Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI KEUSKUPAN AGUNG CAMERINO-SAN SEVERINO MARCHE (ITALIA) 16 Juni 2019


Kemarin di Pozzomaggiore, Sardinia, Edvige Carboni, seorang umat wanita sederhana, yang dalam kehidupan sehari-hari yang rendah hati merangkul Salib, memberikan kesaksian iman dan amal kasih, dinyatakan sebagai Beata. Kita bersyukur karena murid Kristus yang setia ini, yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk melayani Allah dan sesamanya. Tepuk tangan untuk sang beata baru!

Hari ini secara khusus kita ingin mengingat para pengungsi, pada Hari Pengungsi Sedunia Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hari Pengungsi Sedunia ini mengajak semua orang untuk bersetia kawan dengan para pria, wanita, dan anak-anak yang melarikan diri dari perang, berbagai penganiayaan, dan pelanggaran hak-hak dasar mereka. Semoga komunitas gerejawi dan sipil kita dekat dengan mereka serta memperhatikan kebutuhan dan penderitaan mereka.

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG MISKIN SEDUNIA III (Hari Minggu Biasa XXXIV, 17 November 2019)


PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG MISKIN SEDUNIA III (Hari Minggu Biasa XXXIV, 17 November 2019)

Bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara

1.        "Bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara" (Mzm 9:19). Kata-kata pemazmur ini tinggal tepat waktu. Kata-kata tersebut mengungkapkan sebuah kebenaran yang mendalam bahwa iman mengesankan terutama di hati kaum miskin, memulihkan harapan yang hilang di hadapan ketidakadilan, penderitaan dan ketidakpastian hidup.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 12 Juni 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (Kis 1:21-22.26) - BAGIAN 2


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Kita memulai serangkaian katekese yang akan mengikuti "perjalanan" : perjalanan Injil, yang dipaparkan dalam Kitab Kisah Para Rasul, karena kitab ini tentu saja membuat kita melihat perjalanan Injil, bagaimana Injil melampaui, melampaui, melampaui ... Semuanya berawal dari kebangkitan Kristus. Hal ini, pada kenyataannya, bukan merupakan peristiwa di antara orang lain, tetapi merupakan sumber kehidupan baru. Para murid mengetahuinya dan - taat pada perintah Yesus - mereka tetap bersatu, sepakat dan tekun berdoa. Mereka tetap dekat dengan Bunda Maria dan mereka bersiap untuk menerima kuasa Allah, tidak secara pasif tetapi mempererat persekutuan di antara mereka.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 9 Juni 2019 : TENTANG HARI RAYA PENTAKOSTA


Saudara dan saudari yang terkasih,

Kemarin di Krakow diadakan perayaan ucapan syukur untuk pengukuhan devosi kepada Beato Michael Giedroyc, di mana para uskup Polandia dan Lituania ambil bagian. Semoga peristiwa ini mendorong rakyat Polandia dan Lituania untuk memperkuat ikatan yang menjadi ciri khas mereka dalam tanda iman dan penghormatan terhadap Beato Michael, sokoguru kerendahan hati dan amal kasih injili, yang hidup di Krakow pada abad ke-15.

Berita-berita yang sampai kepada kita hari ini dari Sudan menyebabkan kesedihan dan keterlenaan. Marilah kita mendoakan bangsa ini, semoga kekerasan berhenti dan kebaikan bersama dapat dicari dalam dialog.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 5 Juni 2019 : TENTANG PERJALANAN APOSTOLIKNYA KE RUMANIA


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Akhir pekan lalu saya melakukan perjalanan apostolik ke Rumania, atas undangan Presiden dan Perdana Menteri Rumania. Saya kembali mengucapkan terima kasih kepada mereka, yang saya sampaikan kepada aparat sipil dan gerejawi lainnya, serta kepada semua pihak yang bekerja sama dalam mewujudkan kunjungan ini. Saya terutama bersyukur kepada Allah, yang memperkenankan Penerus Santo Petrus untuk kembali ke negara itu, 20 tahun setelah kunjungan Santo Yohanes Paulus II.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 29 Mei 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (1:3-4) - BAGIAN 1

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita memulai perjalanan katekese melalui kitab Kisah Para Rasul. Kitab biblis ini, yang ditulis oleh penginjil Santo Lukas, berbicara kepada kita tentang suatu perjalanan - tentang suatu perjalanan : tetapi tentang perjalanan apa? Tentang perjalanan Injil di dunia dan menunjukkan kepada kita kesatuan yang menakjubkan antara sabda Allah dan Roh Kudus, yang meresmikan masa penginjilan. Sebenarnya para pelaku utama dalam Kisah Para Rasul adalah “dua sejoli” yang lincah dan ampuh : sabda Allah dan Roh Kudus.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 26 Mei 2019 : TENTANG KEDATANGAN ROH KUDUS, SANG PENGHIBUR

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Bacaan Injil Hari Minggu Paskah VI ini menawarkan kepada kita sebuah bagian dari wejangan Yesus kepada para Rasul selama Perjamuan Terakhir (bdk. Yoh 14:23-29). Ia berbicara tentang karya Roh Kudus dan berjanjikan : “Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (ayat 26). Ketika saat salib semakin dekat, Yesus meyakinkan para Rasul bahwa mereka tidak akan tinggal sendirian : Roh Kudus, Sang Penghibur, akan selalu bersama mereka, yang akan mendukung mereka dalam perutusan untuk membawa Injil ke seluruh dunia. Dalam bahasa Yunani asli, kata "Parakletos" berarti berada di sebelah, menopang dan menghibur. Yesus kembali kepada Bapa, tetapi Ia terus memberi petunjuk dan mendorong murid-murid-Nya melalui tindakan Roh Kudus.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 22 Mei 2019 : TENTANG DOA BAPA KAMI (YA ABBA, YA BAPA - Rm 8:15)

