orang di tempat asal-Nya takjub dan bertanya, ”Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?” (Mat 13:54), dan dipermalukan oleh-Nya (bdk. ayat 57), karena Ia adalah anak seorang tukang kayu, tetapi Ia berbicara seperti seorang ahli Taurat, dan karenanya mereka dipermalukan.

 

Fakta biografi tentang Yosef dan Yesus ini membuat saya berpikir tentang semua pekerja di dunia, terutama mereka yang melakukan pekerjaan yang melelahkan di tambang dan pabrik tertentu; mereka yang dieksploitasi tanpa perjanjian kerja; para korban kerja : kita telah melihat banyak kejadian ini di Italia baru-baru ini; anak-anak yang dipaksa bekerja dan mereka yang mengais sampah untuk mencari sesuatu yang dapat diperdagangkan kembali...

 

Perkenankan saya mengulangi apa yang saya katakan : para pekerja tersembunyi, para pekerja yang melakukan kerja keras di pertambangan dan di pabrik-pabrik tertentu: marilah kita memikirkan mereka. Marilah kita pikirkan mereka. Mari kita memikirkan mereka yang dieksploitasi dengan pekerjaan yang tidak dilaporkan, yang dibayar secara gelap, secara diam-diam, tanpa pensiun, tanpa apa pun. Dan jika kamu tidak bekerja, kamu tidak memiliki jaminan. Tanpa perjanjian kerja. Dan hari ini ada banyak tanpa perjanjian kerja.

 

[Marilah kita pikirkan] para korban kerja, yang mengalami kecelakaan kerja. Anak-anak yang dipaksa bekerja : ini mengerikan! [Marilah kita pikirkan] seorang anak di usia bermain, yang seharusnya bermain, dipaksa bekerja seperti orang dewasa! Anak-anak dipaksa bekerja. Dan mereka — orang-orang malang! — yang mengais tempat pembuangan sampah untuk mencari sesuatu yang dapat diperdagangkan kembali : mereka pergi ke tempat pembuangan sampah... Mereka semua ini adalah saudara dan saudari kita, yang mencari nafkah dengan cara ini : mereka tidak memberikan martabat kepada diri mereka! Mari kita pikirkan ini. Dan ini terjadi hari ini, di dunia, ini terjadi hari ini.

 

Tetapi saya juga memikirkan mereka yang tidak bekerja. Berapa banyak orang yang mengetuk pintu pabrik, dunia usaha [bertanya] "Apakah ada yang dilakukan?" — “Tidak, tidak ada apa-apa, tidak ada apa-apa. [Saya memikirkan] mereka yang merasakan martabat mereka terluka karena mereka tidak dapat menemukan pekerjaan ini. Mereka pulang ke rumah : “Dan? Apakah kamu menemukan sesuatu?” — “Tidak, tidak ada… aku pergi ke Caritas dan aku membawa roti. Apa yang memberikan martabat bukanlah membawa pulang roti. Kamu bisa mendapatkannya dari Caritas — bukan, ini tidak memberimu martabat. Apa yang memberimu martabat adalah mendapatkan roti — dan jika kita tidak memberi umat kita, pria dan wanita kita, kemampuan untuk mendapatkan roti, itu adalah ketidakadilan sosial di tempat itu, di negara itu, di benua itu. Para pemimpin harus memberi setiap orang kemungkinan untuk mendapatkan roti, karena kemampuan untuk menghasilkan ini memberi mereka martabat. Sebuah pengurapan martabat, pekerjaan. Dan ini penting.

 

Banyak anak muda, banyak ayah dan ibu mengalami cobaan berat karena tidak memiliki pekerjaan yang memungkinkan mereka hidup dengan tenang. Mereka hidup dari hari ke hari. Dan betapa seringnya mencari pekerjaan membuat mereka sangat berputus asa sehingga mereka kehilangan segenap harapan dan keinginan untuk hidup. Di masa pandemi ini, banyak orang kehilangan pekerjaan — kita tahu ini — dan beberapa, dihancurkan oleh beban yang tak tertahankan, mencapai titik bunuh diri. Saya ingin mengenang mereka masing-masing dan keluarga mereka hari ini. Marilah kita mengheningkan cipta sejenak, mengenang pria-pria ini, wanita-wanita ini, yang putus asa karena tidak dapat menemukan pekerjaan.

