Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 November 2019 : TENTANG KEHIDUPAN ALAM BAKA


Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Perikop Injil hari ini (bdk. Luk 20:27-38) memberi kita sebuah ajaran Yesus yang luar biasa tentang kebangkitan orang mati. Yesus ditanyai oleh beberapa orang Saduki, yang tidak percaya akan kebangkitan dan memancing-Nya dengan pertanyaan yang memojokkan : dalam kebangkitan, istri siapakah seorang perempuan yang bersuamikan tujuh bersaudara dan masing-masing suaminya meninggal secara berturutan? Yesus tidak jatuh ke dalam perangkap dan menjawab bahwa mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu "tidak menikah atau dikawinkan, karena mereka tidak bisa mati lagi, karena mereka sama dengan para malaikat dan adalah anak-anak Allah" (ayat 35-36). Yesus menjawab demikian.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 6 November 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (17:22-23) - BAGIAN 14


Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Kita melanjutkan “perjalanan” kita bersama Kisah Para Rasul. Setelah berbagai pencobaan yang dialaminya di Filipi, Tesalonika, dan Berea, Paulus mendarat di Atena, tepatnya di ibukota Yunani (bdk. Kis 17:15). Kota ini, yang hidup dalam bayang-bayang kejayaan kuno meskipun mengalami kemunduran politik, masih memiliki keunggulan budaya. Di sini “semangat” Rasul Paulus terpicu dalam dirinya ketika ia melihat bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala” (Kis 17:16). Namun, "dampak" dunia kafir ini bukannya membuatnya melarikan diri, malahan mendorongnya untuk membuat jembatan untuk berdialog dengan budaya itu.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 3 November 2019 : TENTANG PERTEMUAN YESUS DENGAN ZAKHEUS, SANG PEMUNGUT CUKAI


Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Bacaan Injil hari Ini (bdk. Luk 19:1-10) meminta kita mengikuti Yesus yang, dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, berhenti di Yerikho. Di antara kerumunan orang banyak yang menerima-Nya, ada seorang yang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, yaitu orang-orang Yahudi yang memungut pajak untuk kas Kekaisaran Romawi. Ia kaya, tetapi bukan karena penghasilan yang jujur, tetapi karena ia meminta "uang sogokan", dan hal ini menambah penghinaan terhadapnya. Zakheus "berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu" (ayat 3); ia tidak ingin bertemu dengan-Nya, tetapi ia ingin tahu; ia ingin melihat kepribadian yang mengatakan hal-hal yang luar biasa yang telah ia dengar. Ia penasaran. Dan karena bertubuh pendek "untuk melihat Yesus" (ayat 4) ia memanjat pohon. Ketika Yesus datang ke sana, Ia melihat ke atas dan melihat Zakheus (bdk. ayat 5).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 November 2019 : TENTANG HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS - KEKUDUSAN MERUPAKAN KARUNIA DAN PANGGILAN


Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Hari Raya Semua Orang Kudus hari ini mengingatkan kita bahwa kita semua dipanggil menuju kekudusan. Orang-orang kudus sepanjang masa, yang hari ini kita rayakan bersama-sama bukan hanya lambang, manusia yang jauh, tidak terjangkau. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang hidup berpijak di tanah; mereka mengalami kerja keras setiap hari, dengan keberhasilan dan kegagalannya, dalam Tuhan menemukan kekuatan untuk senantiasa bangkit kembali dan melanjutkan perjalanan. Yang dapat dipahami dari hal ini yakni kekudusan adalah sebuah tujuan, yang tidak dapat dicapai hanya dengan kekuatan sendiri, tetapi merupakan buah rahmat Allah dan jawaban bebas kita terhadapnya. Karenanya, kekudusan adalah karunia dan panggilan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 30 Oktober 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (16:9-34) - BAGIAN 13


Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Membaca Kisah Para Rasul kita dapat melihat bagaimana Roh Kudus adalah sosok utama perutusan Gereja : Dialah yang menuntun jalan para pewarta Injil, menunjukkan kepada mereka cara untuk mengikutinya.

Kita melihat hal ini dengan jelas pada saat Rasul Paulus, yang tiba di Troas, menerima sebuah penglihatan. Seorang Makedonia membujuknya, ”Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!" (Kis. 16:9). Orang-orang Makedonia Utara bangga akan hal ini, mereka sangat bangga telah memanggil Paulus sehingga Pauluslah yang mewartakan Yesus Kristus <kepada mereka>. Saya ingat sangat banyak orang-orang baik yang menerima saya dengan sangat hangat : orang-orang memelihara iman yang diwartakan Paulus kepada mereka! Rasul Paulus tidak ragu-ragu dan pergi ke Makedonia, yakin bahwa sebenarnya, Allahlah yang mengutusnya, dan ia mendarat di Filipi, “suatu kota perantauan orang Roma" (Kis 16:12) melalui Egnatia, untuk mewartakan Injil. Paulus berhenti di sana selama beberapa hari. Tiga peristiwa menjadi ciri persinggahannya di Filipi, selama tiga hari ini : tiga peristiwa penting. 1) penginjilan dan baptisan Lidia dan keluarganya; 2) penangkapan yang ia alami bersama Silas, setelah mengusir seorang hamba perempuan yang dieksploitasi oleh para tuannya; 3) pertobatan dan baptisan kepala penjara dan keluarganya. Marilah kita melihat tiga episode dalam kehidupan Paulus ini.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 27 Oktober 2019 : TENTANG PENUTUPAN SINODE PARA USKUP WILAYAH AMAZON


Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Misa yang dirayakan pagi ini di Basilika Santo Petrus merupakan penutupan Sidang Khusus Sinode Para Uskup Wilayah Amazon. Bacaan pertama, dari Kitab Putera Sirakh, mengingatkan kita tentang titik awal perjalanan ini : permohonan orang miskin yang “menembus awan”, karena “Allah mendengarkan doa orang-orang yang tertindas” (Sir 35:21,17). Jeritan orang miskin, bersama dengan jeritan bumi, telah mencapai kita dari Amazon. Setelah tiga pekan ini, kita tidak bisa berpura-pura tidak mendengarnya. Suara-suara orang miskin, bersama-sama dengan suara-suara dari begitu banyak orang di dalam dan di luar Sidang Sinode - para gembala, kaum muda, para ilmuwan - memacu kita untuk tidak tetap acuh tak acuh. Kita sering mendengar ungkapan "nanti sudah terlambat" : itu tidak bisa tetap merupakan slogan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 23 Oktober 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (15:7-11) - BAGIAN 12


Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Kitab Kisah Para Rasul menceritakan bahwa Gereja Yerusalem menerima Santo Paulus, setelah perjumpaan dengan Yesus yang mengubahnya, <dan> berterima kasih kepada Barnabas yang telah menjadi penengah. Namun, karena dimusuhi oleh beberapa orang, ia terpaksa pergi ke Tarsus, kota asalnya, tempat Barnabas bertemu dengannya untuk dilibatkan dalam perjalanan panjang Sabda Allah. Dapat dikatakan bahwa Kitab Kisah Para Rasul, yang kita ulas dalam katekese-katekese ini, adalah kitab perjalanan panjang Sabda Allah : Sabda Allah diwartakan, dan diwartakan di mana-mana. Perjalanan ini dimulai setelah penganiayaan yang hebat (bdk. Kis 11:19); tetapi penganiayaan tersebut, alih-alih menyebabkan kemunduran dalam penginjilan, malahan menjadi kesempatan untuk memperluas ladang tempat menyebarkan benih Sabda yang baik. Umat Kristiani tidak takut. Mereka harus melarikan diri, tetapi mereka melarikan diri bersama Sabda Allah, dan menyebarkan Sabda sedikit ke mana-mana.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 20 Oktober 2019 : TENTANG HARI MINGGU MISI SEDUNIA


Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Bacaan kedua liturgi hari ini mengemukakan kepada kita nasihat yang ditujukan Rasul Paulus kepada Timotius rekan kerjanya yang setia : “Beritakanlah Sabda, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2Tim 4:2). Nada yang tulus : Timotius harus merasakan dirinya bertanggung jawab untuk memberitakan Sabda, dengan habis-habisan memikul tanggung jawab, yang tidak mengecualikan ambisi keberadaan apapun. Kepekaan perasaan Santo Paulus ini seharusnya menjadi kepekaan semua murid Yesus, yang dipanggil untuk menjadi saksi Injil di zaman kita ini, dalam umat manusia ini yang kadang-kadang saling bertentangan tetapi dikasihi tanpa batas oleh Allah.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 16 Oktober 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (10:34-36) - BAGIAN 11


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Perjalanan Injil di dunia, yang diceritakan oleh Santo Lukas dalam Kisah Para Rasul, disertai dengan daya cipta Allah yang luar biasa, yang diwujudkan dengan cara yang menakjubkan. Ia ingin anak-anak-Nya mengatasi setiap pembedaan untuk membuka diri mereka kepada universalitas keselamatan. Inilah tujuannya : mengatasi pembedaan dan membuka diri terhadap universalitas keselamatan karena Allah ingin menyelamatkan semua orang. Orang-orang yang dilahirkan kembali dari air dan Roh - yang dibaptis - dipanggil untuk keluar dari diri mereka sendiri dan membuka diri terhadap sesama, hidup berdekatan, gaya hidup bersama, yang mengubah setiap hubungan antarpribadi menjadi pengalaman persaudaraan (bdk. Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 87).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 9 Oktober 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (9:3-6) - BAGIAN 10


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Dimulai dari kisah perajaman Stefanus, seorang tokoh muncul yang, di samping sosok Petrus, adalah sosok yang paling terkemuka dan tajam dalam Kisah Para Rasul : sosok "seorang muda yang bernama Saulus" (Kis 7:58). Ia digambarkan pada awalnya sebagai orang yang menyetujui kematian Stefanus dan ingin membinasakan Gereja (bdk. Kis 8:3); tetapi kemudian ia menjadi alat yang dipilih oleh Allah untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain (bdk. Kis 9:15;22:21;26:17).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 Oktober 2019 : TENTANG IMAN


Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Perikop Injil hari ini (bdk. Luk 17:5-10) menyajikan tema iman, yang dikedepankan oleh permohonan para murid : " "Tambahkanlah iman kami!" (ayat 5). Doa yang indah, yang harus kita doakan sepanjang hari : “Tuhan, tambahkanlah iman kami!". Yesus menjawab dengan dua gambaran : biji sesawi dan hamba yang bersedia. "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu” (ayat 6). Pohon ara adalah pohon yang kuat, berakar kuat di bumi dan tahan terhadap angin. Oleh karena itu, Yesus ingin membuatnya dipahami bahwa iman, bahkan sekalipun kecil, bahkan dapat memiliki kekuatan membantun pohon ara; dan kemudian menanamnya di laut, yang merupakan sesuatu yang bahkan lebih mustahil : namun, tidak ada yang mustahil bagi orang yang beriman, karena ia tidak mengandalkan kekuatannya sendiri tetapi kekuatan Allah, yang dapat melakukan segalanya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 2 Oktober 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (Kis 8:5-8) – BAGIAN 9


Saudara-saudari terkasih!