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita mengakhiri rangkaian katekese tentang doa “Bapa Kami”. Kita dapat mengatakan bahwa doa Kristiani lahir dari keberanian untuk memanggil Allah dengan nama “Bapa”. Doa Kristiani bukan sebuah rumusan yang sama seperti keintiman bakti, yang di dalamnya kita diperkenalkan oleh rahmat : Yesus adalah pewahyu Bapa dan kepada kita Ia menganugerahkan keakraban dengan-Nya. "Ia tidak meninggalkan bagi kita satu rumusan yang harus diulang-ulangi secara mekanis. Dalam doa Tuhan, Roh Kudus mengajar anak-anak Allah berdoa dengan perantaraan Sabda Allah kepada Bapanya” (Katekismus Gereja Katolik, 2766). Yesus sendiri menggunakan ungkapan berbeda untuk berdoa kepada Bapa. Jika kita membaca Injil dengan penuh perhatian, kita menemukan bahwa ungkapan doa yang muncul di bibir Yesus ini mengingat teks "Bapa Kami".

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 19 Mei 2019 : TENTANG PERINTAH BARU SUPAYA KAMU SALING MENGASIHI

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Injil hari ini membawa kita ke Ruang Atas, membuat kita mendengarkan beberapa kata yang disampaikan Yesus kepada para murid-Nya dalam "wejangan perpisahan" sebelum sengsara-Nya. Setelah membasuh kaki kedua belas Rasul, Ia berkata kepada mereka : “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi". Dalam pengertian apa Yesus menyebut ini sebuah perintah "baru"? Karena kita tahu bahwa dalam Perjanjian Lama, Allah telah memerintahkan para anggota umat-Nya untuk mengasihi sesama mereka seperti diri mereka sendiri (bdk. Im 19:18). Yesus sendiri menjawab siapa pun yang menanyakan kepada-Nya apa perintah terbesar dari Hukum Taurat, dengan mengatakan bahwa hukum yang pertama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati dan hukum yang kedua adalah mengasihi sesama seperti diri sendiri (bdk. Mat 22:38-39).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 15 Mei 2019 : TENTANG DOA BAPA KAMI - BEBASKANLAH KAMI DARI YANG JAHAT (bdk 1 Ptr 5:6-9)

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Di sini kita akhirnya sampai pada pengajuan ketujuh dari doa "Bapa Kami" : "Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat" (Mat 6:13b).

Dengan ungkapan ini, orang yang berdoa tidak hanya memohon untuk tidak ditinggalkan pada saat pencobaan, tetapi juga memohon untuk dibebaskan dari yang jahat. Kata kerja bahasa Yunani tersebut sangat kuat : kata tersebut memunculkan kehadiran si Jahat, yang cenderung menangkap kita dan menggigit kita (bdk. 1 Ptr 5:8) serta kita memohon kepada Allah untuk dibebaskan daripadanya. Rasul Petrus juga mengatakan bahwa Si Jahat, iblis, ada di sekitar kita seperti singa yang mengaum-aum, untuk melahap kita, dan kita memohon kepada Allah untuk membebaskan kita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 12 Mei 2019 : TENTANG GEMBALA YANG BAIK

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Dalam Injil hari ini (bdk. Yoh 10:27-30), Yesus muncul sebagai Gembala Umat Allah yang sesungguhnya. Ia berbicara tentang hubungan keterikatan-Nya dengan kawanan domba-Nya, yaitu, dengan para murid-Nya, dan Ia menekankan fakta bahwa keterikatan itu adalah hubungan saling mengenal. Ia mengatakan, "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya” (ayat 27-28). Membaca perkataan ini dengan penuh perhatian, kita melihat bahwa karya Yesus dijelaskan dalam beberapa tindakan : Yesus berbicara, Yesus mengenal, Yesus memberikan hidup yang kekal, Yesus menjaga.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 8 Mei 2019 : TENTANG KUNJUNGANNYA KE BULGARIA DAN MASEDONIA UTARA

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Kemarin malam saya kembali dari perjalanan apostolik selama tiga hari, yang membawa saya ke Bulgaria dan Masedonia Utara. Saya bersyukur kepada Allah karena memungkinkan saya untuk melakukan kunjungan ini, dan saya kembali mengucapkan terima kasih kepada penguasa sipil dari kedua negara ini, yang telah menerima saya dengan penuh hormat dan adanya. “Terima kasih” yang paling mendalam saya sampaikan kepada para uskup dan jemaat gerejawi masing-masing negara atas kehangatan dan pengabdian yang menyertai peziarahan saya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA DI LAPANGAN SANTO ALEKSANDER NEVSKY, SOFIA (BULGARIA) 5 Mei 2019

Saudara dan saudari yang terkasih, Kristus bangkit! Ia sungguh bangkit!

Dengan kata-kata ini, umat Kristiani - Ortodoks dan Katolik - di sini di Bulgaria sejak zaman dahulu kala saling menyapa di masa Paskah. Kata-kata ini mengungkapkan sukacita yang besar karena kemenangan Yesus Kristus atas kejahatan dan maut. Kata-kata ini merupakan sebuah penegasan dan kesaksian dari pokok iman kita : Kristus hidup! Ia adalah harapan kita, dan secara menakjubkan Ia membawa masa muda ke dunia kita. Semua yang Ia jamah menjadi muda, baru, penuh kehidupan. Maka, kata-kata pertama yang sungguh ingin saya katakan kepada kamu masing-masing adalah ini : Kristus hidup, dan Ia ingin kamu hidup! Ia berada di dalam dirimu, Ia bersama kamu dan Ia tidak pernah meninggalkanmu. Seberapa jauh kamu bisa mengembara, Ia selalu ada di sana, Ia yang bangkit. Ia memanggilmu, dan Ia menunggumu untuk kembali kepada-Nya dan memulai dari awal lagi. Ketika kamu merasa sedang bertambah tua karena kesedihan, dendam atau ketakutan, keraguan atau kegagalan, Ia akan selalu ada untuk memulihkan kekuatanmu dan harapanmu (bdk. Christus Vivit, 1-2).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 1 Mei 2019 : TENTANG DOA BAPA KAMI - JANGANLAH MASUKKAN KAMI KE DALAM PENCOBAAN (bdk. 1 Kor 10:13)

