Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 20 Juni 2018 : TENTANG DASA FIRMAN (BAGIAN 2)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Audiensi ini berlangsung di dua tempat : kita di sini di Lapangan [Santo Petrus], dan di Aula Paulus VI ada lebih dari 200 orang sakit yang mengikuti melalui layar raksasa. Bersama-sama kita membentuk sebuah komunitas. Marilah kita menyambut mereka yang berada di Aula dengan tepuk tangan.

Hari Rabu lalu kita memulai siklus katekese baru, tentang Dasa Firman. Kita telah melihat bahwa Tuhan Yesus tidak datang untuk meniadakan Hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya. Tetapi kita harus memahami sudut pandang ini dengan lebih baik.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 17 Juni 2018 : KERAJAAN ALLAH TUMBUH SECARA MISTERIUS DAN MENGEJUTKAN

Saudara-saudari terkasih, halo!

Dalam kutipan Injil hari ini (lihat Mrk 4:26-34), Yesus berbicara tentang hal Kerajaan Allah dan dinamika pertumbuhannya, dan Ia membicarakannya dengan menceritakan dua perumpamaan singkat.

Dalam perumpamaan pertama (lihat ayat 26-29), Kerajaan Allah dibandingkan dengan pertumbuhan benih yang misterius, yang ditaburkan ke tanah, kemudian bertunas, tumbuh dan menghasilkan tanaman, tanpa menghiraukan perawatan sang penabur, yang pada akhir ranum dan perlu dipanen. Inilah pesan yang diberikan perumpamaan ini : dengan pewartaan dan tindakan Yesus, Kerajaan Allah diberitakan, ia menerobos masuk ke dunia dan, seperti biji, tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, dengan kekuatannya sendiri dan tidak dapat diuraikan menurut kriteria manusia. Tumbuh dan bertunas dalam sejarah, Kerajaan Allah tidak terlalu bergantung pada karya manusia, tetapi terutama merupakan ungkapan kuasa dan kebaikan Allah. Dan kekuatan Roh Kudus, yang mengembangkan kehidupan kristiani di dalam umat Allah.

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG MISKIN SEDUNIA II (18 November 2018)

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG MISKIN SEDUNIA II
(Hari Minggu Biasa XXXIII, 18 November 2018)

Orang miskin ini berseru dan Tuhan mendengarnya

1.        “Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengar” (Mzm 34:7). Kata-kata Pemazmur menjadi kata-kata kita ketika kita dipanggil untuk menghadapi berbagai kondisi penderitaan dan marjinalisasi yang dialami oleh banyak saudara dan saudari kita yang biasanya secara umum kita sebut "kaum miskin". Pemazmur tidak asing dengan penderitaan; justru sebaliknya. Ia memiliki pengalaman langsung akan kemiskinan dan mengubahnya menjadi madah pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan. Mazmur ini adalah kesempatan bagi kita saat ini, tenggelam dalam berbagai bentuk kemiskinan, untuk memahami siapa yang benar-benar miskin di mana kita dipanggil untuk memandangnya guna mendengar jeritan mereka dan mengenali kebutuhan mereka.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 13 Juni 2018 : TENTANG DASA FIRMAN (BAGIAN 1)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini adalah pesta Santo Antonius dari Padua. Siapa di antara kalian yang bernama Antonius? - Tepuk tangan untuk seluruh “Antonius”. Kita memulai hari ini jadwal katekese baru bertema Dasa Firman, Sepuluh Perintah Allah. Untuk memperkenalkannya, kita mengambil inspirasi dari perikop yang baru saja kita dengar : pertemuan antara Yesus dan seorang pria - ia adalah seorang pemuda - yang, bertelut, bertanya kepada-Nya bagaimana ia dapat memperoleh hidup yang kekal (bdk. Mrk 10:17-21). Dan pertanyaan itu merupakan tantangan dari setiap keberadaan, keberadaan kita juga : hasrat untuk hidup yang utuh dan tanpa batas. Tetapi, apa yang seharusnya kita lakukan untuk mencapainya? Jalan apa yang harus kita ikuti? Untuk sungguh menjalani, menjalani keberadaan yang mulia ... Berapa banyak orang muda berusaha untuk "menjalani" dan menghancurkan diri mereka dengan mengikuti hal-hal yang fana.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 Juni 2018 : KESALAHPAHAMAN PARA AHLI TAURAT DAN KAUM KELUARGA YESUS