 

Tidak cukup pertimbangan diberikan pada fakta bahwa kerja adalah komponen penting kehidupan manusia, dan bahkan jalan pengudusan. Bekerja bukan hanya sarana untuk mencari nafkah : bekerja juga merupakan tempat di mana kita mengungkapkan diri, merasa berguna, dan belajar pelajaran besar tentang kenyataan, yang membantu membina kehidupan spiritual agar tidak menjadi spiritualisme. Tetapi, sayangnya, tenaga kerja sering menjadi sandera ketidakadilan sosial dan, alih-alih menjadi sarana humanisasi, ia menjadi pinggiran keberadaan. Saya sering bertanya pada diri saya sendiri : Dengan semangat apa kita melakukan pekerjaan kita sehari-hari? Bagaimana cara kita mengatasi rasa lelah? Apakah kita melihat kegiatan kita hanya terkait dengan takdir kita sendiri atau juga dengan nasib orang lain? Padahal, bekerja adalah cara mengungkapkan kepribadian kita, yang sifatnya relasional. Dan juga, bekerja adalah cara untuk mengungkapkan kreativitas kita : kita masing-masing bekerja dengan cara kita sendiri, dengan gaya kita sendiri : kerja yang sama tetapi dengan gaya yang berbeda.

 

Ada baiknya memikirkan fakta bahwa Yesus sendiri bekerja dan telah mempelajari keahlian ini dari Santo Yosef. Hari ini, kita hendaknya bertanya pada diri kita sendiri apa yang dapat kita lakukan untuk memulihkan nilai pekerjaan; dan kontribusi apa yang dapat kita berikan, sebagai Gereja, sehingga pekerjaan dapat ditebus dari nalar keuntungan belaka serta dapat dialami sebagai hak dan kewajiban mendasar seseorang, yang mengungkapkan dan meningkatkan martabatnya.

 

Saudara-saudari terkasih, untuk semua ini saya ingin mendaraskan bersamamu hari ini doa yang dipanjatkan Santo Paulus VI kepada Santo Yosef pada tanggal 1 Mei 1969:

 

Wahai Santo Yosef,

Pelindung Gereja!

engkau, yang berdampingan dengan Sang Sabda yang menjadi daging,

bekerja setiap hari untuk mendapatkan rotimu,

menarik daripada-Nya kekuatan untuk hidup dan bekerja keras;

Engkau yang mengalami kecemasan akan hari esok,

pahitnya kemiskinan, ketidakpastian pekerjaan:

Engkau yang hari ini memberi teladan cemerlang,

rendah hati di mata manusia

tetapi paling ditinggikan di mata Allah:

lindungilah para pekerja dalam kehidupan sehari-hari mereka yang sulit,

belalah mereka dari keputusasaan,

dari pemberontakan negatif,

dan dari godaan cinta kesenangan;

dan jagalah perdamaian dunia,

karena perdamaian itu sendiri yang dapat menjamin perkembangan bangsa-bangsa

Amin.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama mereka yang berasal dari Amerika Serikat. Atas kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan berkat sukacita dan damai Tuhan. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang Santo Yosef, kita sekarang membahas kehidupan Yosef sebagai seorang pekerja. Injil memberitahu kita bahwa Yosef bekerja sebagai seorang tukang kayu yang sederhana, terlibat dalam pekerjaan yang menuntut fisik. Yesus sendiri akan belajar banyak tentang martabat kerja dari Santo Yosef. Pekerjaan sebenarnya penting untuk perkembangan dan pertumbuhan manusiawi kita dalam kekudusan. Memang, bekerja bukan hanya soal keuntungan materi atau laba belaka, tetapi sarana untuk memberi makna, nilai, dan bentuk pada kehidupan kita, serta mengajari kita untuk menghabiskan diri kita dengan murah hati bagi sesama kita. Hari ini, kita dapat memikirkan semua pekerja di dunia kita yang berjuang untuk mencari nafkah atau membesarkan keluarga, dan yang sering menghadapi ketidakadilan, eksploitasi dan ancaman pengangguran. Marilah kita berdoa, melalui perantaraan Santo Yosef Pekerja, untuk perlindungan hak-hak dasariah semua pekerja, peningkatan kesadaran akan nilai kerja manusia, dan tatanan ekonomi yang akan meningkatkan martabat dan kemakmuran semua orang. .

