Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 12 Desember 2018 : DOA BAPA KAMI - DOA YANG DIMOHON DENGAN KEYAKINAN (LUKAS 11:9-13)

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Kita melanjutkan perjalanan katekese tentang doa “Bapa Kami”, yang kita mulai minggu lalu. Yesus meletakkan di bibir murid-murid-Nya doa singkat dan berani yang terdiri dari tujuh persoalan - sebuah angka yang bukan tidak disengaja dalam Kitab Suci <tetapi angka itu> menunjukkan kepenuhan. Saya mengatakan berani karena, jika Kristus tidak menyarankannya, mungkin tak satupun dari kita - tak ada satupun teolog paling terkenal - akan berani berdoa kepada Allah dengan cara ini. Yesus, pada kenyataannya, mengundang murid-murid-Nya untuk mendekati Allah dan membuat beberapa permintaan dengan keyakinan : pertama-tama berkenaan dengan Dia dan kemudian berkenaan dengan kita. Tidak ada Pendahuluan dalam doa “Bapa Kami”. Yesus tidak mengajarkan rumusan untuk "mengambil hati" Tuhan, sebaliknya, Ia mengundang untuk berdoa kepada-Nya meruntuhkan hambatan kegelisahan dan rasa takut. Ia tidak mengatakan untuk menyapa Allah memanggil-Nya “Yang Mahakuasa”, “Yang Mahatinggi”, “Engkau yang nun jauh dari kami; aku orang yang sengsara”. Tidak, Ia tidak mengatakan hal ini, tetapi hanya “Bapa”, dengan segala kesederhanaan, sebagai anak-anak yang berpaling kepada ayah mereka. Dan kata “Bapa” ini mengungkapkan rasa percaya diri dan kepercayaan seorang anak.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 9 Desember 2018 : TENTANG PERLUNYA PERJALANAN PERTOBATAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari Minggu lalu liturgi mengajak kita untuk menjalani Masa Adven dan menantikan Tuhan dengan sikap waspada dan juga sikap doa : “berjaga-jagalah” dan “berdoalah”. Hari ini, Hari Minggu Adven II, liturgi menunjukkan kepada kita bagaimana hakekat penantian semacam itu : melakukan perjalanan pertobatan, bagaimana mewujudkan penantian ini. Kepada kita Bacaan Injil memaparkan, sebagai pemandu dalam perjalanan ini, sosok Yohanes Pembaptis, yang “pergi ke seluruh daerah Yordan, memberitakan baptisan pertobatan untuk pengampunan dosa” (Luk 3:3). Untuk menggambarkan perutusan Yohanes Pembaptis, penginjil Lukas mengutip nubuat kuno nabi Yesaya, yang mengatakan hal ini : “Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata” (ayat 4-5).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 5 Desember 2018 : DOA BAPA KAMI - TUHAN, AJARLAH KAMI BERDOA (LUKAS 11:1)

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita memulai rangkaian katekese tentang doa “Bapa Kami”.

Keempat Injil memberi kita gambaran yang sangat jelas tentang Yesus sebagai seorang pendoa. Meskipun kemendesakan perutusan-Nya dan kemendesakan begitu banyak orang yang menggugat-Nya, Yesus merasakan kebutuhan untuk menyendiri dalam doa. Injil Markus memberi kita rincian ini sejak perikop pertama pelayanan publik Yesus (bdk. 1:35). Hari perdana Yesus di Kapernaum berakhir dengan bernuansa kemenangan. Matahari telah terbenam, banyak orang sakit mencapai pintu tempat Yesus tinggal : Sang Mesias berkhotbah dan menyembuhkan. Nubuat-nubuat terdahulu dan berbagai pengharapan dari begitu banyak orang yang sedang menderita tergenapi : Yesus adalah Allah yang dekat, Allah yang membebaskan. Namun, orang banyak itu sedikit jika dibandingkan dengan begitu banyak orang lainnya yang akan berkumpul di sekitar Sang Nabi asal Nazaret tersebut; pada saat-saat tertentu mereka bagaikan kumpulan samudra, dan Yesus adalah pusat dari semuanya, yang dinanti-nantikan oleh bangsa-bangsa, tercapainya harapan Israel.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 2 Desember 2018 : TENTANG MASA ADVEN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Masa Adven dimulai hari ini, masa liturgi yang mempersiapkan kita untuk Natal, mengundang kita untuk memberi perhatian dan membuka hati kita guna menyambut Yesus. Selama Masa Adven kita tidak hanya menantikan Natal, kita diundang untuk membangkitkan kembali pengharapan akan kedatangan Kristus yang mulia - ketika Ia akan kembali pada akhir zaman - mempersiapkan diri kita untuk pada akhirnya berjumpa Dia dengan pilihan yang tidak plin-plan dan berani. Kita mengingat Natal; kita menantikan kedatangan Kristus yang mulia, dan juga perjumpaan pribadi kita - hari di mana Tuhan akan memanggil kita. Selama empat pekan ini kita dipanggil untuk keluar dari cara hidup yang biasa dan terima nasib, serta memupuk harapan, memupuk impian <kita> untuk masa depan yang baru. Injil hari Minggu ini (bdk. Luk 21:25-28.34-36) sesungguhnya menunjukkan haluan ini dan menempatkan kita berjaga-jaga agar tidak membiarkan diri kita tertindas oleh gaya hidup yang berpusat diri atau oleh garangnya irama hari-hari. Kata-kata Yesus bergema dengan sangat tajam : “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat [...] Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa" (ayat 34, 36).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 28 November 2018 : TENTANG DASA FIRMAN DALAM TERANG KRISTUS (GALATIA 5:16-18. 22-23)