Saudara-saudari Terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini (Mrk 3:20-35) menunjukkan kepada kita dua macam kesalahpahaman yang harus ditujukan kepada Yesus : kesalahpahaman para ahli Taurat dan kesalahpahaman kaum keluarga-Nya sendiri. Kesalahpahaman pertama : para ahli Taurat adalah orang-orang yang diperintahkan dalam Kitab Suci dan yang bertanggung jawab untuk menjelaskannya kepada orang-orang. Beberapa dari mereka diutus dari Yerusalem ke Galilea, di mana ketenaran Yesus sedang mulai menyebar, untuk menjelek-jelekkan-Nya di mata orang-orang, menugaskan para penggosip, menjelek-jelekkan orang lain, mengenyahkan kewibawaan-Nya - hal yang sungguh mengerikan. Dan mereka diutus untuk melakukan hal ini. Dan para ahli Taurat ini tiba dengan tuduhan tertentu yang mengerikan - mereka tidak memiliki cara lain, langsung ke pokok persoalan dan mengatakan demikian: “Ia kerasukan Beelzebul, dan dengan penghulu setan Ia mengusir setan" (ayat 22). Penghulu setanlah yang menggerakkan-Nya, yang seolah-olah mengatakan, kurang lebih, “Ia kerasukan”. Sebenarnya, Yesus sedang menyembuhkan banyak orang sakit, dan para ahli Taurat ingin membuat mereka percaya bahwa Ia melakukannya, bukan dengan Roh Allah - seperti seperti yang dilakukan Yesus -, tetapi dengan Roh Jahat, dengan kekuatan iblis.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 6 Juni 2018 : TENTANG SAKRAMEN PENGUATAN (BAGIAN III)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Melanjutkan permenungan kita tentang sakramen penguatan, kita meninjau berbagai dampak karunia Roh Kudus yang telah mendewasakan orang-orang yang menerimanya, yang menuntun mereka pada gilirannya menjadi karunia bagi orang lain. Itulah karunia Roh Kudus. Kita ingat bahwa ketika Uskup mengurapi kita dengan minyak, ia berkata : “Terimalah Roh Kudus yang diberikan kepadamu sebagai karunia”. Karunia Roh Kudus itu masuk ke dalam diri kita dan membuat kita berbuah, karena kita dapat memberikannya kepada orang lain. Selalu menerima untuk memberi : jangan pernah menerima dan menyimpannya di dalam diri, seolah-olah jiwa adalah sebuah gudang. Tidak : selalu menerima untuk memberi. Rahmat Allah diterima untuk diberikan kepada orang lain. Inilah kehidupan kristiani. Oleh karena itu, layaklah Roh Kudus menjauhkan diri kita dari "aku" kita guna membuka diri kita terhadap "kita" dari komunitas : menerima untuk memberi. Kita tidak berada di pusat; kita adalah alat dari karunia bagi orang lain itu.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 3 Juni 2018 : TENTANG HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus atau, menurut ungkapan Latin lebih dikenal dengan nama Corpus Domini, hari ini dirayakan di banyak negara - di antaranya di Italia. Injil melaporkan kata-kata Yesus kepada kita, yang diucapkan selama Perjamuan Terakhir dengan murid-murid-Nya : “Ambillah, inilah tubuh-Ku. Kemudian : "Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang” (Mrk 14:22,24). Pada kenyataannya, oleh karena perjanjian kasih itu, jemaat kristiani berkumpul hari ini, hari Minggu, dan setiap hari, di sekitar Ekaristi, Sakramen Pengorbanan Penebusan Kristus. Dan, tertarik pada kehadiran-Nya yang nyata, umat kristiani menyembah dan merenungkan-Nya melalui tanda roti yang sederhana menjadi tubuh-Nya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 30 Mei 2018 : TENTANG SAKRAMEN PENGUATAN (BAGIAN II)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Melanjutkan uraian tentang sakramen penguatan atau sakramen krisma, hari ini saya ingin menjelaskan “hubungan erat sakramen ini dengan seluruh inisiasi kristiani" (Sacrosanctum Concilium, 71).

Sebelum menerima pengurapan rohani, yang meneguhkan dan menguatkan kembali rahmat pembaptisan, para calon penerima sakramen penguatan dipanggil untuk memperbarui janji-janji yang suatu hari telah dibuat oleh para orang tua dan para wali baptis. Sekarang mereka sendiri yang mengakui iman Gereja, siap untuk menjawab "ya, aku percaya", atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan uskup kepada mereka; siap, khususnya, untuk percaya “kepada Roh Kudus, yaitu Tuhan dan pemberi kehidupan, dan yang hari ini, melalui Sakramen Penguatan, diberikan secara khusus [kepada mereka], seperti yang sudah terjadi pada para Rasul pada hari Pentakosta" (Ritus Sakramen Penguatan, no. 26).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 27 Mei 2018 : TENTANG HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini, Hari Minggu setelah Pentakosta, kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Sebuah hari raya untuk merenungkan dan memuji misteri Allah dari Yesus Kristus, yang adalah salah satu pribadi dalam persekutuan Tritunggal : Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dengan ketakjuban yang diperbaharui sungguh merayakan Allah kasih, yang menawarkan hidup-Nya secara cuma-cuma kepada kita dan meminta agar kita menyebarkannya di dunia. Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini membuat kita memahami bahwa Allah sangat tidak ingin mengungkapkan kepada kita bahwa Ia ada, tetapi, lebih tepatnya, bahwa Dialah “Allah beserta kita”, yang mengasihi kita, tertarik pada kisah pribadi kita dan memperhatikan kita masing-masing, mulai dari yang terkecil dan yang paling membutuhkan. Dialah “Allah yang di langit di atas" tetapi juga "di bumi di bawah" (bdk. Ul 4:39). Oleh karena itu, kita tidak percaya pada perwujudan yang jauh, acuh tak acuh, tetapi, sebaliknya, pada Sang Kasih yang menciptakan alam semesta dan membangkitkan suatu suku bangsa, dijadikan daging, wafat dan bangkit bagi kita, serta ketika Roh Kudus mengubah segalanya dan menuntun menuju kepenuhan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 23 Mei 2018 : TENTANG SAKRAMEN KRISMA (BAGIAN 1)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Setelah katekese tentang pembaptisan, hari-hari setelah Hari Raya Pentakosta ini mengundang kita untuk merenungkan kesaksian yang dibangkitkan Roh Kudus dalam diri orang-orang yang dibaptis, menggerakkan kehidupan mereka, membukanya untuk kebaikan orang lain. Yesus mempercayakan sebuah perutusan besar kepada para murid-Nya : “Kamu adalah garam dunia; kamu adalah terang dunia” (bdk. Mati 5:13-16). Garam dan terang dunia adalah gambaran yang membuat kita memikirkan perilaku kita, karena kekurangan atau kelebihan garam membuat makanan tidak enak, sama seperti kekurangan dan atau kelebihan terang mengganggu penglihatan kita. Dia yang dapat benar-benar menjadikan kita garam yang memberi rasa dan mengawetkan dari kebusukan, dan terang yang menyinari dunia hanyalah Roh Kristus! Dan inilah karunia yang kita terima dalam Sakramen Penguatan atau Krisma, yang padanya saya ingin berhenti sejenak dan merenung bersama kalian. Sakramen tersebut disebut "Penguatan" karena ia meneguhkan pembaptisan dan menguatkan rahmatnya (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1289); seperti juga kenyataannya dari "Krisma" kita menerima Roh Kudus melalui pengurapan dengan "minyak krisma" - minyak yang dicampur dengan wewangian yang disucikan oleh Uskup -, istilah yang mengacu pada "Kristus", yang diurapi Roh Kudus.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 20 Mei 2018 : TENTANG HARI RAYA PENTAKOSTA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari Raya Pentakosta hari ini mengakhiri Masa Paskah, yang berpusat pada wafat dan kebangkitan Yesus. Hari raya ini membuat kita mengingat dan menghidupkan kembali pencurahan Roh Kudus kepada para Rasul dan murid-murid lain, yang berkumpul dalam doa bersama Perawan Maria di Ruang Atas (bdk. Kis 2:1-11). Pada hari itu, kekudusan kristiani dimulai, karena Roh Kudus adalah sumber kekudusan, yang bukanlah hak istimewa segelintir orang, tetapi panggilan semua orang.

