Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 10 Oktober 2018 : TENTANG PERINTAH JANGAN MEMBUNUH

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Katekese hari ini didedikasikan untuk Perintah Kelima : Jangan membunuh. Perintah kelima adalah jangan membunuh. Kita sekarang berada di bagian kedua dari Dasa Firman, yang menyangkut hubungan dengan sesama manusia. Dan Perintah ini, dengan rumusan yang ringkas dan mutlak, berdiri sebagai dinding pertahanan nilai dasariah dalam hubungan manusia. Dan apa nilai dasar dalam hubungan manusia tersebut? Nilai kehidupan.[1] Oleh karena itu, jangan membunuh.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 7 Oktober 2018 : PERKAWINAN YANG TAK TERCERAIKAN ADALAH MAKSUD AWAL SANG PENCIPTA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 10:2-16) menyajikan kepada kita perkataan Yesus tentang perkawinan. Kisah ini dibuka dengan pancingan orang-orang Farisi yang menanyakan kepada Yesus apakah sah menurut hukum seorang laki-laki menceraikan istrinya sebagaimana ditetapkan oleh hukum Musa (bdk. ayat 2-4). Dengan kebijaksanaan dan kewenangan yang berasal dari Bapa-Nya, Yesus, pertama-tama, mengkaji ulang anjuran Musa yang mengatakan : “Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa - yakni sang pemberi hukum terdahulu - menuliskan perintah ini untuk kamu” (ayat 5). Anjuran tersebut, yaitu, sebuah kelonggaran yang berfungsi untuk menutupi kegagalan egoisme kita, tetapi tidak sesuai dengan maksud asli Sang Pencipta.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 30 September 2018 : TENTANG PERLUNYA KETERBUKAAN DAN KEBEBASAN DALAM MEWARTAKAN INJIL

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 9:38-43.45.47-48) menyajikan kepada kita salah satu hal yang sungguh mengandung pelajaran tentang kehidupan Yesus bersama para murid-Nya. Mereka telah melihat seseorang, yang bukan bagian dari kelompok pengikut Yesus, mengusir setan demi nama Yesus, dan karena itu mereka ingin mecegahnya. Dengan antusiasme khas semangat kaum muda, Yohanes merujuk kejadian itu kepada Sang Guru untuk mencari dukungan. Namun, Yesus menjawab sebaliknya : “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (ayat 39-40).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 26 September 2018 : TENTANG PERJALANAN BAPA SUCI KE LITHUANIA, LATVIA DAN ESTONIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Pada hari-hari terakhir, saya baru saja menyelesaikan perjalanan apostolik ke Lithuania, Latvia dan Estonia, pada kesempatan seratus tahun kemerdekaan negara-negara Baltik ini. Seratus tahun, setengah abad mereka tinggal di bawah kuk pendudukan, pertama Nazi dan kemudian Soviet. Mereka adalah bangsa yang telah banyak menderita dan, oleh karena ini, Tuhan telah memandang mereka dengan kesukaan. Saya yakin akan hal ini. Saya berterima kasih kepada presiden dari ketiga republik tersebut dan penguasa sipil atas penerimaan istimewa yang saya terima. Saya berterima kasih kepada para uskup dan semua orang yang bekerja sama untuk mempersiapkan dan melaksanakan peristiwa gerejawi ini.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI TAMAN SANTAKOS, KAUNAS (LITHUANIA) 23 September 2018

Saudara dan saudari terkasih,

Bacaan Pertama hari ini, dari Kitab Kebijaksanaan (Keb 2:12,17-20) berbicara tentang penganiayaan terhadap orang-orang saleh, orang-orang yang “kehadiran semata” mengganggu orang-orang durhaka. Orang-orang durhaka digambarkan sebagai orang-orang yang menindas orang-orang miskin, yang tidak memiliki belas kasihan kepada para janda dan tidak menunjukkan rasa hormat kepada orang-orang lanjut usia (bdk. 2:17-20). Orang-orang durhaka meminta untuk percaya bahwa "kekuasaan adalah norma keadilan". Mereka menguasai orang-orang yang lemah, menggunakan kekuasaan mereka untuk memaksakan suatu cara berpikir, suatu ideologi, suatu pola pikir yang sedang berlaku. Mereka menggunakan kekerasan atau penindasan untuk menundukkan orang-orang yang hanya dengan kehidupan sehari-hari mereka yang jujur, terus terang, kerja keras, dan suka bergaul, menunjukkan bahwa semacam dunia yang berbeda, semacam masyarakat yang berbeda, adalah mungkin. Orang-orang durhaka tidak puas dengan melakukan apa pun yang mereka sukai, menyerah pada setiap perubahan keinginan mereka yang mendadak; mereka tidak menginginkan orang lain, dengan berbuat baik, menunjukkan siapa mereka. Dalam diri orang-orang durhaka, kejahatan selalu berusaha menghancurkan kebaikan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 19 September 2018 : TENTANG PERINTAH KEEMPAT (PERINTAH UNTUK MENGHORMATI ORANGTUA)

Dalam perjalanan di dalam Dasa Firman, hari ini kita tiba pada perintah yang berkenaan dengan ayah dan ibu. Perintah tersebut berbicara tentang menghormati orang tua. Apa "penghormatan" ini? Istilah Ibrani menunjukkan kemuliaan, nilai, secara harfiah "bobot", ketetapan dari suatu kenyataan. Perintah tersebut bukanlah sebuah pertanyaan sehubungan dengan cara-cara lahiriah tetapi pertanyaan sehubungan dengan kebenaran. Dalam Kitab Suci, menghormati Allah berarti mengakui kenyataan-Nya, memperhitungkan kehadiran-Nya. Hal ini juga terungkap dengan ritual, tetapi terutama itu berarti memberi Allah tempat yang tepat dalam keberadaan kita. Oleh karena itu, menghormati ayah dan ibu berarti mengakui pentingnya mereka juga dengan perbuatan-perbuatan nyata, yang mengungkapkan pengabdian, kasih sayang, dan perhatian. Namun, menghormati ayah dan ibu bukan hanya tentang hal ini.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 16 September 2018 : TENTANG PERTANYAAN "SIAPAKAH YESUS?"