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam katekese hari ini, yang mengakhiri pengajaran tentang Dasa Firman, kita dapat menggunakannya sebagai tema utama yang diinginkan, yang memungkinkan kita untuk melangkahi perjalanan yang dibuat dan merangkum tahapan-tahapan yang dicapai dengan membaca teks Dasa Firman, selalu sepenuhnya dalam terang pewahyuan di dalam Kristus.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 25 November 2018 : TENTANG HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi! Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Alam Semesta, yang kita rayakan hari ini, ditempatkan pada akhir tahun liturgi dan mengingatkan bahwa kehidupan ciptaan tidak berkembang secara kebetulan tetapi berlanjut ke tujuan akhir : kepastian pengejawantahan Kristus, Tuhan sejarah dan segenap ciptaan. Kesudahan sejarah akan menjadi pemerintahan-Nya yang kekal. Perikop Injil hari ini (bdk. Yoh 18:33b-37) memberitahu kita tentang Kerajaan ini, kerajaan Kristus, menceritakan situasi Yesus dipermalukan setelah ditangkap di Taman Getsemani : diikat, dihina, dituduh dan digiring di hadapan penguasa Yerusalem. Dan kemudian Ia diajukan ke penguasa Roma, sebagai orang yang berusaha melawan kekuasaan politik, untuk menjadi Raja orang Yahudi. Pilatus kemudian melakukan penyelidikan dan dalam penyelidikan yang dramatis, ia dua kali menanyakan kepada-Nya apakah Ia raja (bdk. ayat 33b.37). Dan pada mulanya, Yesus menjawab bahwa Kerajaan-Nya “bukan dari dunia ini” (ayat 36). Kemudian Ia menegaskan : "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja" (ayat 37). Terbukti dari seluruh kehidupan-Nya Yesus tidak memiliki ambisi politik. Kita ingat bahwa setelah penggandaan roti, orang-orang, yang antusias oleh karena mukjizat tersebut, ingin memaklumkan-Nya sebagai raja, untuk menggulingkan kekuasaan Romawi dan membangun kembali kerajaan Israel. Namun, bagi Yesus, Kerajaan Allah adalah sesuatu yang lain, dan tentu saja bukan disebabkan oleh pemberontakan, kekerasan, dan kekuatan senjata. Oleh karena itu, Ia mundur ke gunung seorang diri untuk berdoa (bdk. Yoh 6:5-15). Sekarang, menjawab Pilatus, Ia membuatnya memperhatikan bahwa para murid-Nya tidak berjuang untuk membela-Nya. Ia berkata : "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi” (ayat 36).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 21 November 2018 : TENTANG PERINTAH KESEMBILAN (JANGAN MENGINGINI ISTRI SESAMAMU) DAN PERINTAH KESEPULUH (JANGAN MENGINGINI MILIK SESAMAMU DENGAN TIDAK ADIL)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Pertemuan kita tentang Dasa Firman hari ini membawa kita ke kedua Perintah terakhir. Kita mendengarnya pada pembukaan. Kedua perintah tersebut bukan hanya kata-kata terakhir dari teks tetapi lebih dari itu : kedua Perintah tersebut adalah penggenapan perjalanan melalui Dasa Firman, menyentuh hati dari semua yang telah diberikan kepada kita di dalamnya. Bahkan, dengan pemahaman, kedua Perintah tersebut tidak menambahkan muatan baru : petunjuk "jangan mengingini istri sesamamu [...] atau apapun yang dipunyai sesamamu” (Kel 20:17) setidaknya termaktub dalam Perintah tentang perzinahan dan pencurian; lalu, apa fungsi dari kata-kata ini? Apakah kata-kata ini merupakan ringkasan? Apakah kata-kata ini lebih dari itu? Marilah kita tetap sungguh menyampaikan bahwa seluruh Perintah memiliki tugas untuk menunjukkan batasan kehidupan, batas agar manusia tidak menghancurkan dirinya sendiri dan sesamanya, merusak hubungannya dengan Allah. Jika kamu melampauinya, kamu menghancurkan dirimu sendiri; kamu juga menghancurkan hubungan dengan Allah dan hubungan dengan orang lain. Perintah-perintah tersebut menunjukkan hal ini. Kenyataan bahwa semua pelanggaran umumnya berakar dari dalam : keinginan jahat, disoroti melalui Perintah terakhir ini. Seluruh dosa dilahirkan dari keinginan jahat - seluruhnya. Hati mulai bergerak di sana, dan hati memasuki alunan itu dan berakhir dengan pelanggaran. Tetapi bukan pelanggaran hukum formal, legal : pelanggaran yang melukai diri sendiri dan orang lain. Tuhan Yesus mengatakannya secara sederhana dalam Injil : “Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang" (Mrk 7:21-23).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 18 November 2018 : TENTANG KESUDAHAN DAN TUJUAN SEJARAH MANUSIA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam perikop Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 13:24-32), Tuhan ingin memberi petunjuk kepada murid-murid-Nya tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang. Petunjuk tersebut bukan, pertama-tama, sebuah wejangan tentang kesudahan dunia; sebaliknya, petunjuk tersebut adalah undangan untuk menjalani masa sekarang dengan baik, serta berjaga-jaga dan selalu siap ketika kita dipanggil untuk memberikan pertanggungjawaban atas kehidupan kita. Yesus berkata : "Pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang" (ayat 24-25). Kata-kata ini membuat kita memikirkan permulaan Kitab Kejadian - kisah penciptaan : matahari, bulan, bintang-bintang, yang pada permulaan masa bersinar teratur dan membawa terang, tanda kehidupan, dijelaskan di sini dalam peluruhan mereka, seraya mereka jatuh ke dalam kegelapan dan kekacauan, tanda kesudahan. Sebaliknya, terang yang akan bersinar pada hari terakhir itu akan menjadi unik dan baru : terang tersebut akan merupakan terang Tuhan Yesus yang akan datang dalam kemuliaan bersama semua orang kudus. Dalam perjumpaan itu kita akhirnya akan melihat wajah-Nya dalam terang Tritunggal sepenuhnya; Wajah yang berseri-seri dengan kasih, yang di hadapannya, seluruh umat manusia juga akan muncul dalam kebenaran yang penuh.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 14 November 2018 : TENTANG PERINTAH KEDELAPAN (JANGAN BERSAKSI DUSTA)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi

Dalam katekese hari ini, kita akan membahas perintah kedelapan dari Dasa Firman : "Jangan bersaksi dusta terhadap sesamamu".