Setelah kemartiran Stefanus, "pacuan" Sabda Allah tampaknya mengalami kemunduran, mengingat wabah "penganiayaan yang hebat terhadap Gereja di Yerusalem" (Kis 8:2). Setelah ini, para Rasul tinggal di Yerusalem, sementara umat Kristiani lainnya tersebar di tempat-tempat lain di Yudea dan di Samaria. Dalam kitab Kisah Para Rasul, penganiayaan muncul sebagai keadaan tetap dari kehidupan para murid, sesuai dengan apa yang dikatakan Yesus : "Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu" (Yoh 15:20). Namun, bukannya memadamkan api penginjilan, bahan bakar penganiayaan bahkan semakin menyalakannya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 25 September 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (6:8-10.15) – BAGIAN 8


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Kita terus mengikuti sebuah perjalanan melalui Kitab Kisah Para Rasul : perjalanan Injil di dunia. Santo Lukas menunjukkan dengan kenyataan yang luar biasa baik keberhasilan perjalanan ini maupun munculnya beberapa masalah di jantung komunitas Kristiani. Sejak awal, selalu ada masalah. Bagaimana kita dapat menyelaraskan perbedaan yang hidup bersama di dalamnya tanpa terjadinya pertentangan dan perpecahan? Komunitas itu tidak hanya menyambut orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani, yaitu, orang-orang dari diaspora, orang-orang bukan Yahudi, dengan budaya dan kepekaan mereka masing-masing serta dengan agama lain. Dewasa ini, kita mengatakan "orang-orang kafir." Dan ini disambut. Kehadiran ini menentukan keseimbangan yang rapuh dan genting, dan, dalam menghadapi kesulitan-kesulitan "lalang" muncul, dan apakah lalang yang terburuk yang menghancurkan sebuah komunitas? Lalang sungut-sungut, lalang pergunjingan : orang-orang Yunani bersungut-sungut oleh karena kurangnya perhatian komunitas terhadap para janda mereka.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 22 September 2019 : BELAJAR DARI KECERDIKAN BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Perumpamaan dalam Bacaan Injil hari Minggu ini (bdk. Luk 16:1-13) memiliki tokoh utama bendahara yang cerdik dan tidak jujur yang, dituduh telah menghamburkan milik tuannya, akan segera diberhentikan. Dalam situasi yang sulit ini, ia tidak menuduh, ia tidak mencari pembenaran atau membiarkan dirinya berkecil hati, tetapi ia memikirkan jalan keluar untuk memastikan bagi dirinya sendiri masa depan yang tenang. Pada awalnya, ia bereaksi dengan jernih, mengakui keterbatasannya : “Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu (ayat 3); lalu ia bertindak dengan cerdik, mencuri dari tuannya untuk yang terakhir kalinya. Bahkan, ia memanggil orang-orang yang berhutang kepada tuannya dan mengurangi hutang yang mereka miliki, guna menjadikan mereka teman-temannya dan kemudian mendapat balasan dari mereka. Inilah berteman dengan korupsi dan mendapatkan rasa terima kasih dengan korupsi sebagaimana, sayangnya, biasanya hari ini.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 18 September 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (5:34-35.38-39) – BAGIAN 7


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Kita melanjutkan katekese tentang Kisah Para Rasul. Menghadapi larangan orang-orang Yahudi untuk mengajar dalam nama Kristus, dengan berani Petrus dan para Rasul menanggapi bahwa mereka tidak sudi menaati orang-orang yang ingin menghentikan perjalanan Injil di dunia. Dengan demikian Dua Belas Rasul menunjukkan bahwa mereka memiliki "ketaatan iman" yang kemudian ingin mereka bangkitkan dalam diri semua manusia (bdk. Rm 1:5). Faktanya, sejak Pentakosta mereka bukan lagi manusia “sendirian”. Mereka mengalami sinergi khusus, yang membuat mereka tidak terpusat pada diri mereka sendiri dan membuat mereka berkata : “kami dan Roh Kudus” (Kis 5:32) atau "keputusan Roh Kudus dan keputusan kami” (Kis 15:28). Mereka merasa tidak bisa mengatakan hanya "aku", mereka adalah manusia yang tidak berpusat pada diri mereka sendiri. Dalam persekutuan yang kuat ini, para Rasul tidak membiarkan diri mereka diintimidasi oleh siapa pun. Mereka memiliki keberanian yang mengesankan! Marilah kita berpikir bahwa hal ini bersifat pengecut : mereka semua melarikan diri, mereka melarikan diri ketika Yesus ditangkap. Namun, dari bersifat pengecut mereka menjadi begitu berani. Mengapa? <Mereka menjadi berani> karena Roh Kudus menyertai mereka. Hal yang sama terjadi pada diri kita : jika kita memiliki Roh Kudus di dalam diri kita, kita akan memiliki keberanian untuk maju, keberanian untuk memenangkan begitu banyak perkelahian, bukan oleh diri kita sendiri tetapi oleh Roh Kudus yang bersama kita. Mereka tidak menarik mundur pawai mereka sebagai para saksi yang pemberani dari Yesus yang bangkit, sebagai para martir sepanjang masa, termasuk masa kita. Para martir memberikan nyawa mereka, mereka tidak menyembunyikan bahwa mereka adalah umat kristiani. Marilah kita pikirkan, beberapa tahun yang lalu - hari ini juga ada begitu banyak - tetapi marilah kita pikirkan empat tahun yang lalu, umat Gereja Kristen Ortodoks Koptik, para pekerja sejati, di pantai Libya : mereka semua digorok, tetapi kata terakhir yang mereka ucapkan adalah “Yesus, Yesus”. Mereka tidak menjual iman, karena Roh Kudus menyertai mereka. Inilah para martir dewasa ini!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 September 2019 : KASIH ALLAH YANG TAK TERBATAS UNTUK ORANG-ORANG BERDOSA