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam Bacaan Injil hari ini (bdk. Mrk 8:27-35), muncul kembali pertanyaan yang ditemukan di seluruh Markus Injil : siapakah Yesus? Namun, kali ini Yesus sendiri yang mengajukannya kepada murid-murid-Nya, membantu mereka secara bertahap untuk menjawab pertanyaan dasariah tentang jatidiri-Nya. Sebelum bertanya kepada dua belas rasul-Nya secara langsung, Yesus ingin mendengar dari mereka apa yang dipikirkan orang tentang Dia - dan Ia mengenal dengan baik bahwa para murid sangat peka terhadap ketenaran Sang Guru! Oleh karena itu, Ia bertanya: "Kata orang, siapakah Aku ini?" (ayat 27). Pertanyaan itu muncul karena orang-orang menganggap Yesus sebagai nabi yang agung. Tetapi, pada kenyataannya, Ia tidak tertarik dengan pendapat dan pergunjingan orang. Ia juga tidak tertarik menanggapi para murid-Nya atas pertanyaan-pertanyaan-Nya dengan rumusan siap pakai, mengutip berbagai kepribadian terkenal dari Kitab Suci, karena iman yang dikurangi menjadi sebuah rumusan adalah iman yang rabun dekat.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 12 September 2018 : TENTANG HARI ISTIRAHAT DAN NUBUAT KEBEBASAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam katekese hari ini kita kembali ke perintah ketiga, yaitu hari istirahat. Dasa Firman, yang dicantumkan secara resmi dalam Kitab Keluaran, diulangi dalam Kitab Ulangan (5:12-15) dengan cara yang hampir serupa, dengan pengecualian Firman Ketiga ini, di mana perbedaan berharga muncul : jika dalam Kitab Keluaran alasan untuk beristirahat adalah berkat Penciptaan, maka dalam Ulangan, sebaliknya, berakhirnya perbudakan yang diperingati. Pada hari tersebut budak harus beristirahat sebagaimana majikannya, untuk merayakan kenangan Paskah pembebasan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 9 September 2018 : TENTANG MUKJIZAT PENYEMBUHAN SEORANG YANG TULI DAN GAGAP

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Bacaan Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 7:31-37) mengacu pada kisah mukjizat penyembuhan seorang yang tuli dan gagap, yang diperbuat oleh Yesus. Mereka membawa seorang tuli dan gagap kepada-Nya dan meminta Dia untuk meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Ia, malahan, melakukan berbagai gerakan pada orang itu : pertama-tama, Ia memisahkan dia dari orang banyak. Pada kesempatan ini, seperti pada orang-orang lainnya, Yesus selalu bertindak dengan kehati-hatian. Ia tidak ingin membuat orang-orang terkesan; Ia tidak sedang mencari ketenaran atau kesuksesan, tetapi Ia hanya ingin berbuat baik kepada orang-orang. Ia mengajar kita dengan keteladanan ini bahwa kebaikan dilakukan tanpa hiruk-pikuk, tanpa pamer, tanpa “terdengar bunyi terompet”. Kebaikan dilakukan dengan keheningan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 5 September 2018 : PERINTAH TENTANG HARI ISTIRAHAT

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Perjalanan melalui Dasa Firman membawa kita hari ini kepada perintah tentang hari istirahat. Perintah tersebut tampaknya mudah dipenuhi, namun kesan tersebut keliru. Benar-benar beristirahat tidaklah sederhana, karena ada istirahat yang keliru dan istirahat yang benar. Bagaimana cara mengenali istirahat-istirahat tersebut?

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 2 September 2018 : TENTANG KEASLIAN KETAATAN KITA TERHADAP SABDA ALLAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari Minggu ini kita mengambil kembali Bacaan Injil Markus. Dalam perikop hari ini (bdk. Mrk 7:1-8.14-15.21-23), Yesus menyampaikan tema penting bagi kita semua umat beriman : keaslian ketaatan kita terhadap sabda Allah, menentang setiap pencemaran duniawi atau formalisme hukum. Kisah dimulai dengan keberatan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang ditujukan kepada Yesus, menuduh murid-murid-Nya tidak mengikuti aturan-aturan ritual menurut tradisi. Dengan demikian para lawan bicara tersebut bermaksud untuk menyerang kewenangan dan dapat dipercayanya Yesus sebagai Guru karena mereka berkata : “Tetapi Guru ini mengijinkan para murid untuk tidak memenuhi ketentuan tradisi”. Namun, Yesus menjawab dengan keras, dengan mengatakan : “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis : Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (ayat 6-7). Demikianlah perkataan Yesus, dengan perkataan yang jelas dan kuat! Munafik adalah, boleh dikatakan, salah satu kata sifat yang paling kuat yang digunakan Yesus dalam Injil dan Ia mengatakannya tertuju kepada para guru agama : para ahli Taurat, orang-orang Farisi ... “Munafik”, kata Yesus.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 29 Agustus 2018 : TENTANG KUNJUNGAN KE IRLANDIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Akhir pekan lalu saya melakukan perjalanan ke Irlandia untuk ambil bagian dalam Pertemuan Keluarga Sedunia. Saya yakin kalian melihatnya di televisi. Kehadiran saya terutama untuk meneguhkan keluarga-keluarga kristiani dalam panggilan dan perutusan mereka. Ribuan keluarga - suami-istri, kakek-nenek, anak-anak - berkumpul di Dublin, dengan segala keberagaman bahasa, budaya, dan pengalaman mereka, adalah tanda yang mengesankan tentang indahnya impian Allah bagi seluruh keluarga manusia. Dan kita mengetahuinya : impian Allah adalah persatuan, kerukunan, dan kedamaian dalam keluarga dan di dunia, buah dari kesetiaan, pengampunan dan pendamaian, yang telah Ia berikan kepada kita di dalam Kristus. Ia memanggil keluarga-keluarga untuk ambil bagian dalam impian ini dan membuat dunia menjadi rumah di mana tidak ada seorang pun yang sendirian, tidak ada seorang pun yang tak dikehendaki, tidak ada seorang pun yang tersingkirkan. Pikirkanlah baik-baik tentang hal ini : apa yang diinginkan Tuhan adalah bahwa tidak seorang pun sendirian, tidak ada yang tidak diinginkan, tidak ada yang dikecualikan. Oleh karena itu, tema Pertemuan Keluarga Sedunia ini sangat tepat. Tema tersebut berbunyi demikian : "Injil Keluarga, Sukacita Bagi Dunia".