Perintah ini - Katekismus Gereja Katolik mengatakan - "melarang memutarbaIikkan kebenaran dalam hubungan dengan orang lain" (no. 2464). Beratnya menjalani komunikasi yang tidak otentik karena menghambat hubungan dan, oleh karena itu, menghambat cinta. Di mana ada kebohongan di situ tidak ada cinta, cinta tidak bisa dilakukan. Dan ketika kita berbicara tentang komunikasi di antara orang-orang yang kita maksudkan bukan hanya perkataan tetapi juga isyarat, sikap, bahkan keheningan, dan ketidakhadiran. Seseorang berbicara dengan seluruh dirinya dan yang dilakukannya. Kita semua selalu berkomunikasi. Kita semua hidup berkomunikasi dan kita terus-menerus berada di antara kebenaran dan kebohongan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 November 2018 : TENTANG AHLI TAURAT YANG PONGAH DAN JANDA YANG MISKIN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Kisah Injil hari ini (bdk. Mrk 12:38-44) menutup rangkaian ajaran yang disampaikan Yesus di Bait Suci Yerusalem dan menyoroti dua tokoh yang bertolak belakang : ahli Taurat dan janda. Tetapi mengapa mereka bertolak belakang? Ahli Taurat mewakili orang-orang penting, kaya dan berpengaruh. Yang lainnya, janda, mewakili orang-orang kecil, miskin dan lemah. Pada kenyataannya penilaian Yesus yang tegas berkaitan dengan ahli-ahli Taurat, tidak menyangkut seluruh golongan, tetapi mengacu pada orang-orang yang mempertontonkan kedudukan sosial mereka, yang pongah dengan gelar "Rabi" mereka, yaitu, guru, yang suka dinanti-nantikan dan menduduki tempat terdepan (bdk. ayat 38-39). Yang lebih buruk adalah kepongahan mereka terutama bersifat keagamaan karena mereka - Yesus mengatakan - “mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang” (ayat 40) dan memanfaatkan Allah untuk membanggakan diri mereka sebagai para penjaga hukum-Nya. Dan sikap merasa lebih unggul dan pongah ini membuat mereka menghina orang-orang yang terhitung kecil dan berada dalam kedudukan ekonomi yang kurang beruntung, seperti janda.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 7 November 2018 : TENTANG PERINTAH KETUJUH (JANGAN MENCURI)

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Melanjutkan penjelasan tentang Dasa Firman, hari ini kita sampai pada perintah ketujuh : “Jangan mencuri”.

Mendengar perintah ini, kita memikirkan masalah pencurian dan penghormatan terhadap harta milik orang lain. Tidak ada budaya yang melegalkan pencurian dan penyalahgunaan harta benda. Bahkan, kepekaan manusia sangat rentan ketika menyangkut mempertahankan kepemilikan. Namun, ada gunanya kita membuka diri untuk membaca perintah ini secara lebih luas, berfokus pada tema tentang harta benda dalam terang kebijaksanaan Kristiani.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 4 November 2018 : TENTANG MENGASIHI ALLAH DAN MENGASIHI SESAMA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Pusat Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 12:28b-34), adalah hukum kasih : mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus : “Hukum manakah yang paling utama?” (ayat 28). Ia menjawab dengan mengutip pengakuan iman yang digunakan setiap orang Israel untuk membuka dan menutup harinya yang dimulai dengan kata-kata "Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa" (Ul 6:4). Jadi, Israel menjaga imannya dalam kenyataan dasariah dari seluruh keyakinannya : hanya ada satu Tuhan dan Tuhan adalah “milik kita”, dalam arti Ia mengikatkan diri-Nya kepada kita dengan perjanjian yang tak terhapuskan; Ia telah mengasihi kita, Ia mengasihi kita dan Ia akan mengasihi kita selamanya. Dari sumber inilah, mengasihi Allah inilah hukum ganda tersebut bermula : “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu [...] Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (ayat 30-31).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 November 2018 : SABDA BAHAGIA, JALAN MENUJU KEKUDUSAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi dan selamat hari raya!

Bacaan Pertama hari ini, dari Kitab Wahyu (7:2-4,9-14), berbicara kepada kita tentang Surga dan menempatkan di hadapan kita “suatu kumpulan besar orang banyak”, tidak dapat terhitung banyaknya, "dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (Why 7:9). Mereka adalah orang-orang kudus. Apa yang mereka lakukan "di sana"? Mereka bernyanyi bersama; memuji Allah dengan sukacita. Akan menyenangkan mendengarkan nyanyian mereka ... tetapi kita bisa membayangkannya. Apakah kamu tahu kapannya? Selama Misa, ketika kita menyanyikan “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah semesta alam ...“. Kitab Suci mengatakan itu adalah nyanyian rohani yang berasal dari Surga, yang dinyanyikan di sana (bdk. Yes 6:3; Why 4:8), sebuah madah pujian. Kemudian, menyanyikan “Kudus”, kita bukan hanya memikirkan para kudus tetapi kita melakukan apa yang mereka lakukan. Pada saat Misa tersebut, kita dipersatukan dengan mereka lebih dari sebelumnya. Dan kita dipersatukan dengan semua orang kudus - tidak hanya dengan orang-orang yang paling terkenal dalam penanggalan, tetapi juga dengan orang-orang “dari pintu sebelah”, dengan kerabat dan kenalan kita, yang sekarang menjadi bagian dari kelompok besar itu.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 31 Oktober 2018 : PANGGILAN SUAMI ISTRI MENEMUKAN KEPENUHANNYA DALAM KRISTUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini saya ingin menyelesaikan katekese tentang Perintah Keenam dari Dasa Firman - "Jangan berzinah" -, membuktikan bahwa kasih setia Kristus adalah terang untuk menghayati indahnya kasih sayang manusia. Kenyataannya, segi kasih sayang kita adalah panggilan untuk mengasihi, yang diwujudkan dalam kesetiaan, dalam keramahtamahan, dan dalam belas kasih. Hal ini sangat penting. Bagaimana kasih mewujudkan dirinya? Dalam kesetiaan, dalam keramahtamahan, dan dalam belas kasih.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 28 Oktober 2018

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi! Tetapi sepertinya pagi tidak begitu bagus! [Hujan dan berangin].