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-32) dimulai dengan beberapa orang yang bersungut-sungut terhadap Yesus, melihat Ia berada di tengah-tengah para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, dan mengatakan dengan hinaan : "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka" (ayat 2). Kenyataannya kalimat ini mengungkapkan dengan sendirinya pemberitaan yang luar biasa. Yesus menyambut orang-orang berdosa dan makan bersama-sama mereka. Itulah yang terjadi pada kita di setiap Misa, di setiap gereja : Yesus dengan senang hati menerima kita di meja-Nya, di mana Ia mempersembahkan diri-Nya untuk kita. Kalimat inilah yang dapat kita tulis di pintu-pintu gereja kita: “Yesus menyambut orang-orang berdosa di sini dan mengundang mereka ke meja-Nya”. Dan, Tuhan, sedang menjawab mereka yang bersungut-sungut terhadap-Nya, menceritakan kepada mereka tiga perumpamaan yang luar biasa, yang menunjukkan kecenderungan-Nya terhadap orang-orang yang merasa jauh daripada-Nya. Sebaiknya hari ini kamu masing-masing mengambil Injil, Injil Lukas, bab 15, dan membaca tiga perumpamaan tersebut. Ketiga perumpamaan tersebut sangat luar biasa.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 11 September 2019 : TENTANG PERJALANAN BAPA SUCI KE MOZAMBIK, MADAGASKAR DAN MAURITIUS


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Tadi malam saya kembali dari perjalanan apostolik saya ke Mozambik, Madagaskar, dan Mauritius. Saya bersyukur kepada Allah, yang memperkenankan saya untuk melaksanakan rencana perjalanan ini sebagai peziarah perdamaian dan harapan, serta saya kembali mengucapkan terima kasih kepada pemerintah masing-masing negara tersebut, juga kepada pihak keuskupan, yang mengundang saya dan menyambut saya dengan begitu penuh kasih sayang dan perhatian, serta para duta besar apostolik, yang telah bekerja begitu banyak untuk perjalanan ini.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 September 2019 : TENTANG KERENDAHAN HATI DAN KEMURAHAN HATI TANPA PAMRIH


Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Pertama-tama saya minta maaf atas keterlambatan ini, tetapi ada sebuah insiden: Saya terjebak di lift selama 25 menit! Ada penurunan tegangan dan lift terhenti. Syukur kepada Allah, petugas pemadam kebakaran datang - saya berterima kasih banyak kepada mereka! - dan, setelah 25 menit bekerja, mereka berhasil membuat lift berjalan - tepuk tangan untuk para petugas pemadam kebakaran!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 28 Agustus 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (Kis 5:12,15-16) – BAGIAN 6


Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Jemaat gerejawi yang dilukiskan dalam Kisah Para Rasul, jika hidup para Rasul benar-benar berasal dari kekayaan yang kecenderungannya ditentukan Tuhan - Tuhan itu murah hati! -, mengalami pertumbuhan numerik dan lonjakan besar, meskipun ada berbagai serangan dari luar. Untuk menunjukkan kepada kita daya hidup ini, Lukas juga menunjukkan kepada kita tempat-tempat penting, seperti Serambi Salomo (bdk. Kis 5:12), tempat pertemuan bagi orang-orang percaya. Serambi Salomo adalah ruang terbuka yang berfungsi sebagai tempat berteduh, tetapi juga sebagai tempat pertemuan dan tempat kesaksian. Sebuah tempat yang dikunjungi Yesus selama pesta-pesta besar (bdk. Yoh 10:23); tempat orang lumpuh yang disembuhkan berjalan di sebelah Petrus dan Yohanes serta tempat Petrus mewartakan Injil kepada orang-orang, menjelaskan bahwa iman dalam nama Yesus memungkinkan penyembuhan itu (bdk. Kis 3:11). Oleh karena itu, Serambi Salomo ini adalah tempat peristiwa Kristus disampaikan melalui perkataan, yang menggerakkan hati serta juga dapat menyentuh dan menyembuhkan tubuh. Faktanya, Lukas bersikeras pada tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban yang menyertai perkataan para Rasul dan perhatian khusus terhadap orang-orang sakit yang mereka layani.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 25 Agustus 2019 : MEMASUKI PINTU YANG SESAK MENUJU SURGA


Saudara-saudari yang terkasih,

Bacaan Injil hari Ini (Luk 13:22-30), memaparkan kepada kita Yesus lewat, mengajar melalui kota-kota dan desa-desa, bepergian menuju Yerusalem, di mana Ia tahu bahwa Ia harus wafat di kayu salib demi keselamatan seluruh manusia. Dalam skenario ini, seorang mengajukan pertanyaan kepada Tuhan, mengatakan : "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?" (ayat 23). Masalah tersebut menjadi perdebatan pada saat itu, dan ada berbagai cara untuk menafsirkan Kitab Suci, dalam hal ini. Tetapi Yesus menjungkirbalikkan pertanyaan itu - karena lebih berfokus pada mutunya : “Sedikit sajakah orang? ... ” - dan sebagai gantinya menempatkan jawaban pada tingkat tanggung jawab, mengundang kita untuk menggunakan waktu sekarang dengan baik. Pada kenyataannya, Ia berkata : “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (ayat 24).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 21 Agustus 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (Kis 4:32-35) – BAGIAN 5


Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Umat Kristiani lahir dari pencurahan Roh Kudus yang berlimpah dan tumbuh berkat 'ragi' berbagi di antara saudara-saudari di dalam Kristus. Ada dinamika kesetiakawanan yang membangun Gereja sebagai keluarga Allah, di mana pusatnya adalah pengalaman koinonia. Apa artinya ini, kata yang asing ini? Kata Yunani ini berarti "menyatukan", "menempatkan bersama" menjadi sebuah umat, bukan mengasingkan diri. Inilah pengalaman umat Kristian perdana, yaitu, “berbagi”, “berkomunikasi,” “berpartisipasi”, bukan mengasingkan diri. Dalam Gereja, asal mulanya, koinonia ini, umat ini, terutama merujuk pada partisipasi dalam tubuh dan darah Kristus. Kita memasuki persekutuan dengan Yesus dan dari persekutuan dengan Yesus ini, kita tiba pada persekutuan dengan saudara-saudari kita. Dan persekutuan dengan tubuh dan darah Kristus ini, pada Misa Kudus, diterjemahkan menjadi kesatuan persaudaraan, dan oleh karena itu juga terhadap apa yang paling sulit bagi kita : mengumpulkan barang-barang dan uang kolekte untuk mendukung Gereja Induk di Yerusalem (Rm 12:13; 2Kor 8–9) dan gereja-gereja lain. Jika kamu ingin tahu apakah kamu orang Kristiani yang baik, kamu harus berdoa, bersekutu, dan menerima sakramen rekonsiliasi. Tetapi tanda bahwa hatimu telah bertobat, adalah ketika pertobatan tiba di sakumu masing-masing, menyentuh minat kita masing-masing : inilah tempat kita melihat apakah seseorang bermurah hati dengan sesamanya, jika mereka membantu orang-orang yang paling lemah, orang-orang yang paling miskin: Ketika pertobatan tiba di sana, kamu yakin itulah pertobatan sejati. Jika tetap hanya dalam kata-kata, itu bukan pertobatan yang baik.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 18 Agustus 2019 : PERKENANKAN API YESUS MENGUBAH HATI KITA, MEMPERBARUI HIDUP KITA


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Dalam Bacaan Injil hari ini (Luk 12:49-53), Yesus memperingatkan para murid bahwa waktu untuk mengambil keputusan telah tiba. Kedatangan-Nya ke dunia, pada kenyataannya, bertepatan dengan waktu untuk membuat pilihan yang menentukan : memilih Injil tidak dapat ditunda. Dan untuk lebih memahami panggilan-Nya, Ia menggunakan gambaran api yang dibawa-Nya ke bumi. Karena itu, Ia berkata: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!". Kata-kata ini dimaksudkan untuk membantu para murid meninggalkan sikap malas, tidak peduli, acuh tak acuh, dan ketertutupan, untuk menyambut api kasih Allah; kasih yang, seperti yang diingatkan oleh Santo Paulus, “telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus" (Rm. 5:5). Karena Roh Kudus yang membuat kita mengasihi Allah dan membuat kita mengasihi sesama kita; Roh Kuduslah yang kita miliki di dalam diri kita.

SURAT PAUS FRANSISKUS UNTUK PARA IMAM DALAM RANGKA 160 TAHUN WAFATNYA SANTO PENYEMBUH ASAL ARS, SANTO YOHANES MARIA VIANNEY


Kepada para imam saudaraku

Saudara-saudara yang terkasih,

Seratus enam puluh tahun telah berlalu sejak wafatnya Santo Penyembuh asal Ars, yang diberikan oleh Paus Pius XI sebagai pelindung para imam paroki di seluruh dunia.[1] Sehubungan dengan hal ini, pada hari pestanya, saya menulis surat ini tidak hanya untuk para imam paroki tetapi juga untuk kamu semua, para imam saudaraku, yang secara diam-diam “meninggalkan segalanya” untuk membenamkan diri dalam kehidupan sehari-hari komunitasmu. Seperti Santo Penyembuh asal Ars, kamu melayani "di parit-parit", sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari (bdk. Mat 20:12), menghadapi berbagai situasi yang tak berujung dalam upayamu untuk memberi perhatian dan menemani umat Allah. Saya ingin mengatakan sepatah kata kepada kamu masing-masing yang, sering tanpa gembar-gembor dan dengan biaya pribadi, di tengah keletihan, kelemahan dan kesedihan, melaksanakan perutusan pelayananmu demi Allah dan demi umatmu. Meskipun berbagai kesulitan dalam perjalanan, kamu sedang menulis halaman-halaman terbaik kehidupan imami.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Agustus 2019 : TENTANG HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Dalam Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga pada hari ini, Santa Perawan Maria berdoa, mengatakan : "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk 1:46-47). Marilah kita melihat kata kerja dari doa ini : memuliakan dan bergembira. Dua kata kerja : "memuliakan" dan "bergembira". Kita bergembira ketika sesuatu yang begitu indah terjadi sehingga jiwa kita tidak cukup hanya bergembira, tetapi kita ingin mengungkapkan kebahagiaan dengan segenap raga kita : lalu kita bergembira. Maria bergembira oleh karena Allah. Siapa tahu jika itu terjadi pada diri kita juga, kita bergembira karena Tuhan : kita bergembira karena hasil yang diperoleh, karena kabar baik, tetapi hari ini Maria mengajarkan kita untuk bergembira dalam Allah. Mengapa? Karena Ia - Allah - melakukan "perbuatan-perbuatan besar" (ayat 49).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 Agustus 2019 : TENTANG HAMBA YANG SETIA DAN BERJAGA-JAGA