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Kita melanjutkan katekese tentang doa “Bapa Kami,” yang sekarang tiba pada permohonan kedua terakhir : “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” (Mat 6:13). Versi lain mengatakan : "Supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan". Doa "Bapa Kami" dimulai dengan tenang : doa "Bapa Kami" membuat kita berhasrat agar rencana agung Allah tergenapi di tengah-tengah kita. Kemudian doa "Bapa Kami" melirik pada kehidupan, dan doa "Bapa Kami" menjadikan kita memohon apa yang kita butuhkan setiap hari : "roti setiap hari". Kemudian doa itu menyasar hubungan antarpribadi kita, yang sering kali dinodai oleh egoisme : kita memohon pengampunan dan kita berketetapan hati untuk memberikan pengampunan. Namun, dengan permohonan kedua terakhir inilah dialog kita dengan Bapa Surgawi memasuki, boleh dikatakan, inti dari drama, yaitu, wilayah perseteruan antara kebebasan kita dan jerat si Jahat.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 28 April 2019 : PENAMPAKAN YESUS MEMBAWA TIGA KARUNIA - DAMAI SEJAHTERA, SUKACITA DAN PERUTUSAN

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Injil hari ini (bdk. Yoh 20:19-31) memberitahu kita bahwa pada hari Paskah Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya di Ruang Atas, pada malam hari, membawa tiga karunia : damai sejahtera, sukacita, dan perutusan kerasulan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 24 April 2019 : TENTANG DOA BAPA KAMI - SEPERTI KAMI PUN MENGAMPUNI YANG BERSALAH KEPADA KAMI (bdk. Mat 18:21-22)

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita menyelesaikan katekese yang berkenaan dengan pertanyaan kelima dari doa "Bapa Kami", berhenti pada ungkapan "seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami" (Mat 6:12). Kita telah melihat bahwa manusia layak berhutang di hadapan Allah : kita telah menerima segalanya dari Dia, dalam hal kodrat dan rahmat. Hidup kita tidak hanya dikehendaki tetapi juga dikasihi oleh Allah. Sungguh tidak ada ruang untuk menduga-duga ketika kita mengatupkan tangan untuk berdoa. "Manusia yang dijadikan sendiri" tidak ada di dalam Gereja - manusia yang menjadikan diri mereka sendiri. Kita semua adalah orang yang berhutang kepada Allah dan kepada banyak orang yang telah memberi kita kondisi kehidupan yang menyenangkan. Jatidiri kita dibangun dari kebaikan yang diterima. Yang pertama adalah kehidupan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 22 April 2019 : SUKACITA PASKAH BERLANJUT PEKAN INI

Hari ini dan sepanjang pekan ini, sukacita Paskah kebangkitan Yesus, peristiwa yang menakjubkan yang kita peringati kemarin, akan berlanjut.

Selama malam Paskah, kata-kata yang diucapkan oleh para Malaikat di kubur Kristus yang kosong bergema. Kepada para perempuan yang telah pergi ke kubur pada pagi-pagi buta pada hari pertama setelah hari Sabat, para malikat berkata: "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit". Kebangkitan Kristus adalah peristiwa yang paling mengejutkan dalam sejarah umat manusia, membuktikan kemenangan kasih Allah atas dosa dan maut serta memberikan landasan yang sekokoh batu karang kepada harapan hidup kita. Apa yang secara manusiawi tak terpikirkan terjadi : "Yesus dari Nazaret ... Allah membangkitkan Dia, membebaskan Dia dari penderitaan maut".

PESAN PASKAH DAN BERKAT "URBI ET ORBI" PAUS FRANSISKUS 21 April 2019

Hari ini Gereja memperbaharui pemberitaan yang dilakukan oleh para murid pertama : “Yesus bangkit!”. Dan dari mulut ke mulut, dari hati ke hati, terdengar panggilan untuk memuji : “Alleluia, Alleluia!”. Pada pagi Paskah ini, kaum muda Gereja dan umat manusia yang abadi secara keseluruhan, saya ingin berbicara kepada kalian masing-masing dengan kata-kata pembuka Seruan Apostolik saya baru-baru ini yang dikhususkan untuk kaum muda :

“Kristus hidup! Dialah harapan kita, dan secara menakjubkan Ia membawa masa muda ke dunia kita. Semua yang dijamah-Nya menjadi muda, baru, penuh kehidupan. Maka, kata-kata pertama yang sesungguhnya yang ingin saya katakan kepada setiap kaum muda Kristiani adalah ini : Kristus hidup dan Ia ingin kamu hidup! Ia ada di dalam dirimu, Ia besertamu dan Ia tidak pernah meninggalkanmu. Seberapa jauh kamu bisa mengembara, Ia selalu ada di sana, Dia yang bangkit. Ia memanggilmu dan Ia menunggumu untuk kembali pada-Nya dan memulai lagi dari awal. Ketika kamu merasa sedang bertambah tua oleh karena kesedihan, dendam atau ketakutan, keraguan atau kegagalan, Ia akan selalu ada untuk memulihkan kekuatanmu dan harapanmu” (Christus Vivit, 1-2).