______


(Peter Suriadi - Bogor, 12 Januari 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 9 Januari 2022 : DOA BUKAN JALAN KELUAR TETAPI SEBUAH CARA UNTUK MEMPERKENANKAN ALLAH BEKERJA DI DALAM DIRI KITA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini menunjukkan kepada kita peristiwa awal kehidupan Yesus di muka umum : Ia, yang adalah Anak Allah dan Mesias, pergi ke tepi Sungai Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Setelah sekitar tiga puluh tahun kehidupan tersembunyi, Yesus tidak menghadirkan diri-Nya dengan sebuah mukjizat, atau dengan naik ke mimbar untuk mengajar. Ia berbaris dengan orang-orang yang akan menerima baptisan dari Yohanes. Madah liturgi hari ini mengatakan bahwa orang-orang pergi untuk dibaptis dengan jiwa dan kaki telanjang, dengan rendah hati. Inilah sikap yang indah, dengan jiwa dan kaki telanjang. Dan Yesus ambil bagian dalam situasi buruk kita orang-orang berdosa, Ia turun ke arah kita; Ia turun ke sungai, dan pada saat yang sama ke dalam sejarah umat manusia yang terluka, Ia membenamkan diri-Nya di perairan kita untuk menyembuhkan mereka, dan Ia membenamkan diri-Nya bersama kita, di tengah-tengah kita. Ia tidak naik di atas kita, melainkan turun ke arah kita dengan jiwa telanjang, dengan kaki telanjang, sebagaimana orang-orang. Ia tidak datang sendirian, juga tidak datang dengan kelompok pilihan dan diistimewakan. Tidak : Ia datang bersama orang-orang. Ia milik orang-orang dan Ia datang bersama mereka untuk dibaptis, dengan orang-orang yang rendah hati ini.

 

Marilah kita merenungkan satu hal penting : pada saat Yesus menerima Pembaptisan, teks mengatakan bahwa Ia “sedang berdoa” (Luk 3:21). Ada baiknya kita merenungkan hal ini : Yesus sedang berdoa. Tetapi mengapa? Ia, Tuhan, Anak Allah, berdoa seperti kita? Ya, Yesus – Injil mengulangi hal ini berkali-kali – menghabiskan banyak waktu dalam doa : di awal setiap hari, sering kali di malam hari, sebelum membuat keputusan penting… Doa-Nya adalah dialog, hubungan dengan Bapa. Jadi, dalam Injil hari ini, kita dapat melihat “dua momen” dalam kehidupan Yesus : di satu sisi, Ia turun ke arah kita ke Sungai Yordan; di sisi lain, Ia menaikkan mata dan hati-Nya, berdoa kepada Bapa.

 

Sebuah pelajaran yang luar biasa bagi kita : kita semua tenggelam dalam masalah hidup dan dalam banyak situasi rumit, dipanggil untuk menghadapi saat-saat sulit dan menjatuhkan pilihan kita. Tetapi, jika kita tidak ingin remuk, kita perlu mengangkat semuanya ke atas. Dan inilah tepatnya yang dilakukan oleh doa. Doa bukan jalan keluar; doa bukan ritual sihir atau pengulangan hapalan sajak. Bukan. Doa adalah cara kita memperkenan Allah bertindak di dalam diri kita, memahami apa yang ingin disampaikan-Nya kepada kita bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun, doa adalah kekuatan untuk maju. Banyak orang merasa tidak bisa melanjutkan, dan berdoa : “Tuhan, berilah aku kekuatan untuk melanjutkan”. Kita juga, sangat sering, telah melakukan hal ini. Doa membantu kita karena doa mempersatukan kita dengan Allah, doa membuka diri kita untuk menjumpai-Nya. Ya, doa adalah kunci yang membuka hati kita kepada Tuhan. Doa adalah berdialog dengan Allah, mendengarkan sabda-Nya, doa adalah penyembahan : berdiam dalm keheningan, mempercayakan kepada-Nya apa yang sedang kita alami. Dan kadang-kadang doa juga merupakan jeritan bersama-Nya seperti Ayub, di lain waktu doa adalah pelampiasan bersama-Nya. Jeritan seperti Ayub; Ia adalah bapa, Ia sangat mengerti. Ia tidak pernah marah kepada kita. Dan Yesus berdoa.