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Dalam Bacaan Injil hari ini (Luk 12:32-48), Yesus memanggil para murid-Nya untuk selalu berjaga-jaga. Mengapa? Untuk merenggut perjalanan Allah dalam kehidupan kita, karena Allah terus menerus memasuki kehidupan kita. Ia menunjukkan cara-cara untuk berjaga-jaga ini dengan baik : "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap bernyala" (ayat 35). Inilah caranya. Pertama-tama «hendaklah pinggangmu tetap berikat», sebuah gambaran yang mengingatkan sikap seorang peziarah, siap untuk berangkat. Bukan masalah berakar pada tempat tinggal yang nyaman dan meyakinkan, tetapi menyangkal diri, bersikap terbuka, dengan kesederhanaan dan kepercayaan terhadap lewatnya Allah dalam kehidupan kita, terhadap kehendak Allah, yang menuntun kita menuju tujuan berikutnya. Allah selalu berjalan bersama kita dan sering menuntun kita, membimbing kita, jadi kita tidak melakukan kesalahan dalam perjalanan yang sulit ini. Faktanya, orang-orang yang percaya pada Allah tahu betul bahwa kehidupan iman bukanlah sesuatu yang diam, tetapi bergerak! Kehidupan iman adalah perjalanan yang berkesinambungan, menuju tahap-tahap yang sungguh baru, yang ditunjukkan Tuhan sendiri, hari demi hari. Karena Ia adalah Tuhan yang mengejutkan, Tuhan yang membaharui, membaharui secara nyata.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 7 Agustus 2019 : MENJADI SARANA PENYEMBUHAN ALLAH SEPERTI PARA RASUL


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Dalam Kisah Para Rasul, pemberitaan Injil tidak hanya mengandalkan kata-kata, tetapi juga tindakan nyata yang menjadi kesaksian akan kebenaran Kabar Baik. “Banyak mujizat dan tanda” (Kis 2:43) yang dilakukan oleh para Rasul meneguhkan perkataan mereka dan menunjukkan bahwa mereka bertindak atas nama Kristus. Jadi, para rasul menjadi pengantara dan Kristus “turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya" (Mrk 16:20). Banyak tanda, banyak mukjizat yang dilakukan para Rasul memang merupakan pengejawantahan keilahian Yesus.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 4 Agustus 2019 : HARTA YANG SESUNGGUHNYA BERADA DI SURGA


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Injil hari Ini (Luk 12:13-21) dibuka dengan adegan seseorang yang menyeruak di tengah orang banyak dan meminta Yesus untuk memberikan jawaban yuridis tentang harta warisan keluarga. Tetapi Yesus tidak menanggapinya, dalam jawaban-Nya, dan mendesak kita untuk menjauhi ketamakan, yaitu ketamakan akan harta milik. Untuk mengalihkan perhatian para pendengar-Nya dari pencarian kekayaan yang membabi-buta ini, Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang bodoh yang merasa aman karena memiliki tahun yang luar biasa dan memiliki harta kekayaan yang menumpuk. Sebaiknya kalian membacanya hari ini; Injil Santo Lukas bab 12 ayat 13. Perumpamaan yang indah tersebut mengajarkan kita banyak hal. Kisah itu menjadi hidup ketika muncul kontras antara apa yang direncanakan orang kaya tersebut untuk dirinya dan apa yang dijanjikan Tuhan kepadanya. Orang kaya menempatkan tiga pertimbangan di hadapan jiwanya, di hadapan dirinya : menumpuk banyak benda, bertahun-tahun tampaknya benda-benda ini meyakinkannya, tentram dan sejahtera. Namun, sabda Tuhan yang ditujukan kepadanya, meluluhlantahkan rancangan-rancangannya. Alih-alih bertahun-tahun, Allah menunjukkan kesegeraan "malam ini; kamu akan meninggal malam ini”; di tempat "kenikmatan hidup", ia diperkenalkan dengan "pemberian hidup; kamu akan menyerahkan hidupmu kepada Allah”, dengan penghakiman yang setimpal. Orang kaya itu mulai menemukan sendiri sarkasme yang dapat ditemukan dalam kalimat pada ayat 20. Kita mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh sarkasme tersebut : “Dan apa yang mereka warisi; banyak pergumulan keluarga. Dan begitu banyak orang, kita semua tahu beberapa cerita, yang pada saat kematian, dimulai : sang cucu, sang cucu datang untuk melihat : "Tetapi apa bagian saya?", dan mengambil semuanya. Dalam kesejajaran ini, seruan "orang bodoh" tersebut beralasan karena ia memikirkan hal-hal yang ia anggap nyata, tetapi merupakan khayalan. Karena itu Allah memanggilnya demikian, karena dalam arti tertentu ia menyangkal Allah, belum berdamai dengan-Nya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 28 Juli 2019 : TENTANG DOA KRISTIANI


Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam Bacaan Injil hari ini (bdk. Luk 11:1-13), Santo Lukas menceritakan suasana Yesus mengajarkan doa "Bapa Kami" kepada murid-murid-Nya. Mereka sudah tahu bagaimana berdoa, mendaraskan rumusan berdasarkan tradisi Ibrani, tetapi mereka juga ingin menghayati doa Yesus secara "bermutu" . Mereka dapat melihat bahwa doa adalah segi yang hakiki dalam kehidupan Sang Guru; pada kenyataannya, setiap tindakan doa-Nya penting karena berciri khas dengan jeda doa yang berlangsung lama. Selain itu, mereka terpesona karena mereka melihat bahwa Ia tidak berdoa seperti para guru doa lainnya pada masa itu, tetapi doa-Nya adalah ikatan yang intim dengan Bapa, sedemikian rupa sehingga mereka ingin menjadi peserta dalam saat-saat kesatuan dengan Allah ini guna menikmati manisnya doa sepenuhnya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 21 Juli 2019 : TENTANG KUNJUNGAN YESUS KE RUMAH MARIA DAN MARTA