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI KAPEL PENAMPAKAN, KNOCK, IRLANDIA 26 Agustus 2018

Saudara-saudari terkasih,

Saya bersyukur kepada Allah atas kesempatan ini, dalam konteks Pertemuan Keluarga Sedunia, mengunjungi tempat kudus ini, yang sangat disayangi oleh orang-orang Irlandia. Saya berterima kasih kepada Uskup Agung Neary dan Rektor, Pastor Gibbons, atas sambutan hangat mereka.

Di Kapel Penampakan, saya memanjatkan doa pengantaraan kepada Bunda Maria yang penuh kasih bagi seluruh keluarga di dunia, dan, dengan secara khusus, keluarga-keluarga kalian, keluarga-keluarga Irlandia. Maria, bunda kita memahami sukacita dan perjuangan yang dirasakan di setiap rumah. Menggenggam keluarga-keluarga dalam hatinya yang tak bernoda, Maria membawa mereka dengan kasih menuju takhta Putranya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 22 Agustus 2018 : TENTANG DASA FIRMAN (BAGIAN V)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Melanjutkan katekese tentang Dasa Firman, hari ini kita merenungkan perintah "Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu, dengan sembarangan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan" (Kel 20:7). Kita benar-benar membaca Firman ini sebagai undangan untuk tidak menghina nama Allah dan menghindari menggunakannya secara tidak layak. Makna yang jelas ini mempersiapkan kita untuk merenungkan lebih lanjut kata-kata yang berharga ini, tidak menggunakan nama Allah dengan sembarangan - dengan tidak layak. Marilah kita mendengarkan kata-kata tersebut lebih baik. Terjemahan "Janganlah menyebut" mengalihbahasakan ungkapan yang secara harfiah berarti, dalam bahasa Ibrani dan dalam bahasa Yunani, "Janganlah menggunakan, janganlah menyandang".

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 19 Agustus 2018 : TENTANG YESUS KRISTUS, SANG ROTI HIDUP YANG TURUN DARI SURGA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Perikop Injil hari Minggu ini (bdk. Yoh 6:51-58) memperkenalkan kita bagian kedua dari wejangan Yesus di rumah ibadat Kapernaum, setelah memberi makan orang banyak dengan lima roti dan dua ikan - penggandaan roti. Ia memaparkan diri-Nya sebagai “roti hidup yang telah turun dari surga”; roti yang memberi hidup yang kekal, dan Ia menambahkan, “Roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia" (ayat 51). Perikop ini bersifat menegaskan dan, pada kenyataannya, memancing reaksi para pendengar-Nya, yang mulai bertengkar di antara mereka : “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” (ayat 52). Ketika tanda dari roti yang dibagikan mengarah kepada makna yang sesungguhnya, yaitu, pemberian diri-Nya hingga titik pengorbanan, ketidakpuasan muncul, pada kenyataannya, penolakan itu muncul terhadap-Nya yang tidak lama sebelumnya mereka inginkan membawa kemenangan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Agustus 2018 : TENTANG HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga hari ini, umat Allah yang setia dan kudus mengungkapkan dengan sukacita penghormatan mereka terhadap Bunda Maria. Mereka melakukannya dalam liturgi secara bersama-sama dan juga dalam ribuan rupa cara kesalehan; serta dengan demikian, nubuat Maria sendiri menjadi kenyataan : “Segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:48), karena Tuhan telah memperhatikan hamba-Nya yang rendah hati.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 12 Agustus 2018 : JANGANLAH MENDUKAKAN ROH KUDUS YANG KITA TERIMA DALAM PEMBAPTISAN

Saudara-saudari yang terkasih dan kaum muda Italia yang terkasih, selamat pagi!

Dalam Bacaan Kedua hari ini, kepada kita Santo Paulus menyampaikan undangan mendesak : “Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan” (Ef 4:30).