KHOTBAH PASTOR RANIERO CANTALAMESSA OFMCAP DALAM IBADAT JUMAT AGUNG YANG DIPIMPIN OLEH PAUS FRANSISKUS DI BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN, 19 April 2019 : IA DIHINA DAN DIHINDARI ORANG

Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan (Yes 53:3)

Inilah kata-kata nubuat nabi Yesaya yang mengawali Liturgi Sabda kita hari ini. Kisah sengsara yang mengikutinya telah memberikan nama dan wajah kepada manusia misterius yang penuh kesengsaraan yang dihina dan dihindari oleh semua orang ini : nama dan wajah Yesus dari Nazaret. Hari ini kita ingin merenungkan Manusia yang tersalib itu secara khusus dalam kapasitas-Nya sebagai purwarupa dan wakil dari semua orang yang dihindari, yang kehilangan hak warisnya, dan yang "tercampakkan" dari bumi, orang-orang yang kita palingkan wajah agar kita tidak melihatnya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 17 April 2019 : TIGA PERMOHONAN YANG DIUCAPKAN YESUS KEPADA BAPA SELAMA SENGSARA-NYA (Mrk 14:32-36a)

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Dalam pekan-pekan ini kita sedang bercermin pada doa “Bapa Kami”. Sekarang, pada sore menjelang Trihari Suci, kita berhenti sejenak pada beberapa kata yang didoakan Yesus, selama sengsara-Nya, kepada Bapa.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 10 April 2019 : TENTANG DOA BAPA KAMI - AMPUNILAH KESALAHAN KAMI SEPERTI KAMI PUN MENGAMPUNI YANG BERSALAH KEPADA KAMI (bdk. 1Yoh 1:8-9)

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi! Hari tidak begitu indah, tetapi bagaimanapun juga selamat pagi!

Setelah memohon rejeki sehari-hari kepada Allah, doa "Bapa Kami" memasuki ranah hubungan kita dengan orang lain. Dan Yesus mengajarkan kita untuk memohon kepada Bapa : "Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah terhadap kami" (Mat 6:12). Sama seperti kita membutuhkan rejeki, kita juga memerlukan pengampunan, dan hal ini setiap hari.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 7 April 2019 : TENTANG PEREMPUAN YANG KEDAPATAN BERZINAH

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Dalam Hari Minggu Prapaskah V ini, liturgi memberi kita kisah tentang perempuan yang berzinah (bdk. Yoh 8:1-11). Di dalamnya ada dua sikap yang bertentangan : sikap para ahli Taurat dan orang-orang Farisi di satu sisi, dan sikap Yesus di sisi lain; para ahli Taurat dan orang-orang Farisi ingin menghukum perempuan itu karena mereka menganggap diri mereka setia menjaga hukum dan penerapannya. Sebaliknya, Yesus ingin menyelamatkannya, karena Ia mempribadikan belas kasih Allah yang, dengan mengampuni, menebus dan dengan mendamaikan, memperbaharui.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 3 April 2019 : PERMENUNGAN BAPA SUCI ATAS KUNJUNGANNYA KE MAROKO

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Hari Sabtu dan Minggu yang lalu saya melakukan perjalanan kerasulan ke Maroko, atas undangan Yang Mulia Raja Mohammed VI. Kepada beliau dan pihak berwenang Maroko lainnya, saya kembali mengucapkan terima kasih atas sambutan yang hangat dan atas segenap kerjasamanya, terutama kepada Raja Mohammed VI : beliau sangat bersaudara, sangat ramah, sangat dekat.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 27 Maret 2019 : TENTANG DOA "BAPA KAMI" - BERILAH KAMI REJEKI PADA HARI INI (MAT 14:15-19)

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Kita melewatkan hari ini dengan membahas bagian kedua dari doa "Bapa Kami", yang di dalamnya kita memaparkan kebutuhan-kebutuhan kita kepada Allah. Bagian kedua ini dimulai dengan sebuah kata yang beraroma setiap hari : rejeki.

Doa Yesus dimulai dengan permohonan yang mendesak, yang sangat mirip dengan permohonan seorang pengemis : "Berilah kami rejeki pada hari ini!". Doa ini berasal dari fakta yang sering kita lupakan, yaitu, bahwa kita bukanlah makhluk yang dapat mencukupi diri, dan bahwa setiap hari kita perlu makan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 24 Maret 2019 : PERUMPAMAAN POHON ARA YANG TIDAK BERBUAH

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Injil Hari Minggu Prapaskah III ini (bdk. Luk 13:1-9) berbicara kepada kita tentang kerahiman Allah dan pertobatan kita. Yesus menceritakan perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah. Seorang menanam pohon ara di kebun anggurnya, dan setiap musim panas, ia pergi dengan penuh keyakinan mencari buah pada pohon itu dan tidak menemukannya, karena pohon itu tidak berbuah. Terdorong oleh kekecewaan yang berulang kali selama tiga tahun yang baik, ia berpikir, oleh karena itu, menebang pohon ara tersebut, untuk menanam pohon lainnya. Maka ia memanggil pengurus kebun anggur dan mengungkapkan ketidakpuasannya, mendesaknya untuk menebang pohon itu, sehingga pohon itu tidak menghabiskan tanah. Namun, pengurus kebun anggur meminta kepada tuannya untuk bersabar dan meminta darinya perpanjangan satu tahun, di mana ia sendiri akan merawat pohon ara tersebut dengan lebih seksama dan penuh perhatian, untuk merangsang produktivitasnya. Ini adalah perumpamaan. Apa yang diwakilkan oleh perumpamaan ini? Siapakah tokoh yang dilambangkan oleh perumpamaan ini?