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Dalam perikop hari Minggu ini, penginjil Lukas menceritakan kunjungan Yesus ke rumah Maria dan Marta, saudari-saudari Lazarus (bdk. Luk 10:38-42). Mereka menerima Dia dan Maria duduk di kaki-Nya untuk mendengarkan-Nya. Ia meninggalkan apa yang sedang ia lakukan untuk mendekat kepada Yesus; ia tidak mau ketinggalan sabda-Nya. Segalanya disingkirkan ketika Ia datang mengunjungi kita dalam kehidupan kita; Kehadiran dan sabda-Nya datang sebelum hal lain. Tuhan selalu mengejutkan kita: ketika kita benar-benar mendengarkan-Nya, awan-awan menghilang, keraguan menyerahkan tempat pada kebenaran, ketakutan pada ketenangan, dan berbagai situasi kehidupan menemukan tempat yang tepat. Ketika Tuhan datang, Ia selalu mengatur segala sesuatu, juga diri kita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 14 Juli 2019 : TENTANG PERUMPAMAAN ORANG SAMARIA YANG BAIK


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Hari ini Injil memberi kita perumpamaan terkenal tentang "Orang Samaria yang Baik" (bdk. Luk 10:25-37). Ditanyai oleh seorang ahli Taurat tentang apa yang diperlukan untuk mewarisi hidup yang kekal, Yesus mengajaknya untuk menemukan jawaban dalam Kitab Suci : "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (ayat 27). Namun, ada beberapa penafsiran yang berbeda tentang siapa yang seharusnya dipahami sebagai "sesama manusia". Sebenarnya, orang itu bertanya lagi : "Dan siapakah sesamaku manusia?" (ayat 29). Pada titik ini, Yesus menanggapi dengan perumpamaan yang, terima kasih kepada penginjil Lukas, telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan pada sejarah Gereja dan umat manusia.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 7 Juli 2019 : TENTANG MISI GEREJA UNTUK MEWARTAKAN INJIL KEPADA SEGALA BANGSA


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Perikop Injil hari ini (bdk. Luk 10:1-12.17-20) memaparkan Yesus, yang mengutus tujuh puluh murid, di samping dua belas Rasul. Angka tujuh puluh mungkin mengindikasikan seluruh bangsa. Faktanya, dalam Kitab Kejadian disebutkan tujuh puluh bangsa (bdk. 10:1-32). Dengan demikian, pengutusan ini menggambarkan terlebih dulu misi Gereja untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa. Yesus berkata kepada murid-murid, ”Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (ayat 2).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 30 Juni 2019 : TENTANG PENGGENAPAN PERUTUSAN MESIANIK YESUS


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Dalam Injil hari ini (bdk. Lukas 9:51-62), Santo Lukas memulai kisah perjalanan terakhir Yesus ke Yerusalem, yang akan ditutup dalam bab 19. Perjalanan tersebut adalah perjalanan yang panjang, tidak hanya secara geografis dan wilayah tetapi juga secara rohani dan teologis, menuju penggenapan perutusan mesianik. Keputusan Yesus bersifat radikal dan tuntas, serta orang-orang yang mengikuti-Nya dipanggil untuk menakar diri mereka sendiri terhadap hal itu. Penginjil menghadirkan tiga sosok kepada kita hari ini - tiga kasus panggilan, dapat kita katakan - yang menjelaskan apa yang dituntut dari orang yang ingin mengikuti Yesus sampai akhir hayat - bersifat tuntas.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 29 Juni 2019 : TENTANG HARI RAYA SANTO PETRUS DAN PAULUS



Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini Gereja, seorang peziarah menuju Roma dan di seluruh dunia, pergi ke akar imannya dan merayakan Rasul Petrus dan Rasul Paulus. Jenazah mereka, tersimpan di dua Basilika yang didedikasikan untuk mereka, sangat disayangi oleh umat Roma dan banyak peziarah yang datang untuk memuliakan mereka dari seluruh penjuru dunia.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 26 Juni 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (Kis 2:42,44-45) - BAGIAN 4


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Buah Pentakosta, pencurahan Roh Allah yang penuh kuasa pada jemaat Kristiani perdana, sedemikian rupa sehingga banyak orang merasakan hati mereka tertikam oleh pewartaan yang membahagiakan - kerygma - tentang keselamatan di dalam Kristus dan secara terang-terangan mereka berpegang teguh kepada-Nya, bertobat, menerima Baptisan dalam nama-Nya dan menerima karunia Roh Kudus. Sekitar tiga ribu orang membentuk bagian dari persaudaraan itu, yang merupakan habitat orang percaya dan merupakan ragi gerejawi dari karya penginjilan. Kehangatan iman saudara dan saudari dalam Kristus ini menjadikan kehidupan mereka sebagai skenario karya Allah, yang mengejawantahkan diri-Nya dengan berbagai keajaiban dan tanda melalui para Rasul. Yang luar biasa menjadi biasa dan setiap hari menjadi ranah pengejawantahan Kristus yang hidup.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 23 Juni 2019 : TUBUH DAN DARAH KRISTUS MEMPERBAHARUI KEKAGUMAN KITA DALAM EKARISTI



Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Di Italia dan di negara-negara lainnya hari ini dirayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Bacaan Injil menyajikan kepada kita kisah mukjizat roti (bdk. Luk 9:11-17), yang terjadi di pantai Danau Galilea. Yesus bertekad untuk berbicara kepada ribuan orang, melakukan penyembuhan. Di malam hari, para murid mendekati Tuhan dan berkata kepada-Nya : "Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan dan makanan" (ayat 12). Para murid juga lelah. Bahkan, mereka berada di tempat yang sepi, untuk membeli makanan, orang-orang harus berjalan dan pergi ke desa-desa. Dan Yesus melihat hal ini dan menjawab : "Kamu harus memberi mereka makan" (ayat 13). Mendengar kata-kata ini, para murid heran. Mereka tidak mengerti, mungkin mereka bahkan marah, dan menjawab : "Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini" (ayat 13).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 19 Juni 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (Kis 2:1-4) - BAGIAN 3