 

Doa – menggunakan gambaran yang indah dari Bacaan Injil hari ini – “membuka langit” (bdk. ayat 21). Doa membuka langit : doa memberikan oksigen kehidupan, menghirup udara segar di tengah kesulitan hidup dan memungkinkan kita melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas. Doa, terutama, memungkinkan kita untuk memiliki pengalaman yang sama dengan Yesus di tepi Sungai Yordan : doa membuat kita merasa seperti anak-anak yang dikasihi Bapa. Ketika kita berdoa, Bapa berkata kepada kita juga, seperti yang dilakukan-Nya kepada Yesus dalam Bacaan Injil : "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi" (bdk. ayat 22). Menjadi anak-anak Allah dimulai pada hari Pembaptisan kita, yang membenamkan diri kita di dalam Kristus dan, sebagai anggota umat Allah, kita menjadi anak-anak yang dikasihi Bapa. Janganlah kita melupakan tanggal Pembaptisan kita! Jika sekarang saya bertanya kepada kamu masing-masing : tanggal berapa kamu dibaptis? Mungkin sebagian dari kamu tidak ingat. Ini adalah hal yang indah : mengingat tanggal pembaptisanmu, karena kita dilahirkan kembali, saat di mana kita menjadi anak-anak Allah bersama Yesus! Dan ketika kamu pulang ke rumah – jika kamu tidak tahu – tanyakanlah kepada ibumu, bibimu, nenek atau kakekmu : “Kapan aku dibaptis?”, dan ingatlah tanggal itu untuk merayakannya, untuk bersyukur kepada Tuhan. Dan hari ini, pada saat ini, mari kita bertanya pada diri kita : bagaimana doaku? Apakah aku berdoa karena kebiasaan, apakah aku berdoa dengan keengganan, hanya mendaraskan rumusan, atau apakah doaku merupakan perjumpaan dengan Allah? Aku, orang berdosa, selalu bersama umat Allah, tidak pernah terasing? Apakah aku membina keintiman dengan Allah, berdialog dengan-Nya, mendengarkan sabda-Nya? Di antara banyak hal yang kita lakukan setiap hari, janganlah kita mengabaikan doa : marilah kita mendedikasikan waktu untuk hal itu, marilah kita menggunakan doa-doa pendek untuk sering diulang, marilah kita membaca Injil setiap hari. Doa yang membuka langit.

 

Dan sekarang, marilah kita berpaling kepada Bunda Maria, Perawan yang penuh doa, yang menjadikan hidupnya sebagai madah pujian bagi Allah.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya telah mempelajari dengan sedih bahwa ada korban selama protes yang pecah dalam beberapa hari terakhir di Kazakhstan. Saya mendoakan mereka dan keluarga mereka, serta saya berharap kerukunan sosial dapat dipulihkan sesegera mungkin melalui pengupayaan dialog, keadilan dan kebaikan bersama. Saya mempercayakan rakyat Kazakhstan kepada perlindungan Bunda Maria, Ratu Perdamaian Oziornoje.

 

Dan saya menyapa kamu semua dengan sepenuh hati, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan negara-negara lainnya. Secara khusus saya menyapa kelompok dari Frattamaggiore, dekat Napoli.