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 20 Maret 2019 : TENTANG DOA BAPA KAMI - TERJADILAH KEHENDAK-MU (1 TIM 2:1-4)

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Melanjutkan katekese kita tentang doa "Bapa Kami", hari ini kita berfokus pada doa permohonan yang ketiga : "Terjadilah kehendak-Mu". Hal ini harus dibaca sebagai satu kesatuan dengan dua doa permohonan yang pertama - "Dimuliakanlah nama-Mu" dan "Datanglah kerajaan-Mu" - sehingga bersama-sama ketiganya membentuk triptikh (sebuah gambar timbul pada tiga helai papan yang saling menempel berdampingan dan digunakan sebagai altar) : "Dimuliakanlah nama-Mu", "Datanglah kerajaan-Mu", "Terjadilah kehendak-Mu”.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 17 Maret 2019 : TENTANG PERUBAHAN RUPA YESUS MENUNJUKKAN SUDUT PANDANG KRISTIANI TENTANG PENDERITAAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Pada Hari Minggu Prapaskah II ini, liturgi meminta kita untuk merenungkan peristiwa perubahan rupa, yang di dalamnya Yesus menganugerahkan kepada para murid, Petrus, Yakobus, dan Yohanes, rasa kemuliaan kebangkitan : sedikit surga di bumi. Penginjil Lukas (bdk. 9:28-36) menunjukkan kepada kita Yesus yang berubah rupa di atas gunung, yang merupakan tempat terang, lambang yang menakjubkan dari pengalaman tunggal yang disediakan untuk ketiga murid. Mereka naik gunung bersama Sang Guru, mereka melihat-Nya tenggelam dalam doa dan, pada titik tertentu, "rupa wajah-Nya berubah" (ayat 29). Terbiasa melihat-Nya setiap hari dalam pemandangan kemanusiaan-Nya yang sederhana, berhadapan kemegahan yang baru ini, yang juga menyelimuti seluruh pribadi-Nya, mereka tetap tercengang. Musa dan Elia muncul di samping Yesus, berbicara dengan-Nya tentang "keluaran"-Nya yang akan datang, yaitu tentang wafat dan kebangkitan Paskah-Nya. "Keluaran" tersebut mendahului Paskah. Kemudian Petrus berseru, “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini” (ayat 33). Ia ingin agar saat rahmat itu tak berkesudahan!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 Maret 2019 : TENTANG PENCOBAAN YESUS DI PADANG GURUN

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Injil Hari Minggu Prapaskah I ini (bdk. Luk 4:1-13) menceritakan pencobaan Yesus di padang gurun. Setelah berpuasa selama empat puluh hari, Yesus dicobai tiga kali oleh Iblis. Pertama-tama Iblis mengajak Yesus untuk mengubah batu menjadi roti (ayat 3); kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dan menawarkan kepada-Nya agar Ia menjadi Mesias yang berkuasa dan mulia (ayat 5-6); akhirnya, ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah dan mengajak-Nya untuk menjatuhkan diri, untuk mengejawantahkan secara spektakuler kuasa ilahi-Nya (ayat 9-11). Tiga pencobaan tersebut menunjukkan tiga jalan yang selalu ditawarkan dunia, menjanjikan kesuksesan besar, tiga jalan yang memperdaya kita : keinginan besar untuk memiliki sesuatu - memiliki, memiliki, memiliki -, kemuliaan manusiawi, memperalat Allah. Ketiga jalan tersebut akan membawa kita menuju kehancuran.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 6 Maret 2019 : TENTANG DOA "BAPA KAMI" - DATANGLAH KERAJAAN-MU

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Ketika kita berdoa "Bapa Kami", doa permohonan yang kedua yang kita alamatkan kepada Allah adalah "Datanglah Kerajaan-Mu" (Mat 6:10). Setelah berdoa agar dimuliakan nama-Nya, orang percaya mengungkapkan keinginan agar kedatangan Kerajaan-Nya dipercepat. Keinginan ini memancar keluar, boleh dikatakan, dari hati Kristus sendiri, yang memulai khotbah-Nya di Galilea dengan menyatakan : “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!". Kata-kata ini sama sekali bukan sebuah ancaman; sebaliknya, kata-kata tersebut adalah sebuah pemberitaan yang membahagiakan, sebuah pesan sukacita. Yesus tidak ingin menekan orang-orang untuk bertobat dengan menabur ketakutan akan penghakiman Allah yang akan datang atau rasa bersalah atas kejahatan yang dilakukan. Yesus tidak menyebarkan agama : Ia hanya memberitakan. Sebaliknya, apa apa yang Ia bawa adalah Kabar Baik tentang keselamatan, dan darinya, Ia memanggil menuju pertobatan. Kita masing-masing diundang untuk percaya pada "Injil" : Ketuhanan Allah menjadikannya dekat dengan anak-anak-Nya. Inilah Injil : Ketuhanan Allah menjadikannya dekat dengan anak-anak-Nya. Dan Yesus memberitakan hal yang menakjubkan ini, rahmat ini : Allah, Bapa, mengasihi kita, Ia dekat dengan kita dan Ia mengajarkan kita untuk berjalan di jalan kekudusan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 3 Maret 2019 : TENTANG YESUS SEBAGAI PENUNJUK JALAN YANG BIJAKSANA

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Perikop Injil hari ini menyajikan perumpamaan singkat tentang cara hidup bijaksana yang harus diikuti, yang ingin ditunjukkan Yesus kepada para murid-Nya. Dengan pertanyaan, ”Dapatkah orang buta menuntun orang buta?” (Luk 6:39), Ia ingin menekankan bahwa seorang penunjuk jalan tidak dapat buta, tetapi harus melihat dengan baik, yaitu, ia harus memiliki kebijaksanaan untuk menunjukkan jalan dengan bijaksana, kalau tidak, ia beresiko menyebabkan kerugian pada orang-orang yang mempercayakan diri kepadanya. Jadi Yesus meminta perhatian semua orang yang bertanggung jawab atau berwenang terhadap pendidikan : para gembala jiwa, pejabat publik, pembuat undang-undang, guru, orangtua, menasihati mereka untuk menyadari peran mereka yang tidak mencolok mata dan selalu memahami cara yang tepat untuk menuntun orang-orang.