SERUAN APOSTOLIK BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS GAUDETE ET EXSULTATE (BERSUKACITA DAN BERGEMBIRALAH)

SERUAN APOSTOLIK BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS
GAUDETE ET EXSULTATE (BERSUKACITA DAN BERGEMBIRALAH)
TENTANG PANGGILAN MENUJU KEKUDUSAN DALAM DUNIA MASA KINI

1.        “BERSUKACITA DAN BERGEMBIRALAH” (Mat 5:12), Yesus mengatakan kepada mereka yang dianiaya atau dihina demi Dia. Tuhan meminta segalanya dari kita, dan sebagai imbalannya Ia menawarkan kepada kita kehidupan sejati, kebahagiaan yang untuknya kita diciptakan. Ia menginginkan kita menjadi orang-orang kudus dan tidak puas dengan keberadaan yang hambar dan biasa-biasa saja. Panggilan terhadap kekudusan hadir dengan berbagai cara sejak perikop-perikop awal Kitab Suci. Kita melihatnya terungkap dalam perkataan Tuhan kepada Abraham : “Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej 17: 1).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 16 Mei 2018 : MENGENAKAN KRISTUS MELALUI PEMBAPTISAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita mengakhiri rangkaian katekese tentang pembaptisan. Akibat rohani dari sakramen ini, yang tidak kasat mata tetapi bekerja di dalam hati orang yang telah menjadi ciptaan baru, tersirat dengan pemberian pakaian putih dan lilin yang menyala. Setelah mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (bdk. Ef 4:24), tampak wajar, sejak abad-abad perdana, mengenakan pakaian putih yang baru yang sama seperti kemegahan kehidupan yang diperoleh di dalam Kristus dan di dalam Roh Kudus. Seraya pakaian putih mengungkapkan secara simbolis apa yang telah terjadi dalam sakramen tersebut, pakaian putih menyatakan kondisi mereka berubah rupa dalam kemuliaan ilahi.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 13 Mei 2018 : TENTANG HARI RAYA KENAIKAN TUHAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari Raya Kenaikan Tuhan dirayakan hari ini di Italia dan di banyak negara lainnya. Hari raya ini mengandung dua unsur. Di satu sisi, hari raya ini mengarahkan pandangan kita ke Surga, tempat Yesus, dimuliakan, duduk di sebelah kanan Allah (bdk. Mrk 16:19). Di sisi lain, hari raya ini mengingatkan permulaan perutusan Gereja: mengapa? Karena Yesus yang bangkit dan naik ke surga mengutus murid-murid-Nya untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia; Oleh karena itu, Hari Raya Kenaikan Tuhan mendesak kita untuk menengadah kita ke surga, untuk kemudian segera kembali ke bumi, melaksanakan tugas-tugas yang telah dipercayakan oleh Tuhan yang bangkit kepada kita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 9 Mei 2018 : MELALUI PEMBAPTISAN, GEREJA MELAHIRKAN KITA KEMBALI KEPADA KEHIDUPAN KEKAL

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Katekese tentang Sakramen Pembaptisan menuntun kita hari ini untuk berbicara tentang pembersihan, yang disertai dengan doa Tritunggal Mahakudus, yaitu, ritus inti yang sebagaimana mestinya “membaptis” - yaitu, menenggelamkan - dalam Misteri Paskah Kristus (Katekismus Gereja Katolik, 1239). Santo Paulus mengingatkan makna tata gerak ini, kepada umat kristiani di Roma, bertanya terlebih dulu : “Tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?”. Dan kemudian menjawab: “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati ... demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru”(Rm 6:3-4). Pembaptisan membuka pintu bagi kita kepada kehidupan kebangkitan, bukan kepada kehidupan duniawi <tetapi kepada> kehidupan menurut Yesus.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 6 Mei 2018 : TENTANG TINGGAL DI DALAM KASIH KRISTUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam Masa Paskah ini, sabda Allah terus menunjukkan kepada kita gaya hidup yang bertalian erat untuk menjadi komunitas Kristus yang bangkit. Di antaranya, Injil hari ini menghadirkan tuntutan Yesus: "tinggallah di dalam kasih-Ku" (Yoh 15:9). Mendiami aliran kasih Allah, memiliki tempat tinggal yang tetap adalah keadaan sehingga kasih kita tidak kehilangan semangatnya dan berani dalam perjalanan. Seperti Yesus dan di dalam Dia, kita juga harus menerima dengan rasa syukur kasih yang berasal dari Bapa dan tinggal di dalam kasih ini, berusaha untuk tidak memisahkan diri kita oleh egoisme dan dosa. Ini adalah program yang menuntut tetapi bukan tidak mungkin.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 2 Mei 2018 : TENTANG PEMBAPTISAN, SUMBER KEHIDUPAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Melanjutkan permenungan tentang pembaptisan, hari ini saya ingin berhenti pada ritus-ritus pokok yang dilakukan pada bejana baptis.

Pertama-tama kita meninjau air, yang di atasnya dimohonkan kuasa Roh Kudus, sehingga air tersebut memiliki kekuatan untuk melahirkan dan memperbarui (bdk. Yoh 3:5 dan Tit 3:5). Air adalah matriks kehidupan dan kesejahteraan, sedangkan ketidakhadirannya menyebabkan padamnya seluruh kesuburan, seperti yang terjadi di padang gurun. Namun, air juga bisa menjadi penyebab kematian, ketika air menenggelamkan di antara gelombang-gelombangnya atau, dalam jumlah besar, menyapu bersih semuanya. Akhirnya, air memiliki kapasitas untuk mencuci, membersihkan dan memurnikan. Berasal dari simbolisme alamiah yang diakui secara universal ini, Alkitab menggambarkan campur tangan dan janji Allah melalui tanda air. Namun, kuasa untuk mengampuni dosa bukan ada di dalam air itu sendiri, seperti dijelaskan Santo Ambrosius kepada orang-orang yang baru dibaptis: “Kamu telah melihat air, tetapi tidak semua air menyembuhkan : air menyembuhkan yang memiliki rahmat Kristus. [...] Tindakan tersebut adalah rahmat air, keberhasilannya adalah rahmat Roh Kudus” (De Sakramentis 1,15).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 29 April 2018 : TENTANG YESUS SEBAGAI POKOK ANGGUR