 

Pagi ini, seperti biasa pada hari Minggu Pembaptisan Tuhan, saya membaptis beberapa anak pegawai Vatikan. Sekarang saya ingin menyampaikan doa dan berkat saya kepada semua bayi yang telah menerima atau akan menerima Baptisan selama kurun waktu ini. Semoga Tuhan memberkati mereka dan semoga Bunda Maria melindungi mereka.

 

Dan untuk kamu semua, jangan lupa : pelajari tanggal Pembaptisanmu. Kapan aku dibaptis? Kamu tidak boleh melupakan ini, dan mengingat hari itu sebagai hari perayaan.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu. Jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu, dan sampai jumpa.

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Januari 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 Januari 2022 : HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, Selamat Hari Raya!

 

Hari ini, Hari Raya Penampakan Tuhan, kita merenungkan kisah para Majus (bdk. Mat 2:1-12). Mereka menghadapi perjalanan panjang dan sulit untuk pergi dan menyembah "raja orang Yahudi" (ayat 2). Mereka dituntun oleh tanda bintang yang menakjubkan, dan ketika mereka akhirnya mencapai tujuan, alih-alih menemukan sesuatu yang spektakuler, mereka menemukan sang bayi dengan ibunya. Mereka bisa saja memprotes : "Berapa banyak jalan dan berapa banyak pengorbanan, hanya untuk menemukan seorang anak yang malang?" Dan mereka tidak protes. Mereka juga tidak tersinggung atau kecewa. Mereka tidak mengeluh. Apa yang mereka lakukan? Mereka sujud menyembah. "Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu, Injil berkata, "dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia" (ayat 11).

 

Marilah kita memikirkan orang-orang bijak, kaya, berpendidikan ini yang dikenal semua orang yang datang dari jauh untuk bersujud, yakni, mereka sujud menyembah sang bayi! Hal ini tampaknya menjadi sebuah kontradiksi. Tindakan rendah hati yang dilakukan oleh orang-orang termasyur semacam itu sangat mengejutkan. Bersujud di hadapan seorang pemimpin yang menampilkan dirinya dengan pakaian kebesaran kekuasaan dan kemuliaan adalah sesuatu yang lumrah pada waktu itu. Dan bahkan hari ini, hal ini tidak aneh. Malah di hadapan Sang Bayi Betlehem, itu tidak mudah. Tidak mudah untuk menyembah Allah ini, yang keilahian-Nya tetap tersembunyi dan yang tidak tampak berjaya. Menyembah Allah berarti menerima kebesaran Allah yang mewujudkan diri dalam kekecilan. Inilah pesannya. Para Majus merendahkan diri di hadapan nalar Allah yang tidak pernah terdengar. Mereka menerima Sang Juruselamat bukan seperti yang mereka bayangkan sebagai seseorang yang agung - tetapi sebagaimana adanya, Tuhan itu kecil, miskin. Sujud mereka adalah tanda orang-orang yang mengesampingkan gagasan mereka dan memberi ruang bagi Allah. Dibutuhkan kerendahan hati untuk melakukan hal ini.

 

Bacaan Injil menekankan hal ini : Bacaan Injil tidak hanya mengatakan para Majus menyembah, tetapi juga menekankan mereka sujud menyembah. Marilah kita pahami rincian ini : penyembahan dan sujud mereka berjalan seiring. Melakukan tindakan ini, para Majus menunjukkan penerimaan mereka yang rendah hati terhadap Dia yang menampilkan diri-Nya dalam kerendahan hati. Dan begitulah mereka terbuka untuk menyembah Allah. Harta yang mereka buka adalah gambaran hati mereka yang terbuka : kekayaan mereka yang sesungguhnya tidak berupa ketenaran mereka, tidak berupa kesuksesan mereka, tetapi berupa kerendahan hati mereka, kesadaran mereka akan kebutuhan mereka akan keselamatan. Inilah teladan yang diberikan para Majus kepada kita hari ini.