Pagi ini, di Basilika Santo Petrus, kita merayakan Misa Penutupan Sidang Sinode Para Uskup yang didedikasikan untuk kaum muda. Bacaan Pertama (Yer 31:7-9) sangat selaras dengan saat ini karena merupakah sebuah kata harapan, yang diberikan Allah kepada umat-Nya. Sebuah kata penghiburan, yang berlandaskan pada kenyataan bahwa Allah adalah Bapa bagi umat-Nya; Ia mengasihi mereka dan memperhatikan mereka sebagai anak-anak-Nya (bdk. ayat 9); Ia membuka di hadapan mereka cakrawala masa depan, jalan yang mudah dilalui, yang mudah dilaksanakan, yang padanya "orang buta dan lumpuh, ada perempuan yang mengandung bersama-sama dengan perhimpunan yang melahirkan" (ayat 8) yaitu, orang-orang dalam kesulitan, akan dapat berjalan - karena harapan Allah bukanlah khayalan belaka, seperti beberapa iklan, di mana semuanya sehat dan indah, tetapi harapan Allah adalah sebuah janji bagi umat yang sesungguhnya, dengan titik-titik baik dan titik-titik buruk, memiliki kesanggupan dan kerapuhan, seperti kita semua : harapan Allah adalah sebuah janji bagi umat seperti kita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 24 Oktober 2018 : TENTANG PERINTAH KEENAM (JANGAN BERZINAH)

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam perjalanan katekese kita tentang Dasa Firman hari ini kita tiba pada Perintah Keenam, yang harus dilaksanakan dengan segi suasana hati dan seksual, serta menyatakan : "Jangan berzinah". Panggilan dalam waktu dekat adalah terhadap ketaatan serta, pada kenyataannya, tidak ada hubungan manusiawi yang bersifat otentik tanpa ketaatan dan kesetiaan.

Kita tidak dapat mengasihi selama cinta itu "tidak menyusahkan"; cinta mewujudkan dirinya tepatnya di luar ambang kepentingan diri sendiri, ketika semuanya diberikan tanpa syarat. Sebagaimana ditegaskan oleh Katekismus Gereja Katolik : “Cinta itu sifatnya pasti. Ia tidak bisa berlaku hanya untuk sementara" (no. 1646). Ketaatan merupakan ciri khas hubungan manusiawi yang bebas, dewasa dan bertanggung jawab. Seorang sahabat juga menunjukkan dirinya secara otentik ketika ia tetap seperti itu, terlepas dari kemungkinan apapun yang terjadi; jika tidak ia bukanlah seorang sahabat. Kristus mengungkapkan cinta yang autentik, Dialah yang hidup dalam kasih Bapa yang tak terbatas, dan dengan rekam jejak ini Ia adalah Sahabat yang setia yang menyambut kita bahkan ketika kita melakukan kesalahan dan selalu menginginkan kebaikan kita, bahkan ketika kita tidak layak mendapatkannya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 21 Oktober 2018 : PELAYANAN ADALAH OBAT PENAWAR BAGI PARA PENCARI KEMULIAAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Perikop Injil hari ini (bdk. Mrk 10:35-45) menggambarkan Yesus yang, sekali lagi dan dengan penuh kesabaran, mencoba untuk membetulkan murid-murid-Nya dengan mengubah mentalitas duniawi mereka menjadi mentalitas Allah. Kesempatan diberikan kepada-Nya oleh dua bersaudara Yakobus dan Yohanes, dua orang yang pertama kali sungguh bertemu Yesus dan dipanggil untuk mengikuti-Nya. Saat ini mereka telah menempuh perjalanan panjang bersama-Nya dan termasuk dalam kelompok kedua belas Rasul. Oleh karena itu, ketika mereka sedang dalam perjalanan ke Yerusalem, di mana para murid dengan cemas berharap agar Yesus, pada kesempatan Paskah, akhirnya akan mendirikan Kerajaan Allah, kedua bersaudara itu memberanikan diri, mendekati dan menyampaikan permintaan mereka kepada Sang Guru : "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu" (ayat 37).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 17 Oktober 2018 : TENTANG PERINTAH JANGAN MEMBUNUH (BAGIAN 2)

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini saya ingin melanjutkan katekese tentang perintah kelima dari Dasa Firman, “Jangan membunuh". Kita sudah menekankan bagaimana Perintah ini mengungkapkan bahwa di mata Allah kehidupan manusia itu berharga, sakral dan tak bisa diganggu gugat. Tidak ada seorangpun yang bisa menghina kehidupan orang lain atau kehidupan kita sendiri. Manusia, pada kenyataannya, menyandang citra Allah di dalam dirinya dan merupakan sasaran dari kasih-Nya yang tak terbatas, apa pun keadaannya, yang di dalamnya ia dipanggil untuk berada.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 10 Oktober 2018 : TENTANG PERINTAH JANGAN MEMBUNUH

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Katekese hari ini didedikasikan untuk Perintah Kelima : Jangan membunuh. Perintah kelima adalah jangan membunuh. Kita sekarang berada di bagian kedua dari Dasa Firman, yang menyangkut hubungan dengan sesama manusia. Dan Perintah ini, dengan rumusan yang ringkas dan mutlak, berdiri sebagai dinding pertahanan nilai dasariah dalam hubungan manusia. Dan apa nilai dasar dalam hubungan manusia tersebut? Nilai kehidupan.[1] Oleh karena itu, jangan membunuh.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 7 Oktober 2018 : PERKAWINAN YANG TAK TERCERAIKAN ADALAH MAKSUD AWAL SANG PENCIPTA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 10:2-16) menyajikan kepada kita perkataan Yesus tentang perkawinan. Kisah ini dibuka dengan pancingan orang-orang Farisi yang menanyakan kepada Yesus apakah sah menurut hukum seorang laki-laki menceraikan istrinya sebagaimana ditetapkan oleh hukum Musa (bdk. ayat 2-4). Dengan kebijaksanaan dan kewenangan yang berasal dari Bapa-Nya, Yesus, pertama-tama, mengkaji ulang anjuran Musa yang mengatakan : “Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa - yakni sang pemberi hukum terdahulu - menuliskan perintah ini untuk kamu” (ayat 5). Anjuran tersebut, yaitu, sebuah kelonggaran yang berfungsi untuk menutupi kegagalan egoisme kita, tetapi tidak sesuai dengan maksud asli Sang Pencipta.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 30 September 2018 : TENTANG PERLUNYA KETERBUKAAN DAN KEBEBASAN DALAM MEWARTAKAN INJIL