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Pada hari Minggu Paskah V ini, sabda Allah juga terus menunjukkan kepada kita cara dan keadaan untuk menjadi jemaat Tuhan yang bangkit. Yang disoroti hari Minggu lalu adalah hubungan antara orang percaya dan Yesus Sang Gembala yang baik. Hari ini Injil memaparkan kepada kita saat di mana Yesus menampilkan diri-Nya sebagai pokok anggur yang benar dan Ia mengundang kita untuk tetap bersatu dengan-Nya untuk menghasilkan banyak berbuah (bdk. Yoh 15:1-8). Pokok anggur adalah tanaman yang membentuk keseluruhan dengan ranting-rantingnya, dan ranting-rantingnya berbuah hanya ketika bersatu dengan pokok anggur. Hubungan ini adalah rahasia kehidupan kristiani, dan penginjil Yohanes menyatakannya dengan kata kerja “tinggal”, yang dalam perikop hari ini diulang sebanyak tujuh kali. “Tinggallah di dalam Aku”, sabda Tuhan; tinggallah di dalam Tuhan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 25 April 2018 : PEMBAPTISAN ADALAH KEKUATAN UNTUK MENGALAHKAN KEJAHATAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Kita melanjutkan permenungan kita tentang Pembaptisan, senantiasa dalam terang sabda Allah. Injillah yang menerangi para calon dan membangkitkan ketaatan pada iman : “Pembaptisan itu atas cara yang khusus adalah 'Sakramen iman', karena melalui dia orang masuk secara sakramental ke dalam kehidupan iman” [Katekismus Gereja Katolik, 1236]. Dan iman adalah pemberian diri kepada Tuhan Yesus, yang diakui sebagai “mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" (Yoh 4:14), “terang dunia” (Yoh 9:5), “kebangkitan dan hidup” (Yoh 11:25), sebagaimana dipertunjukkan perjalanan para katekumen, yang masih diikuti hingga hari ini, yang sebentar lagi akan menerima inisiasi kristiani. Dididik dengan mendengarkan Yesus, dengan ajaran-Nya dan karya-karya-Nya, para katekumen menghidupkan kembali pengalaman perempuan Samaria yang haus akan air hidup, pengalaman orang yang dilahirkan buta yang membuka matanya terhadap terang tersebut, pengalaman Lazarus yang keluar dari kubur. Injil memiliki di dalam dirinya sendiri kekuatan untuk mengubah orang yang menerimanya dengan iman, menjauhkannya dari kekuasaan si jahat, sehingga ia belajar untuk melayani Tuhan dengan sukacita dan kebaruan hidup.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 22 April 2018 : MENEMUKAN KEMBALI JATIDIRI KITA SEBAGAI MURID-MURID TUHAN YANG BANGKIT

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Liturgi Hari Minggu Paskah IV ini berlanjut dengan ujud untuk membantu kita menemukan kembali jatidiri kita sebagai murid-murid Tuhan yang bangkit. Dalam Kisah Para Rasul, Petrus menyatakan secara terbuka bahwa penyembuhan orang lumpuh, yang dilakukan olehnya, yang dibicarakan oleh seluruh Yerusalem, terjadi dalam nama Yesus, karena “keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga” (4:12). Kita masing-masing berada di dalam diri orang yang disembuhkan itu - orang itu adalah sosok diri kita : kita semua ada di sana -, jemaat-jemaat kita ada di sana : masing-masing orang dapat disembuhkan dari berbagai bentuk kelemahan rohani yang ia miliki - ambisi, kelambanan, kesombongan - jika kita menerima, dengan kepercayaan, untuk menempatkan keberadaan kita di tangan Tuhan yang bangkit. “Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret ... orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu” (ayat 10), Petrus menegaskan. Tetapi, siapakah Kristus yang menyembuhkan? Mencakup apa saja yang disembuhkan oleh-Nya? Dari apakah kita disembuhkan dan melalui sikap apa?

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 18 April 2018 : TENTANG BAPTISAN (TANDA IMAN KRISTIANI)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam Masa Paskah ini kita melanjutkan katekese tentang pembaptisan. Makna pembaptisan tampak nyata melalui perayaannya; oleh karena itu kita mengalihkan perhatian kita kepadanya. Meninjau tata gerak dan kata-kata liturgi, kita dapat menerima rahmat dan ikut serta dalam Sakramen ini, yang sesungguhnya ditemukan kembali. Kita mengingatnya dengan percikan air suci, yang dapat dilakukan pada hari Minggu di awal Misa, serta pada pembaruan janji baptis selama Malam Paskah. Pada kenyataannya, apa yang sedang terjadi dalam perayaan pembaptisan membangkitkan suatu dinamika rohani yang melintasi seluruh kehidupan orang yang dibaptis; ini adalah awal dari sebuah proses, yang memungkinkan seseorang untuk hidup bersatu dengan Kristus dalam Gereja. Oleh karena itu, kembali ke sumber kehidupan kristiani menuntun kita untuk memahami dengan lebih baik karunia yang diterima pada hari pembaptisan kita, serta memperbarui keikutsertaan kita untuk menanggapinya dalam kondisi yang di dalamnya kita mendapati diri kita hari ini - memperbarui keikutsertaan, memahami karunia ini dengan lebih baik, yaitu pembaptisan, dan mengingat hari pembaptisan kita. Hari Rabu lalu saya meminta tugas-tugas yang dilakukan di rumah dan bagi kita masing-masing untuk mengingat hari pembaptisan <kita> - pada hari apa kita dibaptis. Saya tahu bahwa sebagian dari kalian mengetahuinya, sebagian lainnya tidak. Mereka yang tidak tahu itu harus bertanya kepada para orang tua mereka, orang-orang itu, para wali baptis ... tanyakanlah kepada mereka : “Tanggal berapa aku dibaptis?” Karena pembaptisan adalah kelahiran kembali dan seolah-olah pembaptisan adalah ulang tahun yang kedua. Mengerti? Lakukanlah tugas ini di rumah. Tanyakanlah : “Tanggal berapa aku dibaptis?”