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK MASA PRAPASKAH 2019

"Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan” (Rm 8:19)

Saudara dan saudari yang terkasih,

Setiap tahun, melalui Gereja induk, Allah “memberi kita masa yang penuh sukacita ini ketika kita bersiap untuk merayakan misteri Paskah dengan pikiran dan hati yang diperbarui ... ketika kita mengenang berbagai peristiwa agung yang memberi kita kehidupan baru di dalam Kristus” (Prefasi Masa Prapaskah I). Dengan demikian kita dapat melakukan perjalanan dari Paskah ke Paskah menuju penggenapan keselamatan yang telah kita terima sebagai akibat dari misteri Paskah Kristus - “sebab kita diselamatkan dalam pengharapan” (Rm. 8:24). Misteri keselamatan ini, yang sudah bekerja dalam diri kita selama kehidupan duniawi kita, adalah proses dinamis yang juga merangkul sejarah dan segenap ciptaan. Seperti dikatakan Santo Paulus, “dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan" (Rm 8:19). Dalam sudut pandang ini, saya ingin menawarkan beberapa permenungan untuk menyertai perjalanan pertobatan kita pada Masa Prapaskah yang akan datang ini.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 27 Februari 2019 : TENTANG DOA BAPA KAMI - DIMULIAKANLAH NAMA-MU

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Tampaknya musim dingin akan berlalu dan kita telah kembali ke Lapangan (Santo Petrus). Selamat datang di Lapangan (Santo Petrus)! Dalam perjalanan kita menggali kembali doa "Bapa Kami", hari ini kita akan merenungkan lebih lanjut permohonan pertama dari tujuh permohonan yang ada dalam doa "Bapa Kami", yaitu, "dimuliakanlah nama-Mu".

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 24 Februari 2019 : TENTANG MENGASIHI MUSUH

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini (bdk. Luk 6:27-38) berhubungan dengan titik pokok dan ciri khas kehidupan Kristiani : mengasihi musuh. Kata-kata Yesus jelas : "Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu" (ayat 27-28). Kata-kata Yesus bukanlah manasuka; kata-kata Yesus merupakan sebuah perintah. Kata-kata Yesus bukanlah untuk semua orang tetapi untuk para murid, yang disebut Yesus "kamu yang mendengarkan". Ia tahu betul bahwa mengasihi musuh melampaui berbagai kemungkinan kita, tetapi oleh karena hal ini, Ia menjadi manusia : bukan meninggalkan kita apa adanya, tetapi mengubah rupa kita menjadi manusia yang mampu memiliki kasih yang lebih besar, kasih Bapa-Nya dan Bapa kita. Inilah kasih yang diberikan Yesus kepada orang yang “mendengarkan-Nya”. Dan kemudian menjadikannya mungkin! Bersama Dia, bersyukur atas kasih-Nya, atas Roh-Nya, kita bahkan dapat mengasihi orang yang tidak mengasihi kita, bahkan orang yang mencelakakan kita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 20 Februari 2019 : TENTANG DOA BAPA KAMI - BAPA KAMI YANG ADA DI SURGA

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Audiensi hari ini berlangsung dalam dua tahap. Sebelumnya saya bertemu dengan umat Benevento, yang berada di Lapangan Santo Petrus, dan sekarang bersama kalian. Dan hal ini disebabkan oleh kesigapan Kepala Rumah Tangga Kepausan yang tidak ingin kalian kedinginan. Kita berterima kasih kepada mereka yang melakukan hal ini. Terima kasih.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 17 Februari 2019 : TENTANG SABDA BAHAGIA

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Injil hari ini (bdk. Luk 6:17.20-26) menyajikan kepada kita Sabda Bahagia menurut Santo Lukas. Perikop tersebut diucapkan dengan jelas dalam empat sabda bahagia dan empat peringatan yang dirumuskan dengan ungkapan “celakalah kamu”. Dengan kata-kata yang kuat dan tajam ini, Yesus membuka mata kita dan membuat kita melihat dengan pandangan-Nya, melampaui penampilan lahiriah, dan Ia mengajarkan kita untuk membedakan berbagai situasi dengan iman.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 13 Februari 2019 : TENTANG DOA BAPA KAMI - CARA YESUS BERDOA (LUKAS 10:21-22)

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Kita melanjutkan perjalanan kita untuk belajar berdoa dengan lebih baik seperti yang diajarkan Yesus kepada kita. Kita harus berdoa sebagaimana yang Ia ajarkan kepada kita untuk dilakukan. Ia mengatakan : ketika kamu berdoa, masuklah dalam keheningan kamarmu, mundurlah dari dunia, dan berpalinglah kepada Allah dan memanggil-Nya “Bapa!”. Yesus ingin agar murid-murid-Nya tidak menjadi seperti orang-orang munafik, yang berdoa sambil berdiri tegak di lapangan supaya dikagumi oleh orang banyak (bdk. Mat 6:5). Yesus tidak menginginkan kemunafikan. Doa sejati adalah doa yang tercipta dalam rahasia hati nurani, rahasia hati : tak terselidiki, hanya dapat dilihat oleh Allah - Allah dan saya. Doa sejati menghindari kepalsuan : tidaklah mungkin berpura-pura dengan Allah. Tidaklah mungkin. Di hadapan Allah tidak ada trik yang memiliki kekuatan; Allah mengenal kita sedemikian rupa, telanjang dalam hati nurani, dan kita tidak dapat berpura-pura. Dialog dengan Allah berakar pada sebuah dialog yang hening, seperti temu pandang antara dua orang yang saling mencintai : manusia dan Allah : pandangan kita bertemu, dan inilah doa. Memandang Allah sama dengan membiarkan diri kita dipandang oleh Allah : inilah berdoa. "Tetapi Bapa, aku tidak mengatakan apa-apa ...". Pandanglah Allah dan biarkanlah Ia memandangmu: Itulah doa, doa yang indah!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 Februari 2019 : PANGGILAN YESUS KEPADA PETRUS DAN MUKJIZAT PENANGKAPAN IKAN

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Injil hari ini (bdk. Luk 5:1-11) mengemukakan kepada kita, dalam kisah Lukas, panggilan Santo Petrus. Kita tahu bahwa namanya adalah Simon dan bahwa ia adalah seorang nelayan. Di tepi Danau Galilea, Yesus melihatnya sedang mencuci jala bersama para nelayan lainnya. Ia mendapati Petrus lelah dan kecewa karena malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Dan Yesus mengejutkan Petrus dengan sebuah gerakan tak terduga. Ia naik ke perahu dan memintanya untuk menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai karena Ia ingin berbicara kepada orang-orang dari sana - ada begitu banyak orang. Maka Yesus duduk di perahu Simon dan mengajar orang banyak yang berkumpul di sepanjang pantai. Tetapi kata-kata-Nya membangkitkan kembali kepercayaan bahkan di dalam hati Simon. Kemudian Yesus, dengan "gerak" yang mengejutkan lainnya, mengatakan kepadanya : "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan" (ayat 4).