Tetapi saya bertanya-tanya, bagaimana Roh Kudus berduka? Kita semua menerima-Nya dalam Pembaptisan dan dalam Krisma, oleh karena itu, guna tidak mendukakan Roh Kudus, hidup selaras dengan janji-janji baptis, diperbaharui dalam Krisma adalah penting. Selaras, bukan dengan kemunafikan: jangan melupakan hal ini. Orang Kristiani tidak bisa menjadi seorang yang munafik; ia harus hidup selaras. Janji-janji baptis memiliki dua aspek : meninggalkan kejahatan dan menganut kebaikan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 8 Agustus 2018 : TENTANG DASA FIRMAN (BAGIAN 4)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita melanjutkan dengan merenungkan tentang Dasa Firman, merenungkan lebih lanjut tema penyembahan berhala, tema yang kita bicarakan pekan lalu. Sekarang kita mengambil tema tersebut karena sangat penting dipahami. Dan paling baik kita mengambil petunjuk dari berhala anak lembu tuangan, yang dibicarakan dalam Kitab Keluaran (32:1-8) - perikop yang baru saja kita dengar. Kisah ini memiliki konteks yang tepat : padang gurun, tempat bangsa Israel menunggu Musa, yang naik ke gunung untuk menerima petunjuk Allah.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 5 Agustus 2018 : MAKNA MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Pada hari-hari Minggu terakhir ini, liturgi telah menunjukkan kepada kita gambaran Yesus yang penuh kelembutan, yang pergi untuk menemui orang banyak dan kebutuhan mereka. Dalam kisah Injil hari ini (bdk. Yoh 6:24-35) sudut pandang berubah : orang banyak, yang diberi makan oleh Yesus, yang sekali lagi mulai mencari-Nya. Namun, bagi Yesus tidaklah cukup orang-orang mencari-Nya; Ia ingin orang-orang mengenal-Nya. Ia menginginkan pencarian dan pertemuan dengan-Nya melampaui kepuasan kebutuhan jasmani seketika itu juga. Yesus datang untuk membawakan sesuatu yang lebih kepada kita : membuka keberadaan kita ke cakrawala yang lebih luas ketimbang asyik dengan makanan sehari-hari, pakaian, karier dan sebagainya. Oleh karena itu, berpaling kepada orang banyak Ia berseru : "Sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang" (ayat 26). Dengan demikian Ia merangsang orang-orang untuk melangkah maju, bertanya kepada diri mereka sendiri tentang makna mukjizat, dan bukan hanya mengambil keuntungan daripadanya. Sebenarnya, penggandaan roti dan ikan adalah tanda dari karunia besar yang telah dibuat Bapa untuk umat manusia, yaitu Yesus sendiri!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 1 Agustus 2018 : TENTANG DASA FIRMAN (BAGIAN III)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Kita telah mendengar perintah pertama dari Dasa Firman : “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku" (Kel 20:3). Ada baiknya berhenti sejenak pada tema pemujaan berhala, yang sangat penting dan tepat waktu.

Perintah itu melarang membuat berhala-berhala[1] atau gambar[2] dari segala macam yang ada :[3] segalanya, pada kenyataannya, dapat dipergunakan sebagai berhala-berhala. Kita sedang berbicara tentang kecenderungan manusiawi, yang tak mengecualikan orang percaya maupun orang tak percaya. Sebagai contoh, kita umat kristiani dapat bertanya pada diri kita sendiri : siapakah, sesungguhnya, Tuhanku? Apakah kecenderungan tersebut merupakan Kasih yang satu dan bersifat Tritunggal atau apakah kecenderungan tersebut adalah gambaran saya, kesuksesan pribadi saya, mungkin, di dalam Gereja? “Pemujaan berhala tidak hanya ditemukan dalam upacara palsu di dunia kafir. Ia juga merupakan satu godaan yang terus-menerus bagi umat beriman. Pemujaan berhala itu ada, apabila manusia menghormati dan menyembah suatu hal tercipta sebagai pengganti Allah” (Katekismus Gereja Katolik, no. 2113).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 29 Juli 2018 : TENTANG MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Kalian berani dengan matahari ini di Lapangan! Selamat!

Bacaan Injil hari ini (bdk. Yoh 6:1-15) menyajikan kisah tentang penggandaan roti dan ikan. Melihat orang banyak yang berbondong-bondong telah mengikuti-Nya di dekat Danau Tiberias, Yesus berpaling kepada Rasul Filipus dan bertanya : “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" (ayat 5). Beberapa dinar yang dimiliki Yesus dan para Rasul, pada kenyataannya, tidak cukup untuk memberi makan orang banyak itu. Maka Andreas, salah seorang dari Dua Belas Rasul, mengarahkan Yesus kepada seorang anak yang menempatkan mereka cenderung pada semua yang ia miliki : lima roti dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu - kata Andreas - untuk orang sebanyak ini? (bdk. ayat 9). Anak ini baik! Berani, ia juga melihat orang banyak tersebut dan melihat lima roti miliknya, <dan> berkata : "Aku memiliki ini : jika roti tersebut bermanfaat, roti tersebut tersedia". Anak ini membuat kita berpikir ... Betapa beraninya ... kaum muda seperti ini; mereka memiliki keberanian. Kita harus membantu mereka untuk meneruskan keberanian ini. Namun Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk menyuruh orang-orang itu duduk, lalu Ia mengambil roti itu dan ikan itu, bersyukur kepada Bapa dan membagi-bagikannya (bdk. ayat 11), dan semua dapat memiliki makanan sebanyak yang mereka inginkan. Mereka semua makan apa yang mereka inginkan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 22 Juli 2018 : ROTI PERTAMA YANG DITAWARKAN KEPADA ORANG LAPAR DAN TERSINGKIR ADALAH ROTI SABDA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Ini (bdk. Mrk 6:30-34) memberitahu kita bahwa, setelah perutusan pertama mereka, para Rasul kembali kepada Yesus dan mengatakan kepada-Nya “semua yang mereka kerjakan dan ajarkan" (ayat 30). Setelah pengalaman perutusan tersebut, tentu saja menarik tetapi juga melelahkan, mereka membutuhkan istirahat. Dan Yesus, penuh pengertian, prihatin dengan memberi kelegaan kepada mereka dan berkata : "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" (ayat 31). Namun, kali ini niat Yesus tidak dapat terwujud karena orang banyak, sedang menduga-duga tempat sunyi yang akan didatangi Yesus dengan menggunakan perahu bersama para Rasul-Nya, tiba di sana sebelum kedatangan Yesus dan para Rasul-Nya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Juli 2018 : TENTANG UPAYA MISIONER GEREJA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Ini (bdk. Mrk 6:7-13) menceritakan Yesus mengutus dua belas Rasul. Setelah memanggil nama mereka satu per satu, “untuk menyertai Dia” (Mrk 3:14), mendengarkan sabda-Nya dan memperhatikan gerak penyembuhan-Nya, sekarang Ia kembali memanggil mereka “untuk diutus berdua-dua” (6:7), ke desa-desa di mana Ia akan pergi. Ini semacam "magang" untuk apa yang akan mereka lakukan, setelah kebangkitan Tuhan, dengan kuasa Roh Kudus.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Juli 2018 : YESUS PULANG KE NAZARET