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 9:38-43.45.47-48) menyajikan kepada kita salah satu hal yang sungguh mengandung pelajaran tentang kehidupan Yesus bersama para murid-Nya. Mereka telah melihat seseorang, yang bukan bagian dari kelompok pengikut Yesus, mengusir setan demi nama Yesus, dan karena itu mereka ingin mecegahnya. Dengan antusiasme khas semangat kaum muda, Yohanes merujuk kejadian itu kepada Sang Guru untuk mencari dukungan. Namun, Yesus menjawab sebaliknya : “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (ayat 39-40).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 26 September 2018 : TENTANG PERJALANAN BAPA SUCI KE LITHUANIA, LATVIA DAN ESTONIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Pada hari-hari terakhir, saya baru saja menyelesaikan perjalanan apostolik ke Lithuania, Latvia dan Estonia, pada kesempatan seratus tahun kemerdekaan negara-negara Baltik ini. Seratus tahun, setengah abad mereka tinggal di bawah kuk pendudukan, pertama Nazi dan kemudian Soviet. Mereka adalah bangsa yang telah banyak menderita dan, oleh karena ini, Tuhan telah memandang mereka dengan kesukaan. Saya yakin akan hal ini. Saya berterima kasih kepada presiden dari ketiga republik tersebut dan penguasa sipil atas penerimaan istimewa yang saya terima. Saya berterima kasih kepada para uskup dan semua orang yang bekerja sama untuk mempersiapkan dan melaksanakan peristiwa gerejawi ini.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI TAMAN SANTAKOS, KAUNAS (LITHUANIA) 23 September 2018

Saudara dan saudari terkasih,

Bacaan Pertama hari ini, dari Kitab Kebijaksanaan (Keb 2:12,17-20) berbicara tentang penganiayaan terhadap orang-orang saleh, orang-orang yang “kehadiran semata” mengganggu orang-orang durhaka. Orang-orang durhaka digambarkan sebagai orang-orang yang menindas orang-orang miskin, yang tidak memiliki belas kasihan kepada para janda dan tidak menunjukkan rasa hormat kepada orang-orang lanjut usia (bdk. 2:17-20). Orang-orang durhaka meminta untuk percaya bahwa "kekuasaan adalah norma keadilan". Mereka menguasai orang-orang yang lemah, menggunakan kekuasaan mereka untuk memaksakan suatu cara berpikir, suatu ideologi, suatu pola pikir yang sedang berlaku. Mereka menggunakan kekerasan atau penindasan untuk menundukkan orang-orang yang hanya dengan kehidupan sehari-hari mereka yang jujur, terus terang, kerja keras, dan suka bergaul, menunjukkan bahwa semacam dunia yang berbeda, semacam masyarakat yang berbeda, adalah mungkin. Orang-orang durhaka tidak puas dengan melakukan apa pun yang mereka sukai, menyerah pada setiap perubahan keinginan mereka yang mendadak; mereka tidak menginginkan orang lain, dengan berbuat baik, menunjukkan siapa mereka. Dalam diri orang-orang durhaka, kejahatan selalu berusaha menghancurkan kebaikan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 19 September 2018 : TENTANG PERINTAH KEEMPAT (PERINTAH UNTUK MENGHORMATI ORANGTUA)

Dalam perjalanan di dalam Dasa Firman, hari ini kita tiba pada perintah yang berkenaan dengan ayah dan ibu. Perintah tersebut berbicara tentang menghormati orang tua. Apa "penghormatan" ini? Istilah Ibrani menunjukkan kemuliaan, nilai, secara harfiah "bobot", ketetapan dari suatu kenyataan. Perintah tersebut bukanlah sebuah pertanyaan sehubungan dengan cara-cara lahiriah tetapi pertanyaan sehubungan dengan kebenaran. Dalam Kitab Suci, menghormati Allah berarti mengakui kenyataan-Nya, memperhitungkan kehadiran-Nya. Hal ini juga terungkap dengan ritual, tetapi terutama itu berarti memberi Allah tempat yang tepat dalam keberadaan kita. Oleh karena itu, menghormati ayah dan ibu berarti mengakui pentingnya mereka juga dengan perbuatan-perbuatan nyata, yang mengungkapkan pengabdian, kasih sayang, dan perhatian. Namun, menghormati ayah dan ibu bukan hanya tentang hal ini.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 16 September 2018 : TENTANG PERTANYAAN "SIAPAKAH YESUS?"

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam Bacaan Injil hari ini (bdk. Mrk 8:27-35), muncul kembali pertanyaan yang ditemukan di seluruh Markus Injil : siapakah Yesus? Namun, kali ini Yesus sendiri yang mengajukannya kepada murid-murid-Nya, membantu mereka secara bertahap untuk menjawab pertanyaan dasariah tentang jatidiri-Nya. Sebelum bertanya kepada dua belas rasul-Nya secara langsung, Yesus ingin mendengar dari mereka apa yang dipikirkan orang tentang Dia - dan Ia mengenal dengan baik bahwa para murid sangat peka terhadap ketenaran Sang Guru! Oleh karena itu, Ia bertanya: "Kata orang, siapakah Aku ini?" (ayat 27). Pertanyaan itu muncul karena orang-orang menganggap Yesus sebagai nabi yang agung. Tetapi, pada kenyataannya, Ia tidak tertarik dengan pendapat dan pergunjingan orang. Ia juga tidak tertarik menanggapi para murid-Nya atas pertanyaan-pertanyaan-Nya dengan rumusan siap pakai, mengutip berbagai kepribadian terkenal dari Kitab Suci, karena iman yang dikurangi menjadi sebuah rumusan adalah iman yang rabun dekat.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 12 September 2018 : TENTANG HARI ISTIRAHAT DAN NUBUAT KEBEBASAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam katekese hari ini kita kembali ke perintah ketiga, yaitu hari istirahat. Dasa Firman, yang dicantumkan secara resmi dalam Kitab Keluaran, diulangi dalam Kitab Ulangan (5:12-15) dengan cara yang hampir serupa, dengan pengecualian Firman Ketiga ini, di mana perbedaan berharga muncul : jika dalam Kitab Keluaran alasan untuk beristirahat adalah berkat Penciptaan, maka dalam Ulangan, sebaliknya, berakhirnya perbudakan yang diperingati. Pada hari tersebut budak harus beristirahat sebagaimana majikannya, untuk merayakan kenangan Paskah pembebasan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 9 September 2018 : TENTANG MUKJIZAT PENYEMBUHAN SEORANG YANG TULI DAN GAGAP