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA KE-27 (11 Februari 2019)

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:8)

Saudara dan saudari yang terkasih,

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:8). Inilah kata-kata yang diucapkan Yesus ketika mengutus murid-murid-Nya untuk menyebarluaskan Injil, sehingga Kerajaan-Nya dapat  tumbuh melalui berbagai tindakan kasih yang tulus.

Pada Hari Orang Sakit Sedunia yang ke-27 ini, yang akan dirayakan dengan khidmat pada tanggal 11 Februari 2019 di Kalkuta, India, Gereja – sebagai ibu bagi semua anak-anaknya, khususnya anak-anaknya yang lemah – mengingatkan kita bahwa berbagai tindakan murah hati seperti tindakan orang Samaria yang baik adalah sarana-sarana pewartaan Injil yang paling dapat dipercaya. Merawat orang sakit menuntut profesionalisme, kelemahlembutan, sikap polos dan sederhana yang diberikan secara cuma-cuma, seperti sebuah belaian yang membuat orang lain merasa dikasihi.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 6 Februari 2019 : TENTANG KUNJUNGAN BAPA SUCI KE UNI EMIRAT ARAB

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Dalam beberapa hari terakhir, saya melakukan perjalanan kerasulan singkat ke Uni Emirat Arab. Sebuah perjalanan yang singkat tetapi sangat penting yang - setelah pertemuan tahun 2017 di Al-Azhar, Mesir -, telah menulis sebuah halaman baru dalam sejarah dialog antara umat Kristiani dan umat Islam, serta dalam bertanggung jawab untuk mempromosikan perdamaian dunia berlandaskan persaudaraan manusia.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 3 Februari 2019 : TENTANG AWAL PELAYANAN YESUS DI MUKA UMUM

Saudara-saudara terkasih, selamat pagi!

Hari Minggu lalu liturgi menawarkan kepada kita kisah di rumah ibadat di Nazaret, di mana Yesus membaca sebuah nas dari kitab nabi Yesaya, dan pada akhirnya mengungkapkan bahwa nas itu tergenapi "hari ini" dalam diri-Nya. Yesus menghadirkan diri-Nya sebagai salah seorang yang menjadi tempat bersemayamnya Roh Tuhan, yang mengurapi-Nya dan mengutus-Nya untuk melaksanakan perutusan penyelamatan demi kebaikan umat manusia.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 30 Januari 2019 : TENTANG PERJALANAN APOSTOLIK BAPA SUCI KE PANAMA DALAM RANGKA HARI ORANG MUDA SEDUNIA KE-34

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Hari ini saya akan merenungkan bersama kalian perjalanan apostolik yang saya lakukan dalam beberapa hari terakhir ke Panama. Saya mengajak kalian untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan bersama saya, atas rahmat ini yang atas perkenan-Nya diberikan kepada Gereja dan kepada rakyat negara yang terkasih tersebut. Saya berterima kasih kepada Bapak Presiden Panama dan pihak berwenang lainnya, para uskup dan saya berterima kasih kepada seluruh relawan - ada begitu banyak - atas sambutan mereka yang hangat dan ramah, sama seperti yang kita lihat pada orang-orang di mana-mana, yang bergegas menyambut kami dengan penuh iman dan antusiasme. Sesuatu yang sangat mengejutkan saya : orang-orang mengangkat anak-anak dengan tangan mereka seolah-olah mengatakan : "Inilah kebanggaanku, inilah masa depanku!". Dan mereka membuat kita melihat anak-anak tersebut, tetapi ada begitu banyak! Dan para ayah dan para ibu bangga akan anak itu. Saya berpikir : betapa bermartabatnya gerak isyarat ini, dan betapa mengesankannya musim dingin demografis yang sedang kita jalani di Eropa! Anak-anak adalah kebanggaan keluarga. Anak-anak adalah jaminan untuk masa depan. Musim dingin demografis, tanpa anak-anak, menyulitkan!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI RUMAH ORANG SAMARIA YANG BAIK, KOTA PANAMA (PANAMA) 27 Januari 2019

Para sahabat muda yang terkasih,
Para direktur, para rekan kerja dan para pekerja pastoral yang terkasih,
Para sahabat yang terkasih,

Terima kasih, Pastor Domingo, atas kata-kata sambutan Anda atas nama semua yang hadir. Saya sangat menantikan pertemuan dengan Anda ini di sini di Rumah Orang Samaria yang Baik ini, dan juga dengan orang-orang muda lainnya dari Pusat Yohanes Paulus II, Rumah Santo Yosef milik Suster-Suster Cinta Kasih dan "Rumah Kasih" milik Kongregasi Saudara-saudara Yesus dari Kkottonngae. Berada bersama Anda hari ini memberi saya alasan untuk memperbarui harapan. Terima kasih telah memberi saya hal ini.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 20 Januari 2019 : TENTANG MUKJIZAT PADA PERKAWINAN DI KANA