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Bacaan Injil hari ini (bdk. Mrk 6:1-6) menghadirkan Yesus, yang pulang ke Nazaret dan, pada hari Sabat, mulai mengajar di rumah ibadat. Sejak saat Ia pergi dan mulai berkhotbah di dusun-dusun dan desa-desa tetangga, Ia tidak pernah menginjakkan kaki di kota tempat Ia dibesarkan tersebut. Ia pulang. Oleh karena itu, seluruh negeri siap untuk mendengarkan sang putra rakyat tersebut, yang reputasi-Nya sebagai Guru yang bijaksana dan tabib yang mumpuni sekarang menyebar ke seluruh Galilea dan sekitarnya. Namun, apa yang mungkin telah menjadi suatu keberhasilan, berubah menjadi penolakan yang membahana, sampai pada titik di mana Yesus tidak dapat melakukan mukjizat apapun di sana, tetapi hanya beberapa penyembuhan (bdk. ayat 5). Penginjil Markus mereka ulang secara terperinci dinamika hari itu : pada mulanya, orang-orang Nazaret mendengarkan dan takjub; kemudian, bingung, mereka bertanya, "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya?" Dan, pada akhirnya, mereka menjadi heboh, mengenali bahwa Dia adalah tukang kayu, putra Maria, yang mereka lihat telah tumbuh dewasa (ayat 2-3). Oleh karena itu, Yesus akhirnya mengungkapkan sebuah pepatah: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri" (ayat 4).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 Juli 2018 : TENTANG APA YANG DIBUTUHKAN YESUS UNTUK MENYEMBUHKAN KITA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 5:21-43) menyajikan dua mukjizat yang dikerjakan oleh Yesus, menggambarkan keduanya hampir-hampir sebagai semacam parade kemenangan menuju kehidupan.

Pertama, Penginjil menceritakan tentang Yairus yang pasti dikenal, salah seorang kepala rumah ibadat, yang datang kepada Yesus dan memohon dengan sangat kepada-Nya untuk pergi ke rumahnya karena putrinya yang berusia dua belas tahun sedang sekarat. Yesus menyetujui dan pergi bersamanya; tetapi, di sepanjang jalan, muncul berita bahwa gadis itu sudah meninggal. Kita dapat membayangkan reaksi si ayah. Tetapi Yesus mengatakan kepadanya : "Jangan takut, percaya saja!" (ayat 36). Setibanya di rumah Yairus, Yesus menyuruh keluar orang-orang yang menangis - ada juga para perempuan yang berteriak dengan suara nyaring - dan memasuki ruangan hanya dengan si orang tua dan tiga murid. Kepada gadis yang telah meninggal itu, Ia berkata : "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" (ayat 41). Dan segera gadis itu bangun, seolah-olah terbangun dari tidur nyenyak (ayat 42).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 29 Juni 2018 : TENTANG HARI RAYA SANTO PETRUS DAN SANTO PAULUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini Gereja, peziarah menuju Roma dan di seluruh dunia, berjalan menuju akar imannya dan merayakan Rasul Petrus dan Paulus. Jenazah mereka yang fana, tersimpan di dua Basilika yang didedikasikan untuk mereka, sangat disayangi oleh umat Roma dan banyak peziarah yang datang untuk menghormati mereka dari segala penjuru.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 27 Juni 2018 : TENTANG DASA FIRMAN (BAGIAN 3)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini, Audiensi ini akan berlangsung seperti yang terjadi hari Rabu lalu. Di Aula Paulus VI ada banyak orang sakit, dan untuk melindungi mereka dari panas, jadi mereka lebih nyaman, mereka berada di sana. Tetapi mereka akan mengikuti Audiensi melalui layar lebar, dan kita juga bersama mereka, yaitu, tidak ada dua Audiensi. Hanya ada satu Audiensi. Marilah kita menyambut umat di Aula Paulus VI. Dan kita akan melanjutkan berbicara tentang berbagai perintah yang, sebagaimana telah kita katakan, alih-alih berbagai perintah merupakan firman Allah bagi umat-Nya, sehingga umat dapat melakukan perjalanan dengan baik; berbagai perintah tersebut merupakan firman penuh kasih dari seorang Bapa. Sepuluh firman tersebut dimulai seperti ini : “ "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (Kel 20:2). Permulaan ini akan tampak asing bagi peraturan-peraturan yang hakiki dan wajar yang mengikutinya. Tetapi bukan itu masalahnya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 24 Juni 2018 : TENTANG HARI RAYA KELAHIRAN SANTO YOHANES PEMBAPTIS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini Liturgi mengundang kita untuk merayakan Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis. Kelahirannya adalah peristiwa yang menerangi kehidupan kedua orangtuanya, Elisabet dan Zakharia, serta melibatkan, dalam sukacita dan kekaguman akan kelahiran tersebut, kerabat dan tetangganya. Kedua orangtua yang sudah lanjut usia ini telah memimpikan dan bahkan mempersiapkan hari itu, tetapi sekarang mereka tidak lagi mengharapkannya : mereka merasa dikecualikan, dipermalukan, kecewa: mereka tidak mempunyai anak. Dihadapkan dengan pemberitahuan kelahiran seorang anak (Luk 1:13), Zakharia tidak dapat mempercayainya, karena hukum alam tidak memungkinkannya: mereka sudah tua, mereka sudah lanjut usia; sebagai akibatnya, Tuhan membuat Zakharia tidak mampu berbicara dan tidak dapat berbicara sepanjang masa kehamilan (lihat ayat 20). Itu adalah sebuah tanda. Tetapi Allah tidak bergantung pada nalar kita dan kemampuan manusiawi kita yang terbatas. Kita harus belajar untuk percaya dan berada dalam keheningan menghadapi misteri Allah dan merenung dalam kerendahan hati serta bungkam akan karya-Nya, yang terungkap dalam sejarah dan yang seringkali melebihi khayalan kita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 20 Juni 2018 : TENTANG DASA FIRMAN (BAGIAN 2)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Audiensi ini berlangsung di dua tempat : kita di sini di Lapangan [Santo Petrus], dan di Aula Paulus VI ada lebih dari 200 orang sakit yang mengikuti melalui layar raksasa. Bersama-sama kita membentuk sebuah komunitas. Marilah kita menyambut mereka yang berada di Aula dengan tepuk tangan.