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 15 April 2018 : TENTANG KENYATAAN KEBANGKITAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari Minggu Paskah III ini berpusat pada pengalaman para murid, seluruhnya bersama-sama, akan Yesus yang bangkit. Hal ini dibuktikan terutama oleh Injil (Luk 24:35-48), yang memperkenalkan kepada kita sekali lagi di Ruang Atas, di mana Yesus menampakkan diri-Nya kepada para Rasul-Nya, menyapa mereka dengan salam ini : “Damai sejahtera bagi kamu!” (ayat 36). Itulah salam dari Kristus yang bangkit, yang memberi kita damai sejahtera : “Damai sejahtera bagi kamu!”. Salam tersebut berkenaan dengan damai sejahtera batiniah, serta damai sejahtera yang terjalin dalam hubungan dengan orang-orang.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 11 April 2018 : SAKRAMEN BAPTIS, DASAR HIDUP KRISTIANI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Lima puluh hari masa liturgi Paskah sangat tepat untuk merenungkan kehidupan kristiani yang, menurut kodratnya, adalah kehidupan yang berasal dari Kristus sendiri. Sebenarnya, kita adalah umat kristiani sampai pada taraf yang di dalamnya kita membiarkan Yesus Kristus hidup di dalam diri kita. Darimana kita seharusnya memulai kemudian menghidupkan kembali kesadaran ini jika bukan dari permulaan, dari Sakramen yang menyalakan kehidupan kristiani di dalam diri kita? Inilah pembaptisan. Paskah Kristus, dengan muatan kebaruannya, mencapai kita melalui pembaptisan guna mengubah diri kita menjadi citra-Nya : orang yang dibaptis adalah citra Yesus Kristus; Dialah Tuhan keberadaan mereka. Pembaptisan adalah "dasar seluruh kehidupan kristiani" (Katekismus Gereja Katolik, 1213). Pembaptisan adalah sakramen pertama, lantaran ia adalah pintu yang memungkinkan Kristus Tuhan berdiam di dalam pribadi kita dan kita membenamkan diri dalam misteri-Nya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 8 April 2018 : TENTANG HARI MINGGU KERAHIMAN ILAHI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Sebelum berkat penutup, kita akan berpaling kepada Bunda surgawi kita. Namun, bahkan sebelumnya, saya ingin berterima kasih kepada kalian semua yang ambil bagian dalam perayaan ini, khususnya, Misionaris Kerahiman, yang berkumpul untuk pertemuan mereka. Terima kasih atas pelayanan kalian!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 4 April 2018 : RITUS PENUTUP (BERKAT DAN PENGUTUSAN)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat Paskah!

Kalian lihat hari ini ada bunga-bunga : bunga-bunga yang berbicara tentang sukacita dan kegembiraan. Di beberapa tempat, Paskah juga disebut “Paskah yang sedang berbunga”, karena Kristus yang bangkit berbunga: Ia adalah bunga yang baru; bunga-bunga pembenaran kita, kekudusan bunga-bunga Gereja. Oleh karena itu, banyak bunga - inilah sukacita kita. Kita merayakan Paskah sepanjang pekan, sepanjang pekan. Dan oleh karena itu kita semua saling mengucapkan sekali lagi "selamat Paskah”. Kita mengucapkan bersama-sama : “Selamat Paskah”, - semuanya! [Mereka menjawab : Selamat Paskah!] Saya ingin kita juga mengucapkan Selamat Paskah - karena beliau adalah Uskup Roma - kepada Paus Benediktus tercinta, yang mengikuti kita di televisi. Kita semua mengucapkan Selamat Paskah kepada Paus Benediktus [Mereka berkata : “Selamat Paskah!”] dan bertepuk tangan meriah.

PESAN “URBI ET ORBI” PAUS FRANSISKUS PADA HARI RAYA PASKAH 1 April 2018

Saudara-saudari terkasih, Selamat Paskah!

Yesus bangkit dari antara orang mati!

Pesan ini bergema dalam Gereja di seluruh dunia, bersama dengan nyanyian Alleluia : Yesus adalah Tuhan; Bapa telah membangkitkan-Nya dan Ia hidup selamanya di tengah-tengah kita.

Yesus telah menubuatkan wafat dan kebangkitan-Nya dengan menggunakan gambaran gandum. Ia berkata : "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah" (Yoh 12:24). Dan inilah tepatnya apa yang terjadi : Yesus, biji gandum yang ditaburkan Allah di dalam alur-alur bumi, mati, terbunuh oleh dosa dunia. Ia tinggal dua hari di dalam kubur; tetapi wafat-Nya mengandung kasih Allah dengan segala kekuatannya, dilampiaskan dan diejawantahkan pada hari ketiga, hari yang kita rayakan hari ini : Paskah Kristus Tuhan.

KHOTBAH PASTOR RANIERO CANTALAMESSA OFMCAP, PENGKHOTBAH RUMAH TANGGA KEPAUSAN, DALAM IBADAT JUMAT AGUNG YANG DIPIMPIN PAUS FRANSISKUS DI BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN, 30 Maret 2018

"Ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya" (Yoh 19:33-35).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 28 Maret 2018 : TENTANG TRIDUUM PASKAH