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Bacaan Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 7:31-37) mengacu pada kisah mukjizat penyembuhan seorang yang tuli dan gagap, yang diperbuat oleh Yesus. Mereka membawa seorang tuli dan gagap kepada-Nya dan meminta Dia untuk meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Ia, malahan, melakukan berbagai gerakan pada orang itu : pertama-tama, Ia memisahkan dia dari orang banyak. Pada kesempatan ini, seperti pada orang-orang lainnya, Yesus selalu bertindak dengan kehati-hatian. Ia tidak ingin membuat orang-orang terkesan; Ia tidak sedang mencari ketenaran atau kesuksesan, tetapi Ia hanya ingin berbuat baik kepada orang-orang. Ia mengajar kita dengan keteladanan ini bahwa kebaikan dilakukan tanpa hiruk-pikuk, tanpa pamer, tanpa “terdengar bunyi terompet”. Kebaikan dilakukan dengan keheningan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 5 September 2018 : PERINTAH TENTANG HARI ISTIRAHAT

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Perjalanan melalui Dasa Firman membawa kita hari ini kepada perintah tentang hari istirahat. Perintah tersebut tampaknya mudah dipenuhi, namun kesan tersebut keliru. Benar-benar beristirahat tidaklah sederhana, karena ada istirahat yang keliru dan istirahat yang benar. Bagaimana cara mengenali istirahat-istirahat tersebut?

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 2 September 2018 : TENTANG KEASLIAN KETAATAN KITA TERHADAP SABDA ALLAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari Minggu ini kita mengambil kembali Bacaan Injil Markus. Dalam perikop hari ini (bdk. Mrk 7:1-8.14-15.21-23), Yesus menyampaikan tema penting bagi kita semua umat beriman : keaslian ketaatan kita terhadap sabda Allah, menentang setiap pencemaran duniawi atau formalisme hukum. Kisah dimulai dengan keberatan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang ditujukan kepada Yesus, menuduh murid-murid-Nya tidak mengikuti aturan-aturan ritual menurut tradisi. Dengan demikian para lawan bicara tersebut bermaksud untuk menyerang kewenangan dan dapat dipercayanya Yesus sebagai Guru karena mereka berkata : “Tetapi Guru ini mengijinkan para murid untuk tidak memenuhi ketentuan tradisi”. Namun, Yesus menjawab dengan keras, dengan mengatakan : “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis : Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (ayat 6-7). Demikianlah perkataan Yesus, dengan perkataan yang jelas dan kuat! Munafik adalah, boleh dikatakan, salah satu kata sifat yang paling kuat yang digunakan Yesus dalam Injil dan Ia mengatakannya tertuju kepada para guru agama : para ahli Taurat, orang-orang Farisi ... “Munafik”, kata Yesus.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 29 Agustus 2018 : TENTANG KUNJUNGAN KE IRLANDIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Akhir pekan lalu saya melakukan perjalanan ke Irlandia untuk ambil bagian dalam Pertemuan Keluarga Sedunia. Saya yakin kalian melihatnya di televisi. Kehadiran saya terutama untuk meneguhkan keluarga-keluarga kristiani dalam panggilan dan perutusan mereka. Ribuan keluarga - suami-istri, kakek-nenek, anak-anak - berkumpul di Dublin, dengan segala keberagaman bahasa, budaya, dan pengalaman mereka, adalah tanda yang mengesankan tentang indahnya impian Allah bagi seluruh keluarga manusia. Dan kita mengetahuinya : impian Allah adalah persatuan, kerukunan, dan kedamaian dalam keluarga dan di dunia, buah dari kesetiaan, pengampunan dan pendamaian, yang telah Ia berikan kepada kita di dalam Kristus. Ia memanggil keluarga-keluarga untuk ambil bagian dalam impian ini dan membuat dunia menjadi rumah di mana tidak ada seorang pun yang sendirian, tidak ada seorang pun yang tak dikehendaki, tidak ada seorang pun yang tersingkirkan. Pikirkanlah baik-baik tentang hal ini : apa yang diinginkan Tuhan adalah bahwa tidak seorang pun sendirian, tidak ada yang tidak diinginkan, tidak ada yang dikecualikan. Oleh karena itu, tema Pertemuan Keluarga Sedunia ini sangat tepat. Tema tersebut berbunyi demikian : "Injil Keluarga, Sukacita Bagi Dunia".

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI KAPEL PENAMPAKAN, KNOCK, IRLANDIA 26 Agustus 2018

Saudara-saudari terkasih,

Saya bersyukur kepada Allah atas kesempatan ini, dalam konteks Pertemuan Keluarga Sedunia, mengunjungi tempat kudus ini, yang sangat disayangi oleh orang-orang Irlandia. Saya berterima kasih kepada Uskup Agung Neary dan Rektor, Pastor Gibbons, atas sambutan hangat mereka.

Di Kapel Penampakan, saya memanjatkan doa pengantaraan kepada Bunda Maria yang penuh kasih bagi seluruh keluarga di dunia, dan, dengan secara khusus, keluarga-keluarga kalian, keluarga-keluarga Irlandia. Maria, bunda kita memahami sukacita dan perjuangan yang dirasakan di setiap rumah. Menggenggam keluarga-keluarga dalam hatinya yang tak bernoda, Maria membawa mereka dengan kasih menuju takhta Putranya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 22 Agustus 2018 : TENTANG DASA FIRMAN (BAGIAN V)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Melanjutkan katekese tentang Dasa Firman, hari ini kita merenungkan perintah "Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu, dengan sembarangan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan" (Kel 20:7). Kita benar-benar membaca Firman ini sebagai undangan untuk tidak menghina nama Allah dan menghindari menggunakannya secara tidak layak. Makna yang jelas ini mempersiapkan kita untuk merenungkan lebih lanjut kata-kata yang berharga ini, tidak menggunakan nama Allah dengan sembarangan - dengan tidak layak. Marilah kita mendengarkan kata-kata tersebut lebih baik. Terjemahan "Janganlah menyebut" mengalihbahasakan ungkapan yang secara harfiah berarti, dalam bahasa Ibrani dan dalam bahasa Yunani, "Janganlah menggunakan, janganlah menyandang".