 

Saudara-saudari terkasih, jika kita selalu berada di pusat segala sesuatu dengan gagasan-gagasan, dan jika kita menganggap memiliki sesuatu untuk dibanggakan di hadapan Tuhan, kita tidak akan pernah sepenuhnya berjumpa dengan-Nya, kita akhirnya tidak akan pernah menyembah-Nya. Jika kepura-puraan, kesombongan, keras kepala, persaingan kita tidak jatuh di pinggir jalan, kita mungkin akhirnya menyembah seseorang atau sesuatu dalam hidup, tetapi bukan Tuhan! Sebaliknya, jika kita mengabaikan kepura-puraan kita sendiri, jika kita membuat diri kita kecil, maka kita akan menemukan kembali keajaiban menyembah Yesus karena penyembahan datang dari kerendahan hati : mereka yang terobsesi untuk menang tidak akan pernah menyadari kehadiran Tuhan. Yesus lewat di dekatnya dan diabaikan, seperti yang terjadi pada banyak orang pada waktu itu, tetapi tidak pada para Majus.

 

Saudara-saudari, melihat mereka, mari kita bertanya pada diri kita hari ini : seperti apakah kerendahan hatiku? Apakah aku yakin bahwa kesombongan menghambat kemajuan rohaniku? Kesombongan itu, tampak atau tersembunyi, tetapi kesombongan itu yang selalu meredam dorongan menuju Allah. Apakah aku sedang bekerja pada kepatuhan untuk terbuka kepada Allah dan sesama, atau apakah aku lebih berpusat pada diri sendiri dan kepura-puraanku, keegoisan tersembunyi yang merupakan kesombongan? Apakah aku tahu bagaimana mengesampingkan sudut pandangku untuk merangkul sudut pandang Tuhan dan sesama? Terakhir: apakah aku berdoa dan beribadah hanya ketika aku membutuhkan sesuatu, atau apakah aku melakukannya secara terus menerus karena aku percaya bahwa aku selalu membutuhkan Yesus? Para Majus memulai perjalanan mereka dengan melihat bintang, dan mereka menemukan Yesus. Mereka banyak berjalan. Hari ini, kita dapat mengambil nasihat ini: lihatlah bintang dan berjalanlah. Jangan pernah berhenti berjalan, tetapi jangan berhenti menatap bintang. Ini adalah nasihat yang kuat untuk hari ini: lihatlah bintang dan berjalanlah, lihatlah bintang dan berjalanlah.

 

Semoga Perawan Maria, hamba Allah, mengajar kita untuk menemukan kembali kebutuhan vital kita akan kerendahan hati dan keinginan yang kuat untuk menyembah. Semoga ia mengajari kita untuk melihat bintang dan berjalan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini pikiran saya tertuju kepada saudara-saudari kita di Gereja-Gereja Timur, baik Katolik maupun Ortodoks, yang besok merayakan Kelahiran Tuhan. Dengan tulus saya menyampaikan harapan terbaik saya akan perdamaian dan segala kebaikan untuk mereka. Semoga Kristus, yang lahir dari Perawan Maria, mencerahkan keluarga dan komunitasmu! Saudara-saudari, berkat melimpah, berkat melimpah!

 

Pencerahan khususnya dalam Pesta Anak Misioner, yaitu, pesta anak-anak dan remaja - ada banyak di berbagai negara di dunia - yang mendedikasikan diri untuk berdoa dan menyumbangkan tabungan agar Injil dapat diberitakan kepada mereka yang tidak mengenalnya. Saya ingin mengatakan kepada mereka : "Terima kasih, anak-anak : terima kasih!" dan saya ingin mengingat bahwa perutusan dimulai dengan kesaksian sehari-hari tentang hidup Kristiani.

 

Mengenai hal ini, saya mendorong prakarsa injili yang berasal dari tradisi Penampakan Tuhan dan yang, karena situasi saat ini, menggunakan berbagai sarana komunikasi. Saya mengingat khususnya "Prosesi Tiga Raja" yang berlangsung di Polandia.

 

Dan hari ini saya menyapa kamu semua yang datang dari Roma, para peziarah dari Italia dan dari berbagai negara. Saya menyapa para siswa penerima sakramen krisma dari Romano in Lombardy dengan para orang tua dan katekis mereka.

 

Saya mengucapkan Selamat Hari Raya kepada kamu semua. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang dan sampai jumpa.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 6 Januari 2022)