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini saya ingin berhenti sejenak untuk merenungkan Triduum Paskah, yang dimulai besok, untuk sedikit memperdalam apa yang merupakan hari-hari terpenting dari Tahun Liturgi bagi kita orang-orang percaya. Saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepada kalian : apakah hari raya terpenting dari iman kita : Natal atau Paskah? Paskah, karena Paskah adalah hari raya keselamatan kita, hari raya kasih Allah bagi kita, hari raya, perayaan wafat dan kebangkitan-Nya. Oleh karena itu, saya ingin merenungkan bersama kalian tentang hari raya ini, pada hari-hari ini, yang merupakan hari-hari paskah, sampai kebangkitan Tuhan. Hari-hari ini mencakup ingatan perayaan akan suatu misteri agung : wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus. Triduum Paskah dimulai besok, dengan Misa Perjamuan Tuhan dan akan berakhir dengan Vesper pada hari Minggu Kebangkitan. Lalu Senin Paskah tiba untuk merayakan hari raya agung ini : satu hari lagi. Tetapi, ini bersifat pasca-liturgi : hari raya keluarga, hari raya masyarakat. Ini menandai tahap-tahap dasariah iman kita dan panggilan kita di dunia, serta seluruh umat kristiani dipanggil untuk menghayati Trihari Suci - Kamis, Jumat, Sabtu; dan Minggu - tentu saja -, Sabtu adalah Kebangkitan - Trihari Suci sebagai, boleh dikatakan, "matriks" kehidupan pribadi dan komunal mereka, kehidupan komunitas mereka, sebagaimana keluaran dari Mesir dihayati oleh saudara-saudara Yahudi kita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 25 Maret 2018 : SEMOGA BUNDA MARIA MEMBANTU KITA UNTUK MENJALANI PEKAN SUCI DENGAN BAIK

[Sebelum doa Malaikat Tuhan, Bapa Suci menyapa perwakilan kaum muda yang ambil bagian dalam Pertemuan Pra-Sinode, yang meminta beliau untuk berswafoto kelompok]

Sudahkah kalian memperhatikan: hari ini kita tidak dapat membayangkan seorang muda yang tidak berswafoto ... dan mereka melakukannya. Mereka baik!

Sebelum mengakhiri perayaan ini, saya ingin menyapa kalian semua, umat Roma dan para peziarah, yang ambil bagian, terutama kaum muda dari berbagai belahan dunia, juga mereka - sekitar 15.000 orang - yang ambil bagian secara virtual: Saya menyapa semuanya! Memikirkan dengan rasa syukur perjalanan saya baru-baru ini ke Peru, saya menyambut dengan penuh kasih komunitas Peru di Italia.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 21 Maret 2018 : TENTANG KOMUNI KUDUS

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dan hari ini adalah hari pertama musim semi: selamat musim semi! Tetapi, apa yang terjadi di musim semi? Tanaman berbunga; pepohonan berbunga. Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada kalian. Apakah pepohonan atau tanaman berbunga dengan baik jika ia sakit? Tidak! Dapatkah pohon, tanaman, yang tidak tersiram oleh hujan atau hujan buatan, berbunga dengan baik? Tidak. Dan dapatkah pohon dan tanaman yang akarnya dihilangkan atau yang tidak memiliki akar berbunga? Tidak. Tetapi dapatkah mereka berbunga tanpa akar? Tidak! Dan ini adalah sebuah pesan: kehidupan kristiani harus menjadi sebuah kehidupan yang harus berbunga dalam karya-karya amal, dalam berbuat kebaikan. Tetapi, jika kalian tidak memiliki akar, kalian tidak akan bisa berbunga dan, apa akarnya? Yesus! Jika kalian tidak bersama Yesus, berakar di sana, kalian tidak akan berbunga. Jika kalian tidak menyirami hidup kalian dengan doa dan sakramen-sakramen, apakah kalian akan memiliki bunga kristiani? Tidak! - karena doa dan sakramen-sakramen menyirami akar dan bunga kehidupan kita. Saya berharap agar musim semi ini akan menjadi musim semi yang berbunga, karena Paskah akan berbunga. Berbunga dengan perbuatan-perbuatan baik, keutamaan-keutamaan, berbuat baik kepada orang lain. Ingatlah hal ini; ini adalah ayat yang sangat indah dari tanah air saya: "Apa yang sedang berbunga di pohon, berasal dari apa yang terkubur". Jangan pernah memotong akar bersama Yesus.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 18 Maret 2018 : UNTUK MENGENAL YESUS, ORANG HARUS MENATAP SALIB

Injil hari ini (bdk. Yoh 12:20-33) menceritakan sebuah episode yang terjadi pada hari-hari terakhir kehidupan Yesus. Adegan tersebut berlangsung di Yerusalem, di mana Ia berada untuk merayakan pesta Paskah Yahudi. Beberapa orang Yunani juga tiba untuk merayakan ritual tersebut. Mereka adalah orang-orang yang dijiwai oleh kepekaan perasaan religius, tertarik oleh iman orang-orang Yahudi dan yang, setelah mendengar perbincangan tentang nabi besar ini, datang kepada Filipus, salah seorang dari dua belas rasul, dan berkata kepadanya : "Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus" (ayat 21). Yohanes menyoroti ucapan ini, memusatkan perhatian pada kata kerja bertemu, yang dalam kosa kata penginjil berarti melampaui penampilan guna memahami misteri seseorang. Kata kerja yang digunakan Yohanes, "bertemu", adalah menuju ke hati, menuju kedalaman pribadi, di dalam pribadi, dengan penglihatan, dan dengan pemahaman.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM KUNJUNGAN PASTORALNYA KE PIETRELCINA SEHUBUNGAN DENGAN PERINGATAN 100 TAHUN STIGMATA DAN 50 TAHUN WAFATNYA SANTO PIO (17 Maret 2018)



Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Saya senang berada di kota ini, tempat Francesco Forgione dilahirkan dan memulai kehidupan manusiawi dan rohaninya yang panjang dan bermanfaat. Dalam komunitas ini, ia mempertegar kemanusiaannya, ia belajar berdoa dan mengenali tubuh Tuhan dalam diri orang miskin, sehingga ia bertumbuh dalam mengikuti Kristus dan meminta untuk diterima dalam Ordo Saudara-saudara Dina Kapusin, yang dengan cara ini menjadi Saudara Pio dari Pietrelcina . Di sini ia mulai mengalami keibuan Gereja, yang terhadapnya ia selalu menjadi putra yang berbakti. Ia mencintai Gereja, dia mengasihi Gereja dengan segala permasalahannya, dengan segala kesulitannya, dengan segala dosanya. Karena kita semua adalah orang-orang berdosa, kita merasa malu, tetapi Roh Allah telah membangunkan kita di dalam Gereja yang kudus ini. Dan ia mengasihi Gereja yang kudus dan putra-putranya, orang-orang berdosa, mereka semua. Inilah Santo Pio. Di sini ia merenungkan secara mendalam misteri Allah yang mengasihi kita hingga memberikan diri-Nya untuk kita (bdk. Gal 2:20). Mengenang dengan rasa hormat dan kasih sayang murid Santo Fransiskus yang kudus ini, saya dengan hormat menyambut kalian semua, orang-orang sekampungnya; pastor paroki kalian; dan walikota, bersama dengan Gembala Keuskupan (Benevento), Mgr. Felice Accrocca, komunitas Kapusin dan semua orang yang berkeinginan hadir.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 14 Maret 2018 : TENTANG DOA BAPA KAMI DAN PEMECAHAN ROTI