Hari Rabu lalu kita memulai siklus katekese baru, tentang Dasa Firman. Kita telah melihat bahwa Tuhan Yesus tidak datang untuk meniadakan Hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya. Tetapi kita harus memahami sudut pandang ini dengan lebih baik.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 17 Juni 2018 : KERAJAAN ALLAH TUMBUH SECARA MISTERIUS DAN MENGEJUTKAN

Saudara-saudari terkasih, halo!

Dalam kutipan Injil hari ini (lihat Mrk 4:26-34), Yesus berbicara tentang hal Kerajaan Allah dan dinamika pertumbuhannya, dan Ia membicarakannya dengan menceritakan dua perumpamaan singkat.

Dalam perumpamaan pertama (lihat ayat 26-29), Kerajaan Allah dibandingkan dengan pertumbuhan benih yang misterius, yang ditaburkan ke tanah, kemudian bertunas, tumbuh dan menghasilkan tanaman, tanpa menghiraukan perawatan sang penabur, yang pada akhir ranum dan perlu dipanen. Inilah pesan yang diberikan perumpamaan ini : dengan pewartaan dan tindakan Yesus, Kerajaan Allah diberitakan, ia menerobos masuk ke dunia dan, seperti biji, tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, dengan kekuatannya sendiri dan tidak dapat diuraikan menurut kriteria manusia. Tumbuh dan bertunas dalam sejarah, Kerajaan Allah tidak terlalu bergantung pada karya manusia, tetapi terutama merupakan ungkapan kuasa dan kebaikan Allah. Dan kekuatan Roh Kudus, yang mengembangkan kehidupan kristiani di dalam umat Allah.

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG MISKIN SEDUNIA II (18 November 2018)

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG MISKIN SEDUNIA II
(Hari Minggu Biasa XXXIII, 18 November 2018)

Orang miskin ini berseru dan Tuhan mendengarnya

1.        “Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengar” (Mzm 34:7). Kata-kata Pemazmur menjadi kata-kata kita ketika kita dipanggil untuk menghadapi berbagai kondisi penderitaan dan marjinalisasi yang dialami oleh banyak saudara dan saudari kita yang biasanya secara umum kita sebut "kaum miskin". Pemazmur tidak asing dengan penderitaan; justru sebaliknya. Ia memiliki pengalaman langsung akan kemiskinan dan mengubahnya menjadi madah pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan. Mazmur ini adalah kesempatan bagi kita saat ini, tenggelam dalam berbagai bentuk kemiskinan, untuk memahami siapa yang benar-benar miskin di mana kita dipanggil untuk memandangnya guna mendengar jeritan mereka dan mengenali kebutuhan mereka.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 13 Juni 2018 : TENTANG DASA FIRMAN (BAGIAN 1)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini adalah pesta Santo Antonius dari Padua. Siapa di antara kalian yang bernama Antonius? - Tepuk tangan untuk seluruh “Antonius”. Kita memulai hari ini jadwal katekese baru bertema Dasa Firman, Sepuluh Perintah Allah. Untuk memperkenalkannya, kita mengambil inspirasi dari perikop yang baru saja kita dengar : pertemuan antara Yesus dan seorang pria - ia adalah seorang pemuda - yang, bertelut, bertanya kepada-Nya bagaimana ia dapat memperoleh hidup yang kekal (bdk. Mrk 10:17-21). Dan pertanyaan itu merupakan tantangan dari setiap keberadaan, keberadaan kita juga : hasrat untuk hidup yang utuh dan tanpa batas. Tetapi, apa yang seharusnya kita lakukan untuk mencapainya? Jalan apa yang harus kita ikuti? Untuk sungguh menjalani, menjalani keberadaan yang mulia ... Berapa banyak orang muda berusaha untuk "menjalani" dan menghancurkan diri mereka dengan mengikuti hal-hal yang fana.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 Juni 2018 : KESALAHPAHAMAN PARA AHLI TAURAT DAN KAUM KELUARGA YESUS