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Hari Minggu lalu, dengan Pesta Pembaptisan Tuhan, secara liturgi kita memulai perjalanan Masa Biasa, Masa untuk mengikuti Yesus dalam kehidupan-Nya di muka umum, dalam perutusan yang untuknya Bapa mengutus-Nya ke dunia. Dalam Injil hari ini (bdk. Yoh 2:1-11) kita menemukan kisah mukjizat pertama Yesus. Tanda-tanda ajaib pertama ini dilakukan di desa Kana di Galilea, selama perayaan perkawinan. Bukan kebetulan upacara perkawinan ditempatkan pada awal kehidupan Yesus di muka umum, karena di dalam diri-Nya Allah telah menikahi umat manusia. Hal ini adalah Kabar Baik, bahkan jika mereka yang mengundang-Nya belum tahu bahwa Putra Allah duduk di meja mereka dan bahwa Ia adalah Sang Mempelai yang sesungguhnya. Faktanya, seluruh misteri tanda di Kana ditemukan pada kehadiran Sang Mempelai Ilahi ini, Yesus, yang mulai menyatakan diri-Nya. Yesus mewujudkan diri-Nya sebagai Sang Mempelai Umat Allah, diwartakan oleh para nabi, dan perwujudan itu mengungkapkan kepada kita kedalaman hubungan yang mempersatukan kita dengan-Nya: perwujudan itu merupakan Perjanjian kasih yang baru.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 16 Januari 2019 : TENTANG DOA BAPA KAMI - ABBA, BAPA (ROMA 8:14-16)

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Melanjutkan katekese tentang "Doa Bapa Kami", hari ini kita akan mulai mengamati bahwa, dalam Perjanjian Baru, doa tersebut tampaknya berusaha untuk sampai pada inti pokoknya, pada titik yang terpusat dalam satu kata : Abba, Bapa.

Kita telah mendengar apa yang ditulis Santo Paulus dalam Surat kepada jemaat di Roma: “Kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: 'ya Abba, ya Bapa!'” (8:15). Dan jemaat di Galatia, Rasul Paulus mengatakan : "Karena kamu adalah putra, maka Allah telah menyuruh Roh Putra-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (Gal 4:6). Dua kali di sana dimohonkan doa yang sama, yang di dalamnya seluruh kebaruan Injil dipadatkan. Setelah mengenal Yesus dan mendengarkan khotbah-Nya, orang Kristiani tidak lagi dapat menganggap Allah sebagai penguasa yang lalim yang menakutkan; ia tidak lagi takut tetapi lebih merasakan kepercayaan kepada-Nya berkembang di dalam hatinya: ia dapat berbicara kepada Sang Pencipta, memanggil-Nya “Bapa”. Ungkapan ini sangat penting bagi umat Kristiani sehingga sering dilestarikan dalam bentuk aslinya: "Abba".

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 13 Januari 2019 : TENTANG PESTA PEMBAPTISAN TUHAN

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Hari ini, yang secara liturgi merupakan akhir Masa Natal, kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Liturgi memanggil kita untuk semakin sepenuhnya mengenal Yesus, yang kelahiran-Nya kita rayakan beberapa saat yang lalu. Dan, oleh karena itu, Injil (bdk. Luk 3:15-16.21-22) menggambarkan dua unsur penting : hubungan Yesus dengan orang-orang, dan hubungan Yesus dengan Bapa.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 9 Januari 2019 : TENTANG DOA BAPA KAMI - KETOKLAH, MAKA PINTU AKAN DIBUKAKAN BAGIMU (LUKAS 11:9-13)

Katekese hari ini mengacu pada Injil Lukas. Pada kenyataannya, terutama Injil inilah, sejak kisah masa kanak-kanak, yang menggambarkan sosok Kristus dalam suasana yang kental dengan doa. Di dalamnya terkandung tiga madah pujian yang menandai doa Gereja setiap hari: Benedictus, Magnificat, dan Nunc dimittis. Dan dalam katekese tentang doa Bapa Kami ini, kita melanjutkan, kita melihat Yesus sebagai seorang pendoa. Yesus berdoa. Dalam kisah Lukas, misalnya, peristiwa Transfigurasi terjadi saat berdoa. Dikatakan demikian : “Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan” (9:29). Namun, setiap langkah kehidupan Yesus seakan-akan didorong oleh tiupan nafas Roh Kudus, yang menuntun-Nya dalam semua tindakan-Nya. Yesus berdoa dalam Pembaptisan di Sungai Yordan, Ia berbicara dengan Bapa sebelum mengambil keputusan yang paling penting; Ia sering mengundurkan diri untuk berdoa, Ia mendoakan Petrus yang sejak itu akan segera menyangkal-Nya. Ia mengatakan demikian : “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu" (Luk 22:31-32). Hal ini menghibur : mengetahui bahwa Yesus mendoakan kita, Ia mendoakan saya, kita masing-masing supaya iman kita jangan gugur. Dan hal ini benar. "Tetapi Bapa, apakah Ia masih melakukannya? Ia masih melakukannya, di hadapan Bapa. Yesus mendoakan saya. Kita masing-masing dapat mengatakan hal ini. Dan kita juga dapat mengatakan kepada Yesus: "Engkau sedang mendoakanku, teruslah berdoa seperti yang aku butuhkan", - jadi, beranikanlah diri.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 Januari 2019 : HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN MEMBUKA KEBARUAN KITA TERHADAP YESUS

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Hari ini, Hari Raya Kenaikan Tuhan adalah pesta pengejawantahan Yesus, yang dilambangkan dengan terang. Terang ini dijanjikan dalam teks-teks nubuat para nabi : terang dijanjikan. Sebenarnya, Yesaya mengalamatkannya kepada Yerusalem dengan kata-kata ini, ”Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu” (60:1). Undangan nabi tersebut - untuk bangkit karena terang akan datang - tampak mengejutkan, karena undangan tersebut ditempatkan setelah pembuangan yang lalim dan sejumlah besar kekesalan yang telah dialami umat.