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Kita melanjutkan dengan katekese tentang Misa Kudus. Dalam Perjamuan Terakhir, setelah Yesus mengambil roti dan piala berisi anggur, serta mengucap syukur kepada Allah, kita tahu bahwa Ia "memecah-mecah roti". Dalam Liturgi Ekaristi Misa, pemecahan roti berkaitan dengan tindakan ini, didahului dengan doa yang diajarkan Tuhan kepada kita, yaitu, doa "Bapa Kami".

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 Maret 2018 : TENTANG PANGGILAN UNTUK BERSUKACITA, HARI MINGGU LAETARE

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Pada Hari Minggu Prapaskah IV ini, yang disebut Hari Minggu "Laetare", yaitu, "Bersukacitalah", karena demikianlah <dikatakan> Antifon Pembuka Liturgi Ekaristi, yang mengundang kita untuk bersukacita : "Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem [...] - demikianlah panggilan untuk bersukacita - bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya". Misa dimulai demikian. Apa alasan untuk sukacita ini? Alasannya adalah begitu besar kasih Allah bagi umat manusia, sebagaimana ditunjukkan oleh Injil hari ini : "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh 3:16). Kata-kata ini, yang diucapkan oleh Yesus selama percakapan dengan Nikodemus, merangkum sebuah tema yang menjadi pusat pewartaan orang kristiani : bahkan ketika situasi keputusasaan, Allah campur tangan, menawarkan keselamatan dan sukacita kepada manusia. Allah, pada kenyataannya, tidak berdiri terpisah, tetapi masuk ke dalam sejarah umat manusia, Ia "melibatkan" diri-Nya dalam kehidupan kita; Ia memasukinya, menjiwainya dengan rahmat-Nya dan menyelamatkannya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 7 Maret 2018 : TENTANG DOA SYUKUR AGUNG


Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Kita sedang melanjutkan katekese tentang Misa Kudus, dan dengan katekese ini kita akan berfokus pada Doa Syukur Agung. Ritus persembahan roti dan anggur telah usai, Doa Syukur Agung dimulai, yang memenuhi persyaratan perayaan Misa dan merupakan momen puncaknya, dilanjutkan Komuni Kudus.
Ini sesuai dengan apa yang diperbuat Yesus sendiri, di meja bersama para Rasul pada Perjamuan Terakhir, ketika "Ia mengucap syukur" atas roti dan kemudian atas cawan berisi anggur (bdk. Mat 26:27; Mrk 14:23; Luk 22:17,19; 1 Kor 11:24): Ucapan syukur-Nya hidup kembali setiap kali kita merayakan Ekaristi, menggabungkan diri kita dengan kurban keselamatan-Nya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 4 Maret 2018 : HIDUPLAH DEMI KEMULIAAN ALLAH, BUKAN SEMATA UNTUK KEUNTUNGAN DAN KEPENTINGAN KITA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari ini, menurut Yohanes, menyajikan kisah Yesus mengusir para pedagang di Bait Suci Yerusalem (bdk. Yoh 2:13-25). Ia bertingkah laku ini, membuat cambuk dari tali dan membalikkan meja-meja, berkata : "Jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan!" (ayat 16). Tindakan tegas ini, yang dilakukan menjelang Paskah, membuat kesan yang luar biasa pada orang banyak dan membangkitkan permusuhan dari para pemimpin agama dan semua pihak yang merasa terancam kepentingan ekonomi mereka. Tetapi, bagaimana seharusnya kita menafsirkannya? Tentu bukannya tindakan kekerasan. Sangatlah benar hal ini tidak menimbulkan campur tangan para penjaga ketertiban umum - campur tangan polisi. Tidak! Tetapi dimaksudkan sebagai tindakan khas para nabi yang, atas nama Allah, sering mengecam pelanggaran dan perbuatan yang keterlaluan. Pertanyaan yang diajukan adalah tentang kewenangan. Pada kenyataannya, orang-orang Yahudi bertanya kepada Yesus: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" (ayat 18), yaitu, kewenangan apa yang harus Engkau perbuat untuk melakukan hal-hal ini? Seakan meminta Ia menunjukkan bahwa Ia benar-benar sedang bertindak atas nama Allah.

DEKRIT PENCANTUMAN PERINGATAN SANTA PERAWAN MARIA BUNDA GEREJA DALAM KALENDER LITURGI GEREJA ROMA

Paus Fransiskus telah menetapkan devosi kuno kepada Santa Perawan Maria sebagai Bunda Gereja dicantumkan ke dalam kalender liturgi Gereja Roma. Perayaan liturgi tersebut akan dirayakan setiap tahun sebagai sebuah peringatan pada hari Senin setelah Hari Raya Pentakosta. Berikut ini dekrit yang berkenaan dengan penetapan tersebut.

******

Penghormatan penuh sukacita yang diberikan kepada Bunda Allah oleh Gereja masa kini, dalam terang permenungan tentang misteri Kristus dan sifatnya, tidak dapat mengabaikan sosok seorang perempuan (bdk. Gal 4:4), Perawan Maria, yang merupakan Bunda Kristus maupun Bunda Gereja.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 28 Februari 2018 : TENTANG LITURGI EKARISTI



Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Melanjutkan katekese tentang Misa Kudus, Liturgi Sabda - yang saya bahas dalam katekese yang lalu -, diikuti oleh bagian pokok Misa lainnya, yaitu Liturgi Ekaristi. Di dalamnya, melalui tanda-tanda kudus, Gereja terus-menerus menghadirkan Kurban Perjanjian Baru yang dimetereikan oleh Yesus di altar Salib (bdk. Sacrosanctum Concilium, 47). Altar kristiani yang pertama adalah Salib, dan ketika kita sampai di altar untuk merayakan Misa, ingatan kita tertuju (kembali) ke altar Salib, di mana pengorbanan pertama dilakukan. Imam, yang mewakili Kristus dalam Misa, melakukan apa yang Tuhan sendiri lakukan dan percayakan kepada para murid dalam Perjamuan Terakhir : Ia mengambil roti dan piala, mengucap syukur, dan memberikannya kepada para murid, seraya berkata : "Ambillah, makanlah … minumlah : inilah tubuh-Ku … inilah piala darah-Ku. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku".