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Lima puluh hari setelah Paskah, di Ruang Atas yang pada waktu itu adalah tempat tinggal mereka dan tempat kehadiran Maria, Bunda Tuhan, merupakan unsur yang bertalian, para Rasul mengalami peristiwa yang melampaui harapan mereka. Berkumpul dalam doa - doa adalah "paru-paru" yang memberi nafas kepada murid-murid sepanjang masa, tanpa doa tidak mungkin menjadi murid Yesus, tanpa doa kita tidak bisa menjadi umat Kristiani! Doa adalah udara, doa adalah paru-paru kehidupan Kristiani - mereka terkejut oleh serbuan Allah. Doa adalah serbuan yang tak tertahankan untuk ditutup : doa membuka pintu dengan kekuatan angin yang mengingatkan ruah, nafas primordial, dan menggenapi "kuasa" yang dijanjikan oleh Kristus yang bangkit sebelum Ia pergi meninggalkan mereka (bdk. Kis 1:8). Tiba-tiba "turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk" (Kis 2:2). Angin kemudian disatukan oleh api yang mengingatkan kembali semak yang terbakar dan gunung Sinai dengan pemberian sepuluh firman (bdk Kel 19:16-19). Dalam tradisi biblis, api menyertai pewahyuan Allah. Di dalam api, Allah memberikan sabda-Nya yang hidup dan energik (bdk. Ibr 4:12) yang membuka ke masa depan; api mengungkapkan secara simbolis karya-Nya yang menghangatkan, menerangi dan menanamkan kebijaksanaan di dalam hati, kepedulian-Nya dalam mendalilkan hambatan karya-karya manusia, dalam menyucikan mereka dan menggairahkan mereka. Sementara di gunung Sinai suara Allah terdengar, di Yerusalem, pada hari raya Pentakosta, Petruslah yang berbicara, batu karang yang di atasnya Kristus memilih untuk membangun Gereja-Nya. Meskipun sabda-Nya lemah dan bahkan mampu menyangkal Tuhan. ketika api Roh melewatinya, sabda tersebut memperoleh kekuatan, menjadi mampu menembus hati dan bergerak menuju pertobatan. Sebenarnya, Allah memilih apa yang lemah di dunia untuk memalukan apa yang kuat (bdk. 1 Kor 1:27).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI KEUSKUPAN AGUNG CAMERINO-SAN SEVERINO MARCHE (ITALIA) 16 Juni 2019


Kemarin di Pozzomaggiore, Sardinia, Edvige Carboni, seorang umat wanita sederhana, yang dalam kehidupan sehari-hari yang rendah hati merangkul Salib, memberikan kesaksian iman dan amal kasih, dinyatakan sebagai Beata. Kita bersyukur karena murid Kristus yang setia ini, yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk melayani Allah dan sesamanya. Tepuk tangan untuk sang beata baru!

Hari ini secara khusus kita ingin mengingat para pengungsi, pada Hari Pengungsi Sedunia Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hari Pengungsi Sedunia ini mengajak semua orang untuk bersetia kawan dengan para pria, wanita, dan anak-anak yang melarikan diri dari perang, berbagai penganiayaan, dan pelanggaran hak-hak dasar mereka. Semoga komunitas gerejawi dan sipil kita dekat dengan mereka serta memperhatikan kebutuhan dan penderitaan mereka.

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG MISKIN SEDUNIA III (Hari Minggu Biasa XXXIV, 17 November 2019)


PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG MISKIN SEDUNIA III (Hari Minggu Biasa XXXIV, 17 November 2019)

Bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara

1.        "Bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara" (Mzm 9:19). Kata-kata pemazmur ini tinggal tepat waktu. Kata-kata tersebut mengungkapkan sebuah kebenaran yang mendalam bahwa iman mengesankan terutama di hati kaum miskin, memulihkan harapan yang hilang di hadapan ketidakadilan, penderitaan dan ketidakpastian hidup.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 12 Juni 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (Kis 1:21-22.26) - BAGIAN 2


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Kita memulai serangkaian katekese yang akan mengikuti "perjalanan" : perjalanan Injil, yang dipaparkan dalam Kitab Kisah Para Rasul, karena kitab ini tentu saja membuat kita melihat perjalanan Injil, bagaimana Injil melampaui, melampaui, melampaui ... Semuanya berawal dari kebangkitan Kristus. Hal ini, pada kenyataannya, bukan merupakan peristiwa di antara orang lain, tetapi merupakan sumber kehidupan baru. Para murid mengetahuinya dan - taat pada perintah Yesus - mereka tetap bersatu, sepakat dan tekun berdoa. Mereka tetap dekat dengan Bunda Maria dan mereka bersiap untuk menerima kuasa Allah, tidak secara pasif tetapi mempererat persekutuan di antara mereka.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 9 Juni 2019 : TENTANG HARI RAYA PENTAKOSTA


Saudara dan saudari yang terkasih,

Kemarin di Krakow diadakan perayaan ucapan syukur untuk pengukuhan devosi kepada Beato Michael Giedroyc, di mana para uskup Polandia dan Lituania ambil bagian. Semoga peristiwa ini mendorong rakyat Polandia dan Lituania untuk memperkuat ikatan yang menjadi ciri khas mereka dalam tanda iman dan penghormatan terhadap Beato Michael, sokoguru kerendahan hati dan amal kasih injili, yang hidup di Krakow pada abad ke-15.

Berita-berita yang sampai kepada kita hari ini dari Sudan menyebabkan kesedihan dan keterlenaan. Marilah kita mendoakan bangsa ini, semoga kekerasan berhenti dan kebaikan bersama dapat dicari dalam dialog.