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 19 Agustus 2018 : TENTANG YESUS KRISTUS, SANG ROTI HIDUP YANG TURUN DARI SURGA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Perikop Injil hari Minggu ini (bdk. Yoh 6:51-58) memperkenalkan kita bagian kedua dari wejangan Yesus di rumah ibadat Kapernaum, setelah memberi makan orang banyak dengan lima roti dan dua ikan - penggandaan roti. Ia memaparkan diri-Nya sebagai “roti hidup yang telah turun dari surga”; roti yang memberi hidup yang kekal, dan Ia menambahkan, “Roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia" (ayat 51). Perikop ini bersifat menegaskan dan, pada kenyataannya, memancing reaksi para pendengar-Nya, yang mulai bertengkar di antara mereka : “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” (ayat 52). Ketika tanda dari roti yang dibagikan mengarah kepada makna yang sesungguhnya, yaitu, pemberian diri-Nya hingga titik pengorbanan, ketidakpuasan muncul, pada kenyataannya, penolakan itu muncul terhadap-Nya yang tidak lama sebelumnya mereka inginkan membawa kemenangan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Agustus 2018 : TENTANG HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga hari ini, umat Allah yang setia dan kudus mengungkapkan dengan sukacita penghormatan mereka terhadap Bunda Maria. Mereka melakukannya dalam liturgi secara bersama-sama dan juga dalam ribuan rupa cara kesalehan; serta dengan demikian, nubuat Maria sendiri menjadi kenyataan : “Segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:48), karena Tuhan telah memperhatikan hamba-Nya yang rendah hati.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 12 Agustus 2018 : JANGANLAH MENDUKAKAN ROH KUDUS YANG KITA TERIMA DALAM PEMBAPTISAN

Saudara-saudari yang terkasih dan kaum muda Italia yang terkasih, selamat pagi!

Dalam Bacaan Kedua hari ini, kepada kita Santo Paulus menyampaikan undangan mendesak : “Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan” (Ef 4:30).

Tetapi saya bertanya-tanya, bagaimana Roh Kudus berduka? Kita semua menerima-Nya dalam Pembaptisan dan dalam Krisma, oleh karena itu, guna tidak mendukakan Roh Kudus, hidup selaras dengan janji-janji baptis, diperbaharui dalam Krisma adalah penting. Selaras, bukan dengan kemunafikan: jangan melupakan hal ini. Orang Kristiani tidak bisa menjadi seorang yang munafik; ia harus hidup selaras. Janji-janji baptis memiliki dua aspek : meninggalkan kejahatan dan menganut kebaikan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 8 Agustus 2018 : TENTANG DASA FIRMAN (BAGIAN 4)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita melanjutkan dengan merenungkan tentang Dasa Firman, merenungkan lebih lanjut tema penyembahan berhala, tema yang kita bicarakan pekan lalu. Sekarang kita mengambil tema tersebut karena sangat penting dipahami. Dan paling baik kita mengambil petunjuk dari berhala anak lembu tuangan, yang dibicarakan dalam Kitab Keluaran (32:1-8) - perikop yang baru saja kita dengar. Kisah ini memiliki konteks yang tepat : padang gurun, tempat bangsa Israel menunggu Musa, yang naik ke gunung untuk menerima petunjuk Allah.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 5 Agustus 2018 : MAKNA MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Pada hari-hari Minggu terakhir ini, liturgi telah menunjukkan kepada kita gambaran Yesus yang penuh kelembutan, yang pergi untuk menemui orang banyak dan kebutuhan mereka. Dalam kisah Injil hari ini (bdk. Yoh 6:24-35) sudut pandang berubah : orang banyak, yang diberi makan oleh Yesus, yang sekali lagi mulai mencari-Nya. Namun, bagi Yesus tidaklah cukup orang-orang mencari-Nya; Ia ingin orang-orang mengenal-Nya. Ia menginginkan pencarian dan pertemuan dengan-Nya melampaui kepuasan kebutuhan jasmani seketika itu juga. Yesus datang untuk membawakan sesuatu yang lebih kepada kita : membuka keberadaan kita ke cakrawala yang lebih luas ketimbang asyik dengan makanan sehari-hari, pakaian, karier dan sebagainya. Oleh karena itu, berpaling kepada orang banyak Ia berseru : "Sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang" (ayat 26). Dengan demikian Ia merangsang orang-orang untuk melangkah maju, bertanya kepada diri mereka sendiri tentang makna mukjizat, dan bukan hanya mengambil keuntungan daripadanya. Sebenarnya, penggandaan roti dan ikan adalah tanda dari karunia besar yang telah dibuat Bapa untuk umat manusia, yaitu Yesus sendiri!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 1 Agustus 2018 : TENTANG DASA FIRMAN (BAGIAN III)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Kita telah mendengar perintah pertama dari Dasa Firman : “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku" (Kel 20:3). Ada baiknya berhenti sejenak pada tema pemujaan berhala, yang sangat penting dan tepat waktu.

Perintah itu melarang membuat berhala-berhala[1] atau gambar[2] dari segala macam yang ada :[3] segalanya, pada kenyataannya, dapat dipergunakan sebagai berhala-berhala. Kita sedang berbicara tentang kecenderungan manusiawi, yang tak mengecualikan orang percaya maupun orang tak percaya. Sebagai contoh, kita umat kristiani dapat bertanya pada diri kita sendiri : siapakah, sesungguhnya, Tuhanku? Apakah kecenderungan tersebut merupakan Kasih yang satu dan bersifat Tritunggal atau apakah kecenderungan tersebut adalah gambaran saya, kesuksesan pribadi saya, mungkin, di dalam Gereja? “Pemujaan berhala tidak hanya ditemukan dalam upacara palsu di dunia kafir. Ia juga merupakan satu godaan yang terus-menerus bagi umat beriman. Pemujaan berhala itu ada, apabila manusia menghormati dan menyembah suatu hal tercipta sebagai pengganti Allah” (Katekismus Gereja Katolik, no. 2113).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 29 Juli 2018 : TENTANG MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Kalian berani dengan matahari ini di Lapangan! Selamat!