Saudara-saudari Terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini (Mrk 3:20-35) menunjukkan kepada kita dua macam kesalahpahaman yang harus ditujukan kepada Yesus : kesalahpahaman para ahli Taurat dan kesalahpahaman kaum keluarga-Nya sendiri. Kesalahpahaman pertama : para ahli Taurat adalah orang-orang yang diperintahkan dalam Kitab Suci dan yang bertanggung jawab untuk menjelaskannya kepada orang-orang. Beberapa dari mereka diutus dari Yerusalem ke Galilea, di mana ketenaran Yesus sedang mulai menyebar, untuk menjelek-jelekkan-Nya di mata orang-orang, menugaskan para penggosip, menjelek-jelekkan orang lain, mengenyahkan kewibawaan-Nya - hal yang sungguh mengerikan. Dan mereka diutus untuk melakukan hal ini. Dan para ahli Taurat ini tiba dengan tuduhan tertentu yang mengerikan - mereka tidak memiliki cara lain, langsung ke pokok persoalan dan mengatakan demikian: “Ia kerasukan Beelzebul, dan dengan penghulu setan Ia mengusir setan" (ayat 22). Penghulu setanlah yang menggerakkan-Nya, yang seolah-olah mengatakan, kurang lebih, “Ia kerasukan”. Sebenarnya, Yesus sedang menyembuhkan banyak orang sakit, dan para ahli Taurat ingin membuat mereka percaya bahwa Ia melakukannya, bukan dengan Roh Allah - seperti seperti yang dilakukan Yesus -, tetapi dengan Roh Jahat, dengan kekuatan iblis.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 6 Juni 2018 : TENTANG SAKRAMEN PENGUATAN (BAGIAN III)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Melanjutkan permenungan kita tentang sakramen penguatan, kita meninjau berbagai dampak karunia Roh Kudus yang telah mendewasakan orang-orang yang menerimanya, yang menuntun mereka pada gilirannya menjadi karunia bagi orang lain. Itulah karunia Roh Kudus. Kita ingat bahwa ketika Uskup mengurapi kita dengan minyak, ia berkata : “Terimalah Roh Kudus yang diberikan kepadamu sebagai karunia”. Karunia Roh Kudus itu masuk ke dalam diri kita dan membuat kita berbuah, karena kita dapat memberikannya kepada orang lain. Selalu menerima untuk memberi : jangan pernah menerima dan menyimpannya di dalam diri, seolah-olah jiwa adalah sebuah gudang. Tidak : selalu menerima untuk memberi. Rahmat Allah diterima untuk diberikan kepada orang lain. Inilah kehidupan kristiani. Oleh karena itu, layaklah Roh Kudus menjauhkan diri kita dari "aku" kita guna membuka diri kita terhadap "kita" dari komunitas : menerima untuk memberi. Kita tidak berada di pusat; kita adalah alat dari karunia bagi orang lain itu.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 3 Juni 2018 : TENTANG HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus atau, menurut ungkapan Latin lebih dikenal dengan nama Corpus Domini, hari ini dirayakan di banyak negara - di antaranya di Italia. Injil melaporkan kata-kata Yesus kepada kita, yang diucapkan selama Perjamuan Terakhir dengan murid-murid-Nya : “Ambillah, inilah tubuh-Ku. Kemudian : "Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang” (Mrk 14:22,24). Pada kenyataannya, oleh karena perjanjian kasih itu, jemaat kristiani berkumpul hari ini, hari Minggu, dan setiap hari, di sekitar Ekaristi, Sakramen Pengorbanan Penebusan Kristus. Dan, tertarik pada kehadiran-Nya yang nyata, umat kristiani menyembah dan merenungkan-Nya melalui tanda roti yang sederhana menjadi tubuh-Nya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 30 Mei 2018 : TENTANG SAKRAMEN PENGUATAN (BAGIAN II)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Melanjutkan uraian tentang sakramen penguatan atau sakramen krisma, hari ini saya ingin menjelaskan “hubungan erat sakramen ini dengan seluruh inisiasi kristiani" (Sacrosanctum Concilium, 71).

Sebelum menerima pengurapan rohani, yang meneguhkan dan menguatkan kembali rahmat pembaptisan, para calon penerima sakramen penguatan dipanggil untuk memperbarui janji-janji yang suatu hari telah dibuat oleh para orang tua dan para wali baptis. Sekarang mereka sendiri yang mengakui iman Gereja, siap untuk menjawab "ya, aku percaya", atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan uskup kepada mereka; siap, khususnya, untuk percaya “kepada Roh Kudus, yaitu Tuhan dan pemberi kehidupan, dan yang hari ini, melalui Sakramen Penguatan, diberikan secara khusus [kepada mereka], seperti yang sudah terjadi pada para Rasul pada hari Pentakosta" (Ritus Sakramen Penguatan, no. 26).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 27 Mei 2018 : TENTANG HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini, Hari Minggu setelah Pentakosta, kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Sebuah hari raya untuk merenungkan dan memuji misteri Allah dari Yesus Kristus, yang adalah salah satu pribadi dalam persekutuan Tritunggal : Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dengan ketakjuban yang diperbaharui sungguh merayakan Allah kasih, yang menawarkan hidup-Nya secara cuma-cuma kepada kita dan meminta agar kita menyebarkannya di dunia. Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini membuat kita memahami bahwa Allah sangat tidak ingin mengungkapkan kepada kita bahwa Ia ada, tetapi, lebih tepatnya, bahwa Dialah “Allah beserta kita”, yang mengasihi kita, tertarik pada kisah pribadi kita dan memperhatikan kita masing-masing, mulai dari yang terkecil dan yang paling membutuhkan. Dialah “Allah yang di langit di atas" tetapi juga "di bumi di bawah" (bdk. Ul 4:39). Oleh karena itu, kita tidak percaya pada perwujudan yang jauh, acuh tak acuh, tetapi, sebaliknya, pada Sang Kasih yang menciptakan alam semesta dan membangkitkan suatu suku bangsa, dijadikan daging, wafat dan bangkit bagi kita, serta ketika Roh Kudus mengubah segalanya dan menuntun menuju kepenuhan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 23 Mei 2018 : TENTANG SAKRAMEN KRISMA (BAGIAN 1)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Setelah katekese tentang pembaptisan, hari-hari setelah Hari Raya Pentakosta ini mengundang kita untuk merenungkan kesaksian yang dibangkitkan Roh Kudus dalam diri orang-orang yang dibaptis, menggerakkan kehidupan mereka, membukanya untuk kebaikan orang lain. Yesus mempercayakan sebuah perutusan besar kepada para murid-Nya : “Kamu adalah garam dunia; kamu adalah terang dunia” (bdk. Mati 5:13-16). Garam dan terang dunia adalah gambaran yang membuat kita memikirkan perilaku kita, karena kekurangan atau kelebihan garam membuat makanan tidak enak, sama seperti kekurangan dan atau kelebihan terang mengganggu penglihatan kita. Dia yang dapat benar-benar menjadikan kita garam yang memberi rasa dan mengawetkan dari kebusukan, dan terang yang menyinari dunia hanyalah Roh Kristus! Dan inilah karunia yang kita terima dalam Sakramen Penguatan atau Krisma, yang padanya saya ingin berhenti sejenak dan merenung bersama kalian. Sakramen tersebut disebut "Penguatan" karena ia meneguhkan pembaptisan dan menguatkan rahmatnya (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1289); seperti juga kenyataannya dari "Krisma" kita menerima Roh Kudus melalui pengurapan dengan "minyak krisma" - minyak yang dicampur dengan wewangian yang disucikan oleh Uskup -, istilah yang mengacu pada "Kristus", yang diurapi Roh Kudus.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 20 Mei 2018 : TENTANG HARI RAYA PENTAKOSTA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari Raya Pentakosta hari ini mengakhiri Masa Paskah, yang berpusat pada wafat dan kebangkitan Yesus. Hari raya ini membuat kita mengingat dan menghidupkan kembali pencurahan Roh Kudus kepada para Rasul dan murid-murid lain, yang berkumpul dalam doa bersama Perawan Maria di Ruang Atas (bdk. Kis 2:1-11). Pada hari itu, kekudusan kristiani dimulai, karena Roh Kudus adalah sumber kekudusan, yang bukanlah hak istimewa segelintir orang, tetapi panggilan semua orang.