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 25 Februari 2018 : PERUBAHAN RUPA YESUS

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari ini, Hari Minggu Prapaskah II, mengajak kita untuk merenungkan perubahan rupa Kristus (bdk. Mrk 9:2-10). Kisah ini terkait dengan apa yang terjadi enam hari sebelumnya ketika Yesus mengungkapkan kepada murid-murid-Nya bahwa di Yerusalem Ia akan "menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari" (Mrk 8:31). Pengumuman ini menempatkan Petrus dan seluruh kelompok murid dalam krisis, yang menolak gagasan bahwa Yesus akan ditolak oleh para pemimpin rakyat dan kemudian dibunuh. Mereka, pada kenyataannya, menantikan seorang Mesias yang kuat, penuh wibawa, dan berkuasa, sebaliknya, Yesus menampilkan diri-Nya sebagai orang yang lemah lembut, sebagai Hamba Allah dan Hamba manusia yang rendah hati, yang harus memberikan nyawa-Nya dengan pengorbanan, melewati jalan penganiayaan, jalan penderitaan dan jalan kematian. Tetapi, bagaimana kita bisa mengikuti Guru dan Mesias, yang peruntungan duniawinya akan berakhir dengan jalan seperti itu? Jawabannya berasal, sebenarnya, dari Perubahan Rupa. Apakah perubahan rupa Yesus? Perubahan rupa Yesus adalah antisipasi penampakan Paskah.

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG MUDA SEDUNIA KE-33 25 Maret 2018


"Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah" (Luk 1:30)

Orang muda terkasih,

Hari Orang Muda Sedunia 2018 (tingkat keuskupan) melukiskan langkah lain dalam persiapan Hari Orang Muda Sedunia internasional yang akan berlangsung di Panama pada bulan Januari 2019. Tahap baru peziarahan kita jatuh pada tahun yang sama dengan Sidang Umum Sinode Para Uskup yang akan berlangsung dengan tema : Orang Muda, Iman dan Kearifan Panggilan. Inilah kebetulan yang membahagiakan. Fokus, doa dan permenungan Gereja akan menuntun kalian orang-orang muda, dengan keinginan untuk menerima dan, terutama, untuk mendekap karunia berharga bahwa kalian ada bagi Allah, bagi Gereja dan bagi dunia.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 18 Februari 2018 : TENTANG PERLUNYA PERTOBATAN


Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Pada Hari Minggu Prapaskah I ini, Injil mengingatkan kembali tema pencobaan, pertobatan dan Kabar Baik. Penginjil Markus menulis, "Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis" (Mrk 1:12-13). Yesus pergi ke padang gurun untuk mempersiapkan diri bagi perutusan-Nya di dunia ini. Ia tidak membutuhkan pertobatan, tetapi, sama seperti manusia, Ia harus melalui ujian ini, menjadikannya untuk diri-Nya, guna mematuhi kehendak Bapa, menjadikannya untuk kita, guna memberi kita rahmat untuk mengatasi pencobaan-pencobaan. Persiapan ini berupa pertempuran melawan roh jahat, yaitu, melawan Iblis. Bagi kita juga, Masa Prapaskah adalah suatu masa "tantangan" rohani, masa perjuangan rohani : kita dipanggil untuk menghadapi Si Jahat melalui doa sehingga dengan pertolongan Allah, kita dapat mengatasinya dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita memahaminya, kejahatan, sayangnya, sedang bekerja dalam keberadaan kita dan di sekitar kita, di mana kekerasan, penolakan terhadap orang lain, ketertutupan, peperangan dan ketidakadilan terwujud.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 14 Februari 2018 : TENTANG SYAHADAT DAN DOA UMAT

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi! Selamat pagi bahkan jika hari sedikit tidak menyenangkan. Namun, jika semangatnya penuh sukacita, senantiasa merupakan hari yang baik. Jadi, selamat pagi! Hari ini Audiensi akan berlangsung di dua tempat : sekelompok kecil orang sakit berada di Aula [Paulus VI], mengingat cuaca, dan kita berada di sini. Tetapi kita melihat mereka dan mereka melihat kita di layar raksasa. Kita menyambut mereka dengan tepuk tangan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 Februari 2018 : YESUS SANG PENYEMBUH TUBUH DAN JIWA YANG SESUNGGUHNYA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Pada hari-hari Minggu ini Injil, menurut paparan Markus, menghadirkan kepada kita Yesus yang menyembuhkan bermacam-macam orang sakit. Dalam konteks ini, Hari Orang Sakit Sedunia ditempatkan dengan baik, yang pada kenyataannya diperingati hari ini, 11 Februari 2018, Peringatan Perawan Maria dari Lourdes. Oleh karena itu, dengan tatapan hati beralih ke Gua Massabielle, kita merenungkan Yesus sebagai penyembuh tubuh dan jiwa yang sesungguhnya, yang diutus Allah Bapa ke dunia untuk menyembuhkan umat manusia, yang ditandai oleh dosa dan akibat-akibatnya.

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK MASA PRAPASKAH 2018


"Karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin" (Mat 24:12)

Saudara dan saudari terkasih,

Sekali lagi, Paskah Tuhan mendekat! Dalam persiapan kita untuk Paskah, setiap tahun Allah dengan penyelenggaraan ilahi-Nya menawarkan kepada kita Masa Prapaskah sebagai "tanda sakramen pertobatan kita".[1] Masa Prapaskah memanggil kita, dan memungkinkan kita, untuk kembali kepada Tuhan dengan sepenuh hati dan dalam setiap segi kehidupan kita.