Bacaan Injil hari ini (bdk. Yoh 6:1-15) menyajikan kisah tentang penggandaan roti dan ikan. Melihat orang banyak yang berbondong-bondong telah mengikuti-Nya di dekat Danau Tiberias, Yesus berpaling kepada Rasul Filipus dan bertanya : “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" (ayat 5). Beberapa dinar yang dimiliki Yesus dan para Rasul, pada kenyataannya, tidak cukup untuk memberi makan orang banyak itu. Maka Andreas, salah seorang dari Dua Belas Rasul, mengarahkan Yesus kepada seorang anak yang menempatkan mereka cenderung pada semua yang ia miliki : lima roti dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu - kata Andreas - untuk orang sebanyak ini? (bdk. ayat 9). Anak ini baik! Berani, ia juga melihat orang banyak tersebut dan melihat lima roti miliknya, <dan> berkata : "Aku memiliki ini : jika roti tersebut bermanfaat, roti tersebut tersedia". Anak ini membuat kita berpikir ... Betapa beraninya ... kaum muda seperti ini; mereka memiliki keberanian. Kita harus membantu mereka untuk meneruskan keberanian ini. Namun Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk menyuruh orang-orang itu duduk, lalu Ia mengambil roti itu dan ikan itu, bersyukur kepada Bapa dan membagi-bagikannya (bdk. ayat 11), dan semua dapat memiliki makanan sebanyak yang mereka inginkan. Mereka semua makan apa yang mereka inginkan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 22 Juli 2018 : ROTI PERTAMA YANG DITAWARKAN KEPADA ORANG LAPAR DAN TERSINGKIR ADALAH ROTI SABDA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Ini (bdk. Mrk 6:30-34) memberitahu kita bahwa, setelah perutusan pertama mereka, para Rasul kembali kepada Yesus dan mengatakan kepada-Nya “semua yang mereka kerjakan dan ajarkan" (ayat 30). Setelah pengalaman perutusan tersebut, tentu saja menarik tetapi juga melelahkan, mereka membutuhkan istirahat. Dan Yesus, penuh pengertian, prihatin dengan memberi kelegaan kepada mereka dan berkata : "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" (ayat 31). Namun, kali ini niat Yesus tidak dapat terwujud karena orang banyak, sedang menduga-duga tempat sunyi yang akan didatangi Yesus dengan menggunakan perahu bersama para Rasul-Nya, tiba di sana sebelum kedatangan Yesus dan para Rasul-Nya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Juli 2018 : TENTANG UPAYA MISIONER GEREJA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Ini (bdk. Mrk 6:7-13) menceritakan Yesus mengutus dua belas Rasul. Setelah memanggil nama mereka satu per satu, “untuk menyertai Dia” (Mrk 3:14), mendengarkan sabda-Nya dan memperhatikan gerak penyembuhan-Nya, sekarang Ia kembali memanggil mereka “untuk diutus berdua-dua” (6:7), ke desa-desa di mana Ia akan pergi. Ini semacam "magang" untuk apa yang akan mereka lakukan, setelah kebangkitan Tuhan, dengan kuasa Roh Kudus.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Juli 2018 : YESUS PULANG KE NAZARET

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Bacaan Injil hari ini (bdk. Mrk 6:1-6) menghadirkan Yesus, yang pulang ke Nazaret dan, pada hari Sabat, mulai mengajar di rumah ibadat. Sejak saat Ia pergi dan mulai berkhotbah di dusun-dusun dan desa-desa tetangga, Ia tidak pernah menginjakkan kaki di kota tempat Ia dibesarkan tersebut. Ia pulang. Oleh karena itu, seluruh negeri siap untuk mendengarkan sang putra rakyat tersebut, yang reputasi-Nya sebagai Guru yang bijaksana dan tabib yang mumpuni sekarang menyebar ke seluruh Galilea dan sekitarnya. Namun, apa yang mungkin telah menjadi suatu keberhasilan, berubah menjadi penolakan yang membahana, sampai pada titik di mana Yesus tidak dapat melakukan mukjizat apapun di sana, tetapi hanya beberapa penyembuhan (bdk. ayat 5). Penginjil Markus mereka ulang secara terperinci dinamika hari itu : pada mulanya, orang-orang Nazaret mendengarkan dan takjub; kemudian, bingung, mereka bertanya, "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya?" Dan, pada akhirnya, mereka menjadi heboh, mengenali bahwa Dia adalah tukang kayu, putra Maria, yang mereka lihat telah tumbuh dewasa (ayat 2-3). Oleh karena itu, Yesus akhirnya mengungkapkan sebuah pepatah: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri" (ayat 4).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 Juli 2018 : TENTANG APA YANG DIBUTUHKAN YESUS UNTUK MENYEMBUHKAN KITA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 5:21-43) menyajikan dua mukjizat yang dikerjakan oleh Yesus, menggambarkan keduanya hampir-hampir sebagai semacam parade kemenangan menuju kehidupan.

Pertama, Penginjil menceritakan tentang Yairus yang pasti dikenal, salah seorang kepala rumah ibadat, yang datang kepada Yesus dan memohon dengan sangat kepada-Nya untuk pergi ke rumahnya karena putrinya yang berusia dua belas tahun sedang sekarat. Yesus menyetujui dan pergi bersamanya; tetapi, di sepanjang jalan, muncul berita bahwa gadis itu sudah meninggal. Kita dapat membayangkan reaksi si ayah. Tetapi Yesus mengatakan kepadanya : "Jangan takut, percaya saja!" (ayat 36). Setibanya di rumah Yairus, Yesus menyuruh keluar orang-orang yang menangis - ada juga para perempuan yang berteriak dengan suara nyaring - dan memasuki ruangan hanya dengan si orang tua dan tiga murid. Kepada gadis yang telah meninggal itu, Ia berkata : "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" (ayat 41). Dan segera gadis itu bangun, seolah-olah terbangun dari tidur nyenyak (ayat 42).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 29 Juni 2018 : TENTANG HARI RAYA SANTO PETRUS DAN SANTO PAULUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini Gereja, peziarah menuju Roma dan di seluruh dunia, berjalan menuju akar imannya dan merayakan Rasul Petrus dan Paulus. Jenazah mereka yang fana, tersimpan di dua Basilika yang didedikasikan untuk mereka, sangat disayangi oleh umat Roma dan banyak peziarah yang datang untuk menghormati mereka dari segala penjuru.