SERUAN APOSTOLIK BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS GAUDETE ET EXSULTATE (BERSUKACITA DAN BERGEMBIRALAH)

SERUAN APOSTOLIK BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS
GAUDETE ET EXSULTATE (BERSUKACITA DAN BERGEMBIRALAH)
TENTANG PANGGILAN MENUJU KEKUDUSAN DALAM DUNIA MASA KINI

1.        “BERSUKACITA DAN BERGEMBIRALAH” (Mat 5:12), Yesus mengatakan kepada mereka yang dianiaya atau dihina demi Dia. Tuhan meminta segalanya dari kita, dan sebagai imbalannya Ia menawarkan kepada kita kehidupan sejati, kebahagiaan yang untuknya kita diciptakan. Ia menginginkan kita menjadi orang-orang kudus dan tidak puas dengan keberadaan yang hambar dan biasa-biasa saja. Panggilan terhadap kekudusan hadir dengan berbagai cara sejak perikop-perikop awal Kitab Suci. Kita melihatnya terungkap dalam perkataan Tuhan kepada Abraham : “Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej 17: 1).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 16 Mei 2018 : MENGENAKAN KRISTUS MELALUI PEMBAPTISAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita mengakhiri rangkaian katekese tentang pembaptisan. Akibat rohani dari sakramen ini, yang tidak kasat mata tetapi bekerja di dalam hati orang yang telah menjadi ciptaan baru, tersirat dengan pemberian pakaian putih dan lilin yang menyala. Setelah mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (bdk. Ef 4:24), tampak wajar, sejak abad-abad perdana, mengenakan pakaian putih yang baru yang sama seperti kemegahan kehidupan yang diperoleh di dalam Kristus dan di dalam Roh Kudus. Seraya pakaian putih mengungkapkan secara simbolis apa yang telah terjadi dalam sakramen tersebut, pakaian putih menyatakan kondisi mereka berubah rupa dalam kemuliaan ilahi.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 13 Mei 2018 : TENTANG HARI RAYA KENAIKAN TUHAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari Raya Kenaikan Tuhan dirayakan hari ini di Italia dan di banyak negara lainnya. Hari raya ini mengandung dua unsur. Di satu sisi, hari raya ini mengarahkan pandangan kita ke Surga, tempat Yesus, dimuliakan, duduk di sebelah kanan Allah (bdk. Mrk 16:19). Di sisi lain, hari raya ini mengingatkan permulaan perutusan Gereja: mengapa? Karena Yesus yang bangkit dan naik ke surga mengutus murid-murid-Nya untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia; Oleh karena itu, Hari Raya Kenaikan Tuhan mendesak kita untuk menengadah kita ke surga, untuk kemudian segera kembali ke bumi, melaksanakan tugas-tugas yang telah dipercayakan oleh Tuhan yang bangkit kepada kita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 9 Mei 2018 : MELALUI PEMBAPTISAN, GEREJA MELAHIRKAN KITA KEMBALI KEPADA KEHIDUPAN KEKAL

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Katekese tentang Sakramen Pembaptisan menuntun kita hari ini untuk berbicara tentang pembersihan, yang disertai dengan doa Tritunggal Mahakudus, yaitu, ritus inti yang sebagaimana mestinya “membaptis” - yaitu, menenggelamkan - dalam Misteri Paskah Kristus (Katekismus Gereja Katolik, 1239). Santo Paulus mengingatkan makna tata gerak ini, kepada umat kristiani di Roma, bertanya terlebih dulu : “Tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?”. Dan kemudian menjawab: “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati ... demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru”(Rm 6:3-4). Pembaptisan membuka pintu bagi kita kepada kehidupan kebangkitan, bukan kepada kehidupan duniawi <tetapi kepada> kehidupan menurut Yesus.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 6 Mei 2018 : TENTANG TINGGAL DI DALAM KASIH KRISTUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam Masa Paskah ini, sabda Allah terus menunjukkan kepada kita gaya hidup yang bertalian erat untuk menjadi komunitas Kristus yang bangkit. Di antaranya, Injil hari ini menghadirkan tuntutan Yesus: "tinggallah di dalam kasih-Ku" (Yoh 15:9). Mendiami aliran kasih Allah, memiliki tempat tinggal yang tetap adalah keadaan sehingga kasih kita tidak kehilangan semangatnya dan berani dalam perjalanan. Seperti Yesus dan di dalam Dia, kita juga harus menerima dengan rasa syukur kasih yang berasal dari Bapa dan tinggal di dalam kasih ini, berusaha untuk tidak memisahkan diri kita oleh egoisme dan dosa. Ini adalah program yang menuntut tetapi bukan tidak mungkin.